Anda di halaman 1dari 9

STORYTELLING SEBAGAI METODE DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN

BERBAHASA PADA ANAK PRASEKOLAH


Lita Ariani
Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
arianilita87@gmail.com
Dyta Setiawati Hariyono
Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
nandhita007@gmail.com

Abstrak
Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan maksud, ide atau
gagasan yang bersifat verbal maupun tulisan. Bahasa dikuasai oleh seseorang yang dapat dilihat dari
kemampuan berbahasa yang dimilikinya termasuk pada anak. Pada anak, kemampuan berbahasa
merupakan suatu hal yang sangat penting karena dengan Bahasa yang digunakan seorang anak dapat
berkomunikasi dengan lingkungannya maupun dengan orang – orang di sekitarnya. Untuk itu perlu adanya
suatu metode yang perlu dilakukan oleh orangtua dalam mengembangkan kemampuan anak-anaknya.
Salah satu metode yang di anggap tepat untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak yaitu dengan
metode storytelling (bercerita). Penulisan inibertujuan menguraikan metodestorytelling sebagai salah satu
cara dalam upaya mengembangkan kemampuan berbahasa khususnya pada anak prasekolah. Metode
penulisan ini adalah kajian kepustakaandengan pendekatan deskriptif dan eksploratif Disimpulkan bahwa
storytelling sebagai salah satu metode alternatif untuk mengembangkan kemampuan berbicara pada anak
prasekolah.
Kata Kunci: Storytelling, Anak prasekolah, kemampuan berbahasa.

Abstract
Language is one of the communication tools used to convey intentions, ideas or ideas that are both verbal
and written. Someone who have good language can be seen from the language skills, including children.
Language ability is very important, especially start from children because the language used by a child can
communicate with his environment and with people around them. Therefore, it‟s very important are needs
to be a method to do by parents in developing their children's abilities. One method that is considered
appropriate for developing children's language skills is storytelling method. This writing aims to describe
about the storytelling method as a way to develop language skills especially for children in preschoolers.
Method of this research is a study of literature with descriptive and explorative approach. It was concluded
that storytelling is an alternative method for developing speaking skills in preschool children.
Keywords:Storytelling, preschool children, language skills.

Masa kanak-kanak merupakan masa terpanjang dalam untuk menunjukkan kemampuannya berkembang
rentang kehidupan, pada masa ini perkembangan utama menjadi komunikasi melalui ujaran yang tepat dan jelas.
berkisar di seputar penguasaan dan pengendalian Bahasa merupakan salah satu hal terpenting
lingkungan, yang paling menonjol dalam periode ini dalam kehidupan anak, dengan bahasa anak dapat
adalah meniru pembicaraan dan tindakan orang lain, berinteraksi dengan orang lain dan menemukan banyak
sehingga periode ini juga dikenal sebagai usia meniru hal baru dalam lingkungan tersebut. Dengan bahasa juga,
(Hurlock, 1980). Masa usia anak prasekolah atau yang anak mampu 3 menuangkan suatu ide atau gagasan
dikenal dengan anak usia dini merupakan masa kritis terhadap keinginannya tersebut. Aspek perkembangan
dalam perkembangan bahasa, khususnya kemampuan bahasa anak usia 4 – 5 tahun bahwa anak sudah memiliki
berbicara. Anak yang berusia 3-5 tahun yang merupakan kemampuan berkomunikasi secara lisan, memiliki
masa penting pada proses ini. Anak secara bertahap pembendaharaan kata, serta mengenal simbol – simbol
berubah dari melakukan ekspresi suara saja lalu untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung,
berekspresi dengan komunikasi. Dimulai dari hanya menyusun kalimat sederhana dalam struktur lengkap
berkomunikasi dengan menggunakan gerakan dan isyarat (pokok kalimat- predikat-keterangan), memiliki lebih

Prosiding Seminar Nasional & Call Paper Lita Ariani


Psikologi Pendidikan 2019 36 Dyta Setiawati Hariyono
Fakultas Pendidikan Psikologi, Aula C1, 13 April 2019
Storytelling sebagai Metode dalam Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Pada Anak Prasekolah

