Anda di halaman 1dari 12

BAB II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian UKGS


Upaya promotif dan preventif paling efektif dilakukan dengan sasaran
anak sekolah dasar, karena perawatan gigi harus dilakukan sejak dini dan
dilakukan secara kontinyu agar menjadi suatu kebiasaan (Tim IKGM, 2012).
Anak usia Sekolah Dasar tergolong kedalam kelompok rawan penyakit gigi dan
mulut. Untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut, pemerintah melalui
Departemen Kesehatan telah melakukan berbagai upaya pendekatan pelayanan
kesehatan, yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara terpadu dan
berkesinambungan (Herijulianti dkk., 2002). Upaya ini diwujudkan dalam
program kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) melalui Puskesmas sebagai
salah satu kegiatan pokok Puskesmas dalam rangka meningkatkan kualitas
kesehatan anak sekolah. Usaha peningkatan kesehatan gigi dan mulut untuk anak
sekolah dilaksanakan melalui kegiatan pokok kesehatan gigi dan mulut di
Puskesmas dan diselenggarakan secara terpadu dengan kegiatan pokok UKS
dalam bentuk program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) (Dep. Kes. R. I.,
1996). UKGS menyelenggarakan program promotif berupa pelajaran mengenai
kesehatan gigi dan mulut, dan program preventif berupa sikat gigi masal
(Herijulianti dkk., 2002)

2.4. Tujuan UKGS


Terciptanya kondisi dimana peserta didik mempunyai pengetahuan,
kesadaran, dan kemampuan memelihara diri sehingga mampu mencegah
terjadinya penyakit/kelainan gigi dan mulut serta mengambil tindakan yang tepat,
untuk mendapatkan perawatan/pengobatanyang memadahi sehingga tercapai
derajat kesehatan gigi dan mulut yang optimal (Tim IKGM, 2012).

2.2 Penyuluhan
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan
cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja
4
sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang
ada hubungannya dengan kesehatan. Penyuluhan kesehatan adalah gabungan
berbagai kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar
untuk mencapai suatu keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok atau
masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu bagaimana caranya dan
melakukan apa yang bisa dilakukan, secara perseorangan maupun secara
kelompok dan meminta pertolongan (Effendy, 1998).
Penyuluhan merupakan salah satu upaya promotif dalam pelaksanaan
program UKGS di sekolah-sekolah. Upaya promotif yang dilaksanakan di UKGS,
lebih diarahkan pada pendekatan pendidikan kesehatan gigi. Upaya ini biasanya
dilakukan oleh guru sekolah ataupun guru orkes yang sudah dilatih. Mereka dapat
menjalankan upaya promotif/penyuluhan ini dengan jalan memasukkan pelajaran
tentang kesehatan gigi dan mulut. Tujuan umum UKGS adalah tercapainya derajat
kesehatan gigi dan mulut murid yang optimal, sedangkan tujuan penyuluhan
dalam program UKGS agar murid mempunyai kemampuan dan kebiasaan untuk
memelihara kesehatan gigi dan mulutnya secara benar baik dalam pengetahuan,
sikap maupun tindakan (Herijulianti dkk, 2005).

2.5. Materi Kesehatan Gigi Dan Mulut


a Gigi
Anatomi dasar gigi terdiri dari bagian mahkota dan akar. Bagian mahkota
terlihat di dalam mulut, sedangkan bagian akar terbenam di dalam tulang rahang
dan gusi (Julianti dkk, 2008).
Gigi merupakan bagian dari alat pengunyahan pada system pencernaan
dalam tubuh manusia, sehingga secara tidak langsung berperan dalam status
kesehatan perorangan. Penyakit gigi yang sering diderita oleh hampir semua
penduduk Indonesia adalah karies gigi. Karies gigi merupakan penyakit yang
sering ditemukan pada setiap strata sosial masyarakat Indonesia baik pada kaum
laki-laki maupun kaum perempuan serta anak-anak dan dewasa. Anak harus mulai
diajarkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan giginya, sebab:

