Anda di halaman 1dari 6

IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) DALAM PENGOBATAN DIARE

PADA PASIEN ANAK RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


LABUANG BAJI MAKASSAR

Raimundus Chaliks*), St. Ratnah*), Djuniasti Karim*)


*)
Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar

ABSTRAK

Penyakit diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga penyakit potensial KLB yang
sering disertai dengan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kejadian DRPs
dalam pengobatan diare pada pasien anak rawat inap di Rumah Sakit Umum Labuang Baji
Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional.
Pengumpulan data dilaksanakan bulan Juni – Agustus 2017. Jumlah sampel sebanyak 27 lembar
rekam medik pasien anak diare. Analisis data dilakukan secara deskriptik dalam besaran
persentase kejadian DRP berdasarkan kategori.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa kejadian DRP kategori tepat obat sebesar 23,01 %, tepat
dosis (subterapi dan dosis terlalu tinggi) masing-masing sebesar 73,07 % dan 3,84 %, dan tidak
ditemukan DRPs pada kategori duplikasi obat dan interaksi obat. Hasil penelitian ini juga
menemukan obat dengan kelas terapi antibiotik yang paling banyak mengalami DRP (38,45 %),
kemudian zink 34,61 %, disusul kortikosteroid 11,50 %, dan antihistamin 7,66 %. Hasil penelitian
ini menyimpulkan bahwa terjadi DRPs kategori tepat obat dan tepat dosis dengan persentase
terbesar pada obat dengan kelas terapi antibiotik.

Kata kunci : DRP, diare, RSUD Labuang Baji

PENDAHULUAN meliputi pemberian oralit, pemberian obat


Penyakit diare merupakan penyakit zink, pemberian Air Susu Ibu (ASI),
endemis di Indonesia dan juga penyakit pemberian nasehat dan pemberian antibiotik,
potensial KLB yang sering disertai dengan pemberian antibiotik tidak boleh digunakan
kematian (Kemenkes RI, 2015). Berdasarkan secara rutin. Pada penyakit diare infeksi
data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang disebabkan bakteri dan parasit, obat
pada tahun 2007, diare merupakan penyebab yang paling banyak digunakan adalah
kematian tertinggi pada anak umur 1-4 tahun antibiotik. Antibiotik merupakan obat yang
yaitu sebesar 25,2% (Riskesdas RI, 2007). paling banyak diresepkan di dunia, pada
Berdasarkan data Riskesdas pada tahun tahun 2006 WHO melaporkan lebih dari
2013, Insiden dan prevalensi diare untuk seperempat anggaran rumah sakit
seluruh kelompok umur di Indonesia adalah dikeluarkan untuk penggunaan antibiotik
3,5% dan 7,0%. Insiden diare pada (Halawiyah, 2015). Pada pengobatan diare
kelompok usia anak adalah 10,2%. Lima akut infeksi yang disebabkan bakteri dan
provinsi dengan insiden diare tertinggi parasit, penggunaan obat antibiotik yang
adalah Aceh, Papua, DKI Jakarta, Sulawesi tidak sesuai dengan pedoman terapi akan
Selatan, dan Banten (Riskesdas RI, 2013). meningkatkan resistensi bakteri terhadap
Terapi dengan menggunakan obat antibiotik, akan tetapi munculnya resistensi
diare bertujuan untuk meningkatkan kualitas dapat dicegah dengan menggunakan
dan mempertahankan hidup pasien, hal ini antibiotik secara rasional dan terkendali.
dilakukan dengan cara mengobati pasien, Berbagai studi menemukan bahwa sekitar
mengurangi atau meniadakan gejala sakit, 40-62% antibiotik digunakan secara tidak
menghentikan atau memperlambat proses tepat, 30-80% kualitas penggunaan
penyakit serta mencegah penyakit atau antibiotik diberbagai Rumah Sakit
gejalanya. Berdasarkan Kemenkes RI ditemukan tidak berdasarkan pada indikasi
(2011), tatalaksana diare akut pada anak (Permenkes RI, 2011).

