Anda di halaman 1dari 7

Konstitusi dan HAM Berdasarkan UUD Negara RI

Tahun 1945

Disusun untuk Melengkapi Tugas Akhir Modul 4

Oleh :
TRIANI WIDYASTUTI
SMA Negeri 1 Belik

Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan (PKn)


UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
2019
1. Akhir-akhir ini, berkaitan dengan situasi politik kenegaraan, muncul keinginan dari
sekalangan kelompok untuk kembali kepada UUD 1945 yang disahkan pada 18 Agustus
1945. Buatlah sebuah analisis yang menjelaskan pandangan saudara terhadap
keinginan kembali ke UUD 1945 tersebut apakah diperlukan atau tidak.

Adanya keinginan untuk kembali kepada UUD 1945 yang disahkan pada tanggal 18
Agustus 1945 merupakan langkah mundur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sejarah membuktikan bahwa UUD 1945 sebelum amandemen telah melahirkan kekuasaan
absolute dan totaliter di tangan presiden, tanpa adanya checks and balances sehingga
menimbulkan banyak peluang bagi terjadinya abuse of power dan pengingkaran terhadap
hak asasi manusia.
Kita ketahui bersama, sebagaimana dinyatakan dalam pidato Ir. Soekarno sebagai
ketua PPKI pada 18 Agustus 1945, UUD 1945 yang dibuat saat itu merupakan UUD
sementara atau UUD kilat. Hal ini menunjukkan bahwa Ir. Soekarno dan para pendiri bangsa
saat itu merestui jika kelak keadaan telah mengizinkan, dapat membuat UUD baru.
Meski masih terdapat berbagai kekurangan, namun secara umum amandemen UUD
1945 yang dilaksanakan sebanyak empat kali pada tahun 1999 hingga 2002 telah membawa
perubahan kearah yang lebih baik. Kehidupan demokrasi di Indonesia lebih terjamin.
Kedudukan lembaga negara, baik eksekutif, legislative dan yudikatif telah mempunyai
peranan yang lebih jelas dibandingkan masa sebelumnya.
Masa jabatan presiden dibatasi hanya dua periode, yang dipilih secara langsung oleh
rakyat. Pelaksanaan otonomi daerah terurai lebih rinci dalam UUD 1945 setelah perubahan.
Jaminan terhadap hak-hak asasi manusia lebih baik dan diurai lebih rinci dalam UUD 1945
sehingga kehidupan demokrasi lebih terjamin.
Menurut saya, persoalan mendasar saat ini bukan terletak pada kerangka maupun isi
UUD 1945 hasil amandemen sehingga kita harus kembali lagi ke UUD 1945 asli.
Persoalannya sesungguhnya terletak pada tingkah laku ataupun tanggung jawab orang-orang
yang melaksanakan UUD, baik itu eksekutif, legislatif, yudikatif hingga pemegang
kekuasaan audit.
Meminjam istilah mantan Ketua Mahkamah Agung, Prof. Bagir Manan, “konstitusi
yang buruk, tapi dijalankan oleh orang baik, maka hasilnya akan baik. Namun sebaliknya,
konstitusi yang baik akan menghasilkan sesuatu yang buruk jika dijalankan oleh orang
dengan sikap yang buruk”.
Kembali ke UUD 1945 hanya akan memberikan peluang bagi orang-orang haus
kekuasaan untuk tampil sebagai otoriter baru, membangun rezim dan menghilangkan hak-ak
demokrasi masyarakat. Hal ini hanya akan memberikan kerugian yang besar bagi bangsa
Indonesia.
Karena itu, yang diperlukan saat ini bukan kembali pada UUD 1945 asli, melainkan
perbaikan pada tingkah laku orang-orang yang melaksanakan UUD, baik itu di eksekutif,
legislative maupun yudikatif. Hal ini dapat dilakukan melalui perbaikan mekanisme
rekruitmen pelaksana UUD yang transparan dan akuntabel serta menggunakan standar
tinggi, pengawasan ketat dan menyeluruh serta penegakan hukum yang memberikan rasa
keadilan bagi masyarakat terhadap pelaksana undang-undang yang melakukan pelanggaran.
Selain itu, perlu adanya penegasan terhadap implementasi nilai-nilai Pancasila dalam
setiap sendi-sendi kehidupan dalam rangka membangun nation and character building, yaitu
membangun karakter warga yang cinta terhadap bangsa dan tanah air Indonesia dengan
menanamkan sikap bangga terhadap identitas nasional sebagai jati diri bangsa.

2. Pokok-pokok pikiran dalam pembukaan UUD NRI Tahun 1945, silakan sdr mencari
dalam artikel atau jurnal dan lansung dikembangkan.

