Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH PALANKTONOLOGI

AWAL HUBUNGAN MANUSIA DENGAN PLANKTON

OLEH KELOMPOK 8

Nama : Giovanni Takene

Fety D Nitbany

Ayub B Waang

Maria V Ugha

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Adaptasi adalah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya
untuk bertahan hidup. Adaptasi terbagi atas tiga jenis yaitu, adaptasi morfologi adalah
adaptasi yang meliputi bentuk tubuh, adaptasi Fisiologi adalah adaptasi yang meliputi fungsi
alat-alat tubuh dan adaptasi tingkah laku adalah adaptasi berupa perubahan tingkah laku.
Organisme Laut berdasarkan tempat hidup dan cara hidupnya dapat dikelompokan
atas tiga kelompok besar yaitu, Plankton, Nekton dan Bentos. Plankton terdiri atas
mikroorganisme laut baik fitoplankton maupun zooplankton yang mengapung dan hanyut
karena arus air, atau hidup diatas maupun dekat permukaan air.
Habitat alami plankton adalah perairan tawar (sungai, danau, rawa), estuari dan air
laut/pantai. Keberadaan plankton di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
intensitas cahaya, suhu, dan kecerahan suatu perairan. Pada zaman dahulu orang sudah mulai
menggunakan plankton sebagai bahan makanan maupun bahan yang digunakan untuk
menangkap ikan besar lain, tetapi pada aman tersebut manusia belum mengetahui bahwa
organisme tersebut merupakan plankton. Orang juga masih belum mengetahui apa penyebab
fenomena perubahan air laut yang disebabkan oleh plankton. Palnktyon juga dipengaruhi oleh
beberapa factor didalam kehidupannya contohnya intensitas cahaya, Intensitas cahaya sangat
dibutuhkan terutama bagi fitoplankton untuk melakukan proses fotosintesis karena
fitoplankton sebagai tumbuhan mengandung pigmen klorofil yang mampu melaksanakan
reaksi fotosintesis dimana air dan karbon dioksida dengan sinar surya dan garam-garam hara
dapat menghasilkan senyawa organik seperti karbohidrat. Selain phytoplankton, zooplankton
juga berperan dalam rantai makanan, dimana zooplankton ini merupakan produsen sekunder
yang membutuhkan makanan berupa phytoplankton.
Untuk memahami lebih lanjut bagaiman awal mula hubungan manusia dengan
plankton dan mengenai kehidupan plankton maka akan dibahas lebih lanjut dalam makalah
ini.
B. Tujuan
Untuk mengetahui awal dimana manusia mulai berhubngan dengan plankton dan
kehidupan dari plankton itu sendiri.
C. Manfaat
- Utnuk memenuhi sebagai salahj satu tugas mata kulia planktonologi.
- Sumber literature bagi pembaca.
BAB II
PEMBAHASAN
a. Awal hubungan Manusia Dengan Plankton

Sebrnarnya sejak zaman dahulu orang telah memanfaatkan dan melihat gejala
perubahan laut yang di sebabkan oleh plankton. Namun mereka tak dapat memahaminya dan
menerangkannya, apalagi kenal dengan istilah plankton yang baru di perkenalkan di akhir
abad ke-19. Sejak lama misalnya, masyarakat di Asia mengkonsumsi berbagi jenis
zooplankton sebagai sumber protein. Sekitar 1700 tahun lalu penduduk cina sudah memanen
plankton ubur-ubur sebagai bahan makanan yang mempunyai cita rasa yang khas. Selain di
Cina, di Jepang pun sudah sejak lama orang mengkonsumsi plankton ubur-ubur Rhopilema
esculenta yang tergolong makanan yang banyak penggemarnya, yang di sana disebut
“kurage”. Ubur-ubur yang sebgian besar tubuhnya terdiri dari air ini ukurannya bisa sampai
sekitar 50 cm.

Jenis plankton yang sudah lama dikenal dan menjadi makanan sehari-hari bagi
masyarakat pesisir di Indonesia antara lain adalah rebon. Rebon atau jambret sebagamana
yang dikenal masyarakat, sebenarnya adalah campuran berbagai jenis hewan seperti udang
kecil, sebagian besar terdiri dari zooplankton sergestid, misid, untuk pembutan terasi dan
petis.