5
1. Pada masa gigi susu, sedang terjadi pembentukan gigi tetap didalam
tulang. Sehingga jika ada kerusakan gigi susu yang parah dapat
mengganggu proses pembentukan gigi tetapnya. Hal ini dapat
mengakibatkan gigi tetapnya tumbuh dengan tidak normal.
2. Mulut adalah pintu utama masuknya makanan kedalam perut. Mulut
adalah lokasi pertama yang dilalui makanan dalam proses pencernaan. Jika
terjadi gangguan pada mulut maka akan mengganggu kelancaran proses
pencernaan.
3. Infeksi yang terjadi pada gigi dan mulut dapat mempengaruhi kesehatan
organ didalam tubuh seperti jantung, paru-paru, ginjal,dll. Karena infeksi
dalam mulut dapat menyebar kedalam organ-organ tersebut yang disebut
dengan fokal infeksi.
4. Infeksi gigi dan mulut yang diderita anak akan membuat anak menjadi
malas beraktivitas dan akan mengganggu proses belajar mereka.

Fungsi gigi antara lain :


1. Mengunyah makanan
2. Fungsi bicara
3. Fungsi estetika/ keindahan
Masing-masing gigi memiliki fungsi yang berbeda, yaitu :
1. Gigi seri : memotong makanan
2. Gigi taring : merobek makanan
3. Gigi geraham kecil : menghancurkan makanan
4. Gigi geraham besar : melumat dan menghaluskan makanan

Faktor- faktor dari gigi yang berpengaruh terhadap peningkatan karies, yaitu :
1. Bentuk
Gigi dengan fit dan fisur yang dalam lebih mudah terserang karies
2. Posisi
Gigi yang berjejal dan susunanya tidak teratur lebih sukar dibersihkan. Hal ini
cenderung meningkatkan penyakit periodontal dan karies

6
3. Struktur
Keberadaan flour dalam konsentrasi yang optimum pada jaringan gigi dan
lingkungannya merangsang efek anti karies (Kidd & Bechal, 1991).

b Kelainan/ Penyakit Gigi dan Mulut


1. Gigi berlubang/ karies
Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses
demineralisasi yang progresif pada jaringan keras permukaan mahkota dan akar
gigi yang dapat dicegah. Risiko karies adalah kemungkinan berkembangnya
karies pada individu atau terjadinya perubahan status kesehatan yang mendukung
terjadinya karies pada suatu periode tertentu. Risiko karies bervariasi pada setiap
individu tergantung pada keseimbangan faktor pencetus dan penghambat
terjadinya karies (Varsio, 1999).
Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yaitu email,
dentin, dan sementum, yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam
suatu karbohidrat dapat diragikan. Tandanya adalah adanya demineralisasi
jaringan keras gigi yang diikuti timbulnya kerusakan komponen organiknya.
Akibatnya terjadi infeksi bakteri dan kematian pulpa serta penyebaran infeksinya
ke jaringan periapeks yang dapat menyebabkan nyeri (Ginting B, 1984).
Risiko karies dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu risiko karies tinggi,
sedang dan rendah. Agar dapat mengidentifikasi risiko karies anak digunakan
suatu penilaian risiko karies (Tinanoff, 2002).
Karies bisa digolongkan berdasarkan keparahan atau kecepatan
beerkembangnya. Gigi dan permukaan gigi yang terkena bisa berbeda-beda
tergantung keparahan karies yang dihadapi. Oleh karena itu karies disebut karies
ringan jika yang terkena karies adalah daerah yang sangat rentan terhadap karies
misalnya permukaan oklusal gigi molar permanen. Dikatakan moderate jika karies
meliputi permukaan oklusal dan proksimal gigi posterior, dan dikatakan parah jika
kariestelah menyerang gigi anterior, suatu daerah yang biasanya bebas karies
(Kidd dan Joyston, 1992).