Istilah “pokok-pokok pikiran” Pembukaan UUD 1945 pertama kali tertuang dalam
Penjelasan Umum UUD 1945 yang menyebutkan bahwa Pembukaan UUD 1945
mengandung 4 (empat) pokok pikiran, yaitu: (1) Negara persatuan yang melindungi dan
meliputi segenap bangsa seluruhnya; (2) Negara kesejahteraan yang hendak mewujudkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat; (3) Negara yang berkedaulatan rakyat; (4) Negara
berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
Keempat pokok pikiran tersebut jika dilihat dari alinea-alinea Pembukaan UUD 1945
tampaknya hanya diambilkan dari sebagian pokok pikiran yang terkandung dalam alinea
keempat dan belum menggambarkan seluruh pokok pikiran yang ada dalam setiap alinea.
Karena menurut Pasal II Aturan Tambahan Perubahan Keempat UUD 1945 yang dinyatakan
sebagai UUD 1945 adalah bagian pembukaan dan pasal-pasalnya, maka 4 (empat) pokok
pikiran yang dinyatakan dalam Penjelasan Umum UUD 1945 tersebut sudah tidak lagi
mempunyai kekuatan hukum mengikat. Di samping itu keberadaan Penjelasan UUD 1945
memang tidak lazim bagi suatu Undang-Undang Dasar. Keberadaan Penjelasan UUD 1945
juga penuh “misteri”, karena tidak pernah ikut dibahas dan ditetapkan oleh BPUPKI dan
PPKI, dan tiba-tiba ikut dimuat dalam Lembaran Negara No.7 Tahun 1959 setelah Dekrit
Presiden 1959.
Karena itu dalam mengelaborasi pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam
Pembukaan UUD 1945, tidak harus mengacu pada Penjelasan UUD 1945. Pokok-pokok
pikiran dalam Pembukaan UUD 1945 dapat dielaborasi dengan mengacu pada makna yang
terkandang dalam setiap alinea.

Pokok-pokok Pikiran Setiap Alinea Pembukaan UUD 1945


Alinea Bunyi Alinea Makna
1. Bahwa sesungguhnya kemerdekaan 1. Pengakuan terhadap prinsip universal yang
adalah hak segala bangsa dan oleh berupa hak kemerdekaan sebagai hak asasi
sebab itu, maka penjajahan di atas setiap bangsa yang harus dijunjung tinggi.
dunia harus dihapuskan, karena 2. Menunjukkan keteguhan dan kuatnya
tidak sesuai dengan peri pendirian bangsa Indonesia dalam
kemanusiaan dan peri keadilan. menentang penjajahan atau imperialisme di
mana saja karena bertentangan dengan
perikemanusiaan dan rasa keadilan.
2. Dan perjuangan pergerakan 1. Pengakuan dan penghargaan secara obyektif
kemerdekaan Indonesia telah bahwa kemerdekaan Negara Indonesia
sampailah kepada saat yang adalah hasil perjuangan dan pergerakan
berbahagia dengan selamat sentausa bersama seluruh bangsa Indonesia.
mengantarkan rakyat Indonesia ke 2. Pengakuan akan kesadaran bahwa
depan pintu gerbang kemerdekaan kemerdekaan Negara Indonesia bukanlah
Negara Indonesia yang merdeka, akhir perjuangan melainkan merupakan
bersatu, berdaulat, adil dan makmur. pintu masuk bagi terwujudnya sebuah
Negara Indonesia yang merdeka, bersatu,
berdaulat, adil dan makmur.

3. Atas berkat rahmat Allah Yang 1. Pengakuan yang didasarkan atas keyakinan
Maha Kuasa dan dengan didorong yang kuat bahwa pada hakekatnya
oleh keinginan luhur, supaya kemerdekaan Negara Indonesia adalah
berkehidupan kebangsaan yang takdir, kehendak, rahmat, dan sekaligus
bebas, maka rakyat Indonesia amanat dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang
menyatakan dengan ini harus dijaga dan dipertahankan.
kemerdekaanya. 2. Kesadaran bahwa disamping takdir,
kehendak, dan rahmat Tuhan Yang Maha
Kuasa, kemerdekaan Negara Indonesia juga
merupakan cita-cita luhur yang telah sejak
lama diperjuangkan.

