Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

PRAKTIKUM IMUNOLOGI 3

Herpes Simplex Virus (HSV) Imunoglobulin Gamma (IgG)

Disusun Oleh :

1. Fajar Farra Anastasia G1C016076


2. Imron G1C016087
3. Sastika Nur Alifah G1C016088
4. Mai Diska Diah Permata G1C016091
5. Nia Hardianti G1C016095
6. Rossi Prastika Utari G1C016096
7. Octhy Amelia Fermanto G1C016108

D4 TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2019

1
DAFTAR ISI

Bab 1 Pendahuluan.......................................................................3

1.1 Latar Belakang...........................................................3


1.2 Tujuan........................................................................3
1.3 Rumusan Masalah......................................................4
1.4 Manfaat......................................................................4

Bab 2 Tinjauan Pustaka ................................................................5

2.1 Herpes Simplex Virus Imunoglobulin G.......................5

2.2 ELISA............................................................................6

Bab 3 Metode Kerja.......................................................................8

Bab 4 Penutup..............................................................................22

4.1 Kesimpulan..................................................................22

4.2 Saran............................................................................22

Daftar Pustaka.............................................................................23

2
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di antara infeksi virus manusia di seluruh dunia, herpes disebabkan oleh


Herpes Simplex Virus (HSV) tipe-1 dan Herpes Simplex Virus (HSV) tipe-2
adalah yang paling umum . Menurut data WHO (World Health Organization),
pada 2010, prevalensi penderita HSV-1 pada penduduk usia 0-49 tahun di Asia
Tenggara adalah sebanyak 432 juta orang perempuan (59%) dan 458 juta laki-laki
(58%). Penyakit Herpes adalah penyakit menular seksual yang dapat menular
melalui hubungan seks atau kontak kelamin. Virus herpes terdiri dari 2 jenis yakni
HSV tipe-1 dan HSV tipe-2. Keduanya berkaitan erat tetapi berbeda dalam
gambaran epidemiologinya. HSV-1 dikaitkan dengan penyakit orofacial,
sedangkan HSV-2 dikaitkan dengan penyakit genital. Herpes Simpleks Virus
(HSV) adalah virus DNA yang patogen pada manusia yang secara intermitten
dapat rekurensi kembali. Setelah replikasi di kulit atau mukosa, virus menginfeksi
ujung saraf lokal dan menuju ke ganglion yang kemudian menjadi laten hingga
teraktivasi kembali (Ibrahim.F,2002).

Untuk mendeteksi herpes secara tepat dikembangkan pendekatan untuk


mencegah penyebaran HSV. Pemeriksaan serodiagnosis dapat di lakukan untuk
menentukan apakah penderita telah kontak/terpajan Virus Herpes. Pengukuran
afinitas antibodi dapat menentukan infeksi primer, afinitas yang lemah IgG dan
IgM dalam serum merupakan petunjuk infeksi primer baru.

1.2 Tujuan

a. Untuk mengetahui Herpes Simplex Virus (HSV) Ig G.


b. Untuk mengetahui ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay).
c. Untuk mengetahui bagaimana cara diagnosa Herpes Simplex Virus (HSV) Ig G.
d. Untuk mengetahui diagnosa Herpes Simplex Virus (HSV) Ig G dengan ELISA
(Enzyme-linked immunosorbent assay).

3
1.3 Rumusan Masalah
a. Apakah yang dimaksud Herpes Simplex Virus (HSV) Ig G ?.
b. Untuk mengetahui ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay).
c. Bagaimana cara diagnosis Herpes Simplex Virus (HSV) Ig G?.
d. Bagaimana cara diagnosis Herpes Simplex Virus (HSV) Ig G dengan teknik
ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay) ?

