Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perawatan paliatif adalah bentuk perawatan medis dan kenyamanan pasien yang

mengontrol intensitas penyakit atau memperlambat kemajuannya, apakah ada atau tidak ada

harapan untuk sembuh. Perawatan paliatif tidak bertujuan untuk menyediakan obat dan juga

tidak sebaliknya perkembangan penyakit. Perawatan paliatif merupakan bagian penting

dalam perawatan pasien yang terminal yang dapat dilakuakan secara sederhana sering kali

prioritas utama adalah kulitas hidup dan bukan kesembuhan dari penyakit pasien. Namun

saat ini, pelayanan kesehatan di Indonesia belum menyentuh kebutuhan pasien dengan

penyakit yang sulit disembuhkan tersebut, terutama pada stadium lanjut dimana prioritas

pelayanan tidak hanya pada penyembuhan tetapi juga perawatan agar mencapai kualitas

hidup yang terbaik bagi pasien dan keluarganya. Pada stadium lanjut, pasien dengan

penyakit kronis tidak hanya mengalami berbagai masalah fisik seperti nyeri, sesak nafas,

penurunan berat badan, gangguan aktivitas tetapi juga mengalami gangguan psikososial dan

spiritual yang mempengaruhi kualitas hidup pasien dan keluarganya. Maka kebutuhan pasien

pada stadium lanjut suatu penyakit tidak hanya pemenuhan/ pengobatan gejala fisik,, namun

juga pentingnya dukungan terhadap kebutuhan psikologis, sosial dan spiritual yang

dilakukandengan pendekatan interdisiplin yang dikenal sebagai perawatan paliatif. (Doyle &

Macdonald, 2003: 5)

Karena pelayanan kesehatan di Indonesia belum menyentuh kebutuhan pasien paliatif

care, maka masyarakat menganggap perawatan paliatif hanya untuk pasien dalam kondisi

1
terminal yang akan segera meninggal. Namun konsep baru perawatan paliatif menekankan

pentingnya integrasi perawatan paliatif lebih dini agar masalah fisik, psikososial dan spiritual

dapat diatasi dengan baik Perawatan paliatif adalah pelayanan kesehatan yang bersifat

holistik dan terintegrasi dengan melibatkan berbagai profesi dengan dasar falsafah bahwa

setiap pasien berhak mendapatkan perawatan terbaik sampai akhir hayatnya. (Doyle &

Macdonald, 2003: 5) Sedangkan saat ini hanya beberapa rumah sakit yang mampu

memberikan pelaya pelayanan perawatan paliatif di Indonesia masih terbatas di 6 (enam) ibu

kota propinsi yaitudimulai pada tanggal 19 Februari 1992 di RS Dr. Soetomo (Surabaya),

disusul RS Cipto Mangunkusumo (Jakarta), RS Kanker Dharmais (Jakarta), RS Wahidin

Sudirohusodo (Makassar), RS Dr. Sardjito (Yogyakarta), dan RS Sanglah (Denpasar)..

Keadaan sarana pelayanan perawatan paliatif di Indonesia masih belum merata sedangkan

pasien memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang bermutu, komprehensif dan holistik,

maka diperlukan kebijakan perawatan paliatif di Indonesia yang memberikan arah bagi

sarana pelayanan kesehatan untuk menyelenggarakan pelayanan perawatan paliatif.

(KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007).

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 812/Menkes/SK/VII/2007

tantangan yang kita hadapi pada di hari-hari kemudian nyata sangat besar. Meningkatnya

jumlah pasien dengan penyakit yang belum dapat disembuhkan baik pada dewasa dan anak

seperti penyakit kanker, penyakit degeneratif, penyakit paru obstruktif kronis, cystic

fibrosis,stroke, Parkinson, gagal jantung /heart failure, penyakit genetika dan penyakit

infeksi seperti HIV/ AIDS yang memerlukan perawatan paliatif, disamping kegiatan

promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.Tujuan HIV/AIDS utama dari perawatan HIV

AIDS adalah membuat orang dengan HIV/AIDS dapat hidup lebih lama, hidup lebih sehat

2
dan tidak menularkan kepada orang lain yang sehat, maka saat itulah dibutuhkan dukungan

dari keluarga dan masyarakat sekitar serta management diri sendiri dari klien HIV/AIDS.

Spiritualitas memegang peranan penting dalam pengobatan HIV/AIDS. Penelitian tentang

pentingnya spiritualitas pada penyakit kronis termasuk HIV/AIDS telah banyak dilakukan .

Nokes et al. ( 1995 dalam Tuck &Thinganjana, 2001)mengatakan bahwa 100% dari sampel

sebanyak 145 orang dengan penyakit HIV menyatakan nyaman dengan terafi komplementer

yang dilakukan yang didalamnya terdapat komponen rohani . Oleh karena itu perawat dapat

mengambil peran penting , perawat hadir mendampingi pasien selama klien mengalami

periode stress dan kacau,mendengarkan dan memberi opini kepada klien, dan pada akhirnya

memberi harapan baru pada klien HIV/AIDS untuk menjalani kehidupan ( Potter& Perry).

Oleh sebab itu, penulis membahas tentang ruang lingkup perawatan paliatif care

karena pelayanan kesehatan di Indonesia terutama perawat belum menyentuh kebutuhan

pasien dengan penyakit yang sulit disembuhkan tersebut, atau penyakit yang termasuk dalam

lingkup perawatan paliatif.

1.2 Tujuan

1. Tujuan Umum

Dengan tersusunnya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan

memahami tentang Asuhan Keperawatan pada pasien Terminal Illness (Palliative Care)

HIV / AIDS.

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pasien terminal illness (palliative care)

b. Mahasiswa mampu menentukan diagnosa keperawatan pasien terminal illness

(palliative care)

3
c. Mahasiswa mampu menetapkan tujuan dan kriteria hasil pasien terminal illness

(palliative care)

d. Mahasiswa mampu menyusun rencana keperawatan pasienterminal illness (palliative

care)

e. Mahasiswa mampu mengevaluasi asuhan keperawatan terminal illness (palliative

care)

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Perawatan Paliatif

Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas hidup

pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang

dapat mengancam jiwa, melalui pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini dan

penilaian yang tertib serta penanganan nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial

dan spiritual (KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007).

Menurut KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007 kualitas hidup pasien adalah

keadaan pasien yang dipersepsikan terhadap keadaan pasien sesuai konteks budaya dan

sistem nilai yang dianutnya, termasuk tujuan hidup, harapan, dan niatnya.

2.2 Tanda dan Gejala

Menurut komunitas AIDS Indonesia (2010), gejala klinis terdiri dari 2 gejala yaitu

gejala mayor (umum terjadi) dan gejala minor (tidak umum terjadi) :

1. Gejala mayor

a. Berat badan menurun leih dari 10% dalam 1 bulan

b. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan

c. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan

d. Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis

e. Demam/HIV ensefalopati

2. Gejala minor

a. Batuk menetap lebih dari satu bulan

b. Dermatitis generalisata

5
c. Adanya herpeszoster multisegmental dan herpes zoster berulang

d. Kandidas orofaringeal

e. Herpes simpleks kronis progresif

f. Limfadenopati generalisata

g. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita

h. Retinitis virus sitomegalo

Menurut Anthony (Fauci dan Lane, 2008), gejala klinis HIV/AIDS dapat dibagikan

mengikut fasenya.

