Anda di halaman 1dari 27

HALAMAN JUDUL

LAPORAN

OVITRAP DAN LAVITRAP DI KELURAHAN ANDUONOHU


KOTA KENDARI PROV. SULTRA

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Survelens kesehatan
masuarakat Yang Di Ampu Oleh :

La ode Muhammad Sety, S.K.M., M.Epid

OLEH ;

KELAS K3 2017

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT. Karena dengan
rahmat dan karunianya kami masih diberi kesempatan. Untuk menyelesaikan
tugas Survelens Kesehatan Masyarakat. Tidak lupa juga kami ucapkan terima
kasih kepada dosen pembimbing bapak La ode Muhammad Sety, S.K.M., M.Epid,
yang telah membimbing kami agar dapat mengerti tentang bagaimana cara
menyusun tugas ini. Tugas ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu dan
pengetahuan tentang Ovitrap dan Larvitrap, yang kami sajikan berdasarkan
pengamatan yang telah kami lakukan. Laporan ini di susun oleh kami dengan
berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri kami maupun yang datang dari
luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari tuhan
akhirnya tugas ini dapat terselesaikan.

Semoga tugas kami dapat bermanfaat bagi para mahasiswa umum


khususnya pada diri kami sendiri dan semua yang membaca tugas kami ini. Dan
mudah-mudahan juga dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun tugas ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kami mohon
untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Kendari, 22 Mei 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................i

KATA PENGANTAR..............................................................................................ii

DAFTAR ISI...........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1

A. Latar Belakang..............................................................................................1

B. Tujuan...........................................................................................................3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................4

A. Tinjauan Tentang Demam Berdarah Dengue................................................4

B. Tinjauan Tentang Ovitrap..............................................................................9

C. Tinjauan Tentang Larvitrap...........................................................................9

BAB III METODOLOGI SURVEY.....................................................................11

A. Alat dan Bahan............................................................................................11

B. Metode yang Digunakan.............................................................................14

BAB IV HASIL SURVEY....................................................................................16

A. Gambaran Umum Lokasi............................................................................16

B. Hasil yang Diperoleh..................................................................................17

2. Wadah yang paling disukai......................................................................19

3. Lokasi kesukaan nyamuk bertelur...........................................................20

BAB V PENUTUP................................................................................................21

A. Kesimpulan.................................................................................................21

B. Saran............................................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................23

iii
LAMPIRAN...........................................................................................................24

iv
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit berbasis
lingkungan yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia, termasuk
Indonesia. Santos E, et.al (2010) melaporkan bahwa hingga tahun 2008, lebih dari
60 negara terjangkit penyakit DBD, angka insidensi meningkat 30 kali lipat dan
terjadi 50 juta kasus baru setiap tahun. Di Indonesia jumlah kabupaten/kota
endemis DBD dari tahun 2009-2012 memperlihatkan kecenderungan meningkat.
Pada tahun 2008 dilaporkan sebanyak 355 kab/kota (71,7%), tahun 2009 sebanyak
384 kab/kota (77,26%), tahun 2010 sebanyak 400 kab/kota (80,48%), tahun 2011
sebanyak 374 kab/kota (75,25%), dan terakhir tahun 2013 sebanyak 411 kab/kota
(93,4%) endemis DBD. Dalam kurun lima tahun terakhir (2010 sampai 2015),
jumlah kasus tertinggi terjadi pada tahun 2012; yaitu mencapai 90.245 kasus
dengan kematian 816 (Kementerian Kesehatan, 2015).

Berbagai upaya telah dilakukan dalam pengendalian penyakit ini baik dari
aspek penanganan penderita maupun pengendalian vektornya, akan tetapi belum
dapat menyelesaikan permasalahan secara tuntas, bahkan di beberapa wilayah
terjadi kecenderungan peningkatan kasus. Salah satu kebijakan dalam
pengendalian penyakit ini adalah memutus rantai penularannya, yaitu dengan
mengendalikan vektor penularnya. Nyamuk Ae. aegypti merupakan vektor yang
berperan dalam penularan penyakit ini (World Health organization, 2009).

