Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aspek psikososial dari sakit kritis merupakan suatu tantangan yang unik bagi perawat
pada keperawatan kritis. Perawat harus secara seimbang dalam memenuhi kebutuhan fisik
dan emosional dirinya maupun kliennya dalam suatu lingkungan yang dapat menimbulkan
stress dan dehumanis. Untuk mencapai keseimbangan ini perawat harus mempunyai
pengetahuan tentang bagaimana keperawatan kritis yang dialami mempengaruhi kesehatan
psikososial pasien, keluarga dan petugas kesehatan.
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang dirawat di icu atau perawatan
kritis selalu mempertimbangkan aspek biologis, psikologis, sosiologis, spiritual, secara
komprehensif.
Hal ini berarti pasien yang dirawat di ICU membutuhkan asuhan keperawatan tidak
hanya masalah patofisiologi tetapi juga masalah psiko sosial, lingkungan dan keluarga yang
secara erat terkait dengan penyakit fisiknya. (FK Unair, RSUD Dr. Soetomo, 2001)

B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi psikososial?
2. Bagaimana memahami masalah psikososial pada pasien gawat darurat dan kritis?
3. Apakah intervensi psikososial pada keperawatan kritis?
4. Bagaimana meningkatkan kemampuan penulisan makalah?

C. Tujuan
1. Mengetahui definisi psikososial
2. Memahami masalah psikososial pada pasien gawat darurat dan kritis
3. Mengetahui intervensi psikososial pada keperawatan kritis
4. Meningkatkan kemampuan penulisan makalah

1
D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Ilmu Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran atau informasi untuk
dijadikan bahan dalam mengembangakan program pendidikan keperawatan terhadap
psikososial pada pasien gawat darurat dan kritis
2. Bagi Perawat
Dapat menambah wawasaan perawat tentang pengetahuan tentang respon psikososial
pada pasien gawat darurat dan kritis

2
BAB II
KAJIAN TEORITIS

A. Definisi Psikososial

Psikososial istilah digunakan untuk menekankan hubungan yang erat antara aspek
psikologis dari pengalaman manusia dan pengalaman sosial yang lebih luas . efek psikologis
adalah mereka yang mempengaruhi berbagai tingkat fungsi termasuk kognitif (persepsi dan
memori sebagai dasar untuk pengalaman dan pembelajaran), afektif(Emosi) , dan
perilaku. Dampak sosial keprihatinan hubungan, keluarga dan jaringan komunitas, tradisi
budaya dan status ekonomi, termasuk tugas-tugas kehidupan seperti sebagai sekolah atau
bekerja. (ARC Resourch Pack. 2009)

Penggunaan psikososial jangka didasarkan pada gagasan bahwa kombinasi faktor


yang bertanggung jawab atas kesejahteraan psikososial orang, dan bahwa aspek-aspek
biologis, emosional, spiritual, budaya, sosial, mental dan material dari pengalaman tidak
bisa tentu akan dipisahkan satu sama lain. Istilah mengarahkan perhatian terhadap totalitas
pengalaman orang daripada berfokus secara eksklusif pada fisik atau aspek psikologis
kesehatan dan kesejahteraan, dan menekankan perlunya untuk melihat ini masalah dalam
konteksinterpersonal yang lebih luas keluarga dan masyarakat jaringan di mana mereka
berada. (ARC Resourch Pack. 2009)

Kedua unsur ini saling berhubungan dalam konteks keadaan darurat yang
kompleks dimana penyediaan dukungan psikososial merupakan bagian dari bantuan
kemanusiaan dan upaya pemulihan awal. Salah satu fondasi kesejahteraan psikososial
adalah akses ke kebutuhan dasar (makanan, tempat tinggal, mata pencaharian, kesehatan,
pelayanan pendidikan) bersama-sama dengan rasa aman yang berasal dari hidup di
lingkungan yang aman dan mendukung. Itu manfaat dari intervensi dukungan psikososial
harus menghasilkan dampak positif padakesejahteraan anak-anak, dan mengatasi kebutuhan
psikologis dasar kompetensi dan keterkaitan. . (ARC Resourch Pack. 2009)

3
Definisi psikososial kunci psikososial : Hubungan dinamis yang ada antara psikologis
dan sosial efek, masing-masing terus berinteraksi dengan dan mempengaruhi yang lain.