1. Fase akut

Sekitar 50-70% penderita HIV/AIDS mengalami fase ini sekitar 3-6 minggu selepas

infeksi primer. Gejala-gejala yang biasanya timbul adalah demam, faringitis,

limpadenopati, sakit kepala, arthtalgia, letargi, malaise, anorexia, penurunan berat

badan, mual, muntah, diare, meningitis, ensefalitis, periferal neuropati, myelopathy,

mucocutaneous ulceration, dan erythematous maculopapular rash. Gejala-gejala ini

muncul bersama dengan ledakan plasma viremia. Tetapi demam, ruam kulit, faringitis

dan mialgia jarang terjadi jika seseorang itu diinfeksi melalui jarum suntik narkoba

daripada kontak seksual. Selepas beberapa minggu gejala-gajala ini akan hilang akibat

respon sistem imun terhadap virus HIV. Sebanyak 70% dari penderita HIV akan

mengalami limfadenopati dalam fase ini yang akan sembuh sendiri.

2. Fase asimptomatik

Fase ini berlaku sekitar 10 tahun jika tidak diobati. Pada fase ini virus HIV akan

bereplikasi secara aktif dan progresif. Tingkat pengembangan penyakit secara langsung

berkorelasi dengan tingkat RNA virus HIV. Pasien dengan tingkat RNA virus HIV

6
yang tinggi lebih cepat akan masuk ke fase simptomatik daripada pasien dengan tingkat

RNA virus HIV yang rendah.

3. Fase simptomatik

Selama fase akhir dari HIV, yang terjadi sekitar 10 tahun atau lebih setelah terinfeksi,

gejala yang lebih berat mulai timbul dan infeksi tersebut akan berakhir pada penyakit

yang disebut AIDS.

2.3 Tahap Berduka

Dr.Elisabeth Kublerr-Ross telah mengidentifikasi lima tahap berduka yang dapat terjadi

pada pasien dengan penyakit terminal :

a. Denial ( pengingkaran )

Dimulai ketika orang disadarkan bahwa ia akan meninggal dan dia tidak dapat

menerima informasi ini sebagai kebenaran dan bahkan mungkin mengingkarinya.

b. Anger ( Marah )

Terjadi ketika pasien tidak dapat lagi mengingkari kenyataan bahwa ia akan meninggal.

c. Bergaining ( tawar-menawar )

Merupakan tahapan proses berduka dimana pasien mencoba menawar waktu untuk

hidup.

d. Depetion ( depresi )

Tahap dimana pasien datang dengan kesadaran penuh bahwa ia akan segera mati.ia

sangat sedih karna memikirkan bahwa ia tidak akan lama lagi bersama keluarga dan

teman-teman.

e. Acceptance ( penerimaan)

7
Merupakan tahap selama pasien memahami dan menerima kenyataan bahwa ia akan

meninggal. Ia akan berusaha keras untuk menyelesaikan tugas-tugasnya yang belum

terselesaikan.

2.4 Tipe-tipe Perjalanan Menjelang Kematian

Ada 4 type dari perjalanan proses kematian, yaitu:

1. Kematian yang pasti dengan waktu yang diketahui, yaitu adanya perubahan yang cepat

dari fase akut ke kronik.

2. Kematian yang pasti dengan waktu tidak bisa diketahui, baisanya terjadi pada kondisi

penyakit yang kronik.

3. Kematian yang belum pasti, kemungkinan sembuh belum pasti, biasanya terjadi pada

pasien dengan operasi radikal karena adanya kanker.

4. Kemungkinan mati dan sembuh yang tidak tentu. Terjadi pada pasien dengan sakit

kronik dan telah berjalan lama.

2.5 Pengkajian

Perawat harus memahami apa yang dialami klien dengan kondisi terminal, tujuannya

untuk dapat menyiapkan dukungan dan bantuan bagi klien sehingga pada saat-saat terakhir

dalam hidup bisa bermakna dan akhirnya dapat meninggal dengan tenang dan damai. Doka

(1993) menggambarkan respon terhadap penyakit yang mengancam hidup kedalam empat

fase, yaitu :

1. Fase prediagnostik : terjadi ketika diketahui ada gejala atau factor resiko penyakit

2. Fase akut : berpusat pada kondisi krisis. Klien dihadapkan pada serangkaian

keputusasaan, termasuk kondisi medis, interpersonal, maupun psikologis.

8
3. Fase kronis : klien bertempur dengan penyakit dan pengobatnnya, Pasti terjadi. Klien

dalam kondisi terminal akan mengalami masalah baik fisik, psikologis maupun

social-spiritual.

2.6 Gambaran problem yang dihadapi pada kondisi terminal antara lain :

1. Problem Oksigenisasi : Respirasi irregular, cepat atau lambat, pernafasan cheyne

stokes, sirkulasi perifer menurun, perubahan mental : Agitasi-gelisah, tekanan darah

menurun, hypoksia, akumulasi secret, dan nadi ireguler.

2. Problem Eliminasi : Konstipasi, medikasi atau imobilitas memperlambat peristaltic,

kurang diet serat dan asupan makanan jugas mempengaruhi konstipasi, inkontinensia

fekal bisa terjadi oleh karena pengobatan atau kondisi penyakit (mis Ca Colon),

retensi urin, inkopntinensia urin terjadi akibat penurunan kesadaran atau kondisi

penyakit misalnya : Trauma medulla spinalis, oliguri terjadi seiring penurunan intake

cairan atau kondisi penyakit mis gagal ginjal.

3. Problem Nutrisi dan Cairan : Asupan makanan dan cairan menurun, peristaltic

menurun, distensi abdomen, kehilangan BB, bibir kering dan pecah-pecah, lidah

kering dan membengkak, mual, muntah, cegukan, dehidrasi terjadi karena asupan

cairan menurun.

4. Problem suhu : Ekstremitas dingin, kedinginan sehingga harus memakai selimut.

5. Problem Sensori : Penglihatan menjadi kabur, refleks berkedip hilang saat mendekati

kematian, menyebabkan kekeringan pada kornea, Pendengaran menurun,

kemampuan berkonsentrasi menjadi menurun, pendengaran berkurang, sensasi

menurun.

9
4. Problem nyeri : Ambang nyeri menurun, pengobatan nyeri dilakukan secara intra

vena, klien harus selalu didampingi untuk menurunkan kecemasan dan meningkatkan

kenyamanan.

5. Problem Kulit dan Mobilitas : Seringkali tirah baring lama menimbulkan masalah

pada kulit sehingga pasien terminal memerlukan perubahan posisi yang sering.

6. Masalah Psikologis : Klien terminal dan orang terdekat biasanya mengalami banyak

respon emosi, perasaaan marah dan putus asa seringkali ditunjukan. Problem

psikologis lain yang muncul pada pasien terminal antara lain ketergantungan, hilang

control diri, tidak mampu lagi produktif dalam hidup, kehilangan harga diri dan

harapan, kesenjangan komunikasi atau barrier komunikasi.

7. Perubahan Sosial-Spiritual : Klien mulai merasa hidup sendiri, terisolasi akibat

kondisi terminal dan menderita penyakit kronis yang lama dapat memaknai kematian

sebagai kondisi peredaan terhadap penderitaan. Sebagian beranggapan bahwa

kematian sebagai jalan menuju kehidupan kekal yang akan mempersatukannya

dengan orang-orang yang dicintai. Sedangkan yang lain beranggapan takut akan

perpisahan, dikuncilkan, ditelantarkan, kesepian, atau mengalami penderitaan

sepanjang hidup.

