Anda di halaman 1dari 8

OPOSISI ADALAH

HAK DAN KEWAJIBAN RAKYAT

PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG
Sejarah Orde Baru membuktikan, pemerintahan tanpa oposisi menjerumuskan
pemerintahan itu sendiri ke dalam distorsi-distorsi politik dan ekonomi yang amat
memuakkan. Otoritarianisme negara dan korupsi berlangsung secara sistematis,
struktural, dan hegemonik –tanpa kontrol seimbang dari elemen-elemen non negara.
Dan dengan itu, Orde Baru ternyata menggali liang kuburnya sendiri.
Kekuatan oposisi sebenarnya ada juga di zaman Orde Baru, dari mahasiswa,
cendekiawan, pers, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan partai. Tapi buldoser
otoritarianisme rezim Soeharto menggilas mereka. Dan rezim Soeharto pun berputar
menuju titik puncak korupsi kekuasaan yang amat sangat. Pengalaman buruk
sepanjang sepanjang orde baru ini tentu meneguhkan bahwa oposisi adalah
kewajiban rakyat, di samping hak mereka.
Lebih dari itu, kekuasaan di mana pun potensial mengkorup kepercayaan
rakyat. Kekuasaan memang cenderung menyeleweng dan berselingkuh. Kekuasaan
bahkan bukan saja kerap mengkhianati rakyat, melainkan juga membunuh mereka –
dalam pengertiannya yang amat harfiah. Sehingga dalam konteks itulah diperlukan
golongan oposisi sebagai pihak yang mengontrol secara ketat semua perilaku dan
kebijakan penguasa.

II. RUMUSAN MASALAH


1. Mengapa diperlukan oposisi?
2. Bagaimanakah format oposisi?
3. Bagaimanakah perangkat hukum yang diperlukan bagi terbentuknya partai
oposisi di Indonesia?
4. Bagaimanakah kondisi Indonesia dengan “hidupnya” oposisi?

ISI
1. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia
Negara Republik Indonesia adalah negara demokrasi dimana demokrasi dalam
kamus didefinisikan sebagai pemerintahan rakyat. Ciri khas demokrasi yang
terkandung dalam dalil konstitusional berbunyi “Kedaulatan nasional adalah di
tangan rakyat”. Ditambahkan bahwa keabsahan badan yang memerintah tergantung
kepada warga negaranya.
Dalam tradisi demokrasi mapan, seperti di Amreika atau Austraslia, menjadi
oposisi terhadap partai berkuasa yang memenangkan pemilu adalah “proses
bergiliran” yang otomatis terjadi bagi partai yang kalah. Sifatnya sementara, dengan
kata lain kedudukan oposisional itu adalah bagian dari sistem itu sendiri. Keduanya
sama-sama terhormat. Tak ada istilah pecundang atau pemenang, melainkan
kompetisi sehat yang terus-menerus, dengan ujian proses pemilu yang rutin belaka.
Sangat berbeda di Indonesia. Berpuluh tahun Indonesia tidak mengembangkan
sistem “piala bergilir” itu. Bahkan yang berkembang adalah kekuasaan absolut, tanpa
pengimbang, apalagi pengkritik dan penantang. Akibatnya anggapan berpolitik adalah
ingin menang dan tak siap kalah. Karena itu membangun oposisi juga memerlukan
kebesaran jiwa, atau tepatnya kedewasaan berpolitik. Untuk sekedar menang tidak
memerlukan resep yang terlalu susah. Dengan masuk koalisi, membentuk golongan
mayoritas, maka kekuasaan akan ada di tangan.
Pandangan terhadap demokrasi yang salah selain yang sudah diuraikan di atas
adalah pemahaman bahwa sesudah pemilu -wakil-wakil rakyat terpilih- rakyat tidak
perlu lagi mengajukan pendapat, protes, kritik dan sebagainya karena mereka sudah
menyerahkan mandat keapada wakil-wakil mereka. Hal ini tentu keliru. Ini sama
artinya dengan rakyat hanya berdaulat sekian detik pada saat mereka memberikan
suara dalam pemilu. Padahal saat warga memberikan suara dalam pemilu, bukan
berarti mereka menyerahkan seluruh kedaulatannya pada wakil rakyat. Mereka masih
memegang sebagian dari kedaulatan itu. Sebagian kedaulatan diekspresikan melalui
berbagai wadah yang bisa dibentuk oleh rakyat sendiri unutuk mengontrol jalannya
pemerintahan. Karenanya, di luar palemen pun raktyat berhak, bahkan wajib,
menjadi oposisi
Rakyat tentu berhak menjadi oposisi –untuk mengontrol jalannya roda
pemerintahan- karena mereka adalah yang memilih presiden (pemerintah) melalui
MPR. Mereka wajib mengontrol pemerintah karena tak ada jaminan bahwa
pemerintah akan berjalan di atas rel kekuasaan yang benar.

