Anda di halaman 1dari 8

Penyakit ini dapat bersifat akut maupun kronis.

Infeksi anaplasma biasanya ditandai


dengan adanya demam, anemia, ikterus, dan kekurusan tanpa hemoglobinuria. Ada tiga fase
penyakit infeksi anpalasma pada anjing. Fase akut cenderung ringan dan terjadi 1 sampai 3
minggu setelah anjing tersebut digigit oleh vektor yang terinfeksi.

Anaplasma mulai masuk dalam sel darah merah, hal ini menyebabkan sistem kekebalan tubuh
akan menghancurkan sel darah merah yang terinfeksi, dan mengakibatkan penurunan sel darah
merah. Anjing dapat menjadi lesu, kurang nafsu makan, dan dapat menyebabkan pembesaran
pada kelenjar getah bening. Demam mungkin ada juga terjadi. Fase ini jarang mengancam nyawa.
Kebanyakan agen anaplasma akan hilang sendiri setelah fase satu, tapi beberapa akan melanjutkan
ke tahap berikutnya.

Tahap kedua dianggap sebagai "fase subklinis", di mana anjing terlihat normal. Agen anplasma
biasanya bersembunyi di limpa pada fase ini. Hal ini menyebabkan umum ditemukan pembesaran
limpa. Anjing bisa berada pada fase subklinis selama berbulan-bulan atau bahkan hingga
bertahun-tahun. Fase terakhir adalah fase kronis ketika anjing sakit lagi. Selama fase ini hingga
60% anjing terinfeksi akan mengalami anemia akibat berkurangnya sel darah merah.

Spesies Anaplasma ditularkan baik secara mekanis maupun secara biologis oleh vektor arthropoda.
Studi yang dilaksanakan untuk mempelajari anaplasma melaporkan daftar sampai dengan 19
arthropoda yang berbeda yang mampu menularkan Anaplasma marginale secara eksperimental.
Salah satu arthropoda yang dapat menularkan anaplasma di anjing ialah Rhipicephalus
sanguineus. Transmisi penyakit ini dapat melalui transmisi Intrastadial atau transstadial
Fase awal saat anaplasma pertama kali dapat terinfeksi ialah pada saat 4-18 hari setelah infeksi
dengan ukuran tubuhnya berkisar 1-6 µm. Identifikasi agen anaplasmosisi dapat dilakukan dengan
pengamatan pada preparast ulas darah yang diwarnai dengan pewarna giemsa.

Pengobatan anplasmosis dapat dilakukan dengan pemberian anti anaplasmosis berupa antibiotik
seperti doxycicline dengan dosis perhari 10 mg/kg bb selama 3-4 minggu (Tsachev 2009). Selain
itu obat-obatan seperti imiodiocarb juga dapat digunakan untuk mengobati anaplasma. Obat ini
juga dapt bekerja ganda menghancurkan parasit lain seperti babesia.
(Tsachev 2009).
Tsachev I. 2009. Canine Granulotic Anaplasmosis. Trakia Journal of Sciences 7 (1): 68-72.

Erlichia canis terdiri atas periode inkubasi selama 8-20 hari, diikuti dengan fase akut, sub
klinis, dan kemudian kronik. Erlichia canis tidak memiliki vili untuk membantu masukknya bakteri
ke dalam sel. Bakteri akan berikatan dengan dinding sel hospes untuk menginfeksi kemudian
bakteri berikatan dengan dinding sel hospes membentuk kompartemen dalm endosom kemudian
Erlichia canis akan menarik sel-sel imun untuk melawan infeksi yaitu sel fagosit mononuclear
yang kemudian akan di telan dan bakteri akan menginfeksi sel tersebut yaitu monosit pada anjing.
Sebuah monosit akan mengandung 1 sampai 2 morula yang menginvasi dan multifikasi di dalam
endosom. Akibatnya, patogen ini bertahan dalam sel hospes dengan menekan jalur sinyal
tranduksi terhadap aktifitas bateri tersebut. Pada anjing yang terinfeksi, system imun tubuh akan
menurun sehingga menyebabkan kegagalan organ multisistem dan terjadi kerusakan jaringan yang
parah.

Erlichia canis yang bersifat multi-sistemik dapat menyebabkan infeksi multi-organ. Infeksi
multi-organ dikaitkan dengan adanya penurunan respon imun dari hospes sehingga menyebabkan
kerusakan jaringan seperti infeksi pada limpa, periarteriolar, limfonodus, hepar, dan sumsum
tulang dimana adanya peningkatan sel fagosit mononuclear yang ada pada jaringan tersebut.

