Anda di halaman 1dari 27

PSIKOSOSIAL DAN BUDAYA

DALAM KEPERAWATAN
KESEHATAN SPIRITUAL

Oleh :
Kelompok 2
PROGRAM PROFESI NERS

1. Ni Luh Suci Novi Ariani (8)


2. I G N Ngurah Agung Kusuma Sedana (9)
3. I Putu Dharma Partana (10)
4. Ni Made Ayu Lisna Pratiwi (11)
5. Dewa Gede Sastra Ananta Wijaya (12)
6. Ni Kadek Dian Inlam Sari (13)
7. Luh Agustina Rahayu (14)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2019
KESEHATAN SPIRITUAL

A. Pengertian Kesehatan Spiritual


Kesehatan (wellness) adalah suatu keseimbangan dimensi kebutuhan manusia
yang berbeda secara terus menerus yang meliputi spiritual, sosial, emosional,
intelektual, fisik, okupasional, dan lingkungan. Kesehatan atau kesejahteraan
spiritual adalah rasa keharmonisan, saling kedekatan antara diri dengan orang lain,
alam dan dengan kehidupan yang tertinggi. Rasa keharmonisan ini dicapai ketika
seseorang menemukan keseimbangan antara nilai, tujuan, dan sistem keyakinan
mereka dengan hubungan mereka di dalam diri mereka sendiri dan dengan orang
lain. Kata spiritualitas berasal dari bahasa latin spiritus yang berarti bernapas atau
angin. Jiwa memberikan kehidupan bagi seseorang. Ini berarti segala sesuatu yang
menjadi pusat semua aspek dari kehidupan seseorang. Kesehatan seseorang
tergantung pada keseimbangan faktor fisik, psikologi, sosiologi, budaya,
perkembangan, dan spiritual. Spiritualitas merupakan fakor penting yang
mempengaruhi individu mencapai keseimbangan yang diperlukan untuk
memelihara kesehatan dan kesejahteraan, serta untuk beradaptasi dengan
penyakit.
Kesehatan spiritual merupakan definisi spiritual terkait kesehatan yang sering
digunakan dalam penelitian keperawatan yang berarti kemampuan untuk
menemukan makna/kedamaian hidup dan keyakinan terhadap kepercayaan yang
dianut (Potter & Perry, 2010).
B. Bagian-Bagian Kesehatan Spiritual
1. Makna/ kedamaian hidup
Makna hidup dicirikan dengan adanya perasaan damai dalam hidup,
merasakan kedamaian dalam pikiran, merasakan hidup yang produktif,
mempunyai tujuan dalam hidup, merasakan kenyamanan, dan keseimbangan
dengan diri sendiri. Individu yang mempunyai arti dan kedamaian dalam hidup
akan mampu bertahan dalam keadaan sulit, termasuk dalam keadaan sakit.
2. Keyakinan
Keyakinan dalam kesehatan spiritual adalah ketika seorang individu
menemukan kenyamanan dan kekuatan terhadap kepercayaan yang dianutnya.
Keyakinan pada dasarnya diasumsikan dengan adanya keyakinan terhadap
pemegang kekuatan tertinggi atau yang mempunyai kekuasaan atas alam semesta
dan ada alasan untuk setiap hal yang telah terjadi. Keyakinan terhadap hal tersebut
akan menolong individu menerima hal-hal diluar kekuasaan manusia dan selalu
berpikir positif terhadap masa depan. Keyakinan akan menuntun seorang kepada
pemikiran bahwa semua yang terjadi sudah direncanakan oleh Tuhan. Mempunyai
keyakinan, memberikan keamanan dan kenyamanan terhadap semua hal yang
akan terjadi.
Dengan keyakinan, individu bisa mempercayai bahwa setiap hal yang tejadi
mempunyai maksud dan tujuan (Achir Yani, 2012).

C. Spiritualitas dan Proses Penyembuhan


Spiritualitas adalah pencarian pribadi untuk memahami jawaban
sebagai tujuan akhir dalam hidup, tentang makna, dan tentang hubungan
suci atau transenden, yang mana (atau mungkin juga tidak) memimpin
pada atau bangun dari perkembangan ritual keagamaan dan bentukan
komunitas. Menurut Florence Nightingale, Spirituality adalah proses
kesadaran menanamkan kebaikan secara alami, yang mana menemukan
kondisi terbaik bagi kualitas perkembangan yang lebih tinggi. Spiritualitas
mewakili totalitas keberadaan seseorang dan berfungsi sebagai perspektif
pendorong yang menyatukan berbagai aspek individual. Spiritualitas
dalam keperawatan, adalah konsep yang luas meliputi nilai, makna dan
tujuan, menuju inti manusia seperti kejujuran, cinta, peduli, bijaksana,
penguasaan diri dan rasa kasih; sadar akan adanya kualitas otoritas yang
lebih tinggi, membimbing spirit atau transenden yang penuh dengan
kebatinan, mengalir dinamis seimbang dan menimbulkan kesehatan tubuh-
pikiran-spirit (Potter & Perry, 2010).
Keterkaitan spiritualitas dengan proses penyembuhan dapat dijelaskan
dengan konsep holistik dalam keperawatan. Konsep holistik merupakan
sarana petugas kesehatan dalam membantu proses penyembuhan klien secara
keseluruhan. Pelayanan holistik yang dimaksud adalah, dalam memberikan
pelayanan kesehatan semua petugas harus memperhatikan klien dari semua
komponen seperti biologis, psikologis, sosial, kultural bahkan spiritual
(Dossey, 2005 dalam Ah.Yusuf dkk 2016). Berikut adalah model bio-psiko-
sosial- spiritual yang diintegrasikan dalam keperawatan holistik.

Gambar 1 Model holistik dalam keperawatan (Dossey & Keegan,2009)

