Anda di halaman 1dari 12

PROPOSAL SKRIPSI

KAJIAN KEEKONOMISAN LAHAN PASCATAMBANG TAMBANG


BATUBARA DI PT. BUMI MERAPI ENERGI

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Permohonan Tugas Akhir


Pada Jurusan Teknik Pertambangan

Oleh
Muhammad Fauzan
03021381320064

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2019
IDENTITAS DAN PENGESAHAN USULAN PENELITIAN
TUGAS AKHIR MAHASISWA

1. Judul
KAJIAN KEEKONOMISAN LAHAN PASCATAMBANG TAMBANG
BATUBARA DI PT. BUMI MERAPI ENERGI

2. Pengusul
a. Nama : Muhammad Fauzan
b. Jenis Kelamin : Laki - Laki
c. NIM : 03021381320064
d. Semester : XIII (Tiga Belas)
e. Fak/Jurusan : Teknik/Pertambangan
f. Institusi : Universitas Sriwijaya
g. Nomor Telepon : 085357895351
h. Alamat Email : fauzankirana@gmail.com

3. Waktu Pelaksanaan : Agustus – September 2019

4. Lokasi Penelitian : Blok Penambangan Batubara PT. Bumi Merapi Energi.


Lahat, Sumatera Selatan

Palembang, Agustus 2019

Pembimbing Proposal, Pengusul

Dr.Ir.H. Maulana Yusuf, MS., MT. Muhammad Fauzan


NIP. 196706271994022001 NIM. 03021381320064

Menyetujui,
Ketua Jurusan Teknik Pertambangan
Universitas Sriwijaya,

Dr. Hj.Rr. Harminuke Eko Handayani, ST.,MT


NIP. 196902091997032001
A. JUDUL
Kajian Keekonomisan Lahan Pascatambang Tambang Batubara di PT. Bumi
Merapi Energi

B. LOKASI PENELITIAN
Penilitian ini dilakukan di PT. Bumi Merapi Energi, Lahat, Sumatera Selatan

C. BIDANG ILMU
Teknik Pertambangan.

D. LATAR BELAKANG
PT. Bumi Merapi Energi merupakan salah satu perusahaan swasta yang
bergerak di bidang pertambangan batubara yang berlokasi di Lahat, Sumatera
Selatan. Saat ini PT. Bumi Merapi Energi melakukan penambangan lokasi yaitu di
Site Serelo dengan target produksi juta ton per tahun. PT. Bumi Merapi Energi
berencana untuk membangun jalur angkut double track menggunakan kereta untuk
menunjang kebutuhan peningkatan produksinya dari 2 juta ton/tahun menjadi 20
juta ton/tahun.
Kegiatan pertambangan tidak dapat dipungkiri akan memberikan dampak
terhadap lingkungan sekitar. Dampak tersebut dapat berupa dampak positif dan
dampak negatif. Dampak positif yang ditimbulkan dari kegiatan pertambangan
seperti meningkatkan pendapat masyarakat sekitar, membuka lapangan pekerjaan,
dan lain sebagainya. Sementara itu dampak negatif yang ditimbulkan adalah
berubahnya tatanan alam dan rona muka bumi, kebisingan, polusi udara, penurunan
kualitas air, dan lain-lain. Perubahan tatanan alam yang akan ditimbulkan setelah
kegiatan penambangan selesai, salah satunya adalah perubahan karakteristik tanah
yang akan digunakan untuk reklamasi dan ditanami tanaman karet.
PT Bumi Merapi Energi berkewajiban untuk melaksanakan kegiatan reklamasi
dan pascatambang sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 78
Tahun 2010 tentang “Reklamasi dan Pascatambang” dan Peraturan Menteri No. 7
tahun 2014 Tentang Pelaksanaan Rencana Reklamasi dan Pascatambang Pada

