Anda di halaman 1dari 33

TUGAS!

GEOLOGI SEJARAH
“ SKALA WAKTU GEOLOGI

OLEH:

MUHAMMAD SYAIFUDDIN

RICII6082

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
SKALAWAKTU GEOLOGI

A. Waktu Geologi.

Skala waktu geologi adalah sistem penanggalan bumi yang dipakai untuk

menjelaskan waktu dan hubungan antar peristiwa yang terjadi sepanjang sejarah

bumi.Skala waktu geologi digunakan oleh para ahli geologi dan ilmuwan untuk

menjelaskan waktu dan hubungan antar peristiwa yang terjadi sepanjang sejarah

Bumi. Tabel periode geologi yang ditampilkan di halaman ini disesuaikan dengan

waktu dan tatanama yang diusulkan oleh International Commission on

Stratigraphy dan menggunakan standar kode warna dari United States Geological

Survey. Waktu geologi bumi disusun menjadi beberapa unit menurut peristiwa

yang terjadi pada tiap periode.

Waktu geologi adalah skala waktu yang meliputi seluruh sejarah geologi

bumi dari mulai terbantuknya hingga saat ini. Sebelum perkembangan dari skala

waktu geologi pada abad ke-19, para ahli sejarah mengetahui bahwa bumi

memiliki sejarah yang panjang, namun skala waktu yang digunakan sekarang

dikembangkan sejak 200 tahun terakhir dan terus-menerus diperbaiki. Skala

waktu geologi membantu para ilmuwan memahami sejarah bumi dalam bagian-

bagian waktu yang teratur. Sebelum adanya pentarikhan radiometri, yang

mengukur kandungan unsur radioaktif dalam suatu objek untuk menentukan

umurnya, para ilmuwan memperkirakan umur bumi berkisar dari 4,000 tahun

hingga ratusan juta tahun. Saat ini, diketahui bahwa umur bumi adalah sekitar 4.6
milyar tahun. Giovani Arduino (1970) mengusulkan pembagian skala waktu

geologi menjadi 4 (empat), yaitu :

1. Primer (tertua)

2. Sekunder (menengah)

3. Tersier (termuda)

4. Quarter (lebih muda dari tersier)

Pada perkembangan selanjutnya istilah "primer" dan "sekunder" tidak

dipergunakan lagi hingga sekarang.

Skala waktu geologi saat ini dibuat berdasarkan pada pentarikhan radiometri dan

rekaman kehidupan purba yang terawetkan di dalam lapisan batuan. Sebagian

besar batas pada skala waktu geologi sekarang berhubungan dengan periode

kepunahan dan kemunculan spesies baru.

Waktu Geologi terbagi menjadi 2 EON (Fanerozoikum dan Prakambrium)

yang masing-masing terbagi menjadi beberapa Era yaitu : Kenozoikum,

Mesozaikum, dan Paleozaikum ( Eon Fanerozoikum) serta era Neoproterozaikum,

Mesoproterozaikum, Paleoproterozaikum, Neoarkean, Mesoarkean, Paleoarkean,

dan era Eoarkean (Eon Prakambrium). Rincian dengan dengan peristiwa yang

terjadi dan periode waktu dapat dilihat pada uraian berikut :


Pembagian skala waktu geologi

1. skala waktu absolute

Sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya, bahwa skala waktu relatif

didasarkan atas kehidupan masa lalu (fosil). Bagaimana kita dapat menempatkan

waktu absolut (radiometrik) ke dalam skala waktu relatif dan bagaimana pula para

ahli geologi dapat mengetahui bahwa:

1. Bumi itu telah berumur sekitar 4,6 milyar tahun

2. Fosil yang tertua yang diketahui berasal dari batuan yang diendapkan

kurang lebih 3,5 milyar tahun lalu.

3. Fosil yang memiliki cangkang dengan jumlah yang berlimpah diketahui

bahwa pertama kali muncul pada batuan-batuan yang berumur 570 juta

tahun yang lalu.

4. Umur gunung es yang terahkir terbentuk adalah 10.000 tahun yang lalu.

Para ahli geologi abad ke-19 dan para paleontolog percaya bahwa umur bumi

cukup tua, dan mereka menentukannya dengan cara penafsiran. Penentuan umur

batuan dalam ribuan, jutaan atau milyaran tahun dapat dimungkinkan setelah

diketemukan unsur radioaktif. Saat ini, kita dapat menggunakan mineral yang

secara alamiah mengandung unsur radioaktif dan dapat dipakai untuk menghitung

umur secara absolut dalam ukuran tahun dari suatu batuan.


