Anda di halaman 1dari 3

PERLINDUNGAN TERHADAP KEKERASAN

FISIK BAGI KELOMPOK PASIEN BERISIKO


Jl. Cendrawasih No. 5-7 No. Dokumen No. Revisi Halaman
Singaraja 053 / RSU KU / Dir / SPO 01
/ III / 2014
DITETAPKAN OLEH
Tanggal Terbit DIREKTUR RSU KERTHA USADA
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL 10 Maret 2014

dr. GEDE HANDRA PK


I. PENGERTIAN : Pasien yang tergolong kelompok berisiko tinggi untuk mengalami
kekerasan fisik di lingkungan rumah sakit adalah pasien pediatrik, pasien
geriatrik, pasien tidak sadar, pasien pasca operasi, pasien cacat, pasien
dengan penyakit kronis yang menimbulkan disabilitas/kelumpuhan,
pasien dengan gangguan mental, dan pasien yang memiliki problem
kesehatan yang berkaitan dengan hukum (pasien korban penganiayaan,
KDRT, dll)
II. TUJUAN : Untuk melindungi pasien-pasien yang tergolong kelompok berisiko dari
terjadinya kekerasan fisik selama mendapatkan perawatan di RSU Kertha
Usada
III. KEBIJAKAN : 1. Surat Keputusan Direktur 002-0/SK Dir/RSU KU/I/2014
tentang Hak dan kewajiban pasien di RSU Kertha Usada
2. Kebijakan Rumah Sakit terkait perlindungan terhadap
kekerasan fisik
3. Undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
Pasal 32 mengenai Hak dan Kewajiban Pasien
4. Undang-undang No.29 Tahun 2014 tentang Praktek
Kedokteran Pasal 52 mengenai Hak Pasien
IV. PROSEDUR : 1. Pasien yang tergolong kelompok berisiko diidentifikasi sejak awal
masuk ke rumah sakit, baik melalui poliklinik maupun IGD, dan
diberikan catatan khusus/didokumentasikan di dalam rekam medis.
2. Untuk pasien yang telah teridentifikasi sebagai pasien yang berisiko
mengalami kekerasan fisik, maka diberikan tanda pada cover rekam
medis pasien dengan menuliskan “potensi kekerasan fisik”
menggunakan spidol merah.
3. Menginformasikan kepada pasien/penanggung jawab/keluarga
tentang potensi kekerasan beserta langkah pencegahannya
4. Informasi dan catatan mengenai pasien yang tergolong kelompok
berisiko ini disosialisasikan kepada seluruh staf dan tenaga medis
yang terlibat langsung dalam perawatan pasien, baik secara lisan
maupun tertulis saat transfer pasien.
5. Pasien diantarkan oleh petugas penerimaan pasien hingga dipastikan
tiba di tempat pemeriksaan, dan dilakukan transfer informasi dengan
petugas di tempat pemeriksaan.
6. Petugas di tempat pemeriksaan bertugas mengantarkan pasien ke
tempat dilakukannya pemeriksaan penunjang jika diperlukan hingga
seluruh prosedur diagnostik terselesaikan, kemudian wajib
mengantarkan pasien hingga ke ruang perawatan dan kembali
melakukan transfer informasi dengan petugas di ruangan perawatan.
7. Pastikan selalu tersedia alat bantu yang dibutuhkan untuk melakukan
transfer pasien antar ruangan (misal kursi roda, brankar
berpengaman, dll)
8. Setelah dirawat di ruangan, pasien sebisa mungkin ditempatkan di
lokasi yang terdekat dengan nurse station dan area yang dipantau
oleh kamera CCTV.
9. Pastikan pasien selalu ditemani oleh minimal satu orang
keluarga/penanggung jawab bila tempat tidur pasien jauh dari
pengawasan paramedis
10. Bagi pasien yang dirawat tanpa ada keluarga/kerabat yang
menunggui selama perawatan, maka pasien harus dititipkan kepada
minimal 2 orang keluarga pasien yang berada di dekatnya (jika
pasien dirawat di ruangan yang berkapasitas 2 pasien atau lebih)
11. Pastikan security yang bertugas paling dekat dengan ruangan
perawatan pasien mengetahui keberadaan pasien yang tergolong
kelompok berisiko.
12. Petugas security bertugas memastikan identitas keluarga/kerabat
pasien yang berkunjung di luar jam berkunjung, serta mencatatnya
dalam buku pengunjung pasien di luar jam berkunjung.
13. Keluarga/kerabat pasien yang menunggui pasien diberikan tanda
pengenal berlabel “penunggu pasien”, masing-masing pasien boleh
memiliki penunggu maksimal 2 orang.

V. UNIT TERKAIT : Resepsionis


Dokter jaga
Perawat
Security