Anda di halaman 1dari 32

RANCANGAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA


NOMOR …………………
TENTANG
PELAYANAN TRANSFUSI DARAH

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa sebagai pelaksanakan ketentuan Pasal 35 ayat (2)

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan

perlu mengatur Transfusi Darah dengan Peraturan

Pemerintah;

Mengingat : 1. Pasal 5 Ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang


Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3495);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PELAYANAN


TRANSFUSI DARAH.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :

1. Pelayanan Transfusi Darah adalah upaya pelayanan kesehatan yang


terdiri dari rangkaian kegiatan mulai dari pengerahan dan pelestarian donor,
seleksi donor, proses pengambilan darah, pencegahan penularan penyakit,
penyimpanan darah, pengolahan darah, pendistribusian darah, pemeriksaan
serologi golongan darah dan uji silang serasi, serta tindakan medis
pemberian darah kepada pasien untuk tujuan penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan.

1
2. Pengelolaan darah adalah rangkaian kegiatan mulai dari
pengerahan dan pelestarian donor, seleksi donor, pengambilan darah,
pencegahan penularan penyakit, penyimpanan darah, pengolahan darah, dan
pendistribusian darah.
3. Darah Transfusi adalah darah yang diambil dan diolah
secara khusus untuk transfusi.
4. Donor Darah adalah orang yang menyumbangkan darah
atau komponennya kepada pasien untuk tujuan penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan.
5. Pasien adalah orang yang menerima darah atau
komponennya.
6. Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah sarana kesehatan
yang digunakan sebagai tempat untuk menyelenggarakan upaya pelayanan
kesehatan baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang
diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau masyarakat.
7. Unit Transfusi Darah selanjutnya disingkat UTD adalah
fasilitas pelayanan kesehatan yang melaksanakan kegiatan pengelolaan
transfusi darah.
8. Bank Darah Rumah Sakit selanjutnya disingkat BDRS
adalah suatu unit pelayanan di rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat
penyediaan darah yang diperoleh dari UTD, untuk kepentingan pelayanan
kesehatan di Rumah Sakit;
9. Pemerintah Pusat selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden
Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara
Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
10. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan
perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.
11. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang kesehatan.

BAB II
ASAS DAN TUJUAN
Pasal 2

(1) Pelayanan transfusi darah diselenggarakan berasaskan kemanusiaan,


keseimbangan, serta perlindungan dan keselamatan pasien, tenaga
kesehatan dan donor dalam memperoleh darah yang memenuhi standar dan
persyaratan keamanan, mutu dan kemanfaatan.

(2) Pengaturan pelayanan transfusi darah bertujuan untuk:


a. tersedianya darah dalam semua golongan darah untuk memenuhi
kebutuhan pelayanan kesehatan;

2
b. memudahkan akses mendapat darah untuk pengobatan dan
informasi tentang tersedianya darah;
c. memelihara dan meningkatkan mutu pelayanan transfusi;dan
d. memberikan perlindungan dan kepastian hukum.
BAB III
TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH

Pasal 3
Pemerintah dan Pemerintah Daerah mengatur, membina, dan mengawasi
pelayanan transfusi darah dalam rangka melindungi masyarakat.

Pasal 4

Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab terhadap ketersediaan


darah yang aman, jumlah yang cukup, berkualitas, mudah diakses dan
terjangkau oleh masyarakat.

Pasal 5

Pemerintah dan Pemerintah Daerah mendorong penelitian dan pengembangan


kegiatan transfusi darah untuk kepentingan pelayanan kesehatan.

Pasal 6

Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab terhadap pembiayaan


pengelolaan darah dalam rangka jaminan ketersediaan darah untuk kepentingan
pelayanan kesehatan.

BAB IV
DONOR DARAH

Pasal 7

(1) Dalam rangka menjamin ketersediaan darah, Pemerintah mengatur


pengerahan dan pelestarian donor darah.

(2) Pengerahan dan pelestarian donor darah sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) dilaksanakan oleh Palang Merah Indonesia, Pemerintah Daerah,
dangan mengikut sertakan peranserta aktif masyarakat.

Pasal 8

(1) Setiap orang dapat menjadi donor secara sukarela baik individual maupun
berkelompok tanpa imbalan apapun.

(2) Donor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat
kesehatan.

(3) Donor harus memberikan informasi yang benar perihal kesehatan dan
perilaku hidupnya.

3
(4) Ketentuan tentang persyaratan kesehatan donor diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Menteri.

Pasal 9

Darah donor dilarang diperjualbelikan dengan alasan apapun.

Pasal 10

(1) Setiap donor harus dilakukan pendataan melalui suatu sistem informasi.

(2) Pendataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam rangka
pelestarian donor secara nasional.

(3) Ketentuan tentang pendataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri.

Pasal 11

Tenaga kesehatan dan tenaga lainnya yang memberikan pelayanan transfusi


darah harus membuat catatan dan menjaga kerahasiaan catatan medis donor
(medical record).

BAB V
PENGELOLAAN DARAH

Bagian Kesatu
Pengambilan Darah

Pasal 12

(1) Pengambilan darah hanya dapat dilakukan di fasilitas pelayanan


kesehatan, dan atau tempat tertentu yang memenuhi persyaratan kesehatan
dan dilaksanakan sesuai standar pelayanan.

(2) Setiap pengambilan darah harus didahului dengan pemeriksaan


kesehatan donor setelah mendapat persetujuan dari donor yang
bersangkutan.

