Anda di halaman 1dari 20

Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Laporan Kasus

Pendekatan Kedokteran Keluarga pada


Pasien Tuberculosis

Waode Annisa Wahid, Ilham Akbar, Faradhibah Nur Aliah *


*Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Abstrak: Tuberkulosis adalah penyakit infeksi akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis.


Menurut Global Tuberculosis Report WHO (2016), diperkirakan insidens tuberkulosis di
Indonesia pada tahun 2015 sebesar 395 kasus/100.000 penduduk dan angka kematian
sebesar 40/100.000 penduduk (penderita HIV dengan tuberkulosis tidak dihitung) dan
10/100.000 penduduk pada penderita HIV dengan tuberkulosis. Studi kasus ini menyajikan
penatalaksanaan Tuberkulosis dengan pendekatan kedokteran keluarga yang bersifat
holistik, komprehensif, terpadu, dan berkesinambungan. Didapatkan perbaikan masalah
klinis pasien dengan perbaikan perilaku kesehatan pasien, keluarga, dan komunitas
sekitar, serta perbaikan lingkungan. Data WHO tahun 2012, diperkirakan terdapat 8,6
juta kasus TB, diantaranya 450.000 orang dengan TBMDR dan 170.000 orang
diantaranya meninggal dunia. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usiayang paling
produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diagnosis TB paru pada ditegakkan dengan
pemeriksaan klinis, pemeriksaan bakteriologis dan pemeriksaan penunjang seperti foto
toraks.
Kata kunci: tuberculosis,TB, mycobacterium tuberculosis, kedokteran keluarga.

Family Medicine Approach on Hypertension

Waode Annisa Wahid, Ilham Akbar, Faradhibah Nur Aliah *


*Department of Community Medicine, Faculty of Medicine University of Muhammadiyah
Makassar

Abstract: Tuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis bacteria. Based on


Global Tuberculosis Report WHO (2016), estimated incidens of tuberculosis in Indonesia in 2015 is 395 per
100000 of population and mortality rate is 20 per 100000 of population (Tuberculosis patient not calculated)
and 10 of 100000 population in HIV patients with tuberculoisis.The case study presents management of
Tuberculosis with holistic, comprehensive, integrated, and continuous family medicine approach. The
symptoms of tuberculosis are clinically recovered by improving health behavior of the patient, his family, and

Page 1
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

environmental condition. WHO data in 2012, there were an estimated 8.6 million cases of TB, including
450,000 people with TBMDR and 170,000 fatalities. Approximately 75% of TB patients are the age group
most economically productive (15-50 years). The diagnosis of pulmonary TB is made by clinical
examination, bacteriological examination and investigations such as chest X-ray.

Keywords. tuberculosis, TB, mycobacterium tuberculosis, family medicine.

Pendahuluan pada jaringan yang terinfeksi dan reaksi


Penyakit tuberkulosis (TB) paru hipersensitivitas yang diperantarai sel (cell
masih merupakan masalah utama mediated hypersensitivity). Penyakit
kesehatan yang dapat menimbulkan tuberkulosis yang aktif bisa menjadi kronis
kesakitan (morbiditas) dan kematian dan berakhir dengan kematian apabila
(mortalitas) (Aditama & Chairil, 2002). tidak dilakukan pengobatan yang efektif.3
Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk Risiko penularan tiap tahun
dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium (Annual Risk of Tuberculosis Infection =
tuberculosis. Pada tahun 1995, ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi
diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan dan bervariasi antara 1-3 %. Pada daerah
3 juta kematian akibat TB di seluruh dengan ARTI sebesar 1% mempunyai arti
dunia.1,2 bahwa pada tiap tahunnya diantara 1000
Angka kejadian TB di Indonesia penduduk, 10 orang akan terinfeksi.
menempati urutan ketiga terbanyak di Sebagian besar orang yang terinfeksi tidak
dunia setelah India dan Cina. Diperkirakan akan menderita tuberkulosis, hanya sekitar
setiap tahun terdapat 528.000 kasus TB 10% dari yang terinfeksi yang akan
baru dengan kematian sekitar 91.000 menjadi penderita tuberkulosis.1,2
orang. Prevalensi TB di Indonesia pada Diagnosis TB paru ditegakkan
tahun 2009 adalah 100 per 100.000 berdasarkan diagnosis klinis, dilanjutkan
penduduk dan TB terjadi pada lebih dari dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan
70% usia produktif (15-50 tahun).2 laboratorium dan pemeriksaan radiologis.
Penyakit tuberkulosis adalah TB sampai dengan saat ini masih
penyakit menular yang disebabkan oleh merupakan salah satu masalah kesehatan
Mycobacterium tuberculosis. Sebagian masyarakat didunia walaupunupaya
besar kuman Mycobacterium tuberculosis pengendalian dengan strategi DOTS telah
menyerang paru, tetapi dapat juga diterapkan di banyak negara sejak tahun
menyerang organ tubuh lainnya. Penyakit 1995.4
ini merupakan infeksi bakteri kronik yang Strategi penanganan TB
ditandai oleh pembentukan granuloma berdasarkan World Health Organization

