Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Volume 3, Nomor 1, Maret 2017

ISSN 2442-501X

TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP SIKAP CARING PERAWAT


PELAKSANA DI PUSKESMAS WARAKAS
JAKARTA UTARA TAHUN 2016
Labora Sitinjak*, Elisabet**
*Dosen Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Jakarta
**Mahasiswa Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Jakarta

Abstrak
Kepuasan merupakan respon seseorang terhadap dipenuhinya kebutuhan dan harapan. Respon tersebut merupakan
penilaian seseorang terhadap pelayanan pemenuhan kebutuhan dan harapan, baik pemenuhan yang kurang
ataupun pemenuhan yang melebihi kebutuhan dan harapan (Koentjoro, 2007). Dalam penelitian ini metode
penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional yaitu penelitian yang
berfungsi memberi gambaran fenomena yang terjadi dalam populasi tertentu di mana variabel-variabel yang
termasuk faktor dan variabel-variabel yang termasuk efek diobservasi sekaligus pada waktu yang sama dan
membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum (Notoatmodjo,2012). Analisa data penelitian ini dilakukan
dengan menggunakan analisa data univariat, yaitu analisa distribusi frekuensi dan persentase dengan tujuan
melihat gambaran distribusi frekuensi dan persentasi dari gambaran tingkat kepuasan pasien di Puskesmas
Warakas Jakarta Utara. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: Data Responden dengan tingkat pendidikan tidak
sekola-SD 7 orang (32%), SMP-SMA 12 orang (55%) dan perguruan tinggi 3 orang (14%). Data Responden
dengan jenis kelamin perempuan 14 orang (64%) dan laki-laki 8 orang (36%) Kesimpulan secara keseluruhan
rata-rata kepuasan pasien teradap sikap caring perawat pelaksana di Puskesmas Warakas Jakarta Utara yaitu
Tinggi: 64%.

Kata kunci : Kepuasan, Pasien, penerapan sikap caring.

Latar Belakang sesuai harapan, maka pelanggan akan sangat


Kepuasan adalah perasaan senang ketika puas. Sedangkan bila kinerja melebihi harapan
sesuatu yang yang diharapkan telah terpenuhi. pelanggan akan sangat puas harapan pelanggan
Menurut Kotler (2002), kepuasan merupakan dapat dibentuk oleh pengalaman masa lampau,
perasaan senang yang dirasakan seseorang komentar dari kerabatnya serta janji dan
setelah membandingkan antara hasil suatu informasi dari berbagai media. Pelanggan yang
produk dengan harapannya. Kepuasan puas akan setia lebih lama, kurang sensitive
merupakan salah satu indikator keberhasilan terhadap harga dan memberi komentar yang
pelayanankesehatan, salah satunya yaitu baik tentang perusahaan tersebut.
kepuasan pasien. Supriyanto (2010) Menurut Kotler (1988) kepuasan adalah
mendefinisikan kepuasan pasien sebagai tingkat kepuasan seseorang setelah
perasaan senang karena jasa (pelayanan) yang membandingkan kinerja atau hasil yang
diterima sesuai dengan harapan. dirasakan dibandingkan dengan harapannya.
Kepuasan menurut Kamus Bahasa Jadi kepuasan atau ketidakpuasan adalah
Indonesia adalah puas; merasa senang; perihal kesimpulan dari interaksi antara harapan dan
(hal yang bersifat puas, kesenangan, kelegaan pengalaman sesudah memakai jasa atau
dan sebagainya). Kepuasan dapat diartikan pelayanan yang diberikan. Upaya untuk
sebagai perasaan puas, rasa senang dan mewujudkan kepuasan pelanggan total
kelegaan seseorang dikarenakan bukanlah hal yang mudah, Mudie dan Cottom
mengkonsumsi suatu produk atau jasa untuk menyatakan bahwa kepuasan pelanggan total
mendapatkan pelayanan suatu jasa. Menurut tidak mungkin tercapai, sekalipun hanya untuk
Oliver (dalam Supranto, 2001) mendefinisikan sementara waktu (Tjiptono, 1997). Berdasarkan
kepuasan sebagai tingkat perasaan seseorang uraian dari beberapa ahli tersebut diatas, maka
setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dapat disimpulkan bahwa kepuasan adalah
dirasakannya dengan harapannya. Tingkat perasaan senang, puas individu karena antara
kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan harapan dan kenyataan dalam memakai dan
antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. pelayanan yang diberikan terpenuhi. Pasien
Apabila kinerja dibawah harapan, maka atau pesakit adalah seseorang yang menerima
pelanggan akan sangat kecewa. Bila kinerja perawatan medis. Kata pasien dari bahasa