Erlichia canis juga dapat menyebabkan platelet disorders dan perubahan serum imun
protein dimana akan nampak gejala trombositopenia yang termasuk dalam fase akut.
Trombositopenia dapat disebabkan karena peningkatan konsumsi platelet pada saat inflamasi yang
mengubah endothelium pembuluh darah, meningkatnya kerja limpa dalam menghasilkan
trombosit serta terjadi destruksi secara imunologi atau hasil kerusakan secara signifikan sehingga
mengurangi masa hidup platelet.

Gangguan dan kondisi yang dapat mengakibatkan anemia non regeneratif, Antara lain :

1. Penyakit inflamasi
 Agen infeksius bacterial, fungal, viral, protozoa, dan parasite
 Agen non infeksius
 Gagal ginjal kronis, juga menyebabkan normsitik normokromik anemia

Anemia dapat menyebabkan inflamasi atau infeksi kronis dan penyakit hati. Anemia
dimediasi oleh produksi sitokin yang dikeluarkan sel radang yang menyebabkan penurunan
pengadaan zat besi, daya tahan eritrosit, dan kemampuan sumsum tulang untuk
beregenerasi.
PATOGENESA

Erlichia canis terdiri atas periode inkubasi selama 8-20 hari dan Anaplasma sp 6-38 hari.

Organisme ini berkembang biak di mononukelar sistem dan granulositik system dengan

pembelahan secara biner dan menyebar ke seluruh tubuh. Patomekanisme setelah terjadi

pembelahan secara biner di dalam sel, Erlichia sp. dan Anaplasma sp. akan dilepaskan untuk

menginfeksi sel-sel baru saat sel hospes melai pecah pada fase morulla. Erlichia sp. dan Anaplasma

sp. melindungi dirinya dengan membentuk seperti sebuah kantung agar tidak dihancurkan oleh

lisosom. Erlichia sp. dan Anaplasma sp. kemudian mampu berkomunikasi dengan Retikulum

endoplasma (RE) untuk mengkode protein ankyrin sehingga mampu menghasilkan antibodi

berupa antiplatelet ataupun hidrolitic enzyme yang akan memudahkan sel darah untuk menempel

pada reseptor makrofag yang akan memicu penghancuran sel darah (Sainz, 2015).

Erlichiosis terdiri dari fase akut, subklinis, dan kronis. Fase akut dimulai 1-3 minggu

setelah infeksi dan berlangsung 2-4 minggu . fase subklinis berlangsung beberapa bulan sampai

bertahun-tahun dimana anjing tidak menunjukkan gejala. Fase kronis kronis dapat berlangsung

ringan sampai berat (Faria et al, 2010). Pada fase akut menyebar hingga ke limpa, liver, dan

limfonodul. Pada subklinis terjadi trombositopenia, leukopenia, anemia, dan hyperglobulinemia.

Pada fase kronis, terjadi penurunan produksi pada sumsum tulang seperti platelet dan eritrosit,

lymphadenopathy, splenomegaly, gangguan CNS, gangguan ocular (anterior uveitis), dan paru-

paru (Mylonakis et al, 2010).

Erlichia canis tidak memiliki vili untuk membantu masukknya bakteri ke dalam sel. Bakteri

akan berikatan dengan dinding sel hospes untuk menginfeksi kemudian bakteri berikatan dengan

dinding sel hospes membentuk kompartemen dalam endosom kemudian Erlichia canis akan

menarik sel-sel imun untuk melawan infeksi yaitu sel fagosit mononuclear yang kemudian akan di
telan dan bakteri akan menginfeksi sel tersebut yaitu monosit pada anjing. Sebuah monosit akan

mengandung 1 sampai 2 morula yang menginvasi dan multifikasi di dalam endosom. Akibatnya,

patogen ini bertahan dalam sel hospes dengan menekan jalur sinyal tranduksi terhadap aktifitas

bateri tersebut. Pada anjing yang terinfeksi, system imun tubuh akan menurun sehingga

menyebabkan kegagalan organ multisistem dan terjadi kerusakan jaringan yang parah.

Erlichiosis akan terus bersembunyi ke dalam sistem antibodi tubuh, sehingga sulit bagi

sistem pertahanan tubuh untuk melawan patogenitas bakteri Erlichia canis, disamping

menggunakan sistem kekebalan tubuh sebagai inang, sel ini dapat menyebabkan system

mononuclear memproduksi antibodi antiplatelet sebagai efek dari immune mediated

thrombocytopenia. immune mediated thrombocytopenia adalah salah satu mekanisme yang

menyebabkan kerusakan trombosit selama fase akut dari penyakit Erlichiosis. Antibodi antiplatelet

adalah salah satu penyebb trombositopenia (Yabsley et al,. 2008). Kerusakan sel host

mengakibatkan berkurangnya respon erythropoietic (pembentukan sel darah merah) sehingga

menurunkan produksi eritrosit, sehingga akan menyebabkan gejala anemia normositik,

normokromik, dan non regeneratif (Waner and Harrus , 2000).

