Anda di halaman 1dari 154

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI RUMAH SAKIT


UMUM PUSAT NASIONAL (RSUPN) DR. CIPTO MANGUNKUSUMO

LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER

CICILIA MARINA, S. Farm.


1306502333

ANGKATAN LXXIX

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI FARMASI
DEPOK
DESEMBER 2014
UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI RUMAH SAKIT


UMUM PUSAT NASIONAL (RSUPN) DR. CIPTO MANGUNKUSUMO
PERIODE 7 JULI – 22 AGUSTUS 2014

LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker

CICILIA MARINA, S. Farm.


1306502333

ANGKATAN LXXIX

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI FARMASI
DEPOK
DESEMBER 2014

ii Universitas Indonesia
iii Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


iv Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


v Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


vi Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan program Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di
Rumah Sakit Umum Pendidikan Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo
yang telah dilaksanakan pada tanggal 7 Juli – 22 Agustus 2014, serta dapat
menyelesaikan laporan tugas umum ini. Laporan Praktik Kerja Profesi Apoteker
ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker di
Fakultas Farmasi Universitas Indonesia.
Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan
rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ibu Dian Eka Permata, S.Farm., Apt selaku pembimbing I yang telah
mengarahkan, berbagi ilmu, dan membimbing selama pelaksanaan PKPA di
RSCM maupun penulisan laporan ini;
2. Dr. Fadlina Chany S, M.Si., Apt selaku pembimbing II yang telah bersedia
meluangkan waktu untuk membimbing penulis selama penyusunan laporan
ini;
3. Bapak Dr. Mahdi Jufri, M.Si., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi
Universitas Indonesia;
4. Bapak Dr. Hayun, M.Si., Apt. selaku Ketua Program Profesi Apoteker
Fakultas Farmasi Universitas Indonesia dan pembimbing akademik yang telah
memberikan bimbingan selama penulis menempuh pendidikan di Farmasi
Universitas Indonesia dan selama melaksanakan PKPA;
5. Ibu Dra. Yulia Trisna, M.Pharm., Apt. selaku Kepala Instalasi Farmasi
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo atas kesempatan yang telah diberikan
kepada penulis untuk melaksanakan PKPA serta menggali ilmu sebanyak-
banyaknya selama melaksanakan PKPA di RSCM;
6. Seluruh apoteker dan staf Instalasi Farmasi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
atas waktu, pengarahan, dan bimbingannya selama penulis menjalani PKPA
di RSCM;
7. Seluruh staf pengajar dan bagian Tata Usaha program Profesi Apoteker
Fakultas Farmasi Universitas Indonesia atas ilmu, dukungan, dan bantuan

vii
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


yang telah diberikan kepada penulis selama menempuh program studi
Apoteker di Fakultas Farmasi Universitas Indonesia;
8. Keluarga tercinta dan orang-orang terdekat yang tidak pernah lelah
memberikan dukungan secara moril dan materil;
9. Seluruh rekan sejawat Apoteker Angkatan 79 Fakultas Farmasi Universitas
Indonesia atas kerja sama, dukungan, semangat, kekompakkan, dan
persahabatan yang telah terjalin selama menempuh pendidikan di program
profesi apoteker; dan
10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas bantuan dan
dukungan yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan laporan ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam
penyusunan laporan ini. Oleh karena itu, penulis terbuka untuk menerima saran
dan kritik yang bersifat membangun. Semoga laporan ini dapat bermanfaat, baik
bagi diri penulis maupun pihak lain yang terlibat dan membaca laporan ini.

Jakarta, Desember 2014

Penulis

viii
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


ABSTRAK

Praktik Kerja Profesi Apoteker di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional


(RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo bertujuan untuk memahami peran, fungsi,
serta tanggung jawab apoteker dalam kegatan manajerial dan pelayanan farmasi di
Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto
Mangunkusumo. Tugas khusus yang diberikan adalah pembuatan leaflet cara
menggunakan heparin dan cara menggunakan dan membersihkan rotahaler di
Rumah Sakit Umum Pendidikan Nasional (Rsupn) Dr. Cipto Mangunkusumo.

Kata Kunci: Apoteker, Leaflet Heparin, Leaflet Rotahaler, Rumah Sakit Umum
Pendidikan Nasional (Rsupn) Dr. Cipto Mangunkusumo.

ix Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


ABSTRACT

The aim of Pharmacist Internship Program at Rumah Sakit Umum Pusat


Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo is to understand the role, functions,
and reponsibilites of pharmacist in pharmaceutical management and
pharmaceutical care practice. Spesific task that given in pharmacist internship
program is making flyer about the way of using heparin and the way of using and
cleaning rotahaler in Rumah Sakit Umum Pendidikan Nasional (Rsupn) Dr. Cipto
Mangunkusumo.

Keywords: Pharmacist, Rumah Sakit Umum Pendidikan Nasional (Rsupn) Dr.


Cipto Mangunkusumo., Heparin Flyer, Rotahaler Flyer.

x Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................………….……………………….. i


KATA PENGANTAR………………………………………………………. ii
HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………………… iv
DAFTAR ISI ………………………………………………………………... v
DAFTAR GAMBAR………………………………………………………... vi
DAFTAR TABEL ………...………………………………………………... vii
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………... viii

BAB 1 PENDAHULUAN ………………………………………………… 1


1.1 Latar Belakang ……………………………………………….. 1
1.2 Tujuan ................…………………………………………….. 3

BAB 2 TINJAUAN UMUM .....……………………………………………. 4


2.1 Rumah Sakit ............................……………………………… 4
2.2 Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)..……....................…... 8
2.3 Panitia Farmasi dan Terapi (TFT)…………………….......…. 11
2.4 Formularium Rumah Sakit…………………............….......…. 12
2.5 Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai……............................................................ 14
2.6 Pelayanan Farmasi Klinik (Permenkes No. 58 Tahun 2014).... 23

BAB 3 TINJAUAN KHUSUS......…...……………………………………… 32


3.1 RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo ……..........……………… 32
3.2 Instalasi Farmasi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo............... 34
3.3 Keterlibatan Farmasi dalam Kepanitiaan Rumah Sakit ............ 37

BAB 4 PEMBAHASAN.................................................................................. 42
4.1 Gudang Perbekalan Farmasi Pusat RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo ………........................................…………… 41
4.2 Instalasi Sterilisasi Pusat RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.. 47
4.3 Sub Instalasi Produksi............................................................... 52
4.4 Satelit Farmasi Kirana............................................................... 57
4.5 Satelit Farmasi Instalasi Gawat Darurat.................................... 62
4.6 Satelit Farmasi Ruang Rawat Inap Terpadu (Gedung A)......... 70
4.7 Satelit Farmasi Intensive Care Unit (ICU)................................ 75
4.8 Satelit Farmasi Pusat................................................................. 77
4.9 Pelayanan Farmasi Klinik RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo…..........................………............................... 82

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN……………....................................... 92


5.1 Kesimpulan…………………………………………………… 92
5.2 Saran …………………………………………………………. 92

DAFTAR ACUAN ………………………………………………………….. 97

xi Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1. Struktur Organisasi Suku Dinas Kesehatan ....................................... 32


Gambar 4.1. Struktur Organisasi IAL RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo ........... 42
Gambar 4.2. Struktur Organisasi ISP............................. ........................................ 49
Gambar 4.3. Skema Pembagian Penyimpanan Perbekalan Farmasi...................... 72

vii
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Aturan Pengiriman Obat di Satelit Farmasi IGD RSCM .................. 66
Tabel 4.2. Pembagian Ruang Rawat Inap Tiap Lantai Gedung A ..................... 70
Tabel 4.3. Jadwal Pengambilan Perbekalan Farmasi yang Diterima Satelit ...... 81

viii
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Struktur Organisasi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo ...................... 98


Lampiran 2. Struktur Organisasi Instalasi Farmasi ...................... ....................... ..... 99
Lampiran 3. Struktur Koordinasi Administrasi dan Keuangan............................... 100
Lampiran 4. Struktur Organisasi Koordinator Produksi dan Diklitbang ................ 101
Lampiran 5. Struktur Organisasi Koordinator Pelayanan Farmasi ......................... 102
Lampiran 6. Alur Pengelolaan Perbekalan Farmasi di RSCM .............................. 103
Lampiran 7. Denah Gudang Farmasi I .................................................................... 104
Lampiran 8. Contoh Etiket Print ............................................................................. 105
Lampiran 9. Contoh Etiket Manual......................................................................... 106
Lampiran 10. Contoh Klip Plastik Obat untuk Unit Dose ....................................... 107
Lampiran 11. Contoh Stiker Obat ............................................................................. 108
Lampiran 12. Contoh Blanko Kartu Stok ................................................................. 109
Lampiran 13. Contoh Formulir Medication History Taking ..................................... 110
Lampiran 14. Lembar Pemantauan Terapi Obat untuk Pasien Rawat Inap .............. 111
Lampiran 15. Formulir Informasi Obat Pulang ........................................................ 112
Lampiran 16. Lembar Checklist Review Resep Obat Pasien .................................... 113
Lampiran 17 . Lembar Formulir Serah Terima Barang.............................................. 114
Lampiran 18. Formulir Permintaan Khusus Obat Non Formularium Nasional ........ 115

ix Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pelayanan kesehatan yang bermutu bukan hanya merupakan harapan bagi
masyarakat, tetapi sudah menjadi suatu kebutuhan dan sekaligus menjadi tujuan
Departemen Kesehatan yang harus diwujudkan dengan berbagai upaya. Adapun
upaya yang dilakukan antara lain dengan mendekatkan dan memperluas pelayanan
kesehatan kepada para masyarakat yang sifatnya menyeluruh, terpadu, merata,
dan dapat diterima dengan mutu yang baik dan biaya yang relatif terjangkau.
Upaya pelayanan kesehatan yang komprehensif atau menyeluruh meliputi upaya kesehatan
promotif, preventif, kuratif, dan rebilitatif.
Rumah sakit yang merupakan salah satu dari sarana kesehatan merupakan rujukan
pelayanan kesehatan dengan fungsi utama menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat
penyembuhan dan pemulihan bagi pasien. Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah
satu kegiatan di rumah sakit yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Hal tersebut
diperjelas dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit yang menyebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit
adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit
yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, dan
pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat
memuaskan setiap pemakai jasa layanan yang sesuai dengan tingkat kepuasan
rata-rata penduduk serta penyelenggaraannya sesuai dengan standar dan kode etik
profesi yang telah ditetapkan (Azwar, 1996).
Paradigma lama telah bergeser menjadi paradigma baru yang ditandai
dengan pengelolaan suatu organisasi yang menerapkan pola manajemen kualitas
mutu dan pelayanan yang handal dalam menghadapi persaingan dan dinamika
kerja yang meng-global, tak terkecuali pada sektor kesehatan. Kepuasan pasien
menjadi tolak ukur tingkat kualitas pelayanan kesehatan. Selain itu, kepuasan
pasien merupakan satu elemen yang penting dalam mengevaluasi kualitas layanan
1 Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


2

dengan mengukur sejauh mana respon pasien setelah menerima jasa. Perbaikan
kualitas jasa pelayanan kesehatan dapat dimulai dengan mengevaluasi setiap
unsur-unsur yang berperan dalam membentuk kepuasan pasien. Sistem kepedulian
kesehatan dapat diperbaiki melalui jalur klinis, layanan, termasuk perspektif
pasien seperti seberapa baik jasa pelayanan kesehatan yang mereka butuhkan.
Pada saat ini orientasi paradigma pelayanan kefarmasian telah bergeser dari
pelayanan obat (drug oriented) menjadi pelayanan pasien (patient oriented)
dengan mengacu kepada Pharmaceutical Care. Kegiatan pelayanan yang
sebelumnya hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi, berubah
menjadi pelayanan yang komprehensif dengan tujuan untuk meningkatkan
kualitas hidup pasien. Hal tersebut juga terdapat dalam Keputusan Menteri
Kesehatan No. 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di
Rumah Sakit, yang menyatakan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit merupakan
salah satu kegiatan di rumah sakit yang menunjang pelayanan kesehatan yang
bermutu (Anonim, 2006).
Tugas utama Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah pengelolaan mulai dari
perencanaan, pengadaan, penyimpanan, penyiapan, peracikan, pelayanan langsung
kepada pasien sampai dengan pengendalian semua perbekalan farmasi yang
beredar dan digunakan dalam rumah sakit, baik untuk pasien rawat inap, rawat
jalan, maupun untuk semua unit termasuk poliklinik rumah sakit (Siregar dan
Amalia, 2004).
Berkaitan dengan pengelolaan tersebut, Instalasi Farmasi Rumah Sakit harus
menyediakan obat untuk terapi yang optimal bagi semua pasien dan menjamin
pelayanan bermutu tinggi dan yang paling bermanfaat dengan biaya minimal. Jadi
Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah satu-satunya unit di rumah sakit yang
bertugas dan bertanggung jawab sepenuhnya pada pengelolaan semua aspek yang
berkaitan dengan perbekalan farmasi yang beredar dan digunakan di rumah sakit
tersebut. Instalasi Farmasi Rumah Sakit bertanggung jawab mengembangkan
suatu pelayanan farmasi yang luas dan terkoordinasi dengan baik dan tepat untuk
memenuhi kebutuhan berbagai bagian atau unit diagnosis dan terapi, unit
pelayanan keperawatan, staf medik, dan rumah sakit keseluruhan untuk
kepentingan pelayanan pasien yang lebih baik (Siregar dan Amalia, 2004).
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


3

Apoteker merupakan tenaga kefarmasian yang memiliki kewenangan dan


tanggung jawab untuk melaksanakan pekerjaan kefarmasian. Seiring
perkembangan zaman, profesionalisme apoteker semakin diperlukan karena
pekerjaan kefarmasian tidak lagi berorientasi pada produk semata (product
oriented), tetapi cenderung berorientasi pada pasien (patient oriented). Perubahan
orientasi pekerjaan tersebut menuntut apoteker untuk memiliki pengetahuan yang
luas dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian, baik dalam pengelolaan
perbekalan farmasi maupun pelayanan farmasi klinik.
Salah satu upaya untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan
dan kemampuan bekerja sama dengan profesi kesehatan lainnya, maka Fakultas
Farmasi Universitas Indonesia menyelenggarakan program Praktik Kerja Profesi
Apoteker (PKPA) bagi mahasiswa Program Pendidikan Apoteker yang bekerja
sama dengan Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta yang berlangsung selama 2 bulan.

1.2 Tujuan
Tujuan pelaksanaan kegiatan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) ini
adalah untuk memberikan pemahaman serta pengalaman kepada mahasiswa
apoteker tentang tugas pokok seorang apoteker di rumah sakit dalam peran
manajemen perbekalan farmasi dan pelayanan farmasi klinik di RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


BAB 2
TINJAUAN UMUM

2.1 Rumah Sakit


2.1.1 Definisi Rumah Sakit
Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan berupa rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah
sakit juga dapat didefinisikan sebagai institusi pelayanan kesehatan bagi
masyarakat dengan karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan
ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi
masyarakat yang harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu
dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya. Rumah sakit diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarkan
kepada nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan
hak dan anti diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien, serta
mempunyai fungsi sosial (Menteri Kesehatan, 2009).

2.1.2 Fungsi dan Tugas Rumah Sakit


Menurut Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, rumah
sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna, dan untuk menjalankan tugas sebagaimana yang dimaksud fungsi
rumah sakit adalah :
a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai
dengan standar pelayanan rumah sakit.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan
kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
c. Penyelenggaaan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka
peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.

4 Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


5

d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi


bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan
memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

2.1.3 Klasifikasi Rumah Sakit


Suatu sistem klasifikasi rumah sakit diperlukan untuk memberikan
kemudahan mengetahui identitas, organisasi, jenis pelayanan yang diberikan
pemilik, serta evaluasi golongan rumah sakit. Rumah sakit dapat diklasifikasikan
menjadi beberapa golongan berdasarkan jenis pelayanan, kepemilikan, dan rumah
sakit pendidikan.

2.1.3.1 Klasifikasi Rumah Sakit Berdasarkan Jenis Pelayanan


Berdasarkan jenis pelayanan, rumah sakit dapat digolongkan menjadi:
1. Rumah Sakit Umum
Rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan
kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit. Berdasarkan fasilitas dan
kemampuan pelayanan, rumah sakit umum digolongkan menjadi:
a. Rumah Sakit Umum Kelas A
Rumah sakit umum kelas A harus mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit empat pelayanan medik spesialis dasar, lima
pelayanan spesialis penunjang medik, dua belas pelayanan medik spesialis lain,
dan tiga belas pelayanan medik subspesialis.
b. Rumah Sakit Umum Kelas B
Rumah sakit umum kelas B harus mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit empat pelayanan medik spesialis dasar, empat
pelayanan spesialis penunjang medik, delapan pelayanan medik spesialis lainnya,
dan dua pelayanan medik subspesialis dasar.
c. Rumah Sakit Umum Kelas C
Rumah sakit umum kelas C harus mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit empat pelayanan medik spesialis dasar dan empat
pelayanan spesialis penunjang medik.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


6

d. Rumah Sakit Umum Kelas D


Rumah sakit umum kelas D harus mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit dua pelayanan medik spesialis dasar.

2. Rumah Sakit Khusus


Rumah sakit khusus adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan utama
pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu,
golongan umur, organ, jenis penyakit, atau kekhususan lainnya. Berdasarkan
fasilitas dan kemampuan pelayanan, rumah sakit khusus digolongkan menjadi:
a. Rumah Sakit Khusus Kelas A
b. Rumah Sakit Khusus Kelas B
c. Rumah Sakit Khusus Kelas C

2.1.3.2 Berdasarkan Pengelola


Berdasarkan pengelolanya, rumah sakit dapat digolongkan menjadi :
a. Rumah Sakit Publik
Rumah sakit publik adalah rumah sakit yang dapat dikelola oleh
Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan badan hukum yang bersifat nirlaba. Rumah
sakit publik yang dikelola Pemerintah dan Pemerintah Daerah diselenggarakan
berdasarkan pengelolaan Badan Layanan Umum atau Badan Layanan Umum
Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. Rumah Sakit Privat
Rumah sakit privat adalah rumah sakit yang dikelola oleh badan hukum
dengan tujuan profit yang berbentuk Persero Terbatas atau Persero.

2.1.3.3 Rumah Sakit Pendidikan


Rumah sakit pendidikan merupakan rumah sakit yang menyelenggarakan
pendidikan dan penelitian secara terpadu dalam bidang pendidikan profesi
kedokteran, pendidikan kedokteran berkelanjutan, dan pendidikan tenaga
kesehatan lainnya.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


7

2.1.4 Organisasi Rumah Sakit


Organisasi di rumah sakit adalah sebuah struktur yang dibangun oleh rumah
sakit sendiri yang memiliki tingkatan-tingkatan dan tugas masing-masing serta
saling membutuhkan satu sama lain. Organisasi tersebut dapat berdiri di bawah
naungan pemerintah ataupun tidak. Rumah sakit yang tidak berada di bawah
naungan pemerintah adalah rumah sakit swasta. Mereka berdiri dari orang yang
memiliki rumah sakit tersebut.
Setiap rumah sakit harus memiliki organisasi yang efektif, efisien, dan
akuntabel agar dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Menurut UU No. 44
Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, organisasi rumah sakit paling sedikit terdiri
atas kepala rumah sakit atau direktur rumah sakit, unsur pelayanan medis, unsur
keperawatan, unsur penunjang medis, komite medis, satuan pemeriksaan internal,
serta administrasi umum dan keuangan. Kepala rumah sakit harus seorang tenaga
medis yang mempunyai kemampuan dan keahlian di bidang perumahsakitan.
Pemilik rumah sakit tidak boleh merangkap menjadi kepala rumah sakit.

2.1.5 Tenaga Kesehatan


Menurut UU No. 36 Tahun 2009, tenaga kesehatan merupakan setiap orang
yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan
dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis
tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Tenaga
kesehatan juga harus memiliki kualifikasi minimum, memenuhi ketentuan kode
etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan, dan
standar prosedur operasional. Kode etik dan standar profesi diatur oleh organisasi
profesi masing-masing. Menurut Undang – Undang Republik Indonesia No. 36
Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, tenaga kesehatan yang dimaksud yaitu:
1. Tenaga medis yang meliputi dokter dokter gigi, dokter spesialis, dan dokter
gigi spesialis.
2. Tenaga psikologi klinis.
3. Tenaga keperawatan.
4. Tenaga kebidanan.
5. Tenaga kefarmasian yang meliputi apoteker dan tenaga teknis kefarmasian.
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


8

6. Tenaga kesehatan masyarakat yang meliputi epidemiolog kesehatan, tenaga


promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga
administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatik dan kependudukan,
serta tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga.
7. Tenaga kesehatan lingkungan yang meliputi tenaga sanitasi lingkungan,
entomolog kesehatan, dan mikrobiolog kesehatan.
8. Tenaga gizi yang meliputi nutrisionis dan dietisien.
9. Tenaga keterapian fisik yang meliputi fisioterapis, okupasi terapis, terapis
wicara, dan akupunktur.
10. Tenaga keteknisian medis yang meliputi perekam medis dan informasi
kesehatan, teknik kardiovaskuler, teknisi pelayanan darah, refraksionis
optisien/optometris, teknisi gigi, penata anestesi, terapis gigi dan mulut, serta
audiologis.
11. Tenaga teknik biomedika yang meliputi radiografer, elektromedis, ahli
teknologi laboratorium medik, fisikawan medik, radioterapis, dan ortotik
prostetik.
12. Tenaga kesehatan tradisional yang meliputi tenaga kesehatan tradisional
ramuan dan tenaga kesehatan tradisional keterampilan.
13. Tenaga kesehatan lain.

2.2 Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)


2.2.1 Definisi IFRS
Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah suatu bagian / unit / divisi / fasilitas di
rumah sakit, tempat penyelenggaraan semua kegiatan pekerjaan kefarmasian yang
ditujukan untuk keperluan rumah sakit itu sendiri (Siregar dan Amalia, 2004).
Berdasarkan definisi tersebut maka Instalasi Farmasi Rumah Sakit secara
umum dapat diartikan sebagai suatu departemen atau unit atau bagian di suatu
rumah sakit di bawah pimpinan seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa orang
apoteker yang memenuhi persyaratan perundang-undangan yang berlaku dan
bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian, yang
terdiri dari pelayanan paripurna yang mencakup perencanaan, pengadaan,
produksi, penyimpanan perbekalan farmasi, penyiapan obat berdasarkan resep
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


9

bagi pasien rawat inap dan rawat jalan, pengendalian mutu, distribusi, dan
penggunaan seluruh perbekalan farmasi di rumah sakit. Pelayanan farmasi klinik
umum dan spesialis mencakup pelayanan langsung pada pasien dan pelayanan
klinik yang merupakan program rumah sakit secara keseluruhan (Siregar dan
Amalia, 2004).

2.2.2 Tugas dan Fungsi IFRS


Berdasarkan Permenkes No.58 Tahun 2004 tentang Standar Pelayanan
Farmasi di Rumah Sakit Instalasi Farmasi Rumah Sakit mempunyai:
Tugas Instalasi Farmasi Rumah Sakit, meliputi:
a. Menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur, dan mengawasi seluruh
kegiatan pelayanan kefarmasian yang optimal dan profesional serta sesuai
prosedur dan etik profesi.
b. Melaksanakan pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai yang efektif, aman, bermutu, dan efisien.
c. Melaksanakan pengkajian dan pemantauan penggunaan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai guna memaksimalkan efek
terapi dan keamanan serta meminimalkan risiko.
d. Melaksanakan Komunikasi, Edukasi, dan Informasi (KIE) serta memberikan
rekomendasi kepada dokter, perawat, dan pasien.
e. Berperan aktif dalam Tim Farmasi dan Terapi.
f. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan serta pengembangan Pelayanan
Kefarmasian.
g. Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan
formularium Rumah Sakit.
Fungsi Instalasi Farmasi Rumah Sakit, meliputi:
1. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
yang meliputi :
a. Memilih Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
sesuai kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.
b. Merencanakan kebutuhan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai secara efektif, efisien, dan optimal.
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


10

c. Mengadakan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
berpedoman pada perencanaan yang telah dibuat sesuai ketentuan yang
berlaku.
d. Memproduksi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit.
e. Menerima Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
sesuai dengan spesifikasi dan ketentuan yang berlaku.
f. Menyimpan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan kefarmasian.
g. Mendistribusikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai ke unit-unit pelayanan di Rumah Sakit.
h. Melaksanakan pelayanan farmasi satu pintu.
i. Melaksanakan pelayanan Obat “unit dose”atau dosis sehari.
j. Melaksanakan komputerisasi pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai (apabila sudah memungkinkan).
k. Mengidentifikasi, mencegah, dan mengatasi masalah yang terkait dengan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai.
l. Melakukan pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang sudah tidak dapat digunakan.
m. Mengendalikan persediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai.
n. Melakukan administrasi pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai.

2. Pelayanan Farmasi Klinik


a. Mengkaji dan melaksanakan pelayanan resep atau permintaan obat.
b. Melaksanakan penelusuran riwayat penggunaan obat.
c. Melaksanakan rekonsiliasi obat.
d. Memberikan informasi dan edukasi penggunaan obat, baik berdasarkan resep
maupun obat non resep kepada pasien/keluarga pasien.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


11

e. Mengidentifikasi, mencegah, dan mengatasi masalah yang terkait dengan


Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai.
f. Melaksanakan visite mandiri maupun bersama tenaga kesehatan lain.
g. Memberikan konseling pada pasien dan/atau keluarganya.
h. Melaksanakan Pemantauan Terapi Obat (PTO): Pemantauan efek terapi obat.,
Pemantauan efek samping obat, Pemantauan Kadar Obat dalam Darah
(PKOD).
i. Melaksanakan Evaluasi Penggunaan Obat (EPO).
j. Melaksanakan dispensing sediaan steril: Melakukan pencampuran obat suntik,
Menyiapkan nutrisi parenteral, Melaksanakan penanganan sediaan sitotoksik,
Melaksanakan pengemasan ulang sediaan steril yang tidak stabil.
k. Melaksanakan Pelayanan Informasi Obat (PIO) kepada tenaga kesehatan lain,
pasien/keluarga, masyarakat, dan institusi di luar Rumah Sakit.
l. Melaksanakan Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS).

2.3 Tim Farmasi dan Terapi (TFT)


Berdasarkan Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit tahun 2014
dalam pengorganisasian Rumah Sakit dibentuk Tim Farmasi dan Terapi (TFT)
yang merupakan unit kerja dalam memberikan rekomendasi kepada pimpinan
Rumah Sakit mengenai kebijakan penggunaan obat di Rumah Sakit yang
anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili semua spesialisasi yang ada di
Rumah Sakit, Apoteker Instalasi Farmasi, serta tenaga kesehatan lainnya apabila
diperlukan. TFT harus dapat membina hubungan kerja dengan komite lain di
dalam Rumah Sakit yang berhubungan/berkaitan dengan penggunaan obat.
Ketua TFT dapat diketuai oleh seorang dokter atau seorang Apoteker,
apabila diketuai oleh dokter maka sekretarisnya adalah Apoteker, namun apabila
diketuai oleh Apoteker, maka sekretarisnya adalah dokter.
TFT harus mengadakan rapat secara teratur, sedikitnya 2 (dua) bulan sekali
dan untuk Rumah Sakit besar rapat diadakan sekali dalam satu bulan. Rapat TFT
dapat mengundang pakar dari dalam maupun dari luar Rumah Sakit yang dapat

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


12

memberikan masukan bagi pengelolaan TFT, memiliki pengetahuan khusus,


keahlian-keahlian atau pendapat tertentu yang bermanfaat bagi TFT.
Tugas Tim Farmasi dan Terapi (TFT) meliputi:
a. Mengembangkan kebijakan tentang penggunaan obat di Rumah Sakit.
b. Melakukan seleksi dan evaluasi obat yang akan masuk dalam formularium
Rumah Sakit.
c. Mengembangkan standar terapi.
d. Mengidentifikasi permasalahan dalam penggunaan obat.
e. Melakukan intervensi dalam meningkatkan penggunaan obat yang rasional.
f. Mengkoordinir penatalaksanaan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki.
g. Mengkoordinir penatalaksanaan medication error.
h. Menyebarluaskan informasi terkait kebijakan penggunaan obat di Rumah
Sakit.

