Anda di halaman 1dari 116

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................... i


DAFTAR ISI ....................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ............................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................ Iv
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ v

Bab I PENDAHULUAN .........................................................................1


A. Latar Belakang ...................................................................1
B. Dasar Hukum......................................................................2
C. Acuan Dalam Penyusunan Petunjuk Teknis .......................2
D. Tujuan.................................................................................3
E. Ruang Lingkup ...................................................................3
F. Pengguna dan Penggunaan ...............................................4

Bab II PERAN APIP ...............................................................................5


A. Peran APIP dalam Reviu ....................................................5
B. Peran APIP dalam Reviu Perencanaan dan
Penganggaran ....................................................................6

Bab III PROSES PENYUSUNAN PERENCANAAN DAN


PENGANGGARAN DAERAH ...................................................... 8
A. Prinsip Umum Penyusunan Anggaran Daerah ...................8
B. Prinsip Penyusunan APBD .................................................8
C. Tahap Perencanaan dan Penganggaran Daerah ................ 9

Bab IV PELAKSANAAN REVIU ...............................................................


23
A. Reviu Rancangan KUA-PPAS ............................................. 23
B. Reviu Rencana Kerja Anggaran SKPD ............................... 33

Bab V PELAPORAN ...............................................................................


40
A. Laporan yang Diterbitkan Perwakilan BPKP ........................ 40
B. Surat yang Diterbitkan Deputi Bidang Pengawasan
Penyelenggaraan Keuangan Daerah ................................... 41

Bab VI PENUTUP .......................................................................... 42

DAFTAR REFERENSI............................………………………………. 43

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Tahapan dan Jadwal Proses Penyusunan APBD .............. 20


Tabel 2 Pengelompokan Struktur APBD dan Kode Rekening
(Lampiran 1) ....................................................................... 18
Tabel 3 Konversi RBA ke dalam Format RKA (Lampiran 1) ........... 29

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Tahapan dan Tata Cara Penyusunan RKPD Provinsi ....... 10


Gambar 2 Tahapan dan Tata Cara Penyusunan RKPD Kabupaten/
Kota .................................................................................... 11
Gambar 3 Proses Penyampaian Rancangan KUA ............................. 13
Gambar 4 Proses Evaluasi Raperda APBD Provinsi .......................... 18
Gambar 5 Proses Evaluasi Raperda APBD Kabupaten/Kota .............. 20

iv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Gambaran Permasalahan dalam Proses Penyusunan


Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD
Lampiran 2 Program Kerja Reviu
Lampiran 3 Kertas Kerja Reviu
Lampiran 4 Format Catatan Hasil Reviu
Lampiran 5 Format Laporan Hasil Reviu
Lampiran 6 Format Laporan Pelaksanaan Kegiatan Bimbingan dan
Konsultasi
Lampiran 7 Format Kompilasi Permasalahan Dalam Bimbingan dan
Konsultasi Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA-SKPD

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam rangka peningkatan kapasitas dan kapabilitas APIP
sebagaimana diamanatkan dalam pasal 20 Peraturan Presiden
Nomor 192 Tahun 2014 tentang Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan (BPKP), BPKP mempunyai tugas melaksanakan
pembinaan peningkatan kapabilitas APIP daerah.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 76 Tahun 2016 tentang
Kebijakan Pengawasan di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri
dan Penyelenggaran Pemerintah Daerah Tahun 2017 menyebutkan
bahwa salah satu bentuk pengawasan kepala daerah terhadap
perangkat daerah adalah dengan kegiatan reviu. Reviu yang
dilakukan antara lain adalah reviu dokumen perencanaan dan
anggaran daerah. Reviu dokumen perencanaan dan anggaran
daerah dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas perencanaan
penganggaran dan menjamin kepatuhan terhadap kaidah-kaidah
penganggaran.
Pedoman yang digunakan dalam melakukan reviu dokumen
rencana pembangunan dan anggaran tahunan daerah mengacu
kepada Surat Inspektur Jenderal Kementerian Dalam Negeri Nomor:
700/025/A.4/IJ Tanggal 13 Januari 2016 Hal Pedoman Pelaksanaan
Reviu Dokumen Rencana Pembangunan dan Anggaran Tahunan
Daerah. Pedoman ini merupakan panduan bagi seluruh APIP
Provinsi/Kabupaten/kota dalam melaksanakan reviu dokumen
rencana pembangunan dan anggaran tahunan daerah untuk
menghasilkan dokumen APBD yang berkualitas.
Petunjuk teknis ini disusun berdasarkan Surat Inspektur Jenderal
Kementerian Dalam Negeri Nomor: 700/025/A.4/IJ, untuk memenuhi
kebutuhan dan menjadi acuan Perwakilan BPKP dalam memberikan
bimbingan dan konsultasi kepada APIP dalam melaksanakan reviu
rancangan KUA-PPAS dan reviu RKA SKPD.

1
2

B. Dasar Hukum
Dasar hukum penyusunan Petunjuk Teknis Bimbingan dan
Konsultasi Reviu Rancangan KUA-PPAS dan Reviu RKA SKPD
adalah:
1. Peraturan Pemerintah RI Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah.
2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 192 Tahun 2014
tentang Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.
3. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2014
tentang Peningkatan Kualitas Sistem Pengendalian Intern dan
Keandalan Penyelenggaraan Fungsi Pengawasan Intern dalam
rangka mewujudkan Kesejahteraan Rakyat. Poin kedua
menginstruksikan untuk mengintensifkan peran APIP di
Lingkungan masing-masing dalam rangka meningkatkan
kualitas, transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan
keuangan Negara/Daerah dan pembangunan nasional serta
meningkatkan upaya pencegahan korupsi.

C. Acuan dalam Penyusunan Petunjuk Teknis


Peraturan-peraturan yang digunakan sebagai acuan dalam
menyusun Petunjuk Teknis Bimbingan dan Konsultasi Reviu
Rancangan KUA-PPAS dan Reviu RKA Pemda ini adalah:
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara;
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah;

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


3

5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 13


Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah
dan perubahannya;
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008
Tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan
Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 76 Tahun 2016 tentang
Kebijakan Pembinaan dan Pengawasan di Lingkungan
Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah Tahun 2017;
8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2017 tentang
Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah Tahun 2018;
9. Surat Inspektur Jenderal Kementerian Dalam Negeri Nomor:
700/025/A.4/IJ Tanggal 13 Januari 2016 Hal Pedoman
Pelaksanaan Reviu Dokumen Rencana Pembangunan dan
Anggaran Tahunan Daerah.

D. Tujuan
Petunjuk Teknis Bimbingan dan Konsultasi Reviu Rancangan
KUA-PPAS dan Reviu RKA SKPD disusun dengan maksud untuk
menyediakan bahan acuan dan referensi bagi Perwakilan BPKP
dalam pelaksanaan bimbingan dan konsultasi/asistensi kepada APIP
di daerah mengenai pelaksanaan reviu rancangan KUA-PPAS dan
RKA SKPD.

E. Ruang Lingkup
Petunjuk Teknis Bimbingan dan Konsultasi Reviu Rancangan
KUA-PPAS dan Reviu RKA SKPD membahas mengenai proses
bimbingan dan konsultasi terkait tujuan reviu, ruang lingkup, sasaran
dan waktu pelaksanaan reviu, metodologi reviu, serta lampiran
berupa gambaran permasalahan, program kerja reviu dan kertas
kerja reviu yang dapat dijadikan acuan oleh perwakilan BPKP dalam

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


4

melaksanakan bimbingan dan konsultasi Reviu Rancangan KUA-


PPAS dan reviu RKA SKPD.

F. Pengguna dan Penggunaan


Pengguna Petunjuk Teknis Bimbingan dan Konsultasi Reviu
Rancangan KUA-PPAS dan Reviu RKA SKPD ini adalah terbatas
pada Perwakilan BPKP dalam rangka melakukan pembinaan APIP di
daerah untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas khususnya
pada pelaksanaan reviu rancangan KUA-PPAS dan RKA-SKPD.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


BAB II
PERAN APIP

A. Peran APIP dalam Reviu


Peran APIP telah mengalami pergeseran paradigma yaitu dari
peran watch dog (sekedar mencari-cari kesalahan) bergeser menjadi
lebih fokus pada unsur pembinaan yang bersifat preventive
(pencegahan), consultatitive, dan quality assurance, pada program-
program strategis, yang mempunyai risiko tinggi terhadap
penyimpangan, early warning systems, pendampingan, dan
pembinaan.
Kegiatan pengawasan yang diselenggarakan oleh APIP diatur
dalam Permendagri Nomor 76 Tahun 2016 tentang Kebijakan
Pengawasan di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri Dan
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Tahun 2017. Tujuan dari
ditetapkannya kebijakan pengawasan adalah untuk: (1)
meningkatkan kualitas pengawasan internal di lingkungan
Kementerian Dalam Negeri; (2) mensinergikan pengawasan yang
dilakukan oleh Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian,
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota; (3)
meningkatkan penjaminan mutu atas penyelenggaraan
pemerintahan; dan (4) meningkatkan kepercayaan masyarakat atas
pengawasan APIP.
Kegiatan reviu merupakan salah satu kegiatan pengawasan
yang diselenggarakan APIP menurut Permendagri Nomor 76 Tahun
2016. Kegiatan reviu bertujuan untuk memberikan keyakinan
terbatas bahwa dokumen/laporan yang disajikan telah tersusun
berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai dan
disajikan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pemerintah,
dengan prioritas: (1) Reviu Dokumen Perencanaan dan Anggaran
Daerah; (2) Reviu Laporan Keuangan; dan (3) Reviu Laporan Kinerja
Instansi Pemerintah.

5
6

B. Peran APIP dalam Reviu Perencanaan dan Penganggaran


Surat Inspektur Jenderal Kementerian Dalam Negeri Nomor:
700/025/A.4/IJ Tanggal 13 Januari 2016 Hal Pedoman Pelaksanaan
Reviu Dokumen Rencana Pembangunan dan Anggaran Tahunan
Daerah merupakan panduan bagi seluruh APIP
Provinsi/Kabupaten/Kota dalam melaksanakan reviu dokumen
rencana dan anggaran tahunan daerah untuk menghasilkan
dokumen APBD yang berkualitas. Reviu yang dilakukan oleh APIP
yaitu reviu dokumen rencana tahunan daerah berupa RKPD dan
Renja-SKPD, dan reviu dokumen anggaran tahunan daerah berupa
KUA-PPAS dan RKA-SKPD.
Pelaksanaan reviu atas dokumen perencanaan pembangunan
dan penganggaran bertujuan untuk memberi keyakinan terbatas
mengenai akurasi, keandalan dan keabsahan terhadap : 1) informasi
dalam RKPD sesuai dengan RPJMD; 2) informasi dalam Renja-
SKPD sesuai dengan RKPD; 3) informasi dalam KUA dan PPAS
sesuai dengan RKPD; 4) informasi dalam RKA-SKPD sesuai dengan
PPAS dan Renja-SKPD; dan 5) perumusan dokumen rencana
pembangunan dan anggaran tahunan daerah telah sesuai dengan
tata cara dan kaidah-kaidah perencanaan dan penganggaran.
Peran APIP dalam peningkatan kualitas penyusunan dokumen
perencanaan dan penganggaran tahunan daerah diatur juga dalam
Permendagri Nomor 33 Tahun 2017 tentang Pedoman Penyusunan
APBD TA 2018 yaitu dalam rangka menjamin konsistensi dan
keterpaduan antara perencanaan dan penganggaran agar
menghasilkan APBD yang berkualitas serta menjamin kepatuhan
terhadap kaidah-kaidah perencanaan dan penganggaran, Kepala
Daerah harus menugaskan APIP sebagai quality assurance untuk
melakukan reviu atas dokumen perencanaan dan penganggaran
daerah yakni reviu atas RKPD/Perubahan RKPD, Rencana Kerja
SKPD/Perubahan Rencana Kerja SKPD, KUA-PPAS/KUPA-PPAS
Perubahan, RKA-SKPD /RKA-SKPD Perubahan dan RKA-

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


7

PPKD/RKA-PPKD Perubahan sebagaimana yang diatur dalam Surat


Inspektur Jenderal Kementerian Dalam Negeri Nomor:
700/025/A.4/IJ Tanggal 13 Januari 2016 Hal Pedoman Pelaksanaan
Reviu Dokumen Rencana Pembangunan dan Anggaran Tahunan
Daerah.
Seiring dengan hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa
adanya peran APIP Provinsi/Kabupaten/Kota dalam proses
perencanaan penganggaran adalah untuk mendorong SKPD agar
meningkatkan kualitas penyusunan dokumen perencanaan
penganggaran untuk menjamin konsistensi dan keterpaduan antara
perencanaan dan penganggaran agar menghasilkan APBD yang
berkualitas, serta efektivitas dan efisiensi pencapaian prioritas dan
sasaran pembangunan nasional dan daerah. Peningkatkan kualitas
APBD untuk menjamin konsistensi dan keterpaduan perencanaan
penganggaran dilakukan melalui pelaksanaan reviu dokumen
rencana pembangunan tahunan yaitu RKPD (dokumen pelaksanaan
atau turunan dari RPJMD) dan Renja-SKPD, dan reviu dokumen
anggaran tahunan daerah yaitu KUA PPAS dan RKA-SKPD oleh
APIP Provinsi/Kabupaten/Kota. Pelaksanaan reviu harus mampu
menjamin proses perencanaan penganggaran patuh terhadap
kaidah-kaidah perencanaan dan penganggaran sebagai quality
assurance. Oleh karena itu diperlukan peran APIP mulai dari proses
perencanaan hingga menghasilkan APBD yang berkualitas.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


BAB III
PROSES PENYUSUNAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN
DAERAH

A. Prinsip Umum Penyusunan Anggaran Daerah


Prinsip-prinsip dasar (asas) dalam pengelolaan anggaran
negara/daerah, sebagaimana bunyi penjelasan dalam
Undang‐Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
dan Undang‐Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara, yaitu:
1. Kesatuan
Asas ini menghendaki semua pendapatan dan belanja
negara/daerah disajikan dalam satu dokumen anggaran.
2. Universalitas
Asas ini mengharuskan setiap transaksi keuangan ditampilkan
secara utuh dalam dokumen anggaran.
3. Tahunan
Asas ini membatasi masa berlakunya anggaran untuk satu tahun
tertentu.
4. Spesialitas
Asas ini mewajibkan kredit anggaran yang disediakan terinci
secara jelas peruntukannya.

B. Prinsip Penyusunan APBD


Penyusunan APBD didasarkan prinsip sebagai berikut:
1. Sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan Urusan
Pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah;
2. Tertib, taat pada ketentuan peraturan perundang-undangan,
efisien, ekonomis, efektif, bertanggung jawab dengan
memperhatikan rasa keadilan, kepatutan dan manfaat untuk
masyarakat;
3. Tepat waktu, sesuai dengan tahapan dan jadwal yang telah
ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan;

8
9

4. Transparan, untuk memudahkan masyarakat mengetahui dan


mendapatkan akses informasi seluas-luasnya tentang APBD;
5. Partisipatif, dengan melibatkan masyarakat; dan
6. Tidak bertentangan dengan kepentingan umum, peraturan
perundang- undangan yang lebih tinggi dan peraturan daerah
lainnya.

C. Tahap Perencanaan dan Penganggaran Daerah


Proses perencanaan dan penganggaran daerah terdiri atas
tahapan berikut, yaitu:
1. Penyusunan dan Penetapan Rencana Kerja Pembangunan
Daerah (RKPD) dan Rencana Kerja SKPD (Renja-SKPD)
Tahapan pertama dalam perencanaan dan penganggaran
adalah penyusunan RKPD. RKPD merupakan penjabaran dari
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD),
dengan menggunakan bahan dari Renja SKPD untuk jangka
waktu satu tahun yang mengacu kepada rencana kerja
pemerintah pusat.
Rancangan RKPD memuat rancangan kerangka ekonomi
daerah, program prioritas pembangunan daerah, rencana kerja
dan pendanaannya serta prakiraan maju dengan
mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif,
baik yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja
daerah maupun sumber-sumber lain yang ditempuh dengan
mendorong partisipasi masyarakat. Rancangan RKPD akan
menjadi bahan musrenbang RKPD.
Proses penyusunan RKPD dimulai dari penyusunan
rancangan RKPD sampai dengan penetapan RKPD kemudian
Renja SKPD. Bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan
penyusunan rancangan RKPD dan renja SKPD, juga
dilaksanakan kegiatan musrenbang desa/kelurahan dan
musrenbang kecamatan. Selanjutnya, hasil rancangan RKPD
dan renja SKPD beserta hasil musrenbang kecamatan dibahas

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


10

dalam forum SKPD. Hasil kegiatan forum SKPD akan dijadikan


bahan masukan dalam pelaksanaan kegiatan musrenbang
Kabupaten/Kota dan musrenbang Provinsi yang selanjutnya
akan menghasilkan RKPD dan renja SKPD.
Gambaran mengenai tahapan dan tata cara penyusunan
RKPD Provinsi berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan
Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara
Penyusunan, Pengendalian, Dan Evaluasi Pelaksanaan
Rencana Pembangunan Daerah dapat dilihat pada Gambar 1
berikut ini:
Gambar 1
Tahapan dan Tata Cara Penyusunan RKPD Provinsi

Sedangkan Gambaran mengenai tahapan dan tata cara


penyusunan RKPD Kabupaten/Kota dapat dilihat pada Gambar 2
berikut ini:

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


11

Gambar 2
Tahapan dan Tata Cara Penyusunan RKPD Kabupaten/Kota

Penyusunan RKPD diselesaikan paling lambat akhir bulan


Mei sebelum tahun anggaran berkenaan. RKPD ditetapkan
dengan peraturan kepala daerah.
2. Penyusunan KUA dan PPAS Provinsi/Kabupaten/Kota
Tahap selanjutnya setelah RKPD ditetapkan adalah
penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) serta Prioritas dan
Plafon Anggaran Sementara (PPAS). Penyusunan rancangan
KUA berpedoman pada pedoman penyusunan APBD yang
ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setiap tahun. Berdasarkan
KUA yang telah disepakati, pemda dan DPRD membahas
rancangan PPAS yang disampaikan oleh kepala daerah. KUA
dan PPAS yang disepakati akan menjadi acuan bagi SKPD
untuk menyusun rencana kerja dan anggaran (RKA) SKPD.
Rancangan KUA memuat target pencapaian kinerja yang
terukur dari program-program yang akan dilaksanakan oleh
pemerintah daerah yang disertai dengan proyeksi pendapatan
daerah, alokasi belanja daerah, sumber dan penggunaan
pembiayaan yang disertai dengan asumsi yang mendasarinya.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


12

PPAS menggambarkan pagu anggaran sementara untuk belanja


pegawai, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, belanja bagi
hasil, bantuan keuangan dan belanja tidak terduga, serta
pembiayaan, juga menggambarkan pagu anggaran sementara di
masing-masing SKPD berdasarkan program dan kegiatan
prioritas dalam RKPD. Pagu sementara tersebut akan menjadi
pagu definitif setelah rancangan peraturan daerah tentang APBD
disetujui bersama antara kepala daerah dengan DPRD serta
rancangan Peraturan Daerah tentang APBD tersebut ditetapkan
oleh kepala daerah menjadi Peraturan Daerah tentang APBD.
Dalam menyusun rancangan KUA, kepala daerah dibantu
oleh tim anggaran pemerintah daerah (TAPD) yang dipimpin oleh
sekretaris daerah. Rancangan KUA yang telah disusun,
disampaikan oleh sekretaris daerah selaku koordinator pengelola
keuangan daerah kepada kepala daerah, paling lambat pada
awal bulan Juni. Rancangan KUA dan rancangan PPAS
disampaikan kepala daerah kepada DPRD paling lambat
pertengahan bulan Juni tahun anggaran berjalan, untuk dibahas
dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD tahun anggaran
berikutnya. Pembahasan rancangan PPAS dilakukan oleh TAPD
bersama panitia anggaran DPRD paling lambat minggu kedua
bulan Juli tahun anggaran berjalan. Rancangan PPAS yang telah
dibahas selanjutnya disepakati menjadi PPA paling lambat akhir
bulan Juli tahun anggaran berjalan. KUA serta PPA yang telah
disepakati, masing‐masing dituangkan ke dalam nota
kesepakatan yang ditandatangani bersama antara kepala daerah
dengan pimpinan DPRD. Dalam hal kepala daerah berhalangan,
yang bersangkutan dapat menunjuk pejabat yang diberi
wewenang untuk menandatangani nota kesepakatan KUA dan
PPA. Dalam hal kepala daerah berhalangan tetap,
penandatanganan nota kesepakatan KUA dan PPA dilakukan
oleh penjabat yang ditunjuk oleh pejabat yang berwenang.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


13

Gambaran proses penyampaian rancangan KUA-PPAS


berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dapat
dilihat pada gambar 3 di bawah ini:
Gambar 3
Proses Penyampaian Rancangan KUA

Dalam penyusunan KUA dan PPAS Provinsi/Kabupaten/Kota


seringkali dijumpai permasalahan-permasalahan. Gambaran
permasalahan dalam penyusunan rancangan KUA-PPAS
disajikan dalam Lampiran 1 (huruf A).
3. Penyusunan RKA-SKPD dan RKA PPKD serta Penyampaian
Raperda APBD Provinsi/Kabupaten/Kota
Penyusunan RKA-SKPD dan RKA PPKD serta Penyampaian
Raperda APBD dilaksanakan dengan tahapan:
a. Penerbitan Surat Edaran Kepala Daerah perihal Pedoman
Penyusunan RKA SKPD dan RKA PPKD
Berdasarkan KUA dan PPAS yang telah disepakati bersama
antara kepala daerah dan DPRD, kepala daerah menerbitkan
Surat Edaran tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPD

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


14

kepada seluruh SKPD dan RKA-PPKD kepada Satuan Kerja


Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD). Surat Edaran
dimaksud mencakup, prioritas pembangunan daerah,
program dan kegiatan, indikator, tolok ukur dan target kinerja
dari masing-masing program dan kegiatan, alokasi plafon
anggaran sementara untuk setiap program dan kegiatan
SKPD, batas waktu penyampaian RKA-SKPD kepada PPKD,
dan dilampiri dokumen KUA, PPAS, kode rekening APBD,
format RKA-SKPD dan RKA-PPKD, ASB dan standar satuan
harga regional.
Surat edaran kepala daerah perihal pedoman penyusunan
RKA‐SKPD diterbitkan paling lambat awal bulan Agustus
tahun anggaran berjalan. Berdasarkan pedoman tersebut,
kepala SKPD menyusun RKA‐SKPD.
b. Penyusunan dan pembahasan RKA-SKPD dan RKA-PPKD
serta penyusunan Rancangan Perda tentang APBD
Penyusunan RKA-SKPD pada program dan kegiatan untuk
urusan pemerintahan wajib terkait pelayanan dasar
berpedoman pada SPM, standar teknis dan standar satuan
harga regional sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Penyusunan RKA-SKPD pada
program dan kegiatan untuk urusan pemerintahan wajib yang
tidak terkait dengan pelayanan dasar dan urusan
pemerintahan pilihan berpedoman pada analisis standar
belanja dan standar satuan harga regional.
RKA-SKPD memuat rincian anggaran pendapatan, rincian
anggaran belanja tidak langsung SKPD (gaji pokok dan
tunjangan pegawai, tambahan penghasilan), rincian
anggaran belanja langsung menurut program dan kegiatan
SKPD. RKA-SKPD yang telah disusun oleh SKPD
disampaikan kepada PPKD untuk dibahas lebih lanjut oleh
TAPD.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


15

Pembahasan oleh TAPD dilakukan untuk menelaah


kesesuaian antara RKA‐SKPD dengan KUA, PPA, prakiraan
maju yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya,
dokumen perencanaan lainnya, capaian kinerja, indikator
kinerja, kelompok sasaran kegiatan, standar analisis belanja,
standar satuan harga, standar pelayanan minimal, serta
sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD. Jika dalam
hal hasil pembahasan RKA‐SKPD terdapat ketidaksesuaian,
kepala SKPD melakukan penyempurnaan. RKA‐SKPD yang
telah disempurnakan oleh kepala SKPD disampaikan
kembali kepada PPKD sebagai bahan penyusunan
rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan
peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD.
RKA-PPKD memuat rincian pendapatan yang berasal dari
Dana Perimbangan dan Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang
Sah, belanja tidak langsung terdiri dari belanja bunga,
belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial,
belanja bagi hasil, belanja bantuan keuangan dan belanja
tidak terduga, rincian penerimaan pembiayaan dan
pengeluaran pembiayaan.
c. Penyampaian Rancangan Perda tentang APBD kepada
DPRD
Rancangan peraturan daerah tentang APBD yang telah
disusun oleh PPKD disampaikan kepada kepala daerah.
Selanjutnya rancangan peraturan daerah tentang APBD
sebelum disampaikan kepada DPRD disosialisasikan kepada
masyarakat. Sosialisasi rancangan peraturan daerah tentang
APBD tersebut bersifat memberikan informasi mengenai hak
dan kewajiban pemerintah daerah serta masyarakat dalam
pelaksanaan APBD tahun anggaran yang direncanakan.
Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah
tentang APBD kepada DPRD disertai penjelasan dan

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


16

dokumen pendukungnya pada minggu pertama bulan


Oktober tahun sebelumnya untuk dibahas dalam rangka
memperoleh persetujuan bersama. Penyampaian rancangan
peraturan daerah tersebuh disertai dengan nota keuangan.
Penetapan agenda pembahasan rancangan peraturan
daerah tentang APBD untuk mendapatkan persetujuan
bersama, disesuaikan dengan tata tertib DPRD masing-
masing daerah. Pembahasan rancangan peraturan daerah
tersebut berpedoman pada KUA serta PPA yang telah
disepakati bersama antara pemerintah daerah dan DPRD.
Dalam tahapan penyusunan RKA-SKPD dan RKA PPKD
seringkali dijumpai permasalahan-permasalahan. Adapun
gambaran permasalahan dalam penyusunan RKA-SKPD dan
RKA-PPKD disajikan pada Lampiran 1 (huruf B).

