Anda di halaman 1dari 24

PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PENINGKATAN AKTIVITAS HASIL BELAJAR SISWA


KELAS X SMK N 6 JAYAPURA
MELALUI METODE TUTOR SEBAYA

KASMAN SOSE
NIM 19256052510058

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU DALAM JABATAN


TEKNIK KOMPUTER DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
JULI 2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pembelajaran di SMK bertujuan untuk melakukan perubahan tingkah laku

peserta didik, sehingga lulusan SMK siap terjun ke dunia industri dengan standar

kompetensi yang memadai. lulusan SMK diharapkan memiliki kecakapan kognitif

dan kecakapan psikomotorik. kecakapan kognitif didapatkan peserta didik melalui

proses belajar dengan panduan guru, sedangkan kecakapan psikomotorik didapatkan

peserta didik melalui pengalaman dan latihan baik itu melalui praktik harian maupun

praktik kerja lapangan. kedua kecakapan ini harus berjalan seimbang untuk mencegah

kebiasaan trial and error dalam menghadapi suatu permasalahan.

Sering ditemukan di sekolah bahwa guru menguasai materi suatu subjek dengan

baik tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan proses pembelajaran dengan baik kepada

peserta didik. Hal itu terjadi karena kegiatan tersebut tidak didasarkan pada metode

pembelajaran yang tepat sehingga hasil belajar yang diperoleh peserta didik rendah.

Timbul pertanyaan apakah mungkin dikembangkan suatu metode pembelajaran yang

sederhana, sistematik, bermakna dan dapat digunakan oleh para guru sebagai dasar untuk

melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik sehingga dapat membantu

meningkatkan hasil belajar

Hasil belajar yang diperoleh peserta didik tidak terlepas dari proses pembelajaran.

Sementara proses belajar itu sendiri akan berjalan dengan baik bilamana tersedianya

fasilitas penunjang yang cukup memadai. Apalagi mata pelajaran tertentu yang
membutuhkan alat seperti di Laboratorium Komputer proses pembelajarannya kadang

disampaikan dengan cara membagi dua kelompok peserta didik, hal ini dilakukan karena

sarana komputer yang tidak cukup untuk seluruh peserta didik yang berjumlah 20 s.d 22

peserta didik. Fakta lainnya yang terjadi komputer yang layak pakai atau dalam keadaan

baik hanya 5 unit dan itupun terkadang sering terjadi kemacetan saat sedang

digunakan, misalnya daya tegangan listrik yang terlampau berlebihan. Karena alasan

tertentu juga pembelajaran komputer diambil jalan pintas diberikan proses pembelajaran

secara klasikal, artinya seluruh peserta didik dalam sekelas belajar sambil melihat

tayangan di proyektor LCD. Hal ini tentunya tidak mendukung upaya pembelajaran secara

optimal melalui pengalaman langsung oleh peserta didik terhadap pemahaman konsep

dan praktek pada mata pelajaran computer dan Jaringan dasar materi instalasi system

operasi

Solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan menggunakan metode peer

teaching methods (Tutor Sebaya), pendekatan pembelajaran yang diduga mampu

mewujudkan situasi pembelajaran yang kondusif; aktif, kreatif, efektif, dan

menyenangkan. Melalui tutor sebaya methods peserta didik bukan dijadikan sebagai

objek pembelajaran tetapi menjadi subjek pembelajaran dalam arti peserta didik

diajak untuk menjadi sumber belajar dan tempat bertanya bagi peserta didik lainya.

Peserta didik yang menjadi tutor dapat mengulang dan menjelaskan kembali materi

sehingga menjadi lebih memperkuat pemahamannya. Pemahaman siswa akan menjadi

lebih kuat bilamana sering melakukan latihan dengan bantuan petunjuk teman secara

bersahabat, maka materi Instalasi system operasi sangatlah cocok karena dalam materi

ini memuat sejumlah indikator yang terkait dengan melakukan sesuatu secara
prosedural di komputer

Dari latar belakang di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan

formasi judul “Peningkatan hasil belajar peserta didik melalui tutor sebaya pada

materi instalasi system operasi Kelas X di SMK Negeri 6 Jayapura

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah: “Apakah penerapan metode tutor sebaya dapat

meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi Email di kelas IX?”