Tabel. Skala Waktu Geologi Relatif

Sebagaimana kita ketahui bahwa bagian terkecil dari setiap unsur kimia adalah

atom. Suatu atom tersusun dari satu inti atom yang terdiri dari proton dan neutron

yang dikelilingi oleh suatu kabut elektron. Isotop dari suatu unsur atom dibedakan

dengan lainnya hanya dari jumlah neutron pada inti atomnya. Sebagai contoh,

atom radioaktif dari unsur potassium memiliki 19 proton dan 21 neutron pada inti

atomnya (potassium 40); atom potassium lainnya memiliki 19 proton dan 20 atau

22 neutron (potassium 39 dan potassium 41). Isotop radioaktif (the parent) dari
satu unsur kimia secara alamiah akan berubah menjadi isotop yang stabil (the

daughter) dari unsur kimia lainnya melalui pertukaran di dalam inti atomnya.

Perubahan dari “Parent” ke “Daughter” terjadi pada kecepatan yang konstan dan

dikenal dengan “Waktu Paruh” (Half-life). Waktu paruh dari suatu isotop

radioaktif adalah lamanya waktu yang diperlukan oleh suatu isotop radiokatif

berubah menjadi ½ nya dari atom Parent-nya melalui proses peluruhan menjadi

atom Daughter. Setiap isotop radiokatif memiliki waktu paruh (half life) tertentu

dan bersifat unik. Hasil pengukuran di laboratorium dengan ketelitian yang sangat

tinggi menunjukkan bahwa sisa hasil peluruhan dari sejumlah atom-atom parent

dan atom-atom daughter yang dihasilkan dapat dipakai untuk menentukan umur

suatu batuan.
Tabel. Skala Waktu Geologi Relatif dan Umur Radiometrik

Untuk menentukan umur geologi, ada empat seri peluruhan parent atau daughter

yang biasa dipakai dalam menentukan umur batuan, yaitu: Carbon atau Nitrogen

(C/N), Potassium atau Argon (K/Ar), Rubidium atau Strontium (Rb/Sr), dan

Uranium atau Lead (U/Pb). Penentuan umur dengan menggunakan isotop

radioaktif adalah pengukuran yang memiliki kesalahan yang relatif kecil. Namun

demikian, kesalahan yang kelihatannya kecil tersebut dalam umur geologi

memiliki tingkat kisaran kesalahan beberapa tahun hingga jutaan tahun. Jika

pengukuran mempunyai tingkat kesalahan 1 persen, sebagai contoh, penentuan

umur untuk umur 100 juta tahun kemungkinan mempunyai tingkat kesalahan

lebih kurang 1 juta tahun.

Teknik isotop dipakai untuk mengukur waktu pembentukan suatu mineral tertentu

yang terdapat dalam batuan. Untuk dapat menetapkan umur absolut terhadap skala

waktu geologi, suatu batuan yang dapat di-dating secara isotopik dan juga dapat

ditetapkan umur relatifnya karena kandungan fosilnya. Banyak contoh, terutama

dari berbagai tempat harus dipelajari terlebih dahulu sebelum ditentukan umur

absolutnya terhadap skala waktu geologi.

Tabel di bawah ini adalah Skala Waktu Geologi yang merupakan hasil spesifikasi

dari “International Commission on Stratigraphy” pada tahun 2009. Adapun

warna yang tertera dalam tabel Skala Waktu Geologi merupakan hasil spesifikasi

dari “Committee for the Geologic Map of the World” tahun 2009.
Tabel. Skala Waktu Geologi Menurut International Commission on Stratigraphy

1. EON : FANEROZOIKUM

1.1. ERA : KENOZOIKUM

1.1.1. PERIODE : NEOGEN

1.1.1.1. KALA/SERI : HOLOSEN (0,011430 ± 0,00013)Peristiwa Utama :

Akhir glasiasi dan kebangkitan peradaban manusia.

1.1.1.2. KALA/SERI :PLEISTOSEN (1,806 ± 0,005) Peristiwa Utama :

Berkembangnya dan selanjutnya punahnya banyak mamalia besar

(megafauna Pleistosen). Evolusi manusia modern secara anatomis. Awal

Zaman Es terkini.

1.1.1.3. KALA/SERI :PLIOSEN (5,332 ± 0,005) Peristiwa Utama : Iklim

dingin dan kering. Australopitheca; banyak mamalia dan moluska yang

saat ini ada mulai muncul. Homo habilis muncul.

1.1.1.4. KALA/SERI : MIOSEN (23.03 ± 0,05) Peristiwa : Iklim moderat;

Orogeny di belahan utara. Mamalia dan familia burung modern dikenali.

Berbagai kuda dan mastodon berkembang. Rumput tumbuh di mana-mana.

Kera pertama muncul.

1.1.2. PERIODE : PALEOGEN


1.1.1.1. KALA/SERI : OLIGOSEN (33,9 ± 0,1) Peristiwa Utama : Iklim

hangat; Evolusi dan diversifikasi pada fauna pesat, terutama mamalia.

Evolusi dan penyebaran utama berbagai jenis tumbuhan berbunga modern.

