Anda di halaman 1dari 20

ANALISIS INDUSTRI GULA DI INDONESIA

PT. PG REJO AGUNG BARU DAN PT. PERKEBUNAN NUSANTARA X

MANAJEMEN STRATEGIK
KELAS : L / SELASA 12.40

Kelompok 8
OLEH:
Dwi Aprianto (041611333022)
Mahdalena Berliany (041611333026)
Mawar Fitriyah (041611333029)
Saskia Anadine G. (041611333039)
Pasha Dewi Rosidi (041611333177)
Putri Silwi Wakhidana (041611333200)
Arista Yuliana Sari (041811333171)

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2018

DAFTAR ISI
I. Kajian Teori ………………………………………………………………... 2
A. Perkembangan Industri Gula di Indonesia ……………………………... 2
B. Produksi dan Konsumsi Gula di Indonesia …………………………….. 3
II. PT. PG Rejo Agung Baru …………………………………………………. 4
A. Profil Perusahaan ………………………………………………………. 4
B. Visi dan Misi ………………………………………………………….... 5
C. Pilihan Strategi Perusahaan …………………………………………….. 5
D. Analisis SWOT ……………………………………………………….... 6
E. Analisis 5 Kekuatan Persaingan Menurut Michael Porter …………….. 8
F. Competitive Advantages ……………………………………………….. 9
III. PT. Perkebunan Nusantara X (PTPN X) ……………………………….... 9
A. Profil Perusahaan ………………………………………………………. 10
B. Visi dan Misi ………………………………………………………….... 10
C. Pilihan Strategi Perusahaan ……………………………………………. 11
D. Analisis SWOT ……………………………………………………….... 11
E. Analisis 5 Kekuatan Persaingan Menurut Michael Porter …………….. 13
F. Competitive Advantages ……………………………………………….. 14
IV. Perbandingan PT. PG Rejo Agung dan PT. Perkebunan Nusantara X 15
... 17
V. Kesimpulan dan Saran ……………………………………………………. 17
A. Kesimpulan …………………………………………………………….. 18
B. Saran …………………………………………………………………….

1
I. Kajian Teori
A. Perkembangan Industri Gula di Indonesia
Perkembangan penggilingan atau pengepresan tebu di Jawa, secara besar
dimulai pertama kali pada pertengahan abad 17 di dataran rendah Batavia,
dikelola oleh orang-orang cina. Kemudian di awal abad 19 muncul industri
gula modern di Pamanukan, Ciasem, Jawa Barat, yang dikelola oleh para
pedagang besar dari Inggris. Karena kesalahan lokasi, maka dari itu hanya
bertahan satu dasawarsa (kekurangan tenaga kerja). Kehancuran industri gula
Inggris (Pamanukan-Ciasem) digantikan industri Belanda dalam kurun cultur
stelsel. VOC mulai melakukan pengiriman gula Batavia sejak 1673 ke Eropa,
dengan jumlah ekspor per tahun lebih dari 10.000 pikul. 130 buah penggilingan
pada tahun 1710, dengan produksi rata-rata setiap penggilingan sekitar 300 pikul.
Tahun 1974 terdapat 65 penggilingan, sedang pada 1750 naik menjadi 80, dan
akhir abad ke-18 merosot tinggal 55 penggilingan yang memasok sekitar 100.000
pikul gula.
Tepat 147 tahun lalu, 9 April 1870, undang-undang yang disebut sebagai
UU Agraria lahir di Hindia Belanda, yang mengakhiri era tanam paksa. M.C.
Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (2008) menyebut lahirnya UU Agraria
membuka Pulau Jawa bagi perusahaan swasta. Kebebasan dan keamanan
pengusaha dijamin. Para pemodal asing diperkenankan menyewa lahan hingga 75
tahun dari pemerintah. Undang-undang yang lahir dalam semangat kapitalisme
makin menumbuhkan sektor perkebunan terutama komoditas primadona lantaran
laku di pasaran dunia khususnya tebu. Pada masa tanam paksa 1830 hingga
kebijakan awal liberal 1870, perkebunan tebu berkembang yang dibarengi
produksi gula.
Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia yang
dibuktikan dengan kebijakan pemerintah yang menetapkan gula sebagai salah
satu dari sembilan bahan pokok kebutuhan masyarakat secara global
(Issoesetiyo.dkk, 2001). Permintaan masyarakat terhadap gula nasional selalu
mengalami perubahan setiap tahun bahkan cenderung mengalami peningkatan.
Dengan meningkatnya permintaan masyarakat terhadap kebutuhan gula
setiap tahunnya, maka dibuat berbagai macam olahan gula untuk memenuhi
kebutuhan gula tersebut. Jenis gula yang banyak diproduksi untuk memenuhi