Media Farmasi Vol. XIV. No. 1. April 2018 128


Saat pasien menjalani suatu METODE DAN BAHAN
pengobatan, beberapa memperoleh hasil
Penelitian ini adalah penelitian
yang tepat atau berhasil menyembuhkan observasional deskriptif, yaitu penelitian
penyakit yang dideritanya. Namun tidak yang mengidentifikasi DRPs pada
sedikit yang gagal dalam menjalani terapi, penatalaksanaan terapi pasien anak dengan
sehingga mengakibatkan biaya pengobatan diare. Berdasarkan waktu penelitian,
semakin mahal sehingga berujung pada rancangan penelitian ini adalah cross
kematian. Penyimpangan penyimpangan sectional study. Penelitian ini dilaksanakan
dalam terapi tersebut disebut sebagai Drug pada bulan Januari – Oktober 2017 di apotek
Related Problems (DRPs) (Cipolle et al, rawat inap RSUD Labuang Baji Makassar.
1998). Pelaksanaan pengambilan data dilaksanakan
Penelitian yang dilakukan di pada bulan Juli - Agustus- 2017. Sampel
Indonesia salah satunya dilakukan di Rumah dalam penelitian ini adalah semua rekam
medik dan resep pasien anak rawat inap
Sakit Bhayangkara Sulawesi Tenggara tahun
yang terdiagnosa diare di RSUD Makassar
2013 tercatat sebesar 65,8% anak yang selama periode Januari – Juni 2017. Teknik
berjenis kelamin laki-laki menderita diare pengumpulan data menggunakan lembar
dengan mayoritas umur 13-24 bulan pengumpul data. Pengumpulan data secara
(57,44%) yang mengalami DRPs, dan retrospektif (dilakukan satu kali selama
kategori yang dialaminya yaitu, tidak tepat penelitian). Observer mengamati semua data
indikasi (46,2%), dosis obat yang terlalu yang relevan dari rekam medik dan resep
tinggi (19,4%), dan dosis obat terlalu rendah pasien anak rawat inap di poli anak dan di
(9,7%) (La Ode M, 2014). Penelitian serupa apotek rawat inap RSUD Labuang Baji
yang dilakukan di RSUP. H.Adam Malik Makassar selama periode penelitian. Data
Medan pada tahun 2011 menyatakan kemudian dimasukkan ke dalam lembar
kejadian DRPs pada pasien anak diare akut observasi yang telah dibuat unuk penelitian
ini, kemudian dilakukan identifikasi DRPs.
infeksi di instalasi rawat inap sebesar
Data yang telah dikumpulkan selanjutnya
63,83% dengan mayoritas umur 7 bulan-2
diolah dan dianalisis dengan cara
tahun sebesar 55,32%, dan kategori DRPs menghitung jumlah DRPs dari setiap lembar
yang dialami yaitu, obat tanpa Indikasi resep, yang meliputi tepat obat, tepat dosis,
(29,69%), indikasi tanpa obat (17,19 %), duplikasi obat, interaksi obat dan ditentukan
dosis obat kurang (21,88%), dosis obat lebih jumlah dan persentasenya, yang disajikan
(15,63%), dan interaksi obat (15,63%) dalam bentuk tabel dan narasi. Pengolahan
(Erlina, 2013). Penelitian ini bertujuan untuk dan analisis data dilakukan dengan komputer
mengidentifikasi kejadian DRPs dalam menggunakan microsoft exel for windows.
pengobatan diare pada pasien anak rawat Pengolahan dan analisis data dilakukan
inapdi Rumah Sakit Umum Labuang Baji dengan komputer menggunakan microsoft
Makassar. exel for windows.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Penelitian
Dari penelitian yang dilakukan diperoleh data sebagai berikut:
1. Karakteristik Penyakit
Tabel 1. Karakteristik diare Berdasarkan jenisnya pada pasien anak diare usia di RSUD Labuang
Baji Makassar periode Januari – Juni 2017
No. Variabel Jumlah (n=27) Persen (%)
1. Jenis Diare
Diare Akut 27 100
Diare Persisten - -
2. Derajat Dehidrasi
Diare Tanpa Dehidrasi 16 59,25
Diare Dehidrasi 11 40,74

Media Farmasi Vol. XIV. No. 1. April 2018 129


2. Kejadian DRPs pada Pasien Anak Diare di Rumah Sakit Labuang Baji Makassar

Tabel 2. Kejadian DRPs pada terapi diare pasien anak RSUD Labuang Baji Makassar peiode
Januari – Juni 2017

No. Kategori DRPs Jumlah Persen (%)

1 Tidak tepat obat 6 23,01

2 Tidak tepat dosis


Dosis subterapi 19 73,07

Dosis terlalu tinggi 1 3,84

3 Interaksi obat - -

4 Duplikasi obat - -

Jumlah 26 100

Tabel 3. Distribusi kejadian DRPs berdasarkan kelas terapi pada pasien anak diare RSUD Labuang
Baji Makassar peiode Januari – Juni 2017

