Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kondisi sehat merupakan suatu hal yang mendasari didalam kehidupan

manusia. Transisi epidemiologi penyakit saat ini dan masa yang akan datang di

masyarakat cenderung beralih dari penyakit menular ke penyakit tidak

menular.1

Salah satu masalah kesehatan yang menjadi permasalahan saat ini

adalah penyakit tidak menular yaitu kejadian diabetes mellitus di Indonesia.

Menurut Perkumpulan Endokrinologi Indonesia menjelaskan bahwa, penyakit

tidak menular merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia,

sedangkan penyakit menular juga belum tuntas.2 Sementara, banyak dijumpai

penyakit infeksi baru dan timbulnya kembali penyakit infeksi yang sudah

lama, sehingga Indonesia mempunyai tekanan kesehatan ganda

Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang memberikan petunjuk yang

perlu kita laksanakan dalam kaitannya dengan pemeliharaan dan pengobatan

kesehatan diantaranya ialah : Surat .Al-A`raf ayat 31 :

‫ل ُّميفح ب‬
‫ب ُّايلمميشفرفيينن‬ ‫ ُّفإننمه ُّ ن‬.‫مكلميوا ُّنوايشنرمبيوا ُّنولنتميسفرفميوا‬.

1
Agista Delima Permadani, 2017, Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Ulkus Kaki Diabetik
Dengan Pencegahan Terjadinya Ulkus Kaki Diabetik Pada Pasien Diabetes Melitus Di Persadia
Rumah Sakit Dokter Soeradji Tirtonegoro Klaten, Naskah Publikasi, Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2
2
PERKENI, 2015, Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia, Jakarta :
PERKENI

1
2

Artinya : “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangyang berlebih-lebihan”.3

Penyakit DM banyak dikenal orang sebagai penyakit yang erat kaitannya

dengan asupan makanan. Asupan makanan seperti karbohidrat/ gula, protein,

lemak, dan energi yang berlebihan dapat menjadi faktor resiko awal kejadian

DM. Semakin berlebihan asupan makanan maka semakin besar pula

kemungkinan akan menyebabkan DM. Karbohidrat akan dicerna dan diserap

dalam bentuk monosakarida, terutama gula. Penyerapan gula menyebabkan

peningkatan kadar gula darah dan mendorong peningkatan sekresi hormon

insulin untuk mengontrol kadar gula darah.4

Prevalensi DM di dunia semakin meningkat, menurut World Health

Organization (2016), penderita yang mengalami Diabetes Melitus (DM) di

tahun 2014 mencapai 422 juta orang. Sebesar 175 juta diantaranya belum

terdiagnosis sehingga terancam akan mengalami perkembangan yang buruk

dan beresiko mengalami komplikasi yang tanpa disadari oleh penderita.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Tahun 2017

memperkirakan terdapat 30,2 juta orang Amerika Serikat menderita diabetes.

Sebanyak 7,2 juta orang tidak mengetahui atau tidak melaporkan menderita

diabetes melitus. Ada sekitar 79.535 orang meninggal akibat penyakit diabetes

dan 245 miliar dolar Amerika dikeluarkan untuk setiap pengobatannya.5

3
QS Al-A’raf:31
4
Susanti, 2018, Hubungan Pola Makan Dengan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes
Mellitus : Jurnal Kesehatan Vokasional, no. 1, vol. 3,(Mei), 30
5
CDC, 2017, National Diabetes Statistics Report 2017: Estimates of Diabetes and Its Burden in
the United States. United States: CDC
3