Model holistik adalah model yang komprehensif dalam memandang


berbagai respons sehat sakit. Dalam model holistik, semua penyakit
mengandung komponen psikosomatik, biologis, psikologis, sosial dan
spiritual. Penyakit dapat disebabkan faktor bio-psiko-sosial-spiritual,
demikian juga respons akibat penyakit. Dimensi biologis terkait dengan
semua komponen organ tubuh yang mengalami sakit. Dimensi psikologis
terkait dengan semua perilaku dan faktor yang mempengaruhi perilaku
yang ditampilkan akibat penyakit. Dimensi sosial terkait dengan dampak
penyakit terhadap pola komunikasi klien dengan masyarakat sekitar
dengan berbagai tata nilai dan budayanya. Dimensi spiritual dalam model
ini meliputi konsep tentang nilai, makna, dan persiapan untuk hidup.
Semua ini direfleksikan dalam semua sifat pembawaan manusia dalam
mencari keperawatan, cinta, ketulusan hati, kejujuran, kebebasan, dan
imajinasi.
Seseorang yang mengalami sakit, apalagi sampai dirawat di rumah sakit,
respon mereka tidak hanya terkait dengan biologis (organ yang sakit saja),
tetapi akan berpengaruh terhadap psikologisnya, seperti menjadi pendiam,
malu, mudah marah, merasa tidak berdaya. Respon psikologis ini juga
dipengaruhi oleh kondisi sosial dan spiritual seseorang. Oleh karena itu,
setiap petugas kesehatan dalam membantu mengatasi permasalahan klien
akibat penyakitnya, diharapkan dapat melakukan asuhan keperawatan secara
holistik.
Dua tantangan utama dalam keperawatan pada abad 21 adalah
mengintegrasikan berbagai konsep teknologi terkini, mind (pikiran) dan
spirit dalam praktik keperawatan. Tantangan kedua adalah mengembangkan
dan mengintegrasikan beberapa teori model keperawatan untuk
memberikan arahan (guide) dalam proses penyembuhan. Semua aktivitas
dan pengalaman untuk memperoleh proses penyembuhan dalam
keperawatan holistik, pertama kali diawali dengan pendekatan mekanis,
material dan penyembuhan secara medis. Era kedua yang memfokuskan
proses penyembuhan melalui penyembuhan badan-fikiran (mind-body), era
ketiga yang memfokuskan pada proses penyembuhan transpersonal.
Dari semua aktivitas dan pengalaman untuk memperoleh proses
penyembuhan tersebut dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok besar
yang tergabung dalam kelompok pengobatan rasional dan kelompok
paradoksikal (berlawanan arah). Kelompok proses penyembuhan rasional
diawali dari pemilihan dan penggunaan obat rasional, radiasi sampai
pembedahan. Kelompok paradoksikal menekankan pada komponen
spiritual mulai dari konseling psikologis, ritual keagamaan doa dan
terjadinya keajaiban dalam proses penyembuhan seperti pada gambar
dibawah.
Gambar 2 Rentang Proses Penyembuhan (Dossey & Keegan, 2009)
Dari beberapa pengalaman untuk memperoleh proses penyembuhan, baik
yang rasional maupun paradoksikal, kenyataannya kesemuanya dapat
menunjukkan hasil dalam proses penyembuhan. Oleh karena itu, dalam
keperawatan holistik dikenal istilah terapi komplementer dan alternatif.
Paradigma dalam keperawatan holistik, body-mind-spirit adalah sesuatu yang
saling ketergantungan dan saling memperkuat satu sama lain. Setiap manusia
mempunyai komponen body-mind-spirit, keberadaannya sangat diperlukan
dalam proses penyembuhan (healing). Kata healing itu sendiri berasal dari
kata; whole dan holy, keduanya berasal dari asal kata yang sama hol, yang
berarti whole = menyeluruh.
Paradigma inilah yang memberikan sugesti secara alamiah bahwa proses
penyembuhan merupakan proses spiritual yang mencerminkan totalitas
manusia. Totalitas spiritual manusia tampak pada domain spiritual, berupa;
mystery, love, suffering, hope, forgiveness, peace and peacemaking, grace,
and prayer.
1. Mystery
Mystery adalah pengalaman manusia yang melekat dalam
kehidupannya, dan ini merupakan nilai spiritual yang melekat dalam
dirinya. Mystery adalah sesuatu yang dimengerti dan dapat menjelaskan
yang akan terjadi setelah kehidupan ini. Kepercayaan terhadap apa yang
terjadi setelah kehidupan inilah yang memberi nilai spiritualitas manusia,
sehingga dia bisa menilai kualitas perilaku dalam kehidupan untuk
kehidupan akhirat. Kepercayaan terhadap nilai kehidupan akhirat akan
memberikan spirit khusus, menjadi motivator persepsi dalam memaknai
sehat sakit, menjadi sumber kekuatan dalam proses penyembuhan yang
dapat mengalahkan semua kesakitan dan penderitaan di dunia. Hidup di
dunia hanyalah sementara, kehidupan akhikrat akan kekal selamanya, dan
semua bekal kehidupan kekal di akhirat harus di bangun dan diciptakan
selama hidup di dunia.
2. Love
Cinta merupakan sumber dari segala kehidupan, menjadi bahan bakar
dari nilai spiritual, karena perasaan cinta berasal dari hati, pusat dari
penampilan ego seseorang. Ego adalah pemenuhan kebutuhan dasar
manusia sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangannya. Cinta,
seperti sebuah spirit, tidak jelas tempatnya, waktu, dan situasi dimana
perasaan tersebut dirasakan, tetapi ini merupakan sumber energi dalam
proses penyembuhan.
Hubungan antara cinta dan proses penyembuhan adalah meneruskan
berbagai sumber untuk eksplorasi sesuatu yang menakjubkan dalam proses
penyembuhan. Cinta termasuk suatu yang misterius, terkait dengan pilihan
dan perasaan, antara memberi dan menerima. Adanya perasaan cinta
merupakan kunci dari domain spiritualitas seseorang.
3. Suffering
Keberadaan dan arti penderitaan adalah merupakan domain spiritual.
Penderitaan adalah salah satu issue inti dari misteri kehidupan, dapat
terjadi karena masalah fisik, mental, emosional dan spiritual. Meskipun
demikian, tidak semua orang merasakan penderitaan yang sama untuk
suatu keadaan yang sama. Perasaan dipengaruhi oleh konsep sakit dan
nilai spiritual tentang makna penderitaan, budaya, latar belakang keluarga,
amalan keagamaan, dan kepribadian seseorang. Perawat perlu
memperhatikan respon penderitaan seseorang karena akan mempengaruhi
konsep sehat sakit dan upaya mencari penyembuhan. Penderitaan atau
kesengsaraan adalah sesuatu yang relatif, tergantung fokus dan makna
spiritual yang dikembangkan.
4. Hope
Harapan terkait dengan keinginan di masa yang akan datang, berorientasi
pada masa yang akan datang. Ini adalah merupakan energi spirit untuk
mengantisipasi apa yang akan terjadi kemudian, bagaimana caranya bisa
menjadi lebih baik. Disinilah makna spiritualitas dari sebuah harapan. Dia
merupakan hubungan yang positif antara harapan, spiritual well-being, nilai
keagamaan, dan perasaan positif lainnya.
Menanamkan harapan dalam kehidupan spiritual yang sesungguhnya
akan menjadi fondasi utama dalam menemukan makna kehidupan
seseorang, menjadi penentu arah dalam pilihan kehidupan, menjadi dasar
dalam berfikir dan berperilaku seseorang. Oleh karena itu, penguatan nilai-
nilai spiritual orang tua kepada anak menjadi hal penting dalam
membangun masadepan anak, menjadi penentu arah kemana mereka akan
berkembang.
5. Forgiveness
Pemaaf adalah komponen utama dari self-healing. Sikap mau memaakan
adalah kebutuhan yang mendalam dan pengalaman yang sangat diharapkan
dapat dilaksanakan seseorang. Keadaan ini memerlukan keyakinan kuat
bahwa Tuhan Maha Pemaaf. Memaafkan adalah suatu sifat, sikap dan
perilaku yang sulit dilaksanakan, apalagi ketika kita merasa pernah
disakiti, semua akan tetap membekas. Memerlukan kesadaran mendasar
bahwa kita ini bukan siapa-siapa, semua terjadi atas kehendak-Nya. Kita
lahir tidak membawa apa-apa, matipun tidak membawa apa- apa. Apa
yang harus kita sombongkan, kenapa tidak bisa memaakan seseorang.
Tuhan saja maha pengampun. Kita memang bukan tuhan, kita bukan
malaikat, tetapi kesadaran untuk bisa memaaThan terhadap perilaku yang
kurang bisa terima adalah sesuatu yang harus kita latih dengan
mengedepankan makna spiritual bahwa kitapun belum tentu lebih benar
dan lebih baik dari mereka. Dengan demikian forgiveness akan menjadi
komponen utama dalam proses penyembuhan diri dan mengurangi makna
penderitaan.
6. Peace and Peacemaking
Damai dan pembentukan perdamaian bagi sebagian orang tidak bisa
dipisahkan dari keadilan yang melekat pada diri seseorang, dimana
seseorang bisa hidup dan berada dalam langkungan alamiah dan
menyembuhkan. Kedamaian ini tidak tergantung dari lingkungan
eksternal, banyak orang datang dari sisi kelam kehidupan atau brutal
menjadi pejuang perdamaian. Keadaan ini mengalir dari hubungan yang
membuat kita bertahan dalam kehidupan yang damai. Ini adalah
pencapaian spiritualitas yang besar.
7. Grace
Anggun, lemah lembut adalah pengalaman yang mengandung elemen
surprise atau kejutan, perasaan terpesona, kagum, misteri dan perasaan
bersyukur akan keadaan kita. Grace merupakan dukungan yang diperlukan
untuk mengatasi sesuatu yang tidak menyenangkan atau tidak diharapkan.
Grace dalam kehidupan nyata lebih tampak pada rasa bersyukur atas apa
yang telah diberikan oleh Tuhan. Bersyukur merupakan indikator
keimanan dan pengakuan atas kekuasaan Tuhan.
8. Prayer
Berdoa merupakan ekspresi dari spiritualitas seseorang. Berdoa adalah
insting terdalam dari manusia, keluar dari suatu kesadaran yang tinggi
bahwa Tuhan adalah maha mengatur semua kehidupan. Berdoa meliputi
pencarian terhadap hubungan erat dan komunikasi dengan Tuhan atau
sumber yang misterius. Berdoa adalah usaha keras untuk memohon kepada
Tuhan agar diberikan kebaikan, keberkahan, kemudahan, kesehatan, jalan
keluar dari segala kesulitan dan lain-lain. Demikianlah paradigma proses
penyembuhan berbasis spiritual yang mencerminkan totalitas kehidupan
spiritualitas manusia (Hudak, 2010).