banyak kata-kata untuk mengekspresikan ide pada orang (sistem makna), dan pragmatis (aturan penggunaan dalam
lain (Firyanti,2017). Anak yang memiliki kecerdasan setting sosial) (Santrock, 2007). Dengan melakukan
berbahasa (verbal) yang baik akan mempunyai minat storytelling anak diharapkan mampu menghasilkan suara
yang besar terhadap kata, mereka cenderung menikmati, bahasa, mengenali kata dan bahkan secara perlahan
mendengarkan dan bermain dengan kata, menyukai buku mampu menghasilkan serangkaian konsonan yang
serta menikmati hal tersebut, dan memiliki memori yang kompleks atau minimal dengan metode bercerita,
baik dan cepat serta mampu belajar soal kata dengan perbendaharaan kata anak menjadi bertambah. Usia anak
mudah (Rettig, 2005). pra sekolah merupakan usia emas untuk anak dalam
Kemampuan berbahasa (verbal) merupakan menguasai kata. Dimana pada usia dua setengah tahun,
suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan anak hanya memiliki dua atau tiga ratus kosa kata namun
seseorang, dimana komunikasi merupakan media efektif pada usia hingga enam tahun, ia bisa menguasai ribuan
untuk menjalin hubungan interaksi dengan orang lain. kata (Montesori, 2008).
Hasil penelitian menyebutkan, lingkungan merupakan Itadz (2008) menerangkan bahwa storytelling
salah satu yang memainkan peran penting dalam memiliki banyak manfaatnya, bukan hanya bagi anak-
perkembangan kemampuan berbahasa pada anak, anak tetapi juga bagi orang yang mendongengkannya.
terumata dalam penguasaan kosa kata (Santrock, 2007). Manfaat Storytelling diantaranya membantu
Orang dewasa yang peka dan peduli menggunakan pembentukan pribadi dan moral anak, menyalurkan
teknik-teknik tambahan yang memacu keterampilan kebutuhan imajinasi dan fantasi anak, memacu
bahasa awal ketika anak-anak menggunakan kata-kata kemampuan verbal anak, merangsang minat menulis dan
dengan keliru atau berkomunikasi dengan kurang jelas, membaca anak, membuka cakrawala pengetahuan anak,
mereka memberikan umpan balik yang membantu dan karena pentingnya kegiatan bercerita, maka terdapat
jelas. Anak kecil mengandalkan informasi yang tersedia beberapa prosedur, yaitu memilah dan memilih materi
untuk menambah kosakata mereka. Orangtua yang bercerita, memahami dan menghafal isi cerita,
memberikan informasi dapat membantu anak-anak menghayati karakter tokoh, latihan dan introspeksi.
prasekolah dalam mengembangkan kosakata secara lebih Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini di
cepat (Callanan & Sabbagh, 2004). Forget-Dobois,dkk maksudkan memberikan gambaran bahwasanya
menerangkan bahwa lingkungan rumah di masa kanak- storytelling bisa menjadi salah satu cara yang efektif
kanak awal mempengaruhi keterampilan berbahasa, untuk mengembangkan kemampuan berbahasa pada anak
sehingga dapat memprediksi kesiapan anak-anak dalam prasekolah. Tentunya dalam melakukan storytelling
memasuki sekolah. Dalam penelitian Rodriguez,dkk dengan anak usia dini sebagai pendengar, orangtua perlu
menjelaskan bahwa pengalaman literasi (seberapa sering memperhatikan beberapa hal baik dalam tahapan
anak dibacakan cerita) memberikan pengaruh positif persiapan melakukan storytelling maupun dalam proses
terhadap perkembangan Bahasa anak-anak (Santrock, selama melakukan storytelling, agar proses
2012). Bahasa memiliki hubungan yang sangat erat pengembangan kemampuan berbahasa pada anak menjadi
dengan seluruh perubahan kognitif. Dalam hal ini, perlu optimal.
beberapa teknik untuk mengembangkan kemampuan
berbahasa pada anak. Kemampuan berbahasa adalah KEMAMPUAN BERBAHASA
proses interaktif, anak membutuhkan kesempatan yang Berbahasa adalah kemampuan mengucapkan
cukup untuk berinteraksi dalam aktivitas yang menarik bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk
dan menyenangkan. Salah satu teknik yang dapat mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan
digunakan memacu keterampilan berbahasa anak-anak pikiran, gagasan, dan perasaan. Sebagai perluasan dari
adalah dengan teknik storytelling atau bercerita. batasan ini dapat kita katakan bahwa berbahasa
Storytelling merupakan sebuah seni bercerita merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar
yang dapat digunakan sebagai sarana untuk menanamkan (audible) dan yang kelihatan (visible) yang
nilai-nilai pada anak yang dilakukan tanpa perlu memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh
menggurui sang anak. (Asfandiyar, 2007). Storytelling manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau
merupakan suatu metode yang dapat mewadahi ide-ide yang dikombinasikan. Lebih jauh lagi, berbicara
kemampuan anak dalam berimajinasi dan berfantasi. merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang
Cerita memiliki struktur kata dan bahasa yang lengkap memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis,
serta menyeluruh yang di dalamnya terdapat sistem semantik, dan linguistik sedemikian ekstensif, secara luas
aturan bahasa yang mencakup fonologi (sistem suara), sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang
morfologi (aturan untuk mengkombinasikan unit makna paling penting bagi kontrol sosial (Tarigan, 2008).
minimal), sintaksis (aturan membuat kalimat), sematik

Prosiding Seminar Nasional & Call Paper Lita Ariani


Psikologi Pendidikan 2019 37 Dyta Setiawati Hariyono
Fakultas Pendidikan Psikologi, Aula C1, 13 April 2019
Storytelling sebagai Metode dalam Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Pada Anak Prasekolah