1
Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara. Oleh karena itu perencanaan
peruntukan void tambang ini harus memiliki perencanaan yang tepat dan juga
cermat agar semua tujuan yang diiinginkan oleh semua pihak dapat terwujud.
Berdasarkan pada Peraturan Menteri No. 7 tahun 2014 Pasal 12 ayat 4 dan ayat 5
disebutkan bahwa reklamasi dapat dilakukan dalam bentuk revegetasi dan/ atau
peruntukan lainnya (area pemukiman, pariwisata, sumber air, dan tempat
pembudidayaan).
Lahan bekas tambang yang non void dapat dimanfaatkan untuk tanaman
pertanian seperti sagu, tanaman hutan seperti jabon, dan tanaman perkebunan
seperti karet. Pemanfaatan ini memberi manfaat ekonomi bagi keberlanjutan
ekonomi, sosial maupun ekologi. Penelitian ini akan difokuskan pada penilaian
ekonomi terhadap keperuntukan lahan bekas tambang batukapur. Lahan bekas
penambangan setelah direklamasi diharapkan mempunyai nilai manfaat ekonomi,
sosial dan lingkungan yang tidak merugikan baik bagi masyarakat sekitar maupun
bagi ekosistem kawasan secara komprehensif, dengan tetap berpegang pada
kewaspadaan atas risiko keamanan dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu,
penting dilakukannya penilaian (valuasi) ekonomi terhadap kegiatan reklamasi
yang dilakukan pada void tambang. Menurut Betani (2016), penilaian ekonomi
adalah kegiatan menilai suatau barang dan jasa yang dapat diperjualbelikan
sehingga memperolah pendapatan. Penilaian ekonomi yang dilakukan terhadap
rencana pascatambang batu kapur dilandaskan pada Peraturan Pemerintah Nomor
46 tahun 2017 Tentang Instrumen Ekonomi Lingkungan hidup. Hal ini penting
dilakukan dalam rangka melestarikan fungsi lingkungan hidup.
Penilaian ekonomi yang dilakukan pada penelitian sebelumnya adalah kajian
nilai ekonomi karbon keperuntukan lahan bekas tambang batubara untuk
perkebunan karet di PT Samantaka Batubara Provinsi Riau (Juniah, 2017). Variabel
biaya pengelolaan yang berbeda pada lahan bekas tambang batubara dengan lahan
bekas tambang batu kapur, akan berpengaruh terhadap kelayakan ekonomi dan
manfaat ekonomi yang akan ditemukan dalam penelitian ini. Berdasarkan hal di
atas maka peneliti mencoba melakukan kajian nilai ekonomi dan teknis terhadap

2
rencana pascatambang batubara pada PT Bumi Merapi Energi untuk perkebunan
karet.

E. PERUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah:
1. Apa saja Faktor – faktor yang mempengaruhi biaya reklamasi pasca
tambang di PT. Bumi Merapi Energi?
2. Bagaimana komponen manfaat dan biaya nilai jasa lingkungan lahan
pascatambang tambang batubara di PT. Bumi Merapi Energi?

F. RUANG LINGKUP PENELITIAN


1. Analisis keekonomisan pascatambang tambang batubara hanya pada usaha
pertambangan Batubara di unit Selero PT. Bumi Merapi Energi.
2. Metode yang digunakan adalah metode perhitungan data manfaat biaya
atau NPV, Biaya Extended manfaat biaya atau extended NPV.
3. Penelitian ini hanya meninjau aspek ekonomi.

G. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberlanjutan
pertambangan batubara dalam pemanfaatan lahan pascatambang tambang
batubara dalam usaha pertambangan batubara di PT. Bumi Merapi Energi
2. Mengetahui komponen manfaat dan biaya nilai jasa lingkungan lahan
pascatambang tambang batu bara dalam usaha pertambangan batubara di
PT. Bumi Merapi Energi.

H. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat dari penelitian ini adalah
1. Memberikan informasi kepada perusahaan pertambangan tentang
pentingnya nilai manfaat dan biaya jasa lingkungan dalam suatu
perencanaan tambang.

3
2. Menganalisis besarnya biaya yang diperlukan untuk melakukan biaya pasca
tambang di PT. Bumi Merapi Energi.
3. Memberikan rumusan model extended manfaat dan biaya jasa lingkungan
yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan pertambangan
.

