Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

MATA KULIAH PENGENDALIAN HAYATI

SEJARAH PENGENDALIAN HAYATI

NAMA KELOMPOK 1 :

1. NURAISAH / F1C413006
2. APRILIANI / F1C41300
3. RIDHO PRATAMA YENDI / F1C4130

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS JAMBI

2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap makluh hidup menjadi penyusun dan pelaku terbentuknya suatu
komonitas yang mampu mengatur dirinya sendiri secara alami sehingga terjadi
keseimbangan numerik antara semua unsur penyusun komonitas. Setiap aktifitas
organisme dalam komonitasnya selalu berinteraksi dengan aktifitas organisme lain
dalam suatu keterikatan dan ketergantungan yang rumit yang menghasilkan
komonitas yang stabil. ( Untung, 2006 )
Pada saat ini pestisida sudah dianggap kurang efektif sebagai pembunuh
organisme yang bersifat patogen pada tanaman, terkait dengan banyaknya efek
negative yang ditimbulkan pestisida. Untuk itu perlu ditemukan alternatif lain yaitu
dengan pengendalian hayati, yaitu pengendalian secara biologis (biocontrol).Salah
satu jenis pengendalian hayati adalah dengan menggunakan mikroorganisme.
Untuk mengetahui lebih dalam bagaimana pengendalian hayati itu bisa di anggap
sebagai alternative pengganti pestisida alangkah baiknya kita mengetahui Sejarah
pengendalian hayati terlebih dahulu. Karena melalui sejarah ini lah kita dapat
mengetahui bagaimana pengendalian hayati bisa dijadikan sebagai pengendalian
hayati yang efisien dalam membunuh organism yang bersifat pathogen terhadap
tanaman.
Pengendalian hayati merupakan pengendalian serangga hama dengan cara
biologi, yaitu dengan memanfaatkan musuh - musuh alaminya (agen pengendali
biologi), seperti predator, parasit dan patogen. Pengendalian hayati adalah suatu
teknik pengelolaan hama dengan sengaja dengan memanfaatkan/memanipulasikan
musuh alami untuk kepentingan pengendalian, biasanya pengendalian hayati akan
dilakukan perbanyakan musuh alami yang dilakukan dilaboratorium.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Sejarah pengendalian hayati dimulai dari pestisida

Tercatat pada 1000 M orang hayati telah melakukan pengendalian hama.


Mereka menggunakan bahan sulfur sebagai fumigant. Pada tahun 1800 an , esktrak
temabakau dan asap juga nikotin digunakan untuk mengendalikan hama. Di tahun
1867, paris green, sebuah bahan insektisida berbabasis asresnik yang digunakan
untuk mengendalikan hama kumbang colarado pada tanaman kentang di Amerika
serikat. Bubuk bourdeoux , campuran copper sulphate dan hydrate lime yang
digunakan sebagai pengendalian fungi pathogen pada tanaman anggur dan berbagai
tanaman buah.

Pada masa itu sebenarnya manusia lebih banyak menggunakan cara


pengendalian cultural untuk mengendalikan hama, seperti rotasi tanaman,
membiarkan lahan bera pada saat tertentu, menanam tanaman perangkap atau
memusnahkan sisa tanaman yang dapat menguntungkan kehidupan hama . semua itu
dilakukan dengan tujuan untuk memanipulasi lingkungan tanaman agar pengendalian
hama secara alami dapat terjadi.

Akan tetapi, pada perang dunia I dan II telah mengubah pola pengendalian
hama karena semakin banyaknya pabrik yang mampu memproduksi bahan kimia
sintetsis dalam skala besar. Pada tahun 1939, DDT dan 2,4 D menarik perhatian
banyak orang karenadapat digunakan sebagai senajata untuk memerangi seranggga
hama dan gulma. Sejak saat itulah penggunaan peptisida semakin intensif. Bateman
(2000) mengungkapkan bahwa pada tahun 1980 hingga 2000 telah terjadi kenaikan
penggunaan peptisida hingga 2,5 kali lipat. Pestisida yang digunakan mencapai 2,5
juta ton setera dengan $ 20 miliar AS.