Menurut data Kemenkes hasil dari Riskesdas 2018, Provinsi Jawa

Timur memiliki angka sebesar 2,5% dari total penduduk Jawa Timur. Hal itu

berarti ada sekitar 605.974 orang yang didiagnosa menderita Diabetes

Mellitus.6

Untuk Kabupaten Bondowoso angka menderita Diabetes Mellitus

pada tahun 2017 adalah sebesar 8.280 orang meningkat menjadi 13.173 orang

pada tahun 2018. Puskesmas Tamanan yang berada pada Kecamatan Tamanan

merupakan salah satu dari 25 Kecamatan di Kabupaten Bondowoso dengan

jumlah kasus Diabetes Mellitus tahun 2017 sebanyak 516 penderita, pada tahun

2018 meningkat menjadi 876 orang.7

DM dibagi menjadi dua kategori, yaitu DM tipe I yang ditandai dengan

kurangnya produksi insulin, dan Diabetes Melitus Tipe II atau yang disebut

Non Insulin Dependent Diabetes (NIDDM) atau diabetes melitus yang tidak

tergantung pada insulin yang disebabkan oleh kegagalan relative sel beta dan

resistensi insulin, DM tipe II adalah yang terbanyak yaitu sekitar 90-95%.8

DM dapat disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah faktor

keturunan/genetik, autoimun, perubahan gaya hidup, obesitas, pola makan,

kurangnya aktifitas fisik, proses menua, perokok dan stress. Perubahan gaya

hidup, obesitas, pola makan, kurangnya aktifitas fisik, menua, perokok dan

stress merupakan faktor yang menyebabkan tingginya angka kejadian DM.9

6
Kementrian Kesehatan. 2018. Infodatin: Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan.
Jakarta: Kementrian Kesehatan.
7
Dinas Kesehatan Bondowoso,2018, “Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso tahun
2018”. Bondowoso: Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso
8
Padila (2012) dalam Rizki Maulia Indriyani, 2018 Terapi Relaksasi Teknik Nafas Dalam (Deep
Breathing) Dalam Menurunkan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II : Jurnal
Profesi Keperawatan, no. 2,vol. 4 (2018), 60.
9
Habbiburrahman, 2017, Efektifitas terapi dzikir terhadap kadar gula darah pasien DM tipeII :
Jurnal Ners Indonesia,vol. 8
4

Meningkatnya prevalensi kejadian DM di antaranya disebabkan karena

manajemen glukosa darah yang tidak teratur dengan baik menyebabkan

komplikasi pada sistem vaskular dan sistem saraf, dan akan berdampak pada

gangguan fungsi tubuh. Hal tersebut disebabkan karena ketidak pedulian

individu terhadap gaya hidup dan mengabaikan pentingnya diet yang sehat dan

tidak menjaga kesehatan tubuh dengan melakukan aktifitas.10

Pola hidup yang tidak sehat menjadi faktor penyebab timbulnya

berbagai penyakit, tidak terkecuali pola makan yang tidak seimbang,

kandungan zat-zat kimia seperti Monosodium Glutamat (MSG) pada makanan

olahan mengakibatkan munculnya penyakit yang mengancam nyawa

seseorang. Hal ini akan berdampak terhadap kualitas hidup pasien. Penurunan

kualitas hidup mempengaruhi umur harapan hidup pasien DM dan secara

signifikan dapat mempengaruhi terhadap peningkatan angka kematian.11

Selain jumlah yang terus bertambah, DM juga diketahui banyak

menimbulkan komplikasi yang dibagi menjadi dua yaitu komplikasi akut dan

komplikasi kronis. Komplikasi akut meliputi ketoasidosis diabetik,

hiperosmolar non ketotik, dan hipoglikemia.12 Menurut Perkeni yang termasuk

komplikasi kronik adalah makroangiopati, mikroangiopati dan neuropati.