2
kebutuhan gula tersebut adalah gula yang berasal dari bahan baku tebu, seperti
gula pasir dan gula merah.
B. Produksi dan Konsumsi Gula di Indonesia
1. Konsumsi Gula di Indonesia

2. Produksi Tebu di Indonesia

Sumber : BPS

3
Impor Gula Indonesia

Sumber : BPS
Berdasarkan data diatas, terlihat bahwa kebutuhan konsumsi gula lebih
banyak dan semakin meningkat sedangkan produksi gula semakin menurun
dengan demikian perlu impor untuk memenuhi kebutuhan gula.

II. PG. Rejo Agung


A. Profil Perusahaan
PG Rejo Agung Baru didirikan pada tahun 1894 sebagai salah satu anak
perusahaan NV Handel My Kian Gwan. Dalam perkembangannya pada tahun
1996 PG Rejo Agung Baru berubah menjadi PT PG Rajawali I unit PG Rejo
Agung Baru. Secara administratif PG Rejo Agung Baru terletak di Desa Patihan,
Kecamatan Mangunharjo, Kota Madiun, yang terletak pada ketinggian 67m dpl.

4
Dalam memperoleh bahan baku tebu PG Rejo Agung Baru mempunyai wilayah
kerja yang tersebar di 4 Kabupaten di ex Karesidenan Madiun yaitu Madiun,
Ponorogo, Ngawi, Magetan dan juga di wilayah Kabupaten Nganjuk. Areal untuk
budidaya tebu secara total seluas ± 8250 ha dengan jumlah tebu ± 760.000 ton
tebu yang semuanya dikelola dengan sistem tebu rakyat kemitraan. Sedangkan
desain kapasitas pabrik yang dimiliki saat ini adalah 6000 TCD.
B. Visi dan Misi
● Visi
Menjadi Industri Berbasis Tebu yang Unggul dalam Persaingan Global
● Misi
1. Meningkatkan kinerja terbaik melalui pencapaian produktivitas dan
efektivitas, berorientasi kualitas produk, pelayanan pelanggan prima
serta menjadi perusahaan yang memiliki komitmen tinggi terhadap
kelestarian lingkungan.
2. Melakukan langkah-langkah inovasi, diversifikasi, dan ekspansi untuk
tumbuh berkembang berkelanjutan.
Analisis Visi dan Misi
Berdasarkan karakteristik :

1. Simple: karena visi dan misi sederhana dan simpel tetapi menggambarkan
seluruh visi dari perusahaan serta misi yang dituangkan mengandung 9
komponen diantaranya pelanggan, produk, pasar, teknologi, pertumbuhan,
filosofi, citra, karyawan dan ciri khas.
2. Measurable: karena dapat diukur
3. Applicable: karena bisa segera diaplikasikan atau dilaksanakan
4. Realiable: saling terkait dan mudah untuk diaplikasikan
5. Timeable: jangka waktu dekat, dan ada batasan
C. Pilihan Strategi Perusahaan
Dalam menjalankan misi, perusahaan memiliki tuntunan yang senantiasa
berfungsi sebagai pembatas sekaligus pendorong bagi seluruh karyawan
perusahaan, dan diharapkan dapat dijalankan dengan penuh integritas sehingga
visi perusahaan tercapai. Filosofi bisnis PT. PG Rajawali I terwujud dalam nilai-
nilai perusahaan sebagai berikut:
1. Menghormati stakeholder sebagai keluarga besar perusahaan