4. Persetujuan Bersama DPRD dan Kepala Daerah


Pengambilan keputusan bersama antara DPRD dan kepala
daerah terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD
dilakukan paling lama satu bulan sebelum tahun anggaran yang
bersangkutan dilaksanakan. Apabila sampai batas waktu satu
bulan sebelum tahun anggaran berkenaan DPRD tidak
menetapkan persetujuan terhadap rancangan peraturan daerah
APBD, maka kepala daerah melaksanakan pengeluaran
setinggi-tingginya sebesar angka APBD tahun anggaran
sebelumnya. Pengeluaran tersebut diprioritaskan untuk belanja
yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib. Belanja
yang bersifat mengikat merupakan belanja yang dibutuhkan
secara terus menerus dan harus dialokasikan oleh pemerintah
daerah dalam jumlah yang cukup untuk keperluan tahun
anggaran yang bersangkutan, seperti belanja pegawai, belanja
barang dan jasa. Sedangkan belanja yang bersifat wajib adalah
belanja untuk menjaminnya kelangsungan pemenuhan
pendanaan pelayanan dasar masyarakat seperti pendidikan,

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


17

kesehatan, dan/atau melaksanakan kewajiban kepada pihak


ketiga.

5. Evaluasi dan Penetapan Raperda APBD serta Raperkada


Penjabaran APBD Provinsi/Kabupaten/Kota
Evaluasi dan Penetapan Raperda APBD serta Raperkada
Penjabaran APBD terdiri atas dua jenis, yaitu:
a. Evaluasi atas Penetapan Raperda APBD serta Raperkada
Penjabaran APBD tingkat Provinsi
Rancangan peraturan daerah Provinsi tentang APBD yang
telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan
gubernur tentang penjabaran APBD, sebelum ditetapkan
oleh gubernur, paling lama tiga hari kerja disampaikan
kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi. Evaluasi
bertujuan untuk mencapai keserasian antara kebijakan
daerah dan kebijakan nasional, keserasian antara
kepentingan publik dan kepentingan aparatur, serta untuk
meneliti sejauh mana APBD Provinsi tidak bertentangan
dengan kepentingan umum, peraturan yang lebih tinggi,
dan/atau peraturan daerah lainnya yang ditetapkan oleh
Provinsi bersangkutan. Untuk efektivitas pelaksanaan
evaluasi, Menteri Dalam Negeri dapat mengundang pejabat
pemerintah daerah Provinsi yang terkait.
Hasil evaluasi dituangkan dalam keputusan Menteri Dalam
Negeri dan disampaikan kepada gubernur paling lama lima
belas hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan
dimaksud. Apabila Mendagri menyatakan hasil evaluasi
sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi, gubernur
menetapkan rancangan dimaksud menjadi peraturan daerah
dan peraturan gubernur. Dalam hal Mendagri menyatakan
bahwa hasil evaluasi bertentangan dengan kepentingan

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


18

umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi,


gubernur bersama DPRD menyempurnakan paling lama
tujuh hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi.
Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh gubernur dan
DPRD, dan gubernur tetap menetapkan rancangan peraturan
daerah tentang APBD dan rancangan peraturan gubernur
tentang penjabaran APBD menjadi peraturan daerah dan
peraturan gubernur, Menteri Dalam Negeri membatalkan
peraturan daerah dan peraturan gubernur dimaksud
sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun
sebelumnya.
Gambaran proses evaluasi Rancangan Peraturan Daerah
tentang APBD Provinsi dan Rancangan Peraturan Gubernur
tentang penjabaran APBD Provinsi dapat dilihat pada
Gambar 4 di bawah ini:
Gambar 4
Proses Evaluasi Raperda APBD Provinsi

b. Evaluasi atas Penetapan Raperda APBD serta Raperkada


Penjabaran APBD tingkat Kabupaten/Kota
Rancangan peraturan daerah Kabupaten/Kota tentang APBD
yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan
peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD,
sebelum ditetapkan oleh bupati/walikota, paling lama tiga

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


19

hari kerja disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi.


Evaluasi bertujuan untuk mencapai keserasian antara
kebijakan daerah dan kebijakan nasional, keserasian antara
kepentingan publik dan kepentingan aparatur, serta untuk
meneliti sejauh mana APBD Kabupaten/Kota tidak
bertentangan dengan kepentingan umum, peraturan yang
lebih tinggi, dan/atau peraturan daerah lainnya yang
ditetapkan oleh Kabupaten/Kota bersangkutan. Untuk
efektivitas pelaksanaan evaluasi, Gubernur dapat
mengundang pejabat pemerintah daerah Kabupaten/Kota
yang terkait.
Hasil evaluasi dituangkan dalam keputusan gubernur dan
disampaikan kepada bupati/walikota paling lama lima belas
hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud.
Apabila gubernur menyatakan hasil evaluasi sudah sesuai
dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-
undangan yang lebih tinggi, bupati/walikota menetapkan
rancangan dimaksud menjadi peraturan daerah dan
peraturan bupati/walikota. Dalam hal gubernur menyatakan
bahwa hasil evaluasi bertentangan dengan kepentingan
umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi,
bupati/walikota bersama DPRD menyempurnakan paling
lama tujuh hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil
evaluasi.
Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh
bupati/walikota dan DPRD, dan bupati/walikota tetap
menetapkan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan
rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran
APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan
bupati/walikota, gubernur membatalkan peraturan daerah
dan peraturan bupati/walikota dimaksud sekaligus
menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


20

Gambaran proses evaluasi Rancangan Peraturan Daerah


tentang APBD Kabupaten/Kota dan Rancangan Peraturan
Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD Kabupaten/Kota
dapat dilihat pada Gambar 5 di bawah ini:
Gambar 5
Proses Evaluasi Raperda APBD Kabupaten/Kota

6. Penetapan Peraturan Daerah Tentang APBD


Penetapan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan
peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD dilakukan
paling lambat tanggal 31 Desember tahun anggaran
sebelumnya. Kepala daerah menyampaikan peraturan daerah
tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran
APBD kepada Mendagri bagi Provinsi dan gubernur bagi
Kabupaten/Kota paling lama tujuh hari kerja setelah ditetapkan.
Ringkasan jadwal dan tahapan penyusunan APBD mengacu
pada Permendagri 33 Tahun 2017 tentang Pedoman
Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Tahun
Anggaran 2018 dapat dilihat dalam Tabel 1:

Tabel 1
Tahapan dan Jadwal Proses Penyusunan APBD

No. Uraian Waktu Lama


1 Penyusunan RKPD Akhir Bulan Mei

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


21

No. Uraian Waktu Lama


2 Penyampaian Rancangan KUA dan Minggu I Bulan Juni 1
Rancangan PPAS oleh TAPD Minggu
kepada Kepala Daerah
3 Penyampaian Rancangan KUA dan Minggu II Bulan Juni 6
Rancangan PPAS oleh Kepala Minggu
Daerah kepada DPRD
4 Kesepakatan antara kepala daerah Akhir Bulan Juli
dan DPRD atas rancangan KUA
dan Rancangan PPAS
5 Penerbitan SE Kepala Daerah Minggu I Bulan Agustus
perihal Pedoman penyusunan
RKA-SKPD dan RKA-PPKD
6 Penyusunan dan pembahasan Dimulai minggu I Bulan
RKA-SKPD dan RKA-PPKD serta Agustus
penyusunan Rancangan Perda
tentang APBD
7 Penyampaian Rancangan Perda Paling lambat 60 hari
tentang APBD kepada DPRD kerja sebelum
Pengambilan
persetujuan bersama
DPRD dan Kepala
Daerah
8 Pengambilan persetujuan bersama Paling lambat 1 (satu)
DPRD dan Kepala Daerah bulan sebelum tahun
anggaran yang
bersangkutan

9 Menyampaikan Rancangan Perda 3 hari kerja setelah


tentang APBD dan Rancangan persetujuan
Perkada tentang Penjabaran APBD
kepada Mendagri/Gubernur untuk
dievaluasi
10 Hasil evaluasi Rancangan Perda Paling lambat 15 hari
tentang APBD dan Rancangan kerja setelah rancangan
Perkada tentang Penjabaran APBD perda tentang APBD dan
Rancangan Perkada
tentang Penjabaran
APBD diterima oleh
Mendagri/Gubernur

11 Penyempurnaan Rancangan Perda Paling lambat 7 hari


tentang APBD sesuai hasil evaluasi kerja (sejak diterima
yang ditetapkan dengan keputusan keputusan hasil
pimpinan DPRD tentang evaluasi)
penyempurnaan Rancangan Perda
tentang APBD

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


22

No. Uraian Waktu Lama


12 Penyampaian keputusan DPRD 3 hari kerja setelah
tentang penyempurnaan keputusan pimpinan
Rancangan Perda tentang APBD DPRD ditetapkan
kepada Mendagri/Gubernur

13 Penetapan Perda tentang APBD Paling lambat akhir


dan Perkada tentang Penjabaran Desember (31
APBD sesuai dengan hasil evaluasi Desember)
14 Penyampaian Perda tentang APBD Paling lambat 7 hari
dan Perkada tentang Penjabaran kerja setelah perda dan
APBD kepada Mendagri/Gub Perkada ditetapkan

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


BAB IV
PELAKSANAAN REVIU

A. Reviu Rancangan KUA-PPAS


1. Fokus Reviu KUA PPAS
KUA-PPAS merupakan dokumen anggaran yang dibuat oleh
Sekertaris Daerah untuk disampaikan kepada Kepala Daerah
sebagai pedoman dalam penyusunan APBD. KUA-PPAS
disusun berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)
dari hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan
(Musrenbang), yang nantinya dilaporkan paling lambat minggu
pertama bulan Juni. Fokus Reviu Rancangan KUA-PPAS adalah
sebagai berikut:
a. Kesesuaian rumusan substansi rumusan rancangan KUA
dengan Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah dan
Kebijakan Keuangan Daerah dalam Perubahan RKPD.
b. Kesesuaian substansi rumusan prioritas dan sasararan serta
rencana program dan kegiatan dalam Rancangan PPAS
Perubahan dengan Perubahan RKPD;
c. Kesesuaian pencantuman indikator dan target kinerja serta
pagu indikatif, lokasi, kelompok sasaran dalam rencana
program dan kegiatan dalam Rancangan PPAS Perubahan
dengan Perubahan RKPD.
d. Kesesuaian proyeksi kapasitas fiskal tahunan dalam
rancangan KUPA dengan rumusan Kerangka Ekonomi
Daerah dan Kebijakan Keuangan Daerah dalam Perubahan
RKPD;
e. Konsistensi pencantuman indikator dan target kinerja serta
pagu indikatif, lokasi, kelompok sasaran dalam rencana
program dan kegiatan dalam Rancangan PPAS Perubahan
dengan Perubahan RKPD;

23
24

f. Kesesuaian pagu dana per-program dan kegiatan setiap


perangkat daerah dalam PPAS Perubahan dengan
Perubahan RKPD.
Pelaksanaan Reviu KUA-PPAS ini diadakan bersamaan
dengan pembahasan yang dilakukan oleh TAPD.

2. Metodologi Reviu
Secara umum, reviu dilaksanakan melalui proses
pengumpulan data/informasi, wawancara, dan analisis terhadap
data perencanaan dan penganggaran.

3. Tahapan Proses Reviu Rancangan KUA-PPAS


a. Tahap Perencanaan Reviu Rancangan KUA-PPAS
1) Penyusunan Program Kerja Reviu (PKR)
PKR merupakan serangkaian prosedur, dan teknik Reviu
yang disusun secara sistimatis yang harus
diikuti/dilaksanakan oleh Tim Reviu untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan, untuk digunakan sebagai
pedoman pelaksanaan pada saat meneliti dokumen
rencana pembangunan dan anggaran tahunan.
Penyusunan PKR meliputi kegiatan:
a) Penentuan personil.
b) Penentuan Jadual Reviu.
c) Penentuan Obyek, Sasaran dan Ruang Lingkup
Reviu.
d) Menyusun Langkah-langkah Reviu.
Tujuan dan Manfaat PKR yaitu:
a) Sarana pemberian tugas kepada tim Reviu;
b) Sarana pengawasan pelaksanaan Reviu secara
berjenjang;
c) Pedoman kerja/pegangan bagi Reviu;
d) Landasan untuk membuat iktisar/ringkasan hasil
Reviu; dan
e) Sarana untuk mengawasi mutu Reviu.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


25

Langkah-langkah kerja Reviu adalah perintah kerja


kepada Tim Reviu dalam melaksanakan Reviu. Biasanya
merupakan instruksi yang ditulis dengan kalimat perintah
dengan menerapkan prosedur dan teknik-teknik Reviu.
Contoh: Telusuri, analisis, bandingkan, evaluasi dan
wawancara.
Penyusunan PKR KUA-PPAS dapat disusun
sebagaimana Format tercantum dalam Lampiran 2
pedoman ini.
2) Pembentukan Tim
Dalam rangka pelaksanaan reviu rancangan KUA-PPAS,
APIP Provinsi/Kabupaten/Kota membentuk Tim Reviu.
Pembentukan tim reviu dilaksanakan dengan
mempertimbangkan persyaratan kompetensi teknis yang
secara kolektif harus dipenuhi. Susunan Tim reviu
sekurang-kurangnya terdiri dari:
a) Penanggungjawab (Pimpinan APIP);
b) Dalnis/Irban/Supervisor;
c) Ketua Tim; dan
d) Anggota tim disesuaikan dengan kebutuhan.
Sebagai dasar pelaksanaan reviu, pimpinan APIP
Provinsi/Kabupaten/Kota menerbitkan surat tugas reviu.
Surat tugas tersebut sekurang-kurangnya menjelaskan
mengenai pemberi tugas, susunan tim, ruang lingkup
reviu, lokasi serta waktu pelaksanaan reviu.
3) Penyiapan Dokumen
a) Pertemuan Awal (Entry Briefing)
Tim Reviu bertemu dengan TAPD, untuk
menyampaikan maksud dan tujuan Reviu.
b) Tim Reviu menyampaikan Surat kepada TAPD
perihal permintaan dokumen Rancangan KUA dan
PPAS.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


26

Penyampaian dokumen rancangan KUA dan PPAS


oleh TAPD kepada APIP Provinsi/Kabupaten/kota
dilakukan paling lambat 1 minggu sebelum batas
waktu penyampaian Rancangan KUA dan PPAS
kepada KDH, yang disertai dengan:
(1) Surat pengantar yang ditandatangani oleh Ketua
TAPD;
(2) Dokumen rancangan KUA dan PPAS; dan
(3) Dokumen RKPD.

b. Tahap Pelaksanaan Reviu Rancangan KUA-PPAS


1) Pelaksanaan Program Kerja Reviu
Pelaksanaan reviu KUA-PPAS adalah sesuai dengan
program kerja reviu yang telah ditentukan pada tahap
perencanaan. Pelaksanaan reviu berkoordinasi dengan
TAPD.
2) Penyusunan Kertas Kerja Reviu
Dalam kegiatan reviu, KKR merupakan dokumentasi
yang dibuat oleh Tim Reviu mengenai semua hal yang
dilakukannya, yang berisi metodologi reviu yang dipilih,
prosedur reviu yang ditempuh, bukti reviu yang
dikumpulkan, dan simpulan reviu yang diambil selama
reviu. Penyusunan KKR memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
a) Tujuan dan manfaat penyusunan KKR adalah:
(1) Pendukung Laporan Reviu
KKR merupakan penghubung antara reviu yang
dilaksanakan dengan LHR, jadi informasi dalam
LHR harus dapat dirujuk ke KKR. Disamping itu,
KKR disusun agar simpulan reviu dapat dibuat
secara berjenjang dari teknik dan prosedur reviu

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


27

yang telah dilaksanakan oleh tim reviu, yang


kemudian berujung pada LHR.
(2) Dokumentasi Informasi
KKR mendokumentasikan informasi yang
diperoleh melalui interviu, penelaahan peraturan-
peraturan, analisis atas sistem dan prosedur,
observasi atas suatu kondisi dan pengujian
transaksi.
(3) Identifikasi dan Dokumentasi Temuan Reviu
Sarana untuk mencari hubungan berbagai fakta
yang telah ditemukan, membandingkan,
menilai/mengukur besarnya pengaruh suatu
temuan atau kelemahan.
(4) Pendukung Pembahasan
Pemahaman yang memadai tentang hal-hal
penting dan relevan dapat membantu tim reviu
pada saat pembahasan suatu masalah dengan
pihak yang direviu. Selama reviu, pemahaman
tersebut harus didokumentasikan ke dalam KKR
sehingga saat pembahasan informasi yang
relevan dapat segera dirujuk.
(5) Media Reviu Pengawas
Penyusunan KKR dapat digunakan sebagai
sarana mengawasi, menilai dan memonitor
perkembangan pelaksanaan reviu, pelaksanaan
PKR, menilai kecukupan teknik dan prosedur
reviu untuk memenuhi standar reviu yang telah
ditetapkan. Reviu pengawas ini bertujuan untuk
memberikan rekomendasi teknik atau prosedur
reviu tambahan yang diperlukan yang harus
dilaksanakan oleh timnya.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


28

(6) Referensi
KKR dapat menjadi referensi dalam
perencanaan tugas reviu atau pelaksanaan reviu
periode berikutnya dan referensi dalam
memonitor tindak lanjut reviu.
b) Jenis-jenis Kertas Kerja Reviu adalah sebagai
berikut:
(1) KKR Utama
KKR Utama adalah KKR yang berisi simpulan
hasil Reviu untuk keseluruhan/suatu
segmen/bagian/ kegiatan yang direviu.
Umumnya memuat informasi sebagai berikut:
(a) Informasi umum antara lain berisi tujuan
operasi/kegiatan yang direviu dan informasi
latar belakang lainnya, misalnya organisasi
dan sistem pengendalian manajemen.
(b) Tujuan Reviu menjelaskan tujuan secara
rinci yang ingin dicapai dalam reviu atas
kegiatan dimaksud.
(c) Ruang lingkup menjelaskan apa yang
dilakukan dan yang tidak dilakukan dalam
reviu, metode pemilihan sampel dan ukuran
sampelnya, dan sumber informasi.
(d) Dalam temuan berisi jawaban atas tiap unsur
yang dimuat dalam tujuan reviu.
(e) Dalam opini dimuat penilaian atas
pencapaian tujuan kegiatan, dengan
mempertimbangkan adanya
temuan/permasalahan.
(f) Rekomendasi berupa tindakan perbaikan
atas kelemahan yang ada dan mencatat

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


29

tindak lanjut yang telah dilakukan yang


direviu.
(2) KKR Ikhtisar
KKR Ikhtisar adalah KKR yang berisi ringkasan
informasi dari KKR yang berisi informasi yang
sejenis/sekelompok tertentu. KKR Ikhtisar sangat
membantu dalam:
(a) Proses reviu yang kompleks.
(b) Merangkum kelompok kertas kerja yang
berkaitan dengan suatu masalah tertentu
atau satu bagian/segmen, memberikan
gambaran yang sistematis dan logis
terhadap KKR.
(c) Menghindarkan adanya permasalahan yang
timbul setelah selesai reviu, seperti kurang
lengkapnya data pendukung.
(d) Membantu tim untuk membiasakan diri
dengan kepastian dan ketepatan yang
diperlukan dalam menganalisis informasi.
(e) Mendorong analisis kritis dengan segera
atas bukti yang diperoleh dan pekerjaaan
yang dilakukan, membantu identifikasi
temuan dan sebagai dasar pengambilan
keputusan reviu selanjutnya.
(f) Memungkinkan sebagai bahan penyusunan
konsep LHR.
(3) KKR Pendukung
(a) KKR yang berisi informasi yang mendukung
KKR utama.
(b) Disusun secara logis, setiap KKR yang
berada di belakang KKR yang lain adalah

