Anda di halaman 1dari 46

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Konsep Colic Abdomen

1.1 Definisi Colic Abdomen

Kolik Abdomen adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang traktus
intestinal (Nettina, 2001). Obstruksi terjadi ketika ada gangguan yang
menyebabkan terhambatnya aliran isi usus tetapi peristaltiknya normal (Reeves,
2001).
Nyeri kolik abdomen merupakan nyeri yang dapat terlokalisasi dan
dirasakanseperti perasaan tajam. Mekanisme terjadinya nyeri ini adalah karena
sumbatan baik parsial ataupun total dari organ tubuh berongga atau organ yang
terlibattersebut dipengaruhi peristaltik.
Nyeri abdomen dihasilkan dari 3 jalur yaitu (Mahadevan, 2005):
1. Nyeri abdomen visera
Biasanya disebabkan karena distensi organ berongga atau penegangan kapsul
dari organ padat. Penyebab yang jarang berupa iskemi atauinflamasi ketika
jaringan mengalami kongesti sehingga mensensitisasi ujung saraf nyeri visera
dan menurunkan ambang batas nyerinya. Nyeri inisering merupakan
manifestasi awal dari beberapa penyakit atau beruparasa tidak nyaman yang
samar-samar hingga kolik. Jika organ yang terlibatdipengaruhi oleh gerakan
peristaltik, maka nyeri sering dideskripsikansebagai intermiten, kram atau
kolik.Pada nyeri ini, karena serabut saraf nyeri bilateral, tidak bermielin
danmemasuki korda spinalis pada tingkat yang beragam, maka nyeri
abdomen visera ini biasanya terasa tumpul, sulit dilokalisasi dan dirasakan
dibagiantengah tubuh. Nyeri visera berasal dari regio abdomen yang merujuk
padaasal organ secara embrionik. Struktur foregut seperti lambung,
duodenum, liver, traktus biliaris dan pankreas menghasilkan nyeri abdomen
atas, sering dirasakan sebagai nyeri regio epigastrium. Struktur
midgut seperti jejunum, ileum, apendiks, dan kolon asenden menyebabkan

36
nyeri periumbilikus. Sedangkan struktur hindgut seperti kolon transversal,
kolondesendens dan sistem genitourinary menyebabkan nyeri abdomen
bagian bawah.

2. Nyeri abdomen parietal (somatik)


Nyeri abdomen parietal atau somatik dihasilkan dari iskemia, inflamasiatau
penegangan dari peritoneum parietal. Serabut saraf aferen yang bermielinisasi
mentransmisikan stimulus nyeri ke akar ganglion dorsal pada sisi dan
dermatomal yang sama dari asal nyeri. Karena alasan inilah nyeri parietal
berlawanan dengan nyeri visera, sering dapat dilokalisasiterhadap daerah asal
stimulus nyeri. Nyeri ini dipersepsikan berupa tajam,seperti tertusuk pisau
dan bertahan; batuk dan pergerakan dapat memicunyeri tersebut. Kondisi ini
mengakibatkan dalam pemeriksaan fisik dapatdicari tanda berupa rasa
lembut, guarding, nyeri pantul dan kaku padaabdomen yang dipalpasi.
Tampilan klinis dari appendicitis dapat berupanyeri visera dan somatik. Nyeri
pada apendisitis awal sering berupa nyeri periumbilikus (visera) tapi
terlokalisasi di regio kuadran kanan bawahketika inflamasi menyebar ke
peritoneum (parietal).

3. Nyeri alih
Nyeri alih adalah nyeri yang dirasakan pada jarak dari organ yang sakit. Nyeri
ini dihasilkan dari jalur-jalur neuron aferen sentral yang berasal dari lokasi
yang berbeda. Contohnya adalah pasien dengan pneumonia mungkin merasakan
nyeri abdomen karena distribusi neuron T9 terbagi oleh paru-paru dan abdomen.
Contoh lainnya yaitu nyeri epigastrium yang berhubungan dengan Infark
miokard, nyeri di bahu yang berhubungan dengan iritasi diafragma (contoh,
rupture limpa), nyeri infrascapular yang berhubungan dengan penyakit biliar
dan nyeri testicular yang berhubungan dengan obstruksi uretra.

2
1.2 Etiologi

1. Mekanis

1. Adhesi/perlengketan pasca bedah.

2. Karsinoma.

3. Volvulus.

4. Intusesupsi.

5. Obstipasi.

6. Polip.

7. Striktur.

2. Fungsional (non mekanik)

1. Ileus paralitik

2. Lesi medulla spinalis.

3. Enteritis regional.

4. Ketidakseimbangan elektrolit.

5. Uremia.

3. Etiologi lain yang mungkin bisa muncul, yaitu :

1) Inflamasi peritoneum parietal : perforasi peritonitis, appendicitis, diverti

kulitis, pankreanitis, kolesistitis.

2) Kelainan mukosa visceral.

3) Obstruksi visceral.

3
4) Regangan kapsula organ

5) Gangguan vaskuler

6) Gangguan motilitas

7) Ekstra abdominal.

1.3 Manifestasi klinis Colic Abdomen

Obstruksi memiliki karakteristik berupa pasial atau komplit dengansederhana


atau strangulasi. Manifestasinya dapat berupa (Mahadevan, 2009):
1. Nyeri perut (karakteristik pada kebanyakan pasien.
2. Nyeri, sering digambarkan sebagai kram dan intermiten, yang
lebihmenonjolpada obstruksi sederhana.
3. Seringkali, tampilan klinis dapat memberikan petunjuk kepada
perkiraanlokasidan sifat obstruksi. Nyeri berlangsung selama beberapa hari,
yang menjadi progresif dan dengan distensi perut, mungkin khas untuk
obstruksi yang lebih distal.
4. Perubahan karakter nyeri dapat menunjukkan perkembangan komplikasi
yang lebih serius (misalnya, nyeri konstan usus strangulasi atau iskemik).
5. Mual
6. Muntah, yang lebih berhubungan dengan obstruksi proksimal
7. Diare (temuan awal)
8. Sembelit (sebuah temuan akhir) yang dibuktikan dengan tidak
adanyagerakanusus atau buang angin.
9. Demam dan takikardia, terjadi belakangan dan mungkin terkait dengan
strangulasi.
10. Riwayat operasi abdomen atau pelvis dahulu
11. Riwayat keganasan (terutama ovarium dan usus)

4
1.4 Patofisiologi Colic Abdomen

Penyebab dari colic adalah menyebabkan inflamasi obstruksi dan perdarahan

pada abdomen. Dari hal ini abdomen menjadi tidak nyamandan menimbulkan

rasa nyeri. Dari hal ini sendiri dapat menimbulkan banyak masalah-masalah

lain yang dapat muncul pada pasien colic abdomen.