7
Karies rampan adalah nama yang diberikan kepada kerusakan yang
meliputi beberapa gigi yang cepat sekali terjadinya, seringakali meliputi
permukaan gigi yang biasanya bebas karies. Keadaan ini terutama dapat dijumapai
pada gigi sulung bayi yang selalu mengisap dot yang berisi gula atau dicelupkan
dahulu pada larutan gula. Karies rampan dapat juga dijumpai pada gigi permanen
remaja dan hal ini biasanya disebabkan oleh seringnya makan kudapan kariogenik
dan minuman manis diantara waktu makannya (Kidd dan Joyston, 1992).
Karies, penyakit periodontal, dan kondisi oral lainnya jika tidak dirawat
dapat mengarah pada nyeri, infeksi, dan kehilangan fungsi oral sehingga dapat
mempengaruhi komunikasi, nutrisi, kegiatan belajar, dan aktivitas anak lainnya
yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan normal (Kellog, 2005).

2. Radang gusi (gingivitis)


Gingivitis adalah peradangan pada gusi (gingiva) yang sering terjadi dan
bias timbul kapan saja setelah timbulnya gigi. Gingivitis merupakan tahap awal
dari timbulnya penyakit gusi, peradangan disebabkan oleh ‘plak’ yang terbentuk
disekitar gusi (Nurasiah 2009).
Sisa makanan yang melekat pada gigi bisa mengeras karena pengendapan
bahan-bahan kapur dari ludah, membentuk karang gigi yang berwarna kuning dan
melekat pada mahkota gigi. sifat karang gigi ini adalah merusak perlekatan gusi
pada gigi dan menyebabkan radang gusi (gingivitis). Gusi yang kurang sehat akan
sering berdarah. Ini mengakibatkan terbentuknya karang gigi yang berwarna
hijau/hitam dan melekat sekitar leher gigi dan akar gigi, serta merusak jaringan
periodontium.

3. Cara Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut


Beberapa cara mencegah penyakit gigi dan mulut yaitu:
a. Hilangkan substrat karbohidrat
Untungnya tidaklah perlu menghilangkan secara total karbohidrat dari
makanan kita. Yang diperlukan hanyalah mengurangi frekuensi komsumsi gula
dan membatasinya saat makan saja.
8
b. Tingkatkan ketahanan gigi
Email dan dentin yang terbuka dapat dibuat lebih resisten terhadap
karies dengan memaparkannya terhadap flour secra tepat,pit dan fissure yang
dalam dapat dikurangi kerentangannya dengan mentupnya memakai resin.

c. Hilangkan plak bakteri


Secara teoritas permukaan gigi yang bebas plak tidak akan menjadi karies,
tetapi penghilangan total plak secara teratur bukanlah pekerjaan mudah.
Untungnya tidak semua kuman dalam plak mampu meragikan gula sehingga
tidaklah mustahil untuk mencegah karies dengan jalan mengurangi kuman yang
kariogeniknya saja. (Kidd,1992)

d. Peliharalah kebersihan gigi dan mulut dengan menyikat gigi secara teratur
minimal 2 kali sehari (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam) serta
gunakan pasta yang mengandung fluor

e. Mengurangi makanan yang manis dan melekat, Membiasakan makan makanan


yang bergizi dan cukup mengandung zat kapur (kalsium) seperti : susu, ikan,
kacang-kacangan, bayam, dll.

e. Banyak mengkonsumsi buah-buahan.

f. Periksa gigi secara teratur setiap 6 bulan sekali dengan maksud apabila terdapat
kelainan pada gigi dan mulut dapat segera ditanggulangi (Sam, 2008).

