Anda di halaman 1dari 7

BAB IV

PEMBAHASAN KASUS

Dalam bab ini penulis akan membahas mengenai permasalahan yang


ditemukan dalam pemberian asuhan keperawatan pada Tn. S dengan Obs
Febris, dirawat di Ruang Anggrek Rumah Sakit Umum Daerah Tamiang
Layang. Adapun ruang lingkup pembahasan kasus ini berdasarkan landasan
teoritis dan asuhan yang nyata dengan pendekatan proses keperawatan.

A. Pengkajian
Pada tahap ini semua data / informasi tentang pasien yang dibutuhkan
dikumpulkan dan dianalisa untuk menentukan diagnosa keperawatan yang
dilakukan melalui tiga tahap yaitu : pengumpulan, pengelompokan atau
pengorganisasian serta menganalisa dan merumuskan diagnosa keperawatan.
Dalam melaksanakanpengkajian untuk memperoleh data, penulis
melakukan dengan wawancara dengan pasien, observasi, dan pemeriksaan
fisik langsung terhadap pasien, juga didiskusikan dengan perawat ruangan
dan dokter yang merawat serta klarifikasi terhadap data yang ada distatus /
catatan medi pasien.
Pelaksanaan pengkajian mengacu pada teori, tetapi ada sebagian kecil
yang menyimpang, hal ini disesuaikan dengan kondisi pasien saat dikaji.
Dalam pengkajian data yang khas yang behubungan dengan penyakit pasien
adalah ditemui badannya panas (demam : suhu ; 38,6oC), lemah, mual,nyeri
tekan =pada perut kanan atas,sering terbangun saat tidur,bila beraktivitas
lemah,nafsu makan kurang,berat badan menurun BB : 47 kg dari 52 Kg,T
38,6 ˚C,
Tidak ada Hambatan yang penulis temui saat melakukan pengkajian. Data
yang sudah terkumpul kemudian dilakukan analisa data dan diidentifikasi
masalah yang dihadapi pasien dan selanjutnya dirumuskan diagnosa
keperawatan.
B. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan tinjauan teoritis, masalah keperawatan yang sering muncul
pada pasien dengan gangguan sistem persyarafan : Febris meliputi :
1. Hypertermi yang berhubungan dengan proses infeksi yang ditnadai oleh
badan panas, gelisah.
2. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang
berhubungan dengan anoreksia.
3. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan yang berhubungan
dengan mual dan muntah

Sedangkan masalah keperawatan yang ditemukan penulis pada saat


pengkajian adalah :
1. Nyeri akut b/d agent cidera biologis ditandai.klien mengeluh nyeri daerah
perut kanan atas
2. Hipertermi b/d infeksi penyakit ditandai.klien mengeluh demam,T 38,6 ˚C
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan asupan diet kurang
4. Gangguan pola tidur b/d ketidak puasan tidur
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
Adapun diagnosa yang muncul pada teori pada saat pegkajian tidak
sama,Pada pengkajian masalah utama yang muncul tidak sama dengan pada
teori, hal ini disebabkan karena pada sat pengkajian di dapatkan data yang
berbeda dengan di landasan teori.sehingga diagnosa keperawatan mempunyai
ketidakesamaan pada saat pengkajian data fokus, data yang benar-benar
menunjang adalah masalah hypertermi (peningkatan suhu tubuh),sedangkan
pada data kajian timbul nyeri,gangguan pola tidur dan intoleransi aktivitas
C. Perencanaan
Perencaan disusun berdasarkan prioritas masalah yang ada sesuai dengan
kondisi pasien. Tujuan ditetapkan dengan mengacu pada masalah yang akan
dihilangkan / dimimalkan dan akan menjadi alat ukur tercapainya tujuan
adalah bagian akhir dari perencanaan, dimana perawat memutuskan strategi
dan intervensi keperawatan yang akan dilakukan. Strategi dan tindakan yang
akan dilakukan diarahkan langsung pada etiologi atau faktor pendukung dari
diagnosa keperawatan.
Pada pasien Tn.S dengan Obs Febris perencanaan yang dibuat penulis
pada dasarnya untuk meminimalkan / menghilangkan keluhan yang ada pada
pasien saat itu, dan pada setiap diagnosa mulai dari diagnosa pertama sampai
diagnosa kedua pembuatan, perencanaan tidak terdapat hambatan. Hal tersebut
dikarenakan tercapainya sebagian dari perencanaan yang dibuat dan didukung
oleh keadaan pasien yang sudah mulai membaik.