2.7 Faktor-faktor yang perlu dikaji :

1. Faktor Fisik

Pada kondisi terminal atau menjelang ajal klien dihadapkan pada berbagai

masalah pada fisik. Gejala fisik yang ditunjukan antara lain perubahan pada

penglihatan, pendengaran, nutrisi, cairan, eliminasi, kulit, tanda-tanda vital,

mobilisasi, nyeri.

10
Perawat harus mampu mengenali perubahan fisik yang terjadi pada klien, klien

mungkin mengalami berbagai gejala selama berbulan-bulansebelum terjadi kematian.

Perawat harus respek terhadap perubahan fisik yang terjadi pada klien terminal

karena hal tersebut menimbulkan ketidaknyamanan dan penurunan kemampuan klien

dalam pemeliharaan diri.

2. Faktor Psikologis

Perubahan Psikologis juga menyertai pasien dalam kondisi terminal. Perawat harus

peka dan mengenali kecemasan yang terjadi pada pasien terminal, harus bisa

mengenali ekspresi wajah yang ditunjukan apakah sedih, depresi, atau marah. Problem

psikologis lain yang muncul pada pasien terminal antara lain ketergantungan,

kehilangan harga diri dan harapan. Perawat harus mengenali tahap-tahap menjelang

ajal yang terjadi pada klien terminal.

3. Faktor Sosial

Perawat harus mengkaji bagaimana interaksi pasien selama kondisi terminal, karena

pada kondisi ini pasien cenderung menarik diri, mudah tersinggung, tidak ingin

berkomunikasi, dan sering bertanya tentang kondisi penyakitnya. Ketidakyakinan dan

keputusasaan sering membawa pada perilaku isolasi. Perawat harus bisa mengenali

tanda klien mengisolasi diri, sehingga klien dapat memberikan dukungan social bisa

dari teman dekat, kerabat/keluarga terdekat untuk selalu menemani klien.

11
4. Faktor Spiritual

Perawat harus mengkaji bagaimana keyakinan klien akan proses kematian,

bagaimana sikap pasien menghadapi saat-saat terakhirnya. Apakah semakin

mendekatkan diri pada Tuhan ataukah semakin berontak akan keadaannya. Perawat

juga harus mengetahui disaat-saat seperti ini apakah pasien mengharapkan kehadiran

tokoh agama untuk menemani disaat-saat terakhirnya.

Konsep dan prinsip etika, norma, budaya dalam pengkajian Pasien Terminal

Nilai, sikap, keyakinan, dan kebiasaan adalah aspek cultural atau budaya yang

mempengaruhi reaksi klien menjelang ajal. Latar belakang budaya mempengaruhi

individu dan keluarga mengekspresikan berduka dan menghadapi kematian atau

menjelang ajal. Perawat tidak boleh menyamaratakan setiap kondisi pasien terminal

berdasarkan etika, norma, dan budaya, sehingga reaksi menghakimi harus dihindari.

Keyakinan spiritual mencakup praktek ibadah, ritual harus diberi dukungan. Perawat

harus mampu memberikan ketenangan melalui keyakinan-keyakinan spiritual. Perawat

harus sensitive terhadap kebutuhan ritual pasien yang akan menghadapi kematian,

sehingga kebutuhan spiritual klien menjelang kematian dapat terpenuhi.

2.8 Saat Memulai Terapi ARV

Untuk memulai terapi antiretroviral perlu dilakukan pemeriksaan jumlah

CD4 (bila tersedia) dan penentuan stadium klinis infeksi HIV-nya. Hal

tersebut adalah untuk menentukan apakah penderita sudah memenuhi syarat

terapi antiretroviral atau belum. Berikut ini adalah rekomendasi cara memulai

terapi ARV pada ODHA dewasa.

12
a. Tidak tersedia pemeriksaan CD4

Dalam hal tidak tersedia pemeriksaan CD4, maka penentuan mulai terapi ARV adalah

didasarkan pada penilaian klinis.

b. Tersedia pemeriksaan CD4

Rekomendasi :

1. Mulai terapi ARV pada semua pasien dengan jumlah CD4 <350 sel/mm3 tanpa

memandang stadium klinisnya.

2. Terapi ARV dianjurkan pada semua pasien dengan TB aktif, ibu hamil dan

koinfeksi Hepatitis B tanpa memandang jumlah CD4.

3. Memulai Terapi ARV pada Keadaan Infeksi Oportunistik (IO) yang Aktif

Infeksi oportunistik dan penyakit terkait HIV lainnya yang perlu pengobatan

atau diredakan sebelum terapi ARV dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

13
Tabel 7.Tatalaksana IO sebelum memulai terapi ARV

Jenis Infeksi Opportunistik Rekomendasi

Progresif Multifocal

Leukoencephalopathy, ARV diberikan langsung setelah

Sarkoma Kaposi, Mikrosporidiosis,

CMV, diagnosis infeksi ditegakkan

Kriptosporidiosis

ARV diberikan setidaknya 2 minggu

setelah pasien mendapatkan

Tuberkulosis, PCP, Kriptokokosis, MAC

pengobatan infeksi opportunistik

c. Paduan ARV Lini Pertama yang Dianjurkan

Pemerintah menetapkan paduan yang digunakan dalam pengobatan ARV berdasarkan

pada 5 aspek yaitu:

• Efektivitas

• Efek samping / toksisitas

• Interaksi obat

• Kepatuhan

• Harga obat

14
d. Prinsip dalam pemberian ARV adalah

3. Paduan obat ARV harus menggunakan 3 jenis obat yang terserap dan berada dalam

dosis terapeutik. Prinsip tersebut untuk menjamin efektivitas penggunaan obat

4. Membantu pasien agar patuh minum obat antara lain dengan mendekatkan akses

pelayanan ARV .

5. Menjaga kesinambungan ketersediaan obat ARV dengan menerapkan manajemen

logistik yang baik.

2.9 Kepatuhan

Kepatuhan atau adherence pada terapi adalah sesuatu keadaan dimana pasien mematuhi

pengobatannya atas dasar kesadaran sendiri, bukan hanya karena mematuhi perintah dokter. Hal

ini penting karena diharapkan akan lebih meningkatkan tingkat kepatuhan minum obat.

Adherence atau kepatuhan harus selalu dipantau dan dievaluasi secara teratur pada setiap

kunjungan. Kegagalan terapi ARV sering diakibatkan oleh ketidak-patuhan pasien

mengkonsumsi ARV. Untuk mencapai supresi virologis yang baik diperlukan tingkat kepatuhan

terapi ARV yang sangat tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa untuk mencapai tingkat supresi

virus yang optimal, setidaknya 95% dari semua dosis tidak boleh terlupakan. Resiko kegagalan

terapi timbul jika pasien sering lupa minum obat. Kerjasama yang baik antara tenaga kesehatan

dengan pasien serta komunikasi dan suasana pengobatan yang konstruktif akan membantu pasien

untuk patuh minum obat.

15
2.10 Faktor-faktor yang mempengaruhi atau faktor prediksi kepatuhan:

1. Fasilitas layanan kesehatan. Sistem layanan yang berbelit, sistem pembiayaan

kesehatan yang mahal, tidak jelas dan birokratik adalah penghambat yang berperan

sangat signifikan terhadap kepatuhan, karena hal tersebut menyebabkan pasien tidak

dapat mengakses layanan kesehatan dengan mudah. Termasuk diantaranya ruangan yang

nyaman, jaminan kerahasiaan dan penjadwalan yang baik, petugas yang ramah dan

membantu pasien.