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian rumusan masalah Penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui bahwa penerapan metode tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar

peserta didik pada materi instalasi system operasi di kelas X Teknik Komputer dan

Jaringan

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan melalui penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagi peserta didik: pembelajaran yang mandiri dan interaksi langsung sesama

teman dapat membuat fleksibilitas komunikasi pembelajaran yang efektif dan

punya rasa setia kawan yang tinggi.

2. Bagi guru: melalui PTK ini guru dapat memperbaiki dan meningkatkan sistem

pembelajaran

3. Bagi sekolah: hasil penelitian ini sebagai input peningkatan pembelajaran

computer dan Jaringan dasar serta mata pelajarannya lainnya yang relevan di

sekolah
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Defenisi Metode Tutor Sebaya

Metode adalah cara yang digunakan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan

belajar mengajar di kelas sebagai upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang

telah ditetapkan. Sesungguhnya banyak metode yang biasanya dilakukan oleh

guru dalam menyampaikan materi antara lainnya metode tanya jawab, diskusi,

pemberian tugas, eksperimen, demonstrasi dan metode tutorial atau yang dikenal

bimbingan

Kusumah (2009) menuliskan “Metode tutorial adalah suatu proses

pengelolaan pembelajaran yang dilakukan melalui proses bimbingan yang

diberikan/dilakukan oleh guru kepada peserta didik baik secara perorangan atau

kelompok kecil peserta didik”

Metode tutor sebaya pada dasarnya sama dengan program bimbingan, yang

bertujuan memberikan bantuan dari dan kepada peserta didik dapat mencapai

prestasi belajar secara optimal. Metode tutor sebaya adalah suatu metode

pembelajaran yang dilakukan dengan cara memberdayakan siswa yang memiliki

daya serap yang tinggi dari kelompok siswa itu sendiri untuk menjadi tutor bagi

teman- temannya, dimana siswa yang menjadi tutor bertugas untuk memberikan

materi belajar dan latihan kepada teman-temannya yang belum paham terhadap

materi/ latihan yang diberikan guru dengan dilandasi aturan yang telah disepakati
bersama dalam kelompok tersebut, sehingga akan terbangun suasana belajar

kelompok yang bersifat kooperatif bukan kompetitif (Arjanggi dan Suprihatin, 2010).

Tutor sebaya ini dapat dipandang sebagai reaksi terhadap pengajaran klasikal

dengan kelas yang terlampau besar dan padat sehingga guru atau tenaga

pengajar tak dapat memberikan bantuan individual, bahkan sering tidak mengenal

para pelajar seorang demi seorang. Selain itu para pendidik mengetahui bahwa

para peserta didik menunjukkan perbedaan dalam cara-cara belajar. Pengajaran

klasikal yang menggunakan proses belajar- mengajar yang sama bagi semua peserta

didik tidak akan sesuai bagi kebutuhan dan kepribadian setiap peserta didik. Maka

karena itu perlu dicari sistem pengajaran yang membuka kemungkinan

memberikan pengajaran bagi sejumlah besar peserta didik dan di samping itu

memberi kesempatan bagi pengajaran tutor sebaya

Tutor Sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu

memenuhi kebutuhan peserta didik. Pendekatan yang digunakan adalah kooperatif

bukan kompetitif. Sehingga rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara

peserta didik yang bekerja bersama. Pemilihan metode ini sangat cocok ketika

peserta didik sudah terlibat dalam kerja kelompok. Metode ini dilakukan dengan cara

memberdayakan kemampuan peserta didik yang memiliki daya serap yang tinggi,

peserta didik tersebut mengajarkan materi/latihan kepada teman sebaya atau intra

peserta didik yang belum paham atau memiliki daya serap rendah. Tutor itu sendiri

hanya memberikan petunjuk, bukan ikut mengerjakan. Alternatifnya, waktu khusus

tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu dalam belajar

baik satu-satu atau dalam kelompok kecil. Baik pelajaran yang terjadual maupun
tidak terjadual, misalnya pada saat pengembangan diri peserta didik

Tutor Sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari

pengalamannya. Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan

diperolehnya atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka

belajar dengan “Tutor Sebaya”, peserta didik juga mengembangkan kemampuan

yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang

dipelajari dengan cara yang bermakna.