Page 2
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

(WHO) tahun 1990 dan International lama > 2 minggu diserai dahak bewarna
Union Against Tuberkulosa and Lung putih-kehijauan, tanpa disertai bercak
Diseases (IUATLD) yang dikenal sebagai darah sejak 1 bulan yang lalu. Batuk
strategi Directly observed Treatment dirasakan terus menerus, sesak napas (+)
Short-course (DOTS) secara ekonomis dan dipengaruhi oleh aktivitas, memberat
paling efektif (cost-efective), strategi ini terutama saat batuk, tidak dipengaruhi
juga berlaku di Indonesia. Pengobatan TB cuaca. Nyeri dada tidak ada, demam ada
paru menurut strategi DOTS diberikan kadang-kadang namun tidak terlalu tinggi.
selama 6-8 bulan dengan menggunakan Pasien juga mengeluh kadang keringat
paduan beberapa obat atau diberikan dalam dingin malam hari, badan menggigil dan
bentuk kombinasi dengan jumlah yang terasa lemas. Adanya penurunan berat
tepat dan teratur, supaya semua kuman badan yang dialami oleh pasien ± 6 kg
dapat dibunuh. Obat-obat yang dalam 2 bulan terakhir, nasfu makan
dipergunakan sebagai obat anti menurun. Buang air besar biasa, buang air
tuberkulosis (OAT) yaitu : Isoniazid kecil lancar. Pasien memiliki riwayat TB
(INH), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z), dan mengonsumsi obat OAT hingga tuntas
Streptomisin (S) dan Etambutol (E). Efek pada tahun 2017, Riwayat Hipertensi,
samping OAT yang dapat timbul antara Riwayat DM, kolesterol, dan asam urat
lain tidak ada nafsu makan, mual, sakit disangkal. Riwayat alergi disangkal.
perut, nyeri sendi, kesemutan sampai rasa Riwayat penyakit keluarga ada yaitu ayah,
terbakar di kaki, gatal dan kemerahan kulit, ibu, saudara, hingga ipar mengidap TB
ikterus, tuli hingga gangguan fungsi hati Positif, dan saudara kandung pasien juga
(hepatotoksik) dari yang ringan sampai ada yang meninggal karena TB. Pasien ada
berat berupa nekrosis jaringan hati. Obat riwayat kontak dengan dengan penderita
anti tuberkulosis yang sering hepatotoksik TB karena tinggal serumah dengan seluruh
adalah INH, Rifampisin dan Pirazinamid. anggota keluarga yang mengidap TB.
Hepatotoksitas mengakibatkan Pasien memiliki riwayat sering terpapar
peningkatan kadar transaminase darah rokok sejak kecil karena ayah pasien
(SGPT/SGOT) sampai pada hepatitis perokok berat. Riwayat kakak tertua pasien
fulminan, akibat pemakaian INH dan/ meninggal akibat TB pada tahun 2014.
Rifampisin (Depkes RI, 2006; Arsyad, Pada tahun 2017 pasien telah
1996; Sudoyo, 2007).1,5 dinyatakan sembuh dan tuntas
Ilustrasi Kasus mengkonsumsi OAT. Namun, pada awal
Seorang Perempuan Ny. HR tahun 2019 (bulan Februari) pasien
berumur 23 tahun dengan keluhan batuk kembali mengeluh batuk tanpa disertai
Page 3
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

