Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH IMUNOSEROLOGI

MACAM-MACAM REAKSI IMUNOSEROLOGI :


AGLUTINASI
Dosen Pengampu : Misbahul Huda, S.Si., M.Kes.

DisusunOleh :

1. Dewi Lestari 1713453041


2. Oktavia Puspa Dewi 1713453042
3. Febrina Chrisdamara 1713453043
4. Stefani Reza A 1713453044

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
PRODI D3 ANALIS KESEHATAN
TAHUN 2019
DAFTAR ISI

JUDUL ...................................................................................................................................i

DAFTAR ISI .........................................................................................................................ii

KATA PENGANTAR ...........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................................1

1.1 Latar Belakang ....................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah ...............................................................................................1

1.3 Tujuan Pembahasan .............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................3

2.1 Pengertian Imun dan Fungsi Sistem Imun............................................................3

2.2 Macam-Macam Pemeriksaan Imunoserologi Dengan Aglutinasi .......................3

2.3Pemeriksaan Kehamilan Metode Aglutinasi..........................................................5

BAB IIIPENUTUP ................................................................................................................7

3.1 Kesimpulan ..........................................................................................................7

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................8


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
ini dengan tepat waktu. Selama pengerjaan makalah ini, kami mencurahkan
pikiran, kemampuan, dan pengalaman sebaik mungkin guna terwujudnya makalah
yang baik. Tidak lupa penulisan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya penulisan
makalah ini.
Penulis menyadari bahwa sebagai makhluk ciptaan Tuhan tidak luput dari
kesalahan, kelalaian dan kekurangan, sehingga dapat diterima bila ada kritik dan
saran dari para pembaca agar penulis dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan
dalam pembuatan makalah yang berikutnya.

Bandar Lampung, Maret 2019

Penulis

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem kekebalan tubuh sangat mendasar peranannya bagi kesehatan,


tentunya harus disertai dengan pola makan sehat, cukup berolahraga, dan
terhindar dari masuknya senyawa beracun ke dalam tubuh. Sekali senyawa
beracun hadir dalam tubuh, maka harus segera dikeluarkan. Kondisi sistem
kekebalan tubuh menentukan kualitas hidup.

Dalam tubuh yang sehat terdapat sistem kekebalan tubuh yang kuat
sehingga daya tahan tubuh terhadap penyakit juga prima. Pada bayi yang baru
lahir, pembentukan sistem kekebalan tubuhnya belum sempurna dan
memerlukan ASI yang membawa sistem kekebalan tubuh sang ibu untuk
membantu daya tahan tubuh bayi. Semakin dewasa, sistem kekebalan tubuh
terbentuk sempurna. Namun, pada orang lanjut usia, sistem kekebalan
tubuhnya secara alami menurun. Itulah sebabnya timbul penyakit degeneratif
atau penyakit penuaan.

Pola hidup modern menuntut segala sesuatu dilakukan serba cepat dan
instan. Hal ini berdampak juga pada pola makan. Sarapan di dalam kendaraan,
makan siang serba tergesa, dan malam karena kelelahan tidak ada nafsu
makan. Belum lagi kualitas makanan yang dikonsumsi, polusi udara, kurang
berolahraga, dan stres. Apabila terus berlanjut, daya tahan tubuh akan
menurun, lesu, cepat lelah, dan mudah terserang penyakit. Karena itu, banyak
orang yang masih muda mengidap penyakit degeneratif.

Kondisi stres dan pola hidup modern sarat polusi, diet tidak seimbang, dan
kelelahan menurunkan daya tahan tubuh sehingga memerlukan kecukupan
antibodi. Gejala menurunnya daya tahan tubuh sering kali terabaikan sehingga
timbul berbagai penyakit infeksi, penuaan dini pada usia produktif.

1
1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Pengertian sistem imun dan fungsi sistem imun?

1.2.2 Macam-macam Pemeriksaan Imunoserologi dengan reaksi Aglutinasi?

1.2.3 Pemeriksaan Kehamilan Metode Aglutinasi?

1.3 Tujuan Masalah

1.3.1 Untuk mengetahui pengertian sistem imun dan fungsi imun.

1.3.2 Untuk mengetahui macam-macam pemeriksaan imunoserologi dengan


reaksi aglutinasi.

1.3.3 Untuk mengetahui Pemeriksaan kehamilan metode aglutinasi

2
BAB II

ISI

2.1 Pengetian Imun dan Fungsi Sistem Imun

Sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang


dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem
kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap
infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain
dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi
tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang
menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem
kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan
terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena
beberapa jenis kanker.

Sistem imun berfungsi untuk Melindungi tubuh dari invasi penyebab


penyakit dengan menghancurkan dan menghilangkan mikroorganisme atau
substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan virus, serta tumor) yang masuk ke
dalam tubuh, Menghilangkan jaringan atau sel yg mati atau rusak untuk
perbaikan jaringan, Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal. Dan
Sasaran utama yaitu bakteri patogen dan virus. Leukosit merupakan sel imun
utama (disamping sel plasma, makrofag, dan sel mast).

2.2 Macam-Macam Pemeriksaan Imunoserologi Dengan Reaksi Aglutinasi

Reaksi aglutinasi dapat terjadi antara antigen yang terlarut (soluble)


dengan antibodi yang tidak terlarut (insoluble) atau sebaliknya. Antigen atau
antibodi dapat dibuat menjadi tidak terlarut dengan cara mengikatkannya pada
permukaan carier seperti partikel latex (Koivunen and Krogsrud, 2006).
Penggumpalan terjadi jika molekul antigen memiliki berbagai macam epitop yang
menyebabkan ikatan silang.