(3) Donor harus diberi informasi terlebih dahulu mengenai risiko


pengambilan darah dan tindak lanjut pemberitahuan penyakit yang diketahui
dari pemeriksaan darahnya.

(4) Ketentuan mengenai persyaratan dan standar pelayanan pengambilan


darah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3)
ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri.

Bagian Kedua
Pencegahan Penularan Penyakit
4
Pasal 13

(1) Dalam rangka pencegahan penularan penyakit dari donor kepada pasien
wajib dilakukan uji saring penyakit.

(2) Uji saring penyakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-
kurangnya meliputi penyakit HIV-AIDS, Hepatitis B, Hepatitis C, dan Sifilis.

(3) Pemeriksaan uji saring sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
harus dilakukan sesuai standar pelayanan.

(4) Ketentuan mengenai uji saring pencegahan penularan penyakit dan


standar pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri.

Bagian Ketiga
Penyimpanan Darah

Pasal 14

(1) Darah harus disimpan pada tempat penyimpanan yang memenuhi


standar dan persyaratan teknis penyimpanan.

(2) Persyaratan teknis penyimpanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


mencakup wadah atau tempat, suhu penyimpanan, lama penyimpanan dan
atau persyaratan lainnya yang dapat menjamin mutu darah.

(3) Ketentuan tentang standar dan persyaratan teknis penyimpanan darah


sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dan ayat (2) ditetapkan lebih lanjut
oleh Menteri.

Bagian Keempat
Pengolahan Darah

Pasal 15

(1) Untuk memenuhi kebutuhan komponen darah tertentu dalam


pelayanan transfusi darah, dapat dilakukan pengolahan darah.

(2) Pengolahan darah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi


kegiatan pemisahan komponen darah dan fraksionasi plasma.

(3) Fraksionasi plasma sebagaiman dimaksud pada ayat (2) hanya


dapat dilakukan oleh tenaga medis yang memiliki kompetensi dan
kewenangan.

(4) Pengolahan darah hanya dapat dilakukan di UTD atau pada


fasilitas fraksionasi plasma yang memenuhi standar dan persyaratan.

5
(5) Fasilitas fraksionasi plasma sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
harus mendapat izin dari Menteri.

(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai standar pengolahan darah, persyaratan


dan perizinan fasilitas fraksionasi plasma sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri.

Bagian Kelima
Pelabelan

Pasal 16

(1) Darah yang telah diolah harus diberi label atau identitas.

(2) Label atau identitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-
kurangnya harus memuat keterangan mengenai jenis darah, nomor kantong
darah, golongan darah, hasil pemeriksaan uji saring, tanggal pengambilan,
tanggal kadaluarsa, dan jenis antikoagulan.

(3) Darah yang tidak memenuhi standar atau persyaratan untuk digunakan
dalam transfusi darah, harus dimusnahkan.

(4) Ketentuan tentang tatacara pelabelan dan pemusnahan sebagaimana


dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri.

Bagian Keenam
Pendistribusian Darah

Paragraf Kesatu
Umum
Pasal 17

(1) Darah hanya dapat didistribusikan dalam rangka penyaluran dan


penyerahan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.

(2) Distribusi darah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui
sistem tertutup dan metode rantai dingin.

(3) Distribusi darah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat
dilakukan oleh tenaga kesehatan atau petugas UTD atau BDRS dengan
memperhatikan keamanan dan mutu darah.

(4) Ketentuan mengenai tata cara dan persyaratan pendistribusian darah


sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut
oleh Menteri.

Paragraf Kedua
Penyaluran dan Penyerahan

6
Pasal 18
(1) Darah hanya dapat disalurkan dan diserahkan oleh UTD kepada UTD lain,
UTD kepada BDRS, atau UTD kepada fasilitas pelayanan kesehatan lain
sesuai kebutuhan.

(2) Dalam keadaan darurat, bencana atau kondisi pasien yang tidak
memungkinkan pasien dikirim ke rumah sakit, darah dapat disampaikan ke
fasilitas pelayanan kesehatan diluar rumah sakit dengan permintaan tertulis
dari dokter yang merawat pasien.

(3) Ketentuan mengenai tata cara dan persyaratan penyaluran dan


penyerahan darah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur
lebih lanjut oleh Menteri.

BAB VI
PEMBERIAN DARAH DAN KOMPONEN DARAH

Pasal 19

(1) Pemberian darah dan komponen darah kepada pasien dilaksanakan


berdasarkan indikasi medis.

(2) Sebelum dilakukan pemberian darah dan komponen darah kepada pasien
harus dilakukan uji silang serasi antara darah donor dengan darah pasien.

(3) Pemberian darah dan komponen darah sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) dan ayat (2) hanya dapat dilaksanakan oleh tenaga medis di fasilitas
pelayanan kesehatan sesuai standar pelayanan.

(4) Ketentuan mengenai pemberian darah dan komponen darah


sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Menteri.

BAB VII
PENGIRIMAN DAN PENERIMAAN DARAH
DARI DAN KE LUAR INDONESIA

Pasal 20
(1) Pengiriman atau penerimaan darah dan atau komponennya dari dan ke
luar Indonesia harus memperoleh izin Menteri.