5
Jurnal Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Volume 3, Nomor 1, Maret 2017
ISSN 2442-501X

Indonesia analog dengan kata patient dari meningkatkan kualitas pelayanannya


bahasa Inggris. Patient diturunkan dari bahasa (Ratminto,2006).
Latin yaitu patiens yang memiliki kesamaan arti Menurut Kepmenkes RI No.
dengan kata kerja pati yang artinya 128/Menkes/SK/II/2004 puskesmas merupakan
"menderita". Orang Sedangkan menurut Kamus Unit Pelayanan Teknis Dinas kesehatan
Besar Bahasa Indonesia, pasien adalah sakit (yg kabupaten/kota yang bertanggung jawab
dirawat dokter), penderita (sakit). Dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan di
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 suatu wilayah kerja
Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Puskesmas merupakan suatu tempat untuk
menyebutkan bahwa pasien adalah setiap orang melakukan upaya meningkatkan kesehatan,
yang melakukan konsultasi masalah mencegah dan menyembuhkan penyakit serta
kesehatannya untuk memperoleh pelayanan memulihkan kesehatan. Puskesmas harus bisa
kesehatan yang diperlukan baik secara menjamin mutu pelayanan keperawatan
langsung maupun tidak langsung kepada dokter melalui kesesuaian dengan kebutuhan pasien.
atau dokter gigi. Pentingnya peningkatan mutu pelayanan
Perawat atau Nurse berasal dari bahasa puskesmas adalah untuk membangun
latin yaitu dari kata Nutrix yang berarti persahabatan yang mendorong hubungan
merawat atau memelihara. Harlley Cit ANA dengan pasien sehingga puskesmas tidak
(2000) menjelaskan pengertian dasar seorang ditinggalkan oleh pasiennya (Azwar, 2008).
perawat yaitu seseorang yang berperan dalam Puskesmas adalah organisasi kesehatan
merawat atau memelihara, membantu dan fungsional yang merupakan pusat
melindungi seseorang karena sakit, injury dan pengembangan kesehatan masyarakat yang
proses penuaan dan perawat Profesional adalah juga membina peran serta masyarakat dan
Perawat yang bertanggung jawab dan memberikan pelayanan secara menyeluruh dan
berwewenang memberikan pelayanan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya
Keparawatan secara mandiri dan atau dalam bentuk kegiatan pokok (Depkes RI,
berkolaborasi dengan tenaga Kesehatan lain 1991). Dengan kata lain puskesmas mempunyai
sesuai dengan kewenanganya. (Depkes RI, wewenang dan tanggungjawab atas
menurut konsorsium ilmu kesehatan tahun pemeliharaan kesehatan masyarakat dalam
1989 terdiri dari peran sebagai pemberi asuhan wilayah kerjanya.
keperawatan, advokat pasien, pendidikan,
koordinator, kolaborator, konsultan dan Caring secara umum dapat diartikan
pembaharu (Aziz Alimul, 2008:30). sebagai suatu kemampuan untuk berdedikasi
Keperawatan adalah salah satu profesi di bagi orang lain, pengawasan dengan waspada,
rumah sakit yang berperan penting dalam serta suatu perasaaan empati pada orang lain
penyelenggaraan upaya menjaga mutu dan perasaan cinta atau menyayangi.
pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pada Pengertian caring berbeda
standar tentang evaluasi dan pengendalian mutu dengan care. Care adalah fenomena yang
dijelaskan bahwa pelayanan keperawatan berhubungan dengan orang berhubungan
menjamin adanya asuhan keperawatan yang dengan bimbingan, bantuan, dukungan perilaku
bermutu tinggi dengan terus-menerus kepada individu, keluarga, kelompok dengan
melibatkan diri dalam program pengendalian adanya kejadian untuk memenuhi kebutuhan
mutu di Puskesmas Warakas. aktual maupun potensial untuk meningkatkan
Puskesmas adalah salah satu instansi kondisi dan kualitas kehidupan manusia.
perintah yang berperan dalam penyelenggaraan Sedangkan caring adalah tindakan nyata dari
pelayanan kesehatan kepada masyarakat, care yang menunjukkan suatu rasa kepedulian.
dituntut untuk meningkatkan kualitas kinerja Terdapat beberapa pengertian caring
dalam memberikan pelayanan kepada menurut beberapa ahli, antara lain :Florence
masyarakat. Pelayanan yang diberikan mampu nightingale (1860) : caring adalah tindakan
memenuhi, kebutuhan, keinginan dan harapan yang menunjukkan pemanfaatan lingkungan
masyarakat serta mampu memberikan pasien dalam membantu penyembuhan,
kepuasan.Kepuasan masyarakat dapat menjadi memberikan lingkungan bersih, ventilasi yang
bahan penilaian terhadap unsur pelayanan yang baik dan tenang kepada pasien.
masih perlu perbaikan dan menjadi pendorong Delores gaut (1984) : caring tidak
setiap unit penyelanggara pelayanan untuk mempunyai pengertian yang tegas, tetapi ada

