Anda di halaman 1dari 33

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Emulsi adalah system 2 fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain
dalam bentuk tetesan kecil. Emulsi dapat distabilkan dengan penambahan bahan pengelmusi yang
mencegah koalesensi, yaitu penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi
satu fase tunggal yang memisah. (Menurut Farmakope Indonesia edisi V).
Oleum Iecoris Aselli 30% emulsi cair digunakan untuk sediaan oral. Bahan dalam emulsi
ini adalah Oleum Iecoris Aselli.
Minyak ikan adalah minyak lemak yang diperoleh dari hati segar Gadus morhua Linne.
Dan spesies Gadus lainnya, dimurnikan dengan penyaringan pada suhu 00C. Potensi vitamin A
tidak kurang dari 600 UI per g, potensi vitamin D tidak kurang dari 80 UI per g. (FI edisi III hal.
457).
Emulsi oleum iecoris aselli adalah termasuk dalam emulsi spuria (emulsi buatan) yakni
emulsi dengan minyak lemak. Pembuatan emulsi minyak lemak biasanya dengan emulgator gom
arab (P.G.A) dengan konsentrasi pemakaian sebanyak 10-20% dari total volume emulsi yang akan
dibuat.(HOPE ed. 6 hal. 1)
Obat ini akan dibuat dalam bentuk sediaan emulsi dikarenakan bahan aktif yang digunakan
(levertran/minyak ikan) praktis tidak larut dalam air. Sehingga untuk memperoleh suatu sediaan
yang dapat terdispersi pada fase pendispersi nya diperlukan suatu zat pengemulsi yang biasa
disebut dengan emulsifyng agent.
Dahulu senyawa ini banyak digunakan bagi anak-anak sebagai obat pencegah penyakit
rachitis dan sebagai obat penguat pada keadaan lemah sesudah mengalami infeksi (15-30 ml
sehari).
Sediaan penggunaan ditujukan untuk anak-anak dan dewasa.
Dosis anak-anak : 1. Untuk pemeliharaan 1 x 5 ml
2. Untuk defisiensi 2 x15 ml
(Obat-Obat Penting edisi 6 hal. 849)
Dosis dewasa : 3 x 15 ml (FORNAS edisi II hal. 217)

Zat-zat yang terkandung dalam oleum iecoris aselli adalah: Vitamin A dan D, Gliserida
trimalmitat dan tristearat, kolesterol, gliserida dan asam-asam jenuh, yang disebut asam morrhuat,
berupa campuran berbagai asam : asam yakoleat, asam terapiat, asam aselat, asam gadinat,
yodium, basa-basa aselin dan morrhuin.
Efek farmakologi: Sebagai sumber vitamin A, vitamin D, asam lemak tak jenuh yang
merupakan faktor-faktor makanan dasar dan tidak terjadi dalam kandungan vitamin A dan vitamin
D. Sari minyak ikan atas salepnya sangat mendukung untuk mempercepat penyembuhan luka
bakar, koreng, menekan salut dan luka pada permukaan, tetapi observasi yang terkontrol telah

1
menghentikan nilai penguatan yang tegas. Dan asam lemak omega-3 berkhasiat untuk penurunan
kadar kolesterol dalam darah.
Fungsinya vitamin A penting sekali bagi sintesa redopsin, suatu pigmen foto sintetif yang
terurai oleh cahaya dan memungkinkan kita untuk melihat dalam keadaan setengah gelap.

1.2.Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara memformulasikan Emulsi Minyak Ikan ?
2. Apa metode yang dipilih dalam pembuatan Emulsi Minyak Ikan ?
3. Bagaimana cara membuat emulsi yang baik ?
4. Bagaimana cara evaluasi emulsi sesuai dengan ketentuan ?
5. Bagaimana cara mengetahui emulsi yang dibuat sudah memenuhi persyaratan atau tidak ?
1.3.Tujuan
1. Untuk mengetahui cara memformulasikan Emulsi Minyak Ikan ?
2. Untuk mengetahui metode yang dipilih dalam pembuatan Emulsi Minyak Ikan ?
3. Untuk mengetahui cara membuat emulsi yang baik ?
4. Untuk mengetahui cara evaluasi emulsi sesuai dengan ketentuan ?
5. Untuk mengetahui cara mengetahui emulsi yang dibuat sudah memenuhi persyaratan atau
tidak ?

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Sediaan Emulsi

Emulsi adalah system 2 fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain
dalam bentuk tetesan kecil. Emulsi dapat distabilkan dengan penambahan bahan pengelmusi yang
mencegah koalesensi, yaitu penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi
satu fase tunggal yang memisah. (Menurut Farmakope Indonesia edisi V).
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat,terdispersi
dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yangcocok (IMO hal
132).

2.2 Penggolongan Tipe Emulsi


Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun external, maka emulsi
digolongkan menjadi dua macam yaitu :
1. Emulsi tipe O/W ( oil in water) atau M/A ( minyak dalam air).
Adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air. Minyak sebagai
fase internal dan air sebagai fase external.
2. Emulsi tipe W/O ( water in oil ) atau A/M ( air dalam minyak)
Adalah emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase
internal dan minyak sebagai fase external.

Cara pengujian tipe emulsi, yaitu:


1. Metode Konduktifitas Listrik
Alatnya terdiri dari kawat, stop kontak, lampu neon yang semuanya dihubungkan secara
seri. Lampu neon akan menyala bila elektroda dicelupkan dalam emulsi tipe M/A, lampu
akan mati jika dicelupkan pada emulsi tipe A/M.
2. Metode Pengenceran Fase
Jika ditambah dengan air akan segera diencerkan maka tipe emulsi adalah M/A, jika tidak
dapat diencerkan tipe emulsi A/M.
3. Metode Pemberian Warna
a. Jika ditambahkan larutan Sudan III (Larutan dalam minyak), akan terjadi warna merah,
maka tipe emulsi adalah A/M.
b. Jika ditambahkan metilen blue (Larut dalam air), akan terjadi warna biru, maka tipe
emulsi adalah M/A.

3
4. Metode Pembasahan Kertas Saring
Jika emulsi yang diujikan diteteskan pada kertas saring, maka emulsi M/A dalam waktu
singkat menyebar dan membentuk cicin air disekeliling tetesan.

2.3 Komponen Emulsi


Komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu :
1. Komponen dasar
Adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi. Terdiri atas :
a. Fase dispers / fase internal / fase discontinue
Yaitu zat cair yang terbagi- bagi menjadi butiran kecil ke dalam zat cair lain.
b. Fase kontinue / fase external / fase luar
Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari
emulsi tersebut.
c. Emulgator.
Adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.
2. Komponen tambahan
a. Bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang
lebih baik. Misalnya corrigen saporis, odoris, colouris, preservative (pengawet), anti
oksidan.
b. Preservative yang digunakan antara lain metil dan propil paraben, asam benzoat, asam
sorbat, fenol, kresol dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetas dan
lain – lain.
c. Antioksidan yang digunakan antara lain asam askorbat, L.tocopherol, asam sitrat,
propil gallat , asam gallat.