2.4 Formularium Rumah Sakit


Formularium Rumah Sakit disusun mengacu kepada Formularium Nasional.
Formularium Rumah Sakit merupakan daftar obat yang disepakati staf medis,
disusun oleh Tim Farmasi dan Terapi (TFT) yang ditetapkan oleh Pimpinan
Rumah Sakit. Formularium Rumah Sakit harus tersedia untuk semua penulis
resep, pemberi obat, dan penyedia obat di Rumah Sakit. Evaluasi terhadap
Formularium Rumah Sakit harus secara rutin dan dilakukan revisi sesuai
kebijakan dan kebutuhan Rumah Sakit.
Penyusunan dan revisi Formularium Rumah Sakit dikembangkan
berdasarkan pertimbangan terapetik dan ekonomi dari penggunaan obat agar
dihasilkan Formularium Rumah Sakit yang selalu mutakhir dan dapat memenuhi
kebutuhan pengobatan yang rasional.
Tahapan proses penyusunan Formularium Rumah Sakit:
a. Membuat rekapitulasi usulan obat dari masing-masing Staf Medik Fungsional
(SMF) berdasarkan standar terapi atau standar pelayanan medik.
b. Mengelompokkan usulan obat berdasarkan kelas terapi.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


13

c. Membahas usulan tersebut dalam rapat Tim Farmasi dan Terapi (TFT), jika
diperlukan dapat meminta masukan dari pakar.
d. Mengembalikan rancangan hasil pembahasan Tim Farmasi dan Terapi (TFT),
dikembalikan ke masing-masing SMF untuk mendapatkan umpan balik.
e. Membahas hasil umpan balik dari masing-masing SMF.
f. Menetapkan daftar obat yang masuk ke dalam Formularium Rumah Sakit.
g. Menyusun kebijakan dan pedoman untuk implementasi.
h. Melakukan edukasi mengenai Formularium Rumah Sakit kepada staf dan
melakukan monitoring.
Kriteria pemilihan obat untuk masuk Formularium Rumah Sakit:
a. Mengutamakan penggunaan obat generik.
b. Memiliki rasio manfaat-risiko (benefit-risk ratio) yang paling
menguntungkan penderita.
c. Mutu terjamin, termasuk stabilitas, dan bioavailabilitas.
d. Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan.
e. Praktis dalam penggunaan dan penyerahan.
f. Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh pasien.
g. Memiliki rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio) yang tertinggi berdasarkan
biaya langsung dan tidak langsung.
h. Obat lain yang terbukti paling efektif secara ilmiah dan aman (evidence based
medicines) yang paling dibutuhkan untuk pelayanan dengan harga yang
terjangkau.

2.5 Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai
Menurut Permenkes No 58 Tahun 2014 terbaru yang telah ditetapkan pada
bulan Agustus 2014, Apoteker bertanggung jawab terhadap pengelolaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit yang
menjamin seluruh rangkaian kegiatan perbekalan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan ketentuan yang berlaku

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


14

serta memastikan kualitas, manfaat, dan keamanannya. Pengelolaan Sediaan


Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan suatu siklus
kegiatan, dimulai dari pemilihan, perencanaan kebutuhan, pengadaan,
penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pemusnahan dan penarikan,
pengendalian, dan administrasi yang diperlukan bagi kegiatan Pelayanan
Kefarmasian.
Dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
dinyatakan bahwa Pengelolaan Alat Kesehatan, Sediaan Farmasi, dan Bahan
Medis Habis Pakai di Rumah Sakit harus dilakukan oleh Instalasi Farmasi sistem
satu pintu. Sistem satu pintu adalah satu kebijakan kefarmasian termasuk
pembuatan formularium, pengadaan, dan pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang bertujuan untuk mengutamakan
kepentingan pasien melalui Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Dengan demikian
semua Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang
beredar di Rumah Sakit merupakan tanggung jawab Instalasi Farmasi Rumah
Sakit, sehingga tidak ada pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit yang dilaksanakan selain oleh Instalasi
Farmasi Rumah Sakit.
Kegiatan pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai berdasarkan Permenkes No 58 Tahun 2014 meliputi:
A. Pemilihan
Pemilihan adalah kegiatan untuk menetapkan jenis Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan kebutuhan. Pemilihan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai ini berdasarkan:
a. Formularium dan standar pengobatan/pedoman diagnosa dan terapi.
b. Standar Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
yang telah ditetapkan.
c. Pola penyakit.
d. Efektifitas dan keamanan.
e. Pengobatan berbasis bukti.
f. Mutu.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


15

g. Harga.
h. Ketersediaan di pasaran.

B. Perencanaan Kebutuhan
Perencanaan kebutuhan merupakan kegiatan untuk menentukan jumlah dan
periode pengadaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai sesuai dengan hasil kegiatan pemilihan untuk menjamin terpenuhinya
kriteria tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu, dan efisien.
Perencanaan dilakukan untuk menghindari kekosongan obat dengan
menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan dan dasar-dasar
perencanaan yang telah ditentukan antara lain konsumsi, epidemiologi, kombinasi
metode konsumsi dan epidemiologi, serta disesuaikan dengan anggaran yang
tersedia.
Pedoman perencanaan harus mempertimbangkan:
a. Anggaran yang tersedia.
b. Penetapan prioritas.
c. Sisa persediaan.
d. Data pemakaian periode yang lalu.
e. Waktu tunggu pemesanan.
f. Rencana pengembangan.

C. Pengadaan
Pengadaan merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk merealisasikan
perencanaan kebutuhan. Pengadaan yang efektif harus menjamin ketersediaan,
jumlah, dan waktu yang tepat dengan harga yang terjangkau dan sesuai standar
mutu. Pengadaan merupakan kegiatan yang berkesinambungan dimulai dari
pemilihan, penentuan jumlah yang dibutuhkan, penyesuaian antara kebutuhan
dan dana, pemilihan metode pengadaan, pemilihan pemasok, penentuan
spesifikasi kontrak, pemantauan proses pengadaan, dan pembayaran.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengadaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai antara lain:
a. Bahan baku obat harus disertai Sertifikat Analisa.
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


16

b. Bahan berbahaya harus menyertakan Material Safety Data Sheet (MSDS).


c. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai harus
mempunyai Nomor Izin Edar.
d. Expired date minimal 2 (dua) tahun kecuali untuk Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai tertentu (vaksin, reagensia, dan
lain-lain).
Pengadaan dapat dilakukan melalui:
a. Pembelian
Untuk Rumah Sakit Pemerintah, pembelian Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai harus sesuai dengan ketentuan
pengadaan barang dan jasa yang berlaku.

b. Produksi Sediaan Farmasi


Instalasi Farmasi Rumah Sakit dapat memproduksi sediaan tertentu apabila:
 Sediaan Farmasi tidak ada di pasaran.
 Sediaan Farmasi lebih murah jika diproduksi sendiri.
 Sediaan Farmasi dengan formula khusus.
 Sediaan Farmasi dengan kemasan yang lebih kecil/repacking.
 Sediaan Farmasi untuk penelitian.
 Sediaan Farmasi yang tidak stabil dalam penyimpanan/harus dibuat baru
(recenter paratus).
Sediaan yang dibuat di Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan mutu dan
terbatas hanya untuk memenuhi kebutuhan pelayanan di Rumah Sakit tersebut.

c. Sumbangan/Dropping/Hibah
Instalasi Farmasi harus melakukan pencatatan dan pelaporan terhadap
penerimaan dan penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai sumbangan/dropping/ hibah.
Seluruh kegiatan penerimaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai dengan cara sumbangan/dropping/hibah harus disertai
dokumen administrasi yang lengkap dan jelas. Agar penyediaan Sediaan Farmasi,
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


17

Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai dapat membantu pelayanan
kesehatan, maka jenis Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai harus sesuai dengan kebutuhan pasien di Rumah Sakit. Instalasi Farmasi
dapat memberikan rekomendasi kepada pimpinan Rumah Sakit untuk
mengembalikan/menolak sumbangan/dropping/hibah Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang tidak bermanfaat bagi kepentingan
pasien Rumah Sakit.

d. Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis,
spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan, dan harga yang tertera dalam
kontrak atau surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima. Semua dokumen
terkait penerimaan barang harus tersimpan dengan baik.

e. Penyimpanan
Setelah barang diterima di Instalasi Farmasi perlu dilakukan penyimpanan
sebelum dilakukan pendistribusian. Penyimpanan harus dapat menjamin kualitas
dan keamanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
sesuai dengan persyaratan kefarmasian. Persyaratan kefarmasian yang dimaksud
meliputi persyaratan stabilitas dan keamanan, sanitasi, cahaya, kelembaban,
ventilasi, dan penggolongan jenis Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai.
Komponen yang harus diperhatikan antara lain:
a. Obat dan bahan kimia yang digunakan untuk mempersiapkan obat diberi label
yang secara jelas terbaca memuat nama, tanggal pertama kemasan dibuka,
tanggal kadaluwarsa, dan peringatan khusus.
b. Elektrolit konsentrasi tinggi tidak disimpan di unit perawatan kecuali untuk
kebutuhan klinis yang penting.
c. Elektrolit konsentrasi tinggi yang disimpan pada unit perawatan pasien
dilengkapi dengan pengaman, harus diberi label yang jelas dan disimpan pada
area yang dibatasi ketat (restricted) untuk mencegah penatalaksanaan yang
kurang hati-hati.
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


18

d. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang dibawa
oleh pasien harus disimpan secara khusus dan dapat diidentifikasi.

Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang harus
disimpan terpisah yaitu:
a. Bahan yang mudah terbakar, disimpan dalam ruang tahan api dan diberi tanda
khusus bahan berbahaya.
b. Gas medis disimpan dengan posisi berdiri, terikat, dan diberi penandaaan
untuk menghindari kesalahan pengambilan jenis gas medis. Penyimpanan
tabung gas medis kosong terpisah dari tabung gas medis yang ada isinya.
Penyimpanan tabung gas medis di ruangan harus menggunakan tutup demi
keselamatan.
Metode penyimpanan dapat dilakukan berdasarkan kelas terapi, bentuk
sediaan, dan jenis Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai dan disusun secara alfabetis dengan menerapkan prinsip First Expired First
Out (FEFO) dan First In First Out (FIFO) disertai sistem informasi manajemen.
Penyimpanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
yang penampilan dan penamaan yang mirip (LASA, Look Alike Sound Alike)
tidak ditempatkan berdekatan dan harus diberi penandaan khusus untuk mencegah
terjadinya kesalahan pengambilan obat.
Rumah Sakit harus dapat menyediakan lokasi penyimpanan obat emergensi
untuk kondisi kegawatdaruratan. Tempat penyimpanan harus mudah diakses dan
terhindar dari penyalahgunaan dan pencurian.

f. Pendistribusian
Distribusi merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam rangka
menyalurkan/menyerahkan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai dari tempat penyimpanan sampai kepada unit pelayanan/pasien
dengan tetap menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah, dan ketepatan waktu.
Rumah Sakit harus menentukan sistem distribusi yang dapat menjamin
terlaksananya pengawasan dan pengendalian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai di unit pelayanan.
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


19

Sistem distribusi di unit pelayanan dapat dilakukan dengan cara: Sistem


Persediaan Lengkap di Ruangan (Floor Stock)
1. Pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai untuk persediaan di ruang rawat disiapkan dan dikelola oleh Instalasi
Farmasi.
2. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang
disimpan di ruang rawat harus dalam jenis dan jumlah yang sangat
dibutuhkan.
3. Dalam kondisi sementara dimana tidak ada petugas farmasi yang mengelola
(di atas jam kerja) maka pendistribusiannya didelegasikan kepada penanggung
jawab ruangan.
4. Setiap hari dilakukan serah terima kembali pengelolaan obat floor stock
kepada petugas farmasi dari penanggung jawab ruangan.
5. Apoteker harus menyediakan informasi, peringatan, dan kemungkinan
interaksi obat pada setiap jenis obat yang disediakan di floor stock.
a. Sistem Resep Perorangan
Pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai berdasarkan resep perorangan/pasien rawat jalan dan rawat inap melalui
Instalasi Farmasi.
b. Sistem Unit Dosis
Pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai berdasarkan resep perorangan yang disiapkan dalam unit dosis tunggal atau
ganda, untuk penggunaan satu kali dosis/pasien. Sistem unit dosis ini digunakan
untuk pasien rawat inap.
c. Sistem Kombinasi
Sistem pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai bagi pasien rawat inap dengan menggunakan kombinasi a + b atau b
+ c atau a + c.

g. Pemusnahan dan Penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan


Medis Habis Pakai

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


20

Pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan


Medis Habis Pakai yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan dengan cara
yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pemusnahan dilakukan untuk Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai bila:
a. Produk tidak memenuhi persyaratan mutu.
b. Telah kadaluwarsa.
c. Tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam pelayanan kesehatan atau
kepentingan ilmu pengetahuan.
d. Dicabut izin edarnya.

Tahapan pemusnahan obat terdiri dari:


a. Membuat daftar Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai yang akan dimusnahkan.
b. Menyiapkan Berita Acara Pemusnahan.
c. Mengoordinasikan jadwal, metode, dan tempat pemusnahan kepada pihak
terkait.
d. Menyiapkan tempat pemusnahan.
e. Melakukan pemusnahan disesuaikan dengan jenis dan bentuk sediaan serta
peraturan yang berlaku.

Penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
dilakukan terhadap produk yang izin edarnya dicabut oleh Badan Pengawas Obat
dan Makanan (BPOM). Penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai dilakukan oleh BPOM atau pabrikan asal. Rumah Sakit harus
mempunyai sistem pencatatan terhadap kegiatan penarikan.

h. Pengendalian
Pengendalian dilakukan terhadap jenis dan jumlah persediaan dan
penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai.
Pengendalian penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


21

Habis Pakai dapat dilakukan oleh Instalasi Farmasi harus bersama dengan Tim
Farmasi dan Terapi (TFT) di Rumah Sakit.

Tujuan pengendalian persediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan


Medis Habis Pakai adalah untuk:
a. Penggunaan obat sesuai dengan Formularium Rumah Sakit.
b. Penggunaan obat sesuai dengan diagnosis dan terapi.
c. Memastikan persediaan efektif dan efisien atau tidak terjadi kelebihan dan
kekurangan/kekosongan, kerusakan, kadaluwarsa, dan kehilangan serta
pengembalian pesanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai.

Cara untuk mengendalikan persediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan


Bahan Medis Habis Pakai adalah:
a. Melakukan evaluasi persediaan yang jarang digunakan (slow moving).
b. Melakukan evaluasi persediaan yang tidak digunakan dalam waktu tiga bulan
berturut-turut (death stock).
c. Stok opname yang dilakukan secara periodik dan berkala.

i. Administrasi
Administrasi harus dilakukan secara tertib dan berkesinambungan untuk
memudahkan penelusuran kegiatan yang sudah berlalu.
Kegiatan administrasi terdiri dari:
a. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan terhadap kegiatan pengelolaan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang meliputi perencanaan
kebutuhan, pengadaan, penerimaan, pendistribusian, pengendalian persediaan,
pengembalian, pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai. Pelaporan dibuat secara periodik yang dilakukan
Instalasi Farmasi dalam periode waktu tertentu (bulanan, triwulanan, semester
atau pertahun).

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


22

Jenis-jenis pelaporan yang dibuat menyesuaikan dengan peraturan yang


berlaku.
Pencatatan dilakukan untuk:
a. Persyaratan Kementerian Kesehatan/BPOM.
b. Dasar akreditasi Rumah Sakit.
c. Dasar audit Rumah Sakit.
d. Dokumentasi farmasi.

Pelaporan dilakukan sebagai:


a. Komunikasi antara level manajemen.
b. Penyiapan laporan tahunan yang komprehensif mengenai kegiatan di Instalasi
Farmasi.
c. Laporan tahunan.

b. Administrasi Keuangan
Apabila Instalasi Farmasi Rumah Sakit harus mengelola keuangan maka
perlu menyelenggarakan administrasi keuangan. Administrasi keuangan
merupakan pengaturan anggaran, pengendalian dan analisa biaya, pengumpulan
informasi keuangan, penyiapan laporan, penggunaan laporan yang berkaitan
dengan semua kegiatan Pelayanan Kefarmasian secara rutin atau tidak rutin dalam
periode bulanan, triwulanan, semesteran atau tahunan.

c. Administrasi Penghapusan
Administrasi penghapusan merupakan kegiatan penyelesaian terhadap
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang tidak
terpakai karena kadaluwarsa, rusak, mutu tidak memenuhi standar dengan cara
membuat usulan penghapusan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai kepada pihak terkait sesuai dengan prosedur yang berlaku.

2.6 Pelayanan Farmasi Klinik (Permenkes No.58 Tahun 2014)


Pelayanan farmasi klinik merupakan pelayanan langsung yang diberikan
Apoteker kepada pasien dalam rangka meningkatkan outcome terapi dan
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


23

meminimalkan risiko terjadinya efek samping karena obat, untuk tujuan


keselamatan pasien (patient safety) sehingga kualitas hidup pasien (quality of life)
terjamin.

2.6.1 Pengkajian dan Pelayanan Resep


Pelayanan resep dimulai dari penerimaan, pemeriksaan ketersediaan,
pengkajian resep, penyiapan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai termasuk peracikan obat, pemeriksaan, penyerahan disertai
pemberian informasi. Pada setiap tahap alur pelayanan resep dilakukan upaya
pencegahan terjadinya kesalahan pemberian Obat (medication error).
Kegiatan ini untuk menganalisa adanya masalah terkait obat, bila ditemukan
masalah terkait obat harus dikonsultasikan kepada dokter penulis resep. Apoteker
harus melakukan pengkajian resep sesuai persyaratan administrasi, persyaratan
farmasetik, dan persyaratan klinis baik untuk pasien rawat inap maupun rawat
jalan.

Persyaratan administrasi meliputi:


a. Nama, umur, jenis kelamin, berat badan, dan tinggi badan pasien.
b. Nama, nomor izin, alamat, dan paraf dokter.
c. Tanggal resep.
d. Ruangan/unit asal resep.

Persyaratan farmasetik meliputi:


a. Nama obat, bentuk, dan kekuatan sediaan.
b. Dosis dan jumlah obat.
c. Stabilitas.
d. Aturan dan cara penggunaan.

Persyaratan klinis meliputi:


a. Ketepatan indikasi, dosis, dan waktu penggunaan obat.
b. Duplikasi pengobatan.
c. Alergi dan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD).
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


24

d. Kontraindikasi.
e. Interaksi obat.

2.6.2 Penelusuran Riwayat Penggunaan Obat


Penelusuran riwayat penggunaan obat merupakan proses untuk
mendapatkan informasi mengenai seluruh Obat/Sediaan Farmasi lain yang pernah
dan sedang digunakan, riwayat pengobatan dapat diperoleh dari wawancara, atau
data rekam medik/pencatatan penggunaan obat pasien.
Tahapan penelusuran riwayat penggunaan obat:
a. Membandingkan riwayat penggunaan obat dengan data rekam
medik/pencatatan penggunaan obat untuk mengetahui perbedaan informasi
penggunaan obat.
b. Melakukan verifikasi riwayat penggunaan obat yang diberikan oleh tenaga
kesehatan lain dan memberikan informasi tambahan jika diperlukan.
c. Mendokumentasikan adanya alergi dan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki
(ROTD).
d. Mengidentifikasi potensi terjadinya interaksi obat.
e. Melakukan penilaian terhadap kepatuhan pasien dalam menggunakan obat.
f. Melakukan penilaian rasionalitas obat yang diresepkan.
g. Melakukan penilaian terhadap pemahaman pasien terhadap obat yang
digunakan.
h. Melakukan penilaian adanya bukti penyalahgunaan obat.
i. Melakukan penilaian terhadap teknik penggunaan obat.
j. Memeriksa adanya kebutuhan pasien terhadap obat dan alat bantu kepatuhan
minum obat (concordance aids).
k. Mendokumentasikan obat yang digunakan pasien sendiri tanpa
sepengetahuan dokter.
l. Mengidentifikasi terapi lain, misalnya suplemen dan pengobatan alternatif
yang mungkin digunakan oleh pasien.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


25

2.6.3 Rekonsiliasi Obat


Rekonsiliasi obat merupakan proses membandingkan instruksi pengobatan
dengan obat yang telah didapat pasien. Rekonsiliasi dilakukan untuk mencegah
terjadinya kesalahan obat (medication error) seperti obat tidak diberikan,
duplikasi, kesalahan dosis, atau interaksi obat. Kesalahan obat (medication error)
rentan terjadi pada pemindahan pasien dari satu Rumah Sakit ke Rumah Sakit
lain, antar ruang perawatan, serta pada pasien yang keluar dari Rumah Sakit ke
layanan kesehatan primer dan sebaliknya.
Tujuan dilakukannya rekonsiliasi obat adalah:
a. Memastikan informasi yang akurat tentang obat yang digunakan pasien.
b. Mengidentifikasi ketidaksesuaian akibat tidak terdokumentasinya instruksi
dokter.
c. Mengidentifikasi ketidaksesuaian akibat tidak terbacanya instruksi dokter.

2.6.4 Pelayanan Informasi Obat (PIO)


Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan kegiatan penyediaan dan
pemberian informasi, rekomendasi obat yang independen, akurat, tidak bias,
terkini dan komprehensif yang dilakukan oleh Apoteker kepada dokter, Apoteker,
perawat, profesi kesehatan lainnya serta pasien dan pihak lain di luar Rumah
Sakit.
PIO bertujuan untuk:
a. Menyediakan informasi mengenai obat kepada pasien dan tenaga kesehatan di
lingkungan Rumah Sakit dan pihak lain di luar Rumah Sakit.
b. Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan yang berhubungan dengan
Obat/Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai,
terutama bagi Tim Farmasi dan Terapi.
c. Menunjang penggunaan obat yang rasional.

Kegiatan PIO meliputi:


a. Menjawab pertanyaan.
b. Menerbitkan buletin, leaflet, poster, newsletter.
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


26

c. Menyediakan informasi bagi tim farmasi dan terapi sehubungan dengan


penyusunan Formularium Rumah Sakit.
d. Bersama dengan tim Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) melakukan
kegiatan penyuluhan bagi pasien rawat jalan dan rawat inap.
e. Melakukan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga kefarmasian dan tenaga
kesehatan lainnya.
f. Melakukan penelitian.

2.6.5 Konseling Obat


Konseling obat adalah suatu aktivitas pemberian nasihat atau saran terkait
terapi obat dari Apoteker (konselor) kepada pasien dan/atau keluarganya.
Konseling untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap di semua fasilitas
kesehatan dapat dilakukan atas inisitatif Apoteker, rujukan dokter, keinginan
pasien atau keluarganya. Pemberian konseling yang efektif memerlukan
kepercayaan pasien dan/atau keluarga terhadap Apoteker.
Pemberian konseling obat bertujuan untuk mengoptimalkan hasil terapi,
meminimalkan risiko reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD), dan
meningkatkan cost-effectiveness yang pada akhirnya meningkatkan keamanan
penggunaan obat bagi pasien (patient safety).
Secara khusus konseling obat ditujukan untuk:
a. Meningkatkan hubungan kepercayaan antara Apoteker dan pasien.
b. Menunjukkan perhatian serta kepedulian terhadap pasien.
c. Membantu pasien untuk mengatur dan terbiasa dengan obat.
d. Membantu pasien untuk mengatur dan menyesuaikan penggunaan obat
dengan penyakitnya.
e. Meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.
f. Mencegah atau meminimalkan masalah terkait obat.
g. Meningkatkan kemampuan pasien memecahkan masalahnya dalam hal terapi.
h. Mengerti permasalahan dalam pengambilan keputusan.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


27

i. Membimbing dan mendidik pasien dalam penggunaan obat sehingga dapat


mencapai tujuan pengobatan dan meningkatkan mutu pengobatan pasien.

Kegiatan dalam konseling obat meliputi:


a. Membuka komunikasi antara Apoteker dengan pasien.
b. Mengidentifikasi tingkat pemahaman pasien tentang penggunaan obat melalui
Three Prime Questions.
c. Menggali informasi lebih lanjut dengan memberi kesempatan kepada pasien
untuk mengeksplorasi masalah penggunaan obat.
d. Memberikan penjelasan kepada pasien untuk menyelesaikan masalah
pengunaan obat.
e. Melakukan verifikasi akhir dalam rangka mengecek pemahaman pasien.
f. Dokumentasi.

2.6.6 Visite
Visite merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap yang dilakukan
Apoteker secara mandiri atau bersama tim tenaga kesehatan untuk mengamati
kondisi klinis pasien secara langsung, dan mengkaji masalah terkait obat,
memantau terapi obat dan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki, meningkatkan
terapi obat yang rasional, dan menyajikan informasi obat kepada dokter, pasien
serta profesional kesehatan lainnya.
Visite juga dapat dilakukan pada pasien yang sudah keluar Rumah Sakit
baik atas permintaan pasien maupun sesuai dengan program Rumah Sakit yang
biasa disebut dengan Pelayanan Kefarmasian di rumah (Home Pharmacy Care).
Sebelum melakukan kegiatan visite Apoteker harus mempersiapkan diri
dengan mengumpulkan informasi mengenai kondisi pasien dan memeriksa terapi
obat dari rekam medik atau sumber lain.

2.6.7 Pemantauan Terapi Obat (PTO)


Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan suatu proses yang mencakup
kegiatan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif, dan rasional bagi
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


28

pasien. Tujuan PTO adalah meningkatkan efektivitas terapi dan meminimalkan


risiko Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD).
Kegiatan dalam PTO meliputi:
a. Pengkajian pemilihan obat, dosis, cara pemberian obat, respons terapi, dan
Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD).
b. Pemberian rekomendasi penyelesaian masalah terkait obat.
c. Pemantauan efektivitas dan efek samping terapi obat.
Tahapan PTO:
a. Pengumpulan data pasien.
b. Identifikasi masalah terkait obat.
c. Rekomendasi penyelesaian masalah terkait obat.
d. Pemantauan.
e. Tindak lanjut.

2.6.8 Monitoring Efek Samping Obat


Monitoring Efek Samping Obat (MESO) merupakan kegiatan pemantauan
setiap respon terhadap obat yang tidak dikehendaki, yang terjadi pada dosis lazim
yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosa, dan terapi. Efek
Samping Obat adalah reaksi obat yang tidak dikehendaki yang terkait dengan
kerja farmakologi.
MESO bertujuan:
a. Menemukan Efek Samping Obat (ESO) sedini mungkin terutama yang berat,
tidak dikenal, dan frekuensinya jarang.
b. Menentukan frekuensi dan insidensi ESO yang sudah dikenal dan yang baru
saja ditemukan.
c. Mengenal semua faktor yang mungkin dapat menimbulkan/mempengaruhi
angka kejadian dan hebatnya ESO.
d. Meminimalkan risiko kejadian reaksi obat yang tidak dikehendaki.
e. Mencegah terulangnya kejadian reaksi obat yang tidak dikehendaki.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


29

2.6.9 Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)


Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) merupakan program evaluasi penggunaan
obat yang terstruktur dan berkesinambungan secara kualitatif dan kuantitatif.
Tujuan EPO yaitu:
a. Mendapatkan gambaran keadaan saat ini atas pola penggunaan obat.
b. Membandingkan pola penggunaan obat pada periode waktu tertentu.
c. Memberikan masukan untuk perbaikan penggunaan obat.
d. Menilai pengaruh intervensi atas pola penggunaan obat.
2.6.10 Dispensing Sediaan Steril
Dispensing sediaan steril harus dilakukan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit
dengan teknik aseptik untuk menjamin sterilitas dan stabilitas produk dan
melindungi petugas dari paparan zat berbahaya serta menghindari terjadinya
kesalahan pemberian obat.
Dispensing sediaan steril bertujuan:
a. Menjamin agar pasien menerima obat sesuai dengan dosis yang dibutuhkan.
b. Menjamin sterilitas dan stabilitas produk.
c. Melindungi petugas dari paparan zat berbahaya.
d. Menghindari terjadinya kesalahan pemberian obat.

Kegiatan dispensing sediaan steril meliputi :


A. Pencampuran Obat Suntik
Melakukan pencampuran obat steril sesuai kebutuhan pasien yang
menjamin kompatibilitas dan stabilitas obat maupun wadah sesuai dengan dosis
yang ditetapkan.
Kegiatan:
a. Mencampur sediaan intravena ke dalam cairan infus.
b. Melarutkan sediaan intravena dalam bentuk serbuk dengan pelarut yang
sesuai.
c. Mengemas menjadi sediaan siap pakai.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


30

B. Penyiapan Nutrisi Parenteral


Merupakan kegiatan pencampuran nutrisi parenteral yang dilakukan oleh
tenaga yang terlatih secara aseptis sesuai kebutuhan pasien dengan menjaga
stabilitas sediaan, formula standar, dan kepatuhan terhadap prosedur yang
menyertai.
Kegiatan dalam dispensing sediaan khusus:
a. Mencampur sediaan karbohidrat, protein, lipid, vitamin, mineral untuk
kebutuhan perorangan.
b. Mengemas ke dalam kantong khusus untuk nutrisi.

C. Penanganan Sediaan Sitostatik


Penanganan sediaan sitostatik merupakan penanganan obat kanker secara
aseptis dalam kemasan siap pakai sesuai kebutuhan pasien oleh tenaga farmasi
yang terlatih dengan pengendalian pada keamanan terhadap lingkungan, petugas,
maupun sediaan obatnya dari efek toksik dan kontaminasi, dengan menggunakan
alat pelindung diri, mengamankan pada saat pencampuran, distribusi, maupun
proses pemberian kepada pasien sampai pembuangan limbahnya.
Kegiatan dalam penanganan sediaan sitostatik meliputi:
a. Melakukan perhitungan dosis secara akurat.
b. Melarutkan sediaan obat kanker dengan pelarut yang sesuai.
c. Mencampur sediaan obat kanker sesuai dengan protokol pengobatan.
d. Mengemas dalam kemasan tertentu.
e. Membuang limbah sesuai prosedur yang berlaku.