Bahasa merupakan alat yang digunakan untuk bergerak lebih cepat ke kombinasi tiga, empat, dan lima
berkomunikasi sehari-hari baik bahasa lisan maupun kata. Transisi dari kalimat sederhana mengekspresikan
bahasa tulis. Selain itu dengan bahasa seseorang dapat proposisi tunggal untuk kalimat kompleks dimulai antara
menyampaikan pesan/maksud yang ingin disampaikan 2 dan 3 tahun dan berlanjut ke tahun-tahun sekolah dasar.
kepada orang lain sehingga orang lain akan memahami Owens (dalam Papalia, 2014) menerangkan bahwa pada
apa yang kita sampaikan.Maka dari itu perkembangan anak usia 3 tahun rata-rata anak mengetahui dan dapat
bahasa pada anak usia dini penting untuk dikembangkan. menggunakan 900 – 1000 kata. Di usia 6 tahun, seorang
Siti (2008) berpendapat bahwa dalam masa anak secara ekspresif berbicara dengan menggunakan
perkembangan bahasa anak usia dini perkembangan otak 2.600 kata-kata serta mampu memahami lebih dari
anak sedang mengalami kemampuan maksimal dalam 20.000 kata. Pesatnya pemahaman terhadap kosakata bisa
menyerap bahasa. Selanjutnya Nurbiana (2009) terjadi melalui pemetaan cepat yang mengizinkan anak
berpendapat bahwa perkembangan bahasa sebagai salah untuk memilih perkiraan arti dari kata-kata baru setelah
satu kemampuan dasar yang harus dimiliki anak yang mendengarkannya hanya dari percakapan sekali atau dua
sesuai dengan usia dan perkembangannya. Perkembangan kali. Dari konteks tersebut, anak rupanya membentuk
Bahasa anak akan berkembang jika distimulus dengan hipotesis yang cepat tentang arti dari sebuah kata yang
baik tanpa melewatinya begitu saja. kemudian disempurnakan dengan paparan dan
Berko Gleason (dalam, Santrock 2014) penggunaannya.
menerangkan bahwa bahasa melibatkan lima system Menurut Papalia (2014) cara anak-anak
aturan, yaitu : mengombinasikan suku kata ke dalam kata, dan kata ke
1. Fonologi, setiap bahasa terdiri atas suara dasar. dalam kalimat, berkembang dengan pesat selama masa
Fonologi adalag system suara dari bahasa, anak usia dini. Di usia 3 tahun, anak umumnya mulai
termasuk suara yang digunakan dan bagaimana menggunakan bentuk jamak, kata ganti milik, dan masa
mereka dapat dikombinasikan. lampau. Kebanyakan anak berusia 3 tahun sangat suka
2. Morfologi, mengacu pada unit makna yang bicara dan mereka memperhatikan dampak kata-kata
terlibat dalam pembentukan kata. Morfologi mereka terhadap orang lain. Jika individu lain tidak dapat
adalah satuan minimal, kata atau bagian dari memahami mereka, mereka mencoba menjelaskannya
kata yang tidak dapat dipecahkan menjadi sendiri lebih jelas. Anak usia 4 tahun, menyederhanakan
bagiab-bagian kecil yang bermakna. Bahasa mereka dan menggunakan daftar kata-kata ketika
3. Sintaks adalah cara penggabungan kata-kata berbicara. Sebagian besar anak usia 5 tahun dapat
untuk membentuk frasa dan kalimat yang dapat mengadaptasi apa yang mereka katakan pada apa yang
diterima. diketahui pendengarnya. Mereka juga dapat
4. Sematik mengacu pada makna kata dan kalimat. menggunakan kata-kata untuk menyelesaikan
Setiap kata memiliki seperangkat fitur sematik, perselisihan dan mereka menggunakan Bahasa yang lebih
atau atribusi yang diperlukan terkait dengan sopan serta mengurangi perintah langsung ketika
makna. berbicara dengan orang dewasa dibanding jika dengan
5. Pragmatic ialah penggunaan yang tepat dari anak lain.
bahasa dalam konteks yang berbeda. Kemampuan berbahasa merupakan hasil
kombinasi seluruh sistem perkembangan anak, karena
Perkembangan Bahasa kemampuan berbahasa sensitif terhadap kelambatan atau
Anak-anak membutuhkan Bahasa untuk kerusakan pada sistem yang lain. Kemampuan berbahasa
berbicara dengan orang lain, mendengarkan orang lain, melibatkan kemampuan motorik, psikologis, emosional
membaca, dan menulis. Bahasa mereka memungkinkan dan sosial. Seperti kemampuan motorik, kemampuan
mereka untuk menggambarkan peristiwa masa lalu secara anak untuk berbahasa terjadi secara bertahap sesuai
rinci dan untuk merencanakan masa depan. Ahli Bahasa dengan perkembangan usianya (Widyani, 2001). Seorang
terkenal Noam Chomsky (dalam Santrock, 2014) anak memiliki perkembangan kemampuan berbahasa
berpendapat bahwa manusia telah dipersiapkan untuk yang berbeda-beda, dimulai ketika usia baru lahir hingga
belajar Bahasa pada waktu tertentu dan dengan cara dewasa, mulai dari yang sederhana hingga yang paling
tertentu. Beberapa ahli Bahasa melihat kesamaan yang kompleks. Perkembangan kemampuan berbahasa ini akan
luar biasa dalam bagaimana anak-anak memperoleh meningkat seiring bertambahnya usia dan stimulus yang
Bahasa di seluruh dunia meskipun variasi luas dalam diperoleh anak.
masukan Bahasa yang mereka terima. Hurlock (1980) membagi tahapan
Menurut Bloom (dalam Santrock, 2014), ketika perkembangan berbahasa pada anak kedalam beberapa
anak-anak meninggalkan tahap dua kata, mereka fase, antara lain :

Prosiding Seminar Nasional & Call Paper Lita Ariani


Psikologi Pendidikan 2019 38 Dyta Setiawati Hariyono
Fakultas Pendidikan Psikologi, Aula C1, 13 April 2019
Storytelling sebagai Metode dalam Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Pada Anak Prasekolah

Tabel 1. Perkembangan Basaha Anak Usia 0 - 5 thn tentang lingkungannya. 