Pengendalian nyamuk Ae. aegypti dapat dilakukan secara fisika, kimiawi


(insektisida) dan modifikasi lingkungan (Soegijanto, 2004). Djojosumarto, 2008
menyatakan bahwa selama ini teknik pengendalian larva nyamuk Ae. aegypti
dilakukan secara kimiawi (menggunakan insektisida). Hal ini dapat berdampak
buruk terhadap lingkungan maupun kesehatan sebagai akibat dari pajanan
pestisida.
2

Saat ini telah banyak dikembangkan metode pengendalian vektor DBD yang
lebih aman, yaitu melalui pemutusan siklus hidup nyamuk Ae. Aegypti pradewasa
(telur dan jentik/larva) menggunakan ovitrap. Ovitrap ini berupa wadah berisi air
yang ditutupi jaring, sehingga telur-telur yang diletakkan oleh nyamuk di
permukaan air saat menetas dan menjadi nyamuk dewasa tidak mampu keluar dari
wadah tersebut, yang pada akhirnya tidak dapat mencari makan, dan mati.

Pemasangan ovitrap di lingkungan sekitar rumah penduduk daerah-daerah


endemis DBD/malaria dapat mengurangi laju pertumbuhan populasi nyamuk.
Populasi yang berkurang juga akan berdampak pada penurunan angka infeksi
DBD dan malaria di suatu wilayah. Pembuatan ovitrap dapat meunggunakan
bahan-bahan bekas yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar seperti ember
atau wadah dan plastik bekas. Pada tahun 2015, Balai Besar Teknik Kesehatan
Lingkungan Jakarta telah mencoba melakukan pengembangan teknologi tepat
guna untuk pengendalian vektor (perangkap telur dan larva nyamuk Ae. Aegypti)
yang lebih sederhana yang dikenal dengan nama Teknologi Tepat Guna (TTG)
lavitrap. Tujuan dikembangkannya alat ini adalah untuk mendapatkan lavitrap
yang sederhana, murah, dan efektif. Prinsip kerja alat ini adalah sebagai
perangkap larva dengan membuat breeding places Ae. aegypti untuk bertelur.

Setelah telur menetas menjadi larva, TTG larvitrap menjebak jentik sehingga
jentik terperangkap dan mati. Telah diketahui bahwa tahap pradewasa (telur dan
jentik/larva) merupakan titik kritis pengendalian nyamuk Ae. aegypti
(Macdonald, 1967).

Alat ini bekerja dengan cara menghambat perkembangbiakan jentik/larva.


Untuk menguji keberhasilan alat ini, dilakukan uji preferensi dan efektivitas TTG
lavitrap dalam skala rumah tangga. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai
dasar pengembangan kebijakan surveilans vektor DBD. Surveilans vektor DBD
tidak hanya difokuskan pada air jernih dan bersih saja, akan tetapi juga dilakukan
pada air terpolusi.
3

B. Tujuan
1. Diketahuinya gambaran jumlah larva setiap pecan
2. Diketahuinya jenis wadah/bahan yang paling di sukai oleh nyamuk aedes
3. Diketahuinya lokasi tempat bertelur nyamuk Aedes (dalam/diluar rumah)
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Demam Berdarah Dengue


1. Definisi Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam Dengue adalah demam virus akut yang disertai sakit kepala, nyeri
otot, sendi, dan tulang, penurunan jumlah sel darah putih dan ruam-ruam.
Demam berdarah dengue atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah
demam dengue yang disertai pembesaran hati dan manifestasi perdarahan.
Demam Dengue adalah penyakit febris virus akut yang seringkali disertai
dengan gejala sakit kepala, nyeri tulang atau sendi dan otot, ruam dan
lekopenia. Demam Berdarah Dengue ditandai dengan manifestasi klinis utama
yaitu demam tinggi, fenomena hemoragik, sering dengan hepatomegali dan
pada kasus berat ada tanda-tanda kegagalan sirkulasi. Pasien dapat mengalami
syok hipovolemik (penurunan cairan) akibat kebocoran plasma. Syok ini
disebut Dengue Shock Syndrome (DSS) dan dapat menjadi fatal yaitu
kematian.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang menimbulkan


masalah bagi masyarakat. WHO (2011) melaporkan bahwa setiap tahunnya 50
juta penduduk dunia terinfeksi virus dengue dan 2, 5% dari mereka meninggal
dunia. Cara penyebaran DBD adalah melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti
(Candra, 2010).

