Anda di halaman 1dari 26

“RIBOSOM”

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Metabolisme

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Retno Sri Iswari S.U
Dr. Nugrahaningsih WH, M.Kes

Disusun oleh:
Mutiara Ramadhan (0401825043)

PENDIDIKAN IPA KONSENTRASI BIOLOGI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2019

i
PRAKATA

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan makalah “Ribosom”. Penulisan makalah ini sebagai salah satu
penilaian tugas dalam mata kuliah Metabolisme.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat kekurangan
serta tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh
sebab itu, penulis berharap adanya kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah
yang telah dibuat. Harapan kami semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan
kontribusi dalam kemajuan dunia pendidikan dan secara umum kepada semua pihak.

Semarang, 25 Mei 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... .............. 2

1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian ribosom.................................................................................... 4


2.2 Struktur dan karakteristik ribosom ............................................................ 4

2.3. Macam Macam Ribosom .......................................................................... 9

2.4 Peran ribosom dalam sintesis protein......................................................... 10

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ............................................................................................... 22

3.2 Saran .......................................................................................................... 22

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Istilah ribosom berasal dari bahasa yunani, yaitu dari kata soma yang berarti
badan, dan ribonucleid acid atau asam ribonukleat. Ribosom adalah komponen sel
yang membuat protein dari semua asam amino. Salah satu prinsip utama biologi,
sering disebut sebagai “dogma sentral,” adalah DNA yang digunakan untuk
membuat RNA, yang, pada gilirannya, digunakan untuk membuat protein. Urutan
DNA gen disalin ke RNA (mRNA). Ribosom kemudian membaca informasi dalam
RNA dan menggunakannya untuk membuat protein. Proses ini dikenal sebagai
translasi; yaitu, ribosom “menerjemahkan” informasi genetik dari RNA menjadi
protein. Ribosom melakukan hal ini dengan mengikat sebuah mRNA dan
menggunakannya sebagai template untuk urutan yang benar asam amino pada
protein tertentu. Asam amino yang melekat pada RNA transfer (tRNA) molekul,
yang masuk salah satu bagian dari ribosom dan mengikat ke urutan messenger
RNA. Asam amino terlampir yang kemudian bergabung bersama oleh bagian lain
dari ribosom. Ribosom bergerak sepanjang mRNA, “membaca” urutan dan
menghasilkan rantai asam amino. Ribosom terbuat dari kompleks dari RNA dan
protein.
Ribosom dibagi menjadi dua subunit, satu lebih besar daripada yang lain.
Mengikat subunit kecil untuk mRNA, sedangkan mengikat subunit yang lebih besar
kepada tRNA dan asam amino. Ketika selesai membaca mRNA ribosom, kedua
subunit terpecah. Ribosom dari bakteri, archaea dan eukariota, memiliki struktur
secara signifikan berbeda dan urutan RNA. Perbedaan-perbedaan dalam struktur
memungkinkan beberapa antibiotik dapat membunuh bakteri melalui ribosom,
sedangkan pada ribosom manusia tidak terpengaruh.

4
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

1. Bagaimana pengertian ribosom?


2. Bagaimana struktur dan karakteristik ribosom?
3. Apa saja macam-macam ribosom ?
4. Bagaimana mekanisme sintesis protein?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian ribosom.
2. Untuk mengetahui struktur dan karakteristik ribosom.
3. Untuk mengetahui macam-macam ribosom.
4. Untuk mengetahui mekanisme sintesis protein.

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ribosom


Istilah ribosom berasal dari bahasa yunani,yaitu dari kata soma yang berarti
badan,dan ribonucleid acid atau asam ribonukleat. Ribosom merupakan organel
kecil dan padat dalam sel yang berfungsi sebagai tempat sintesis protein. Ribosom
berdiameter sekitar 20 nm serta terdiri atas 65% RNA ribosom (rRNA) dan 35%
protein ribosom disebut Ribonukleoprotein atau RNP (Subowo, 2007). Organel
Ribosom ini menerjemahkan mRNA untuk membentuk rantai polipeptida (yaitu
protein) menggunakan asam amino yang dibawa oleh tRNA pada proses translasi.
Di dalam sel, ribosom tersuspensi di dalam sitosol atau terikat pada retikulum
endoplasma kasar, atau pada membran inti sel.
Ribosom merupakan partikel yang kampak/padat, terdiri dari
ribonukleoprotein, melekat atau tidak pada permukaan external dari membran RE,
yang memungkinkan sintesis protein. Menurut Johnson. E, Kurt (1994), sifat dari
ribosom yaitu bentuknya universal, pada potongan longitudinal berbentuk elips,
pada teknik pewarnaan negatif tampak adanya satu alur transversal, tegak lurus
pada sumbu, terbagi dalam dua sub unit yang memiliki dimensi berbeda, Dengan
ultrasentrifugasi yang menurun pada kedua sub unit ribosom tersebut dapat
dipisahkan sehingga penyusunnya dapat dideterminasis. Sub unit-sub unit
berasosiasi secara tegak lurus pada bagian sumbu dalam alur yang
memisahkannya, Dimensi ribosom serta bentuk menjadi bervariasi. Pada prokariot,
panjang ribosom adalah 29 nm dengan besar 21 nm. Dan eukariot, ukurannya 32
nm dengan besar 22 nm, Pada prokariot sub unitnya kecil, memanjang, bentuk
melengkung dengan 2 ekstremitas, memiliki 3 digitasi, menyerupai kursi. Pada
eukariot, bentuk sub unit besar menyerupai ribosom E. coli.