D. Batasan Spiritual
Spiritualitas memberikan individu energi yang dibutuhkan untuk
menemukan diri mereka, untuk beradaptasi dengan situasi yang sulit dan untuk
memelihara kesehatan. Konsep spiritual memiliki batas tetapi saling tumpang
tindih yaitu sebagai berikut :
1. Transedensi diri (self transedence) adalah kepercayaan yang merupakan
dorongan dari luar yang lebih besar dari individu.
2. Spiritualitas memberikan pengertian keterhubungan intrapersonal (dengan
diri sendiri), interpersonal (dengan orang lain) dan transpersonal (dengan
yang tidak terlihat, Tuhan atau yang tertinggi)
3. Spiritual memberikan kepercayaan setelah berhubungan dengan Tuhan.
Kepercayaan selalu identik dengan agama sekalipun ada kepercayaan tanpa
agama.
4. Spritualitas melibatkan realitas eksistensi (arti dan tujuan hidup).
5. Keyakinan dan nilai menjadi dasar spiritualitas. Nilai membantu individu
menentukan apa yang penting bagi mereka dan membantu individu
menghargai keindahan dan harga pemikiran, obyek dan perilaku Spiritual
memberikan individu kemampuan untuk menemukan pengertian kekuatan
batiniah yang dinamis dan kreatif yang dibutuhkan saat membuat keputusan
sulit.
6. Spritual memberikan kedamaian dalam menghadapi penyakit terminal
maupun menjelang ajal.
(Good, 2010)

E. Aspek dan Karakteristik Spiritual


Menurut Burkhardt dalam Hamid (2009) spiritual meliputi aspek sebagai
berikut:
1. Berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam
kehidupan.
2. Menemukan arti dan tujuan hidup
3. Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri
sendiri
4. Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan Yang Maha
Tinggi.
Adapun karakteristik dari spiritual yaitu meliputi:
1. Hubungan dengan diri sendiri
Merupakan kekuatan dari dalam diri seseorang yang meliputi pengetahuan
diri yaitu siapa dirinya, apa yang dapat dilakukannya dan juga sikap yang
menyangkut kepercayaan pada diri sendiri, percaya pada kehidupan atau masa
depan ketenangan pikiran, serta keselarasan dengan diri sendiri. Kekuatan yang
timbul dari diri seseorang membantunya menyadari makna dan tujuan hidupnya,
diantaranya memandang pengalaman hidupnya sebagai pengalaman yang positif,
kepuasan hidup, optimis terhadap masa depan, dan tujuan hidup yang semakin
jelas.
2. Hubungan dengan orang lain
Hubungan ini terbagi atas harmonis dan tidak harmonisnya hubungan dengan
orang lain. Keadaan harmonis meliputi pembagian waktu, pengetahuan dan
sumber secara timbal balik, mengasuh anak, mengasuh orang tua dan orang yang
sakit, serta meyakini kehidupan dan kematian. Sedangkan kondisi yang tidak
harmonis mencakup konflik dengan orang lain dan resolusi yang menimbulkan
ketidakharmonisan dan friksi, serta keterbatasan asosiasi.
Hubungan dengan orang lain lahir dari kebutuhan akan keadilan dan
kebaikan, kelemahan dan kepekaan orang lain, rasa takut akan kesepian,
keinginan dihargai dan diperhatikan, dan lain sebagainya. Dengan demikian
apabila seseorang mengalami kekurangan ataupun mengalami stres, maka orang
lain dapat memberi bantuan psikologis dan sosial.
3. Hubungan dengan alam
Harmoni merupakan gambaran hubungan seseorang dengan alam yang
meliputi pengetahuan tentang tanaman, pohon, margasatwa, iklim dan
berkomunikasi dengan alam serta melindungi alam tersebut. Rekreasi merupakan
kebutuhan spiritual seseorang dalam menumbuhkan keyakinan, rahmat, rasa
terima kasih, harapan dan cinta kasih. Dengan rekreasi seseorang dapat
menyelaraskan antara jasmani dan rohani sehingga timbul perasaan kesenagan dan
kepuasan dalam pemenuhan hal-hal yang dianggap penting dalam hidup seperti
nonton televisi, dengar musik, olah raga dan lain-lain.
4. Hubungan dengan Tuhan
Meliputi agama maupun tidak agamais. Keadaan ini menyangkut sembahyang
dan berdoa. Keikutsertaan dalam kegiatan ibdah, perlengkapan keagamaan, serta
bersatu dengan alam (Kozier,B et al,2010)
Dapat disimpulkan bahwa seseorang terpenuhi kebutuhan spiritual apabila
mampu merumuskan arti personal yang positif tentang tujuan keberadaanya
didunia/kehidupan, mengembangkan arti penderitaan serta meyakini hikmah dari
suatu kejadian atau penderitaan, menjalin hubungan yang positif dan dinamis,
membina integritas personal dan merasa diri berharga, merasakan kehidupan yang
terarah terlihat melalui harapan dan mengembangkan hubungan antar manusia
yang positif (Hamid, 2009)

F. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Spiritual


Menurut Taylor dkk, 1997 dan Craven, 1996 (dalam Hamid 2009), faktor
penting yang dapat mempengaruhi spiritual seseorang adalah pertimbangan tahap
perkembangan, keluarga, latar belakang etnik dan budaya, pengalaman hidup
sebelumnya, krisis, terpisah dari ikatan spiritual, isu moral terkait dengan terapi,
serta asuhan keperawatan yang kurang tepat. Untuk lebih jelasnya, faktor-faktor
penting tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Tahap perkembangan
Berdasarkan hasil penelitian terhadap anak-anak dengan empat agama yang
berbeda ditemukan bahwa mereka mempunyai persepsi tentang Tuhan dan
sembahyang yang berbeda menurut usia, seks, agama, dan kepribadian anak.
2. Keluarga
Peran orang tua sangat menentukan perkembangan spiritual anak. Yang
penting bukan apa yang diajarkan oleh orang tua kepada anaknya tentang Tuhan,
tetapi apa yang anak pelajari mengenai Tuhan, kehidupan, dan diri sendiri dari
perilaku orang tua mereka. Oleh karena keluarga merupakan lingkungan terdekat
dan pengalaman pertama anak dalam memersepsikan kehidupan di dunia,
pandangan anak pada umumnya diwarnai oleh pengalaman mereka dalam
berhubungan dengan orang tua dan saudaranya.
3. Latar belakang etnik dan budaya
Sikap, keyakinan, dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan sosial
budaya. Pada umumnya, seseorang akan mengikuti tradisi agama dan spiritual
keluarga. Perlu diperhatikan apapun tradisi agama atau sistem kepercayaan yang
dianut individu, tetap saja pengalaman spiritual adalah hal unik bagi tiap individu.
4. Pengalaman hidup sebelumnya
Pengalaman hidup, baik yang positif maupun pengalaman negatif dapat
memengaruhi spiritualitas seseorang. Sebaliknya, juga dipengaruhi oleh
bagaimana seseorang mengartikan secara spiritual kejadian atau pengalaman
tersebut. Peristiwa dalam kehidupan sering diianggap sebagai suatu cobaan yang
diberikan Tuhan kepada manusia untuk menguji kekuatan imannya. Pada saat ini,
kebutuhan spiritual akan meningkat yang memerlukan kedalaman spiritual dan
kemampuan koping untuk memenuhinya.
5. Krisis dan perubahan
Krisis dan perubahan dapat menguatkan kedalaman spiritual seseorang. Krisis
sering dialami ketika seseorang menghadapi penyakit, penderitaan, proses
penuaan, kehilangan, dan bahkan kematian, khususnya pada klien dengan
penyakit terminal atau dengan prognosis yang buruk. Perubahan dalam kehidupan
dan krisis yang dihadapi tersebut merupakan pengalaman spiritual selain juga
pengalaman yang bersifat fisik dan emosional.
6. Terpisah dari ikatan spiritual
Menderita sakit terutama yang bersifat akut, sering kali membuat individu
merasa terisolasikan kehilangan kebebasan pribadi dan sistem dukungan sosial.
Klien yang dirawat merasa terisolasi dalam ruangan yang asing baginya dan
merasa tidak aman. Kebiasaan hidup sehari- hari juga berubah, antara lain, tidak
dapat menghadiri acara resmi, mengikuti kegiatan keagamaan atau tidak dapat
berkumpul dengan keluarga atau teman dekat yang biasa memberi dukungan
setiap saat diinginkan. Terpisahkan klien dari ikatan spiritual dapat berisiko
terjadinya perubahan fungsi spiritualnya.
7. Isu moral terkait dengan terapi
Pada kebanyakan agama, proses penyembuhan dianggap sebagai cara tuhan
untuk menunjukkan kebesarannya walaupun ada juga yang menolak intervensi
pengobatan. Prosedur medik sering kali dapat dipengaruhi oleh pengajaran agama,
misalnya sirkumsisi, tranplantasi organ, pencegahan kehamilan, dan sterilisasi.
Konflik antara jenis terapi dengan keyakinan agama sering dialami oleh klien dan
tenaga kesehatan.
8. Asuhan keperawatan yang kurang sesuai
Ketika memberikan asuhan keperawatan kepada klien, perawat diharapkan
peka terhadap kebutuhan spiritual klien, tetapi dengan berbagai alasan ada
kemungkinan perawat justru menghindar untuk memberi asuhan spiritual. Alasan
tersebut, antara lain karena perawat merasa kurang nyaman dengan kehidupan
spiritualnya, kurang menganggap penting kebutuhan spiritual, tidak mendapatkan
pendidikan tentang aspek spiritual dalam keperawatan, atau merasa bahwa
pemenuhan kebutuhan spiritual klien bukan menjadi tugasnya, tetapi tanggung
jawab pemuka agama.
Isu nilai yang mungkin timbul antara perawat dan klien adalah sebagai
berikut :
1. Pluralisme: perawat dan klien menganut kepercayaan dan iman dengan
spektrum yang luas.
2. Fear: berhubungan dengan ketidakmampuan mengatasi situasi, melanggar
privasi klien, atau merasa tidak pasti dengan system kepercayaan dan nilai
diri sendiri.
3. Kesadaran tentang pertanyaan spiritual: apa yang memberi arti dalam
kehidupan, tujuan, harapan, dan merasakan cinta dalam kehidupan pribadi
perawat.
4. Bingung: bingung terjadi karena adanya perbedaan antara agama dan konsep
spiritual.
G. Tahap Perkembangan Spiritual
Tahap perkembangan spiritual individu menurut Hamid (2009), sebagai
berikut:
1. Bayi dan Toddler (0-2 tahun)
Tahap awal perkembangan spiritual adalah rasa percaya kepada yang
mengasuh yang sejalan dengan perkembangan rasa aman dan dalam hubungan
interpersonal, karena sejak awal kehidupan manusia mengenal dunia melalui
hubungannya dengan lingkungan, khususnya orang tua. Bayi dan toddler belum
memiliki rasa salah dan benar, serta keyakinan spiritual. Mereka mulai meniru
kegiatan ritual tanpa mengerti arti kegiatan tersebut serta ikut ke tempat ibadah
yang memengaruhi citra diri mereka.
2. Prasekolah
Sikap orang tua tentang kode moral dan agama mengajarkan kepada anak
tentang apa yang dianggap baik dan buruk. Anak prasekolah meniru apa yang
mereka lihat bukan yang dikatakan orang lain. Permasalahan akan timbul apabila
tidak ada kesesuaian atau bertolakbelakang antara apa yang dilihat dan yang
dikatakan kepada mereka. Anak prasekolah sering bertanya tentang moralitas dan
agama, seperti perkataan atau tindakan tertentu dianggap salah. Juga bertanya
“apa itu surga?”Mereka menyakini bahwa orang tua mereka seperti tuhan. Pada
usia ini metode pendidikan spiritual yang paling efektif adalah memberi
indoktrinasi dan memberi kesempatan kepada mereka untuk memilih caranya.
Agama merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka percaya bahwa
Tuhan yang membuat hujan dan angin; hujan dianggap sebagai air mata Tuhan.
3. Usia sekolah
Anak usia sekolah mengharapkan Tuhan menjawab doanya, yang salah akan
dihukum dan yang baik akan diberi hadiah. Pada masa prapubertas, anak sering
mengalami kekecewaan karena mereka mulai menyadari bahwa doanya tidak
selalu dijawab menggunakan cara mereka dan mulai mencari alasan tanpa mau
menerima keyakinan begitu saja.
Pada usia ini, anak mulai mengambil keputusan akan melepaskan atau
meneruskan agama yang dianutnya karena ketergantungannya kepada orang tua.
Pada masa remaja, mereka membandingkan standar orang tua mereka dengan
orang tua lain dan menetapkan standar apa yang akan diintegrasikan dalam
perilakunya. Remaja juga membandingkan pandangan ilmiah dengan pandangan
agama serta mencoba untuk menyatukannya. Pada masa ini, remaja yang
mempunyai orang tua berbeda agama, akan memutuskan pilihan agama yang akan
dianutnya atau tidak memilih satupun dari kedua agama orang tuanya.
4. Dewasa
Kelompok usia dewasa muda yang dihadapkan pada pertanyaan bersifat
keagamaan dari anaknya akan menyadari apa yang pernah diajarkan kepadanya
pada masa kanak-kanak dahulu, lebih dapat diterima pada masa dewasa daripada
waktu remaja dan masukan dari orang tua tersebut dipakai untuk mendidik
anaknya.
5. Usia pertengahan dan lansia
Kelompok usia pertengahan dan lansia mempunyai lebih banyak waktu untuk
kegiatan agama dan berusaha untuk mengerti nilai agama yang diyakini oleh
generasi muda. Perasaan kehilangan karena pensiun dan tidak aktif serta
menghadapi kematian orang lain (saudara, sahabat) menimbulkan rasa kesepian
dan mawas diri. Perkembangan filosofis agama yang lebih matang sering dapat
membantu orang tua untuk menghadapi kenyataan, berperan aktif dalam
kehidupan dan merasa berharga, serta lebih dapat menerima kematian sebagai
sesuatu yang tidak dapat ditolak atau dihindarkan.
Lanjut usia yang telah pensiun, kehilangan pasangan atau teman, atau
menjelang kematian merasa sangat sedih dan kehilangan. Pada masa ini walaupun
membayangkan kematian mereka banyak menggeluti spiritual sebagai isu yang
menarik. Keyakinan spiritual yang terbangun dengan baik membantu lansia
menghadapi kenyataan, berpartisipasi dalam hidup, merasa memiliki harga diri,
dan menerima kematian sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari.