1.4 Manfaat

a. Untuk mahasiswa

Agar mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik bagaimana prosedur HSV


IgG dengan metode ELISA.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Herpes Simplex Virus Imunoglobulin G

Imunoglobulin Gamma (Ig G) merupakan komponen utama


imunoglobulin serum. Ig G di temukan dalam berbagai cairan,antara lain cairan
serebrospinal (CSF) dan juga urin. Ig G dapat menembus plasenta masuk ke fetus
dan berperan pada imunitas bayi sampai umur 6-9 bulan. Pemeriksaan
serodiagnosis dapat di lakukan untuk menentukan apakah penderita telah
kontak/terpajan Virus Herpes. Pengukuran afinitas antibodi dapat menentukan
infeksi primer, afinitas yang lemah IgG dan IgM dalam serum merupakan
petunjuk infeksi primer baru (Ibrahim, 2002).

Pemeriksaan Anti-HSV1 Ig G dan Anti-HSV2 Ig G dilakukan untuk


mendeteksi adanya infeksi HSV1 dan HSV2 pada masa lampau (sudah terjadi).
Hasil pemeriksaan yang menunjukkan hasil positif artinya pada masa lampau
sudah terinfeksi virus HSV tipe 1 dan HSV tipe 2 serta saat ini di dalam tubuh
sudah memiliki antibodi terhadap virus tersebut. Herpes merupakan suatu
penyakit yang termasuk dalam infeksi menular seksual. Herpes simpleks dapat
ditularkan melalui cairan orang yang terinfeksi yaitu melalui vaginal seks, oral
seks, maupun anal seks. Penyakit ini tidak mengancam nyawa pada orang dewasa
namun sering kumat, timbul pada tempat yang sama dan biasanya lebih ringan
dari gejala infeksi pertama. Sebagian besar orang yang terinfeksi HSV tidak
mengeluhkan adanya gejala atau hanya gejala ringan oleh sebab itu terkadang
mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang terinfeksi HSV. Biasanya mereka
baru mengeluhkan gejala ketika sudah timbul luka, bintil-bintil ataupun nyeri di
kemaluan dan ketika saat itu biasanya disertai gejala seperti flu, demam, nyeri otot.

5
2.2 ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay)

Uji enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) adalah teknik biokimia


yang digunakan terutama pada imunologi untuk mendeteksi keberadaan antibodi
atau antigen dalam sampel. ELISA telah digunakan sebagai alat diagnostik dalam
kedokteran dan patologi tanaman, serta pemeriksaan kontrol kualitas di berbagai
industri, seperti aplikasi ELISA dalam industri makanan. Secara sederhana,
ELISA, digunakan untuk menentukan jumlah antigen yang tidak diketahui pada
sampel, dengan cara mengikatkan antigen dengan antibodi spesifik yang
ditempelkan di permukaan dinding ELISA plate. Antibodi yang sudah terikat
dengan enzym yang akan berubah warna, sehingga dapat diketahui berapa antigen
yang ada pada sampel. Intensitas warna akan diukur dengan alat yang dinamakan
ELISA Reader.

ELISA banyak dipakai oleh laboratorium untuk mendiagnosis penyakit,


seperti penyakit infeksius, penyakit hormonal, penyakit kanker, dan lain-lain.
Keunggulan metodologi ELISA adalah test ini bisa mengukur antigen atau
antibodi dalam sample secara kuantitatif maupun kualitatif.

ELISA dapat dipakai untuk pengujian antigen lewat cara persaingan


(kompetitip) atau cara antibody ganda (double antibody). Cara Persaingan.
Campuran dari antigen yang dilekatkan pada enzim yang diketahui jumlahnya
dengan antigen tanpa enzim yang belum diketahui jumlahnya, direaksikan dengan
antibody yang dilekatkan pada permukaan padat. Setelah reaksi selesai
membentuk kompleks lalu dicuci, kemudian ditambahkan substrat yang cocok
untuk enzim dan aktivitas enzim diukur. Sejumlah antigen yang belum diketahui
jenisnya direaksikan dengan antibody tertentu yang dilekatkan pada permukaan
padat, dicuci dan direaksikan dengan antibody berenzim. Setelah dicuci lagi,
ditambahkan substrat enzim khusus. Aktivitas enzim yang diuji dengan cara biasa
menunjukkan jumlah antigen yang ada. Antiserum yang dicurigai, direaksikan
dengan antigen khusus yang dilekatkan pada bahan padat,kemudian dicuci.
Selanjutnya direaksikan dengan antibody yang bersifat anti-immunoglobulin
berenzim yang akan melekat pada antibody yang tadi tererap dari anti serum