2. Karakteristik Pasien. Meliputi faktor sosiodemografi (umur, jenis kelamin, ras /

etnis, penghasilan, pendidikan, buta/melek huruf, asuransi kesehatan, dan asal kelompok

dalam masyarakat misal waria atau pekerja seks komersial) dan faktor psikososial

(kesehatan jiwa, penggunaan napza, lingkungan dan dukungan sosial, pengetahuan dan

perilaku terhadap HIV dan terapinya).

3. Paduan terapi ARV. Meliputi jenis obat yang digunakan dalam paduan, bentuk

paduan (FDC atau bukan FDC), jumlah pil yang harus diminum, kompleksnya paduan

(frekuensi minum dan pengaruh dengan makanan), karakteristik obat dan efek samping

dan mudah tidaknya akses untuk mendapatkan ARV.

4. Karakteristik penyakit penyerta. Meliputi stadium klinis dan lamanya sejak

terdiagnosis HIV, jenis infeksi oportunistik penyerta, dan gejala yang berhubungan

dengan HIV. Adanya infeksi oportunistik atau penyakit lain menyebabkan penambahan

jumlah obat yang harus diminum.

16
Hubungan pasien-tenaga kesehatan. Karakteristik hubungan pasien-tenaga kesehatan yang

dapat mempengaruhi kepatuhan meliputi: kepuasan dan kepercayaan pasien terhadap tenaga

kesehatan dan staf klinik, pandangan pasien terhadap kompetensi tenaga kesehatan, komunikasi

yang melibatkan pasien dalam proses penentuan keputusan, nada afeksi dari hubungan tersebut

(hangat, terbuka, kooperatif, dll) dan kesesuaian kemampuan dan kapasitas tempat layanan

dengan kebutuhan pasien Sebelum memulai terapi, pasien harus memahami program terapi ARV

beserta konsekuensinya. Proses pemberian informasi, konseling dan dukungan kepatuhan harus

dilakukan oleh petugas (konselor dan/atau pendukung sebaya/ODHA).

2.11 Tiga langkah yang harus dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan antara lain:

Langkah 1: Memberikan informasi

Klien diberi informasi dasar tentang pengobatan ARV, rencana terapi, kemungkinan

timbulnya efek samping dan konsekuensi ketidakpatuhan. Perlu diberikan informasi yang

mengutamakan aspek positif dari pengobatan sehingga dapat membangkitkan komitmen

kepatuhan berobat.

Langkah 2: Konseling perorangan

Petugas kesehatan perlu membantu klien untuk mengeksplorasi kesiapan pengobatannya.

Sebagian klien sudah jenuh dengan beban keluarga atau rumah tangga, pekerjaan dan tidak dapat

menjamin kepatuhan berobat.Sebagian klien tidak siap untuk membuka status nya kepada orang

lain. Hal ini sering mengganggu kepatuhan minum ARV, sehingga sering menjadi hambatan

dalam menjaga kepatuhan. Ketidak siapan pasien bukan merupakan dasar untuk tidak

memberikan ARV, untuk itu klien perlu didukung agar mampu menghadapi kenyataan dan

menentukan siapa yang perlu mengetahui statusnya.

17
Langkah 3:Mencari penyelesaian masalah praktis dan membuat rencana terapi.

Setelah memahami keadaan dan masalah klien, perlu dilanjutkan dengan diskusi untuk

mencari penyelesaian masalah tersebut secara bersama dan membuat perencanaan praktis.

Hal-hal praktis yang perlu didiskusikan antara lain:

Di mana obat ARV akan disimpan?

Pada jam berapa akan diminum?

Siapa yang akan mengingatkan setiap hari untuk minum obat?

Apa yang akan diperbuat bila terjadi penyimpangan kebiasaan sehari-hari?

Harus direncanakan mekanisme untuk mengingatkan klien berkunjung dan mengambil obat

secara teratur sesuai dengan kondisi pasien.Perlu dibangun hubungan yang saling percaya

antara klien dan petugas kesehatan. Perjanjian berkala dan kunjungan ulang menjadi kunci

kesinambungan perawatan dan pengobatan pasien. Sikap petugas yang mendukung dan

peduli, tidak mengadili dan menyalahkan pasien, akan mendorong klien untuk bersikap jujur

tentang kepatuhan makan obatnya.

2.12 Kesiapan Pasien Sebelum Memulai Terapi ARV

Menelaah kesiapan pasien untuk terapi ARV. Mempersiapan pasien untuk memulai terapi

ARV dapat dilakukan dengan cara:

Mengutamakan manfaat minum obat daripada membuat pasien takut minum obat dengan

semua kemunginan efek samping dan kegagalan pengobatan.

Membantu pasien agar mampu memenuhi janji berkunjung ke klinik

Mampu minum obat profilaksis IO secara teratur dan tidak terlewatkan

Mampu menyelesaikan terapi TB dengan sempurna.

Mengingatkan pasien bahwa terapi harus dijalani seumur hidupnya.

18
Jelaskan bahwa waktu makan obat adalah sangat penting, yaitu kalau dikatakan dua kali

sehari berarti harus ditelan setiap 12 jam.

Membantu pasien mengenai cara minum obat dengan menyesuaikan kondisi pasien baik

kultur, ekonomi, kebiasaan hidup (contohnya jika perlu disertai dengan banyak minum

wajib menanyakan sumber air, dll).

Membantu pasien mengerti efek samping dari setiap obat tanpa membuat pasien takut

terhadap pasien, ingatkan bahwa semua obat

mempunyai efek samping untuk menetralkan ketakutan terhadap ARV.

Tekankan bahwa meskipun sudah menjalani terapi ARV harus tetap menggunakan

kondom ketika melakukan aktifitas seksual atau menggunakan alat suntik steril bagi para

pasien.

Sampaikan bahwa obat tradisional (herbal) dapat berinteraksi dengan obat ARV yang

diminumnya. Pasien perlu diingatkan untuk komunikasi dengan dokter untuk diskusi

dengan dokter tentang obat-obat yang boleh terus dikonsumsi dan tidak.

Menanyakan cara yang terbaik untuk menghubungi pasien agar dapat memenuhi

janji/jadwal berkunjung.

Membantu pasien dalam menemukan solusi penyebab ketidak patuhan tanpa

menyalahkan pasien atau memarahi pasien jika lupa minum obat.

Mengevaluasi sistem internal rumah sakit dan etika petugas dan aspek lain diluar pasien

sebagai bagian dari prosedur tetap untuk evaluasi ketidak patuhan pasien.

19
2.13 Unsur Konseling untuk Kepatuhan Berobat

Membina hubungan saling percaya dengan pasien

Memberikan informasi yang benar dan mengutamakan manfaat postif dari ARV

Mendorong keterlibatan kelompok dukungan sebaya dan membantu menemukan

seseorang sebagai pendukung berobat

Mengembangkan rencana terapi secara individual yang sesuai dengan gaya hidup sehari-

hari pasien dan temukan cara yang dapat digunakan sebagai pengingat minum obat

Paduan obat ARV harus disederhanakan untuk mengurangi jumlah pil yang harus

diminum dan frekuensinya (dosis sekali sehari atau dua kali sehari), dan meminimalkan

efek samping obat.

Penyelesaian masalah kepatuhan yang tidak optimum adalah tergantung dari faktor

penyebabnya.