DBD merupakan penyakit menular yang sering menimbulkan Kejadian


Luar Biasa (KLB) di Indonesia (Kementrian Kesehatan RI, 2011). Nyamuk ini
sangat cocok hidup di iklim tropis atau pun sub tropis. Indonesia adalah
tempat yang sangat sesuai dengan tempat hidup nyamuk Aedes Aegypti
(Johansson dkk, 2010).
5

2. Agent Penyebab
Penyebab utama penyakit demam berdarah adalah virus dengue, yang
merupakan virus dari famili Flaviviridae. Terdapat 4 jenis virus dengue yang
diketahui dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. Keempat virus
tersebut adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Gejala demam berdarah
baru muncul saat seseorang yang pernah terinfeksi oleh salah satu dari empat
jenis virus dengue mengalami infeksi oleh jenis virus dengue yang berbeda.
Sistem imun yang sudah terbentuk di dalam tubuh setelah infeksi pertama
justru akan mengakibatkan kemunculan gejala penyakit yang lebih parah saat
terinfeksi untuk ke dua kalinya. Seseorang dapat terinfeksi oleh sedikitnya dua
jenis virus dengue selama masa hidup, namun jenis virus yang sama hanya
dapat menginfeksi satu kali akibat adanya sistem imun tubuh yang terbentuk
(Kristina dkk, 2004).
Virus dengue dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan vektor
pembawanya, yaitu nyamuk dari genus Aedes seperti Aedes aegypti betina dan
Aedes albopictus. Aedes aegypti adalah vektor yang paling banyak ditemukan
menyebabkan penyakit ini. Nyamuk dapat membawa virus dengue setelah
menghisap darah orang yang telah terinfeksi virus tersebut. Sesudah masa
inkubasi virus di dalam nyamuk selama 8 - 10 hari, nyamuk yang terinfeksi
dapat mentransmisikan virus dengue tersebut ke manusia sehat yang
digigitnya.
Nyamuk betina juga dapat menyebarkan virus dengue yang dibawanya ke
keturunannya melalui telur (transovarial). Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa monyet juga dapat terjangkit oleh virus dengue, serta dapat pula
berperan sebagai sumber infeksi bagi monyet lainnya bila digigit oleh vektor
nyamuk. Tingkat risiko terjangkit penyakit demam berdarah meningkat pada
seseorang yang memiliki antibodi terhadap virus dengue akibat infeksi
pertama. Selain itu, risiko demam berdarah juga lebih tinggi pada wanita,
seseorang yang berusia kurang dari 12 tahun, atau seseorang yang berasal dari
ras Kaukasia (Vorvick, 2010).
6

3. Jenis vector
Virus dengue ditularkan kepada manusia terutama melalui gigitan nyamuk
Aedes aegypti. Selain itu dapat juga ditularkan oleh nyamuk Aedes albopictus,
Aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain yang merupakan vektor yang
kurang berperan. Nyamuk Aedes aegypti hidup di daerah tropis dan subtropis
dengan suhu 28-32 oC dan kelembaban yang tinggi serta tidak dapat hidup di
ketinggian 1000 m. Vektor utama untuk arbovirus bersifat multiple bitter,
antropofilik, dapat hidup di alam bebas, terbang siang hari (jam 08.00-10.00
dan 14.00-16.00), jarak terbang 100 m – 1 km, dan ditularkan oleh nyamuk
betina yang terinfeksi (WHO, 1997).

Gambar 3.1 Nyamuk Aedes aegypti (Sumber: WHO)


4. Cara Penularan

Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes


aegypti infektif biasanya menggigit sepanjang hari dan puncak aktivitas terjadi
pada pagi dan sore hari, terutama di dalam rumah atau di luar rumah di daerah
teduh (terlindung dari cahaya matahari langsung). Spesies nyamuk seperti Aedes
albopictus juga dapat berperan sebagai vektor sekunder (Anonim, 2014).

Nyamuk Aedes spp. tersebut dapat mengandung virus dengue pada saat
menggigit manusia sedang mengalami viremia. Kemudian virus di kelenjar liur
berkembang biak dengan multiplikasi dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation
period) sebelum dapat ditularkan kepada orang lain pada saat nyamuk vektor
mengigit dan menghisap darah (Hua Xu., at all 2006).

Virus dalam tubuh nyamuk betina dapat ditularkan kepada telurnya


(transovovarial transmission).Virus dapat masuk dan berkembangbiak di dalam
tubuh sehingga nyamuk dapat menularkan virus selama hidupnya (infektif).
Dalam tubuh manusia, virus memerlukan waktu sebagai masa tunas yaitu 46 hari
7

(intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan sakit. Penularan dari manusia


kepada nyamuk hanya dapat terjadi melalui gigitan kepada orang sedang
mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam
timbul (Huang K, 2007).