Psikososial perencanaan pemulihan : perencanaan pemulihan psikososial difokuskan


pada intervensi sosial dan psikologis yang akan membantu memulihkan
komunitas (Johal,2009)

B. Masalah Pisikososial

1. Gangguan citra tubuh


Citra tubuh adalah sikap, persepsi, keyakinan, dan pengetahuan individu secara
sadar atau tidak sadar terhadap tubuhnya yaitu ukuran, bentuk struktur, fungsi
keterbatasan, serta makna dan objek yang kontak secara terus-menerus (anting, make
up, kontak lensa, pakaian, kursi roda) baik masa lalu maupun sekarang. (Dalami dkk
dalam Fitria dkk., 2013)

Tanda dan Gejala:


a. Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah.
b. Tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi/akan terjadi.
c. Menolak penjelasan perubahan tubuh.
d. Persepsi negatif pada tubuh.
e. Preokupasi dengan bagian tubuh yang hilang.
f. Mengungkapkan keputusaaan.
g. Mengungkapkan ketakutan

Tanda dan gejala lain yang mungkin muncul:


a. Citra yang mengalami distorsi, melihat diri sebagai gemuk, meskipun pada keadaan
berat badan normal atau angat kurus.
b. Penolakan bahwa adanya masalah dengan berat badan yang rendah.
c. Kesulitan menerima penguatan positif.
d. Kegagalan untuk mengambil tanggung jawab menurut diri sendiri.

4
e. Tidak berpartisipasi terhadap terapi.
f. Perilaku merusak diri sendiri, muntah yang dibuat sendiri; penyalahgunaan obat-
obatan pencahar dan diuretik, penolakan untuk makan.
g. Kontak mata hilang.
h. Alam peraaan yang tertekan dan pikiran-pikiran yang mencela diri sendiri setelah
episode dari pesta dan memicu perut.
i. Perenungan yang mendalam tentang penampilan diri dan bagaimana orang-orang
lain melihat diri mereka.

2. Kecemasan (ansietas)
Ansietas adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar karena
ketidaknyamanan atau rasa takut yang disertai suatu respons(sumber seringkali tidak
spesifik atau tidak diketahui oleh individu); suatu perasaan takut akan terjadi
sesuatu yang diebabkan oleh antisipasi bahaya. Hal ini merupakan sinyal yang
menyadarkan bahwa peringatan tentang bahaya yang akan datang dan memperkuat
individu dengan mengambil tindakan menghadapi ancaman (NANDA, 2009, dalam
Fitria dkk, 2013)

a. Tingkatan Ansietas
Tingkat ansietas menurut Stuart dan Sundeen (2007) dalam Fitria,dkk (2013)
adalah sebagai berikut :
1) Ansietas Ringan.
Tingkat ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari
dan menyebabkan seseorang waspada dan meningkatkan lahan persepsinya.
Ansietas memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.
2) Ansietas Sedang
Tingkat sedang memungkinkan seeorang untuk memusatkan pada hal yang
penting dan mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalami
perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.
3) Ansietas Berat

5
Tingkat berat sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang
cenderung untuk memusatkan pada suatu yang terinci, spesifik, dan tidak
dapat berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi
ketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat
memusatkan pada area lain.

b. Tingkat Panik
Tingkat ini berhubungan degan terperangah, ketakutan dan teror. Rincian
terpecah dari proporsinya, tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan
pengarahan. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. Terjadi peningkatkan
aktivitas motorik, menurunnya kemampuan berhubungan dengan orang lain,
persepsi menyimpang, dan kehilangan pemikiran rasional.

