Anda di halaman 1dari 72

BAB IV

SITUASI UPAYA KESEHATAN

Secara umum upaya kesehatan Puskesmas berdasarkan Peraturan Menteri


Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 tahun 2014 terdiri atas :
1. Upaya Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Masyarakat.
Upaya kesehatan masyarakat terbagi atas 2 yaitu :
(1) Upaya Kesehatan Masyarakat Esensial, meliputi :
- Pelayanan Promosi Kesehatan
- Pelayanan Kesehatan Lingkungan
- Pelayanan Kesehatan Ibu, Anak, dan Keluarga Berencana
- Pelayanan Gizi
- Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Upaya kesehatan masyarakat esensial harus diselenggarakan oleh setiap
Puskesmas guna mencapai standar pelayanan minimal kabupaten/kota di
bidang kesehatan.

(2) Upaya Kesehatan Masyarakat Pengembangan.


Upaya kesehatan masyarakat pengembangan merupakan upaya kesehatan
masyarakat yang kegiatannya memerlukan upaya yang sifatnya inovatif
dan/atau bersifat ekstensifikasi dan intensifikasi pelayanan, disesuaikan
dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah kerja dan potensi
sumber daya yang tersedia di masing-masing Puskesmas, diantaranya :
- Pelayanan Kesehatan Jiwa
- Pelayanan Kesehatan Gigi Masyarakat
- Pelayanan Kesehatan Tradisional
- Pelayanan Kesehatan Kerja
- Pelayanan Kesehatan Mata
- Pelayanan Kesehatan Lansia
- Pelayanan Kesehatan Remaja

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 48


2. Upaya Kesehatan Masyarakat Perorangan
Upaya kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh
pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta
memulihkan kesehatan perorangan diantaranya :
- Pelayanan Pemeriksaan Umum
- Pelayanan Kesehatan Gigi & Mulut
- Pelayanan KIA& KB
- Pelayanan Gawat Darurat
- Pelayanan Gizi
- Pelayanan Kesehatan Anak / MTBS
- Pelayanan Kefarmasian
- Pelayanan Laboratorium

4.1 PELAYANAN KESEHATAN DASAR


Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah penting dalam
penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan pelayanan
kesehatan dasar secara tepat dan cepat, diharapkan sebagian besar masalah
kesehatan masyarakat dapat diatasi. Berbagai pelayanan kesehatan dasar yang
dilaksanakan adalah sebagai berikut ini.

4.1.1 Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak


Pelayanan kesehatan ibu dan anak adalah
pelayanan di bidang kesehatan yang menyangkut
pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu
menyusui, bayi dan balita serta anak pra sekolah.
Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan ibu dan
anak merupakan upaya memfasilitasi masyarakat untuk
membangun system kesiagaan masyarakat dalam upaya
Ririk Puji L, A.Md.Keb
Pengelola Prog. KIA mengatasi situasi gawat darurat dari aspek non klinis
terkait kehamilan dan persalinan.
Tujuan umum dari pelayanan kesehatan ibu dan anak adalah
tercapainya kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan
yang optimal bagi ibu dan keluarga serta meningkatnya derajat kesehatan anak
untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal yang merupakan landasan
Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 49
bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya. Sedangkan tujuan khusus dari
pelayanan ibu dan anak adalah sebagai berikut :
 Meningkatnya kemampuan ibu (pengetahuan, sikap dan perilaku)
dalam mengatasi kesehatan diri dan keluarganya dengan
menggunakan teknologi tepat guna dalam upaya pembinaan
kesehatan keluarga, dasa wisma, penyelenggaraan posyandu, dan
sebagainya.
 Meningkatnya upaya pembinaan kesehatan balita dan anak pra
sekolah secara mandiri di dalam lingkungan keluarga, dasa wisma,
posyandu serta di sekolah.
 Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan bayi, anak balita,
ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan ibu menyusui.
 Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu
bersalin, ibu nifas, ibu menyusui, bayi, dan anak balita.
 Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat, keluarga
dan seluruh anggotanya untuk mengatasi masalah kesehatan ibu,
balita, dan anak pra sekolah.
Menurut statistik kesehatan WHO pada tahun 2009, setiap tahun
diperkirakan sebanyak 536.000 meninggal dunia akibat masalah persalinan dan
99% kematian ibu akibat masalah persalinan terjadi di Negara-negara
berkembang, dimana rasio kematian ibu secara global 400 per 100.000
kelahiran hidup. Sedangkan menurut Badan Penelitian dan Pengembangan
Depkes RI, AKI tahun 2009 mencapai 226 per 100.000 kelahiran hidup. Angka
ini turun dibandingkan AKI hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)
tahun 2007 yang mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup.
Upaya untuk mempercepat penurunan AKI telah dimulai sejak akhir
tahun 1980-an melalui program Safe Motherhood Initiative yang mendapat
perhatian besar dan dukungan dari berbagai pihak baik dari dalam maupun luar
negeri. Pada akhir tahun 1990-an secara konseptual telah diperkenalkan lagi
upaya untuk menajamkan strategi dan intervensi dalam menurunkan AKI
melalui program Making Pregnancy Safer (MPS) yang dicanangkan oleh
pemerintah pada tahun 2000.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 50


4.1.1.1 Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil (K1 dan K4)
Menurut Depkes RI (2009), pelayanan antenatal adalah pelayanan
kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya,
yang dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang
ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan. Pelayanan antenatal
merupakan upaya untuk menjaga kesehatan ibu pada masa kehamilan
sekaligus upaya menurunkan angka kesakitan dan angka kematian ibu.
Pelayanan antenatal sesuai standar meliputi anamnesis, pemeriksaan
fisik (umum dan kebidanan), pemeriksaan laboratorium atas indikasi,
serta intervensi dasar dan khusus.
Secara operasionalnya, Depkes RI (2009) menentukan pelayanan
antenatal dengan standar pelayanan meliputi :
- Tanyakan dan menyapa ibu dengan ramah
- Tinggi badan dan berat badan ditimbang
- Temukan kelainan/ periksa daerah muka dan leher (gondok, vena
jugularis externa), jari dan tungkai (edema), lingkaran lengan atas,
panggul (perkusi ginjal) dan reflek lutut.
- Tekanan darah diukur
- Tekan/palpasi payudara (benjolan), perawatan payudara, senam
payudara, tekan titik (accu pressure) peningkatan ASI
- Tinggi fundus uteri diukur
- Tentukan posisi janin (Leopold I-IV) dan detak jantung janin
- Tentukan keadaan (palpasi) liver dan limpa
- Tentukan kadar Hb dan periksa laboratorium, antara lain :
a. Pemeriksaan golongan darah (jika belum)
b. Pemeriksaan protein dalam urine
c. Pemeriksaan kadar gula darah
d. Pemeriksaan darah malaria (bila diperlukan)
e. Pemeriksaan screening HIV
f. Pemeriksaan BTA (bila diperlukan)
- Terapi dan pencegahan anemia (tablet Fe) dan penyakit lainnya
sesuai indikasi.
- Pemberian Imunisasi Tetanus Toxoid
- Meningkatkan kesegaran jasmani dan senam hamil

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 51


- KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) Efektif
KIE efektif dilaksanakan pada setiap kunjungan antenatal yang
meliputi :
1. Kesehatan ibu
2. Perilaku hidup bersih dan sehat
3. Peran suami/keluarga dalam kehamilan dan perencanaan
persalinan
4. Tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas serta
kesiapan menghadapi komplikasi
5. Asupan gizi seimbang
6. Gejala penyakit menular dan tidak menular
7. Penawaran untuk melakukan konseling dan test HIV
8. Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan pemberian ASI Eksklusif
9. KB pasca persalinan
10. Imunisasi
11. Peningkatan kesehatan intelegensia pada kehamilan

Kunjungan ibu hamil merupakan kontak ibu hamil dengan tenaga


kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang
ditetapkan. Kunjungan ibu hamil dilakukan secara berkala yang dibagi
dalam 2 tahap, yaitu :
 Kunjungan baru ibu hamil (K1)
Kunjungan K1 adalah kontak ibu hamil yang pertama kali
dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan
pemeriksaan kehamilan pada trimester I (usia kehamilan 1-
12 minggu).
 Kunjungan ibu hamil K-4
Kunjungan K4 adalah kontak ibu hamil dengan tenaga
kesehatan dengan mendapat pelayana antenatal sesuai
standar paling sedikit empat kali, dengan distribusi
pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah minimal 1x
pada triwulan 1, 1x pada triwulan 2, dan 2x pada triwulan 3
umur kehamilan.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 52


Cakupan pelayanan antennal (K1) adalah cakupan ibu hamil yang
pertama kali mendapat pelayanan antenatal oleh tenaga kesehatan di
suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Indikator ini digunakan
untuk mengetahui jangkauan pelayanan antenatal serta kemampuan
program dalam menggerakkan masyarakat. Angka cakupan K1 dapat
diperoleh dari jumlah K1 dalam 1 tahun dibagi jumlah ibu hamil di suatu
wilayah kerja dalam 1 tahun kali 100%. Sedangkan cakupan K4 adalah
cakupan ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai
dengan standar paling sedikit 4 kali selama kehamilan. Indikator ini
dipakai untuk menggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil di suatu
wilayah. Angka cakupan K4 diperoleh dari jumlah K4 dalam 1 tahun
dibagi jumlah sasaran ibu hamil di suatu wilayah dalam 1 tahun.
Hasil capaian program pelayanan kesehatan ibu hamil di
Puskesmas Sei Jang pada tahun 2018 yaitu sebesar 91.2% untuk (K1)
dan 90.9% untuk capaian (K4).
Untuk menurunkan angka kematian ibu hamil melahirkan dan
nifas, Puskesmas Sei Jang telah menganggarkan sejumlah kegiatan
terkait pelayanan kepada ibu nifas terutama ibu nifas berisiko tinggi
berupa pemantauan kesehatan ibu nifas resiko tinggi, pendampingan
rujukan bagi ibu nifas berisiko tinggi serta pemantauan buteki yang
bermasalah terhadap pemberian ASI eksklusif.
Kegiatan pokok program kesehatan ibu hamil, melahirkan dan
nifas di Puskesmas Sei Jang antara lain:
1. Pelayanan dalam gedung
- Pelayanan Antenatal Terpadu
Pelayanan antenatal terpadu adalah pelayanan antenatal
komprehensif dan berkualitas yang diberikan kepada semua ibu
hamil.
Pelayanan antenatal terpadu dan berkualitas secara keseluruhan
meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Memberikan pelayanan dan konseling kesehatan termasuk
gizi agar kehamilan berlangsung sehat;
2. Melakukan deteksi dini masalah, penyakit dan
penyulit/komplikasi kehamilan

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 53


3. Menyiapkan persalinan yang bersih dan aman di fasilitas
kesehatan.
4. Merencanakan antisipasi dan persiapan dini untuk
melakukan rujukan jika terjadi penyulit/komplikasi.
5. Melakukan penatalaksanaan kasus serta rujukan cepat dan
tepat waktu diperlukan.
6. Melibatkan ibu dan keluarganya terutama suami dalam
menjaga kesehatan dan gizi ibu hamil, menyiapkan
persalinan dan kesiagaan bila terjadi penyulit/komplikasi.
7. Memberikan Pelayanan pemeriksaan antenatal yang
berkualitas sesuai standar.

- Pertemuan bulanan Puskesmas, Puskesmas Pembantu,


Poskeskel, Bidan Praktek Swasta (BPS), Klinik dan
Rumah Bersalin (RB).
Pertemuan bulanan ini membahas pencapaian program KIA
dari jejaring Puskesmas dan BPS serta Klinik/Rumah Bersalin.

2. Pelayanan luar gedung


Dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada ibu hamil,
melahirkan dan nifas Puskesmas Sei Jang dibantu oleh bidan yang
bertugas di POSKESKEL (Pos Kesehatan Kelurahan), bidan yang
berada di masing-masing Puskesmas Pembantu serta BPS(Bidan
Praktek Swasta), Klinik/Rumah Bersalin. Untuk melengkapai Ante
Natal Care yang komprehensif, kiranya perlu ada kerjasama yang
baik antara Puskesamas Sei Jang , Bidan POSKESKEL dan BPS serta
Klinik/RB.
Kegiatan yang dilakukan oleh bidan Poskeskel dan Puskesmas
Pembantu antara lain:
1. Pemeriksaan Ibu hamil :
Pemeriksaan ibu hamil (ANC) dapat dilakukan di rumah atau di
POSKESKEL dan PUSTU.
2. Kunjungan Ibu Nifas.
Pelayanan Ibu nifas dilakukan di rumah atau di POSKESKEL dan
PUSTU.
Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 54
3. Penjaringan ibu hamil resiko tinggi.
Penjaringan ibu hamil resiko tinggi dapat diperoleh dari
masyarakat, kader atau ditemukan pada saat turun ke lapangan.
4. Penjaringan ibu nifas resiko tinggi.
Penjaringan ibu nifas resiko tinggi dapat diperoleh dari
masyarakat, kader atau ditemukan pada saat turun ke lapangan
5. Kunjungan Ibu hamil resiko tinggi.
Kunjungan ibu hamil resiko tinggi dilakukan di rumah, dan
ditindaklanjuti dengan rujukan serta konseling .
6. Kunjungan ibu nifas resiko tinggi
Kunjungan ibu nifas resiko tinggi dilakukan di rumah, dan
ditindaklanjuti dengan rujukan serta konseling .
7. Pendampingan ibu hamil resti pada setiap rujukan.
Ibu hamil yang beresiko tinggi didampingi oleh Bidan Poskeskel
pada saat rujukan ke Puskesmas, sedangkan ibu hamil resiko
tinggi yang dirujuk ke klinik bersalin/RS selalu didampingi oleh
Bidan Koordinator dan Bidan Poskeskel.
8. Pendampingan ibu nifas resti pada setiap rujukan.
Ibu nifas yang beresiko tinggi didampingi oleh Bidan Poskeskel
pada saat rujukan ke Puskesmas, sedangkan ibu nifas resiko
tinggi yang dirujuk ke klinik bersalin/RS selalu didampingi oleh
Bidan Koordinator dan Bidan Poskeskel.

