Anda di halaman 1dari 4

1.

Deskripsikan kasus diatas berdasarkan :

a. Masalah pokoknya.

SEBANYAK 2.357 ASN YANG MELAKUKAN KORUPSI DAN BELUM DILAKUKAN PENINDAKAN OLEH
HUKUM SERTA SERTA BANYAK YANG SALAH TANGGAPAN TENTANG Surat Edaran Mendagri
tertanggal 29 Oktober 2012 perihal Pengangkatan kembali PNS dalam jabatan struktural.Dalam surat
yang ditujukan kepada Gubernur , Bupati , dan walikota diseluruh Indonesia itu disebutkan,pegawai
negeri sipil yang telah menjalani hukuman pidana tidak diperkenankan menduduki jabatan struktural
Namun ,kemudian ada yang mengartikan ASN tersebut tetap boleh bekerja asalkan tidak menduduki
jabatan struktural.

b. Aktor yang terlibat beserta perannya masing-masing berdasarkan konteks deskripsi kasus.

 ASN BERPERAN SEBAGAI KORUPTOR


 Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo sebagai pejabat pembina kepegawaian ( PPK ) dan
sekretaris daerah selaku pejabat yang berwenang dalam manajemen ASN
 Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Agus Raharjo,
 Kepala Badan Kepegawaian Negara ( BKN ) Bima Haris Wibisana
 Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (
Kementerian PAN dan RB ) Dwi Wahju Atmaji.

2. Lakukan analisis terhadap;

a. Bentuk penerapan dan pelanggaran terhadap nilai-nilai dasar PNS, dan pengetahuan
tentang kedudukan dan peran PNS dalam NKRI oleh setiap aktor yang terlibat berdasarkan
konteks deskripsi kasus.

Ada lima nilai dasar profesi PNS, yaitu akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen
mutu, dan antikorupsi. Lima nilai dasar yang biasa disingkat ANEKA ini merupakan modal
awal PNS dalam menjalankan tugasnya. Sebelum mengimplementasikan nilai dasar PNS, ada
satu tahap yang dilalui yaitu tahap internalisasi. Internalisasi merupakan proses pemahaman
atas nilai yang terkandung dari masing-masing poin ANEKA.

Akuntabilitas merupakan kesadaran adanya tanggung jawab dan kemauan untuk


bertanggung jawab. PNS memiliki tugas pokok fungsi yang wajib untuk dijalankan. Setiap
PNS hendaknya sadar akan tugasnya. Tidak hanya sekadar sadar. Mereka juga harus
bertanggung jawab atas apa yang telah dilaksanakan. Sebagai abdi masyarakat, PNS memiliki
tanggung jawab yang besar.

Nasionalisme merupakan sikap menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Setiap sila dalam
Pancasila mengandung nilai-nilai kemuliaan. Sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa.
Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketiga, Persatuan Indonesia. Keempat,
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lima sila ini merupakan pondasi dan
pandangan hidup bangsa Indonesia. Sebagai motor penggerak suatu negara, PNS harus
mampu menjadi teladan.
Etika publik merupakan pemberian pelayanan yang layak kepada masyarakat. Seorang PNS
harus mampu memberi pelayanan yang ramah selama menjalankan tugasnya.

Komitmen mutu merupakan sikap menjaga keefektifan dan efisiensi kerja. Mutu PNS dalam
menjalankan tugas hendaknya mengalami kemajuan dari waktu ke waktu.

Antikorupsi merupakan sikap tegas memerangi korupsi. Memutus mata rantai korupsi dapat
diawali dari diri sendiri. Baik itu korupsi waktu, korupsi uang, maupun korupsi tugas. Setiap
individu hendaknya dapat menjadi pengingat bagi dirinya masing-masing.

Disini ASN TIDAK BOLEH MELAKUKAN PRAKTEK KORUPSI, KARENA


BERTENTANGAN DENGAN NILAI2 DASAR PNS

tidak menggunakan uang negara untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Selain itu ASN juga
harus memahami hambatan dalam penanganan korupsi ada 4 (empat) yaitu hambatan
struktural yang merupakan praktek penyelenggaraan negara atau pemerintahan

Hambatan kultural yaitu kebiasaan yang kurang baik, hambatan instrumental yaitu terkait
dengan perundang -- undangan, serta yang terakhir adalah hambatan manajemen yaitu tidak
diterapkan prinsip manajemen yang baik. Maka dari itu ASN dan kita semua harus
mewujudkan sikap anti korupsi dengan bekal Niat, Semangat dan Komitmen untuk
menciptakan serta menyuarakan sikap Anti Korupsi.

b. Dampak tidak diterapkannya nilai-nilai dasar PNS dan pengetahuan tentang


kedudukan dan peran PNS dalam NKRI berdasarkan konteks deskripsi kasus.

Dampak tidak diterapkannya nilai dasar, Dampak jika tidak diterapkannya nilai-nilai
dasar PNS adalah kita semua akan menerima dampaknya bukan hanya PNS atau
pejabat saja yang merasakan tetapi juga masyarakat luas akan mudah terpengaruh
hal-hal yang dapat merugikan negara dan masyarakat. Sebagai contoh korupsi
dalam ekonomi saja rakyat akan miskin, banyaknya penggangguran,sosial yaitu
harga barang dan jasa pelayanan akan mahal, birokrasi yaitu runtuhnya otoritas
pemerintah, tidak ada kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, penegakan
hukum yaitu hukum dapat di beli sehingga hukum hanya berlaku untuk kalangan
bawah namun tidak untuk orang-orang yang memiliki uang dan kekuasaan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa penerapan nilai-nilai ANEKA bukan merupakan perkara yang
mudah.Berbagai tantangan dan hambatan senatiasa menjadi komplesitas problema tersendiri.
Namun sebagai bentuk political will untuk mendukung reformasi birokrasi dan mengarahkan kinerja
serta hasil kerja organisasi dalam konsepsi good governance, maka seorang ASN/ PNS memiliki
tanggungjawab untuk mengimplementasikan nilai dasar ANEKA tersebut.
3. Deskripsikan gagasan-gagasan alternatif pemecahan masalah berdasarkan konteks deskripsi
kasus.