6
Jurnal Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Volume 3, Nomor 1, Maret 2017
ISSN 2442-501X

tiga makna dimana ketiganya tidak dapat ini pada akhirnyadapat memberikan beberapa
dipisahkan, yaitu perhatian, bertanggung manfaat, diantaranya terjalin hubungan yang
jawab, dan ikhlas. Crips dan Taylor (2001) : harmonis antara perawat dengan pasien yang
caring merupakan fenomena universal yang menguntungkan bagi penyedia jasa pelayanan
mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir, kesehatan tersebut. Upaya untuk meningkatkan
merasakan, dan berperilaku dalam kualitas pelayanan keperawatan mutlak
hubungannya dengan orang lain. diperlukan adanya pengukuran kepuasan pasien
Rubenfild (1999) : caring yaitu sehingga dapat diketahui sejauh mana dimensi
memberikan asuhan, tanggunggung jawab, dan kualitas pelayanan yang telah diselenggarakan
ikhlas. Crips dan Taylor (2001) : caring dapat memenuhi harapan pasien. (Pohan,
merupakan fenomena universal yang 2003).
mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir, Kinerja dan service quality perawat yang
merasakan, dan berperilaku dalam tinggi merupakan faktor terpenting tercapainya
hubungannya dengan orang lain. kepuasan pasien. Service quality merupakan
Rubenfild (1999) : caring yaitu konsep pengukuran kualitas pelayanan yang
memberikan asuhan, dukungan emosional pada terdiri dari lima dimensi yaitu keandalan
klien, keluarga, dan kerabatnya secara verbal (reliability), ketanggapan (responsiveness),
maupun nonverbal. Jean watson (1985) : caring keyakinan atau jaminan (assurance), perhatian
merupakan komitmen moral untuk melindungi, (empathy) dan tampilan fisik atau berwujud
mempertahankan, dan (tangibles). Berdasarkan lima dimensi tersebut
meningkatkan emosional pada klien, keluarga, akan diketahui terjadi atau tidak
dan kerabatnya secara verbal maupun gap(kesenjangan), ada tidaknya pengaruh dari
nonverbal. Jean watson (1985): caring lima dimensi kualitas pelayanan terhadap
merupakan komitmen moral untuk melindungi, kepuasan pasien dan juga dapat diketahui
mempertahankan, dan meningkatkan martabat dimensi kualitas pelayanan yang paling
manusia. Dari beberapa pengertian tersebut, dominan mempengaruhi kepuasan pasien
dapat dipersingkat bahwa pengertian caring (Tjiptono, 2008).