Usia Anak Perkembangan Bahasa 2. tahun 1. Tahu nama - nama
6 bulan ( 0,5 tahun 1. Merespon ketika di binatang.
) panggil namanya. 2. Menyebutkan nama benda
2. Merespon pada suara yang dilihat 
di buku atau
orang lain 
dengan majalah.
menolehkan kepala. 3. Mengenal warna.
3. Merespon relevan dengan 4. Bisa mengulang empat
nada marah 
atau ramah. digit angka.

 5. Bisa mengulang kata
12 bulan ( 1 bulan ) 1. Mengunakan satu atau dengan empat 
suku kata.
lebih kata bermakna jika 6. Suka mengulang kata,
ingin sesuatu,biasa jadi frasa, suku 
katadan
hanya potongan kata bunyi.
misalnya „mam‟ untuk 7. Bisa mengunakan kata
makan. deskriptif 
seperti kata
2. Mengerti instruksi sifat.
sederhana seperti „duduk‟. 8. Mengerti lawan kata :
3. Mengeluarkan kata besar kecil, 
lembut ,
pertama yang bermakna. kasar.
9. Dapat berhitung sampai
18 bulan ( 1,5 1. Kosakata mencapai 5 - 20 10.
tahun ) kata, kebanyakan kata 10. Berbicara sangat jelas
benda.
kecuali jika ada 
masalah
2. Suka mengulang kata atau
pengucapan.
kalimat.
11. Dapat mengikuti tiga
3. Dapat mengikuti instruksi
instrusi 
sekaligus.
seperti “ 
tolong tutup
12. Mengerti konsep waktu :
pintunya!” 

pagi, siang, 
malam,
2 tahun 1. Bisa menyebutkan
besok , hari ini dan
sejumlah nama benda di
kemarin.
sekitarnya.
13. Bisa mengulang kalimat
2. Menggabungkan dua kata
panjang 
Sembilan kata.
menjadi kalimat

pendek,misalnya “mama
bobo..” 

3. Kosakata mencapai 150- STORYTELLING
300 kata.
d. Bisa Storytelling yaitu bercerita atau mendongeng
merespons pada perintah, adalah sebuah teknik atau kemampuan untuk
misalnya “coba tunjukkan menceritakan sebuah kisah, pengaturan adegan, event,
mana telingamu“ dan juga dialog (Atin & Triningsih, 2018). Brewer (2007)
1. tahun 1. Bisa berbicara tentang juga menggambarkan storytelling adalah bertutur dengan
masa yang lalu. intonasi yang jelas, menceritakan sesuatu yang berkesan,
2. Tahu nama-nama bagian menarik, punya nilai-nilai khusus dan punya tujuan
tubuhnya. khusus.
3. Mengakata mencapai 900 Atin (2018) menjelaskan bahwa storytelling
- 1000 kata. yaitu sebuah teknik atau kemampuan untuk menceritakan
4. Bisa menyebutkan nama sebuah kisah, pengaturan adegan, event, dan juga dialog.
Storytelling menggunakan kemampuan penyaji untuk
,usia ,dan 
jenis kelamin.
menyampaikan sebuah cerita dengan gaya, intonasi dan
5. Bisa menjawab
alat bantu yang menarik minat pendengar. Storytelling
pertanyaan sederhana
sering digunakan dalam proses belajar mengajar

Prosiding Seminar Nasional & Call Paper Lita Ariani


Psikologi Pendidikan 2019 39 Dyta Setiawati Hariyono
Fakultas Pendidikan Psikologi, Aula C1, 13 April 2019
Storytelling sebagai Metode dalam Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Pada Anak Prasekolah

utamanya pada tingkat pemula atau anak-anak. Teknik ini konatif (penghayatan) anak-anak. Musfiroh (dalam
bermanfaat melatih kemampuan mendengar secara Fitriyanti, 2017) menjabarkan beberapa manfaat yang
menyenangkan. Kontak mata, mimik wajah, gerak tubuh, dapat peroleh melalui dongeng diantaranya menurut
suara / intonasi, kecepatan, atau alat peraga merupaka antara lain:
faktor yang mempengaruhi agar proses storytelling dapat a. Penanaman nilai-nilai.
berjalan (Solihudin,2016). Storytelling merupakan sarana untuk
“mengatakan tanpa mengatakan”, maksudnya
Jenis-jenis storytelling storytelling dapat menjadi sarana untuk
Rosidatun (2018) menyebutkan beberapa jenis mendidik tanpa perlu menggurui. Pada saat
storytelling, di antaranya: mendengarkan dongeng, anak dapat menikmati
1. Fabel, yaitu dongeng yang berisi tentang dunia cerita dongeng yang disampaikan sekaligus
binatang. 
Dongeng ini yang paling disenangi memahami nilai-nilai atau pesan yang
oleh si kecil karena daya ketertarikan anak-anak terkandung dari cerita dongeng tersebut tanpa
terhadap binatang masih sangat tinggi. Sebagai perlu diberi tahu secara langsung atau mendikte.
contoh dongeng Kancil dengan Buaya. Pendongeng hanya mendongengkan tanpa perlu
2. Legenda, yaitu dongeng yang berhubungan menekankan atau membahas tersendiri
dengan keajaiban alam, biasanya berisi tentang mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam
kejadian suatu tempat. Sebagai contoh dongeng cerita dongeng tersebut.
yang terjadinya Danau Toba, terjadinya gunung b. Mampu melatih daya konsentrasi.