1.1.1.2. KALA/SERI : EOSEN (55,8 ± 0,2)

Peristiwa Utama : Mamalia kuno (mis. Creodont, Condylarth, Uintatheriidae, dll)

berkembang. Munculnya beberapa keluarga mamalia "modern". Paus primitif

terdiversifikasi. Rumput pertama. Ice cap berkembang di Antarktika. (megafauna

Pleistosen). Evolusi manusia modern secara anatomis. Awal Zaman Es terkini.

1.1.1.3. KALA/SERI :PALEOSEN (65,5 ± 0,3)

Peristiwa Utama : Iklim tropis. Tumbuhan modern muncul; Mamalia

terdiversikasi menjadi beberapa garis keturunan primitif menyusul kepunahan

dinosaurus. Mamalia besar pertama (sampai seukuran beruang atau kuda nil

kecil).

1.2. ERA : MESOZOIKUM

1.2.1 & 2. PERIODE : 1. KAPUR 2. JURA

1.2.1 & 2. 1. KALA/SERI : atas/akhir (99,8 ± 0,9); Bawah/Awal (145,5 ± 4,0);

Atas/Akhir (161, ± 4 ); Tengah (175,6, ± 2,0 ); Bawah/awal (199,6, ± 0,6 )

Peristiwa Utama : Tumbuhan berbunga berkembang, bersama dengan jenis-jenis


baru insekta. Ikan bertulang sejati (Teleostei) modern mulai bermunculan.

Ammonita, Belemnoidea, Bivalvia rudist, Echinoidea dan Porifera umum

ditemukan. Banyak jenis baru dinosaurus (mis. Tyrannosauridae, Titanosauridae,

Hadrosauridae, dan Ceratopsidae) berkembang, juga Crocodilia modern;

mosasaurus dan hiu modern muncul di laut. Burung primitif perlahan

menggantikan pterosaurus. Mamalia monotremata, marsupialia and eutheria

bermunculan. Gondwana terpecah. Gymnospermae (terutama tumbuhan runjung,

Bennettitales dan sikas) dan paku-pakuan umum ditemukan. Banyak jenis

dinosaurus, seperti sauropoda, carnosaurus, and stegosaurus. Mamalia kecil

umum ditemukan. Burung pertama dan hewan melata bersisik (Squamata).

Ichthyosaurus dan plesiosaurus berkembang. Bivalvia, ammonita dan

Belemnoidea juga banyak dijumpai. Bulu babi sangat umum, juga lili laut,

bintang laut, Porifera, Brachiopoda, Terebratulida, dan Rhynchonellida.

Terpecahnya Pangaea menjadi Gondwana dan Laurasia.

1.2.3. PERIODE : 3. TRIAS

1.2.3.1. KALA/SERI : Atas/Akhir (228,0 ± 2,0); Tengah (245,0, ± 1,5 );

Bawah/Awal (251,0, ± 0,4 ) Peristiwa Utama : Dinosaurus mendominasi:

Archosaurus di daratan, Ichthyosaurus dan Nothosaurus di lautan, dan

Pterosaurus di udara. Cynodonta menjadi lebih kecil dan lebih menyerupai

mamalia; mamalia dan crocodilia pertama muncul. Dicrodium merupakan flora

umum di daratan. Banyak terdapat amfibi Temnospondylus . Ammonita sangat

umum. Koral modern dan ikan bertulang sejati (Teleostei) muncul, dan juga

banyak insekta.
1.3. ERA : PALEOZOIKUM

1.3.1. PERIODE : 1. PERM

1.3.1.1. KALA/SERI : Lopingian (260,4 ± 0,7); Guadalupian (270,6 ± 0,7);

Cisuralian (299,0 ± 0,8 ); Peristiwa Utama : Daratan bergabung menjadi

superbenua Pangaea, membentuk Pegunungan Appalachia. Akhir tahap glasial

Permo-Carboniferous. Reptilia Synapsida (Pelycosaurus dan Therapsida)

melimpah, sementara parareptilia dan [Amfibia Temnospondylia masih umum

ditemukan. Pada zaman Perm pertengahan, flora zaman Karbon mulai digantikan

oleh tumbuhan runjung (tumbuhan berbiji sejati pertama) dan tumbuhan lumut

sejati pertama. Kumbang dan serangga bersayap dua berevolusi. Kehidupan laut

berkembang di bagian terumbu dangkal yang hangat; Brachiopoda (Productida

dan Spiriferida) , Bivalva, Foraminifera, dan amonit Orthocerida melimpah.

Kepunahan massal antara Perm dan Trias terjadi 251 juta tahun yang lalu: 95

persen kehidupan di bumi pun, termasuk seluruh trilobita, graptolita, dan

Blastoidea.