Infeksi anaplasma biasanya ditandai dengan adanya demam, anemia, ikterus, dan

kekurusan tanpa hemoglobinuria. Ada tiga fase penyakit infeksi anpalasma pada anjing. Fase akut

cenderung ringan dan terjadi 1 sampai 3 minggu setelah anjing tersebut digigit oleh vektor yang

terinfeksi. Anaplasma mulai masuk dalam sel darah merah, hal ini menyebabkan sistem kekebalan

tubuh akan menghancurkan sel darah merah yang terinfeksi, dan mengakibatkan penurunan sel

darah merah. Anjing dapat menjadi lesu, kurang nafsu makan, dan dapat menyebabkan

pembesaran pada kelenjar getah bening. Demam mungkin ada juga terjadi. Fase ini jarang
mengancam nyawa. Kebanyakan agen anaplasma akan hilang sendiri setelah fase satu, tapi

beberapa akan melanjutkan ke tahap berikutnya.

Tahap kedua dianggap sebagai "fase subklinis", di mana anjing terlihat normal. Agen

anplasma biasanya bersembunyi di limpa pada fase ini. Hal ini menyebabkan umum ditemukan

pembesaran limpa. Anjing bisa berada pada fase subklinis selama berbulan-bulan atau bahkan

hingga bertahun-tahun. Fase terakhir adalah fase kronis ketika anjing sakit lagi. Selama fase ini

hingga 60% anjing terinfeksi akan mengalami anemia akibat berkurangnya sel darah merah.

Transmisi anaplasma sp melalui vektor caplak sampai menginfeksi hospes membutuhkan waktu

36-48 jam. Anaplasma platys menginfeksi trombosit dengan membentuk inclution body pada

sitoplasma platelet, kondisi tersebut menyebabkan trombositopenia akibat dari konsumsi latelet

oleh agen infeksius (Antognoni, 2014).


TERAPI

OBAT INJEKSI

Terapi Zat aktif Dosis dan Kegunaan


jumlah
pemberian
pada hewan
Terapi Doxicycline Doxicycline Menghambat sintesis
kausatif protein sel mikroba.
Kaloxy® Oxytetracycline Menghambat
200mg terjadinya infeksi
sekunder dengan
mekanisme kerja
merusak sintesis
protein bakteri
Terapi Dicynone® Ethamsylate 500mg Mencegah adanya
simtomatis pendarahan
Terapi Hematodin® Taurine 0,2g Dosis 0,1 Vitamin untuk anemia
supportif Ammonium 2g ml/kg q12h karena kekurangan zat
Methionine 1g besi akibat parasite,
Histidine 0,5g penyakit infeksi, gizi
Trypotopan 0,25g tidak seimbang,
Cobalt acetate 0,25g membantu
Cyanocobalamin pertumbuhan dan
0,001g penambahan berat
Excipient qs 100ml badan dan
meningkatkan daya
tahan tubuh terhadap
penyakit.
Biodin® Adenosin Triphosphat Dosis 0,1 Sebagai energi dalam
(ATP) 0.1g ml/kg q12h proses metabolism sel,
Magnesium Aspartate mengatur
1,5g keseimbangan ion-ion
Potassium Aspartate tubuh pada proses
1,0g metabolism sel,
Sodium selenite 0,1g mengatur reaksi
Vitamin B1 20,05g enzimatis pada proses
Excipient 100ml metabolism sel dan
sebagai antioksidan.
Neurobion ® Thiamin Hcl Untuk metabolism sel
Pyridoxin Hcl saraf, membentuk
Cobalamin energi, serta
pembentukan eritrosit.
Fufang® E-Jiao (gelatin), Hong Meningkatkan kadar
shen (gingseng trombosit.
merah), shu di huang Mengandung protein,
(rehmannia), shan zha asam amino, kalsium,
(fructus crataegi) besi, seng dan alkaloid
saponin yang
berkhasiat untuk
mengatasi masalah
anemia.
Bio ATP® Atp 20mg Suplemen nutrisi untuk
Vit B1 100mg membantu menambah
Vit B6 200mg energy dan
Vit B12 200mg meningkatkan
Vit E 30mg metabolism tubuh.
Orbumin® Albumin 153,56mg Membantu
Protein 285,19mg meningkatkan kadar
Lemak total 18,55mg albumin darah pada
Mineral 23,7mg pasien hipoalbumin
seperti pada kasus
penyakit kronis (ginjal,
hati, paru-paru)
Curcuma® Vitamin B1 2mg Untuk membantu
Vitamin B2 3mg menjaga liver dan
Vitamin B6 2mg menambah nafsu
Vitamin B12 5mcg makan.
Betakaroten 10% 4mg
Dekspantenol 3mg
Lysine HCL 200mg
Methycobait® Vitamin B12 meningkatkan
pembentukan sel darah
merah dengan
membantu pematangan
dan proses pembelahan
sel darah merah