Secara praktis kita dapat membedakan tingkatan ansietas ini dalam kehidupan
sehari-hari seperti berikut ini (Fitriaw dkk, 2013):
1) Tingkat Ringan: seseorang yang menghadapi suatu masalah mencoba
menjadikan stressor yang ada sebagai media untuk meningkatkan koping
dirinya dengan cara menghadapi dan menyelesaikan masalah walaupun
perlu beberapa waktu secara mandiri untuk menghadapinya. Dalam kondisi ini
individu tida memerlukan oranglain yang membantu dirinya menghadapi
masalah.
2) Tingkat Sedang: seseorang mencoba menghadappi dan menyelesaikan
masalah dengan bantuan oranglain yang menjadi orang kepercayaan bagi
dirinya, misalnya sahabat, orangtua, dosen, dan lain-lain.
3) Tingkat Berat : seseorang tidak sanggup mengahadapi dan menyelesaikan
masalah walaupun dengan bantuan orang lain yang sudah dipercaya. Dirinya
merasa tidak mampu dan hilang pengharapan untuk menyelesaikan masalah.
4) Tingkat Panik: merupakan kelanjutan dari tingkat berat yang sudah
mengalami gangguan perilaku motorik misalnya mengamuk dan melakukan
perilaku kekerasan pada orang lain. Kondisi tersebut sudah semestinya

6
memerlukan bantuan dari pihak medis untuk menurunkan tingkat
kecemasan karena secara umum aktivitas sehari-hari sudah terganggu.

c. Faktor Predisposisi
Menurut Stuart dan Sundeen (2007) terdapat beberapa teori yang dapat
menjelaskan ansietas, di antaranya sebagai berikut (Fitria dkk, 2013):
1) Pandangan Psikoanalitik.
Teori ini beranggapan bahwa ansietas terjadi apabila konflik emosional yang
terjadi antara dua elemen kepribadian, yaitu id dan superego. Id mewakili
dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan superego mencermikan hati
nurani dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Ego berfungsi
menengahi tuntutan dari kedua elemenyang bertentangan, sedangkan fungsi
ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
2) Pandangan Interpersonal
Teori ini beranggapan bahwa ansietas timbul dari perasaan takut terhadap tidak
adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Ansietas berhubungan
dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan yang
menimbulkan kelemahan spesifik. Orang yang mengalami harga diri rendah
mudah mengalami perkembangan ansietas yang tepat.
3) Pandangan Perilaku.
Teori ini beranggapan bahwa ansietas merupakan produk frustasi yaitu
segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai
tujuan yang diinginkan. Pakar perilaku menganggap bahwa sebagai
dorongan belajar berdasarkan keinginan dari dalam untuk menghindari
kepedihan. Individu yang terbiasa dengan kehidupan dini dihadapkan pada
ketakutan berlebihan, lebih sering menujukkan ansietas dalam kehidupan
selanjutnya.
4) Kajian Keluarga.
Teori ini beranggapan ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam
keluarga. Ada tumpang tindih dalam gangguan ansietas dan antara gangguan
ansietas dengan depresi.

7
5) Kajian Biologis.
Menurut kajian secara biologis, otak mengandung reseptor khusus untuk
benzodiapine. Reseptor ini membantu mengatur ansietas. Penghambat GABA
juga berperan utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan
ansietas sebagaimana halnya dengan endofrin. Ansietas mungkin disertai
dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk
mengatasi stressor

3. Harga Diri Rendah Situasional


Gangguan harga diri dapat dijabarkan sebagai perasaan yang negatif
terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, serta merasa gagal mencapai
keinginan sebagai respon terhadap hilangnya atau berubahnya perawatan diri seseorang
yang sebelumnya mempunyai evaluasi diri positif. Misalnya, seseorang yang
mengalami kecelakaan, cerai, putus sekolah, perasaan malu karena sesuatu, dsb.
Harga diri rendah situasional bila tidak diatasi dapat menyebabkan harga diri rendah
kronis (Fitria dkk, 2013).
Factor penyebab
a. Faktor predisposisi
1) Faktor yang memengaruhi harga diri diantaranya adalah penolakan orang tua,
harapan orang tua yang tidak realistis, ketergantungan pada orang lain dan
ideal diri yang tidak realistis.
2) Faktor yang memengaruhi performa peran adalah steriotif peran gender, tuntutan
peran kerja, nilai-nilai budaya yang tidak dapat diikuti oleh individu.
3) Faktor yang memengaruhi identitas pribadi adalah ketidakpercayaan orang
tua, tekanan dari kelompok sebaya dan perubahan struktur sosial.

b. Faktor Presipitasi
1) Trauma, seperti mengalami hal yang tidak menyenangkan atau menyaksikan
peristiwa yang mengancm kehidupan.

