Anda di halaman 1dari 21

SMF/BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA REFERAT

RSUD PROF. DR. W. Z. JOHANNES JULI 2019


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA

BUTA WARNA

Oleh:
Erwin Maurits Riwu, S.Ked
(NIM: 1108012038)

Pembimbing:
dr. Eunike Cahyaningsih, Sp.M, MARS
dr. Komang Dian Lestari, Sp.M, M.Biomed

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


SMF/BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA
RSUD PROF. DR. W. Z. JOHANNES
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2019
2

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING

Referat ini dengan judul: Buta Warna atas nama Erwin Maurits Riwu, S.Ked
NIM: 1108012038 pada Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran
Universitas Nusa Cendana telah disajikan dalam kegiatan kepaniteraan klinik
Bagian Ilmu Penyakit Mata RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang pada tanggal
… Juli 2019.

Kupang, Juli 2019


Mengetahui Pembimbing,

1. dr. Eunike Cahyaningsih, Sp.M, MARS .....................................

2. dr. Komang Dian Lestari, Sp.M, M.Biomed .....................................


3

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat, perlindungan, dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan referat
dengan judul Buta Warna di Bagian Ilmu Penyakit Mata RSUD Prof. Dr. W. Z.
Johannes-Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana. Penulisan referat ini
tidak lepas dari bantuan, dukungan, dan bimbingan berbagai pihak, oleh karena itu
penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1. dr. Eunike Cahyaningsih, Sp.M, MARS selaku Ketua SMF Bagian Ilmu
Penyakit Mata RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes.
2. dr. Komang Dian Lestari, Sp.M, MARS, M.Biomed yang rela
menyediakan waktu dan tenaga untuk membimbing penulis dalam
menyelesaikan penulisan referat ini.
3. Segenap Staf Medis Fungsional (SMF) Bagian Ilmu Penyakit Mata
RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes-Fakultas Kedokteran Universitas Nusa
Cendana.
4. Seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun referat
ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan referat ini jauh dari kata sempurna
oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga
referat ini dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.

Kupang, Juli 2019

Penulis
4

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Buta warna adalah penglihatan warna-warna yang tidak sempurna. Buta

warna juga dapat diartikan sebagai suatu kelainan penglihatan yang disebabkan

ketidakmampuan sel-sel kerucut (cone cell) pada retina mata untuk menangkap

suatu spektrum warna tertentu sehingga objek yang terlihat bukan warna yang

sesungguhnya.1,2

Angka kejadian buta warna di beberapa negara secara keseluruhan lebih

banyak pada laki-laki, yang mana hampir 5% laki-laki di negara barat menderita

buta warna yang diturunkan. Berdasarkan Riskesdas tahun 2007, diketahui

prevalensi buta warna di Indonesia berdasarkan keluhan penderita adalah

0,7%.1,3

Faktor utama yang sampai saat ini dipercaya sebagai penyebab utama buta

warna adalah faktor genetik yang sex-linked recessive, artinya kelainan ini dibawa

oleh kromosom X resesif. Hal inilah yang menyebabkan buta warna lebih banyak

terjadi pada laki-laki daripada wanita.4

Buta warna sering menjadi masalah saat seseorang harus memilih jurusan

dalam jenjang pendidikan, khususnya untuk pekerjaan tertentu yang membutuhkan

persepsi warna dalam tanggung jawabnya seperti kedokteran, teknik, desain

grafis, dan lain-lain.5


5

Oleh karena itu melalui referat ini, akan dibahas secara lengkap mengenai

buta warna dan pemeriksaannya yang sering dilakukan di Poli Mata RSUD W. Z.

Johannes, Kupang.
6

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Buta warna adalah penglihatan warna-warna yang tidak sempurna,

sehingga pasien tidak atau kurang dapat membedakan warna. Buta warna juga

dapat diartikan sebagai suatu kelainan penglihatan yang disebabkan

ketidakmampuan sel-sel kerucut (cone cell) pada retina mata untuk menangkap

suatu spektrum warna tertentu sehingga objek yang terlihat bukan warna yang

sesungguhnya. Buta warna dapat terjadi kongenital atau didapatkan akibat

penyakit tertentu.1,2

2.2 Anatomi dan Fisiologi Penglihatan

Persepsi visual sangat dipengaruhi oleh struktur anatomi mata. Kornea dan

lensa bekerja bersama seperti lensa kamera untuk memfokuskan bayangan

sehingga dapat ditangkap oleh retina yang terletak di belakang mata, yang

bertindak seperti film pada kamera. Struktur-struktur inilah yang berpengaruh

pada persepsi warna.