1.3.2. PERIODE : 2. KARBON/PENNSYLVANIAN

1.3.2.1. KALA/SERI : Atas/Akhir (306,5 ± 1,0); Tengah (311,7 ± 1,1 );

Bawah/Awal (318,1 ± 1,3 ) Peristiwa Utama : Winged insects radiate suddenly;

some (esp. Protodonata and Palaeodictyoptera) are quite large. Amphibians

common and diverse. First reptiles and coal forests (scale trees, ferns, club trees,

giant horsetails, Cordaites, etc.). Highest-ever oxygen levels. Goniatites,


brachiopods, bryozoa, bivalves, and corals plentiful in the seas. Testate forams

proliferate.

1.3.3. PERIODE : 3. KARBON/MISSISIPIAN

1.3.3.1. KALA/SERI : Atas/Akhir (326,4 ± 1,6); Tengah (345,3 ± 2,1 );

Bawah/Awal (359,2 ± 2,5 ) Peristiwa Utama : Large primitive trees, first land

vertebrates, and amphibious sea-scorpions live amid coal-forming coastal

swamps. Lobe-finned rhizodonts are big fresh-water predators. In the oceans,

early sharks are common and quite diverse; echinoderms (esp. crinoids and

blastoids) abundant. Corals, bryozoa, goniatites and brachiopods (Productida,

Spiriferida, etc.) very common. But trilobites and nautiloids decline. Glaciation in

East Gondwana.

1.3.4. PERIODE : 3. DEVON

1.3.4.1. KALA/SERI : Atas/Akhir (385,3 ± 2,6); Tengah (397,5, ± 2,7 );

Bawah/Awal (416,0 ± 2,8 ) Peristiwa Utama : First clubmosses, horsetails and

ferns appear, as do the first seed-bearing plants (progymnosperms), first trees (the

tree-fern Archaeopteris), and first (wingless) insects. Strophomenid and atrypid

brachiopods, rugose and tabulate corals, and crinoids are all abundant in the

oceans. Goniatite ammonoids are plentiful, while squid-like coleoids arise.

Trilobites and armoured agnaths decline, while jawed fishes (placoderms, lobe-

finned and ray-finned fish, and early sharks) rule the seas. First amphibians still

aquatic. "Old Red Continent" of Euramerica.

1.3.4. PERIODE : 4. SILUR


1.3.4.1. KALA/SERI : Pridoli (418,7± 2,7); Atas/Akhir –Ludlow (422,9 ± 2,5);

Wenlock (428,2± 2,3); Bawah/Awal (443,7 ± 1,5 ) Peristiwa Utama : First

vascular plants (the whisk ferns and their relatives), first millipedes and

arthropleurids on land. First jawed fishes, as well as many armoured jawless fish,

populate the seas. Sea-scorpions reach large size. Tabulate and rugose corals,

brachiopods (Pentamerida, Rhynchonellida, etc.), and crinoids all abundant.

Trilobites and mollusks diverse; graptolites not as varied.

1.3.5. PERIODE : 5. ORDOVISIUM

1.3.5.1. KALA/SERI : Atas/Akhir (460,9 ± 2,6); Tengah (471,8, ± 1,6 );

Bawah/Awal (488,3 ± 1,7 ) Peristiwa Utama : Invertebrates diversify into many

new types (e.g., long straight-shelled cephalopods). Early corals, articulate

brachiopods (Orthida, Strophomenida, etc.), bivalves, nautiloids, trilobites,

ostracods, bryozoa, many types of echinoderms (crinoids, cystoids, starfish, etc.),

branched graptolites, and other taxa all common. Conodonts (early planktonic

vertebrates) appear. First green plants and fungi on land. Ice age at end of period.

1.3.6. PERIODE : 6. KAMBRIUM

1.3.6.1. KALA/SERI : Atas/Akhir –Furongian (501,0 ± 2,0); Tengah (513,0, ±

2,0 ); Bawah/Awal (542,0 ± 0,3 ) Peristiwa Utama : Major diversification of life

in the Kambrium Explosion. Many fossils; most modern animal phyla appear.

First chordates appear, along with a number of extinct, problematic phyla. Reef-

building Archaeocyatha abundant; then vanish. Trilobites, priapulid worms,

sponges, inarticulate brachiopods (unhinged lampshells), and many other animals


numerous. Anomalocarids are giant predators, while many Ediacaran fauna die

out. Prokaryotes, protists (e.g., forams), fungi and algae continue to present day.

Gondwana emerges.

2. EON : PRAKAMBIUM – PROTEROZOIKUM

2.1. ERA : NEOPROTEROZOIKUM

2.1.1. PERIODE : EDIACARAN (630 +5/ 30) Peristiwa Utama : Good fossils of

multi-celled animals. Ediacaran fauna (or Vendobionta) flourish worldwide in

seas. Trace fossils of worm-like Trichophycus, etc. First sponges and

trilobitomorphs. Enigmatic forms include oval-shaped Dickinsonia, frond-shaped

Charniodiscus, and many soft-jellied creatures.