6
Setiap sel hidup mempunyai ribosom. Ribosom mempunyai ukuran yang
sangat kecil dan dapat dilihat dengan bantuan rnikroskop. Ribosom memungkinkan
translasi terjadi yaitu suatu transkripsi mRNA diterjemahkan dan protein disintesis
tergantung dari informasi yang ada didalamnya. Ribosom secara aktif
mengkoordinasi dan membantu proses sintesis polipeptida dan berperan secara
aktif sebagai pusat aktivitas banyak proses didalam sel.
Ribosom pada prokariot tersebar dalam sitoplasma, sementara pada
eukaryotes ribosom juga melekat pada membran sel. Retikulum endoplasma kasar
(Rough Endoplasmic Reticulum) adalah suatu suatu retikulum endoplasma dimana
banyak ditemukan ribosom melekat padanya, sementara retikulum endoplasma
yang tidak mengandung ribosom disebut Retikulum endoplasma halus (Smooth
Endopiasinic Reticulum) (Gambar 6.1). Selain itu ribosom juga terdapat pada
mitokondria dan kloroplas. Sintesis protein terjadi pada semua tipe ribosom ini.
Virus tidak memiliki ribosom, oleh karena itu virus menggunakan ribosom sel
induk (host) untuk menerjemahkan informasi genetik.

2.2 Struktur dan Karakteristik Ribosom


a. Struktur

Gambar 2.1. Struktur ribosom

7
Ribosom berbentuk globular dengan dimeter sekitar 250 sampai 350 nm.
Ribosom mampu menyebarkan maupun menyerap electron dengan sangat kuat
sehingga mikroskop electron dapat digunakan secara intensif untuk meneliti
ribosom lebih dalam, sebenarnya selain dengan mikroskop electron, ribosom
dapat diteliti dengan berbagai cara antara lain dengan defraksi sinar X,
sentrifugasi atau pemusingan, maupun dengan imunositokimia. Analisis
biokimia juga bisa dilakukan untuk mengetahui jumlah dan mengidentifikasi
protein-protein dalam sub unit ribosom (Geneser, 2009).

Gambar 2.2. Struktur sub unit kecil dan sub unit besar

8
Ribosom sub unit kecil, tampilannya mirip embrio yaitu seperti
memiliki kepala dan badan yang dihubungkan dengan leher yang pendek. Leher
tersebut dibentuk dengan takikan (sedikit lekukan) pada satu sisi dan lekukan
yang dalam paa sisi yang lain. Badannya berbentuk batang yang membengkak.
Pada subunit kecil terdapat daerah datar pada satu sisi bagian ini menempel pada
sub unit besar.
Ribosom terdiri dari 2 sub unit yaitu sub unit besar dan kecil. Masing-
masing disusun oleh rRNA dan protein ribosom. Stuktur ribosom merefleksikan
fungsinya untuk mengumpulkan mRNA dengan tRNA pembawa asam amino.
Suatu ribosom memiliki satu tempat pengikatan mRNA (subunit kecil) dan tiga
tempat pengikatan tRNA dikenal dengan tempat E (exit), P (peptidil), dan A
(aminosil) yang terdapat pada sub unit besar.
Tempat E merupakan tempat keluar tRNA yang tidak bermuatan.
Tempat P merupakan tempat pengikatan tRNA-peptidil biasanya pengikat tRNA
yang melekat pada rantai polipeptida yang sedang tumbuh. Tempat A
merupakan tempat pengikatan tRNA- aminoasil biasanya mengikat tRNA yang
membawa asam amino berikutnya yang akan ditambah pada rantai polipeptida.
Perbedaan pada eukariot dan prokariot terdapat pada ukuran dan jumlah RNA
penyusunnya.
Stuktur ribosom merefleksikan fungsinya untuk mengumpulkan mRNA
dengan tRNA pembawa asam amino. Suatu ribosom memiliki satu tempat
pengikatan mRNA (subunit kecil) dan tiga tempat pengikatan tRNA dikenal
dengan tempat E (exit), P (peptidil), dan A (aminosil) yang terdapat pada sub
unit besar. Tempat E merupakan tempat keluar tRNA yang tidak bermuatan.
Tempat P merupakan tempat pengikatan tRNA-peptidil biasanya pengikat tRNA
yang melekat pada rantai polipeptida yang sedang tumbuh. Tempat A
merupakan tempat pengikatan tRNA- aminoasil biasanya mengikat tRNA yang
membawa asam amino berikutnya yang akan ditambah pada rantai polipeptida.