Pada beberapa kasus terbukti bahwa aplikasi pestisida ternyata malah


menjadikan problem organism pengganggu menjadi lebih besar. Kenyataannya tidak
semua seranngga pada pertanaman menyebabkan kerusakan , bahkan ada serangga
yang justru merupakan pemangsa organism pengganggu itu.serangga ini disebut
sebagai musuh alami. Tanpa adanya musuh alami maka serangga hama yang survive
dari penyemprotan pestisida akan dapat berkembang lebih cepat dan pest level
serangga hama tersebut akan dapat berkembang lebih cepat dibandingkan saat
sebelum disemprotkan. Kadang-kadang pestisida tidak dapat mengendalikan populasi
hama oleh karena beberapa alasan. Hal ini lah yang menjadi alasan utama mengapa
diperlukannya pengembangan sebuah alternative pengendalian.

Usaha pengendalian hayati pertama yang tercatat adalah pada tahun


900,dimana petani jeruk dichina menempatkan semut angkarang (Oecophylla
smaragdina) untuk melindungi pohon jeruk mereka dari serangan serangga.mereka
juga memasang bambu diantara pohon jeruk sehingga semut mampu berkolonisasi.

Penggunaan parasitologi pertama kali dilaporkan oleh Aldrovandi pada tahun


1902 dan redi pada tahun 1668, mereka mengamati munculnya tabuhan dari larva
Lepidoptera dan menyimpulkan transformasi larva Lepidoptera menjadi larva lain
melalui proses metamorphosis. Keduanya juga melakukkan mis-interprestasi terhadap
kejadian tersebut , dimana mereka menyimpulkan pupa parasitoid sebagai telur kupu-
kupu . identifikasi yang tepat mengenai parasitoid pertama dilakukan oleh Vallisnieri
pada tahaun 1706 yang mengamati hubungan antara parasitoid Cotesia (apanteles)
glomerata L. dan ulat pieris rapae. Van leuwenhoek juga secara tepat
menginterprestasikan parasitisme kutu daun oleh parasitoid aphidius pada tahun
1770. Martin Lister , pada tahun 1685, menduga bahwa kemunculan parastoid
ichneumonid itu berasal dari telur yang diletakkan oleh betina ichneumonid
(Purnomo, 2010)

2. Perkembangan pengendalian hayati dari berbagai Negara.

Laporan utama yang tercatat tentang adanya introduksi musuh alami dari
suatu Negara ke Negara lain adalah pada tahun 1762, ketika importasi burung mynah
(Grcula religiosa) dari india untuk mengendalikan belalang Nomadacris
septemfasciata di Mauritius. Musuh alami pertama yang dilaporkan digunakan di
eropa tahun 1776 yaitu penggunaan predator kepik, untuk mengendalikan tinggi
beedug. Awal tahun 1800 Erasmus Darwin memberikan penyuluhan agar petani
dirumah kaca menggunakan lalat syrpid dan kumbang koksi untuk mengendalikan
kutu daun. Hartig pada tahun 1826 menggumpulkan larva-larva parasit dan
menyimpannya dilaboratorium .setelah parasitoid muncul maka kemudian akan
dilepas kembali ke Alam.

Perkembangan pengendalian hayati juga terjadi di Amerika serikat Dimana


Asa Fitch pada tahun 1856 menduga bahwa ledakan serangan hama yang berasal dari
Eropa di Amerika disebabkan oleh tidak adanya musuh alami hama itu di Amerika. Ia
menyarankan untuk mengimpor musuh alami dari Negara asal hama. Sebagai contoh
yaitu pelepasan parasitoid dari satu lokasi ke lokasi lain yang tercatat pertama kali
dilakukan di Amerika serikat oleh CV Riley yang melepas parasitoid kumbang
moncong. Pada tahun 1883 parasitoid Apanteles glomerata sukses di bawa dari
England ke USA untuk mengendalikan pieris rapae yang ternyata hasilnya sangat
baik. Yang betujuan untuk mengendalikan telur sawfly, Nematus ribesti
(Purnomo,2010).
Greatnead (1988) mencatat inportasi parasitoid Encarsia berlesi dari Italia k
USA untuk mengendalikan kutu perisai Pesudaulaucapsis pentagona Targioni-
tozetti.sejak keberhasilan pengendalian hayati tersebut, banyak program pengendalian
hayati di set-up. Namun demikian , upaya pengendalian hayati pada awalnya masih
mengendalikan upaya importasi musuh alami (Purnomo, 2010).
3. Sejarah pengendalian hayati di Indonesia