2.6.11 Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD)


Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD) merupakan interpretasi hasil
pemeriksaan kadar obat tertentu atas permintaan dari dokter yang merawat karena
indeks terapi yang sempit atau atas usulan dari Apoteker kepada dokter.
PKOD bertujuan:
a. Mengetahui Kadar Obat dalam Darah.
b. Memberikan rekomendasi kepada dokter yang merawat.
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


31

Kegiatan PKOD meliputi:


a. Melakukan penilaian kebutuhan pasien yang membutuhkan Pemeriksaan
Kadar Obat dalam Darah (PKOD).
b. Mendiskusikan kepada dokter untuk persetujuan melakukan Pemeriksaan
Kadar Obat dalam Darah (PKOD).
c. Menganalisis hasil Pemeriksaan Kadar Obat dalam Darah (PKOD) dan
memberikan rekomendasi.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


BAB 3

TINJAUAN KHUSUS

3.1 RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo


3.1.1 Sejarah
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo
didirikan pada tanggal 19 November 1919 dengan nama Centrale Burgerlijke
Ziekenhuis. Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ) menjadi rumah sakit
perguruan tinggi (Ika Daigaku Byongin) pada bulan Maret 1942 di masa
pendudukan Jepang di Indonesia. CBZ berubah nama menjadi Rumah Sakit
Oemoem Negeri (RSON) dan dipimpin oleh Prof. Dr. Asikin Widjaya Koesoema
dan kemudian dipimpin oleh Prof. Tamija pada tahun 1945. RSON berubah nama
menjadi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) pada tahun 1950. Selanjutnya Rumah
Sakit Umum Pusat (RSUP) diresmikan menjadi Rumah Sakit Tjipto
Mangunkusumo (RSTM) pada tanggal 17 Agustus 1964 oleh Menteri Kesehatan
pada masa itu, yaitu Prof. Dr. Satrio. RSTM diubah menjadi RSCM seiring
dengan perkembangan ejaan baru Bahasa Indonesia. Sesuai dengan SK Menkes
nomor 553/Menkes/SK.VI/1994, rumah sakit ini berubah nama menjadi Rumah
Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo pada tanggal 13
Juni 1994 hingga saat ini.

Gambar 3.1. RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo


32 Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


33

\RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo ditetapkan sebagai Perusahaan Jawatan


(Perjan) RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta berdasarkan pada PP No. 116
Tahun 2000 dan dalam perkembangan berikutnya, status Perjan RSCM berubah
menjadi Badan Layanan Umum (BLU) berdasarkan pada PP No. 23 Tahun 2005,
dengan harapan RSCM dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam
hal penyediaan barang dan jasa tanpa mengutamakan keuntungan, serta kegiatan
yang dilakukan didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.

3.1.2 Visi
RSCM memiliki visi “Menjadi rumah sakit pendidikan dan pusat rujukan
nasional terkemuka di Asia Pasifik tahun 2014”.

3.1.3 Misi
RSCM memiliki misi, yaitu:
1. Memberikan pelayanan kesehatan paripurna dan bermutu serta terjangkau
oleh semua lapisan masyarakat.
2. Menjadi tempat pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan.
3. Tempat penelitian dan pengembangan dalam rangka meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat melalui manajemen yang dinamis dan akuntabel.

3.1.4 Klasifikasi
RSCM adalah rumah sakit umum pemerintah pusat kelas A dan merupakan
pusat rujukan nasional. RSCM juga merupakan rumah sakit pendidikan yang
bekerja sama dengan banyak pihak, salah satunya adalah Universitas Indonesia
dalam rangka melaksanakan program pendidikan pada bidang kesehatan. Sebagai
contoh, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sebagai mitra
penyelenggara program pendidikan Spesialis dan Sub Spesialis serta Fakultas
Farmasi (FFUI) sebagai mitra penyelenggara program pendidikan profesi
apoteker.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


34

3.1.5 Pengelolaan Organisasi dan Sumber Daya Manusia


RSCM dipimpin oleh seorang Direktur Utama yang membawahi lima
direktorat, yaitu Direktorat Medik dan Keperawatan, Direktorat Pengembangan
dan Pemasaran, Direktorat Sumber Daya Manusia dan Pendidikan, Direktorat
Keuangan, dan Direktorat Umum dan Operasional yang terkait dengan pelayanan
rumah sakit. Struktur organisasi RSCM dapat dilihat pada Lampiran 1.

3.1.6 Nilai Budaya


Lima nilai budaya yang dimiliki RSCM yaitu Profesionalisme, Integritas,
Kepedulian, Penyempurnaan Berkesinambungan, serta Belajar dan Mendidik.

3.2 Instalasi Farmasi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo


Instalasi Farmasi RSCM merupakan satuan kerja fungsional yang berperan
sebagai pusat pendapatan di lingkungan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dan
berada di bawah Direktorat Medik dan Keperawatan. Instalasi Farmasi dipimpin
oleh seorang apoteker pejabat yang disebut Kepala Instalasi Farmasi.

3.2.1 Visi
Instalasi Farmasi RSCM memiliki visi “Menjadi penyelenggara pelayanan
farmasi yang komprehensif dengan kualitas terbaik dan mengutamakan kepuasan
pelanggan dengan melakukan peningkatan berkesinambungan.”

3.2.2 Misi
Instalasi Farmasi RSCM memiliki misi, yaitu:
1. Menyelenggarakan pelayanan farmasi prima untuk kepuasan pelanggan.
2. Menyelenggarakan manajemen perbekalan farmasi yang efektif dan efisien.
3. Menyelenggarakan pelayanan farmasi klinis untuk meningkatkan keselamatan
pasien dan mencapai hasil terapi obat yang optimal.
4. Menunjang penyelenggaraan kebijakan obat di rumah sakit dalam rangka
meningkatkan penggunaan obat yang rasional.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


35

5. Memproduksi sediaan farmasi tertentu yang dibutuhkan RSCM sesuai


persyaratan mutu.
6. Berperan serta dalam peningkatan pendapatan rumah sakit.
7. Berperan serta dalam program pendidikan dan pelatihan (Diklat), serta
penelitian dan pengembangan (Litbang) farmasi.

3.2.3 Tujuan Umum


Menyelenggarakan pelayanan farmasi yang profesional berdasarkan pada
prosedur kefarmasian dan etika profesi, bekerja sama dengan dokter, perawat, dan
tenaga kesehatan lain yang terkait dalam rangka meningkatkan penggunaan obat
yang rasional.

3.2.4 Tujuan Khusus


1. Aspek Manajemen
Mengelola perbekalan farmasi yang efektif dan efisien, menerapkan
farmakoekonomi dalam pelayanan, mewujudkan sistem informasi yang tepat
guna dan berdaya guna, meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan farmasi
melalui pendidikan dan pelatihan, serta mengawasi, mengendalikan, dan
mengevaluasi mutu pelayanan farmasi.
2. Aspek Klinik
Mengkaji instruksi pengobatan, mengidentifikasi dan menyelesaikan
permasalahan yang berhubungan dengan obat, memantau efektivitas dan
keamanan penggunaan obat, menjadi pusat informasi obat bagi tenaga kesehatan,
pasien/keluarga, dan masyarakat, melaksanakan konseling pada pasien,
melakukan pengkajian obat, melakukan penanganan obat–obat kanker,
melakukan perencanaan, penerapan, dan evaluasi obat, bekerja sama dengan
tenaga kesehatan lain, dan berperan serta dalam tim/kepanitiaan di rumah sakit
seperti Panitia Farmasi dan Terapi (PFT), serta Pelaksana Pengendalian
Resistensi Antibiotik (PPRA).

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


36

3.2.5 Tugas Pokok dan Fungsi


Instalasi Farmasi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo bertugas melaksanakan
pengelolaan perbekalan farmasi yang optimal, meliputi perencanaan, penerimaan,
penyimpanan, pendistribusian perbekalan farmasi dan produksi sediaan farmasi,
serta melaksanakan pelayanan farmasi klinis sesuai dengan prosedur kefarmasian
dan etika profesi. Instalasi Farmasi juga berpartisipasi aktif dalam kegiatan
pendidikan, pelatihan, dan penelitian di bidang farmasi. Untuk menjalankan
tugasnya tersebut, Instalasi Farmasi RSCM berfungsi dalam:
1. Penyusunan standar, kriteria, prosedur, dan indikator kinerja pelayanan
kefarmasian.
2. Pengkoordinasian perencanaan perbekalan farmasi.
3. Pengelolaan perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan
kesehatan di rumah sakit.
4. Penyelenggaraan produksi sediaan farmasi untuk memenuhi kebutuhan
pelayanan kesehatan di rumah sakit.
5. Penyelenggaran pengkajian instruksi pengobatan dan resep pasien.
6. Pengidentifikasian masalah dalam penggunaan obat dan alat kesehatan.
7. Pencegahan dan penanganan masalah yang berkaitan dengan obat dan alat
kesehatan terhadap efektivitas dan keamanan penggunaan obat dan alat
kesehatan.
8. Pemberian informasi kepada petugas kesehatan, pasien, atau keluarga.
9. Pemberian konseling kepada pasien atau keluarga.
10. Pelaksanaan pencampuran obat suntik, dispensing, dan dosis unit.
11. Penyelenggaraan supervisi terhadap pelayanan farmasi.
12. Pemantauan, pengawasan, dan pengendalian terhadap jaminan mutu
pengelolaan pelayanan kefarmasian.
13. Pengembangan profesi SDM kefarmasian.
14. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan.

3.2.6 Pengelolaan Organisasi dan Sumber Daya Manusia


Instalasi Farmasi RSCM bertanggung jawab langsung kepada Direktorat
Medik dan Keperawatan. Instalasi Farmasi berpusat di Gedung Central Medical
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


37

Unit (CMU 2) lantai 3 dan dipimpin oleh seorang apoteker selaku Kepala Instalasi
Farmasi RSCM yang membawahi :
1. Koordinator Administrasi dan Keuangan (Adminkeu)
Mempunyai tugas melaksanakan pemesanan, penerimaan, penyimpanan,
pendistribusian, dan pengawasan perbekalan farmasi sesuai prosedur.
2. Koordinator Produksi dan Diklitbang
Mempunyai tugas dalam melaksanakan kegiatan pengadaan perbekalan
farmasi di RSCM.
3. Koordinator Pelayanan Farmasi

Struktur organisasi Instalasi Farmasi RSCM dapat dilihat pada Lampiran 2.

3.3 Keterlibatan Farmasi dalam Kepanitiaan Rumah Sakit

3.3.1 Pelaksana Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA)


PPRA merupakan suatu tim pelaksana yang dibentuk oleh rumah sakit
untuk tujuan:
1. Tercapainya peningkatan mutu dalam penggunaan antibiotik di rumah sakit
melalui kerja sama dengan empat pilar yang terdiri dari Panitia Farmasi dan
Terapi, Panitia Pengendalian Infeksi Rumah Sakit (PPIRS), Tim Mikrobiologi
Klinik, dan Tim Farmasi Klinik.
2. Terlaksananya pengawasan, pemantauan, dan pengendalian prosedur
penggunaan antibiotik pada masing-masing unit agar tidak menyimpang dari
prosedur yang telah ditetapkan.
3. Terlaksananya evaluasi pelaksanaan pemakaian antibiotic.
4. Terselenggaranya pendidikan, pelatihan, dan penelitian dalam pengendalian
resistensi antimikroba.

Tim PPRA melaksanakan pengawasan dan pengendalian penggunaan


antimikroba secara bijak (meliputi efikasi, biaya, keamanan, dan kenyamanan) di
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Tim PPRA terdiri dari:

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


38

1. Tim inti yaitu:


a. Perwakilan dari Panitia Farmasi dan Terapi.
b. PPIRS.
c. Spesialis Mikrobiologi Klinik.
2. Perwakilan dari Departemen Patologi Klinik.
3. Perwakilan Departemen Penyakit Dalam, Departemen Bedah, Departemen
Kebidanan dan Kandungan, dan Departemen Ilmu Kesehatan Anak.
4. Perwakilan Divisi Penyakit Tropik Departemen Ilmu Penyakit Dalam.
5. Perwakilan Bidang Pelayanan Medik dan Bidang Keperawatan.
Organisasi PPRA terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris, dan anggota
yang terdiri dari unsur klinis (mewakili Departemen/UPT/Instalasi terkait),
perawat, apoteker, spesialis Mikrobiologi Klinik, spesialis Patologi Klinik,
spesialis Farmakologi Klinik, dan konsultan Penyakit Tropik Infeksi. Tim PPRA
dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Pokja PPRA dari berbagai
departemen/UPT/instalasi yang melaksanakan pelayanan yang berhubungan
dengan penggunaan antimikroba. Pokja departemen terdiri dari ketua yang
merangkap sebagai anggota Tim PPRA dan beberapa orang anggota. Pokja PPRA
tingkat departemen/instalasi/UPT termasuk di dalamnya adalah (SK
No.10281/TU.K/34/VI/2011):
1. Departemen Penyakit Dalam
2. Departemen Bedah
3. Departemen IKA
4. Departemen Obstetri dan Ginekologi
5. Departemen Kulit dan Kelamin
6. Departemen Gigi dan Mulut
7. Departemen Bedah Syaraf
8. Departemen Mata
9. Departemen Neurologi
10. Departemen Urologi
11. Departemen THT
12. ICU
13. Unit Pelayanan Luka Bakar
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


39

14. Pelayanan Jantung Terpadu


15. Instalasi Gawat Darurat

Tugas pokok dari Tim PPRA adalah melaksanakan pengendalian resistensi


antimikroba. Fungsi lain dari PPRA adalah sebagai berikut:
1. Menetapkan kebijakan pengendalian penggunaan antibiotik.
2. Menerapkan kebijakan di bidang pengendalian resistensi antimikroba melalui
koordinasi empat pilar.
3. Menyusun program kerja Tim PPRA dan Pokja PPRA
departemen/UPT/instalasi.
4. Menyebarluaskan dan meningkatkan pemahaman serta kesadaran tentang
prinsip pengendalian resistensi antimikroba yang terkait dengan penggunaan
antibiotik secara bijak.
5. Sebagai konsultan dalam pemilihan antibiotik lini ke-3.
6. Melakukan pemantauan dan evaluasi penggunaan antibiotik, pola resistensi
kuman, dan insiden MRSA.

Tim PPRA menyelenggarakan ronde klinik setiap minggu dan pertemuan


berkala secara terencana minimal satu bulan sekali. Kegiatan ini bertujuan untuk
membahas program dan kegiatan yang telah ditetapkan dalam PPRA dan
menyampaikan rekomendasi hasil keputusan rapat secara tertulis kepada Direktur
Medik dan Keperawatan dan pihak terkait (Departemen/UPT/Instalasi Pelayanan
dan empat pilar PPRA). Empat pilar yang berkoordinasi dengan Tim PPRA antara
lain Tim Mikrobiologi Klinik yang berkoordinasi dengan Departemen Patologi
Klinik, Panitia Farmasi Terapi, Tim Farmasi Klinik, dan Tim Panitia
Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit (PPIRS).

3.3.2 Panitia Farmasi dan Terapi (PFT)


Panitia Farmasi dan Terapi adalah panitia ahli yang berada di bawah Komite
Medik dan bertugas membantu Direktur Utama dalam merumuskan dan
melaksanakan kebijakan dan peraturan tentang pengelolaan dan penggunaan
perbekalan farmasi di RSCM. Keanggotaan Panitia Farmasi dan Terapi (PFT)
didasarkan atas usulan dari Kepala Departemen/Bidang/Instalasi dan disahkan

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


40

oleh Direktur Utama. Keanggotaannya diperbarui maksimal setiap 5 tahun sekali.


Anggota PFT tidak boleh mempunyai ikatan kerja dengan perusahaan farmasi
manapun. Ketua, sekretaris, dan 2 (dua) anggota PFT ditetapkan sebagai pengurus
harian. Setiap departemen memiliki PFT tingkat departemen yang terdiri dari
ketua, sekretaris, dan 2-3 orang anggota. Ketua PFT tingkat departemen menjadi
anggota ex officio PFT tingkat RSCM. PFT menyusun program kerja tentang
pemilihan dan penyusunan formularium. PFT juga mengajukan anggaran setiap
tahun untuk mendukung program kerjanya.

Tugas PFT mencakup :


1. Sebagai penasehat bagi pimpinan RSCM dan tenaga kesehatan dalam semua
masalah yang berkaitan dengan perbekalan farmasi.
2. Menyusun kebijakan penggunaan perbekalan farmasi di RSCM.
3. Menyusun formularium obat, daftar alat kesehatan, dan reagensia; dan
memperbaharuinya secara berkala. Seleksi obat, alat kesehatan, dan reagensia
didasarkan pada kemanjuran, keamanan, kualitas, dan harga. PFT harus mampu
meminimalkan jenis obat yang nama generiknya sama atau jenis obat yang
indikasinya sama.
4. Memantapkan dan melaksanakan program serta agenda kegiatan yang
menjamin berlangsungnya pelaksanaan terapi yang efektif, aman, dan hemat
biaya.
5. Merencanakan dan melaksanakan program pelatihan serta penyebaran
informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan seleksi, pengadaan, dan
penggunaan obat kepada staf medis RSCM.
6. Berperan aktif dalam menjamin mutu pemilihan, pengadaan, dan penggunaan
perbekalan farmasi.
7. Menyelenggarakan pemantauan dan evaluasi efek samping obat yang terjadi di
RSCM.
8. Memandu tinjauan penggunaan obat (drug utilization review) dan melakukan
umpan-balik hasil tinjauan tersebut ke seluruh staf medis.

Dalam melaksanakan tugas tersebut, PFT perlu mengadakan rapat rutin


sekurangnya satu bulan sekali untuk membicarakan implementasi kebijakan dan
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


41

peraturan tentang seleksi, pengadaan, penyimpanan, dan penggunaan perbekalan


farmasi. Keputusan rapat pleno yang menyangkut kebijakan diambil berdasarkan
musyawarah. Jika musyawarah tidak berhasil, maka dapat dilakukan pemungutan
suara. Setiap anggota PFT yang ikut serta dalam pengambilan keputusan harus
bebas dari kepentingan pribadi atau kelompok dan semata-mata untuk
kepentingan pasien (Formularium RSCM, 2014).

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


BAB 4

PEMBAHASAN

4.1 Gudang Perbekalan Farmasi Pusat RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo


Gudang perbekalan farmasi merupakan sarana penting dalam proses
pengelolaan perbekalan farmasi di RSCM dan dalam struktur organisasi saat ini
gudang perbekalan farmasi berada di bawah Instalasi Administrasi dan Logistik
(IAL). Adapun Struktur Organisasi Instalasi Administrasi dan Logistik (IAL)
dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Struktur Organisasi IAL RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo

Gudang Perbekalan Farmasi Pusat RSCM terdiri dari Gudang Farmasi I,


Gudang Farmasi II, dan Gudang Gas Medis. Waktu pelayanan Gudang Perbekalan
Farmasi Pusat, yaitu pukul 08.00 sampai dengan 18.00 yang terbagi dalam 2 shift.
Setelah Juli 2013, pengelolaan perbekalan farmasi berada di bawah Instalasi
Administrasi dan Logistik (IAL), dimana sebelumnya berada di bawah Instalasi
Farmasi. Alur pengelolaan perbekalan farmasi di RSCM dapat dilihat pada
Lampiran 3. Kegiatan Gudang Perbekalan Farmasi Pusat saat ini berfokus pada
pemesanan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengawasan, dan
42 Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


43

pelaporan perbekalan farmasi di Rumah Sakit. Pemesanan dilakukan berdasarkan


pada Surat Perintah Kerja (SPK) yang dikeluarkan oleh Unit Layanan Pengadaan
(ULP). Pemesanan perbekalan farmasi ke distributor dilakukan berdasarkan pada
permintaan (defekta) perbekalan farmasi dari setiap unit kerja dan satelit farmasi
yang dilakukan secara rutin dua kali dalam seminggu, dan dari permintaan
mendesak (sito) yang dapat dilakukan setiap hari. Permintaan perbekalan farmasi
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan selama dua minggu dengan persediaan
buffer 6 hari. Perencanaan yang telah dibuat oleh petugas Gudang Pusat
selanjutnya dikirim ke koordinator logistik. Jika permintaan telah disetujui oleh
koordinator logistik, maka petugas pemesanan akan membuat surat pesanan ke
distributor terkait yang selanjutnya akan dikirim ke Gudang Pusat.
Setelah perbekalan farmasi diterima di Gudang Pusat, selanjutnya dilakukan
proses penerimaan barang yang dilakukan oleh Panitia Penerimaan bersama
dengan petugas gudang. Pada proses penerimaan, dilakukan kegiatan pemeriksaan
yang meliputi kesesuaian daftar pesanan, baik jenis dan jumlah pesanan, serta
penyesuaian dengan faktur penjualan melalui komputer. Selain itu, dilakukan juga
pemeriksaan terhadap bentuk fisik, nama perbekalan farmasi, dan tanggal
kadaluwarsa perbekalan farmasi yang akan diterima. Jika terdapat kemasan yang
telah rusak atau perbekalan farmasi tidak sesuai, maka dapat dilakukan
penggantian barang ke distributor. Tetapi, jika barang sudah sesuai dengan
permintaan dan telah lulus dalam pemeriksaan, barang tersebut disimpan sesuai
dengan tempat penyimpanannya.
Khusus untuk perbekalan farmasi yang bersifat termolabil, pemeriksaan
juga dilakukan dengan melihat kesesuaian penyimpanan perbekalan farmasi, yaitu
dalam perjalanan distribusi perbekalan farmasi dari distributor ke Gudang Pusat
harus disimpan di dalam cool box yang dilengkapi dengan termometer dan
dipastikan berada pada suhu yang sesuai. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap
dokumen-dokumen penyerta perbekalan farmasi, misalnya Material Safety Data
Sheet (MSDS) untuk bahan berbahaya dan beracun (B3). Setelah pemeriksaan
dilakukan dan perbekalan farmasi yang diterima telah sesuai dengan pesanan,
Panitia Penerimaan memberikan tanda tangan, nama jelas dan stempel gudang
farmasi, serta tanggal penerimaan pada faktur penjualan dan salinan faktur.
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


44

Lembar asli faktur dan salinannya diserahkan kepada petugas gudang. Data dari
lembar faktur tersebut akan di-input oleh petugas ke dalam sistem komputer dan
kartu stok manual, meliputi data spesifikasi produk, asal distributor, jumlah, dan
waktu kadaluwarsa. Namun, jika terdapat perbekalan farmasi yang tidak sesuai
dan tidak lulus pemeriksaan, maka dapat dilakukan pengembalian atau
penggantian barang ke distributor.

Perbekalan Farmasi yang telah diterima kemudian disimpan di Gudang


Pusat. Tujuan penyimpanan perbekalan farmasi adalah menempatkan perbekalan
farmasi yang diterima dengan aman dan sesuai aturan kefarmasian agar terjamin
kualitas dan kuantitasnya. Penyimpanan yang sesuai dapat memudahkan kegiatan
pencarian barang untuk mempercepat pelayanan serta memudahkan pengawasan
dan operasional penyimpanan. Penyimpanan perbekalan farmasi disusun dengan
sistem First In First Out (FIFO) dan First Expired First Out (FEFO). Selain itu,
penyimpanan juga disusun berdasarkan jenis perbekalan farmasi, yaitu alat
kesehatan diletakkan di ruang Alkes I, II, dan III pada Gudang Farmasi I; obat
(oral atau injeksi) diletakkan di ruang penyimpanan obat pada Gudang Farmasi I;
bahan berbahaya dan beracun (B3) diletakkan di ruang tahan api pada Gudang
Farmasi I; cairan dan hemodialisa diletakkan di Gudang Farmasi II, dan gas medis
diletakkan di Gudang Gas Medis. Denah gedung Farmasi 1 dapat dilihat pada
Lampiran 4.
Selain berdasarkan pada jenis perbekalan farmasi, penyimpanan juga
didasarkan pada bentuk sediaan, kestabilan perbekalan farmasi, sifat perbekalan
farmasi (high alert atau sitostatika), rute pemberian obat, obat produksi RSCM,
serta nama generik dan nama dagang. Penyimpanan obat di Gudang Pusat juga
disusun berdasarkan alfabetis dengan memperhatikan penyusunan obat yang
tergolong Look Alike Sound Alike (LASA) untuk menghindari terjadinya
kesalahan dispensing. Obat yang tergolong LASA memiliki bentuk dan
pengucapan yang mirip sehingga penyimpanannya dipisah dengan satu atau dua
obat lain, dan pada wadah penyimpanan diberi penandaan dengan stiker LASA
berwarna hijau. Obat-obat mahal, obat-obat high alert, dan obat-obat sitostatika
disimpan pada lemari khusus. Tempat penyimpanan obat high alert ditandai

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


45

dengan lakban berwarna merah pada bagian tepi pintu tempat penyimpanan dan
diberi label high alert pada tiap kemasan primer dan sekunder obat. Obat
sitostatika disimpan di lemari terpisah dan diberi label berwarna ungu “Obat
Kanker, Tangani dengan Hati-hati” pada kemasan sekunder obat. Penyimpanan
obat yang sudah tertata rapi dan baik dengan pemberian label petunjuk pada setiap
kelompok obat akan memudahkan dispensing obat, mengingat jenis dan jumlah
perbekalan farmasi di rumah sakit sangat besar. Obat narkotika dan psikotropika
disimpan di dalam lemari khusus yang terpisah dari penyimpanan obat lainnya.
Obat narkotika disimpan dalam lemari berpintu dua dengan kunci ganda. Kunci
lemari tersebut dipegang oleh Asisten Apoteker yang bertugas pada tiap shift.
Penyimpanan alat kesehatan di Gudang Pusat terpisah dengan penyimpanan
obat-obatan. Alat kesehatan disusun berdasarkan kesamaan jenis misalnya kapas,
alat pelindung diri, pouches dan indikator steril, serta berdasarkan kelompok
departemen pengguna, misalnya Departemen Bedah, Departemen Mata, dan
Departemen Pelayanan Jantung Terpadu (PJT). Hal ini dimaksudkan untuk
mempermudah dalam pengambilan barang.

Agar akuntabilitas perbekalan farmasi tetap terjaga, maka petugas gudang


melakukan stock opname (SO) setiap tiga bulan sekali untuk memudahkan
pengawasan perbekalan farmasi dengan mengetahui kesesuaian fisik perbekalan
farmasi yang ada dengan jumlah yang tertera pada kartu stok dan sistem IT serta
untuk mengetahui nilai aset RSCM. Kegiatan stock opname juga dilakukan untuk
mempermudah pengawasan terhadap perbekalan farmasi yang mendekati waktu
kadaluwarsa. Produk yang akan kadaluwarsa dalam waktu enam bulan ke depan
akan diberi label berwarna kuning yang dilengkapi dengan waktu
kadaluwarsanya. Mutu perbekalan farmasi yang disimpan juga dijaga dengan
melakukan pemantauan suhu pada lemari pendingin dan ruangan yang dilakukan
setiap hari. Pemantauan suhu lemari pendingin dilakukan sebanyak tiga kali
sehari, yaitu pada pukul 06.00, 14.00, dan 20.00 WIB, sedangkan pemantauan
suhu ruangan dilakukan satu kali sehari pada pukul 08.00 WIB.