9
b. Karakteristik Fisik
Monomer atau sub unit ribosom dapat diidentifikasi dengan mengukur
nilai pengendapannya dengan sentrifugasi kecepatan tinggi. Dalam kondisi
standar, monosom dan sub unit berada dalam keadaan equilibrium (titik dimana
perubahan tidak ditemukan lagi) pada daerah tertentu dalam suatu suspensi.
Suatu partikel atau molekul akan berada dalarn posisi tert entu dalam urutan
densitas tergantung pada ukuran bentuk dan bobot mole kul. Setiap partikel atau
molekul mempunyai koefisien sedimentasi yang dinyata kan dalam Unit
Svedberg (S).
Ribosom E. c oli adalah 70S dan ini dijadikan standar untuk pengukuran
monosom dan sub unit ribosom dan sumber dan spesies yang lai n (Gambar
6.2.). Ribosom E. coli terdiri dan sub unit besar 50S dan sub unit kecil 30S.
Jumlah nilai S dan sub unit selalu lebih besar daripada nilai S monosomnya.
Ribosom prokaryote selain E. coli juga 70S, sementara untuk eukaryotes adalah
80S. Sub unit ribosom sitoplasma eukaryotes terdiri dan sub unit besar 60S dan
sub unit kecil 40S (Tabel 2.1).
Ribosom mitokondria dan kloroplas juga terdiri dari dua sub unit
ribosom. Ribosom mitokondria bervariasi dari ukuran 55S pada hewan sampai
80S pada beberapa protozoa dan jamur. Ribosom kloroplas adalah 70S pada
semua sel hijau (Tabel 2.2.).

10
Tabel 2.1. Karakteristik ribosom sitoplasma (Avers, 1982)

rRNA dalam No. Protein

Sumber Ribosom Units Ribosom Subunits dalam Subunit

Prokaryotes 70S 30S 16S 21

Eukaryotes 80S 50S 23S,5S 32-34

40S 18S ~30

60Sa 25-28S, 5S, 5.8S ~50

*rRNA path sub unit 60S hewan adalah 28S, sementara pada tana man, jamur dan
protista adalah 25-26S

Tabel 2.2. Ribosom Organel

Sumber Ribosom Subunit Subunit rRNA dari


monomer kecil besar
Subunit Subunit
kecil besar

Mitokondria 55-60S 30-35S 40-45S 12-13S 16-17S


- hewan 78S 44S 60S - -
- tumb bunga 80S 40S 52S 14-17S 21-24S
- jamur
*protista
Tetrahymena 80S 55S 55S 14S+ 21S Sama
Euglena 71S 32S 50S 16S 23S

Kloroplas 70S 30S 50S 16S 23S, 5S

11
c. Karaktcristik Kimia
Ribosom terdiri dari 50-80 protein yang berbeda serta 3-4 molekul RNA.
Tiap sub unit memiliki serangkaian makromolekul yang berbeda dan unik.
Protein ribosom prokariot terkarakterisasi lebih baik dibandingkan eukariot
termasuk jumlah absolut protein dalam tiap sub unitnya. Akan tetapi rRNA
pada prokariot dan eukariot secara relatif sudah terkarakterisasi dengan baik.
Sub unit kecil ribosom terdiri dari satu molekul RNA dan sub unit besar terdiri
dari minimal dua molekul RNA. rRNA juga diidentifikasi berdasarkan nilai S-
nya. rRNA adalah rantai polinukleotida tunggal dimana pada daerah tertentu
mengalami lipatan yang menyebabkan formasi untai ganda. Hal ini disebabkan
karena adanya ikatan hidrogen antara pasangan basa yang saling
berkomplementer.