1.5 PathwayColicAbdomen

1.6 Pemeriksaan Penunjang


1. Sinar x abdomen menunjukkan gas atau cairan di dalam usus

5
2. Barium enema menunjukkan kolon yang terdistensi, berisi udara atau lipatan
sigmoid yang tertutup.
3. Penurunan kadar serum natrium, kalium dan klorida akibat muntah;
peningkatan hitung SDP dengan nekrosis, strangulasi atau
peritonitisdanpeningkatan kadar serum amilase karena iritasi pankreas oleh
lipatan usus.
4. Arteri gas darah dapat mengindikasikan asidosis atau alkalosis metabolik.

1.7 Penatalaksanaan

Tatalaksana awal di ruang gawat darurat meliputi resusitasi cairan secara agresif,
dekompresi usus halus, pemberian analgetik dan antiemeticdengan indikasi
klinis, antibiotik dan konsultasi operasi yang dini. Dekompresi dilakukan dengan
cara memasang selang NGT untuk dilakukan suction terhadap isis GI dan untuk
mencegah aspirasi. Tidak lupa juga untuk selalu memonitor jalan napas,
pernapasan dan sirkulasi (Mahadevan, 2009).

6
BAB II

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1.1 Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah pertama dari proses keperawatan melalui

kegiatan pengumpulan data atau perolehan data yang akurat dari klien guna

mengetahui berbagai permasalahan yang ada.

1. Identitas

2. Riwayat Penyakit

1. Keluhan utama :

Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan klien sehingga

menyebabkan klien datang untuk mencari bantuan kesehatan (Aziz,

2013).

2. Riwayat Penyakit Sekarang:

Bagaimana awal mula gejala timbul, lokasi, kualitas, dan factor yang

mempengaruhi dan juga yang memperberat keluhan sehingga di bawa ke

RS.

3. Riwayat Penyakit Dahulu

Mengkaji apakah klien pernah sakit seperti ini dan apakah kloen

menderita HT atau penyakit keturunna lainnya yang dapat

mempengaruhi proses penyembuhan saat ini.

7
4. Riwayat Penyakit Keluarga

Gambaran mengenai kesehatan keluarga dan apakah penyakit keturunan

atau menular.

3. Pola Fungsi Kesehatan

1. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan

Apakah ada perubahan penatalaksanaan dan pemeliharaan kesehatan

sehingga dapat menimbulkan perawatan diri.

2. Pola Aktivitas Latihan


Hal ini penting untuk dikaji sehingga perawat megetahui aktivitas yang

dilakukan klien saat sehat. Apakah ada kelemahan atau kelelahan.

(Anywati,2012)

3. Pola Nutrisi dan metabolic


Apakah terjadi gangguan nutrisi karena klien merasakan nyeri sehingga

tidak toleran terhdapa makanann dan klien selalu ingin muntah.

4. Pola Istirahat dan tidur


5. Pola Toleransi dan Koping Terhadap Stress
Tanyakan tentang mekanisme koping yang digunakan pada saat

terjadinya masalah atau kebiasaan menggunakan mekanisme koping

serta tingkat intoleransi stress yang pernah dimiliki (Aziz, 2013).


6. Konsep Diri
Tanyakan tentang persepsi diri klien dari masalah-masalah yang ada,

seperti perasaan cemas, takut atau penilaian terhadap diri, mulai dari

peran, ideal, konsep gambaran, dan identitas diri (Aziz, 2013).

7. Pola Seksual dan Reproduksi


Tanyakan tentang periode menstruasi terakhir (PMT), masalah

menstruasi hormonal, masalah pap semear, pemeriksaan payudara

8
(perempuan)/ testis (laki-laki) sendiri tiap bulan, dan masalh seksual

yang berhubungan dengan penyakit(Aziz, 2013).

8. .Pola Hubungan dan Peran


Tanyakan pekerjaan, status pekerjaan, ketidakmampuan bekerja,

hubungan dengan klien hingga keluarga, dan peran yang dilakukan

(Aziz, 2013).

9. Pola Nilai dan Keyakinan


Tanyaklan tentang pantangan dalam agama selama sakit serta kebutuhan

adanya rohaniawan, dll (Aziz, 2013)

3. Pemeriksaan Fisik

1. Status kesehastan umum

Akan terjadi nyeri perut yang hebat akibat proses penyakitnya.

2. Sistem respirasi

Sesuai dengan derajat nyerinya, jika nyerinya ringan kemungkinan tidak terjadi

sesak tetapi apabila derajat nyeri hebat aka nada kemungkinan klien sesak.

3. Sistem kardiovaskuler.

Bisa terjadi takikardia dan disritmia atau adanya penyakit yang lainnya.

4. Sistem persyarafan

Nyeri abdomen, pusing atau sakit kepala karena sinar

5. Sistem gastrointestinal

9
Pada sistem gastrointestinal ini didapatkan intoleran terhadap makanan/ nafsu

makan menurun dan muntah.

6. Sistem eliminasi

Klien dapat mengalami konstipasi akibat dari intoleran terhadap makanan.