9. Konsultasi via HP untuk Ibu hamil/ibu nifas resiko tinggi setiap


saat kepada bidan kelurahan/bidan koordinator.
Apabila mempunyai keluhan Ibu hamil dan ibu nifas yang
beresiko tinggi dapat setiap saat melakukan konsultasi kepada
bidan POSKESKEL atau bidan koordinator. Bidan POSKESKEL atau
bidan koordinator akan menindaklanjuti sesuai dengan keluhan
yang diterima.
10. Kelas Ibu hamil.
Kelas Ibu hamil dilaksanakan oleh bidan POSKESKEL atau bidan
koordinator di masing-masing kelurahan setiap bulannya. Kelas

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 55


ibu hamil ini dilakukan sebagai upaya agar ibu hamil mendapat
pengetahuan tentang kesehatan ibu hamil.
11. Penyuluhan pada kelompok –kelompok tertentu.
Penyuluhan ini dilakukan pada kelompok arisan, dasawisma atau
kelompok lainnnya, isi materi disesuaikan dengan kebutuhan
masing-masing kelompok.
12. Pelayanan langsung pada ibu yang menghadapai masalah baik
dalam kehamilan, persalinan dan nifas yang bersifat emergency
di wilayah Puskesmas Sei Jang.

Pendampingan Ibu Melahirkan Resiko Tinggi di RSUD Kota Tanjungpinang

Bentuk kerjasama antara Puskesmas Sei Jang dan BPS/Klinik


Swasta di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Jang antara lain:
1. Dokter kandungan yang memilik Klinik Bersalin mempersilahkan
Bidan Poskeskel untuk ikut mendampingi ibu hamil resiko tinggi
pada saat melakukan pemeriksaan dan konsultasi di ruang
periksa klinik.
2. Ibu hamil, melahirkan dan nifas yang beresiko rendah dan
sedang mendapatkan pelayanan dengan kolaborasi antara Bidan
Praktek Swasta ,Puskesmas dan Bidan Kelurahan. Kolaborasi
dalam bentuk saling memberikan informasi tentang pelayanan
yang diberikan dan perkembangan terkini kasus ibu hamil.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 56


3. BPS dan Klinik/Rumah Bersalin membantu dalam penerapan
program Kementerian Kesehatan, diantarnya :
- Pendistribusian buku KIA
- Inisiasi Menyusui Dini
- Screening HIV
- Pemeriksaan Laboratorium Sesuai Kebutuhan
- Vitamin A Dosis Tinggi bagi Ibu Nifas
- Suntikan K1 dan HB 0 bagi Bayi Baru Lahir
- Pemberian Tablet Fe 90 Tablet
4. Setiap bulan BPS/Klinik Bersalin mengirimkan laporan ke
Puskesmas Sei Jang.
5. Puskesmas melakukan monitoring kepada BPS/Klinik Bersalin
Monitoring dilakukan untuk mengevaluasi penerapan program
KIA dilaksanakan di BPS/Klinik Rumah Bersalin
6. Pertemuan bulanan dengan bidan POSKESKEL ,BPS dan Klinik
Bersalin.
Pertemuan ini membahas tentang pelaporan, penerapan program
KIA dan masalah-masalah lain.

4.1.1.2 Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan


Kompetensi Kebidanan (Pn).
Persalinan ditolong tenaga kesehatan adalah persalinan yang
ditolong oleh bidan, dokter, dan tenaga para medis lainnya. Pola
penyebab kematian pada saat ini menunjukkan bahwa pelayanan
obstetrik dan neonatal darurat serta pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan terlatih menjadi sangat penting dalam penurunan angka
kematian ibu. Walaupun sebagian besar perempuan bersalin di rumah,
tenaga terlatih dapat membantu mengenali kegawatan medis dan
membantu keluarga untuk mencari perawatan darurat.
Pada saat ini resiko kematian ibu diperparah oleh adanya anemia
dan penyakit menular seperti malaria, tuberculosis, hepatitis, dan
HIV/AIDS. Anemia pada ibu hamil mempunyai dampak kesehatan
terhadap ibu dan anak di dalam kandungan, meningkatkan resiko
keguguran, kelahiran premature, BBLR, serta sering menyebabkan
kematian ibu dan bayi baru lahir. Tingkat sosial ekonomi, tingkat
Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 57
pendidikan, faktor budaya, dan akses terhadap sarana kesehatan dan
transportasi juga berkontibusi secara tidak langsung terhadap kematian
dan kesakitan ibu. Hal ini dapat menyebabkan terlambatnya deteksi
bahaya dini selama kehamilan, persalinan, dan nifas, serta dalam
mengambil keputusan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ibu dan
neonatal, terlambat merujuk ke fasilitas kesehatan karena kondisi
geografis dan sulitnya transportasi, dan terlambat mendapatkan
pelayanan kesehatan yang memadai di tempat rujukan.
Pada tahun 2018, capaian persalinan yang ditolong oleh tenaga
kesehatan di wilayah kerja Puskesmas mengalami penurunan jika
dibandingkan dengan tahun 2017 yaitu sebesar 97.25% dan pada tahun
2018 capaian pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di wilayah
kerja Puskesmas Sei Jang menjadi 94.7% dari total ibu hamil yang
melahirkan sebanyak 842 orang. Disebabkan hal tersebut perlu
diupayakan kegiatan edukasi kepada ibu hamil terkait pentingnya
persalinan aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, serta perlu
dilakukan monitoring dan evaluasi terkait masih adanya beberapa klinik
bersalin atau BPS yang belum menyampaikan laporan secara lengkap
yang memungkinkan terjadinya ketidakakuratan data. Namun bisa
dipastikan untuk wilayah kerja Puskesmas Sei Jang tidak ada lagi
persalinan yang dilakukan oleh Dukun. Selain itu, tingginya kesadaran
ibu hamil dalam mempersiapkan masa kehamilan dan persalinan
terutama dalam hal memilih tenaga kesehatan yang kompeten dalam
menangani persalinannya sudah sangat baik, dimana dalam setiap
kegiatan kelas ibu hamil, tenaga kesehatan di Puskesmas Sei Jang terus
berupaya memberikan pemahaman berupa penyuluhan kepada setiap
ibu hamil akan pentingnya peranan tenaga kesehatan dalam
memberikan pelayanan kesehatan selama proses kehamilan dan
persalinan.
Rincian capaian target di wilayah kerja Puskesmas Sei Jang dapat
dilihat pada lampiran tabel 29.
Tabel 9. CAKUPAN KEGIATAN KESEHATAN PERSALINAN
DAN PERINATAL TAHUN 2018

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 58


DITA-
NGANI
No. JENIS KEGIATAN KASUS PUSKES RUJU- JUMLAH
DITE- MAS/BP KAN KEMATIAN
MUKAN S/KLIN
IK/RB
1 Maternal /Ibu
- KPD 29 20 9 0
- Partus Tak Maju 15 1 14 0
- Eklamsi / Pre- 18 9 9 0
Eklamsi
- Plasenta Previa 10 1 9 0
- Gemelli 0 0 0 0
- CPD / Panggul 5 0 5 0
Sempit
- Serotinus 13 11 2 0
- IUFD 0 0 0 0
- Suspect HIV 1 0 1 0
- KET 0 0 0 0
- Solusio Placenta 4 0 4 0
- Bekas Sectio 47 0 47 0
- Perdarahan 7 0 7 0
Pervaginam
- Sungsang 4 1 3 0
- Retensio placenta 4 4 0 0
- 4T 43 40 3 0
- Lilitan Tali pusat 3 3 0 0
- KEK 3 3 0 0
- Lain-Lain 0 0 0 0
2 Bayi Baru Lahir
- BBLR 0 0 0 0
- Asfiksia 0 0 0 0
- Ikterik 0 0 0 0
- Lain-Lain 0 0 0 0

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 59


Grafik 14. CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN DITOLONG
OLEH TENAGA KESEHATAN
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG

2000 1826 1815


1744
1800 1658
1600 1418
1322
1400
1200 Jumlah Ibu Hamil
936 872 882
1000 792 848 797
800 Persalinan ditolong
600 Nakes
400
200
0
2013 2014 2015 2016 2017 2018

4.1.1.3 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas (KF3)


Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai
standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 jam pasca bersalin oleh tenaga
kesehatan. Untuk memantau deteksi dini komplikasi pada ibu nifas
diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan
melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan ketentuan
waktu sebagai berikut :
 Kunjungan nifas pertama (KF1) pada masa 6 jam sampai
dengan 3 hari setelah persalinan.
 Kunjungan nifas kedua (KF2) dalam waktu 2 minggu
setelah persalinan ( 8 – 14 hari ).
 Kunjungan nifas ketiga dalam waktu 6 minggu setelah
persalinan ( 36 – 42 hari ).

Adapun pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberi adalah


pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi, suhu, pemeriksaan tinggi
fundus uteri (involusi uterus), pemeriksaan lokhia dan pengeluaran
pervaginam lainnya, pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif
selama 6 bulan, pemberian kapsul vitamin A 200.000 IU sebanyak 2 kali
(pertama setelah melahirkan, dan kedua setelah 24 jam dari pemberian
kapsul pertama), dan pelayanan KB pasca persalinan.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 60


Capaian pelayanan pada ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Sei
Jang masih berada di bawah target nasional sebesar 97%, dimana
capaian pelayanan pada ibu nifas pada tahun 2018 hanya sebesar
94.7%. Diharapkan ditahun-tahun selanjutnya petugas terkait
Puskesmas Sei Jang terus menggalakkan sosialisasi terkait kesehatan ibu
sebelum, pada saat, dan pasca kehamilan. Peranan bidan di setiap
kelurahan juga diharapkan mampu memberikan kontribusi di dalam
memantau proses kehamilan, persalinan hingga pelayanan selama masa
nifas di wilayah kerja masing-masing. Adapun salah satu pelayanan
yang diberikan pada ibu nifas adalah pemberian Vitamin A. Vitamin A
merupakan suplementasi yang diberikan pada ibu menyusui selama
masa nifas yang memiliki manfaat penting bagi ibu dan bayi yang
disusuinya. Vitamin A berfungsi dalam system penglihatan, fungsi
pembentukan kekebalan dan fungsi reproduksi. Pemberian kapsul
Vitamin A bagi ibu nifas dapat menaikkan jumlah kandungan Vitamin A
dalam ASI, sehingga pemberian kapsul Vitamin A (200.000 unit) pada
ibu nifas sangatlah penting.
Pada ibu menyusui berisiko mengalami kekurangan vitamin A
(KVA) karena pada masa tersebut ibu membutuhkan vitamin A yang
tinggi untuk produksi ASI bagi bayinya. Status gizi dan kesehatan pada
ibu hamil sangatlah penting, karena sering kali status gizi pada ibu
menyusui terabaikan terlebih pada keluarga yang ekonominya
menengah kebawah, hal ini menujukkan bahwa KVA merupakan
masalah potensial bagi ibu serta bayi yang disusuinya. Pada Tahun 2018
capaian ibu nifas yang mendapatkan Vitamin A adalah sebesar 94.7%
atau 797 orang dari total ibu bersalin/nifas sebanyak 842 orang.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 61


Grafik 15. CAKUPAN PELAYANAN IBU NIFAS
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG

2000
1800
1600
1400
1200
1000
Jumlah Ibu Nifas
800
600 Yankes Nifas
400 Vit.A Nifas
200
0
2013 2014 2015 2016 2017 2018
Jumlah Ibu Nifas 1662 1735 1356 792 872 842
Yankes Nifas 1799 1653 1233 783 835 797
Vit.A Nifas 1799 1626 1233 790 858 797

4.1.1.4 Penanganan Komplikasi Obstetri dan Neonatal


Penanganan komplikasi kebidanan adalah pelayanan kepada ibu
dengan komplikasi kebidanan untuk mendapat penanganan definitive
sesuai standar oleh tenaga kesehatan kompeten pada tingkat pelayanan
dasar dan rujukan. Diperkirakan sekitar 15-20% ibu hamil akan
mengalami komplikasi kebidanan. Komplikasi dalam kehamilan dan
persalinan tidak selalu dapat diduga sebelumnya. Oleh karenanya semua
persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan agar komplikasi
kebidanan dapat segera dideteksi dan ditangani. Untuk meningkatkan
cakupan dan kualitas penanganan komplikasi kebidanan maka
diperlukan adanya fasilitas pelayanan kesehatan yang memberikan
pelayanan obstetric dan neonatal emergensi secara berjenjang mulai
dari bidan, puskesmas mampu PONED sampai rumah sakit PONEK 24
Jam.
Adapun pelayanan medis yang dapat dilakukan di Puskesmas
mampu PONED meliputi :
 Pelayanan obstetric, yaitu penanganan pendarahan pada
kehamilan, persalinan dan nifas, pencegahan dan

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 62


penanganan hipertensi dalam kehamilan (pre-eklamsi dan
eklampsi), pencegahan dan penanganan infeksi,
penanganan partus lama/macet, penanganan abortus,
stabilisasi komplikasi obstetric untuk dirujuk.
 Pelayanan neonatus, yaitu pencegahan dan penanganan
asfiksia, hipotermia, BBLR, infeksi neonates, kejang
neonates, ikterus ringan – sedang, gangguan minum,
stabilisasi komplikasi neonates untuk dirujuk.

Meskipun Puskesmas Sei Jang bukan merupakan Puskesmas


PONED, namun di wilayah kerja Puskesmas Sei Jang terdapat beberapa
klinik bersalin. Cakupan penanganan komplikasi kebidanan pada tahun
2018 di Puskesmas adalah sebesar 121 % dari total perkiraan ibu hamil
dengan komplikasi sebanyak 176 orang, dengan rincian 213 orang ibu
hamil tertangani dari total jumlah ibu hamil dengan resiko tinggi yang
ada di wilayah kerja Puskesmas Sei Jang.
Sedangkan untuk cakupan penanganan neonatal komplikasi yang
dilaporkan adalah sebesar 84% dari total perkiraan neonatal resiko
tinggi yaitu 120 kasus.
Grafik 16. CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI NEONATAL
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG

140
125.3
121
117.7
120 112.5 114

100
100
84.4 85.3 84.3

80 Penanganan
64.2 Komplikasi Kebidanan
60 Penanganan
43.5 44.4 Komplikasi Neonatal
40

20

0
2013 2014 2015 2016 2017 2018

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 63


4.1.1.5 Kunjungan Neonatal
Pelayanan kesehatan neonatus adalah pelayanan kesehatan
sesuai standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang berkompeten
kepada neonatus sedikitnya 3 kali, selama periode 0 – 28 hari setelah
lahir, baik di fasilitas kesehatan maupun melalui kunjungan rumah.
Kunjungan neonatal bertujuan untuk meningkatkan akses neonates
terhadap pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin bila
terdapat kelalaian/masalah kesehatan pada neonatus. Risiko terbesar
kematian neonatus terjadi pada 24 jam pertama kehidupan, minggu
pertama dan bulan pertama kehidupannya. Pelayanan kesehatan
neonatal dasar dilakukan secara komprehensif dengan melakukan
pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir dan pemeriksaan
menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM)
untuk memastikan bayi dalam keadaan sehat, meliputi :
 Pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir
Yaitu perawatan tali pusat, pelaksanaan ASI eksklusif,
memastikan bayi telah diberi injeksi vitamin K1 dan salep
mata antibiotic, dan pemberian imunisasi Hepatitis B-0.

