Anda di halaman 1dari 11

TUGAS KEPERAWATAN ANAK

SELF DORECTED LEARNING (SDL)


PADA PASIEN KDS (KEJANG DEMAM SEDERHANA)

DISUSUN OLEH :

MUHAMMAD BURHANUL FIRDAUS

NIM: 20901800062

PRODI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNGSEMARANG

2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah Kejang demam merupakan gangguan neurologis yang paling sering dijumpai
pada anak, terutama pada golongan umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3% dari pada anak
yang berumur dibawah 5 tahun pernah menderita kejang demam (Abdurachman dkk, 2005).
Di Amerika Serikat dan Eropa prevalensi kejangdemam berkisar 2%-5%. Di Asia
prevalensi kejangdemam meningkat dua kali lipat bila dibandingkan di Eropa dan di
Amerika. Di Jepang kejadian kejang demam berkisar 8,3% - 9,9%.9,10 Bahkan di Guam
insiden kejang demam mencapai 14%.
Penelitian insiden kejang demam yang pernah dilakukan dibeberapa negara
menyatakan hampir sebagian besar balita pernah mengalami kejang demam, antara lain ;
Inggris, penelitian pada tahun 1970 hingga 1975 mendapatkan prevalensi kejang demam
sebesar 2, 3%. Jepang, Tsuboi pada tahun 1974-1980 mendapatkan prevalensi kejang demam
yang lebih tinggi yaitu sebesar 8, 3%, di India sekitar 5-10%, di Jepang sekitar 8, 8%, di
Guam sekitar 14%, di Hongkong sekitar 0, 35%, dan di China sekitar 0,5 - 1,5% (Netsains,
2009).
Kejang demam ditandai dengan wajah yang membiru, lengan dan kakinya tersentak-
sentak selama beberapa waktu. Gejala ini hanya berlangsung beberapa detik, tetapi akibat
yang ditimbulkannya dapat membahayakan keselamatan anak balita. Akibat langsung yang
timbul apabila terjadi kejang demam adalah gerakan mulut dan lidah yang tidak terkontrol,
lidah dapat seketika tergigit atau berbalik arah lalu menyumbat saluran pernapasan. Akibat
lainnya, anak balita mengalami penundaan pertumbuhan jaringan otak. Penundaan
pertumbuhan jaringan otak ini dapat menyebabkan anak balita menjadi idiot atau memiliki
tingkat kecerdasan jauh di bawah rata-rata, kondisi ini amat menyulitkannya ketika sudah
beranjak dewasa dan dapat menjadi beban terus-menerus bagi orang tuanya (Widjaja, M. C,
2003).
Kejang demam dibagi dua yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam
kompleks. Kejang demam kompleks adalah kejang demam dengan lamanya lebih dari 15
menit, kejang fokal / parsial atau fokal / persial menjadi umumdan berulang dalam 24 jam.
Kejang demam sederhana merupakan kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari
15 menit, umumnya berhenti sendiri, bentuk kejang umum tonik dan atau klonik, tanpa
gerakan fokal. Kejang demam sederhana merupakan 80% diantara seluruh kejang demam
11.Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang berulang
lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan kejang anak tidak sadar. Kejang lama terjadipada 8%
kejang demam. Kejang fokal adalah kejang parsialsatu sisi atau kejang umum yang didahului
kejang parsial . Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, diantara 2
bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada 16 % diantara anak yang
mengalami kejang demam10.
Kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai terjadinya
apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya
terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anaerob,
hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin
meningkatkan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian
diatas faktor penyebab terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejang lama.
Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga
meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel
neuron otak sehingga kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan
anatomis di otak hingga terjadi epilepsi (Abdurachman dkk, 2005). Kejadian epilepsi
diperkirakan 3 hingga 6 % terjadi pada anak-anak yang mengalami kejang demam. Kejang
demam kompleks dan kelainan struktur otak berkaitan dengan peningkatan resiko terjadinya
epilepsi (Schwartz, William, 2005).
Penangan yang tepat pada kejadian kejang demam merupakan kunci pencegah
keadaan yang lebih membahayakan. salah satunya adalah dengan pemberian asuhan
keperawatan pada pasien KDS karena cenderung mengakibatkan terjadinya kejang dan
demam tinggi, yang dimana keadaan tersebut dapat mengancam nyawa anak. Sehingga
pemberian asuhan keperawatan yang cepat, tepat dan efisien dapat membantu menekan angka
kejadian dan kematian pada pasien KDS ( kejang Demam Sementara).