lendir dan juga mengeluh sesak napas. Taman Pengajian Anak (TPA) di
Kemudian pasien memeriksakan diri di rumahnya. Pasien mempunyai 1 orang
Poli Paru RS. Awal Bros dengan hasil anak, yang masih berusia 6 bulan. Pasien
Sputum BTA Negatif (-), sehingga dokter tinggal di rumah milik orang tuanya
poli paru memberikan Antibiotik yaitu Co- beserta suami, anak, saudara, ipar dan
Amoxiclav, obat tersebut tetap di konsumsi kemenakannya, total ada 11 orang anggota
selama 3 bulan berturut-turut. Hingga pada keluarga dalam rumah tersebut. Di dalam
awal bulan Juni gejala yang timbul makin rumah terdapat 5 kamar tidur, 1 ruang
memberat yaitu pasien sudah mulai merasa tamu juga sebagai ruang keluarga, dapur,
demam, batuk keras dan lama disertai kamar mandi dan tempat cuci piring dan
dahak bewarna putih-kehijauan, sesak baju. Jarak antar rumah berdempetan,
napas, sering keringat malam, nafsu makan menyebabkan kesan ventilasi sangat
menurun drastis dan merasa lemas. kurang dan pengap.
Sehingga pasien langsung memeriksakan
Frekuensi makan rata – rata setiap
diri ke Poli Paru di Balai Kesehatan Paru
harinya 2x/hari dengan menu makan
Jl. A. P. Pettarani, Makassar. Dan
bervariasi. Variasi makanan sebagai
diperoleh hasil Sputum BTA Positif dan
berikut: nasi, lauk (ikan) sering makan
Kesan Foto X-Ray Thorax : TB Paru Lama
ikan asin, sayur, jarang makan daging, air
Aktif dan Atelektasis Pulmo Sinistra.
minum (air putih dan teh manis). Air
Dari pemeriksaan fisik didapatkan
minum berasal dari air PAM yang dimasak
keadaan umum baik, kompos mentis.
sendiri atau kadang juga air galon. Kesan
Tanda vital yaitu tekanan darah 90/60
status gizi saat ini kurang.
mmHg, nadi 82 kali/menit, pernapasan 26
kali/menit, dan suhu badan 36,5 C. Status Dalam menetapkan masalah serta
gizi pasien, tinggi badan 149 cm, berat faktor yang mempengaruhi, digunakan
badan 34 kg dengan hasil IMT = 15 (BB konsep Mandala of Health. Diagnosis
kurang). Status generalis, kepala: memakai holistic yang ditegakkan pada pasien
cadar, Normocephali. Pemeriksaan mata, adalah sebagai berikut:
konjungtiva tidak anemis dan sklera tidak
Pada poin I, alasan kedatangan:
ikterik, lensa tidak keruh. Pemeriksaan
keluhan batuk lama > 2 minggu diserai
THT dalam batas normal. Jantung dalam
dahak bewarna putih-kehijauan, tanpa
batas normal. Paru suara dasar vesikular.
disertai bercak darah dan sesak napas sejak
Ekstremitas tidak didapatkan edema.
1 bulan yang lalu dengan harapan batuk
Dari informasi yang dapatkan
bisa hilang dan tidak bertambah parah
pasien bekerja sebagai guru mengaji di
Page 4
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

sehingga pasien bisa mengasuh anak masker saat bekerja atau saat berinteraksi
bayinya dengan tenang tanpa takut untuk mencegah penularan dan semakin
menular ke bayinya. Pada poin II, memburuknya kondisi, istirahat serta
diagnosis kerja yang ditegakkan adalah TB asupan makanan cukup dan bergizi,
Paru Lama Aktif Lesi Luas disertai menerapkan perilaku hidup bersih dan
Atelektasis Pulmo Sinistra. Pada poin III, sehat (PHBS).
didapatkan masalah perilaku berupa
Tindakan untuk mengatasi masalah
pasien sering terpapar asap rokok, jarang
lingkungan antara lain dengan melakukan
keluar rumah dan terkena sinar matahari
penyuluhan mengenai Tuberculosis dan
serta jarang berolah raga. Pada poin IV,
faktor risikonya, yang dihadiri oleh kader,
didapatkan masalah pendapatan keluarga
wakil dari puskesmas, dan para warga.
yang kurang, hampir seluruh anggota
Pada kesempatan tersebut juga
keluarga memiliki riwayat batuk lama.
disampaikan mengenai pentingnya
Namun hanya beberapa yang mendapatkan
menjaga pola makan dan perilaku berobat
pengobatan secara teratur, lingkungan
yang baik.
tempat tinggal yang kurang bersih dan
minim ventilasi. Pada poin V, ditetapkan
skala fungsional pasien derajat 3 yang
sesuai dengan usia pasien.