Kunjungan Perawatan Bayi Baru Lahir di Wilayah Kerja


Puskesmas Sei Jang

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 64


 Pemeriksaan menggunakan pendekatan MTBM
Yaitu pemeriksaan tanda bahaya (kemungkinan infeksi
bakteri, ikterus, diare, berat badan rendah, dan masalah
pemberian ASI), pemberian imunisasi Hepatitis B0 bila
belum diberikan pada waktu perawatan bayi baru lahir,
konseling terhadap ibu dan keluarga untuk memberikan
ASI Eksklusif, pencegahan hipotermi dan melaksanakan
perawatan bayi baru lahir, dan penanganan serta rujukan
kasus bila diperlukan.
Adapun pelaksanaan pelayanan kesehatan neonatus adalah;
Kunjungan Neonatal ke-1 (KN1) dilakukan pada kurun waktu 6-48 jam
setelah lahir; Kunjungan Neonatal ke-2 (KN2) dilakukan pada kurun
waktu hari ke-3 sampai dengan hari ke-7 setelah lahir; Kunjungan
Neonatal ke-3 (KN3) dilakukan pada kurun waktu hari ke-8 sampai
dengan hari ke-28 setelah lahir.
Kunjungan Neonatal bertujuan untuk meningkatkan akses
neonatus terhadap pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini
mungkin apabila terdapat kelainan pada bayi atau mengalami masalah.
Di Tahun 2018, cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1) di
Puskesmas Sei Jang adalah sebesar 100.8%, dan cakupan KN Lengkap
(3 Kali) adalah sebesar 90.8%. Tercapainya target nasional angka
cakupan KN1 dan KN Lengkap sebesar 100% dan 90% menunjukkan
tingginya kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan selama
proses kehamilan sampai dengan proses kelahiran, juga terkait
kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang terkait budaya atau
mitos-mitos telah disaring dengan baik apakah yang dilakukan baik atau
buruk, serta telah meratanya akses pelayanan kesehatan di wilayah
kerja Puskesmas Sei Jang sehingga setiap ibu dan bayinya tidak lagi
mengalami kendala dalam melakukan pemeriksaan kesehatan pasca
melahirkan.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 65


Grafik 17. CAKUPAN KN1 & KN LENGKAP
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG

2000
1800
1600
1400
1200
1000
Jumlah Bayi
800
600 KN1
400 KN Lengkap
200
0
2013 2014 2015 2016 2017 2018
Jumlah Bayi 1793 1654 1292 792 845 790
KN1 1793 1651 1290 792 845 796
KN Lengkap 1773 1646 1278 749 829 717

4.1.1.6. Pelayanan IVA dan SADANIS

Pelayanan IVA (Infeksi visual asam asetat) dan SADANIS (Pemeriksaan


Payudara oleh Tenaga Medis) adalah Pelayanan yang diberikan kepada Wanita
Usia Subur untuk mendeteksi kemungkinan adanya gejala kanker cervik dan
payudara dengan cara sederhana, murah dan akurat.

Pelayanan IVA dan SADANIS di Puskesmas Sei Jang sudah dimulai pada
bulan Juli 2016 sampai dengan sekarang. Pelayanan ini dilakukan di dalam
gedung dan luar gedung puskesmas. Untuk menjaring WUS agar mau
memeriksakan diri, petugas bekerjasama dengan beberapa instansi terkait.
Penyelenggaraan pelayanan disejalankan dengan kegiatan-kegiatan lainnya
yang sedang ada diwilayah masyarakat tersebut.

Tindak lanjut hasil pemeriksaan, bagi yang positif IVA atau SADANIS ,
dirujuk ke RSUP Prop. Kepri, dan dipantau oleh Bidan Kelurahan.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 66


Hasil Pelayanan IVA dan SADANIS di wilayah kerja Puskesmas Sei Jang
tahun 2016-2017, sbb:

Tabel 10. HASIL PELAYANAN IVA DAN SADANIS DI WILAYAH


KERJA PUSKESMAS SEI JANG

JUMLAH
NO TAHUN PELAYANAN IVA CA SADANIS (+) CA
IVA & POSITIF CERVIK POSITIF MAMAE
SADANIS
1 2016 85 1 0 0 0
(Juli-Des)

2 2017 588 7 2 3 1

3 2018 620 3 2 0 2

4.1.1.7 Pelayanan Kesehatan Pada Bayi


Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai
standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan kepada bayi sedikitnya 4
kali, selama periode 29 hari sampai dengan 11 bulan setelah lahir, yaitu
1 kali pada umur 29 hari – 2 bulan, 1 kali pada umur 3 – 5 bulan, 1 kali
pada umur 6 – 8 bulan, 1 kali pada umur 9 – 11 bulan.
Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi pemberian imunisasi
dasar (BCG, DPT HB1-3, Polio 1-4, dan Campak), stimulasi deteksi
intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) bayi, dan penyuluhan
perawatan kesehatan bayi. Indikator ini merupakan penilaian terhadap
upaya peningkatan akses bayi memperoleh pelayanan kesehatan dasar,
mengetahui sedini mungkin adanya kelainan atau penyakit,
pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit serta peningkatan
kualitas hidup bayi.
Pada tahun 2017 cakupan pelayanan kesehatan bayi sebesar
90.5% dari total jumlah bayi sebanyak 871 orang. Adapun Target
Nasional cakupan kunjungan bayi adalah 90%.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 67


Grafik 18. CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG

1800 1662 1654


1600

1400 1292

1200
1013 1020
1000 871 Jumlah Bayi
792 788 801
800 706
651 661 Pelayanan Kesehatan
Bayi
600

400

200

0
2013 2014 2015 2016 2017 2018

4.1.1.7 Pelayanan Kesehatan pada Balita


Pelayanan kesehatan anak balita adalah
pelayanan di bidang kesehatan yang
menyangkut anak balita yang berusia 12-59
bulan, meliputi pemeriksaan kesehatan anak
balita secara berkala (pemantauan tumbuh
kembang untuk meningkatkan kualitas tumbuh
kembang anak melalui deteksi dini dan
Dismarina, SST
Pengelola Prog. MTBS stimulasi tumbuh
kembang), penyuluhan pada orang tua (kebersihan anak, perawatan
gigi, perbaikan gizi, kesehatan lingkungan, pendidikan seksual sejak
balita, perawatan anak sakit, menstimulasi perkembangan anak),
imunisasi dan upaya pencegahan penyakit, pemberian vitamin A (2 kali
dalam setahun), dan identifikasi tanda kelainan dan penyakit serta cara
penanggulangannya.
Pemantauan pertumbuhan dilakukan melalui penimbangan berat
badan, pengukuruan tinggi badan di Posyandu, Puskesmas dan Rumah
Sakit, Bidan Praktik Swasta serta sarana/fasilitas kesehatan lainnya.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 68


Pemantauan perkembangan dapat dilakukan melalui SDIDTK (Stimulasi
Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang) oleh petugas kesehatan.
Pemberian Vitamin A dilaksanakan oleh petugas kesehatan di sarana
kesehatan.
Pada tahun 2018, cakupan anak balita (12-59 bulan) yang
mendapatkan pelayanan kesehatan (minimal 8 kali) adalah 74.8% dari
total 3.569 anak balita. Cakupan pelayanan kesehatan anak balita di
Puskesmas Sei Jang dapat dilihat pada lampiran tabel 46.

Kegiatan Deteksi Dini Tumbuh Kembang pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Jang

Tabel 11. KEGIATAN LUAR GEDUNG PROGRAM KESEHATAN IBU


DAN ANAK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG

Kegiatan Sasaran Keterangan

I. Kelas Ibu Hamil . 216 orang ibu 1. Jumlah kelompok ada 24, satu
hamil kelompok beranggotakan 9 orang
ibu hamil.
2. Satu kelompok mengikuti 4 kali
pertemuan.
3. Satu kelurahan memiliki 2-3
kelompok. Jadwal kelas ibu hamil
ditentukan oleh masing-masing
bidan kelurahan.

II. Pemantauan Ibu 330 orang ibu 1. Setiap ibu hamil resiko tinggi

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 69


Hamil Resiko hamil resti yang telah terdata dilakukan
Tinggi. kunjungan kerumah. Frekwensi
kunjungan tergantung kategori
resiko.
2. Bagi ibu hamil yang beresiko
sangat tinggi dilakukan
pendampingan saat
konsultasi/rujukan ke faskes
Klinik atau Rumah sakit.

III. Pemantauan Ibu 110 orang ibu 1. Setiap ibu nifas resiko tinggi yang
Nifas. nifas resiko telah terdata dilakukan kunjungan
tinggi kerumah. Frekwensi kunjungan
tergantung kategori resiko.
2. Bagi ibu nifas yang berresiko
tinggi akan dilakukan
pendampingan oleh bidan saat
konsultasi/rujukan ke faskes
Klinik atau Rumah sakit.

IV. Pendampingan 10 kali Pelayanan pendampingan ibu


Ibu bersalin yang bersalin yang beresiko ditujukan
beresiko kepada ibu hamil yang beresiko saat
akan bersalin. Bertujuan mengurangi,
mencegah komplikasi tambahan,
akibat kesalahan penanganan saat
merujuk.

V. Penyuluhan 16 kali Penyuluhan kesehatan ibu


Kesehatan Ibu. dilaksanakan disetiap kelurahan
sebanyak 4 kali dalam setahun. Isi
materi diantaranya tentang
kesehatan ibu, KB, penyakit-penyakit
kewanitaan dan kesehatan anak.

VI. Kunjungan 16 kali. Kunjungan rumah kepada WUS yang


Rumah Ibu drop DO KB. Tujuannya untuk
out (DO) KB meningkatkan pelayanan KB aktif
dan mencegah WUS yang beresiko
untuk hamil kembali.

VII. Monitoring 12 kali Dilaksanakan setiap 3 bulan sekali .


dan Evaluasi
POSKESKEL,
PUSTU dan
BPS/Klinik
3 kali Pembahasan rapat :
VIII. Rapat bulanan 1. Penyampian program KIA.
dengan BPS 2. ANC, INC, PNC terpadu.
Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 70
3. dll

Pelaksanaan SDIDTK dilakukan 2 kali setahun di TK/PAUD pada


bulan Februari dan Agustus bersamaan dengan pemberian Vitamin A.
Sedangkan di posyandu juga dilaksanakan 2x setahun namun jadwal
dibuat menyesuaikan dengan kondisi dilapangan. SDIDTK selain
dilaksanakan pada balita di Posyandu dan TK/PAUD juga dilaksanakan di
beberapa Panti Asuhan yaitu: 1. Al Ghozi, 2. Nurul Hikmah dan 3. Ummi
Alfitrah. Dari hasil pemeriksaan SDIDTK ditemukan beberapa anak yang
bermasalah dalam tumbuh kembang dan harus dirujuk ke RSUD Raja
Ahmad Thabib. Berikut grafik bayi, balita dan apras yang normal
dibandingkan dengan yang bermasalah dari hasil kegiatan SDIDTK.

Grafik 19. GRAFIK BAYI, BALITA DAN APRAS YANG NORMAL


DIBANDINGKAN DENGAN YANG BERMASALAH DARI HASIL KEGIATAN
SDIDTK

993
1000 Bayi Bermasalah
900 Bayi Normal
678 Balita Bermasalah
800
293 582 Balita Normal
700 265 Apras Bermasalah
600 193
500 6 1 53
328 2 1
400 181
300 10 210 8
10 2
200 182
100 3 7 56
0 3
0
Kelurahan
Kelurahan
Sei Jang Kelurahan
TAS Kelurahan
TPI Timur
Dompak

Kegiatan kelas ibu balita pada tahun 2018 telah dilaksanakan pada
setiap Kelurahan. Terdapat 4 kelompok kelas ibu balita, dimana setiap
kelompok terdiri dari 8 orang peserta yang merupakan ibu balita. Setiap
kelas akan ada 2 kali pertemuan yang berlangsung lebih kurang 2 jam
perharinya. Total peserta kelas ibu balita berjumlah 32 orang. Kelas ibu
balita dipilih berdasar kelompok umur balitanya agar memudahkan

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 71


petugas memberikan materi. Terdapat 2 kategori kelas ibu balita yaitu
kategori balita usia 1 s/d 2 tahun dan kategori balita usia 2-5 tahun.

Materi yang disampaikan terdiri dari:


1. Tumbuh kembang balita
2. Gizi seimbang
3. Perawatan gigi
4. Penyakit pada anak

Kelas Ibu balita dilaksanakan di Posyandu atau di rumah RT yang


memungkinkan untuk berkumpul dan disepakati bersama. Kegiatan kelas
Ibu balita biasanya berlangsung selama 2 (dua) jam dengan jumlah
petugas tetap 2 (dua) orang bidan. Untuk tenaga pemateri biasanya
melibatkan dokter umum, dokter gigi dan petugas gizi sesuai jadwal
materi.