7

Gambar 2.1 Anatomi Bola Mata

Bayangan yang masuk ke bola mata akan diproyeksikan ke retina. Retina

merupakan lapisan setipis lembaran jaringan yang terletak di bagian belakang bola

mata berisi sel-sel fotoreseptor seperti sel batang dan kerucut yang akan

mengubah bayangan yang masuk menjadi impuls-impuls saraf yang akan

diteruskan ke otak. Di bagian inilah, proses penglihatan warna berlangsung.

Bagian fovea terdiri dari sel kerucut namun bentuknya menyerupai batang.

Perbedaan penting antara sel batang dan kerucut adalah fungsinya. Fungsi sel

batang adalah untuk melihat dalam kondisi kurang cahaya sedangkan sel kerucut

bertugas untuk penglihatan dengan cahaya yang cukup.


8

Gambar 2.2 Sel Batang dan Sel Kerucut

Berdasarkan responsivitasnya, sel kerucut dibagi menjadi 3 macam, S

cone, M cone dan L cone sedangkan sel batang hanya terdiri dari satu tipe sel.

Penamaan ini berdasarkan pada sensitivitas sel terhadap panjang gelombang

cahaya short wavelength, middle wavelength, dan long wavelength. Ada juga yang

menamakan panjang gelombang ini sebagai RGB (Red, Green, Blue), namun

penamaan SML dirasa lebih tepat. Pada sel kerucut, terdapat 3 tipe yang

menampilkan warna, sedangkan sel batang hanya satu macam, menunjukkan

bahwa sel batang tidak mampu mengidentifikasi warna. Sel S cone (blue) tersebar

merata pada seluruh retina, namun tidak terdapat di daerah fovea. Perbandingan

jumlah L : M : S adalah 12 : 6 : 1.4


9

Gambar 2.3 Gambaran representatif distribusi sel-sel kerucut S, M, L di

Retina

2.3 Epidemiologi

Angka kejadian buta warna di beberapa negara secara keseluruhan lebih

banyak pada laki-laki, yang mana hampir 5% laki-laki di negara barat menderita

buta warna yang diturunkan. Berdasarkan Riskesdas tahun 2007, diketahui

prevalensi buta warna di Indonesia berdasarkan keluhan penderita adalah 0,7%.

Sekitar 95% gangguan buta warna terjadi pada reseptor warna merah dan hijau

pada mata laki-laki sementara buta warna total merupakan keadaan yang jarang

terjadi. Menurut Howard Hughes Medical Institute, pada tahun 2006 di Amerika

Serikat terdapat 7% laki-laki atau sekitar 10,5 juta laki-laki, dan 0,4% wanita

tidak dapat membedakan warna merah merah dari hijau, atau mereka melihat

merah dan hijau secara berbeda dibandingkan populasi umum.1,3,4


10

2.4 Klasifikasi

Buta warna dikenal berdasarkan istilah Yunani protos (pertama), deutros

(kedua), dan tritos (ketiga) yang pada warna 1). Merah, 2). Hijau, 3). Biru. Yang

dimaksud dengan anopia berarti cacat, sedangkan anomali berarti cacat parsial.

Adapun defek penglihatan warna atau buta warna dapat dikenal dalam bentuk:1,2

1. Trikromat, yaitu gangguan penglihatan warna yang dapat disebabkan

oleh faktor keturunan atau kerusakan pada mata setelah dewasa. Penderita

trikromat memiliki tiga sel kerucut yang lengkap, namun terjadi kerusakan

mekanisme sensitivitas terhadap salah satu dari tiga sel reseptor warna

tersebut, sehingga pasien buta warna trikromat masih dapat melihat

berbagai warna akan tetapi dengan interpretasi yang berbeda daripada

normal.

 Trikromat anomali, kelainan terdapat pada short-wavelenght

pigment (blue). Pigmen biru ini bergeser ke area hijau dari

spektrum merah. Pasien mempunyai ketiga pigmen kerucut akan

tetapi satu tidak normal, kemungkinan gangguan dapat terletak

hanya pada satu atau lebih pigmen kerucut. Pada anomali ini

perbandingan merah hijau yang dipilih pada anomaloskop berbeda

disbanding dengan orang normal.