(2) Pengiriman dan penerimaan darah dari dan ke Indonesia hanya dapat
dilakukan oleh Badan dan/atau Lembaga Penelitian, Institusi pendidikan,
sarana kesehatan dan organisasi palang merah.

7
(3) Izin pengiriman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
diberikan untuk tujuan:
a. Penelitian dan pengembangan di bidang ilmu dan teknologi
transfusi darah.
b. Pemenuhan kebutuhan darah langka.
c. Dalam rangka kerja sama non-komersial antara Palang Merah
Indonesia dengan Palang Merah lain atau Badan-badan lain di luar negeri,
dalam menanggulangi musibah masal seperti perang, bencana alam dan
bencana buatan manusia.
d. Pemeriksaan spesimen darah yang belum bisa dilakukan di
Indonesia.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tatacara dan persyaratan perizinan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam
Peraturan menteri.

BAB VIII
PELAYANAN APHERESIS
Pasal 21

(1) Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan dalam upaya


pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi kedokteran dapat diselenggarakan pelayanan
apheresis .

(2) Pelayanan apheresis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
dilakukan pada fasilitas kesehatan yang memenuhi persyaratan yang
ditetapkan oleh Menteri.

(3) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup persyaratan


ketenagaan, persyaratan sarana, prasarana dan peralatan serta jejaring
kerja.

Pasal 22

(1) Pelayanan Apheresis hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis yang
memiliki kompetensi dalam rangka pengobatan dan pemulihan kesehatan
berdasarkan atas indikasi medis.

(2) Pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai


standar profesi dan standar operasional prosedur pada fasilitas pelayanan
kesehatan rujukan yang telah memenuhi persyaratan.

(3) Setiap pelayanan apheresis harus mendapat persetujuan tertulis


(Informed Consent) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

8
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pelayanan apheresis
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan
Peraturan Menteri.

BAB IX
PENYELENGGARAAN

Bagian Kesatu
UTD dan BDRS

Pasal 23

(1) Pengelolaan darah untuk tujuan pelayanan transfusi darah hanya dapat
dilakukan pada UTD.

(2) UTD dalam melakukan kegiatan pengelolaan darah berkoordinsi dengan


Pemerintah Daerah setempat.

Pasal 24

(1) Untuk memenuhi kebutuhan dan ketersediaan darah, pada tiap


Kabupaten/Kota dapat dibentuk UTD.

(2) UTD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat merupakan UTD milik
Pemerintah, Pemerintah Daerah, atau UTD PMI.

(3) Setiap pembentukan UTD harus memperoleh izin dari Menteri.

(4) Izin pembentukan UTD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus
memenuhi persyaratan yang meliputi persyaratan lokasi, bangunan,
prasarana, peralatan dan ketenagaan serta manajemen penggalangan donor.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan dan persyaratan
UTD diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 25
(1) Untuk memenuhi kebutuhan dan ketersediaan darah di Rumah Sakit, dapat
didirikan BDRS yang merupakan bagian dari unit pelayanan Rumah Sakit.

(2) BDRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas :

a. menerima darah yang sudah diuji saring dari UTD;

9
b. menyimpan darah dan memantau persediaan darah;

c. melakukan uji silang serasi darah donor dan darah pasien;

d. melakukan pengolahan komponen darah sesuai kemampuan;

e. memberikan pelayanan apheresis sesuai kemampuan;

f. melakukan rujukan bila ada kesulitan hasil uji silang serasi dan

golongan darah ABO/rhesus ke UTD secara berjenjang;

g. menyerahkan darah yang cocok bagi pasien di rumah sakit

tersebut;

h. melacak penyebab reaksi transfusi yang dilaporkan dokter rumah

sakit; dan

i. melaksanakan pemusnahan darah transfusi yang tidak layak pakai.

(3) Ketentuan lebih lanjut tentang persyaratan dan tatacara pendirian BDRS

diatur dengan Peraturan Menteri.

Bagian Kedua

Pendidikan dan Pelatihan

Pasal 26

(1) Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan transfusi darah perlu

dilakukan pendidikan dan pelatihan untuk tenaga pelaksana transfusi darah.


10
(2) Pendidikan dan pelatihan untuk tenaga pelaksana transfusi darah

diselenggarakan oleh institusi yang kompeten dan mendapat persetujuan

Menteri.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendidikan dan pelatihan sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.

Bagian Ketiga
Penelitian dan Pengembangan

Pasal 27
(1) Untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, UTD

dapat melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan (operational

research) dalam pengelolaan transfusi darah.

(2) Kegiatan penelitian dan pengembangan dalam pengelolaan darah

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilaksanakan sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Bagian Keempat
Pengelolaan Limbah

Pasal 28
UTD wajib melaksanaan pengelolaan limbah sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Bagian Kelima
Audit

11
Pasal 29
(1) Dalam rangka meningkatkan keamanan dan mutu pelayanan
transfusi darah, setiap UTD wajib dilakukan audit.

(2) Audit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara


berkala minimal satu kali dalam setahun.

(3) Audit dilakukan oleh suatu Tim yang dibentuk dan ditetapkan oleh
Menteri.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan audit diatur dalam


Peraturan Menteri.

Bagian Keenam
Jejaring

Pasal 30

(1) Untuk menjamin ketersediaan darah, mutu, keamanan, sistem informasi


donor, akses, rujukan dan efisiensi pelayanan darah perlu dibentuk jejaring
pelayanan transfusi darah.

(2) Jejaring sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi semua institusi
terkait dengan pelayanan transfusi darah.