H. Dimensi Spiritual
Dimensi spiritual merupakan salah satu dimensi penting yang perlu
diperhatikan oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada semua
klien. Keimanan atau keyakinan religious adalah sangat penting dalam kehidupan
personal individu. Keimanan juga diketahui sebagai faktor yang sangat kuat dalam
penyembuhan dan pemulihan fisik.
Dimensi spiritual menjadi bagian yang komprehensif dalam kehidupan
manusia karena setiap individu pasti memiliki aspek spiritual, walaupun dengan
tingkat pengalaman dan pengalaman yang berbeda-beda berdasarkan nilai dan
keyakinan yang mereka percaya. Dimensi spiritual juga dapat menumbuhkan
kekuatan yang timbul diluar kekuatan manusia. Spiritualitas memiliki konsep dua
dimensi, yaitu dimensi vertical dan dimensi horizontal. Dimana vertical adalah
hubungan dengan Tuhan atau Yang Maha Tinggi yang menuntun kehidupan
seseorang, sedangkan dimensi horizontal adalah hubungan seseorang dengan diri
sendiri, sengan orang lain, dan dengan lingkungan.
Kebutuhan spiritual adalah harmonisasi dimensi kehidupan. Dimensi ini
termasuk dalam menumukan arti, tujuan, menderita, dan kematian; kebutuhan
akan harapan dan keyakinan hidup; dan kebutuhan akan keyakinan pada diri
sendiri dan Tuhan. Ada lima dasar kebutuhan spiritual manusia, yaitu: arti dan
tujuan hidup, perasaan misteri, pengabdian, rasa percaya, dan harapan diwaktu
kesusahan (Hana, 2013).

I. Kebutuhan Spiritual
Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau
mengembalikan keyakinan dan rnemenuhi kewajiban agamas serta kebutuhan
untuk mendapatkan maaf atau pengampunan, mencintai, menjalin hubungan
penuh rasa percaya dengan Tuhan. Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan mencari
arti dan tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, serta kebutuhan
untuk memberikan dan mendapatkan maaf. Kebutuhan spiritual adalah
harmonisasi dimensi kehidupan. Dimensi ini termasuk menemukan arti, tujuan,
menderita, dan kematian; kebutuhan akan harapan dan keyakinan hidup, dan
kebutuhan akan keyakinan pada diri sendiri, dan Tuhan. Ada 5 dasar kebutuhan
spiritual manusia yaitu: arti dan tujuan hidup, perasaan misteri, pengabdian, rasa
percaya dan harapan di waktu kesusahan (Saryono,.2010).
Berikut 10 butir kebutuhan dasar spiritual manusia yaitu :
1. Kebutuhan akan kepercayaan dasar (basic trust), kebutuhan ini secara terus-
menerus diulang guna membangkitkan kesadaran bahwa hidup ini adalah
ibadah.
2. Kebutuhan akan makna dan tujuan hidup, kebutuhan untuk menemukan
makna hidup dalam membangun hubungan yang selaras dengan Tuhannya
(vertikal) dan sesama manusia (horisontat) serta alam sekitaraya.
3. Kebutuhan akan komitmen peribadatan dan hubungannya dengan keseharian,
pengalaman agama integratif antara ritual peribadatan dengan pengalaman
dalam kehidupan sehari-hari.
4. Kebutuhan akan pengisian keimanan dengan secara teratur mengadakan
hubungan dengan Tuhan, tujuannya agar keimanan seseorang tidak melemah.
5. Kebutuhan akan bebas dari rasa bersalah dan dosa. rasa bersaiah dan berdosa
ini merupakan beban mental bagi seseorang dan tidak baik bagi kesehatan
jiwa seseorang.
6. Kebutuhan ini mencakup dua hal yaitu pertama secara vertikal adalah
kebutuhan akan bebas dari rasa bersalah, dan berdosa kepada Tuhan. Kedua
secara horisontal yaitu bebas dari rasa bersalah kepada orang lain.
7. Kebutuhan akan penerimaan diri dan harga diri {self acceptance dan self
esteem), setiap orang ingin dihargai, diterima, dan diakui oleh
lingkungannya.Kebutuhan akan rasa aman, terjamin dan keselamatan
terhadap harapan masa depan. Bagi orang beriman hidup ini ada dua tahap
yaitu jangka pendek (hidup di dunia) dan jangka panjang (hidup di akhirat).
Hidup di dunia sifatnya sementara yang merupakan persiapan bagi kehidupan
yang kekal di akhirat nanti.
8. Kebutuhan akan dicapainya derajat dan martabat yang makin tinggi sebagai
pribadi yang utuh. Di hadapan Tuhan, derajat atau kedudukan manusia
didasarkan pada tingkat keimanan seseorang. Apabila seseorang ingin agar
derajatnya lebih tinggi dihadapan Tuhan maka dia senantiasa menjaga dan
meningkatkan keimanannya.
9. Kebutuhan akan terpeliharanya interaksi dengan alam dan sesama manusia.
Manusia hidup saling bergantung satu sama lain. Oleh karena itu, hubungan
dengan orang disekitarnya senantiasa dijaga. Manusia juga tidak dapat
dipisahkan dari lingkungan alamnya sebagai tempat hidupnya. Oleh karena
itu manusia mempunyai kewajiban untuk menjaga dan melestarikan alam ini.
10. Kebutuhan akan kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan nilai-nilai
religius. Komunitas keagamaan diperlukan oleh seseorang dengan sering
berkumpul dengan orang yang beriman akan mampu meningkatkan iman
orang tersebut (Saryono,.2010).