 Deutronomali, disebabkan oleh kelainan bentuk pada middle-

wavelenght pigment (green) dengan cacat pada hijau sehingga


11

diperlukan lebih banyak hijau, karena terjadi gangguan lebih

banyak daripada warna hijau.

 Protanomali, adalah tipe anomalous trichromacy dimana terjadi

kelainan terhadap long-wavelenght pigment (red), sehingga

menyebabkan rendahnya sensitivitas warna merah. Penderita akan

mengalami penglihatan yang buram terhadap warna spektrum

merah. Hal ini mengakibatkan mereka dapat salah membedakan

warna merah dan hitam.

Protanomalia dan deutronomali diturunkan X-linked dan di Amerika

terdapat pada 5% anak lak-laki. Bentuk keempat disebut akromatopsia

atau buta warna total, di mana seseorang hanya dapat membedakan warna

dalam bentuk hitam putih saja.

2. Dikromat, yaitu jenis buta warna di mana salah satu dari tiga sel kerucut

tidak ada atau tidak berfungsi. Akibat dari disfungsi salah satu sel pigmen

pada kerucut, seseorang yang menderita dikromat akan mengalami

gangguan penglihatan terhadap warna-warna tertentu. Dikromat dibagi

menjadi tiga bagian berdasarkan pigmen yang rusak:

 Protanopia (tidak kenal merah), adalah salah satu tipe dikromat

yang disebabkan oleh tidak adanya fotoreseptor merah. Pada

penderita protanopia, penglihatan terhadap warna merah tidak ada.

Dikromat tipe ini terjadi pada 1 % dari seluruh pria. Keadaan yang

paling sering ditemukan dengan cacat pada warna merah hijau

sehingga sering dikenal dengan buta warna merah-hijau.


12

 Deutranopia (tidak kenal hijau), adalah gangguan penglihatan

terhadap warna yang disebabkan tidak adanya fotoreseptor hijau.

Hal ini menimbulkan kesulitan dalam membedakan hue pada

warna merah dan hijau (red-green hue discrimination).

 Tritanopia (tidak kenal biru), adalah keadaan dimana seseorang

tidak memiliki short-wavelength cone (blue). Seseorang yang

menderita tritanopia akan kesulitan dalam membedakan warna biru

dan kuning dari spektrum cahaya tampak. Tritanopia disebut juga

buta warna biru-kuning dan merupakan tipe dikromat yang sangat

jarang dijumpai.

3. Monokromat atau akromatopsia dimana hanya terdapat satu pigmen

kerucut, yang serimg mengeluh fotofobia dan tajam penglihatan yang

berkurang.

Bentuk-bentuk buta warnanya dikenal juga:

 Monokromatisme rod (batang), atau disebut juga dengan suatu

akromatopsia dimana terdapat kelainan pada kedua mata bersama

dengan keadaan lain seperti tajam penglihatan kurang dari 6/60,

nistagmus, fotofobia, skotoma sentral, dan mungkin terjadi akibat

kelainan sentral hingga terdapat gangguan penglihatan warna total,

hemeralopia (buta silang) tidak terdapat buta senja/ malam, dengan

kelainan refraksi yang tinggi.

 Monokromatisme cone (kerucut), dimana terdapat hanya sedikit

cacat, hal yang jarang, tajam penglihatan normal tidak terdapat


13

nistagmus.

2.5 Etiologi

Buta warna dapat terjadi secara kongenital atau didapat akibat penyakit

tertentu. Buta warna yang diturunkan tidak bersifat progresif dan tidak dapat

diobati. Pada kelainan makula (retinitis sentral dan degenerasi makula sentral),

sering terdapat kelainan pada penglihatan warna biru dan kuning sedang pada

kelainan saraf optik akan terlihat gangguan penglihatan warna merah dan hijau.

Buta warna umumnya terjadi lebih banyak pada laki-laki dibanding

perempuan dengan perbandingan 20:1. Buta warna herediter merupakan kelainan

genetik sex linked recessive pada kromosom X ayah dan ibu. Anak perempuan

menerima satu kromosom X dari ibu dan satu dari ayah. Dibutuhkan hanya satu

gen untuk penglihatan warna normal. Anak laki-laki menerima kromosom X dari

ibu dan Y dari ayah, jika gen X tunggal tidak mempunyai gen fotopigmen maka

akan terjadi buta warna.