Komponen Sediaan
1. Zat Aktif
2. Bahan Pengemulsi/emulgator
Bahan pengemulsi menstabilkan dengan cara :
a. Menempati permukaan antara tetesan dan fase eksternal dengan pembuatan batas fisik
disekelilingi partikel yang akan berkoalesensi
b. Mengurangi tegangan antar permukaan antara 2 fase sehingga meningkatkan proses
emulsifikasi selama pencampuran.
Jenis bahan yang umumnya digunakan sebagai zat pengemulsi, yaitu :
a. Bahan Karbohidrat
Contoh : akasia/gom, tragakan, agar, kondrus dan pektin.
b. Protein
Contoh : gelatin, kuning telur, kacein.

4
c. Alkohol dengan bobot molekul tinggi
Contoh : steryl alkohol, cetyl alkohol, gliserin mono stearat.
d. Zat-zat pembasah
- Bersifat anionik, contoh : Trietanol amin (TEA), Natrium Laurilsulfat.
- Bersifat Kationik, contoh : Benzalkonium Klorida
- Bersifat non ionik, contoh : Sorbitan mono oleat (Span 80)
e. Zat padat yang terbagi halus, seperti : tanah liat koloid termasuk bentonit, magnesium
hidroksida dan aluminium hidroksida. Umumnya membentuk emulsi tipe m/a bila bahan
padat ditambahkan ke fase air jika jumlah volume air lebih besar dari minyak. Jika
serbuk bahan padat ditambahkan dalam inyak dan volume fase minyak lebih banyak dari
air, suatu zat seperti bentonit sanggup membentuk suatu emulsi a/m.
3. Zat Tambahan
Pemilihan zat tambahan tergantung dari karakter zat aktif dan karakter sediaan yang akan
dibuat. Macam-macam zat tambahan yang bisa di pakai yaitu:
a. Zat Pewarna
Untuk menutupi penampilan yang tidak menarik serta meningkatkan penerimaan pasien.
Yang harus diperhatikan dalam pemilihan zat warna yaitu : Kelarutan, stabilitas,
ketercampuran, konsentrasi zat dalam campuran, sesuai dengan rasa sediaan, pH sediaan.
b. Zat Pengawet
Zat pengawet yang digunakan yang tidak toksik, tidak berbau, stabil dan dapat bercampur
dengan komponen lain didalam formula, potensi antibakterinya luas. Contohnya yaitu :
- Tipe Asam : Asam Benzoat, Asam Sorbat
- Ester : Nipagin, Nipasol
- Aldehid : Vanilin
- Fenol : Fenol, Kresol, Klorbutanol
- Senyawa Quartener : Benzalkonium Klorid
c. Antioksidan
Terjadinya autooksidasi minyak dapat menimbulkan bau tengik, contoh anti oksidan yaitu
: asam galat, asam askorbat, tokoferol, BHT,BHA,dll.

2.4.Macam-macam Sediaan Emulsi


1. Emulsi Oral
a. Emulsi Minyak Ikan Cod
b. Emulsi Paraffin liquid
c. Emulsi Minyak Jarak
2. Emulsi Topikal
a. Lotion
Lotion lebih disukai dari pada krim dalam aplikasi tertentu. Lotin didefinisikan
sebagai krim encer. Lotion juga termasuk emulsi tetapi mengandung lilin dan minyak yang
lebih sedikit dibandingkan dengan krim sehingga terasa ringan dan tidak lengket.

5
Bentuk lotion digunakan untuk produk seperti lotion kulit dan wajah. Dibandingkan
dengan krim, umumnya lotion lebih mudah diproduksi karena lebih encer, waktu
pemanasan dan pendinginnya lebih cepat.
Beberapa contoh formula lotion yang umum dipakai yaitu :
R/ Trietanolamin 8%
Paraffin liquid 35%
Cera Alba 2%
Water 55%

R/ Oleum Cocos 2%
Spermaceti 3%
Stearic acid 4%
Propil Paraben 0,15%

R/ Glycerol 7,4%
Methyl Paraben 0,15%
Water 83%
Parfum 0,3%
R/ Lanolin 1%
Paraffin Liq 12%
Pectin 1%
Boric Acid 2%
Cetyl akcohol 0,16%
Water 83,74%
Parfum 0,1%
b. Shampo
Shampo adalah sediaan kosmetik yang digunakan untuk maksud keramas rambut
sehingga setelah itu kulit kepala dan rambut menjadi bersih dan sedapat mungkin rambut
menjadi lembut, mudah diatur dan berkilau.
Shampo emulsi mudah dituang karena konsistensinya tidak begitu kental. Pada
dasarnya shampo emulsi dapat dibuat dari detergen cair jernih yang dicampur dengan zat
pengemulsi.
Beberapa formula shampo yang umum digunakan :
R/ Coconut Oil 14%
Olive Oil 3%
Castor Oil 3%
Glycerol 6%
Cethyl Alcohol 5%
Parfum 0,5%
Water 68,5%

R/ Coconut Oil 7%
Stearic Acid 14%

6
Glycrol 2%
Parfum 0,5%
Olive Oil 14%
Sodium Lauril Sulfat 3%
Water 59,5%

R/ Trietanolamin 5,4%
Oleic Acid 5%
Coconut Oil 4%
Propilen Glycol 5%
Parfum 0,4%
Water 80,2%

R/ Tween 80 4%
Cetyl Alkohol 12%
Parfum 0,5%
Glyceril monostearat 1%
Selenium Sulfite 5%
Water 77,5%

2.5.Teori Emulsifikasi
1. Teori Tegangan –permukaan
Bila cairan kontak dengan cairan kedua yang tidak larut dan tidak saling bercampur,
kekuatan (tenaga) yang menyebabkan masing-masing cairan menahan pecahnya menjadi
partikel-partikel yang lebih kecil disebut tegangan antarmuka. Zat-zat aktif permukaan
(surfaktan) atau zat pembasah, merupakan zat yang bekerja menurunkan tegangan
antarmuka ini.
2. Oriented Wedge Theory
Menganggap bahwa lapisan monomolecular dari zat pengemulsi melingkari suatu
tetesan dari fase dalam pada emulsi. Teori ini berdasarkan pada anggapan bahwa zat
pengemulsi tertentu mengarahkan dirinya di sekitar dan dalam suatu cairan yang
merupakan gambaran kelarutannya pada cairan tertentu.
3. Teori plastic atau Teori Lapisan antarmuka
Bahwa zat pengemulsi membentuk lapisan tipis atau film yang mengelilingi fase
dispers dan diabsorbsi pada permukaan dari tetesan tersebut. Lapisan tersebut mencegah
kontak dan bersatunya fase terdispersi; makin kuat dan makin lunak lapisan tersebut, akan
makin besar dan makin stabil emulsinya.
Surfaktan dapat membantu pembentukan emulsi dengan mengabsorpsi antar muka,
dengan menurunkan tegangan interfasial dan bekerja sebagai pelindung agar butir-butir
tetesan tidak bersatu. Emulgator membantu terbentuknya emulsi dengan 3 jalan yaitu :
1. Penurunan tegangan antar muka (stabilisasi termodinamika)
2. Terbentuknya film antar muka yang kaku (pelindung mekanik terhadap koalesen)

7
3. Terbentuknya lapisan ganda listrik, merupakan pelindung listrik dari pertikel.