Transmisi Transovarial. Ada dua cara Virus Den mempertahankan diri


(survive) yaitu secara horizontal dan vertikal. Penularan horisontal disebarkan
melalui gigitan nyamuk Aedes spp. dengan cara nyamuk menggigit/menghisap
darah penderita DBD kemudian mengigit orang sehat. Virus ditularkan bersama
dengan air liur nyamuk masuk ketubuh orang sehat sehingga orang tersebut
menderita demam berdarah. Kondisi ini dikenal dengan transmisi horisontal.
Penularan Virus Den tanpa melalui gigitan nyamuk vektor terjadi transmisi vetikal
atau disebut dengan transovarial transmision. Penularan tersebut virus Den
diturunkan dari induk nyamuk infektif melalui telur kepada nyamuk generasi
berikutnya melalui telur. (Rohani A, Zamree I, dkk).

Trasmisi transovarial Virus DEN terjadi melalui tiga mekanisme yaitu ;

1. Nyamuk betina infektif mengigit dan menghisap darah inang bertujuan untuk
mematangkan telur dan memungkinkan virus untuk memperbanyak diri
(mereplikasi) dalam tubuh nyamuk terinfeksi telur sehingga menyebabkan
larvanya invektif.
2. Nyamuk betina tidak infektif kawin dengan nyamuk jantan infektif sehingga
menyebabkan infeksi nyamuk betina,
3. Jaringan ovarial nyamuk betina terinfeksi virus sehingga dapat ditularkan
secara genetic (Dewi HM, Suryati dan Titadjaja AI).

5. Cara Pencegahan

Tujuan utama pengendalian atau pencegahan vektor adalah untuk


menurunkan kepadatan populasi nyamuk Aedes aegypti sampai serendah –
rendahnya sehingga kemampuan sebagai vektor akan menghilang.

Menurut Soegijanto S (2003) secara garis besar terdapat empat cara


pengendalian vektor yakni secara kimiawi, biologik, radiasi dan mekanik atau
8

pengelolaan lingkungan. Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan


insektisida dapat ditujukan terhadap nyamuk dewasa maupun larva.

Insektisida untuk nyamuk dewasa Aedes aegypti antara lain dari golongan
organochlorine, organophosphor, carbamate dan pyrethroid. Insektisida tersebut
dapat diaplikasikan dalam bentuk spray terhadap rumah-rumah penduduk.
Sedangkan insektisida untuk larva Aedes aegypti yaitu dari golongan
organophosphor (Temephos) dalam bentuk sand granules yang dilarutkan dalam
air di tempat perindukannya ( tindakan abatisasi). Pengendalian scara radiasi
dilakukan dengan bahan radioaktif dosis tertentu terhadap nyamuk dewsa jantan
sehingga menjadi mandul, meskipun nantinya akan berkopulasi dengan nyamuk
betina tetapi tidak akan menghasilkan telur yang fertile.

Pengendalian lingkungan dilakukan dengan cara mencegah nyamuk kontak


dengan manusia misalnya memasang kawat kasa pada lubang ventilasi rumah
serta menggalakkan gerakan 3 M yaitu menguras tempat-tempat penampungan air
dengan menyikat dinding bagian dalam paling sedikit seminggu sekali, menutup
rapat tempat penampungan air sehingga tidak dapat diterobos oleh nyamuk
dewasa, menanam atau menimbun dalam tanah barang-barang bekas yang dapat
menampung air hujan. Cara lain lagi yang disebut autocidal ovitrap menggunakan
suatu tabung silinder warna gelap dengan diameter 10 cm dengan salah satu ujung
tertutup rapat dan ujung lainnya terbuka.

Tabung tersebut diisi air tawar kemudian ditutup dengan kasa nylon. Secara
periodik air dalam tabung ditambah untuk mengganti peguapan yang terjadi.
Nyamuk yang bertelur disini dan telurnya menetas menjadi larva dalam air tadi ,
maka akan menjadi nyamuk dewasa yang tetap terperangkap di dalam tabung tadi.
Dari cara pengendalian tersebut diatas tidak ada satupun yang paling unggul.
Untuk menghasilkan cara yang efektif maka perlu dilakukan kombinasi dari
beberapa cara-cara tersebut diatas.