(3) Jejaring sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari jejaring tingkat
Nasional, Propinsi dan Kabupaten/kota.

(4) Pembentukan jejaring sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didukung


oleh sistem informasi yang efektif dan efisien sesuai perkembangan
teknologi.

(5) Bimbingan teknis pelayanan transfusi darah dilakukan secara berjenjang


dalam jejaring transfusi darah.

(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai jejaring sebagaimana dimaksud pada


ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri.

Bagian Ketujuh
Tanda Penghargaan

Pasal 31

Kepada donor dapat diberikan tanda penghargaaan dari Pemerintah


(1)
dan atau Pemerintah Daerah.

(2)Tanda penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa


piagam penghargaan, medali, dan penghargaan lainnya.

12
(3)Ketentuan tentang persyaratan dan tatacara pemberian penghargaan
diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri.

BAB X
PEMBIAYAAN

Pasal 32
(1) Pembiayaan pengelolaan darah transfusi dapat bersumber dari
penerimaan UTD, anggaran Pemerintah, anggaran Pemerintah Daerah,
subsidi Pemerintah, subsidi Pemerintah Daerah atau sumber lain sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mengalokasikan dana
untuk subsidi pembiayaan pengelolaan darah transfusi.
(3) Subsidi pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat
berupa bahan, peralatan, dana atau fasilitas lainnya.

Pasal 33
(1) Penggunaan darah untuk kepentingan pelayanan kesehatan dapat

dikenakan biaya.

(2) Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan

penggantian biaya pengolahan darah dan/atau komponen darah tidak

termasuk biaya uji saring penyakit yang dibiayai Pemerintah atau

Pemerintah Daerah, dan bukan untuk tujuan mencari keuntungan.

(3) Biaya penggantian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)

ditetapkan berdasarkan pola perhitungan yang ditetapkan oleh Menteri.

(4) Ketentuan lebih lanjut tentang besaran biaya penggantian

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan

Menteri.

BAB XI

13
TANGGUNG JAWAB HUKUM

Pasal 34

Risiko transfusi darah atau kejadian ikutan pasca transfusi darah tidak menjadi

tanggung jawab UTD dan fasilitas pelayanan kesehatan sepanjang pengelolaan

dan pelayanan transfusi darah telah dilaksanakan sesuai standar.

BAB XII
PENCATATAN DAN PELAPORAN

Pasal 35
(1) UTD dan BDRS wajib melakukan pencatatan dan pelaporan
penyelenggaraan pengelolaan dan pelayanan transfusi darah.

(2) Ketentuan tentang tatacara pencatatan dan pelaporan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan lebih lanjut dengan
Peraturan Menteri.

BAB XIII

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 36

(1) Pembinaan dan pengawasan terhadap semua kegiatan yang


berhubungan dengan pelayanan transfusi darah dilakukan oleh Pemerintah,
Pemerintah Daerah, dan Palang Merah Indonesia sesuai dengan fungsi,
tugas dan kewenangan masing-masing.

(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


diarahkan untuk :
a. meningkatkan mutu pelayanan transfusi darah;
b. tersedianya darah dalam semua golongan darah untuk memenuhi
kebutuhan pelayanan kesehatan;
c. memudahkan akses memperoleh informasi ketersediaan darah
untuk kepentingan pelayanan kesehatan;

14
d. meningkatkan kerjasama antara UTD dan BDRS.

Pasal 37

(1) Dalam rangka menjamin ketersediaan darah dan untuk


meningkatkan mutu pelayanan dan pengelolaan transfusi darah dibentuk
Komite Nasional Pelayanan Transfusi darah.

(2) Komite nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari
unsur-unsur Wakil Pemerintah, PMI, Perguruan Tinggi, Perhimpunan
Rumah Sakit, Organisasi Profesi, dan Lembaga Kemasyarakatan terkait
lainnya.

(3) Komite sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) bertugas
:
a. memberikan masukan pertimbangan kepada Pemerintah dalam
rangka pengambilan langkah kebijakan;
b. merumuskan arah kebijakan dan strategi nasional transfusi darah.
c. melakukan kerja sama dengan berbagai instansi pemerintah terkait
dan badan internasional;

(4) Ketentuan lebih lanjut tentang pembentukan, pelaksanaan tugas


dan susunan keanggotaan Komite ditetapkan oleh Menteri.

BAB XIV
KETENTUAN SANKSI

Pasal 38
(1) Dengan tidak mengurangi ancaman pidana sebagaimana diatur
dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, tenaga
kesehatan dan fasilitas kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap
ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini dapat
dikenakan tindakan administratif.

(2) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat


berupa teguran lisan, tertulis sampai dengan pencabutan izin praktik
dan/atau izin pengelolaan transfusi darah.

(3) Pelaksanaan pengambilan tindakan administratif sebagaimana


dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
BAB XV
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 39

(1) Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, semua


peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan
dari Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1980 tentang Transfusi Darah
15
dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan atau
belum diganti berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah ini.

(2) Setiap UTD atau BDRS yang telah ada, dalam jangka waktu 2
(dua) tahun sejak ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini harus
menyesuaikan dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan
Pemerintah ini.

BAB XVI
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 40
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, Peraturan Pemerintah Nomor
18 Tahun 1980 tentang Transfusi Darah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1980 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3165), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 41

Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan


Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal …………….

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DR. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal .....................