B. Masalah

Pada anak dengan kejang demam sementara terjadi peningkatan suhu tubuh sehingga
akan menyebabkan anak kejang berulang apabila penanganan anak tidak dilakukan secara
sempurna. Sehingga di perlukan tindakan asuhan keperawatan untuk menurunkan suhu tubuh
yang tinggi agar tidak terjadi kejang demam komplek.
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Mahasiswa mengetahui penerapan asuhan keperawatan pada An. R dengan kejang
demam sederhana di Ruang Baitunnisa 1 RSI Sultan Agung Semarang.
2. Tujuan khusus
Mahasiswa mengetahui dan mampu :
a. Melakukan pengkajian An.R dengan kejang demam di Ruang Baitunnisa 1
RSI Sultan Agung Semarang.
b. Merumuskan dan menegakan diagnosa keperawatan pada An. R dengan
kejang demam di Ruang Baitunnisa 1 RSI Sultan Agung Semarang.
c. Menyusun intervensi keperawatan pada An. R dengan kejang demam di Ruang
Baitunnisa 1 RSI Sultan Agung Semarang.
d. Melaksanakan implementasi keperawatan pada An.R dengan kejang demam di
Ruang Baitunnisa 1 RSI Sultan Agung Semarang
e. Melaksanakan evaluasi pada An.R dengan gangguan kejang demam.
BAB II

WOC KEJANG DEMAM SEDERHANA


DEFINISI: Kejang
PEMERIKSAAN
demam sederhana adalah
PENUNJANG:
ETIOLOGI Bangkitan kejang yang
Pemeriksaan laboratorium terjadi pada kenaikan suhu
38oC yang disebabkan
Pungsi lumbal Infeksi jhfgjcgsRangsang mekanik dan oleh proses ekstrakranium
Rangsang mekanik dan biokimia.
bakteri biokimia. dan biasanya terjdi pada
Elektroensefalografi (
virus dan Gangguan keseimbangan cairan usia 3 bulan -5 tahun.
EEG )
parasit Gangguan keseimbangan cairan Dengan ciri klinis lama
Pencitraan ( CT-s can kejang <15 menit, kejang
atau MRI kepala ) umum tonik dan atau kloni,
Perubahan
Reaksi infla umumnya berhenti sendiri
konsentrasi ion di serta tanpa gerakan fokal
masi
ruang ekstraseluler atau berulang 24 jam
Intervesi: setelah
dilakukan tindakan
3x24 jam diharapkan Proses Ketidak seibangan potensial Kelainan neurologis
demam membran ATP ASE prenatal
demam menurun
dengan kriteria hasil
- suhu tubuh dalam HIPERTERM Difusi NA+ dan K+
rentang normal IA Kasus
- tidak ada perubahan Resiko kejang
warna kulit Evaluasi: An. R
berulang Kejang demam
sesederhana S:- Umur: 1 bulan 14
hari
O: Pasien tampak
Pengobatan perawatan kondisi, Kurang dari 15 mnit Diagnosa medis:
tidak pucat, suhu
prognosis, lanjut dan diet Kjang demam
36,5 C
sederhana
Tidak menimbulkan A: Masalah
Kurang informasi, kondisi Hipertermi teratasi Diagnose
gejala sisa
pengobatan dan perawatan Keperawatan :
P: Hentikan Hipotermi
intervensi
PLANNING: PLANNING:
KURANG
Memonitor suhu PENGETAHUAN Kaji pengetahuan
tubuh setiap 3 kluarga tentang
Pemberian kompres hangat di axilla dapat
jam sekali proses penyakit
INTERVENSI menurunkan suhu tubuh anak sebesar
Jelaskan tentang 0.620°C. Hal ini sangat bermanfaat sekali
Tingkatkan letak dikarenakan pada usia tersebut sistem
Setelah dilakukan ptofisiologi penyakit
cairan dan nutrisi termogulasi belum matang dan ada
tindakan 3x24 jam serta penanganan
anak kecenderungan untuk mengarah pada kejang
diharapkan keluarga
demam. Pemberian kompres hangat pada
Kompres dengan dapat memahami Identifikasi penyebab
area permukaan tubuh akan memberikan
air hangat penyakit anaknya penyakit sinyal ke hipotalamus. Ketika reseptor yang
dengan kriteria hasil Pemberian penkes peka terhadap panas di hipotalamus
Anjurkan terangsang, selanjutnya sistem effektor
keluarga untuk - Mengetahui mengeluarkan sinyal yang memulai
menggunakan penyakit yg dialami pengeluaran keringat dan vasodilatasi perifer.
baju tipis Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan
- Mengetahui pembuangan atau kehilangan energi/ panas
Memerikan obat pennganan penyakit melalui keringat. Hal ini selanjutnya akan
sesuai atvis menyebabkan penurunan suhu tubuh.
BAB III
RESUME KASUS