Pemerintah harus menghukum tegas para koruptor karena banyak dampak


yang akan terjadi.
Para koruptor harus diberikan tuntutan maksimal berdasarkan UU nomor 31
tahun 1999 dan UU nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan korupsi.
Memiskinkan koruptor dengan menyita harta kekayaannya UU nomor 8 tahun
2010 pasal 77 tentang tindak pidana pencucian uang. Mencabut hak politik
koruptor sehingga yang bersangkutan tidak dapat lagi memilih ataupun dipilih.
Memberikan sanksi finansial/ekonomi sehingga mereka tidak dapat
melakukan kredit kepada bank.

Menciptakan Pendidikan Anti Korupsi – Upaya pemberantasan korupsi melalui jalur


pendidikan harus dilaksanakan karena tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan merupakan
wahana yang sangat startegis untuk membina generasi muda agar menanamkan nilai-nilai
kehidupan termasuk antikorupsi.
Membangun Pendidikan Moral Sedini Mungkin – Mengapa banyak pejabat Negara ini
yang korupsi? Salah satu jawabannya karena mereka bermoral miskin, bertabiat penjahat dan
tidak bermartabat. Jika seseorang memiliki moral yang rendah, maka setiap gerak langkahnya
akan merugikan orang. oleh karena itu sangat penting sekali membekali pendidikan moral
pada generasi muda.
Pembekalan pendidikan Religi yang Intensif – Semua agama mengajarkan pada kebaikan.
Tidak ada satupun agama yang menyuruh kita berbuat untuk merugikan orang lin, seperti
korupsi. Peran orang tua sangat berpengaruf untuk menumbuhkan kesadaran religi pada anak
agar kelak saat dewasa memiliki moral dan mentalitas yang baik.

Masalah korupsi bukanlah urusan pemerintah saja tetapi juga harus ada
pengawasan dari masyarakat. Yang bisa dilakukan masyarakat adalah tidak
membiarkan tindakan-tindakan yang dapat merugikan negara dan
masyarakat, bukan hanya korupsi, sekarang ini yang terjadi adalah
penjajahan dari luar dengan cara yang tidak nampak tetapi besar
pengaruhnya seperti proxi war. Untuk itu jika ad melihat hal-hal sepeti ini
harus segara melaporkan.
Tanamkan dalam diri kita sadar diri kita untuk melawan segala bentuk korupsi
dan penjajahan untuk menjaga negeri yang tercinta.
NKRI HARGA MATI.

4. Deskripsikan konsekwensi penerapan dari setiap alternatif gagasan pemecahan masalah


berdasarkan konteks deskripsi kasus.
Tindak pidana korupsi digolongkan sebagai kejahatan luar biasa. Hal tersebut dikarenakan
perbuatan korupsi telah melanggar hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat. Kerugian
negara yang ditimbulkan dari korupsi pun jauh lebih besar dari jumlah uang yang dikorupsi
.Tindak pidana ini juga menimbulkan kerusakan yang besar bagi kehidupan bermasyarakat
dan bernegara. Oleh karena itu, memberantas korupsi tidak lagi dapat dilakukan ‘secara
biasa’ tetapi dituntut cara-cara yang luar. Hukuman atau sanksi yang diberikan juga
seharusnya mempertimbangkan akibat damage (kerusakan) sosial, ekonomi, maupun
lingkungan yang ditimbulkan oleh koruptor tersebut.

Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan mengakui eksistensi pemaknaan
tersebut kemudian memikirkan bagaimana mengelolanya secara atentif, bukan dismisif.
Berbagai perbuatan yang saat ini dikelompokkan dalam keranjang besar “korupsi” perlu
dipilah lagi dan dikenali akar penyebab dan solusinya secara terpisah dengan melihat konteks
ekonomi, sosial-budaya dari perbuatan tersebut.

Kontekstualisasi antikorupsi bukan upaya pembelaan atas korupsi, tapi sebuah upaya untuk
meningkatkan rasa kepemilikan dan efektivitas dari gerakan ini. Indonesia sebagai bagian
dari masyarakat Dunia Ketiga perlu mencermati pengadopsian konsep-konsep yang dianggap
universal agar tidak menciptakan masalah-masalah sosial baru dengan mengalienasi
identitasnya sendiri demi memperjuangkan ide-ide abstrak yang tidak berpijak pada nilai-
nilai kehidupan bermasyarakat seperti resiprositas dan interdependensi.

Upaya ini boleh jadi dipandang sebagai pendekatan yang radikal atau bahkan aneh dalam
merumuskan kembali gerakan antikorupsi. Meski demikian, sebuah keanehan tidaklah perlu
ditakuti asalkan memiliki landasan berpikir yang kuat dan terlegitimasi. Lebih pentingnya
lagi, upaya ini bertujuan agar antikorupsi tak menjadi slogan kosong yang tak mempunyai
dampak nyata pada perilaku sehari-hari.

Anda mungkin juga menyukai