4. Diagnose Keperawatan

4.1. Nyeri (akut) berhubungan dengan peningkatan asam lambung


Intervensi :
1) Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitas
2) Ajarkan prinsip manajemen nyeri.
3) Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi.
4) Berikan lingkungan yang nyaman untuk pasien.
5) Kolaborasi untuk pemberian analgetik.
6) Observasi skala nyeri.
7) Observasi tanda-tanda vital.

4.2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake inadekuat


Intervensi:
1) Kaji asupan nutrisi pasien
2) Monitor adanya penurunan BB
3) Monitor frekuensi mual dan muntah.
4) Observasi BB .
5) Anjurkan pasien untuk makan sedikit tetapi sering
6) Anjurkan pasien untuk makan selagi hangat.
7) Kolaborasi untuk pemberian anti emetic.

10
11
BAB III

Asuhan Keperawatan Pada Ny. S dengan Colic Abdomen

Tgl masuk : 11-07-2018 jam 11.46

Tgl pengkajian : 12-07-2018 jam 12.00

No.RM : 101904

1.1 PENGKAJIAN

1.1.1 Biodata

Nama : Ny. S

Umur : 94 th

Jenis kelamin : Perempuan

Suku bangsa : Jawa

Status perkawinanan : Pernah Kawin

Agama : Budha

Pendidikan : SD

Pekerjaan : IRT

Diagnosa medis :Colic Abdomen

1.1.2 Keluhan utama

Nyeri Perut

1.1.3 Riwayat alergi

Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi.

12
1.1.4 Riwayat penykit sekarang :

Pasien mengatakan sejak 2 hari lalu pada tanggal 08-07-2018 nyeri perut

disertai mual muntah lebih dari 10x, tidak nafsu makan,pusing, badan

lemas.Nyeri perut tiba-tibasetelah telat makan seperti ditusuk-tusukdan

terasa panas hingga tembus punggung,nyeri pada dibagian ulu hati skala

nyeri 8nyeri dirasakan hilang timbul sejak malam tgl 10-07-18 pada pukul

22.00, nyeri berkurang setelah minum obat lambung. Pada tanggal 11-07-

2018 jam 10.00 pasien datang ke IGD nyeri ulu hati tembus ke punggung

sudah 2 hari, saat di IGD pasien mengatakan pasien disarankan untuk MRS,

advis dr IGD: pasang inf NS 20tpm, inj ranitidine 50mg (iv) jam 11.50, inj

ondasentron 4mg (iv) jam 11.55, lab DL,GDA (115mg/dl). Px MRS di ruang

PP,dirawat oleh dr. M, dilakukan pemeriksaan usg abdomen dan mendapat

tx Inj Ondasentron 8mg (ekstra), braxidin (P.O) 2x1, Lancid (PO) 1x.Saat

pengkajian pasien mengatakan nyeri perut tiba-tiba setelah telat makan,

nyeri seperti ditusuk-tusuk, nyeri pada ulu hati tembus ke punggung, nyeri

dirasakan hilang timbul. Di dapatkanTTV TD: 140/90 N: 88x/i S: 36,8

RR:26x/i spo2: 98, BB: 49kg, pasien mengatakan BB sebelum sakit 50 kg.

Px tampak kesakitan.

1.1.5 Riwayat penyakit dahulu

Pasien mengatakan riwayat stroke sejak 4 tahun yang lalu dirawat di RS Panti

Nirmala lemas badan sebelah kanan danriwayat sakit maag . Pasien rutin

minum obat Inpepsa,Livron, dan Isosorbid Dinitrate.

13
1.1.6 Riwayat penyakit keluarga

Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit keturunan dari keluarga

seperti Diabetes Melitus dan Hipertensi. Pasien juga mengatakan tidak

memiliki riwayat penyakit menular seperti TBC dan HIV.

1.1.7 Data psikosososial

1. Konsep diri

1. Gambaran diri: pasien mengatakan penyakit yang dideritanya adalah

cobaan Tuhan.

2. Harga diri: pasien mengatakan tidak merasa malu dengan dirinya saat ini.

3. Identitas diri: pasien dapat mengenali dirinya terbukti dari pasien dapat

menyebutkan nama dan tanggal lahirnya.

4. Peran diri: pasien mengatakan dirinya berperan sebagai ibu rumNah

tangga.

5. Ideal diri: Pasien mengatakan semoga setelah di rawat dirumah sakit ini

semoga lekas sembuh dan dapat beraktivitas seperti biasa.

2. Hubungan sosial: hubungan social pasien dengan sekitarnya baik terbukti

keluarga pasien mendampingi pasien walaupun hanya diluar ruang

perawatan.

3. Spiritual: pasien beragama budha rutin beribadah di vihara

14
4. Kecemasan: Pasien mengatakan tidak merasa cemas, karena sudah dalam

perawatan rumah sakit.

5. Kehilangan: pasien saat ini dalam tahap Acceptance pasien menerima

keadaanya saat ini.

1.1.8 Pola fungsi kesehatan

1. Pola nutrisi

Di rumah : Makan: pasien makan 3x sehari, tidak ada pantangan terhadap

makanan apapun.pasien mengatakan mampu menghabiskan 1 porsi

makannya. Jenis makanan; nasi, lauk, dan sayuran terkadang buah-

buahan.Pasien mengatakan menyukai semua jenis makanan.Minum:

pasien minum ±1500cc/hari. Jenis minuman: air putih.

Di rumah sakit : Makan: pada saat pengkajian pasien mengatakan makan

3xsehari, pasien hanya menghabiskan ¼ porsi makan yang disediakan dari

rumah sakit. Jenis makanan: nasi, lauk, sayur. Makanan yang

disiapkan adalah diet lambung.Minuman: pasien minum ±1500cc/hari.

Jenis minuman: air putih, teh,dan susu.

2. Pola eliminasi

Di rumah : BAB1 kali sehari konsistensi lembek, warna kuning,BAK 1-

2kali warna kuning jernih.

Di rumah sakit : Saat pengkajian pasien belum BAB.

15
3. Pola Kebersihan Diri

Di rumah :

Mandi: pasien mandi 2x/hari dan psien melakukan kebersihan diridengan

bantuan suster jaga.