5
2. Menghargai setiap aktivitas usaha untuk dijadikan mosaik strategi besar
perusahaan.
3. Menanamkan kepuasan kerja sebagai pedoman emas serta menghargai
karyawan sebagai mitra kerja strategis.
4. Mengakomodasi ide-ide strategis kemudian mengkreasikannya menjadi
kerjasama yang efektif dalam kompetisi global.
5. Bekerjasama sebagai tim yang solid baik saat ini maupun di masa yang
akan datang.
6. Membuat kolaborasi yang saling menguntungkan untuk stakeholder.
7. Mewujudkan karyawan loyal pada perusahaan dengan menerapkan
manajemen komunikasi terbuka dari hati ke hati.
8. Menjaga integritas di semua aktivitas usaha, sosial, dan lingkungan.
9. Satu komitmen dalam menjaga semangat untuk menjadi perusahaan
berbasis tebu yang menjaga lingkungan dan terus bertumbuh sekaligus
menjaga nilai-nilai perusahaan dalam setiap aktivitas.

PT PG Rajawali I mempunyai budaya perusahaan yang sangat kuat untuk


menyatukan visi dan misi seluruh insan perusahaan. Budaya kerja yang dianut
adalah:
1. Professionalisme: Berkomitmen menerapkan standar profesionalisme
tertinggi melalui upaya mengejar inovasi, menata imajinasi, terbuka
terhadap gagasan-gagasan baru, bertindak dengan perhitungan matang dan
konsisten.
2. Intregity: Satunya pemikiran, perkataan dan tindakan secara konsisten
yang didasari oleh sekumpulan nilai yang sama.
3. Teamwork: Memelihara semangat partisipatif, kolaboratif yang seimbang
dan proporsional dalam bekerja untuk mewujudkan tujuan perusahaan.
4. Excellence: Semangat untuk memberikan yang terbaik serta peningkatan
yang terus menerus adalah jiwa seluruh karyawan dalam menjalankan tugas
dan kewajibannya.
5. Respect: Memiliki komitmen untuk memperlakukan orang lain dengan rasa
hormat dan saling menghargai serta menciptakan rasa ketergantungan yang
sehat dan proporsional.
D. Analisis SWOT

6
Strenght 1. PG. Rejo Agung Baru memiliki lokasi yang cukup strategis
(kekuatan) 2. PG. Rejo Agung Baru telah mencapai tujuan yang tepat dalam
mengkualifikasikan karyawan berdasarkan tingkat pendidikan
terhadap posisi di dalam perusahaan
3. Kemajuan di bidang teknologi
4. Kapasitas produksi yang sangat besar dibandingkan pabrik
gula lain di wilayah Madiun maupun di wilayah Jawa Timur

Weakness 1. Persaingan dalam perolehan bahan baku tebu di wilayah


(Kelemahan) Madiun dan sekitarnya sangatlah ketat oleh karena di wilayah
karesidenan Madiun terdapat enam pabrik gula sehingga untuk
mendapatkan pasokan tebu perusahaan mendatangkan pasokan
tebu dari luar wilayah. Dengan mendatangkan pasokan tebu
dari luar Madiun akan menyebabkan biaya transportasi
menjadi semakin besar.
2. Harga jual hasil produksi gula sangat ditentukan oleh harga
pasar sehingga perusahaan tidak dapat menentukan harga
jualnya.
3. Pemasaran produk PT. PG Rejo Agung Baru Madiun diambil
alih oleh PT. Rajawali Nusindo yang berkedudukan di
Surabaya. Sedangkan PT. PG Rejo Agung Baru hanya
memproduksi saja tanpa mengetahui dimana saja gula yang
dihasilkan tersebut dipasarkan.

Opportunity 1. Dengan jumlah penduduk negara Indonesia yang cukup besar


(Kesempatan) merupakan peluang dimasa yang akan datang. Semakin banyak
penduduk yang dimiliki oleh suatu negara maka akan
membuka peluang bagi pemasaran produk gula PT. PG Rejo
Agung Baru.
2. PT. PG Rejo Agung Baru Madiun untuk meningkatkan kinerja
karyawannya mengadakan program pendidikan dan latihan
bagi karyawan berdasarkan pada lamanya karyawan tersebut
bekerja di perusahaan.
3. Produk gula PG. Rejo Agung Baru dapat dijangkau oleh semua

7
kalangan baik dari kalangan atas, menengah, dan bawah.
Konsumen PG. Rejo Agung Baru meliputi pulau Jawa
khususnya Jawa Timur.