Gudang Pusat merupakan pusat pendistribusian perbekalan farmasi di


Rumah Sakit. Gudang melayani permintaan dari seluruh satelit dan unit kerja.
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


46

Permintaan perbekalan farmasi ke Gudang Pusat dapat dilakukan secara rutin


sesuai jadwal yang telah ditetapkan untuk masing-masing satelit dan unit kerja
atau permintaan sito setiap hari. Permintaan ke Gudang Pusat dilakukan secara
online melalui sistem Electronic Health Record (EHR) untuk satelit farmasi dan
unit kerja. Permintaan yang diajukan secara online akan langsung dicetak oleh
Gudang Pusat dalam bentuk surat permintaan barang. Defekta terhadap obat-obat
narkotika dibuat dalam surat permintaan tersendiri. Petugas Gudang Pusat akan
menyiapkan perbekalan farmasi yang diminta serta melakukan pencatatan jenis
dan jumlah perbekalan farmasi yang tertera pada surat permintaan. Petugas
administrasi akan memproses surat permintaan tersebut untuk mendapatkan Form
Penerimaan Barang bagi tiap satelit/unit/departemen terkait. Penyiapan
perbekalan farmasi oleh petugas gudang biasanya dilakukan dalam waktu
maksimal satu hari sebelum pengambilan barang oleh satelit atau unit kerja. Pada
saat penyerahan, dilakukan pengecekan kembali oleh petugas gudang dan pihak
satelit atau unit kerja dengan membaca ulang dan memeriksa perbekalan farmasi
yang telah disiapkan. Setelah dinyatakan bahwa barang yang diterima pihak satelit
atau unit kerja sesuai dengan permintaan, kemudian dilakukan penandatanganan
bersama Form Penerimaan Barang oleh petugas gudang dan petugas satelit atau
unit kerja. Lembar form yang asli disimpan oleh pihak gudang, sedangkan lembar
copy diberikan kepada pihak satelit farmasi atau unit kerja.
Gudang Pusat juga melayani permintaan mendesak/sito setiap hari. Untuk
memenuhi permintaan perbekalan farmasi di luar jam operasional gudang, petugas
satelit harus menghubungi Penanggung jawab Gudang Pusat untuk mengambil
perbekalan farmasi di gudang dengan didampingi satu orang saksi dan petugas
keamanan untuk membuka pintu gudang untuk kemudian keesokan harinya
membuat permintaan ke EHR.
Gudang Pusat juga melakukan kegiatan pemusnahan untuk perbekalan
farmasi yang telah kadaluwarsa maupun yang rusak. Perbekalan farmasi yang
tidak digunakan, terkontaminasi, sudah kadaluwarsa, atau rusak diretur kembali
ke gudang dari satelit-satelit dan unit kerja. Pemusnahan dilakukan sesuai perintah
direktur dan dilakukan oleh Panitia Pemusnahan dan dibuat berita acara
pemusnahan.
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


47

Berdasarkan hasil pengamatan selama pelaksanaan PKPA di Gudang


Perbekalan Farmasi Pusat, terdapat beberapa permasalahan yang ditemukan,
antara lain:
1. Masih terdapat ketidaksesuaian jumlah data barang pada kartu stok dengan
jumlah fisik atau jumlah barang di IT.
2. Masih terdapat lemari pendingin yang tidak memiliki daftar nama obat-obat
yang terdapat di dalamnya sehingga menyulitkan petugas baru yang akan
menyiapkan permintaan perbekalan farmasi.

Saran untuk mengatasi hal tersebut, yaitu:


1. Ketidaksesuaian antara kartu stok dengan jumlah fisik
Dilakukan sampling stok dan fisik sebanyak 10 item per hari dan jika terjadi
ketidaksesuaian, maka petugas harus langsung menelusuri penyebab
ketidaksesuaian.
2. Membuat daftar nama obat-obat yang terdapat di dalam masing-masing lemari
pendingin dan menempelkannya pada pintu lemari pendingin yang sesuai.
Daftar tersebut juga perlu diperiksa dan diperbaharui secara berkala sehingga
data yang tersedia selalu ter-update sesuai dengan persediaan yang terdapat di
dalamnya.

4.2 Instalasi Sterilisasi Pusat (ISP) RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo


Kondisi alat kesehatan yang steril melalui sterilisasi merupakan prinsip
dasar untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial. Tujuan sterilisasi adalah
untuk terlaksananya patient safety melalui pemutusan mata rantai penyebaran
mikroorganisme. Pelaksanaan sterilisasi membutuhkan perangkat dan sistem yang
utuh dalam pelaksanaannya dengan petugas khusus yang memiliki keterampilan
khusus sebagai first step to quality. Oleh karena itu, Instalasi Sterilisasi Pusat
(ISP) menjadi unit yang sangat dibutuhkan di rumah sakit untuk memenuhi
ketersediaan barang-barang steril untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


48

4.2.1. Definisi Instalasi Sterilisasi Pusat


Instalasi Sterilisasi Pusat merupakan unit kerja yang bertugas menyediakan
barang-barang dan peralatan steril yang dibutuhkan oleh departemen/instalasi/unit
kerja lainnya di RSCM.

4.2.2. Visi dan Misi ISP RSCM


Visi dari ISP RSCM adalah menjadi ISP yang terkemuka di Asia Pasifik
Tahun 2014. Misi dari ISP RSCM adalah:
a. Menyelenggarakan pusat pelayanan sterilisasi yang aman dan bermutu.
b. Menjadi penyedia alat kesehatan steril untuk jejaring pelayanan kesehatan.
c. Meningkatkan kompetensi SDM di bidang sterilisasi.
d. Menyedikan sarana dan prasarana yang handal.
e. Menyediakan tempat pendidikan/pelatihan dan penelitian/pengembangan di
bidang sterilisasi.

4.2.3. Tujuan dan Strategi ISP RSCM


Tujuan dari ISP RSCM adalah tercapainya pelayanan pusat sterilisasi
dengan pergeseran posisi menjadi revenue center. Strategi yang digagas antara
lain:
a. Meningkatkan efisiensi produktivitas.
b. Meningkatkan profesionalisme.
c. Menciptakan restrukturisasi.
d. Menerapkan sistem managemen keuangan.
e. Menetapkan tarif pelayanan sterilisasi berdasarkan perhitungan unit cost.
f. Meningkatkan mutu pemantauan dan evaluasi.

4.2.4. Pengelolaan Organisasi dan Sumber Daya Manusia


ISP RSCM diketuai oleh Kepala Instalasi Pusat Sterilisasi yang bertanggung
jawab langsung kepada Direktur Umum dan Operasional. Kepala Instalasi Pusat
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


49

Sterilisasi membawahi dua kepala bagian yaitu Kepala Sub Instalasi Operasional
dan Kepala Sub Instalasi Mutu. Adapun Struktur Organisasi Instalasi ISP dapat
dilihat pada Gambar 4.2.

Direktur Umum dan


Operasional

Kepala Instalasi
Sterilisasi Pusat

Kepala Sub Kepala Sub


Instalasi Instalasi Mutu
Operasional

Logistik dan Produksi SDM Administrasi


Inventory BMHP Steril dan Diklat dan Pelaporan

Pre-Cleaning/ Pengemasan/ Penyimpanan Quality


Cleaning Penandaan dan Distribusi Control

Proses Quality
Sterilisasi Control

Gambar 4.2. Struktur Organisasi ISP

4.2.5. Ruang dan Sarana ISP RSCM


Ruang ISP RSCM memiliki suhu 180̊-220C dan kelembaban 35-75%.
Pertukaran udara dilakukan minimal 10 kali per jam dan pada setiap ruangan
harus memiliki exhaust/hepafilter. Alat yang digunakan untuk membantu

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


50

sterilisasi yaitu ultrasonic, washer automatic, dry heat sterilisator, autoclave


sterilisator, dan plasma sterilisator. ISP RSCM memiliki tiga jenis area, yaitu:

a. Area Unclean
Area bertekanan negatif sebagai tempat proses dekontaminasi.
b. Area Clean
Tempat dilakukannya proses pengemasan, labeling, dan sterilisasi.
c. Area Steril
Area bertekanan positif untuk pelaksanaan uji visual, penyimpanan, dan
distribusi barang steril.

4.2.6. Sistem Pelayanan


Sistem pelayanan ISP terbagi dua, yaitu sistem pelayanan yang
tersentralisasi dan desentralisasi. Sistem pelayanan tersentralisasi mencakup hal
manajemen (SDM, SOP, perencanaan) dan pelayanan sterilisasi perbekalan
farmasi dasar steril. Untuk sistem pelayanan desentralisasi mencakup hal khusus,
seperti pelayanan sterilisasi instrumen, linen, peralatan operasi, dot botol bayi, dan
baju operasi.
Pelaksanaan sterilisasi di RSCM tersentralisasi di ISP. Keuntungan
sentralisasi tersebut diantaranya:
a. Peningkatan efisiensi ruangan, SDM, peralatan, dan waktu.
b. Mutu dari alat kesehatan steril terjamin karena adanya prosedur indikator mutu.
c. Pelayanan yang diberikan akan lebih cepat dan dapat mengurangi beban kerja
SDM di unit pengguna perbekalan farmasi steril.
d. Pengawasan dan pengendalian proses sterilisasi menjadi lebih mudah.
e. Mencegah duplikasi dalam proses sterilisasi.

4.2.7. Kegiatan ISP


Kegiatan yang dilakukan di ISP adalah sebagai berikut:
1. Alur Perpindahan Barang Satu Arah
ISP RSCM memiliki alur dalam perpindahan barang. Alur tersebut berupa
alur satu arah, dari area kotor ke area bersih dan akhirnya ke area steril. Di area
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


51

kotor, barang non steril diterima dan dipilih, kemudian, barang direndam,
dibersihkan/disikat, dibilas, dan dikeringkan sebelum dibawa ke area bersih. Di
area bersih, barang diterima, dikelompokkan sesuai unit kerja yang melakukan
permintaan sterilisasi dan dilakukan uji kelayakan barang sesuai dengan yang
tercantum dalam formulir permintaan sterilisasi, dan dikemas. Barang yang
dikemas kemudian diberi label, disusun dan diuji secara mekanik, kimia, dan
biologi, kemudian barang akan melalui proses sterilisasi. Setelah proses sterilisasi,
barang akan masuk ke area steril dan disimpan.

2. Alur Aktivitas Fungsional


Terdapat dua subjek yang ditangani oleh ISP, yaitu supplier dan customer.
Supplier memberikan barang bersih yang ditempatkan pada loket barang bersih
ISP. Berbeda dengan supplier, barang kotor yang berasal dari customer
diserahkan melalui loket barang kotor. Barang kotor diseleksi dan dilakukan
dekontaminasi (fisika atau kimia) lalu dikemas dan diberi label. Sebelum
dilakukan pengemasan dan pemberian label, petugas akan melakukan uji mutu
pada sebagian barang. Barang bersih yang lolos uji mutu dapat memasuki tahap
pengemasan dan labeling. Setelah dikemas dan diberi label, barang diuji mutunya
sebelum memasuki proses sterilisasi. Pada proses sterilisasi, barang yang tidak
berhasil disterilisasi akan dilakukan proses sterilisasi ulang dengan cara
mengulang proses sterilisasi dari awal, sedangkan barang yang kondisinya telah
memenuhi persyaratan akan dilakukan uji visual kemudian ditempatkan di
penyimpanan barang steril. Barang-barang di area penyimpanan barang steril
kemudian didistribusikan melalui loket distribusi dan akan diawasi mutunya oleh
customer atau supplier.

3. Proses Sterilisasi Perbekalan Farmasi Dasar


Barang bersih memasuki tahap kontrol spesifikasi sebelum pengemasan dan
labeling. Selain itu, barang diuji secara mekanik, kimia, dan biologi. Setelah
dikemas dan diberi label, barang disusun dengan baik sebelum sterilisasi.
Sterilisasi menggunakan suhu tinggi (autoklaf 1340̊C) atau suhu rendah (50-560̊C).

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


52

Setelah proses sterilisasi, barang akan melalui uji visual dan ditempatkan pada
bagian penyimpanan barang steril untuk didistribusikan.

4. Proses Sterilisasi Barang Medis Ulang Pakai


Proses sterilisasi barang medis ulang pakai ISP RSCM harus melalui proses
dekontaminasi terlebih dahulu dan sebelumnya lolos uji mekanik, kimia, dan
biologi. Barang yang telah didekontaminasi kemudian dikeringkan dan dilakukan
kontrol spesifikasi, lalu memasuki tahap pengemasan, labeling, dan penyusunan.
Setelah penyusunan, barang disterilisasi dengan suhu tinggi atau suhu rendah
sesuai dengan informasi yang tertera pada formulir permintaan sterilisasi. Setelah
melewati tahap sterilisasi, barang selanjutnya diuji secara visual dan ditempatkan
di bagian penyimpanan barang steril untuk didistribusikan.

Berdasarkan hasil pengamatan selama pelaksanaan PKPA di ISP, terdapat


beberapa permasalahan yang ditemukan, antara lain:
1. Proses pencucian alkes (botol susu bayi) hanya direndam & dibilas saja bagian
luarnya (bagian dalam tetap disikat bersih), kurang dibersihkan hingga benar-
benar bersih.
2. Kedua pintu Pass box di loket kotor dan loket bersih terbuka saat terjadi
proses serah terima alkes.
3. Masih terdapat material kecil pada bagian dalam kassa produksi BMHP.

4.3 Sub Instalasi Produksi


Sub Instalasi Produksi merupakan salah satu fasilitas kegiatan pengadaan
perbekalan farmasi di RSCM. Adapun fungsi dari sub instalasi produksi adalah
untuk membantu menunjang fungsi Instalasi Farmasi dalam hal penyiapan dan
pengadaan perbekalan farmasi di RSCM. Sumber daya manusia yang terdapat di
Sub Instalasi Produksi, terdiri dari 3 Apoteker, 24 asisten apoteker, dan 4 pekarya.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


53

4.3.1 Sub Instalasi Produksi melayani antara lain :


1. Produksi sediaan farmasi, yaitu produksi sediaan farmasi untuk keperluan
internal RSCM. Produksi sediaan farmasi yang dilakukan di RSCM terdiri
dari sediaan steril dan non-steril. Kriteria sediaan farmasi yang diproduksi
antara lain:
a. Sediaan dengan formula khusus.
b. Sediaan dengan kemasan yang lebih kecil (re-packing).
c. Sediaan yang tidak ada di pasaran.
d. Sediaan dengan harga yang lebih murah.
e. Produk yang harus selalu dibuat segar.
f. Sediaan untuk keperluan penelitian.

2. Pelayanan aseptic dispensing, ada beberapa lokasi untuk pelayanan aseptic


dispensing di RSCM, antara lain terdapat di :
a. Central Medical Unit (CMU) 2 lantai 3: melakukan pencampuran obat suntik
(IV admixture), pencampuran obat sitostatik, dan re-packing sediaan serbuk
steril.
b. Perinatologi : melakukan pencampuran obat suntik (IV admixture) dan TPN.
c. Gedung A lantai 8: melakukan pencampuran obat sitostatik.
d. Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA): melakukan pencampuran obat
kemoterapi.

Sub Instalasi Produksi CMU 2 lantai 3 dan Perinatologi beroperasi dalam 2


shift yaitu pada pukul 08.00 – 20.00 WIB dari hari Senin hingga Sabtu. Gedung A
lantai 8 beroperasi dalam 2 shift yaitu pukul 08.00 - 19.30 WIB untuk hari Senin
hingga Jumat sedangkan untuk hari Sabtu dan Minggu hanya 1 shift mulai pukul
09.00 – 15.00 WIB. Departemen IKA beroperasi hanya 1 shift pada pukul 08.00 –
15.30 WIB dari hari Senin hingga Jumat.

Selain itu, sub Instalasi Produksi di gedung CMU 2 lantai 3 memiliki


fasilitas untuk melaksanakan kegiatan produksi agar selalu sesuai standar dan
terjamin mutunya. Fasilitas disesuaikan dengan kegiatan produksi yang dilakukan
dalam ruangan tersebut. Terdapat beberapa ruangan di dalamnya, yaitu :
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


54

a. Ruang karantina sebagai tempat untuk menyimpan alat dan bahan yang baru
masuk sebelum digunakan pada proses produksi.
b. Ruang pencucian sebagai tempat untuk membersihkan alat dan kemasan yang
akan digunakan dalam proses produksi.
c. Ruang bahan baku sebagai tempat penyimpanan bahan baku obat yang akan
digunakan dalam proses produksi. Penyimpanan bahan baku disimpan
berdasarkan rute penggunaannya, yaitu bahan baku untuk sediaan oral dan
obat luar.
d. Ruang peracikan sediaan farmasi non-steril yang terdiri dari ruangan tempat
dilakukannya peracikan obat oral dan peracikan sediaan obat luar.
e. Ruang produksi steril sebagai tempat dilakukannya kegiatan produksi steril
dan repacking.
f. Ruang uji mutu sebagai tempat dilakukannya kegiatan pengujian kualitas
produk yang dihasilkan.
g. Ruang penyiapan aseptik, terdiri dari:
1) Ruang Sitostatika, merupakan ruangan tempat dilakukannya peracikan dan
pencampuran (dispensing) obat-obat kemoterapi. Prinsip tekanan dalam
ruangan ini adalah tekanan negatif sehingga tekanan di luar ruangan lebih besar
dari tekanan di dalam ruangan. Dengan prinsip seperti ini, diharapkan zat-zat
yang bersifat sitostatik tidak menyebar keluar ruangan sehingga petugas yang
di luar ruang terhindar dari efek paparan obat sitostatika.
2) Ruang Pencampuran Obat Suntik dan Nutrisi Parenteral, merupakan ruangan
tempat dilakukan peracikan dan pencampuran (dispensing) sediaan obat suntik
atau nutrisi parenteral. Prinsip tekanan dalam ruangan adalah tekanan positif
sehingga tekanan dalam ruangan lebih besar dibanding luar ruangan. Hal ini
bertujuan agar ruangan dalam tidak terkontaminasi dari partikel yang terdapat
di luar ruangan.

Produksi steril dan non-steril yang dilaksanakan di Sub Instalasi Produksi


menghasilkan sekitar 146 jenis sediaan dengan berbagai konsentrasi dan volume
yang bermacam – macam yang terdiri dari obat dalam 29 item, obat luar 108 item,
dan obat steril 9 item. Produk steril yang diproduksi, antara lain sediaan salep

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


55

kemicetin, kloramfenikol tulle, dan metilen blue. Sementara sediaan non-steril


yang dihasilkan, yaitu sediaan obat oral seperti kapsul dan serbuk bungkus,
sediaan obat luar, seperti salep dan salicyl talk, hand rub, alkohol 70%, dan
povidone iodine.

4.3.2 Kegiatan PKPA di Sub Instalasi Produksi


PKPA yang dilaksanakan di Sub Instalasi Produksi berlokasi di gedung
CMU 2 lantai 3 dan berlangsung selama tiga hari. Beberapa kegiatan yang diamati
dan diikuti mahasiswa, antara lain :
a. Mengamati Kegiatan Rekonstitusi Obat Sitostatika Pasien Rawat Jalan
Alur pelayanan dispensing obat kemoterapi yang dilakukan di Sub Instalasi
Produksi dimulai dari penerimaan resep berupa formulir pelayanan pencampuran
obat sitostatika dari pihak satelit farmasi pusat oleh petugas rekonstitusi obat
sitostatika. Untuk menghindari terjadinya kesalahan dispensing, formulir juga
dilengkapi dengan salinan/copy protokol kemoterapi yang ditulis oleh dokter.
Petugas yang akan melakukan rekonstitusi kemudian melakukan skrining resep
dengan memeriksa kesesuaian pasien dan dosis obat untuk menjamin keamanan
pasien. Petugas juga memeriksa obat-obatan yang diserahkan beserta cairan infus
dan spuit yang dibutuhkan sesuai dengan jumlah yang tertulis dalam formulir
permintaan rekonstitusi. Apabila pasien tidak jadi atau berhalangan melakukan
kemoterapi, maka obat disimpan di Depo Sitostatika sebagai obat titipan pasien.
Persiapan pencampuran obat sitostatika meliputi penyiapan cairan, obat
sitostatika, dan spuit sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Selain itu, juga
dilakukan pembuatan etiket yang berisi nama pasien, nomor rekam medik (NRM),
jumlah obat yang dioplos beserta jumlah cairan pelarutnya, rute pemberian,
tanggal dan waktu pembuatan, serta tanggal dan waktu kadaluwarsa. Seluruh obat,
cairan, spuit, dan etiket yang diperlukan ditempatkan di dalam kotak obat dan
didistribusikan melalui pass box yang terhubung ke dalam ruang steril tempat
penyiapan obat secara aseptis. Sebelum masuk ke ruangan steril dan melakukan
rekonstitusi, petugas terlebih dahulu menggunakan alat pelindung diri (APD)
sesuai ketentuan yang berlaku untuk keamanan bagi petugas sendiri dan menjamin
sterilitas produk yang dihasilkan. Persiapan tersebut meliputi pemakaian gown

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


56

dan APD lainnya, seperti penutup kepala, sarung tangan steril, masker N95,
penutup mata (goggle), dan penutup kaki. Sarung tangan yang digunakan untuk
prosedur aseptis pencampuran obat sitostatika adalah rangkap dua, sarung tangan
pertama digunakan di ruang ganti (gowning), sarung tangan yang kedua
digunakan petugas setelah masuk ke dalam ruang steril.
Selanjutnya, petugas masuk ke dalam ruang steril tempat pencampuran yang
di dalamnya terdapat Biological Safety Cabinet (BSC) yang dilengkapi dengan
Laminar Air Flow (LAF) dengan aliran udara vertikal. Sebelum proses
rekonstitusi, perlu dilakukan pembersihan area kerja agar tercipta lingkungan
yang aseptik dengan cara mengelap bagian dalam BSC dengan alkohol 70% dan
gerakan yang searah, serta mengelap kemasan obat, cairan, dan spuit yang akan
dimasukkan ke dalam BSC dengan mengunakan alkohol 70%. Perlu disiapkan
juga tempat pembuangan khusus limbah sitostatika dan peralatan lain yang
dibutuhkan, seperti beaker glass. Adapun rekonstitusi obat sitostatika yang telah
dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dimana dilakukan di ruang steril
dalam BSC serta dikerjakan dengan hati-hati dan teliti. Setelah selesai
direkonstitusi, sediaan sitostatika diberikan etiket dan label obat sitostatika.
Pelabelan dan pemberian etiket juga dilakukan di dalam ruang steril. Khusus obat
yang tidak tahan cahaya, obat dikemas menggunakan aluminium foil. Sediaan
akhir yang selesai dikerjakan kemudian dikeluarkan dari ruang steril melalui pass
box dan dikemas ke dalam plastik klip per pasien.

b. Mengamati Proses Aseptic Dispensing


Mahasiswa mengamati kegiatan aseptic dispensing sediaan parenteral
berupa premixed KCl dan kegiatan re-packing sediaan serbuk steril. Alur yang
dilakukan pada aseptic dispensing adalah pengecekan permintaan yang dilakukan
secara online. Jika terdapat permintaan, akan dilakukan pengisian form
permintaan yang telah disediakan. Kemudian, disiapkan bahan-bahan lain yang
akan digunakan. Proses dispensing dilakukan di ruang aseptik dengan tekanan
udara positif, menggunakan APD lengkap serta pembersihan area kerja dengan
alkohol 70%. Dalam ruangan tersebut, dilakukan pengemasan dan pemberian

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


57

etiket pada sediaan yang telah siap. Obat yang telah siap akan diantarkan oleh
pekarya ke satelit atau unit kerja yang memesan sediaan tersebut.

c. Re-packing Pembuatan Sediaan Povidone Iodine


Proses re-packing dilakukan untuk mengemas kembali sediaan menjadi
kemasan yang lebih kecil dan ekonomis, meliputi kemasan 10 cc, 30 cc, dan 60
cc.
d. Pembuatan Sirup Omeprazole
Sirup omeprazole merupakan sediaan sirup yang tidak tersedia di pasaran
sehingga produksi sirup omeprazole ini dapat memenuhi kebutuhan di RSCM.
Umumnya, produksi sirup ini tidak banyak dan hanya diproduksi sesuai dengan
permintaan agar kestabilan obat tetap terjaga.

e. Pengisian Kapsul
Pengisian kapsul yang dilakukan adalah pengisian kapsul NaCl. Sebelum
pengerjaan dilakukan, area kerja dan peralatan yang akan digunakan dibersihkan
menggunakan alkohol. Proses pengisian kapsul dilakukan dengan menggunakan
alat. Setelahnya, kapsul dimasukkan ke dalam wadah dan diberi etiket berisi nama
obat, jumlah sediaan, tanggal pembuatan, dan tanggal kadaluwarsa.
Berdasarkan hasil pengamatan selama pelaksanaan PKPA di Sub Instalasi
Produksi, kegiatan produksi yang dilaksanakan di Sub Instalasi Produksi telah
sesuai dengan prosedur dan telah memanfaatkan sumber daya yang ada dengan
maksimal. Hanya saja, terdapat beberapa masalah yang ditemukan, antara lain :
1. Terjadinya kekosongan bahan baku yang menyebabkan kegiatan produksi
tidak berjalan dengan baik.
2. Penyiapan obat sitostatika yang menumpuk di pagi hari.
3. Permintaan produk dari dokter yang belum terlaksana.
4. Adanya petugas yang tidak menggunakan APD pada saat proses pembuatan
kapsul natrium bicarbonate.

4.4 Satelit Farmasi Kirana


Satelit Farmasi Kirana dibuka oleh IFRS pada tahun 2011 dan ditujukan
khusus untuk pasien dengan diagnosis penyakit mata yang memiliki tiga depo
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


58

farmasi, yaitu depo farmasi lantai 1, lantai 3, dan lantai 4. Depo lantai 1 melayani
pasien rawat jalan, depo lantai 3 melayani kebutuhan perbekalan farmasi untuk
tindakan operasi mata, sedangkan depo lantai 4 melayani pasien rawat inap. Depo
lantai 1 beroperasi setiap hari Senin hingga Jumat dengan jadwal dua shift, yakni
shift pertama mulai pukul 08.00 – 15.30 WIB dan shift kedua mulai pukul 10.00-
18.00 WIB, sedangkan depo farmasi lantai 3 dan 4 memiliki jadwal satu shift,
yaitu mulai pukul 08.00 hingga 15.30 WIB atau biasa sampai long shift.

4.4.1 Sumber Daya Manusia (SDM)


Jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) di Satelit Kirana berjumlah 9 orang,
terdiri dari satu orang apoteker penanggungjawab dan 5 orang Asisten apoteker, 2
orang porter, dan 1 orang administrasi (staff kirana). Selain obat mata, satelit ini
juga menyediakan obat-obat lain, berupa obat oral, injeksi, B3, psikotropika, dan
narkotika sebagai terapi penyerta di luar pengobatan mata untuk pasien Kirana.
Depo farmasi lantai 1 melayani pasien rawat jalan, depo farmasi lantai 3
hanya melayani kebutuhan ruang OK/bedah dan lasik, sedangkan depo lantai 4
melayani pasien rawat inap. Bagian OK di Satelit Kirana memiliki 12 divisi mata
dan masing-masing menggunakan sistem paket untuk pendistribusian perbekalan
farmasinya. Pada depo lantai 3 pendokumentasian permintaan paket dilakukan
melalui pencatatan pada lembar formulir serah terima barang (lampiran 17) yang
berisi data pasien, unit, No.regis, Rekam Medik (RM), Hari/tanggal, dan jenis
tindakan, sedangkan untuk verbal order yang ada pada Lt. 3 dan 4 dilakukan juga
pencatatan meliputi nama pasien, nama barang, jumlah yang diminta, dokter yang
meminta, dan paraf. Kedua pencatatan tersebut nantinya akan diinput ke sistem
EHR.