2.6.Cara Pembuatan
1. Metode Gom Basah (Metode Inggris)
Yaitu dengan membuat mucilago yang kental dengan sedikit air lalu ditambahkan minyak
sedikit demi sedikit dengan diaduk cepat. Bila emulsi terlalu kental, ditambahkan air sedikit
demi sedikit agar mudah diaduk dan diaduk lagi ditambahkan sisa minya. Bila semua minyak
sudah masuk ditambahkan air sambil diaduk sampai volum dikehendaki. Cara ini digunakan
terutama bila emulgator yang akan dipakai berupa cairan atau harus dilarutkan dulu dengan
air.
Contohnya adalah kuning telur, methyl selulosa.
2. Metode Gom Kering
Metode ini juga disebut metode 4:2:1 (4 bagian minyak, 2 bagian air dan 1 bagian gom).
Selanjutnya sisa air dan bahan lain ditambahkan. Caranya ialah 4 bagian minyak dan 1 bagian
gom diaduk dan dicampurkan dalam mortir yang kering dan bersih sampai tercampur benar,
lalu ditambhkan 2 bagian air sampai terjadi corpus emulsi. Tambahkan sirup dan tambahkan
sisa air sedikit demi sedikit, bila ada caira alkohol hendaklah ditambahkan stelah diencerkan
sebab alkohol dapat merusak emulsi.
3. Metode Baudrimont
Menggunakan perbandingan minyak : gom : air = 10:5:7,5 dalam pembuatan korpus emulsi.
4. Metode HLB
Dalam hal ini berhubungan dengan sifat-sifat molekul surfaktan mengenai sifat relatif dari
keseimbangan HLB (Hydrophiel-Lyphopiel Balance). Emulgator mempunyai suatu bagian
hidrofilik dan satu bagian lipofilik dengan salah sau diantara lebih atau kurang dominan dalam
bentuk tipe emulsi.
Tahun 1933 Clayton telah membuat sifat relatif dari keseimbangan hidrofil-lipofil yang
disebut nilai HLB. Makin rendah nilai HLB surfaktan maka makin lipofil, sedangkan makin
tinggi nilai HLB maka makin bersifat hidrofil.
Nilai HLB 1,8 – 8,6 seperti span dianggap lipofil dan umumnya membentuk tipe emulsi A/M.
Nilai HLB 9,6-16,7 seperti tween sehingga dianggap hidrofil yang pada umumnya membentuk
tipe emulsi M/A.
A. Cara menghitung nilai HLB campuran surfaktan.
Contoh :
R/ Tween 80 70% HLB = 15
Span 80 30% HLB = 4,3

Maka: Tween 80 = 70% x 15 =10,5


Span 80 = 30% x 4,3= 1,3 +
HLB Campuran 11,8

Campuran emulgator tween dan span 80 dengan nilai HLB 11,8 bersifat hidrofil dan akan
membentuk emulsi tipe M/A

8
B. Cara menghitung HLB yang diperlukan dari campuran zat.
Contoh :
Akan dibuat lotion tipe M/A mengandung paraffin cair sebagai dasar. Lanolin sebagai
emolien dan steril alkohol sebagai kontrol viskositas. Berapa nilai HLB yang diperlukan
dari suatu emulgator jika formula lotion sebagai berikut :
R/ Paraffin liq 35% HLB= 12
Lanolin 1% HLB= 10
Cetyl Alcohol 1% HLB= 15
Emulgator 7%
Aqua 56%
Maka :
Fase minyak campuran = 35% + 1% + 1% = 37%
Nilai HLB yang diperlukan = Paraffin liq = 35/37 x 12 = 11,4
Lanolin = 1/37 x 10 = 0,3
Cetyl Alcohol = 1/37 x 15 = 0,4 +
12,1
Jadi nilai HLB yang diperlukan dari emulgator= 12,1 , dimana penggunaan emulgator
kombinasi yang mempunyai HLB 11-13 akan memberikan hasil yang baik.

2.7.Evaluasi Sediaan
1. Organoleptis
2. pH
3. Viskositas
4. Uji Efektivitas Pengawet

2.8.Ketidakstabilan Emulsi
1. Flokulasi dan Creaming
Merupakan pemisahan dari emulsi menjadi beberapa lapis cairan, dimana maisng-masing
lapis mengandung fase dispersi yang berbeda.
2. Koalase dan pecahnya emulsi (Cracing dan baking)
Pecahnya emulsi yang bersifat tidak dapat kembali. Pengocokkan sederhana akan gagal
untuk mengemulsi kembali butir-butir tetesan dalam bentuk emulsi yang stabil.
3. Inversi adalah peritiwa berubahnya tipe emulsi M/A menjadi A/M begitu pula sebaliknya.

9
BAB 3
METODELOGI PENELITIAN

3.1. Spesifikasi Sediaan Jadi


No. Parameter Satuan Spesifikasi Sediaan Yang Syarat Farmakope Syarat
Akan Dibuat Lain
1 Organoleptis -
- Warna Putih
- Bau Bau minyak ikan lemah,
karena ditutupi bau oleum
Cinnamomi
- Rasa Manis
- Bentuk Campuran yang terdispersi
2 pH 5-7 6,6
3 Sifat Alir Pseudoplastik Plastik, pseudoplastik,
dan tiksotropik
4 Homogenitas Homogen
5 Tipe Emulsi M/A
6 Viskositas Cps 250 37-396 Cps
7 Volume 10 wadah tidak < dari 100% 10 wadah tidak < dari
terpindahkan dan tidak satupun volume 100% dan tidak satupun
wadah yang kurang dari 95% volume wadah yang
dari volume yang dinyatakan kurang dari 95% dari
pada etiket. volume yang dinyatakan
pada etiket.
8 Ukuran >1 mikron
Partikel
9 Wadah - Tertutup dan terhindar dari Tertutup dan terhindar
panas dari panas

10
3.2. Monografi Zat Aktif
Nama Bahan Aktif : Oleum Iecoris Aselli [FI edisi III hal. 457, FI edisi IV hal. 628]
No. Parameter Data