4. Kemudian dari pada itu untuk 1. Tujuan Negara yang harus menjadi acuan
membentuk suatu Pemerintahan bagi penyelenggaraan pemerintahan:
Negara Indonesia yang melindungi melindungi segenap bangsa Indonesia dan
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteran umum
untuk memajukan kesejahteran mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut
umum mencerdaskan kehidupan melaksanakan ketertiban dunia yang
bangsa dan ikut melaksanakan berdasar kemerdekaan, perdamaian abadi
ketertiban dunia yang berdasar dan keadilan sosial.
kemerdekaan, perdamaian abadi dan 2. Negara Konstitusional, yaitu negara yang
keadilan sosial. Maka disusunlah berdasarkan Undang-Undang Dasar.
kemerdekaan Kebangsaan Indonesia 3. Negara Republik Demokrasi dengan dasar
itu dalam suatu Undang-Undang kedaulatan rakyat.
Dasar Negara Indonesia, yang
4. Dasar Negara: Ketuhanan Yang Maha Esa,
terbentuk dalam suatu susunan
Kemanusian yang adil dan beradap,
Negara Republik Indonesia yang
Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang
berkedaulatan rakyat dengan
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
berdasar kepada Ketuhanan Yang permusyawaratan /perwakilan, Keadilan
Maha Esa, kemanusian yang adil sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; yang
dan beradap, persatuan Indonesia, lazim disebut dengan PANCASILA.
kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan /perwakilan, serta
dengan mewujudkan suatu keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

3. Amandemen terhadap UUD 1945 mengakibat kan terjadinya pergeseran terhadap


struktur ketatanegaraan, berikan analisis terhadap permasalahan tersebut

Pasca perubahan UUD 1945 yang terjadi di Indonesia, telah telah merubah banyak hal
pada sistem ketatanegaraan. Berikut implikasi dari perubahan UUD 1945 terhadap sistem
ketatanegaraan Indonesia :
1. MPR tidak lagi berkedudukan sebagai lembaga tertinggi negara dan pemegang
kedaulatan rakyat tertinggi. Penghapusan sistem lembaga tertinggi negara adalah upaya
logis untuk keluar dari perangkap design ketatanegaraan yang rancu dalam menciptakan
mekanisme check and balances di antara lembaga-lembaga negara. Selama ini, model
MPR sebagai “pemegang kedaulatan rakyat sepenuhnya” telah menjebak Indonesia
untuk membenarkan kekuasaan yang absolute. Perubahan ini dapat dilihat dari adanya
keberanian untuk “memulihkan” kedaulatan rakyat dengan mengamandemen Pasal 1
ayat (2) UUD 1945 bahwa kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilakukan
sepenuhnya oleh MPR menjadi kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan
menurut UUD. Perubahan ini diikuti dengan langkah besar lainnya yaitu dengan
melakukan amandemen terhadap Pasal 2 ayat (1) UUD 1945 dari MPR terdiri dari
anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ditambah dengan utusan-utusan dari
daerah (UD) dan golongan-golongan (UG) menjadi MPR terdiri atas anggota DPR dan
anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang dipilih melalui pemilihan umum.
Perubahan terhadap ketentuan yang terdapat dalam Pasal 1 ayat (2) dan Pasal 2 ayat (1)
UUD 1945 berimplikasi pada reposisi peran MPR dari lembaga tertinggi
negara (supreme body) menjadi sebatas sidang gabungan (joint session)antara DPR dan
DPD.
2. Dihapusnya sistem unikameral dengan supremasi MPR dan munculnya sistem
bikameral. Dalam sistem bikameral, masing-masing kamar mencerminkan jenis
keterwakilan yang berbeda yaitu DPR merupakan representasi penduduk sedangkan
DPD merupakan representasi wilayah (daerah). Perubahan ini terjadi menjadi sebuah
keniscayaan karena selama ini Utusan Daerah dalam MPR tidak ikut membuat
keputusan politik nasional dalam peringkat undang-undang. Banyak kalangan berharap
sistem bikameral dapat menciptakan keseimbangan antara lembaga-lembaga negara
sehingga mekanisme checks and balances berjalan tanpa adanya sebuah lembaga yang
mempunyai kekuasaan lebih tinggi dari yang lainnya.
3. Perubahan proses pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dari sistem perwakilan
menjadi sistem pemilihan langsung oleh rakyat. Perubahan ini tidak terlepas
pengalaman “pahit” yang terjadi pada proses pengisian jabatan Presiden dan Wakil
Presiden selama orde baru dan pemilihan Presiden tahun 1999. Dengan pemilihan
langsung, Presiden dan Wakil Presiden yang terpilih akan mendapat mandat dan
dukungan yang lebih riil rakyat sebagai wujud kontrak sosial antara pemilih dengan
tokoh yang dipilih. Pemilihan langsung akan memberikan kesempatan yang luas kepada
rakyat untuk menentukan pilihan secara langsung tanpa mewakilkan kepada orang lain.
Pemilihan langsung juga dapat menciptakan perimbangan antara berbagai kekuatan
dalam penyelenggaraan negara terutama dalam menciptakan mekanisme checks and
balances antara Presiden dengan lembaga perwakilan karena sama-sama dipilih oleh
rakyat.
4. Dihapusnya DPA sebagai salah satu lembaga tinggi negara. Sebagai gantinya, Presiden
membentuk dewan pertimbangan yang bertugas memberikan pertimbangan kepada
Presiden yang selanjutnya diatur dengan undang-undang. Perubahan ini memberikan
klesempatan kepada Presiden untuk membentuk dewan pertimbangan, misalnya dalam
bentuk Penasihat Presiden.
5. Kekuasaan kehakiman tidak hanya dijalankan oleh Mahkamah Agung tetapi juga oleh
Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi,
menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang terhadap undang-undang dan
kewenangan lainnya yang diberikan oleh undang-undang. Sedangkan Mahkmah
Konstitusi, berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya
bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus
sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-
Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang
hasil pemilihan umum.