6
mula-mula. Kompleks yang terjadi dicuci, ditambahkan substrat, aktivitas enzim
sesuai jumlah antibody pada serum mula-mula.

Beberapa bahan yang digunakan dalam teknik ELISA, yaitu :

1. Bahan padat yang dipakai dalam ELISA termasuk selulosa, dextran berangkai
silang, poliacrilamide, polistiren dan polipropilen. Bentuknya dapat berupa
butiran, lempeng atau tabung.
2. Antigen dapat dilekatkan secara adsorpsi pasif atau diikat secara kovalen
dengan sianoben-bromida.
3. Enzim dipilih yang aktivitasnya tinggi misalnya fosfatse alkalis dan
peroksidase. Bahan pengabung yang sering dipakai adalah glutaraldehide.
4. Substrat paling baik jika stabil, aman dan murah. Substrat tidak berwarna yang
menjadi berwarna karena perubahan oleh enzim. Misalnya : p-nitrofenilfosfat
berubah menjadi p-nitrofenol berwarna kuning oleh enzim fosfatase alkalis.
Substrat lain, misalnya diamino benzidine,5-aminosalisilat, O-fenilen-diamin
dipakai untuk enzim peroksidase.

7
BAB III

METODE KERJA

3.1 Diagnosa HSV (Herpes Simplex Virus) Ig G dengan teknik ELISA


(Enzyme-linked immunosorbent assay)

3.1.1 Pengantar
A. Penggunaan

DRG Herpes simplex Virus Tipe 2 IgG Enzim Immunoassay Kit menyediakan
bahan untuk Penentuan kualitatif dan semiquantitatif dari antibodi kelas IgG
untuk Herpes simplex Virus Tipe 2 (HSV-2) dalam serum.

Pengujian ini dimaksudkan hanya untuk penggunaan in vitro.

B. Ringkasan dan penjelasan

Herpes simplex adalah virus DNA yang diselimuti (berdiameter 150-200


nm) milik alphaherpesviridae. Berdasarkan perbedaan antigenik, biokimia, dan
biologis, dapat dibagi menjadi dua serotipe, HSV-1 dan HSV-2. Manusia adalah
satu-satunya host alami dan sumber virus. HSV-tipe 1 biasanya menyebabkan
herpes oral, sedangkan HSV-tipe 2 biasanya mempengaruhi area genital. Sebagian
besar waktu, HSV-1 dan HSV-2 tidak aktif, atau "diam", dan tidak menimbulkan
gejala, tetapi beberapa orang yang terinfeksi memiliki "wabah" lecet dan borok.
Setelah terinfeksi HSV, orang tetap terinfeksi seumur hidup. Virus herpes
simpleks adalah di antara agen infeksius yang paling umum pada manusia, dan
tipe HSV tampaknya mampu menginfeksi situs tubuh yang serupa. Persentase
tinggi dari populasi orang dewasa adalah seropositif (sekitar 90% HSV-1
tergantung pada status sosial ekonomi, 10-30% HSV-2). Infeksi HSV-1 primer
biasanya terjadi pada anak usia dini (usia 6 hingga 18 bulan). HSV-2 biasanya
menghasilkan gejala ringan, dan kebanyakan orang tidak memiliki gejala yang
dikenali.