1. Pemerian Kuning pucat, bau khas, agak manis, tidak tengik, rasa khas

Sukar larut dalam etanol (95%) P; mudah larut dalam kloroform P,


2. Kelarutan
dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P.

3. pH 4,3

4. OTT Tidak dapat bercampur dengan air

5. Stabilitas Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya, terisi penuh

6. Indikasi Sebagai bahan aktif. Sumber vitamin A dan vitamin D

Dewasa 1 x pakai = 5 ml
7. Dosis Lazim
1 x hari = 8 – 30 ml

8. Cara Pemakaian Oral

Wadah dan
9. Dalam wadah tertutup baik, teri si penuh, terlindung dari cahaya.
Penyimpanan

11
3.3.Monografi Bahan Tambahan
a. P.G.A (Pulvis Gummi Arabicum) [Handbook of Pharmaceutical Exipients 6th ed,halaman 1-
3]

No. Parameter Data

Acasia adalah serbuk putih atau kuning putih, tidak berbau,dan


1. Pemerian
mempunyai rasa lemah
Larut dalam 20 bagian gliserin, dalam 20 bagian propilenglikol, dalam
2. Kelarutan
2,7 bagian air, dan praktis tidak larutdalam etanol 95%.

3. pH 4,5 – 5

Akasia OTT dengan sejumlah senyawa yang mengandung amidopyrine,


4. OTT apomorphine, cresol, etanol (95%), garam ferri, morfin, fenol,
pisostigmin,tannin, thymol, dan vanillin
Larutan acasia tahan terhadap degradasi bakteri atau reaksienzimatik
tetapi harus diberi pengawet terlebih dahuludengan dididihkan dalam
waktu pendek untuk menon-aktifkan enzim yang ada. Larutan encer
5. Stabilitas
dapat diawetkan dengan penambahan pengawet antimikroba seperti
asam benzoat, natrium benzoat, atau campuran methyl parabendan
prophyl paraben

6. Kegunaan Emulgator

Wadah dan
7 Dalam wadah tetutup baik, di tempat yang kering dan sejuk
Penyimpanan

8 % Lazim 10-20%

b. Glycerolum (RM: C3H8O3;BM : 92,09) [FI edisi III hal. 217, HOPE 6 th ed,halaman 283-284]

No. Parameter Data


Cairan seperti sirop; jernih, tidak berwarna; tidak berbau;manis diikuti
rasa hangat. Higroskopik. Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah
1. Pemerian
dapat memadat membentuk massa hablur tidak berwarna yang tidak
melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 20
Dapat campur dengan air, dan dengan etanol (95%) P; praktistidak larut
2. Kelarutan
dalam kloroform P, dalam eter P, dan dalam minyak lemak

12
3. pH -

Gliserin dapat meletup bila dicampur dengan pengoksidasi kuat seperti


4. OTT kromiun trioksida, potassium klorat, atau potassium permanganate
Gliserin bersifat higroskopis. Gliserin murni tidak rentan terhadap
oksidasi olehsuasana dibawah kondisi penyimpanan biasa, tetapi
5. Stabilitas terurai pada pemanasan dengan evolusi akrolein beracun.
campurangliserin dengan air, etanol (95%), dan propilen glikol
adalahkimia yang stabil
Sebagai antimikroba preservatif, emolien, humektan, plasticizer dalam
6. Kegunaan pelapis film tablet, solven dalam formula parenteral, dan pemanis

7. Titik lebur 17,880C

Wadah dan
8. Dalam wadah tertutup baik
Penyimpanan

9. % lazim <30

c. BHT (Butyl Hidroksi Toluen) (BM: 220,35; RM : C15H24O)[HOPE 6th hal. 75-77]

Pemerian Butyl Hydroksi Toluen merupakan serbuk atau zat padat kristalin kuning pucat
atau putih dengan bau karakteristik.

Kelarutan Praktis tidak larut dalam air, gliserin, propilenaglikol, solusi hidroksida alkali, dan
encer berair asam mineral. Bebas larut dalam aseton, benzena, etanol (95%), eter,
metanol, toluen, minyak tetap, dan minyak mineral. Lebih larut dari
hidroksianisol butylated dalam minyak makanan dan lemak

Data fisik Penggunaan untuk sediaan minyak ikan 0.01–0.1%

Titik didih 2650C

Density (bulk) 0,48-0,60 g/cm3

Density (true) 1.031 g/cm3

Titik nyala 1270C (open cup)

13
Titik lebur 700C

Kadar air 40,05%

Koefisien partisi oktanol: air = 4,17-5,80

Indeks bias nD75 = 1,4859

Berat jenis :
1,006 pada 200C;
0.890 pada 800C;
0.883 pada 900C;
0.800 pada 1000C.
Panas spesifik
1.63 J/g/0C (0,39 cal/g/0C) untuk solid;
2.05 J/g/0C (0,49 cal/g/0C) untuk cairan.
Densitas uap (relatif) 7.6 (udara = 1)
Tekanan uap
1.33 Pa (0,01 mmHg) pada 200C;
266,6 Pa (2 mmHg) pada 1000C.
Stabilitas Pengunjukan untuk ringan, embun, dan panas menyebabkan pelunturan dan
hilangnya aktivitas. Hydroxytoluene Butylated harus disimpan dengan baik
tertutup 14ermangan, trlindung dari cahaya, dalam suatu tempat kering, dan
dingin.

Inkompatibilitas Butyl hydroksitoluen adalah phenolic dan mengalami karakteristik reaksi-reaksi


dari zat asam karbol. Itu adalah yang tidak cocok/bertentangan dengan bahan
pengoksid kuat seperti 14ermanganate-permanganat dan peroksida-peroksida.
Menghubungi dengan bahan pengoksid boleh menyebabkan pembakaran
sertamerta. Besi/ setrika menggarami pelunturan penyebab dengan hilangnya
aktivitas. Memanaskan dengan sejumlah katalitis dari penyebab-penyebab asam
pembusukan cepat dengan pelepasan(release gas mudah terbakar isobutene.

Kegunaan Sebagai antioksidan, yang sebagian besar digunakan untuk penundaan atau
mencegah ketengikan oksidatif lemak-lemak dan minyak dan untuk mencegah
hilangnya aktivitas vitamin pada minyak yang terlarut

% lazim 0,0075- 0,1 %

14
d. Natrium Benzoat (RM : C7H5NaO2 BM : 144,11) [FI edisi III hal: 395, HOPE 6th ed, hal. 627-
628]

Pemerian Butiran atau serbuk hablur; putih; tidak berbau atau hamper tidak berbau.
Kelarutan Larut dalam 2 bagian air dan dalam 90 bagian etanol (95%) P.
Data fisik Titikbeku = 0,24
Densitas = 1,497 – 1,527 gr / cm3
Pemakaian sediaan oral = 0.02-0.5 %
Pemakaian sediaan parenteral = 0.5 %
Pemakaian sediaan kosmetik = 0.1-0.5 %
Stabilitas Larutan natrium benzoate dapat di sterilkan dengan autoklaf atau penyaringan.
Penyimpanan dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk dan kering.