2.1.2. PERIODE : CRYOGENIAN (850)

Peristiwa Utama : Possible "snowball Earth" period. Fossils still rare. Rodinia

landmass begins to break up.

2.1.3. PERIODE : TONIAN (1000) Peristiwa Utama : Rodinia supercontinent

persists. Trace fossils of simple multi-celled eukaryotes. First radiation of

dinoflagellate-like acritarchs.

2.2. ERA : MESOPROTEROZOIKUM

2.2.1. PERIODE : STENIAN (1200) Peristiwa Utama : Narrow highly

metamorphic belts due to orogeny as supercontinent Rodinia is formed


2.2.2. PERIODE : ECTASIAN (1400) Peristiwa Utama : Platform covers

continue to expand. Green algae colonies in the seas.

2.2.3. PERIODE : CALYMMIAN (1600) Peristiwa Utama : Platform covers

expand.

2.3. ERA : PALEOPROTEROZOIKUM

2.3.1. PERIODE : STATHERIAN (1800) Peristiwa Utama : First

complex single-celled life: protists with nuclei. Columbia is the primordial

supercontinent.

2.3.2. PERIODE : OROSIRIAN (2050) Peristiwa Utama : The atmosphere

became oxygenic. Vredefort and Sudbury Basin asteroid impacts. Much orogeny.

2.3.3. PERIODE : RHYACIAN (2300) Peristiwa Utama : Bushveld Formation

occurs. Huronian glaciation.

2.3.4.PERIODE : SIDERIAN (2500) Peristiwa Utama : Oxygen Catastrophe:

banded iron formations result.

2. EON : PRAKAMBIUM : 2. ARKEAN

2.1. ERA : NEOARKEAN (2800) Peristiwa Utama : Stabilization of most

modern cratons; possible mantle overturn event.

2.2. ERA : MESOARKEAN (3200) Peristiwa Utama : First stromatolites

(probably colonialcyanobacteria). Oldest macrofossils.


2.3. ERA : PALEOARKEAN (3600) Peristiwa Utama : First known oxygen-

producing bacteria. Oldest definitive microfossils.

2.4. ERA : EOARKEAN (3800) Peristiwa Utama : Simple single-celled life

(probably bacteriaand perhaps archaea). Oldest probable microfossils.

2. EON : PRAKAMBIUM - HADEAN (4570) Peristiwa Utama : Pembentukan

bumi (4570 jtl). Zircon,mineral tertua yang diketahui (4400 jtl).

2. Skala waktu relative

Sudah sejak lama sebelum para ahli geologi dapat menentukan umur

bebatuan berdasarkan angka seperti saat ini, mereka mengembangkan skala waktu

geologi secara relatif. Skala waktu relatif dikembangkan pertama kalinya di Eropa

sejak abad ke-18 hingga abad ke-19. Berdasarkan skala waktu relatif, sejarah

bumi dikelompokkan menjadi Eon (Masa) yang terbagi menjadi Era (Kurun), Era

dibagi-bagi ke dalam Period (Zaman), dan Zaman dibagi-bagi menjadi Epoch

(Kala).

Nama-nama seperti Paleozoikum atau Kenozoikum tidak hanya sekedar kata

yang tidak memiliki arti, akan tetapi bagi para ahli geologi, kata tersebut

mempunyai arti tertentu dan dipakai sebagai kunci dalam membaca skala waktu

geologi. Sebagai contoh, kata Zoikum merujuk pada kehidupan binatang dan kata

“Paleo” yang berarti purba, maka arti kata Paleozoikum adalah merujuk pada

kehidupan binatang-binatang purba, “Meso” yang mempunyai arti

tengah/pertengahan, dan “Keno” yang berarti sekarang. Dengan demikian, urutan


relatif dari ketiga kurun tersebut adalah sebagai berikut: Paleozoikum,

kemudian Mesozoikum, dan kemudian disusul dengan Kenozoikum.


Tabel. Peristiwa kemunculan dan kepunahan berbagai jenis organisme (fauna dan

flora) pada Skala Waktu Geologi sepanjang 650 juta tahun lalu hingga saat ini

Sebagaimana diketahui bahwa fosil adalah sisa-sisa organisme yang masih dapat

dikenali, seperti tulang, cangkang, atau daun atau bukti lainnya seperti jejak-jejak

(track), lubang-lubang (burrow) atau kesan daripada kehidupan masa lalu di atas

bumi. Para ahli kebumian yang khusus mempelajari tentang fosil dikenal sebagai

Paleontolog, yaitu seseorang yang mempelajari bentuk-bentuk kehidupan purba.

