Anda di halaman 1dari 4

Pasal 15

Penghindaran Dampak Buruk

Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi mengambil langkah-langkah yang masuk akal


untuk menghindari munculnya dampak buruk bagi pengguna layanan psikologi serta pihak-
pihak lain yang terkait dengan kerja mereka serta meminimalkan dampak buruk untuk hal-hal
yang tak terhindarkan tetapi dapat diantisipasi sebelumnya. Dalam hal seperti ini, maka
pemakai layanan psikologi serta pihak-pihak lain yang terlibat harus mendapat informasi
tentang kemungkinan-kemungkinan tersebut.

Contoh Kasus
Seorang ibu membawa anaknya yang masih duduk di bangku dasar kelas 2 ke Psikolog
RB di biro psikologi YYY. Sang ibu meminta kepada psikolog RB agar anaknya diperiksa
apakah anaknya termasuk anak autisme atau tidak. Sang ibu khawatir bahwa anaknya
menderita kelainan autism karena sang ibu melihat tingkah laku anaknya berbeda dengan
tingkah laku anak-anak seumurnya. Psikolog RB kemudian melakukan test terhadap anaknya.
Dan hasilnya sudah diberikan kepada sang ibu, tetapi sang ibu tidak memahami istilah – istilah
dalam ilmu psikologi. Ibu tersebut meminta hasil ulang test dengan bahasa yang lebih mudah
dipahami. Setelah dilakukan hasil tes ulang, ternyata anak tersebut didiagnosa oleh Psikolog
RB mengalami autis. Anak tersebut akhirnya diterapi. Setelah beberapa bulan tidak ada
perkembangan dari hasil proses terapi. Ibu tersebut membawa anaknya kembali ke biro
psikologi yang berbeda di kota X, ternyata anak tersebut tidak mengalami autis, tetapi slow
learned. Padahal anak tersebut sudah mengkonsumsi obat-obatan bagi anak penyandang autis.
Setelah diselediki ternyata biro psikologi YYY tersebut tidak memiliki izin praktek dan yang
menangani bukan Psikolog, hanya sarjana psikologi Strata 1.
(di kutip dari asmianifawziah.blogspot.com pada 23 november 2012 yang di tulis
oleh asmianifawziah)

Pembahasan

Dalam kasus yang telah dipaparkan diatas telah terjadi pelanggaran pada kode etik pasal
15 mengenai penghindaran dampak buruk. Seorang Psikolog seharusnya menghindari dampak
buruk yang akan terjadi akibat layanan psikologi yang diberikannya. Dalam kasus diatas,
Psikolog RB semestinya memberikan penjelasan yang sejelas-sejelasnya terhadap
klien, namun kenyataanya psikolog tersebut membuat hasil tes dengan bahasa yang sulit
dipahami klien sehingga klien harus meminta hasil ulang dari tes anaknya. Kemudian ternyata
hasil tesnya keliru sehingga berdampak kepada si anak yang telah meminum obat-obatan
khusus anak autis padahal anak tersebut sebenarnya tidak autis.

Pasal 16
Hubungan Majemuk
(1) Hubungan Majemuk terjadi apabila:

a) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi sedang dalam peran profesionalnya dengan


seseorang dan dalam waktu yang bersamaan menjalankan peran lain dengan orang yang
sama, atau

b) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dalam waktu yang bersamaan memiliki hubungan
dengan seseorang yang secara dekat berhubungan dengan orang yang memiliki
hubungan profesional dengan Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tersebut.

(2) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi sedapat mungkin menghindar dari hubungan
majemuk apabila hubungan majemuk tersebut dipertimbangkan dapat merusak
objektivitas, kompetensi atau efektivitas dalam menjalankan fungsinya sebagai Psikolog
dan/atau Ilmuwan Psikologi, atau apabila beresiko terhadap eksploitasi atau kerugian pada
orang atau pihak lain dalam hubungan profesional tersebut.