Tindakan yang dilakukan meliputi


tindakan terhadap pasien, keluarga, dan
lingkungannya. Pada pasien diberikan
terapi medikamentosa berupa Obat anti
Tuberkulosis kategori 2 dalam bentuk
paket obat kombinasi dosis tetap (OAT-
KDT) : 2 (HRZE) + RHZE + 5 (R3H3E3)
selama 8 bulan. Terapi non medikamentosa
berupa edukasi terhadap pasien dan
keluarga pasien mengenai pentingnya
kontrol dan minum obat OAT secara
teratur dan tuntas, senantiasa membuka
pintu dan jendela setiap pagi agar terjadi
pertukaran udara serta agar sinar matahari
dapat masuk kedalam ruangan, memakai

Page 5
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Saneru (63 thn) Dg. Te’ne (61 thn)

Almrh. Hasni (33 thn) Saharuddin Anti


Isro Yusran Haniar (23 thn) Akbar (33 thn)
(35 thn) (34 thn)
(33 thn) (32 thn)

Abdul (13 thn)


Alfiyah (11 thn)
By. Hudzaifah (6 bln)

Keterangan : Status TB dalam Keluarga :


1. Saneru (63 thn) : Gejala TB (+), Tidak Mau
= Penderita Berobat
2. Dg. Te’ne (61 thn) : Riw. OAT, TUNTAS.
3. Almrh. Hasni (33 thn) : Meninggal saat usia 33
thn karena TB
4. Saharuddin (35 thn) : Riw. OAT, TUNTAS.
= Laki-laki 5. Anti (34 thn) : Riw. OAT, TUNTAS.
6. Abdul (13 thn) : Mulai Batuk-batuk
7. Isro (33 thn) : Normal. Karena jarang dirumah
8. Yusran (32 thn) : Normal. Karena jarang
= Perempuan dirumah
9. Alfiyah (11 thn) : Normal. Karena jarang
dirumah
= Meninggal 10. Haniar (23 thn) : PENDERITA
11. Akbar (33 thn) : Susp. TB, namun tidak mau
berobat
12. By. Hudzaifah (6 bln) : Terpapar Kuman TB

= Dalam satu rumah

Gambar 1. Genogram

Page 6
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Gaya Hidup

-Pasien sering terpapar rokok


-Pasien jarang keluar rumah dan
terpapar sinar matahari
-Pasien jarang berolahraga

Perilaku Kesehatan Lingk. Psiko-Sosio-Ekonomi


-Hygine lingkungan rumah -Pendidikan keluarga
kurang Family
kurang
-Pengetahuan tentan
Pengetahuan tentang
kesehatan rendah.
Pasien kesehatan dan gizi
kurang
-Batuk berdahak > 2 minggu
-Sesak napas
-Keringat di malam hari
Pelayanan Kesehatan -Nafsu makan menurun Lingkungan Kerja
-Penurunan berat badan
-Jarak rumah dan PKM dekat, bisa -Pasien bekerja sebagai guru mengaji
Sputum BTA (+) yang selalu berada dirumah, jarang
hanya dengan jalan kaki
Foto thorax kesan TB paru aktif keluar rumah.
lesi luas disertai atelektasis
pulmo sinistra

Faktor Biologis Lingkungan Fisik


-Hampir seluruh anggota -Kebersihan lingkungan
keluarga dalam rumah rumah kurang
mengidap TB -Sirkulasi udara dan
Komunitas : pencahayaan baik

-Pemukiman sangat padat, tidak ada


jarak antar rumah satu dan lainnya
-Warga sekitar rumah didapatkan
memiliki penyakit yang sama dengan
pasien.