I. TINJAUAN PUSTAKA
1. Batubara
Batubara dapat didefinisikan merupakan kumpulan dua macam material,
yaitu material organik atau komponen maseral dan komponen anorganik dan
mineral yang sering disebut dengan mineral matter (Ward, 2002).
Komponen organik merupakan parameter penting dalam menentukan
peringkat dan tipe batubara yang terbentuk dan memberikan pengaruh pada
pemanfaatannya. Semua kegunaan batubara, seperti energi yang dihasilkan dari
pembakarannya atau perannya dalam proses metalurgi, merupakan bentuk
pemanfaatan esensial dari maseral konstituennya.
Komponen anorganik pada batubara umumnya memberikan kontribusi
yang minim pada pada kegunaan batubara bahkan umumnya justru mengurangi
nilai kegunaan batubara ditinjau dari sisi pemanfaatannya. Mineral matter
merupakan sumber sisi negatif pemanfaatan batubara, antara lain sebagai
penyumbang polutan, korosi, abrasi dan problem lainnya yang muncul dalam
proses pemanfaatan batubara.
Senyawa organik sebagai material penyusun utama batubara disebut juga
dengan maseral. Berdasarkan klasifikasi International Committee for Coal and
Organic Petrology (ICCP) tahun 1994 ada tiga grup utama maseral dengan grup
huminit digunakan untuk batubara lignit atau brown coal dan grup vitrinit
digunakan untuk batubara bituminous dan antrasit, sementara untuk dua grup
lainnya, yaitu liptinit dan Inertinit, penamaan yang sama digunakan baik pada
berbagai rentang kalori batubara.
Huminit berasal dari jaringan kayu pada batang, akar dan daun. Secara
kimia huminit memiliki karakter oksigen yang relatif tinggi dan kandungan karbon

4
yang lebih rendah dibandingkan dengan grup maseral lainnya. Istilah vitrinit
dipakai untuk merujuk huminit yang telah mengalami proses pembatubaraan lebih
lanjut.
Peningkatan kandungan karbon terjadi selama proses pembatubaraan
dimana kandungan hidrogen yang terobservasi pada vitritnit dapat mencapai 85%.
Vitrinit kaya akan struktur aromatik yang meningkat seiring peringkat batubara,
yaitu antara 70% pada batubara subbituminus hingga lebih dari 90% pada antrasit.
Grup liptinit berasal dari organ tumbuhan (ganggang/algae, spora, kotak
spora, kulit luar (kutikula), getah tanaman (resin) dan serbuk sari/pollen). Grup
liptinit kaya dengan ikatan alifatik, memiliki kandungan hidrogen paling banyak
dan kandungan karbon paling sedikit bila dibandingkan dengan grup maseral
lainnya. Inertinit adalah grup maseral yang memiliki reflektansi lebih tinggi
dibandingkan dengan maseral dari kelompok vitrinit dan liptinit. Kelompok
Maseral inertinite umumnya berasal dari tumbuhan yang sudah terbakar atau
berasal dari maseral lain yang telah mengalami proses oksidasi.
Pada proses coking, reaksi dari inertinit akan tergantung kepada
karakteristik kimia fisik maseral dan peringkat batubara, homogenitas maseral
inertinit, ukuran butir serta struktur dalam. Kadar inertinit yang optimum dalam
batubara memberikan keuntungan dalam memperoleh kokas yang memiliki
stabilitas maksimum. Jumlahnya tergantung peringkat batubara. Hal tersebut
karena kekuatan kokas dipengaruhi oleh ukuran inertinit dalam campuran. Kokas
dari batubara yang kaya akan inertinit akan menghasilkan CRI (Coke Reactivity
Index/ Indeks reaktivitas kokas) yang tinggi. Secara kimiawi, inertinit memiliki
karakter karbon yang relatif tinggi dan oksigen yang rendah (ICCP, 1994).
Elemen dari konstituen inorganic pada batubara yang disebut juga dengan
mineral matter mengacu kepada unsur anorganik yang bukan merupakan bagian
dari unsur organik batubara seperti karbon, hidrogen, oksigen dan sulphur.
(Speight, 2005). Mineral dan material annorganik yang berasosiasi dengan batubara
sering diistilahkan dengan mineral matter (Ward, 1986), yang secara umum
mencakup tiga golongan material. yaitu ;