Kategori Jumlah Persen


Kelas Terapi (%)
DRPs Kejadian (%)
Tidak tepat Kortikosteroid Antihistamin Elektrolit oral
6 23,01
obat 3 (11,50) 2 (7,66) 1 (3,83)
Antibiotik
Dosis Suplemen zink
19 73,07 (Seftriakson) -
subterapi 9 (34,61)
10 (38,45)
Dosis terlalu Suplemen zink
1 3,84 - -
tinggi 1 (3,84)
Interaksi obat - - - - -
Duplikasi
- - - - -
obat

Pembahasan untuk terjangkit penyakit diare (Juffrie,


Hasil penelitian menunjukkan 2011)
bahwa sebagian besar yang mengalami diare Pada usia 6 – 12 bulan, anak sudah
adalah anak berjenis kelamin perempuan mendapatkan makanan tambahan dan
(51,85%). Kelompok umur terbanyak menurut perkembangannya mulai dapat
menderita diare adalah usia < 1 tahun merangkak sehingga kontak langsung
(40,73%), diikuti 1 – 3 tahun (37,03%) dengan kuman dan bakteri bisa saja terjadi,
kemudian > 6 tahun (14,80%) dan paling kontaminasi dari peralatan makan dan atau
sedikit kelompok usia 4 – 5 (7,40%). Hasil intoleransi makanan itu sendiri yang dapat
penelitian ini menunjukkan bahwa menyebabkan tingginya risiko terkena diare.
kebanyakan episode diare terjadi pada tahun Kelompok usia 1 – 3 tahun adalah kelompok
pertama kehidupan. Hal ini dikarenakan anak yang mulai aktif bermain dan rentan
pada masa ini anak mendapatkan makanan terkena infeksi penyakit terutama diare.
pendamping dan mulai aktif bermain. Anak pada kelompok umur ini dapat terkena
Perilaku ini akan meningkatkan risiko anak infeksi bakteri penyebab diare pada saat