Kegiatan Deteksi Dini dan Stimulasi Tumbuh Kembang di Posyandu

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 72


Kegiatan Deteksi Dini dan Stimulasi Tumbuh Kembang Pada Anak Usia Pra Sekolah

4.1.1.8 Pelayanan Kesehatan Pada Siswa SD dan Setingkat


Anak usia sekolah merupakan asset atau modal
utama pembangunan dimasa depan yang perlu
jaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya.
Promosi kesehatan di sekolah adalah suatu upaya
menciptakan sekolah menjadi komunitas yang
mampu meningkatkan derajat kesehatan melalui
penciptaan lingkungan yan sehat, pemeliharaan
Maretha Hasian, SKM dan pelayanan kesehatan di sekolah (pemeriksaan
Pengelola Prog. UKS

kesehatan gizi, gigi, kecacingan dan kelainan refraksi/ketajaman


penglihatan), serta upaya pendidikan kesehatan yang
berkesinambungan (penyuluhan kesehatan).
Penyuluhan kesehatan lebih pada upaya mengubah perilaku
sasaran agar berperilaku sehat terutama pada aspek kognitif
(pengetahuan dan pemahaman sasaran), sehingga pengetahuan sasaran
penyuluhan telah sesuai dengan yang diharapkan oleh penyuluh
kesehatan maka penyuluhan berikutnya akan dijalankan sesuai dengan
program yang telah direncanakan.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 73


Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang
dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan,
sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga
mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan
kesehatan. Sasaran penyuluhan kesehatan adalah seluruh masyarakat
baik perorangan maupun kelompok masyarakat.
Penyuluhan Kesehatan bertujuan untuk :
a. Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan
masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku hidup
sehat dan lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam
upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
b. Terbentuknya perilaku sehat pada individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat yang sesuai dengan konsep
hidup sehat baik fisik, mental dan sosial sehingga dapat
menurunkan angka kesakitan dan kematian.
Penyuluhan kesehatan juga merupakan salah satu upaya
promotif dalam pelaksanaan program Usaha Kesehatan Sekolah atau
Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKS/UKGS). Tujuan umum UKS/UKGS
adalah tercapainya derajat kesehatan murid-murid yang optimal,
sedangkan tujuan penyuluhan kesehatan dalam program UKS/UKGS
agar murid mempunyai kemampuan dan kebiasaan untuk memelihara
kesehatan secara benar baik dalam pengetahuan, sikap, maupun
tindakan.
Kegiatan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat yang dilaksanakan
sepanjang tahun 2018 adalah kegiatan yang bersifat promotif dan
kuratif, diantaranya :
a. Penyuluhan perorangan
Penyuluhan perorangan merupakan kegiatan penyuluhan yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan kepada individu yang mendapatkan
pelayanan kesehatan di Puskesmas Sei Jang ataupun jajarannya.
b. Penyuluhan Kelompok
Merupakan kegiatan penyuluhan yang dilakukan pada kelompok
masyarakat yang berada di wilayah kerja Puskesmas Sei Jang,
seperti Penyuluhan di Majelis Taqlim, Sekolah, Arisan PKK, Arisan
RT/RW, Kelompok Potensial dan Pos UKK. Kegiatan ini menggunakan
Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 74
anggaran Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Puskesmas
Sei Jang dan APBD Kota Tanjungpinang melalui DPA Dinas
Kesehatan Kota Tanjungpinang.

Penyuluhan Kesehatan Gigi di Sekolah Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Jang

Penyuluhan CTPS di SD Pelita Nusantara Kota Tanjungpinang

c. Penyuluhan Melalui Media Massa


Penyuluhan ini merupakan penyebaran informasi melalui media
massa kepada masyarakat seperti media cetak (leaflet, poster,
banner dan spanduk) dan media elektronik (radio interaktif, iklan
masyarakat di televisi dan pemutaran film). Penyebaran informasi
melalui media massa ini dibebankan kepada APBD Kota
Tanjungpinang melalui DPA Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang
serta APBD Provinsi Kepri melalui Dinas Kesehatan Provinsi Kepri.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 75


Kegiatan yang dilakukan Program UKS/UKGS antara lain :
a. Pembinaan usia sekolah, UKS/Dokter Kecil
b. Penjaringan kesehatan peserta didik baru kelas 1 SD/MI, 7
SMP/MTs, DAN 10 SMA/MA &SMK.
c. Pemeriksaan Berkala untuk siswa Kelas 2 dan 3 Tingkat SD/MI;
d. Penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut serta Sikat Gigi Massal
dengan sasaran siswa Kelas 1 SD/MI;
e. Pemeriksaan Visus Mata.
f. Penyuluhan PHBS dengan sasaran siswa Kelas 5 tingkat SD/MI;
g. Penyuluhan Pra Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) dengan
sasaran orang tua siswa kelas 1 Tingkat SD/MI;
h. Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) dengan siswa kelas 1
sampai dengan 3 tingkat SD/MI;
i. Pembinaan UKS
j. Pembinaan Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)
untuk SMA/MA/SMK;
k. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dengan sasaran siswa kelas 1
sampai dengan 6 tingkat SD/MI.
l. Penyuluhan Tablet Tambah Darah.
m. Pemeriksaan Anemia pada remaja puteri.
n. Pemberian Tablet Tambah Darah bagi remaja puteri.

Grafik 20. PERBANDINGAN CAKUPAN PENJARINGAN SISWA SD


& SETINGKAT DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS SEI JANG

1600
1358
1400 1276
1222 1181
1200 1047
999 983 952
938 912 918 Jumlah Murid
1000 886

800
600 Mendapat Pelayanan
(Penjaringan
400 Kesehatan)
200
0
2013 2014 2015 2016 2017 2018

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 76


Pemeriksaan Berkala Murid SD

Penyuluhan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)

4.1.2 Pelayanan Keluarga Berencana


Keluarga adalah unit terkecil dalam
masyarakat yang terdiri dari suami, istri, dan
anaknya. Keluarga mempunyai fungsi sebagai fungsi
agama, fungsi sosial budaya, fungsi perlindungan,
fungsi cinta kasih, fungsi sosialisasi dan pendidikan,
fungsi ekonomi, fungsi lingkungan, dan fungsi
Binti Purwanti, A.Md.Keb
Pengelola Prog. KB
reproduksi.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 77


Keluarga sebagai fungsi reproduksi artinya dengan berkeluarga diharapkan
dapat terlahir keturunan (anak ) sebagai pewaris/ penerus keluarga
Keluarga Berencana adalah program nasional yang bertujuan
meningkatkan derajat kesehatan, kesejahteraan ibu, anak dan keluarga
khususnya, serta bangsa pada umumnya. Salah satu caranya dengan
membatasi dan menjarangkan kehamilan. Keberhasilan program Keluarga
Berencana merupakan salah satu upaya untuk menurunkan AKI, sehingga
perlu didukung dengan pemberian pelayanan Keluarga Berencana yang bermutu
dan berkualitas. Cara yang sesuai adalah dengan metode konseling sebelum
klien memutuskan metode kontrasepsi yang digunakan. Cakupan pemakaian
kontrasepsi sudah cukup tinggi,meskipun sebagian besar memilih metode
kontrasepsi jangka pendek. Dalam membantu klien untuk memilih metode
kontrasepsi yang sesuai dengan kebutuhan klien, sangat tergantung dari
konseling dari petugas kesehatan. Selanjutnya dengan informasi yang lengkap
dan cukup akan memberikan keleluasaan pada klien untuk memutuskan metode
kontrasepsi yang akan digunakannya.
Manfaat yang didapat dengan mengikuti program keluarga berencana
antara lain:
1. Menekan angka kematian akibat berbagai masalah yang yang melingkupi
kehamilan persalinan, dan aborsi yang tidak aman.
2. Mencegah kehamilan terlalu dini (tubuhnya belum sepenuhnya tumbuh,
belum cukup matang, dan siap untuk dilewati oleh bayi).
3. Mencegah kehamilan di usia tua. Perempuan yang usianya sudah terlalu tua
untuk mengandung dan melahirkan terancam banyak bahaya.Khususnya
bila ada problama lain, atau sudah terlalu sering hamil dan melahirkan.
4. Menjarangkan kehamilan. Kehamilan dan persalinan menuntut banyak
energi dan kekuatan tubuh perempuan. Kalau ia belum pulih dari satu
persalinan tapi sudah hamil lagi, tubuhnya tidak sempat memulihkan
kebugaran, dan berbagai masalah, bahkan juga bahaya kematian.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 78


Tabel 12. JUMLAH AKSEPTOR KB BARU DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS SEI JANG SELAMA TAHUN 2018

KELURAHAN
No. METODE TPI TAS Sei Jang Dompak JUMLAH
Timur
1 PIL 10 8 16 1 35
2 KONDOM 7 6 3 0 16
3 IUD 15 20 34 8 77
4 SUNTIK 26 49 70 26 171
5 IMPLANT 10 15 21 11 57
6 MOW 7 9 7 4 27
7 MOP 0 0 0 0 0
JUMLAH 75 107 151 50 383

Tabel 13. JUMLAH AKSEPTOR KB AKTIF DI WILAYAH KERJA


PUSKESMAS SEI JANG SELAMA TAHUN 2018

REALISASI
KELURAHAN
No. METODE JUMLAH (%)
TPI TAS SEI DOMPAK
TIMUR JANG
1 PIL 139 194 299 79 711 14.0
2 KONDOM 88 35 46 8 177 3.5
3 IUD 95 150 121 30 396 7.8
4 SUNTIK 349 403 560 252 1.564 30.7
5 IMPLANT 54 99 97 74 321 6.3
6 MOW 67 56 60 17 200 3.9
7 MOP 1 1 0 0 2 0.0
JUMLAH 793 938 1.183 457 3.371 66.3

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 79


Grafik 21. PROPORSI KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI
YANG SEDANG DIGUNAKAN TAHUN 2018

396
711 2
200
IUD

321 MOP
MOW
IMPLANT
177 KONDOM
SUNTIK
PIL

1564

Grafik 22. PROPORSI KB BARU MENURUT METODE KONTRASEPSI


YANG DIGUNAKAN DI TAHUN 2018

35
77
IUD
0 MOP
27
MOW
IMPLANT
KONDOM
171
57 SUNTIK
PIL

16

Pada Bulan Oktober 2017 Puskesmas Sei Jang bersama PPLKB


Kecamatan, PKB se Kecamatan Bukit Bestari PKK, Sub PKKBD, Kelompok
Tribina, UPPKS , membentuk kampung KB di Kelurahan Dompak. Kampung KB
adalah satuan wilayah setingkat RW atau dusun yang memiliki kriteria tertentu
dimana terdapat keterpaduan Kependudukan Keluarga Berencana dan
Pembangunan Keluarga (KKBPK) dan pembangunan sektor terkait yang

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 80


dilaksanakan secara sistemik dan sistematis. Kampung KB merupakan inovasi
strategis pemberdayaan masyarakat. Kampung KB bertujuan meningkatkan
kualitas hidup masyarakat si tingkat kampung atau yang setara melalui program
KKBPK serta pembangunan sektor lain dalam rangka mewujudkan keluarga kecil
berkualitas. Pada prinsipnya keberhasilan program KKBPK dapat dilihat dari
terwujudnya keluarga kecil bahagia sejahtera dengan melaksanakan delapan
fungsi keluarga, meliputi: (1) fungsi keagamaan, (2) fungsi sosial budaya, (3)
fungsi cinta kasih, (4) fungsi perlindungan, (5) fungsi reproduksi, (6) fungsi
sosialisasi dan pendidikan, (7) fungsi ekonomi dan (8) fungsi pembinaan
lingkungan. Terdapat beberapa syarat penetapan daerah menjadi kampung KB,
diantaranya: jumlah keluarga miskin diwilayah tersebut diatas rata-rata,
pencapaian KB masih rendah, berada di wilayah pesisir atau nelayan.

Tabel 14. KONDISI RW. 3 KELURAHAN DOMPAK SEBELUM DITETAPKAN


SEBAGAI KAMPUNG KB PADA TAHUN 2017

NO URAIAN JUMLAH

1. Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) 165


2. Jumlah PUS Peserta KB Aktif : 112
a. IUD (I) 10
b. MOW (OW) 2
c. MOP (OP) 0
d. KONDOM (K) 0
e. IMPLANT (IP) 21
f. SUNTIK (S) 60
g. PIL (P) 19

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 81


Tabel 15. KONDISI RW 3 KELURAHAN DOMPAK SETELAH DITETAPKAN
SEBAGAI KAMPUNG KB PADA TAHUN 2017

NO URAIAN JUMLAH

1. Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) 182


2. Jumlah PUS Peserta KB Aktif : 128
a. IUD (I) 12
b. MOW (OW) 2
c. MOP (OP) 0
d. KONDOM (K) 0
e. IMPLANT (IP) 12
f. SUNTIK (S) 71
g. PIL (P) 31

Tabel 16. DATA PUS YANG TIDAK BER-KB DI RW 3 KELURAHAN DOMPAK

RW 3
No. URAIAN RT 1 RT 2 RT 3 JUMLAH

1 TIAL
(tidk ingin anak lagi) 3 3 2 8

2 IAT
(ingin anak lagi) 2 4 2 8

Pelayanan KB Implant Pelayanan Konsultasi KB

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 82


4.1.3 Pelayanan Imunisasi
Bayi dan anak-anak memiliki resiko yang lebih
tinggi terserang penyakit menular yang dapat
mematikan, seperti : Difteri, Tetanus, Hepatitis B,
radang selaput otak, radang paru-paru, dan masih
banyak penyakit lainnya. Untuk itu salah satu
pencegahan yang terbaik dan sangat vital agar
kelompok berisiko ini terlindungi adalah melalui
Sarjono, A.Md
Pengelola Prog.Imunisasi imunisasi.
Pada saat pertama kali kuman (antigen) masuk ke dalam tubuh, maka
sebagai reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibody.
Pada umumnya, reaksi pertama tubuh membentuk antibody tidak terlalu kuat,
karena tubuh belum mempunyai “pengalaman”. Tetapi pada reaksinya yang ke-
2 dan ke-3 dan seterusnya, tubuh sudah mempunyai memori untuk mengenali
antigen tersebut sehingga pembentukan antibody terjadi dalam waktu yang
lebih cepat dan jumlah yang lebih banyak. Itulah sebabnya, pada beberapa jenis
penyakit yang dianggap berbahaya, dilakukan tindakan imunisasi atau vaksinasi.
Hal ini dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar tubuh tidak terjangkit
penyakit tersebut, atau seandainya terkena pun, tidak akan menimbulkan akibat
yang fatal.

4.1.3.1 Imunisasi Dasar Pada Bayi


Kementerian Kesehatan mengubah konsep imunisasi dasar
lengkap menjadi imunisasi dasar dan lanjutan. Imunisasi dasar saja
tidak cukup, diperlukan imunisasi lanjutan untuk mempertahankan
tingkat kekebalan yang optimal. Pemberian imunisasi disesuaikan
dengan usia anak.
Untuk imunisasi dasar lengkap terdiri dari:
1. Hepatitis B (HB-O), diberikan pada bayi usia kurang dari 24 jam
2. BCG dan Polio 1 (tetes), diberikan pada bayi usia 1 bulan
3. DPT-HB-Hib 1 dan Polio 2 (tetes), diberikan pada bayi usia 2
bulan
4. DPT-HB-Hib 2 dan Polio 3 (tetes), diberikan pada bayi usia 3
bulan
Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 83
5. DPT-HB-Hib 3 dan Polio 4 (tetes) dan IPV (polio suntik),
diberikan pada bayi usia 4 bulan
6. Campak, diberikan pada anak usia 9 bulan

Untuk imunisasi lanjutan terdiri dari:


1. DPT-HB-Hib, diberikan pada anak usia 18 bulan
2. Campak, diberikan pada anak usia 24 bulan, sekarang dapat
diberikan mulai usia 18 bulan.
3. DT dan Campak, diberikan pada anak kelas 1 Sekolah Dasar
4. Td, diberikan pada anak kelas 2 dan 5 Sekolah Dasar, untuk
anak kelas 5 akan dimulai pada tahun 2019.