Fosil dipakai sebagai dasar dari skala waktu geologi. Nama-nama dari semua Eon

(Kurun) dan Era (Masa) diakhiri dengan kata zoikum. Hal ini karena kisaran

waktu tersebut sering kali dikenal atas dasar kehidupan binatangnya. Batuan yang

terbentuk selama masa Proterozoikum kemungkinan mengandung fosil dari

organisme yang sederhana, seperti bacteria dan algae. Batuan yang terbentuk

selama masa Fanerozoikum kemungkinan mengandung fosil-fosil dari binatang

yang komplek dan tanaman seperti dinosaurus dan mamalia. Pada tabel di atas

diperlihatkan kemunculan dan kepunahan dari berbagai jenis binatang dan

tumbuhan sepanjang 650 juta tahun yang lalu dalam skala waktu geologi.

(d3d1sasmito)

Sumber: Noor, Djauhari. 2012. Pengantar Geologi. Bogor: Pakuan University

Press

Pada dasarnya studi mengenai skala waktu relative mwngandalkan fodil

sebagai latar belakangnya.


Fosil (bahasa Latin: fossa yang berarti "menggali keluar dari dalam tanah")

adalah sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang

menjadi batu atau mineral. Untuk menjadi fosil, sisa-sisa hewan atau tanaman

ini harus segera tertutup sedimen. Oleh para pakar dibedakan beberapa

macam fosil. Ada fosil batu biasa, fosil yang terbentuk dalam batu ambar,

fosil ter, seperti yang terbentuk di sumur ter La

Brea di Kalifornia. Hewan atau tumbuhan yang dikira sudah punah tetapi

ternyata masih ada disebut fosil hidup. Fosil yang paling umum adalah

kerangka yang tersisa seperti cangkang, gigi dan tulang. Fosil jaringan lunak

sangat jarang ditemukan.Ilmu yang mempelajari fosil adalah paleontologi,

yang juga merupakan cabang ilmu yang direngkuh arkeologi

.Fosil Adalah sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang menjadi batu atau

mineral. Untuk menjadi fosil, sisa-sisa hewan atau tanaman ini harus segera

tertutup sedimen. Oleh para pakar dibedakan beberapa macam fosil. Ada fosil

batu biasa, fosil yang terbentuk dalam batu ambar, fosil ter, seperti yang

terbentuk di sumur ter La Brea di Kalifornia. Hewan atau tumbuhan yang


dikira sudah punah tetapi ternyata masih ada disebut fosil hidup. Ilmu yang

mempelajari fosil adalah paleontologi.

Secara singkat definisi dari fosil harus memenuhi syarat-syarat sebagai

berikut:

1. Sisa-sisa organisme.

2. Terawetkan secara alamiah.

3. Pada umumnya padat/kompak/keras.

4. Berumur lebih dari 11.000 tahun.

Kebanyakan fosil ditemukan dalam batuan endapan (sedimen) yang

permukaannya terbuka. Batu karang yang mengandung banyak fosil disebut

fosiliferus. Tipe-tipe fosil yang terkandung di dalam batuan tergantung dari tipe

lingkungan tempat sedimen secara ilmiah terendapkan. Sedimen laut, dari garis

pantai dan laut dangkal, biasanya mengandung paling banyak fosil.

Fosil penting untuk memahami sejarah batuan sedimen bumi. Subdivisi dari

waktu geologi dan kecocokannya dengan lapisan batuan tergantung pada

fosil.Organisme berubah sesuai dengan berjalannya waktu dan perubahan ini

digunakan untuk menandai periode waktu. Sebagai contoh, batuan yang

mengandung fosil gsraptolit harus diberi tanggal dari era paleozoikum. Persebaran
geografi fosil memungkinkan para ahli geologi untuk mencocokan susunan batuan

dari bagian-bagian lain di dunia

B. Konsep-Konsep tentang Waktu Geologi.

Pendapat paling dominan sebelum abad ke-18 dimiliki oleh kelompok

gereja berdasarkan kajian tekstual terhadap alkitab, mereka menyatakan umur

Bumi tidak lebih tua dari 6.000 tahun. Penciptaan Bumi dan segala isinya dalam

waktu sedemikian singkat dipercaya melibatkan proses katastropis. Pendapat ini

lazim disebut sebagai teori penciptaan. Salah seorang ilmuwan pendukung teori

penciptaan adalah Baron Georges Cuvier (1769-1832). Pengamatannya terhadap

kumpulan fosil pada setiap lapisan batuan dianggapnya sebagai bukti adanya

peristiwa bencana alam bersifat katastropis yang memusnahkan setiap makhluk

hidup di setiap kurun waktu tertentu. Upaya ilmiah untuk menentukan umur Bumi

telah dilakukan oleh beberapa ilmuwan. Georges Louis de Buffon (1707-1788)

menyatakan Bumi mendingin perlahan-lahan dari suatu bola panas. Dengan


membuat percobaan laboratorium dengan beberapa bola besi berbagai diameter

dan dibiarkan dingin mengikuti temperatur kamar, de Buffon melakukan

ekstrapolasi terhadap diameter Bumi sesungguhnya dan menentukan usia Bumi

sekitar 75.000 tahun.