8
2) Ketegangan peran, individu mengalami frustasi ketika dihadapkan dengan
situasi yang berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan. Ada
tiga jenis transisi peran :
a) Transisi peran perkembangan, perubahan normatif terkait dengan
pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam
kehidupan individu, keluarga, nilai dan norma budaya, serta tekanan untuk
menyesuaikan diri.
b) Transisi peran situasi, perubahan karena bertambah atau berkurangnya
anggota keluarga.
c) Transisi peran sehat-sakit, perubahan yang terjadi akibat dari keadaan sehat
menjadi sakit. Dapat dicetuskan oleh hal-hal seperti kehilangan bagian tubuh,
perubahan penampilan dan fungsi tubuh, serta prosedur medis dan
keperawatan.
c. Tanda dan Gejala
1) Perasaan malu terhadap diri sendiri, misalnya karena perubahan fisik yang
disebabkan oleh penyakit.
2) Rasa bersalah terhadap diri sendiri, menyalahkan, mengkritik, mengejek diri
sendiri.
3) Merendahkan martabat diri sendiri.
4) Gangguan hubungan social.
5) Kurang percaya diri, sukar mengambil keputusan.
6) Mencederai diri.
7) Mudah marah, mudah tersinggung.
8) Apatis, bosan, jenuh dan putus asa.
9) Kegagalan menjalankan peran sehingga menjadi proyeksi (menyalahkan
orang lain).

9
4. Keputusasaan
Keputusasaan merupakan keadaan subjektif seorang individu yang melihat
keterbatasan atau tidak adanya alternatif atau pilihan pribadi yang tersedia dan
tidak dapat memobilisasi energi yang dimilikinya (Fitria dkk, 2013).

a. Tanda dan Gejala


1) Ungkapan klien tentang situasi kehidupan tanpa harapan dan terasa hampa.
2) Klien tampak mengeluh dan murung.
3) Klien berbicara seperlunya.
4) Klien menunjukan kesedihan, afek datar atau tumpul.
5) Klien mengisolasi diri.
6) Kontak mata klien kurang.
7) . Klien masa bodoh terhadap situasi yang ada.
8) Klien menunjukan gejala kecemasan.
9) Nafsu makan klien berkurang.
10) Peningkatan waktu tidur klien.
11) Klien tidak mau terlibat dalam perawatan.
12) Klien mengalami penurunan perhatian.

b. Factor Penyebab
1) Factor predisposisi
a) Teori kehilangan, berhubungan dengan faktor perkembangan seperti
kehilangan orang tua pada masa anak-anak. Teori ini menjelaskan bahwa
seseorang tidak berdaya dalam mengatasi kehilangan.
b) Teori kepribadian, ada kepribadian seseorng yang menyebabkan seseorang
rentan terhadap rasa putus asa.
c) Model kognitif, putus asa merupakan masalah kognitif yang didominasi oleh
penilaian negatif seseorang terhadap diri sendiri, lingkungan dan masa
depan.
d) Model belajar ketidakberdayaan, putus asa dimulai dari hilangnya
kendali diri yang kemudian menjadi pasif dan tidak mampu

10
menyelesaikan masalah. Setelah itu , akan timbul keyakinan akan
ketidakmampuan mengendalikan kehidupan sehingga individu menjadi
tidak berupaya untuk mengembangkan respon yang adaptif.
e) Model perilaku, putus asa terjadi karena kurangnya pujian positifselama
berinteraksi dengan lingkungan.
f) Model biologis, dalam tubuh seseorang terjadi penurunan zat kimiawi
yaitu katekolamin, tidak berfungsinya endokrin danterjadi peningkatan sekresi
dari kortisol.

2) Factor prespitasi
a) Faktor biologis, putus asa dapat terjadi jika seseorang mengalami
gangguan fisik yang diakibatkan penyakit tertentu atau pengobatan yang
berlangsung lama.
b) Faktor psikologis, putus asa dapat terjadi jika seseorang kehilangan kasih
sayang dari seseorang yang dicintainya atau kehilangan harga dirinya.
c) Faktor sosial budaya, putus asa terjadi jika seseorang mengalami
kehilangan peran, misalnya karena perceraian atau kehilangan pekerjaan.
Klien yang mengalami keputusasaan akan menampilkan perasaan diri
negatif terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitar akibat dari
keyakinan akan ketidakmampuan diri dalam menghadapi kehidupan.
Jika lingkungan eksternal kemudian tidak memberikan dukungan akan
menyebabkan reaksi mengisolasi diri dan reiko tinggi bunuh diri.