Penjelasan Tutor Sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil

dibandingkan guru. Peserta didik melihat masalah dengan cara yang berbeda

dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab dan

komunikatif. Dengan menggunakan model tutor sebaya diharapkan setiap anggota

lebih mudah dan leluasa dalam menyampaikan masalah yang dihadapi sehingga

peserta didik yang bersangkutan terdorong semangatnya untuk mempelajari materi

ajar dengan baik.

Pemilihan siswa berdasarkan beberapa kriteria seperti yang dikemukakan

oleh Surya dan Amin (dalam Martini, 2006): Dalam memilih tutor di antaranya

memiliki kemampuan membantu orang lain baik secara individu maupun kelompok,

prestasi belajar yang tergolong baik, hubungan sosial yang baik dengan teman-

temanya terutama kelompok rendah

2. Tugas Tutor

Seorang tutor hendaknya memiliki kriteria: (1) memiliki kemampuan akademis

di atas rata-rata peserta didik satu kelas; (2) mampu menjalin kerja sama

dengan sesama peserta didik; (3) memiliki motivasi tinggi untuk meraih prestasi
akademis yang baik; (4) memiliki sikap toleransi dan tenggang rasa dengan

sesama; (5) memiliki motivasi tinggi untuk menjadikan kelompok diskusinya

sebagai yang terbaik; (6) bersikap rendah hati, pemberani, dan bertanggung

jawab; dan (7) suka membantu sesamanya yang mengalami kesulitan.

Pemilihan siswa berdasarkan beberapa kriteria seperti yang dikemukakan oleh

Surya dan Amin (dalam Martini, 2006): Dalam memilih tutor di antaranya

memiliki kemampuan membantu orang lain baik secara individu maupun

kelompok, prestasi belajar yang tergolong baik, hubungan sosial yang baik

dengan teman-temanya terutama kelompok rendah.

Tutor atau ketua kelompok memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

(1) memberikan tutorial kepada anggota terhadap materi ajar yang sedang

dipelajari; (2) mengkoordinir proses diskusi agar berlangsung kreatif dan

dinamis; (3) menyampaikan permasalahan kepada guru pembimbing apabila ada

materi ajar yang belum dikuasai; (4) menyusun jadwal diskusi bersama anggota

kelompok, baik pada saat tatap muka di kelas maupun di luar kelas, secara rutin

dan insidental untuk memecahkan masalah yang dihadapi; (4) melaporkan

perkembangan akademis kelompoknya kepada guru pembimbing pada setiap

materi yang dipelajari

3. Kelebihan dan Kelemahan Tutorial

Dalam penggunaan metode pembelajaran tentunya memiliki kelebihan

dan kekurangan, seperti halnya tutor sebaya. Uraian di atas adalah beberapa

kelebihan dari metode tutor sebaya sementara kekurangan metode ini antara lain:

1. Tidak semua peserta didik dapat menjelaskan kepada temannya


2. Tidak semua peserta didik dapat menjawab pertanyaan temannya

3. Kelebihan tutor sebaya dalam pendidikan yaitu dalam penerapan tutor

sebaya, anak- anak diajar untuk mandiri, dewasa dan punya rasa setia kawan

yang tinggi. Artinya dalam penerapan tutor sebaya itu, anak yang dianggap

pintar bisa mengajari atau menjadi tutor temannya yang kurang pandai

atau ketinggalan. Di sini peran guru hanya sebagai fasilitator atau

pembimbing saja

Jadi, kita dapat menugaskan peserta didik pandai untuk memberikan

penjelasan kepada peserta didik kurang pandai (tutor sebaya). Demikian

juga, anjurkan peserta didik kurang pandai untuk bertanya kepada atau

meminta penjelasan dari peserta didik pandai terlebih dahulu sebelum

kepada gurunya. Hal ini untuk menanamkan kesan bahwa belajar itu bisa

dari siapa saja, tidak selalu dari guru yang akibatnya tergantung kepada guru.