Inkompatibilitas Tidak stabil dengan senyawa kuartener, gelatin, garam besi, garam kalsium, dan
garam dari logam berat termasuk perak, timah, dan merkuri. Aktifitas pengawet dapat
dikurangi dengan interaksi kaolin atau surfaktan non ionik.
Kegunaan Zat pengawet
% Lazim 0,02-0,5%

e. Sirup Simplex (Farmakope Indonesia edisi III hal.567)

Pemerian Cairan jernih, tidak berwarna


Kelarutan Larut dalam air, mudah larut dalam air mendidih, sukar larut dalam eter
Stabilitas Ditempat sejuk

Inkompatibilitas -

Kegunaan Sebagai Pemanis


% Lazim 20-60%
Wadah dan Dalam wadah tertutup rapat dan ditempat yang sejuk
Penyimpanan

15
f. Oleum Cinnamomi (Farmakope Indonesia edisi III, hal : 454)

No. Parameter Data

Cairan; suling segar berwarna kuning; bau dan rasa khas. Jika disimpan
1. Pemerian
dapat menjadi coklat kemerahan
Dalam etanol larutkan 1ml dalam 8ml etanol (70%) P; opalasensi
yangterjadi tidak lebih kuat dari opalesensi larutan yang dibuat dengan
2. Kelarutan
menambahkan 0,5ml perak nitrat 0,1 N ke dalam campuran 0,5ml
natrium klorida 0,02 N dan 50 ml air
3. pH -

4. OTT -

Pengunjukan untuk ringan, embun, dan panas menyebabkan pelunturan


dan hilangnya aktivitas. hydroxytoluene Butylated harus disimpan dengan
5. Stabilitas
baik tertutup kontainer, trlindung dari cahaya, dalam suatu tempat kering,
dan dingin

6. Kegunaan Sebagai corigen odoris (bahan pengaroma)

7. Dosis Lazim -

8. Cara Pemakaian -

Wadah dan Dalam wadah tertutup rapat, terisi penuh, terlindung dari cahaya,
9.
Penyimpanan ditempat sejuk

16
g. Aquadest (RM : H2O ; BM : 18,02)

No. Parameter Data

1. Pemerian Cairan jernih, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa

2. Kelarutan Dapat bercampur dengan pelarut polar lainnya

3. pH 5,0 – 7,0

Logam alkali, kalsium oksida, magnesium oksida, garam anhidrat, bahan


4. OTT
organik tertentu dan kalsium karbid

5. Stabilitas Stabil disemua keadaan fisik (padat, cair, gas)

6. Kegunaan Pelarut

7. Dosis Lazim -

8. Cara Pemakaian -

Sediaan Lazim dan


9. Larutan
Kadar
Dalam wadah dosis tunggal, dari kaca / plastic, tidak lebih besar dari 1
Wadah dan
10. liter. Wadah kaca sebaiknya dari kaca tipe I / II, wadah tertutup rapat,
Penyimpanan
sejuk dan kering

17
3.4.Masalah Formulasi

RUMUSAN PROSES
NO. KOMPONEN KEPUTUSAN & ALASAN
MASALAH
Apa bentuk sediaan
Bentuk Sediaan : Emulsi karena bahan aktif tidak
yang cocok untuk zat
- Larutan larut dalam air dan berupa
1. aktif Oleum Iecoris
- Suspensi minyak jadi yang digunakan
Aselli sediaan secara
- Emulsi emulsi.
oral?
Emulgator : PGA
Penambahan
Emulgator Karena memiliki daya sebagai
Minyak Ikan tidak - PGA emulgator yang baik sehingga
2. bisa bersatu dengan - Tragakan dapat menghasilkan emulsi yang
air - Agar baik, serta viskositas yang
- Kondrus dihasilkan cukup tinggi dan tidak
- Pektin OTT dengan bahan lainnya.
Karena gliserin memiliki multi
Partikel minyak ikan fungsi selain sebagai stabilator
Penambahan
tidak dapat terbasahi emulsi, gliserin juga dapat
Penstabil
3. dan emulsi yang
- Gliserin berfungsi sebagai pengawet,
dihasilkan kurang
stabil. pemanis, dan juga dapat
meningkatkan viskositas
Pewangi : Oleum Cinnamomi
Minyak ikan Karena oleum cinnamomi dapat
Penambahan
4. memiliki aroma yang
Pengaroma menutupi aroma tidak enak dari
tidak enak
oleum iecoris aselli.
Pemanis: Sirup simplex
Minyak lemak Penambahan Karena sirup simplex dapat
5. memiliki rasa yang Pemanis
menutupi rasa yang tidak enk dari
tidak enak - Sirup simplex
minyak ikan
Penambahan
Pengawet
- Asam Pengawet : Natrium Benzoat
Benzoat Karena baik untuk penggunaan
Agar Emulsi tidak
- Nipagin
6. terkontaminasi oral dan tidak OTT dengan bahan
- Nipasol
bakteri lain dan Na benzoat baik untuk
- Natrium
Benzoat mencegah mikroba
- Fenol
- Kresol
Minyak Ikan mudah Penambahan
7. Antioksidan : BHT
teroksidasi dan Antioksidan:

18
menimbulkan bau - BHT Menurut HOPE 6th hal. 75-77
tengik - Asam galat Antioksidan yang cocok untuk
- Asam emulsi minyak ikan yaitu BHT
Askorbat karena BHT larut dalam minyak
- Tokoferol sehingga dapat mencegah
- BHA terjadinya reaksi oksidasi fase
minyak yang mengakibatkan
ketengikan dari fase minyak dan
BHT tidak OTT dengan bahan
lain
Menggunakan Botol Coklat
Minyak Ikan harus
Menggunakan Botol Karena dapat mengahalangi
8. terlindung dari
Coklat cahaya matahari yang mengenai
cahaya
sediaan.