11
C. Psikososial Dalam Kegawat Daruratan
1. Ansietas
Ansietas adalah keadaan khawatir atau tegang dalam diri individu yang terjadi ketika
kebutuhan interpersonal akan keamanan dan kebebasan dari perasaan tegang atau
terpenuhi, sumber ansietas tidak spesifik atau tidak diketahui pada individu (
stillwell.2011 )

a. Factor resiko
1) Kurang control atas peristiwa yang terjadi
2) Ancaman terhadap control diri
3) Ancaman sakit atau penyakit
4) Ancaman lingkungan rumah sakit
5) Terpisah dari orang lain
6) Perubahan peran
7) Gangguan sensorimotor
8) Masalah finansial
9) Ancaman kematian
10) Percerayain
11) Pengangguran
12) Pension yang di paksakan
13) Ancaman prosedur invasive atau alat pendukung
14) Krisis situasi atau maturase
15) Kehilangan status
16) Tatanan lingkungan yang tidak di kenal
17) Ketidakmampuan untuk memahami konsekuensi sakit
18) Hambatan dalam mencapai tujuan
19) Ketergantungan
20) Kurang pengetahuan
21) Kehilangan kekuasaan dalam mengambil keputusasaan

12
b. Tanda dan gejala
Regulator Kognitif
 Palpitasi  Khawatir
 Mual  Gugup
 Peningkatan frekuensi pernafasan  Ketakutan
 Peningkatan frekuensi jantung  Agitasi iritabilitas
 Diaphoresis  Menarik diri
 Ketegangan otot  Marah
 Vertigo  Regresi
 Peningkatan tekanan darah  Ketidakmampuan
 Tremor tangan berkonsentrasi
 Peningkatan keringat pada telapak  Pelupa
tangan  Kurang inisiatif atau
 Peningkatan aktivitas gastrointestinal motivasi
 Insomnia  Perilaku menghindar
 Sering berkemih dilatasi pupil  Ketidakberdayaan
 Flushing  Kehilangan control
 Pingsan  Berfikir tentang masa lalu
 Mulut kering versus saat ini
 Paresthesia  Menangis
 Muntah  Kehilangan kepercayaan diri
 Dilatasi bronkiolus  Cemas
 Kelemahan  Tegang
 Gembira berlebihan
 Lapang persepsi menyempit
 Verbalisasi berlebihan

2. Kemarahan
Kemarahan adalah pertahanan emosional yang terjadi dalam upaya untuk melindungi
intergritas individu dan tindakan melibatkan unsur destruktif. Kemarahan adalah respon
otomatis yang relative terjadi ketika individu terancam dan kemarahan dapat di
internalisasi atau dieksternalisasi( stillwell.2011 )
a. faktor resiko
Ekspresi kemarahan di hambat internalisasi
Persepsi ancaman yang meliputi:
1) tujuan terhambat
2) kegagaglan individu untuk memenuhi harapan pasien
3) kekecewaan

13
4) meningkatkannya konsep diri
5) sakit dirasakan mengancam jiwa
6) ketergantungan fisik
7) perubahan intrgritas social

b. Tanda Dan Gejala


Regulatori Kognitif

 Peningkatan tekanan darah  Otot atau tangan mengepal


 Peninkatan denyut nadi  Membalikan tubuh
 Ketegangan otot  Menghindari kontak mata
 Perspirasi  Kelembatan
 Kulit kemerahan  Diam
 Mual  Sarkasme
 Mulut kering  Ucapan menghina
 Penganiaan verbal
 Membantah
 Sikap menuntut

3. Konfusi
Konfusi (kebingungan) adalah deficit perhatian. Konfusi juga menggabungkan
kemampuan individu mengintegrasikan stimulus yang akan terjadi. ( stillwell.2011 )
a. Factor resiko
1) Gangguan medis
a) Hipoksia
b) Penyakit paru
c) Gagal jantung kongestif
d) Ketidakseimbangan cairan atau elektrolit
e) Gangguan tiroid, paratiroid, dan kelenjar adrenal
f) Devisiensi vitamin B
g) Alkoholisme
h) Malnutrisi
i) Infekeksi seperti pneumonia, septicemia, meningitis atau ensefalitis
j) Disritmia