B. Tinjauan Tentang Ovitrap


1. Definisi
9

Ovitrap adalah alat untuk menangkap telur nyamuk. Nyamuk harus


meletakkan telurnya di permukaan atau didalam air sehingga dapat
berkembang menjadi larva, pupa dan nyamuk dewasa. Ovitrap berupa wadah
berisi air yang di tutupi jaring, sehingga telur-telur yang di letakkan oleh
nyamuk di permukaan air saat menetas dan menjadi nyamuk dewasa tidak
mampu keluar dari wadah tersebut, sehingga tidak dapat mencari makan
sehingga mati.

2. Konsep tentang Ovitrap

Ovitrap berupa bejana (kaleng, palstik atau potongan bambu) yang dinding
bagian dalamnya dicat hitam dan diberi air secukupnya. Ke dalam bejana
tersebut dimasukan padel yaitu berupa potongan bambu atau kain yang
tenunanya kasar dan berwarna gelap sebagai tempat menyimpan telur. Ovitrap
ini akan ditempatkan baik di dalam atau diluar rumah yang gelap dan lembab
karena nyamuk menyukai tempat-temat tersebut untuk bertelur. Setelah satu
minggu dilakukan pemeriksaan ada/tidaknya telur di paddel.

C. Tinjauan Tentang Larvitrap


1. Definisi
Larvitrap adalah wadah yang dapat menampung air dengan penambahan
kain strimin. Prinsip kerja alat ini adalah sebagai perangkap larva dengan
membuat breeding places Aedes sp untuk bertelur. Telur yang diletakkan oleh
nyamuk di dinding larvitrap saat menetas dan menjadi larva tidak mampu
keluar dari wadah tersebut. Telah diketahui bahwa tahap pradewasa (telur dan
jentik/larva) merupakan titik kritis pengendalian nyamuk Aedes sp. Pembuatan
larvitrap dapat menggunakan bahan-bahan bekas yang mudah ditemukan di
lingkungan sekitar seperti ember, pot bunga , gerabah dan plastic bekas
(Roeberji,2017).
2. Konsep tentang Larvitrap

larvitrap menggunakan kain strimin yang di pasang di atas permukaan air


yang ada di dalam larvitrap, kain strimin di pasang dengan keadaan sedikit
terendam dengan air sehingga kain strimin mampu menyerap air dan kain
10

strimin menjadi basah. Pada saat nyamuk masuk ke dalam larvitrap maka
nyamuk akan meletakkan telurnya di dinding larvitrap yang sudah diberi kain
strimin. Menurut dari habitat nyamuk yang menyukai tempat yang gelap maka
kedalaman larvitrap merupakan salah satu faktor yang mendukung nyamuk
meletakkan telur nya dengan nyaman. Setelah nyamuk bertelur dan menjadi
larva maka larva nyamuk akan terjebak di dalam larvitrap.
11

BAB III
METODOLOGI SURVEY

A. Alat dan Bahan


 Alat :
1. Gunting
2. Kater
3. Hekter
4. Lakban
 Bahan :
1. Jaring
2. Bambu
3. Kaleng bekas
4. Botol AQUA Besar bekas
5. Kantong warna hitam
6. Karet

CARA PEMBUATAN :

Botol
1. Pertama potong botol yang telah di sediakan menjadi 2 bagian dengan
ukuran yang sama.

2. Ambil potongan botol yang terdapat tutup botol, kemudian pisahkan


botol tersebut dengan tutupnya.
12

3. Ambil kain jaring kemudian gunting sebesar ukuran tutup botol.

4. Lalu letakan jaring tersebut di atas tutup botol sehingga membentuk


menyerupai tutup botol. Agar kain menempel dengan erat pada botol,
ikat lah dengan tali.

5. Kemudian gabungkan potongan botol tersebut. dimana bagian botol


paling atas di balik kemudian di masukkan ke dalam bagian botol
bawah.
13

6. Ambil plastik hitam yang telah di sediakan kemudian tutup permukaan


botol sehingga semua menjadi warna hitam.

7. Lavitap siap di gunakan.

Kaleng
1. Siapkan sebuah kaleng ( disini menggunakan kaleng susu).
2. Lepaskan tutup kaleng menggunakan alat pembuka botol atau dapat
menggunakan pisau. hingga tidak terdapat bagian yang tajam pada sisi
kaleng.
3. Bersihkan kaleng tersebut.
4. Siapkan jaring, kemudian letakkan jaring tersebut di atas kaleng yang
telah di buka bagian atasnya. agar jaring tidak mudah lepas, gunakan
karet atau tali.