Indonesia juga sudah sejak dulu mengenal budi daya bandeng dalam tambak. Ratusan
tahun lalu, pada zaman Hindu abad 13-14, bandeng telah ditulis dalam kitab Kutaramenawa,
undang-udang tentang siwakan atau pengaturan air yang di duga merupakan awal
pemeliharaan bandeng dalam tambak di Indinesia. Untuk itu diperlukan nener atau benih ikan
bandeng yang masih sangat mudah, yang tak lain adalah plankton berukuran beberapa mm,
dikumpulkan dari perairan pesisir pantai. Benih ikan bandeng mempunyai bentuk yang sangat
berbeda dari bentuk dewasanya. Pengetahuan nelayan untuk mengenali dan tidak salah
memilih benih ikan tersebut yang sangat mudah ini telah berkembang dan diturunkan dari
generasi ke generasi. Hingga sekarang budi daya bandeng masih banyak mengandalkan
pasokan benih dari alam.
Dipantai selatan jawa, pada musim tertentu, banyak nelayan menangkap ikan impun,
terutama di muara-muara sungai. Ikan impun ini merupakan kumpulan berbagai plankton
berupa larva ikan, termasuk larva ikan sidat (eel) yang secara naluri mencari dan akan
memilikin sungai tempat induknya berasal, stelah menempuh perjalanan panjang, dari tempat
mereka lahir jauh ditengah samudra, pada musimnya, ikan impun jumlahnya sangat
melimpah di pantai. Orang pun kadang-kadang menyaksikan laut tiba-tiba berubah warna
tetapi orang belum tahu gejala apa itu, dan apa penyebabnya. Nama laut merah (Red Sea) di
depan Saudi Arabia, telah lama digunakan para pelaut , dan baru kemudian hari diketahui
bahwa warna kemerah-merahan yang sering muncul di perairan tersebut disebabkan oleh
ledakan populasi fitoplankton yang mengandung pigmen berwarna coklat kemerahan.

Para pelaut zaman dahulu pun tahu apabila warna air laut berubah dari biru menjadi
kehijauan berarti daratan sudah dekat, meskipun daratan belum lagi terlihat. Tetapi mereka
tak dapat menerangkan bahwa sebenarnya perubahan ini karena pigmen kuning fitoplankton
yang sangat banyak di perairan pantai bercampur dengan warna biru air laut dan memberi
nuansa biru kehijauan. Orang juga sering melihat air laut berubah warna yang kadang-kadang
diikuti dengan kematian ikan secara massal. Namun orang tak mengerti bahwa perubahan
warna itu disebabkan oleh ledakan populasi fitoplankton jenis tertentu yang berecun atau
mengganggu lingkungan, yang bagi orang terkadang lebih dikenal dengan istilah Harmful
Algal Bloom (HAB).

b. Sejarah Plankton

Meskipun plankton terdapat diseluruh permukaan laut dunia, namun orang mulanya tidak
menyadari kehadirannya. Ukuran yang umumnya mikroskopis membuatnya luput dari
perhatian orang banyak. Oleh sebab itu ketika Antony van Leeuwenhoek pertama kali
menciptakan mikroskop yang sangat sederhana pada tahun 1676, ia sebenarnya membuka
babak baru untuk melihat alam ini, dalam skala mikro. Ia membuktikan bahwa dalam air,
baik air tawar maupun air laut, terkandung kehidupan yang begitu kaya akan
keanekaragaman hayati, termasuk bebagai tumbuhan renik, yang tak pernah diketahui orang
sebelumnya. Ini merupakan temuan dasar yang terpenting yang memungkinkan
berkembangnya plankologi di kemudian hari, yakni ilmu yang mempelajari segala aspek
kehidupan plankton ( ada juga yang menyebutnya planktonologi).
Tetapi perhatian untuk mengkaji lebih serius planton laut baru dimulai sekitar paruh abad
ke-19. Adalah G. V. Thompson yang pertama kali mengoleksi plankton dengan
menggunakan jaring halus, dan melakukan pengamatan berkala di Irlandia pada tahun 1828.
Kemudian disusul oleh Johannes Muller di Jerman yang mulai mengadakan kajian
taksonomi, sekitar tahun 1845. Istilah plankton sendiri baru diintoduksi oleh Victor Hensen
pada tahun 1887, yang berakar dari bahasa Yunani, planktos, yang berarti menghanyut atau
menggembara. Ia pulah yang memulai penelitian plankton secara kuantitatif hingga ia
dijuluki juga sebagai Bapak planktologi Kuantitatif. Dari situ diletakkanlah fundamen yang
lebih kokoh untuk pengembangan planktologi lebih lanjut.