Gosok gigi: pasien menggosok gigi 2x/hari dan pasien mengatakan dapat

melakukan kebersihan mulut dengan mandiri.

Keramas: pasien mengatakan keramas 2x/seminggu dengan bantuan suster

jaga.

Gunting kuku: pasien mengatakan gunting saat kuku panajng dengan

bantuan suster jaga.

Di rumah sakit :

Mandi: Pasien mengatakan hanya diseka oleh suster jaga.

Gosok gigi: pasien mengatakan gosok gigi dengan bantuan suster jaga.

Keramas: saat dilakukan pengkajian pasien mengatakan belum keramas.

Gunting kuku :saat dilakukan pengkajian pasien mengatakan belum

gunting kuku.

4. Pola aktifitas

Di rumah: pasien mengatakan sebelum dirawat di rumah sakit, pasien

melakukan aktivitas dengan bantuan.

Di rumah sakit: pasien melakukan aktivitasnya di tempat tidur.

16
5. Pola istirahat /tidur

Di rumah

Tidur siang ±1-2 jam/hari, kebiasaan tidur: 14.00-15.00

Tidur malam ±8 jam/hari, kebiasaan tidur 20.00- 05.00

Masalah tidur: pasien mengatakan tidak memiliki masalah dengan

polaistirahatnya.

Di rumah Sakit.:

Tidur siang pasien mengatakan tidak bisa tidur pada saat siang hari.

Tidur malam ±7jam, kebiasaan tidur jam 21.00-05.00

Masalah tidur: pasien mengatakan kadang-kadang terbangun karena

merasakan nyeri. .

1.8.6 Pemeriksaan Fisik

1) Keadaan umum: cukup

Kesadaran: Composmentis

GCS: 4-5-6.

TTV : TD :100/70 mmHg

Suhu : 39,7

Nadi :88 x/i

RR : 20x/i

SN :8

BB : 49 kg

17
2) Pemeriksaan kulit dan kuku

Inspeksi

Warna kulit : warna kulit sawo matang, bersih, persebaran warna kulit

merata.

Palpasi

Kondisi kulit: lembab, tidak ada kemerahan, tidak terdapat ruam dan

sebagainya.

CRT: kembali < 2 detik

3) Pemeriksaan kepala

Inspeksi

Bentuk kepala: Normochepal

Rambut: rambut sedikit lembab, warna rambut putih (beruban)tidak

terdapat ketombe.

Massa: tidak terdapat massa pada seluruh bagian kepala.

Palpasi

Kepala: Tidak teraba benjolan pada kepala.

4) Pemeriksaan mata

Inspeksi

Mata: simetris kiri kanan

Bola mata: normal, tampak cowong.

18
Sklera: berwarna putih susu

Pupil: Isokor +2/+2

Konjungtiva: berwarna merah muda

Palpasi

Mata: tidak teraba nyeri tekan di sekitar mata

5) Pemeriksaan hidung

Inspeksi: lubang hidung simetris,tidak terdapat nyeri tekan pada hidung

pasien, tidak terdapat produksi secret berlebih, septum nasi tepat

berada ditengah.

Palpasi: Tidak terdapat nyeri tekan pada semua sinus.

6) Pemeriksaan telinga

Inspeksi : Daun telinga tampak simetris,kondisi lubang telinga tidak

terdapat luka, massa dan tidak terdapat produksi serumen berlebih.

Palpasi: tidak ada nyeri tekan pada tragus.\

7) Pemeriksaan mulut

Inspeksi

Bibir : tampak kering, tidak terdapat luka.

Gigi : bersih.

Gusi : tidak terdapat perdarahan maupun stoma.

Lidah : tampak bersih, tidak terdapat stoma.

19
Uvula : tepat berada ditengah,tidak ada kemerahan.

Tonsil : T1, tidak terjadi pembengkakan pada tonsil.

8) Pemeriksaan leher

Inspeksi: Warna kulit tersebar merata, tidak terdapat pembengkakan

pada kelenjar, dan tidak terdapat luka.

Palpasi: Kelenjar tiroid: tidak teraba massa pada kelenjar tiroid.

Vena jugularis: tidak teraba Wdistensi vena jugularis.

Trakea: tidak terdapat retraksi trakea.

Kelenjar limfe:Tidak terdapat pembekakan pada kelenjar limfe

9) Pemeriksaan thorak

Inspeksi: bentuk dada normal, pergerakan dada normal, tidak terdapat

luka maupun massa.

Palpasi: pergerakan dada simetris.

Perkusi: terdengar sonor di kedua lapang paru dan terdengar pekak

pada ICS 2-5 sebelah kiri.

Auskultasi: tidak terdapat suara nafas tambahanpada paru.

Suara nafas tambahan

Wheezing Ronchi
- - -
-- -
-
- -
- -
-

20
10) Pemeriksaan Jantung

Inspeksi :tidak tampak ictus cordis di ICS 5 midclavicula

line sinistra.

Palpasi :teraba ictus cordis pada ICS 5 midclav icula line

sinistra.

Perkusi :terdengar pekak pada batas ICS 3-5 midclavicula

line sinistra.

11) Pemeriksaan abdomen

Inspeksi: persebaran warna kulit merata, tidak terdapat luka,

tidak terdapat acites dan massa.

Auskultasi: peristaltic usus= 12x/i

Palpasi:Tidak terdapat nyeri tekan di seluruh lapang perut.

Perkusi :Terdengar timpani pada daerah lapang perut

21
12) Pemeriksan muskuloskeletal

Inspeksi: simetris kanan dan kiri, warna normal samadengan

daerahsekitar,ekstremitas atas dan bawah sebelah kiri lemas. Tampak

terpasang infus NS di tangan kiri.

Palpasi: akral hangat.