Threat 1. Perubahan situasi politik setiap tahunnya akan mempengaruhi


(Ancaman) aktivitas perusahaan. Khususnya saat Pemilu dan Pileg.
2. Perusahaan memiliki banyak pesaing. Persaingan yang
dirasakan dominan oleh perusahaan ini adalah harga dan
kualitas produk. Terdapat enam pabrik gula di wilayah Madiun
yaitu PG. Pagotan, PG. Kanigoro, PG. Rejosari, PG.
Poerwodadi, PG. Sudono.
3. Dalam menjalankan proses produksi PG. Rejo Agung Baru
sangat dipengaruhi oleh adanya kebijakan peraturan
pemerintah.

E. Analisis 5 Kekuatan Persaingan Menurut Michael Porter


1. Threat of the new entrance
Industri gula merupakan salah satu jenis industri paling umum yang
dapat ditemukan di wilayah Madiun, Jawa Timur. Meskipun memiliki
pasar yang sangat luas, namun pembangunan infrastruktur untuk pabrik
gula membutuhkan investasi yang cukup besar. Mengingat juga telah
banyak pesaing di wilayah yang sama, sehingga ancaman dari pendatang
baru hampir tidak mungkin muncul.
2. Bargaining Power of Supplier
Dalam kasus PT. PG Rejo Agung Baru, supplier tebu memiliki
bargaining power yang sangat besar. Karena di wilayah Madiun terdapat
banyak pabrik gula dan wilayah perkebunan tebu di Madiun tidak cukup
luas, maka supplier memiliki posisi yang lebih kuat dibandingkan dengan
PT. PG Rejo Agung Baru.
3. Bargaining Power of Buyers
Sebagai barang yang memiliki sifat elastis, telah menjadi natur dari
industri gula bahwa konsumen memiliki bargaining power yang besar.
4. Threat of Subtitutes

8
Gula merupakan bahan pokok, sehingga tidak ada ancaman dari
barang subtitusi.
5. Rivalry Among Existing Competitors
Persaingan lokal yang dihadapi oleh PT. PG Rejo Agung Baru dengan
enam perusahaan gula lain di Madiun merupakan salah satu contoh kecil
dalam persaingan. Terlebih pada skala nasional, PG Rejo Agung Baru
berhadapan langsung dengan BUMN.
F. Competitive Advantages

Cost Advantage Differention Advantage Marketing Advantage

Variable cost Product Advantage Channel Advantage


PG Rejo Agung Memproduksi produk gula Merambah bisnis E-
memaksimalkan setiap biaya bermutu Super High Sugar commerce dengan
yang dianggarkan sehingga (SHS). menggalang sinergi
dapat memproduksi produk bersama BUMN melalui
gula yg berkualitas. Marketplace
pasarprodukbumn.com

Marketing cost Service Advantage Sales Force Advantage


PG Rejo Agung baru mampu Meningkatnya kompleksitas Pangsa Pasar Meluas di 12
memasarkan produknya dengan kegiatan organisasi tata kelola kota di
baik, salah satunya dengan pemerintahan dan Indonesia.Peningkatan
memasuki pasar ritel sehingga produksi dari 5.000 TCD
meningkatnya kemampuan
produk gula kristal putih yang menjadi 6.500 TCD
diproduksi perusahaan ini komputer. Dengan tersedianya
sudah sangat terkenal dan informasi yang berkualitas
menjadi pilihan utama untuk melalui teknologi yaitu
konsumsi masyarakat Indonesia desktop/personal computer di
secara luas yaitu GULAKU. hampir setiap kantor.

Operating Cost Reputation Advantage Brand Awarnesess


PT Rejo Agung memiliki biaya PG Rejo Agung memiliki
lingkungan yang lebih besar PT PG Rajawali I merupakan brand yang mengutamakan
daripada biaya operasional peraih rendemen gula tertinggi loyalitas konsumen
perusahaan yang dimiliki. diantara Perusahaan Pabrik terhadap produk yang
Gula se-Pulau Jawa dari tahun diproduksi.
2012 hingga 2016, Perusahaan
dengan predikat “Sehat AA”
selama 5 (lima) tahun berturut-
turut.