Media Farmasi Vol. XIV. No. 1. April 2018 130


bermain di lingkungan yang kotor serta medis cairan yang dapat diberikan adalah
melalui cara hidup yang kurang bersih. Ringer Laktat atau KaEN 3B dengan jumlah
Selain itu hal ini terjadi karena secara cairan dihitung berdasarkan berat badan
fisiologis sistem pencernaan pada anak (Kemenkes, 2011).
belum cukup sempurna sehingga rentan Hasil penelitian menunjukkan
terkena penyakit saluran pencernaan (Juffrie, pasien diare yang diberikan zink ada 17 dari
2011). 27 pasien. WHO dan UNICEF
Hasil penelitian menunjukkan merekomendasikan penggunaan zink karena
seluruh pasien anak mengalami diare akut berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa
(100%). Diare akut yaitu diare yang pengobatan diare dengan pemberian oralit
berlangsung kurang dari 14 hari, sedangkan disertai zink lebih efektif dan berdasarkan
bila lebih dari 14 hari disebut diare persisten. studi WHO selama lebih dari 18 tahun,
Pasien anak diare paling banyak manfaat zink sebagai pengobatan diare
mengalami diare tanpa dehidrasi (59,25%), adalah zink dapat mengurangi prevalensi
namun berbanding sedikit dengan pasien diare sebesar 34%, mengurangi durasi diare
anak diare yang mengalami diare dehidrasi akut sebesar 20% dan durasi diare persisten
(40,74%). Dehidrasi ditandai dengan anak sebesar 24% hingga mengurangi kegagalan
gelisah, rewel, haus dan minum dengan terapi atau kematian akibat diare persisten
lahap, mata cekung, dan turgor menurun, sebesar 42% (Kemenkes, 2011).
jika dehidrasi lebih berat akan ditandai Ada 6 pasien diberi terapi berupa
dengan dua atau lebih dari tanda dan gejala probiotik. Berdasarkan WHO, Probiotik
klinis berupa letargi atau penurunan mungkin bermanfaat untuk AAD (antibiotic
kesadaran, mata cekung, turgor menurun ( > associated diarrhea), tetapi karena
2 detik) dan tidak bisa minum atau malas kurangnya bukti ilmiah dari studi yang
minum. Sedangkan diare tanpa dehidrasi dilakukan pada kelompok masyarakat, maka
merupakan kondisi yang terjadi pada anak WHO belum merekomendasikan probiotik
yang diare, tetapi tidak mempunyai tanda sebagai bagian dari tatalaksana pengobatan
dan gejala akan adanya dehidrasi karena diare. Secara statistik, probiotik memberikan
cairan yang terbuang akibat diare tidak efek signifikan pada AAD tetapi tidak
terlalu banyak atau karena rehidrasi sudah memberikan efek signifikan untuk
mengimbangi hilangnya cairan. traveller’s diare dan juga tidak memberikan
Dehidrasi memicu gangguan efek signifikan pada community-based
kesehatan, mulai dari gangguan ringan diarrhea. Harus diperhitungkan juga biaya
seperti mudah mengantuk, hingga penyakit dalam pemberian pengobatan tambahan
berat seperti penurunan fungsi ginjal.Pada probiotik (Kemenkes, 2011).
awalnya anak akan merasa haus karena telah Antibiotik hanya diberikan jika ada
terjadi dehidrasi ringan. Bila tidak ditolong, indikasi, seperti disentri (diare berdarah)
dehidrasi tambah berat dan timbullah gejala– atau diare karena kolera, atau diare dengan
gejala diare. Oleh karena itu, pengobatan disertai penyakit lain. Selain bahaya
awal untuk mencegah dan mengatasi resistensi kuman, pemberian antibiotik yang
keadaan dehidrasi sangat penting pada anak tidak tepat bisa membunuh flora normal
dengan diare. Pemberian cairan yang tepat yang justru dibutuhkan tubuh. Efek samping
dengan jumlah yang memadai merupakan dari penggunaan antibiotik yang tidak
modal yang utama mencegah dehidrasi. rasional adalah timbulnya gangguan fungsi
Cairan harus diberikan sedikit demi sedikit ginjal, hati dan diare yang disebabkan oleh
dengan frekuensi sesering mungkin. antibiotik. Hal ini juga akan mengeluarkan
Pada diare dehidrasi, rehidrasi biaya pengobatan yang seharusnya tidak
parenteral (intravena) diberikan bila anak diperlukan (Kemenkes, 2011). Hasil
muntah setiap diberi minum walaupun telah penelitian menunjukkan jenis antibiotik yang
diberikan dengan cara sedikit demi sedikit ditujukan untuk terapi diare yaitu paling
atau melalui pipa nasogastrik. Hasil banyak diberikan seftriakson.
penelitian menunjukkan, cairan rehidrasi Demam pada anak dengan diare
intravena yang paling banyak diberikan dapat disebabkan oleh infeksilain (misalnya
adalah Asering (62,96%) dan KaEN 3B ½ pneumonia, bakteremia, saluran kemih
(29,62%). Berdasarkan pedoman pelayanan infeksi atauotitis media). Anak-anak juga

Media Farmasi Vol. XIV. No. 1. April 2018 131


mungkin mengalami demam berdasarkan mencegah terjadinya resistensi bakteri.
dehidrasi. Kehadiran demam menunjukkan Pemberian zink yang underdose pada kasus
harus segera mencari infeksi lain. Hal ini ini ditemukan pada pasien dengan usia ≥ 6
terutama penting ketika demam berlanjut bulan yang mendapat zink dengan dosis 1 x
setelah anak sepenuhnya direhidrasi. Anak- 10 mg. Selain itu DRP dengan kategori tepat
anak dengan demam tinggi (39°C atau lebih) dosis juga ditemukan pada penggunaan zink
harus segera diobati untuk menurunkan yang overdose pada 1 pasien, yaitu pasien <
suhu. Ini adalah yang terbaik dilakukan 6 bulan mendapat zink dengan dosis 1 x 20
dengan mengobati infeksi dengan antibiotik mg. Zink diberikan 10 hari berturut–turut,
yang tepat serta antipiretik mengurangi untuk balita umur < 6 bulan diberikan 10
demam juga meningkatkan nafsu makan dan mg/hari, sedangkan untuk balita umur ≥ 6
mengurangi iritasi. Parasetamol dapat bulan diberikan 1 tablet 20 mg/hari (Depkes
diberikan untuk menurunkan demam (WHO, RI 2011 ; WHO 2011). Pada penelitian ini
2005). pula ditemukan penggunaan kortikosteroid
Hasil penelitian menunjukkan tanpa indikasi yang jelas. Penggunaan
bahwa terjadi DRP pada kategori tepat obat kortikosteroid pada anak hendaknya
dimana terdapat 10 pasien atau 38,45 % dipertimbangkan dengan benar, mengingat
mendapatkan antibiotik seftriakson dan 9 efek samping yang dapat terjadi. Selanjutnya
pasien atau 34,61 % mendapatkan suplemen pada penelitian ini tidak ditemukan adanya
zink dengan dosis underdose (dosis kejadian interaksi obat dan duplikasi obat.
subterapi). British National Formulary for
Children (2016) merekomendasikan PENUTUP
seftriakson diberikan pada anak yang berusia Kesimpulan
sekitar 12 bulan dengan dosis 450 mg per 24 Hasil penelitian ini menyimpulkan
jam, namun yang ditemukan yakni bahwa terjadi DRPs kategori tepat obat dan
penggunaan seftriakson dengan dosis 150 tepat dosis dengan persentase terbesar pada
mg per 12 jam. Antibiotik seharusnya obat dengan kelas terapi antibiotik.
diberikan dengan dosis yang tepat untuk