Tutor dikatakan berhasil jika dapat menjelaskan dan yang

dijelaskan dapat membuktikan bahwa dia telah mengerti atau memahami

dengan cara hasil pekerjaannya

B. Interaksi Belajar

Belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai normatif yang

dilakukan secara sadar dan bertujuan. Dalam interaksi pembelajaran unsur guru

dan peserta didik harus aktif, karena tidak mungkin terjadi proses interaksi bila

hanya satu unsur yang aktif. Aktif dalam sikap, mental, dan perbuatan. Dalam

sistem pengajaran dengan pendekatan keterampilan proses, peserta didik harus

lebih aktif daripada guru. Guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan
pembimbing. Inilah yang disebut dengan interaksi edukatif sebagimana

yang dikemukakan Abu Achmadi dan Shuyadi, 1985:47), interaksi edukatif

adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik yang

berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.

Ada tiga pola komunikasi antara guru dan anak didik dalam proses

interaksi edukatif, yakni komunikasi sebagai aksi, komunikasi sebagai interaksi,

dan komunikasi sebagai transaksi

a) Komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah menempatkan

guru sebagai pemberi aksi dan anak didik sebagai penerima aksi.

Guru aktif, dan anak didik pasif. Mengajar dipandang sebagai

kegiatan menyampaikan bahan pelajaran

b) Komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah, guru

berperan sebagai pemberi aksi atau penerima aksi. Demikian pula

halnya anak didik, bisa sebagai penerima aksi, bisa pula sebagai

pemberi aksi. Antara guru dan anak didik akan terjadi dialog.

c) Komunikasi sebagai transaksi atau komunikasi banyak arah,

komunikasi tidak hanya terjadi antara guru dan anak didik. Anak

didik dituntut lebih aktif daripada guru, seperti halnya guru, dapat

berfungsi sebagai sumber belajar bagi anak didik lain

Bentuk komunikasi ketiga inilah yang sering digunakan sebagai salah

satu pendekatan untuk mencapai metode tertentu, karena peserta didik dianggap

objek yang memiliki pengetahuan sebelumnya dan bukan sebaliknya.

Penggunaan variasi pola interaksi mutlak dilakukan oleh guru. Hal ini
dimaksudkan agar tidak menimbulkan kebosanan, kejenuhan, serta untuk

menghidupkan suasana kelas demi keberhasilan anak didik dalam mencapai

tujuan termasuk hasil belajarnya.

Dalam belajar setiap peserta didik harus diusahakan berpartisipasi

aktif meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan

instruksional

a) Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu memiliki struktur,

penyajian yang sederhana sehingga peserta didik mudah menangkap

pengertiannya

b) Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang

kuat pada peserta didik untuk mencapai tujuan instruksional

c) Belajar itu proses kontinyu maka harus tahap demi tahap menurut

discovery; eksplorasi;

d) Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu

sesuai dengan tujuan intruksional yang harus dicapai

e) Belajar memerlukan saran yang cukup,sehingga peserta didik dapat

belajar dengan tenang;

f) Belajar perlu lingkungan yang menantang, dimana anak dapat

mengembangkan kemampuannya ber-eksplorasi dan belajar dengan

efektif;

g) Belajar perlu ada interaksi peserta didik dengan lingkungannya


C. Hasil belajar

Belajar sangat erat hubungannya dengan prestasi belajar.Karena

prestasi itu sendiri merupakan hasil belajar itu biasanya dinyatakan dengan nilai.

Menurut Surahmad (1997: 88) bahwa: “Hasil belajar adalah hasil dimana guru

melihat bentuk akhir dari pengalaman interaksi edukatif yang diperhatikan

adalah menempatkan tingkah laku”. Dapat diartikan bahwa hasil belajar adalah

suatu bentuk pertumbuhan atau Perubahan diri seseorang yang dinyatakan

dengan cara bertingkah laku baru berkat pengalaman baru

Salah satu masalah dalam pembelajaran di sekolah adalah rendahnya

hasil belajar peserta didik. Hasil belajar merupakan hasil dari proses yang

kompleks. Hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor dari dalam

(internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Menurut Suryabrata (1982: 27)

yang termasuk faktor internal adalah faktor fisiologis seperti kondisi fisik dan

kondisi indera dan psikologis (misalnya bakat, minat, kecerdasan motivasi

berprestasi dan kemampuan kognitif), sedangkan yang termasuk faktor eksternal

adalah faktor lingkungan (alam, masyarakat/keluarga) dan instrumental

(misalnya guru, kurikulum, dan model pembelajaran).