secara umum adalah suatu tindakan moral atas Masalah utama sebagai sebuah lembaga
dasar kemanusiaan, sebagai suatu cerminan jasa pelayanan kesehatan yang banyak
perhatian, perasaan empati dan kasih sayang pesaingnya adalah pelayanan yang diberikan
kepada orang lain, dilakukan dengan cara apakah sudah sesuai harapan pasien/konsumen
memberikan tindakan nyata kepedulian, dengan atau belum. Oleh karena itu, Puskesmas
tujuan untuk meningkatkan kualitas dan kondisi dituntut untuk selalu menjaga kepercayaan dan
kehidupan orang tersebut. Caring merupakan kepuasan pasien dengan meningkatkan kualitas
inti dari keperawatan. Mutu pelayanan pelayanan agar kepuasan pasiennya meningkat.
keperawatan merupakan faktor yang paling Menjalin hubungan terhadap pasien perlu
penting untuk membentuk kepercayaan dilakukan agar pelayanan yang diberikan sesuai
pelanggan atau pasien kepada layanan dengan yang diharapkan.
kesehatan sehingga tercipta loyalitas mereka. Penelitian Widiono (2009), untuk variabel
Kerja keras belum tentu dapat menghasilkan yang mempunyai pengaruh terbesar terhadap
pelayanan kesehatan yang bermutu, tetapi kepuasan pasien di Puskesmas Donomulyo
menggunakan pola pikir dalam melakukan Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil
tugas di suatu sistem pelayanan kesehatan yang penelitian ditarik kesimpulan bahwa variabel
terus diperbaiki akan menghasilkan pelayanan bukti langsung (tangibles), kehandalan
kesehatan yang bermutu (Pohan, 2003). (reliability), tanggapan (responsiveness),
Pelayanan keperawatan menurut Ali (2001) jaminan (assurance) dan perhatian (emphaty)
adalah upaya untuk membantu individu baik berpengaruh terhadap kepuasan pasien di
sakit maupun sehat, dari lahir sampai Puskesmas Donomulyo Kabupaten Malang.
meninggal dunia dalam bentuk peningkatan Variabel tanggapan (responsiveness)
pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki mempunyai pengaruh terbesar terhadap
sehingga individu tersebut dapat secara optimal kepuasan pasien di Puskesmas Donomulyo
melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Kabupaten Malang.
Terciptanya kualitas pelaynan Hal ini juga didukung oleh penelitian Ari
keperawatan akan menciptakan kepuasan (2008), yang bertujuan untuk mengetahui
terhadap pengguna layanan. Kualitas layanan pengaruh kualitas jasa pelayanan terhadap