Gambar 2. Mandala of health

Page 7
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Tabel 1. Skoring Kemampuan


Penyelesaian Masalah Dalam
Keluarga

Masalah Skor Upaya penyelesaian Resume Hasil Skor


awal Akhir Perbaikan akhir

Fungsi biologis 3 - Edukasi mengenai - Terselenggara 4


- Faktor biologi pada pasien ini penyakit, penyebab, penyuluhan
faktor resiko dan
adalah menderita TB Paru
penularannya
- Edukasi tentang - Keluhan berkurang
pentingya kepatuhan
berobat

Fungsi ekonomi dan - Motivasi untuk - Pasien dan suami


pemenuhan kebutuhan menambah penghasilan berniat
- Pendapatan keluarga dengan memanfaatkan memanfaatkan
rendah waktu luang waktu luang untuk 3
2
memperoleh
penghasilan
tambahan

Faktor perilaku kesehatan keluarga


- Hygien pribadi dan lingkungan - Edukasi mengenai pola - Keluarga
kurang 3 hidup bersih dan sehat memperhatikan
4
(PHBS) kebersihan diri dan
- Kebiasaan terpapar merokok lingkungan rumah
- Edukasi dan motivasi - Pasien berkeinginan
3 menghindari asap rokok untuk menghindari 5
rokok
Lingkungan rumah - Memperbaiki ventilasi - Jendela terbuka
- Ventilasi dan penerangan dan penerangan dengan namun ventilasi
masih kurang membuka jendela setiap masih kurang 2
2
- Kebersihan halaman dan pagi
rumah masih kurang, banyak - Edukasi untuk - Barang bekas masih
2 2
barang bekas yang merapikan barang bekas bertumpuk di
bertumpuk atau yang sudah tidak halaman rumah
terpakai
Total Skor : 15 20
Rata-rata Skor : 2,5 3,33
Klasifikasi skor kemampuan menyelesaikan Skor 2 keluarga mau melakukan tapi tidak
masalah : mampu, tidak ada sumber (hanya
Skor 1 tidak dilakukan, keluarga menolak, keinginan); penyelesaian masalah
tidak ada partisipasi dilakukan sepenuhnya oleh provider

Page 8
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Skor 3 keluarga mau melakukan namun Pasien ada riwayat kontak dengan dengan
perlu penggalian sumber yang belum
dimanfaatkan, penyelesaian masalah penderita TB karena tinggal serumah
dilakukan sebagian besar oleh dengan seluruh anggota keluarga yang
provider
Skor 4 keluarga mau melakukan namun tak mengidap TB. Pasien memiliki riwayat
sepenuhnya, masih tergantung pada
upaya provider sering terpapar rokok sejak kecil karena
Skor 5 dapat dilakukan sepenuhnya oleh ayah pasien perokok berat. Riwayat
keluarga
kakak tertua pasien meninggal akibat TB
pada tahun 2014.
Pembahasan
Studi kasus dilakukan pada pasien Pada tahun 2017 pasien telah
Perempuan Ny. HR berumur 23 tahun dinyatakan sembuh dan tuntas
dengan keluhan batuk lama > 2 minggu mengkonsumsi OAT. Namun, pada awal
diserai dahak bewarna putih-kehijauan, tahun 2019 (bulan Februari) pasien
tanpa disertai bercak darah sejak 1 bulan kembali mengeluh batuk tanpa disertai
yang lalu. Batuk dirasakan terus menerus, lendir dan juga mengeluh sesak napas.
sesak napas (+) dan dipengaruhi oleh Kemudian pasien memeriksakan diri di
aktivitas, memberat terutama saat batuk, Poli Paru RS. Awal Bros dengan hasil
tidak dipengaruhi cuaca. Nyeri dada tidak Sputum BTA Negatif (-), sehingga dokter
ada, demam ada kadang-kadang namun poli paru memberikan Antibiotik yaitu
tidak terlalu tinggi. Pasien juga mengeluh Co-Amoxiclav, obat tersebut tetap di
kadang keringat dingin malam hari, konsumsi selama 3 bulan berturut-turut.
badan menggigil dan terasa lemas. Hingga pada awal bulan Juni gejala yang
Adanya penurunan berat badan yang timbul makin memberat yaitu pasien
dialami oleh pasien ± 6 kg dalam 2 bulan sudah mulai merasa demam, batuk keras
terakhir, nasfu makan menurun. Buang dan lama disertai dahak bewarna putih-
air besar biasa, buang air kecil lancar. kehijauan, sesak napas, sering keringat
Pasien memiliki riwayat TB dan malam, nafsu makan menurun drastis dan
mengonsumsi obat OAT hingga tuntas merasa lemas. Sehingga pasien langsung
pada tahun 2017, Riwayat Hipertensi, memeriksakan diri ke Poli Paru di Balai
Riwayat DM, kolesterol, dan asam urat Kesehatan Paru Jl. A. P. Pettarani,
disangkal. Riwayat alergi disangkal. Makassar. Dan diperoleh hasil Sputum
Riwayat penyakit keluarga ada yaitu BTA Positif dan Kesan Foto X-Ray
ayah, ibu, saudara, hingga ipar mengidap Thorax : TB Paru Lama Aktif dan
TB Positif, dan saudara kandung pasien Atelektasis Pulmo Sinistra.
juga ada yang meninggal karena TB.