16
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

ANDI MATTALATA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN ... NOMOR ...

PENJELASAN
ATAS
RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
TENTANG
PELAYANAN TRANSFUSI DARAH

UMUM
Dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan yang dilaksanakan
melalui kegiatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit,
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.

Pelayanan transfusi darah sebagai salah satu upaya kesehatan dalam rangka
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan sangat membutuhkan
ketersediaan darah atau komponen darah yang cukup, aman, mudah diakses
dan terjangkau oleh masyarakat.

Upaya memenuhi ketersediaan darah untuk kebutuhan pelayanan kesehatan


selama ini telah dilakukan oleh Palang Merah Indonesia melalui Unit-unit
Transfusi Darah (UTD) yang tersebar di seluruh Indonesia berdasarkan
penugasan oleh pemerintah sebagaimana telah diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 18 Tahun 1980 tentang Transfusi Darah.

17
Keberhasilan pengelolaan pelayanan transfusi darah sangat tergantung pada
ketersediaan donor, sarana, tenaga, dan pendanaan, oleh karena itu
pengelolaannya harus dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan dan
dilaksanakan secara terkoordinasi antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan
partisipasi aktif masyarakat termasuk Palang Merah Indonesia sebagai mitra
Pemerintah.

Perubahan kebijakan pemerintah dari sistem sentralisasi kepada desentralisasi


yang telah menempatkan masalah kesehatan sebagai urusan wajib daerah,
perlu diimplementasikan secara nyata tanpa mengurangi tanggung jawab
Pemerintah.

Pengelolaan pelayanan transfusi darah sebagai bagian yang esensial dan


integral dari upaya kesehatan secara nasional haruslah menjadi tanggung jawab
bersama antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah dengan tetap mengacu
pada kepentingan masyarakat luas.

Pelayanan darah dalam arti luas mencakup kepentingan publik yang mendasar
yang menjangkau kebutuhan jutaan manusia, oleh karena itu kebijakan
pengaturan dalam Peraturan Pemerintah ini harus dilaksanakan dengan tetap
berlandaskan pada asas perikemanusiaan, perlindungan dan keselamatan
pasien dan mendahulukan kepentingan masyarakat luas.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang kedokteran khususnya


dalam teknologi pelayanan transfusi darah, pengelolaan komponen darah dan
pemanfaatannya dalam pelayanan kesehatan harus mempunyai landasan
hukum sebagai konsekuensi azas negara berlandaskan hukum, oleh karena itu
dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat penerima
pelayanan, pelayanan transfusi darah hanya dapat dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang memiliki kompetensi dan kewenangan, dan hanya dapat
dilaksanakan pada fasilitas kesehatan yang memenuhi persyaratan. Hal ini
diperlukan untuk mencegah timbulnya berbagai risiko, terjadinya penularan
penyakit baik bagi penerima pelayanan transfusi darah maupun bagi tenaga
kesehatan sebagai pemberi pelayanan kesehatan. Oleh karena itu pengamanan
pelayanan darah harus dilaksanakan pada setiap tahapan kegiatan mulai dari
seleksi donor, proses pengambilan darah, uji saring penyakit yang dapat
menular melalui transfusi darah, pemeriksaan serologi golongan darah dan uji
silang serasi, penyimpanan darah, pengolahan darah, pendistribusian darah,
sampai pada tindakan medis pemberian darah kepada pasien.

Dalam rangka memberikan kepastian hukum, perlindungan hukum, untuk


meningkatkan mutu pelayanan, mengarahkan dan memberi landasan hukum,
perlu mengatur kembali penyelenggaraan pelayanan transfusi darah dengan
Peraturan Pemerintah.

Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur :


1. Asas penyelenggaraan pelayanan tranfusi darah yang didasarkan pada
perikemanusiaan, keseimbangan dan perlindungan serta keselamatan

18
pasien, tenaga kesehatan dan donor yang memperoleh pelayanan transfusi
darah;
2. Tanggung jawab pemerintah, pemerintah daerah dan peran serta aktif
masyarakat dalam membantu pemerintah;
3. Pengaturan persyaratan donor, pendataan, dan pelestarian donor;
4. Penyelenggaraan pelayanan transfusi darah mulai dari pengambilan,
penyimpanan, pengolahan pendistribusian, penyaluran dan penyerahan
darah untuk pelayanan kesehatan;
5. Pengaturan organisasi pelayanan transfusi darah;
6. Pengaturan pengiriman dan penerimaan darah dari dan ke luar Indonesia;
7. Pengaturan penerapan teknologi kedokteran dalam pelayanan transfusi
darah;
8. Pengaturan pembiayaan, pemberian penghargaan, pencatatan dan
pelaporan, tanggung jawab hukum, serta pembinaan dan pengawasan.

PASAL DEMI PASAL :

Pasal 1
Cukup Jelas.

Pasal 2
Ayat (1)
Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan:
a. Asas kemanusiaan yaitu bahwa dalam pelayanan transfusi
darah harus memberikan perlakuan yang sama dengan tidak
membedakan suku, bangsa, agama, status sosial, dan ras;
b. Asas keseimbangan yaitu bahwa dalam pelayanan transfusi
darah tetap menjaga keserasian serta keselarasan antara
kepentingan individu dan masyarakat;
c. Asas perlindungan dan keselamatan pasien, tenaga
kesehatan dan donor yaitu bahwa pelayanan transfusi darah tidak
hanya memberikan pelayanan kesehatan semata, tetapi harus
mampu memberikan peningkatan derajat kesehatan dengan tetap
memperhatikan perlindungan dan keselamatan pasien, tenaga
kesehatan dan donor.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 3
Cukup jelas.