5
1. Mineral dalam bentuk partikel diskrit dan kristalin pada batubara
2. Unsur atau senyawa anorganik yang terikat dengan molekul organik batubara
dan biasanya tidak termasuk unsur nitrogen dan sulfur.
3. Senyawa anorganik yang larut dalam air pori batubara dan air permukaan.
Berdasarkan atas kelimpahannya, maka mineral-mineral pada batubara
dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu mineral utama (major minerals), mineral
tambahan (minor minerals) dan unsur jejak (trace elements). Renton
(1982), menggolongkan mineral utama jika kadarnya > 10 % berat, sementara
mineral tambahan memiliki persetase 1-10 % dari berat. Umumnya yang termasuk
mineral utama adalah mineral lempung dan kuarsa sedangkan yang merupakan
mineral minor adalah adalah karbonat, sulfida dan sulfat.

2. Klasifikasi Batubara
Ada berbagai klasifikasi yang sering digunakan untuk penggolongan
batubara, seperti berdasarkan atas derajat pembatubaraan atau metamorfismenya
yang sering juga disebut berdasarkan atas derajat kedewasaannya, dengan urutan
dari lignit, sub-bituminous, bituminous hingga antrasit.
Klasifikasi yang saat ini umum digunakan yaitu klasifikasi yang dibuat oleh
American Society for Testing and Materials/ASTM (Tabel 3.1) yang menyusun
klasifikasi berdasarkan pada peringkat atau rank (Speight, 2013). Pada klasifikasi
ini digunakan parameter (1) heating value, (2) volatile matter, (3) moisture, (4) ash,
dan (5) fixed carbon.

6
Sistem klasifikasi batubara ASTM (Speight, 2013).
a
Klasifikasi ini tidak memasukkan jenis nonbanded, dengan sifat phisik dan kimia
yang luar biasa dan termasuk ke dalam dengan fixed-carbon atau calorific value
terbatas pada peringkat high-volatile bituminous dan subbituminous. Salah satu dari
semua batubara yang mengadung fixed carbon < 48% pada basis dry, mineral-
matter-free atau mempunyai > 15,500 Btu/lb dalam basis moist, mineral-matter-
free.
b
Sebagian besar merujuk pada batubara yang mengandung inherent moisture alami,
namun tidak termasuk batubara yang permukaannya mengandung air.
c
Jika terjadi penggumpalan, batubara dikelompokkan ke dalam kelompok low-
volatile dari kelas bituminous.
d
Batubara mengandung fixed carbon ≥ 69% berdasarkan basis dry, mineral-matter-
free diklasifikasikan menurut fixed carbon, tanpa memperhatikan calorific value.
e
Batubara yang dikenal di sana mungkin berbagai batubara nonpenggumpalan dalam
kelompok-kelompok dari kelas bituminous, dan tidak ada pengecualian khususnya
pada kelas bituminous high volatile C.

Pengklasifikasian informal juga digunakan pada batubara, seperti pada


industri misalnya, dikenal high grade coal dan low grade coal yang mengacu pada
kandungan energi batubara. Bila high grade coal adalah sebutan untuk batubara
antrasit dan batubara bituminous, maka low grade coal adalah sebutan untuk untuk
batubara sub-bituminous dan lignit. Selain itu klasifikasi informal yang juga umum

7
digunakan adalah berdasarkan pada penggunaan atau propertiesnya seperti steam
coal atau coking coal, serta caking coal dan non-caking coal.