Neuropati adalah gangguan pada sistem saraf pada kaki dan alirah darah

perifer, merupakan pintu awal terjadinya kaki diabetik (diabetic foot).13

10
Jackson, 2005 dalam Heny Siswanti, Tri Kurniati, Nana Supriyatna, 2017, Perbandingan
Pengaruh Kombinasi Senam DM Dan Slow Deep Breathing (SDB) Dengan Kombinasi Senam Dm
Dan Progressive Muscle Relaxation (PMR) Terhadap Kadar Glukosa Darah (KGD) Pada Klien
DM Type 2 Di Puskesmas Welahan I Kabupaten Jepara Jawa Tengah, Tahun 2016 : Indonesia
Jurnal Perawat, no. I, vol. 2 (2017), 15.
11
Handono Fatkhur Rahman, 2017, Efikasi Diri, Kepatuhan, dan Kualitas Hidup Pasien Diabetes
Melitus Tipe 2 : e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 5, no. 1, (Januari),108
12
PERKENI, 2015,
13
Citra Windani Mambang Sari, 2016, Pengaruh Program Edukasi Perawatan Kaki Berbasis
Keluarga terhadap Perilaku Perawatan Kaki pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 : JKP, Vol. 4,
no. 2, (Desember), 306
5

Riskesdas (2018) menambahkan bahwa peningkatan tersebut terjadi

sesuai dengan bertambahnya umur, namun mulai umur >_65 tahun cenderung

menurun, cenderung lebih tinggi pada perempuan daripada laki-laki, dan lebih

tinggi di perkotaan daripada di perdesaan. Federasi Diabetes Internasional

menyatakan insiden tersebut secara tidak langsung meningkatkan prevalensi

luka diabetes 1-4 % pada pasien DM.14

Peningkatan kejadian luka DM disebabkan oleh penanganan diabetes

yang tidak baik, dimana beresiko terjadinya kerusakan syaraf, yang menuju

pada kerusakan aliran darah dan menyebabkan mati rasa pada kaki. Bagi

penderita yang sudah lama mengidap diabetes, memiliki kecendrungan

masalah sirkulasi yang lebih serius karena kerusakan aliran darah yang melalui

arteri kecil. Hal ini menambah kerentanan terhadap luka-luka di kaki yang

memerlukan waktu lama untuk disembuhkan dan bahaya infeksi.15

Luka diabetes merupakan komplikasi diabetes yang membutuhkan

perawatan optimal di rumah sakit akibat ulkus, infeksi dan gangren yang

menyebabkan beban biaya yang berat bagi pasien dan keluarga, serta pasien

dapat mengalami amputasi16 menambahkan bahwa kejadian 15% pada

penderita diabetes menyebabkan ulkus kaki dan 12-24% penderita diabetes

dengan ulkus pada kaki berakhir dengan amputasi. Luka di kaki (ulkus

diabetik) termasuk masalah yang umum dan merupakan komplikasi serius

yang terjadi pada pasien DM. Selain komplikasi yang terjadi pada ginjal, mata

dan kardiovaskular.

14
Kementrian Kesehatan. 2018. Infodatin: Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan.
Jakarta: Kementrian Kesehatan
15
Misnadiarly, 2006,. Diabetes Mellitus: Gangren, Ulcer, Infeksi. Mengenal Gejala,
Menanggulangi dan Mencegah Komplikasi. Jakarta: Pustaka Populer Obor.
16
Kruse, I. and Edelman, S, 2006, "Evaluation and Treatment of Diabetic Foot Ulcers."
ClinicalDiabetes XXIV, no. 2, p. 91-93.
6

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kaki diabetik adalah

neuropati perifer, kelainan vaskuler, kontrol gula darah yang buruk, trauma

berulang, dan kelainan struktur anatomi kaki.17 Adanya neuropati perifer dan

angiopati perifer, maka trauma ringan pun dapat menyebabkan ulkus pada

pasien Diabetes Melitus. Ketidaktahuan klien dan keluarga menambah ulkus

bertambah parah dan dapat menjadi gangren.18

Penanganan ulkus diabetik masih menemui banyak kendala, baik dari

tingkat keberhasilan maupun biaya. Bahkan, sebagian gangren mengalami

kekambuhan. Maka dari itu, strategi terbaik pengelolaan kaki diabetik adalah

melakukan pencegahan. Salah satu upaya pencegahan kaki diabetik adalah

perawatan kaki secara reguler Perawatan kaki secara reguler dinilai mudah

dan bisa dilakukan oleh pasien secara mandiri. Meski demikian, banyak pasien

yang tidak menjalankan perawatan kaki yang diharapkan. Dari dua studi

perilaku perawatan kaki dievaluasi hanya komponen perawatan kaki dalam

hal memilih alas kaki yang tepat, memeriksa kondisi kaki, dan kulit pelembab

kaki.