2.3 Macam-macam Ribosom

Gambar 2.3. Ribosom Bebas dan Ribosom Terikat

12
a. Ribosom bebas
Terletak di dalam sitoplasma sel. Mereka tidak melekat pada struktur
apapun, tetapi mereka mungkin mengelompokkan bersama-sama dengan
ribosom lain untuk membentuk polysomes. Dalam sitoplasma, ribosom adalah
mengambang bebas. Mereka bisa bergerak di sekitar sel. Ribosom bebas
menghasilkan protein yang digunakan oleh sel. Ini termasuk protein yang
digunakan untuk metabolisme makanan. Ribosom bebas menghasilkan enzim
yang terlibat dalam metabolisme glukosa.
b. Ribosom terikat
Terletak pada permukaan retikulum endoplasma. Retikulum endoplasma
yang mengandung ribosom digambarkan sebagai retikulum endoplasma kasar
karena permukaan bergelombang. Ribosom terikat tidak bisa bergerak ke area
lain dari sel. Mereka yang melekat pada sisi sitosol dari retikulum endoplasma.
Ribosom terikat memproduksi protein yang diangkut keluar dari sel. Ini
termasuk protein yang diperlukan untuk fungsi tertentu, seperti enzim
pencernaan. Ribosom terikat juga memproduksi hormon polipeptida. Beberapa
protein yang diproduksi oleh ribosom terikat digunakan dalam membran sel dan
pada permukaan luar sel. Reseptor permukaan dan protein sel sinyal yang
diproduksi oleh ribosom terikat.

2.4. Peran Ribosom dalam Sintesis Protein


Ribosom berperan dalam proses sintesis protein atau tepatnya perakitan
polipeptida. Ribosom mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam proses
perakitan polipeptida. Untuk perakitan polipeptida memerlukan pemandu yang
diperlukan untuk menentukan apakah kodon yang terdapat pada mRNA dapat tepat
berpasangan dengan anti kodon yang terdapat pada tRNA, sehingga
penerjemahannya tidak meleset. Kejadian ini difasilitasi dan dikatalisis oleh
ribosom, rRNA yang terkandung dalam ribosom akan bertindak sebagai
katalisator. Dalam proses penerjemahan ini sub unit kecil ribosom berperan

13
mengikat mRNA, sedangkan sub unit besar berpern sebagai tempat masuk dan
keluarnya tRNA untuk membentuk ikatan polipeptida
Sebelum membahas lebih jauh lagi tentang proses sintesis protein maka
sebagai langkah awal kita harus mengingat dulu pengetahuan yang sudah kita
peroleh tentang pasangan kodon dan anti kodoon molukul mrna akan mengandung
adenine (A).urasil (U).guanin (G)dan cytosine (C). Tiga basa ini akan bergabung
membentuk kodon misalnya , UUC, merupakan kodon untuk asam amino
fenilalanin (phe).UGC, untuk asam amino triptofan (Try), sebagai contohnya
mRNA akan menyusun kodon-kodon tersebut dalam suatu rangkaian misalnya
UGC/UUC/UGC/UUC kodon-kodon ini akan dibaca Try-Phe-Try-Phe.
Akan dapat di terjemahkan kodon-kodon tersebut harus berpasangan
dengan anti kodonnya. Misalnya A akan selalu bergabung dengan U anti
kodonnya, demikian juga sebaliknya, seangkan G akan bergabung dengan C. jadi
jika kodonnya adalah UUC maka anti koonnya adalah AAG. Kalau kodon dimiliki
oleh mRNA maka anti kodon miliki oleh tRNA. tRNA selain memiliki antikodon
juga memiliki asam amino. Jadi misalnya kodon mRNA adalah UUC yang berarti
harus dibaca fenilalanin maka antikodonnya AAG yang terdapat pada tRNA,
menggandeng asam amino maka fenilalanin (Phe), sehingga kodon dan antikodon
bersatu maka asam amino yang dibawa adalah sesuai dengan pesanan dari kodon.
a. Komponen Yang Dibutuhkan Untuk Sintesis Protein
Sejumlah besar komponen diperlukan untuk sintesis rantai polipeptida.
Komponen ini meliputi sejumlah besar asam amino yang ditemukan di dalam
produk akhir, mRNA yang harus ditranslasikan, tRNA, ribosom fungsional,
sumber energy dan enzim, serta faktor-faktor protein yang dibutuhkan untuk
inisiasi, elongasi, dan terminasi rantai polipeptida.
1. Asam amino
Semua asam amino yang akhirnya muncul di dalam protein yang
terbentuk harus tersedia saat sintesis protein. Jika satu asam amino hilang
(contohnya, jika diet tidak mengandung asam amino esensial), asam amino