DAFTAR PUSTAKA British National Formulary for Children.


2016. (bnfc.org). England
Cipolle, R.J., Strand, L.M., Morley, P.C. RSUP H. Adam Malik Medan.
2004. Pharmaceutical Care Skripsi
Practice:
Drug Interaction Checker, Medscape
The Clinician’s Guid. Edisi ke-2.
New York: McGraw-Hill. Diunduh Hassan, R., dan Alatas H. 2005.
dari Gastroenterologi. Ilmu Kesehatan
http://www.ebooks.downappz.com/ Anak.
?page=book&id=E2CGKZR7P6#d Jakarta: Infomedika. Halaman 283-
ownload. Diakses tanggal 25 284.
Agustus 2016.
Kemenkes RI. 2011. Situasi DIARE di
Depkes RI. 2011. Buku Saku Petugas Indonesia. Buletin Jendela Data dan
Kesehatan Lintas Diare. Jakarta: Informasi Kesehatan. 2(2): 1-6.
Depkes RI. Halaman 14, 18-20.
Kemenkes RI. 2011. Buku Saku Petugas
Dipiro, J.T., Robert, L.T., Gary, C.Y., Gary, Kesehatan LINTAS DIARE.
R.M., Barbara, G.W., and L., Jakarta:
Michael P..2016. Depkes RI. Halaman 14, 18-20.
Pharmacotherapy Principles & Practice, 9 th Kemenkes RI. 2011. Situasi DIARE di
edition, Mc Graw Hill. Indonesia. Buletin Jendela Data dan
Informasi Kesehatan. 2(2): 1-6.
Erlina, U. 2011. Identifikasi Drug Related
Problems (DRPs) Pada Pasien Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). 2013.
Anak Diare Di Instalasi Rawat Inap Badan Penelitian dan
Pengembangan

Media Farmasi Vol. XIV. No. 1. April 2018 132


Kesehatan Kementerian RI tahun WHO. 2005. The Treatment of Diarrhoea: A
2013.Diakses: 25 Agustus 2016, Manual for Phycisians and other
dari seniors health workers.
Switherland: WHO. Halaman 4-15.
http://www.depkes.go.id/resources/downloa
Diunduh
d/general/Hasil%20Riskesdas%202
dari:http://www.who.int/maternal_c
013.pdf.
hild_adolescent/documents/924159
Strand, L.M., Morley P.C., Cipolle, R.J., dan 180/en/index.html. Diakses tanggal
Ramsey, R. 1990. DICP. 8 Oktober 2017.
DrugRelated Problems: Their
World Health Organization. 2011. Zinc
Structure and Function. 24(11):
supplementation in the
1093-1097.
management of diarrhoea,
SDGs (Sustainable Development Goals). http://www.who.int/elena/titles/zinc
2016. _diarrhoea/en/, diakses pada
26Oktober 2017.
Suharyono. 2008. Diare Akut: Klinik dan
Laboratorik. Edisi Baru. Jakarta: Williams DJP. 2007. Medication errors.
Rineka Cipta. Halaman 63-68. Journal of the Royal College of
Physicians Edinburgh, 37 , 343 –6.
Suraatmaja, S. 2010. Gastroenterologi Anak.
Jakarta: Sagung Seto. Halaman Zandieh SO, Goldmann DA, Keohane CA,
1-15. Yoon C, Bates DW, Kaushal
R.2008. Risk factors in preventable
Tatro, DS, 2015, Drug Interaction Fact. 1st,
adverse drug events in pediatric
Facts and Comparisons. 2008.
outpatients. J Pediatr. 152(2):225-
Taketomo CK. 2016. Pediatric and Neonatal 31.
Dosage Handbook, 22th ed,
Lexicomp.

Media Farmasi Vol. XIV. No. 1. April 2018 133