Page 9
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Dari pemeriksaan fisik didapatkan rumah, terakumulasi sehingga


keadaan umum baik, kompos mentis. konsentrasi kuman lama kelamaan
Tanda vital yaitu tekanan darah 90/60 semakin meningkat. Kamar mandi, kamar
mmHg, nadi 82 kali/menit, pernapasan 26 tidur dan tidur dalam kondisi
kali/menit, dan suhu badan 36,5 C. memuaskan. Keadaan ini tambah
Status gizi pasien, tinggi badan 149 cm, diperburuk dengan adanya riwayat
berat badan 34 kg dengan hasil IMT = 15 kontak dengan penderita TB karena
(BB kurang). Status generalis, kepala: tinggal serumah dengan seluruh anggota
memakai cadar, Normocephali. keluarga yang mengidap TB. Dan ayah
Pemeriksaan mata, konjungtiva tidak pasien menolak untuk berobat. Sehingga,
anemis dan sklera tidak ikterik, lensa walaupun pasien dan beberapa anggota
tidak keruh. Pemeriksaan THT dalam keluarga telah berobat hingga tuntas,
batas normal. Jantung dalam batas namun dikarenakan salah satu anggota
normal. Paru suara dasar vesikular. keluarganya tidak berobat maka kasus ini
Ekstremitas tidak didapatkan edema. bagaikan lingkaran setan yang tak pernah
putus. Pasien memiliki riwayat sering
Dari faktor resiko dapat dilihat terpapar rokok sejak kecil karena ayah
dari keadaan lingkunga pasien, Pada pasien perokok berat. Riwayat kakak
kamar pasien didapatkan bahwa ventilasi tertua pasien meninggal akibat TB pada
kamarnya masih tergolong minimal. tahun 2014.
Jendela rumah pasien hampir setiap hari
Berdasarkan wawancara pasien
selalu dibuka sehingga sinar matahari
dan keluarganya didapatkan bahwa
mudah masuk ke kamar. Namun, situasi
pasien sehari-harinya sering
pasien yang lebih sering di rumah dan
menghabiskan waktunya bersama
jarang keluar sehingga jarang terpapar
keluarga dirumah. Pola makan pasien
sinar matahari. Keadaan ini cenderung
dikatakan berkurang dan ada penurunan
akan membuat kuman – kuman penyakit
berat badan selama sakit. Pasien juga
bisa tumbuh di tubuh pasien. Suasana di
mengatakan dirinya tidak pernah minum
dalam rumah juga terasa gelap, pengap
alkohol dan merokok.
dan lembab. Lingkungan tempat tinggal
psien beserta keluarga sangat padat Kondisi sosial ekonomi juga
penduduk dan adanya faktor ventilasi memiliki peran dalam terjadinya penyakit
yang minimal. Kuman TB yang terdapat TB pada pasien. Penyakit yang diderita
di udara bebas akan terus berada di dalam oleh pasien menuntut pasien untuk lebih