Bambu
1. Siapkan sebuah bambu. ukurannya kira-kira 20cm. dimana bagian
atas terbuka dan bagian bawah bambu tertutup.
2. Ambil jaring kemudian letakkan jaring di atas bambu yang bagian
atasnya terbuka. agar jaring tidak mudah lepas, rekatkan
menggunakkan karet.

B. Metode yang Digunakan


Pada saat kami melaksanakan tugas pemasangan larvitrap dan ovitrap di
beberapa tempat yang ada di kelurahan anduonohu seperti : jalan kancil, jalan
kelengkeng, jalan manggis, jalan rambutan, dll. Kami mecari terlebih dahulu,
masyarakat atau keluarga yang pernah menderita penyakit DBD. Dikarenakan,
14

hal tersebut kami menyakinkan bahwa di tempat itu terdapat Nyamuk Aedes
aegypti, sehingga kami menjadikannya sebagai titik kordinat untuk penelitian
ini.

Kemudian dari titik kordinat tersebut, kami mengambil beberapa sampel


rumah dengan cara memutar dari titik kordinat seperti bentuk obat nyamuk
bakar, yang akan kami pasangkan larvitrap dan ovitrap di tempat tinggal
mereka. Dikarenakan orang atau masyarakat yang pernah mengalami DBD
akan menular di sekitar pemukiman yang tidak jauh dari rumah korban
tersebut.

Setelah kami memasangkan larvitrap dan ovitrap di dalam dan luar rumah
masyarakat. Kami menyimpan alat tersebut di tempat yang kami yakin tempat
bersarang nyamuk, dan kami menyimpannya selama 5 hari yang dihitung
ketika kunjungan pertama. Dan ketika sudah hari ke-5, kami mengecek di
setiap alat apakah terdapat jentik nyamuk, dengan menggunakan penyaringan
ataupun kain yang berwarna putih. Kemudian kami melakukannya pengecekan
seperti itu sampai di kunjungan ke-5 kami menyudahi penelitian kami.
15

BAB IV
HASIL SURVEY

A. Gambaran Umum Lokasi


Wilayah Kecamatan Poasia terdiri dari 4 kelurahan yakni Kelurahan
Anduonohu, Kelurahan Rahandouna, Kelurahan Anggoeya dan Kelurahan
Matabubu. Kecamatan Poasia memiliki luas wilayah 5.250 km2 terdiri dari tanah
pertanian 2.365 Ha, sebanyak 941 Ha merupakan hutan dan sisanya digunakan
sebagai pemukiman, sarana sosial dan sebagainya.Wilayah Kecamatan Poasia
membujur dari arah barat ke timur dan melintang dari utara keselatan dengan
batas-batas sebagai berikut:
 Sebelah Utara berbatasan dengan Teluk Kendari
 Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Abeli
 Sebelah Selatan berbatasan dengan Kab. Konawe Selatan
 Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kambu
Gambaran umum lokasi penelitian yang akan di bahas yaitu keadaan geografis
Kel. Anduonohu, Kec. Poasia Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Kondisi
topografi pada daerah Anduonohu di dominasi oleh tingkat kemiringan lereng
antara 0 – 3% dengan kategori datar yang tersebar hampir seluruh wilayah pada
daerah Anduonohu, dengan luas 2.169,3 Ha. Kemiringan lahan 15 – 25% pada
daerah Anduonohu dengan luas 155,85 Ha yang terdapat pada Kelurahan
Anduonohu dan lahan dengan tingkat kemiringan lereng 25 – 40% dan lebih
besar dari 40% terdapat pada Kelurahan Anduonohu dengan luas wilayah 103,90
Ha dan kemiringan lereng lebih dari 40% terdapat pada Kelurahan Anduonuhu
(Sulkarnain, 2008).
16