14
tersebut akan tersedia dalam jumlah terbatas didalam sel sehingga, translasi
akan berhenti pada kodon yang menentukan asam amino tersebut. Hal ini
menunjukkan pentingnya memiliki semua asam amino esensial dalam
jumlah yang cukup di dalam makanan untuk memastikan bahwa sintesis
protein terus berlanjut.
2. RNA transfer (tRNA)
Setidaknya satu jenis tRNA spesifik dibutuhkan untuk setiap asam
amino. Pada manusia, terdapat sedikitnya 50 jenis tRNA. Karena hanya
terdapat 20 asam amino berbeda yang umumnya dibawa oleh tRNA,
beberapa asam amino mempunyai lebih dari satu molekul tRNA yang
spesifik. Hal ini khususnya terdapat pada asam amino yang dikode oleh
beberapa kodon.
3. Aminoasil-tRNA sintetase
Famili enzim ini dibutuhkan untuk melekatkan asam amino pada tRNA
yang sesuai. Setiap anggota famili enzim ini mengenali asam amino yang
spesifik dan tRNA yang berhubungan dengan asam amino tersebut. Karena
itu, enzim-enzim ini mengimplementasikan kode genetik karena enzim ini
bertindak sebagai kamus molecular yang dapat membaca kode 3 huruf asam
nukleat dan kode 20-huruf asam amino. Setiap aminoasil-tRNA sintetase
mengatalisis reaksi 2 tahap yang menghasilkan perlekatan kovalen gugus
karboksil dari asam amino ke ujung 3' tRNA yang sesuai.

Gambar 2.4. Formasi aminoasil-tRNA

15
4. RNA Messenger (mRNA)
mRNA khusus yang dibutuhkan sebagai cetakan untuk sintesis rantai
polipeptida yang diinginkan harus tersedia.
5. Ribosom yang kompeten secara fungsional
Ribosom adalah kompleks protein dan rRNA yang besar. Ribosom
terdiri dari 2 subunit—1 besar dan 1 kecil—yang ukurannya relative
diberikan sesuai koefisien sedimen atau nilai S (Svedberg). Ribosom
prokariotik subunit 50S dan 30S keduanya membentuk ribosom dengan nilai
70S. Ribosom eukariotik subunit 60S dan 40S membentuk ribosom 80S.
Ribosom prokariotik dan eukariotik mempunyai struktur dan fungsi yang
serupa, dan disebut sebagai “pabrik” tempat terjadinya sintesis protein.
6. Faktor protein
Faktor inisiasi, elongasi, dan terminasi (atau pelepasan) dibutuhkan
untuk sintesis peptida. Beberapa factor protein ini melaksanakan fungsi
katalisis, sementara faktor lainnya menstabilkan pengangkat sintesis.
7. ATP dan GTP dibutuhkan sebagai sumber energi
Pemutusan empat ikatan berenergi tinggi dibutuhkan untuk
penambahan satu asam amino kedalam rantai polipeptida yang sedang
tumbuh. Molekul ATP dan GTP dibutuhkan untuk inisiasi dan terminasi
sintesis rantai polipetida.

Ribosom berperan penting dalam proses sintesis protein, sebuah proses


menerjemahkan mRNA menjadi protein. Seluruh proses sintesis protein disebut
juga sebagai dogma sentral. Protein yang disintesis oleh ribosom bebas hanya
digunakan di dalam sitoplasma. Sintesis protein adalah proses dimana asam amino
secara linear diatur menjadi protein melalui keterlibatan RNA ribosom, RNA
transfer, RNA, dan berbagai enzim. Sintesis protein adalah proses dimana sel-sel
individual disusun membentuk protein. Baik asam deoksiribonukleat (DNA) dan
semua jenis asam ribonukleat (RNA) akan terlibat dalam proses ini. Enzim dalam

16
inti sel memulai proses sintesis protein dengan terlebih dahulu unwinding
(membuka) bagian yang diperlukan dari DNA, sehingga RNA dapat dibuat. Bentuk
RNA sebagai salinan satu sisi untai DNA, dan dikirim ke area lain dari sel untuk
membantu dalam membawa bersama-sama dari asam amino yang berbeda yang
akan membentuk protein. Sintesis protein dinamakan demikian karena protein
“disintesis” melalui proses mekanik dan kimia dalam sel.