8
Diagnosis infeksi HSV ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisis, dan laboratorium. Metode deteksi anti-HSV metode enzyme-linked
immunosorbent assay (ELISA) memiliki sensitivitas 93–100% dan spesifisitas
95–100%, sedangkan metode enzyme-linked immunofiltration assay (ELIFA)
memiliki sensitivitas 83,36–97% dan spesifisitas 83,93–98%. Tujuan penelitian
adalah menilai kesesuaian hasil pemeriksaan anti-HSV antara metode ELIFA dan
ELISA. Bila terdapat kesesuaian yang baik maka metode ELIFA dapat
menggantikan metode ELISA.

3.1.2 PRINSIP ujian


DRG HSV 2 IgG ELISA Kit adalah uji immunosorbent terkait-enzim
fase padat (ELISA).

Sumur mikrotiter sebagai fase padat dilapisi dengan antigen HSV 2.

Spesimen pasien yang diencerkan dan kontrol siap pakai disalurkan ke sumur-
sumur ini. Saat inkubasi

Antibodi spesifik HSV 2 dari spesimen positif dan kontrol terikat pada antigen
yang digerakkan.

Setelah langkah mencuci untuk menghapus sampel yang tidak terikat dan
mengontrol bahan lobak peroksidase terkonjugasi anti-antibodi IgG manusia
ditransfer ke dalam sumur. Selama inkubasi kedua konjugat anti-IgG ini mengikat
khusus untuk antibodi IgG yang menghasilkan pembentukan kompleks imun
terkait-enzim.

Setelah langkah pencucian kedua untuk menghilangkan konjugasi yang tidak


terikat, kompleks imun terbentuk (jika positif hasil) dideteksi oleh inkubasi
dengan substrat TMB dan pengembangan warna biru. Warna biru berubah
menjadi kuning dengan menghentikan reaksi indikator enzimatik dengan asam
sulfat.

Intensitas warna ini berbanding lurus dengan jumlah antibodi IgG spesifik HSV 2
pada pasien

9
contoh. Absorbansi pada 450 nm dibaca menggunakan pembaca plat mikrotiter
ELISA.

A. Tindakan pencegahan
1. Kit ini hanya untuk penggunaan in vitro. hanya untuk penggunaan
profesional
2. Sebelum memulai pengujian, baca instruksi dengan lengkap dan hati-
hati. Gunakan versi yang valid dari sisipan paket yang disediakan
dengan kit. Pastikan semuanya dipahami.
3. Semua reagen dari test kit ini yang mengandung serum atau plasma
manusia telah diuji dan dikonfirmasi negatif untuk HIV I / II, HBsAg
dan HCV oleh prosedur yang disetujui FDA. Namun, semua pereaksi
seharusnya diperlakukan sebagai biohazard potensial yang digunakan
dan untuk dibuang.
4. Hindari kontak dengan Stop Solution yang mengandung 0,5 mol / LH 2
SO 4 . Ini dapat menyebabkan iritasi kulit dan luka bakar.
5. Substrat TMB memiliki efek iritan pada kulit dan mukosa. Dalam hal
kemungkinan kontak. Cuci mata dengan air yang banyak dan kulit
dengan sabun dan air yang banyak. . jika terhirup, bawa orang itu ke
udara terbuka.
6. Media TMB memiliki efek iritan pada kulit dan mukosa. Dalam hal
kemungkinan kontak. Cuci mata dengan air yang banyak dan kulit
dengan sabun dan air yang banyak. . jika terhirup, bawa orang itu ke
udara terbuka.
7. Pelat mikro berisi strip snap-off. Sumur yang tidak digunakan harus
disimpan pada suhu 2˚C hingga 8˚C dalam kantong foil yang disegel
dan digunakan dalam bingkai yang disediakan.
8. Pemipaan sampel dan reagen harus dilakukan secepat mungkin dan
dalam urutan yang sama untuk setiap langkah.
9. Gunakan reservoir hanya untuk reagen tunggal. Ini khususnya berlaku
untuk reservoir substrat. Menggunakan reservoir untuk mengeluarkan
larutan substrat yang sebelumnya digunakan untuk larutan konjugat