(3) Apabila ada hubungan majemuk yang diperkirakan akan merugikan, Psikolog dan/atau
Ilmuwan Psikologi melakukan langkah-langkah yang masuk akal untuk mengatasi hal
tersebut dengan mempertimbangkan kepentingan terbaik orang yang terkait dan kepatuhan
yang maksimal terhadap Kode etik.

(4) Apabila Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dituntut oleh hukum, kebijakan institusi,
atau kondisi-kondisi luar biasa untuk melakukan leboh dari satu peran, sejak awal mereka
harus memperjelas peran yang dapat diharapkan dan rentang kerahasiaannya, bagi diri
sendiri maupun bagi pihak-pihak lain yang terkait.
Contoh Kasus
Sebuah perusahaan membutuhkan karyawan baru untuk di tempatkan pada staf-staf
tertentu dalam perusahaan. Pimpinan perusahaan tersebut kemudian memakai jasa Psikolog ST
untuk memberikan psikotes pada calon karyawan yang berkompeten dalam bidangnya. Namun,
ketika memberikan psikotes tersebut, ia bertemu dengan R saudaranya dan meminta agar
Psikolog ST memberikan hasil psikotes yang baik supaya R dapat diterima dalam perusahaan
tersebut. Karena merasa tidak enak dengan saudaranya, akhirnya Psikolog ST memberikan
hasil psikotes yang memenuhi standar seleksi penerimaan calon karyawan, sehingga R
kemudian diterima dalam perusahaan tersebut dengan menduduki staf tertinggi.
Lama-kelamaan, perusahaan tersebut sering kecewa terhadap cara kerja R karena dianggap
tidak berkompeten dalam bidangnya. Akhirnya Pimpinan perusahaan menyelidiki cara
pemberian jasa Psikolog ST, dan pimpinan tersebut mengetahui bahwa Pendirian Praktik
Psikolog ST ternyata belum tercatat pada HIMPSI dan Psikolog ST sama sekali belum pernah
menjadi anggota HIMPSI.

(dikutip dari pemujawarnaungu.blosgspot.com pada 8 Mei 2013 yang ditulis oleh Vira
Amatilah)

Pembahasan
Masalah yang dialami Psikolog ST dan saudaranya R berkaitan dengan peran ganda
dalam dirinya, yaitu sebagai psikolog dan saudara. Peran ganda tersebut menempatkannya
dalam relasi majemuk. Kode etik American Psychological Association (dalam Corey,
Schneider-Corey, & Callanan, 2011) dan Himpunan Psikologi Indonesia (2011) menyatakan
relasi majemuk adalah relasi yang menempatkan praktisi pada peran profesional sekaligus
peran lainnya terhadap seorang individu yang sama, atau terhadap orang lain yang dekat
dengan individu tersebut. Pada kasus di atas, konflik muncul saat R meminta Psikolog ST untuk
meluluskannya pada psikotes karena alasan hubungan persaudaraan. Hal tersebut telah
melanggar kode etik psikologi pasal 16 mengenai hubungan majemuk.
Sesuai dengan kasus yang telah dibahas diatas, Psikolog ST seharusnya dapat
menghindari hubungan dengan saudaranya ketika akan melakukan tes psikologi agar dirinya
dapat menjaga objektifitas sesuai dengan yang tertuang pada pasal 16 ayat 2. Kurang
objektifnya Psikolog ST dalam memberikan pelayanan psikologi yaitu dengan membedakan
antara saudara dan orang lain / memberikan penilain dan hasil asesmen yang baik kepada
saudara sendiri, dapat berakibat buruk bagi perusahan yang menerima saudaranya bekerja.
Seperti yang tertuang pada pasal 16 ayat 3, hubungan majemuk ini mendatangkan kerugian
bagi perusahaan yang menerima saudaranya, R. Psikolog ST juga tidak melakukan langkah-
langkah untuk mengatasi hal tersebut.