Gambar 2.5. Mekanisme Sintesis Protein

Setelah untai RNA telah dibuat dalam inti, disebut RNA (mRNA). mRNA keluar
dari nukleus melalui lubang kecil yang disebut pori-pori nuklir, dan bergerak ke area
yang lebih besar dari sel, yang dikenal sebagai sitoplasma. Setelah keluar dari inti,
mRNA ditarik menuju struktur yang dikenal sebagai ribosom, yang berfungsi sebagai
stasiun kerja sel untuk sintesis protein. Pada titik ini, hanya satu sub-unit ribosom yang
hadir.

17
Saat mRNA mengikat sub-unit ribosom, memicu pendekatan lain untai RNA,
disebut RNA transfer (tRNA). Untai tRNA akan mencari tempat yang tepat untuk
mengikat mRNA, dan ketika menemukan, itu akan menempel pada mRNA, sambil
memegang sebuah asam amino pada salah satu ujungnya. Ketika ini terjadi, sub-unit lain
dari ribosom tiba untuk membentuk struktur lengkap. Saat ribosom mengelilingi helai
RNA, untai lain tRNA mendekat. Untai ini membawa asam amino lain, dan berbeda dari
yang pertama. Sekali lagi, tRNA mencari tempat yang tepat untuk mengikat mRNA.
Ketika untai kedua dari tRNA di tempat dengan asam amino, dua asam amino
mengikat bersama-sama dengan bantuan dari ribosom, serta energi sel dalam bentuk
adenosin trifosfat (ATP). Urutan ini berulang, dan rantai asam amino tumbuh lagi.
Ketika asam amino semuanya telah ditempatkan dalam urutan yang benar, rantai
dilipatan ke dalam bentuk tiga dimensi. Ketika ini terjadi, protein selesai.
Setelah protein telah berhasil dibuat, dua sub-unit ribosom terpisah, akan bergabung
lagi untuk digunakan nanti. Proses sintesis protein terjadi di berbagai ribosom seluruh
sel. Sebuah sel yang beroperasi secara efisien dapat mensintesis ratusan protein setiap
detik.
Tahap-tahap sintesis protein terjadi melalui dua tahap, yakni transkripsi dan
translasi.
1) Transkripsi
Tahap pertama dari sintesis protein adalah transkripsi. Proses ini berlangsung
di dalam inti sel. Transkripsi merupakan proses sintesis langsung RNA dari DNA.
Pada saat inti sel memerintahkan perlunya sintesis protein, informasi DNA
dialihkan melalui RNA pembawa pesan yang disebut RNA messenger (mRNA).
mRNA berisikan salinan langsung pasangan basa dari DNA. Tahap inilah yang
dinamakan dengan transkripsi. Transkrip berarti salinan. Kode genetik disalin dari
DNA untuk dibawa keluar dari nukleus menuju lokasi pembuatan protein di
ribosom yang berada di sitoplasma.
Urutan basa nitrogen yang dibawa ke luar nukleus dalam mRNA ini
dinamakan sebagai kodon. Dalam proses transkripsi, banyak proses enzimatik yang

18
terjadi, seperti pemutusan ikatan-ikatan hidrogen pada rantai DNA serta pembacaan
urutan basa nitrogen yang prosesnya mirip dengan duplikasi DNA.

Gambar 2.6. Proses Transkripsi

Tahap inisiasi transkripsi dimulai dengan pengenalan daerah gen di DNA oleh
enzim RNA polimerase. Daerah ini dinamakan dengan promoter, yakni tempat
dimulainya sintesis pasangan DNA oleh mRNA. Daerah DNA yang disalin
hanyalah satu bagian rantai saja yang dinamakan dengan sense (daerah template)
dan rantai yang lainnya dinamakan rantai antisense. Pembacaan DNA oleh RNA
polimerase ini dimulai dari ujung 3' menuju ujung 5' dan tidak pernah sebaliknya.
RNA polimerase akan membuka ikatan double helix pada bagian gen yang dikenali
dan kemudian akan menyalin urutan basa yang ada pada DNA sense (template)
sehingga terbentuk DNA baru dari arah ujung 5' menuju ujung 3'. Proses ini
dinamakan dengan elongasi.
Proses transkripsi diakhiri jika gen di daerah rantai template telah selesai dibaca
(terdapat kodon stop). DNA memiliki mekanisme agar RNA polimerase dapat
mengenali akhir dari gen dengan kode basa tertentu, daerah ini dikenal dengan
nama terminator. Proses akhir dari transkripsi ini dinamakan dengan terminasi.
Setelah itu, rantai mRNA akan keluar dari DNA menuju ribosom di sitoplasma.