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah jenis penelitian tindakan kelas yang meliputi tahapan

perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation),dan reflesi

(reflection)

B. Rancangan penelitian

C. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Teknik Komputer dan jaringan yang

berjumlah 24 orang terdiri atas 10 orang laki-laki dan 14 perempuan tahun ajaran

2018/2019 semester genap SMK Negeri 6 Jayapura


D. Persiapan perencanaan tindakan

Langkah-langkah pada perencanann persiapan ini adalah sebagai berikut:

1. Menyiapkan sarana dan prasarana penting dalam proses pembelajaran

seperti: komputer yang aktif (minimal 5 unit komputer)

2. Menyusun rencana pembelajaran dan strategi pembelajaran yang lebih

efektif sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.

3. Melakukan tes awal yang bertujuan mengelompokan peserta didik. Hal ini

dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan peserta didik dan kreatifitas dalam

mengerjakan tes

4. Membuat kelompok peserta didik yang dijadikan sebagai tutor (peserta

didik yang dianggap sudah mengerti dan terampil) dan kelompok peserta

didik yang menjadi teman sebaya dalam pembelajaran. Pembagian kelompok

berdasarkan kemampuan peserta didik

5. Peserta didik yang memiliki nilai terbaik (kriteria nilai 70 ke atas)

dikumpulkan dan diseleksi oleh guru untuk dipilih 5 orang sebagai tutor.

6. Guru melatih 5 peserta didik sebagai tutor yang memiliki kemampuan lebih

7. Menyusun instrumen penelitian (lembar observasi, LKS dan lembar unjuk

kerja) yang akan diisi oleh partisipan pada pelaksanaan kegiatan belajar

mengajar.

8. Menetapkan waktu pelaksanaan tindakan.

E. Pelaksanaan Tindakan

Setelah tahap perencanaan persiapan selesai, guru bisa melanjutkan ke tahap

pelaksanaan dengan memberikan program, pengarahan kepada tutor dan melakukan


pengamatan. Kegiatan tersebut diantaranya:

a) Memberikan program petunjuk dan pelatihan kepada tutor

Agar tutor dapat mengajar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh guru, tutor

diberikan program pembelajaran berupa petunjuk dan bimbingan pengajaran

baik secara global maupun perbagian/unit tentang apa dan bagaimana yang harus

dilakukan tutor di depan peserta didik

b) Melaksanakan tindakan berupa proses pembelajaran oleh guru sesuai dengan

rencana tindakan yang disusun

c) Mengambil pelaksanaan pembelajaran oleh tutor

Perlu diperhatikan bahwa tutor yang sementara membantu atau

memberikan materi pembelajaran harus diamati juga pelaksanaannya. Apakah

tutor bekerja sesuai dengan petunjuk yang ada? Apakah tutor memanfaatkan

waktu dan sarana dengan baik? Hal ini perlu pengamatan seksama dari guru, guru

berhak memberikan perbaikan langsung terhadap pelaksanaan tindakan

pembelajaran

Pelaksanaan tindakan kelas ini direncanakan melalui dua siklus untuk

melihat pencapaian hasil belajar. Apabila pada siklus I tidak menunjukkan hasil

yang diharapkan maka diadakan peninjauan kembali terhadap prosedur

serta merumuskan rencanan perbaikan/penyempurnaan yang akan

dilaksanakan pada siklus berikutnya (Siklus II). Tindakan pada siklus II

merupakan perbaikan dan penyempurnaan dari tindakan yang telah dilaksanakan

pada siklus I dengan memperhatikan hasil pengamatan kegiatan belajar mengajar

serta hasil evaluasi belajar peserta didik pada siklus I


SIKLUS 1

1) Perencanaan

Pada tahap ini akan dilakukan:

Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang sesuai dengan

kompetensi dasar untuk mata pelajaran computer dan Jaringan dasar Kelas X.

a) Menentukan pokok bahasan yang akan diajarkan pada setiap tindakan.