Kekuatan otot: 4 5

45

1.9 Pemeriksaan penunjang

Tanggal Pemeriksaan Hasil Normal


11-07-2018 1. darah lengkap
Jumlah leukosit 10.91 4.0-11.0
Jumlah eritrosit H 5.08 4.00 – 5.00
Hemoglobin H 15.5 11.5 – 15.0
Hematokrit 44.6 37.0 – 45.0
Mcv 87.8 82.0 – 92.0
Mch 30.5 27.0 – 31.0
Mchc 34.8 32.0 – 37.0
Jumlah trombosit 319 150 – 400
RDW-SD 46 35 – 47
RDW-CV 14.3 11.5 – 14.5
PDW 10.6 9.0 – 13.0
MPV 9.5 7.2 – 11.1
P-LCR 20.9 15.0 – 25.0
PCT 0.300 0.150 – 0.400
2. hitung jenis
Neutrofil H 86.0 50 – 70
Limfosit L 9.3 20 – 40
Monosit 4.4 2–8
Eosinofil L 0.2 1–3
Basofil 0.1 0–1
Jumlah neitrofil H 9.4 1.5 – 7.0
Jumlah limfosit 1.0 1.0 – 3.7
Jumlah monosit 0.48 0.16 – 1.00
Jumlah eosinofil 0.0 0 – 0.8
Jumlah basofil 0.0 0 – 0.2
11-07-18 USG Abdomen Hydrop gallbladder dengan

22
Nama dan dosis obat Pemberian Fungsi obat
Ranitidine 50 mg Ekstra (di IGD) Ranitidine

berfungsi untuk

mengatasi
batu multiple didalamnya.
Hypoplasia rend extra. gejala penyakit

akibat produksi

asam lambung
1.10
yang berlebih.
Terapi Ondansentron 8 mg Ekstra 8 mg (di IGD) 0ndansentron

berfungsi untuk

mencega dan

mengobati

mual muntah
Braxidin tab 1-0-1 Braxidin

berfungsi untuk

mengendalikan

factor

emosional dan

somatic pada

gangguan

gastrointestinal.
Lansoprazole tab 0-0-1 Lansoprazole

berfungsi untuk

mengatasi

gangguan pada

sistem

pencernaan

akibat produksi

asam lambung

yang
23
berlebihan,

seperti sakit

maag dan tukak


2. ANALISA DATA

Nama : Ny.S No Register :1799xx

Umur : 94 th Diagnosa: Colic Abdomen

Tgl Data Masalah Etiologi


10/01/18 S: Nyeri akut Reaksi inflamasi
- P : pasien mengatakan
Pembengkakan
perut tiba-tiba nyeri ulu
Ulserasi
hati setelah telat makan.
- Q : pasien mengatakan Lesi pada mukosa

nyeri seperti ditusuk- lambung

tusuk. Iritasi pada mukosa


- R : pasien mengatakan
lambung
nyeri ulu hati
- S : pasien mengatakan
Nyeri akut
skala nyeri 8
- T : pasien mengatakan

nyeri hilang timbul


O:
- Kesadaran :

composmentis
- GCS : 4-5-6
- Pasien tampak lemas
- TD: 150/90 mmHg
- SN: 8
- Pasien tampak bedrest

24
ADL di bantu suster jaga
10/07/18 S: Gangguan kebutuhan Reasksi inflamasi
- Pasienmengatakan
nutrisi Pembengkakan
mual,muntah mulai
Ulserasi
malam lebih dari 10x
- Pasien mengatakan tidak
Infeksi
nafsu makan saat di RS
Mengeluaran toksin
dikarenakan mual.
- Pasien mengatakan Badan Meningkatnya motilitas

terasa lemas Absorbsi


- Pasien mengatakan BB
Gangguan kebutuhan
sebelum sakit 50 kg.
nutrisi
O:

- Kesadaran :

composmentis
- GCS : 4-5-6
- BB saat di RS : 49kg
- Pasien Tampak lemas
- Bibir tampak kering
- Pasien tampak bedrest
- Pasien hanya

menghabiskan ¼ porsi

makanan yang disediakan

25
3. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan asam lambung

2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake inadekuat

4. RENCANA KEPERAWATAN

Nama : ny. S No Register :

Umur : 94 th Diagnosa Medis : Colic Abdomen

Hari/tanggal No.dx Tujuan Intervensi Rasional

11-07-2018 2. . Tujuan umum: 1 Kaji status nutrisi pasien 1 Pengkajian penting

Kebutuhan nutrisi pasien ( ada tidaknya penghambat dilakukan untuk

dapat terpenuhi setelah pemenuhan nutrisi seperti mengetahui status

dilakukan asuhan keperawatan mual,muntah,anoreksia) nutrisi pasien

selama 3x24 jam. sehingga dapat

Tujuan khusus: menentukan


2 Anjurkan pasien untuk
Asupan nutrisi pasien dapat intervensi yang
meningkatkan intake
sesuai kebutuhan tubuh diberikan.
26
setelah dilakukan asuhan makanan seperti makan 2 peningkatan intake

keperawatan selama 1x24jam. dalam porsi kecil tapi makanan dapat

Kriteria Hasil: seringpemberian nutrisi membantu

1. Nafsu makan yang sesuai dengan mempertahankan

bertambah kebutuhan pasien kondisi klien agar


2. Mual dan muntah
tetap stabil dan
berkurang
3. Makan habis 1 porsi 3 Berikan penyuluhan yang mencegahkeaadaan

tepat terhadap pasien malnutrisi.


3 Dengan
gastritis tentang kebutuhan
memberikan
nutrisi yang tepat dan
penyuluhan kepada
sesuai.
pasien diharapkan

dapat membantu

untuk memenuhi

kebutuhan nutrisi

yang dibutuhkan
4 Kaji frekuensi mual,
pasien.
durasi, tingkat keparahan, 4 Pengkajian tentang
27
faktor yang menyebabkan frekuensi mual,

mual. durasi dan tingkat

keparahan mual

dapat menentukan

intervensi

5 Anjurkan pasien untuk selanjutnya.


5 Dengan
makan selagi hangat.
menganjurkan

pasien untuk makan

selagi hangat dapat

mengurangi rasa

mual.