4.4.2 Kegiatan Satelit Kirana


Pengelolaan Perbekalan Farmasi
a. Perencanaan, Pengadaan, dan Penerimaan Perbekalan Farmasi
Perencanaan untuk pengadaan perbekalan farmasi di Satelit Kirana
dilakukan 6 bulan sekali yaitu periode Januari-Juni dan Juli-Desember dimana
metode yang digunakan berdasarkan metode permintaan resep dan metode
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


59

konsumsi. Data perencanaan dikirim ke Gudang Pusat untuk disiapkan


pengadaannya. Depo lantai 3 dan 4 membuat perencanaan untuk pemesanan
barang dan dikirimkan ke depo lantai 1. Defekta perbekalan farmasi di Satelit
Kirana dilakukan oleh pihak depo lantai 1 secara online pada hari Senin dan Rabu,
sedangkan pengambilan perbekalan farmasi dilakukan pada hari Selasa dan
Kamis. Satelit Kirana tidak memiliki pekarya, maka perbekalan farmasi yang
diminta diantar oleh petugas Gudang Pusat. Pada hari pengantaran barang ke
Satelit Kirana, dilakukan pengecekan kesesuaian barang, jumlah barang, kualitas
barang dan ED barang yang diterima dengan defekta oleh petugas farmasi di
Satelit Kirana. Kemudian, perbekalan farmasi dimasukkan ke rak perbekalan
farmasi dan dicatat pemasukannya pada kartu stok.
Khusus untuk pengadaan barang konsinyasi, seperti lensa mata,
perencanaan dibuat oleh departemen kirana ke instalasi farmasi kemudian
dilanjutkan ke Direktur Pelayanan Medik, yang kemudian akan berdiskusi dengan
Bagian Keuangan RSCM. Jika disetujui, bagian Unit Layanan Pengadaan (ULP)
akan melakukan sistem tender untuk menentukan vendor mana yang akan
menangani barang konsinyasi atau dilakukan penunjukkan vendor langsung,
setelah itu Unit Kerja Kirana akan menghubungi vendor untuk melakukan
pemesanan barang.
Dokumentasi penggunaan lensa di Satelit Kirana dilakukan pada buku
khusus pencatatan penggunaan lensa yang akan digunakan sebagai pedoman
untuk pembuatan laporan pemakaian lensa per bulan. Laporan tersebut
ditandatangani oleh Kepala Departemen Mata dan Koordinator Pelayanan Farmasi
lalu diberikan ke bagian Instalasi Farmasi untuk dibuatkan faktur. Faktur ini akan
diserahkan ke bagian keuangan untuk dijadikan dasar penagihan pembayaran bagi
vendor.

b. Penyimpanan Perbekalan Farmasi di Satelit Farmasi Kirana


Penyimpanan perbekalan farmasi di Satelit Kirana menggunakan sistem
FEFO dan FIFO yang disusun secara alfabetis. Penyimpanan perbekalan farmasi
di satelit ini terbagi menjadi tiga, yaitu penyimpanan obat, penyimpanan alat
kesehatan, dan penyimpanan obat khusus. Penyimpanan obat dilakukan
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


60

berdasarkan bentuk sediaan dan stabilitasnya, sedangkan penyimpanan alat


kesehatan disimpan terpisah dari obat dan diatur berdasarkan jenisnya.
Penyimpanan obat khusus di Satelit Kirana, meliputi penyimpanan psikotropika,
obat high alert, obat sitostatika, penyimpanan B3, dan obat termolabil.
Obat-obat yang tergolong LASA diatur agar tidak terletak bersebelahan
dengan obat pasangannya dan telah dilakukan penempelan stiker LASA pada
wadah obat-obat tersebut. Obat-obat High Alert disimpan di lemari khusus yang
pada bagian tepinya ditandai dengan lakban berwarna merah, serta pada tiap
kemasan sekunder dan primer obat diberi stiker High Alert. Obat kanker disimpan
di lemari terpisah yang diberi stiker ungu. Barang-barang dengan masa
kedaluwarsa enam bulan ke depan ditandai dengan label kuning yang dilengkapi
dengan data bulan dan tahun kedaluwarsa obat tersebut. Obat-obat termolabil
disimpan di dalam lemari pendingin. Pengecekan suhu lemari pendingin
dilakukan tiap pagi, siang, dan sore serta suhu ruangan penyimpanan Satelit
Kirana dilakukan tiap pagi.

c. Pengontrolan Stok Perbekalan Farmasi


Sebagai langkah pengontrolan terhadap stok perbekalan farmasi yang ada,
dilakukan SO di Satelit Kirana 3 bulan sekali. Barang-barang yang diketahui telah
mencapai tanggal kedaluwarsa atau rusak akan dikembalikan ke Gudang Pusat
untuk dimusnahkan. Serta dilakukan sistem sampling stok yang harus dilakukan
oleh semua AA setiap harinya dengan pembagian berdasarkan rak.

d. Distribusi Perbekalan Farmasi


Sistem distribusi perbekalan farmasi di Satelit Kirana dilakukan dengan tiga
cara, yaitu sistem peresepan individual untuk pasien rawat jalan dan paket operasi
per pasien, unit dose untuk pasien rawat inap, dan sistem floor stock berupa
BMHP. Resep yang diterima di satelit ini adalah resep manual.
Alur pelayanan resep di Satelit Kirana adalah sebagai berikut:
 Pasien Umum (Resep Tunai)
Pasien umum datang dengan membawa resep asli dari dokter. Resep
tersebut diverifikasi terlebih dahulu oleh petugas farmasi, meliputi verifikasi
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


61

kelengkapan resep, ketersediaan barang di satelit, dan jumlah obat yang akan
diberikan. Petugas satelit akan mengonfirmasi harga obat kepada pasien untuk
selanjutnya dilakukan transaksi. Kemudian, petugas satelit melakukan dispensing
obat dan menyerahkannya kepada pasien disertai dengan pemberian informasi
obat. Alur pelayanan di Satelit Kirana sesuai dengan standar VHDS yang berlaku
di RSCM, yaitu mulai dari pelaksanaan verifikasi, pemberian harga, dispensing
obat, dan penyerahan obat.
 Pasien jaminan
Perbedaan alur pelayanan resep pasien umum dengan pasien jaminan
terletak pada saat proses penerimaan resep. Pasien jaminan harus membawa resep
asli, fotokopi resep, dan surat jaminan. Petugas satelit memastikan bahwa obat
yang akan ditebus oleh pasien terdapat dalam Fornas. Jika obat diluar fornas maka
dokter mengisi formulir obat non fornas dimana hanya untuk obat yang mahal saja
diatas lima ratus ribu rupiah. Setelah itu dilakukan verifikasi dan petugas satelit
melakukan dispensing obat dan menyerahkannya kepada pasien disertai dengan
pemberian informasi obat.

4.4.3 Kegiatan Satelit Kirana


Mahasiswa bertugas di satelit Kirana selama 2 hari. Selama berada di satelit
Kirana, mahasiswa berkesempatan untuk terlibat dalam kegiatan pengelolaan
perbekalan farmasi. Beberapa kegiatan tersebut, antara lain :
1. Membantu proses dispensing obat sesuai resep yang ada.
2. Membantu proses penyetokan obat.
3. Melakukan monitoring resep manual.
4. Melakukan sampling resep dan etiket.
Berdasarkan hasil pengamatan mahasiswa selama berada di Satelit Kirana,
terdapat beberapa hal kendala yang masih perlu diperbaiki untuk meningkatkan
kualitas pelayanan farmasi Satelit Farmasi Kirana. Beberapa hal tersebut, antara
lain :
a. Ada Obat LASA yang tidak ditempel stiker LASA (ada 1 item obat yang tidak
ditempel stiker LASA), yaitu obat : Vitrolenta MD dan Vitrolenta ED.
b. Diperlukan adanya pengeras suara untuk memanggil pasien.
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


62

c. Belum adanya saluran telepon (SIEMENS) yang menghubungkan satelit


kirana dengan unit lain di luar KIRANA.
d. Sistem EHR yang belum terintegrasi di satelit KIRANA (lantai 1).
e. Tidak adanya loket yang digunakan untuk penerimaan dan penyerahan resep.

4.5 Satelit Farmasi Instalasi Gawat Darurat

Satelit Farmasi IGD RSCM merupakan unit kerja yang melayani perbekalan
farmasi untuk pasien setiap harinya selama 24 jam dan hanya melayani kebutuhan
perbekalan farmasi di ruang IGD RSCM saja, tidak menerima resep dari unit lain
di RSCM. Satelit farmasi IGD RSCM mempunyai satu satelit di lantai 1 dan satu
satelit di lantai 4. Satelit lantai 1 melayani kebutuhan perbekalan farmasi untuk
lantai 1 (ruang rertiase, imet, rhesus, urgent, perinatologi dan anak), lantai 2
(ruang ICU, PICU, hemodialisa anak, dan hemodialisa dewasa), dan lantai 3
untuk ruang kebidanan, sedangkan satelit lantai 4 melayani kebutuhan perbekalan
farmasi untuk ruang OK IGD dan OK urologi.

4.5.1 Sumber Daya Manusia (SDM)


Satelit Farmasi IGD memiliki 2 orang Apoteker, yang masing-masing
bertanggung jawab untuk pelaksanaan kegiatan manajemen perbekalan farmasi
dan pelayanan farmasi klinik, 23 orang Asisten Apoteker, 4 orang porter, dan 1
orang pekarya. Pelayanan farmasi di kedua depo setiap harinya dilakukan dalam 3
shift selama 24 jam.

4.5.2 Kegiatan Satelit Farmasi IGD


Kegiatan Manajemen Perbekalan Farmasi di Satelit Farmasi IGD RSCM
adalah :
a. Perencanaan, Pengadaan, dan Penerimaan Perbekalan Farmasi
Pengelolaan perbekalan farmasi untuk satelit lantai 1 dan satelit lantai 4
dilakukan secara terpisah. Perencanaan untuk pengadaan perbekalan farmasi
menggunakan perbandingan metode permintaan dan metode konsumsi dimana
semakin banyak barang yang keluar dari stok, maka permintaan untuk barang
tersebut juga besar. Perencanaan perbekalan farmasi di satelit farmasi IGD
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


63

dilakukan 6 bulan sekali yaitu periode Januari - Juni dan Juli - Desember.
Pengadaan perbekalan farmasi di satelit farmasi IGD RSCM dilakukan melalui
sistem defekta yang dilakukan 2 kali dalam seminggu yaitu pada hari Senin dan
Kamis secara online melalui HER. Pengambilan barang ke gudang pusat
dilakukan setiap hari Selasa dan Jumat. Defekta perbekalan farmasi dipisahkan,
antara defekta obat, alat kesehatan, dan narkotika. Selain itu juga ada defecta cito.
Satelit lantai 1 juga menyediakan perbekalan farmasi untuk keperluan satelit lantai
4. Sistem pengadaan barang di satelit lantai 4 dilakukan dengan mengajukan
defekta ke satelit lantai 1. Satelit farmasi lantai 4 mengajukan defekta ke satelit
farmasi lt.1 dalam waktu 2 kali dalam seminggu, yaitu pada hari Senin dan
Kamis.
Pelaksanaan defekta pada hari Senin dan Kamis oleh pihak satelit dengan
memasukkan data defekta yang akan di-posting melalui sistem EHR ke gudang.
Selanjutnya pihak gudang menyiapkan terlebih dahulu barang yang diminta oleh
pihak satelit farmasi IGD. Keesokan harinya pada hari pengambilan barang,
pekarya dan AA dari satelit farmasi IGD akan datang ke gudang pusat untuk
mengurus pengambilan barang yang telah diminta. Pekarya akan melakukan
pengambilan barang, sementara AA bersama dengan petugas gudang akan
melakukan pengecekan kembali untuk menyesuaikan antara nama perbekalan
farmasi, jenis, bentuk sediaan, dan jumlah barang yang diambil dari gudang pusat
dengan data defekta dari IGD dan data yang di-entry pihak gudang ke dalam
sistem EHR. Hal yang juga perlu diperhatikan pada saat serah terima perbekalan
farmasi adalah pengecekan tanggal kadaluarsa. Setelah data sesuai, lembar defekta
ditandatangani oleh pihak yang menyerahkan (pihak gudang) dan pihak yang
menerima barang (pihak satelit farmasi IGD). Pihak satelit farmasi IGD akan
mendapat satu copy lembar defekta tersebut. Tahapan selanjutnya yang harus
dilakukan adalah mencatat penambahan perbekalan farmasi di kartu stok dan
memasukan data ke sistem EHR yang ada. Selanjutnya dilakukan penambahan
stok barang di satelit farmasi IGD.
b. Penyimpanan Perbekalan Farmasi di Satelit Farmasi IGD RSCM

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


64

Penyimpanan perbekalan farmasi di Satelit Farmasi IGD telah diatur sesuai


dengan persyaratan dan standar kefarmasian. Susunan penyimpanan dibuat
berdasarkan pembagian berikut :
1) Bentuk dan jenis perbekalan farmasi
a) Obat
Penyimpanan obat dibedakan berdasarkan bentuk sediaannya, yaitu sediaan
tablet, sediaan sirup, sediaan topikal, injeksi, dan cairan infus.
b) Alat kesehatan
Penyusunan alat kesehatan dikelompokkan berdasarkan jenisnya.
2) Suhu penyimpanan dan stabilitas
Obat-obat termolabil yang memerlukan penyimpanan di suhu dingin (2°–
8°C) disimpan pada kulkas terpisah
3) Susunan alfabetis
Obat disusun sesuai urutan alfabetis nama generik atau nama dagangnya.
4) Sifat bahan
Bahan – bahan beracun dan berbahaya (B3) disimpan secara terpisah dalam
lemari yang terbuat dari bahan yang sukar terbakar, serta dilengkapi dengan
label bahan berbahaya dan lembar Material Safety Data Sheet (MSDS) bahan.
5) Sistem FIFO dan FEFO
Perbekalan farmasi disusun dengan menempatkan barang yang pertama kali
masuk atau barang dengan tanggal kadaluwarsa paling dekat terletak di
bagian depan sehingga dapat agar mudah dikeluarkan lebih dulu. Obat-obat
yang mendekati kadaluwarsa dalam jangka waktu 3 bulan, dimasukkan ke
dalam plastik kuning dan diberi label bewarna kuning dengan mencantumkan
bulan dan tahun kadaluarsa obat tersebut pada kemasan plastik dan wadah
penyimpanan. Pada sistem FIFO, perbekalan farmasi yang baru datang dari
gudang ditempatkan pada kontainer besar terlebih dahulu sebelum
dimasukkan di tempat penyimpanannya. Setelah obat yang berada pada
tempat penyimpanannya habis, baru diisi ulang dengan obat yang berada di
dalam kontainer. Hal ini dapat memudahkan dalam membedakan mana obat
yang pertama kali masuk dengan obat yang terakhir masuk.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


65

6) Obat high alert dan LASA


Obat-obat yang termasuk dalam kelompok obat high alert dan obat LASA di
Satelit Farmasi IGD disimpan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan,
Obat high alert disimpan dalam lemari tertentu, ditandai dengan plester
berwarna merah pada bagian tepinya dan terpisah dari sediaanlainnya.
Sedangkan obat LASA diletakkan tidak bersebelahan dengan obat
pasangannya (diberi jarak) dan diberi stiker LASA pada tempat
penyimpanannya.
7) Sediaan narkotika dan psikotropika
Sediaan narkotika dan psikotropika disimpan terpisah dari sediaan lainnya di
dalam lemari khusus yang terletak di bagian belakang satelit. Kedua lemari
tersebut selalu terkunci dan khusus untuk lemari narkotika, dilengkapi dengan
pintu ganda. Kunci lemari dikalungkan pada salah satu petugas farmasi yang
sedang bertugas. Kunci diserahterimakan kepada petugas farmasi lainnya
ketika pemegang kunci sebelumnya akan meninggalkan area kerja.

c. Sistem Distribusi Perbekalan Farmasi di Satelit Farmasi IGD RSCM


Sistem disribusi di satelit farmasi IGD RSCM ada tiga, yaitu sistem
distribusi resep individu, paket, serta floor stock.
1) Sistem peresepan individu
Sistem peresepan individu adalah sistem penyiapan dan pendistribusian
perbekalan farmasi berdasarkan pemberian atau resep untuk 1 hari pemberian.
Peresepan untuk ruang triase dan imet diberikan untuk 1 kali pemberian,
sedangkan untuk ruangan rhesus, urgent dan boarding diberikan untuk 1 hari
pemberian. Alur pelayanan resep individu adalah resep dari dokter di HER akan
diverifikasi oleh apoteker atau asisten apoteker. Verifikasi resep yang dilakukan
meliputi skrining pertimbangan klinis. Khusus untuk resep yang di dalamnya
terdapat sediaan narkotika harus ada nama dokter, SIP, nomor telpon, dan alamat
rumah doker bersangkutan yang menulis resep. Jika persyaratan tersebut tidak ada
atau tidak lengkap, maka resep tidak dapat diproses dan petugas farmasi harus
melakukan konfirmasi dahulu kepada dokter yang bersangkutan. Setelah
dilakukan verifikasi, maka petugas farmasi akan mencetak etiket dan resep dari
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


66

HER. Selanjutnya petugas farmasi akan menyiapkan perbekalan farmasi sesuai


yang diminta di dalam resep. Setiap pengambilan perbekalan farmasi dari tempat
penyimpanannya, petugas farmasi harus mencatatnya di buku/kartu stok. Setelah
barang diambil, kemudian dimasukkan ke dalam plastic sesuai masing-masing
obatnya dan diberi etiket. Setelah itu, semua obat dalam resep akan dimasukkan
ke dalam kantung plastik beserta resepnya. Penyerahan obat dapat dilakukan
dengan cara diantar ke ruang rawat atau diambil langsung oleh perawat, dokter,
atau keluarga pasien di satelit farmasi lantai 1.
Terdapat ketentuan pengiriman obat di IGD yaitu:
a. Bila Cito Maka harus diselesaikan < 15 menit.
b. Apabila Tidak Cito, maka mengikuti aturan pengiriman obat yang tercantum
pada tabel 4.1.

Jam Resep
Jam Antar Resep Dari Jam Penyuntikan
No. Selesai dan
Ruangan di Ruangan
Diantar
1. 05.00 – 11.00 Max 11.00 siang 12.00 – 13.00
2. 13.00 – 17.00 Max 17.00 sore 18.00 – 19.00
3. 18.30 – 23.00 Max 23.00 24.00 – 01.00
01.00 (dini hari) – 05.00
4. Max 05.00 06.00 – 07.00
(subuh)
5. Untuk simvastatin dan simarc Max 20.00 21.00 – 22.00
Untuk antibiotika disesuaikan
6. dengan jam masuk awal
penyuntikan
Tabel 4.1 Aturan Pengiriman Obat di Satelit Farmasi IGD RSCM

c. Tugas shift pagi : Semua resep CITO untuk pasien baru dan ganti terapi, resep
ICU dan penyiapan resep untuk penyuntikan jam 12.00 dan jam 18.00 (jika
resep sudah datang).
Tugas Shift Sore: Semua resep CITO untuk pasien baru dan ganti terapi, resep
ICU pasien baru dan penyuntikan resep untuk penyuntikan jam 18.00.
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


67

d. Tugas shift Malam: Semua resep CITO untuk pasien baru dan ganti terapi,
Resep ICU pasien baru dan penyiapan resep untuk penyuntikan jam 24.00
dan 06.00 pagi.
e. Untuk resep boarding diberikan untuk satu hari.
f. Untuk ruangan urgent observasi diberikan 1 hari.
g. Untuk ruang ICU dikirimkan jam 14.00.

2) Sistem Distribusi Paket


Sistem paket tujuanya adalah untuk memudahkan pelayanan. Jenis-jenis
paket yang ada di satelit farmasi IGD RSCM adalah :
a. Satelit farmasi IGD lantai 1
Paket akut IGD, paket antisipasi HD IGD, paket catheter IGD, paket
kondom catheter IGD, paket infuse lantai 3 IGD, paket partus IGD, paket PEB
IGB, paket tokolitik IGD.
b. Satelit farmasi IGD lantai 4
Paket bedah plastic lantai 4 IGD, paket anestesi CVC lantai 4 IGD, paket
anestesi epidural, paket blok lantai 4 IGD, paket GA, paket laparatomi anak IGD,
paket laparatomi dewasa IGD, paket operasi appendiktomi/herniotomi lantai 4
IGD, paket operasi bedah vaskular IGD, paket operasi craniotomi IGD, paket
operasi debriedement IGD, paket operasi laparotomi bayi IGD, paket operasi
orif/bedah orthopedic lantai 4 IGD, paket operasi thorakotomi lantai 4 IGD, paket
operasi WSD lantai 4 IGD, paket sectio (tanpa antibiotika) paket sectio dengan
antibiotika, paket spinal, paket tambahan OK IGD lantai 4, dan paket urologi
lantai 4.

3) Sistem Distribusi Floor Stock


Sistem distribusi floor stock diberlakukan untuk persediaan BMHP dan
persediaan perbekalan farmasi di troli emergensi.

 BMHP (Bahan Medis Habis Pakai)


BMHP merupakan perbekalan farmasi dasar yang disediakan oleh pihak
farmasi di lemari penyimpanan di ruang rawat. Defekta BMHP disalurkan

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


68

setiap 1 minggu sekali ke satelit farmasi IGD lantai 1, yaitu pada hari jumat,
serta dimonitor kondisi penyimpanannya setiap 1 bulan sekali oleh pihak
farmasi.
 Trolley Emergency
Tersedia 7 buah troli emergensi yang masing masing terdapat di lantai 1
(urgent), lantai 2 (ICU, PICU, hemodialisa anak dan dewasa), lantai 3
(kebidanan), dan lantai 4 (OK). Isi trolley emergency adalah life saving drugs,
alat untuk membuka jalan napas (airway), alat bantu napas (breathing), alat
untuk pengelolaan sirkulasi darah (circulation), dan Bahan Medis Habis Pakai
(BMHP). Barang-barang di dalam troli emergensi di IGD diisi oleh pihak
Satelit Farmasi lantai 1 IGD, sedangkan troli di lantai 4 diisi oleh satelit
farmasi IGD lt.4. ED obat dan alkes yang dimasukkan ke dalam troli harus
dicatat pada lembar checklist troli emergensi yang tersedia. Setelah troli terisi,
pihak farmasi akan menguncinya menggunakan kunci disposable. Petugas
farmasi yang melakukan penguncian troli harus mengisi Berita Acara
penutupan troli dan menandatanganinya serta mencatat nomor kuncinya. Troli
emergensi akan dibuka ketika terdapat code blue yang berarti terjadikondisi
kegawatdaruratan medis. Setelah tindakan untuk pasien dilakukan, dokteratau
perawat harus menandai nama perbekalan farmasi dan jumlah yang digunakan
dari troli pada lembar checklist troli emergensi serta menuliskan nama pasien
yang menggunakan. Dokter harus membuat resep untuk meminta penggantian
perbekalan farmasi yang telah digunakannya dari troli emergensi dan
memberitahu pihak Satelit lantai 1 dengan batas maksimal 1x24 jam. Resep
dibuat atas nama pasien yang menggunakan perbekalan farmasi dari troli
sehingga biaya penggantiannya akan ditagihkan kepada pasien tersebut.
Petugas farmasi dari Satelit lantai 1 akan menyiapkan barang pengganti sesuai
resep dokter beserta kunci baru untuk troli tersebut. Bersama dengan perawat,
pihak farmasi akan mengecek kembali kelengkapan seluruh isi troli. Troli
harus dikunci menggunakan kunci disposable baru. Nomor seri kunci harus
dicatat setiap kali terjadi penggantian kunci. Selanjutnya seperti pada awal
pengisian troli, petugas farmasi harus mengisi Berita Acara penutupan troli.
Pada Berita Acara tersebut harus dituliskan juga nama pembuka troli, tanggal
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


69

pembukaan, alasan pembukaan, dan nama pasien yang memerlukan. Berita


Acara tersebut ditandatangani oleh petugas farmasi beserta perawat sebagai
saksi.

4) Monitoring dan Evaluasi Perbekalan Farmasi di Satelit Farmasi IGD RSCM


Monitoring dan evaluasi perbekalan farmasi yang dilakukan meliputi:
a. Monitoring stock opname
Stock opname (SO) untuk semua perbekalan farmasi yang terdapat di satelit
lantai 1 dilakukan setiap 3 bulan sekali. Pelaksanaan SO bertujuan sebagai
salah satu langkah untuk monitoring stok perbekalan farmasi yang terdapat di
Satelit Farmasi IGD.
b. Pemisahan penyimpanan obat mahal.
c. Pengecekan suhu ruangan dan suhu di dalam kulkas.
Pengecekan suhu ruangan dilakukan setiap 1 kali dalam sehrai sedangkan
untuk pengecekan suhu kulkas di IGD yang buka selama 24 jam, makan
pengecekannya dilakukan 3 kali dalam sehari setiap pergantian shift.
d. Pengecekan rutin stok narkotika setiap 2 x seminggu.
e. Penerapan sistem sampling (dilakukan oleh AA) untuk mengecek kesesuaian
stok dari data kartu stok dengan jumlah fisik perbekalan farmasi di satelit
IGD.
f. Monitoring obat yang dekat ED yaitu obat yang mempunyai tanggal
kadaluarsa 6 bulan ke depan dihitung mulai dari stock opname, dimasukkan ke
dalam kantung dan diberi label ED pada kantung dan tempat penyimpannya.
g. Monitoring distribusi BMHP, floor stock dan laporan narkotika.

4.5.3 Kegiatan PKPA di Satelit Farmasi IGD


Mahasiswa berkesempatan melaksanakan PKPA di satelit farmasi IGD
selama 2 hari yaitu untuk melihat mempelajari manajemen pengelolaan
perbekalan farmasi di IGD dan kegiatan farmasi klink di IGD. Kegiatan yang
dilakukan antara lain :
1. Melihat cara verifikasi resep melalui EHR oleh asisten apoteker.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


70

2. Membantu melakukan penyiapan dan pengemasan obat.


3. Menyusun kartu stok berdasarkan abjad.
4. Mendapatkan pengarahan kegiatan farkasi klinik di ruang ICU IGD, IGD,
ruang hemodialisa anak.
5. Mendapatkan pengarahan mengenai manajemen perbekalan farmasi di satelit
farmasi IGD.
Berdasarkan hasil pengamatan mahasiswa selama berada di Satelit IGD,
terdapat beberapa hal yang masih perlu diperbaiki untuk meningkatkan kualitas
pelayanan farmasi Satelit Farmasi IGD. Beberapa hal tersebut, antara lain:
1) Terdapat selisih stok obat termasuk obat mahal di kartu stok dengan jumlah
fisik obat.
2) Penulisan tanggal pada kartu stok yang tidak lengkap.
3) Terdapat penyusunan obat yang tidak alfabetis pada rak penyimpanan
4) Terdapat penyususnan obat LASA yang tidak sesuai prosedur (disimpan
secara berdampingan).

4.6 Satelit Farmasi Ruang Rawat Inap Terpadu (Gedung A)


Gedung A merupakan unit rawat inap terpadu RS Dr. Cipto Mangunkusumo
yang terdiri dari 8 lantai dan basement. Perbekalan farmasi untuk pasien rawat
inap pada gedung A dikelola oleh Satelit farmasi Gedung A yang terdiri dari
satelit farmasi yang terletak di basement dan depo farmasi pada setiap lantai.
Sistem managemen perbekalan farmasi Gedung A merupakan sistem
desentralisasi yang terpusat pada satelit farmasi Basement dan akan
didistribusikan pada depo – depo tiap lantai.

Lantai Ruang Rawat


Lantai 1 Anak dan VIP
Lantai 2 Obgyn dan Boarding
Lantai 3 Penyakit Dalam dan Kelas Khusus
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


71

Lantai 4 Bedah
Lantai 5 Stroke Unit, Bedah Saraf dan Neurologi
Lantai 6 HCU dan Kardiovaskular
Lantai 7 IPD, THT dan Kulit Kelamin
Tabel 4.2 Pembagian Ruang Rawat Inap Tiap Lantai Gedung A

Sumber daya manusia satelit farmasi manajemen gedung A terdiri dari 74


tenaga, yang terdiri dari 2 orang tenaga apoteker, 59 asisten apoteker (D3), 11
orang pekarya dan porter, serta 2 orang administrasi yang terdiri dari asisten
apoteker dan pekarya. Administrasi merupakan suatu bagian yang menangani
kelengkapan berkas-berkas penagihan obat bagi pasien jaminan agar dapat
ditagihkan ke pihak penjamin. Petugas administrasi ini bertugas di bagian
keuangan di basement Gedung A.
Pelayanan farmasi untuk pasien rawat inap Gedung A dilakukan selama 24
jam yang terbagi menjadi tiga shift yaitu pagi pukul 08.00 – 14.30 WIB dan sore
pukul 14.00 – 21.00 WIB yang dilayani langsung oleh depo farmasi setiap lantai
dan shift malam pukul 21.00 – 08.00 WIB yang pelayanannya langsung Satelit
Farmasi Basement Gedung A.
Fungsi satelit farmasi sendiri antara lain manyediakan kebutuhan perbekalan
farmasi untuk pasien, bertanggung jawab dalam penggunaan perbekalan farmasi
dan menjamin perbekalan farmasi baik secara kimia maupun fisika. Sedangkan
untuk depo farmasi tiap lantai gedung A memiliki tugas tambahan yaitu
menyiapkan kebutuhan obat dan alat kesehatan pasien yang sedang dirawat tiap
lantai. Sedangkan kegiatan farmasi manajemen basement Gedung A yaitu
mengelola perbekalan farmasi mulai dari perencanaan, pengadaan, penerimaan,
penyimpanan, pendistribusian, serta monitoring. Perencanaan satelit farmasi
basement berdasarkan kebutuhan depo farmasi tiap lantai yang dilakukan 2 kali
dalam setahun. Untuk periode Januari – Juni perencanaan dilakukan pada bulan
Agustus, sedangkan periode Juli – Agustus dilakukan perencanaan pada bulan
Februari. Untuk pengadaan perbekalan farmasi dilakukan dengan cara defecta ke
gudang pusat yang dilakukan 3 kali dalam seminggu yaitu pad hari Senin, Rabu,
dan Jumat. Pengadaan dilakukan juga berdasarkan kebutuhan depo farmasi tiap
lantai. Proses pengadaan dilakukan menggunakan sistem online yaitu melalui
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


72

EHR ( Electronic Health Record ). Setelah dilakukan pemesanan dan penyiapan


perbekalan farmasi oleh petugas gudang pusat, petugas farmasi dari satelit farmasi
basement Gedung A akan mengambil dan mengecek kesesuaian jenis dan jumlah
yang diminta, serta dilakukan pengecekan juga terhadap kondisi dan tanggal
kadaluwarsa dari perbekalan farmasi. Perbekalan farmasi yang diterima dan
diperiksa dibawa ke Satelit Basement dan dicatat pada kartu stock serta datanya
dimasukkan ke dalam IT. Sedangkan untuk pengadaan kebutuhan cito dapat
dilakukan kapan saja dengan alur yang sama. Penyimapanan perbekalan farmasi
berdasarkan bentuk, sifat dan jenisnya. Pembagian penyimpanan perbekalan
farmasi di satelit farmasi basement gedung A dapat dilihat pada gambar.
Sedangkan penyusunan berdasarkan alfabetis dan secara FIFO (First In First Out)
dan FEFO (First Expired First Out).

Perbekalan Farmasi

Alat
Obat
Kesehatan

Stabilitas

Lemari pendingin Ruangan

Oral Infus Injeksi Topikal

Nama
Tablet Sirup Generik
dagang

Nama
Generik
dagang

Gambar 4.3 Skema Pembagian Penyimpanan Perbekalan Farmasi.