2. Format oposisi
Menurut Prof. Dr. Ramlan Surbakti, ada dua format partai oposisi: di dalam
dan di luar parlemen. Dalam konteks kabinet presidensial seperti di Indonesia partai
yang tidak ikut memerintah akan menjadi oposisi. Oposisi dalam sistem ini tidak bisa
menjatuhkan atau memberi mosi tidak percaya kepada presiden. Oposisi hanya
melakukan kritik dan kontrol.
Dengan berlakunya sistem multi partai dalam suatu negara otomatis partai
oposisi sudah terwujud. Setelah pemilu dilaksanakan , penghitungan suara, maka
partai-partai itu akan tersubordinasi menjadi partai pemerintah dan partai oposisi.
Sedangkan oposisi yang di luar parlemen, antara lain kelompok-kelompok
kritis di masyarakat yang diwakili oleh organisasi kemasyarakatan atau lembaga
swadaya masyarakat (LSM), mahasiswa, cendekiawan, dan pers.
Oposisi di dalam parlemen dalam jangka pendek ini belum bisa diharapkan
terlalu banyak. Lagipula, pengalaman di zaman Orde Baru membuktikan bahwa
anggota parlemen bisa dikooptasi oleh penguasa. Sehingga yang perlu diingat adalah
bahwa partai-partai yang seharusnya menjadi oposisi dalam parlemen jangan sampai
terjebak menjadi bagian dari kekuatan penguasa. Sebuah partai menjadi bagian dari
penguasa jika orang-orang yang secara de facto duduk di parlemen, tidak mengambil
sikap apapun terhadap kebijakan pemerintah.
Dan kalau membangun oposisi di dalam parlementer masih menjadi harapan
yang jauh, ada baiknya dimulai menyusun kekuatan oposisional di luar parlementer.
Gerakan mahasiswa –yang menumbangkan rezim Orde Baru itu- telah memberikan
pelajaran berharga bagaimana kekuatan oposisi di luar parlemen memainkan peran
dengan amat mengagumkan. Masih terngiang bagaimana mereka berteriak menolak
pemerintahan Habibie (sebagian menerima pemerintahan Habibie dengan sejumlah
cataatan), menuntut pengadilan Soeharto, likudasi dwifungsi ABRI (TNI),
amandemen UUD ’45, dan masih banyak yang lain.
Kemudian kekuatan lain yaitu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
difungsikan secara optimal. Selama ini peran LSM di Indonesia dibedakan menjadi
tiga jenis. Pertama, peran komplementer. Artinya melakukan kegiatan sebagai
tambahan atas kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah. Kedua, peran subtitutif.
Artinya menjalankan kegiatan yang tidak dapat dilakukan oleh, atau tidak menjadi
prioritas pemerintah. Ketiga, peran korektif. Artinya mencoba menghoreksi
kkekeliruan atau mengkritik kelemahan kegiatan pemerintah. Peran dan fungsi LSM
ini harus disesuaikan dengan set up poitik yang baru, sehingga sangat diharapkan
dapat bertindak dan memberikan kontribusi dengan lebih substantif..
Kekuatan oposisi di dalam dan di luar parlemen sama-sama pentingnya. Kalau
dua kekuatan itu saling mendukung maka akan muncul sinergi baru dalam melakukan
kontrol terhadap pemerintah.

3. Perangkat hukum yang diperlukan bagi terbentuknya partai


oposisi di Indonesia
Untuk melembagakan keberadaan partai oposisi di Indonesia ada dua
pendapat berbeda dalam kaitan perlu tidaknya perangkat hukum. Pendapat yang satu
menyatakan bahwa diperlukan perangkat hukum yang baru yaitu dengan
mengamandemen UUD ’45. Selain itu juga diperlukan perangkat hukum lain,
misalnya untuk kasus presiden yang berasal dari partai mayoritas di DPR, sehingga
menyebabkan baik DPR maupun presiden berpotensi membuat keputusan yang
melanggar konstitusi, belum ada perangkat hukum yang mengaturnya.
Pendapat kedua menyatakan tidak diperlukan perangkat hukum yang baru
dalam artian mengamandemen UUD ’45. Untuk melembagakan keberadaan partai
oposisi hanya diperlukan konvensi politik. Pendapat ini merujuk politik Indonesia
tahun 50-an saat keberadaan partai oposisi diakui, peran dan fungsi mereka sama
dengan keberadaan oposisi di negara lain. Yakni partai non-penguasa di DPR yang
berfungsi mengawasi penguasa. Namun sejak tahun 1959 partai oposisi dimatikan,
lalu diganti dengan sistem kekeluargaan, keputusan bersama dan kegotongroyongan.
Sistem inilah yang menghilangkan karakter kompetitif dalam politik Indonesia.
Kemudian pasal-pasal dalam UUD ’45 memungkinkan bangsa Indonesia berbeda
pendapat. Hal inilah kiranya yang mendasari pendapat yang memperbolehkan
munculnya oposisi tanpa adanya amandemen UUD ‘45.

