Anda di halaman 1dari 4

TUGAS AKHIR MODUL 3

Oleh :
Nama : NI MADE WIWIT SUARNOVITARINI
NO. Peserta PPG : 19220515610115
Sekolah Asal : SMAS PGRI BLAHBATUH

1. Karakteristik/ciri-ciri bahasa :
No Karakteristik Bahasa Penjelasan
1. Bahasa ialah sebuah Artinya bahasa itu bersifat sistematis dan sistemis.
sistem Sistematis berarti bahasa itu tersusun menurut suatu pola,
tidak tersusun secara acak. Sistemis berarti bahasa itu
bukan sistem tunggal, tetapi terdiri dari subsubsistem
atau sistem bawahan (disebut tataran linguistik).
2. Bahasa berwujud Artinya wujud bahasa dilambangkan dalam bentuk bunyi
lambang yang berupa satuan-satuan bahasa seperti kata atau
gabungan kata. Lambang-lambang tersebut bersifat
manasuka, tidak ada hubungan antara lambang dan yang
dilambangkan.
3. Bahasa berupa bunyi Artinya bunyi bahasa adalah bunyi yang dihasilkan alat
ucap manusia. Tetapi juga tidak semua bunyi yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa.
4. Bahasa bersifat arbitrer Artinya antara lambang dan yang dilambangkan bersifat
mana suka dan sewenang-wenang, sesuai kehendak
masyarakat bahasa itu.
5. Bahasa bermakna Artinya bahasa melambangkan suatu pengertian, suatu
konsep, ide, atau pikiran yang ingin disampaikan dalam
wujud bunyi itu. Maka, dapat dikatakan bahwa bahasa itu
memiliki makna.
6. Bahasa bersifat Artinya penggunaan lambang tersebut harus atas
konvensional kesepakatan masyarakat pemilik bahasa. Pada awalnya
kesepakatan itu tidak tertulis, terjadi begitu saja, namun
diikuti oleh semua orang.
7. Bahasa bersifat unik Artinya setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang
membedakannya dari bahasa yang lain
No Karakteristik Bahasa Penjelasan
8. Bahasa bersifat universal Artinya setiap bahasa itu mempunyai ciri yang sama
sehingga bisa disebut sebagai bahasa
9. Bahasa bersifat produktif Artinya meskipun unsur-unsur bahasa itu jumlahnya
terbatas, unsur-unsur tersebut dapat dibuat satuan-satuan
bahasa yang tidak terbatas
10. Bahasa bervariasi Artinya dalam sebuah bahasa bisa terdapat beberapa
ragam. Ragam bahasa itu bisa bersifat perorangan
(idiolek) dan komunal (dialek)
11. Bahasa bersifat dinamis Artinya bahasa itu bisa mengalami perubahan seperti
pemunculan kata baru, perubahan makna, dan lain-lain
12. Bahasa itu manusiawi Artinya bahasa itu milik manusia dan hanya dapat
digunakan oleh manusia. Binatang dan tumbuhan tidak
memiliki bahasa dan tidak dapat menggunakan bahasa

2. Saya setuju dengan pendapat mengenai pemerolehan bahasa dan pembelajaran bahasa
tersebut. Seperti yang kita ketahui, pemerolehan bahasa merupakan proses yang bersamaan
dengan cara anak-anak mengembangkan kemampuan dalam bahasa pertama mereka dan
merupakan proses bawah sadar. Para pemeroleh bahasa tidak selalu sadar akan kenyataan
bahwa mereka memakai bahasa untuk berkomunikasi. Sedangkan pembelajaran bahasa
berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seseorang mempelajari bahasa
kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya, baik untuk tujuan tertentu seperti tujuan
pekerjaan.