Pendistribusian perbekalan farmasi dilakukan oleh Satelit Farmasi Basement


ke depo farmasi setiap lantai sesuai dengan defecta yang diminta oleh tiap depo
berdasarkan kebutuhan pasien rawat inap pada tiap lantai setiap harinya. Selain itu
Satelit Famasi Basement juga melakukan pendistribusian dengan cara floor stock
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


73

untuk perbekalan farmasi Barang Medis Habis Pakai (BMHP) ke tiap ruangan
yang membutuhkan BMHP yang sudah disetujui oleh manager penunjang medik
dan juga trolley emergency. Trolley emergency merupakan persediaan perbekalan
farmasi pada keadaan darurat, berisi obat-obat penyelamat hidup, cairan nutrisi,
dan alat-alat kesehatan penyelamat hidup (airways, breathing, circulation). Untuk
pendistribusian floor stock mulai hari Senin hingga Jumat sesuai dengan jadwal
tiap lantai yang telah disusun. Sedangkan untuk trolley emergency pengisian
pertama dilakukan oleh Satelit Farmasi Basement Gedung A sedangkan untuk
pengecekan dan pengisian jika ada yang kurang akan dilakukan oleh depo
farmasi pada tiap lantai. Perbekalan farmasi yang sudah disiapkan oleh petugas
Satelit Farmasi Basement akan dikirimkan ke depo farmasi, sedangkan BMHP
akan diambil oleh petugas dari tiap ruangan. Setelah perbekalan farmasi diterima,
selanjutnya depo farmasi tersebut yang akan mendistribusikan perbekalan farmasi
ke pasien melalui perawat setiap harinya.
Pelayanan yang dilakukan oleh depo farmasi di tiap lantai adalah penyiapan
obat untuk pasien rawat inap tiap lantai yang diresepkan oleh dokter tiap hari
Senin dan Kamis. Dokter mengirimkan resep pasien pada hari Senin untuk
penggunaan dari Senin sore hingga Kamis siang serta resep Kamis untuk
penggunaan dari Kamis sore hingga Senin siang. Sistem peresepan di Gedung A
sudah menggunakan sistem online berupa Electronic Health Record (EHR).
Kelebihan penggunaan sistem ini adalah dapat mengurangi kesalahan dalam
membaca resep, sehingga kesalahan dalam pemberian obat juga berkurang. Selain
itu, kelengkapan administrasi resep secara otomatis terpenuhi, resep lebih cepat
sampai di depo farmasi, sehingga akan lebih cepat untuk melakukan dispensing
obat, serta tagihan pasien dapat diketahui secara real time. Akan tetapi, selain
kelebihan juga terdapat kekurangan pada sistem ini antara lain jika terjadi
gangguan pada jaringan internet sehingga menjadi lama, jika terjadi kesalahan
pada saat dokter salah memilih obat yang diresepkan. Setelah dokter meresepkan
kemudian dilakukan verifikasi resep dan pencetakan etiket. Selanjutnya obat akan
disiapkan oleh farmasi di depo sedangkan obat-obat yang perlu diracik disiapkan
di ruang peracikan khusus yang tersedia di Satelit Farmasi Basement dan
selanjutnya didistribusikan ke pasien melalui perawat.
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


74

Sistem distribusi yang digunakan, yaitu daily dose, unit dose, dan peresepan
individual. Sistem resep harian, yaitu sistem distribusi obat yang disiapkan untuk
penggunaan obat selama satu hari, untuk obat oral akan dikemas berdasarkan unit
dose. Sistem unit dose, yaitu sistem distribusi obat yang disiapkan untuk setiap
kali waktu minum obat selama 24 jam, dimulai dari sore hingga siang hari di hari
berikutnya. Obat dimasukkan dalam kemasan sesuai waktu pemberian yang dapat
dilihat pada lampiran. Walaupun obat disiapkan secara unit dose, namun
penyerahan obat ke perawat tetap dilakukan satu kali sehari untuk penggunaan
secara satu hari, yaitu setiap sore hari sebelum pukul 17.00 WIB. Sistem distribusi
peresepan individu digunakan untuk obat pasien yang akan pulang.
Monitoring yang dilakukan antara lain stock opname untuk semua
perbekalan farmasi yang dilakukan setiap 3 bulan sekali yang bertujuan sebagai
salah satu langkah monitoring stok perbekalan farmasi yang terdapat pada Satelit
farmasi Gedung A. Monitoring lain yang dilakukan yaitu melakukan sampling
terhadap kesesuaian antara kartu stock dengan jumlah barang yang ada dilakukan
setiap harinya, monitoring terhadap perbekalan farmasi yang dekat ED ( 6 bulan
ke depan).
Setiap kegiatan manajemen perbekalan farmasi yang telah dilakukan harus
disertakan dengan laporan. Laporan yang disiapkan oleh Satelit Farmasi Basement
Gedung A antara lain: laporan mutasi, laporan pendapatan, laporan pemakaian
antibiotik, laporan IKI pegawai, laporan barang kadaluwarsa, laporan stock
opname, laporan narkotik. Laporan tersebut dibuat setiap bulan dan dikirim
maksimal tangal 10 setiap bulannya ke Koordinator Perbekalan Farmasi,
Koordinator Adminkeu, dan Koordinator Pelayanan Farmasi.
Berdasarkan hasil pengamatan mahasiswa selama berada di Satelit ruang
rawat inap terpadu gedung A, terdapat beberapa hal masalah yang masih perlu
diperbaiki untuk meningkatkan kualitas pelayanan farmasi Satelit ruang rawat
inab terpadu gedung A, antara lain :
1. Belum terdapat daftar nama – nama obat yang disimpan dalam lemari
pendingin sehingga jika mencari obat yang disimpan pada lemari pendingin
harus mencari satu – satu dalam lemri pendingin.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


75

2. Pengambilan tablet maupun kapsul yang tanpa kemasan menggunakan tangan


langsung.
3. Banyaknya intrupsi di depo farmasi sehingga mengizinkan untuk mengambil
barang sendiri.
4. Tempat penyimpanan tablet maupun kapsul yang tanpa kemasan rawan
terhadap debu.

4.7 Satelit Farmasi Intensive Care Unit (ICU)


Satelit Farmasi ICU merupakan salah satu unit yang melayani perbekalan
farmasi untuk pasien selama 24 jam setiap hari. Jam pelayanan setelit ini dibagi
menjadi 3 shift yaitu shift pertama dilakukan pada pukul 07.30 – 14.30 WIB, shift
kedua dilakukan pada pukul 14.00 – 21.00 WIB dan shift ketiga dilakukan pada
pukul 21.00 – 08.00 WIB. Pelayanan resep dilakukan untuk pasien jaminan
maupun pasien umum. Satelit ini melayani resep rawat inap dari ICU dewasa,
ICCU, dan juga menyiapkan paket tindakan endoskopi. Pelayanan farmasi di
Satelit Farmasi ICU dikelola oleh satu orang apoteker manajemen perbekalan
farmasi dan satu orang apoteker klinis, dibantu oleh delapan orang asisten
apoteker dan dua orang pekarya. Apoteker manajemen perbekalan farmasi
bertanggung jawab atas pengelolaan perbekalan farmasi sedangkan apoteker
farmasi klinis bertanggung jawab atas pengobatan pasien secara rasional.

4.7.1 Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Satelit Farmasi ICU


Terdapat dua macam perencanaan perbekalan farmasi di Satelit Farmasi
ICU yaitu perencanaan yang dilakukan dua kali dalam satu tahun dan perencanaan
rutin (defekta rutin). Periode perencanaan yang di lakukaan duaa kali dalam
setahun dilakukan pada bulan Januari – Juni (Jan-Jun) dan Juli – Desember (Jul-
Des). Perencanaan untuk bulan Januari – Juni (Jan-Jun) dilakukan penyusunan
pada bulan September pada tahun sebelumnya, sedangkan perencanaan untuk
bulan Juli – Desember (Jul-Des) dilakukan penyusunan pada bulan Maret pada
tahun yang sama. Perencanaan yang dilakukan dua kali dalam setahun disusun
berdasarkan data pemakaian barang yang dilihat dari rekap laporan mutasi barang
serta laporan pemenuhan permintaan perbekalan farmasi. Pengadaan perbekalan
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


76

farmasi yang rutin di Satelit Farmasi ICU menggunakan defekta online ke Gudang
Pusat setiap hari Senin dan Kamis, sedangkan untuk pengambilan barang
dilakukan pada hari Selasa dan Jumat.
Alur pelayanan resep di satelit farmasi ICU yaitu dokter akan menuliskan
resep obat secara online melalui EHR petugas satelit akan melakukan verifikasi
terhadap resep yang diterima. Verifikasi resep, meliputi verifikasi administratif,
farmasetik, klinis dan kelengkapan lainnya, seperti kelengkapan persyaratan
jaminan pasien serta hasil pemeriksaan laboratorium untuk penggunaan obat –
obat tertentu, seperti albumin. Setelah verifikasi, jumlah obat dan jenis obat
dimasukkan melalui sistem IT (EHR) dan diberi harga. Setelah itu, obat disiapkan
oleh petugas satelit ICU. Petugas pelaksana dispensing mengambil obat dengan
jenis dan jumlah yang sesuai dengan permintaan dalam resep, lalu dicatat
mutasinya pada kartu stok. Selanjutnya, obat dikemas dan diberi etiket. Setelah
selesai dispensing, pertugas Satelit Farmasi ICU (asisten apoteker) akan
mengantarkan perbekalan farmasi tersebut ke ruangan. Namun untuk resep cito
maka petugas ruangan yang akan datang untuk mengambilnya di Satelit Farmasi
ICU.
Sistem distribusi yang dilakukan di Satelit Farmasi ICU meliputi peresepan
unit dose, floor stock dan resep individual. Pada sistem distribusi floor stock,
Satelit Farmasi ICU mendistribusikan perbekalan farmasi ke ruang rawat berupa
BMHP (Bahan Medik Habis Pakai) dan troli emergensi.. Farmasi dan perawat
bertanggung jawab atas troli emergensi. Farmasi bertanggung jawab dalam hal
perbekalan farmasi, sedangkan perawat bertanggung jawab dalam hal
pengontrolan kelengkapan dan penggunaan alat di dalam troli. Pada sistem
distribusi unit dose pemberian obat pada pasien rawat inap dalam kemasan sekali
pakai untuk pemakaian selama 24 jam. Obat disiapkan untuk sore, pagi, siang, dan
malam. Sedangkan resep individual diberikan untuk peresepan obat pasien pulang
dan peresepan paket endoskopi.
Penyimpanan perbekalan farmasi dibedakan berdasarkan jenisnya, yaitu
obat dan alat kesehatan. Penyimpanan obat di Satelit Farmasi ICU dilakukan
berdasarkan bentuk sediaan, generic, atau nama dagang. Untuk alat kesehatan,
penyimpanan dilakukan berdasarkan fungsi dan penggunaannya. Di Satelit
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


77

Farmasi ICU terdapat pelabelan khusus dalam penyimpanan obat yaitu obat – obat
LASA, obat high alert, obat yang mendekati waktu kadaluwasa, obat sitostatik
dan obat yang disimpan dalam kulkas. Penyimpanan obat high alert pada tempat
tersendiri diberikan stiker merah bertuliskan high alert berwarna putih yang di
tempel dari kemasan sekunder hingga kemasan primer obat. Penyimpanan obat-
obat LASA telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan tidak meletakkan
dua jenis obat yang tergolong LASA secara berdampingan dan diberikan stiker
LASA berwarna hijau yang ditempelkan pada wadah penyimpanan obat. Obat
yang mendekati waktu kadaluwarsa dimasukkan ke dalam plastik obat berwarna
kuning dan diberi label warna kuning dengan mencantumkan bulan dan tahun
kadaluwarsa obat tersebut. Penyimpanan untuk obat sitostatika yaitu tempat
penyimpanan obat sitostatika diberi lakban merah dan diberi stiker ungu.
Sedangkan untuk obat yang disimpan dalam kulkas diberi label kuning yang
bertuliskan disimpan pada suhu 2-80C.

4.7.2 Kegiatan PKPA di Satelit Farmasi ICU


Mahasiswa bertugas di Satelit Farmasi ICU selama 3 hari. Selama berada di
Satelit Farmasi ICU, mahasiswa berkesempatan untuk terlibat dalam kegiatan
pengelolaan perbekalan farmasi dan kegiatan farmasi klinik. Beberapa kegiatan
tersebut, antara lain:
1. Membantu proses dispensing obat di Satelit Farmasi ICU.
2. Membuat daftar kesesuaian obat dalam lemari dengan dafatar obat yang
ditempel.
3. Membantu membereskan obat LASA.
4. Memverifikasi resep pasien di ICU dewasa.
5. Monitoring pengobatan pasien ICU dewasa.
6. Mengikuti Parade dan Visite pasien di ICU dewasa.

4.8 Satelit Farmasi Pusat


Satelit Farmasi Pusat melaksanakan pelayanan kefarmasian selama 24 jam
setiap hari yang masing – masing terbagi ke dalam tiga shift kerja mulai pukul
07.30 – 14.30 untuk shift pertama, pukul 14.00 – 21.00 untuk shift kedua, dan

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


78

pukul 21.00 – 08.00 untuk shift ketiga. Sumber daya manusia di Satelit Farmasi
Pusat terdiri dari 1 apoteker manajemen perbekalan farmasi, 10 asisten apoteker,
dan 2 pekarya. Pembagian dalam satu shift terdiri dari 2 atau 3 asisten apoteker
dan 1 pekarya untuk shift pertama dan kedua. Sementara untuk shift ketiga,
terdapat 2 asisten apoteker yang bertugas. Selain itu, pada hari-hari pelayanan
yang ramai (Selasa, Rabu, Jum’at) ditempatkan 3 asisten apoteker dan 2 pekarya
untuk shift pertama, 3 asisten apoteker untuk shift kedua, dan 2 asisten apoteker
untuk shift ketiga.
Satelit farmasi pusat melayani pasien jaminan dan pasien umum. Resep
yang dilayani meliputi resep dari ruang rawat inap yang tidak memiliki satelit
farmasi dan resep pasien rawat jalan dari beberapa poliklinik serta menjadi tempat
peralihan resep dari ruang rawat inap yang satelit farmasi yang belum buka 24
jam. Resep rawat inap berasal dari rawat inap Bedah Anak (BCh), Perinatalogi
(PICU dan NICU), dan Psikiatri (PKL, PKW, PKA). Resep pasien rawat jalan
melayani 3 poli yaitu yang berasal dari semua Poliklinik yang memiliki divisi
hematoonkologi (ipd, obgyn, bedah), poli lain yg membutuhkan obat kemoterapi
dan poliklinik Thalasemia.
Dua macam perencanaan perbekalan farmasi di Satelit Farmasi Pusat yaitu
perencanaan yang dilakukan dua kali dalam satu tahun dan perencanaan rutin
(defekta rutin). Periode perencanaan yang dilakukan dua kali dalam setahun
dilakukan pada bulan Januari – Juni (Jan-Jun) dan Juli – Desember (Jul-Des).
Perencanaan untuk bulan Januari – Juni (Jan-Jun) dilakukan penyusunan pada
bulan September pada tahun sebelumnya, sedangkan pernecanaan untuk bulan
Juli – Desember (Jul-Des) dilakukan penyusunan pada bulan Maret pada tahun
yang sama. Perencanaan yang dilakukan dua kali dalam setahun disusun
berdasarkan data pemakaian barang yang dilihat dari rekap laporan mutasi barang
serta laporan pemenuhan permintaan perbekalan farmasi.
Pada proses pengadaan, dilakukan defekta secara online 2 kali dalam
seminggu. Hari defekta yaitu pada hari selasa dan jumat. Permintaan barang ke
gudang dilakukan minimal 1 hari sebelum hari defekta. Selanjutnya petugas
gudang menyiapkan ketersediaan perbekalan farmasi sesuai dengan permintaan.
Pada pagi hari selasa dan jumat dilakukan serah terima perbekalan farmasi. (di cek
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


79

kesesuaian barang, jumlah, dan tanggal kadaluwarsa). Setelah dilakukan


pengecekan terhadap kesesuaian jenis dan jumlah barang yang diminta dengan
yang diberikan petugas Satelit Farmasi Pusat akan menandatangani fomulir
defekta barang. Petugas satelit farmasi akan mencatat jumlah barang yang
diterima pada kartu stok barang dan memasukkan ke sistem EHR Satelit Farmasi.
Selanjutnya perbekalan farmasi disusun pada tempat yang telah disediakan dan
buffer stock perbekalan farmasi disimpan di tempat terpisah.
Selain melakukan defekta secara rutin, Satelit Farmasi Pusat juga
melaksanakan defekta cito saat stok kosong atau terdapat permintaan perbekalan
farmasi yang tidak terduga. Petugas tetap melakukan defekta secara online dan
akan datang langsung ke Gudang mengambil obat atau alat kesehatan yang
dibutuhkan. Selain itu, Satelit Farmasi Pusat dapat meminjam obat atau alat
kesehatan yang dibutuhkan tersebut ke satelit farmasi yang lain.
Penyimpanan perbekalan farmasi di Satelit Pusat disusun secara alfabetis
dengan sistem First In First Out (FIFO) atau First Expired First Out (FEFO)
dengan pemantauan suhu ruang penyimpanan 15 sampai 25oC yang dilakukan
satu kali sehari. Perbekalan farmasi disusun menurut jenisnya, yaitu obat dan alat
kesehatan. Penyimpanan obat disusun sesuai dengan bentuk sediaan, obat generik
ataupun obat nama dagang. Bentuk sediaan yang ada di Satelit Farmasi Pusat
antara lain oral, injeksi, cairan infus, nutrisi parenteral, sirup/drop, serta obat luar.
Berbeda dengan obat, penyimpanan alat kesehatan dilakukan berdasarkan jenis
dan fungsinya. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan proses penyiapan alat
kesehatan. Di Satelit Farmasi Pusat terdapat obat-obat dengan penyimpanan
khusus meliputi:
1) Termolabil
Obat yang bersifat termolabil disimpan dalam lemari pendingin pada suhu 2°
sampai 8° C. Kualitas perbekalan farmasi yang disimpan harus selalu melalui
pengecekan suhu pada lemari pendingin yang dilakukan sebanyak tiga kali
sehari.
2) Obat sitostatika
Penyimpanan obat sitostatika diberi stiker ungu.
3) High Alert
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


80

Obat High Alert disimpan dalam tempat tersendiri yang dibatasi dengan
lakban merah dan ditempel stiker High Alert pada kemasan primer obat.
4) Narkotika
Obat golongan narkotika disimpan dalam lemari khusus yang terdiri dari 2
sekat dengan kunci ganda.
5) Obat dengan penyimpanan terpisah, seperti sediaan nutrisi, dan obat mahal.
6) Bahan Beracun dan Berbahaya (B3)

Penyimpanan B3 secara terpisah dalam lemari yang terbuat dari bahan tahan
api (terbuat dari besi), serta dilengkapi dengan label bahan berbahaya dan lembar
Material Safety Data Sheet (MSDS). Selain itu, terdapat pelabelan khusus untuk
perbekalan farmasi di Satelit Farmasi Pusat antara lain obat – obat LASA, obat
high alert, obat yang mendekati waktu kedaluwasa, obat sitostatik dan obat yang
disimpan dalam kulkas.Penyimpanan obat high alert pada tempat tersendiri
diberikan stiker merah bertuliskan high alert berwarna putih yang di tempel dari
kemasan sekunder hingga kemasan primer obat. Penyimpanan obat-obat LASA
telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan tidak meletakkan dua jenis
obat yang tergolong LASA secara berdampingan dan diberikan stiker LASA
berwarna hijau yang ditempelkan pada wadah penyimpanan obat. Obat yang
mendekati waktu kadaluwarsa dimasukkan ke dalam plastik obat berwarna kuning
dan diberi label warna kuning dengan mencantumkan bulan dan tahun
kadaluwarsa obat tersebut. Penyimpanan untuk obat sitostatika yaitu tempat
penyimpanan obat sitostatika diberi lakban merah dan diberi stiker ungu.
Sedangkan untuk obat yang disimpan dalam kulkas diberi label kuning yang
bertuliskan disimpan pada suhu 2-80C.
Pendistribusian perbekalan farmasi yang dilakukan di Satelit Farmasi Pusat
menggunakan sistem distribusi peresepan individual. Resep yang diterima oleh
Satelit Farmasi Pusat terdiri dari resep manual dan resep online. Perbekalan
farmasi yang telah disiapkan akan diambil oleh petugas dari masing – masing Unit
Kerja. Khusus obat kemoterapi, pasien hanya menerima bon penitipan obat dan
obat kemoterapi yang telah disiapkan akan didistribusikan oleh petugas Satelit
Farmasi Pusat ke unit produksi tempat dilakukannya dispensing obat kemoterapi,

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


81

atau gedung A bagian sitostatika dan pada hari kemoterapi baru dilakukan
pencampuran. Jadwal pengambilan perbekalan farmasi yang diterima oleh Satelit
Farmasi Pusat dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Waktu Pengambilan Perbekalan


Waktu Resep Datang Farmasi

11.00

Sebelum pkl 09.00 Untuk Psikiatri jam 15.00

09.00 -17.00 19.00

19.00 11.00

Resep Cito ≤ 15 menit

Tabel 4.3. Jadwal Pengambilan Perbekalan Farmasi yang Diterima Satelit

Mahasiswa bertugas di Satelit Farmasi Pusat selama 2 hari. Selama berada di


Satelit Farmasi Pusat, mahasiswa berkesempatan untuk terlibat dalam kegiatan
pengelolaan perbekalan farmasi. Beberapa kegiatan tersebut, antara lain :

a. Membantu proses dispensing obat di Satelit Farmasi Pusat.

b. Membantu membereskan daftar obat di lemari.

c. Menelusuri obat dengan membandingkan jumlah fisik dengan jumlah yang


tertulis pada kartu stok dan melengkapi kartu stok.

a. Satelit Paviliun Tumbuh Kembang (PTK)


Satelit PTK melakukan pelayanan mulai dari pukul 08.00-15.30. Diluar dari
jam pelayanan pelayanan dialihkan ke satelit pusat. Tenaga SDM yang ada terdiri
dari 1 asisten apoteker dan 1 pekarya. Resep yang dilayani adalah resep yang

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


82

berasal dari paviliun tumbuh kembang saja. Resep yang dilayani sudah
merupakan resep online (EHR) semua.
Perencanaan dilakukan harian tergantung pemakaian. Satelit PTK
melakukan defecta rutin ke satelit pusat bukan ke gudang langsung pada hari
senin dan jumat. Resep yang diterima oleh Satelit PTK (resep online) selanjutnya
akan disiapkan (Resep tidak di print kecuali resep yang dialihkan ke pusat, namun
obat yang digunakan dicatat di formulir pengobatan, tiap 1 pasien memiliki satu
lembar formulir pengobatan) diambil oleh petugas ruang untuk digunakan.
Penyimpanan obat di satelit PTK yaitu didalam dua lemari yang terdapat
dalam satelit ini. Terdapat satu lemari yang terkunci tempat menyimpan stock
barang dan satu lemari lainnya yang tidak terkunci. Lemari yang tidak terkunci
digunakan untuk melayani resep cito. Didepan lemari terdapat daftar nama obat
dan jumlah barang yang distok di dalam lemari tersebut. Setiap barang diambil
dicatat mutasi barangnya di laporan pemakaian obat. Di dalam satelit juga
terdapat satu kulkas yang merupakan kulkas bersama yang digunakan oleh
perawat dan farmasi. Didalamnya terdapat obat yang sudah dan belum digunakan
termasuk juga obat sitotoksik.
Sistem distribusi obat satelit ini menggunakan sistem unit dose yang
disiapkan untuk sore, pagi, dan siang selama satu hari, kecuali hari jumat
disiapkan untuk 3 hari.

4.9 Pelayanan Farmasi Klinik RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo


Pelayanan farmasi dalam penggunaan obat dan alat kesehatan adalah
pendekatan profesional yang bertanggung jawab dalam menjamin penggunaan
obat dan alat kesehatan sesuai indikasi, efektif, aman, dan terjangkau oleh pasien
melalui penerapan pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan prilaku apoteker
serta bekerja sama dengan pasien dan profesi kesehatan lainnya. Pelayanan
kefarmasian di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo tidak terpisahkan dari kegiatan
farmasi klinik yang berorientasi kepada pasien dan bertujuan untuk menjamin
efektivitas, keamanan, dan efisiensi penggunaan obat serta dalam rangka
meningkatkan penggunaan obat yang rasional. Penggunaan obat yang rasional
adalah penggunaan obat yang tepat indikasi, tepat obat, tepat cara pemberian,
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


83

tepat waktu pemberian, dan tepat lama pemberian. Kegiatan farmasi klinik yang
di RSCM meliputi beberapa kegiatan, antara lain :
a. Medication History Taking (Pengambilan Riwayat Pengobatan)
Pengambilan riwayat pengobatan bertujan untuk melihat pengobatan pasien
terdahulu yang dicurigai dapat menimbulkan efek samping obat, melihat ada
tidaknya alergi, dan untuk menyesuaikan terapi sebelum perawatan dan saat
perawatan pasien di RSCM. Pasien yang datang berobat ke RSCM tidak
semuanya diambil data tentang riwayat pengobatan. Pasien yang diambil datanya
tentang riwayat pengobatan adalah pasien yang telah dirawat selama 48 jam.
Apoteker melakukan pengambilan riwayat pengobatan dengan cara
menanyakan langsung ke pasien terkait riwayat penggunaan obat. Selain itu
apoteker juga dapat melihat formulir pengkajian awal medik pasien yang ada di
status pasien untuk mendapatkan informasi riwayat pengobatan pasien. Untuk
melakukan pengambilan riwayat pengobatan, apoteker menyiapkan terlebih
dahulu lembar daftar obat sebelum perawatan meliputi: nama obat yang
digunakan (nama generik/ nama dagang), cara perolehan (resep, non-resep)
termasuk obat herbal dan suplemen, dosis/aturan pakai, lama penggunaan obat
(kapan mulai menggunakan dan kapan dihentikan), kepatuhan (dengan jadwal
teratur, kadang-kadang, jika timbul gejala saja, dll), sumber obat, dan jumlah obat
tersisa. Setelah menandapatkan informasi mengenai riwayat pengobatan pasien,
riwayat alergi dan efek samping obat yang pernah dialami pasien yang kemudian
dicatat pada formulir medication history taking yang dapat dilihat pada Lampiran
13.

b. Pengkajian Resep
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pengkajian resep dimulai dari
seleksi persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik, dan persyaratan klinis
baik untuk pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan.
1. Persyaratan administrasi meliputi:
a. Nama, umur, jenis kelamin, tanggal lahir, dan berat badan pasien untuk pasien
anak-anak;
b. Nama dokter;
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


84

c. Tanggal resep; dan


d. Ruangan/ unit asal resep.
2. Persyaratan farmasetik meliputi:
a. Nama Obat;
b. Bentuk dan kekuatan sediaan;
c. Dosis dan jumlah obat;
d. Stabilitas dan ketersediaan; dan
e. Aturan, cara dan teknik penggunaan.
3. Persyaratan klinis meliputi:
a. Ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan obat;
b. Duplikasi pengobatan;
c. Alergi, interaksi dan efek samping obat;
d. Kontra indikasi;
Apoteker klinis akan melakukan pengkajian resep sebelum obat di-dispense.
Akan tetapi, ketika Apoteker klinis tidak ada di satelit, proses pengkajian
dilakukan oleh AA. Dalam melaksanakan pengkajian resep, terdapat 10 indikator
yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Resep tidak terbaca;
2. Kesesuaian pasien;
3. Dosis/ kekuatan/ frekuensi;
4. Nama obat;
5. Rute pemberian;
6. Waktu pemberian;
7. Interaksi obat;
8. Duplikasi;
9. Obat lebih dari 7 item; dan
10. Antibiotik lebih dari 3 item.

c. Monitoring Pengobatan
Monitoring pengobatan adalah suatu pemantauan perkembangan
pengobatan pasien yang dapat dikaji dari jenis obat yang diberikan, dosis dan
frekuensi penggunaannya, efek terapi yang dicapai, ada tidaknya interaksi,
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


85

maupun kemungkinan timbulnya efek samping dari obat yang digunakan.