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


30

merupakan pendukung (informasi yang lebih


rinci) dari KKR sebelumnya.
(c) Disusun selama proses reviu dilaksanakan
dengan mengikuti PKR dan dituliskan
referensi PKR-nya.
(d) Dibuat setiap lembar untuk suatu
permasalahan.
c) KKR yang baik memenuhi prinsip-prinsip
penyusunan KKR sebagai berikut:
(1) Relevan;
(2) Sesuai dengan PKR;
(3) Lengkap dan Cermat;
(4) Mudah dipahami;
(5) Rapi;
(6) Efisien;
(7) Seragam.
d) KKR antara lain berisi dokumen/informasi berupa:
(1) Perencanaan, termasuk program kerja reviu;
(2) Prosedur reviu yang dilakukan, informasi yang
diperoleh dan simpulan hasil reviu;
(3) Reviu oleh pengawas;
(4) Pelaporan Reviu;
(5) Catatan atas tindak lanjut yang dilakukan oleh
yang direviu;
(6) Hasil reviu analitis;
(7) Catatan Hasil Reviu dan tanggapan manajemen;
(8) Korespondensi Reviu yang relevan.
Kertas kerja reviu KUA-PPAS dapat disusun
sebagaimana contoh pada lampiran 3 pada juknis ini.
3) Penyusunan Catatan Hasil Reviu
Reviu atas Rancangan KUA-PPAS dilakukan dalam
rangka memberikan keyakinan terbatas agar Rancangan

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


31

KUA-PPAS yang disusun konsisten dengan


perencanaan dalam RKPD dan sesuai dengan kaidah-
kaidah perencanaan yang berlaku. Oleh karena itu
koreksi yang diberikan dalam kegiatan reviu berjalan
dapat segera dilakukan perbaikan oleh TAPD tidak perlu
menunggu keseluruhan langkah kerja dalam proses
reviu yang sedang berjalan. Pada akhir pelaksanaan
reviu perlu dilakukan pembahasan akhir sebelum laporan
diterbitkan. Dalam pembahasan akhir tersebut
disampaikan beberapa permasalahan yang ditemui
dalam kegiatan reviu. Permasalahan yang akan dibahas
dapat dikelompokkan dalam:
a) Permasalahan yang sudah dapat ditindaklanjuti
selama proses reviu.
b) Permasalahan yang tidak dapat segera
ditindaklanjuti sampai dengan saat reviu berakhir,
misalnya perbaikan yang memerlukan persetujuan
yang lama ataupun pengumpulan data lebih lanjut
untuk mendukung konsistensi dan kebenaran dalam
penyusunan penganggaran.
Pembahasan mengenai permasalahan hasil reviu
tersebut diungkapkan kedalam Catatan Hasil Reviu.
Catatan Hasil reviu rancangan KUA-PPAS dapat disusun
sebagaimana contoh pada lampiran 4 juknis ini.
4) Pertemuan Akhir (Exit Briefing)
Tim Reviu menyampaikan Catatan Hasil Reviu kepada
TAPD untuk diminta tanggapan secara tertulis terhadap
simpulan-simpulan yang menjadi perhatian Reviu.

c. Tahap Pelaporan Hasil Reviu Rancangan KUA-PPAS


Maksud dan tujuan pelaporan hasil Reviu adalah untuk
mengkomunikasikan hasil reviu kepada Ketua TAPD dan

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


32

pejabat yang berwenang, serta mempermudah pelaksanaan


tindak lanjut hasil reviu.
Pelaporan hasil reviu pada dasarnya mengungkapkan tujuan
dan alasan pelaksanaan reviu, prosedur reviu yang
dilakukan, kesalahan atau kelemahan yang ditemui, langkah
perbaikan yang disepakati, langkah perbaikan yang telah
dilakukan, dan saran perbaikan yang tidak atau belum
dilaksanakan. Pelaporan hasil reviu disusun dalam bentuk
Laporan Hasil Reviu (LHR).
Penyusunan Laporan Hasil Reviu ( LHR ) dilakukan secara
bebas tetapi terarah, dengan memperhatikan hal sebagai
berikut:
a) Selambat-lambatnya 1 (satu) minggu setelah selesai
melakukan Reviu, Tim Reviu wajib menyusun Laporan
hasil Reviu.
b) Ketua Tim Reviu menyerahkan Konsep Laporan Hasil
Reviu (LHR) kepada Dalnis/supervisor/irban dan
selanjutnya disampaikan kepada Inspektur untuk
ditandatangani.
c) Tata cara Pelaporan
Proses penyusunan konsep LHR setiap tahapan sampai
dengan penerbitannya, dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut:
(1) Konsep LHR disusun oleh Ketua Tim segera setelah
pekerjaan lapangan selesai, dilengkapi dengan:
(a) Catatan Hasil reviu;
(b) Copy Surat Tugas;
(c) KKR;
(d) Lembar Reviu Konsep LHR.
(2) Penyusunan Konsep LHR, memperhatikan:
(a) Kesesuaian bentuk dan susunan LHR dengan
pedoman;

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


33

(b) Kelengkapan dokumen pendukung LHR;


(c) Kesesuaian materi LHR dan Catatan Hasil
Reviu;
(d) Ketepatan Simpulan dan rekomendasi.
(3) Konsep LHR diserahkan oleh Ketua Tim kepada
Dalnis/Irban/Supervisor selanjutnya disampaikan
kepada Inspektur untuk mendapat persetujuan.
(4) LHR diterbitkan dan didistribusikan kepada:
(a) TAPD;
(b) Arsip Inspektorat.
Format laporan hasil reviu dapat disusun sebagaimana
contoh pada lampiran 5 juknis ini.

B. Reviu Rencana Kerja Anggaran SKPD


1. Fokus Reviu RKA-SKPD
Fokus reviu RKA-SKPD merupakan pengujian terbatas
terhadap penyusunan hingga penetapan dokumen RKA-SKPD.
Sasaran dari reviu RKA-SKPD untuk mengetahui hal-hal sebagai
berikut:
a. kesesuaian rumusan rencana program dan kegiatan dalam
RKA-SKPD dengan PPAS;
b. kesesuaian pencantuman indikator dan target kinerja serta
pagu indikatif, lokasi, kelompok sasaran dalam rencana
program dan kegiatan RKA-SKPD dengan PPAS.
c. kelayakan anggaran untuk menghasilkan keluaran.
d. kepatuhan dalam penerapan kaidah-kaidah penganggaran,
antara lain:
1) Dasar hukum penganggaran;
2) Pencantuman indikator dan target kinerja, lokasi dan
kelompok sasaran penerima manfaat;
3) penerapan analisis standar belanja dan standar satuan
harga;
4) penggunaan akun;

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


34

5) hal-hal yang dibatasi atau dilarang.


e. Kelengkapan dokumen pendukung RKA-SKPD antara lain
Kerangka Acuan Kerja (KAK), Rencana Anggaran Biaya
(RAB) dan dokumen terkait lainnya.
Reviu RKA-SKPD dilaksanakan secara bersamaan dengan
evaluasi RKA-SKPD oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah
(TAPD).

2. Metodologi Reviu
Secara umum, reviu dilaksanakan melalui proses
pengumpulan data/informasi, wawancara, dan analisis terhadap
data perencanaan dan penganggaran.

3. Tahapan Proses Reviu


a. Tahap Perencanaan Reviu
1) Penyusunan Program Kerja Reviu (PKR)
PKR merupakan serangkaian prosedur, dan teknik
reviu yang disusun secara sistimatis yang harus
diikuti/dilaksanakan oleh tim reviu untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan, untuk digunakan sebagai
pedoman pelaksanaan pada saat meneliti dokumen
rencana pembangunan dan anggaran tahunan.
Tujuan dan Manfaat PKR yaitu:
a) Sarana pemberian tugas kepada tim reviu;
b) Sarana pengawasan pelaksanaan reviu secara
berjenjang;
c) Pedoman kerja/pegangan bagi reviu;
d) Landasan untuk membuat iktisar/ringkasan hasil
reviu; dan
e) Sarana untuk mengawasi mutu reviu.
Langkah-langkah kerja reviu adalah perintah kerja
kepada tim reviu dalam melaksanakan reviu. Biasanya
merupakan instruksi yang ditulis dengan kalimat perintah
dengan menerapkan prosedur dan teknik-teknik reviu.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


35

Contoh: Telusuri, analisis, bandingkan, evaluasi dan


wawancara.
Penyusunan PKR RKA-SKPD dapat disusun
sebagaimana Format tercantum dalam Lampiran 2 juknis
ini.
2) Penyusunan Tim Reviu
APIP dalam melakukan pemilihan personil tim reviu
RKA-SKPD sebaiknya memperhatikan kompetensi dan
pengetahuan terkait dengan proses bisnis SKPD.
Persyaratan kompetensi teknis yang secara kolektif
harus dipenuhi. Susunan tim reviu sekurang-kurangnya
terdiri dari:
a) Penanggungjawab (Pimpinan APIP);
b) Dalnis/Irban/Supervisor;
c) Ketua Tim; dan
d) Anggota tim disesuaikan dengan kebutuhan.
Sebagai dasar pelaksanaan reviu, pimpinan APIP
Provinsi/Kabupaten/Kota menerbitkan surat tugas reviu.
Surat tugas tersebut sekurang-kurangnya menjelaskan
mengenai pemberi tugas, susunan tim, ruang lingkup
reviu, lokasi serta waktu pelaksanaan reviu.
3) Penyiapan Dokumen
a) Pertemuan Awal (Entry Briefing)
Tim Reviu bertemu dengan Seluruh Kepala SKPD,
untuk menyampaikan maksud dan tujuan reviu.
b) APIP Provinsi/Kabupaten/Kota menyampaikan Surat
kepada Kepala SKPD perihal permintaan dokumen
RKA-SKPD.
Penyampaian Dokumen RKA-SKPD oleh Kepala
SKPD kepada APIP Provinsi/Kabupaten/kota
bersamaan dengan jadwal penyampaian RKA-SKPD

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


36

kepada TAPD dalam rangka pembahasan, yang


disertai dengan:
(1) Surat pengantar yang ditandatangani oleh
Kepala SKPD;
(2) Surat Pernyataan Kepala SKPD penanggung
jawab RKA-SKPD;
(3) Dokumen RKA-SKPD;
(4) TOR/RAB dan dokumen pendukung terkait
lainnya.
APIP Provinsi/Kabupaten/Kota menghimpun
dokumen-dokumen yang akan digunakan dalam
melakukan reviu dokumen RKA-SKPD, seperti
dokumen:
(1) Renja-SKPD, KUA, PPAS, RKA-SKPD;
(2) Pedoman umum penyusunan APBD, standar
biaya dan standar satuan harga yang berlaku,
peraturan terkait dengan tugas dan fungsi SKPD,
dan sebagainya.

b. Tahap Pelaksanaan Reviu


1) Pelaksanaan Program Kerja Reviu
Pelaksanaan reviu RKA-SKPD adalah sesuai dengan
program kerja reviu yang telah ditentukan pada tahap
perencanaan. Pelaksanaan reviu berkoordinasi dengan
Kepala SKPD. Program kerja reviu RKA-SKPD dapat
disusun sebagaimana contoh pada lampiran 2 pada
juknis ini.
2) Penyusunan Kertas Kerja Reviu
Penyusunan KKR RKA-SKPD memperhatikan hal-hal
sebagaimana dijelaskan dalam penyusunan KKR KUA-
PPAS. Kertas kerja reviu RKA-SKPD dapat disusun
sebagaimana contoh pada lampiran 3 pada juknis ini.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


37

3) Penyusunan Catatan Hasil Reviu


Reviu atas RKA SKPD dilakukan dalam rangka
memberikan keyakinan terbatas agar RKA SKPD yang
disusun konsisten dengan perencanaan dalam PPAS
dan sesuai dengan kaidah-kaidah penganggaran yang
berlaku. Oleh karena itu koreksi yang diberikan dalam
kegiatan reviu berjalan dapat segera dilakukan perbaikan
oleh SKPD tidak perlu menunggu keseluruhan langkah
kerja dalam proses reviu yang sedang berjalan. Pada
akhir pelaksanaan reviu perlu dilakukan pembahasan
akhir sebelum laporan diterbitkan. Dalam pembahasan
akhir tersebut disampaikan beberapa permasalahan
yang ditemui dalam kegiatan reviu. Permasalahan yang
akan dibahas dapat dikelompokkan dalam:
a) Permasalahan yang sudah dapat ditindaklanjuti
selama proses reviu.
b) Permasalahan yang tidak dapat segera
ditindaklanjuti sampai dengan saat reviu berakhir,
misalnya perbaikan yang memerlukan persetujuan
yang lama ataupun pengumpulan data lebih lanjut
untuk mendukung konsistensi dan kebenaran dalam
penyusunan penganggaran.
c) Permasalahan yang tindak lanjutnya di luar
kemampuan SKPD yang bersangkutan.
Pembahasan mengenai permasalahan hasil reviu
tersebut diungkapkan kedalam Catatan Hasil Reviu.
Catatan Hasil reviu RKA-SKPD dapat disusun
sebagaimana contoh pada lampiran 4 juknis ini.
4) Pertemuan Akhir (Exit Briefing)
Tim Reviu menyampaikan Catatan Hasil Reviu kepada
Kepala SKPD untuk diminta tanggapan secara tertulis

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


38

terhadap simpulan-simpulan yang menjadi perhatian


reviu.

c. Tahap Pelaporan Reviu RKA-SKPD


Mencakup kegiatan penyusunan Laporan Hasil Reviu
(LHR). Maksud dan tujuan pelaporan hasil reviu adalah
untuk mengkomunikasikan hasil reviu kepada Kepala SKPD
dan pejabat yang berwenang, serta mempermudah
pelaksanaan tindak lanjut hasil reviu.
Pelaporan hasil reviu pada dasarnya mengungkapkan
tujuan dan alasan pelaksanaan reviu, prosedur reviu yang
dilakukan, kesalahan atau kelemahan yang ditemui, langkah
perbaikan yang disepakati, langkah perbaikan yang telah
dilakukan, dan saran perbaikan yang tidak atau belum
dilaksanakan. Pelaporan hasil reviu disusun dalam Laporan
Hasil Reviu (LHR). Tim Reviu harus mendokumentasikan
seluruh Kertas Kerja Reviu (KKR) dengan baik dan aman.
Penyusunan Laporan Hasil Reviu (LHR) dilakukan
secara bebas tetapi terarah, dengan memperhatikan hal
sebagai berikut:
a) Selambat-lambatnya 1 (satu) minggu setelah selesai
melakukan reviu, tim reviu wajib menyusun Laporan hasil
reviu.
b) Ketua tim reviu menyerahkan konsep LHR kepada
Dalnis/supervisor/irban dan selanjutnya disampaikan
kepada Inspektur untuk ditandatangani.
c) Tata cara Pelaporan
Proses konsep LHR setiap tahapan sampai dengan
penerbitannya, dilakukan langkah-langkah sebagai
berikut:
(1) Konsep LHR disusun oleh ketua tim segera setelah
pekerjaan lapangan selesai, dilengkapi dengan:
(a) Catatan Hasil Reviu;

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


39

(b) Copy Surat Tugas;


(c) KKR;
(d) Lembar Reviu Konsep LHR.
(2) Penyusunan Konsep LHR, memperhatikan:
(a) Kesesuaian bentuk dan susunan LHR dengan
pedoman;
(b) Kelengkapan dokumen pendukung LHR;
(c) Kesesuaian materi LHR dan Catatan Hasil
Reviu;
(d) Ketepatan Simpulan dan rekomendasi;
(3) Konsep LHR diserahkan oleh Ketua Tim kepada
Dalnis/Irban/Supervisor selanjutnya disampaikan
kepada Inspektur untuk mendapat persetujuan.
(4) LHR diterbitkan dan didistribusikan kepada:
(a) Gubernur/Menteri Dalam Negeri
(b) Kepala SKPD;
(c) Arsip Inspektorat.
Format laporan hasil reviu RKA-SKPD dapat disusun
sebagaimana contoh pada lampiran 5 juknis ini.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


BAB V
PELAPORAN

Pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konsultasi/asistensi reviu


rancangan KUA PPAS dan RKA-SKPD akan menghasilkan:
A. Laporan yang Diterbitkan Perwakilan BPKP
Perwakilan BPKP akan menerbitkan laporan, yaitu:
1. Laporan Bimbingan dan Konsultasi/Asistensi Reviu Rancangan
KUA-PPAS dan RKA-SKPD
Setelah berakhirnya kegiatan, maka disusun Laporan
Bimbingan dan Konsultasi/Asistensi Reviu Rancangan KUA-
PPAS dan RKA-SKPD. Laporan ditandatangani oleh Kepala
Perwakilan BPKP ditujukan kepada Deputi Kepala BPKP Bidang
PPKD dan ditembuskan kepada Gubernur/Walikota/Bupati dan
Inspektur. Laporan Bimbingan dan Konsultasi/Asistensi Reviu
Rancangan KUA-PPAS dan RKA-SKPD menggunakan fomat
dalam lampiran 6 dan dapat dikembangkan sesuai dengan
kondisi di lapangan. Laporan ini membahas mengenai
pelaksanaan kegiatan, permasalahan yang sering dijumpai
dalam proses reviu rancangan KUA-PPAS dan RKA-SKPD, serta
rekomendasi yang diberikan oleh Perwakilan BPKP untuk
perbaikan dalam proses penyusunan rancangan KUA-PPAS dan
RKA-SKPD di pemerintah daerah.
2. Kompilasi Permasalahan Hasil Reviu Rancangan KUA-PPAS
dan RKA-SKPD
Untuk mendukung fungsi BPKP sebagaimana diatur dalam
Perpres Nomor 192 Tahun 2014 tentang BPKP Pasal 3 Poin L,
yaitu pembangunan dan pengembangan, serta pengolahan data
dan informasi hasil pengawasan atas penyelenggaraan
akuntabilitas keuangan negara Kementerian/Lembaga dan
Pemda, maka Perwakilan BPKP menggali permasalahan yang
dijumpai APIP dalam melakukan reviu serta melakukan kompilasi

40
41

permasalahan atas hasil reviu rancangan KUA-PPAS dan RKA-


SKPD yang dilakukan oleh APIP pemda. Hasil dari kompilasi
permasalahan akan diolah oleh Deputi Bidwas Penyelenggaraan
Keuangan Daerah untuk menyusun kebijakan pengawasan dan
rekomendasi strategis yang tepat untuk mengatasi
permasalahan dalam penyusunan APBD khususnya
permasalahan dalam proses reviu rancangan KUA-PPAS dan
RKA SKPD. Kompilasi permasalahan hasil reviu rancangan
KUA-PPAS dan RKA SKPD menggunakan format dalam
lampiran 7.

B. Surat yang Diterbitkan Deputi Bidang Pengawasan


Penyelenggaraan Keuangan Daerah
Deputi Bidang Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan Daerah
menerbitkan Surat Atensi tentang Pelaksanaan Bimbingan dan
Konsultasi/Asistensi Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA-SKPD.
Surat atensi akan berisikan rekomendasi strategis berdasarkan
kompilasi permasalahan hasil reviu rancangan KUA-PPAS dan RKA-
SKPD serta laporan pelaksanaan kegiatan Bimbingan dan
Konsultasi/Asistensi Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA-SKPD
yang dikirim oleh Perwakilan BPKP.
Rekomendasi strategis oleh Deputi Bidang Pengawasan
Penyelenggaraan Keuangan Daerah adalah saran perbaikan BPKP
kepada Kementerian Dalam Negeri, terhadap masalah strategis guna
meningkatkan tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian atas
implementasi Kebijakan/Program prioritas daerah.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


BAB VI
PENUTUP

Dalam rangka peningkatan kapasitas dan kapabilitas APIP, BPKP


sebagaimana diamanatkan dalam pasal 20 Peraturan Presiden Nomor
192 Tahun 2014 tentang Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan, BPKP mempunyai tugas antara lain melaksanakan
pembinaan kapabilitas APIP daerah, dan sesuai dengan Instruksi
Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2014 tentang Peningkatan Kualitas
Sistem Pengendalian Intern, Deputi Bidang Pengawasan
Penyelenggaraan Keuangan Daerah, berinisiatif untuk menyusun Juknis
Bimbingan dan Konsultasi Reviu Rancangan KUA-PPAS dan Reviu RKA-
SKPD.
Juknis ini digunakan sebagai acuan bagi Perwakilan BPKP dalam
pelaksanaan bimbingan dan konsultasi reviu rancangan KUA-PPAS dan
RKA-SKPD di pemerintah daerah. Juknis ini diterbitkan untuk memberikan
petunjuk agar jalannya bimbingan dan konsultasi reviu rancangan KUA-
PPAS dan RKA-SKPD lebih sistematis dan terarah.
Dalam juknis ini telah dilengkapi dengan contoh Program Kerja Reviu
dan Kertas Kerja Reviu yang diperlukan untuk memudahkan Perwakilan
BPKP melakukan bimbingan dan konsultasi reviu rancangan KUA-PPAS
dan RKA-SKPD.
Juknis ini merupakan acuan minimal. Dalam pelaksanaan bimbingan
dan konsultasi reviu rancangan KUA-PPAS dan RKA-SKPD, acuan yang
ada dapat dikembangkan sesuai kondisi di lapangan.
Menyadari bahwa juknis ini masih belum sempurna, masukan dan
kritik terkait perbaikan juknis harap dikirimkan ke email:
rakisno@bpkp.go.id.

42
REFERENSI

1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;


2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara;
3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah;
6. Peraturan Presiden Nomor 192 Tahun 2014 tentang Badan
Pengawasan Keuangan dan Pembangunan;
7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 13 Tahun
2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dan
perubahannya;
8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang
Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi
Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 76 Tahun 2016 tentang
Kebijakan Pengawasan di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan
Penyelenggaran Pemerintah Daerah Tahun 2017;
10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2017 tentang
Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Tahun 2018;
11. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2014 tentang
Peningkatan Kualitas Sistem Pengendalian Intern dan Keandalan
Penyelenggaraan Fungsi Pengawasan Intern dalam rangka
mewujudkan Kesejahteraan Rakyat.

43
44

12. Surat Inspektur Jenderal Kementerian Dalam Negeri Nomor:


700/025/A.4/IJ Tanggal 13 Januari 2016 Hal Pedoman Pelaksanaan
Reviu Dokumen Rencana Pembangunan dan Anggaran Tahunan
Daerah.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 1/32

GAMBARAN PERMASALAHAN DALAM PENYUSUNAN


RANCANGAN KUA-PPAS DAN RKA SKPD

A. Permasalahan dalam Penyusunan Rancangan KUA-PPAS


1. Tidak Konsistennya KUA dan PPAS dengan RKPD
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006, mengatur bahwa Kepala
daerah menyusun rancangan KUA berdasarkan RKPD dan
pedoman penyusunan APBD yang ditetapkan Menteri Dalam
Negeri setiap tahun. Kemudian berdasarkan KUA yang telah
disepakati, pemerintah daerah menyusun rancangan PPAS.