3
Menurut sifat partikelnya aglutinasi dibagi menjadi dua:

1. Aglutinasi langsung (Direct agglutination)

Antigen yang digunakan adalah antigen yang dalam bentuk aslinya


berupa partikel, misalnya suspensi bakteri.

2. Aglutinasi pasif (Indirect agglutination)

Antigen dilekatkan pada suatu pembawa (carrier) berupa partikel


(partikel inert), seperti: latex, gelatin, silikat, dan lain-lain agar hasil
reaksi dapat terlihat dengan mata.

Contoh reaksi aglutinasi :

1. Uji Comb

Uji ini digunakan untuk membedakan ada tidaknya antibody dalam serum.
Test Comb dibedakan menjadi dua :

a) Indirect combs test (tidak langsung): untuk mencegah terjadinya


ketidak cocokan golongan darah dalam tranfusi.

b) Direct combs test (langsung): untuk mendiagnosis auto imun hemolitic


anemia.

2. Test Widal

Untuk mendiagnosis penyakit typhus yang disebabkan oleh


kuman Salmonella thyposa.

4
3. Uji Kehamilan

Untuk mengetahui adanya hormon HCG yang diproduksi oleh trophoblast


janin. Terdapat 2 metode yaitu :

a) Metode biologi

b) Metode Imunologi

 Metode aglutinasi direct : menggunakan satu reagen anti HCG


lateks.

 Metode aglutinasi indirect : menggunakan dua reagen anti HCG.

4. Uji ASO / ASTO

Prinsip dari pemeriksaan ini adalah partikel lateks yang dilapisi


Streptolisin O akan teraglutinasi ketika dicampurkan dengan sampel yang
mengandung ASO. Hasil dinyatakan positif jika terbentuk aglutinasi
selama dua menit. Aglutinasi mengindikasi tingkat ASO dalam sampel
lebih dari atau sama dengan 200 IU/ml sedangkan tidak adanya aglutinasi
mengindikasi tingkat ASO dalam sampel kurang dari 200 IU/ml (Davidson
and Henry, 1969).

2.3 Pemeriksaan Kehamilan Metode Aglutinasi

Human Chorionic Gonadotrophin (HCG) adalah hormon glikoprotein


yang disekresikan oleh plasenta yang sedang berkembang tidak lama setelah
fertilisasi. Kehadiran awal HCG dalam urin telah membuat HCG dipilih
menjadi penanda untuk deteksi kehamilan. Pada pemeriksaan kehamilan,
sampel urin harus disimpan pada wadah yang bersih, kering, bebas dari

5
detergen dan bahan pengawet. Urin pertama pada pagi hari lebih sering
dijadikan sampel karena mengandung konsentrasi HCG tertinggi, tetapi
pengambilan sampel urin pada waktu lain masih dapat digunakan. Urin yang
keruh harus disentrifugasi terlebih dahulu sebelum diuji.

Pemeriksaan HCG ini berdasarkan reaksi aglutinasi yang terjadi antara


partikel lateks yang dilapisi antibodi anti-HCG dengan HCG yang terkandung
dalam sampel (Batzer, 1980). Kehadiran HCG dalam sampel akan
menunjukkan pembentukan matriks aglutinasi yang secara visual dapat
dibedakan dengan mudah dari kontrol negatif. Dibutuhkan konsentrasi HCG
urin yang lebih tinggi dari 200 mlU/ml untuk mendapatkan hasil positif
(Burtis et al., 1999). Hasil pemeriksaan dinyatakan positif jika aglutinasi
terbentuk selama dua menit, tetapi jika aglutinasi tidak terbentuk selama dua
menit maka hasil dinyatakan negatif.

Cara Kerja

Reagen Lateks HCG, Kontrol, dan Sampel

 disimpan dalam suhu ruang sebelum digunakan

 dihomogenkan hingga terlarut sempurna

 diteteskan kontrol negatif sebanyak 1 tetes pada bagian tengah lingkaran


papan aglutinasi

 diteteskan kontrol positif sebanyak 1 tetes pada bagian tengah lingkaran


papan aglutinas

 diteteskan sampel sebanyak 1 tetes pada bagian tengah lingkaran papan


aglutinasi

 diteteskan reagen lateks HCG sebanyak 1 tetes pada papan aglutinasi


(ujung pipet reagen tidak boleh menyentuh kontrol maupun sampel)

6
Campuran reagen dan kontrol / sampel

 dihomogenkan menggunakan ujung pipet (ujung pipet yang digunakan


untuk menghomogenkan tiap kontrol dan sampel harus berbeda)

 dirotasi menggunakan rotator selama 2 menit

Interpretasi Hasil

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Aglutinasi adalah salah satu cara dimana antibodi menandai antigen untuk
dihancurkan. Antibodi memiliki setidaknya dua lokasi dimana antigen dapat

7
mengikat, sehingga mereka mampu mengikat dengan lebih dari satu bakteri atau
virus. Ketika ini terjadi, partikel menyerang mulai menggumpalkan, atau
membentuk gumpalan, melalui jaringan antibodi. Gumpalan akhirnya menjadi
terlalu besar untuk tetap dalam larutan dalam aliran darah, dan mengendap dari
larutan.
Reaksi aglutinasi adalah reaksi antara anttigen yang tidak larut dengan
antibodi yang larut. Dapat juga antigen yang bereaksi adalah antigen larut, tetapi
diikat oleh suatu pembawa (carrier) yang tidak larut, misalnya sel darah merah,
butiran latex, dll.

DAFTAR PUSTAKA

Https://id.scribd.com/document/391330248/Makalah-Imunologi-II-Aglutinasi
Pejuangcalonanalis.blogspot.com/2017/04/aglutinasi -pada-pemeriksaan-
serologi.html?m=1