J. Hubungan antara Spritual, Kesehatan dan Sakit


Agama merupakan petunjuk perilaku karena di dalam agama terdapat ajaran
baik dan larangan yang dapat berdampak pada kehidupan dan kesehatan
seseorang, contohnya minuman beralkohol sesuatu yang dilarang agama dan akan
berdampak pada kesehatan bila di konsumsi manusia. Agama sebagai sumber
dukungan bagi seseorang yang mengalami kelemahan (dalam keadaan sakit)
untuk membangkitkan semangat untuk sehat, atau juga dapat mempertahankan
kesehatan untuk mencapai kesejahteraan.Sebagai contoh orang sakit dapat
memperoleh kekuatan dengan menyerahkan diri atau memohon pertolongan dari
Tuhannya.
Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi
tingkat kesehatan dan perilaku self care klien. Beberapa pengaruh dari keyakinan
spiritual yang perlu dipahami adalah sebagai berikut:
1. Menuntun kebiasaan hidup sehari-hari
2. Sumber dukungan, pada saat mengalami sakit atau stress individu akan
mencari dukungan dari keyakinan agamanya. Dukungan ini sangat diperlukan
untuk dapat menerima keadaan sakit yang dialaminya, khususnya dalam
penyakit kronis yang memerlukan pengobatan yang lama dengn hasil yang
belum pasti, berdoa dan rutinitas agama sering membantu memenuhi
kebutuhan spiritual dan juga merupakan suatu proses perlindungan terhadap
tubuh.
3. Sumber kekuatan dan penyembuhan, individu cendrung dapat menahan
distress fisik yang luar biasa karena mempunyai keyakinan yang kuat
(Cobb,M et al,2008).
K. Pola Normal Spiritual
Dimensi spiritual berupaya mempertahankan keharmonisan atau keselarasan
dengan dunia luar, berjuang untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan, ketika
sedang menghadapi stress emosional, penyakit fisik, atau kematian. Dimensi
spiritual juga dapat menumbuhkan kekuatan yang timbul di luar kekuatan
manusia.
Dimensi spiritual merupakan salah satu dimensi penting yang perlu
diperhatikan oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada
seorang klien. Keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam
kehidupan personal individu. Keyakinan tersebut diketahui sebagai suatu faktor
yang kuat dalam penyembuhan dan pemulihan fisik. Oleh karena itu, menjadi
suatu hal penting bagi perawat untuk meningkatkan pemahaman tentang konsep
spiritual agar dapat memberikan asuhan spiritual dengan baik kepada klien.
Setiap individu memiliki definisi dan konsep yang berbeda mengenai
spiritualitas. Kata-kata yang digunakan untuk menjabarkan spiritualitas termasuk
makna, transenden, harapan, cinta, kualitas, hubungan, dan eksistensi. Setiap
individu memiliki pemahaman tersendiri mengenai spiritualitas karena masing-
masing memiliki cara pandang yang berbeda mengenai hal tersebur. Perbedaan
definisi dan konsep spiritualitas dipengaruhi oleh budaya, perkembangan,
pengalaman hidup seseorang, serta persepsi mereka tentang hidup dan kehidupan.
Pengaruh tersebut nantinya dapat mengubah pandangan seseorang mengenai
konsep spiritulitas dalam dirinya sesuai dengan pemahaman yang ia miliki dan
keyakinan yang ia pegang teguh (Hana, 2013).
Konsep spiritual memiliki arti yang berbeda dengan konsep religius. Banyak
perawat dalam praktiknya tidak dapat membedakan kedua konsep tersebut karena
menemui kesulitan dalam memahami keduanya. Kedua hal tersebut memang
sering digunakan secara bersamaan dan saling berhubungan satu sama lain.
Konsep religius biasanya berkaitan dengan pelaksanaan suatu kegiatan atau proses
melakukan suatu tindakan. Konsep religius merupakan suatu sistem penyatuan
yang spesifik mengenai praktik yang berkaitan bentuk ibadah tertentu. (Emblen
dalam Potter & Perry, 2010) mendefinisikan religi sebagai suatu sistem keyakinan
dan ibadah terorganisasi yang dipraktikan seseorang secara jelas menunjukkan
spiritualitas mereka.
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa religi adalah
proses pelaksanaan suatu kegiatan ibadah yang berkaitan dengan keyakinan
tertentu. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menunjukkan spiritualitas
diri mereka. Sedangkan spiritual memiliki konsep yang lebih umum mengenai
keyakinan seseorang. Terlepas dari prosesi ibadah yang dilakukan sesuai dengan
keyakinan dan kepercayaan tersebut.
Konsep spiritual berkaitan berkaitan dengan nilai, keyakinan, dan
kepercayaan seseorang. Kepercayaan itu sendiri memiliki cakupan mulai dari
atheisme (penolakan terhadap keberadaan Tuhan) hingga agnotisme (percaya
bahwa Tuhan ada dan selalu mengawasi) atau theism (Keyakinan akan Tuhan
dalam bentuk personal tanpa bentuk fisik) seperti dalam Kristen dan Islam.
Keyakinan merupakan hal yang lebih dalam dari suatu kepercayaan seorang
individu. Keyakinan mendasari seseorang untuk bertindak atau berpikir sesuai
dengan kepercayaan yang ia ikuti.
Keyakinan dan kepercayaan akan Tuhan biasanya dikaitkan dengan istilah
agama. Di dunia ini, banyak agama yang dianut oleh masyarakat sebagai wujud
kepercayaan mereka terhadap keberadaan Tuhan. Tiap agama yang ada di dunia
memiliki karakteristik yang berbeda mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
kepercayaan dan keyakinan sesuai dengan prinsip yang mereka pegang teguh.
Keyakinan tersebut juga mempengaruhi seorang individu untuk menilai sesuatu
yang ada sesuai dengan makna dan filosofi yang diyakininya. Sebagai contoh,
persepsi seorang Muslim mengenai perawatan kesehatan dan respon penyakit
tentunya berbeda dengan persepsi seorang Budhis. Semua itu tergantung konsep
spiritual yang dipahami sesuai dengan keyakinan dan keimanan seorang individu.
Konsep spiritual yang dianut atau dipahami oleh seorang klien dapat
mempengaruhi cara pandang klien mengenai segala sesuatunya, tak terkecuali
dalam bidang kesehatan. Paradigma mengenai sakit, tipe-tipe pengobatan yang
dilakukan, persepsi mengenai kehidupan dan makna yang terkandung di dalamnya
adalah contoh penerapan konsep spiritual secara normal pada diri seorang
individu (Potter & Perry, 2010).
Ada beberapa agama yang menerapkan pola normal spiritualnya dengan
cara:
1. Beberapa orang menjadi spiritual setelah usia 40 tahun. Pada satu tingkat
pergi ke kuil, menghadiri wacana-wacana dan membaca buku-buku atau
kitab-kitab dianggap sangat spiritual.
2. Tingkat kedua orang memiliki seorang guru mengikuti tradisi maka mereka
memiliki sadhana. Ini adalah zaman baru modern gaya.
3. Ada tingkat ketiga orang yang mempunyai dewa dan mereka upsana.
4. Beberapa praktik seni seperti astrologi atau obat atau tari atau musik dan
kemudian mereka menggunakan waktu luang ada dalam sadhana spiritual.
5. Beberapa orang menghadiri Bhajan dan kemudian melakukan pelayanan
sosial yang juga baik seperi pelayanan kesehatan (Achir Yani, 2012).