Pasal 4
Ketersediaan darah untuk kepentingan pelayanan kesehatan tidak hanya
menjadi tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah semata,

19
namun memerlukan peran serta aktif masyarakat. Peran serta aktif
masyarakat dapat dilakukan melalui keikutsertaan menjadi donor darah
secara sukarela dan berkesinambungan.
Pelaksanaan tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah yang
dimaksud dalam pasal ini adalah tanggung jawab yang sesuai dengan
tugas dan fungsinya masing-masing sejalan dengan amanat pelaksanaan
otonomi daerah.

Pasal 5
Cukup jelas.

Pasal 6
Cukup jelas.

Pasal 7
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan ”pengerahan” adalah kegiatan
mengumpulkan orang-orang yang bersedia menjadi donor darah.

Ayat (2)
Peranan PMI, Pemerintah Daerah dan Organisasi kemasyarakatan
dimaksudkan untuk dapat menjaring sebanyak-banyaknya donor
darah dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan ketersediaan darah
untuk pelayanan kesehatan.

Pasal 8
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “tanpa imbalan apapun” adalah donor darah
harus didasarkan pada kesukarelaan, tanpa mengharapkan
penggantian uang maupun barang.

Ayat (2)
Syarat kesehatan yang dimaksud dalam ayat ini antara lain meliputi
keadaan umum calon donor tidak tampak sakit, tidak dalam
pengaruh obat-obatan, memenuhi ketentuan umur donor, berat
badan, suhu tubuh, nadi, tekanan darah, hemoglobin, ketentuan bagi
calon donor setelah haid, kehamilan dan menyusui, jarak
penyumbangan darah dan persyaratan lainnya meliputi keadaan
kulit donor, riwayat transfusi darah, penyakit infeksi, riwayat imunisasi
dan vaksinasi, riwayat operasi, riwayat pengobatan, obat-obat
narkotika dan alkohol serta ketentuan tato, tindik, dan tusuk jarum.

Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “perilaku hidupnya” adalah kebiasaan yang
berdampak buruk bagi kesehatan seperti penyalahgunaan obat
dengan jarum suntik, seks bebas (termasuk homoseksualitas,
biseksualitas), melakukan pelukaan kulit, tato dan upacara dengan
darah (melukai).

Ayat (4)
20
Cukup jelas.

Pasal 9
Darah sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa kepada setiap insan
tidaklah sepantasnya dijadikan obyek jual beli untuk mencari keuntungan,
biarpun dengan dalih untuk menyambung hidup.
Darah bukanlah komoditi yang diperdagangkan akan tetapi bersifat upaya
kemanusiaan yang kebutuhannya sangat diperlukan dalam rangka upaya
menyelamatkan nyawa manusia dari kematian. Oleh karena itu darah
tidak selayaknya diperjual belikan dengan alasan apapun.

Pasal 10
Ayat (1)
Pendataan melalui sistem informasi dilakukan dalam rangka
pelestarian donor menjadi donor tetap dan penilaian untuk
pemberian penghargaan. Disamping itu dalam pendataan juga perlu
dibuat catatan dalam bentuk kartu peserta/kegiatan donor, catatan
berkaitan rincian pribadi donor, catatan medis donor dan catatan
hasil penilaian berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan pada
donasi sebelumnya. Melalui sistem kartu dapat disusun donor
berdasarkan tanggal kapan yang bersangkutan harus kembali untuk
mendonasikan diri lagi, disusun menurut abjad atau disusun
berdasarkan golongan darah.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 11
Kerahasiaan adalah bagian vital dari pelayanan profesional. Informasi
yang diberikan oleh donor adalah bersifat pribadi dan diberikan hanya
untuk membantu pelayanan dalam menjamin keamanan penyediaan
darah. Rahasia ini tidak dapat dibuka tanpa seizin donor atau sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tindakan
pelayanan transfusi darah juga harus dicatat secara lengkap, tepat waktu
dan akurat sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Catatan donor memuat
informasi tentang data pribadi, pernyataan persetujuan, riwayat medis
donor, catatan hasil pemeriksaan termasuk hasil tes laboratorium atas
darah donor dan apakah donor termasuk yang ditunda baik sementara
atau seterusnya.

Pasal 12
Ayat (1)
Tempat tertentu adalak tempat di luar fasilitas pelayanan kesehatan
yang memenuhi persyaratan kesehatan untuk dapat dilkukannya
pengambilan darah.

21
Ayat (2)
Penentuan persyaratan pemeriksaan kesehatan donor dimaksudkan
untuk tetap menjaga kesehatan donor dan untuk mencegah
terjadinya kemungkinan penularan penyakit kepada pasien yang
menerima darah.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 13
Cukup jelas

Pasal 14
Cukup jelas.

Pasal 15
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Yang dimaksud dengan ”Fraksionasi Plasma” adalah pemilahan
derivat plasma menjadi produk plasma dengan menerapkan
teknologi dalam pengolahan darah.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Ayat (5)
Cukup jelas.

Ayat (6)
Cukup jelas.

Pasal 16
Cukup jelas.