Sumbangan yang sangat bermakna bagi perkembangan plankologi adalah akpedisi kapal
HMS Challenger yang dilaksanakan keliling dunia selama tiga setengah tahun (1872-1876).
Ekspedisi dari Inggris ini dipandang pula sebagai peletak fondasi pengetahuan oseanografi
modern yang meliputi aspek fisika, kimia, biologo, dan geologi. Alat penangkap plankton
yang disebut plankton trawl net sudah digunakan dikapal itu, ditunjang dengan penggunaan
mikroskop yang sederhana yang tersedia dalam laboratoriumnya. Laporan akhir ekspedisi
berjudul The Challenger Report diterbitkan dari tahun 1880 -1895 terdiri dari 50 pilih volume
besar mencakup seluruh aspek ilmu kelautan. Para penelitiannya mendeskripsikan penemuan
4417 jenis yang baru dikenal di dunia pengetahuan. Laporan tersebut juga meliputi banyak
hal mengenai plankton seperti diatom, kopepod, radiolaria, dan sebagainya. Ekspedisi historis
Challenger ini juga memasuki dan mengoleksi plankton di perairan Indonesia di Laut Banda,
Laut Seram, dan Laut Sulawesi.

Studi-studi awal tentang fisiologi dan ekologi plankton dilakukan oleh W.B. Carpenter
(1856) yang menunjukan bahwa fitoplankton membutuhkan sinar matahari, air, asam
karbohidrat, dan amonia untuk melaksanakan fotosintesis. Selanjutnya oleh Paul Regnard
(1891) dibuktikan bahwa fotosintesis oleh fitoplankton itu hanya terjadi pada
lapisan yang teratas saja, sampai kedalam sekitar 30 m. Karl Brandt (1899) selanjutnya
menunjukan bahwa kelimpahan fitoplankton tidak hanya meupakan respons terhadap cahaya
matahari dan suhu tetapi tak kalah pentingnya adalah hara nitrat. Pada pertengahan dekade
1930-an mikrobiologi laut (termasuk bakterioplankton) mulai dirintis oleh Claude Zobell,
dari Scripps Institution of Oceanography, Clifornia. Namun perkembangan bakterioplankton
laut ini baru berkembang pesat setelah usai perang Dunia ke II yang lalu.

Liquid Chromatography (HPLC) digunakan sebagai acuan umum untuk mengukur


kandungan klorofil dan berbagai pigmen yang mencirikian komposisi fitoplanktonn
perkembangan biokimia telah di manfaatkan dalam kajian-kajian fisiologi plankton yang kini
mengarah ke fisiologi lingkungan, sedangkan penelitian genetika dilakukan dengan analisis
DNA. Pemanfaatakan inderaja (remote sensing) dengan memanfaatkan teknologi satelit kini
sudah meluas pula penggunaannya untuk memantau klorofil fitoplankton dalam skala global
dari waktu ke waktu. Demikian pula untuk penetapan posisi pengambilan sampel mudah,
cepat, dan akurat dengan penggunaan Global Positioning System (GPS) yang protable, berkat
kemajuan

teknologi satelit. Pemetaan sudah dilakukan dengan Geography Information (GIS) yang
berdasarkan pada data dan informasi berkordinat.

Tekonologi modern telah membuka pula pemahaman baru akan pentingnya


femtoplankton, yakni plankton yang berukuran lebih kecil dan bakteri, terutama virus laut
(virioplankton), dan perannya dalam ekologi laut. Perkembangan berbagai teknologi modern
kini telah mendorong pula berkembangnya pendekatan baru dalam kajian tentang peran
plankton dalam perspektif global, misalnya dalam pengendalian iklim global (global climate)
yang mempengaruhi kehidupan di seantero planet bumi ini, tidak saja yang ada di dalam laut.
Demikian pila tentang peran plankton dalam daur karbon (carbon cycle) di bumi ini.
Kemajuan teknologi dalam lima dekade terakhir ini tampaknya telah mengantarkan dimensi
penelitian plankton makin melebar sekaligus juga makin mendalam, dari dunia mikro yang
menukik hingga tingkat molekuler sampai ke dimensi dengan skala global.
Perkembangan pengetahuan mengenai plankton tidak sekedar untuk memenuhi hasrat
manusia untuk ilmu pengetahuan semata, tetapi juga untuk mengeksplorasi berbagai peluang
dan kemungkinan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia lewat pemanfaatan sumber
daya ini sebagai sumber makanan, kesehatan dan obat-obatan, riset dan pendidikan, dan
pengelolaan lingkungan baik pada tingkat lokal maupun global.