Pemberian imunisasi diatas untuk mencegah timbulnya penyakit


berbahaya yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), diantaranya
mencegah penyakit Hepatitis B, TBC, Lumpuh layu, Campak, Difteri,
Partusis, Tetanus, Pneumonia dan Meningitis.

Grafik 23. PERSENTASE CAPAIAN IMUNISASI DI WILAYAH KERJA


PUSKESMAS SEI JANG TAHUN 2016-2018

120

100

80

60
2016
40
2017
20 2018

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 84


Pada akhir bulan Desember 2017 telah dimulai proses pendataan
sasaran imunisasi MR di wilayah kerja Puskesmas Sei jang. Pelaksanaan
imunisasi MR akan dilaksanakan secara serentak untuk kawasan luar
Pulau Jawa pada bulan Agustus dan September 2018. Imunisasi MR
(Measles/Campak dan Rubella) bertujuan untuk mengeliminaasi penyakit
Campak dan mengendalikan penyakit Rubella serta kecacatan bawaan
akibat rubella (Congenital Rubella Syndrom) di Indonesi pada tahun
2020. Kecacatan akibat rubella dapat berupa gangguan pendengaran,
gangguan penglihatan, kelainan jantung, dan retardasi mental akibat
infeksi rubella saat kehamilan. Strategi yang ditempuh pemerintah
adalah dengan pemberian imunisasi MR untuk anak usia 9 bulan sampai
kurang 15 tahun. Strategi tersebut bertujuan mengendalikan ke dua
penyakit tersebut yang kemudian diikuti peralihan pemakaian vaksin
Campak menjadi vaksin MR ke dalam program imunisasi. Target yang
harus dicapai dalam pelaksanaan imunisasi MR adalah 95% agar
eliminasi dan pengendalian MR terwujud di tahun 2020.
Capaian Imunisasi MR di wilayah kerja Puskesmas Sei Jang
adalah sebanyak 11.497 orang anak telah mendapatkan vaksin MR yang
tersebar di 99 Pos Pelayanan Imunisasi yang terdiri dari 33
Posyandu/Posbang, 29 TK/KB/PAUD, 17 SD/MI, 7 SMP/MTs, 8
SMA/SMK/MA.

Grafik 24. CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI SELAMA DI


WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 85


1800
1600
1400
1200
1000
800 Jumlah Bayi
600 Campak
400
IDL
200
0
2013 2014 2015 2016 2017 2018
Jumlah Bayi 1662 1654 1243 779 862 790
Campak 1665 1658 1265 774 758 920
IDL 1639 1582 1264 774 758 874

Pencapaian Universal Child Imunization (UCI) pada dasarnya


merupakan proksi terhadap cakupan atas imunisasi dasar secara lengkap
pada bayi (0-11 bulan). Desa UCI merupakan gambaran desa /
kelurahan dengan ≥80% jumlah bayi yang ada di desa tersebut sudah
mendapatkan imunisasi dasar lengkap dalam waktu satu tahun. Target
Standar Pelayanan Minimal (SPM) menetapkan target 100%
desa/kelurahan UCI pada tahun 2014 untuk setiap kabupaten / kota.
Idealnya, seorang anak mendapatkan seluruh imunisasi dasar
sesuai umurnya, sehingga kekebalan tubuh terhadap penyakit-penyakit
yang dapat dicegah dengan imunisasi dapat optimal. Namun
kenyataannya, sebagian anak tidak mendapatkan imunisasi dasar secara
lengkap. Anak-anak inilah yang disebut dengan drop out imunisasi.
Imunisasi DPT-HB1 adalah jenis imunisasi yang pertama kali diberikan
kepada bayi. Sebaliknya, imunisasi campak adalah imunisasi dasar yang
diberikan terakhir kalinya kepada bayi pada saat bayi telah memasuki
usia 9 bulan. Diasumsikan bayi yang mendapatkan imunisasi campak
telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
BIAS adalah bulan dimana seluruh kegiatan imunisasi
dilaksanakan diseluruh Indonesia. Jenis imunisasi yang diberikan pada
kegitan BIAS adalah:

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 86


1. Imunisasi Campak pada murid kelas 1 SD
2. Imunisasi DT pada murid kelas 2 SD
3. Imunisasi td pada murid kelas 2 dan 3 SD, namun mulai tahun
2017 imuniasasi td tidak diberikan lagi pada murid kelas 3,
sebagai gantinya nanti mulai tahun 2019 imunisasi tadi akan
diberikan pada murid kelas 5 SD, sehingga rentang waktu
perlindungan (kekebalan) akan makin panjang.

Tujuan pelaksanaan BIAS adalah mempertahankan eliminasi


tetanus noenaturum, pengendalian penyakit difteri dan penyakit campak
untuk jangka panjang. Kegiatan BIAS dilaksanakan pada bulan Oktober
s/d Desember pada seluruh SD, MI baik sekolah negeri ataupun swasta.

Grafik 25. PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI BIAS TAHUN 2014 - 2017

99
98.7 98.7
99
98 98.1
98
97 97 97
97 96.6
96 96 96
96
95 2014
95
2015
94 93.4 93.4
2016
93
2017
92

91

90
KELAS 1, DT KELAS 1, KELAS 2, td KELAS 3, td
CAMPAK

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 87


Kegiatan Pemberian Imunisasi Polio dan Imunisasi Lanjutan

4.1.3.2 Imunisasi Pada Ibu Hamil


Tetanus disebabkan oleh toksin yang diproduksi oleh bakteri
yang disebut Clostridium Tetani. Tetanus juga bisa menyerang pada bayi
baru lahir (Tetanus Neonatorum) pada saat persalinan dan perawatan
tali pusat. Tetanus merupakan salah satu penyebab kematian bayi di
Indonesia.
Masih banyak calon ibu di masyarakat terutama yang tinggal di
daerah-daerah terpencil berada dalam kondisi yang bisa disebut masih
jauh dari kondisi steril saat persalinan. Hal inilah yang bisa menimbulkan
resiko ibu maupun bayinya terkena tetanus.
Maternal and Neonatal Tetanus Elimination (MNTE) merupakan
program eliminasi tetanus pada neonatal dan wanita usia subur
termasuk ibu hamil. Strategi yang dilakukan untuk mengeliminasi
tetanus neonatorum dan maternal adalah :
 Pertolongan persalinan yang aman dan bersih
 Cakupan imunisasi rutin TT yang tinggi dan merata
 Penyelenggaraan surveilans
Beberapa permasalahan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada
wanita usia subur yaitu pelaksanaan skrining yang belum optimal,
pencatatan yang dimulai dari kohort WUS (baik kohort ibu maupun WUS
tidak hamil) belum seragam, dan cakupan imunisasi TT2 bumil jauh lebih
rendah dari cakupan K4.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 88


Pada tahun 2018 cakupan ibu hamil yang mendapatkan
pelayanan imunisasi TT2+ di Puskesmas Sei Jang mengalami
peningkatan yaitu dari 43.3% menjadi 77% dari total ibu hamil sebanyak
882 orang. Namun capaian tersebut belum menunjukkan peningkatan
yang maksimal, hal ini disebabkan masih banyaknya ibu hamil yang tidak
terdeteksi statusnya apakah sudah mendapatkan imunisasi TT lengkap
dikarenakan masih banyaknya petugas pelayanan di klinik bersalin / BPM
yang dapat melakukan metode skrining TT.

Grafik 26. CAKUPAN IBU HAMIL YANG MENDAPAT IMUNISASI


TT2+ DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG
2000 1826
1782 1815
1721
1418
1500 1267
1105
979 914 882 Jumlah Bumil
1000
679
TT2+
396
500

0
2013 2014 2015 2016 2017 2018

Beberapa langkah yang perlu segera dilakukan adalah sosialisasi


ke seluruh petugas lapangan agar mengacu pada kriteria Ante Natal
Care (ANC) berkualitas, yang salah satunya dengan imunisasi TT, dan
semua system pencatatan dalam pelaksanaan imunisasi TT WUS
termasuk ibu hamil memakai sistem pencatatan yang sama, yaitu T1-T5.

4.1.4 Ketersediaan Obat


Program peningkatan ketersediaan obat dan vaksin
dilaksanakan sebagaimana amanat yang tertuang
dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 tahun 2010
tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan. Obat
adalah salah satu kebutuhan dasar dalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan
merupakan barang publik yang perlu dijamin
Gestining.M,S.Si.Apt
Pengelola Kefarmasian ketersediaannya dalam upaya pemenuhan pelayanan
kesehatan. Dalam rangka mendukung program tersebut dilakukan pengadaan

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 89


buffer stock obat untuk menjamin ketersediaan obat, pemerataan pelayanan
dan terjaminnya mutu obat dan pembekalan kesehatan sampai ke masyarakat.
Dalam hal perencanaan dan penyusunan kebutuhan obat (RKO) buffer
stock diperlukan data kebutuhan dari setiap puskesmas. Dalam perhitungan
tersebut, tingkat kecukupan obat harus dapat tersedia untuk kurun waktu
minimal selama 18 bulan dengan asumsi 12 bulan untuk pemenuhan
kebutuhan obat selama 1 tahun anggaran dan 6 bulan untuk pemenuhan
kebutuhan selama waktu tunggu proses pengadaan obat di tahun anggaran
selanjutnya. Daftar obat yang disertakan dalam perhitungan tersebut terdiri dari
144 jenis obat. Pada lampiran table 66 dapat dilihat tingkat ketersediaan obat di
Puskesmas Sei Jang.

4.2 PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT


4.2.1 Pengendalian Penyakit Polio
Pada tahun 1988, sidang ke-14 WHA (World Health Assembly) telah
menetapkan program eradikasi polio secara global (global polio eradication
initiative) yang ditujukan untuk mengeradiksi penyakit polio pada tahun 2000.
Kesepakatan ini diperkuat oleh sidang World Summit for Children pada tahun
1989, dimana Indonesia turut menandatangani kesepakatan tersebut. Eradikasi
dalam hal ini bukan sekedar mencegah terjadi penyakit polio, melainkan
mempunyai arti yang lebih luas lagi, yaitu menghentikan terjadinya transmisi
virus polio liar diseluruh dunia.
Pengertian eradikasi Polio adalah apabila tidak ditemukan virus polio liar
indogenous selama 3 tahun berturut-turut disuatu region yang dibuktikan
dengan surveilans AFP yang sesuai standar sertifikasi. Dasar pemikiran Eradikasi
Polio adalah :
1. Manusia satu-satunya reservoir dan tidak ada longterm carrier pada
manusia.
2. Sifat virus polio yang tidak tahan lama hidup di lingkungan.
3. Tersedianya vaksin yang mempunyai efektivitas > 90% dan musuh
dalam pemberian.
4. Layak dilaksanakan secara operasional.
Di Indonesia, selama 10 tahun terakhir tidak ditemukan kasus AFP yang
disebabkan virus polio liar. Surveilans AFP di Indonesia dilaksanakan sejak
pertengahan tahun 1995. Pencapaian kinerja sampai tahun 2002 berfluktuasi,
Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 90
namun sejak adanya tenaga khusus (surveillance officer) ditingkat provinsi,
pencapaian kinerja menunjukkan peningkatan yang cukup bermakna.
Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit polio telah dilakukan
melalui gerakan imunisasi polio. Upaya ini juga ditindaklanjuti dengan kegiatan
surveilans epidemiologi secara aktif terhadap kasus-kasus Acute Flaccid
Paralysis (AFP) kelompok umur < 15 tahun dalam kurun waktu tertentu, untuk
mencari kemungkinan adanya virus polio liar yang berkembang di masyarakat
dengan pemeriksaan specimen tinja dari kasus AFP yang dijumpai. Berdasarkan
kegiatan AFP pada penduduk < 15 tahun pada tahun 2016, tidak ditemukan
kasus AFP Non Polio yang ditemukan.
Target untuk non polio AFP Rate ditetapkan sebesar > per 100.000 anak
umur < 15 tahun. Sedangkan untuk standar specimen adekuat adalah > 80%,
artinya minimal 80% specimen tinja penderita harus sesuai dengan persyaratan
yaitu diambil < 14 hari setelah kelumpuhan dan suhu specimen 0-8oC sampai di
laboratorium.

4.2.2 Pengendalian TB-Paru


Tujuan utama pengendalian TB paru pada
Millenium Development Goals (MDG’s) adalah :
1. Menurunkan insedens TB Paru pada tahun 2015.
2. Menurunkan prevalensi TB Paru dan angka
kematian akibat TB Paru menjadi setengahnya
pada tahun 2015 dibandingkan tahun 1990.
3. Sedikitnya 70% kasus TB Paru BTA (+) terdeteksi
dan diobati melalui program DOTS (Directly

Lisnawati, AMK Observed Treatment Shortcource Chemotherapy)


Pengelola Program TB atau pengobatan TB Paru dengan pengawasan
langsung oleh Pengawas Minum Obat (PMO).
4. Sedikitnya 85% tercapai success rate.
DOTS adalah strategi penyembuhan TB Paru jangka pendek dengan
pengawasan secara langsung. Dengan menggunakan strategi DOTS, maka
proses penyembuhan TB Paru dapat berlangsung secara cepat. DOTS
menekankan pentingnya pengawasan terhadap penderita TB Paru agar menelan
obat secara teratur sesuai ketentuan sampai dinyatakan sembuh. Strategi DOTS
direkomendasikan oleh WHO secara global untuk menanggulangi TB Paru.
Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 91
Karena menghasilkan angka kesembuhan yang cukup tinggi yaitu mencapai
100%.

4.2.2.1 Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif di antara Suspek yang


diperiksa
Upaya pemerintah dalam menanggulangi TB Paru setiap
tahunnya semakin menunjukkan kemajuan. Hal ini dapat terlihat dari
meningkatnya jumlah penderita yang ditemukan dan disembuhkan
setiap tahun.
Menurut standar, persentase BTA (+) diperkirakan 10% dari
suspek yang diperkirakan di masyarakat dengan nilai yang ditoleransi
antara 5-15%. Bila angka ini terlalu besar (>15%) kemungkinan
disebabkan kriteria pada penjaringan suspek terlalu longgar. Banyak
orang yang tidak memenuhi kriteria suspek atau ada masalah dalam
pemeriksaan laboratorium (positif palsu).
Di Puskesmas Sei Jang Pada tahun 2018 telah dilakukan
pemeriksaan sebanyak 340 suspek TB Paru dan yang BTA (+) adalah
sebanyak 30 penderita, dengan penderita terbanyak ditemukan di
Kelurahan Sei Jang.