2.14 Konsep Spiritual dalam asuhan keperawatan

Konsep biopsikososiospiritual banyak dibahas oleh para tokoh-tokoh keperawatan. Salah

satunya adalah Henderson mengatakan fungsi khas perawat yaitu melayani individu baik sakit

maupun sehat dengan berbagai aktifitas yang memberikan sumbangan terhadap kesehatan dan

upaya penyembuhan (maupun upaya mengantar kematian yang tenang) sehingga klien dapat

beraktifitas mandiri dengan menggunakan kekuatan, kemauan dan pengetahuan yang

dimilikinya. Jadi, tugas utama perawat yaitu membantu klien menjadi lebih mandiri secepatnya.

Henderson memandang manusia secara holistik atau keseluruhan. Terdiri dari unsur fisik,

biologi, sosiologi dan spiritual. Neuman memandang manusia secara keseluruhan (holistik),

yaitu terdiri dari faktor fisiologis, psikologis, sosial budaya, faktor perkembangan, dan faktor

spiritual yang berhubungan secara dinamis dan tidak dapat dipisah-pisahkan, yaitu:

20
1. Faktor fisiologis meliputi struktur dan fungsi tubuh,

2. Faktor psikologis terdiri dari proses dan hubungan mental,

3. Faktor sosial budaya meliputi fungsi sistem yang menghubungkan sosial dan ekspektasi kultural

dan aktivasi,

4. Faktor perkembangan sepanjang hidup,

5. Faktor spiritual meliputi pengaruh kepercayaan spiritual

(Tomey & Alligood, 2006) Taylor, Lilis & Lemone (1997) mengatakan spiritualitas adalah segala

sesuatu yang menyinggung tentang hubungan manusia dengan sumber kekuatan hidup atau Yang

maha memiliki kekuatan; Spiritualitas adalah proses menjadi tahu, cinta dan melayani Tuhan;

spiritualitas adalah suatu proses yang melewati batas tubuh atau fisik dan pengalaman energy

universal. Agama bisa merupakan bagian dari spiritualitas.

Craven & Hirnle (2007) mengatakan spiritualitas adalah kualitas atau kehadiran dari proses

meresapi atau memaknai, integritas dan proses yang melebihi kebutuhan biopsikososial. Inti

spiritual menurut Murray & Zentner (1993 dalam Craven & Hirnle, 2007) adalah kualitas dari

suatu proses menjadi lebih religius, berusaha mendapatkan inspirasi, penghormatan, perasaan

kagum, memberi makna dan tujuan yang dilakukan oleh individu yang percaya maupun tidak

percaya kepada Tuhan. Proses ini didasarkan pada usaha untuk harmonisasi atau penyelarasan

dengan alam semesta, berusaha keras untuk menjawab tentang kekuatan yang terbatas, menjadi

lebih fokus ketika individu menghadapi stress emosional, sakit fisik atau menghadapi kematian.

Karakteristik mayor dari spiritualitas menurut Craven & Hirnle (2007) adalah perasaan yang

menyeluruh dan harmonisasi dengan diri sendiri, dengan orang lain dan dengan Tuhan yang

lebih besar yang dipengaruhi oleh status perkembangan, identitas yang kuat, dan harapan.

21
2.13 DiagnosaKeperawatan

1. Biologi :

- ketidakefektifan termogulasi b.d penurunan imunitas Tubuh

- katidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d penurunan asupan oral

- intoleransi aktivitas b.d keadaan mudah letih, kelemahan, malnutrisi dan

gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit

2. Psikologi :

- ansietas b.d ancaman nyata terhadap kesejahteraan diri

- harga diri rendah b.d penyakit kronis, krisis stuasional

3. Social :

- isolasi soaial b.d stigma, ketakutan orang lain terhadap penyebaran infeksi

- Tidak efektifnya mekanisme koping keluarga b.d kemampuan dalam

mengaktualisasi diri

4. Spiritual :

- distress spiritual b.d penyakit infeksi kronis

2.14 Intervensi Keperawatan

NO Diagnosa Tujuan dan criteria hasil Intervensi

keperawatan

1 Ketidakefektifan NOC : NIC :

termoregulasi 1. Hidration Temperature regulation

2. Adherence (pengaturansuhu)

Behavior 1.1 Monitor suhu

3. Immune status tubuh minimal tiap

22
4. Risk control 2 jam

5. Risk detection 1.2 Rencanakan

monitor suhu

secara continue
KriteriaHasil :
1.3 Monitor TD, nadi,
- Keseimbanganantarapr
RR
oduksipanas, panas
1.4 Monitor warna dan
yang diterima, dan
suhu kulit
kehilangan panas.
1.5 Monitor tanda-
- Seimbang antara
tanda hipotermi
produksi panas, panas
dan hipertermi
yang diterima, dan
1.6 Tingkatkan intake
kehilangan panas
cairan dan nutrisi
selama 28 hari
1.7 Selimuti pasien
pertama kehidupan.
untuk mencegah
- Keseimbangan asam
hilangnya
basa bayi baru lahir
kehangatan tubuh
- Temperature stabil :
1.8 Ajarkan pada
36,5-37 C
pasien cara
- Tidak ada kejang
mencegah
- Tidak ada perubahan
keletihan akibat
warna kulit
panas
- Glukosa darah stabil
1.9 Diskusikan tentang
- Pengendalian risiko :

23
hipertermia pentingnya

- Pengendalian risiko: pengaturan suhu

hyporthermia dan kemungkinan

- Pengendalian risiko: efek negative dan

Proses menular kedinginan

- Pengendian risiko: 1.10 Beritahu tentang

paparan sinar matahari indikasi terjadinya

keletihan dan

penanganan

emergency yang

diperlukan

1.11 Ajarkan indikasi

dari hipotermi dan

penanganan yang

diperlukan

1.12 Berikan anti

piretik jika perlu

2 Ketidakseimban Setelah dilakukan 2.1 Kaji adanya alergi

gan nutrisi tindakan keperawatan makanan

kurang dari selama 3x24 jam 2.2 Monitor adanya

kebutuhan b.d diharapkan nutrisi kurang penurunan berat badan

penurunan teratasi dengan kriteria 2.3 Yakinkan diet yang

24
asupan oral hasil: dimakan mengandung

- -Adanya peningkatan tinggi serat untuk

berat badan sesuai mencegah konstipasi

dengan tujuan 2.4 Berikan informasi

- -Berat badan ideal tentang kebutuhan

sesuai dengan tinggi informasi

badan 2.5 Kolaborasi dengan

- Tidak ada tanda-tanda ahli gizi untuk

malnutrisi menentukan jumlah

- menunjukkan kalori dan nutrisi yang

penigkatan fungsi dibutuhkan pasien

pengecapan dan

menelan

- Tidak terjadi

penurunan berat badan

yang berarti

3 Intoleransi Setelah dilakukan 3.1 Bantu klien untuk

aktivitas b.d tindakan keperawatan mengidentifikasi

keadaan mudah selama 3x24 jam aktivitas yang mampu

letih, kelemahan, diharapkan Pasien dilakukan

malnutrisi bertoleransi terhadap 3.2 Bantu klien untuk

dangan aktivtas dengan kriteria membuat jadwal

25
gangguan hasil: latihan diwaktu luang.

keseimbangan - Berpartisipasi dalam 3.3 Sediakan penguatan

cairan dan aktivitas fisik tanpa yang positif bagi yang

elektroit disertai peningkatan aktif beraktivitas

tekanan darah, nadi 3.4 Monitor responfisik,

dan RR emosional, social dan

- -Mampu melakukan spiritual.

aktivtas sehari-hari 3.5 Kolaborasi dengan

(ADLs) secara Tenaga Rehabilitasi

mandiri Medik dalam

- Keseimbangan merencanakan

aktivitas dan istirahat program terapi yang

tepat.