Seorang anak dengan usia 1 bulan 17 hari dirawat di ruang baitunnisa 1 RSI
RSI Sultan Agung dengan diagnosa medis KDS ( Kejang Demam Sederhana). Pasien
dibawa kerumah sakit karena demam pada malam hari dan tiba-tiba pasien mengalami
kejang dengan tangan menggenggam dan matanya membuka menutup sebanyak
beberapa kali, sebelumnya pasien di bawa ke bidan dan akhirnya di rujuk ke rumah
sakit islam sultan agung. BB: 4,5 kg, TB: 62 cm, hasil laboratorium Hb: 10,6, Ht:
32,9, Leucosit: 6160 Trombosit: 360 ribu, pada pemeriksaan fisik pasien RR: 31x/mnt
N: 163x/mnt S: 38 c, pasien tampak rewel
BAB VI
PEMBAHASAN

Pemberian kompres hangat pada daerah axilla dapat menurunkan suhu tubuh
lebih besar dibandingkan dengan pemberian kompres hangat di frontal. Hal ini terjadi
karena di daerah axilla terdapat banyak pembuluh darah yang akan mengalami
vasodilatasi. Vasodilatasi yang kuat pada kulit memungkinkan percepatan
perpindahan panas dari tubuh ke kulit sebanyak delapan kali lipat. Kompres yang
dilakukan pada daerah axilla lebih efektif dibandingkankompres di daerah dahi karena
pada daerah axilla banyak terdapat pembuluh darah besar dan kelenjar keringat
apokrin (Rahma, 2013 ). Pemberian kompres hangat di frontal dapat menurunkan
suhu tubuh akan menstimulasi hipotalamus yang merupakan pusat regulasi suhu
tubuh sehingga akan terjadi penurunan suhu tubuh (RCN, 2008). Pengompresan di
dahi lebih dimaksud untuk mengurangi stres dari pada menurunkan demam anak
(Widjaja, 2001). Sedangkan kompres pada daerah kepala tidak efektif karena
terhalang tulang tengkorak (RCN, 2008). Simon, dkk. (2006) mengatakan bahwa
pemberian kompres hangat dapat meningkatkan kenyamanan dan menurunkan suhu
tubuh.