c. Plankton Dan Aspek Ekonominya

Pengetahuan mengenai plankton tidaklah untuk kepentingan ilmu pengetahuan semata tetapi
juga dapat memberikan kontribusi dalam ekonomi. Banyak plankton yang merupakan sumber
daya yang dapat memberikan manfaat ekonomi, tetapi ada juga yang malah dapat
menimbulkan kerugian ekonomi.

a). Perikanan

Manfaat ekonomi yang paling jelas adalah dalam perikanan. Boleh dikatakan semua
jenis ikan ekonomi menjalani awal kehidupannya sebagai plankton dalam bentuk telur dan
larva. Pengetahuan mengenai telur dan larva ikan yang planktonik ini (iktioplankton) telah
berkembang menjadi bidang ilmu tersendiri. Pengetahuan mengenai iktioplankton akan
banyak membantu untuk menentukan lokasi pemijahan jenis-jenis ikan tertentu dan langkah-
langkah yang diperlukan untuk melestarikannya.

Selanjutnya dapat pula ditunjukan bahwa dari hasil penelitian pada berbagai jenis ikan
di seluruh dunia, terbukti hampir seluruh ikan-ikan pelagis kecil dan larvanya memanfaatkan
plankton sebagai makanannya. Dari seluruh produksi ikan didunia 74% merupakan ikan
pelagis. Berdasarkan jenis makanannya ternyata 63% ikan pelagis ini adalah pemakan
plankton (plankton feeder). Di Indonesia sendiri ikan pelagis kecila pemakan plankton
(seperti ikan layang, selar, teri, japuh, tembang, lemuru dan kembung) menyumbang sekitar
53% dari potensi lestari sumber daya perikanan kita. Kajian-kajian plankton di berbagai
negara juga menunjukan adanya korelasi antara konsentrasi fitoplankton atau zooplankton
atau keduanya dengan hasil tangkapan ikan. Oleh sebab itu, pengetahuan tentangsebaran
fitoplankton yang diindikasikan deng sebaran klorofil di laut menjadi penting, yang kini telah
dapat dilakukan dengan bantuan teknologi satelit. Dengan memahami lokasi konsentrasi
plankton dapatlah diperkirakan lokasi yang lebih tepat untuk mencari ladang ikan (fishing
ground).
Dari segi budi daya ikan dan udang, pengetahuan tentang plankton juga akan sangat
membantu. Semua budi daya ikan dan udang dimulai dari benih yang merupakan planktin.
Pemeliharaan benih ikan atau udang ini merupakan saat yang kritis karena masih rentan
menghadapi kematian. Untuk menghidupi larva-larva itu pun diperlukan makanan hidup
berukuran kecil yang biasanya diperoleh dari kultur fitoplankton dari jenis yang berukuran
kecil. Oleh sebab itu kemampuan untuk mnyediakan stok kultur fitoplankton untuk makanan
benih ikan atau udang menjadi sangat menentukan keberhasilan budy daya tersebut.

Selain itu, sejumlah jenis plankton pun dapat dipanen langsung untuk menjadi bahan
makanan. Rebon (Acetes), misalnya adalah plankton berupa udang kecil yang merupakan
bahan penting untuk pembuatan terasi dan petis. Demikian pula ubur-ubur Rhopilema dapat
untuk konsumsi atau sebagai komoditi ekspor. Data statistik perikanan tangkap Indonesia
menunjukkan bahwa pada tahun 2002 produk perikanan berupa ubur-ubur mencapai 60.000
ton dengan nilai sekitar 76 miliar rupiah. Indonesia adalah negara penghasil ubur-ubur ketiga
di dunia, yakni setelah Cina dan Thailand.

Pada tingkat perikanan dunia, telah dikenal pula perikanan plankton yang terutama
dilakukan untuk menangkap krill. Perikanan plankton ini lazim disebut krill fishing
(perikanan krill). Krill adalah zooplankton eufausid (Euphausia superba), bentuknya sperti
udang yang berukuran sekitar 4-5cm, yang merupakan sumber daya yang sangat kaya di
samudera selatan sekitar Benua Antartika. Banyak negara berlomba untuk menangkap krill
ini hingga telah menimbulkan kekhawatiran akan kelestariannya dan menimbulkan masalah
pada lingkungan di benua dingin di selatan.

b). Lingkungan

Plankton tidak saja dapat memberikan manfaat ekonomi, tetapi sebaiknya dapak
negatif yang menimbulkan kerugian ekonomi, lingkungan, dan kesehatan. Pertumbuhan
lebat populasi fitoplankton jenis jenis tertentu dapat menimbulkan Harmful Alga
Bloom (HAB) yang merugikan. HAB ditimbulkan oleh fitoplankton yang menghasilkan
toksin (racun) yang dapat mengakibatkan kematian massal pada ikan. Atau menguras oksigen
diperairan setempat hingga banyak pula menyebabkan kematian ikan dan biota lainnya.