Page 10
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

banyak beristirahat, sehingga dukungan lebih lama dan dapat semakin buruk jika
dari keluarga baik masalah motivasi tidak segera diobati.
maupun kebutuhan sehari-hari pasien
Anggota keluarga mempunyai
sangat diperlukan.
resiko untuk tertular oleh karena itu
Tingkat ekonomi keluarga yang cukup dianjurkan untuk survey kontak. Untuk
rendah akan menyebabkan daya beli melakukan pengawasan kepatuhan
keluarga terhadap bahan-bahan pokok minum obat bagi penderita diharapkan
makanan rendah, sehingga kualitas anggota keluarga dapat menjadi
makanan yang dikonsumsi juga rendah pengawas minum obat. Dianjurkan
yang pada akhirnya akan menyebabkan kepada anggota keluarga untuk
defisiensi makro dan mikronutrien secara meningkatkan gizi, menjaga kebersihan
kronis. Status gizi keluarga tidak akan rumah dan meningkatkan daya tahan
membaik jika masalah status ekonomi tubuh.
keluarga tidak teratasi. Selain itu, karena Pada kunjungan ke Puskesmas
pendapatan yang kecil tersebut Rappokalling diberikan terapi
menyebabkan tidak adanya dana alokasi medikamentosa untuk mengurangi dan
khusus untuk kesehatan. Hal ini menghilangkan bakteri penyebab
menyebabkan lambatnya penanganan tuberkulosis, berupa obat anti
terhadap anggota keluarga apabila Tuberkulosis kategori 2 karena
menderita suatu penyakit. merupakan pasien TB dengan kasus
kambuh kembali setelah pemberian OAT
Tingkat pendidikan berpengaruh karena
tuntas selama 6 bulan. Obat diberikan
sering kali akan sebanding dengan tingkat
dalam bentuk paket obat kombinasi dosis
pengetahuan yang terwujud dalam pola
tetap (OAT-KDT). (OAT-KDT) : 2
pikir dan perilaku seseorang. Rendahnya
(HRZE) + RHZE + 5 (R3H3E3) selama 8
tingkat pengetahuan mengenai kesehatan
bulan.
maupun mengenai fasilitas kesehatan
Terapi non medikamentosa
menyebabkan pasien dan keluarga tidak
berupa edukasi terhadap pasien dan
cukup peduli dengan kesehatannya,
keluarga pasien mengenai pentingnya
hingga keluhan sangat menggangu. Pada
kontrol dan minum obat OAT secara
pasien lebih memilih membeli obat di
teratur dan tuntas, senantiasa membuka
warung untuk mengobati keluhannya,
pintu dan jendela setiap pagi agar terjadi
hingga akhirnya masa penyakit pasien
pertukaran udara serta agar sinar matahari

Page 11
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

dapat masuk kedalam ruangan, memakai


masker saat bekerja atau saat berinteraksi
untuk mencegah penularan dan semakin
memburuknya kondisi, istirahat serta
asupan makanan cukup dan bergizi,
menerapkan perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS).
Setelah dilakukan edukasi kepada
pasien dan keluarganya, diharapkan
pasien dapat rutin dan tuntas dalam
minum obat, serta kembali ke puskesmas
jika obatnya habis. Kepada pasien dan
keluarga juga diberikan edukasi tentang
pentingnya hidup sehat, mengingat salah
satu faktor risiko Tuberculosis adalah
faktor lingkungan.

Page 12
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

DAFTARA PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Pedoman Nasional Penanggulangan


Tuberkulosis Edisi 2 Cetakan Pertama. Jakarta.

2. World Health Organization. 2010. Epidemiologi tuberkulosis di Indonesia diakses


pada 23 Maret 2010 pukul 14:39 WIB
(http://www.tbindonesia.or.id/tbnew/epidemiologi-tb-di-
indonesia/article/55/000100150017/2)

3. Daniel, M. Thomas. 1999. Harrison : Prinsip-Prinsip Ilmu penyakit dalam Edisi 13


Volume 2. Jakarta : EGC : 799-808

4. Kemenkes RI. 2014. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberculosis. Jakarta :


Direktorat jenderal pengendalian penyakit dan pnyehatan lingkungan.

5. Arsyad, Zulkarnain. 1996. Evaluasi FaaI Hati pada Penderita Tuberkulosis Paru yang
Mendapat Terapi Obat Anti Tuberkulosis dalam Cermin Dunia Kedokteran No. 110,
1996 15.