19
2) Tahapan Translasi
Sebagaimana transkripsi, proses translasi dapat digambarkan dengan cara
lebih mudah bila kita membaginya menjadi 3 fase, yaitu inisiasi, elongasi dan
terminasi. Translasi adalah proses yang dinamis dan berkesinambungan
(kontinyu), pada satu gen dapat terjadi proses inisiasi, elongasi dan terminasi
pada saat yang bersamaan.
• Inisiasi
1. Mula-mula subunit kecil ribosom harus menempel di tempat tertentu pada
mRNA, dan dapat menempel bila ada IF (initiation factors). Ada tiga
macam IF, yaitu : IF3, IF2, IF1, dan GTP melekat pada IF2. Urutan tempat
menempelnya subunit kecil itu juga dinamakan urutan Shine-Dalgarno,
mengandung hanya nukleotida purin. Biasanya 10 bp terdapat kode
pembukaan AUG.
2. Setelah melekat, dengan bantuan protein lain, tRNA yang telah diisi dengan
asam amino formilmethionin masuk ke tempat P dan yang IF3 dilepas.
Kodon awal AUG adalah kodon untuk metionin, oleh karena itu, tRNA
yang pertama yang melekat adalah yang bermuatan metionin. Tetapi pada
bakteria metionin ini dimodifikasi dengan substitusi gugus formil (-COH)
pada salah satu atom H sehingga menghasilkan N-formilmetionin.
Substitusi ini akan memblok gugus amino pada asam amino sehingga tidak
dapat berpartisipasi dalam pembentukan ikatan peptida. Dengan kondisi
demikian maka rantai peptida hanya dapat terbentuk dengan arah amino ke
karboksil. Struktur pertama pada inisiasi terutama terdiri atas mRNA,
subunit 30S, dan tRNAfmet yang telah diaminoasilasi. Struktur ini disebut
kompleks pembukaan.

20
3. Kompleks pembukaan selanjutnya akan dikombinasikan dengan subunit
besar. Pada proses ini IF 2 dan IF 1 akan dilepas, sedang GTP akan
dihidrolisis menjadi GDP. Peristiwa hidrolisis ini menghasilkan tenaga
yang diperlukan untuk
penggabungan.
Dengan
menempelnya subunit besar
maka aribosom ada dua tempat
yang berhubungan dengan
mRNA yaitu tempat peptidil
atau P, tempat aminoasil atau
A, dan satu tempat lain yang
tidak dilewati mRNA yaitu E
(exit). Pada tempat P sudah
terdapat tRNAfmet. Tempat A
terletak pada kodon kedua dari
mRNA, masih kosong.
Terbentuknya kompleks ini
menandai berakhirnya inisiasi.

21
• Elongasi
Tahap elongasi terbagi dalam enam langkah.
1) Kita tahu bahwa tempat A masih kosong, tempat ini akan dimasuki oleh
tRNA yang sesuai dengan pasangan kodon pada mRNA yang ada di
tempat A.
2) Bila tempat A telah terisi dengan aminoasilasi tRNA maka enzim
peptidil transferase akan mengkatalisis pembentukan ikatan peptida
antara asam amino yang ada di tempat P dengan asam amino yang ada
di tempat A. aktivitas katalisasi peptidil transferase merupakan tugas
dari subunit besar. Pada saat yang sama ikatan kovalen antara asam
amino dan tRNA pada tempat P akan terhidrolisis. Hasilnya adalah
dipeptida yang masih melekat pada ujung 3’ dari tRNA pada tempat A.
Sebelum pemanjangan dilanjutkan tRNA yang berada di tempat P dan
sekarang sudah tidak berisi asam amino harus dilepaskan dari subunit
besar.
3) tRNA yang tidak berisi bersama dengan ujung satu peptida bergerak ke
tempat E. gerakan ini diikuti oleh keseluruhan kompleks mRNA-tRNA-
aa1-aa2 ke arah posisi P. gerakan ini menyebabkan tempat A kosong,
yang ada di A adalah triplet ketiga mRNA.
4) Setelah tempat A kosong maka tRNA lain yang sesuai dengan triplet
ketiga akan masuk ke tempat A.
5) Pada langkah ini dibentuk ikatan peptida dibentuk ikatan peptida antara
asam amino kedua dari dipeptida yang telah ada dan berada di tempat P
dengan asam amino baru yang ada di tempat A. Maka terbentuklah
tripeptida. Langkah 5 merupakan pengulangan langkah 3 sampai 4
terus-menerus.
6) Bila rantai polipeptida dengan ukuran tertentu telah terbentuk yaitu
sekitar 30 asam amino, maka akan dikeluarkan dari bagian bawah

22
subunit besar. Tetapi keluarnya rantai polipeptida ini tidak berarti
berakhirnya pemanjangan. Pemanjangan akan terus berlangsung dengan
mengulang langkah 5 dan 6.
Sebagaimana kita lihat bahwa RNA ada di subunit kecil, ini
menunjukan bahwa tugas subunit kecil adalah mengartikan kode triplet.
Sedang tugas subunit besar adalah mensintesis ikatan peptida.