9
Keunggulan kompetitif PT. PG Rejo Agung Baru menekankan pada
inovasi, diversifikasi, dan ekspansi untuk tumbuh berkembang berkelanjutan.
Selain itu juga menerapkan strategi diferensiasi untuk mengatasi produk-produk
pesaing agar produk dari PT. PG Rejo Agung Baru dapat menguasai pasar.

III. PT. Perkebunan Nusantara X (PTPN X)


A. Profil Perusahaan
PT. Perkebunan Nusantara X merupakan perusahaan yang bergerak di
industri gula dan tembakau di Indonesia. Direktur utama dipegang oleh Ir. Dwi
Satriyo Annurogo, MT. PTPN X memiliki 11 Unit Pabrik Gula (PG) yang
tersebar di wilayah Jawa Timur, yaitu PG Kremboong, PG Watoetoelis, PG
Toelangan, PG Gempolkrep, PG Djombang Baru, PG Tjoekir, PG Lestari, PG
Meritjan, PG Pesantren Baru, PG Ngadirejo dan PG Modjopanggoong.
Pabrik Gula Ngadiredjo didirikan pada tahun 1912 oleh Perusahaan Swasta
Belanda yaitu NV HVA (Handels Verniging Amsterdam), pabrik tersebut
memiliki Kapasitas 6.250 TCD. PG Ngadiredjo terletak di dua desa yaitu Ds.
Jambean. Kec. Kras dan Ds Tales Kec. Ngadiluwih Kabupaten Kediri.

Sumber : ptpn10.co.id
● Sejarah PTPN
1941, pabrik diambil alih oleh Jepang namun dikembalikan lagi ke
Belanda sampai akhirnya tahun 1957 diambil alih oleh Indonesia. 1963-
1996 mengalami reorganisasi akibat PP yang bermunculan. Tahun 2008 PG
Ngadirejo melakukan kerjasama operasional (kso perj. No. Xx-kontr/08.112
tgl 24 April 2008 ) dengan PT Kencana Gula Manis (KGM). KSO
direncanakan akan berjalan selama 25 tahun yang penandatangan perjanjian
kerja sama operasional tanggal 24 April 2008). Namun akhirnya pada tahun

10
2009 KSO dinyatakan batal, PG Ngadirejo kembali dibawah direksi PT
Perkebunan Nusantara (persero).
B. Visi dan Misi
● Visi
Menjadi perusahaan agribisnis Nasional berbasis tebu dan tembakau
yang unggul dan berdaya saing di tingkat Regional.
● Misi
Sebagai perusahaan industri perkebunan terintegrasi yang berbasis
tebu dan tembakau dalam memberikan nilai tambah (value creation) bagi
segenap stakeholders dengan:
1. Menghasilkan produk perkebunan yang bernilai tambah serta
berorientasi kepada konsumen.
2. Membentuk kapabilitas proses kerja yang unggul (operational
excellence) melalui perbaikan dan inovasi berkelanjutan dengan tata
kelola perusahaan yang baik.
3. Mengembangkan kapabilitas organisasi, teknologi informasi dan
SDM yang prima.
4. Melakukan optimalisasi pemanfaatan aset untuk memberikan imbal
hasil terbaik bagi pemegang saham.
5. Turut serta dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan
menjaga kelestarian lingkungan untuk kebaikan generasi masa depan.
Analisis Visi dan Misi

Berdasarkan karakteristik :

1. Simple: karena visi dan misi sederhana dan simpel tetapi


menggambarkan seluruh visi dari perusahaan serta misi yang
dituangkan mengandung 9 komponen diantaranya pelanggan, produk,
pasar, teknologi, pertumbuhan, filosofi, citra, karyawan dan ciri khas.
2. Measurable: karena dapat diukur
3. Applicable: karena bisa segera diaplikasikan atau dilaksanakan
4. Realiable: saling terkait dan mudah untuk diaplikasikan
5. Timeable: jangka waktu dekat, dan ada batasan
C. Pilihan Strategi Perusahaan

11
1. Efisiensi
a. mengurangi konsumsi bahan bakar dan energi.
b. mengatasi berbagai hambatan permesinan, dan
c. mengurangi biaya pemeliharaan pabrik.
2. Diversifikasi
Beyond sugar transformasi menjadi industri berbasis tebu (sugarcane
based industry) terintegrasi dari hulu ke hilir.
3. Optimalisasi
Memacu rendemen dengan menekan sugar losses melalui
peningkatan kinerja ekstraksi gilingan dan efisiensi pemrosesan.