Sekelompok ilmuwan lainnya pada paruh abad ke-18 menghitung

kecepatan pengendapan berbagai sedimen dan melakukan ekstrapolasi terhadap

ketebalan batuan sedimen yang diketahui saat itu, menghasilkan rerata umur Bumi

sekitar 1 juta tahun. John Joly, seorang geolog Irlandia, pada abad ke-19

berasumsi bahwa air laut pada mulanya bersifat tawar namun kemudian menjadi

asin akibat mineral garam yang dibawa oleh sungai. Dengan menghitung volume

seluruh airlaut yang ada di Bumi, dia menentukan waktu 90 juta tahun untuk

lautan mencapai kadar salinitas saat ini, yang kemudian dianggap sebagai umur

Bumi. Pada tahun 1785, James Hutton (1726-1797), seorang geolog Skotlandia,

berdasarkan studi detail terhadap singkapan batuan dan proses alam yang tengah

berlangsung saat itu, mengemukakan prinsip keseragaman (uniformitarianisme).

Konsep tersebut menyatakan proses geologi yang sama telah bekerja pula pada

waktu lampau, dan Hutton menuliskannya sebagai “we find no vestige of a

beginning, and no prospect of an end”. Keunggulan prinsip ini lah yang

mengantarkan Hutton sebagai Bapak Geologi Modern.

Pada tahun 1830, Charles Lyell, seorang murid James Hutton,

menerbitkan buku “Principles of Geology”. Konsep keseragaman menjadi

diterima secara luas oleh kalangan ilmuwan dan usia Bumi yang sangat tua

diterima oleh masyarakat. Kelak, buku tersebut juga sangat mempengaruhi teori
evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin pada tahun 1859. Lord Kelvin

(1824-1907), seorang fisikawan Inggris yang sangat dihormati, pada tahun 1866

mengklaim telah mematahkan fondasi uniformitarianisme geologi. Beranjak dari

asumsi umum bahwa Bumi berawal dari sebuah bola panas, Kelvin menghitung

usia terbentuknya Bumi berdasarkan suhu leleh batuan, dimensi Bumi dan

koefisien pendinginan. Dia menyatakan umur Bumi tidak mungkin lebih tua dari

100 juta tahun. Pendapat Kelvin membuat masyarakat ilmuwan terbelah, antara

mendukung konsep Hutton atau menerima kalkulasi Kelvin (yang tampak sangat

logis). Pada akhirnya, kampanye Kelvin selama 40 tahun harus berakhir dengan

ditemukannya unsur radioaktif di penghujung abad ke-19. Materi radioaktif

dipercaya menjaga panas internal Bumi relatif konstan. Penemuan radioaktif

tersebut sekaligus membuat para geolog menghitung umur batuan secara mutlak

dan menemukan bahwa Bumi memang sangat tua.

C. Pendekatan Waktu Geologi.

Para geolog menggunakan dua pendekatan berbeda untuk menentukan

waktu geologi, yaitu:

1. Penanggalan relatif (relative dating) yang menempatkan berbagai peristiwa

geologi dalam urutan kronologis berdasarkan posisinya dalam rekaman data

geologi.

2. Penanggalan mutlak (absolute dating) menggunakan berbagai teknik dan

hasilnya dinyatakan dalam angka tahun sebelum sekarang. Yang paling lazim
adalah penanggalan radiometrik dengan menggunakan unsur-unsur radioaktif di

dalam batuan.

D. Penanggalan Relatif

Sebelum berkembangnya teknik penanggalan radiometrik, para geologi

tidak memiliki cara untuk menentukan umur mutlak dan hanya berpegang

kepada metode penanggalan relatif. Penanggalan relatif menempatkan berbagai

proses geologi dalam urutan kronologis tertentu, metode ini tidak dapat

mengetahui kapan suatu proses terjadi di masa lampau.

Ada 6 prinsip yang dipergunakan dalam penanggalan relatif:

1. Prinsip superposition (Nicolas Steno, 1638-1686): dalam suatu urutan batuan

sedimen yang belum terganggu, batuan yang paling tua diendapkan paling bawah

sedangkan batuan yang paling muda diendapkan paling atas.

2. Prinsip original horizontality (Nicolas Steno, 1638-1686): dalam proses

sedimentasi, sedimen diendapkan sebagai lapisan horisontal.

3. Prinsip lateral continuity (Nicolas Steno, 1638-1686): sedimen melampar

secara horisontal ke segala arah hingga menipis dan berakhir di tepi cekungan

pengendapan.

4. Prinsip cross-cutting relationship (James Hutton, 1726-1797): intrusi

batuan beku atau patahan harus lebih muda daripada batuan yang diintrusi

atau yang terpatahkan.


5. Prinsip inclusion: suatu inklusi (fragmen suatu batuan didalam tubuh

batuan lain) harus lebih tua daripada batuan yang mengandungnya tersebut.