7
Jurnal Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Volume 3, Nomor 1, Maret 2017
ISSN 2442-501X

kepuasan pasien rawat inap di RSU Pandan Tujuan penelitian ini adalah untuk
Arang Boyolali. Hasil penelitian menunjukkan Mengidentifikasi tingkat kepuasan pasien di
bahwa mayoritas pasien rawat inap (69,81%) wilayah pelayanan Puskesmas Jakarta Utara
merasa tidak puas terhadap pelayanan yang terhadap sikap caring perawat pelaksana tahun
diberikan oleh RSU pandan Arang Boyolali. 2016, sehingga diharapkan hasil penelitian
Pasien tidak puas pada dimensi kehandalan dapat dapat digunakan sebagai bahan untuk
yang meliputi prosedur penerimaan dan meningkatkan pengetahuan dan keilmuan
pelayanan pasien yang berbelit-belit dan jadwal tentang tingkat kepuasan pasien terhadap sikap
pelayanan yang terlambat. caring perawat di Puskesmas Warakas Jakarta
Penelitian Rahmulyono (2008), yang Utara Tahun 2016.
bertujuan untuk menganalisa pengaruh kualitas
pelayanan terhadap kepuasan di Puskesmas Metode Penelitian
Depok I Sleman menyatakan bahwa dimensi Dalam penelitian ini desain penelitian
kualitas pelayanan secara individual dan yang digunakan adalah penelitian deskriptif
bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan dimana penelitian metode deskriptif bertujuan
terhadap kepuasan Pasien Puskesmas Depok I untuk melihat gambaran fenomena yang terjadi
Sleman. didalam suatu populasi tertentu dan dengan
Berdasarkan penelitian Prastiwi dan Ayubi mengunakan pendekatan cross sectional di
(2007), untuk mengidentifikasi hubungan mana data yang menyangkut variabel bebas
kepuasan pasien bayar dengan minat kunjungan (independent) dan variabel terikat (dependent),
ulang ke Puskesmas Wisma Jaya Kota Bekasi. akan dikumpulkan dalam waktu yang
Proporsi responden yang berminat melakukan bersamaan (Notoatmodjo, 2012).
kunjungan ulang ke Puskesmas Wisma Jaya Teknik sampling yang digunakan adalah
sebesar 93,2%. Pasien bayar yang puas akan Pada penelitan ini peneliti mengambil sampel
mempunyai peluang 7,5 kali untuk berminat secara total sampling, tehnik pengambilan ini
melakukan kunjungan ulang kePuskesmas paling sederhana dimana seluruh populasi
Wisma Jaya daripada pasien bayar yang tidak diambil sebagai sampel dan jumlah subjek telah
puas. teridentifikasi (Hidayat, 2013).
Puskesmas Tlogosari Kulon telah Pada penelitian ini sampel yang ditetapkan
mengupayakan memberikan pelayanan adalah semua pasien tentang tingkat kepuasan
kesehatan yang bermutu, namun dalam dengan jumlah 28 responden.
perjalanannya masih saja mendapat keluhan
dari masyarakat pelanggan. Keluhan-keluhan Hasil Penelitian
terhadap pelayanan Puskesmas menyebabkan Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Tentang
pelanggan atau pasien menjadi kurang puas. Membentuk sistem nilai humanistik-altruistik
Puskesmas Tlogosari Kulon dituntut untuk
Pengetahuan Frekuensi Persentase
selalu menjaga kepercayaan dan kepuasan
Sangat Baik 7 23,3%
pasien dengan meningkatkan kualitas
pelayanan agar kepuasaan pasiennya Baik 20 56,7%
meningkat. Cukup 5 16,7%
Rata-rata pasien rawat inap di Puskesmas Kurang 1 3,3%
Tlogosari Kulon Semarang tiap bulan sebanyak Total 33 100%
50 pasien. Berdasarkan survey pendahuluan di
Puskesmas yang dilakukan pada 10 orang, 50% Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Tentang
pasien menyatakan keluhan mengenai kurang Menanamkan keyakinan dan harapan (faith-hope).
jelasnya informasi tentang penyakit pasien,
40% pasien menyatakan keluhan mengenai Pengetahuan Frekuensi Persentase
kecepatan pelayanan oleh perawat dan 10% Sangat Baik 4 3,3%
pasien menyatakan keluhan menegnai perawat Baik 11 36,7%
yang tidak mau memberikan informasi Cukup 14 46,7%
kesehatannya. Di Puskesmas Warakas, maka Kurang 4 13,3%
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian Total 33 100%
dengan judul “Tingkat kepuasan pasein
terhadap sikap caring perawat di puskesmas
warakas jakarta utara tahun 2016.”

8
Jurnal Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Volume 3, Nomor 1, Maret 2017
ISSN 2442-501X

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Tentang (13,3%) memiliki pengetahuan kurang.