19
3.5.Formulasi
PENIMBANGAN
FUNGSI ( Untuk PEMAKAIAN
BAHAN
NO NAMA BAHAN Farmakologis/ LAZIM %
BATCH
Farmasetik) (%) UNIT
(6 botol)
Oleum Iecoris 30 g x 6 =
1 Zat Aktif 30 g 30 g 30 g
Aselli 180 g
15 g x 6 = 90
2 Gliserol Bahan Penstabil <30% 15 % 15 g
g
10 g x 6 = 60
3 PGA Emulgator 10% – 20% 10% 10 g
g
15 g x 6 = 90
Air untuk PGA 1,5 1,5 15 g
g
0,1 g x 6 =
4 Natrium Benzoat Bahan Pengawet 0,02-0,5% 0,1% 0,1 g
0,6 g
Bahan 0,05 g x 6 =
5 BHT 0,0075-0,1% 0,05 % 0,05 g
Antioksidan 0,3 g
Oleum
6 Bahan Pengaroma q.s 1g 1gx6=6g
Cinnamomi q.s
25 g x 6 =
7 Sirup Simplex Bahan Pemanis 20-60% 25% 25 g
150 g

8 Aquadest Bahan Pembawa ad 100 ml ad 100 ml ad 600 ml

3.6.Perhitungan Bahan
1. Minyak Ikan
a. Untuk 1 botol = 30 gram
b. Untuk 6 botol = 30 g x 6 = 180 gram
2. Gliserol
a. Untuk 1 botol = 15 g
b. Untuk 6 botol = 15 g x 6 = 90 gram
3. Emulgator
a. PGA (1/3 x jumlah minyak) = 1/3 x 30 gram = 9,9 ~ 10 gram
 Untuk 1 botol = 10 gram
 Untuk 6 botol = 10 g x 6 = 60 gram
b. Air untuk PGA (1,5 x jumlah PGA)
 Untuk 1 botol = 1,5 x 10 gram = 15 gram
 Untuk 6 botol = 1,5 x 60 gram = 90 gram
4. Natrium Benzoat

20
a. Untuk 1 botol = 0,1 gram
b. Untuk 6 botol = 0,1 g x 6 = 0,6 gram
5. BHT
a. Untuk 1 botol = 0,05 gram
b. Untuk 6 botol = 0,05 g x 6 = 0,3 gram
6. Sirup Simplex
Perhitungan pembuatan sirup simplex (65g dalam 100 ml air)
 Sukrosa 65 g
 Aquadest 100 ml
Yang dibutuhkan dalam resep 150 gram
= Sukrosa 65 gram x 2 = 130 gram
Aquadest 200 ml
a. Untuk 1 botol = 25 gram
b. Untuk 6 botol = 150 gram
7. Oleum Cinnamomi
a. Untuk 1 botol = 1 gram
b. Untuk 6 botol = 1 g x 6 = 6 gram
8. Aquadest
a. Untuk 1 botol
= 100 ml – ( 30 g + 15 g + 10 g + 15 g + 0,1 g + 0,05 g + 25 g + 1 g )
= 100 ml– 96,15 g = 3,85 ml.
b. Untuk 6 botol
= 600 ml – ( 180 g + 90 g + 60 g + 90 g + 0,6 g + 0,3 g + 180 g + 6 g)
= 600 ml – 576,9 g = 23,1 ml

3.7. Prosedur Kerja


Alat :
1. Lumpang dan Alu
2. Beakerglass 1000 ml
3. Beakerglass 500 ml
4. Beakerglass 50 ml
5. Batang Pengaduk
6. Pipet
7. Botol Coklat
8. Sudip
9. Cawan Penguap

Bahan :
1. Oleum Minyak Ikan 180 gram
2. Gliserol 90 gram

21
3. PGA 60 gram
4. Air untuk PGA 90 gram
5. Natrium Benzoat 0,6 gram
6. BHT 0,3 gram
7. Sirup Simplex 150 gram
8. Oleum Cinnamomi 6 gram
9. Aquadest ad 600 gram

Cara Kerja :
1. Disiapkan lumpang dan alu
2. Dialasi lumpang dengan serbet
3. Ditimbang Semua Bahan
4. Dilarutkan natrium benzoate dalam beakerglass dengan air secukupnya aduk ad larut
(sisihkan massa 1)
5. Dilarutkan BHT dalam Beakerglass dengan air secukupnya aduk ad larut (sisihkan massa
2)
6. Dimasukkan PGA kedalam lumpang digerus ad halus, ditambahkan oleum iecoris aselli
gerus ad homogen, ditambahkan aqua untuk PGA gerus secara cepat dan kuat ad
terbentuk corpus emulsi
7. Ditambahkan gliserin gerus ad homogen, ditambahkan larutan natrium benzoate gerus ad
homogen, ditambahkan larutan BHT gerus ad homogen.
8. Ditambahkan oleum cinnamomi gerus ad homogen
9. Dimasukkan kedalam beakerglass yang telah disetarakan, kemudian tambahkan aquadest
ad 600 ml, lalu masukkan kedalam botol, masing-masing 100 ml, lakukan sebanyak 6
kali, beri label dan etiket, lalu kemas rapih.

22
3.8.Evaluasi Emulsi
1. Organoleptis
Ambil sediaan 5 ml dari yang telah dibuat, lihat warna, bau, rasa dari sediaan

2. Volume sedimentasi
Cara Kerja :
1. Ambil suspensi 50 ml
2. Masukkan kedalam gelas ukur
3. Catat tinggi awal volume sedimentasi pada waktu tertentu
Laju sedimentasi :
Hu = Volume endapan pada waktu tertentuu
Ho = Volume awal suspensi keseluruhan
Rumus :
Volume sedimentasi = Hu/Ho

3. Volume terpindahkan
Persyaratan :
Volume rata-rata larutan atau sirup yang diperoleh dari 30 wadah tidakkurang dari 100% dari
yang tertera di etiket,dan tidak lebih dari 1 dari 30 wadahvolume kurang dari 95% tetapi tidak
kurang dari 90% dari yang tertera di etiket
Cara Kerja :
1. Tuang kembali suspensi kedalam gelas ukur, lihat hasilnya apakah sesuai dengan volume
sebelumnya/volume yang ditentukan
2. Tulis hasil pengamatan pada tabel

4. Penentuan pH sediaan
1. Masukkan sediaan kedalam beaker glass.
2. Ukur pH dengan menggunakan pH indikator.
3. Tulis hasil pengamatan pada tabel
Kriteria pH : 5-7

5. Uji Tipe Emulsi


Prosedur :
A. Dengan pengecetan/ pemberian warna
1. Larutan sudan III ditambahkan ke dalam emulsiyang telah dimasukkan ke dalam
beaker gelas, zat warna merah akan tersebar merata dalam emulsi tersebut. karena
larutan sudan III dalam minyak maka tipe emulsi adalah A/M.
2. Larutan metilen blue ditambahkan ke dalam emulsi yang telah dimasukkan ke dalam
beaker gelas, zat warna biru akan tersebar merata dalam emulsi tersebut. Karena larutan
metilen blue larut dalam air maka tipe emulsi adalah M/A
3. Tulis hasil pengamatan pada tabel

23
B. Dengan menggunakan kertas saring
1. Teteskan sediaan emulsi yang sudah jadi ke kertas saring. Jika kertas saring menjadi
basa maka tipe emulsi adalah M/A
2. Teteskan sediaan emulsi yang sudah jadi ke kertas saring. Jika kertas saring
menimbulkan noda minyak maka tipe emulsi adalah A/M
3. Tulis hasil pengamatan pada tabel