4. Menyikat/ menggosok Gigi


Gosok gigi adalah rutinitas yang penting dalam menjaga dan memelihara
kesehatan gigi karena itu dianjurkan menggosok gigi setiap hari. Menyikat gigi
dilakukan untuk membersihkan gigi dari timbunan sisa makanan sehingga
diperoleh keadaan gigi yang bersih dan sehat. Menyikat gigi bertujuan mencegah
9
penyakit gigi dan mulut misalnya gigi berlubang, radang gusi, dan mencegah bau
mulut. Menggosok gigi minimal 2 kali sehari dilakukan setelah makan pagi dan
sebelum tidur malam (ginanjar, 2010).
Sikat gigi sebaiknya diganti 2 bulan sekali atau diganti jika bulu sikat gigi
sudah melebar dan jangan menggunakan sikat gigi secara bergantian.Menyikat
gigi dilakukan dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride yang
merupakan bahan agar gigi menjadi tidak mudah keropos.
Macam-macam cara menggosok gigigi antara lain:
(a) Gerakan vertikal
Arah gerakan menggosok gigi ke atas ke bawah dalam keadaan rahang
atas dan bawah tertutup. Gerakan ini untuk permukaan gigi yang menghadap ke
pipi (bukal/labial), sedangkan untuk permukaan gigi yang menghadap
lidah/langit-langit (lingual/palatal), gerakan menggosok gigi ke atas ke bawah
dalam keadaan mulut terbuka. Cara ini terdapat kekurangan, yaitu bila menggosok
gigi tidak benar dapat menimbulkan resesi gingival/penurunan gusi sehingga akar
gigi terlihat.
(b) Gerakan horizontal
Arah gerakan menggosok gigi ke depan ke belakang dari permukaan bukal
dan lingual. Gerakan menggosok pada bidang kunyah dikenal sebagai scrub
brush. Caranya mudah dilakukan dan sesuai dengan bentuk anatomi permukaan
kunyah. Kombinasi gerakan vertikal-horizontal, bila dilakukan harus sangat hati-
hati karena dapat menyebabkan resesi gusi/abrasi lapisan gigi.
(c) Gerakan roll teknik/modifikasi Stillman
Cara ini, gerakannya sederhana, paling dianjurkan, efisien dan menjangkau
semua bagian mulut. Bulu sikat ditempatkan pada permukaan gusi, jauh dari
permukaan oklusal/bidang kunyah, ujung bulu sikat mengarah ke apex/ujung akar,
gerakan perlahan melalui permukaan gigi sehingga bagian belakang kepala sikat
bergerak dalam lengkungan.
Cara menyikat gigi dimulai dari gigi belakang kanan/kiri digerakan ke
arah depan dan berakhir pada gigi belakang kanan/kiri dari sisi lainnya agar sisa
makanan yang tersisa dapat hilang dari permukaan gigi (Ginanjar, 2010).
10
2.6 Indeks Kesehatan Gigi
Mengukur kebersihan gigi dan mulut merupakan upaya untuk menentukan
keadaan kebersihan gigi dan mulut seseorang. Pada umumnya untuk mengukur
kebersihan gigi dan mulut digunakan suatu Indeks. Indeks adalah suatu angka
yang menunjukkan keadaan klinis yang didapat pada waktu dilakukan
pemeriksaan, dengan cara mengukur luas dari permukaan gigi yang ditutupi oleh
plak maupun kalkulus, dengan demikian angka yang diperoleh berdasarkan
penilaian yang obyektif. Apabila kita sudah mengetahui nilai atau angka
kebersihan gigi dan mulut dari seorang pasien kita dapat memberikan pendidikan
dan penyuluhan, motivasi dan evaluasi yaitu dengan melihat kemajuan ataupun
kemunduran kebersihan gigi dan mulut seseorang atau sekelompok orang, ataupun
kita dapat melihat perbedaan keadaan klinis seseorang atau sekelompok orang.
Indikator karies gigi dapat berupa prevalensi karies dan indeks karies.
Indeks karies gigi yaitu angka yang menunjukkan jumlah gigi karies seseorang
atau sekelompok orang. Pengukuran karies dikenal sebagai indeks DMF dan
merupakan indeks aritmetika penyebaran karies yang kumulatif. Beberapa metode
pengukuran karies gigi yaitu indeks DMF-T digunakan untuk menyatakan gigi
yang karies, hilang dan ditambal. DMF-S digunakan untuk menyatakan gigi
karies, hilang dan permukaan gigi yang ditambal pada gigi permanen, sehingga