14
2) Gangguan pembedahan
a) Anesthesia
b) Obat nyeri
c) Hipotermia
d) Ansietas pasca operasi
e) Agitasi
f) Depresi

3) Gangguan intoksikasi
a) Intoksikasi atau putus alcohol
b) Intokasi atau putus apioid
c) Antikonilergik
d) Stimulant
e) Sedative
f) Vasopressor
g) Steroid

4) Gangguan neurologis
a) Penyakit neurologis
b) Kejang
c) Trauma kepala
d) Anoksia serbral
e) Ensefalopati hipertensi
f) Neoplasma intrak cranial

5) Gangguan sensori persepsi


a) Imobilisasi atau tirah baring lama
b) Gangguan penglihatan atau pendengaran saat ini
c) Amputas
d) Balutan atau fraktur

15
e) Nyeri yang tidak bekurang
f) Kelebihan beban sensori
g) Deprivasi tidur
b. Tanda dan gejala
Regulatori Kognitif

 Inkontinesia  Disorientasi
 Disritmia  Gangguan rentang perhatian
 Peningkatan frekuensi  Gelisah
jantung  Agitasi
 Peningkatan frekuensi  Menarik diri
pernafasan  Suka berkelahi
 Kulit lembap  Waham
 Gangguan memori
 ketidakmampuan untuk
mengenali orang lain

4. Depresi
Depresi adalah penurunan perporma normal, seperti kelambatan aktifitas psikomotor
atau penurunan fungsi intelektual. Depresi mencakup rentang luas preubahan status
apektif yang keparahanya berkisar dari alam perasaan sedih atau murung yang normal
dan terjadi setiap hari sampai episode psikotik dengan resiko bunuh diri
(stillwell.2011)
a. Factor resiko
1) Penyakit
a) Penyakit akut yang mengancam jiwa
b) Penyakit kronis dan atau tahap akhir
2) Obat obatan
a) Tranqulizer
b) Anti hipertensi
c) Kortikosteroid
3) Ketidak seimbangan elektrolit
a) Kelebihan bikarbonat
b) Hiperkalesmia
16
c) Hypomagnesemia
d) Hyperkalemia
e) Hypokalemia
f) Hyponatremia
4) Kehilangan
a) Masalah financial
b) Kehilangan control
c) Sparasi atau kehilangan orang terdekat
d) Kehilangan fungsi tubuh
e) Perasaan tidak berdaya atau merasa bersalah
f) Perubahan peran atau gaya hidup

b. Tanda Dan Gejala


Regulatori Kognitif

 Konstifasi  Agetasi
 Diare  Marah
 Sakit kepala  Ansietas
 Dyspepsia  Menghindar
 Insomnia  Bosan
 Perubahan menstruasi  Perbuatan ceroboh
 Nyeri otot  Konfusi
 Mual  Menangis
 Takikardia  Ketergantungan
 Ulkus  Kehampaan
 Penurunan atau penambhan  Keletihan
berat badan  Ketakutan
 Anoreksia

5. Keputusasaan
Keputusasaan adalah keadaan emosional ketika individu memperhatikan perasaan tidak mungkin
dan perasaan bahwa hidup terlalu banyak untuk di tanganani, keputusasaan merupakan keadaan
subjektiv ketika individu melihat alternative yang terbatas atau tidak ada alternative atau pilihan
personal yang tersedia dan tidak mampu mempengaruhi energy untuk kepentinganya sendiri.
(Stillwell.2011)

17
a. Factor resiko
1) Ancaman terhadap sumber internal
a) Otonomi
b) Harga diri
c) Kemandirian
d) Kekuatan
e) Integritas
f) Keamanan biologis
2) Ancaman terhadap persepsi tentang sumber eksternal
a) Lingkungan
b) Staf
c) Keluarga
d) Pengabaian
e) Kegagalan atau deteriorasi
f) Stress jangka panjang
b. Tanda dan gejala
Regulatori Kognitif

