Anda di halaman 1dari 3

Simulasi Rukyat Global - apakah mungkin Sholat Ied di

hari yang sama?


oleh Fahmi Amhar (Catatan) pada 2 Agustus 2011 pukul 9:33

Menjawab keraguan sebagian kalangan, karena di dunia ini 24 (atau bahkan maximum 26 daerah
waktu) sehingga di dunia setiap saat selalu ada 2 hari. oke kita simulasikan begini: ada 6 kota:
Samoa (di extrim Barat, GMT-11), New York (GMT-5), London (GMT+0), Makkah (GMT+3),
Jakarta (GMT+7), dan Tonga (extrim timur, GMT+13 -- bukan GMT+12).

Asumsikan "Ahad sore" (tanggalnya terserah, yang jelas 29 Ramadhan) mereka rukyat. Pasti
yang rukyat duluan adalah Tonga. Baru 24 jam kemudian - kalau dibilang "Ahad sore" - adalah
Samoa.

Kalau katakan di Tonga Ahad pukul 18 rukyat, dan hilal kelihatan.

Peristiwa ini diikuti secara on-line.

Tonga mengatakan "besok" (yaitu Senin) lebaran Iedul Fitri.

Maka:

- di Jakarta masih Ahad pukul 12 siang; "besok" adalah Senin.

- di Makkah masih Ahad pukul 8 pagi; "besok" adalah Senin.

- di London masih Ahad pukul 5 pagi; "besok" adalah Senin.

- di NewYork masih Sabtu pukul 24 atau Ahad pukul 0 pagi; meski masih malam, tapi karena ini
malam 29 Ramadhan, maka disempurnakan dulu, jadi "besok" juga Senin.

- di Samoa masih Sabtu pukul 18 sore, sama maghribnya dengan Tonga, tetapi ini malam 29
Ramadhan, maka disempurnakan dulu, jadi "besok" juga Senin.

Jadi rukyat global di Tonga akan menjadikan Sholat Ied di seluruh dunia sama-sama Senin.

Sekarang katakanlah di 5 kota dari Tonga hinga New York hilal tertutup awan, sehingga Ahad
sore hilal tidak dapat terlihat, meski secara astronomi sudah di atas ufuk, dan itsbat memutuskan
Ramadhan istikmal. Tetapi di Samoa hilal terlihat pada Ahad pukul 18 sore (29 Ramadhan), dan
diumumkan "besok" (yaitu Senin) lebaran Iedul Fitri. Maka:
- di Tonga sudah Senin pukul 18 sore; sudah sama-sama Maghrib tapi hari Senin sudah selesai,
sehingga "besok" adalah Selasa; bisa saja yang tadi sudah dilalui dan sudah dianggap tgl 30
Ramadhan dicancel dan dianggap 1 Syawal, agar kelanjutan hari kembali konsisten (Selasa 2
Syawal). Tetapi yang jelas, perayaan Iedul Fitri tidak bisa pada hari Senin yang sama.

- di Jakarta sudah Senin pukul 12 siang; bisa saja istikmal dicancel, tetapi sudah tidak mungkin
sholat Ied lagi, jadi Senin ini sudah 1 Syawal, tetapi sholat Ied-nya baru besok.

- di Makkah sudah Senin pukul 8 pagi; istikmal 30 Ramadhan bisa dicancel, jadi Senin pagi ini
juga lebaran.

- di London sudah Senin pukul 5 pagi; istikmal 30 Ramadhan bisa dicancel, jadi Senin ini juga
Lebaran.

- di New York masih Ahad pukul 24 atau Senin pukul 0 pagi; istikmal 30 Ramadhan bisa
dicancel; jadi "besok" Senin Lebaran.

Jadi rukyat global di Samoa ternyata TIDAK BISA membuat hari sholat Ied di seluruh dunia
sama; tetapi akan 2 hari yaitu Senin dan Selasa, lepas soal cancelling istikmal 30 Ramadhan.

Bagaimana kalau kita ambil kota di tengah yang rukyat? katakanlah dari Tonga sampai Mekkah
gagal merukyat karena cuaca, tetapi London berhasil pada Ahad sore pukul 18 waktu London,
maka:

- di Tonga sudah Senin pukul 7 pagi; istikmal dicancel, jadinya Senin ini juga lebaran.

- di Jakarta sudah Senin pukul 1 pagi; istikmal dicancel, jadinya besok Senin lebaran.

- di Makkah masih Ahad pukul 21; istikmal dicancel, jadinya besok Senin lebaran.

- di New York masih Ahad pukul 13; sempurnakan hari, besok Senin lebaran.

- di Samoa masih Ahad pukul 7 pagi; sempurnakan hari, besok Senin lebaran.

Jadi rukyat global di London masih bisa menjaga kesamaan hari lebaran.

KESIMPULAN
Yang paling crucial memang bila rukyat yang berhasil adalah yang di "pojok barat" daerah
penanggalan kita, yaitu Samoa.

PERSOALAN YANG ADA SELAMA INI BELUM SEJAUH ITU.

YANG SERING TERJADI ADALAH KLAIM RUKYAT YANG SECARA SAINTIFIK


TIDAK VALID, MISALNYA TERKADANG ADA KLAIM RUKYAT PADAHAL BELUM
IJTIMA' ATAU TINGGI BULAN MASIH NEGATIF. MESKI TIDAK ADA FOTONYA, DAN
ADA BESAR POTENSI KEKELIRUAN, NAMUN SEBAGIAN PAKAR SYARIAH MASIH
KEBERATAN UNTUK MENOLAK RUKYAT SEMACAM INI. SEBAGIAN PAKAR
SYARIAH MENGANGGAP "MENOLAK RUKYAT DENGAN ALASAN ASTRONOMIS"
ADALAH TIDAK SYAR'I. ALASANNYA, KARENA ASTRONOMI DIANGGAP BUKAN
SESUATU YANG PASTI SEHINGGA BISA MEMBATALKAN KESAKSIAN. MEREKA
BERPANDANGAN PENDAPAT PARA AHLI ASTRONOMI SUKA BERBEDA-BEDA, INI -
MENURUT MEREKA- MEMBUKTIKAN ASTRONOMI TIDAK PASTI.

PADAHAL, DALAM MASALAH MENGHITUNG KAPAN IJTIMA' ATAU TINGGI HILAL,


PARA PAKAR ASTRONOMI TELAH SEPAKAT. YANG BERBEDA-BEDA ADALAH
PERISTIWA ASTRONOMIS YANG MANA YANG DAPAT DIANGGAP SEBAGAI
PERALIHAN TANGGAL HIJRIYAH, APAKAH IJTIMA'? APAKAH WUJUDUL HILAL?
APAKAH IMKAN 2 DERAJAT? APAKAH IMKAN 5 DERAJAT? DSB.

JADI BUKAN PADA MENGHITUNGNYA ITU SENDIRI.

SAYA SENDIRI BERPENDAPAT, UNTUK PEMBUATAN KALENDER, TIDAK USAH


PAKAI HISAB ASTRONOMI. PASTI HASILNYA AKAN BEDA-BEDA KARENA
TERGANTUNG KOORDINAT LOKASI YANG DIHITUNG. KITA KEMBALI SAJA KE
KALENDER URFIAH YANG SUDAH DIPAKAI DI ZAMAN NABI. TERUS RUKYAT
HANYA KITA KERJAKAN PADA 29 SYA'BAN. 1 SYA'BANNYA SENDIRI TIDAK USAH
DIRUKYAT, KARENA TIDAK ADA PERINTAHNYA.

WALLLAHU A'LAM