Permendagri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan


Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan,
Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan
Rencana Pembangunan Daerah, mengatur mengenai RKPD yang
memuat:

a. Rancangan kerangka ekonomi daerah


Rancangan kerangka ekonomi daerah yaitu gambaran kondisi
ekonomi, kemampuan pendanaan dan pembiayaan
pembangunan daerah paling sedikit 2 (dua) tahun sebelumnya,
dan perkiraan untuk tahun yang direncanakan. Dalam bagian
ini dijelaskan juga mengenai kebijakan keuangan daerah yang
merupakan pedoman dan gambaran dari pelaksanaan hak dan
kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan bidang
urusan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang
termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang
berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.
b. Program prioritas pembangunan daerah
Program prioritas pembangunan daerah yaitu memuat
program-program yang berorientasi pada pemenuhan hak-hak
dasar masyarakat dan pencapaian keadilan yang berkelanjutan

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 2/32

sebagai penjabaran dari RPJMD pada tahun yang


direncanakan.
c. Rencana kerja, pendanaan dan prakiraan maju.
Rencana kerja dan pendanaan serta prakiraan maju dengan
mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif
yang bersumber dari APBD, memuat program dan kegiatan
pembangunan yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah
daerah, disertai perhitungan kebutuhan dana bersumber dari
APBD untuk tahun-tahun berikutnya dari tahun anggaran yang
direncanakan.
Rancangan KUA memuat kondisi ekonomi makro daerah, asumsi
penyusunan APBD, kebijakan pendapatan daerah, kebijakan
belanja daerah, kebijakan pembiayaan daerah, dan strategi
pencapaiannya. Strategi pencapaian tersebut memuat langkah-
langkah kongkrit dalam mencapai target. KUA terdiri atas:
a. Bagian Pendahuluan
Pada bagian pendahuluan ini diuraikan latar belakang
dibuatnya KUA yaitu karena keterbatasan dana sementara
kebutuhan yang banyak maka perlu dibuat KUA. Adalah sudah
menjadi keyakinan umum bahwa di satu sisi sumber daya yang
ada dan dimiliki oleh daerah memang terbatas, tetapi di sisi lain
kebutuhan sumber daya yang akan digunakan untuk
melaksanakan urusan pemerintahan daerah sungguh sangat
banyak. Kondisi ini merupakan latar belakang untuk disusunnya
Kebijakan Umum Anggaran.

b. Kerangka ekonomi makro daerah


Kerangka ekonomi makro memberikan gambaran mengenai
perkembangan ekonomi daerah meliputi pertumbuhan
ekonomi, PDRB, inflasi dan tenaga kerja. Selain itu
memberikan gambaran mengenai rencana target makro
ekonomi daerah yang meliputi perkiraan pertumbuhan

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 3/32

ekonomi, perkiraan laju inflasi, perkiraan PDRB harga berlaku


dan harga konstan.

c. Asumsi asumsi dasar dalam penyusunan RAPBD


Asumsi dasar yang dipergunakan diatur dalam permendagri
penyusunan RAPBD yang diterbitkan setiap tahunnya. Asumsi
dasar yang digunakan adalah misalnya asumsi nilai
pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, jumlah penduduk miskin,
dan tingkat pengangguran terbuka

d. Kebijakan Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan Daerah


Penyusunan kebijakan pendapatan, belanja dan pembiayaan
daerah disusun secara rasional dengan memperhatikan kondisi
keuangan daerah dan skala prioritas pembangunan daerah,
dalam hal ini belanja daerah tidak akan melampaui kemampuan
pendapatan dan pembiayaan daerah. Prinsip dalam
pengelolaan keuangan maka pendapatan daerah
diproyeksikan pada besaran pendapatan yang optimis tercapai,
sedangkan pada sisi belanja adalah merupakan batas tertinggi
yang dapat dibelanjakan.

e. Kebijakan Pembangunan Daerah


Kebijakan pembangunan daerah diupayakan konsisten dengan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, rencana
pembangunan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat,
capaian kinerja tahun sebelumnya serta masalah mendesak
yang dihadapi. Konsistensi ini akan terwujud jika pemerintah
daerah mengikuti peraturan Menteri Dalam Negeri tentang
Pedoman Penyusunan APBD yang biasanya terbit setiap
tahun.

f. Kebijakan Pembiayaan
Rencana jumlah pendapatan dan rencana belanja daerah
dapat diprediksi estimasi surplus atau defisit. Jika estimasi
jumlah pendapatan lebih tinggi daripada estimasi belanja akan

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 4/32

menghasilkan estimasi surplus. Sebaliknya jika estimasi


pendapatan lebih kecil daripada estimasi belanja akan
menghasilkan estimasi defisit. Pada bagian ini diatur
bagaimana memanfaatkan surplus dan bagaimana mengatasi
defisit.

Dalam hal ada surplus, maka harus ditentukan kebijakan apa


yang dilakukan untuk memanfaatkan surplus tersebut. Dalam
hal akan terjadi defisit maka harus ditentukan kebijakan yang
harus diambil. Misalkan daerah dapat melakukan rasionalisasi
belanja dan sebagainya.

Berdasarkan KUA yang telah disepakati, pemda dan DPRD


membahas rancangan PPAS sementara yang akan disampaikan
oleh kepala daerah. Rancangan PPAS disusun dengan tahapan
sebagai berikut:
a. Menentukan skala prioritas pembangunan daerah;
b. Menentukan urutan program untuk masing-masing urusan
yang disinkronisasikan dengan prioritas dan program nasional
yang tercantum dalam rencana kerja pemerintah setiap tahun;
c. Menyusun plafon anggaran sementara untuk masing-masing
program/kegiatan.
Permasalahan yang kerap kali timbul dalam penyusunan KUA dan
PPAS yaitu tidak konsistensinya antara KUA dan PPAS dengan
RKPD, yaitu:
a. Ketidaksesuaian substansi rumusan rancangan KUA dengan
Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah dan Kebijakan
Keuangan Daerah dalam RKPD
Dalam menyusun KUA, kerangka ekonomi daerah dan
kebijakan keuangan daerah harus sesuai dengan RKPD. Misal
periksa kesesuaian asumsi dasar yang digunakan dalam
menyusun RAPBD seperti target pertumbuhan ekonomi, laju
inflasi, jumlah penduduk dan tingkat pengangguran, apakah

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 5/32

yang tercantum dalam KUA telah sama dengan yang tercantum


dalam RKPD.
b. Ketidaksesuaian substansi rumusan prioritas dan sasaran serta
rencana program dan kegiatan dalam PPAS dengan RKPD
Agar tercapai prioritas pembangunan nasional, maka pemda
harus mendukung dengan menyusun rumusan prioritas dan
sasaran program dan kegiatan dalam PPAS mengacu kepada
RKPD yang telah disusun berdasarkan pada tema dan prioritas
pembangunan nasional.
c. Ketidaksesuaian pencantuman indikator dan target kinerja
serta pagu indikatif, lokasi, kelompok sasaran dalam rencana
program dan kegiatan KUA-PPAS dengan RKPD
Pencantuman indikator dan target kinerja, serta pagu indikatif
dalam KUA-PPAS harus sesaui dengan RKPD. Permasalahan
yang kerap muncul adalah besaran dan satuan indikator dan
target kinerja berbeda dengan yang ditetapkan dalam RKPD,
serta pagu dalam KUA-PPAS melebihi pagu indikatif dalam
RKPD.
Oleh karena itu perlu dilakukan reviu atas kesesuaian materi dalam
RKPD terhadap KUA dan PPAS, baik terhadap kesesuaian
rancangan kerangka ekonomi daerah, kesesuaian rumusan
prioritas dan sasaran program, serta indikator, target kinerja, dan
pagu indikatif program dan kegiatan.
2. Ketidakpatuhan atas hal yang diatur dalam Permendagri
tentang penyusunan APBD
Kepala daerah menyusun rancangan KUA dan rancangan PPAS
berdasarkan RKPD dan pedoman penyusunan APBD yang
ditetapkan menteri dalam negeri setiap tahun. Pedoman yang
ditetapkan menteri dalam negeri tersebut memuat antara lain:
a. Pokok-pokok kebijakan yang memuat sinkronisasi kebijakan
pemerintah pusat dengan pemerintah daerah;

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 6/32

b. Prinsip dan kebijakan penyusunan APBD tahun anggaran


berkenan;
c. Teknis penyusunan APBD;
d. Hal-hal khusus lainnya.

Oleh karena itu dalam mereviu KUA-PPAS harus memperhatikan


peraturan menteri dalam negeri mengenai pedoman penyusunan
APBD yang diterbitkan setiap tahunnya.

3. Keterlambatan pembahasan KUA-PPAS oleh pihak Eksekutif


dan legistlatif
Dalam menyusun rancangan KUA-PPAS, kepala daerah dibantu
oleh TAPD. Rancangan KUA-PPAS yang telah disusun,
disampaikan oleh sekretaris daerah selaku koordinator pengelola
keuangan daerah kepada kepala daerah, paling lambat pada awal
bulan Juni. Reviu atas rancangan KUA-PPAS dilakukan di minggu
ke-4 Mei. Reviu membantu agar tidak terjadi keterlambatan
pembahasan KUA-PPAS oleh pihak eksekutif dan tidak
menghambat penyampaian rancangan KUA-PPAS kepada pihak
legislatif.

B. Permasalahan dalam Penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD

1. Ketidaklengkapan dukungan dokumen RKA


Dokumen yang harus dilampirkan sebagai pendukung dalam
dokumen RKA-SKPD dan RKA-PPKD sangat bervariasi
bergantung dari jenis kegiatan yang diusulkan. Dokumen
pendukung dalam penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD dapat
berupa antara lain Kerangka Acuan Kerja (KAK), Rancangan
Anggaran Biaya (RAB), Standar Pelayanan Minimal (SPM), dan
Analisa Standar Belanja (ASB), dan standar satuan harga (SSH).

Kerangka Acuan Kerja (KAK) merupakan suatu dokumen yang


menginformasikan gambaran umum dan penjelasan mengenai
keluaran kegiatan yang akan dicapai sesuai dengan tugas dan
fungsi SKPD yang memuat latar belakang, penerima manfaat,

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 7/32

strategi pencapaian waktu pencapaian dan biaya yang diperlukan.


Kerangka acuan kerja memiliki fungsi sebagai data kualitatif yang
mendukung perencanaan dalam RKA-SKPD dan RKA-PPKD.
Selain itu KAK juga memiliki fungsi sebagai:

a. Alat bagi pimpinan untuk melakukan pengendalian kegiatan


yang dilakukan oleh bawahannya

b. Alat bagi perencana anggaran untuk menilai urgensi


pelaksanaan kegiatan tersebut

c. Alat bagi pihak pengawas atau pemeriksa untuk melakukan


pemeriksaan realisasi kegiatan tersebut.

d. Informasi bagaimana output kegiatan dilaksanakan/ didukung


oleh komponen input serta apa saja tahapan yang dibutuhkan
dan bagaimana pelaksanaannya untuk mencapai input.

Dalam KAK juga diuraikan mengenai prakiraan biaya, jadwal, dan


waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut. Namun
rincian lebih lanjut mengenai pengeluaran yang dibutuhkan
dituangkan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).

RAB merupakan dokumen yang berisi perhitungan rinci rencana


pengeluaran yang akan digunakan untuk melakukan suatu
kegiatan. RAB memuat komponen-komponen biaya yang
dibutuhkan dalam melaksanakn kegiatan yang disertai dengan
kuantitas dibutuhkan dan harga satuan sehingga dapat diketahui
nilai komponen biaya tersebut. RAB berfungsi sebagai data
pendukung RKA-SKPD dan RKA-PPKD yang bersifat kuantitatif.

Data pendukung lainnya terkait penyusunan RKA-SKPD dan RKA-


PPKD adalah dokumen Analisa Standar Belanja (ASB). Dokumen
ASB merupakan dokumen yang memberikan penilaian kewajaran
atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan
suatu kegiatan. ASB merupakan salah satu komponen penting
yang harus dikembangkan dalam penyusunan RKA-SKPD dan

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 8/32

RKA-PPKD sebagai dasar pengukuran kinerja keuangan sesuai


dengan prinsip penganggaran berbasis kinerja.

Dokumen KAK, RAB, ASB maupun dokumen pendukung lain yang


perlu dilengkapi dalam penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD.
Kelengkapan data pendukung tersebut memiliki manfaat antara lain
sebagai:
a. Dasar perumusan besaran anggaran maupun indikator yang
ditetapkan dalam RKA-SKPD dan RKA-PPKD;
b. Dasar penentuan layak atau tidaknya kegiatan untuk
dilaksanakan;
c. Dasar perencanaan untuk kegiatan lanjutan;
d. Alat kendali manajemen dalam mengukur pelaksanaan
kegiatan yang telah direncanakan.

Oleh karena itu penting bagi APIP untuk melakukan reviu apakah
dokumen pendukung penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD
telah lengkap, uraian yang terdapat dalam dokumen tersebut
relevan dengan kegiatan yang direncanakan dan RKA yang
disusun sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD.

2. Ketidaksesuaian rumusan program dan kegiatan dalam RKA-


SKPD dengan PPAS dan Renja SKPD

Program merupakan penjabaran dari kebijakan sesuai dengan visi


dan misi yang rumusannya mencerminkan tugas dan fungsi dari
SKPD yang berisi kegiatan untuk mencapai hasil dengan indikator
kinerja yang terukur. Sedangkan kegiatan merupakan penjabaran
dari program untuk mencapai output dengan indikator kinerja
tertentu. Rumusan dari program dan kegiatan harus sesuai dengan
rumusan program dan kegiatan yang terdapat dalam dokumen
Renja-SKPD.

Kesalahan dalam rumusan program dan kegiatan dalam RKA-


SKPD yang sering ditemui adalah ketidaksesuaian rumusan yang
telah disusun dengan PPAS. Hal ini timbul karena dalam

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 9/32

penyusunan PPAS yang berdasarkan dengan RKPD yang telah


ditetapkan dalam pembahasan antara Bappeda dengan DPRD
sedangkan sumber penyusunan program dan kegiatan dalam RKA-
SKPD berasal dari Renja SKPD yang mengacu kepada:
a. Rancangan awal RKPD pada perjalanannya terdapat
perubahan RKPD yang tidak tersampaikan kepada SKPD yang
sedang melakukan penyusunan RKA.
b. Usulan program dan kegiatan yang berasal dari masyakarat,
hal ini timbul jika usulan tersebut tidak tertampung didalam hasil
Musyawarah Perencanaan Pembangunan sehingga tidak
tercantum dalam RKPD dan dituangkan dalam PPAS namun
menurut manajemen SKPD dipandang perlu untuk
dilaksanakan sebagai jawaban atas suatu permasalahan.

Oleh karena itu perlu dilakukan reviu untuk menjamin bahwa


program dan kegiatan yang disusun dalam RKA telah sesuai
dengan program dan kegiatan yang ada dalam PPAS. Hal yang
ingin dicegah dari menilai kesesuaian program dan kegiatan ini
salah satunya adalah tidak ada kegiatan-kegiatan siluman dalam
penganggaran APBD. Kegiatan siluman maksudnya adalah
kegiatan yang tidak terdapat dalam PPAS, namun diusulkan
dimasukkan ke dalam RKA pada saat pembahasan.

3. Ketidaksesuaian rumusan dan pencantuman indikator dan


target kinerja dalam RKA-SKPD dan RKA-PPKD dengan PPAS
dan Renja SKPD

Penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD mendasarkan pada


prinsip anggaran berbasis kinerja. Pelaksanaan kegiatan yang
direncanakan untuk dibiayai dalam RKA harus memiliki hasil yang
dapat diukur secara jelas. Alat ukur tersebut yang disusun dalam
suatu indikator atau target. Indikator dapat didefinisikan sebagai
ukuran kuantitatif atau kualitatif yang mengindikasikan pencapaian

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 10/32

suatu sasaran atau tujuan yang telah disepakati dan ditetapkan.


Indikator berguna untuk penilaian kinerja baik tahap perencanaan,
pelaksanaan maupun setelahnya. Indikator yang terdapat pada
RKA-SKPD dan RKA-PPKD didasarkan pada tingkatannya terdiri
dari Indikator Kinerja Utama Program dan Indikator Kinerja
Kegiatan. Indikator Kinerja Utama merupakan instrumen yang
digunakan untuk mengukur hasil pada tingkat program sedangkan
Indikator Kinerja Kegiatan merupakan instrumen yang digunakan
untuk mengukur output pada tingkat kegiatan.

Permasalahan yang sering ditemui dalam pencantuman indikator


kinerja didalam RKA-SKPD dan RKA-PPKD adalah :
a. Besaran yang ditetapkan dalam RKA-SKPD dan RKA-PPKD
tidak sesuai dengan jumlah yang ditetapkan dalam Renja
ataupun PPAS.
b. Satuan yang digunakan didalam RKA-SKPD dan RKA-PPKD
tidak sesuai dengan satuan yang digunakan didalam Renja
ataupun PPAS.
c. Penggunaan satuan yang tidak sesuai dengan kaidah
penganggaran seperti penggunaan satuan yang tidak terukur,
contohnya satuan lumpsum, paket, atau tahun.
d. Indikator yang dikembangkan tidak menggambarkan hasil yang
sesuai dengan kegiatan yang dilakukan/tidak relevan
e. Indikator yang disusun sulit untuk dicapai.
Oleh karena itu diperlukan reviu untuk menilai apakah indikator dan
target kinerja dalam RKA-SKPD dan RKA-PPKD telah sesuai
dengan PPAS dan Renja SKPD, serta telah sesuai dengan kaidah
penganggaran yang telah ditentukan.

4. Ketidaksesuaian jumlah pagu RKA-SKPD dan RKA-PPKD


dengan pagu anggaran PPAS

PPAS merupakan dokumen yang disepakati bersama antara DPRD


dan kepala daerah yang menjadi acuan bagi SKPD untuk

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 11/32

menyusun RKA-SKPD dan RKA-PPKD. PPAS menggambarkan


pagu anggaran sementara untuk belanja pegawai, bunga, subsidi,
hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan dan
belanja tidak terduga, serta pembiayaan, juga menggambarkan
pagu anggaran sementara di masing-masing SKPD berdasarkan
program dan kegiatan prioritas dalam RKPD. Jadi PPAS adalah
rancangan program prioritas dan patokan batas maksimal
anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program
sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD
sebelum disepakati dengan DPRD.

Dalam menyusun RKA-SKPD dan RKA-PPKD seringkali SKPD


menganggarkan program, kegiatan, sasaran, ataupun pagu
anggaran yang tidak terdapat di dalam PPAS. Permasalahan
lainnya apabila kegiatan sudah sesuai dengan PPAS terkadang
pagu yang dianggarkan melebihi pagu yang ada di PPAS, padahal
pagu yang ada di dalam PPAS merupakan batas maksimal pagu.
Hal itu terjadi karena terdapat pokok pikiran yang diselipkan dalam
RKA-SKPD dan RKA-PPKD.

Oleh karena itu perlu dilakukan reviu atas kesesuaian pagu dalam
RKA-SKPD dan RKA-PPKD terhadap PPAS yang telah disepakati.
Kesesuaian antara RKA-SKPD dan RKA-PPKD dan KUA-PPAS
akan mempercepat proses pembahasan RAPBD bersama DPRD
sehingga dapat ditetapkan menjadi APBD, karena KUA-PPAS telah
melalui tahapan pembahasan juga bersama DPRD.

5. Ketidaklayakan anggaran untuk menghasilkan keluaran

Prinsip penyusunan APBD TA 2017 poin kedua adalah penyusunan


APBD dilaksanakan dengan tertib, taat pada ketentuan peraturan
perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, bertanggung
jawab dengan memperhatikan rasa keadilan, kepatutan dan
manfaat untuk masyarakat. Kebijakan penganggaran TA 2017
didasarkan prinsip money follow program, yaitu dengan cara

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 12/32

memastikan hanya program yang benar-benar bermanfaat yang


dialokasikan dan bukan sekedar karena tugas fungsi semata.
Melihat prinsip-prinsip penganggaran tersebut maka fokus reviu
juga diarahkan untuk menilai 3E (efisien, ekonomis, dan efektif)
program dan kegiatan yang dianggarkan oleh SKPD.

Kenyataan dilapangan banyak penganggaran yang dilakukan


bertentangan dengan prinsip 3E, contohnya:
a. Markup volume serta harga satuan yang seringkali menjadi
temuan dalam pemeriksaan BPK, sehingga menimbulkan
kerugian keuangan negara, dilain sisi hasil/outcome dari
kegiatan tidak dapat dirasakan secara maksimal manfaatnya.
b. Dalam kegiatan penyusunan laporan semesteran di SKPD
terdapat belanja perjalanan dinas untuk konsultasi ke jakarta
dan ke luar kota.
c. Terdapat kegiatan penyusunan LAKIP yang seharusnya hanya
beberapa orang, namun diperbanyak jumlah orang dari yang
seharusnya.
d. Terdapat kegiatan yang melibatkan jumlah peserta kecil dan
bisa dilaksanakan di gedung kantor namun dilaksanakan di
hotel.
e. Kegiatan monitoring dan evaluasi suatu kegiatan diberikan
honor 12 bulan, padahal sebenernanya kegiatan tersebut
hanya bertugas untuk mengkompilasi kegiatan perjalanan
dinas, jumlah orang dan bulan dalam RKA tersebut seharusnya
bisa diperkecil.
f. Belanja honor untuk PPK dianggarkan selama 12 bulan,
padahal kegiatannya hanya berlangsung beberapa bulan saja.
g. Terdapat beberapa kegiatan pembangunan atau rehabilitasi
bangunan dianggarkan dalam jumlah yang sama padahal
kondisi di lapangan berbeda.

Oleh karena itu APIP harus melakukan reviu apakah SKPD dan
PPKD telah menyusun anggarannya berdasarkan prinsip 3E, serta

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 13/32

melihat kelayakan anggaran tersebut sesuai dengan KAK dan RAB


yang disusun. Selain melihat KAK dan RAB, tim reviu menilai
prinsip 3E yang diajukan dalam RKA dengan menggunakan
professional judgement serta memperhatikan azas kepatutan dan
kewajaran.

6. Ketidakpatuhan dalam Penerapan Analisis Standar Belanja


(ASB) dan Standar Satuan Harga (SSH).

Penyusunan anggaran belanja pada setiap program dan kegiatan


untuk urusan pemerintahan wajib yang tidak terkait dengan
pelayanan dasar dan urusan pemerintahan pilhan berpedoman
pada Analisis Standar Belanja (ASB) dan standar harga satuan
regional.

Analisis standar belanja merupakan penilaian kewajaran atas


beban kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu
kegiatan. ASB merupakan suatu pendekatan yang digunakan oleh
TAPD untuk mengevaluasi usulan program, kegiatan, dan
anggaran setiap SKPD dengan cara menganalisis kewajaran
beban kerja dan belanja dari setiap usulan program atau kegiatan
yang bersangkutan. Penilaian kewajaran beban kerja usulan
program atau kegiatan terkait dengan kebijakan anggaran,
komponen dan tingkat pelayanan yang akan dicapai, jangka waktu
pelaksanaan, serta kapasitas satuan kerja untuk
melaksanakannya.

Beban kerja program atau kegiatan yang diusulkan SKPD dapat


dinilai kewajarannya berdasarkan pertimbangan sebagai berikut:

a. Kaitan logis antara program atau kegiatan yang diusulkan


dengan strategi dan prioritas APBD;
b. Kesesuaian antara program atau kegiatan yang diusulkan
dengan tugas pokok dan fungsi satuan kerja yang
bersangkutan

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 14/32

c. Kapasitas SKPD yang bersangkutan untuk melaksanakan


program atau kegiatan pada tingkat pencapaian yang
diinginkan dan dalam jangka waktu satu tahun anggaran.