Mengembangkan sensitivitas untuk diri sendiri dan Sehingga pengetahuan tertinggi di adalah
orang lain cukup sebanyak 14 orang (46,7%).
Pengetahuan Frekuensi Persentase 3. Distribusi Frekuensi Pengetahuan
Sangat Baik 28 93,3% Tentang Mengembangkan sensitivitas
Baik 5 6,7% untuk diri sendiri dan oranglain
Cukup 0 0% menunjukan bahwa dari 33 responden, 28
Kurang 0 0% orang (93,3%) memiliki pengetahuan
Total 33 100% sangat baik, dan 5 orang (6,7%) memiliki
pengetahuan baik. Sehingga pengetahuan
Tabel 4 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Tentang tertinggi adalah sangat baik sebanyak 28
Membina hubungan saling percaya dan saling bantu orang (93,3%).
(helping-trust). 4. Distribusi Frekuensi Pengetahuan
Tentang Membina hubungan saling
Pengetahuan Frekuensi Persentase percaya dan saling bantu (helping-trust).
Sangat Baik 21 70,0% menunjukan bahwa dari 33 responden, 28
Baik 11 26,7% orang (93,3%) memiliki pengetahuan
Cukup 4 3,3% sangat baik, dan 5 orang (6,7%) memiliki
Kurang 0 0% pengetahuan baik. Sehingga pengetahuan
Total 33 100% tertinggi adalah sangat baik sebanyak 28
orang (93,3%).
5. Distribusi Frekuensi Pengetahuan
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Meningkatkan dan menerima ekspresi
Meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan perasaan positf dan negatif menunjukan
positf dan negatif bahwa dari 33 responden, 24 orang (70,0%)
memiliki pengetahuan sangat baik, 8 orang
Pengetahuan Frekuensi Persentase
(26,7%) memiliki pengetahuan baik, dan 4
Sangat Baik 24 70,0%
orang (3,3%) memiliki pengetahuan cukup.
Baik 8 26,7% Sehingga pengetahuan tertinggi adalah
Cukup 4 3,3% sangat baik sebanyak 21 orang (70,0%).
Kurang 0 0%
Total 33 100% Kesimpulan
Penelitian yang dilakukan ini adalah untuk
Pembahasan mengetahui untuk mengetahui Tingkat
1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Pengetahuan Mahasiswa Tingkat 1 terhadap
Tentang Membentuk sistem nilai Carrative Caring Pasca Sosialisasi Carrative
humanistik-altruistik. Caring Menurut Jane Watson, sehingga
menunjukan bahwa dari 33 responden, 7 diharapkan hasil penelitian dapat Memperkaya
orang (23,3%) memiliki pengetahuan wawasan ilmu keperawatan, khususnya
sangat baik, 20 orang (56,7%) memiliki kepemimpinan dan manajemen keperawatan
pengetahuan baik, 5 orang (16,7%) yang berhubungan dengan pengetahuan dan
memiliki pengetahuan cukup, dan 1 orang motivasi perawat pelaksana dalam menerapkan
(3,3%) memiliki pengetahuan kurang. perilaku caring.
Sehingga pengetahuan tertinggi Di Akper Kesimpulan secara keseluruhan berdasarkan
Husada Karya Jaya adalah baik sebanyak umur dari 33 responden, tingkat pengetahuan
20 orang (56,7%). terhadap caring dari 33 orang mahasiswa, 21
2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan orang memiliki tingkat pengetahuan yang
Tentang Menanamkan keyakinan dan sangat baik yaitu sebesar 70%.
harapan (faith-hope).
menunjukan bahwa dari 33 responden, 4 Sumber
orang (3,3%) memiliki pengetahuan sangat
baik, 11 orang (36,7%) memiliki Clark, M. J. 2003. Community health nursing
pengetahuan baik, 14 orang (46,7%) Caring for population.New Jersey:
memiliki pengetahuan cukup, dan 4 orang Prentice Hall 2003.

9
Jurnal Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Volume 3, Nomor 1, Maret 2017
ISSN 2442-501X

Dwidiyanti, M.2007.Caring.Semarang:Hapsari
Gibson, J., James, I, & Jhon, D. 2010.
Organization Behavior. Boston: Mc
Graw Hill Higher education
Kusmiati, Sri.1990.Dasar-dasar Perilaku.
Jakarta: Depkes RI
Notoadmojo, S .2010. Metodologi penelitian
kesehatan. Jakarta. PT. Rineka Cipta
Purwanto, Heri.1999.Pengantar Perilaku
Manusia untuk Keperawatan. Jakarta:
EGC
Takwin,.B.2008.Menjadi.Mahasiswa.Bagustak
win.Multiply.com.http://bagustakwin.m
ultiply.com/journal/item/18 (diakses
pada tanggal 18 Oktober 2016)

10