24
BAB 4
HASIL & PEMBAHASAN

4.1.Hasil dan Pembahasan Formulasi Emulsi Minyak Ikan


Bahan minyak ikan yang digunakan dibuat dalam bentuk sediaan emulsi karena bahan aktif
yang digunakan tidak dapat bercampur dan praktis tidak larut dalam air, sehingga untuk
memperoleh suatu sediaan yang dapat terdispersi pada fase pendispersinya maka diperlukan zat
pengemulsi yang cocok. Emulsi sangat bermanfaat dalam bidang farmasi karena keuntungannya
dapat membuat sediaan yang tidak bisa bercampur dengan air menjadi bisa bercampur dengan air,
dapat menutupi rasa dan bau yang kurang enak, dan bisa ditambahkan pewarna dan pewangi yang
cocok untuk menambah daya tarik jika di konsumsi oleh anak-anak.
Pada praktikum kali ini dipilih bahan emulgator yaitu PGA Karena memiliki daya sebagai
emulgator yang baik sehingga dapat menghasilkan emulsi yang baik, serta viskositas yang
dihasilkan cukup tinggi dan tidak OTT dengan bahan lainnya.
Partikel minyak ikan tidak dapat terbasahi dan emulsi yang dihasilkan kurang stabil maka
perlu adanya penambahan penstabil yaitu gliserin Karena gliserin memiliki multi fungsi selain
sebagai stabilator emulsi, gliserin juga dapat berfungsi sebagai pengawet, pemanis, dan juga dapat
meningkatkan viskositas.
Minyak ikan memiliki aroma yang kurang enak, maka ditambahkan pewangi yaitu oleum
cinnamomi karena oleum cinnamomi tidak tersedia di lab maka di ganti dengan pewangi jeruk,
Agar emulsi tidak terkontaminasi bakteri dan dapat awet maka diberikan pengawet,
pengawet yang digunakan Natrium Benzoat Karena baik untuk penggunaan oral dan tidak OTT
dengan bahan lain dan Na benzoat baik untuk mencegah mikroba.
Minyak Ikan mudah teroksidasi dan menimbulkan bau tengik untuk mencegah oksidasi
ditambahkan bahan pengoksidasi yaitu BHT, Menurut HOPE 6th hal. 75-77 Antioksidan yang
cocok untuk emulsi minyak ikan yaitu BHT karena BHT larut dalam minyak sehingga dapat
mencegah terjadinya reaksi oksidasi fase minyak yang mengakibatkan ketengikan dari fase minyak
dan BHT tidak OTT dengan bahan lain.
Minyak ikan memiliki rasa yang tidak enak maka perlu adanya penambahan pemanis,
pemanis yang digunakan yaitu sirup simplex karena sirup simplex dapat menutupi rasa yang tidak
enak dari minyak ikan.
Minyak Ikan harus terlindung dari cahaya matahari langsung, karena jika terpapar langsung
dengan cahaya matahari langsung minyak ikan dapat rusak, maka saat pengemasan menggunakan
botol coklat, karen botol coklat dapat menghalangi sinar matahari masuk dan mempengaruhi
sediaan.
Pada paktikum kali ini dilakukan pembuatan emulsi dengan cara gom kering, dengan cara
memasukkan minyaknya kemudian ditambahkan PGA gerus samapai homogen kemudian

25
ditambhakan aqua untuk PGA gerus cepat dan kuat sampai terbentuk corpus emulsi lalu
ditambahkan bahan lainnya

4.2.Hasil dan Pembahasan Evaluasi Emulsi Minyak Ikan


1. Organoleptis

No Organoleptis Diinginkan Hasil


1 Warna Putih Putih
2 Bau Bau minyak Bau minyak
ikan lemah ikan tidak
ditutupi aroma tertutupi dengan
oleum aroma jeruk
cinnamomi
3 Rasa Manis Manis
4 Bentuk Campuran yang Campuran yang
terdispersi terdispersi

2. Volume sedimentasi

Menit Volume awal Volume endapan


suspensi
60 menit 50 ml 0 ml
Rumus :
Volume sedimentasi = Hu/Ho

3. Volume terpindahkan

Volume Volume Terpindahkan


Hasil pengamatan
sediaan
Botol 1 98 ml 98 ml/100 ml x 100 % = 98 %
(100ml)
Botol 2 (100 100 ml 100 ml/100 ml x 100 % = 100 %
ml)
Botol 3 (100 97 ml 97 ml /100 ml x 100 % = 97 %
ml)
Botol 4 (100 98 ml 98 ml/100 ml x 100 % = 98 %
ml)
Botol 5 (100 98 ml 98 ml/100 ml x 100 % = 98%
ml)

26
4. Penentuan pH sediaan

Sampel pH
Emulsi Minyak Ikan 6

5. Uji Tipe Emulsi


a. Dengan pengecetan/ pemberian warna
N0 Zat Pewarna Pengamatan Kesimpulan
1 Larutan Sudan III - -
2 Larutan Metilen Warna Biru Tipe M/A
Blue Tersebar
Merata

b. Dengan menggunakan kertas saring


No Tetesan pada kertas saring Kesimpulan
1 Kertas saring basah tanpa Tipe M/A
n o d a m i n ya k

Pembahasan Evaluasi Emulsi Minyak Ikan


Pada Evaluasi Organoleptis untuk warna sudah sesuai yaitu berwarna putih, dan emulsi
yang dihasilkan tidak pecah, untuk aroma tidak sesuai dengan spesifikasi sediaan yang akan dibuat,
dari data spesifikasi bau minyak ikan lemah tertutupi oleh aroma oleum cinnamomi, karena oleum
cinnamomi tidak tersedia di laboratorium maka diganti dengan aroma jeruk, tetapi saat sediian jadi
bau dari minyak ikan nya tidak dapat tertutupi oleh aroma jeruk, kemungkinan salah dalam
pemilihan aroma, atau kurangnya jumlah pewangi yang digunakan. Untuk rasa sudah sesuai yang
data spesifikasi sediaan yang akan di buat, rasanya manis. Untuk bentuk sudah sesuai dengan
spesifikasi sediaan yang diinginkan yaitu campuran yang terdispersi dan emulsi yang di hasilkan
tidak pecah.
Pada evaluasi volume sedimentasi tidak ada volume sedimen yang terbentuk, dimana jika
volume sedimentasi tidak berbentuk maka emulsi tersebut homogen dan tidak pecah.
Pada Volume terpindahkan Kemudian dilakukan pengujian dengan melakukan uji volume
terpindahkan dengan cara memasukkan sediaan emulsi ke dalam botol bening sampai batas
kalibrasi yaitu 100 ml. Kemudian pindahkan sediaan yang berada dalam botol ke dalam gelas ukur
yang kering. Lalu diamati apakah volume sediaan yang dipindahkan berkurang atau tidak. Volume
sediaan yang terpindahkan tidak boleh lebih dari dua setengah kali volume yang diukur dan telah
dikalibrasi. Percobaan ini dilakukan pada 5 botol dengan masing-masing volumenya sebanyak 100
ml. Hasil pengujian volume terpindahkan pada sediaan emulsi yang dibuat adalah bervariasi
seperti. Hal ini disebabkan karena sediaan emulsi yang cukup kental sehingga ada volume yang
tidak terpindahkan. Persyaratan : Volume rata-rata larutan atau sirup yang diperolehdari 30 wadah