Tangkuban Perahu. Storytelling sebagai media informasi dan
3. Mite, yaitu dongeng tentang dewa-dewa dan komunikasi yang digemari anak-anak, melatih
makhluk halus. Isi ceritanya tentang kemampuan mereka dalam memusatkan
kepercayaan animism. Sebagai contoh dongeng perhatian untuk beberapa saat terhadap objek
Nyi Roro Kidul. tertentu. Ketika seorang anak sedang asyik
4. Sage, yaitu dongeng yang banyak mengandung mendengarkan dongeng, biasanya mereka tidak
unsur sejarah. Karena diceritakan dari mulut ke ingin diganggu. Hal ini menunjukkan bahwa
mulut, lama kelamaan terdapat tambahan cerita anak sedang berkonsentrasi mendengarkan
yang bersifat khayal. Sebagai contoh dongeng dongeng.
Jaka Tinggir. c. Mendorong anak mencintai buku dan
5. Parabel, yaitu dongeng yang banyak merangsang minat baca anak. Storytelling
mengandung nilai-nilai pendidikan atau cerita dengan media buku atau membacakan cerita
pendek dan sederhana yang mengandung ibarat kepada anak-anak mampu mendorong anak
atau hikmah sebagai pedoman hidup. Sebagai untuk mencintai buku dan gemar membaca.
contoh dongeng Si Malin Kundang. Anak dapat berbicara dan mendengar sebelum ia
belajar membaca. Tulisan merupakan sistem
Manfaat Storytelling sekunder bahasa, yang pada awal membaca
Dewi (2011) menerangkan ada sembilan harus dihubungkan dengan bahasa lisan. Oleh
manfaat ketika kita melakukan storytelling, yaitu : (1) karena itu, pengembangan bahasa yang baik
merangsang kemampuan berpikir pada anak, (2) memberi sangat penting untuk mempersiapkan anak
kesenangan, kegembiraan, kenikmatan serta belajar membaca. Storytelling dapat menjadi
membangkintkan imajinasi pada anak, (3) memberi contoh yang efektif bagi anak mengenai cara
pengalaman baru dan mengembangkan wawasan pada membaca. Storytelling dengan media buku dapat
anak, (4) mengembangkan kemampuan dan berbicara menjadi stimulasi yang efektif, karena pada saat
pada anak, (5) menghubungkan kata-kata dengan itu minat baca anak mulai tumbuh. 

imajinasi, (6) membangun visualisasi anak, (7)
mempelajari sifat dan karakter, (8) inspirasi dari macam- Tahapan-tahapan Storytelling
macam kepribadian serta, (9) mengembangkan Solihudin (2016) menjabarkan terdapat tiga tahapan
kemampuan analisis. dalam storytelling, yaitu persiapan sebelum acara
Sedangkan Menurut Josette Frank (Asfandiyar, storytelling dimulai, saat proses storytelling berlangsung,
2007) Storytelling merupakan salah satu cara yang efektif dan sesudah kegiatan storytelling selesai.
untuk mengembangkan aspek-aspek kognitif
(pengetahuan), afektif (perasaan), sosial, dan aspek a. Persiapan sebelum storytelling

Prosiding Seminar Nasional & Call Paper Lita Ariani


Psikologi Pendidikan 2019 40 Dyta Setiawati Hariyono
Fakultas Pendidikan Psikologi, Aula C1, 13 April 2019
Storytelling sebagai Metode dalam Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Pada Anak Prasekolah