L. Pengaruh Spiritual Terhadap Kesehatan Dan Sakit


Beberapa pengaruh keyakinan spiritual terhadap kesehatan dan sakit yang
perlu dipahami oleh perawat yaitu :
1. Keyakinan spiritual yang mempengaruhi asuhan keperawatan
Praktik tertentu yang umumnya berkaitan dengan pelayanan kesehatan
mungkin mempunyai makna keagamaan dengan klien antara lain:
a. Keyakinan yang mempengaruhi diet dan nutrisi
Banyak agama memiliki larangan terkait diet. Mungkin terdapat aturan
mengenai jenis makanan dan minuman yang diperbolehkan dan yang dilarang.
Sebagai contoh, umat yahudi ortodoks diharamkan memakan babi atau kerang,
dan umat islam diharamkan meminum minuman beralkohol dan memakan babi.
Beberapa ketaatan terhadap agama ditunjukkan dengan berpuasa, yaitu
berpantang makan dalam periode waktu tertentu. Contoh agama melaksanakan
puasa, antara lain islam, yahudi, dan katolik. Penyedia layanan kesehatan harus
membuat rencana diet yang dianjurkan dengan memerhatikan keyakinan diet dan
berpuasa klien.
b. Keyakinan terkait penyembuhan
Klien dapat memiliki keyakinan agama yang menghubungkan penyakit
dengan gangguan spiritual. Penyembuhan bagi klien tersebut dapat tampak tidak
berhubungan dengan praktik penyembuhan saat ini. Perawat perlu mengkaji
keyakinan klien dan apabila memungkinkan, mencakup dalam merencanakan
beberapa aspek penyembuhan yang merupakan bagian system keyakinan klien.
c. Keyakinan terkait pakaian
Banyak agama memiliki hukum atau tadisi yang mengatur cara berpakain.
Sebagai contoh, pria penganut yahudi ortodoks dan yahudi konservatif meyakini
bahwa mereka harus menutup kepalla mereka sepanjang waktu sehingga
menggunakan yarmulke. Banyak muslimah juga menutup rambut mereka terkait
etnik tertentu atau latar belakang budaya mereka. Beberapa agama, misalnya
islam, mewajibkan tubuh (batang tubuh, lengan, dan kaki) tertutup. Gaun rumah
sakit dapat membuat wanita yang berharap mematuhi kode berpakaian sesuai
agama merasa gelisah dan tidak nyaman. Klien terutama dapat bingung ketika
menjalani uji diagnostikatau penangan, seperti mamografi, yang mewajibkan ia
menanggalkan pakain.
d. Keyakinan terkait kematian
Keyakinan keagamaan dan spiritual berperan penting pada saat penganutnya
menjelang ajal, demikian juga pada kejadian hidup penting lain. Banyak orang
meyakini bahwa seseorang yang meninggal mengalihkan hidupnya ketempat yang
lebih baik. Beberapa agama memiliki ritual khusus saat menjelang ajal dan
kematian yang harus dijalankan oleh penganutnya. Penganut ritual ini member
kenyamanan pada orang yang menjelang ajal dan orang mereka cintai. Beberapa
ritual dilaksanakan sementara individu masih hidup dan mencakup doa khusus,
bernyanyi, dan membacakan tulisan sacral. Pendeta katolik roma melaksanakan
sakramen perminyakan ketika klien sakit san menjelang ajal (Yuanita, 2014).
Menurut hamid (2009), pada saat mengalami stress, individu akan mencari
dukungan dari keyakinan agamanya. Dukungan ini sangat diperlukan untuk dapat
menerima keadaan sakit yang dialami, khususnya jika penyakit tersebut
memerlukan proses penyembuhan yang lama dengan hasil yang belum pasti.
Sembahyang atau berdoa, membaca kitab suci, dan praktik keagamaan lainnya
sering membantu memenuhi kebutuhan spiritual yang juga merupakan suatu
perlindungan terhadap tubuh.
b. Sumber kekuatan dan penyembuhan
Menurut taylor, lillis, & le mone (1997) (dalam hamid, 2009) nilai dari
keyakinan agama tidak dapat dengan mudah di evaluasi. Walaupun demikian,
pengaruh keyakinan tersebut dapat diamati oleh tenaga kesehatan dengan
mengetahui bahwa individu dapat menahan distress fisik yang luar biasa karena
mempunyai keyakinan yang kuat. Keluarga pasien akan mengikuti semua proses
penyembuhan yang memerlukan upaya luar biasa karena keyakinan bahwa semua
usaha tersebut akan berhasil.
Manusia sebagai makhluk spiritual mempunyai hubungan dengan kekuatan
diluar dirinya, hubungan dengan tuhannya, dan mempunyai keyakinan dalam
hidupnya. Keyakinan yang dimiliki seseorang akan berpengaruh terhadap
perilakunya. Misalnya, pada individu yang meyakini penyakit disebabkan oleh
pengaruh “roh jahat”. Ketika seseorang sakit, upaya pertolongan pertama yang
dilakukan adalah mendatangi dukun. Memngingat besarnya pengaruh keyakinan
terhadap kehidupan seseorang, perawat harus memotivasi klien untuk senantiasa
memelihara kesehatannya (Yusuf,A, 2015).
c. Sumber konflik
Menurut Hamid (2009), pada situasi tertentu dapat terjadi konflik antara
keyakinan agma dengan praktik kesehatan. Misalnya, ada orang yang memandang
penyakit sebagai suatu bentuk hukuman karna pernah berdosa. Ada agama tertentu
yang menganggapp manusia sebagai makhluk yang tidak berdaya dalam
mengendalikan lingkungannya sehingga penyakit diterima sebagai takdir, bukan
sebagai suatu yang harus disembuhkan.

M. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perawat Dalam Memberikan


Spiritual
Aspek spiritual sangat berperan penting bagi kesehatan, kesejahteraan, dan
kualitas hidup manusia. Dengan demikian, maka pemberian spiritual merupakan
hal yang harus dilakukan perawat agar dapat membantu memelihara dan
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan pasien. Namun perawat selalu merasa
kesulitan dalam memberikan spiritual pasien (Sianturi, 2014).
Menurut Mc Sherry (dalam Sianturi, 2014) faktor-faktor yang mempengarui
perawat dalam memberikan spiritual dibagi dua yaitu faktor intrinsik terdiri dari
ketidakmampuan perawat berkomunikasi, ambiqu, kurangnya pengetahuan
tentang spiritual, hal yang bersifat pribadi, dan takut melakukan kesalahan, faktor
ekstrinsik terdiri dari organisasi dan manajemen, hambatan ekonomi berupa
kekurangan perawat, kurangnya waktu, masalah pendidikan perawat. Faktor
intrinsik dan ekstrinsik dijelaskan sebagai berikut:
1. Ketidakmampuan perawat untuk berkomunikasi.
Ketidakmampuan berkomunikasi secara efektif dapat mengakibatkan pasien
tidak mampu mengungkapkan kebutuhan spiritualnya, sedangkan ada tidaknya
kebutuhan spiritual pasien dapat diketahui perawat dari pasien itu sendiri, hal ini
akan berakibat pula pada ketidakmampuan perawat menilai atau menafsirkan
keadaan, hal ini akan mengakibatkan pasien dan perawat putus asa, situasi ini
tidak mudah diatasi, karena tidak ada solusi yang mudah. Perawat dapat mencoba
mengatasi keadaan ini dengan berbagai tehnik untuk mencoba menemukan apa
yang menjadi kebutuhan spiritual pasien.
2. Ambigu
Ambigu muncul ketika perawat berbeda keyakinan dengan pasien yang
dirawatnya. Hal ini dapat mengakibatkan rasa tidak aman, sehingga perawat
menghindar dari keadaan ini. Mc Sherry (dalam Sianturi 2014) mengatakan
ambigu mencakup kebingungan perawat, takut salah, dan menganggap spiritual
terlalu sensitif dan merupakan hak pribadi pasien.
3. Kurangnya pengetahuan tentang spiritual
Ambigu juga dapat muncul ketika perawat tidak mengetahui tentang
spiritual. Ozbasaran et al (dalam Sianturi 2014), mengatakan bahwa persepsi
perawat tentang spiritual dapat menjadi penghalang perawat dalam memberikan
spiritual. Jika mereka percaya bahwa pemberian spiritual adalah ibadah maka
persepsi ini akan secara langsung mempengaruhi kemampuan mereka untuk
mengatasi kebutuhan spiritual pasien. Kozier et al (2010) mengatakan bahwa
perawat yang memperhatikan spiritual dirinya dapat bekerja lebih baik dalam
merawat pasien yang memiliki kebutuhan spiritual. Untuk dapat memberikan
spiritual pada pasien, penting untuk menciptakan kondisi yang nyaman akan
spiritual diri sendiri. Spiritual perawat itu sendiri juga merupakan faktor yang
mempengaruhi pemberian spiritual, karena hal ini dapat digunakan sebagai
strategi dalam intervensi dan kekuatan yang mendukung ditempat kerja. Persepsi
perawat terhadap spiritual secara langsung dapat mempengaruhi bagaimana
mereka berperilaku, bagaimana menangani pasien, dan bagaimana berkomunikasi
dengan pasien pada saat perawat memberikan spiritual (Sianturi, 2014).
4. Hal yang bersifat pribadi
Perawat berpendapat bahwa spiritual merupakan hal yang bersifat pribadi,
sehingga sulit untuk ditangani oleh perawat. Dalam mengekspresikan kebutuhan
spiritualnya pasien mengharapkan tersedianya ruangan atau kamar yang tenang
dimana pasien dapat dengan tenang menceritakan tentang masalah-masalah
pribadinya (Sianturi, 2014).
5. Takut melakukan kesalahan
Perawat merasa takut jika apa yang dilakukannya merupakan hal yang salah,
dalam situasi yang sulit hal ini dapat mengakibatkan penolakan dari pasien
6. Organisasi dan manajemen
Jika profesi perawat akan memberikan perawatan spiritual yang efektif, maka
manajemen harus mampu mengatasi hambatan ekstrinsik. Manajemen harus
bertanggungjawab dan mendukung pemberian spiritual (Sianturi, 2014).
7. Hambatan ekonomi berupa kekurangan perawat, kurangnya waktu, masalah
pendidikan
Hasil penelitian Wong (2008 dalam Sianturi, 2014) menemukan bahwa
perawat dengan tingkat pendidikan sarjana lebih baik dalam memberikan
spiritual, oleh karena itu pendidikan mempunyai pengaruh yang positif terhadap
pemberian spiritual oleh perawat kepada pasien.
Beberapa orang yang memerlukan spiritual yaitu sebagai berikut :
1. Pasien Kesepian.
Pasien dalam keadaan sepi dan tidak ada yang menemani akan membutuhkan
bantuan spiritual karena mereka merasakan tidak ada kekuatan selain kekuatan
Tuhan, tidak ada yang menyertainya selain Tuhan.
2. Pasien Ketakutan dan cemas.
Adanya ketakutan atau kecemasan dapat menimbulkan pasien kacau, yang
dapat membuat pasien membutuhkan ketenangan pada dirinya, dan ketenangan
yang paling besar adalah bersama Tuhan.
3. Pasien menghadapi pembedahan.
Menghadapi pembedahan adalah sesuatu yang sangat mengkhawatirkan
karena akan timbul perasaan antara hidup dan mati. Pada saat itulah keberadaan
pencipta dalam hal ini adalah Tuhan sangat penting sehingga pasien selalu
membutuhkan bantuan spiritual.
4. Pasien yang harus mengubah gaya hidup.
Perubahan gaya hidup dapat membuat seseorang lebih membutuhkan
keberadaan Tuhan (kebutuhan spiritual). Pola gaya hidup dapat membuat
kekacauan keyakinan bila ke arah yang lebih buruk. Akan tetapi bila perubahan
gaya hidup kea rah yang lebih baok, maka pasien akan lebih membutuhkan
dukungan spiritual (Sianturi,2014).

N. Masalah Spiritual
Masalah yang sering terjadi pada pemenuhan kebutuhan spiritual adalah
distress spiritual, yang merupakan suatu keadaan ketika individu atau kelompok
mengalami atau berisiko mengalami ganguan dalam kepercayaan atau sistem
yang memberikannya kekuatan, harapan, dan arti kehidupan, yang ditandai
dengan pasien meminta pertolongan spiritual, mengungkapakan adanya keraguan
dalam system kepercayaan, adanya gangguan yang berlebih dalam mengartikan
hidup, mengungkapkan perhatian yang lebih pada kematian dan sesudah hidup,
adanya keputusasaan, menolak kegiatan ritual, dan terdapat tanda-tanda seperti
menangis, menarik diri, cemas, dan marah, kemudian ditunjang dengan tanda fisik
seperti nafsu maakan terganggu, kesulitan tidur, dan tekanan darah meningkat.
Distres spiritual terdiri dari atas :
1. Spiritual yang sakit, yaitu kesulitan menerima kehilangan dari orang yang
dicintai atau dari penderitaan yang berat.
2. Spiritual yang khawatir, yaitu terjadi pertentangan kepercayaan dan sistem
nilai seperti adanya aborsi.
3. Spiritual yang hilang, yaitu adanya kesulitan menemukan ketenangan dalam
kegiatan keagamaan (Achir Yani, 2012).

DAFTAR PUSTAKA

Achir Yani, 2012. Aspek spiritual dalam keperawatan, Jakarta, Widya Medika.

Cobb, M., Puchalski, C. M. & Rumbold, B., 2012. Oxford Textbook of Spirituality
in Healthcare. 1st penyunt. New York: Oxford University Press.
Dossey & Keegan. (2009). Holistic nursing. Edisi 5. American holistic nurses
association.

Good, Jenifer J. 2010. Desertasi. Integration of spirituality and cognitif-


behavioral Therapy for the Treatment of Depression. PCOM. Psycology
Disertation. Paper 5

Hamid, A.Y.S. 2009. Bunga Rampai Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa.


Jakarta: EGC.

Hana , Nur Arini. (2013). Hubungan Spritualitas Perawat Dan Kompetensi Asuhan
Spritual. Fakultas Ilm Kesehatan Universitas Jendral Soedirman.

Hudak, C. M. (2010). Keperawatan kritis : Pendekatan Holistik, edisi 6, Volume 1.


Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Kozier,B.,Glenora Erb, Audrey Berman dan Shirlee J.Snyder. (2010). Buku Ajar
Fundamental Keperawatan ( Alih bahasa : Esty Wahyu ningsih, Devi yulianti,
yuyun yuningsih. Dan Ana lusyana ). Jakarta :EGC

Potter, Perry. (2010). Fundamental Of Nursing: Consep, Proses and Practice. Edisi
7. Vol. 3. Jakarta : EGC

Saryono, Anggriyana Tri Widianti. 2010. Catatan Kuliah Kebutuhan Dasar


Manusia (KDM).Yogyakarta : Nuha Medika.

Sianturi, F. L. (2014). Risperidone and Haloperidol Comparative Effects of


Positive Symptoms Patient Schizophrenic. Journal of Biology, Agriculture and
Healthcare, Vol. 04 No. 28.

Yuanita. (2014). Pengetahuan Dan Sikap Perawat Memenuhi Kebutuhan Spiritual


Pasien Kritis Dengan Implementasi Keperawatan.Journal of Ners Community
Vol 5 No 1

Yusuf, A., 2015, Pengaruh Terapi Keluarga dengan Pendekatan Spiritual DOA
terhadap Coping Keluarga dalam Merawat Pasien Gangguan Jiwa, Disertasi,
Program Studi S3 Ilmu Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga Surabaya.

Yusuf, Ah dkk. 2016. Kebutuhan Spiritual Konsep dan Aplikasi dalam Asuhan
Keperawatan. Jakarta : Mitra Wacana Media.