4 Ansietas b.d Setelah dilakukan Anxiety Reduction (

ancaman nyata tindakan keperawatan 3 x peneurunan kecemasan)

terhadap 24 jam diharapkan 4.1 Gunakan pendekatan

kesejahteraan diri ansietas dapat teratasi yang menyenagkan

dengan Kriteria Hasil: 4.2 Nyatakan dengan jelas

- Klien mampu harapan terhadap

mengidentifikasi dan pelaku pasien

mengungkapkan ejala 4.3 Jelaskan semua

cemas prosedur dan apa yang

26
- Mengidentifikasi, dirasakan

mengungkapkan, dan 4.4 Pahami prespektif

menunjukkan teknik pasien terhadap situasi

mengontrol cemas stress

- Vital sign dalam batas 4.5 Temani pasien untuk

normal mengurangi takut

- Postur tubuh, ekspresi 4.6 Dengarkan dengan

wajah, bahasa tubuh penuh perhatian

dan tingkat aktivitas 4.7 Instruksikan pasien

menunjukkan menggunakan teknik

kurangnya kecemasan relaksasi

4.8 Berikan obat untuk

mengurangi

kecemasan

5 harga diri rendah Setelah dilakukan Self extem enhancement

b.d penyakit tindakan keperawatan 3 x 5.1 Tunjukkan rasa

kronis, krisis 24 jam diharapakan percaya diri terhadap

stuasional masalah ahrga diri rendah kemampuan pasien

teratasi dengan Kriteria untuk mengatasi

Hasil : situasi

- Adaptasi terhadap 5.2 Dorong pasien

ketidakdayaan fisik : mengidentifikasikan

27
respon adaptif klien kekuatan dirinya

terhadap tantangan 5.3 Ajarkan keterampilan

fungsional penting perilaku yang positif

- Menunjukkan melalui

penilaian pribadi 5.4 Buat steatment positif

tentang harga diri terhadap pasien

- Mengungkapkan 5.5 Dukung pasien untuk

penerimaan diri menerima

- Komunikasi terbuka 5.6 Kaji alasan-alasan

- Menggunakan strategi untuk mengkritik atau

koping efektif menyalahkan diri

sendiri

5.7 Kolaborasi dengan

sumber-sumber lain (

petugas dinas sosial,

perawat specialis

klinis, dan layanan

keagamaan )

Body image enhancement

counseling

5.8 Mengguakan proses

pertolongan interaktif

yang berfokus pada

28
kebutuhan, masalah

atau perasaan pasien

dan orang terdekat

untuk meningkatkan

atau mendukung

koping pemecahan

masalah

6 Isolasi Sosial NOC : Socialization enhacement

Definisi : kesepian 6. Social interactive 6.1 Fasilitasi dukungan

yang dialami skills. kepada pasien oleh

individu dan 7. Stress level. keluarga, teman

dirasakan saat 8. Social support. dankomunitas.

didorong oleh 9. Post-trauma 6.2 Dukung hubungan

keberadaan orang syndrome. dengan orang lain

lain dan sebagai KriteriaHasil : yang mempunyai

pernyataan - Iklm social keluarga minat dan tujuan yang

negative atau :lingkungan yang sama.

mencengkam. mendukung yang 6.3 Dorong pasien

bercirikan hubungan melakukan kegiatan

Batasan dan tujuan anggota social dan komunitas.

karakteristik : keluarga. 6.4 Berikan uji

Objektif : - Partisipasi waktu pembatasan

1. Tidak ada luang: menggunakan interpersonal.

29
dukungan aktivitas yang 6.5 Berikan umpan balik

orang yang menarik, tentang peningkatan

dianggap menyenangkan, dan dalam perawatan dan

penting menenangkan untuk penampilan diri atau

2. Perilaku meningkatkan aktivitas lain.

yang tidak kesejahteraan. 6.6 Hadapkan pasien pada

sesuai - Keseimbangan pada hambatan penilaian,

dengan perasaan: mampu jika memungkinkan.

perkemban menyesuaikan emosi 6.7 Dukung pasien untuk

gan sebagai respon mengubah lingkungan

3. Afek terhadap keadaan seperti jalan-jalan

tumpul tertentu. 6.8 Fasilitasi pasien yang

4. Bukti - Keparahan kesepian: mempunyai penurunan

kecacatan mengendalikan sensory seperti

(mis:fisik, keparahan penggunaan kaca mata

mental) responemosi, social dan alat pendengaran.

5. Ada atau eksistensi 6.9 Fasilitasi pasi enpasien

didalam terhadap isolasi. untuk berpartisipasi

subcultural - Penyesuaian yang dalam diskusi dengan

6. Sakit, tepat terhadap tekanan group kecil.

tindakan emosi sebagai respon 6.10 Membantu pasien

tidak terhadap keadaan mengembangkan atau

berarti tertentu. meningkatkan

30
7. Tidak ada - Tingkat persepsi keterampilan social

kontak positif tentang status interpersonal.

mata kesehatandan status 6.11 Kurangi stigma

8. Dipenuhi hidup individu. isolasi dengan

dengan - Partisipasi dalam menghormati martabat

pikiran bermain, penggunaan pasien.

sendiri aktivitas oleh anak 6.12 Gali kekuatan dan

9. Menunjukk usia 1-11 tahun untuk kelamahan pasien

an meningkatkan dalam berinteraksi

permusuha kesenangan, hiburan, social.

n dan perkembangan.

10. Tindakan - Meningkatkan

berulang hubungan yang efektif

11. Afek sedih, dalam perilaku

ingin pribadi, interaksi

sendirian social dengan orang,

12. Menunjuka kelompok atau

n perilaku organisasi.

yang tidak - Ketersediaan dan

dapat peningkatan

diterima pemberian actual

oleh bantuan yang andal

kelompok dari orang lain.

31
kultural - Menungkapkan

yang penurunan perasaan

dominan atau pengalaman

13. Tidak diasingkan.

komunkati,

menarik

diri

Subjektif :

1. Minat yang

tidak sesuai

dengan

perkemban

gan

2. Mengalami

perasaan

berbeda

dari orang

lain

3. Tidak

percaya

diri saat

berhadapan

dengan

32
public

4. Mengungk

apkan

perasaan

kesendirian

yang

didorong

oleh orang

lain.

5. Mengungk

apkan

perasaan

penolakan.

6. Mengungk

apkan nilai

yang tidak

dapat

diterima

kelompok

cultural

dominan.