D. Implementasi
Pada tahap ini penulis melakukan kegiatan berupa implementasi dari
perncanaan dan pengkajian pasien setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Saat dilakukan tindakan keperawatan pada Tn. S dari diagnosa keperawatan
pertama sampai dengan ke lima tidak ditemukan hambatan yang cukup berarti.
Hal ini berkat dukungan dan keterlibatan istri beserta anak – anak klien yang
kooperatif dalam membantu penulis dalam memberikan asuhan keperawatan
kepada pasien.
Dalam pelaksanaan kegiatan keperawatan ini penulis bekerja sama dengan
perawat ruangan, pasien dan keluarga pasien serta team kesehatan lainya.
Kemudian tindakan keperawatan tersebut beserta respon pasien
didokumentasikan pada catatan keperawatan atau pada lembar pelaksanaan
keperawatan.
E. Evaluasi
Fase akhir dari proses keperawatan adalah evaluasi terhadap asuhan
keperawatan yang diberikan. Pada tahap evaluasi yang dilakukan oleh penulis
adalah melihat apakah masalah yang ada sudah sesuai dengan tujuan yang
telah ditetapkan berdasarkan hasil evaluasi yang terdapat pada pasien dengan
diagnosa :
1. Nyeri akut b/d agent cidera biologis ditandai.klien mengeluh nyeri daerah
perut kanan atas
2. Hipertermi b/d infeksi penyakit ditandai.klien mengeluh demam,T 38,6 ˚C
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan asupan diet kurang
4. Gangguan pola tidur b/d ketidak puasan tidur
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
Dari kelima diagnosa di atas dapat di simpulkan bahwa :
1. Nyeri akut b/d agent cidera biologis ditandai.klien mengeluh nyeri daerah
perut kanan atas teratasi sebagian
2. Hipertermi b/d infeksi penyakit ditandai.klien mengeluh demam,T 38,6 ˚C
teratasi
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan asupan diet kurang teratasi sebagian
4. Gangguan pola tidur b/d ketidak puasan tidur teratasi
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik teratasi
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Febris adalah kenaikan suhu tubuh yang ditengahi oleh kenaikan titik
ambang regurtasi panas hipotalamus atau kenaikan suhu tubuh (diatas 38oC)
yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Penyebab febris disebabkan oleh
infeksi, kerusakan jaringan otak dan faktor lain yang dapat menyebabkan
gangguan pada fungsi otak. Sebab yang paling sering dari febris pada orang
dewasa adalah suhu badan yang tinggi sebagai respon terhadap infeksi akut.
Dengan penanganan yang cepat dan tepat akan menghasilkan prognosis yang
baik. Febris yang tidak menurun dapat menyebabkan terjadinya fase
komplikasi tubuh seperti . Kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit)
biasanya disertai apnuea, hipoksemia, dan meyebabkan metabolisme otak
meningkat, jika hal ini terjadi maka resiko komplikasi yang ditimbulkan
sangat berbahaya terutama, apnea, retardasi mental karena kerusakan sel otak.
Dengan semakin kompleknya permasalahan pasien dengan gangguan
sistem persyarafan ; Febris maka dalam memberikan asuhan keperawatan
diperlukan penanganan kasus dan kesinambungan oleh karena itu penulis
berkesimpulan sangatlah penting memberikan asuhan keperawatan yang lebih
komunikatif kepada pasien yang menderita demam (febris) disertai dengan
memberikan penyuluhan kepada keluarga pasien agar dapat memberikan
pertolongan pertama pada pasien apabila suhu meningkat dirumah.
B. Saran
1. Bagi Klien
a. Diharapkan agar Tn. S dapat meningkatkan kepatuhannya untuk
memeriksakan diri saat sakit dan menjaga kesehatan

b. Diharapkan agar Tn.S menjaga kebersihan,kebugaran dan bila


nyeri dan demam berulang dapat menanganinya sesuai penyuluhan
yang di berikan di rumah sakit,mampu melakukan teknik relaksasi
dan distraksi, manajemen nyeri sederhana,pola hidup sehat seperti
melakukan olah raga ringan sesuai kondisi agar dapat melatih dan
menguatkan otot-otot pernapasan dan kebugaran

c. Diharapkan agar Tn. S dapat minum obat sesuai dosis yang telah
diberikan Dokter serta rutin memeriksakan kondisi kesehatannya
pada sarana kesehatan terdekat.

2. Bagi Keluarga
Diharapkan agar keluarga Tn S berperan aktif dalam mendukung
perawatan dan pengobatan klien, keluarga mampu menciptakan
lingkungan yang tepat dan sehat untuk mendukung perawatan penderita
Penyakit Obs Febris serta saling mengingatkan dalam hal pencegahan
penyakit (kekambuhan), perawatan dan pengobatan khususnya
pengawasan kepatuhan minum obat.

3. Bagi Pihak Rumah Sakit Tamiang Layang


Diharapkan hasil study kasus ini menjadi salah satu bahan
edukasi dan intervensi keperawatan yang dapat diterapkan di rumah
sakit sebagai Standar Prosedur Operasional dalam penatalaksanaan
penderita Penyakit Obs Febris sehingga dapat berorientasi terhadap
peningkatan kualitas hidup penderita. Karena sebagai tim kesehatan
yang paling sering berhubungan dengan klien sangat perlu
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar mampu merawat
klien secara komprehensif dan optimal, bukan hanya melalui terapi
medis saja namun mampu memberikan tindakan terapi non
farmakologis dan memberikan edukasi yang tepat dan akurat untuk
menambah pengetahuan dan wawasan klien terkait dengan masalah
kesehatan yang dialaminya.

4. Bagi Pihak Institusi STIKES Suaka Insan


Diharapkan hasil study kasus ini dapat menjadi bahan atau materi
pembelajaran baik kalangan mahasiswa pendidikan sarjana maupun
profesi agar meningkatkan mutu pelayanan pendidikan sehingga dapat
tercipta perawat profesional, terampil, inovatif dan bermutu sehingga
mampu memberikan pelayanan asuhan keperawatan secara menyeluruh
berdasarkan kode etik keperawatan

5. Bagi Mahasiswa
Diharapkan dapat dijadikan salah satu aplikasi keterampilan yang
dapat diterapkan dalam praktek klinik dalam hal pemberian tindakan
keperawatan pada penderita penyakit Obs Febris, sehingga dapat
menambah wawasan, pengetahuan dan keterampilan dalam
memberikan asuhan keperawatan yang optimal sehingga meningkatkan
kualitas hidup penderita Penyakit Obs Febris.