Penerapan ASB pada dasarnya akan memberikan manfaat antara


lain:
a. Menjamin kewajaran beban kerja dan biaya yang digunakan
antar SKPD dalam melakukan kegiatan sejenis;
b. Mendorong terciptanya anggaran daerah yang semakin efisien
dan efektif;
c. Memudahkan TAPD melakukan verifikasi total belanja yang
diajukan dalam RKA-SKPD untuk setiap kegiatan;
d. Memudahkan SKPD dan TAPD dalam menghitung besarnya
anggaran total belanja untuk setiap jenis kegiatan berdasarkan
target output yang ditetapkan dalam RKA-SKPD.

ASB meliputi:

a. Deskripsi
Merupakan penjelasan dari masing-masing ASB yang ada.
Termasuk menjelaskan rentang waktu penggunaan ASB untuk
masing-masing kegiatan.
b. Batasan alokasi obyek belanja
Batasan alokasi obyek belanja merupakan proporsi dari obyek
belanja dari suatu kegiatan. Proporsi tersebut terbagi dalam
tiga jenis, yaitu: rata-rata (mean), batas atas, dan batas bawah.
Total keseluruhan proporsi rata-rata obyek belanja adalah
100%.
c. Pengendali biaya/belanja (cost driver)
Menjelaskan faktor/faktor apa yang memicu belanja/biaya
menjadi besar kecilnya belanja dari suatu kegiatan
d. Satuan pengendali belanja variabel (variable cost)

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 15/32

Menunjukkan besarnya perubahan belanja variabel untuk


masing-masing kegiatan yang dipengaruhi oleh
perubahan/penambahan volume kegiatan

Standar satuan harga merupakan harga satuan setiap unit


barang/jasa yang berlaku disuatu daerah. Harga satuan disusun di
setiap kabupaten/kota dengan mengacu pada formula yang
ditetapkan oleh instansi teknis. Kewajaran harga satuan dengan
mempertimbangkan pada kondisi lalu, perubahan potensi daerah
yang terjadi, dan perubahan standar teknis. Standar satuan harga
yang diatur adalah batasan tertinggi, artinya di dalam satuan harga
tersebut telah memuat unsur pajak, unsur biaya pengangkutan atau
unsur biaya lainnya. Pengadaan barang dan jasa yang melebihi
harga patokan atau pengadaan barang dan jasa yang tidak
tercantum dalam daftar, tata cara pengadaannya harus melalui ijin
tertulis dari pejabat yang berwenang.

ASB dan standar satuan harga ditetapkan dengan keputusan


kepala daerah dan digunakan sebagai dasar penyusunan RKA-
SKPD dan RKA-PPKD. Permasalahan yang kerap timbul adalah
belum adanya ASB dan standar satuan harga yang disusun oleh
pemerintah daerah. Permasalahan lainnya adalah ASB yang telah
ditetapkan belum sepenuhnya mengacu kepada standar
penerapan ASB yang berlaku umum. Untuk standar satuan harga
juga terkadang timbul permasalahan yaitu digunakan sebagai
acuan walaupun masih berupa draft final dan belum ditandatangani
oleh kepala daerah.

Oleh karena itu diperlukan reviu untuk melihat permasalahan terkait


penerapan ASB dan standar satuan harga untuk menentukan harga
wajar suatu barang/jasa, dan menentukan jumlah belanja wajar
untuk suatu kegiatan.

7. Kesalahan Penggunaan kode rekening dalam Pengalokasian


Anggaran

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 16/32

Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 pasal 75 mengatur tentang


kode-kode yang digunakan dalam penganggaran dengan urutan
sebagai berikut:

a. Kode urusan pemerintahan daerah;


b. Kode organisasi;
c. Kode Program;
d. Kode Kegiatan;
e. Kode Akun;
f. Kode Kelompok;
g. Kode Jenis;
h. Kode Obyek;
i. Kode Rincian Obyek.

Urutan penggunaan kode rekening adalah sebagai berikut:

Untuk tertibnya penganggaran kode-kode tersebut dihimpun


menjadi satu kesatuan kode anggaran yang disebut kode rekening.

Permasalahan yang sering timbul adalah kesalahan dalam


melakukan pemilihan untuk kode rekening akun sampai dengan
kode rekening rincian obyek. Pemilihan kode rekening akun harus
sesuai dengan struktur APBD yang telah diatur dalam Permendagri

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 17/32

Nomor 13 Tahun 2006 dan memperhatikan Bagan Akun Standar


yang ditetapkan oleh Kepala Daerah.

Struktur APBD adalah satu kesatuan yang terdiri dari:


a. Pendapatan daerah
Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui
rekening kas umum daerah, yang menambah ekuitas dana,
merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak
perlu dibayar kembali oleh daerah.
b. Belanja daerah
Belanja daerah meliputi semua pngeluaran dari rekening kas
umum daerah yang mengurangi ekuitas dana, merupakan
kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan
diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah.
c. Pembiayaan daerah.
Sementara pembiayaan daerah meliputi semua transaksi
keuangan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus.
Pengelompokkan pendapatan, belanja, dan pembiayaan daerah
serta kode rekeningnya dapat dilihat dalam tabel 2:
Tabel 2
Pengelompokan Struktur APBD dan Kode Rekening
Kode Rekening
Kode Kode Kode Rincian
Akun Kelompok Jenis
4 PENDAPATAN
4 1 PENDAPATAN ASLI DAERAH
4 1 1 Pajak Daerah
4 1 2 Retribusi Daerah
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang
4 1 3 Dipisahkan
4 1 4 Lain-lain PAD yang sah
4 2 DANA PERIMBANGAN
4 2 1 Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak
4 2 2 Dana Alokasi Umum
4 2 3 Dana Alokasi Khusus
4 3 LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH
4 3 1 Pendapatan Hibah

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 18/32

Kode Rekening
Kode Kode Kode Rincian
Akun Kelompok Jenis
4 3 2 Dana Darurat
Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemda
4 3 3 lainnya
4 3 4 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus
Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemda
4 3 5 lainnya
5 BELANJA DAERAH
5 1 BELANJA TIDAK LANGSUNG
5 1 1 Belanja Pegawai
5 1 2 Belanja Bunga
5 1 3 Belanja subsidi
5 1 4 Belanja Hibah
5 1 5 Belanja Bantuan Sosial
Belanja Bagi Hasil kepada Provinsi/Kab/Kota dan
5 1 6 Pemdes
Belanja Bantuan Keuangan kepada Prov/Kab/Kota
5 1 7 dan Pemdes
5 1 8 Belanja Tidak Terduga
5 2 BELANJA LANGSUNG
5 2 1 Belanja Pegawai
5 2 2 Belanja Barang dan Jasa
5 2 3 Belanja Modal
6 PEMBIAYAAN
6 1 PENERIMAAN PEMBIAYAAN DAERAH
6 1 1 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran TA Sebelumnya
6 1 2 Pencairan Dana Cadangan
6 1 3 Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
6 1 4 Penerimaan Pinjaman Daerah
6 1 5 Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman
6 1 6 Penerimaan Piutang Daerah
6 2 PENGELUARAN PEMBIAYAAN DAERAH
6 2 1 Pembentukan Dana Cadangan
6 2 2 Penyertaan Modal (Investasi) Pemda
6 2 3 Pembayaran Pokok Utang
6 2 4 Pemberian Pinjaman Daerah
SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN TAHUN
6 3 BERKENAAN

Penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD harus memperhatikan


kode rekening dalam melakukan alokasi anggaran. Kode rekening
yang dimaksud adalah keseluruhan atas kode urusan

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 19/32

pemerintahan daerah, kode organisasi, kode program, kode


kegiatan, kode akun, kode kelompok, kode jenis, kode obyek, dan
kode rincian obyek. SKPD harus teliti agar pada saat menginput
setiap kode tidak terjadi kesalahan.

Beberapa contoh kesalahan dalam penggunaan kode rekening


adalah:
a. Kesalahan dalam menginput kode akun. Misal pada saat akan
menginput honorarium kode akun yang dieksekusi adalah akun
belanja modal, padahal seharusnya adalah akun belanja
pegawai.
b. Kesalahan dalam kegiatan pengadaan gedung yang akan
diberikan kepada pihak lain, dianggarkan sebagai belanja
modal, seharusnya gedung yang akan diberikan kepada pihak
lain masuk sebagai belanja barang untuk diserahkan kepada
masyarakat.
c. Adanya bantuan berupa barang yang akan diserahkan kepada
PAUD namun masih dianggarkan di dalam barang modal.
d. Adanya kegiatan pemberian toolkit pada pelatihan namun
dianggarkan sebagai belanja hibah, semestinya dianggarkan
sebagai belanja barang dan jasa (belanja habis pakai).
e. Adanya penganggaran belanja modal untuk kegiatan
pemeliharaan yang tidak memenuhi kriteria kapitalisasi hanya
berupa pemeliharaan biasa. Untuk belanja pemeliharaan biasa
agar dialihkan penganggarannya ke belanja pemeliharaan.
f. Belanja interior tidak dirinci sesuai pengelompokan. Bila belanja
interior memenuhi kriteria kapitalisasi sebagaimana diatur
dalam kebijakan akuntansi pemda, agar dianggarkan di belanja
modal. Bila hanya menambah unsur keindahan/estetika dan
tidak memenuhi kriteria kapitalisasi agar dianggarkan pada
belanja barang dan jasa.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 20/32

Oleh karena itu perlu dilakukan reviu apakah kode akun yang
digunakan telah sesuai dengan peruntukkannya. Dengan
ketepatan pemilihan kode rekening maka akan menghindari
terjadinya pergeseran-pergeseran anggaran dan memudahkan
dalam pembuatan SPJ, sehingga penyerapan anggaran dapat
berjalan lebih lancar.

8. Ketidaksesuaian Tupoksi SKPD dengan rumusan Kegiatan


dalam RKA-SKPD

SKPD merupakan organisasi/lembaga pada pemerintah daerah


yang bertanggung jawab kepada kepala daerah dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan. Penyelenggaraan pemerintahan
yang dilakukan SKPD melekatkan adanya kewenangan yang
dimiliki untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi dari SKPD
tersebut. Kewenangan yang dimiliki oleh SKPD diatur berdasarkan
urusan pemerintahan yang diemban. Sebagai contoh Dinas
Pekerjaan Umum selaku SKPD yang memiliki tugas pokok
penyelenggaraan urusan pemerintahan dibidang pekerjaan umum.
Fungsi yang dimiliki untuk menjalankan tugas pokok tersebut antara
lain:

a. Perumusan kebijakan teknis operasional pembangunan dan


pengelolaan umum bina marga

b. Pelaksanaan pembangunan jalan dan jembatan

c. Pelaksanaan pengelolaan dan pemeliharaan jalan dan


jembatan

d. Pelaksanaan dan pengelolaan alat berat


e. pelaksanaan tugas pembantuan yang diberikan oleh
pemerintah pusat dan Pemerintah kepada Pemerintah Daerah
dibidang Pembangunan bina marga seusai tugas dan
fungsinya;
f. perumusan, perencanaan, pelaksanaan teknis tata ruang dan
lingkungan;

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 21/32

g. perumusan, perencanaan, pelaksanaan teknis pembangunan


dan pemeliharaan gedung Negara dan sarana fasilitas umum;
h. perumusan, perencanaan, pelaksanaan teknis perumahan;
i. perumusan, perencanaan, pelaksanaan teknis perijinan dan
pengendalian bangunan;
j. perumusan kebijaksanaan dalam kegiatan pendayagunaan
dan pengelolaan sumber daya air;
k. perumusan kebijaksanaan dalm kegiatan pengembangan
kelembagaan dan kemitraan;
l. perumusan kebijaksanaan dalam kegiatan peningkatan sarana
dan prasarana;
m. pengelolaan urusan ketatausahaan kantor meliputi umum dan
kepegawaian, perencanaan dan keuangan; dan
n. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh kepala daerah
sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Dalam penyusunan program dan kegiatan pada Renja yang


kemudian dituangkan kedalam RKA-SKPD untuk mengetahui
besaran anggaran untuk membiayainya, SKPD haruslah
memastikan bahwa program dan kegiatan tersebut telah sesuai
dengan tugas pokok dan fungsi yang dimiliki. Dalam uraian diatas,
Dinas Pekerjaan Umum menyusun program dan kegiatan sesuai
dengan tugas dan fungsi yang diuraikan diatas. Namun pada
pelaksanaan di lapangan terdapat kegiatan Dinas Pekerjaan Umum
yang tumpang tindih dengan kegiatan dari SKPD lain.

Contoh kasus lainnya adalah adanya bantuan sosial yang


dilaksanakan oleh beberapa SKPD terkait obyek yang sama. Misal
dinas pertanian dan badan ketahanan pangan mengadakan
bibit/pupuk di lokasi yang sama.

Oleh karena itu perlu dilakukan reviu untuk menilai kesesuaian


tupoksi dengan program dan kegiatan yang diajukan dalam RKA-
SKPD. Sebagai contoh dalam pelaksanaan fungsi perumusan

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 22/32

kebijaksanaan dalam kegiatan pendayagunaan dan pengelolaan


sumber daya air, dan atau kegiatan pembangunan saluran irigasi
tumpang tindih dengan kegiatan yang dilaksanakan Dinas
pertanian.

9. Ketidaklengkapan dalam pengisian dokumen RKA-SKPD dan


RKA-PPKD

Rencana Kerja dan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat


RKA-SKPD dan RKA-PPKD adalah dokumen perencanaan dan
penganggaran yang berisi program dan kegiatan SKPD serta
anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. Susunan RKA-
SKPD terdiri dari beberapa formulir yaitu:

a. Formulir RKA-SKPD yang merupakan formulir ringkasan


anggaran satuan kerja perangkat daerah yang sumber datanya
berasal dari peringkasan jumlah pendapatan maupun jumlah
belanja berdasarkan informasi dari formulir-formulir lain
didalam dokumen RKA-SKPD

b. Formulir RKA-SKPD 1 yang merupakan formulir


rincianAnggaran Pendapatan Satuan Kerja Perangkat Daerah.
Formulir ini berguna sebagai informasi atas rencana
pendapatan atau penerimaan satuan kerja perangkat daerah
dalam tahun anggaran yang direncanakan. Oleh karena itu
nomor kode rekening dan uraian nama kelompok, jenis, obyek
dan rincian obyek pendapatan yang dicantumkan dalam
formulir RKA-SKPD 1 disesuaikan dengan pendapatan tertentu
yang akan dipungut atau penerimaan tertentu dari pelaksanaan
tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah
sebagaimanana ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-
undangan.

c. Formulir RKA-SKPD 2.1 merupakan formulir Rincian Anggaran


Belanja Tidak Langsung SKPD. Formulir ini berisi rencana

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 23/32

kebutuhan belanja tidak langsung satuan kerja perangkat


daerah dalam tahun anggaran yang direncanakan.

d. Formulir RKA-SKPD 2.2.1 merupakan formulir Rincian


Anggaran Belanja Langsung berdasarkan Program dan
Kegiatan. Formulir ini berisi mengenai rencana belanja
langsung yang dikaitkan dengan program dan kegiatan yang
akan dilaksanakan oleh SKPD dalam satu tahun anggaran.
Formulir ini merinci rencana belanja langsung akan dilakukan
dari masing-masing kegiatan,

e. Formulir RKA-SKPD 2.2 merupakan formulir rekapitulasi


Anggaran Belanja Langsung berdasarkan Program dan
Kegiatan. Formulir ini merupakan rekapitulasi dari data-data
yang berasal dari formulir RKA-SKPD 2.2.1.

Selain formulir diatas, terdapat juga formulir RKA yang khusus


dilengkapi oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) yaitu
:
a. Formulir RKA-PPKD 3.1 merupakan formulir rincian
penerimaan pembiayaan. Formulir ini berisikan mengenai
rencana sumber-sumber pendanaan yang digunakan untuk
membiayai pengeluaran selama satu tahun anggaran diluar
pendapatan yang diterima oleh pemerintah daerah.
b. Formulir RKA-PPKD 3.2 merupakan formulir rincian
pengeluaran pembiayaan. Formulir ini berisikan mengenai
rencana penggunaan dana bagi pembentukan dana cadangan,
pemberian pinjaman ataupun investasi yang akan dilakukan
oleh pemerintah daerah selama satu tahun anggaran.

Setiap informasi yang terdapat dalam masing-masing formulir


haruslah diisi dengan lengkap dan benar.

Salah satu contoh bagian dalam dokumen RKA-SKPD dan RKA-


PPKD yang tidak diisi secara lengkap dan benar adalah jumlah
tahun (n+1). Dengan menganut pendekatan kerangka pengeluaran

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 24/32

jangka menengah, maka penyusunan anggaran khususnya untuk


program dan kegiatan yang lebih dari satu tahun harus dapat
diprediksi pengeluaran yang akan dibutuhkan pada tahun
mendatang. Dasar penentuan pengeluaran tahun (n+1) harus
dibuat secara rasional tidak hanya naik secara incremental
berdasarkan presentase tertentu namun disesuaikan dengan target
kinerja yang dicapai dan kondisi-kondisi yang terdapat dalam
asumsi penganggaran.

Oleh karena itu APIP harus bisa memastikan bahwa jumlah


tahun(n+1) atas program kegiatan yang dilaksanakan lebih dari 1
tahun telah dicantumkan atau dicantumkan oleh SKPD secara
benar.

10. Ketidakpatuhan pengalokasian anggaran untuk kegiatan yang


telah ditetapkan penggunaannya oleh pemberi dana.

Salah satu contoh pengalokasian anggaran yang telah ditetapkan


penggunaannya adalah Dana Alokasi Khusus (DAK). DAK menurut
Permendagri Nomor 20 Tahun 2009 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Dana Alokasi Khusus di Daerah adalah
dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah
tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus
yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas
nasional. Dalam mengelola keuangan DAK, pemerintah daerah
melakukan perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan
penatausahaan keuangan, akuntansi keuangan,
pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran, pembinaan dan
pengawasan serta pengelolaan barang/asset daerah yang
bersumber dari DAK.

Dalam menganggarkan DAK, kepala daerah menyusun rancangan


KUA dan PPAS terkait program/kegiatan DAK didasarkan atas
RKPD dan Renja SKPD dengan berpedoman pada petunjuk teknis
DAK. Dalam hal pemerintah daerah menerima pagu alokasi DAK

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 25/32

setelah KUA dan PPAS ditetapkan dapat ditampung langsung


dalam pembahasan RAPBD dengan terlebih dahulu
mencantumkan klausul dalam kesepakatan KUA dan PPAS.
Klausul dimaksudkan untuk menyepakati pagu alokasi dan
penggunaan DAK dalam rancangan peraturan daerah tentang
APBD serta untuk menjaga konsistensi antara materi KUA dan
PPAS dengan program dan kegiatan DAK yang ditetapkan dalam
APBD. Klausul dalam KUA dan PPAS dapat berbunyi “sambil
menunggu pagu alokasi DAK yang ditetapkan pemerintah, pagu
alokasi DAK tersebut dapat langsung ditampung dan/atau
disesuaikan pada saat proses pembahasan RAPBD dengan
mengacu pada petunjuk teknis DAK, tanpa perlu melakukan
perubahan nota kesepakatan KUA dan PPAS”.

Setelah keluar nota kesepakatan KUA dan PPAS, kepala daerah


menyampaikan Surat Edaran perihal Pedoman Penyusunan RKA
kepada SKPKD dan seluruh SKPD dalam rangka menyusun RKA
untuk kegiatan DAK masing-masing bidang. Bila pagu DAK diterima
setelah kesepakatan KUA dan PPAS yang menggunakan klausul,
penyusunan RKA-SKPD dilakukan sebelum persetujuan bersama
antara pemda dan DPRD mengenai raperda tentang APBD.

Penganggaran DAK juga harus memperhatikan penganggaran


dana pendamping. Penganggaran dana pendamping dalam APBD
wajib dialokasikan sekurang-kurangnya 10% (sepuluh persen) dari
jumlah alokasi DAK yang ditetapkan masing-masing daerah. Dana
pendamping dianggarkan untuk kegiatan yang bersifat fisik. Bila
daerah memiliki kemampuan keuangan dimana selisih antara
penerimaan umum APBD dan belanja pegawainya sama dengan
nol atau negative, maka daerah tidak diwajibkan untuk
menganggarkan dana pendamping. Penyusunan RKA-SKPD untuk
dana pendamping dilakukan menyatu dengan kegiatan DAK.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 26/32

Fokus reviu RKA-SKPD terkait penganggaran DAK, antara lain


ketidaksesuaian antara program dan kegiatan yang disusun dalam
RKA-SKPD dengan petunjuk teknis DAK yang dikeluarkan oleh
Kementerian Teknis terkait. Pemilihan program dan kegiatan harus
mengacu kepada petunjuk teknis DAK. Pemilihan kegiatan
disesuaikan dengan prioritas dan permasalahan masing-masing di
daerah yang diselaraskan dengan prioritas kegiatan dalam rangka
mencapai prioritas nasional.

Fokus reviu lainnya adalah terkait penganggaran dana


pendamping. Yang perlu diingat mengenai dana pendamping
adalah: (1)penganggaran dana pendamping dalam APBD wajib
dialokasikan sekurang-kurangnya 10% dari jumlah alokasi DAK
yang ditetapkan masing-masing daerah, (2)kewajiban penyediaan
dana pendamping menunjukkan komitmen daerah terhadap bidang
kegiatan yang didanai dari DAK yang merupakan kewenangan
daerah, (3) dana pendamping dianggarkan untuk kegiatan yang
bersifat fisik, (4) kegiatan fisik adalah kegiatan diluar kegiatan
administrasi proyek, kegiatan penyiapan proyek fisik, kegiatan
penelitian, kegiatan pelatihan, kegiatan perjalanan pegawai daerah,
dan kegiatan umum lain yang sejenis. Sesuai Permendagri No.
20/2009, penyusunan RKA-SKPD untuk dana pendamping
dilakukan menyatu dengan kegiatan DAK, dan RKA-SKPD memuat
informasi atas capaian sasaran program, indikator masukan,
keluaran dan hasil dari setiap tolok ukur kinerja kegiatan yang
direncanakan.

11. Ketidaksesuaian pengalokasian penganggaran BLUD

Badan Layanan Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BLUD


adalah SKPD atau Unit Kerja pada SKPD di lingkungan pemerintah
daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada
masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual
tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam melakukan

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 27/32

kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.


Pola Pengelolaan Keuangan BLUD, yang selanjutnya disingkat
PPK-BLUD adalah polapengelolaan keuangan yang memberikan
fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek
bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pengecualian dari
ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya.