Factor yang

33
berhubungan :

1. Perubahan

status

mental

2. Gangguan

penampilan

fisik

7 Tidak efektifnya Setelah dilakukan Coping Enhancement

ekanisme koping tindakan keperawatan 1 x 7.1 Kaji koping keluarga

keluarga b.d 24 jam diharapakan terhadap sakit pasein

kemampuan Keluarga dapat dan perawatanny

dalam mempertahankan suport 7.2 Biarkan keluarga

mengaktualisasi sistem dan adaptasi mengung -kapkan

diri terhadap perubahan akan perasaan secara verbal

kebutuhannya dengan 7.3 Ajarkan kepada

criteria hasil : keluaraga tentang

- pasien dan keluarga penyakit dan

berinteraksi dengan transmisinya.

cara yang konstruktif

- - keluarga bisa

menerima keadaan

klien

8 distress spiritual Setelah dilakukan 1.1 bina hubungan saling

34
b.d penyakit tindakan keperawatan 3 x percaya dengan

infeksi kronis 24 jam diharapkan masalh pasien

distress spiritual dengan 1.2 kaji factor penyebab

criteria hasil : gangguan spiritual

- -mampu membina pada pasien

hubungan saling 1.3 bantu pasien

percaya dengan mengung -kapkan

perawat perasaan terhadap

- -mampu spiritual yang di

mengungkapkan yakini

penyebab gangguan 1.4 bantu klien mengem -

spiritual bangkan skill untuk

- -mengungkapkan mengatasi perubahan

perasaan dan pikiran spiritual dalam

tentang spiritual yang kehidupan

diyakininya 1.5 fasilitasi pasien

- aktif melakukan dengan alat-alat

kegiatan spiritual atau ibadah sesuai

keagamaan keyakinan atau

- - ikut serta dalam agama yang di anut

keadaan keagamaan oleh pasien

1.6 bantu pasien untuk

ikut serta dalam

35
kegiatan keagamaan

1.7 bantu pasien

mengevaluasi

perasaan setelah

melakukan kegiatan

ibadah atau kegiatan

spiritual lainnya.

2.16 Evaluasi Keperawatan

Menetapkan kemajuan yang telah dialami oleh klien dengan melakukan identifikasi terhadap

kriteria hasil yang telah ditentukan dan respon klien dan keefektifan dari intervensi keperwatan

yang telah direncanakan untuk klien serta melakukan modifikasi pada beberapa intervensi

keperawatan yang telah dilakukan tergantung pada kemajuan yang dapat dicapai oleh klien

HIV/AIDS

36
BAB IV

PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Perubahan spiritual yang dibutuhkan oleh klien setelah di diagnosis HIV/Aids Nilai-nilai

spiritual dan tujuan hidup klien pasca diagnosis HIV/Aids adalah menghargai hidup pasca

diagnosis HIV dengan lebih menghargai makna hidup sebenarnya, menikmati hidup dan pasrah

menerima keadaan. Dukungan yang kuat dari keluarga dalam hal ini pasangan hidup, teman

dekat membantu klien HIV/Aids melewati masa-masa sulit pasca diagnosis HIV sangat

penting. Harapan terhadap kehidupan yang lebih baik dihari depan setelah keluar dari rumah

sakit adalah mencari pekerjaan dan memulai hidup yang baru, masih ingin terus berkarya,

memanfaatkan kesempatan hidup yang telah diberikan Tuhan, memperbaiki diri kembali pada

kegiatan keagamaan dan memulihkan fisik.

4.2 Saran

Penderita HIV AIDS memerlukan dukungan dukungan dari keluarga mauapun orang

orang terdekat, Nilai-nilai spiritual dan tujuan hidup klien pasca diagnosis HIV/Aids adalah

menghargai hidup pasca diagnosis HIV dengan lebih menghargai makna hidup sebenarnya,

menikmati hidup dan pasrah menerima keadaan. Dukungan yang kuat dari keluarga dalam hal ini

pasangan hidup, teman dekat membantu klien HIV/Aids adalah sangat penting dan hindari

pengucilan pada paien HIV AIDS karena justru akan memperburuk dari segi kesehatan maupun

mentalnya dan perlunya untuk membimbing maupun menuntun pasien HIV AIDS untuk dekat

kepada Tuhan YME.

37
LAMPIRAN

Skenario Role Play

“Bimbingan Spiritual Pada Pasien HIV/AIDS”

Disalah satu rumah sakit di Kota Sumedang , terdapat pasien yang menderita penyakit

HIV/AIDS. Pasien bernama Intan yang berusia 20 tahun pada awalnya dibawa ke Rumah Sakit

dengan keluhan BAB lebih dari 3x dalam sehari dan tubuhnya mengeluarkan keringat yang

berlebih. Pasien mendapatkan perawatan dan meminum obat secara rutin. Akan tetapi, setelah

mendapatkan perwatan yang intensif selama seminggu , kondisi pasien bukannya membaik akan

tetapi sebaliknya, kondisi pasien justru kian hari kian memburuk. Pasien mengalami peningkatan

suhu tubuh serta mengalami penurunan berat badan yang sangat drastis. Dokter dan Perawat pun

melakukan pemeriksaan kembali berupa tes darah. Ternyata dari hasil pemeriksaan, pasien

positif terkena HIV/AIDS. Dokter pun memberitahukan hal tersebut kepada keluarga pasien.

Perawat : “Assalamualikum, apakah benar ini dengan keluarga dari pasien yang bernama

Intan?”

Keluarga : “Wa’alaikum salam, iya saya ibunya. Ada apa sus?”

Perawata : “Ibu boleh bicara sebentar?”

Keluarga : “Oh..baik sus ”

Perawat : “Baik, mari ikut dengan saya” dokter ingin bicara dengan ibu terkait dengan

penyakit anak ibu “

Perawat dan Ibu pasien pun pergi menuju Nurse Station.

38
Perawat : “Silahkan duduk bu” (sambil menunjuk kearah kursi)

Keluarga : (ibu pasien duduk)

Dokter : “Begini bu, setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium dan melihat

perkembangan penyakit anak ibu selama di rawat kondisinya malah menurun,

ternyata anak ibu positif terkena HIV/AIDS”(sambil memperlihatkan hasil

pemeriksaan)

Keluarga : “Astagfirullah, itu bukannya penyakit yang berbahaya dan mematikan

dok?” (dengan raut wajah kaget)

Dokter : “Iya bu, HIV/AIDS termasuk salah satu pentakit yang sangat berbahaya.

HIV/AIDS adalah penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga pasien sangat

rentang untuk terkena penyakit. Pada saat anak ibu batuk-batuk yang tak kunjung henti, itu

merupakan salah satu tanda bahwa sistem kekebalan tubuhnya sudah terserang oleh virus.

HIV/AIDS juga termasuk salah satu penyakit yang menular. Oleh sebab itu anak ibu akan kami

pindahkan ke ruangan isolasi, guna mencegah terjadinya penularan pada pasien lainnya”

Keluarga : “Bagaimana dengan pengobatannya dok , bisa sembuh kan?” (sambil menangis

dan terlihat panik)

Dokter : “Untuk sembuh, kemungkinannya memang kecil, akan tetapi kita dapat menekan

pergerakan dari virus tersebut, agar virus tidak menimbulkan kerusakan yang

semakin parah”

Keluarga : “Tapi.. apa penyebabnya apa dok ? (dengan wajah yang cemas)

Dokter : “Biasanya virus ini bisa ditularkan dari penggunaan jarum suntik, pergaulan

bebas, atau dari ibu yang terinfeksi HIV/AIDS yang kemudian menyusui

39
anaknya. Nah bagaimana dengan pola pergaulan dan lingkungan anak ibu

sendiri?”

Keluarga : “Setau saya anak saya sering keluar malam, dan saya tidak dapat memantau

anak saya selama 24 jam. Dikarenakan saya bekerja paruh waktu”

Dokter : “ohh... kalau begitu sebaiknya kita fokus saja ke pengobatan yang akan

ditempuh anak ibu”

Keluarga : “Iya dok .. tolong sembuhkan anak saya ya sus..”

Dokter : “ Inshaallah, kami akan berusaha sebaik mungkin bu”.

Ibu pasien pun kembali menuju ke ruangan dimana anaknya dirawat, dan ia memberitahukan hal

tersebut kepada anaknya.

Keluarga : “Assalamualaikum” (dengan raut wajah yang lemas dan mata yang sembab)

Pasien : “Waalaikumsalam, mamah kenapa?”