D. Analisis SWOT

Strength 1. PT. Perkebunan Nusantara X (PG Ngadirejo)


(Kekuatan) memproduksi gula yang memenuhi mutu SHS IA
(Superior Hight Sugar ) dengan standar BPOM.
2. Gula pasir yang dihasilknan memiliki ICUMSA rata-
rata 150 IU telah memenuhi standar nasional Indonesia
(SNI).
3. Gula yang di produksi PG Ngadirejo menggunakan
bahan baku tebu pilihan dan bersumber dari
perkebunan sendiri.
4. Penelitian gula pasir memiliki fasilitas lab yang diakui
secara nasional dan internasional.
5. Produk gula yang awet dan tidak mudah cair.
6. Gula pasir yang dihasilkan bersih putih dan butir gula
sesuai permintaan konsumen, dan gula tidak mudah
cair.
7. Peralatan industri yang memadai.
8. Memiliki sistem informasi yang berbasis WEB dengan
memanfaatkan informasi teknologi.

12
9. PG Ngadirejo menerapkan budaya kerja yang
profesional, produktif dan pembelajar.

Weakness 1. Produk yang dihasilkan saat ini masih berbasis bahan


(Kelemahan) baku tebu / monoton.
2. Harga jual hasil produksi gula pasir sangat ditentukan
oleh harga pasar yang tinggi sehingga harga cenderung
lebih mahal.

Opportunities 1. Lokasi PG Ngadirejo yang terletak di tepi jalan raya


(Peluang) utama Kediri-Tulungagung / Kediri-Blitar, jalur kereta
api yang sangat menguntungkan bagi transportasi
karyawan dalam pengangkutan tebu sebagai bahan
utama produksi.
2. Kebutuhan gula pasir semakin meningkat tiap
tahunnya.
3. Sasaran program kemitraan dan bina lingkungan.
4. Dengan jumlah penduduk indonesia yang cukup besar
merupakan peluang yang akan datang

Threaths 1. Lahan perkebunan tebu yang semakin menyempit


(Ancaman) adalah permasalahan utama dalam produksi gula
nasional yang belum mencapai target di Indonesia
apalagi memenuhi kebutuhan konsumsi gula dalam
negeri.
2. Persaingan memperoleh tebu sebagai bahan baku
utama di wilayah Kediri.
3. Iklim yang tidak bisa diprediksi sebagai masalah
penanaman tebu.
4. Produk yang mudah ditiru.
5. Kondisi ekonomi yang sulit akan mempengaruhi harga
suatu barang terutama bahan baku dan biaya
operasional perusahaan.
6. Semakin berkurangnya jumlah petani tebu.

13
7. Lahan perkebunan tebu yang masih berpusat di tanah
Jawa.

E. Analisis 5 Kekuatan Persaingan Menurut Michael Porter


1. Threat of new entrants

Untuk pendirian pabrik gula membutuhkan proses yang sedikit rumit,


dan pencanangan swasembada gula sendiri sejak tahun 2009 belum
terwujud sampai saat ini. Hal ini disebabkan pembangunan pabrik gula
yang terintegrasi dengan perkebunan tebu membutuhkan investasi yang
besar. Selain itu, dibutuhkan waktu yang lama dalam penyediaan lahan dan
pembibitan tebu sebelum dapat beroperasi dengan penuh. Sehingga dengan
demikian pesaing baru tidak akan mudah masuk dalam industri pabrik gula.
2. Bargaining power of suppliers

PTPN X memiliki lahan tebu sendiri seluas 54,177 Ha pada tahun


2017 yang telah berhasil memproduksi tebu sebanyak 4,333,410 ton pada
tahun 2017, dengan demikian PTPN X tidak perlu mengkhawatirkan bahan
baku untuk pembuatan tebu. Namun perlu diperhatikan terdapat penurunan
lahan dan produksi tebu, dengan demikian sebaiknya perlu peninjauan
ulang mengenai strategi dalam menangani penurunan produksi bahan baku
utama gula.