Grafik 27. CAKUPAN KASUS BTA+ DIOBATI DAN SEMBUH DI


WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG

400
350
300
250
200
Suspect
150
BTA+ Diobati
100
Sembuh
50
0
2013 2014 2015 2016 2017
Suspect 269 177 145 289 340
BTA+ Diobati 47 44 24 17 36
Sembuh 45 33 20 13 30

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 92


4.2.2.2 Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA (+) (Case Detection Rate
/ CDR) dan Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate /
SR).
Angka penemuan kasus TB Paru BTA (+) memperlihatkan
penemuan TB Paru BTA (+) terhadap jumlah perkiraan TB Paru. Standar
CDR TB Paru sebesar 70% sedangkan capaian CDR Puskesmas Sei Jang
pada tahun 2018 adalah sebesar 56.54%. Ini berarti Puskesmas Sei Jang
untuk CDR TB Paru belum memenuhi target yang ditetapkan oleh
Kementerian Kesehatan, yaitu sebesar 70%.
Keberhasilan pengobatan TB Paru ditentukan oleh kepatuhan dan
keteraturan dalam berobat, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Angka
keberhasilan pengobatan (Success Rate) pada tahun 2018 sudah
menunjukkan adanya peningkatan yakni petugas TB terus berupaya
meningkatkan kesadaran baik penderita TB maupun keluarga penderita
yang menjadi pendamping minum obat pasien untuk dapat berkomitmen
dalam meningkatkan angka keberhasilan pengobatan TB secara lengkap.
Adapun angka keberhasilan pengobatan pada tahun 2018 adalah
sebesar 88.89%, pencapaian tersebut pada kenyataannya telah
mencapai target keberhasilan pengobatan yang distandarkan WHO yaitu
minimal 85%.
4.2.3 Pengendalian Penyakit ISPA
Lebih dari 2 (dua) dasawarsa ini penyakita Infeksi
Saluran Pernafasan Akut (ISPA) selalu menduduki
peringkat pertama dari 10 Penyakit terbanyak di
Indonesia. ISPA merupakan penyakit saluran
pernafasan akut yang disebabkan agen infeksius yang
ditularkan dari manusia ke manusia. ISPA (Infeksi

Yuni.Yunan.F, SKM Saluran Pernafasan Akut) merupakan penyebab


Pengelola Prog. ISPA kematian terbesar baik pada bayi maupun pada anak
balita. Hal ini dapat dilihat melalui hasil survey mortalitas subdit ISPA pada
tahun 2005 di 10 provinsi, diketahui bahwa pneumonia merupakan penyebab
kematian bayi terbesar di Indonesia, yaitu sebesar 22.30% dari seluruh
kematian bayi. Survey yangsama juga menunjukkan bahwa pneumonia
merupakan penyebab kematian terbesar pada anak balita yaitu 23.60%. Studi

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 93


mortalitas pada Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa proporsi kematian pada
bayi (post neonatal) karena pneumonia sebesar 23.8% dan pada anak balita
sebesar 15.5%.
Program Pengendalian Penyakit ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2
golongan yaitu Pneumonia dan bukan Pneumonia. Pneumonia dibagi atas
derajat beratnya penyakit yaitu Pneumonia berat dan Pneumonia tidak berat.
Penyakit Batuk Pilek seperti rhinitis, faringiti, tonisilitis dan penyakit jalan nafas
bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan Pneumonia. Etiologi dari
sebagian besar penyakit jalan nafas bagian atas ini ialah virus dan tidak
dibutuhkan terapi antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococus jarang
ditemukan pada balita. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotic penisilin,
namun untuk semua radang telinga akut harus mendapat antibiotik.
Program pengendalian ISPA menetapkan bahwa semua kasus yang
ditemukan harus ditatalaksanakan sesuai standar, dengan demikian angka
penemuan kasus pneumonia juga menggambarkan penatalaksanaan kasus
ISPA.
Cakupan penderita pneumonia pada tahun 2018, sebesar 17.6% dari total
437 perkiraan penderita dengan kasus terbanyak terjadi di Kelurahan Tanjung
Ayun Sakti. Hal ini disebabkan oleh pengendalian pneumonia balita masih
berbasis Puskesmas. Data kasus pneumonia belum mencakup RS pemerintah
dan swasta, klinik, praktek, dan sarana kesehatan lain.

Grafik 28. CAKUPAN PENEMUAN KASUS PNEUMONI DI WILAYAH


KERJA PUSKESMAS SEI JANG

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 94


100
88
90 82
75 77
80
70
60
50 44 Kasus Pneumoni
41
ditemukan & ditangani
40
30
20
10
0
2013 2014 2015 2016 2017 2018

4.2.4 Penanggulangan Penyakit HIV / AIDS dan PMS


Upaya pelayanan kesehatan dalam rangka
penanggulangan penyakit HIV/AIDS di samping
ditujukan pada penanganan penderita yang
ditemukan juga diarahkan pada upaya pencegahan
melalui penemuan penderita secara dini dilanjutkan
dengan kegiatan konseling.
Ririk Puji L, A.Md.Keb
Pengelola Prog. HIV-AIDS
Upaya penemuan penderita yang dilakukan melalui skrining HIV /AIDS
terhadap donor darah, pemantauan pada kelompok beresiko penderita Penyakit
Menular Seksual (PMS) seperti Wanita Penjaja Seks (WPS), Penyalahguna obat
dengan suntikan (IDUs), penghuni Lapas (Lembaga Pemasyrakatan) atau
sesekali penelitian pada kelompok beresiko rendah seperti ibu rumah tangga
dan sebagainya. Untuk Puskesmas Sei Jang, tidak dilaksanakan sero survey
terhadap ibu hamil dikarenakan keterbatasan sumber daya laboratorium,
sehingga proses pemeriksaan dirujuk kepada klinik HIV/AIDS yang ada di Kota
Tanjungpinang.
Dalam perjalanan penyakit HIV yang dikenal istilah “window period”
(periode jendela) yaitu 12 minggu sejak virus masuk dalam tubuh sampai
terbentuk antibody. Sering terjadi salah pengertian dimana dianggap “tidak
terinfeksi virus HIV” (pemeriksaan saat ini tidak/belum mendeteksi adanya
antibody), padahal periode jendela ini sangat potensial dalam menularkan virus

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 95


karena saat ini virus berkembang baik dan sangat cepat. Pada kelompok
demikian, dianjurkan memeriksa ulang 12 minggu kemudian.
Pada tahun 2018 ditemukan kasus HIV sebanyak 22 kasus dengan kasus
terbanyak pada rentang usia 25-49 tahun sebanyak 11 orang dengan jumlah
kematian akibat AIDS sebanyak 4 orang, dan untuk kasus syphilis sebanyak 14
kasus juga terbanyak pada rentang usia 20-24 tahun tahun sebanyak 4 orang.
Selama tahun 2018, Puskesmas Sei Jang telah berupaya dalam
mendeteksi penyebaran HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya melalui
kegiatan mobile VCT (Voluntary, Counselling and Testing) HIV/AIDS. Kegiatan
ini dilaksanakan tanpa dipungut biaya apapun. Kegiatan Mobile VCT merupakan
konseling dan testing bersifat sukarela dan rahasia, yang dilakukan oleh seorang
konselor VCT yang terlatif, dimana dilakukan konseling terlebih dahulu
kemudian dilanjutkan dengan test HIV/AIDS dengan cara test darah. Adapun
sasaran dari kegiatan ini adalah pekerja yang memiliki resiko terjangkit penyakit
HIV/AIDS dan Penyakit Menular Seksual seperti Pekerja Seks Komersial (PSK),
Komunitas Gay/LSL, maupun pekerja lainnya di tempat hiburan malam seperti
café, tempat karaoke, salon dan kos-kosan. Untuk tahun selanjutnya, kegiatan
ini akan menyasar pada sekolah dan kampus yang berada di wilayah kerja
Puskesmas Sei Jang.

Test HIV/AIDS yang merupakan bagian dari program Moblie VCT dilakukan
dalam tiga tahap :
1. Pre Test, dilakukan untuk melakukan wawancara dengan klien terkait
nama, umur, pendidikan, pekerjaan, dan apakah masuk dalam
kelompok berisiko atau tidak.
2. Test, yaitu pengambilan darah klien setelah menandatangani surat
persetujuan tindakan dan dilakukan test darah.
3. Post Test, dilakukan guna memberi tahu hasil dari test darah yang
disampaikan dalam waktu 1x24 jam kepada klien, dan jika memang
terdeteksi, maka klien akan dirujuk ke Rumah Sakit.
Kendala yang dihadapi selama kegiatan mobile VCT ini adalah kesulitan
dalam mengumpulkan klien yang menjadi sasaran, hal ini terjadi dikarenakan
adanya ketakutan dan rasa malu pada saat diambil sampel darahnya. Selain itu,
kasus yang sering terjadi, pada klien yang hasil test darahnya terindikasi positif
HIV/AIDS sering kali mangkir pada saat dirujuk ke Rumah Sakit dengan alasan
Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 96
mereka tidak merasakan gejala/indikasi apapun yang mengarah pada HIV/AIDS
dan faktor ekonomi yang menyebabkan mereka tidak melakukan pemeriksaan
lanjutan di Rumah Sakit.

Kegiatan Mobile VCT di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Jang

4.2.5 Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)


Penyakit DBD merupakan salah satu penyakit
yang perjalanan penyakitnya cepat dan dapat
menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Penyakit
ini merupakan penyakit menular yang sering
menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) di Indonesia.

Rima Astuti, AMKL


Pengelola Program
DBD
Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal yaitu :
1. Peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vector.
2. Diagnosis dini dan pengobatan dini.
3. Peningkatan upaya pemberantasan vector penular penyakit DBD.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 97


Upaya pemberantasan vector ini yaitu dengan pemberantasan sarang
nyamuk (PSN) dan pemeriksaan jentik berkala. Keberhasilan kegiatan PSN
antara lain dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ).
Metode yang tepat guna untuk mencegah DBD adalah Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur) plus
menabur larvasida, penyebaran ikan pada tempat pembuangan air serta
kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat mencegah/memberantas nyamuk Aedes
berkembang biak.
Angka Bebas Jentik (ABJ) sebagai tolak ukur upaya pemberantasan vector
melalui PSN-3M menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat dalam mencegah
DBD. Oleh karena itu pendekatan pemberantasan DBD yang berwawasan
kepedulian masyarakat merupakan salah satu alternative pendekatan baru.
Adapun jumlah kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Sei Jang pada tahun
2018 adalah sebanyak 52 kasus dengan kasus terbanyak terjadi di Kelurahan
Tanjungpinang Timur sebanyak 22 kasus. Masih ditemukannya kasus DBD di
wilayah kerja Puskesmas Sei Jang pada tahun 2018 dikarenakan kesadaran
masyarakat untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui
gerakan 3 M plus masih rendah meskipun penyuluhan telah dilaksanakan
berulang kali dan kerja sama lintas sektor masih belum maksimal dalam
mengerakkan 3 M plus dalam masyarakat.
Grafik 29. CAKUPAN PENEMUAN KASUS DBD DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS SEI JANG

100 92
90
80
70 63
60 54 52
50 44 Kasus DBD
40 Meninggal
30
17
20
10 0 0 1 0 0 0
0
2013 2014 2015 2016 2017 2018

4.2.6 Pengendalian Penyakit Malaria

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 98


Di Indonesia kejadian penyakit malaria dan
terjadinya Kejadian Luar Biasa Malaria sangat
berkaitan erat dengan beberapa hal sebagai berikut :
1. Adanya perubahan lingkungan yang berakibat
meluasnya tempat perindukan nyamuk menular
malaria.
2. Mobilitas penduduk yang cukup tinggi.
3. Perubahan iklim yang menyebabkan musim hujan
lebih panjang dari musim kemarau.
Sarjono, A.Md
Pengelola Prog.Malaria
4. Krisis ekonomi yang berkepanjangan memberikan dampak pada
daerah-daerah tertentu dengan adanya masyarakat yang mengalami
gizi buruk sehingga lebih rentan untuk terserang malaria.
5. Tidak efektifnya pengobatan karena terjadi Plasmodium Falciparum
resisten klorokuin dan meluasnya daerah resisten.
6. Menurunnya perhatian dan kepedulian masyarakat terhadap upaya
penanggulangan malaria secara terpadu.
Penggalakkan pemberantasan malaria melalui gerakan masyarakat yang
dikenal dengan Gerakan Berantas kembali Malaria atau “Gebrak Malaria” telah
dicetuskan pada tahun 2000. Gerakan ini merupakan embrio pengendalian
malaria yang berbasis kemitraan dengan berbagai sektor dengan slogan “Ayo
Berantas Malaria”.
Pengendalian malaria di Indonesia yang tertuang dalam Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 293/MENKES/SK/IV/2009 tanggal
28 April 2009 tentang Eliminasi Malaria di Indonesia bertujuan untuk
mewujudkan masyarakat yang hidup sehat, yang terbebas dari penularan
malaria secara bertahap sampai tahun 2030. Tanjungpinang melalui Dinas
Kesehatan telah menerima sertifikasi eliminasi malaria pada tanggal 25 April
2014 yang disejalankan dengan Hari Malaria Sedunia yang diberikan oleh Ibu
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dr. Nafsiah Mboi, SpA,.MPH dan diterima
langsung oleh Bapak Walikota Tanjungpinang Lis Darmansyah.
Pada tahun 2018 tidak ditemukan kasus malaria dari pemeriksaan 15
sediaan darah suspect malaria. Indicator sebuah daerah bebas malaria adalah
Annual Paracite Incidence (API), di bawah 1 per 1000 penduduk, tidak terdapat

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 99


kasus malaria pada penduduk yang tidak pernah berpergian dan adanya
pengamatan ketat keluar-masuknya penduduk di wilayah terkait.

Grafik 30. ANGKA PENDERITA MALARIA DI WILAYAH KERJA


PUSKESMAS SEI JANG

12
10
10

6
Penderita
4

2 1 1 1
0 0
0
2013 2014 2015 2016 2017 2018

4.2.7 Pengendalian Penyakit Kusta


Kusta adalah penyakit infeksi kronis yang
disebabkan oleh bakteri Mycobacterium
leprae yang bersifat intraselular obligat,
artinya bakteri tersebut harus berada di
dalam sel makhluk hidup untuk dapat
berkembang biak. Waktu yang diperlukan
dari bakteri masuk ke dalam tubuh hingga
menimbulkan gejala penyakit bervariasi
Sadar Naoli.N, AMK
Pengelola Program Kusta antara 2 sampai 40 tahun, namun pada
umumnya 5 sampai 7 tahun.