11
jumlah permukaan gigi yang terkena harus diperhitungkan. Indeks yang sama
untuk gigi sulung adalah def-t dan def-s dimana t menunjukkan jumlah gigi yang
dicabut (bukan tanggal secara alamiah) dan s menunjukkan gigi atau permukaan
gigi yang ditambal (Kidd & Bechal, 1992)
Untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut, Greene dan Vermillion
menggunakan indeks yang dikenal dengan Oral Hygiene Index (OHI) dan
Simplified Oral Hygiene Index (OHI-S). Pada awalnya indeks ini digunakan
untuk menilai penyakit peradangan gusi dan penyakit periodontal, akan tetapi data
yang diperoleh ternyata kurang berarti atau bermakna. Oleh karena itu hanya
digunakan untuk mengukur tingkat kebersihan gigi dan mulut dan menilai
efektivitas dari penyikatan gigi.
1. Oral Hygiene Index (OHI)
OHI terdiri dari komponen Debris Index dan Calculus Index, dengan
demikian OHI merupakan hasil penjumlahan dari Debris Index dan Calculus
Index, dimana setiap indeks menggunakan skala nilai 0-3.
Pada penilaian ini semua gigi diperiksa baik gigi-gigi pada rahang atas
maupun rahang bawah. Setiap rahang dibagi menjadi tiga segmen, yaitu:
(1) segmen pertama, mulai dari distal kaninus sampai molar ketiga kanan
rahang atas;
(2) segmen kedua, diantara kaninus kanan dan kiri; dan
(3) segmen ketiga, mulai dari mesial kaninus sampai molar ketiga kiri.
Setelah semua gigi diperiksa, pilih gigi yang paling kotor dari setiap
segmen.
2. OHI-S (Oral Hygiene Index Simplified)
Untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut seseorang, Greene dan
Vermillion memilih enam permukaan gigi indeks tertentu yang cukup dapat
mewakili segmen depan maupun belakang dari seluruh pemeriksaan gigi yang ada
dalam rongga-rongga mulut. Gigi-gigi yang dipilih sebagai gigi indeks beserta
permukaan indeks yang dianggap mewakili tiap segmen ialah:
1. Gigi 16 pada permukaan bukal
2. Gigi 11 pada permukaan labial
12
3. Gigi 26 pada permukaan bukal
4. Gigi 36 pada permukaan lingual
5. Gigi 31 pada permukaan labial
6. Gigi 46 pada permukaan lingual
Permukaan yang diperiksa adalah permukaan gigi yang jelas terlihat dalam
mulut, yaitu permukaan klinis, bukan permukaan anatomis. Apabila gigi indeks
pada suatu segmen tidak ada, maka dilakukan penggantian gigi tersebut dengan
ketentuan sebagai berikut:
1. Apabila gigi molar pertama tidak ada maka penilaian dilakukan pada gigi
molar kedua, apabila gigi molar pertama dan kedua tidak ada maka
penilaian dilakukan pada gigi molar ketiga akan tetapi bila gigi molar
pertama, kedua dan ketiga tidak ada, maka tidak ada penilaian untuk
segmen tersebut.
2. Apabila gigi incisivus pertama kanan atas tidak ada, maka dapat diganti
oleh gigi incisivus kiri dan apabila gigi incisivus kiri bawah tidak ada,
dapat diganti dengan gigi incisivus pertama kanan bawah, akan tetapi bila
gigi incisivus pertama kiri atau kanan tidak ada, maka tidak ada penilaian
untuk segmen tersebut.
3. Gigi indeks dianggap tidak ada pada keadaan-keadaan seperti: gigi hilang
karena dicabut, gigi yang merupakan sisi akar, gigi yang merupakan
mahkota jaket baik yang terbuat dari akrilik maupun logam, mahkota gigi
sudah hilang atau rusak lebih dari ½ bagiannya pada permukaan indeks
akibat karies maupun fraktur, gigi yang erupsinya belum mencapai ½
tinggi mahkota klinis.
4. Penilaian dapat dilakukan apabila minimal ada dua gigi indeks yang dapat
diperiksa (Widodo, 2010).
2.7 Indeks DMF-T
Indeks DMF-T digunakan untuk pencatatan gigi permanen. Indeks DMF-T
adalah indeks dari pengalaman kerusakan seluruh gigi yang rusak, yang dicabut
dan yang ditambal. Tujuan dari indeks DMF-T adalah untuk menentukan jumlah