1) Memilih cerita yang sesuai dengan diceritakan. Dengan begitu, orang tua dapat
karakteristik usia anak sebelum mulai mengetahui reaksi dari anak.
bercerita, karena dalam memilih cerita 2) Mimik wajah
orang tua perlu memperhatikan tahap Pada waktu storytelling sedang
kognitif anak. Anak usia dini yang berada berlangsung, mimik wajah orang tua dapat
pada rentang 2-6 tahun masih pada tahap menunjang hidup atau tidaknya sebuah
operasional kongkrit, maka bentuk cerita cerita yang disampaikan. Orang tua harus
yang dijadikan sebagai metode bercerita dapat mengekspresi wajahnya sesuai
harus menyesuaikan dengan kemampuan dengan cerita yang disampaikan. Sebagai
anak orang yang bercerita sebaiknya orangtua
2) Orang tua dapat menghafalkan jalan atau harus dapat mengekspresikan wajah atau
jalur cerita yang ingin dibaca. emosi yang tepat (marah, sedih, menangis
3) Menentukan suasana dan imajinasi yang dan sebagainya).
akan ditampilkan, seperti suara latar 3) Gerak tubuh
belakang binatang, gemercik air atau suara Gerak tubuh orang tua pada waktu proses
kendaraan dan sebagainya storytelling berjalan dapat turut pula
4) Melatih intonasi suasana, dalam gerak mendukung menggambarkan jalan cerita
tubuh dan ekspresi wajah. yang lebih menarik. Cerita yang
5) Dapat juga menyediakan alat peraga secara didongengkan akan terasa berbeda jika
lengkap untuk menunjang penampilan dan orang tua melakukan gerakan-gerakan yang
kostum dalam mendongeng. merefleksikanapa yang dilakukan tokoh-
6) Mempersiapkan dialog-dialog pancingan tokoh yang diceritakan.
untuk anak agar lebig dapat menciptakan 4) Suara dan kecepatan (tempo)
suasana yang akrab dan mendukung. Tinggi rendahnya suara yang
7) Pemilihan waktu yang tepat dan kondusif, diperdengarkan dapat digunakan orang tua
misalkan ketika malam hari sebelum anak untuk membawa anak merasakan situasi
tidur dengan tempat bercerita yang dipilih dari cerita yang diceritakan. Orang tua dapat
harus aman, sejuk, dan menyenangkan bagi meninggikan intonasi suaranya untuk
anak- anak. merefleksikan cerita yang mulai memasuki
b. Saat storytelling berlangsung tahap yang menegangkan, serta dapat
Saat proses terpenting dalam storytelling menirukan suara-suara dari karakter tokoh
adalah pada tahap storytelling berlangsung yang diceritakan. Jaga agar kecepatan
karena dari proses inilah nilai atau pesan dari dalam berbicara selalu ada dalam tempo
cerita tersebut dapat sampai dan diserap oleh yang sama atau ajeg. Jangan terlalu cepat
anak. Proses inilah yang menjadi pengalaman yang dapat membuat anak-anak menjadi
seorang anak dan menjadi tugas orangtua untuk bingung ataupun terlalu lambat sehingga
menampilkan kesan menyenangkan pada saat menyebabkan anak-anak menjadi
bercerita. Selain itu, juga perlu diketahui bahwa bosan.Kecepatan
proses bercerita tidak sekedar membacakan 5) Alat peraga
buku cerita saja, cara bercerita merupakan Untuk menarik minat anak-anak dalam
unsur yang membuat cerita itu menarik dan proses storytelling, 
perlu adanya alat
disukai anak-anak. peraga seperti misalnya boneka kecil yang
Ada beberapa faktor yang dapat menunjang dipakai ditangan atau di jari untuk mewakili
berlangsungnya proses storytelling agar menjadi tokoh yang menjadi materi dongeng. Selain
menarik untuk disimak oleh anak, antara lain : boneka, dapat juga dengan cara memakai
1) Melakukan kontak mata kostum-kostum hewan yang lucu agar
Saat storytelling berlangsung, orang tua membuat anak merasa ingin tahu dengan
hendaknya melakukan kontak mata dengan materi dongeng yang akan disajikan. Seperti
anak. Dengan melakukan kontak mata akan yang dikatakan oleh Wirawan (2007),
merasa dirinya diperhatikan dan diajak dengan digunakan alat peraga, hal itu akan
untuk berinteraksi. Selain itu, dengan dapat membantu menghidupkan kisah yang
melakukan kontak mata kita dapat melihat disampaikan. Selain itu, melihat tahap
apakah anak menyimak jalan cerita yang perkembangan kognitif anak usia dini antara

Prosiding Seminar Nasional & Call Paper Lita Ariani


Psikologi Pendidikan 2019 41 Dyta Setiawati Hariyono
Fakultas Pendidikan Psikologi, Aula C1, 13 April 2019
Storytelling sebagai Metode dalam Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Pada Anak Prasekolah