Monitoring pengobatan ini tidak hanya melihat dari obat-obatan yang diberikan
pada pasien saja, tetapi dapat juga dilihat dari hasil laboratorium pasien.
Tujuan dilakukan monitoring pengobatan ini untuk memastikan kesesuaian
pengobatan pasien dan mengetahui perkembangan pengobatan pasien. Data yang
diperoleh dicatat pada formulir monitoring pasien rawat inap pada Lampiran 14.
Hal-hal yang dilakukan selama monitoring pengobatan pasien meliputi:
1) Melihat kesesuaian antara resep dokter di EHR dengan kardeks (laporan
pemberian obat oleh perawat) serta obat yang ditulis di status pasien (Medical
Record).
2) Kesuaian pemberian obat terhadap hasil laboratorium pasien.
3) Melihat kesesuaian dosis yang diberikan.
4) Interaksi obat yang terjadi karena polifarmasi.
5) Melihat ada tidaknya efek samping dari obat yang diberikan.

d. Konseling
Merupakan suatu proses yang sistematik untuk mengidentifikasi dan
penyelesaian masalah pasien yang berkaitan dengan pengambilan dan penggunaan
obat pasien rawat jalan dan pasien rawat inap. Tujuan dari pelaksanaan konseling
adalah memberikan pemahaman yang benar mengenai obat kepada pasien dan
tenaga kesehatan mengenai nama obat, efek samping obat, tanda – tanda
toksisitas, cara penyimpanan obat dan penggunaan obat – obat lain. Konseling
dilakukan untuk pasien rawat jalan dan pasien rawat inap. Konseling
diprioritaskan secara berurutan bagi:
1. Pasien geriatri (usia lanjut > 60 tahun),
2. Pediatrik (anak-anak < 18 tahun),
3. Pasien yang akan pulang,
4. Pasien yang mendapatkan lebih dari 7 rejimen obat,
5. Pasien yang mendapatkan obat dengan indeks terapi sempit.
6. Pasien yang mendapatkan efek obat yang tidak diharapkan dari penggunaan
obatnya.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


86

Konseling yang diberikan bagi pasien yang akan pulang harus informatif
karena pasien akan menggunakan obat sendiri di rumah tanpa didampingi oleh
perawat seperti di rumah sakit. Namun karena kondisi pasien yang akut ataupun
keadaan pasien yang ingin segera pulang sehingga informasi obat yang diberikan
tidak terlalu mendetail. Akan tetapi, apoteker sebaiknya meminta pasien untuk
mengulangi informasi yang telah disampaikan sebagai proses evaluasi dan untuk
memastikan bahwa informasi telah diterima dengan tepat oleh pasien tanpa ada
kesalahan dalam memahami informasi.
Sebelum dilakukan kegiatan konseling untuk pasien pulang, apoteker
terlebih dahulu menyiapkan formulir informasi obat pulang (Lampiran 12),
sedangkan obatnya disiapkan oleh petugas satelit farmasi tiap lantai. Formulir
tersebut dapat memudahkan pasien untuk menggunakan obatnya sendiri di rumah,
karena sudah dilengkapi dengan waktu minum (pagi, siang atau sore, sesudah atau
sebelum makan) dosis dan jumlah obat yang diminum. Informasi yang diberikan
kepada pasien meliputi nama obat, khasiat obat, jumlah obat yang diberikan,
aturan dan waktu pemakaian obat, serta informasi khusus.Walaupun pada saat
konseling oleh apoteker telah diberikan formulir informasi obat, namun pasien
akan lebih sering melihat aturan penggunaan obat pada etiket. Sehingga sebaiknya
informasi obat yang tertera dalam etiket juga mencantumkan cara penggunaan
obat (sebelum/setelah makan).

e. Pelayanan Informasi Obat (PIO)


Pelayanan informasi obat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
Apoteker untuk memberikan informasi secara akurat, tidak bias, dan terkini
kepada dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya dan pasien. Tujuan
dari pelaksanaan ini adalah menyediakan informasi mengenai obat kepada pasien
dan tenaga kesehatan di lingkungan rumah sakit; menyediakan informasi untuk
membuat kebijakan – kebijakan yang berhubungan dengan obat, terutama bagi
panitia/ komite farmasi dan terapi; meningkatkan profesionalisme apoteker; serta
menunjang terapi obat yang rasional.
PIO merupakan kegiatan yang dapat dilakukan oleh apoteker secara mandiri
maupun berkelompok. PIO terdiri dari:
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


87

1. PIO pasif, yaitu berupa menjawab pertanyaan baik yang berasal dari tenaga
kesehatan di lingkungan Rumah Sakit maupun di luar Rumah Sakit. Saat ini
kegiatan PIO pasif sebagian besar berasal dari tenaga medis di lingkungan
Gedung A RSCM.
2. PIO aktif, yaitu berupa memberikan informasi secara aktif, seperti melalui
buku panduan, leaflet, brosur, dan media lainnya.
Dalam melakukan kegiatan PIO, Apoteker mencari informasi yang
dibutuhkan menggunakan buku-buku literatur terbaru maupun media elektronik
seperti internet yang berasal dari sumber yang dapat dipercaya. Pertanyaan yang
diajukan oleh tenaga medis maupun pasien dapat berupa pertanyaan mengenai
kestabilan obat, substitusi obat, dosis obat untuk pasien dengan keadaan tertentu,
dan pertanyaan lainnya yang mungkin ditemukan selama pasien menjalani
perawatan. Laporan dari kegiatan PIO akan direkapitulasi dan dilaporkan setiap
bulan sehingga memudahkan pencarian kembali apabila pertanyaan serupa
ditanyakan kembali di lain waktu.

f. Parade/ Ronde/ Visite


Parade/ ronde/ visite merupakan kunjungan ke pasien rawat inap bersama
tim dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk
menentukan pemilihan obat, menerapkan secara langsung pengetahuan
farmakologi terapetik, menilai kemajuan pasien, serta bekerjasama dengan tenaga
kesehatan lain.
Visite dapat dilakukan oleh Apoteker secara mandiri maupun berkolaborasi
bersama tim medis lainnya sesuai dengan situasi dan kondisi. Dalam kegiatan
visite, Apoteker berperan dalam memberikan rekomendasi pengobatan pasien
terkait kesesuaian obat dengan penyakitnya, kesesuaian dosis dan sediaan obat,
ketersediaan obat, harga obat, efek yang tidak diinginkan, serta kemungkinan
terjadinya interaksi obat.
g. Diskusi Kasus
Kegiatan yang dilakukan selama diskusi kasus dapat bermacam-macam
sesuai dengan kondisi unit yang melakukan diskusi kasus. Diskusi kasus dapat
meliputi:
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


88

1. Ronde klinik PPRA untuk membahas kasus penggunaan antibiotik, baik


kasus yang berasal dari pasien maupun yang terjadi secara umum.
2. Ronde geriatri (geriatric meeting).
3. Ronde bersama (waktunya tidak pasti dan dilakukan minimal satu bulan
sekali).
h. Monitoring Efek Samping Obat
Monitoring efek samping obat merupakan kegiatan pemantauan setiap
respon terhadap obat yang merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada
dosis normal yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis
dan terapi.
Tujuan dari kegiatan ini adalah menemukan efek samping obat (ESO) sedini
mungkin terutama yang berat, tidak dikenal, dan ferkuensinya jarang; menentukan
frekuensi dan insidensi efek samping obat yang sudah dikenal sekali, yang baru
saja ditemukan; mengenal semua faktor yang mungkin dapat menimbulkan/
mempengaruhi timbulnya efek samping obat atau mempengaruhi angka kejadian
dan hebatnya efek samping obat.
Kegiatan yang dilakukan selama melakukan monitoring efek samping obat
antara lain:
1. Menganalisa laporan efek samping obat.
2. Mengidentifikasi obat – obatan dan pasien yang mempunyai resiko tinggi
mengalami efek samping obat.
3. Mengisi formulir efek samping obat.
4. Melaporkan ke panitia efek samping obat nasional.
4.9.1 Kegiatan PKPA Farmasi Klinik di RSCM
Pelaksanaan kegiatan farmasi klinik di RSCM sudah diterapkan di beberapa
divisi/ unit pelayanan antara lain:
a. Pelayanan Jantung Terpadu (PJT)
b. Instalasi Gawat Darurat (IGD)
c. ICU & ICCU
d. Perinatologi & PTK
e. Rawat Inap Gedung A
f. Kencana
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


89

Secara keseluruhan, pelaksanaan kegiatan farmasi klinik di RSCM sudah


berjalan cukup baik. Dari delapan kegiatan farmasi klinik yang ada, terdapat
beberapa perbedaan metode pelaksanaan pada tiap divisi atau unit pelayanan,
diantaranya adalah:
1. Pelayanan Farmasi Klinik di Unit Rawat Inap Terpadu Gedung A
Pelaksanaan kegiatan farmasi klinik di gedung A rawat inap dilaksakan oleh
tujuh orang apoteker, adapun beberapa kegiatan rutin farmasi klinik yang
dilakukan di gedung A, yaitu:
a. Monitoring Pengobatan.
b. Pelayanan Konseling (bed side pasien dan pasien pulang).
c. Pelayanan Informasi Obat.
d. Ronde/Visite.
e. Pengambilan riwayat penggunaan obat (Medication History Taking).
f. Verifikasi Resep.
g. Diskusi Kasus.
h. Monitoring Efek Samping Obat.

2. Pelayanan Farmasi Klinik di ICU & ICCU


Pelaksanaan kegiatan farmasi klinik di ICU & ICCU dilaksanakan oleh 1
orang Apoteker, adapun beberapa kegiatan farmasi klinik yang dilakukan di ICU
dan ICCU, yaitu:
a. Parade/ ronde/ visite bersama dengan dokter dan perawat untuk
membicarakan mengenai kondisi pasien yang sedang dirawat di ICU,
tindakan medis yang akan dilakukan serta terapi pengobatan yang akan
digunakan;
b. Pengkajian resep;
c. Monitoring pengobatan;
d. Kegiatan konseling pasien pulang di ICCU, kegiatan konseling hampir tidak
pernah dilaksanakan di ICU mengingat bahwa pasien yang dirawat di ICU
rerata memiliki kondisi yang tidak stabil, sehingga tidak memungkinkan
untuk diberikan konseling;
e. Pelayanan informasi obat;
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


90

f. Kegiatan monitoring efek samping obat;


g. Ronde

3. Pelayanan Farmasi Klinik di Instalasi Gawat Darurat (IGD)


Pelaksanaan kegiatan farmasi klinik di Instalasi Gawat Darurat dilaksanakan
oleh 1 orang Apoteker, adapun beberapa kegiatan farmasi klinik yang dilakukan
di IGD, yaitu:
a. Pengambilan riwayat pengobatan;
b. Pengkajian resep;
c. Monitoring pengobatan;
d. Ronde mandiri;
e. Konseling pasien pulang;
f. Pelayanan informasi obat; dan
g. Monitoring efek samping obat.
Selama pelaksanaan PKPA dalam kegiatan farmasi klinik di gedung A
rawat inap, ICU & ICCU, serta di IGD terdapat beberapa masalah dan kendala
yang ditemui, yaitu:
1. Pasien harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan informasi obat
pulang oleh Apoteker.
2. Ruangan PIO terkadang kosong, kemungkinan adanya telpon mengenai PIO
yang tidak terjawab.
3. Tidak ada catatan apoteker di status pasien.
4. PIO aktif RSCM saat ini hanya dilakukan berdasarkan kebutuhan, belum
dapat dilakukan secara rutin. Adapun hasil dari PIO aktif yang sudah
dilakukan antara lain: Buku Panduan Pencampuran Obat Suntik, Brosur
Penggunaan Salep Mata, Suppositoria, dan Inhaler.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Pelayanan kefarmasian yang dilakukan di rumah sakit mencakup kegiatan
manajemen dan farmasi klinik. Peran apoteker dalam menjalankan fungsinya di
bidang manajemen adalah menjamin, menyediakan dan menyimpan ketersediaan
perbekalan faremasi yang memenuhui kualitas, kuantitas dan keamanannya.
Selain itu, apoteker juga berperan sebagai seorang manajer yang bertugas
melakukan pengelolaan sumber daya manusia (SDM), sarana dan prasarana,
sertaberkontribusi dalam upaya peningkatan pendapatan rumah sakit. Peran
apoteker dalam menjalankan fungsinya di bidang farmasi klinik yaitu Monitoring
Pengobatan, konseling, pelayanan informasi obat, ronde/visit, pengambilan
riwayat penggunaan obat (Medication History Taking), pengkajian resep,
dispensing, pemantauan dan pelaporan efek samping obat (MenKes RI No. 1197).
Pelaksanaan pelayanan kefarmasian tersebut di RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo sudah cukup memenuhi standar pelayanan kefarmasian dari
Kementerian Kesehatan RI dan standar dari Joint Commission International.
Meskipun begitu masih ditemui adanya aspek pelayanan yang belum dilakukan
secara maksimal karena faktor keterbatasan jumlah SDM dan keterbatasan
fasilitas penunjang pelayanan.

5.2 Saran
Selama pelaksanaan PKPA di Satelit Farmasi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo,
terdapat beberapa hal yang diamati oleh mahasiswa dalam kegiatan manajemen
dan farmasi klinik. Beberapa hal yang bisa kami sarankan adalah:
5.2.1. Kegiatan Farmasi Klinik
1. Ada penambahan jumlah apoteker klinis untuk memaksimalkan kegiatan
farmasi klinik.
2. Harus ada Apoteker yang selalu berada diruangan PIO.

91 Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


92

3. Sebaiknya ada catatan apoteker di status pasien.


4. Apoteker farmasi klinik sebaiknya mengikuti ronde di IGD, agar dapat saling
sharing mengenai pasien antar tenaga kesehatan lainnya.
5.2.2. Gudang Perbekalan Farmasi Pusat
1. Penambahan jumlah kalkulator; melakukan sampling stock dan fisik untuk
beberapa jenis item setiap hari.
2. Membuat daftar nama obat dan menempelkannya di pintu lemari pendingin
serta diperbaharui secara berkala.
5.2.3. Instalasi Sterilisasi Pusat
1. Dilakukan pencucian hingga kotoran benar-benar hilang pada saat proses Pre-
cleaning & Cleaning.
2. Pintu pass box diperbaiki atau ruangan tunggu di loket bersih harus berada
dalam keadaan tertutup saat melakukan serah terima barang.
3. Dilakukan pemeriksaan kembali produk BMHP sebelum dilakukan proses
pengemasan dan sterilisasi.
5.2.4. Instalasi Gawat Darurat (IGD)
1. Petugas lebih cermat lagi dalam menulis kartu stok dan melakukan
penelusuran terhadap selisih tersebut saat ditemukan.
2. Petugas diharapkan menulis tanggal pada kartu stok yang lengkap.
3. Petugas diharapkan dapat menyusun sediaan farmasi sesuai alfabetis.
4. Petugas lebih teliti lagi dalam menyimpan obat LASA. Penyimpanannya harus
diberi label LASA pada tempat penyimpanan dan tidak diletakkan secara
berdampingan.
5.2.5. Ruang Rawat Inap Terpadu (Gedung A)
1. Membuat daftar nama obat-obat yang terdapat di lemari pendingin dan
menempelkannya pada pintu atau samping lemari pendingin. Daftar tersebut
juga perlu diperiksa dan diperbaharui secara berkala sehingga data yang
tersedia selalu ter-update sesuai dengan persediaan yang terdapat di dalamnya.
2. Setiap pengambilan tablet maupun kapsul yang tanpa kemasan sebaiknya
menggunakan sendok atau menggunakan hand rub terlebih dahulu.
3. Penyimpanan untuk tablet maupun kapsul yang tanpa kemasan sebaiknya
tetap berada pada plastiknya.
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


93

4. Setiap perawat maupun dokter yang meminta perbekalan farmasi, sebaiknya


petugas farmasi sendiri yang mengambilkanya.
5.2.6. Satelit Intensive Care Unit (ICU)
1. Lemari obat alkes merupakan lemari dengan pintu yang tertutup, maka
sebaiknya diberikan daftar barang yang terdapat didalam pada tiap-tiap pintu
lemari.
2. Daftar obat di lemari high alert, narkotik, psikotropik, belum ada daftar obat
high alert di kulkas dan barang di dalam kulkas sebaiknya di cek lagi
kesesuaian dengan barang di dalamnya  sudah dibuatkan daftar barang.
3. Pada penyimpanan tablet dirapihkan daftarnya karena masih banyak yang
ditulis tangan dan kurang rapi.
4. Kartu stock sebaiknya dilengkapi dan jangan hanya lembaran kertas karena
rentan tercecer.
5. Sebaiknya diberikan tangga untuk bisa menjangkau lemari di satelit farmasi
ICU yang tinggi.
5.2.7. Satelit Farmasi Pusat dan satelit PTK
a) Satelit Farmasi Pusat
1. Sebaiknya terdapat seorang apoteker farmasi klinis yang dapat memberikan
informasi/konseling kepada pasien rawat jalan.
2. Sebaiknya dilakukan pengecekan lagi pada kartu stock masih terdapat selisih
antara jumlah yang tertulis pada kartu stok dengan jumlah fisik.
b) Satelit PTK
1. Sebaiknya diberikan kulkas mini untuk satelit ini agar kulkas di satelit PTK
terpisah antara kulkas farmasi dan kulkas yang digunakan oleh perawat.
2. Pada pintu kulkas sebaiknya ditulis peringatan untuk tidak menyimpan
makanan di dalam kulkas, karena sempat terlihat adanya makanan di dalam
freezer.
3. Sebaiknya semua resep, baik yang dilayani langsung di satelit PTK atau pun
yang dialihkan di print out.
4. Satelit PTK sebaiknya tidak melakukan peracikan obat karena diruang
tersebut tidak dilengkapi meja/ruang khusus peracikan.
5.2.8. Satelit Kirana
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


94

1. Penempelan obat LASA pada kemasan sekunder obat untuk meminimalkan


terjadinya kesalahan dalam pengambilan obat.
2. Disediakan alat pengeras suara di Satelit Kirana untuk memudahkan Asisten
Apoteker dalam memanggil pasien.
3. Mengadakan telepon internal antar unit (siemens) RSCM, untuk memudahkan
komunikasi antar unit RSCM terutama dengan gudang dan satelit lain. Tindak
lanjut yang sudah dilakukan adalah sudah membuat surat ke bagian aset
RSCM, dan sedang menunggu acc dari DirKeu.
4. Segera menyeragamkan sistem aplikasi peresepan di KIRANA agar
mempermudah sistem peresepan di satelit kirana (terutama lantai 1).
5. Perlu dibuatkan loket untuk penerimaan resep dan penyerahan obat untuk
pasien rawat jalan di depo lantai 1 kirana. Berikut contoh layout dari loket
yang sebaiknya disediakan di satelit kirana:

5.2.9. Sub Instalasi Produksi


1. Kekosongan bahan baku dapat diatasi dengan menambah jumlah defecta
bahan produksi untuk kebutuhan produksi, terutama untuk produksi yang rutin
dilakukan.
2. Penyiapan obat sitostatika yang menumpuk di pagi hari dapat diatasi dengan
menugaskan seorang karyawan untuk mengambil obat titipan kemo di Satelit
Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


95

Farmasi Pusat pada siang harinya agar dapat disiapkan oleh petugas
sitostatika. Selain itu, dapat juga dengan memperbaiki LAF yang saat ini
sedang rusak sehingga proses pelayanan penyiapan obat sitostatika dapat lebih
cepat diselesaikan.
3. Permintaan produk dari dokter yang belum terlaksana dapat diatasi dengan
adanya apoteker untuk mengembangkan formula sesuai permintaan. Sehingga
dengan adanya jumlah apoteker yang memadai, permintaan terhadap suatu
produk oleh dokter dapat dipenuhi.
4. Selama proses pembuatan kapsul Natrium bicarbonate, petugas harus
menggunakan APD lengkap (Contoh : Masker) untuk mecegah adanya
kemungkinan kontaminan yang berasal dari tubuh petugas (mulut, tangan,
rambut).

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


96

DAFTAR ACUAN

Menteri Kesehatan. (2009). Undang-Undang No.36 tahun 2009 tentang


Kesehatan. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Menteri Kesehatan. (2009). Undang-Undang No.44 tahun 2009 tentang Rumah


Sakit. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Menteri Kesehatan. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 58 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Rumah Sakit. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Presiden Republik Indonesia. (2014). Undang – Undang Republik Indonesia No.


36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan. Jakarta

Siregar, Lia Amalia. (2004). Farmasi Rumah Sakit: Teori dan Penerapan. Jakarta:
Buku Kedokteran EGC.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


LAMPIRAN

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


97

Lampiran 1.Struktur Organisasi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

Direktur Utama

Komite Medik,
Komite Etik,
PPIRS, Komite
Mutu

Direktur Medik Direktur


Direktur Direktur SDM Direktur Umum
dan Pengembangan
Keuangan dan Pendidikan dan Operasional
Keperawatan dan Pemasaran

Instalasi Bagian Bagian


Departemen Bagian Diklat
promkes Anggaran Administrasi

Instalasi UPJM
Bagian
Bagian SDM
Bagian Aset
Farmasi Perbendaharaan dan Inventaris

Bagian Teknik
Bagian Pemeliharaan
UPT Bagian Hukor
Akuntansi Sarana dan
Prasarana

Instalasi
Instalasi Medik
Pendidikan

ULP

Unit Utilitas

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


98

Lampiran 2. Struktur Organisasi Instalasi Farmasi

Direktorat Medik dan


Keperawatan

Kepala Instalasi
Farmasi

Koordinator Koordinator Koordinator


Administrasi dan Produksi dan
Keuangan Pelayanan Farmasi
Diklitbang

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


99

Lampiran 3. Struktur Koordinasi Administrasi dan Keuangan

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


99

Lampiran 4. Struktur Organisasi Koordinator Produksi dan Diklitbang

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


100

Lampiran 5. Struktur Organisasi Koordinator Pelayanan Farmasi

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


101

Lampiran 6. Alur Pengelolalaan Perbekalan Farmasi di RSCM

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


104

Lampiran 7. Denah Gudang Farmasi I

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


104

Lampiran 8. Contoh Etiket Print

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


104

Lampiran 9. Contoh Etiket Manual

Etiket biru untuk obat luar Etiket hijau untuk alat kesehatan

Etiket putih untuk obat oral

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


104

Lampiran 10. Contoh Klip Plastik Obat untuk Unit Dose

Keterangan :
Pink : Pagi
Putih : Siang
Biru : Sore
Hijau : Malam

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


104

Lampiran 11. Contoh Stiker Obat

Stiker obat LASA Stiker obat High Alert

Stiker obat sitostatika Stiker obat termolabil

Stiker obat yang mendekati tanggal kadaluarsa

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


104

Lampiran 12. Contoh Blanko Kartu Stok

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


104

Lampiran 13. Contoh Formulir Medication History Taking

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


105

Lampiran 14. Lembar Pemantauan Terapi Obat untuk Pasien Rawat Inap

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


104

Lampiran 15. Formulir Informasi Obat Pulang

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


104

Lampiran 16. Lembar Checklist Review Resep Obat Pasien

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


105

Lampiran 17. Lembar Formulir Serah Terima Barang

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


106

Lampiran 18. Formulir Permintaan Khusus Obat Non Formularium Nasional

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


UNIVERSITAS INDONESIA

PEMBUATAN LEAFLET “CARA MENGGUNAKAN HEPARIN” DAN


“CARA MENGGUNAKAN DAN MEMBERSIHKAN ROTAHALER”
DI RUMAH SAKIT UMUM PENDIDIKAN NASIONAL (RSUPN)
DR. CIPTO MANGUNKUSUMO BULAN JULI-AGUSTUS 2014

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

CICILIA MARINA, S. FARM


1306502333

ANGKATAN LXXVIII

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
JUNI 2014

i Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... iii

1 PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Tujuan ...................................................................................................... 2
1.3 Manfaat ..................................................................................................... 2

2 TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................... 3


2.1 Pelayanan Farmasi .................................................................................... 3
2.2 Pelayanan Informasi Obat ......................................................................... 4
2.3 Leaflet ....................................................................................................... 6
2.4 Heparin ...................................................................................................... 7
2.5 Rotahaler ................................................................................................... 11

3 METODE PENYUSUNAN .............................................................................. 13


3.1 Waktu dan Tempat Penyusunan................................................................ 13
3.2 Metode Penyusunan .................................................................................. 13

4 HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................................... 14

5 KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................................... 18


5.1 Kesimpulan ............................................................................................... 18
5.2 Saran ......................................................................................................... 18

DAFTAR ACUAN ................................................................................................. 19

ii Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Leaflet Cara Menggunakan Heparin .............................................. 20


Lampiran 2. Leaflet Cara Menggunakan dan Membersihkan Rotahaler............. 21

iii Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut PP 51 tahun 2009, pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan
langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan
Farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu
kehidupan pasien. Pelayanan informasi obat merupakan bagian dari pelayanan
farmasi di Rumah Sakit. Pelayanan informasi obat merupakan kegiatan yang
dilakukan oleh apoteker untuk memberikan informasi kepada dokter, apoteker,
perawat, profesi kesehatan lainnya dan pasien.
Tujuan dari pelaksanaan ini adalah menyediakan informasi mengenai obat
kepada pasien dan tenaga kesehatan di lingkungan rumah sakit; menyediakan
informasi untuk membuat kebijakan – kebijakan yang berhubungan dengan obat,
terutama bagi panitia/ komite farmasi dan terapi; meningkatkan profesionalisme
apoteker; serta menunjang terapi obat yang rasional (DepKes, 2004). Kegiatan
yang dilakukan dalam pelayanan informasi obat ini adalah menyebarkan dan
memberikan informasi kepada konsumen secara pasif dan aktif. Informasi yang
diberikan secara pasif berupa menjawab pertanyaan baik yang berasal dari tenaga
kesehatan di lingkungan Rumah Sakit maupun di luar Rumah Sakit. Informasi
yang diberikan secara aktif adalah informasi yang diberikan melalui buku
panduan, leaflet, brosur, dan media lainnya.
Heparin merupakan obat antikoagulan dengan indeks terapi yang sempit.
Heparin dapat diberikan secara intravena dan subkutan. Heparin dapat diberikan
secara intrasubkutan dapat dilakukan sendiri oleh pasien di rumah. Pemberian
heparin secara subkutan harus dengan instruksi khusus. Efek samping yang dapat
ditimbulkan akibat dari salah penyuntikkan heparin adalah pendarahan.
Pembuatan leaflet heparin yang berjudul “Cara Menggunakan Heparin”
merupakan salah satu bentuk pelayanan informasi obat kepada pasien. Pembuatan
leaflet ini sangat diperlukan di Rumah Sakit Umum Pendidikan Nasional

1 Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


2

(RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo sebagai bahan infomasi dan edukasi kepada
pasien, sehingga dapat menghindari terjadinya pendarahan.
Rotahaler merupakan alat yang digunakan untuk terapi obat secara
inhalasi. Obat yang digunakan dalam bentuk kapsul yang dimasukkan kedalam
rotahaler atau yang biasa disebut dengan istilah rotacaps. Penggunaan rotahaler
sebagai terapi inhalasi diperlukan instruksi khusus. Penggunaan yang salah dapat
menyebabkan obat tidak terhirup dengan sempurna, sehingga efek terapi yang
diinginkan tidak tercapai. Pembuatan leaflet rotahaler yang berjudul “Cara
Menggunakan dan Membersihkan Rotahaler” merupakan salah satu bentuk
pelayanan informasi obat kepada pasien. Pembuatan leaflet ini sangat diperlukan
di RSCM sebagai bahan informasi dan edukasi kepada pasien, sehingga efek
terapi yang diinginkan dapat tercapai.

1.2 Tujuan
Membuat leaflet rotahaler yang berjudul “Cara Menggunakan dan
Membersihkan Rotahaler” dan leaflet “Cara Menggunakan Heparin” ini sebagai
media penunjang bagi Rumah Sakit Umum Pendidikan Nasional (RSUPN) Dr.
Cipto Mangunkusumo dalam pemberian informasi dan edukasi kepada dokter,
apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya dan pasien.

1.3 Manfaat
a. Pedoman cara penyuntikan heparin secara subkutan ini diharapkan pasien
mengerti dan mampu melakukan penyuntikkan heparin dengan benar dan aman
kepada pasien yang mendapatkan heparin secara subkutan.
b. Pedoman cara menggunakan rotahaler diharapkan pasien dapat menggunakan
rotahaler dengan benar, akhirnya efek terapi yang diinginkan tercapai.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


3

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pelayanan Farmasi


2.1.1 Pengertian Pelayanan Farmasi
Pelayanan farmasi dalam penggunaan obat dan alat kesehatan adalah
pendekatan profesional yang bertanggung jawab dalam menjamin penggunaan
obat dan alat kesehatan sesuai indikasi, efektif, aman, dan terjangkau oleh pasien
melalui penerapan pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan perilaku apoteker
serta bekerja sama dengan pasien dan profesi kesehatan lainnya (DepKes, 2004).
Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab
kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai
hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien (MenKes, 2014).

2.1.2 Tujuan Pelayanan Farmasi


Tujuan dari pelayanan farmasi ini adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan mutu dan memperluas cakupan pelayanan farmasi di rumah
sakit.
b. Memberikan pelayanan farmasi yang dapat menjamin efektifitas, keamanan
dan efisiensi penggunaan obat.
c. Meningkatkan kerjasama dengan pasien dan profesi kesehatan lain yang terkait
dalam pelayanan farmasi.
d. Melaksanakan kebijakan obat di rumah sakit dalam rangka meningkatkan
penggunaan obat secara rasional.

2.1.3 Kegiatan Pelayanan Farmasi Klinik


Kegiatan-kegiatan yang mencakup kedalam pelayanan farmasi klinik
sebagai berikut :
a. Pengkajian dan pelayanan Resep;
b. Penelusuran riwayat penggunaan Obat;
c. Rekonsiliasi Obat;

3 Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


4

d. Pelayanan Informasi Obat (PIO);


e. Konseling;
f. Visite;
g. Pemantauan Terapi Obat (PTO);
h. Monitoring Efek Samping Obat (MESO);
i. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO);
j. Dispensing sediaan steril; dan
k. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD); (MenKes, 2014).