Gejala umum yang timbul pada pada kusta adalah :

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 100


- Bercak kulit berbentuk berbentuk seperti koin dimana pada tempat
bercak tersebut hilangnya atau berkurangnya kemampuan kulit untuk
merasakan sensasi sentuhan, nyeri, panas atau dingin (mati rasa).
- Hilangnya kemampuan saraf yang terkena infeksi untuk merasakan
sensasi di kulit.
- Lemas dan kelemahan otot.
- Foot drop atau clawed hand (tangan seperti mencakar) yang
disebabkan nyeri akibat kerusakan saraf dan kerusakan saraf yang
cepat.
- Luka bergaung umumnya pada tangan dan kaki.
- Perubahan bentuk dari anggota gerak maupun struktur wajah karena
rusaknya saraf.
- Berubahnya kulit wajah menjadi lebih tebal (pada kusta lanjut).
Adapun cara penularan belum diketahui dengan pasti, tetapi yang paling
mungkin adalah penularan dari udara pernafasan. Cara ini lebih dipercaya
karena bakteri dapat hidup beberapa hari dalam droplet (butiran secret saluran
nafas). Cara penularan lainnya adalah dari kontak kulit ke kulit.
Untuk menilai kinerja petugas dalam penemuan kasus penyakit kusta,
digunakan angka proporsi cacat tingkat II (cacat akibat kerusakan syaraf dan
cacat terlihat). Tingginya proporsi cacat tingkat II menunjukkan keterlambatan
dalam penemuan kasus atau dengan kata lain kinerja petugas yang rendah
dalam menemukan kasus serta pengetahuan masyarakat yang rendah. Pada
tahun 2018 ditemukan 3 kasus kusta kategori Multi Basiler (MB)/Kusta Basah di
Kelurahan Dompak.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 101


Kegiatan Pelacakan Kasus Kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Jang

4.3 PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT


Upaya perbaikan gizi masyarakat dimaksudkan untuk
menangani permasalahan gizi yang dihadapi masyaraat.
Berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan ditemukan
beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai pada
kelompok masyarakat antara lain anemia gizi besi,
kekurangan vitamin A, dan gangguan akibat kekurangan
yodium.

Rini Febriyanti, AMG


Pengelola Prog. Gizi
4.3.1 Pemberian Tablet Tambah Darah Pada Ibu Hamil (Fe)
Anemia gizi adalah kekurangan haemoglobin (Hb) dalam darah yang
disebabkan karena kekurangan gizi yang diperlukan untuk pembentukan Hb
tersebut. Di Indonesia sebagian besar anemia ini disebabkan karena kekurangan
zat besi (Fe) hingga disebut anemia kekurangan zat besi atau anemia gizi besi.
Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan masalah gizi
terutama anemia gizi besi. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT) 2001, prevalensi anemia ibu hamil sebesar 40.1% dan pada tahun 2007
turun menjadi 24.5% (Riskasdes, 2007). Namun demikian keadaan ini
mengindifikasi bahwa anemia gizi besi masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat. Penanggulangan masalah anemia gizi besi saat ini terfokus pada
pemberian tablet tambah darah (Fe) pada ibu hamil. Ibu hamil mendapat tablet
tambah darah 90 tablet selama kehamilannya.
Pada tahun 2018 cakupan pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil
sebesar 91.04% untuk Fe1 sebanyak 30 tablet dan 91.84% untuk Fe3 sebanyak
90 tablet.
Adapun upaya yang terus dilakukan oleh Petugas Puskesmas Sei Jang
diantaranya adalah dengan melakukan penyuluhan terkait pentingnya
mengkonsumsi tablet tambat darah selama masa kehamilan, dan memberikan
anjuran kepada ibu hamil untuk mengkonsumsi tablet tambah darah pada
malam hari untuk menghindari rasa mual serta mensosialisasikan pemberian
tablet tambah darah di Klinik Swasta.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 102


Sejak tahun 2016, pemberian tablet tambah darah tidak hanya diberikan
kepada ibu hamil, tetapi juga diberikan kepada anak usia sekolah dari 12 – 18
tahun. Berdasarkan hasil Riskesdas Tahun 2013, prevalensi anemi pada remaja
puteri yaitu sekitar 25%. Keadaan ini merupakan akibat dari asupan zat gizi besi
dari makanan yang baru memenuhi 40% dari kecukupan. Oleh Karena itu
direkomendasikan pemberian tablet tambah darah pada remaja puteri untuk
memutus mata rantai terjadinya stunting.

Grafik 31. CAKUPAN IBU HAMIL YANG MENDAPAT TABLET TAMBAH


DARAH (FE1 & FE3) DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS SEI JANG

2000
1800
1600
1400
1200
1000
800 Jumlah Bumil
600 Fe1
400
Fe3
200
0
2013 2014 2015 2016 2017 2018
Jumlah Bumil 1826 1815 1418 979 914 882
Fe1 1809 1780 1359 922 898 803
Fe3 1755 1743 1332 867 880 810

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 103


Sosialisasi Pemberian TTD pada Remaja Putri di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Jang

4.3.2 Pemberian Kapsul Vitamin A


Tujuan pemberian kapsul vitamin A pada balita adalah untuk menurunkan
prevalensi dan pencegahan kekurangan vitamin A pada balita. Kapsul vitamin A
dosis tinggi terbukti efektif untuk mengatasi masalah kekurangan vitamin A
(KVA) pada masyarakat apabila cakupannya tinggi. Bukti-bukti lain
menunjukkan peranan vitamin A dalam menurunkan secara bermakna angka
kematian anak, maka selain untuk mencegah kebutaan, pentingnya pemberian
vitamin A saat ini lebih dikaitkan dengan kelangsungan hidup, kesehatan dan
pertumbuhan anak. Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan mencegah
kebutaan, serta meningkatkan daya tahan tubuh. Anak-anak yang mendapat
cukup vitamin A, bila terkena diare, campak atau penyakit infeksi lainnya, maka
penyakit-penyakit tersebut tidak mudah menjadi parah, sehingga tidak
membahayakan jiwa anak.
Sasaran pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi adalah bayi (6-11 bulan)
diberikan kapsul vitamin A 100.000 IU, anak balita (umur 1-4 tahun) diberikan
kapsul vitamin A 200.000 IU, dan ibu nifas diberikan kapsul vitamin A 200.000
IU, sehingga bayinya akan memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI. Pada
bayi (6-11 bulan) diberikan setahun pada bulan Febuari atau bulan Agustus dan
untuk anak balita setiap bulan sekali, yang diberikan secara serentak pada bulan
Februari dan Agustus. Sedangkan pemberian vitamin A pada ibu nifas,
diharapkan dapat dilakukan terintegrasi dengan pelayanan kesehatan ibu nifas.
Namun dapat pula diberikan di luar pelayanan tersebut selama ibu nifas
tersebut belum mendapatkan kapusl vitamin A.

Grafik 32. CAKUPAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA IBU NIFAS


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 104


2000
1799
1800 1735
1662 1626
1600

1356
1400
1233
1200

1000 936 Bufas


872
858 842
790 797 Bufas Vit.A
800

600

400

200

0
2013 2014 2015 2016 2017 2018

Grafik 33. CAKUPAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA BAYI


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG

1800 1662 1654


1531
1600 1463
1400 1292

1200
993
1000 871
779 792 801 Bayi
736
800 637 Bayi Vit.A
600
400
200
0
2013 2014 2015 2016 2017 2018

Grafik 34. CAKUPAN ANAK BALITA MENDAPATKAN VITAMIN A

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 105


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG

7000

5843 5813
6000
5288
5024
5000 4543
3935
4000 3517 3569
3293
3116 Anak Balita
2878
3000 2399 Anak Balita Vit.A

2000

1000

0
2013 2014 2015 2016 2017 2018

Pemberian Vitamin A pada murid PAUD di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Jang

4.3.3 Cakupan Pemberian ASI Eksklusif


Cara pemberian makanan pada bayi yang baik dan benar adalah menyusui
bayi secara eksklusif sejak lahir sampai dengan 6 bulan dan meneruskan
menyusui anak sampai umur 24 bulan. Mulai umur 6 bulan, bayi mendapat

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 106


makanan pendamping ASI yang bergizi sesuai dengan kebutuhan tumbuh
kembangnya.
Cakupan pemberian ASI eksklusif dipengaruhi beberapa hal, terutama
masih sangat terbatasnya tenaga konselor ASI, belum adanya peraturan
perundangan tentang pemberian ASI serta belum maksimalnya kegiatan
edukasi, sosialisasi, advokasi, dan kampanye terkait pemberian ASI maupun MP-
ASI, masih kurangnya ketersediaan dan sarana prasarana KIE ASI dan MP-ASI
serta belum optimalnya pembinaan kelompok pendukung ASI dan MP-ASI.
Persentase bayi usia 0-6 bulan yang diberi ASI eksklusif pada tahun 2018
di lingkungan wilayah kerja Puskesmas Sei Jang adalah sebesar 40.8%.
Berdasarkan jenis kelamin, bayi laki-laki 0-6 bulan lebih banyak mendapatkan
ASI eksklusif sebesar 42.0% dibandingkan dengan bayi perempuan 0-6 bulan
yaitu sebesar 39.6%. Oleh karena itu petugas terkait di Puskesmas Sei Jang
terus menggalakkan kegiatan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran ibu
bayi terkait pentingnya pemberian ASI Eksklusif dan kunjungan rumah bagi ibu
yang baru melahirkan guna memberikan arahan tentang pentingnya pemberian
ASI Eksklusif. Peran serta pemerintah dan sektor terkait dalam mendukung
pemberian ASI eksklusif adalah dengan menyediakan ruang laktasi yang
disediakan khusus bagi ibu yang ingin menyusui bayinya.

Grafik 35. CAKUPAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG

1600 1462
1400

1200

1000 836
767 750
800 647 673 Bayi 0 - 6 Bulan

600 477 Bayi ASI Eksklusif

400 306
212 247
141 178
200

0
2013 2014 2015 2016 2017 2018

Di sisi lain promosi dan pemasaran yang begitu intensif terkait susu
formula terkadang sulit untuk dikendalikan. Upaya terobosan yang perlu
Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 107
dilakukan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif antara lain melalui
upaya peningkatan pengetahuan petugas tentang manfaat ASI eksklusif,
penyediaan fasilitas di tempat kerja, peningkatan pengetahuan dan
keterampilan ibu, peningkatan dukungan keluarga dan masyarakat serta upaya
untuk mengendalikan pemasaran susu formula. Selain itu perlu juga penerapan
10 (sepuluh) Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM) di Puskesmas
maupun RS serta sarana pelayanan kesehatan lainnya yang melakukan kegiatan
persalinan.
Sepuluh langkah tersebut meliputi :
1. Membuat kebijakan tentang menyusui.
2. Melatif staf pelayanan kesehatan.
3. KIE kepada ibu hamil tentang manfaat dan manajemen menyusui.
4. Membantu ibu untuk IMD dalam 60 menit pertama persalinan.
5. Membantu ibu cara menyusui dan mempertahankan menyusui
meskipun ibu dipisah dari bayinya.
6. Memberikan ASI saja kepada bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis.
7. Menerapkan rawat gabung ibu dengan bayinya sepanjang waktu.
8. Menganjurkan menyusui sesuai permintaan bayi.
9. Tidak memberi dot kepada bayi.
10. Mendorong pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk
ibu kepada kelompok tersebut setelah keluar dari sarana pelayanan
kesehatan.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 108


Kegiatan Home Visit Bidan Kelurahan, Petugas Gizi dan Dokter Puskesmas Sei
Jang dalam memberikan edukasi pentingnya ASI Eksklusif dan cara menyusui
yang benar.

4.3.4 Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu (D/S)


Cakupan penimbangan balita di Posyandu (D/S) merupakan indikator yang
berkaitan dengan pelayanan gizi pada balita, cakupan pelayanan kesehatan
dasar khususnya imunisasi serta penanganan prevalensi gizi kurang pada balita.
Semakin tinggi cakupan D/S, seyogyanya semakin tinggi pula cakupan vitamin
A, semakin tinggi cakupan imunisasi dan diharapkan semakin rendah prevalensi
gizi kurang.
Pada tahun 2018 terjadi peningkatan cakupan D/S menjadi 79% dimana
pada tahun 2017 cakupan D/S hanya sebesar 69.1%. Meskipun telah terjadi
peningkatan, petugas terkait terus menggalakkan sweeping penimbangan balita
oleh kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Sei Jang dan bekerja sama
dengan Koordinator Posyandu Puskesmas Sei Jang terus melakukan bimbingan
kepada kader posyandu agar dapat melakukan sweeping penimbangan balita
secara menyeluruh dan dilaporankan setiap bulannya sesuai dengan waktu yang
telah ditetapkan.