Dalam menyusun penganggarannya BLUD menyusun Rencana


Bisnis dan Anggaran (RBA). RBA adalah dokumen perencanaan
bisnis dan penganggaran tahunan yang berisi program, kegiatan,
target kinerja dan anggaran BLUD dengan mengacu kepada
Rencana Strategis BLUD. RBA merupakan penjabaran lebih lanjut
dari program dan kegiatan BLUD dengan berpedoman pada
pengelolaan keuangan BLUD. RBA memuat:

a. Kinerja tahun berjalan;

b. Asumsi makro dan mikro;

c. Target kinerja;

d. Analisis dan perkiraan biaya satuan;

e. Perkiraan harga;

f. Anggaran pendapatan dan biaya

g. Besaran persentase ambang batas

h. Prognosa laporan keuangan

i. Perkiraan maju (forward estimate)

j. Rencana pengeluaran investasi/modal; dan

k. Ringkasan pendapatan dan biaya untuk konsolidasi dengan


RKA-SKPD/APBD.

Salah satu fokus reviu dalam penyusunan RKA-SKPD adalah


apakah sudah sesuai konversi dan konsolidasi RBA BLUD ke RKA-

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 28/32

SKPD dengan peraturan yang berlaku. Berikut tabel petunjuk


konversi dari RBA ke dalam format RKA-SKPD:

Tabel 3
Konversi RBA ke dalam Format RKA
JENIS BIAYA BLUD JENIS BELANJA DALAM APBD
Belanja Tidak
No Belanja Langsung Jumlah
Langsung
Biaya
Belanja Belanja Belanja Barang Belanja
Pegawai Pegawai dan Jasa Modal
1 2 3 4 5 6 7

I. BIAYA OPERASIONAL

A. BIAYA PELAYANAN

1 Biaya Pegawai √ √
2 Biaya Bahan √ √

3 Biaya Jasa Pelayanan √ √

4 Biaya Pemeliharaan √ √

5 Biaya Barang dan Jasa √ √

6 Biaya pelayanan Lain-lain √ √

BIAYA UMUM DAN


B.
ADMINISTRASI

1 Biaya Pegawai √ √ √

2 Biaya Administrasi Kantor √ √

3 Biaya Pemeliharaan √ √

4 Biaya Barang dan Jasa. √ √

5 Biaya Promosi √ √

Biaya Umum dan


6 √ √
Administrasi Lain-lain

BIAYA NON
II.
OPERASIONAL
1 Biaya Bunga √ √

2 Biaya Administrasi Bank √ √

Kerugian Penjualan Aset


3 √ √
Tetap

4 Kerugian Penurunan Nilai √ √

Biaya Non Operasional


5 √ √
Lain-lain

TOTAL BIAYA √ √

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 29/32

JENIS BIAYA BLUD JENIS BELANJA DALAM APBD


Belanja Tidak
No Belanja Langsung Jumlah
Langsung
Biaya
Belanja Belanja Belanja Barang Belanja
Pegawai Pegawai dan Jasa Modal
1 2 3 4 5 6 7
PENGELUARAN
INVESTASI
Pengeluaran pembelian
1 √
tanah

Pengeluaran untuk sarana


2 √
fisik

Pengeluaran untuk
3 √
peralatan dan mesin

Pengeluaran sarana fisik


4 √
lainnya

TOTAL BIAYA √

12. Ketidaksesuaian atas Pengalokasian Anggaran Belanja Hibah


dan Bansos

Pengalokasian belanja hibah dan bansos diatur lebih lanjut


menggunakan Permendagri. Ketentuan mengenai Belanja Hibah
dan Bansos diatur dalam Permendagri Nomor 32 Tahun 2011
tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bansos yang Bersumber
dari APBD sebagaimana telah diubah pertama kali dengan
Permendagri Nomor 39 Tahun 2012, dan perubahan kedua dengan
Permendagri Nomor 14 Tahun 2016.

Hibah adalah pemberian uang/barang atau jasa dari pemerintah


daerah kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya,
perusahaan daerah, masyarakat dan organisasi kemasyarakatan,
yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukkannya, bersifat
tidak wajib dan tidak mengikat, serta tidak secara terus menerus
yang bertujuan untuk menunjang penyelenggaraan urusan
pemerintahan. Sementara bantuan sosial adalah pemberian
bantuan berupa uang/barang dari pemerintah daerah kepada
individu keluarga, kelompok dan/atau masyarakat yang sifatnya
tidak secara terus menerus dan selektif yang bertujuan untuk
melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 30/32

Proses penganggaran hibah dimulai dari disampaikannya hibah


secara tertulis kepada kepala daerah oleh pemerintah pusat,
pemerintah daerah lain, BUMN, BUMD, badan dan lembaga, serta
organisasi kemasyarakatan. Kepala daerah yang kemudian akan
menunjuk SKPD terkait melakukan evaluasi usulan. Kepala SKPD
terkait akan menyampaikan hasil evaluasi berupa rekomendasi
kepada kepala daerah melalui TAPD. TAPD akan memberikan
pertimbangan atas rekomendasi sesuai dengan prioritas dan
kemampuan keuangan daerah. Rekomendasi kepala SKPD dan
pertimbangan TAPD menjadi dasar pencantuman alokasi anggaran
hibah dalam rancangan KUA dan PPAS. Kemudian Kepala daerah
menetapkan daftar penerima hibah beserta besaran uang atau jenis
barang atau jasa yang akan dihibahkan dengan keputusan kepala
daerah berdasarkan peraturan daerah tentang APBD dan
peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD.

Penganggaran pemberian hibah dapat berupa:

a. Uang
Pemberian hibah dalam bentuk uang dapat dianggarkan bila
pemda telah memenuhi seluruh kebutuhan belanja urusan
wajib guna memenuhi SPM yang ditetapkan dalam peraturan
perundang-undangan.
Dalam proses penyusunan RKA, hibah berupa uang
dicantumkan dalam RKA-PPKD. Hibah berupa uang
dianggarkan dalam kelompok belanja tidak langsung, jenis
belanja hibah, obyek belanja hibah, dan rincian obyek belanja
hibah pada PPKD.
b. Barang
Pemberian hibah dalam bentuk barang dapat dilakukan apabila
barang tersebut tidak mempunyai nilai ekonomis bagi
pemerintah daerah yang bersangkutan tetapi bermanfaat bagi
pemerintah atau pemerintah daerah lainnya dan/atau kelompok
masyarakat/perorangan.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 31/32

c. Jasa
Pemberian hibah dalam bentuk jasa dapat dianggarkan apabila
pemerintah daerah telah memenuhi seluruh kebutuhan belanja
urusan wajib guna memenuhi SPM yang ditetapkan dalam
peraturan perundang-undangan.
Hibah berupa barang atau jasa dicantumkan dalam RKA-
SKPD. Hibah berupa barang dan jasa dianggarkan dalam
kelompok belanja langsung yang diformulasikan kedalam
program dan kegiatan, yang diuraikan kedalam jenis belanja
barang dan jasa, obyek belanja hibah barang atau jasa, dan
rincian obyek belanja hibah barang atau jasa yang diserahkan
kepada pihak ketiga/masyarakat pada SKPD.

Proses penganggaran bantuan sosial dimulai dengan


disampaikannya usulan tertulis kepada kepala daerah dari
anggota/kelompok masyarakat. Kepala daerah akan menunjuk
SKPD terkait untuk melakukan evaluasi usulan tertulis tersebut.
Kepala SKPD terkait akan menyampaikan hasil evaluasi berupa
rekomendasi kepada kepala daerah melalui TAPD. TAPD
memberikan pertimbangan atas rekomendasi sesuai dengan
prioritas dan kemampuan keuangan daerah. Rekomendasi kepala
SKPD dan pertimbangan RAPD akan menjadi dasar pencantuman
alokasi anggaran bantuan sosial dalam rancangan KUA dan PPAS.
Kemudian Kepala daerah menetapkan daftar penerima dan
besaran bantuan sosial dengan keputusan kepala daerah
berdasarkan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala
daerah tentang penjabaran APBD.

Penganggaran pemberian bantuan sosial dapat berupa:


a. Uang
Dalam proses penyusunan RKA, bantuan sosial berupa uang
dicantumkan dalam RKA-PPKD. Bantuan sosial berupa uang
dianggarkan dalam kelompok belanja tidak langsung, jenis

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 1 - 32/32

belanja bantuan sosial, obyek belanja bantuan sosial, dan


rincian obyek belanja bantuan sosial pada PPKD.
b. Barang
Bantuan sosial berupa barang dicantumkan dalam RKA-SKPD.
Bantuan sosial berupa barang dianggarkan dalam kelompok
belanja langsung yang diformulasikan ke dalam program dan
kegiatan, yang diuraikan kedalam jenis belanja barang dan
jasa, obyek belanja bantuan sosial barang dan rincian obyek
belanja bantuan sosial barang yang diserahkan kepada pihak
ketiga/masyarakat pada SKPD.

Yang perlu dicermati dalam proses reviu RKA terkait belanja hibah
dan belanja sosial adalah kesalahan penganggaran, dimana
belanja hibah dan bantuan sosial berupa uang masih dianggarkan
di SKPD terkait, padahal seharusnya belanja hibah dan bantuan
sosial berupa uang harus dianggarkan dalam RKA-PPKD. Selain
itu dalam pengajuan belanja hibah dan bantuan sosial harus dicek
apakah daftar penerima dan besaran yang diterima untuk belanja
hibah dan belanja bantuan sosial telah sesuai dengan Surat
Ketetapan Kepala Daerah tentang penerima belanja hibah dan
belanja bantuan sosial, karena daftar yang ada dalam Surat
Ketetapkan telah berdasarkan usulan/proposal yang sudah
dievaluasi oleh SKPD dan TAPD.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 2 / 1 - 4

PROGRAM KERJA REVIU

Waktu (Jam)
No Langkah-langkah Kerja Reviu Dilaksanakan KKR No. Ket
Rencana Realisasi
A REVIU RANCANGAN KUA DAN PPAS
1 Pengujian konsistensi rancangan KUA-PPAS dengan RKPD

Tujuan:
a untuk menguji konsistensi substansi rumusan rancangan KUA
dengan Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah dan Kebijakan
Keuangan Daerah dalam RKPD
b untuk menguji konsistensi rumusan prioritas dan sasaran serta KKR 1
rencana program dan kegiatan dalam PPAS dengan RKPD

c untuk menguji konsistensi pencantuman indikator dan target KKR 2


kinerja serta pagu indikatif, lokasi, kelompok sasaran dalam
rencana program dan kegiatan KUA-PPAS dengan RKPD
Langkah Kerja :
a Dapatkan dokumen Kebijakan Umum Anggaran (KUA), Prioritas dan
Plafon Anggaran Sementara (PPAS), dab RKPD
b Bandingkan substansi rumusan rancangan KUA dengan Rancangan
Kerangka Ekonomi Daerah dan Kebijakan Keuangan Daerah dalam
RKPD
c Bandingkan konsistensi rumusan prioritas dan sasaran serta rencana
program dan kegiatan dalam PPAS dengan RKPD
d Bandingkan konsistensi pencantuman indikator dan target kinerja
serta pagu indikatif, lokasi, kelompok sasaran dalam rencana
program dan kegiatan KUA-PPAS dengan RKPD
e Buat Kesimpulan

2 Pengujian kepatuhan atas hal yang diatur dalam Permendagri tentang KKR 3
penyusunan APBD
Tujuan:
Menguji pemenuhan kepatuhan penyusunan rancangan KUA-PPAS
dengan Permendagri tentang Penyusunan APBD
Langkah Kerja :
a Dapatkan dokumen Kebijakan Umum Anggaran (KUA), Prioritas dan
Plafon Anggaran Sementara (PPAS), dab Permendagri penyusunan
APBD
b Cek kepatuhan dalam rancangan KUA-PPAS dengan Permendagri
penyusunan APBD
c Buat Kesimpulan

B REVIU RKA
1 Pengumpulan data
Tujuan:
Untuk mendapatkan data perencanaan dan penganggaran dan melihat
kelengkapan dukungan dokumen RKA
Langkah Kerja :
a Kebijakan Umum Anggaran (KUA), Prioritas dan Plafon Anggaran
Sementara (PPAS), RKA-SKPD dan RKA-PPKD
b Peraturan kepala daerah tentang Standar Belanja dan Bagan Akun
Standar (BAS), RKPD, Renja SKPD terkait
c TOR dan Rincian Anggaran Biaya (RAB) program/kegiatan

d Hasil evaluasi atas RAPBD tahun lalu dari menteri dalam negeri untuk
provinsi dan gubernur untuk bupati kepada PPKD

e Hasil audit BPK, BPKP terkait efisiensi dan efektifitas program dan
kegiatan SKPD dan hasil pengawasan APIP

f Surat Edaran Kepala Daerah tentang Pedoman penyusunan RKA


SKPD/PPKD
g Dokumen-dokumen lain yang dibutuhkan dalam pelaksanaan reviu

2 Pengujian kesesuaian Rumusan Program, dan Kegiatan RKA dengan KKR 4


PPAS
Tujuan: untuk memastikan konsistensi pencantuman program dan
kegiatan dan keluaran pada RKA dengan PPAS dan Renja

Langkah Kerja :
a Dapatkan dokumen RKA serta Renja SKPD dan PPAS

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 2 / 2 - 4
Waktu (Jam)
No Langkah-langkah Kerja Reviu Dilaksanakan KKR No. Ket
Rencana Realisasi
b Bandingkan apakah program dan kegiatan, yang tencantum dalam
RKA 2.2 telah konsisten dengan program, kegiatan, indikator Renja
SKPD dan PPAS
c Buat kesimpulan.
3 Pengujian kesesuaian rumusan dan pencantuman Indikator, Target KKR 5
Kinerja, dan Lokasi RKA dengan PPAS dan Renja

Tujuan: untuk memastikan konsistensi pencantuman indikator, target


kinerja, dan lokasi pada RKA sesuai dengan PPAS dan Renja

Langkah Kerja :
a Dapatkan dokumen RKA 2.2.1 serta Renja dan PPAS

b Bandingkan apakah indikator, target kinerja, dan lokasi yang


tencantum dalam RKA 2.2.1 telah konsisten dengan PPAS dan Renja
SKPD.

c Buat kesimpulan.
4 Pengujian kesesuaian rumusan dan pencantuman Pagu RKA dengan KKR 5
PPAS dan Renja

Tujuan: untuk memastikan konsistensi pencantuman pagu indikatif


pada RKA sesuai dengan PPAS dan Renja
Langkah Kerja :
a Dapatkan dokumen RKA 2.2.1 serta Renja dan PPAS

b Bandingkan apakah pagu indikatif yang tencantum dalam RKA 2.2.1


telah konsisten dengan PPAS dan Renja SKPD.

c Buat kesimpulan.
5 Pengujian atas kelayakan anggaran untuk menghasilkan keluaran KKR 6

Tujuan:
Untuk menguji apakah suatu kegiatan layak dianggarkan

Langkah Kerja :
a Dapatkan RKA SKPD yang akan direviu. (RKA SKPD 2.21)

b Tentukan kegiatan yang akan di reviu.


c Dapatkan TOR/KAK dan RAB atau dokumen lain yang sejenis serta
Analisis Standar Belanja (ASB) dan standar satuan harga atas
kegiatan tersebut dan standar satuan harga yang berlaku.
d Analisis kewajaran atau kelayakan kegiatan tersebut berdasarkan
TOR, RAB dan ASB berdasarkan pertimbangan profesional APIP.
e Buat kesimpulan

6 Pengujian atas Penerapan Analisis Standar Belanja dan Standar KKR 6


Satuan Harga
Tujuan:
Untuk menguji kepatuhan penerapan Standar Satuan Harga dalam
RKA-SKPD dan PPKD dengan peraturan kepala daerah tentang
Standar Satuan Harga dan Analisis Standar Belanja.

Langkah Kerja :
a Dapatkan RKA SKPD/PPKD yang akan direviu, peraturan kepala
daerah tentang Standar Satuan Harga serta e-catalog dan Analisis
Standar Belanja
b Analisis untuk memastikan bahwa harga satuan pada rincian RKA
telah mengacu pada Standar Satuan Harga dan e catalog dan
Analisis Standar Belanja.
c Buat Kesimpulan
7 Pengujian atas penggunaan kode rekening beserta norma KKR 7
penyajiannya (klasifikasi yang tidak tepat misalnya aset yang
diserahkan pada masyarakat dianggarkan dalam belanja modal)

Tujuan:
Untuk menguji kebenaran pencantuman kode rekening dan
pengklasifikasian suatu jenis pendapatan/belanja

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 2 / 3 - 4
Waktu (Jam)
No Langkah-langkah Kerja Reviu Dilaksanakan KKR No. Ket
Rencana Realisasi
Langkah Kerja :
a Dapatkan RKA SKPD, BAS dan TOR yang akan direviu.

b Analisis kesesuaian pencantuman kode rekening atau jenis


pendapatan/ belanjanya pada formulir-formulir tersebut dengan kode
rekening penganggaran menurut BAS, baik berdasarkan urusan, unit
organisasi, program/kegiatan, akun, kelompok, jenis, obyek dan
rincian obyek

c Analisa sasaran dalam TOR atau KAK dengan ketepatan klasifikasi


belanja/pendapatan yang tercantum dalam RKA
d Buat kesimpulan.

8 Pengujian atas Kesesuaian Tupoksi SKPD dengan Rumusan Kegiatan KKR 8


dalam RKA
Tujuan:
untuk memastikan program dan kegiatan pada RKA telah sesuai
dengan kewenangan dan tupoksi SKPD dan PPKD

Langkah Kerja :
a Dapatkan dokumen RKA dan peraturan mengenai tupoksi dari SKPD
terkait dan PPKD
bBandingkan apakah seluruh program dan kegiatan pada RKA
termasuk dalam kewenangan dan tupoksi SKPD dan PPKD yang
bersangkutan
c Buat kesimpulan.
9 Pengujian atas kelengkapan pengisian dokumen RKA SKPD KKR 9

Tujuan:
Untuk menguji apakah seluruh dokumen RKA SKPD dan PPKD telah
dibuat dan diisi dengan lengkap
Langkah Kerja :
a Dapatkan seluruh formulir RKA SKPD dan PPKD yang akan direviu.

b Pastikan apakah seluruh formulir RKA SKPD dan PPKD tersebut telah
lengkap diisi sesuai Permendagri 13 Tahun 2006 dan perubahannya.

c Buat kesimpulan.

10 Pengujian atas pengalokasian anggaran untuk kegiatan yang didanai KKR 10


dari penerimaan yang telah ditetapkan penggunaannya oleh pemberi
dana.
Tujuan:
Untuk menguji kepatuhan pengalokasian anggaran yang jumlahnya
sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Langkah Kerja :
a Analisis anggaran belanja untuk kegiatan yang didanai dari
penerimaan yang telah ditetapkan penggunaannya oleh pemberi dana,
meliputi antara lain:

1) Alokasi anggaran belanja yang bersumber dan sebesar


pendapatan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah
pusat dan Dana Pendamping DAK dari pemda.

2) Alokasi anggaran belanja tersebut sesuai Perpres mengenai


Rincian APBN Tahun berkenan atau Permenkeu mengenai
Alokasi DAK Tahun berkenan.
3) Jika Perpres dan Permenkeu tersebut belum ditetapkan
ketika RKA SKPD disusun, maka anggaran pendapatan dan
alokasi anggaran belanja yang berasal dari DAK didasarkan
pada alokasi DAK tahun anggaran berkenan yang
diinformasikan secara resmi oleh Kementerian Keuangan,
setelah RUU tentang APBN tahun berkenan disetujui
bersama antara Pemerintah dan DPR-RI.

4) Jika Perpres dan Permenkeu tersebut ditetapkan setelah


APBD disahkan, maka perlu ada perubahan atas APBD
(RKA) tersebut.
5) Pemanfaatan DAK (termasuk yang dilarang) didasarkan
pada Juknis yang dikeluarkan oleh kementerian yang
berkenaan (al: Kementerian PU, Kementerian Kesehatan,
Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan
Perikanan, Kementerian Kehutanan, Kementerian Dalam
Negeri, Kementerian Perdagangan, Kementerian
Perhubungan, dan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan)

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 2 / 4 - 4
Waktu (Jam)
No Langkah-langkah Kerja Reviu Dilaksanakan KKR No. Ket
Rencana Realisasi
6) dst...
buat tujuan, dan langkah kerja serta simpulan sesuai dengan
kebutuhan yang terdapat pada poin poin yang tertera pada
lampiran Permendagri 31 tahun 2016
Buat Kesimpulan
11 Pengujian atas pengalokasian penganggaran untuk badan layanan KKR 11
umum daerah.
Tujuan:
Untuk menguji penganggaran untuk badan layanan umum daerah
(BLUD) telah sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Langkah Kerja :
a Dapatkan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) BLUD sesuai tahun
APBD
b Bandingkan kebutuhan dana dalam RBA BLUD yang telah dilakukan
pemetaan (mapping) ke Permendagri 13 tahun 2006 tersebut dengan
alokasi anggaran dalam RKA BLUD (jika BLUD tersebut unit kerja
tersendiri).
Jika anggaran BLUD masih berasal dari SKPD maka bandingkan
dengan anggaran yang tercantum dalam RKA SKPD.
c Buat Kesimpulan.
12 Pengujian atas penganggaran untuk belanja hibah dan bantuan sosial KKR 12

Tujuan:
Untuk menguji penganggaran untuk belanja hibah dan bansos telah
sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Langkah Kerja :
a Dapatkan RKA, Proposal SK Kepala Daerah tentang daftar penerima
dana hibah dan bansos(by name by address)

b Lakukan analisis atas proposal permohonan hibah dan bansos (sesuai


dengan permendagri 32/2011 dan 39/2012)
c Buat kesimpulan.

Yang harus dianggarkan dalam kelompok Belanja Hibah dan Bansos, yaitu:

a. Dukungan pendanaan untuk badan kerjasama/asosiasi


kerjasama antar daerah, sesuai Pasal 364 ayat (9) UU No
23 Tahun 2014.
b. Dukungan pendanaan operasional kepada Lembaga
Kemasyarakatan (termasuk organisasi keagamaan), sesuai
Pasal 298 ayat (4) dan ayat (5) UU No 23 Tahun 2014 dan
Permendagri No 32 Tahun 2011, sebagaimana telah diubah
dengan Permendagri No 39 Tahun 2012

c. Dukungan pendanaan kepada KPU untuk kegiatan


Pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Tahun 2017
yang tahapan penyelenggaraanya dimulai Tahun 2016,
sesuai Permendagri No 44 Tahun 2015 tentang Pengelolaan
Dana Kegiatan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur,
Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota,
dan perubahannya serta peraturan perUUan dibawahnya

d. Dukungan dana bagi madrasah, pendidikan diniyah, dan


pondok pesantren dalam rangka mendukung peningkatan
akses, mutu, daya saing, dan relevansi pendidikan islam dan
pendidikan non islam di bawah binaan Kementerian Agama

e. Penerima hibah bansos lainnya sesuai dengan perkada


tentang tatacara penganggaran, pelaksanaan dan
penatausahaan, pertanggungjawaban dan pelaporan serta
monitoring dan evaluasi hibah dan bansos
f. Belanja Hibah dan bansos dalam bentuk uang dianggarkan
pada RKA PPKD, sedangkan hibah dan bansos dalam
bentuk barang dianggarkan dalam RKA SKPD.

g Belanja Hibah dan bansos dalam bentuk barang kepada Tim


Penggerak PKK agar mempedomani Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2013 tentang Pemberdayaan
Masyarakat Melalui Gerakan Pemberdayaan dan
Kesejahteraan Keluarga

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 3 - 1
INSPEKTORAT ………… Nomor KKR : KKR 1

KERTAS KERJA REVIU: konsistensi rumusan prioritas dan sasaran


serta rencana program dan kegiatan Disusun …… (paraf) …… (tanggal)

Direviu …… (paraf) …… (tanggal)

Tujuan : Menguji konsistensi rumusan prioritas dan sasaran serta Disetujui …… (paraf) …… (tanggal)
rencana program dan kegiatan dalam PPAS dengan RKPD

Kesesuaian dengan RKPD


No Program dan Kegiatan dalam PPAS PENJELASAN
Sesuai Tidak Sesuai

SKPD ……………….
1 Program ……………..
Kegiatan ……..
Kegiatan ……..
Kegiatan ……..