 Penurunan berat badan  Aktivitas menurun


 Kehilangan nafsu makan  Kurang inisiatif
 Kelemahan  Penurunan respon
 Gangguan tidur terhadap stimulus
 Penurunan apek
 Pasif
 Gangguan dalam belajar
 Diam
 Menutup mata
 Ekspresi kesedihan
 Ketidak patuhan terhadap
program terapi

18
6. Ketidakbedayaan
Ketidakberdayaa adalah perasaan kurang kendali pada situasi fisilogis, psikologis, dan situasi
lingkungan saat ini dan yang akan dating. ( stillwell.2011 )
a. Factor risiko
1) Kehilangan sensorimotor
2) Ketidakmampuan berkomunitas
3) Ketidakmampuan untuk melaksanakan peran
4) Kurang pengetahuan
5) Kurang privasi
6) Isolasi social
7) Ketidakmampuan untuk mengndalikan perawatan personal
8) Terpisah dari orang terdekat
9) Kehilangan kendali terhadap orang lain
10) Kurang kendali dalam mengambil keputusan
11) Ketakutan terhadap nyeri
b. Tanda dan gejala
Regulator Kognitif

 Kelelahan  Apati
 Keletihan  Menarik diri
 Pusing  Pasrah
 Sakit kepala  Perasaan hampa
 Mual  Perasaan kurang kendali
 Fatalism
 Mudah dipengetahui

7. Deprivasi
Deprivasi adalah tidak adekuatnya waktu tidur atau waktu bermimpi yang berhubungan dengan
pola tidur sebelumnya atau pola tidur yang tidak lazim, kuantitas atau kualitas actual perubahan
pola tidur individu menyebabkan perubahan gaya hidup yang diinginkan. (Stillwell.2011)
a. Factor resiko
1) Suara gaduh yang berlebihan
2) Nyeri

19
3) Penyakit
4) Ansietas
5) Stress
6) Pengobatan
7) Kurang olahraga
8) Depresi
9) Kekuatan terhadap kematian
10) Kesepian di bangunkan untuk terapi dan prosedur diagnostic

b. Tanda dan gejala


Regulatori Kognitip

 Perilaku pengaturan tidur  Lesu


NREM  Latergi
 Penurunan tekanan darah  Halusinasi
 Penurunan frekuensi  Disorientasi
jantung  Kebingungan
 Penurunan volume urin  Gelisah
 Penurunan volume plasma  Iritabilitas
 Penurunan laju metabolism  Apatis
 Perilaku pengaturan tidur  Penilaian yang buruk
REM  Gangguan yang buruk
 Peningkatan frekuensi  Waham
jantung  Ide paranoid
 Peningkatan frekuensi  Sikap bermusuhan
pernapasan
 Peningkatan tekanan darah
 Peningkatan aktifitas
otonom
 Peningkatan aktivitas
metabolic

20
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pasien – pasien yang dirawat diruangan ICU adalah pasien – pasien yang sedang mengalami
keadaan kritis. Keadaaan kritis merupakan suatu keadaan penyakit kritis yang mana pasien
sangat beresiko untuk meninggal. Pada keadaan kritis ini pasien mengalami masalah
psikososial yang cukup serius dan karenanya perlu perhatian dan penanganan yang serius
pula dari perawat dan tenaga kesehatan lain yang merawatanya. Dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien kritis ini, perawat harus menunjukkan sikap professional dan tulus
dengan pendekatan yang baik serta berkomunikasi yang efektif kepada pasien.

21
DAFTAR PUSTAKA

Johal,sarb.2009, Foundations of Psychosocial Support in Emergency Management.

New Zealand : newzealandgovt.nz

https://www.health.govt.nz/system/files/documents/pages/foundations-of-
psychosocial-disaster-handbook.pdf di akses tanggal 29 maret 2016.

ARC resource pack. 2009. Foundation module 7: psychosocial support. www. Arc-
online.org

www.unchcr.org/4c98a5169.pdf diakses 29 mart 2016

Fitria, N. dkk. 2013. Laporan Pendahuluam tentang Masalah Psikososial.

Jakarta: Salemba Medika.

Stillwell,susan b.2011.Pedoman Keperawatan Kritis.Edisi 3. Egc : Jakarta

22