Dalam melakukan pengendalian kadar gula darah pada pasien diabetes

melitus, dilakukan terapi yang dikenal dengan empat pilar yaitu

penyuluhan/edukasi, diet Diabetes Mellitus, latihan fisik (olahraga), dan

pengobatan.19

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Khamseh, Vatankhah dan

Baradaran, mengungkapkan bahwa kurangnya pengetahuan pasien tentang


17
Adhiarta.,2011, Penatalaksanaan Kaki Diabetik. Artikel dalam Forum Diabetes Nasional V.
Diterbitkan oleh Pusat Informasi Ilmiah Departemen Ilmu Penyakit Dalam. Bandung : FK UNPAD
18
Waspadji,2007, Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta: IPD FKUI.
19
Hasdianah (2012) dalam Dian Riskianah,2016, Upaya Penurunan Kadar Gula Darah Dengan
Penerapan Relaksasi Otot Progresif Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe Ii Di Rsud Dr. H
Soewondo Kendal : Jurnal, (2016), 1
7

perawatan kaki menjadi salah satu hambatan bagi pasien dalam melaksanakan

perawatan kaki. Berdasarkan hasil penelitian diatas, program edukasi

perawatan kaki sangat penting dilakukan untuk memperbaiki

pengetahuan dan perilaku perawatan kaki pasien diabetes mellitus khususnya

diabetes mellitus yang lebih beresiko untuk terjadinya ulkus kaki diabetik. 20

Sebaliknya jika pasien tidak diberikan edukasi, maka pasien cenderung tidak

memiliki upaya preventif sehingga komplikasi jangka panjang pun akan dapat

muncul dengan mudah.

Hal serupa juga dikemukakan oleh Citra Windani M.S (2016), bahwa

perilaku perawatan kaki, kepercayaan diri dan pengetahuan pasien serta

keluarga dengan penyakit Diabetes mellitus dapat meningkat setelah

diberikan edukasi perawatan kaki dan juga dapat mencegah terjadinya ulkus

kaki diabetik.21

Media pendidikan kesehatan merupakan alat bantu pendidikan yang

disampaikan dengan tujuan untuk mempermudah penerimaan pesan-pesan

kesehatan.22 Media kesehatan tersebut antara lain : Booklet, Leaflet, Flyer

(selebaran), Flip chart (lembar balik) yaitu media penyampaian pesan atau

informasi kesehatan dalam bentuk lembar balik.

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Puskesmas

Tamanan, pada bulan Januari - Desember 2018 didapatkan data dalam satu

tahun adalah 876 penderita DM, rata-rata per bulan 70 penderita DM. Selain
20
Vatankhah N, Khamseh ME, Noudeh YI, Aghili R, Baradaran HR, Haeri NS, 2009, The
EffectivenessOf Foot Care Education On People With Type 2 Diabetes in Tehran, Iran. Primary
Care Diabetes 3, 73-74
21
Citra Windani Mambang Sari, 2016, Pengaruh Program Edukasi Perawatan Kaki Berbasis
Keluarga terhadap Perilaku Perawatan Kaki pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 : JKP, Vol. 4,
no. 2, (Desember)
22
Notoatmodjo, 2014, Ilmu Perilaku Kesehatan, Jakarta : PT Rineka Cipta
8

itu juga dilakukan wawancara kepada beberapa keluarga maupun pasien

Diabetes Melitus, semuanya menjawab tidak pernah mendapatkan edukasi

tentang perawatan kaki. Hal ini dapat menyebabkan pasien juga tidak dapat

menjalankan perawatan kaki pada pasien Diabetes Melitus baik di dalam

rumah maupun di luar rumah. Hasil studi pendahuluan pada 10 keluarga, 7

keluarga merasa acuh tentang perawatan kaki klien, karena anggota keluarga

menganggap perawatan kaki bukan merupakan hal penting yang harus

dilakukan pasien Diabetes Melitus dibandingkan medikasi.