2 Program ……………..
Kegiatan …….
Kegiatan …….

3 Program dst……………..
Kegiatan dst…….
Kegiatan dst…….
Kegiatan dst…….

KESIMPULAN:
1. Rumusan Program yang Belum sesuai dengan RKPD: 2. Rumusan Kegiatan yang Belum sesuai dengan RKPD:
a. ………………………….. a. …………………………..
b. ………………………….. b. …………………………..
c. ………………………….. c. …………………………..

Koreksi Perbaikan
1. ….
2. …..
Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD
Lampiran 3 - 2
INSPEKTORAT ………… Nomor KKR : KKR 2

KERTAS KERJA REVIU: Konsistensi Indikator Kinerja PPAS dengan RKPD Disusun …… (paraf) …… (tanggal)

Direviu …… (paraf) …… (tanggal)

Tujuan : Menguji konsistensi pencantuman indikator dan target kinerja serta pagu indikatif, lokasi, Disetujui …… (paraf) …… (tanggal)
kelompok sasaran dalam rencana program dan kegiatan KUA-PPAS dengan RKPD

PPAS
Kesesuaian dengan RKPD
No Program dan Kegiatan PENJELASAN
indikator
target kinerja pagu indikatif lokasi
output/ Sesuai Tidak Sesuai

SKPD …………
1 Program ……………..
Kegiatan ……..
Kegiatan ……..
Kegiatan ……..

2 Program ……………..
Kegiatan …….
Kegiatan …….

3 Program dst……………..
Kegiatan dst…….
Kegiatan dst…….
Kegiatan dst…….

KESIMPULAN:
1. Indikator yang Belum sesuai dengan RKPD: 2. Target Kinerja yang Belum sesuai dengan RKPD:
a. ………………………….. a. …………………………..
b. ………………………….. b. …………………………..
c. ………………………….. c. …………………………..

3. Pagu indikatif yang Belum sesuai dengan RKPD: 4. Lokasi yang Belum sesuai dengan RKPD:
a. ………………………….. a. …………………………..
b. ………………………….. b. …………………………..
c. ………………………….. c. …………………………..

Koreksi Perbaikan
1. ….
2. …..

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 3 - 3
INSPEKTORAT ………… Nomor KKR : KKR 3

KERTAS KERJA REVIU: Kepatuhan Permendagri tentang


penyusunan APBD Disusun …… (paraf) …… (tanggal)

Direviu …… (paraf) …… (tanggal)

Tujuan : Menguji pemenuhan kepatuhan penyusunan rancangan Disetujui …… (paraf) …… (tanggal)


KUA-PPAS dengan Permendagri tentang Penyusunan APBD

Uraian Kebijakan Penyusunan APBD KUA-PPAS


No (Berdasarkan Permendagri No … Tahun …. Tentang Pedoman Penyusunan APBD KETERANGAN
Tahun ….) Sesuai Tidak Sesuai

KEBIJAKAN PENDAPATAN DAERAH


A Pendapatan Asli Daerah
1 Jenis Pajak Daerah dan Retribusi Daerah telah sesuai dengan Peraturan daerah tentang
pajak daerah dan retribusi daerah dan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
2 Pendapatan yang bersumber dari Pajak Kendaraan Bermotor, termasuk yang
dibagihasilkan kepada kabupaten/kota, telah dialokasikan paling sedikit 10% untuk
mendanai pembangunan dan/atau pemeliharaan jalan serta peningkatan moda dan sarana
transportasi umum.
3 Pendapatan yang bersumber dari Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian
kabupaten/kota, telah dialokasikan paling sedikit 50% untuk mendanai pelayanan
kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.
4 Pendapatan yang bersumber dari Pajak Penerangan Jalan sebagian telah dialokasikan
untuk penyediaan penerangan jalan.
5 Pendapatan yang bersumber dari Retribusi Perpanjangan Izin Mempekerjakan Tenaga
Kerja Asing dialokasikan untuk mendanai penerbitan dokumen izin, pengawasan di
lapangan, penegakan hukum, penatausahaan, biaya
dampak negatif dari perpanjangan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing, dan kegiatan
pengembangan keahlian dan keterampilan tenaga kerja lokal
6 Pendapatan yang bersumber dari Retribusi Pengendalian Lalu Lintas dialokasikan untuk
mendanai peningkatan kinerja lalu lintas dan peningkatan pelayanan angkutan umum

7 Tidak ada PAD yang berasal dari pungutan atau dengan sebutan lain di luar yang diatur
dalam undang-undang
8 Dst ……………………………………………………

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 3 - 3
Uraian Kebijakan Penyusunan APBD KUA-PPAS
No (Berdasarkan Permendagri No … Tahun …. Tentang Pedoman Penyusunan APBD KETERANGAN
Tahun ….) Sesuai Tidak Sesuai
B Dana Perimbangan
1 Pendapatan dari DBH-Pajak yang terdiri atas DBH-Pajak Bumi dan Bangunan (DBH-PBB)
selain PBB Perkotaan dan Perdesaan, dan DBH-Pajak Penghasilan (DBH-PPh) yang terdiri
dari DBH-PPh Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri (WPOPDN)
dan PPh Pasal 21 dianggarkan sesuai Peraturan Presiden mengenai Rincian APBN Tahun
Anggaran 20... atau Peraturan Menteri Keuangan mengenai Alokasi DBH-Pajak Tahun
Anggaran 20....
2 Pendapatan dari DBH-Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) dianggarkan sesuai Peraturan
Presiden mengenai Rincian APBN Tahun Anggaran 20... atau Peraturan Menteri
Keuangan mengenai Rincian DBH-CHT menurut provinsi/kabupaten/kota Tahun Anggaran
20….

3 Pendapatan Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam (DBH-SDA), yang terdiri dari DBH-
Kehutanan, DBH-Pertambangan Mineral dan Batubara, DBH-Perikanan, DBH-Minyak
Bumi, DBH-Gas Bumi, dan DBH-Pengusahaan Panas Bumi dianggarkan sesuai Peraturan
Presiden mengenai Rincian APBN Tahun 20... atau Peraturan Menteri Keuangan mengenai
Alokasi DBH-SDA Tahun Anggaran 20....
4 Penganggaran DAU sesuai dengan Peraturan Presiden mengenai Rincian APBN Tahun
Anggaran 20….
5 Penganggaran DAK dianggarkan sesuai Peraturan Presiden tentang Rincian APBN Tahun
Anggaran 20... atau Peraturan Menteri Keuangan mengenai alokasi DAK Tahun Anggaran
20....
6 Dst ……………………………………………………

C. Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah


1 Penganggaran Dana Otonomi Khusus dialokasikan sesuai dengan Peraturan Presiden
mengenai Rincian APBN Tahun Anggaran 20... atau Peraturan Menteri Keuangan
mengenai Pedoman Umum dan Alokasi Dana Otonomi Khusus Tahun Anggaran 20....

2 Pendapatan Hibah Dana BOS yang diterima langsung oleh Satuan Pendidikan Negeri
yang diselenggarakan kabupaten/kota, dianggarkan pada Satuan Kerja Pengelola
Keuangan Daerah (SKPKD)
3 Penganggaran dana desa dialokasikan sesuai dengan Peraturan Presiden mengenai
Rincian APBN Tahun Anggaran 20... atau Peraturan Menteri Keuangan mengenai Alokasi
Dana Desa Tahun Anggaran 20….
4 Penganggaran pendapatan kabupaten/kota yang bersumber dari Bagi Hasil Pajak Daerah
yang diterima dari pemerintah provinsi didasarkan pada alokasi belanja Bagi Hasil Pajak
Daerah dari pemerintah provinsi Tahun Anggaran berkenan.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 3 - 3
Uraian Kebijakan Penyusunan APBD KUA-PPAS
No (Berdasarkan Permendagri No … Tahun …. Tentang Pedoman Penyusunan APBD KETERANGAN
Tahun ….) Sesuai Tidak Sesuai
5 Pendapatan daerah yang bersumber dari bantuan keuangan, baik yang bersifat umum
maupun bersifat khusus yang diterima dari pemerintah provinsi atau pemerintah
kabupaten/kota lainnya dianggarkan dalam APBD sepanjang sudah dianggarkan dalam
APBD pemberi bantuan

6 Penganggaran pendapatan hibah yang bersumber dari pemerintah, Pemerintah Daerah


lainnya atau pihak ketiga, baik dari badan, lembaga, organisasi swasta dalam negeri/luar
negeri, kelompok masyarakat maupun perorangan yang tidak mengikat dan tidak
mempunyai konsekuensi pengeluaran atau pengurangan kewajiban pihak ketiga atau
pemberi hibah, dianggarkan dalam APBD setelah adanya kepastian pendapatan dimaksud.

7 Penganggaran pendapatan yang bersumber dari sumbangan pihak ketiga, baik dari badan,
lembaga, organisasi swasta dalam negeri, kelompok masyarakat maupun perorangan yang
tidak mengikat dan tidak mempunyai konsekuensi pengeluaran atau pengurangan
kewajiban pihak ketiga atau pemberi sumbangan, dianggarkan dalam APBD setelah
adanya kepastian pendapatan dimaksud.
8 Dst ……………………………………………………

KEBIJAKAN BELANJA DAERAH


A Belanja Tidak Langsung
1 Penganggaran untuk gaji pokok dan tunjangan Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD)
memperhitungkan rencana kenaikan gaji pokok dan tunjangan PNSD serta pemberian gaji
ketiga belas dan gaji keempat belas
2 Penganggaran belanja pegawai untuk kebutuhan pengangkatan Calon PNSD sesuai
formasi pegawai Tahun berikutnya.
3 Penganggaran belanja pegawai untuk kebutuhan kenaikan gaji berkala, kenaikan pangkat,
tunjangan keluarga dan mutasi pegawai dengan memperhitungkan acress yang besarnya
maksimum 2,5%
4 Belanja Bunga dianggarkan apabila memiliki kewajiban pembayaran bunga
pinjaman, baik jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang
5 Belanja subsidi dianggarkan kepada perusahaan/lembaga tertentu yang menyelenggarakan
pelayanan publik, antara lain dalam bentuk penugasan
pelaksanaan Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation ), dan terlebih dahulu
dilakukan audit sesuai dengan ketentuan pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab
keuangan negara
6 Belanja subsidi kepada BUMD penyelenggara SPAM telah berpedoman pada
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 70 Tahun 2016 tentang Pedoman Pemberian
Subsidi dari Pemerintah Daerah kepada BUMD Penyelenggara Penyediaan Air Minum

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 3 - 3
Uraian Kebijakan Penyusunan APBD KUA-PPAS
No (Berdasarkan Permendagri No … Tahun …. Tentang Pedoman Penyusunan APBD KETERANGAN
Tahun ….) Sesuai Tidak Sesuai
7 Penganggaran belanja hibah dan bantuan sosial telah mempedomani peraturan Kepala
Daerah yang mengatur tata cara penganggaran, pelaksanaan dan penatausahaan,
pertanggungjawaban dan pelaporan serta monitoring dan evaluasi hibah dan bantuan
sosial
8 Besaran penganggaran bantuan keuangan kepada partai politik telah berpedoman kepada
Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai
Politik dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2014 dan Perubahannya

(khusus Pemerintah Provinsi)


9 Penganggaran belanja dana bagi hasil pajak daerah yang bersumber dari pendapatan
pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten/kota telah mempedomani Undang-
Undang Nomor 28 Tahun 2009

10 Besaran alokasi dana bagi hasil pajak daerah yang bersumber dari pendapatan
pemerintah provinsi telah dianggarkan secara bruto
11 Tidak ada penganggaran belanja dana bagi hasil yang bersumber dari retribusi daerah
provinsi sesuai Pasal 94 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009.
12 Belanja bagi hasil pajak daerah dari pemerintah provinsi kepada pemerintah
kabupaten/kota telah harus diuraikan ke dalam daftar nama pemerintah kabupaten/kota
selaku penerima sebagai rincian obyek penerima bagi hasil pajak daerah dan retribusi
daerah

(khusus Pemerintah Kabupaten/Kota)


13 Penganggaran belanja bagian dari Hasil Pajak Daerah dan Retribusi Daerah kepada
pemerintah desa paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) dari pajak daerah dan retribusi
daerah kabupaten/kota
14 Penganggaran Alokasi Dana Desa (ADD) untuk pemerintah desa dalam jenis belanja
bantuan keuangan kepada pemerintah desa paling sedikit 10% (sepuluh per
seratus) dari dana perimbangan yang diterima oleh kabupaten/kota setelah dikurangi DAK

15 Belanja bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah dan ADD dari pemerintah
kabupaten/kota kepada pemerintah desa telah diuraikan ke dalam daftar nama pemerintah
desa selaku penerima sebagai rincian obyek penerima bagi hasil pajak daerah dan retribusi
daerah
16 Dst ……………………………………………………

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 3 - 3
Uraian Kebijakan Penyusunan APBD KUA-PPAS
No (Berdasarkan Permendagri No … Tahun …. Tentang Pedoman Penyusunan APBD KETERANGAN
Tahun ….) Sesuai Tidak Sesuai
B Belanja Langsung
1 Belanja daerah digunakan untuk mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan
konkuren sesuai kewenangan daerah masing-masing dan pelaksanaan tugas organisasi

2 Penganggaran belanja langsung telah dituangkan seluruhnya dalam bentuk program dan
kegiatan
3 Penyelenggaraan jaminan kesehatan bagi fakir miskin dan orang tidak mampu dianggarkan
dalam bentuk program dan kegiatan pada SKPD yang menangani urusan
kesehatan pemberi pelayanan kesehatan

4 Penganggaran Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor milik
Pemerintah Daerah dialokasikan pada masing-masing SKPD
5 Kegiatan pembangunan gedung kantor baru milik Pemerintah Daerah tidak diperkenankan
kecuali terkait langsung dengan upaya peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan
publik, dan sepanjang Surat Menteri Keuangan Nomor S-841/MK.02/2014 tanggal 16
Desember 2014 hal Penundaan/Moratorium Pembangunan Gedung Kantor Kementerian
Negara/Lembaga masih berlaku
6 Dst ……………………………………………………

KEBIJAKAN PEMBIAYAAN DAERAH


1 Penganggaran penerimaan pembiayaan yang bersumber dari pencairan dana cadangan,
waktu pencairan dan besarannya telah sesuai peraturan daerah tentang pembentukan
dana cadangan
2 Penganggaran penerimaan dari pinjaman yang bersumber dari Penerusan Pinjaman Luar
Negeri, Pemerintah Daerah Lain, Lembaga Keuangan Bank, Lembaga Keuangan Bukan
Bank, dan Masyarakat (obligasi daerah) telah mendapat pertimbangan dari Menteri Dalam
Negeri
3 Dst ……………………………………………………

KESIMPULAN:
1. Uraian KUA-PPAS yang tidak sesuai dengan Kebijakan Penyusunan APBD:
a. …………………………..
b. …………………………..
c. …………………………..

Koreksi Perbaikan
1. ….
2. …..

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 3 - 4
INSPEKTORAT ………… Nomor KKR : KKR 4

KERTAS KERJA REVIU: Kesesuaian dengan Renja Disusun …… (paraf) …… (tanggal)

SKPD : ……………………………………….. Direviu …… (paraf) …… (tanggal)

Tujuan : Menguji kesesuaian program dan kegiatan dalam RKA dengan


Renja dan PPAS Disetujui …… (paraf) …… (tanggal)

Kesesuaian
No Program dan Kegiatan dalam RKA Kesesuaian dengan PPAS KETERANGAN
dengan Renja

1 Program …………….. Rumusan Program telah/Belum sesuai


Kegiatan …….. Rumusan Kegiatan telah/belum sesuai
Kegiatan ……..
Kegiatan …….. Rumusan Indikator telah/belum sesuai
Target Keluaran telah/Belum sesuai
2 Program ……………..
Kegiatan …….
Kegiatan …….

3 Program ……………..
Kegiatan …….
Kegiatan …….
Kegiatan …….

KESIMPULAN:
1. Rumusan Program yang telah/Belum sesuai dengan RKPD/Renja :
2. Rumusan Kegiatan yang telah/Belum sesuai dengan RKPD/Renja :
3. Rumusan indikator telah/Belum sesuai dengan RKPD/Renja
4. Target Keluaran telah/Belum sesuai dengan RKPD/Renja
5. Program/Kegiatan yang tidak ada di Renja : ……………………

Koreksi Perbaikan
1. ….
2. …..

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 3 - 5
INSPEKTORAT ………… Nomor KKR : KKR 5

KERTAS KERJA REVIU: Kesesuaian dengan Renja Disusun …… (paraf) …… (tanggal)

SKPD : ……………………………………….. Direviu …… (paraf) …… (tanggal)

Tujuan : Menguji kesesuaian rincian dalam RKA dengan Renja dan PPAS Disetujui …… (paraf) …… (tanggal)

RKA 2.2.1
Kesesuaian Kesesuaian
No Program dan Kegiatan dalam RKA KETERANGAN
dengan PPAS dengan Renja
indikator
output/ target kinerja pagu indikatif lokasi
outcomes

pencantuman
indikator/target/pagu/lokasi belum
1 Program …………….. sesuai
Kegiatan ……..
Kegiatan ……..
Kegiatan ……..

2 Program ……………..
pencantuman
indikator/target/pagu/lokasi belum
Kegiatan ……. sesuai
Kegiatan …….

3 Program ……………..
pencantuman
indikator/target/pagu/lokasi belum
Kegiatan ……. sesuai
Kegiatan …….
Kegiatan …….

KESIMPULAN:
1. Rumusan Program yang telah/Belum sesuai dengan RKPD/Renja :
2. Rumusan Kegiatan yang telah/Belum sesuai dengan RKPD/Renja :
3. Rumusan indikator telah/Belum sesuai dengan RKPD/Renja
4. Target Keluaran telah/Belum sesuai dengan RKPD/Renja
5. Program/Kegiatan yang tidak ada di Renja : ……………………

Koreksi Perbaikan
1. ….
2. …..

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 3 - 6
INSPEKTORAT ……………………………………… Nomor KKR : KKR 6

KERTAS KERJA REVIU ; Kelayakan Anggaran Disusun : …… (paraf) …… (tanggal)


SKPD : ………………………………………………… Direviu : …… (paraf) …… (tanggal)
Tujuan : Menguji apakah suatu kegiatan layak dianggarkan dan telah sesuai dengan ASB dan SSH Disetujui : …… (paraf) …… (tanggal)

Nama Program : ……………………………


Nama Kegiatan : ……………………..
Jumlah Anggaran : ………………….
Lokasi Kegiatan : …………………..
Sumber Dana : ……………………………
Indikator Keluaran : ……….
Volume Keluaran : ……..

Jumlah Kesesuaian Kesesuaian


No Jenis Belanja Volume Satuan Harga Satuan USULAN KOREKSI
( RP ) ASB SSH

1 Belanja Pegawai
Belanja ………………….. v v Koreksi Belanja Pegawai karena masih dapat
dihemat bila
Belanja ………………….. v v dibandingkan dengan keluaran yang akan dihasilkan

2 Belanja Barang dan Jasa


Belanja ………………….. v Belanja ini tidak perlu ada, karena tidak relevan
dengan keluaran
Belanja ………………….. v x Belanja ini perlu dihemat sebesar Rp …… karena
…..
3 Belanja Modal
Belanja ………………….. Belanja ini perlu dihemat sebesar Rp ……. Karena
ketinggian
Belanja ………………….. Tidak sesuai dengan Standar Satuan Harga sesuai
dengan Perda ….

KESIMPULAN
A. Dokumen yang telah ada terdiri dari:
1. Kerangka Acuan Kerja (TOR)
2. Rencana Anggaran Biaya (RAB)
3. ASB
4. SSH
5. ……

B. Dokumen pendukung yang belum lengkap terdiri dari :


1. Dokumen….
2. Dokumen …..

C Koreksi Perbaikan

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 3 - 7
INSPEKTORAT ……………………………………… Nomor KKR : KKR 7

KERTAS KERJA REVIU ; Kesesuaian Akun Disusun : …… (paraf) …… (tanggal)


SKPD : ………………………………………………… Direviu : …… (paraf) …… (tanggal)

Tujuan: Untuk menguji kebenaran pencantuman kode rekening dan pengklasifikasian suatu jenis pendapatan/belanja Disetujui : …… (paraf) …… (tanggal)

Nama Program : ……………………………


Nama Kegiatan : ……………………..
Jumlah Anggaran : ………………….
Sumber Dana : ……………………………
Lokasi Kegiatan : …………………..
Indikator Kinerja : ……….
Volume Keluaran : ……..

Hasil Reviu Usulan Koreksi


Jumlah Penjelasan
No Kode Rek Akun Nilai terkoreksi KETERANGAN
( RP ) S TS jika TS Kode Rek Akun Jumlah
(tambahan)

5,1 Belanja Tidak Langsung


5.1.1 Belanja Pegawai
5.1.2 Belanja Bunga
5.1.3 Belanja Subsidi
5.1.4 Belanja Hibah
5.1.5 Belanja Bantuan Sosial
5.1.6 Belanja Bantuan Keuangan
5.1.7 Belanja Bagi hasil
5.1.8 Belanja Bantuan Keuangan

5,2 Belanja Langsung


5.2.1 Belanja Pegawai
Belanja …………………..
(Jika perlu diuraikan sampai
obyek dan rincian belanja)
5.2.2 Belanja Barang dan Jasa
Belanja …………………..

5.2.3 Belanja Modal


Belanja …………………..

KESIMPULAN
A. Penggunaan rekening yang tidak sesuai dengan ketentuan
1. ..
2. …

B. Koreksi Perbaikan

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 3 - 8
INSPEKTORAT ………… Nomor KKR : KKR 8

KERTAS KERJA REVIU: Kesesuaian Kegiatan dengan Tupoksi SKPD Disusun …… (paraf) …… (tanggal)

SKPD : ……………………………………….. Direviu …… (paraf) …… (tanggal)

Tujuan : Menguji kesesuaian rincian kegiatan dalam RKA dengan Tupoksi SKPD Disetujui …… (paraf) …… (tanggal)

Kesesuaian Dengan Tupoksi SKPD (beri tanda V bagi uraian


tupoksi yang sesuai)
No Program dan Kegiatan dalam RKA KETERANGAN

Tupoksi A Tupoksi B Tupoksi C dst…

(Uraikan jika tidak sesuai maka


kegiatan tersebut semestinya
1 Program …………….. dilaksanakan oleh SKPD mana)
Kegiatan ……..
Kegiatan ……..
Kegiatan ……..