J. PENELITIAN TERDAHULU

K. METODOLOGI PENELITIAN
Dalam pelaksanaan penelitian, penulis menggabungkan antara teori dengan
data di lapangan sehingga di dapat pendekatan penyelesaian masalah. Dan
metodologi penelitian yang dilakukan adalah :
1. Studi Literatur
Dilakukan dengan mencari bahan-bahan pustaka yang menunjang, yang
diperoleh dari instansi terkait, perpustakaan, dan informasi-informasi lainnya yang
berkaitan. informasi yang diperoleh dari studi literatur berupa literatur-literatur
yang berhubungan dengan aspek lingkungan.
2. Penelitian di lapangan
Dalam pelaksanaan penelitian di lapangan ini akan dilakukan beberapa
tahap, yaitu:
a. Data Lapangan Primer, yaitu data yang dikumpulkan dengan melakukan
pengamatan secara langsung di lapangan seperti data kuisioner (wawancara
langsung dilapangan), data luas lahan (panjang dan lebar), data kualitas tanah (PH
tanah dan kandungan logam), dan lain-lain.
b. Data Lapangan Sekunder, yaitu data yang dikumpulkan berdasarkan referensi
dari perusahaan seperti data manfaat biaya atau NPV (Cash Flow (CF), manfaat
langsung (Bd), manfaat lingkungan eksternal (Be), biaya langsung (Cd), biaya
perlindungan lingkungan (Cp), biaya lingkungan eksternal (Ce), manfaat sosial
(Bs), Biaya sosial (Ce)), data extended manfaat biaya atau extended NPV (manfaat
langsung lahan pascatambang (Bdav), manfaat eksternal lingkungan (Be), manfaat
eksternal masyarakat (Bem), biaya langsung lahan pascatambang (Cdav), biaya
8
eksternal masyarakat (Cem), manfaat lahan pascatambang berkelanjutan (Bab),
biaya lahan pascatambang berkelanjutan (Cab), tingkat bunga (r), Tahun (t)), dan
lain-lain.
3. Pengolahan data
Data-data yang diperolah, diolah menggunakan rumus matematis,
kemudian disajikan dalam bentuk table, gambar dan perhitungan penyelesaian.
Pengolahan data meliputi:
a. Menghitung data manfaat biaya atau NPV.
b.Menghitung data extended manfaat biaya atau extended NPV
4. Analisis Data
Data-data yang telah diolah kemudian dilakukan analisis berdasarkan
literatur-literatur yang berhubungan dengan masalah tersebut.

L. JADWAL PENELITIAN
Sesuai dengan surat permohonan yang kami ajukan, kami bermaksud
melaksanakan Tugas Akhir pada tanggal Agustus sampai September 2019 dengan
perincian kegiatan yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut :

Minggu
No Uraian Kegiatan
1-2 3-4 5-6 7-8
1 Persiapan
2 Survei Pendahuluan
3 Pengumpulan Data
4 Analisa
5 Pengolahan Data
6 Penyusunan Laporan Akhir

9
M. PENUTUP
Demikian proposal Tugas Akhir ini Pemohon buat untuk menggambarkan
tujuan dilakukan studi Tugas Akhir di perusahaan ini. Besar harapan Pemohon
untuk dapat melaksanakan Tugas Akhir di PT. Bumi Merapi Energi ini dan
membantu menganalisis karakteristik pengaruh batuan terjadap desain geometri
peledakan. Pemohon menyadari bahwa pada saat pelaksanaan Tugas Akhir ini akan
sedikit mengganggu kegiatan perusahaan dan untuk itu sebelumnya Pemohon
meminta maaf yang sebesar-besarnya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu
melimpahkan rahmat dan petunjuk-Nya kepada kita semua.Atas bantuan dan
perhatiannya Pemohon ucapkan terima kasih.

N. DAFTAR PUSTAKA

International Committee for Coal and Organic Petrology (ICCP), 1998., The New
Vitrinite Classification (ICCP System 1994), Fuel, Vol. 77, No. 5, p. 349-358.
Renton, J.J., 1982., Mineral matter in Coal, Coal Structure, ed. Meyer RA,
Academic Press, p. 283-324.
Barat, Kaltim, Jurnal Ilmiah MATG, UPN, Vol. 5, p. 1-11.
Speight, J.G., 2005., Handbook of Coal Analisys, John Wiley & Sons. Inc.
Publication, 238 pp.
Speight, J.G., 2013., The Chemistry and Technology of Coal 3th edition, CRC
Press., 807 pp.
Ward, C.R., 1986., Review of Mineral Matter in Coal, Australian Coal Geology,
Geol. Society of Australia, Vol.6 p.87-107.
Ward, C.R., 2002., Analysis and Significance of Mineral Matter in Coal
Seam, International Journal of Coal Geology, Vol.50, p. 135-168.

10