Sumber : ptpn10.co.id

14
3. Bargaining power of buyers

PTPN X memiliki saluran distribusi yang tersebar luas di Indonesia,


dan juga dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional,
Pemerintah menugaskan BUMN untuk menjaga ketersediaan pangan dan
stabilisasi harga pangan pada tingkat konsumen dan produsen. Berdasarkan
Peraturan Presiden No. 48 Tahun 2016 tentang Penugasan Perum BULOG
dalam rangka ketahanan pangan nasional, gula telah menjadi salah satu
komoditi pangan pokok sehingga seluruh gula produksi milik BUMN harus
dijual melalui BULOG. Sebagai produsen gula yang tergabung dalam
holding BUMN perkebunan, Perseroan berkomitmen untuk terus
mendukung program ketahanan pangan yang telah dicanangkan oleh
Pemerintah Indonesia, diantaranya dengan mematuhi kesepakatan yang
telah ditandatangani oleh Menteri Perdagangan. Kementerian Perdagangan
menetapkan harga eceran tertinggi gula pada level Rp12.500 per kilogram,
kecuali daerah yang dianggap terpencil sehingga membutuhkan ongkos
distribusi yang tinggi. Penetapan harga tersebut dilakukan pada 16 Januari
2017 melalui penandatanganan nota kesepahaman antara 11 produsen dan 8
(delapan) distributor gula.
4. Threat of substitutes

Gula merupakan kebutuhan pokok, jadi dapat dikatakan sangat sulit


untuk mengganti gula dengan bahan atau produk lain.
5. Rivalry among existing competitors

Competitor perusahaan sangat banyak, namun hal yang utama


diperhatikan adalah 4P yaitu price, place, produk dan promotion. PTPN X
unggul dalam distribusi (place) karena produk PG Ngadiredjo dipasarkan di
seluruh wilayah indonesia baik di toko kecil maupun swalayan. Selain itu
juga unggul di product dan promotion karena sudah memenuhi mutu SHS
IA (Superior High Sugar ) dengan standar BPOM serta unggul dalam iklan
pengenalan produk.

15
F. Competitive Advantage

IV. Perbandingan PT. PG Rejo Agung dan PT. Perkebunan Nusantara X


Perbandingan PT. PG Rejo Agung Baru dan PT. Perkebunan Nusantara X
dalam lima kekuatan persaingan menurut Michael Porter, antara lain:
1. Threat of new entrants

Rumitnya pendirian pabrik gula dan juga telah banyak perusahaan sejenis

yang memasuki industri sama, maka ancaman dari adanya pesaing baru tidak

terlalu berpengaruh karena pesaing baru tidak mudah untuk memasuki industri

gula.

16
2. Bargaining power of suppliers

Pada PT. PG Rejo Agung Baru kekuatan pemasok sangat kuat karena di

daerah Madiun terdapat banyak pengusaha gula dan juga luas lahan untuk

perkebunan tebu sangat terbatas, hal tersebut menyebabkan PT. PG Rejo Agung

Baru sangat mengandalkan peran pemasok tebu. Berbeda dengan PT. PG Rejo

Agung Baru, PT. Perkebunan Nusantara X memiliki lahan perkebunan tebu

sendiri yang cukup luas sehingga PT. Perkebunan Nusantara X tidak terlalu

bergantung pada pemasok, yang mana hal tersebut menyebabkan kekuatan

pemasok tidak terlalu berarti.

3. Bargaining power of buyers

Gula merupakan bahan pokok yang sangat penting bagi masyarakat

Indonesia oleh karena itu sebagai barang yang memiliki sifat elastis, telah

menjadi natur dari industri gula bahwa konsumen memiliki bargaining power

yang besar pada PT. PG Rejo Agung Baru maupun pada PT. Perkebunan

Nusantara.

4. Threat of substitutes

Gula merupakan kebutuhan pokok, jadi dapat dikatakan sangat sulit untuk

mengganti gula dengan bahan atau produk lain.

5. Rivalry among existing competitors

PT. PG Rejo Agung Baru harus menghadapi banyak kompetitor lokal di

daerah Madiun sendiri yang mana industri gula di Madiun sangatlah ketat. Akan

tetapi PT. PG Rejo Agung dapat dikatakan skala usahanya masih lebih kecil jika

dibandingkan dengan PT. Perkebunan Nusantara X yang telah masuk pada

perusahaan BUMN sehingga bersaing secara nasional dan sangatlah luas.