Keluarga : (langsung memeluk anaknya)

Pasien : “kenapa mah?”

Keluarga : “Nak, ada yang ingin mamah sampaikan, kamu harus kuat ya nak...”

Pasien : “Memangnya ada apa mah? Aku sakit apa mah?”

Keluarga : “Tadi setelah mamah dipanggil sama perawat terkait dengan kondisi kamu saat

ini. (menghela nafas). Kamu harus rajin minum obat ya nak, biar kamu cepet sembuh”

Pasien : “Memangnya aku sakit apa?”

Keluarga : “ jangan terlalu dipikirkan nak , nanti juga akan sembuh “.

Setelah beberapa hari mendapatkan perawatan, kondisi pasien tak kunjung membaik.

40
Pasien : “Mah aku tuh kenapa sih? Kok semakin hari aku merasa kalau kondisi aku

semakin lemah, badan aku juga jadi kurus”

Keluarga : “Sebenarnya kamu itu sakit HIV/AIDS”

Pasien : (hanya terdiam dan menangis)

Keluarga : “Kamu yang sabar nak, mamah juga mengusahakan yang terbaik buat

kesembuhan kamu”

Semenjak pasien mengetahui penyakit yang dideritanya, pasien sangat terpukul. Pasien tidak

mau makan, tidak mau bertemu dengan siapa pun, dan kondisinya semakin memburuk.

Semangat hidupnya seakan sudah hilang.

Beberapa hari kemudian , perawat dan rohaniawan mengadakan doa bersama sebelum memulai

aktivitas. Perawat dan rohaniawan mendatangi pasiennya satu persatu untuk memimpin doa

untuk kesembuhan pasien.

Salah satu perawat dan rohaniawan pun datang ke ruangan dimana Intan dirawat.

Perawat : “Assalamualaikum”

Keluarga : “Waaliakum salam”

Pasien : (hanya terdiam)

Perawat : “,ibu, perkenalkan saya perawat yang shift pagi nama saya Eli, dan ini ibu Sri,

kami akan memimpin doa bersama untuk kesembuhan intan, bagaimana ibu

setuju?”.

Keluarga : “ohh, iya sus”

Rohaniawan : “Sekarang kita berdoa terlebih dahulu ya, untuk kesembuhan pasien, mari kita

berdoa bersama-sama ya bu.Bismillahirohmanirrohim,

41
Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan,

Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali

kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain,

aamiin”. (HR Bukhari danMuslim)

Keluarga : “aminn, terimaksih sus”

Perawat : “Sama-sama bu, sekarang saya permisi dulu ya bu”

Setelah beberapa saat perawat pun datang ke ruangan pasien.

Perawat : “Assalamualaikum”

Pasien : (tidak menjawab salam dan hanya terdiam)

Perawat :” Intan masih kenal dengan saya ? nama saya Eli , saya sekarang akan

membantu intan minum obat karena’ Sekarang sudah waktunya makan dan

minum obat (sambil menyodorkan obat)

Pasien : “Untuk apa makan dan minum obat, penyakit saya juga kan ga sembuh-

sembuh” (menepis obat yang dipegang oleh perawat)

Perawat : “Intan kamu ga boleh kaya gitu, kamu harus yakin kalau kamu akan sembuh.

Kamu harus percaya bahwa ada kekuatan yang lebih besar, yaitu Allah SWT.

Allah akan memberikan yang terbaik bagi umatnya yang berikhtiar dan sabar”

Pasien : “Engga, saya mending mati aja. Dari pada hidup, tapi saya hanya menyusahkan

dan mempermalukan keluarga saya”

Perawat : “Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, kamu harus percaya akan hal itu.

Kamu juga harus ingat bahwa orang di sekitar kamu itu sayang samu kamu,

dan menginginkan kamu sembuh. Keluarga kamu sudah berusaha untuk

42
kesembuhan kamu, sekarang tinggal kamu yang harus berjuang untuk

melawan penyakit kamu, kamu harus sembuh setidaknya untuk orang-orang

yang sayang sama kamu” dan untuk ibu atau keluarga yang lain mohon untuk

terus menyemangati intan ya ,untuk semangat hidupnya dan selalu terus

berobat dan berdoa jangan putus asa”.

Keluarga : “ iya sus,”

Pasien : (terdiam)

Perawat : “Apa yang kamu pikirkan?”

Pasien : “Saya merasa malu dengan masa lalu saya sus, jikalau saya hidup pun, saya

hanya akan membawa rasa malu yang akan di tanggung oleh keluarga saya”

Perawat : “Tidak ada orang tua yang akan membenci anaknya sendiri, jika kamu hidup

itu tidak akan membuat mereka malu, melainkan akan membawa

kebahagiaan bagi mereka”

Pasien : “Apa itu benar sus?”

Perawat : “Tentu saja” iya kan bu ( menoleh kepada ibunya )

Keluarga : “ betul intan mamah sayang kamu, mamah ingin kamu cepat sembuh “.

Pasien : (mulai tersenyum)

Perawat : “Nah sekarang kan sudah waktunya sholat

Dzuhur, Intan bisa sekalian berdoa kepada Allah SWT agar diberikan

kesembuhan. Apakah Intan sudah sholat?”

Pasien : “Belum sus, saya tidak tahu caranya”

Perawat : “Baiklah saya akan menuntun Intan untuk melakukan sholat Dzuhur ya.

Apakah Intan bersedia?”

43
Pasien : “Iya sus”

Perawat : “Baiklah, sekarang kita lakukan tayamum dulu ya. Caranya intan pukulkan

kedua telapak tangan ke tembok, lalu tiup, kemudian usapkan pada telapak

tangan kanan dan kiri, lalu sebaliknya. Kemudian usapkan ke wajah dengan

kedua telapak tangan. Dilakukan sekali usap saja ya. (sambil mempraktekan)

Pasien : (mengkuti cara tayamum yang dicontohkan oleh perawat)

Perawat : “Nah tayamumnya sudah selesai, sekarang Intan sholatya, niatkan didalam hati

Intan dan mintalah kesembuhan kepada Allah, karena hanya Allah lah yang

maha menyembuhkan berbagai macam penyakit”

Pasien : “Baik sus, terimakasih banyak”

Perawat : “nah makan dan obatnya saya simpan disini, nanti jika Intan sudah selasai

sholatnya, Intan makan dan jangan lupa obatnya juga diminum ya. Kalau

begitu, saya permisi dulu ya”

Pasien : “Baik sus”

Perawat : “Assalamualaikum”

Pasien : “Waalikumsalam”

Setelah berbincang dengan perawat cukup lama dan sering , pasien sudah mulai menerima

penyakit yang di deritanya. Sekarang pasien juga menjadi rajin sholat, mau makan dan

menunjukan perubahan kondisinya ke arah yang lebih baik.

Sekian

44
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan RI ”Petunjuk Pengembangan Program Nasional Pemberantasan

dan Pencegahan AIDS, Jakarta 1992.

2. Syarifuddin Djalil “PelayananLaboratorium Kesehatan Untuk Pemeriksaan Serologis

AIDS” AIDS; Petunjuk Untuk Petugas Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta

1989.

3. Soemarsono “Patogenesis, Gejala klinis dan Pengobatan Infeksi HIV” AIDS; Petunjuk

Untuk Petugas Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta 1989.

4. Wibisono Bing “Epidemologi AIDS” AIDS; Petunjuk Untuk Petugas Kesehatan RI

Jakarta 1989.

45
46
47