11.07.2018 1. Tujuan umum: 1 Lakukan pengkajian nyeri 1 Pengkajian nyeri

Nyeri pasien dapat berkurang secara komprehensif secara

setelah dilakukan asuhan termasuk lokasi, frekuensi, komprehensif dapat

keperawatan selama 3x24 jam. kualitas, factor presipitasi. mengetahui

Tujuan khusus: seberapa nyeri

28
Terjadi penurunan asam pasien saat ini.
2 Reaksi nonverbal
lambung setelah dilakukan 2 Observasi reaksi
menunjukan
asuhan keperawatan selama nonverbal dari
intensitas nyeri
2x24jam. ketidaknyamanan.
yang dirasakan
Kriteria hasil:
pasien.
a Dapat mengontrol 3 Komunikasi

nyeri (tahu penyebab terapiutik dapat

nyeri,dapat 3 Gunakan tehnik membuat pasien

menggunakan tehnik komunikasi terapiutik merasa tenang

nonfarmakologi untuk untuk mengetahui dan

mengurangi nyeri) pengalaman nyeri. ,membantumenbgur


b Melaporkan bahwa
angi rasa nyeri.
nyeri sudah berkurang 4 Relaksasi dan

dengan dilakukan distraksi dapat

management nyeri. membantu


c Mengatakan rasa 4 Ajarkan tentang tehnik
mengurangi nyeri
nyaman setelah nyeri non farmakologi dengan
dengan
berkurang. bantuan relaksasi dan
29
distrakasi. mengalihkan

perhatian pasien.
5 Lingkungan dapat

mempengaruhi

nyeri pasien seperti


5 Kontrol lingkungan yang
suhu dingin dapat
dapat mempengaruhi nyeri
meningkatkan nyeri
seperti suhu
pada pasien,
runagan,pencahayaan, dan
lingkungan yang
kebisingan.
ramai dapat

meningkatkan nyeri

pasien.
6 Jika nyeri

bertambah nadi dan

tekanan darah akan

6 Observasi TTV meningkat.


7 Pemberian obat anti

nyeri dapat

30
membantu pasien

7 Kolaborasi dengan dokter dalam mengurangi

tentang pemberian obat nyeri.

anti nyeri.

31
5. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Nama :Ny.S No Register `:


Umur : 92 th Diagnosa Medis : Gastritis + Obs Vomiting

Hari/tanggal/ja No. dx Implementasi TTD

m
1. 1. Mengkaji status nutrisi pasien ( ada

tidaknya penghambat pemenuhan nutrisi

seperti mual,muntah)
2. Menganjurkan pasien untuk

meningkatkan intake makanan seperti

makan dalam porsi kecil tapi sering


3. Memberikan penyuluhan yang tepat

terhadap pasien gastritis tentang

kebutuhan nutrisi yang tepat dan sesuai.


4. Mengkaji frekuensi mual, dan faktor

yang menyebabkan mual.


5. Menganjurkan pasien untuk makan selagi

hangat.
2. 1. Mengkaji skala nyeri secara

komprehensif termasuk lokasi,

frekuensi, kualitas, factor presipitasi.


2. Mengobservasi reaksi nonverbal dari

ketidaknyamanan.
3. Menggunakan tehnik komunikasi

terapiutik untuk mengetahui

pengalaman nyeri.
4. Mengajarkan tentang tehnik non

farmakologi dengan bantuan relaksasi

32
dan distrakasi.
5. Mengkontrol lingkungan yang dapat

mempengaruhi nyeri seperti suhu

runagan,pencahayaan, dan

kebisingan.
6. Mengobservasi TTV.
7. Berkolaborasi dengan dokter tentang

pemberian obat anti nyeri.


1. 1. Mengkaji status nutrisi pasien ( ada

tidaknya penghambat pemenuhan

nutrisi seperti mual,muntah)


2. Menganjurkanpasien untuk

meningkatkan intake makanan

seperti makan dalam porsi kecil tapi

sering.
3. Memberikan penyuluhan yang tepat

terhadap pasien gastritis tentang

kebutuhan nutrisi yang tepat dan

sesuai.
4. Mengkaji frekuensi mual, durasi,

tingkat keparahan, faktor yang

menyebabkan mual.
5. Menganjurkan pasien untuk makan

selagi hangat.
2. 1. Mengkaji skala nyeri secara

komprehensif termasuk lokasi,

frekuensi, kualitas, factor presipitasi.


2. Mengobservasi reaksi nonverbal dari

33
ketidaknyamanan.
3. Menggunakan tehnik komunikasi

terapiutik untuk mengetahui

pengalaman nyeri.
4. Mengajarkan tentang tehnik non

farmakologi dengan bantuan relaksasi

dan distrakasi.
5. Mengkontrol lingkungan yang dapat

mempengaruhi nyeri seperti suhu

runagan,pencahayaan, dan

kebisingan.
6. Mengobservasi TTV.
7. Berkolaborasi dengan dokter tentang

pemberian obat anti nyeri.


1. 1. Mengkaji status nutrisi pasien ( ada

tidaknya penghambat pemenuhan

nutrisi seperti mual,muntah)


2. Menganjurkan pasien untuk

meningkatkan intake makanan

seperti makan dalam porsi kecil tapi

sering.
3. Memberikan penyuluhan yang tepat

terhadap pasien gastritis tentang

kebutuhan nutrisi yang tepat dan

sesuai.
4. Mengkaji frekuensi mual, muntah,

dan faktor yang menyebabkan mual.


5. Menganjurkan pasien untuk makan

34
selagi hangat.
2. 1. Mengkaji skala nyeri secara

komprehensif termasuk lokasi,

frekuensi, kualitas, factor presipitasi.


2. Mengobservasi reaksi nonverbal dari

ketidaknyamanan.
3. Menggunakan tehnik komunikasi

terapiutik untuk mengetahui

pengalaman nyeri.
4. Mengajarkan tentang tehnik non

farmakologi dengan bantuan relaksasi

dan distrakasi.
5. Mengkontrol lingkungan yang dapat

mempengaruhi nyeri seperti suhu

runagan,pencahayaan, dan

kebisingan.
6. Mengobservasi TTV.
7. Berkolaborasi dengan dokter tentang

pemberian obat anti nyeri.