Pada masa pendudukan belanda terjadi serangan kutu putih dikendalikan dengan
parasit local. Bila ada daerah yang terserang maka akan diintroduksikan kutu putih
yang terparasit dari tempat lain. Augementasi Lalat tachnid asli jatiroto dan parasitoid
telur Trichogramma australicum untuk mengendalikan penggerek batang tebuh.
Pada tahun 1920 , van der goot mengintroksi kumbang coccinelid, cryptolaemus
montrouzier untuk mengendalikan kutu coccidae pada lamtoro Ferissia vergata (kutu
dompalan pada tanaman kopi). Pada tahun 1928, hampir 2000 kumbang di
introduksikan ke toraja untuk mengendalikan kutu kopi . Pada tahun 1939 kekuala
tungka , coccid pada tanaman kelapa.
Pada tahun 1931 adanya introduksi Ichnemonid diadegna fenetralis dari eropa
untuk mengendalikan Plutella Xylostella , hama tanaman kubis. Hasilnya parasitoid
tidak bisa estabilish sehingga kemudian diintroduksi lagi D. samiclausum dari
inggris. pada tahun 1938 dilakukan introduksi Cryptognatha nodiceps dari daerah
tropis Amerika untuk mengendalikan Aspidiotus destructor pada tanaman kelapa.
Pada tahun 1923 diintroduksi Braconid Heterospilus coffeicola dari Amerika
serikat untuk mengendalikan hama bubuk buah kopi . pada tahun 1935 braconid
diintroduksikan kesrilangka dari jawa untuk mengendalikan Tea tortrix
(purnomo,2010).
4. Garis waktu sejarah perkembangan pengendalian hayati
Penjelasan tabel diatas
Ilmu pengendalian hayati merupakan ilmu terapan yang dimulai sejak tahun
1881 hingga saat ini, perkembangan itu terbagi menjadi tiga fase yaitu fase pertama
atau fase Chemical Biological Control (ChBC) dan Entomology Biological Control
(EBC), fase kedua yaitu fase Conventional Biological Control (CBC) dan fase
terakhir adalah fase Modern Biological Control (MBC) dan Molecular Research for
Biological Control (MRBC). Fase awal adalah fase dimulai tahun 1881- 1972. Fase
kedua adalah fase dimulai tahun 1972- 1980. Fase terakhir adalah fase dimulai tahun
1980-sekarang. (Veil,et al, 2001).
Dari grafik diatas dapat dilihat penurunan jumlah invasive spesies yang
semula padat menjadi stabil dan akhirnya menurun dengan laju yang berpola,
sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi stabil. Pada tahun 2000, konsep
pengendalian hayati adalah konservasi musuh alami, yaitu menjaga kestabilan
densitas populasi (Ryel.et.al, 2000).
Konsep pengendalian hayati pada tahun 2002 adalah augmentative biological
control di daerah amerika latin. Agen pengendali hayati yang digunakan adalah
parasitoid untuk mengendalikan hama Sirex, yang merupakan serangka yang merusak
kayu. Salah satu Negara yang paling banyak melakukan aplikasi pengendalian hayati
ini adalah Brazil. Sejak dari penelitian Macedo tahun 2000 yang meneliti tentang
hubungan parasitoid terhadap pengendalian hayati. Salah satu yang pengendali hayati
yang digunakan adalah Cotesia flasipes yang berasal daricameroon untuk
mengendalikan kumbang perusak tebu (Diatreaea saccharalis) yang merugikan
perkebunan tebu sebanyak 300,000 hektar, dan hasil yang didapat bahwa C. flasipes
berhasil mengurangi hama tersebut sebanyak 90%.
Selanjutnya penelitian dari (Arigoni 2000), yang menggunakan AgNPVirus
(Baculovirus anticarsia) yang mengendalikan ulat perusak tanaman kedele
(Anticarsia gemmatalis Hübner) dan keberhasilan pengendaliannya sebanyak I juta
hektar per tahun.
Pengendalian hayati pada tahun 2006, memiliki pendekatan yang baru, yaitu
pendekatan pengontrolan atau pengendalian penyakit tanaman yang disebabkan oleh
pathogen, (Pal et.al, 2006) didalam penelitiannya yang berjudul “Biological Control
of Plant Pathogens” dan didapatkan hasil bahwa mekanisme perbedaan antagonism
melalui spectrum langsung melalui jumlah kontak interspesies.
Pada tahun 2007, penelitian mengenai pengendalian hayati berfokus pada
ketahanan pangan, seperti pada penelitian yang pernah dilakukan oleh (Bale et.al,
2007) dari University of Zurich yang berjudul “Biological Control and Sustainable
food production”. Kegunaan pengendalian hayati adalah untuk memanagemen hama
serangga perdekade terakhirdidalam era pestisida modern. Kesuksesan tersebar dari
pengendalian hayati ini adalah penstabilan hama eksotik yang dikendalikan oleh
spesies yang menjadi musuh alaminya. Hal ini lebih baik digunakan didalam sebuah
lingkungan dan tidak mencemarkan lingkungan dengan senyawa-senyawa kimia.
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa penelitian mengenai pengendalian
hayati mengalami peningkatan dari tahun ketahun.
Pada tahun 2015, penelitian bioremediasi semakin berkembang dan semakin
mendetail, salah satu penelitian itu adalah penelitian dari (Tahm et.al, 2015) dengan
judulnya “Social sustainability of Mesocyclops biological control for dengue in south
vietnam”.
Bedasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa Mesocyclops Aphid
merupakan salah satu agen alami yang mengendalikan larva dan nyamuk Aedes sp.