Meski demikian, perubahan terhadap UUD 1945 tetap menyisakan persoalan lain
seperti dominasi posisi DPRD, tidak hanya terhadap lembaga-lembaga di luar legislative,
tetapi juga terjadi terhadap DPD. Dengan terbatasnya kewenangan yang dimiliki DPD, sulit
dibantah bahwa keberadaannya lebih merupakan sub-ordinasi dari DPR. Sebagai
representasi kepentingan daerah, DPD hanya diberikan kewenangan untuk mengajukan
kepada DPR RUU yang berkaitan dengan otonomi daerah. Bahkan dalam fungsi legislasi
diberikan batas secara tegas bahwa kekuasaan untuk membuat undang-undang hanya
menjadi monopoli DPR. Akibatnya, perubahan UUD 1945 secara samar-samar mendorong
DPR menjadi lembaga negara yang supreme di antara lembaga-lembaga negara yang
ada. Kenyataan ini sulit untuk dibantah karena hampir semua kekuasaan negara bertumpu ke
DPR.
4. Buatlah tiga contoh dengan argumennya terkait pemenuhan kewajiban dan tanggung
jawab negara untuk menghomati, memajukan, melindungi dan memenuhi HAM.
Saudara dapat menggali contoh-contoh tersebut pada berbagai pemberitaan di media
internet.

Penegasan tentang tanggung jawab dan kewajiban negara terutama pemerintah juga
ditemukan pada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (UU
HAM), yakni pada Pasal 8 dan Pasal 39. Pada Pasal 71 UU HAM dinyatakan bahwa
kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah meliputi langkah implementasi yang efektif
dalam bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya pertahanan keamanan negara, dan
bidang lain. Dengan demikian pada konteks HAM, negara melalui pemerintah adalah
pemangku kewajiban dan tanggung jawab HAM, sedangkan masyarakat adalah pemangku
atau pemengang hak.
Contoh pemenuhan kewajiban dan tanggung jawab negara terhadap HAM :
1. Negara membentuk Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Pembentukan LPSK merupakan bentuk kewajiban dan tanggung jawab negara dalam
upaya melindungi dan memenuhi HAM, terutama jaminan rasa aman terhadap saksi dan
korban dalam memberikan keterangan dalam proses peradilan pidana. LPSK merupakan
lembaga mandiri yang dibentuk berdasarkan UU No 13 Tahun 2006 tentang
Perlindungan Saksi dan Korban dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.
2. Negara melakukan pembangunan gedung sekolah, menjamin tersedianya guru dan alat-
alat pendidikan serta mengalokasikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Upaya negara membangun gedung sekolah, menjamin tersedianya guru dan alat-alat
pendidikan serta adanya alokasi dana BOS merupakan bentuk pemenuhan kewajiban dan
tanggung jawab negara terhadap hak atas pendidikan kepada setiap warga negara tanpa
terkecuali. Pemenuhan ini sesuai dengan amanat pasal 31 UUD NRI 1945 dan Undang-
undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
3. Penyediaan fasilitas bagi penyandang cacat atau kaum disabilitas.
Penyediaan fasilitas bagi penyandang cacat dapat dijumpai pada sejumlah fasilitas public
seperti rumah sakit, pusat perbelanjaan, bandara hingga transportasi umum. Fasilitas
yang paling sering dijumpai adalah jalur khusus ataupun toilet bagi penyandang cacat.
Meskipun belum maksimal dan menyeluruh pada seluruh fasilitas public, penyediaan
fasilitas yang sudah ada tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah melaksanakan
tanggung jawab untuk memenuhi hak-hak penyandang cacat seperti yang diamanatkan
oleh Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Dalam
undang-undang ini, terdapat 33 hak bagi penyandang disabilitas di Indonesia yang harus
dipenuhi.