b) Menyusun dan memformat lembar kerja peserta didik

c) Menyusun format penilaian (unjuk kerja) dan observasi

d) Membagi kelompok dan menjelaskan maksud pembagian kelompok dan

rencana pembelajaran yang akan dilakukan

2) Tindakan

Melaksanakan tindakan sesuai dengan skenario yang telah direncanakan, yaitu

a) Kelompok yang menjadi tutor masuk ruang komputer untuk mendapat

materi secara langsung dari guru pengajar selama 1 jam pelajaran,

sementara kelompok teman berada di kelas dengan diberi tugas untuk

membaca materi yang akan diterangkan

b) Guru memberikan penjelaskan materi instalasi system operasi mulai

dari partisi hardisk system, nama pengguna, prosedur pengoperasian

c) Pada akhir satu jam pelajaran guru melakukan tanya jawab dan

menjelaskan kesimpulan dari kegiatan belajar

d) Setelah satu jam pelajaran kelompok teman masuk ruangan komputer dan
belajar materi instalasi system operasi dan pengoperasianya

e) serta cara install instalasi system operasi dan pengoperasianya

yang dibimbing oleh kelompok tutor.

3) Pengamatan

Pada tahap ini guru mengamati proses kegiatan yang sedang berlangsung,

diantaranya:

a) Mengamati interaksi belajar yang sedang berlangsung melalui unuk kerja

untuk peserta didik yang menjadi tutor maupun sebagi teman.

b) Menilai lembar kerja yang dikerjakan dan hasil proses instalasi dan

pengoperasianya

4) Refleksi

Pada tahap ini dilakukan untuk mengevalusi seluruh tindakan yang

dilakukan berdasarkan hasil pengamatan

a) Apakah materi yang disampaikan oleh guru dapat disampaikan dengan

jelas oleh kelompok tutor ke kelompok teman? Indikator yang dapat

dilakukan adalah melihat hasil pada lembar latihan peserta didik. Jika

hasilnya belum mencapai 70%, maka akan dilakukan perbaikan pada

siklus kedua dengan materi yang sama, dan jika hasilnya sudah

memuaskan maka cukup satu siklus saja

b) Apakah terjadi interaksi belajar? Hal ini terlihat dari respon peserta didik

sebagi tutor ataupun sebagai teman, baik itu dalam bentuk tanya

jawab, pengerjaan latihan.

c) Menyusun rencana perbaikan sesuai dengan kelemahan-kelemahan


pada yang terjadi berdasarkan hasil pengamatan untuk digunakan pada

siklus kedua

SIKLUS II

1) Perencanaan

Mengidentifikasi masalah pada siklus pertama dan menyusun alternatif

pemecahannya

a) Menyiapkan media dan materi yang akan disampaikan.

b) Menukar kelompok, yang tadinya tutor menjadi kelompok teman, dan

yang kelompok tempat menjadi kelompok tutor.

2) Tindakan

a) Kelompok yang menjadi tutor masuk ruang komputer untuk mendapat

materi secara langsung dari guru pengajar selama 1 jam pelajaran,

sementara kelompok teman berada di kelas dengan diberi tugas untuk

membaca materi yang akan diterangkan dan merangkum hasil belajar

pada siklus pertama.

b) Guru menjelaskan materi mengoperasikan instalasi system operasi

c) Pada akhir satu jam pelajaran Guru melakukan tanya jawab dan

menjelaskan kesimpulan dari kegiatan belajar.

d) Setelah satu jam pelajaran Kelompok teman masuk ruangan komputer dan

belajar materi menggunakan rumus dengan dibimbing oleh kelompok tutor

3) Pengamatan

Guru mengamati proses kegiatan yang sedang berlangsung, diantaranya:

a) Mengamati interaksi belajar yang sedang berlangsung (aktifitas,


kreatifitas) untuk peserta didik yang menjadi tutor maupun sebagi teman.

b) Menilai lembar kerja yang dikerjakan

4) Refleksi

Pada tahap ini dilakukan untuk mengevalusi seluruh tindakan yang

dilakukan berdasarkan hasil pengamatan:

a) Apakah materi yang disampaikan oleh guru dapat disampaikan dengan

jelas oleh kelompok tutor ke kelompok teman? Indikator yang dapat

dilakukan adalah melihat hasil pada lembar latihan peserta didik. (jika

hasilnya belum mencapai 70% maka akan lakukan perbaikan pada siklus

ketiga dengan materi yang sama, dan jika hasilnya sudah memuakan

maka pada siklus ketiga akan disampaikan materi ketiga)

b) Apakah terjadi interaksi belajar? Hal ini terlihat dari respon peserta

didik sebagi tutor ataupun sebagai teman, baik itu dalam bentuk tanya

jawab, pengerjaan latihan.

c) Menyusun rencana perbaikan sesuai dengan kelemahan-kelemahan

pada yang terjadi berdasarkan hasil pengamatan untuk digunakan pada

siklus ketiga.