Page 13
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

LAMPIRAN

Pekarangan Rumah

Ruang Tamu

Page 14
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Ruang Keluarga

Dapur

Page 15
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Kamar Mandi/WC

Ventilasi pada Kamar Tidur Paisen

Page 16
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

TABEL NILAI APGAR


Respons
Hampir
KRITERIA PERTANYAAN Hampir
Kadang tidak
selalu
pernah
Apakah pasien puas dengan
keluarga karena masing-masing
Adaptasi anggota keluarga sudah √
menjalankan kewajiban sesuai
dengan seharusnya
Apakah pasien puas dengan
keluarga karena dapat membantu
Kemitraan √
memberikan solusi terhadap
permasalahan yang dihadapi
Apakah pasien puas dengan
kebebasan yang diberikan
Pertumbuhan √
keluarga untuk mengembangkan
kemampuan yang pasien miliki
Apakah pasien puas dengan
Kasih Sayang kehangatan / kasih sayang yang √
diberikan keluarga
Apakah pasien puas dengan
Kebersamaan waktu yang disediakan keluarga √
untuk menjalin kebersamaan
TOTAL
Skoring : Hampir selalu=2 , kadang-kadang=1 , hampir tidak pernah=0
Total skor
8-10 = fungsi keluarga sehat
4-7 = fungsi keluarga kurang sehat
0-3 = fungsi keluarga sakit
Dari tabel APGAR keluarga diatas total nilai skoringnya adalah 10, ini menunjukan
fungsi keluarga sehat.

Page 17
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Follow up Pasien

Hari Keluhan Kepatuhan datang


Berobat
Senin Batuk (+),Sesak (+),
Nyeri pinggang kiri saat √
batuk (+)
Selasa Batuk (+),Sesak (+),
Nyeri pinggang kiri saat √
batuk (+)
Rabu Batuk (+),Sesak (+),
Nyeri pinggang kiri saat √
batuk (+)
Kamis Batuk (+),Sesak (+),
Nyeri pinggang kiri saat √
batuk (+)
Jumat Batuk (+),Sesak (+),
Nyeri pinggang kiri saat √
batuk (+)
Sabtu Batuk (+),Sesak (+),
Nyeri pinggang kiri saat √
batuk (+)

Page 18
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

PUSKESMAS RAPPOKALLING KOTA MAKASSAR


KUESIONER INDIKATOR KELUARGA SEHAT

INDIKATOR KELUARGA SEHAT (Sebelum Intervensi)


No. Indikator Suami Istri Balita Bayi Keluarga Point
1 Keluarga Mengikuti T T T 0
Program KB
2 Ibu Melakukan Y 1
Persalinan Di Fasilitas
Kesehatan (0-11 Bln)
3 Balita Mendapatkan Y 1
Imunisasi Dasar
Lengkap (Usia 12-24
Bln)
4 Bayi mendapatkan ASI Y 1
Ekslusif (7-23 Bln)
5 Balita Di Pantau Y 1
Pertumbuhannya (Usia
2 Bulan ≤ 5 Tahun)
6 Penderita TB Paru T Y N 0
Mendapatkan
Pengobatan Secara
Teratur
7 Penderita Hipertensi N N N N
Melakukan Pengobatan
Secara Teratur
8 Anggota Keluarga N N N N
Tidak Ada Merokok
9 Keluarga Sudah Y Y Y Y Y 1
Menjadi Anggota JKN
10 Keluarga Mempunyai Y Y Y Y Y 1
Akses Sarana Air Bersih
11 Keluarga Mempunyai Y Y Y Y Y 1

Page 19
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Akses Menggunakan
Jamban Sehat
12 Penderita Gangguan N N N N
Jiwa Mendapatkan
Pengobatan Secara Dan
Tidak Diterlantarkan
Indeks Keluarga Sehat

Indikator Keluarga Sehat


Indeks Keluarga Sehat (IKS) = 12−Jumlah Indikator Yang Tidak Ada

Nilai Y = 1 (Satu)
Nilai T = 0 (Nol)
Nilai N = Indikator yang tidak ada
Catatan :
1. > 0,800 : Keluarga Sehat
2. 0,500-0,800 : Keluarga Prasehat
3. < 0,500 : Keluarga Tidak Sehat

Indeks Keluarga Sehat Sebelum Intervensi : 7 : 12 – 9 = 0,7778 (Keluarga Prasehat)

Page 20