Pasal 17
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)

22
Yang dimaksud dengan ”Sistem Tertutup” adalah suatu mekanisme
pendistribusian darah yang mengikuti standar operasional prosedur
pelayanan di rumah sakit tanpa melibatkan pihak lain seperti
keluarga pasien.

Yang dimaksud dengan “Metode Rantai Dingin” adalah suatu sistem


pemeliharaan suhu darah dan komponen darah dari mulai
pengambilan sampai dengan pemebrian darah kepada pasien. Hal
penting dari metode rantai dingin ini yaitu orang yang bertanggung
jawab mengatur srta melaksanakan proses penyimpanan dan
pemindahan darah dan plasma srta peralatan untuk menyimpan dan
memindahkan darah serta plasma secara aman. Metode rantai
dingin tidak sekedar lemari es saja. Peralatan dan alat pengangkut
yang paling modern dan baik tidak akan efektif bila darah tidak dijaga
secara baik oleh orang yang mengerjakannya.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 18
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan ”Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lain” adalah
rumah sakit yang tidak memiliki BDRS.
Darah yang disalurkan dan diserahkan adalah darah yang telah
menjalani proses skrining/uji saring terhadap Infeksi Menular Lewat
Transfusi Darah (IMLTD).

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 19
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Yang dimaksud dengan uji silang serasi dalam ayat ini adalah
tindakan pengujian terhadap kesesuaian antara darah donor dengan
darah pasien sebelum tindakan transfusi dilakukan. Uji silang
dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada antibodi-antibodi pada
darah pasien yang akan bereaksi dengan darah donor bila
ditransfusikan atau sebaliknya.

23
Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 20
Cukup jelas

Pasal 21
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “Pelayanan Apheresis” adalah penerapan
teknologi medis berupa proses pengaliran darah dari donor atau
pasien melalui suatu alat yang memisahkan salah satu pilihan dan
mengembalikan selebihnya ke dalam sirkulasi.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 22
Ayat (1)
Penentuan indikasi medis sekurang-kurangnya oleh 2 (dua) orang
dokter yang kompeten.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 23
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)

24
Koordinasi dimaksudkan untuk melibatkan peran aktif pemerintah
daerah dalam penyelenggaraan pengelolaan darah.

Pasal 24

Ayat (1)
Pembentukan UTD harus mempertimbangkan kebutuhan darah dan
kemampuan tersedianya penyumbang darah di wilayah tersebut.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 25
Cukup jelas.

Pasal 26
Cukup jelas.

Pasal 27
Ayat (1)
Penelitian dilakukan melalui penapisan (assesment) dan penerapan
teknologi transfusi darah yang sesuai dengan kebutuhan setempat.
Kegiatan pengembangan meliputi pengembangan produksi lokal dan
peralatan yang memungkinkan dapat dibuat oleh UTD.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 28
Cukup jelas.

Pasal 29
Cukup jelas.

25
Pasal 30
Ayat (1)
Pelaksanaan pelayanan transfusi darah membutuhkan kerjasama
yang erat. Jejaring ini merupakan wadah komunikasi aktif antar
unsur-unsur terkait yaitu UTD, rumah sakit dan Dinas Kesehatan
dengan pelayanan transfusi darah sehingga permasalahan yang
dapat menyebabkan tidak terwujudnya pelayanan yang berkualitas
dapat dihindari/ditanggulangi. Dalam upayanya perlu didukung oleh
Pemerintah, Pemerintah Daerah, organisasi profesi dan masyarakat
sehingga dapat tersedia darah yang aman, jumlah cukup, tepat
waktu, mudah diakses dan pemakaian rasional.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Ayat (5)
Cukup jelas.

Ayat (6)
Cukup jelas.

Pasal 31
Cukup jelas.

Pasal 32
Cukup jelas.

Pasal 33
Ayat (1)
Perhitungan biaya pengganti darah ditetapkan berdasarkan atas
komponen-komponen sebagai berikut:
a. Komponen jasa
b. Komponen administrasi
c. Komponen bahan dan alat habis pakai

Ayat (2)
26
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 34
Cukup jelas.

Pasal 35
Cukup jelas.

Pasal 36
Cukup jelas.

Pasal 37
Cukup jelas.

Pasal 38
Cukup jelas.

Pasal 39
Cukup jelas.

Pasal 40
Cukup jelas.

Pasal 41
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR ...

27
Nomor : HK.01.01/i/294/2009 Jakarta, 28 April 2009
Lampiran : 1 (satu)
Perihal : RPP Transfusi Darah

Kepadayang terhormat,
SAM BIDANG TEKNOLOGI KESEHATAN
DAN GLOBALISASI
di
J A K A R T A.

Dengan hormat,

Bersama ini kami laporkan kepada Ibu sebagai berikut :


1. Sesuai hasil pembahasan rapat Interdepartemental RPP
Transfusi Darah yang diselenggarakan pada tanggal 13
Maret 2009 yang dihadiri oleh berbagai wakil Departemen
dan unit teknis dilingkungan Departemen Kesehatan telah
diterima masukan dan tanggapan penyempurnaan terhadap
RPP dimaksud. Kami tidak menerima tanggapan tertulis
hingga saat ini.
2. Biro Hukum telah mencoba menampung dan merumuskan
kembali masukan dan tanggapan yang telah diajukan dalam
rapat interdepartemental tersebut sebagaimana draf
terlampir;
3. Selanjutnya sesuai Peraturan Presiden No. 68 Tahun 2004
tentang Tatacara Mempersiapkan RUU dan RPP, bahwa
RPP Transfusi Darah dimaksud selanjutnya harus
disampaikan ke Departemen Hukum dan Ham untuk

28
dilakukan proses harmonisasi secara interdep sebelum
diteruskan kepada Bapak Presiden untuk ditetapkan menjadi
Peraturan Pemerintah
4. Apabila Ibu telah menyetujuinya kami telah siapkan laporan
kepada Pimpinan Departemen Kesehatan untuk
memperoleh persetujuan dan surat pengantar Ibu Menteri
Kesehatan kepada Menteri Hukum dan Ham sebagaimana
drat surat terlampir.