Bila ini menimpa kawasan perairan budidaya akan menimbulkan kerugian ekonomi
yang sangat besar. HAB juga dapat menimbulkan dampak pada kesehatan manusia bila
toksin yang dihasilkan oleh fitoplankton mengkontaminasi bahan makanan asal laut (seafood)
yang disantap oleh manusia.

Introduksi jenis plankton tertentu kesuatu lingkungan baru juga dapat menimbulkan
perubahan lingkungan yang dapat mengakibatkan kerugian besar bagi perikanan. Kasus
masuknya plankton krenofor Mnemiopsis leidyi secara tidak sengaja ke laut hitam (black sea)
sekitar tahun 1980-an misalnya, telah membuat pendatang ini tumbuh pesat tampah persaing
dan akhirnya menumpas semua telur dan larva ikan di perairan setempat. Akibatnya dalam
waktru satu dekade saja perikanan di enam negara pantai laut hitam ambruk dibuat nya.

Dampak ekonomi yang negatif juga dapat ditimbulkan bila ubur-ubur tumbuh dengan
sangat lebat, misalnya plankton ubur-ubur Cyanea yang menyumbat dan merusak jaring
nelayan. Instalasi pencairan gas bumi (LNG) dibotan Kalimatan timur, beberapa kali
mengalami kerugian yang sangat besar karena saluran pendinginya yang menggunakan air
laut dipenui ubur-ubur. Demikian banyanya ubur-ubur yang menyumbat hingga membuat
kewalahan dan memaksa industri tersebut mengurangi produksinhya yang tentu saja
menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Selain itu, dari aspek lingkungan
beberapa jenis plankton diketahui pula mempunyai kemampuan untuk menyerap.
c) Obat-obatan

Berbagai jenis plankton dipercaya dapat merupakan bahan dasar untuk produksi
berbagai jenis obat-obatan. Salah satu alasan terjadinya perburuan plankton krill di samudra
selatan adalah untuk memenuhi permintaan meningkatnya bahan baku untuk obat-obatan.
Banyaknya plankton yang mengandung racun merupakan peluang kajian untuk mencari
bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan. Plankon ubur-ubur jenis tertentu
misalnya, dipercaya dapat menjadi obat untuk artritis, hipertensi, dan nyeri punggung.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Awal hubungan manusia mulai mengetahui palankton itu terjadi pada tahun 1676
dimana Antonio Van Leuwenhoek, ia sebenarnya membuka babak baru untuk melihat
alam ini, dalam skala mikro. Ia membuktikan bahwa dalam air, baik air tawar maupun air
laut, terkandung kehidupan yang begitu kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk
bebagai tumbuhan renik, yang tak pernah diketahui orang sebelumnya, yang kita kenal
sebagai plankton. Tetapi perhatian untuk mengkaji lebih serius planton laut baru dimulai
sekitar paruh abad ke-19. Adalah G. V. Thompson yang pertama kali mengoleksi plankton
dengan menggunakan jaring halus, dan melakukan pengamatan berkala di Irlandia pada
tahun 1828. Kemudian disusul oleh Johannes Muller di Jerman yang mulai mengadakan
kajian taksonomi, sekitar tahun 1845. Istilah plankton sendiri baru diintoduksi oleh Victor
Hensen pada tahun 1887, yang berakar dari bahasa Yunani, planktos, yang berarti
menghanyut atau menggembara.
B. Saran
Kami menyadari bahwa makalah yang saya selesaikan ini masih jauh dari
kesempurnaan. Seperti halnya pepatah “ tak ada gading yang tak retak “, oleh karena itu
saya mengharapkan kritik dan saran dari semua kalangan yang bersifat membangun guna
kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Nontji, A. 2008. Plankton Laut. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Jakarta.
Sunarto. 2008. Karakteristik Biologi dan Peranan Plankton bagi Ekosistem Laut. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran. Jatinangor. 41 Hal.