Grafik 36. CAKUPAN PENIMBANGAN BALITA DI POSYANDU


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG

7000
5820
6000 5420

5000 4264
4000 3454
2806 3032 Balita Ditimbang
3000
BGM
2000
1000 20 18 14 11 4 4
0
2013 2014 2015 2016 2017 2018

4.4 PELAYANAN KESEHATAN PENGEMBANGAN


4.4.1 Pelayanan Kesehatan Lansia

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 109


Di Indonesia puskesmas merupakan tulang punggung
pelayanan kesehatan tingkat pertama. Azwar (1996)
mendefenisikan puskesmas sebagai suatu kesatuan
organisasi fungsional yang langsung memberikan
pelayanan secara menyeluruh kepada masyarakat
dalam suatu wilayah kerja tertentu dalam bentuk
usaha-usaha kesehatan pokok.
Berdasarkan Buku Pedoman Kerja Puskesmas ada 20
Misnah Pusadan, S.Kep usaha pokok kesehatan yang dapat dilakukan oleh
Pengelola Prog. Lansia
Puskesmas. Salah satu kegiatan pokok puskesmas adalah upaya kesehatan
usia lanjut (Effendy, 1998). Maka berdasarkan kebutuhan lansia terhadap
pelayanan kesehatan, puskesmas membuat program posyandu lansia.
Perencanaan program lansia di puskesmas Mojo di Jawa Tengah telah
dilaksanakan walaupun sarana untuk posyandu lansia belum ada sehingga
belum dapat dilaksanakan pengembangan posyandu lansia (Hartiningsih,
2001).
Posyandu lansia merupakan suatu wadah pelayanan kepada lanjut usia
di masyarakat, pembentukan dan pelaksanaannya oleh masyarakat yang
bertujuan meningkatkan kualitas hidup lansia dengan membantu lansia dalam
memperoleh derajat kesehatan yang optimal, menemukan secara dini penyakit
pada lansia, sebagai wahana informasi bagi lansia dan keluarga dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatan lansia serta meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam memelihara kesehatan lansia (Ismuningrum, 2001). Salah
satu manfaat dari program posyandu lansia yang dirasakan oleh lansia terdapat
pada artikel yang berjudul DIY: Provinsi Lansia oleh Suardiman (2001)
menyatakan bahwa secara ideal untuk menuju kepada lansia yang mandiri,
sejahtera dan bermanfaat yang perlu dipersiapkan secara dini oleh masing-
masing individu itu sendiri dengan dukungan keluarga dan lingkungan
masyarakat.
Pelayanan lansia ini meliputi kegiatan upaya-upaya antara lain upaya
promotif, upaya preventif, upaya kuratif, upaya rehabilitasi (Asfriyati, 2000).
Upaya promotif, yaitu menggairahkan semangat hidup bagi lansia agar mereka
tetap dihargai dan tetap berguna baik bagi dirinya sendiri, keluarga, maupun
masyarakat. Upaya promotif dapat berupa kegiatan penyuluhan tentang
kesehatan dan pemeliharaan kebersihan diri, makanan dengan menu yang
Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 110
mengandung gizi yang seimbang, kesegaran jasmani yang dilakukan secara
teratur dan disesuaikan dengan kemampuan lansia, pembinaan mental dalam
meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, membina
keterampilan agar dapat mengembangkan kegemaran sesuai dengan
kemampuan, meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat.
Upaya preventif yaitu upaya pencegahan terhadap kemungkinan
terjadinya penyakit maupun komplikasi penyakit yang disebabkan oleh proses
penuaan. Upaya preventif dapat berupa kegiatan pemeriksaan kesehatan secara
berkala dan teratur untuk menemukan secara dini penyakit-penyakit lansia,
kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur, penyuluhan tentang
penggunaan berbagai alat bantu misalnya kacamata, alat bantu dengar, dan
lain-lain agar lansia tetap merasa berguna, penyuluhan untuk mencegah
terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan pada lansia, pembinaan mental
dalam meningkatkan ketaqwaan.
Upaya kuratif yaitu upaya pengobatan bagi lansia. Upaya kuratif dapat
berupa kegiatan pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan spesialis
melalui sistem rujukan Upaya rehabilitasi yaitu upaya mengembalikan fungsi
organ yang telah menurun. Upaya rehabilitasi dapat berupa kegiatan
memberikan informasi, pengetahuan, dan pelayanan tentang penggunaan
berbagai alat bantu misalnya kacamata, alat bantu dengar dan lain-lain,
mengembalikan kepercayaan pada diri sendiri dan memperkuat mental lansia,
pembinaan lansia dalam hal pemenuhan kebutuhan pribadi, aktifitas didalam
maupun di luar rumah, nasihat cara hidup yang sesuai dengan penyakit yang
diderita, dan perawatan fisio terapi.

Grafik 37. CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN LANSIA


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 111


7000
6089
5802
6000

5000
4031
3715
4000 3153 3265 3317 3370
2889 2885 2756 2831 Lansia
3000
Mendapat Pelayanan
2000

1000

0
2013 2014 2015 2016 2017 2018

Kegiatan Pelayanan Kesehatan di Posyandu Lansia Wilayah Kerja Puskesmas Sei Jang

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 112


Kegiatan Akupresur di Puskesmas Sei Jang dan di Posyandu Lansia

4.4.2 Pelayanan Kesehatan Kerja

Kesehatan kerja adalah suatu kondisi


kesehatan yang bertujuan agar masyarakat pekerja
memperoleh derajat kesehatan setinggi – tingginya
yg di sebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja
maupun penyakit umum.

Febti Elizabet, AMK


PJ. Program K3

Tujuan kesehatan kerja :


1. Memelihara dan Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja
2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan
3. Melindungi pekerja dari bahaya kesehatan di wilayah kerja puskesmas

Adapun upaya kesehatan kerja yang di maksud meliputi pekerja formal dan
informal. Salah satu bentuk upaya kesehatan kerja melalui pemberdayaan
masyarakat pekerja adalah dengan di bentuk nya pos Upaya Kesehatan kerja.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 113


Puskesmas Sei jang memiliki 1 Pos UKK kelompok pekerja informal sektor
Nelayan.

Kegiatan yang dilakukan di Pos UKK antara lain:


1. Pembentukan Kader
2. Pelatihan Kader
3. Pertemuan rutin kader/Nelayan yang dilakukan setiap bulan
4. Penyuluhan,pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat ringan/sederhana
dilakukan setiap bulan.

Kegiatan K3 di Puskesmas Sei Jang antara lain :


1. Membentuk team K3 Puskesmas
2. Pertemuan untuk penyusunan jadwal kegiatan selama setahun dan
menyusun SOP
3. Pemasangan poster yang berkaitan dengan kesehatan kerja dan indikator
bahaya di setiap ruangan dan penggunaan alat pelindung diri
4. Pencatatan dan pelaporan setiap kegiatan
5. Evaluasi dan monitoring kegiatan yg di pimpin langsung oleh Kepala
Puskesmas melalui loka karya mini

Tabel 17. CAKUPAN KUNJUNGAN PEKERJA SAKIT


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG

NO URAIAN 2014 2015 2016 2017 2018

1 Pekerja sakit yang dilayani 15.435 14.022 14.612 9.404 11.724


2 Kasus penyakit umum 15.571 14.460 15.140 9.821 12.926
dikalangan pekerja
3 Kasus penyakit yang diduga 162 122 84 40 1
berkaitan dengan pekerjaan
pekrja
4 Kasus penyakit akibat kerja 8 11 1 4 1
pada pekerja
5 Kasus kecelakaan yang 42 44 12 3 1
berkaitan dengan pekerjaan
JUMLAH 31.218 28.659 29.849 19.272 24.653

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 114


Adapun Penyakit terbanyak pada pekerja di wilayah kerja Puskesmas Sei
Jang adalah :
1. Ispa
2. Penyakit Muskuloskeral dan Sendi
3. Penyakit Gangguan Lambung dan Pencernaan
4. Penyakit Kulit, Alergi, Jamur dan Infeksi
5. Neurosa
6. Penyakit Mata
7. Kecelakaan Kerja (Luka bakar, Luka tusuk, Luka lecet, Kemasukan benda
asing, Dislokasi ringan)

4.4.3. Prolanis
Program pengelolaan penyakit kronis
atau prolanis adalah suatu sistem pelayanan
kesehatan dan pendekatan proaktif yang
dilaksanakan secara terintegrasi yang
melibatkan peserta, fasilitas kesehatan dan
BPJS kesehatan dalam rangka pemeliharaan
kesehatan bagi peserta BPJS kesehatan yang
menderita penyakit kronis untuk mencapai
kualitas hidup yang optimal dengan biaya
Dr. Raja Dina Iswanty
Pengelola Prog.Prolanis pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien.

4.4.3.1 Tujuan

Mendorong peserta penyandang penyakit kronis mencapai kualitas


hidup optimal dengan indikator 75 % peserta terdaftar yang
berkunjung ke faskes tingkat pertama memiliki hasil “baik” pada
pemeriksaan spesifik terhadap penyakit DM tipe 2 dan hipertensi
sesuai panduan klinis terkait sehingga dapat mencegah timbulnya
komplikasi penyakit.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 115


4.4.3.2 Sasaran

Seluruh peserta BPJS kesehatan penyandang penyakit kronis (


diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi ).

4.4.3.3 Pelaksanaan di Puskesmas Seijang


Tanggal 10 Oktober 2014, pertama kali Puskesmas Seijang
mengadakan kegiatan prolanis yang dinamakan klub Sejahtera dengan
jumlah peserta awal 40 orang. Kegiatan Prolanis pertama dan sampai
sekarang dilaksanakan setiap rabu, pukul 07.00 s/d 08.00 wib di
lapangan Volly Bukit Harapan yang terletak persis di belakang
Puskesmas Seijang. Pelaksana kegiatan ini : Penanggungjawab Kepala
Puskesmas Seijang, koordinator pelaksanaan oleh 1 orang dokter dan
dibantu 2 orang tenaga paramedis Puskesmas Seijang dan 2 dokter
Intership .
Kegiatan prolanis dilaksanakan setiap minggu dengan jadwal
kegiatan senam prolanis setiap minggu yang dipimpin oleh instruktur
senam yang didatangkan dari PERSADIA RSUD Kota Tanjungpinang.
Kegiatan lain di luar senam, peserta prolanis akan mendapatkan
pemeriksaan tekanan darah ( setiap sebelum senam ), pengukuran
tinggi badan (diminggu ketiga ), pemeriksaan GDS / GDP (diminggu ke
4) dan edukasi tentang 9 penyakit kronis yaitu : Hipertensi, DM,
Jantung, Asma, PPOK, epilepsi, skizofrenia, stroke, SLE yang dilakukan
setiap minggu ke-2 dengan narasumber dari Dokter umum dari
Puskesmas Seijang
Kegiatan Prolanis ini mendapatkan bantuan dana operasional
yang berasal dari BPJS, setiap sehabis melaksanakan kegiatan akan
dikirim bukti pelaksanaan kegiatan seperti absen peserta yang hadir,
hasil pemeriksaan peserta, foto kegiatan ( di foto sewaktu berlangsung
senam dan materi edukasi beserta pertanyaan yang diberikan ke
narasumber ) serta kwitansi untuk konsumsi yang diberikan setiap
sehabis senam.
Prestasi yang sudah dicapai club Sejahtera Prolanis Puskesmas
Seijang adalah juara 1 lomba senam Prolanis yang diadakan oleh
PERSADIA cabang Tanjungpinang dalam rangka memperingati ulang
tahun PERSADIA yang ke – 10 pada bulan Februari 2015
Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 116
Program prolanis di PKM Sei jang, rutin masih dilaksanakan
setiap rabu pagi sampai sekarang. Peserta prolanis juga didampingi
oleh dua orang dokter internship yang bertugas mengelola pasiennya
masing- masing ( 1 dokter untuk DM, 1 dokter untuk HT ) memberikan
edukasi dan pengobatan setelah berlangsungnya senam. Dokter
Internship juga dapat melaksanakan mini projek yang berhubungan
erat dengan kondisi peserta prolanis.
Mini projek dikerjakan selama satu periode dokter internship
bertugas di Puskesmas Seijang yaitu selama 4 bulan. Hasil mini projek
di presentasikan di akhir masa tugas dokter Intership dan di nilai
manfaatnya oleh Kepala Puskesmas, Dokter dan paramedis yang
bertugas di Puskesmas Seijang. Hasil mini projek yang sudah
terlaksana ini sangat bermanfaat untuk peserta Prolanis sehingga
mereka lebih stabil kondisi kesehatannya sejak menjadi peserta
Prolanis Club Sejahtera di Puskesmas Sei Jang.

4.4.4. Laboratorium
Laboratorium Puskesmas adalah sarana pelayanan
kesehatan di Puskesmas yang melaksanakan
pengukuran, penetapan, dan pengujian terhadap bahan
yang berasal dari manusia untuk penentuan jenis
penyakit, penyebaran penyakit, kondisi kesehatan, atau
faktor yang dapat berpengaruh pada kesehatan
perorangan dan masyarakat.
Onistya K.D, AMAK
Pengelola Laboratorium

Laboratorium Puskesmas diselenggarakan berdasarkan kondisi dan


permasalahan kesehatan masyarakat setempat dengan tetap berprinsip pada
pelayanan secara holistik, komprehensif, dan terpadu dalam
rangkameningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 117


Kegiatan Pemeriksaan Laboratorium di Dalam dan Luar Gedung

Adapun kegiatan pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan di Puskesmas Sei


Jang selama tahun 2018 sebagai berikut:
1. Pemeriksaan Urine
2. Pemeriksaa Feaces
3. Pemeriksaan Darah
4. Pemeriksaan Sekret
5. Pemeriksaan Malaria
6. Pemeriksaan Sputum

Tabel 18. CAKUPAN KEGIATAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM DI


PUSKESMAS SEI JANG TAHUN 2018

BULAN
No. KEGIATAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
URINE 29 43 58 111 38 31 61 50 36 64 48 28
- Urine 3 4 6 9 8 1 3 6 6 13 2 4
Lengkap
1 - Reduksi 1 6 11 5 3 3 6 3 6 4 5 2
- Protein 1 6 11 5 3 3 6 3 6 4 5 2
- Billirubin 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
- Pregnant 24 27 30 92 24 24 46 38 18 43 36 20
Test
FEACES 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 - Cacing 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 118


DARAH 662 804 858 1044 940 494 985 941 1049 975 987 868
- Darah 8 18 4 11 13 13 8 0 2 24 1 0
Lengkap
- Hb 68 74 95 107 79 62 138 104 77 114 110 79
- DHF Test 0 0 7 6 12 3 0 0 0 5 11 9
3 - Golongan 63 55 71 121 81 41 175 94 92 74 101 53
Darah
- Widal Test 0 0 7 9 9 3 14 8 0 3 6 13
- GDS 163 150 191 210 197 101 167 183 219 239 211 180
- Kolesterol 92 140 174 182 165 92 157 191 218 189 158 134
- Asam Urat 136 131 170 184 175 84 173 145 206 189 161 134
- HIV 54 90 47 80 80 29 51 82 93 46 92 120
- Syphilis 53 90 47 85 80 41 51 84 95 47 92 110
- HbsAg 25 56 45 48 49 25 51 50 47 42 44 36
SEKRET 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
4 Sediaan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Basah
Sediaan Kering 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
MALARIA 1 1 0 2 5 3 2 0 0 0 0 0
- Negatif 1 1 0 2 5 3 2 0 0 0 0 0
- Vivax 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
5 - Ovale 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
- Malariae 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
- Palcivarum 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
- Mix 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
6 SPUTUM 10 12 20 19 13 6 10 14 31 17 16 23
- BTA ( + ) 3 2 3 3 1 2 0 2 2 2 2 1
- BTA ( - ) 7 10 17 16 12 4 10 12 29 15 14 22
- BTA Kusta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Profil Kesehatan Puskesmas Sei Jang 2017 119