F. Pemantauan dan evaluasi

Pada tahap ini, pemantauan dilakukan oleh guru mitra terhadap pelaksanaan

tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Selanjutnya

peneliti bersama guru mitra mengevaluasi pemantauan yang telah dilakukan dan

untuk evaluasi hasil belajar dilakukan pada tahap akhir siklus yang diberikan dalam

bentuk test tertulis.


Pelaksanaan kegiatan pembelajaran direncanakan melalui dua siklus. Siklus I

untuk pembelajaran tahap pertama dan dinilai tingkat keberhasilannya. Siklus

II adalah untuk pelaksanaan pembelajaran tahap kedua. Diharapkan melalui

pembelajaran siklus I dan siklus II, target pembelajaran sesuai indikator dapat

tercapai

G. Analisis dan refleksi

Analisis dilakukan untuk mengetahui proses dan hasil yang dicapai dalam

pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Refleksi dilakukan melalui diskusi dengan guru

mata pelajaran computer dan jaringna dasar sebagai observer, refleksi dilakukan

untuk melihat apakah tindakan yang diberikan mampu meningkatkan hasil belajar

peserta didik. Jika pada siklus I belum memperoleh hasil yang diharapkan, maka

akan dilanjutkan dengan tindakan pada siklus berikutnya

H. Teknik Pengumpulan Data

Pengambilan data dilakukan dengan sebuah instrumen yakni penilaian unjuk

kerja dengan skala penilaian dan format lembar observasi daftar cek

1. Penilaian unjuk kerja

Format Skala Penilaian Unjuk Kerja

Siklus Aspek Skor


Nilai
Materi N % Penilaan Keterampilan 1 2 3 4

I Partisi hardisk system

Partisi Hardisk documen


Membuat user admin dan gues

II Menghidupkan Komputer
sesuai SOP
Mengoperasikan/mengakses
file
Menutup file yang terbuka

Mematikan Komputer sesuai


prosedur
Jumlah

2. Rubrik penilaian unjuk kerja:

Kriteria Penilaian

Melakukan sesuai prosedur dengan tepat, cepat dan sempurna 4 S. Baik A


Melakukan sesuai prosedur dengan tepat dan cukup cepat/ lambat 3 Baik B
Melakukan sesuai prosedur dengan tepat tapi melakukan 1 kesalahan 2 cukup C
Melakukan sesuai prosedur dengan tepat tapi melakukan 2 kesalahan 1 kurang D

3. Lembar Obrservasi

Format Lembar Observer

Skala Nilai *)
No Aspek Penilaian
K S B BS
1 Materi yang disampaikan guru dapat
dimengerti oleh tutor
2 Materi yang disampaikan tutor dapat
dimengerti oleh teman
3 Terjadi interaksi belajar:
- Keseriusan

- Perhatian

- Tanya jawab tutor dengan teman


4 Kreatifitas dalam pengerjaan latihan

Jumlah

*) Daftar Cek (√)


Keterangan:

K= Kurang, S = Sedang, B = Baik, BS = Baik Sekali

I. Teknik Analisis Data

Analisis terhadap data penelitian dilakukan bertujuan untuk menguji

kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian. Untuk menganalisa data,

peneliti menggumpulkan dan mengolah data secara kuantitatif dari format observasi

dan format penilaian (unjuk kerja) dari setiap siklus sehingga dapat mengetahui

presentase peningkatan hasil belajar yang kemudian dideskripsikan secara kualitatif

untuk diambil suatu kesimpulan


DAFTAR PUSTAKA

1. Arjanggi dan Suprihatin. 2010. metode pembelajaran tutor teman sebaya

meningkatkan hasil belajar berdasar regulasi-diri. fakultas psikologi, universitas

islam sultan agung (unissula) semarang, semarang 50112, indonesia.

2. Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Remaja

Rosdakarya

3. Djamarah, Bahri, Syaiful. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif.

Jakarta : PT Rineka Cipta

4. Kementerian pendidikan dan kebudayaan 2013 Perakitan computer 2 Malang :

P4TK Boe Malang

5. Suwanda, Dodo. 2007. Diktat Belajar Komputer jilid 3 dan 4.