2-8 tahun proses bercerita pada anak bukan secara aktif memproses dan memahami apa yang
sekedar membacakan cerita belaka, namun didengar.
dibutuhkan juga benda-benda seperti alat Santrock (2014) menjelaskan bahasa sebagai
bantu (alat peraga) yang mendukung cerita. bentuk komunikasi, baik lisan, tertulis, atau
6) Penggunaan bahasa ditandatangani yang di dasarkan pada bentuk symbol.
Dalam bercerita bahasa mempunyai Bahasa terdiri atas kata-kata yang digunakan oleh
pengaruh respon yang amat vital dalam komunitas (kosakata) dan aturan untuk memvariasi dan
pembinaan segenap aspek kepribadian anak, menggabungkannya (tata bahasa dan sintaksis).
artinya ketika kita bercerita kita harus Perkembangan bahasa anak usia dini dapat berkembang
menggunakan bahasa yang mudah dan cepat jika dilakukan dengan bantuan dari orang dewasa
dapat di mengerti oleh anak sebagai melalui percakapan dan didukung oleh lingkungan yang
pendengarnya. Dalam menggunakan baik. Anak akan menemukan pengalaman dan
storytelling (metode bercerita) hendaknya meningkatakan pengetahuannya dan mengembangkan
menyesuaikan dengan level kognitif anak. bahasanya (Fitriyanti, 2017). Sedangkan Yamin (2010)
Di mana pada usia dini, level kognitif berpendapat bahwa ada beberapa factor yang dapat
mereka masih pada operasional kongrit mempengaruhi perkembangan bahasa anak usia dini yaitu
(Santrock, 2007). Jadi cerita yang : (1) Anak berada di dalam lingkungan yang bebas dari
dibacakan atau disampaikan haruslah tekanan (2)Menunjukan sikap dan minat yang tulus pada
menyesuaikan tingkat kemampuan kognitif anak (3) Menyampaikan pesan verbal dengan pesan
anak.Oleh karena itu, penggunaan nonverbal (4)Dalam bercakap-cakap dengan anak, orang
bahasa yang lugas, menarik dan dewasa perlu 
menunjukan ekspresi yang sesuai dengan
komunikatif bagi anak sangat ucapannya (5) Melibatkan anak dalam berkomunikasi.
mendukung proses storytelling. Kemampuan berbahasa adalah proses interaktif,
anak membutuhkan kesempatan yang cukup untuk
c. Sesudah kegiatan stotytelling selesai
berinteraksi dalam aktivitas yang menarik dan
Ketika proses storytelling selesai
menyenangkan. Salah satu teknik yang dapat digunakan
dilaksanakan, orang tua sebaiknya melakukan
memacu keterampilan berbahasa anak-anak adalah
evaluasi cerita. Melalui cerita tersebut kita dapat
dengan teknik storytelling atau bercerita. Solihudin
belajar tentang apa saja. Setelah itu orang tua
(2016) menerangkan saat proses terpenting dalam
dapat mengajak anak untuk gemar membaca dan
storytelling adalah pada tahap storytelling berlangsung,
merekomendasikan buku-buku dengan tema lain
saat akan memasuki sesi acara storytelling, orang tua
yang isinya menarik (Istiarni, 2018).
harus menunggu kondisi sehingga anak siap untuk
menyimak dongeng yang akan disampaikan. Storytelling
menggunakan kemampuan penyaji untuk menyampaikan
HASIL DAN PEMBAHASAN
sebuah cerita dengan gaya, intonasi dan alat bantu yang
Bahasa merupakan salah satu hal terpenting
menarik minat pendengar. Storytelling sering digunakan
dalam kehidupan anak, dengan bahasa anak dapat
dalam proses belajar mengajar utamanya pada tingkat
berinteraksi dengan orang lain dan menemukan banyak
pemula atau anak- anak. Teknik ini bermanfaat melatih
hal baru dalam lingkungan tersebut. Keterampilan
berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak, kemampuan mendengar secara menyenangkan. Orang
yang ingin menyampaikan storytelling harus mempunyai
didahului oleh keterampilan menyimak, dan pada masa
kemampuan public speaking yang baik, memahami
tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari.
karakter pendengar, meniru suara-suara, pintar mengatur
Berbicara berhubungan erat dengan perkembangan kosa
nada dan intonasi serta keterampilan memakai alat bantu.
kata yang diperoleh oleh sang anak, melalui kegiatan
menyimak dan membaca (Tarigan, 2008). Nurbiana Dikatakan berhasill menggunakan teknik storytelling jika
pendengar mampu menangkap jalan cerita serta merasa
(2009) berpendapat bahwa perkembangan bahasa anak
terhibur. Selain itu, pesan moral dalam cerita juga
meliputi perkembangan bahasa ekspresif (berbicara dan
diperoleh (Agus, 2010).
menulis) dan perkembangan bahasa reseptif (membaca
Michael (2009) menyatakan bahwa bercerita
dan menyimak). Perkembangan berbicara, merupakan
salah satu kemampuan untuk berkomunikasi dimana anak merupakan metode yang sangat penting dalam
mengembangkan kemampuan bahasa dan kognitif pada
dapat menyampaikan makna, ide, pikiran dan perasaan
anak usia dini. Hal senada juga diungkapkan oleh
secara lisan. Perkembangan menyimak merupakan salah
Moeslichaton (2004) selain mengembangkan bahasa dan
satu kemampuan berkomunikasi anak sebagai penyimak

Prosiding Seminar Nasional & Call Paper Lita Ariani


Psikologi Pendidikan 2019 42 Dyta Setiawati Hariyono
Fakultas Pendidikan Psikologi, Aula C1, 13 April 2019
Storytelling sebagai Metode dalam Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Pada Anak Prasekolah