Demikian kami sampaikan atas perhatian Ibu diucapkan terima


kasih.

Kepala Biro Hukum dan Organisasi,

ttd

BUDI SAMPURNA
Tembusan kepada Yth
Bapak Sekretaris Jenderal (sebagai laporan)

Nomor : NOTA DINAS Jakarta, 29 April 2009


Lampiran : 1 (satu)
Perihal : RPP Transfusi Darah

Kepadayang terhormat,
PIMPINAN DEPARTEMEN KESEHATAN
di
J A K A R T A.

Dengan hormat,

Bersama ini dilaporkan kepada Pimpinan sebagai berikut :

1. Pelayanan transfusi darah sebagai salah satu upaya


kesehatan dalam rangka penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan sangat membutuhkan ketersediaan
darah atau komponen darah yang cukup, aman, mudah
diakses dan terjangkau oleh masyarakat;

2. Upaya memenuhi ketersediaan darah untuk kebutuhan


pelayanan kesehatan selama ini telah dilakukan oleh Palang
Merah Indonesia melalui Unit-unit Transfusi Darah (UTD)
yang tersebar di seluruh Indonesia berdasarkan penugasan
oleh pemerintah sebagaimana telah diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 18 Tahun 1980 tentang Transfusi Darah.

3. Didalam perkembangannya keberadaan Peraturan


Pemerintah Nomor 18 Tahun 1982 tentang Transfusi Darah
sudah tidak memadai lagi menampung perkembangan dan

29
tuntutan dalam rangka penyediaan darah untuk kebutuhan
pelayanan kesehatan maupun antisipasi kebutuhan darah
dalam keadaan bencana, oleh karena itu perlu
disempurnakan.

4. Untuk maksud tersebut telah dilakukan langkah-langkah


pembahasan yang sudah dimulai sejak tahun 2007 sampai
dengan Maret 2009 ini, dan terakhir telah memperoleh
kesepakatan dalam rapat Interdepartemental yang
diselenggarakan pada tanggal 13 Maret 2009.

5. Selanjutnya untuk kepentingan proses penyelesaian lebih


lanjut ke Departemen Hukum dan HAM, bersama ini kami
sampaikan Draf RPP Transfusi Darah dimaksud untuk
memperoleh persetujuan Pimpinan.

6. Apabila telah memperoleh persetujuan pimpinan telah pula


kami siapkan surat pengantar Ibu Menteri Kesehatan
kepada Menteri Hukum dan HAM untuk dilakukan
harmonisasi secara interdep.

Demikian kami sampaikan atas perhatian Pimpinan


diucapkanterima kasih.

Kepala Biro Hukum dan Organisasi,

ttd

BUDI SAMPURNA

Tembusan kepada Yth


Bapak Sekretaris Jenderal (sebagai laporan)

30
Nomor : 358/MENKES/V/2009 Jakarta, 13 Mei 2009
Lampiran : 1 (satu)
Perihal : RPP Transfusi Darah

Kepada yang terhormat,


Sdr. MENTERI HUKUM DAN HAM
REPUBLIK INDONESIA
di
J A K A R T A.

Bersama ini disampaikan kepada Saudara Menteri sebagai


berikut :
1. Transfusi darah sebagai salah satu upaya kesehatan dalam
rangka penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan
sangat membutuhkan ketersediaan darah atau komponen
darah yang cukup, aman, mudah diakses dan terjangkau
oleh masyarakat;
2. Upaya memenuhi ketersediaan darah untuk kebutuhan
pelayanan kesehatan selama ini telah diatur dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1980 tentang
Transfusi Dara. Namun karena sudah tidak memadai lagi
dalam menampung perkembangan dan tuntutan dalam
rangka penyediaan darah untuk kebutuhan pelayanan
kesehatan maupun antisipasi kebutuhan darah dalam
keadaan bencana, sehingga perlu ditata kembali untuk
disesuaikan dengan perkembangan.
3. Untuk itu kami telah siapkan suatu RPP Transfusi Darah
baru sebagai pengganti Peraturan Pemerintah Nomor 18

31
Tahun 1982 tentang Transfusi Darah yang telah dilakukan
pembahasan sesuai ketentuan Peraturan Presiden No. 68
Tahun 2004 tentang Tatacara Mempersiapkan RUU dan
RPP.
4. Selanjutnya bersama ini kami sampaikan kepada Saudara
RPP dimaksud untuk dilakukan harmonisasi dan
penyelesaian selanjutnya sesuai ketentuan yang berlaku.
(Terlampir)

Demikian atas perhatian diucapkan terima kasih.

MENTERI KESEHATAN,

ttd

Dr. dr. SITI FADILAH SUPARI, Sp. JP (K)

32