17
V. Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
Gula merupakan suatu produk yang termasuk kategori bahan pokok bagi
masyarakat Indonesia sehingga tidak mudah tergantikan oleh produk subtitusi
lainnya. Industri gula di Indonesia sendiri sangatlah besar karena terdapat banyak
perusahaan pemroduksi gula yang berada dalam industri gula nasional.
Perusahaan gula yang dapat merajai industri gula di Indonesia biasanya didukung
dengan kepemilikan lahan perkebunan tebu yang sangat luas sehingga tidak
bergantung kepada pemasok. Oleh karena ketatnya persaingan industri gula di
Indonesia, maka masing-masing perusahaan harus mampu menyusun strategi
dalam menghadapi kompetitor. Penyusunan strategi perusahaan dapat diawali
dengan menganalisis kemampuan perusahaan terlebih dahulu. Dalam
menganalisis kemampuan dan kinerja perusahaan baik secara internal maupun
eksternal dapat dilakukan dengan melakukan analisis SWOT.
Analisis SWOT adalah perkembangan hubungan atau interaksi antar
unsur-unsur internal, yaitu kekuatan dan kelemahan terhadap unsur-unsur
eksternal yaitu peluang dan ancaman. Didalam penelitian analisis SWOT kita
ingin memperoleh hasil berupa kesimpulan-kesimpulan berdasarkan ke-4 faktor
dimuka yang sebelumnya telah dianalisa:
1. Strategi Kekuatan-Kesempatan (S dan O atau Maxi-maxi)
Strategi yang dihasilkan pada kombinasi ini adalah memanfaatkan
kekuatan atas peluang yang telah diidentifikasi. Misalnya bila kekuatan
perusahaan adalah pada keunggulan teknologinya, maka keunggulan ini
dapat dimanfaatkan untuk mengisi segmen pasar yang membutuhkan tingkat
teknologi dan kualitas yang lebih maju, yang keberadaanya dan
kebutuhannya telah diidentifikasi pada analisis kesempatan.
2. Strategi Kelemahan-Kesempatan (W dan O atau Mini-maxi)
Kesempatan yang dapat diidentifikasi tidak mungkin dimanfaatkan
karena kelemahan perusahaan. Misalnya jaringan distribusi ke pasar tersebut
tidak dipunyai oleh perusahaan. Salah satu strategi yang dapat ditempuh
adalah bekerjasama dengan perusahaan yang mempunyai kemampuan
menggarap pasar tersebut. Pilihan strategi lain adalah mengatasi kelemahan
agar dapat memanfaatkan kesempatan.
3. Strategi Kekuatan-Ancaman (S atau T atau Maxi-min)

18
Dalam analisa ancaman ditemukan kebutuhan untuk mengatasinya.
Strategi ini mencoba mencari kekuatan yang dimiliki perusahaan yang dapat
mengurangi atau menangkal ancaman tersebut. Misalnya ancaman perang
harga.
4. Strategi Kelemahan-Ancaman (W dan T)
Dalam situasi menghadapi ancaman dan sekaligus kelemahan intern,
strategi yang umumnya dilakukan adalah “keluar” dari situasi yang terjepit
tersebut. Keputusan yang diambil adalah “mencairkan” sumber daya yang
terikat pada situasi yang mengancam tersebut, dan mengalihkannya pada
usaha lain yang lebih cerah. Siasat lainnya adalah mengadakan kerjasama
dengan satu perusahaan yang lebih kuat, dengan harapan ancaman di suatu
saat akan hilang. Dengan mengetahui situasi yang akan dihadapi, anak
perusahaan dapat mengambil langkah-langkah yang perlu dan bertindak
dengan mengambil kebijakan-kebijakan yang terarah dan mantap, dengan
kata lain perusahaan dapat menerapkan strategi yang tepat.
B. Saran
1. Saran bagi PT PG Rejo Agung dan PT. Perkebunan Nusantara X (PTPN X),
sebaiknya lebih menerapkan strategi diversifikasi dan diferensiasi untuk
menghindari atau meminimalisir kelemahan dan ancaman dari masing-
masing perusahaan.
2. Kebijakan yang diterapkan perusahaan harus mampu mengatasi kondisi
ekonomi dan politik yang sedang terjadi.

19