Dari data-data diatas dapat disimpulkan bahwa sejarah pengendalian hayati


sangat pesat dan semakin mendetail dimulai dari munculnya terminology dari
pengendalian hayati, penggunaan agen pengendali berupa predator, kemudian
dilanjutkan dengan agen pengendali berupa parasit, parasitoid, pathogen, dan sampai
pada tahun 2015 penelitian sudah mulai mengarah pengendalian larva dan nyamuk
Aedes sp.
DAFTAR PUSTAKA

Bale, J.S, et.al, 2007, biological control and sustainable food production. Science
Direct, Switzrland
Bueno et.al, 2009, the popularity of augmentative biological control in latin America
: History and State of Affairs, Entomologist BioControl Journal, Netherlands
Hoddle, M.S, 2003. Clasical Biological control of arthropods in the 21st Century, UC
Journal, California
Johnson, M.W et.al, 2000, Biological Control of Pests, Nature and Scope Journal,UK
Kalantary, F, et.al, 2015. Evaluation of ability to control biological precipitation to
improve sandy soils, Procedia Earth and Planetary Science, Science Direct,
Iran.
Lenteren, JC. V, 2012, IOBC internet book of biological control ver 6, Philosophical
transaction, UK .
Pal, KK. Et.al, 2006, Biological Control of Plant Pathogens, APS net, India
Purnomo Hari. 2010. Pengantar Pengendalian Hayati . C.V andi Offset : Yogyakarta.
Tran, TT, et.al, 2015, Social sustainability of Mesocyclops biological control for
Untung, 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu, Gajah Mada University
Press. Yoyakarta.
dengue in south Vietnam, Acta tropica Elsavier. Australia.
Vail, P.V, et.al, 2000, History of Biological Control Programs in the USA,
Departement of Agriculture, USDA JOURNAL, USA
Warner, KD, et.al. 2009. Analysis of historical trends in biological control of
Arthropods suggest need for a new centralized database in The USA, UC
Journal, America