kognitif anak, metode bercerita (storytelling) juga Keterlibatan aktif orang tua dalam proses
memiliki beberapa manfaat, diantaranya; (1) melalui storytellingmampu meningkatkan imajinasi dan kreatifitas
cerita kita bisa menyisipkan sifat empati, kejujuran, anak.
kesetiaan dan keramahan, ketulusan, (2) memberikan
sejumlah pengetahuan sosia, moral dan lain sebagainya,
(3) melatih anak belajar mendengarkan apa yang
disampaikan, (4) membuat anak bisa mengembangkan DAFTAR PUSTAKA
aspek psikomotor, kognitif dan afektif, (5) metode
bercerita mampu meningkatkan imajinasi dan kreatifitas Agus, D,S. 2010. Pintar Mendongeng Dalam 5 Menit.
anak. Yogyakarta: Kanisius
Ketika cerita dibacakan, terkadang kata-kata yang Asfandiyar, Andi, Y. 2017. Cara Pintar Mendongeng.
diucapkan tidak hanya diingat namun juga serasa Jakarta: Mizan.
dilukiskan kembali secara psontan, terdapat semangat
Atin, Istiarni, Triningsih. 2018. Jejak Pena Pustakawan.
performance yang dibantu oleh partisipasi dan interaksi Surabaya: Azyan Mitra Media
anak (Isbell, Sobol, Lindauer, & Lowrance, 2004). Roney
(Isbell, Sobol, Lindauer, & Lowrance, 2004) menjelaskan Berk, Laura E. 2012. Development Through The
Lifespan- Dari Penatal Sampai Remaja (Transisi
bahwa di dalam storytellingaspek yang harus diperhatikan Menjelang Dewasa)-Edisi Kelima.Yogyakarta :
agar dapat berjalan dengan efektif adalah mencoba kreatif Pustaka Belajar
dan memiliki komunikasi dua arah (storyteller dan
Brewer, Jo, An. 2007. Introduction to Early Child-Nood
pendengar). Selain itu kontak mata dengan pendengarpun
Education Presholl Throught Primary Grades.
sangat penting untuk diperhatikan, jika anak melihat mata United States of Amerika: Pearson
dengan storyteller, dimana mereka saling melakukan
tatapan dan interaksi maka pada akhirnya akan membuat Dewi, Shakuntala. 2011. Jadikan Anak Anda Jenius,
Jakarta: PT Gramedia
pengalaman menjadi lebih personal dari pada storyteller
hanya membaca buku cerita (Isbell, Sobol, Lindauer, & Firyanti, Yulia, Indah. 2017. Pengaruh Metode
Lowrance, 2004). Proses inilah yang menjadi pengalaman StoryTelling Terhadap Perkembangan
Kemampuan Bahasa Anak Usia 4-5 Tahun Di Tk
anak-anak dan menjadi tugas orangtua untuk
Nurul Amal Ratulangi Bandar Lampung Tahun
menampilkan kesan menyenangkan pada saat bercerita. Ajaran 2017/2018. Skripsi. Program Studi
Proses storytellingtidak sekedar membacakan buku cerita Pendidikan Anak Usia Dini Jurusan Ilmu
saja, namun cara bercerita merupakan unsur yang Pendidikan Fakultas Keguruan Dan Ilmu
membuat cerita itu menarik dan disukai anak-anak Pendidikan Universitas Lampung
sehingga hal tersebut mampu menstimulasi anak untuk Hurlock, Elizabeth, B. 1980. Psikologi Perkembangan
memperbanyak pembendaharaan kata. Begitulah, proses Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan
penerapan Storytelling kepada anak-anak oleh orangtua Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga
mereka untuk meningkatkan kemampuan berbahasa pada Isbell, Sobol, Lindauer, & Lowrance. 2004. The Effects of
anak- anak terutama anak-anak usia prasekolah. Storytelling and Story Reading on the Oral
Language Complexity and Story Comprehension
of Young Children. Early Childhood Education
PENUTUP Journal, Vol. 32. No. 3, Desember 2004
Simpulan Istiarni, Atini, Triningsih. 2018. Jejak Pena Pustakawan.
Berdasarkan uraian yang telah disampaikan maka Surabaya: Azyan Mitra
simpulan dari tulisan ini adalah : Itadz. 2008. Memiliki, Menyusun, Dan Mennyajikan
1. Storytellingmerupakan salah satu metode yang Ceita Untuk Anak Usia Dini. Yogyakarta : Tiara
efekif untuk membantu anak pada usia dini dalam Wacana
meningkatkan kemampuan berbahasa. Michael L. 2009. Teaching Your Children. New Jersey:
2. Teknik ini bermanfaat untuk melatih kemampuan Person Education.
mendengar secara menyenangkan pada anak.
Moelichatoen. 2004. Metode Pengajaran di taman
3. Dengan melakukan teknik storytelling, orang tua Kanak-Kanak. Jakarta: Rineka Cipta.
dapat menyisipkan sifat empati, kejujuran,
Moentessori, Maria. 2008. The Absobent Mind-Pikiran
kesetiaan, keramahan serta ketulusan pada anak.
yang Mudah Menyerap (terjemahan). Yogyakarta
4. Dengan melakukan teknik storytellingmembuat : Pustaka Pelajar
anak bisa mengembangkan aspek psikomotor,
kognitif dan afektif.

Prosiding Seminar Nasional & Call Paper Lita Ariani


Psikologi Pendidikan 2019 43 Dyta Setiawati Hariyono
Fakultas Pendidikan Psikologi, Aula C1, 13 April 2019
Storytelling sebagai Metode dalam Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Pada Anak Prasekolah

Nurbiana, dkk. 2009. Metode Pengembangan Bahasa.


Universitas Terbuka. Jakarta.Noor,
Juliansyah. 2012. Metodologi Penelitian. Kencana
Prenada Media Group. Jakarta.
Rettig, Michael. 2005. Using the Multiple Intelligences to
Enhance Instruction for Young Children and
Young Children with Disabilities. Eary Childhood
Education Journal, Vol. 32 (4), Februari 2005.
Rosidatun. 2018. Model Impementasi Pendidikan
Karakter. Gresik: Caremedia Communation.
Santrock, John, W. 2012. Life – Span Development
Perkembangan Masa – Hidup Edisi Ketigabelas
Jilid I. Jakarta : Erlangga
Santrock, John, W.2007. Psikologi Pendidikan
(Terjemahan). Jakarta : Kencana Prenada Media
Group.
Santrock, John, W. 2014. Psikologi
PendidikanEducational Psychology.Jakarta :
Salemba Humanika
Siti, dkk. 2008. Perkembangan dan Konsep Dasar
Pengembangan Anak Usia Dini. Universitas
Terbuka. Jakarta.
Solihudin, Ichsan, 2016. Hypnosis For Parents:
Melenjitkan Potensi Buah Hati, Bandung: PT
Mizan Pustaka
Tarigan, Henry, Guntur. 2008. Berbicara: Sebagai Suatu
Keterampilan Berbahasa Edisi Revisi,Bandung:
Angkasa
Yamin, Martinis, J. S. 2010. Panduan PAUD. Gaung
Persada Press Group. Jakarta

Prosiding Seminar Nasional & Call Paper Lita Ariani


Psikologi Pendidikan 2019 44 Dyta Setiawati Hariyono
Fakultas Pendidikan Psikologi, Aula C1, 13 April 2019

Anda mungkin juga menyukai