Pada intervensi yang sudah dilakukan yaitu kompres hangat pada axilla
menunjukaan penurunan suhu 0.62°C, pemberian kompres hangat ini diberikan dalam
waktu 7 menit, di berikan setiap hari selama 3x24 jam. Dan setiap harinya terdapat
penurunan suhu tubuh. Ketika suhu tubuh di bawah normal intervensi kompres hangat
tidak dilakukan, karena bayi akan menggigil dan pucat. Penelitian yang dilakukan
oleh Thompson (2009) yang membandingkan intervensi tepid sponge dengan
pemberian parasetamol menunjukkan bahwa pada pasien yang mendapat tepid sponge
terjadi penurunan suhu sebesar 0.78ºC pada 30 menit pertama setelah mendapatkan
tepid sponge. Hasil penurunan suhu pada penelitian ini lebih kecil dari penelitian yang
dilakukan oleh Thompson (2009). Tindakan yang dilakukan adalah tepid sponge pada
seluruh area tubuh. Tepid sponge menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah dan
mempercepat pertukaran panas (heat exchange) antara tubuh denganlingkungan, serta
menurunkan suhu tubuh perifer. Tepid sponge bermanfaat untuk menurunkan suhu
tubuh pada 15–30 menit pertama setelah intervensi dan hal tersebut berguna untuk
mencegah terjadinya kejang pada anak.
Pada penelitian yang dilakukan Thompson (2009) intervensi sponging
dilakukan dengan sponge/ washlap yang telah dibasahi oleh air hangat mulai dari
muka, leher, lengan, dan tangan (dimulai dari area akromion, jari-jari sampai axilla)
pada kedua tangan, kemudian washlap hangat diselipkan pada axilla selama satu
menit, setelah itu lakukan sponging pada kaki mulai dari bagian lateral lipat paha
kemudian ke arah lipat paha, washlap hangat kemudian dibiarkan pada lipatan paha
selama satu menit. Abdomen dan punggung juga diberikan washlap hangat. Setelah
semua prosedur tepid sponge selesai, kemudian seluruh tubuh pasien dikeringkan
dengan handuk kering dan dipakaikan baju yang nyaman. Oleh karena itu hasil
penelitian Thompson (2009) ini memberikan penurunan suhu tubuh yang lebih besar,
intervensi yang dilakukan dengan kompres hangat hanya dilakukan di axilla, sehingga
penurunan suhu tubuh yang didapatkan lebih kecil daripada penelitian yang dilakukan
oleh Thompson (2009).
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
An. R dengan suhu tubuh 38 C yang menunjukan An.R mengalami Hipertermi.
Ketika suhu tubuh berkisar diatas normal maka An. R akan diberikan intervensi
kompres hangat karena jika tidak ditangani akan menyebabkan anak kejang kembali.
Lampiran jurnal utama
Daftar pustaka

Abdurrahman,( 2005). Kejang pada anak : PT. Citra Aditya Bakti.


Knudsen FU. Febrile seizures: treatment and prognosis. Epilepsia 2000;41: 2-9.

Rahmawati. (2013).Perbedaan Penurunan Suhu Tubuh pada Anak Demam dengan


Bronchopneumonia. Volume 1 Nomor 3 Desember. Diunduh pada 27 Maret 2019
Simon, A., Fleischack, G., & Hartman, C. (2006). Meropenem versus ceftazidime as
emphirical monotherapy in febrile neutropenia of pediatric patients with cancer. J
Antimicrob Chemother, 47, 841–853

Thompson, J. (2009). Fever: A concept analysis. J Adv Nurs, 2(4), 10–15. doi: 10.111/j.1365-
2648.2005.0.520.x
Widjaja, M., C. (2001). Mencegah dan mengatasi demam pada balita.Jakarta: Kawan
Pustaka
Widodo DP. Kejang pada anak. Dalam : Ramli M, Umbas R. kedaruratan non bedah dan
bedah. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2002. h. 106-17.

Widodo DP. Konsensus tatalaksana kejang demam. Dalam Gunardi H, Tehuteru ES, Kurniati
N, Advani N, Setyanto Db, Wulandari HF, et al, Penyunting. Kumpulan tips
pediatri. Jakarta : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2011. h. 193-203.