2.2 Pelayanan Informasi Obat


2.2.1 Pengertian Pelayanan Informasi Obat
Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan kegiatan penyediaan dan
pemberian informasi, rekomendasi obat yang independen, akurat, tidak bias,
terkini dan komprehensif yang dilakukan oleh Apoteker kepada dokter, Apoteker,
perawat, profesi kesehatan lainnya serta pasien dan pihak lain di luar Rumah Sakit
(MenKes, 2014). Kegiatan yang dilakukan dalam Pelayanan Informasi Obat ini
adalah menyebarkan dan memberikan informasi kepada konsumen secara pasif
dan aktif.

2.2.2 Jenis Pelayanan Informasi Obat


Pelayanan Informasi Obat merupakan kegiatan yang dapat dilakukan oleh
apoteker secara mandiri maupun berkelompok. Pelayanan Informasi Obat Rumah
Sakit Umum Pendidikan Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo terdiri
dari:
a. Pelayanan Informasi Obat pasif, yaitu berupa menjawab pertanyaan baik yang
berasal dari tenaga kesehatan di lingkungan Rumah Sakit maupun di luar Rumah
Sakit.
b. Pelayanan Informasi Obat aktif, yaitu berupa memberikan informasi secara
aktif, seperti melalui buku panduan, leaflet, brosur, dan media lainnya.
Kegiatan PIO yang dilakukan, Apoteker mencari informasi atau reverensi yang
dibutuhkan menggunakan buku-buku literatur terbaru maupun media elektronik
seperti internet yang berasal dari sumber yang dapat dipercaya. Menurut Lasa HS

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


5

(1998), kata referensi berasal dari bahasa inggris “reference” berarti menunjukkan
kepada, menyebut. Referensi juga diartikan sebagai acuan, rujakan, koleksi yang
sengaja dipersiapkan untuk memberikan informasi, penjelasan dalam hal-hal
tertentu. Menurut Lasa HS (1998), ragam bahan pustaka referensi menurut isinya
dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
a. Bahan perpustakaan primer, yaitu merupakan sumber informasi dari tangan
pertama atau peneliti. Biasanya berupa hasil penelitian asli, penelitisn tentang
penerapan teori baru, atau penjelasan mengenai gagasan dalam bidang ilmu
tertentu. Bahan pustaka primer ini antara lain :
1) Buku teks
2) Laporan penelitian
3) Artikel jurnal
4) Tesis dan disertasi
5) Monograf
6) Makalah ilmiah
7) Standar dan paten
8) Peraturan perundang - undangan
b. Bahan perpustakaan sekunder, yaitu sumber informasi yang menujukkan
keberadaan bahan perpustakaan primer, atau bahan pustaka yang berisi informasi
yang sering diperlukan dan disajikan secara ringkas. Bahan pustaka sekunder
antara lain:
1) Kamus
2) Ensiklopedi
3) Sumber biografi
4) Sumber geografi
5) Buku tahunan dan almanak
6) Buku pegangan dan manual
7) Bibliografi
8) Indeks dan abstrak
c. Bahan perpustakaan tersier, yaitu sumber informasi yang menunjukkan
keberadaan bahan pustaka primer dan sekunder. Bahan pustaka tersier
mengarahkan pengguna pada keberadaan berbagai bahan perpustakaan sekunder

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


6

biasanya disertai dengan telaah yang memeberikan evalusai. Yang dianggap


sebagai bahan pustaka tersier yaitu:
1) Panduan bahan pustaka dalam bidang tertentu
2) Bibliografi
3) Direktori
Pertanyaan yang diajukan oleh tenaga medis maupun pasien dapat berupa
pertanyaan mengenai kestabilan obat, substitusi obat, dosis obat untuk pasien
dengan keadaan tertentu, dan pertanyaan lainnya yang mungkin ditemukan selama
pasien menjalani perawatan. Laporan dari kegiatan PIO akan direkapitulasi dan
dilaporkan setiap bulan sehingga memudahkan pencarian kembali apabila
pertanyaan serupa ditanyakan kembali di lain waktu.

2.2.3 Kegiatan Pelayanan Informasi Obat


Menurut Menteri Kesehatan (2014), kegiatan Pelayanan Informasi Obat
(PIO), meliputi:
a. menjawab pertanyaan;
b. menerbitkan buletin, leaflet, poster, newsletter;
c. menyediakan informasi bagi Tim Farmasi dan Terapi sehubungan dengan
penyusunan Formularium Rumah Sakit;
d. bersama dengan Tim Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) melakukan
kegiatan penyuluhan bagi pasien rawat jalan dan rawat inap;
e. melakukan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga kefarmasian dan tenaga
kesehatan lainnya; dan
f. melakukan penelitian.

2.3 Leaflet
2.3.1 Pengertian Leaflet
Leaflet merupakan media komunikasi grafis yang dibuat dengan ukuran
relatif kecil dan biasanya hanya satu lembar (Pujiriyanto,2009). Leaflet adalah
lembaran kertas berukuran kecil mengandung pesan tercetak untuk disebarkan
kepada umum sebagai informasi mengenai suatu hal atau peristiwa (Departemen
Kesehatan RI, 2008a).

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


7

Leaflet adalah produk dokumentasi dan komunikasi yang menyediakan


pengenalan dan gambaran mengenai sebuah organisasi atau kegiatan. Sebuah
leaflet bisa digunakan untuk mempromosikan LSM/ organisasi berbasis
masyarakat dengan kegiatannya, mempublikasikan layanan atau kegiatan, dan
berkomunikasi dengan pesan; pesan yang spesifik Berisi laporan singkat dan
informasi yang jelas untuk menyediakan gambaran yang jelas dan sederhana
ketimbang deskripsi yang mendetail.

2.3.2 Keuntungan Leaflet


Kegunaan dan keunggulan dari leaflet adalah sederhana dan sangat murah,
orang dapat menyesuaikan dan belajar mandiri, pengguna dapat melihat isinya
pada saat santai, informasi dapat dibagikan dengan keluarga dan teman. Leaflet
juga dapat memberikan detil (misalnya statistik) yang tidak mungkin bila
disampaikan lisan (Departemen Kesehatan RI, 2008a).

2.3.3 Keterbatasan Leaflet


Leaflet profesional sangat mahal, materi yang diproduksi massal dirancang
untuk sasaran pada umumnya dan tidak cocok untuk setiap orang, serta terdapat
materi komersial berisi iklan. Leaflet juga tidak tahan lama dan mudah hilang,
dapat menjadi kertas percuma kecuali pengajar secara aktif melibatkan klien
dalam membaca dan menggunakan materi. Uji coba dengan sasaran sangat
dianjurkan (Departemen Kesehatan RI, 2008a).

2.4 Heparin
2.4.1 Definisi Heparin
Heparin merupakan suatu obat yang mencegah terjadinya pembekuan
darah atau yang lebih dikenal dengan istilah antikoagulan. Antikoagulan
digunakan untuk mencegah pembekuan darah dengan jalan menghambat
pembekuan atau menghambat fungsi beberapa faktor pembekuan darah.
Antikoagulan dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu : heparin, antikoagulan oral
dan antikoagulan yang bekerja dengan mengikat ion kalsium, yang merupakan
salah satu faktor pembekuan darah (Dewoto, 2009).

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


8

Gambar 2.1 Struktur Kimia Heparin


2.4.2 Farmakokinetik
Heparin tidak diabsorbsi dengan baik oleh mukosa gastrointestinal, dan
banyak yang dihancurkan oleh heparinase, suatu enzim hepar. Heparin diberikan
secara parenteral, baik subkutan untuk mencegah antikoagulan atau secara
intravena (bolus atau infus) untuk mendapatkan respon yang cepat. Waktu paruh
heparin tergantung pada dosis, dosis tinggi memperpanjang waktu paruhnya.
Penyakit ginjal dan hepar memperpanjang waktu paruh heparin (Perterson,
Haeward, dan Lowson, 2009). Menurut Dewoto 2009, masa paruh heparin juga
bergantung pada berat molekulnya. Heparin dengan berat molekul rendah
mempunyai masa paruh yang lebih panjang dibandingkan dengan heparin standar.
Heparin cepat dimetabolisme terutama di hati. Heparin di metabolisme
menjadi metabolit inaktif yang dikeluarkan melalui ginjal dan empedu. Heparin
memiliki ikatan dengan protein sangat tinggi. Distribusi heparin tidak melalui
plasenta dan tidak terdapat dalam air susu ibu. Heparin diekskresi dalam bentuk
utuh melalui urin hanya bila digunakan dalam dosis besar IV. Pasien dengan
emboli paru memerlukan dosis heparin yang lebih tinggi karena klirens yang lebih
cepat, sehingga terdapat variasi individual dalam efek antikoagulan yang
ditimbulkan maupun dalam kecepatan klirens obat (Dewoto, 2009).

2.4.3 Indikasi
Heparin diindikasikan untuk pencegahan dan pengobatan trombosis vena
dan emboli paru. Heparin digunakan untuk pengobatan trombosis vena dan

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


9

emboli paru karena mula kerjanya cepat (Dewoto, 2009). Menurut Hurley dan
Berkshire 2013, fungsi heparin yaitu :
a. Untuk membantu menghentikan pembekuan darah di pembuluh darah
b. Untuk membantu menghentikan penggumpalan darah
c. Untuk membantu menghentikan penggumpalan darah yang terbentuk di tubing
mesin ginjal buatan selama melakukan dialisis ginjal (hemodialisis).
Heparin merupakan obat plihan untuk wanita hamil yang membutuhkan
antikoagulan, heparin tidak melalui plasenta dan tidak menimbulkan cacat
bawaan. Heparin tidak meningkatkan insiden kematian janin atau menyebabkan
lahir prematur (Dewoto, 2009).

2.4.4 Efek Samping


Efek samping yang berbahaya yang dapat ditimbulkan oleh heparin adalah
pendarahan. Pendarahan terjadi pada 1%-33% pasien yang mendapat heparin.
Pendarahan dapat terjadi karena disebabkan oleh operasi baru, adanya trauma,
penyakit tukak peptik, atau gangguan fungsi trombosit. Pendarahan ini dapat
berupa pendarahan saluran cerna atau hematuria. Wanita usia lanjut dan pasien
gagal ginjal umumnya lebih mudah mengalami komplikasi pendarahan (Dewoto,
2009). Efek samping serius dari heparin adalah Heparin Induced Trombositopenia
(HIT). HIT disebabkan oleh reaksi imunologis yang membuat platelet target
respon imunologi, mengakibatkan penurunan trombosit. Inilah yang menyebabkan
trombositopenia. Kondisi ini biasanya diatasi dengan penghentian, dan secara
umum dapat dihindari dengan penggunaan heparin sintetis.
Efek samping yang ditimbulkan dari pemakaian heparin dapat dibedakan
menjadi dua kategori, yaitu (Hurley dan Berkshire, 2013) :
a. Efek samping yang umum (mungkin mempengaruhi sampai 1 dari 10 orang) :
1) Memar di tempat suntikan
2) Iritasi pada tempat suntikan
3) Perdarahan (pada dosis tinggi)
4) Perubahan hasil tes darah
b. Efek samping jarang (mungkin mempengaruhi kurang dari 1 dari 100 orang) :
1) Ruam

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


10

2) Gatal-gatal pada bagian ruam


3) Osteoporosis

2.4.5 Penggunaan Heparin secara Subkutan


Heparin secara subkutan dapat diberikan bagi pasien yang memerlukan
pengobatan antikoagulan jangka panjang ketika warfari tidak boleh untuk
digunakan. Dosis heparin yang digunakan sekitar 35.000 U/hari yang diberikan
sebagai dosis terbagi tiap 8 atau 12 jam (Dewoto, 2009). Prosedur dari
penyuntikkan heparin secara subkutan adalah :
a. Cuci tangan dengan menggunakan sabun
b. Siapkan spuit dan jarum
c. Tentukan lokasi injeksi
1) Injeksi subkutan dapat diberikan pada daerah lengan, paha atau perut.
2) Daerah paha ditentukan secara imajiner dengan meletakkan telapak tangan
pada bagian teratas paha dan tarik garis imajiner di bawah telapak tangan, garis ini
merupakan batas atas. Untuk batas bawah letakkan telapak tangan di atas lutut dan
tarik garis imajiner di atas telapak tangan.
3) Daerah lengan batas atas ditentukan dengan meletakkan telapak tangan di
sendi bahu dan tarik garis imajiner di bawahnya, sedang batas bawah letakkan
telapak tangan di siku dan tarik garis imajiner di atas telapak tangan.
4) Daerah perut tarik garis imajiner di bawah telapak tangan yang diletakkan di
bawah arcus costae, daerah di bawah garis imajiner dapat dipakai sebagai daerah
injeksi, tetapi tidak boleh menggunakan daerah 1 inci di sekitar pusar.
5) Lokasi injeksi harus selalu dirubah, tidak boleh dilakukan pada satu tempat
berkali-kali. Penyuntikan pada satu tempat yang sama beberapa kali akan dapat
mengakibatkan terjadinya scar dan pengerasan jaringan lemak yang akan
mempengaruhi absorbsi obat.
d. Desinfeksi kulit dengan menggunakan kapas-alkohol dengan arah melingkar,
dimulai dari bagian dalam menuju ke arah luar sehingga bakteri dapat ke luar
daerah injeksi. Biarkan alkohol mengering beberapa saat.
e. Pemberian injeksi
1) Lepaskan penutup jarum dengan hati-hati jangan sampai terkontaminasi

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


11

2) Keluarkan gelembung udara dari spuit


3) Pegang spuit pada satu tangan seperti memegang pensil
4) Genggam kulit pasien menggunakan ibu jari dan telunjuk dari tangan yang
tidak memegang spuit.
5) Arahkan jarum ke kulit dengan sudut 90o untuk memasikan bahwa jarum
menapai lapisan subcutan, tetapi pada anak-anak atau orang dengan lapisan lemak
tipis perlu dipertimbangkan arah 45o.
6) Dorong jarum menembus kulit, jangan didorong terlalu lambat juga tidak
boleh dengan kekuatan terlalu besar.
7) Selama jarum didorong masuk kulit, ujung penghisap tidak boleh didorong.
8) Setelah jarum menembus kulit secara sempurna, lepaskan genggaman kulit
dan stabilisasi spuit bagian dasar menggunakan tangan tersebut.
9) Tarik sedikit ujung penghisap dan lihat apakah ada dara yang masuk ke dalam
spuit. Bila ada darah yang masuk spuit berarti injeksi kita mengenai pembuluh
darah maka jarum harus ditarik lagi dari tempat tersebut dan lakukan lagi dari
awal.
10) Bila tidak ada darah maka dorong ujung penghisap untuk memasukkan obat,
secara perlahan dengan kecepatan yang tetap, dan obat harus dimasukkan dalam
waktu 5 detik.
11) Setelah obat sudah masuk semua maka tarik jarum dari kulit disertai dengan
menekan kulit menggunakan kasa steril.
12) Bekas tempat insersi jarum tetap ditekan dalam beberapa detik setelah jarum
ditarik.

2.5 Rotahaler
2.5.1 Definisi Rotahaler

Terapi inhalasi adalah pemberian obat ke dalam saluran napas dengan cara
inhalasi ((Rasmin M, Rogayah R, Wihastuti R, Fordiastiko, Zubaedah, Elsina S,
2001). Menurut kamus Kedokteran Dorlan, terapi inhalasi juga dapat diartikan
sebagai suatu pengobatan yang ditujukan untuk mengembalikan perubahan-
perubahan patofisiologi pertukaran gas sistem kardiopulmoner ke arah yang
normal, seperti dengan menggunakan respirator atau alat penghasil aerosol.
Rotahaler adalah salah satu alat yang digunakan untuk terapi inhalasi.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


12

Gambar 2.2 Bentuk Rotahaler

2.5.2 Cara Menggunakan Rotahaler


Menurut Rasmin M, Rogayah R, Wihastuti R, Fordiastiko, Zubaedah, Elsina
S (2001) cara menggunakan rotahaler adalah sebagai berikut :
a. Pegang bagian mulut rotahaler secara vertikal, tangan lain memutar badan
rotahaler sampai terbuka.
b. Masukan rotacaps dengan sekali menekan secara tepat ke dalam lubang epat
persegi sehingga puncak rotacaps berada pada permukaan lubang.
c. Pegang permukaan rotahaler secara horizontal dengan titik putih di atas dan
putar badan rotahaler berlawanan arah sampai maksimal untuk membuka
rotacaps.
d. Keluarkan napas semaksimal mungkin di luar rotahaler, masukan rotahaler
dan rapatkan bibir dengan kepala agak ditinggikan dengan kepala agak
ditengadahkan ke belakang.
e. Hiruplah dengan kuat dan dalam, kemudian tahan napas selama mungkin.
f. Keluarkan rotahaler dari mulut, sambil keluarkan napas secara perlahan-lahan.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


BAB 3
METODE PEMBUATAN

3.1 Waktu dan Tempat Pembuatan


Pembuatan leaflet “Cara menggunaan heparin” dan Cara menggunaan dan
membersihkan rotahaler” dilakukan pada bulan Juli dan Agustus 2014 yang
bertempat di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.

3.2 Metode Pembuatan


Pengumpulan data dalam pembuatan leaflet ini menggunakan studi literatur
dari berbagai referensi tersier terkait. Sumber-sumber yang digunakan antara lain
internet, buku, jurnal, serta brosur-brosur obat.
Tahapan-tahapan dalam pembuatan leaflet ini sebagai tugas khusus adalah
sebagai berikut :
a. Menentukan informasi-informasi apa saja yang akan dituliskan di dalam
leaflet.
b. Mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan untuk membuat leaflet
sesuai dengan yang telah ditentukan sebelumnya, seperti data atau informasi
mengenai cara menggunakan heparin dan data atau informasi mengenai cara
menggunakan dan membersihkan rotahaler.
c. Data atau informasi yang telah diperoleh, selanjutnya diolah menjadi lebih
sederhana sehingga dapat dimengerti dan dipahami oleh pasien.
d. Membuat leaflet dengan aplikasi Microsoft Office Publisher.
e. Mencetak leaflet.

13 Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Leaflet yang dibuat bertemakan tentang cara menggunakan heparin dan


cara menggunakan rotahaler. Pemilihan tema dilatarbelakangi oleh efek samping
heparin yang berbahaya jika digunakan dengan tidak tepat dan penggunanaan
rotahaler yang memerlukan instruksi khusus. Pemberian edukasi tentang cara
penggunaan heparin dan cara penggunaan rotahaler berupa leaflet dikalangan
rumah sakit sangatlah penting. Leaflet ini juga merupakan salah satu bentuk
pelayanan informasi obat (PIO) secara aktif.
Leaflet “Cara Menggunakan Heparin” terdiri dari dua sisi, yaitu sisi depan
dan sisi belakang. Setiap sisi dari leaflet terdapat tiga kotak. Halaman depan pada
kotak ketiga berisi judul pada leaflet, gambar sedian heparin, dan gambar struktur
dari heparin. Judul dari leaflet ini adalah “Cara Menggunakan Heparin”. Sisi
kedua kotak pertama sampai ketiga berisi tentang tahapan-tahapan cara
menggunakan heparin secara subkutan. Instruksi-instruksinya dilengkapi dengan
gambar-gambar yang dapat memudahkan pasien untuk memahami tulisan pada
instruksi penggunaan heparin.
Cara menggunakan heparin pada leaflet adalah sebagai berikut, :
a. Bersihkan tangan dan keringkan.
b. Posisikan tubuh dengan nyaman, bisa duduk atau berbaring. Pilih area
penyuntikan sesuai dengan gambar. Jika penyuntikan di daerah perut, area
penyuntikkan minimal 3 jari dari pusar.
c. Bersihkan area penyuntikan dengan alkohol dan biarkan mengering.
d. Lepaskan tutup jarum. Lalu ambil obat heparin menggunakan jarum suntik
sesuai dengan dosis yang telah ditentukan oleh dokter.
e. Cubit bagian kulit yang akan disuntik dengan tangan yang lain. Suntikkan
perlahan-lahan tegak lurus dengan area penyuntikan (membentuk sudut 90°).
f. Setelah disuntikkan, tunggu 6-10 detik, lalu tarik jarum suntik dan lepaskan
lipatan kulit. Area yang telah disuntikkan seka dengan alkohol swab.
g. Arahkan jarum ke bawah jauh dari tubuh dan orang lain. Kemudian tutup
kembali ujung jarum dengan penutup jarum sebelumnya.

14 Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


15

h. Buang jarum yang telah digunakan ke dalam tempat khusus (misal : toples
kosong atau kotak khusus).
Bagian depan kotak pertama berisi penanganan obat heparin yang
digunakan lebih dari satu kali. Tahapan-tahapan dalam penanganan heparin yang
digunakan lebih dari satu kali adalah sebagai berikut, :
a. Pastikan tangan Anda bersih.
b. Seka bagian atas atau penutup vial dengan alkohol swab. Bagian tutup vial
yang telah diseka dengan alkohol swab, tidak boleh disentuh lagi.
c. Tutup bagian atas vial dengan parafilm menggunakan pinset .
d. Simpan heparin dalam suhu kamar dan hindari dari penyimpanan beku dan
suhu >40° C.
e. Sisa obat heparin, bisa digunakan lagi maksimal 28 hari setelah dibuka.
Tahapan-tahapan penangan heparin perlu dicantumkan ke dalam leaflet karena
heparin yang digunakan secara subkutan biasanya merupakan heparin multidose.
Heparin multidose adalah heparin yang dapat digunakan lagi setelah satu kali
penyuntikkan. Heparin multidose yang akan digunakan kembali harus dengan
penanganan khusus. Hal ini bertujan agar stabilitas dari heparin tertap terjaga.
Sisi depan kotak kedua berisi tentang peringatan-peringatan yang harus
diperhatikan oleh pasien. Peringatan-peringatan yang dicantumkan pada leaflet
adalah :
a. Gunakan injeksi heparin sesuai aturan pakai.
b. Jika terjadi pendarahan (seperti keluar darah dari hidung, telinga, dan memar
pada tempat penyuntikan), segera hentikan penggunaan dan segera hubungi
dokter.
c. Jauhkan obat dari jangkauan anak-anak
Peringatan-peringatan bertujuan agar pasien dapat berhati-hati dalam
menggunakan heparin. Peringatan yang menjadi perhatian khusus adalah efek
samping yang dapat ditimbulkan heparin, yaitu pendarahan. Leaflet secara
keseluruhan dari heparin dapat dilihat pada Lampiran 1.
Pembuatan Leaflet selanjutnya adalah “Cara Menggunakan dan
Membersihkan Rotahaler”. Leaflet terdiri dari dua sisi, yaitu sisi depan dan sisi
belakang. Setiap sisi dari leaflet terdapat tiga kotak. Halaman depan pada kotak

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


16

ketiga berisi judul pada leaflet, gambar rotahaler, dan gambar rotacaps. Judul dari
leaflet ini adalah “Cara Menggunakan dan Membersihkan Rotahaler”. Sisi kedua
kotak pertama sampai ketiga berisi tentang tahapan-tahapan cara menggunakan
rotahaler. Instruksi-instruksinya dilengkapi dengan gambar-gambar yang dapat
memudahkan pasien untuk memahami tulisan pada instruksi penggunaan
rotahaler.
Cara menggunakan heparin pada leaflet adalah sebagai berikut, :
a. Bersihkan tangan dan keringkan.
b. Pegang bagian mulut rotahaler secara vertikal, tangan lain memutar badan
rotahaler sampai terbuka, sesuai dengan gambar di atas.
c. Masukan rotacaps (bagian kapsul yang bening terlebih dahulu) dengan sekali
menekan secara tepat ke dalam lubang empat persegi, sehingga puncak
rotacaps berada pada permukaan lubang.
d. Pegang permukaan rotahaler secara horizontal dengan titik putih di atas dan
putar badan rotahaler berlawanan arah sampai maksimal untuk membuka
rotacaps.
e. Keluarkan nafas sepenuhnya melalui mulut.
f. Masukkan moncong Rotahaler ke dalam mulut, kemudian rapatkan bibir.
Posisikan Rotahaler dengan kepala agak ditengadahkan ke belakang. Hirup
dengan kuat dan dalam.
g. Keluarkan rotahaler dari mulut. Tahan nafas kurang lebih 10 detik. Kemudian,
keluarkan nafas secara perlahan-lahan melalui hidung.
h. Buka rotahaler, buang ratacaps yang telah digunakan.
Bagian depan kotak pertama berisi cara membersihkan rotahaler.
Tahapan-tahapan dalam membersihkan rotahaler yang telah digunakan sebagai
berikut :
a. Pisahkan kedua bagian Rotohaler.
b. Bilas kedua bagian dengan air bersih yang mengalir.
c. Untuk membuang kelebihan air, dilakukan dengan cara membalikkan
Rotahaler.
d. Keringkan rotahaler dengan diangin-anginkan. Jangan menggunakan kain.
e. Gabungkan kembali dua bagian Rotahaler.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


17

Sisi depan kotak kedua berisi tentang peringatan-peringatan yang harus


diperhatikan oleh pasien. Peringatan-peringatan yang dicantumkan pada leaflet
adalah :
a. Cuci Rotahaler setidaknya seminggu 1X
b. Jangan biarkan Rotahaler terpapar panas.
c. Tanyakan pada Apoteker atau dokter Anda, jika ada hal-hal yang tidak Anda
pahami tentang cara penggunaan dan efek dari obat-obat Anda.
Peringatan-peringatan bertujuan agar pasien dapat berhati-hati dalam
menggunakan dan membersihkan rotahaler. Peringatan yang menjadi perhatian
khusus adalah jangan membiarkan rotahaler terpapar panas karena dapat merusak
rotahaler. Leaflet secara keseluruhan dari rotahaler dapat dilihat pada Lampiran 2.
Ilustrasi gambar juga disertakan agar leaflet terlihat lebih atraktif dan
dapat memperjelas penyampaian informasi. Keterpaduan informasi dengan
ilustrasi harus diperhatikan agar informasi yang diterima pembaca tepat sasaran.
Perpaduan warna tulisan dari leaflet tersebut dibuat warna yang kontras, sehingga
diharapkan tulisan dapat jelas terbaca. Leaflet ini diharapkan dapat dimengerti dan
diterima oleh berbagai kalangan di rumah sakit.

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Pembuatan leaflet rotahaler yang berjudul “Cara Menggunakan dan
Membersihkan Rotahaler” dan leaflet “Cara Menggunakan Heparin” merupakan
bentuk pelayanan informasi obat secara aktif yang digunakan sebagai media
edukasi bagi sesama dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya dan
pasien untuk dapat mengetahui dan memahami lebih dalam mengenai cara
menggunakan heparin, serta cara menggunakan dan membersihkan rotahaler
sehingga penggunaan obat yang rasional dapat tercapai.

5.2 Saran
a. Leaflet sebagai alat bantu media promosi dan edukasi kesehatan, sebaiknya
ditingkatkan khususnya pada saat penyampaian informasi obat atau konseling
kepada pasien.
b. Dilakukannya pembuatan media promosi dan edukasi kesehatan dalam
bentuk yang lain, seperti poster, agar pasien mendapatkan informasi yang lebih
komprehensif.

18 Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2006). Pedoman Penggunaan Obat


Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008a). Bagaimana Membuat Media


Promosi Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008b). Metode dan Media Promosi


Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, (2004). Standar Pelayanan


Kefarmasian Di Rumah Sakit. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, (2008). Pedoman Pengelolaan


Perbekalan Farmasi Di Rumah Sakit. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.

Dewoto, Hadi R. (2009). Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta : Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Hurley and Berkshire. (2013). Package Leaflet: Information For The User
Heparin (mucous) Injection BP 1,000 and 5,000 Units/ml Heparin
Sodium. Denmark : LEO Pharma A/S, DK 2750 Ballerup.

Lasa, HS. (1998). Kamus Istilah Perpustakaan. Yogyakarta : Gadjah Mada


University Press.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Standar Pelayanan Kefarmasian


Di Rumah Sakit. Jakarta : Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Peterson D, Haeward S, Lawson JH. Anticoagulation Strategies for Venous


Thromboembolism. Perspect Vasc Surg Endovasc Ther 2009;21;125.

Presiden Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia


Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta :
Sekretariat Negara.

Pujiriyanto. (2005). Desain Grafis Komputer (Teori Grafis Komputer). Cetakan


Pertama. Yogyakarta : CV. Andi Offset.

Rasmin M, Rogayah R, Wihastuti R, Fordiastiko, Zubaedah, Elsina S. (2001).


Prosedur Tindakan Bidang Paru dan Pernapasan–Diagnostik dan Terapi.
Bagian Pulmonologi FKUI. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

19 Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


LAMPIRAN

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


20

Lampiran 1. Leaflet Cara Menggunakan Heparin

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014


21

Lampiran 2. Leaflet Cara Menggunakan dan Membersihkan Rotahaler

Universitas Indonesia

Laporan praktik…, Cicilia Marina, FF UI, 2014