2 Program ……………..
Kegiatan …….
Kegiatan …….

3 Program ……………..
Kegiatan …….
Kegiatan …….
Kegiatan …….

KESIMPULAN:
Kegiatan yang tidak sesuai dengan Tupoksi SKPD adalah sebagai berikut :
1…………………….
2……………………
3…………………..
4……………………

Koreksi Perbaikan
1. ….
2. …..

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 3 - 9

INSPEKTORAT ………… Nomor KKR : KKR 9

KERTAS KERJA REVIU: Kelengkapan pengisian Dokumen RKA Disusun …… (paraf) …… (tanggal)

SKPD : ……………………………………….. Direviu …… (paraf) …… (tanggal)

Tujuan : Menguji kelengkapan pengisian data dalam Dokumen Disetujui …… (paraf) …… (tanggal)

Uraian Kelengkapan
No Nama RKA Kegiatan yang disampel KETERANGAN

Lengkap Tidak Lengkap

(Uraikan jika terdapat


ketidaklengkapan yang memiliki
signifikansi atas informasi yang
1 Kegiatan …….. terdapat pada dokumen RKA)
2 Kegiatan ……..
3 Kegiatan ……..
4 Kegiatan ……..
5 Kegiatan ……..
6 Kegiatan ……..
7 Kegiatan ……..
8 Kegiatan ……..
9 Kegiatan ……..

Koreksi Perbaikan
1. ….
2. …..

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 3 - 10
INSPEKTORAT ………… Nomor KKR : KKR 10

KERTAS KERJA REVIU: Kepatuhan Pengalokasian anggaran atas kegiatan yang


dibiayai dengan pendanaan yang memiliki persyaratan
tertentu Disusun …… (paraf) …… (tanggal)

SKPD : ……………………………………….. Direviu …… (paraf) …… (tanggal)

Tujuan : Menguji pemenuhan persyaratan pengalokasian anggaran yang telah Disetujui …… (paraf) …… (tanggal)
ditentukan dalam persyaratan pendanaan

Kepatuhan terhadap syarat pengalokasian dana


No Program dan Kegiatan yang disampel KETERANGAN

Syarat A Syarat B Syarat C dst…

(Uraikan alokasi anggaran yang sesuai


dengan persyaratan yang semestinya
1 Program …………….. dipenuhi)
Kegiatan ……..
Kegiatan ……..
Kegiatan ……..

2 Program ……………..
Kegiatan …….
Kegiatan …….

3 Program ……………..
Kegiatan …….
Kegiatan …….
Kegiatan …….

KESIMPULAN:
Kegiatan yang tidak mematuhi persyaratan pendanaan
1…………………….
2……………………
3…………………..
4……………………

Koreksi Perbaikan
1. ….
2. …..

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 3 - 11
INSPEKTORAT ……………………………………… Nomor KKR : KKR 11

KERTAS KERJA REVIU : Kesesuaian akun belanja RKA BLUD dengan RBA BLUD Disusun : …… (paraf) …… (tanggal)
SKPD : ………………………………………………… Direviu : …… (paraf) …… (tanggal)
Tujuan: Untuk menguji penganggaran untuk badan layanan umum daerah (BLUD) Disetujui : …… (paraf) …… (tanggal)
telah sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Nama Program : ……………………………


Nama Kegiatan : ……………………..
Jumlah Anggaran : ………………….
Sumber Dana : ……………………………
Lokasi Kegiatan : …………………..
Indikator Kinerja : ……….
Volume Keluaran : ……..

Hasil Reviu Usulan Koreksi


Jenis Beban Penjelasan
No Kode Rek Akun KETERANGAN
pada RBA S TS jika TS Kode Rek Akun Jumlah

5,2 Belanja Langsung


5.2.1 Belanja Pegawai
Belanja …………………..

(Jika perlu diuraikan sampai


obyek dan rincian belanja)
5.2.2 Belanja Barang dan Jasa
Belanja …………………..

5.2.3 Belanja Modal


Belanja …………………..

KESIMPULAN
A. Akun belanja yang tidak sesuai RBA
1. ..
2. …

B. Koreksi Perbaikan

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 3 - 12
INSPEKTORAT ………… Nomor KKR : KKR 12

KERTAS KERJA REVIU: Ketepatan pengganggaran atas hibah dan


bantuan sosial Disusun …… (paraf) …… (tanggal)

SKPD : ……………………………………….. Direviu …… (paraf) …… (tanggal)

Tujuan : Menguji apakah pengganggaran bantuan sosial dan hibah Disetujui …… (paraf) …… (tanggal)
sudah sesuai dengan bentuk hibah/bantuan sosial yang diberikan

Jenis Belanja yang


Bentuk Hibah/Bantuan Sosial Kesesuaian
terterda pada RKA
Nama RKA Kegiatan yang
No (Belanja Hibah/Belanja KETERANGAN
mengganggarkan hibah/bantuan sosial
Bantuan Sosial/Belanja
Tidak
Barang Uang Barang dan Jasa) Sesuai
Sesuai

(Uraikan lebih lanjut


1 Kegiatan …….. ketidaksesuaian yang ada)
2 Kegiatan ……..
3 Kegiatan ……..
4 Kegiatan ……..
5 Kegiatan ……..
6 Kegiatan ……..
7 Kegiatan ……..
8 Kegiatan ……..
9 Kegiatan ……..

Kegiatan yang tidak sesuai penganggaran hibah/bantuan sosial


1. ….
2. …..

Koreksi
1. ….
2. …..

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 4 - 1/4

(Sesuai SE Mendagri Nomor:700/025/A.4/IJ)


FORMAT CATATAN HASIL REVIU
SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH
…………………………………………….

CATATAN HASIL REVIU


ATAS KUA-PPAS/RKA-SKPD *)
SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH
UNTUK TAHUN ANGGARAN ......

Inspektorat Disusun .............. (2)


oleh/Tanggal
Provinsi/Kabupaten/Kota ............(1)

Diteliti .............. (3)


oleh/Tanggal

Disetujui .............. (4)


oleh/Tanggal

Uraian Catatan Hasil Reviu **)


Sehubungan dengan penugasan berdasarkan Surat Tugas Inspektur
Provinsi/Kabupaten/Kota ......................... Nomor …………… tanggal
.................. untuk melaksanakan reviu atas RKA-SKPD
.............................. TA ..... , bersama ini kami sampaikan catatan hasil
reviu sebagai berikut:
DATA UMUM
Pagu Indikatif TA .... pada SKPD ……………… sebesar Rp ..... dengan
rincian alokasi per sumber dana dan jenis belanja sebagai berikut:

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 4 - 2/4

Jenis Belanja

Uraian Urusan,
Barang
Kode Organisasi, Jumlah
Pegawai dan Modal
Program dan Kegiatan
Jasa

1 2 3 4 5 6 = 3+4+5

1 01 Pendidikan
1 01 01 Dinas Pendidikan
1 01 01 xx Program ……
1 01 01 xx Xx Kegiatan …..
1 01 01 xx Xx Dst………………

Berdasarkan Nota Kesepakatan Nomor ………………………… tentang


PPAS TA ..... , Pagu Anggaran SKPD ……………. TA ..... sebesar Rp ....
dengan rincian sebagai berikut:

PRIORITAS SASARAN JUMLAH


NO. PROGRAM PROGRAM/ ORGANISASI PLAFON
DAN KEGIATAN KEGIATAN ANGGARAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Dst.
JUMLAH

1. Kesesuaian rumusan rencana program dan kegiatan dalam RKA-


SKPD dengan PPAS
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
Kesimpulan :
Berdasarkan hasil reviu, rencana program dan kegiatan dalam RKA-SKPD
telah sesuai/belum sesuai dengan PPAS

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 4 - 3/4

2. Kesesuaian pencantuman indikator dan target kinerja serta pagu


indikatif, lokasi, kelompok sasaran dalam rencana program dan
kegiatan RKA-SKPD dengan PPAS.
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
Kesimpulan :
Berdasarkan hasil reviu, pencantuman indikator dan target kinerja serta
pagu indikatif, lokasi, kelompok sasaran dalam rencana program dan
kegiatan RKA-SKPD telah sesuai/belum sesuai dengan PPAS
3. Kelayakan anggaran untuk menghasilkan suatu keluaran
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
Kesimpulan :
4. Kepatuhan dalam penerapan kaidah-kaidah penganggaran
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
Kesimpulan :
5. Kelengkapan Dokumen Pendukung
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
Kesimpulan:
Berdasarkan hasil reviu, dokumen pendukung telah/belum lengkap.
6. Dst ...................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
Kesimpulan :
7. Koreksi/ Perbaikan yang belum/tidak disetujui
[Berisi-hal –hal yang belum dikoreksi/diperbaiki atau yang tidak
disetujui]
8. Rekomendasi
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 4 - 4/4

..........................., tgl/bln/tahun (6)


Kepala SKPD .... (5) Dalnis/Supervisor/Irban

(Nama) (Nama)
NIP. .... NIP. ....

*) disesuaikan dengan daerah berkenaan


**) disesuaikan dengan jenis dokumen yang direviu

Penjelasan cara pengisian Formulir 5.1:


1. Adalah identitas unit organisasi APIP yang melakukan audit.
2. Disusun Oleh :
Diisi dengan nama APIP yang bertugas menyusun CHR.
3. Diteliti Oleh :
Diisi dengan nama yang bertugas dan berhak untuk meneliti CHR
4. Disetujui Oleh :
Diisi dengan nama APIP yang memberi persetujuan CHR.
5. Nama Organisasi Objek Reviu, serta NAMA dan NIP :
Diisi dengan nama SKPD yang menjadi objek reviu, dan diberikan
tanda tangan, Nama serta NIP Kepala SKPD.
6. Tanggal, tanda tangan, Nama dan NIP: Diisi dengan tanggal CHR
disusun dan diberikan tanda tangan, Nama serta NIP
Dalnis/Supervisor/Irban pereviu.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 5 - 1/5

(Sesuai SE Mendagri Nomor:700/025/A.4/IJ)


FORMAT LAPORAN HASIL REVIU

LOGO PROV/KAB/KOTA
INSPEKTORAT [PROV/KAB/KOTA]
LAPORAN HASIL REVIU
RKA-SKPD
[NAMA SKPD]
TAHUN ANGGARAN [.....]
NOMOR: LAP-...../...../20.....
TANGGAL: [........................]

Daftar Isi Halaman


Ringkasan
I. ................................................................................... [...]
Eksekutif
II. Dasar Hukum ................................................................................... [...]
III. Tujuan Reviu ................................................................................... [...]
Ruang
IV. ................................................................................... [...]
Lingkup Reviu
Metodologi
V. ................................................................................... [...]
Reviu
Gambaran
VI. ....................................................................................[...]
Umum
Uraian Hasil
VII. ................................................................................... [...]
Reviu
VIII. Apresiasi ................................................................................... [...]
Lampiran:
Catatan Hasil Reviu (CHR)

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 5 - 2/5

LAPORAN HASIL REVIU RKA-SKPD


SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH) [NAMA SKPD]
TAHUN ANGGARAN [….]

I. RINGKASAN EKSEKUTIF
[Berisi Mengenai Ringkasan Umum Laporan Hasil Reviu]

1. Kepala daerah berdasarkan RKPD menyusun rancangan kebijakan


umum APBD, dengan berpedoman pada pedoman penyusunan APBD
yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setiap tahun. Berdasarkan
kebijakan umum APBD yang telah disepakati, pemerintah daerah dan
DPRD membahas rancangan prioritas dan plafon anggaran sementara
yang disampaikan oleh kepala daerah. Kebijakan umum APBD dan
prioritas dan plafon anggaran sementara yang telah dibahas dan
disepakati bersama kepala daerah dan DPRD dituangkan dalam nota
kesepakatan yang ditandatangani bersama oleh kepala daerah dan
pimpinan DPRD. Selanjutnya Kepala daerah berdasarkan nota
kesepakatan menerbitkan pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagai
pedoman Kepala SKPD menyusun RKA-SKPD.Kepala SKPD
menyusun RKA-SKPD. dengan menggunakan pendekatan kerangka
pengeluaran jangka menengah daerah, penganggaran terpadu dan
penganggaran berdasarkan prestasi kerja.
2. Sesuai instruksi pimpinan, [Nama APIP Provinsi/Kabupaten/Kota]
melakukan reviu RKA-SKPD [Nama SKPD] Tahun Anggaran [….].
Adapun reviu dilaksanakan pada saat: 1) penyusunan RKA-SKPD oleh
Satuan Kerja Perangkat Daerah setelah ditetapkannya KUA/PPAS
(bulan Juni/Juli).

Berdasarkan hasil reviu yang telah dilakukan, dapat disimpulkan hal-hal


sebagai berikut:
1) [….];
2) [….];
3) [….].
4) dst.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 5 - 3/5

Dari hasil reviu tersebut di atas, [nama unit penyusun RKA-SKPD] telah
melakukan perbaikan pada [berisi perbaikan-perbaikan yang telah
dilakukan atas hasil reviu].
[nama unit penyusun RKA-SKPD] telah disarankan pula untuk melakukan
perbaikan pada [berisi perbaikan-perbaikan yang belum dilakukan atas
hasil reviu].

II. DASAR HUKUM


[Berisi dasar hukum pelaksanaan reviu RKA-SKPD)
1. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 78 Tahun 2014 tentang
Kebijakan Pembinaan Dan Pengawasan di Lingkungan
Kementerian Dalam Negeri Dan Pemerintah Daerah.
2. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2015 tentang
Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Tahun Anggaran 2016.
3. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor .... Tanggal ....
November Tahun 2015 tentang Pedoman Reviu Dokumen
Rencana Pembangunan dan Anggaran Tahunan Daerah.
III. TUJUAN REVIU
[Berisi tujuan dari kegiatan reviu RKA-SKPD)
Tujuan dari dilaksanakannya reviu RKA-SKPD ................ TA ...........
adalah untuk memberi keyakinan terbatas mengenai akurasi,
keandalan, dan keabsahan informasi RKA-SKPD sesuai dengan
RKPD, Renja-SKPD, dan KUA/PPAS serta kesesuaian dengan
standar biaya, kaidah-kaidah penganggaran dan dilengkapi dokumen
pendukung RKA-SKPD.

IV. RUANG LINGKUP REVIU


[Berisi ruang lingkup dari kegiatan reviu RKA-SKPD)
Ruang lingkup reviu adalah pengujian atas penyusunan dokumen
RKA-SKPD. Ruang lingkup reviu mencakup pengujian terbatas atas
dokumen sumber, namun tidak mencakup pengujian atas sistem
pengendalian intern yang biasanya dilaksanakan dalam suatu audit.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 5 - 4/5

V. METODOLOGI REVIU
[Berisi metode yang digunakan dalam kegiatan reviu RKA-SKPD dan
dasar pelaksanaan kegiatan reviu RKA-SKPD]
1. Reviu RKA-SKPD ............ TA ........ dilaksanakan sesuai dengan
Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor .... Tanggal ....
November Tahun 2015 tentang Pedoman Reviu Dokumen
Rencana Pembangunan dan Anggaran Tahunan Daerah.
2. Reviu dilaksanakan dengan menggunakan metodologi
mengumpulkan dan melakukan penelaahan atas dokumen rencana
Rencana Pembangunan dan Anggaran Tahunan Daerahserta
wawancara dengan petugas/pejabat yang terkait proses
penyusunan RKA-SKPD .... TA ....
3. Reviu dilaksanakan berdasarkan Surat Tugas [Inspektur
Provinsi/Kabupaten/Kota ....] Nomor ........... tanggal ....., dengan
susunan tim sebagai berikut:
Penanggungjawab : [….] NIP [….]
Dalnis/Supervisor/Irban : [….] NIP [….]
Ketua Tim : [….] NIP [….]
NIP [….]
Anggota Tim : 1. [….] NIP [….]
2. [….] NIP [….]
Reviu RKA-SKPD ......... TA [….] dilaksanakan mulai tanggal [….] s.d.
[….]

VI. GAMBARAN UMUM


[Berisi proses penyusunan RKA-SKPD dan mekanisme penyusunan
RKA-SKPD berdasarkan KUA/PPAS serta nama program-program
SKPD dan jumlah pagu anggarannya]
1. [Berisi Proses Penyusunan RKA-SKPD]
2. [Berisi Mekanisme Penyusunan RKA-SKPD Berdasarkan Pagu
Anggaran SKPD]
3. Program RKA-SKPD [Nama SKPD], yaitu:

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 5 - 5/5

Jumlah Rupiah Pagu


No. Program
Anggaran
1. …. ….
2. …. ….
3. …. ….
dst …. ….

VII. URAIAN HASIL REVIU


[Berisi uraian hasil reviu RKA-SKPD]
1) [….];
2) [….];
3) [….].
4) dst.

VIII. APRESIASI
[Berisi apresiasi yang diberikan kepada obyek reviu RKA-SKPD
[Nama APIP Provinsi/Kabupaten/Kota] menyampaikan terima kasih
atas bantuan dan kerjasama dari seluruh pejabat/pegawai pada [.....]
atas kesediaannya memberikan data/dokumen yang diperlukan,
sehingga dapat mendukung terlaksananya kegiatan reviu RKA-SKPD
Tahun Anggaran [.....].

…………………., [Tanggal/Bulan/Tahun]
[Pejabat APIP Provinsi/Kabupaten/Kota]

(Nama)
NIP.

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 6 - 1/3

BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN

PERWAKILAN .......

Alamat Perwakilan BPKP

Nomor : ....... 2017


Lampiran :
Perihal :

Yth. Deputi Kepala BPKP Bidang PPKD

di Jakarta

Dengan ini kami sampaikan laporan pelaksanaan hasil bimkon /


asistensi* (*nama kegiatan disesuaikan dengan nama penugasan dalam
surat tugas) reviu rancangan KUA-PPAS dan reviu RKA-SKPD pada
Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota ABC tahun 2017 dengan uraian
sebagai berikut:
A. Dasar Pelaksanaan
Dasar hukum pelaksanaan bimkon reviu rancangan KUA-PPAS dan
reviu RKA-SKPD pada Pemerintah Kabupaten ABC tahun 2016 adalah
:
1. Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah;
2. Keputusan Presiden RI Nomor 192 Tahun 2014 tentang Badan
Pengawasan Keuangan dan Pembangunan;
3. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2014 tentang Peningkatan
Kualitas Sistem Pengendalian Intern dan Keandalan
Penyelenggaraan Fungsi Pengawasan Intern dalam Rangka
Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat
4. Surat Deputi Kepala BPKP Bidang Pengawasan Penyelenggaraan
Keuangan Daerah Nomor .... tanggal ... tentang Bimkon Reviu
Rancangan KUA-PPAS dan RKA-SKPD;
5. Surat Tugas Kepala Perwakilan BPKP ABC Nomor ... tanggal ....

B. Tujuan dan Sasaran Bimkon


Bimkon reviu rancangan KUA-PPAS dan reviu RKA-SKPD bertujuan
untuk membantu pemerintah daerah khususnya APIP untuk mereviu

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 6 - 2/3

rancangan KUA-PAPS dan RKA-SKPD agar sesuai dengan ketentuan


perundang-undangan yang berlaku.

C. Ruang Lingkup dan Batasan Tanggung Jawab


Ruang lingkup dari kegiatan bimkon reviu rancangan KUA-PPAS dan
reviu RKA-SKPD adalah bimkon dan atau asistensi berupa....... (
uraikan materi apa saja yang diuraikan dalam kegiatan bimkon).
Tanggungjawab Perwakilan BPKP Provinsi...... terbatas pada
penyampaian materi dan atau rancangan laporan kegiatan bimkon
reviu rancangan KUA-PPAS dan reviu RKA-SKPD Kabupaten .....
Tahun 2017.

D. Kondisi Sebelum Kegiatan Bimkon Reviu RKA


Kondisi sebelum dilaksakannya bimkon adalah sebagai berikut:
1. ..... (jelaskan kondisi yang ada sebelum bimkon, misal
proses/tahapan penyusunan rancangan KUA-PPAS dan RKA-
SKPD, kondisi pelaksanaan reviu rancangan KUA-PPAS dan RKA-
SKPD, kondisi APIP yang melaksanakan reviu rancangan KUA-
PPAS dan RKA-SKPD dsb)
2. .....

E. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan Bimkon


Kegiatan bimkon reviu rancangan KUA-PPAS dan reviu RKA-SKPD di
Prov/Kab/Kota ABC dilaksanakan selama .... hari kerja, mulai tanggal
.... sampai dengan ..... .
Adapun uraian pelaksanaan bimkon adalah sebagai berikut:
1... (jelaskan dan uraikan kegiatan bimkon yang dilakukan kepada
pihak inspektorat)
2...(Jelaskan hasil dari kegiatan bimkon)
3 dsb…...

F. Kendala yang Dihadapi


Terdapat beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian agar
pelaksanaan reviu rancangan KUA-PPAS dan reviu RKA-SKPD oleh
Inspektorat Prov/Kab/Kota ABC dapat berjalan secara efektif dan
efisien:
1... (misal apip belum dibekali pemahaman yang memadai atas bisnis
proses penyusunan RKA-SKPD)
2... (kesulitan dalam mengumpulkan dokumen pendukung yang
dibutuhkan)
3… (dsb..)

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 6 - 3/3

G. Saran
Dalam rangka meningkatkan sistem pengendalian intern pemerintah
khususnya dalam penyusunan rancangan KUA-PPAS dan RKA-SKPD
dan penyusunan APBD, kepada Inspektorat Prov/Kab/Kota ABC kami
sarankan sebagai berikut:
1. .... (misal meningkatkan kemampuan personil Inspektorat tentang
proses bisnis penyusunan APBD)
2. ...(dsb)

Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasama yang baik, kami
ucapkan terima kasih.

Kepala Perwakilan

XYZ

NIP.....

Tembusan:

1. Gubernur/Walikota/Bupati
2. Inspektur

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD


Lampiran 7
KOMPILASI PERMASALAHAN DALAM BIMKON REVIU RANCANGAN KUA-PPAS DAN RKA-SKPD

Nama Perwakilan:

Permasalahan dan Hambatan dalam Reviu


No Pemda
Permasalahan pada APIP Permasalahan pada reviu rancangan KUA-PPAS Permasalahan pada reviu RKA-SKPD
1 2 3 4 5

Petunjuk pengisian kolom:

Kolom 1 : Diisi dengan nomor urut


Kolom 2: Diisi dengan nama pemda yang direviu
Kolom 3: Diisi dengan permasalahan pada APIP (misal: masalah kewenangan, kompetensi, jumlah personil)
Kolom 4: Diisi dengan permasalahan yang ditemui ketika APIP melakukan reviu rancangan KUA-PPAS (dapat mengacu kepada permasalahan dalam Lampiran 1 huruf A)
Kolom 5: Diisi dengan permasalahan yang ditemui ketika APIP melakukan reviu RKA-SKPD (dapat mengacu kepada permasalahan dalam Lampiran 1 huruf B)

Juknis Bimkon Reviu Rancangan KUA-PPAS dan RKA SKPD