14

Gambar 2.4 X-Linked Recessive

Dikenal Hukum Kollner yang menyatakan defek penglihatan warna merah hijau

merupakan lesi saraf optik ataupun jalur penglihatan, sedangkan defek penglihatan

biru kuning akibat kelainan pada epitel sensori retina atau lapis kerucut dan batang

retina.

Terdapat pengecualian Hukum Kollner, yaitu:

 Pada neuropati optik iskemik, atrofi optik pada glaukoma, atrofi optik

diturunkan secara dominan, atrofi saraf optik tertentu memberikan cacat biru

kuning.

 Defek penglihatan merah hijau pada degenerasi makula, mungkin akibat

kerusakan retina yang terletak pada sel ganglionnya.


15

 Pada degenerasi makula juvenil terdapat buta biru kuning,, merah hijau ataupun

buta warna total, sedangkan degenerasi makula Stardgart dan fundus

flavimakulatus mengakibatkan gangguan pada warna merah-hijau.

 Defek penglihatan warna biru dapat pula terjadi pada peningkatan tekanan

intraokular.

Gangguan penglihatan biru-kuning terdapat pada glaukoma, ablasio retina,

degenerasi pigmen retina, degenerasi makula senilis dini, myopia, korioretinitis, oklusi

pembuluh darah retina, retinopati diabetik dan hipertensi, papil edema, dan keracunan

metil alkohol serta pada penambahan usia. Ganguan penglihatan merah hijau terdapat

pada kelainan saraf optik, keracunan tembakau dan racun, neuritis retrobulbar, atrofi optik, dan

lesi kompresi traktus optikus.4

2.6 Diagnosis

Pemeriksaan buta warna dilakukan dengan uji Ishihara, Uji Farnsworth

Munsell 100 hue, uji Anomaloskop dan Uji Holmgren. Uji Ishihara dan Uji

Farnsworth adalah yang paling sering digunakan dalam pemeriksaan oftalmologis.

Defek penglihatan warna merah-hijau secara kualitatif dievaluasi dengan tes

Ishihara (pseudoisokromatik), sementara defek penglihatan biru-kuning dievaluasi

dengan tes Farnsworth. Evaluasi defek penglihatan kuantitatif dapat menggunakan

tes Anomaloskop.4

a. Uji Ishihara

Uji Ishihara merupakan uji untuk mengetahui defek penglihatan warna

yang didasarkan pada penentuan angka atau pola yang ada pada kartu

dengan berbagai ragam warna. Menurut Guyton (1997), metode Ishihara


16

yaitu metode yang dapat dipakai untuk menentukan dengan cepat suatu

kelainan buta warna didasarkan pada pengunaan kartu bertitik-titik. Kartu

ini disusun dengan menyatukan titik-titik yang mempunyai bermacam-

macam warna.