3. Fase-fase Pemerolehan Bahasa


a. Fase Pralinguistik (0-12 bulan)
Pada fase ini, bunyi bahasa yang dihasilkan belum bermakna. Bunyi bahasanya
dapat berupa vocal dan konsonan tertentu tetapi belum mengacu pada kata atau makna
tertentu.
b. Fase Tahap Satu-Kata (12-18 bulan)
Pada fase ini, anak sudah belajar menggunakan satu kata yang memiliki arti
yang mewakili keseluruhan idenya. Satu-kata mewakili satu atau bahkan lebih frase
atau kalimat. Kata-kata pertama yang lazim diucapkan berhubungan dengan objek-
objek nyata atau perbuatan kata tersebut mudah bagi si anak. Kata-kata yang
mengandung konsonan bilabial (b,p,m) merupakan kata-kata yang mudah diucapkan
anak-anak. Misalnya kata mama, mimik, papa, dsb. Selain itu, kata-kata tersebut
mengandung fonem “a” yang secara artikulasi juga mudah diucapkan (tinggal
membuka mulut saja).
c. Fase Tahap Dua-Kata (18-24 bulan)
Pada fase ini sebagian besar anak sudah menggunakan kombinasi dua kata. Pada
tahap dua-kata ini anak mulai mengenal berbagai makna kata, tetapi belum dapat
menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan jumlah, jenis kelamin, dan waktu
terjadinya peristiwa. Selain itu, anak belum dapat menggunakan pronomina saya, aku,
kamu, dia, mereka, dan sebagainya
d. Fase Banyak Kata (3-5 tahun)
Pada fase ini perbendaharaan kata anak sudah meningkat, anak sudah mampu
membuat kalimat pertanyaan, pernyataan negatif, kalimat mejemuk, dan berbagai
bentuk kalimat.

4. Dimensi Pemerolehan Bahasa


Tarigan menjelaskan bahwa terdapat enam dimensi pemerolehan bahasa, yaitu :
1) Propensity (kecenderungan)
Dalam mencapai keberhasilan pembelajaran, terdapat faktor utama yang perlu
diperhitungkan yaitu apakah ada semacam desakan (desakan dari dalam atau luar)
pembelajar yang dikenal dengan nama propensity.
2) Language Faculty (Kemampuan berbahasa)
Setiap orang memiliki kapasitas alami untuk memproses bahasa, baik sebagai
pembicaraan maupun pendengar yang disebut faculte du langage. Dalam melatih
kecakapan atau kemampuan berbahasa, mereka menggunakan sistem bernorma soaial
yang mengacu pada bahasa alamiah (natural language), sebab kemampuan berbahasa
terdoro dari kemampuan menyesuaikan kapasitas pemrosesan bahasa pada suatu sistem
sosial.
3) Access (Jalan Masuk) ke Bahasa
Proses pemerolehan bahasa tidak pernah akan bisa berjalan kalau tidak ada
peluang bagi kemampuan yang dimiliki orang. Pemerolehan bahasa spontan mencakup
belajar di dalam dan melalui interaksi sosial. Pelajar bahasa diharuskan
mempergunakan sebaik-baiknya segala pengetahuan yang tersedia padanya agar dapat
memahami apa yang dikatakan orang lain dan menghasilkan ucapan-ucapannya sendiri.
4) Dimensi Struktur Proses
Struktur yang dimaksud di sini adalah ciri-ciri umum bahasa dengan berbagai
perkecualian apabila dipakai dalam berkomunikasi. Ada dua hal yang dibicarakan
dalam dimensi ini, yaitu :
a. Sinkronisasi
Penguasaan suatu bahasa mencakup pemerolehan terhadap segala jenis
pengetahuan linguistik, yaitu pengetahuan Fonologis, Morfologis, Sintaksis, dan
Leksikal.
b. Variabilitas
Pada proses perolehan bahasa terjadi berbagai variasi pada diri para pelajar bahasa.
Faktor-faktor penyebabnya, yaitu komponen-komponen kecakapan yang berbeda-
beda, perangkat biologis pelajar bahasa, pengetahuannya, ketersediaan masukan
linguistik tertentu; semua ini membentuk suatu konsistensi dan tidak akan pernah
sama pada setiap pelajar bahasa.
5) Dimensi Tempo
Dimensi tempo berkaitan dengan waktu, kesempatan, dan kondisi pembelajar
saat memperoleh bahasa. Tempo pemerolehan bahasa juga tidak lepas dari pengaruh
faktor lain. Misalnya, ingatan yang kurang baik dapat menjadi rintangan atau kendala
yang serius.
6) Dimensi Keadaan Akhir / Tujuan Akhir (End-State)
Idealnya tahap ini seharusnya menandakan penguasaan sempurna terhadap
bahasa. Istilah “bahasa” hendaknya tidak mengaburkan atau menyembunyikan fakta,
bahwa setiap bahasa terdiri dari berbagai ragam varian seperti: dialek, register,
sosiolek, dan sebagainya. Diakui bahwa tidak ada seorang anak manusia menguasai
semua varian ini dengan efektif, bahkan penutur asli sekali pun.