6. Prinsip fossil succession (William Smith, 1769-1839): fosil yang ada di

lapisan paling bawah lebih tua daripada fosil pada lapisan paling atas

Principles of Cross-cutting Relationship and Inclusions

(a). Aliran lava (lapisan 4) membakar lapisan dibawahnya, dan lapisan 5

mengandung inklusi dari aliran lava, sehingga lapisan 4 lebih muda dari lapisan 3

namun lebih tua dari lapisan 5 dan 6.

(b). Lapisan batuan dibawah dan diatas sill (lapisan 3) terbakar, menunjukkan

bahwa sill tersebut lebih muda daripada lapisan 2 dan 4, namun umur lapisan 5

terhadap sill tidak dapat ditentukan.

(c) Granit lebih muda daripada batupasir karena batupasir terpanggang pada

bidang kontaknya dengan granit dan granit mengandung inklusi batupasir.

(d) Inklusi granit didalam batupasir menunjukkan granit lebih tua daripada

batupasir.

Principle of Faunal Succession


William Smith mempergunakan fosil untuk mengidentifikasi perlapisan yang

sama umurnya dari berbagai lokasi terpisah, kelak metode ini dikenal sebagai

prinsip faunal succession.

Ketidakselarasan

Siccar Point, Berwickeshire, Skotlandia tenggara.Disinilah James Hutton, James

Hall dan John Playfair pada tahun 1788 menemukan prinsip ketidakselarasan.

Waktu geologis bersifat menerus/kontinyu, namun informasi dimana waktu

tersebut didapatkan berasal dari rekaman batuan yang bersifat tidak

menerus/diskontinyu. Bidang ketidakmenerusan dalam urutan batuan yang

menunjukkan terganggunya proses sedimentasi dalam waktu yang cukup lama

disebut sebagai bidang ketidakselarasan (unconformity).

Waktu geologi yang hilang dari rekaman batuan, karena tidak adanya

pengendapan batuan, disebut sebagai hiatus. Sehingga bidang ketidakselarasan

bisa juga disebut sebagai bidang dimana tidak adanya pengendapan (non-

deposisi) atau erosi yang memisahkan batuan yang lebih muda terhadap batuan

yang lebih tua.

Terdapat 3 jenis ketidakselarasan :

1. Disconformity (antara 2 unit batuan sedimen yang paralel).

2.Angular unconformity (antara 2 unit batuan sedimen yang menyudut).

3. Nonconformity (antara batuan kristalin dan batuan sedimen).


E. Skala Waktu Geologi.

Skala waktu geologi digunakan oleh para ahli geologi dan ilmuwan

untuk menjelaskan waktu dan hubungan antar peristiwa yang terjadi

sepanjang sejarah Bumi. Tabel periode geologi yang ditampilkan di

halaman ini disesuaikan dengan waktu dan tatanama yang diusulkan oleh

International Commission on Stratigraphy dan menggunakan standar kode

warna dari United States Geological Survey. Bukti-bukti dari penanggalan

radiometri menunjukkan bahwa bumi berumur sekitar 4.570 juta tahun.

Waktu geologi bumi disusun menjadi beberapa unit menurut peristiwa

yang terjadi pada tiap periode. Masing-masing zaman pada skala waktu

biasanya ditandai dengan peristiwa besar geologi atau paleontologi, seperti

kepunahan massal. Sebagai contoh, batas antara zaman Kapur dan

Paleogen didefinisikan dengan peristiwa kepunahan dinosaurus dan

baerbagai spesies laut. Periode yang lebih tua, yang tak memiliki

peninggalan fosil yang dapat diandalkan perkiraan usianya, didefinisikan

dengan umur absolut.


Kesimpulan

Waktu geologi adalah skala waktu yang meliputi seluruh sejarah geologi

bumi dari mulai terbantuknya hingga saat ini. Sebelum perkembangan dari skala

waktu geologi pada abad ke-19, para ahli sejarah mengetahui bahwa bumi

memiliki sejarah yang panjang, namun skala waktu yang digunakan sekarang

dikembangkan sejak 200 tahun terakhir dan terus-menerus diperbaiki. Skala

waktu geologi membantu para ilmuwan memahami sejarah bumi dalam bagian-

bagian waktu yang teratur.

Sebelum adanya pentarikhan radiometri, yang mengukur kandungan unsur

radioaktif dalam suatu objek untuk menentukan umurnya, para ilmuwan

memperkirakan umur bumi berkisar dari 4,000 tahun hingga ratusan juta tahun.

Saat ini, diketahui bahwa umur bumi adalah sekitar 4.6 milyar tahun.

Skala waktu geologi saat ini dibuat berdasarkan pada pentarikhan

radiometri dan rekaman kehidupan purba yang terawetkan di dalam lapisan

batuan. Sebagian besar batas pada skala waktu geologi sekarang berhubungan

dengan periode kepunahan dan kemunculan spesies baru.