Uji Ishihara dilakukan dengan memakai satu seri titik bola kecil dengan

warna dan ukuran yang berbeda (gambar pseudoisokromatik), sehingga

dalam keseluruhan terlihat warna pucat dan menyukarkan pasien dengan

kelainan penglihatan warna ketika melihatnya. Penderita buta warna atau

dengan kelainan penglihatan warna dapat melihat sebagian atau sama

sekali tidak dapat melihat gambaran yang diperlihatkan. Pada pemeriksaan

pasien diminta melihat dan mengenali tanda gambar yang diperlihatkan

dalam waktu 10 detik. Ishihara merupakan alat yang sering digunakan

untuk screening buta warna yang sering dipakai di banyak Negara.1,2

Gambar 2.5 Uji Ishihara


17

b. Uji Farnsworth Munsell 100 hue

Uji Farnsworth-Munsell 100 hue dilakukan untuk melihat kemampuan

seseorang menyusun kecerahan warna. Uji Farnsworth terdiri dari 4 set

chips dimana terdapat 85 topi yang dapat dipindah-pindah dan harus

disusun sesuai dengan progression of hue. Warna dari topi mempunyai

kecerahan bertambah yang mempunyai nomor dibelakangnya. Orang

dengan defisiensi penglihatan beberapa warna akan membuat kesalahan

dalam menyusun chips pada lokasi di sekitar hue circle. Uji Farnsworth ini

digunakan untuk menevaluasi tingkat keparahan diskriminasi warna dan

membedakan tipe kelainan buta warna karena kongenital, perubahan

karena penyakit neurologis atau efek samping dari pemberian obat.4,5

Gambar 2.6 Uji Farnsworth Munsell 100 hue

c. Uji Anomaloskop

Uji Anomaloskop terdiri dari test plate yang bagian bawahnya berwarna

kuning yang dapat disesuaikan kontrasnya. Pasien berusaha mencocokkan

bagian atas sampai berwarna kuning dengan mencampur warna merah dan
18

hijau. Orang dengan buta warna hijau akan menggunakan banyak warna

hijau dan begitu juga pada orang dengan buta warna merah.4

Gambar 2.7 Uji Anomaloskop

d. Uji Holmgren

Pada tahun 1837, August Seebeck menggunakan lebih dari 300 kertas

berwarna dan meminta pasien mencocokkan atau menemukan warna yang

sesuai dengan contoh warna yang diberikan dan pada tahun 1877,

Holmgren mengambil ide ini dan menggunakan benang wol berwarna

sebagai pengganti kertas.4

Gambar 2.8 Uji Holmgren Wool


19

2.7 Penatalaksanaan

Tidak ada pengobatan atau tindakan yang dapat dilakukan untuk

mengobati masalah gangguan persepsi warna. Namun penderita buta warna ringan

dapat belajar mengasosiasikan warna dengan objek tertentu. Untuk mengurangi

gejala dapat digunakan kacamata berlensa dengan filter warna khusus yang

memungkinkan pasien melakukan interpretasi kembali warna. Gangguan

penglihatan warna yang diturunkan tidak dapat diobati atau dikoreksi. Beberapa

gangguan penglihatan warna yang didapat dapat diobati, bergantung pada

penyebabnya. Sebagai contoh jika katarak merupakan penyebab gangguan

penglihatan warna, operasi untuk mengangkat katarak dapat mengembalikan

penglihatan warna menjadi normal. Beberapa cara untuk membantu gangguan

penglihatan warna, antara lain:5

a. Memakai lensa kontak berwarna (specially tinted). Hal ini dapat

membantu membedakan warna, tetapi lensa ini tidak menjadikan

penglihatan menjadi normal.

b. Memakai kacamata yang memblok sinar yang menyilaukan (glare). Orang

dengan masalah penglihatan dapat membedakan warna lebih baik dalam

kondisi yang tidak terlalu terang.

2.8 Pencegahan

Tidak ada cara untuk mencegah buta warna genetik maupun buta warna didapat

yang berhubungan dengan penyakit. Membatasi penggunaan alkohol dan obat,

seperti antibiotik, barbiturat, obat antituberkulosis, pengobatan tekanan darah


20

tinggi, dan beberapa pengobatan yang digunakan untuk penyakit saraf dan

psikologis, ke level yang dibutuhkan untuk keuntungan terapeutik dapat

membatasi buta warna didapat. Pencegahan peningkatan kasus buta warna dapat

dilakukan misalnya dengan melakukan konseling pranikah. Kejadian buta warna

juga meningkat pada pool genetic dengan perkawinan di antara satu komunitas

terisolir.5
21

BAB 3
KESIMPULAN

Buta warna dapat diartikan sebagai suatu kelainan penglihatan yang

disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut (cone cell) pada retina mata untuk

menangkap suatu spektrum warna tertentu sehingga objek yang terlihat bukan

warna yang sesungguhnya.

Buta warna sering menjadi masalah saat seseorang harus memilih jurusan

dalam jenjang pendidikan, khususnya untuk pekerjaan tertentu yang membutuhkan

persepsi warna dalam tanggung jawabnya seperti kedokteran, teknik, desain

grafis, dan lain-lain.

Pemeriksaan buta warna dilakukan dengan uji Ishihara, Uji Farnsworth

Munsell 100 hue, uji Anomaloskop dan Uji Holmgren.

Gangguan penglihatan warna yang diturunkan tidak dapat diobati atau

dikoreksi. Beberapa gangguan penglihatan warna yang didapat dapat diobati,

bergantung pada penyebabnya.