30 38 1
B. Hasil yang Diperoleh
31 39 1
32 41 2
1. Jumlah Larva 33 43 2
34 45 1
JUMLAH JUMLAH
NO 35 47 1
LARVA TEMUAN
1 0 3,424 36 49 1
2 1 87 37 53 1
38 56 2
3 2 111
4 3 87 39 57 1
5 4 76 40 61 1
41 64 2
6 5 50
7 6 31 42 67 1
8 7 14 43 70 2
44 80 1
9 8 18
45 81 1
10 9 18
11 10 10
12 11 3
13 12 8
14 13 1
15 14 1
16 15 7
17 16 6
18 17 2
19 18 3
20 19 1
21 20 6
22 21 3
23 22 2
24 23 7
25 25 4
26 26 1
27 30 1
28 33 1
29 35 3
17
2. Wadah yang paling disukai
NO WADAH JUMLAH

1 Plastik 1,236

2 Kaleng 552

3 Bambu 2,112
3. Lokasi kesukaan nyamuk bertelur

No Lokasi Jumlah
1 Dalam rumah 1,787

2 Luar rumah 1,980


BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang menimbulkan
masalah bagi masyarakat. WHO (2011) melaporkan bahwa setiap tahunnya 50
juta penduduk dunia terinfeksi virus dengue dan 2, 5% dari mereka meninggal
dunia. Cara penyebaran DBD adalah melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti
(Candra, 2010).

Penyebab utama penyakit demam berdarah adalah virus dengue, yang


merupakan virus dari famili Flaviviridae. Terdapat 4 jenis virus dengue yang
diketahui dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. Keempat virus
tersebut adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.

Virus dengue dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan vektor


pembawanya, yaitu nyamuk dari genus Aedes seperti Aedes aegypti betina dan
Aedes albopictus. Aedes aegypti adalah vektor yang paling banyak ditemukan
menyebabkan penyakit ini.

Ovitrap adalah alat untuk menangkap telur nyamuk. Nyamuk harus


meletakkan telurnya di permukaan atau didalam air sehingga dapat
berkembang menjadi larva, pupa dan nyamuk dewasa. Ovitrap berupa wadah
berisi air yang di tutupi jaring, sehingga telur-telur yang di letakkan oleh
nyamuk di permukaan air saat menetas dan menjadi nyamuk dewasa tidak
mampu keluar dari wadah tersebut, sehingga tidak dapat mencari makan
sehingga mati.

Larvitrap adalah wadah yang dapat menampung air dengan penambahan


kain strimin. Prinsip kerja alat ini adalah sebagai perangkap larva dengan
membuat breeding places Aedes sp untuk bertelur. Telur yang diletakkan oleh
nyamuk di dinding larvitrap saat menetas dan menjadi larva tidak mampu
keluar dari wadah tersebut. Telah diketahui bahwa tahap pradewasa (telur dan
jentik/larva) merupakan titik kritis pengendalian nyamuk Aedes sp. Pembuatan
larvitrap dapat menggunakan bahan-bahan bekas yang mudah ditemukan di
lingkungan sekitar seperti ember, pot bunga , gerabah dan plastic bekas
(Roeberji,2017).

B. Saran

Saran yang dapat kami jaukan untuk kesempurnaan perlakuan dikemudian


hari ialah sebelum dilaksanakannya turun lapangan agar mahasiswa dibekali
dengan workshop, pelatihan, dan simulasi yang kuat agar mampu melaksanakan
tugas dengan baik dan benar, tidak berdampak pada status kesehatan masyarakat
dengan menggunakan metode yang salah sehingga hasil yang ingin dicapai dapat
diperoleh.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Makalah DBD.


https://murnicania.blogspot.com/2014/01/makalah-dbd.html
Nursian. 2019. Pemetaan Jenis Tanah Di Kelurahan Anduonohu Kecamatan
Poasia. Jurnal Penelitian Pendidikan Geografi. Volume 4 (1) : 55-69.
Sulkarnain, 2008. Kecamatan Poasia dalam Angka 2014. Kendari, UHO.
Zuhriyah, L., TS, T. B. and Kusnanto, H. (2016) ‘Efektifitas Modifikasi Ovitrap
Model Kepanjen untuk Menurunkan Angka Kepadatan Larva Aedes aegypti
di Malang’, Jurnal Kedokteran Brawijaya, 29(2), pp. 157–164.
Ernawati, Bratajaya, C. N. and Martina, S. E. (2018) ‘GAMBARAN PRAKTIK
PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI
WILAYAH ENDEMIK DBD’, 9(1), pp. 17–24.
Ningsih, P. R. (2016) PENGARUH DUA JENIS ATRAKTAN PADA OVITRAP
NYAMUK DI TIGA LOKASI LABORATORIUM LAPANG TERPADU
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG.
LAMPIRAN