5. EVALUASI

Nama :Ny.S No Register :


Umur : 94 th Diagnosa Medis : Gastritis + Obs Vomiting

Hari/tanggal/jam No Dx Evaluasi TTD


1 S:
- pasien mengatakan masih mual.
- pasien mengatakan muntah 2x.
35
- pasien mengatakan tidak nafsu makan.
O :
- Keadaan umum lemah
- Kesadaran composmentis
- Klien tampak hanya menghabiskan ¼

porsi makanan yang di berikan


- Bibir kering
- Akral hangat

Tekanan Darah : 130/80mmHg


Nadi : 88x/menit
Pernafasan : 18 x/menit

Suhu : 37,30C
BB : 49 kg

A :
Gangguan kebutuhan nutrisi teratasi sebagian
P :
Lanjutkan intervensi 1-5
2 S :
- Pasien mengatakan masih nyeri pada

perutnya tetapi sudah sedikit berkurang.


- Pasien mengatakan skala nyeri 6
- Pasien mengatakan nyeri seperti ditusuk-

tusuk.
O :
- Keadaan Umum : lemah
- Kesadaran : Composmentis
- GCS :4-5-6
- Pasien tampak menahan sakit.
- TTV :

Tekanan Darah : 130/90mmHg


Nadi : 90x/menit
Pernafasan : 18 x/menit

Suhu : 37.30C
SN :6

A :
Nyeri akut teratasi sebagian
P :
36
Lanjutkan Intervensi 1-7

1 S :
- Pasien mengatakan masih mual tetapi sudah

berkurang.
- Pasien mengatakan sudah tidak muntah hari

ini.
- Pasien mengatakan bisa menghabiskan ½

porsi makan yang sudah disediakan.

O :

- Keadaan Umum : Cukup


- Kesadaran : Composmentis
- GCS :4-5-6
- Bibir tampak lembab
- TTV :

Tekanan Darah : 120/90mmHg


Nadi : 80x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,50C
BB : 49 kg
A :
Gangguan kebutuhan nutrisi teratasi

sebagian
P :

Lanjutkan intervensi

2. S :
- pasien mengatakan nyeri sudah berkurang.
- Pasien mengatakan skala nyeri sudah

berkurang 4
- Pasien mengatakan myeri seperti ditusuk-

tusuk.
O :
- Keadaan cukup
- Kesadaran :composmentis

37
- GCS : 4-5-6
- TTV:
- TD :120/90 mmHg
- N : 80x/i
- RR : 20x/I
- S: 36,5 C
- SN : 4
A :
Nyeri akut teratasi sebagian
P :
Lanjutkan intervensi 1-7
1. S :
- Pasien mengatakan sudah tidak mual
- Pasien mengatakan sudah tidak muntah hari

ini.
- Pasien mengatakan bisa menghabiskan ¾

porsi makan yang sudah disediakan.

O :

- Keadaan Umum : Cukup


- Kesadaran : Composmentis
- GCS :4-5-6
- Bibir tampak lembab
- TTV :

Tekanan Darah : 120/70mmHg


Nadi : 90x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,40C
BB : 50 kg

A :
Gangguan kebutuhan nutrisi teratasi
P :

Hentikan intervensi
2. S :
- Pasien mengatakan nyeri sudah berkurang.
- Pasien mengatakan skala nyeri 1

O :

- Keadaan Umum : Cukup


38
- Kesadaran : Composmentis
- GCS :4-5–6

Tekanan Darah : 120/70mmHg


Nadi : 90x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,40C
SN :1
A :
Nyeri akut teratasi
P :
Hentikan intervensi

39
BAB IV

SATUAN ACARA PENYULUHAN

4.1 SATUAN ACARA PENYULUHAN MANAGEMENT NYERI

Topic : Kolik abdomen dan penatalaksanaan nyeri

Hari/ tanggal : 13 Juli 2018

Waktu : jam 13.00 (10 menit)

Penyaji : wahyu dissa zamantha

Tempat : ruang placida pavilliun 103-2 RS Panti Waluya

1. Tujuan
1) Tujuan instruksional umum (TIU)
Seteah dilakukan penyuluhan tentang manajemen nyeri terhadap pasien,
diharapkan pasien dapat mengatasi nyeri secara nonfarmakologi.

2) Tujuan insstruksional khusus


Setelah dilakukan penyuluhan tentang manajemen nyeri selama 10 menit
diharapkan pasien dapat :

1. mengetahui pengertian dari nyeri.

2. megetahui klasifikasi nyeri.

3. mengetahui tanda dan gejala nyeri.

4. mampu menjelaskan kembai tentang manajemen nyeri.

2. Materi
Terlampir

40
3. Metode
Ceramah dan Tanya jawab

4. Media
Leaflet

5. Setting

Keterangan :

: pasien dan keluarga

6. Pelaksanaan penyuluhan : penyaji

No Waktu Kegiatan Materi Tanya jawab


.
1. 5 menit Pembuka 1. salam pembuka Menjawab
2. memperkenalkan diri salam dan
3. menjelaskan materi yang mendengarkan
akan disampaikan.
4. menjeaskan TIU dan TIK
2. 5 menit Kerja Menyampaikan materi tentang Mendengarkan
manajemen nyeri dan bertanya
Tanya jawab
3. 5 menit Penutup Menyampaikan kesimpulan Mendengarkan
Evaluasi Menjawab
Penutup pertanyaan.

MATERI PENYULUHAN

KOLIK ABDOMEN (NYERI PERUT) DAN PENATALAKSANAAN NYERI

1. Pengertian

41
Kolik Abdomen atau nyeri perut merupakan nyeri hebat yang terjadi akibat spasme
periodic pada organ perut. Banyak juga ahli yang mendefinisikan kolik abdomen sebagai
sebuah kondisi yang ditandai dengan kram atau nyeri hebat yang mungkin disertai mal
muntah. Kolik adalah rasa nyeri yang sangat kemudian hilang timbul di daerah usus atau
sekitarnya.