4. Kondisi Bangsa Indonesia Menyambut Sistem Oposisi


Demokrasi tidak bergantung siap tidaknya bangsa Indonesia dalam
melaksanakannya. Demokrasi harus dilaksanakan dengan prinsip lerning by doing.
Artinya dengan melaksanakan demokrasi kita akan melihat kesalahan dan
kekurangannya. Kemudian evaluasi dan perbaikan dapat dilakukan seiring dengan
praktek demokrasi yang kita jalani. Selain itu perlu juga belajar/bercermin pada
negara-negara yang menerpkan sistem oposisi. Tentu saja negara tersebut harus
menganut sistem kabinet presidensial. Negara-negara berkembang yang baru
memasuki demokrasi juga bisa dijadikan rujukan.
Walaupun sering dikemukakan bahwa hal yang paling penting dalam
demokrasi adalah bahwa mayoritas yang memerintah, tetapi pada hakikatnya jaminan
yang diberikan kepada golongan minoritas jauh lebih penting untuk kegairahan hidup
sitem itu dan lebih merupakan ciri khasnya. Dengan begini perubahan golongan yang
memerintah selalu mungkin terjadi, dan bahkan dalam keadaan oposisi, suatu
golongan yang untuk sementara tidak beruntung masih ikut serta dalam sistem itu
dengan keabsahan (legitimacy) pendapat yang dikemukakannya.
Pemerintahan demokratis yang bijaksana tentu akan mengambil alih gagasan-
gagasan yang paling populer dari golongan oposisi dan menggabungkannya dengan
rencananya sendiri., suatu praktek yang amat menjengkelkan lawan-lawan politiknya.
Karena itu salah satu tugas yang penting dari partai yang memerintah -walaupun hal
ini tidak mudah dilaksanakan- adalah untu tidak mendorong pihak oposisi kepada
sikap apatis dan putus asa, tetapi memberikan tempat yang layak kepada lawan
politiknya itu. Kegairahan hidup demokrasi amat tergantung kepada danya pilihan
yang konstruktif dalam sistem itu.

KESIMPULAN
Sistem oposisi dalam suatu pemerintahan penting artinya mengingat
fungsinya sebagai wujud kedaulatan rakyat, dimana dalam pelaksanaannya adalah
pengontrol, penyeimbang, sekaligus pengkritik jalannya pemerintahan yang dapat
dipastikan tidak akan mungkin selalu berjalan di rel yang telah ditentukan. Menurut
Prof. Dr. Ramlan Surbakti, ada dua format partai oposisi: di dalam dan di luar
parlemen. Di dalam parlemen saat ini fungsi oposisi masih belum bisa diharapkan
sehingga perlu mengoptimalkan oposisi di luar parlemen. Dimana pihak-pihak
tersebut antara lain: organisasi kemasyarakatan atau lembaga swadaya masyarakat
(LSM), mahasiswa, cendekiawan, dan pers.
Ada dua pendapat yang berbeda mengenai perlu/tidaknya perangkat hukum
bagi terbentuknya sistem oposisi. Satu pihak berpendapat diperlukan perangkat
hukum dan amandemen UUD ’45, sedang pendapat yang lain menyatakan tidak perlu
amandemen UUD ’45, melainkan cukup dengan konvensi politik.
Dengan kondisi politik Indonesia seperti sekarang ini, bukan menjadi alasan
untuk tidak memberlakukan sistem oposisi. Dimana evaluasi dan perbaikan harus
selalu dilakukan seiring dengan dijalankannya praktek demokrasi.
Daftar Pustaka

Budiarjo, Miriam. 1982. Masalah Kenegaraan: Buku Obor


Iver, Mac. 1983. Negara Modern: Aksara Baru
Madani. 1999. Bisa Juga Oposisi Loyal. Edisi 9.
Madani. 1999. Kedaulatan Rakyat Tak Hanya Lewat DPR. Edisi 9.
Madani. 1999. Membangun Oposisi Ekstraparlementer. Edisi 9.
Madani. 1999. Pilih Mana, di Dalam atau di Luar Parlemen. Edisi 9.
Madani. 1999. Selamat Berjuang Oposisi. Edisi 9.
TUGAS MATA KULIAH
SOSIOLOGI POLITIK
“OPOSISI ADALAH HAK DAN KEWAJIBAN RAKYAT”

OLEH:
INDAH ZAKIYAH
NIM. 0001020292-23

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS EKONOMI
2001