Berdasarkan fenomena bahwa pada pasien Diabetes Melitus tersebut

belum terbentuk pengetahuan tentang perawatan kaki sehingga perilaku

perawatan kaki yang baik belum bisa diharapkan pada klien. Selain itu, jika

klien belum pernah terpapar dengan pengetahuan tentang perawatan kaki maka

kepercayaan diri dalam merawat kaki juga belum bisa diharapkan muncul,

maka peneliti tertarik melakukan penelitian pada penderita DM dengan judul

“pengaruh edukasi perawatan kaki dengan media Flip Chart terhadap

perubahan perilaku klien Diabetes Melitus di Puskesmas Tamanan Kabupaten

Bondowoso”.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu adakah pengaruh

edukasi perawatan kaki dengan media Flip Chart terhadap perubahan perilaku

klien Diabetes Melitus di Puskesmas Tamanan Kabupaten Bondowoso ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
9

Untuk mengetahui pengaruh edukasi perawatan kaki dengan media

Flip Chart terhadap perubahan perilaku klien Diabetes Melitus di

Puskesmas Tamanan Kabupaten Bondowoso

.2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengidentifikasi perubahan perilaku klien Diabetes Melitus

sebelum dilakukan edukasi perawatan kaki dengan media Flip Chart di

Puskesmas Tamanan Kabupaten Bondowoso.

b. Untuk mengidentifikasi perubahan perilaku klien Diabetes Melitus

sesudah dilakukan edukasi perawatan kaki dengan media Flip Chart di

Puskesmas Tamanan Kabupaten Bondowoso.

c. Untuk menganalisa pengaruh edukasi perawatan kaki dengan media

Flip Chart terhadap perubahan perilaku klien Diabetes Melitus di

Puskesmas Tamanan Kabupaten Bondowoso.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Institusi

Sebagai sumber data bagi Institusi tentang pengaruh edukasi

perawatan kaki dengan media Flip Chart dan perubahan perilaku klien

Diabetes Melitus.

2. Bagi Tempat Penelitian

Sebagai referensi terhadap Puskesmas Tamanan Kabupaten

Bondowoso, sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang

edukasi perawatan kaki dengan media Flip Chart dan perilaku klien

Diabetes Melitus

3. Bagi Tenaga Kesehatan


10

Untuk memberikan informasi tentang pengaruh edukasi perawatan

kaki dengan media Flip Chart terhadap perubahan perilaku klien Diabetes

Melitus, sehingga tenaga kesehatan bisa melakukan sosialisasi atau

penyuluhan tentang edukasi perawatan kaki dengan media Flip Chart pada

pasien Diabetes Melitus.

4. Bagi Responden

Mendapatkan informasi pengetahuan dan wawasan tentang edukasi

perawatan kaki dengan media Flip Chart terhadap perubahan perilaku

dengan harapan keluarga tetap memberi dorongan kepada penderita.

5. Bagi Peneliti

Bahan atau sumber data penelitian berikutnya dan bahan

perbandingan bagi peneliti yang akan dilakukan penelitian sejenis tentang

pengaruh edukasi perawatan kaki dengan media Flip Chart terhadap

perubahan perilaku klien Diabetes Melitus

6. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini merupakan sumber data dasar bagi penelitian

selanjutnya yang berkaitan dengan edukasi perawatan kaki dengan media

Flip Chart pada pasien Diabetes Melitus.