13
total pengalaman karies gigi pada masa lalu dan yang sekarang. Untuk pencatatan
DMF-T
dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :
1. Setiap gigi dicatat satu kali
2. D = Decay atau rusak
a. Ada karies pada gigi dan restorasi
b. b. Mahkota gigi hancur karena karies gigi
3. M = Missing atau hilang
a. Gigi yang telah dicabut karena karies gigi
b. Karies yang tidak dapat diperbaiki dan indikasi untuk pencabutan
4. F = Filled atau tambal
a. Tambalan permanen dan sementara
b. Gigi dengan tambalan tidak bagus tapi tanpa karies yang jelas

Perhitungan DMF-T berdasarkan pada 28 gigi permanen, adapun gigi yang


tidak dihitung adalah sebagai berikut :
1. Gigi molar ketiga
2. Gigi yang belum erupsi. Gigi disebut erupsi apabila ada bagian gigi yang
menembus gusi baik itu erupsi awal (clinical emergence), erupsi
sebagian(partial eruption) maupun erupsi penuh (full eruption).
3. Gigi yang tidak ada karena kelainan congenital dan gigi berlebih
(supernumerary teeth).
4. Gigi yang hilang bukan karena karies, seperti impaksi atau perawatan
ortodontik.
5. Gigi tiruan yang disebabkan trauma, estetik dan jembatan.
6. Gigi susu yang belum tanggal

2.8 Indeks def-t


Indeks def adalah jumlah gigi sulung seluruhnya yang telah terkena karies.
Tujuan dari indeks def adalah untuk menentukan pengalaman karies gigi yang
terlihat pada gigi sulung dalam rongga mulut.
14
Untuk pencatatan def-t dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :
1. d = Decayed / rusak
2. e = Indicated for Extracted / indikasi untuk pencabutan
3. f = Filled / Tambal
Jumlah gigi sulung yang ditambal pada permukaan yang tidak terdapat
karies gigi. Perhitungan def-t berdasarkan pada 20 gigi sulung. Adapun gigi-gigi
yang tidak dihitung adalah sebagai berikut :
1. Gigi yang hilang termasuk gigi yang belum erupsi dan tidak ada karena
kelainan genital
2. Gigi supernumerary
3. Gigi tiruan yang disebabkan bukan karena karies gigi, tidak dihitung
sebagai filled (tambalan)

WHO memberikan kategori dalam perhitungan DMF-T dan def-t berupa


derajat interval sebagai berikut (Pine, 1997).
1. Sangat rendah : 0,0 – 1,1
2. Rendah : 1,2 – 2,6
3. Moderat : 2,7 – 4,4
4. Tinggi : 4,5 – 6,5
5. Sangat Tinggi : > 6,6
(Anne Agustina, 2008)

15