27
tidakkurang dari 100% dari yang tertera di etiket, dan tidak lebih dari 1 dari 30 wadah volume
kurang dari 95% tetapi tidak kurang dari 90% dari yang tertera di etiket, tetapi pada pengujian kali
ini hanya dilakukan 5 wadah saja, dikarenkan sediaan yang dibuat hanya sedikit.
Pada Evaluasi Penentuan pH sediaan di dapatkan pH sebesar 6, dari data spesifikasi sediaan
yang diinginkan 6,6 jadi hasilnya sudah mendekati dengan spesifikasi sediaan yang diinginkan.
Pada Evaluasi Pengujian tipe emulsi dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan pewarnaan dan
kertas saring, pada pengujian tipe emulsi dengan pewarnaan menggunakan metilen blue dan saat
dicampurkan warna biru tersebar merata yang artinya tipe emulsi dari sediaan yang dibuat adalah
minyak dalam air dan hasil tersebut sudah sesuai dengan data spesifikasi sediaan yang diinginkan,
pengujian warna dengan sudan III tidak dilakukan karena tidak tersedia dilaboratorium. Untuk
pengujian tipe emulsi dengan menggunakan kertas saring saat sediaan ditetesi ke atas kertas saring,
kertas saringnya basah tanpa menimbulkan noda yang artinya tipe emulsi sediaan yang diuji yaitu
minyak dalam air dan hasil tersebut sudah sesuai dengan data spesifikasi sediaan yang diinginkan.
Jika emulsi lebih banyak mengandung air dibanding minyak maka emulsi yang dihasilkan lebih
stabil.

28
BAB 5
PENUTUP

5.1.Kesimpulan
1. Formulasi
PENIMBANGAN
FUNGSI ( Untuk PEMAKAIAN
BAHAN
NO NAMA BAHAN Farmakologis/ LAZIM %
BATCH
Farmasetik) (%) UNIT
(6 botol)
Oleum Iecoris 30 g x 6 =
1 Zat Aktif 30 g 30 g 30 g
Aselli 180 g
15 g x 6 = 90
2 Gliserol Bahan Penstabil <30% 15 % 15 g
g
10 g x 6 = 60
3 PGA Emulgator 10% – 20% 10% 10 g
g
15 g x 6 = 90
Air untuk PGA 1,5 1,5 15 g
g
0,1 g x 6 =
4 Natrium Benzoat Bahan Pengawet 0,02-0,5% 0,1% 0,1 g
0,6 g
Bahan 0,05 g x 6 =
5 BHT 0,01-0,1% 0,05 % 0,05 g
Antioksidan 0,3 g
Oleum
6 Bahan Pengaroma q.s 1g 1gx6=6g
Cinnamomi q.s
25 g x 6 =
7 Sirup Simplex Bahan Pemanis 20-60% 25% 25 g
150 g

8 Aquadest Bahan Pembawa ad 100 g ad 100 g ad 600 g

2. Metode yang digunakan yaitu Gom Kering


3. Evaluasi Emulsi Minyak Ikan
No Pengamatan Hasil Syarat Kesimpulan
I. EVALUASI EMULSI MINYAK IKAN
1. Organoleptis
- Warna Putih Putih Memenuhi Syarat
Bau Minyak ikan tidak Bau minyak ikan Tidak Memenuhi
tertutupi dengan aroma lemah tertutupi Syarat
- Bau
jeruk aroma oleum
cinnamomi
- Rasa Manis Manis Memenuhi Syarat

29
Campuran yang Campuran yang Memenuhi Syarat
- Bentuk
terdispersi terdispersi
Tidak ada volume Memenuhi Syarat
2 Volume sedimentasi
sedimentasi
Volume rata-rata larutan 10 wadah tidak < dari Memenuhi syarat
atau sirup yang diperoleh 100% dan tidak
dari 5 wadah tidak kurang satupun volume
dari 100% dari yang wadah yang kurang
tertera di etiket,dan tidak dari 95% dari volume
3 Volume terpindahkan
lebih dari 1 dari 5 wadah yang dinyatakan
volume kurang dari 95% pada etiket.
tetapi tidak kurang dari
90% dari yang tertera di
etiket
4 Penentuan pH sediaan 6,0 6,6 Memenuhi Syarat
5 Tipe Emulsi
- Pewarnaan (Metil Warna biru tersebar Tipe M/A Memenuhi Syarat
Blue) merata (Tipe M/A)
Kertas saring basah dan Tipe M/A Memenuhi Syarat
- Kertas saring tidak timbul noda (Tipe
M/A)

5.2.Saran
Untuk mendapatkan hasil pembelajaran yang baik dalam mata kuliah Praktikum
Teknologi Sediaan Semi Solid & Liquida , ada baiknya bila dilakukan penambahan dalam
beberapa hal berikut :
1. Penambahan pengadaan bahan aktif dan bahan-bahan tambahan agar mahasiswa bisa lebih
variatif dalam melakukan pembuatan sediaan.
2. Hendaknya sarana dan prasarana penunjang pembuatan dan Evaluasi sediaan emulsi
dilengkapi, agar pembuatan emulsi memenuhi standar CPOB

30
DAFTAR PUSTAKA

Direction of the Council of The Pharmaceutical Society of Great Britain. 1982. Martindale
The Extra Pharmacopoeia Twenty eight Edition. London: The Pharmaceutical Press.
Excipients, second edition. London: The Pharmaceutical Press

Farmakope Indonesia Edisi ketiga. 1979. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Farmakope Indonesia Edisi keempat. 1995. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Formularium Nasional Edisi Kedua. 1978. Departemen Kesehatan Repiblik Indonesia.

Lukas, Stefanus. 2006. Formulasi Steril. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.

Wade, Ainley and Paul J. Weller. 1994. Handbook of Pharmaceutical Excipients, second
edition. London: The Pharmaceutical Press

Ansel,U.C. 1989. Pengantar Buku Sediaan Farmasi edisi IV. Jakarta: UI Press

31
LAMPIRAN

Evaluasi
1. Tipe Emulsi

2. Penentuan pH sediaan

3. Volume Sedimentasi

32
33

Anda mungkin juga menyukai