2. Penyebab
Penyebab Kolik Abdomen antara lain :
1) Spasme otot polos
2) Tekanan pada perut
3) Luka pada area perut
4) Peradangan pada organ dalam perut
5) Adanya kelainan pada rongga perut

3. Tanda dan gejala


1) Usia 0-3 bulan: umumnya disertai muntah
2) Usia 3 bulan-2 tahun: muntah, tiba-tiba menjerit, menangis tanpa trauma
3) Usia 2-5 tahun: sudah dapat menyatakan sakit perut tapi lokalisasi belum tepat
4) Diatas 5 tahun: dapat menerangkan sifat dan tempat nyeri yang dirasakan

4. Penatalaksanaan nyeri
4.1. Teknik relaksasi
Dengan cara menarik nafas dalam melalui hidung, kemudian mengeluarkannya secara
perlahan melalui mulut dengan gerakan lambat dan teratur
4.2. Teknik distraksi
Yaitu memfokuskan perhatian diri pada suatu hal agar lupa dengan nyeri yang
dirasakan, misalnya:
1) Menonton TV
2) Membaca buku
3) Mendengarkan music
4) Berbincang dengan orang lain
5) Pijat pada area yang nyeri
6) Kompres air hangat
7) Posisi yang nyaman
8) Membayangkan hal yang indah

5. Tujuan penatalaksanaan nyeri


1) Untuk mengurangi rasa nyeri
2) Untuk merelaksasi ketegangan otot
3) Untuk mengalihkan perhatian agar nyeri tidak terasa
4) Menghalangi rangsang nyeri untuk sampai ke otak
5) Agar rasa nyeri tidak dipersepsikan

42
BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Pertanyaan Dan Jawaban

1. Bagaimana cara menghitung tetesan infuse?


Jumlah tetesan per menit =jumlah kebutuhan cairan x factor tetes
Waktu (jam) x 60 menit
Keterangan :
Factor tetes merk otsuka = 15 tetes/ml
Factor tetes merk terumo = 20 tetes/ml

2. Berapa program cairan yang dibutuhkan pasien anda?


Cairan yang dibutuhkan dari pasien saya yaitu 2000cc/24jam

3. Jelaskan pengertian dari hasil USG?


Adanya batu pada kantong empedu yang terjadi akibat sumbatan outlet dari kanong
empedu dan umumnya disbebabkan oleh batu yang terkena dileher kantong empedu atau
di saluran kistik.

4. Sebutkan manajemen nyeri yang ada di RS


Non farmakologi :
Tekhnik relaksasi dan distraksi.
Farmakologi :
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik.

43
5. Nyeri dibagi menjadi menjadi berapa?
Nyeri ringan : dilakukan dengan bantuan non farmaklogi
Nyeri sedang : dilakukan dengan bantuan farmakologi pemberian analgetik.
Nyeri berat : dilakukan dengan bantuan farmakologi pemberian analgetik

6. Bagaimana cara mengobservasi nyeri?


Untuk pemberian analgetik oral diobservasi 60 menit setelah pemberian
Untuk pemberian analgetik IV diobservasi 30 menit setelah pemberian.

7. Nutrisi yang dibutuhkan pada pasien anda ?


Nutrisi yang diberikan kepada pasien yaitu nutrisi yang rendah purin.

44
BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Asuhan keperawatan yang saya lakukan berhasil terbukti setelah dilakukan asuhan
keperawatan 3x24 jam terbukti sekala nyari pasien saya berkurang yang awal masuk skala nyeri
8 setelah saya lakukan asuhan keperawatan selama 3 hari sklanya nyeri pasien saya menjadi 1

6.2 Saran

Saran ke depanya semoga perawat lebih kreatif dan inofatif dalam mengambangkan asuhan
keperawatan, terlebih pada pasien yang sklanya nyeri tinggi, selain dengan terapi farmakoloki
kita sebagi perawat juga harus mengembangkan terapi non farmakologi.

45
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall (1995), Buku Saku Diagnosa Keperawatan dan Dokumentasi, edisi 4,
Alih Bahasa Yasman Asih. Jakarta : EGC

Long, C. Barbara (1996). Essential Of Medical – Surgical Nursing A Nursing Process


Approcach. C.V Mosby Company St Louis, USA.

Mahadevan, S. V (2005). An Introduction to Clinical Emergency Medicine. Cambridge


University Press : New York

Rothrock, C. J. 2000. Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif. Jakarta : EGC

Sjamsuhidajat & Wim De Jong. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC

Smeltzer, Suzanne C. 2002. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth, Edisi.8


Vol.3. Jakarta : EGC

Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku saku diagnosa keperawatan, edisi 8, alih Bahasa Monica
Ester, Jakarta :EGC

Daniell Jane Charett. 1995. Oncologi Nursing Care Plus, Elpaso Texas, USA Alih Bahasa
Imade Kariasa, Jakarta : EGC

Theodore R. Schrock, M. D.1992. Ilmu Bedah, Edisi 7, Alih Bahasa Drs. Med Adji Dharma,
dr. Petrus Lukmanto, Dr gunawan. Penerbit Kedokteran Jakarta : EGC

Thomas F Nelson, Jr M. D.1996. Ilmu Bedah, edisi 4, Alih Bahasa Dr. Irene Winata, dr.
Brahnu V Pendit. Penerbit Kedokteran, Jakarta : EGC

Nettina, Sandra M. Pedoman Praktik Keperawatan. Alih bahasa Setiawan dkk. Ed. 1. Jakarta :
EGC; 2001

Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih
bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.

Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And
Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998

Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih


Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994

Reeves, Charlene J et al. Medical-Surgical Nursing. Alih Bahasa Joko Setyono. Ed. I. Jakarta :
Salemba Medika; 2001

46

Anda mungkin juga menyukai