• Terminasi
Fase terakhir dari translasi adalah terminasi. Terminasi terjadi bila
yang masuk ke tempat A adalah segmen mRNA dengan kodon penutup.
Bila kodon tersebut masuk ke A maka berakhirlah pemanjangan, karena
tidak ada lagi tRNA bermuatan asam amino yang masuk. Tetapi masih ada

23
tRNA yang berada di tempat P, sedang tempat A kosong. Mekanisme
pengakhiran ini dibagi menjadi dua langkah.
1. Kodon stop memberi
tanda GTP-dependent
release factors untuk
beraksi. Dengan aksi
polipeptida ini akan
lepas dari tRNA
terakhir (terminal).
2. Bila polipeptida telah
pisah, maka tRNA
tersebut akan dilepas
dari ribosom, dan
selanjutnya akan
berdesosiasi. Dengan
demikian berakhirlah
translasi.

24
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Ribosom adalah komponen sel yang membuat protein dari semua asam amino.
Ribosom umumnya terdapat terikat ke retikulum endoplasma dan selaput inti,
dan sebagian lainnya terdapat bebas dalam sitoplasma. Ribosom bertindak
sebagai mesin produksi protein dan akibatnya ribosom sangat melimpah pada sel
yang sedang aktif dalam sintesis protein. Sejumlah protein yang dihasilkan,
diangkut ke luar sel. Ribosom eukaryot diproduksi dan dirakit di dalam
nukleolus.

3. Ribosom dibagi menjadi dua subunit, satu lebih besar daripada yang lain.
Mengikat subunit kecil untuk mRNA, sedangkan mengikat subunit yang lebih
besar kepada tRNA dan asam amino.

4. Salah satu sifat struktur dari ribosom adalah yaitu Setiap sub unit dicirikan oleh
koefisiensi sedimentasi yang dinyatakan dalam unit Svedberg (S). Sehingga
koefisien sedimentasi dari prokariot adalah 70S untuk keseluruhan ribosom (50S
untuk sub unit yang besar dan 30S untuk yang kecil). Untuk eukariot adalah 80S
untuk keseluruhan ribosom (60S untuk sub unit besar dan 40S untuk yang kecil).

5. Ribosom berfungsi sebagai tempat sintesis protein dan merupakan contoh organel
yang tidak bermembran. Organel ini terutama disusun oleh asam ribonukleat, dan
terdapat bebas dalam sitoplasma maupun melekat pada RE.

6. Sintesis protein terjadi melalui 2 tahap yaitu transkripsi dan translasi (Inisiasi,
Elogasi dan Elongasi.)

3.2. Saran

Semoga materi ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin

25
DAFTAR PUSTAKA

Al Qadir. 2011. Al Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta : Ilmu Pustaka.


Campbell, Reece, & Mitchell. (2004). Biologi edisi kelima-jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Champe, P.C., Harvey, R.A., Ferrier, D.R., 2005, Biokimia Ulasan Bergambar Edisi 3:
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. pp 508, 528-534

Comarck, David .H. 1994. Histologi Jilid 1 Edisi ke-9. Jakarta : Binarupa Aksara.
Geneser, Finn. 2009. Buku Teks Histologi. Jakarta : Binarupa Aksara.
Irawan, Bambang., 2008, Genetika Molekuler : Airlangga University Press, Surabaya.
pp 70-71, 101-105
Johnson. E, Kurt. 1994. Histologi dan Biologi Sel. Jakarta : Nuha Post.
Lucia, MS. (2006). Buku ajar biologi sel. Palembang: Universitas Sriwijaya.
Murray R. K, Granner D. K, Rodwell V. W. Harper’s Illustrated Biochemistry. 26th
edition [pdf] pp. 359 – 360
Nelson, D.L., Cox, M.M., 2005, Lehninger Principles of Biochemistry 4th Edition[pdf],
pp 1056, 1059-1060, 1062

26

Anda mungkin juga menyukai