10
dapat mengubah larutan menjadi berwarna. Jangan tuangkan reagen
kembali ke dalam botol karena dapat terjadi kontaminasi reagen.
10. Campurkan isi sumur mikro dengan seksama untuk memastikan hasil
pengujian yang baik. Jangan gunakan kembali microwell.
11. Jangan biarkan sumur mengering selama pengujian, segera tambahkan
pereaksi setelah menyelesaikan langkah pembilasan.
12. Biarkan reagen mencapai suhu kamar (21˚C - 26˚ C) sebelum memulai
tes. Temperatur akan mempengaruhi pembacaan absorbansi alat ini.
Namun, nilai untuk sampel pasien tidak akan terpengaruh.
13. Jangan pipet melalui mulut dan hindari kontak reagen dan spesimen
dengan kulit dan selaput lendir.
14. Jangan merokok, makan, minum, atau menggunakan kosmetik di
tempat spesimen atau reagen kit ditangani.
15. Kenakan sarung tangan karet sekali pakai saat memegang spesimen
dan reagen. Kontaminasi reagen mikroba atau spesimen dapat
memberikan hasil yang salah.
16. Penanganan harus sesuai dengan prosedur yang ditentukan oleh
keselamatan biohazard nasional yang tepat pedoman atau regulasi.
17. Jangan menggunakan reagen melebihi tanggal kedaluwarsa seperti
yang ditunjukkan pada label kit.
18. Semua volume yang ditunjukkan harus dilakukan sesuai dengan
protokol. Hanya hasil tes yang optimal diperoleh saat menggunakan
pipet dan pembaca plat mikrotiter yang dikalibrasi.
19. Jangan mencampur atau menggunakan komponen dari kit dengan
nomor lot berbeda. Disarankan untuk tidak bertukar sumur piring yang
berbeda bahkan dari lot yang sama. Kit mungkin telah dikirim atau
disimpan dalam kondisi yang berbeda dan karakteristik pengikatan
pelat mungkin menghasilkan sedikit berbeda.
20. Bahan kimia dan reagen yang disiapkan atau digunakan harus
diperlakukan sebagai limbah berbahaya menurut nasional pedoman
atau peraturan keselamatan biohazard.

11
21. Untuk informasi tentang zat berbahaya yang termasuk dalam kit,
silakan merujuk ke Lembar Data Keselamatan Bahan Lembar Data
Keselamatan untuk produk ini tersedia atas permintaan langsung dari
DRG Internaitonal, Inc. Lembar Data Keselamatan sesuai dengan
tuntutan: EU-Guideline 91/155 EC.
3.1.3 KOMPONEN KIT
A. Isi kit

1. Sumur Mikrotiter, 12 x 8 (pecah) 96 strip dengan baik ;

Sumur dilapisi dengan antigen Herpes simplex Virus Tipe 2 (HSV2) antigen.

(termasuk 1 pegangan strip dan 1 foil penutup)

2. Sampel Diluent *, 1 botol, 100 mL, siap digunakan, warna kuning, pH 7,2 ±
0,2.

3. Kontrol Positif*, 1 botol, 1,0 mL, siap digunakan, warna kuning, tutup merah.

4. Kontrol Negatif*, 1 botol, 2,0 mL, siap digunakan, warna kuning, tutup
kuning.

5. Kontrol Terputus*, 1 botol, 2,0 mL, siap digunakan, warna kuning, tutup
hitam.

6. Enzim Konjugat*, 1 botol, 20 mL, siap digunakan, warna merah, antibodi


terhadap IgG manusia yang terkonjugasi dengan peroksidase lobak.

7. Solusi Substrate,* 1 botol, 14 mL, siap digunakan,Tetramethylbenzidine


(TMB).

8. Stop Solusi ,*1 botol, 14 mL, siap digunakan,kendala 0,2 mol/L H2SO4.

Hindari kontak dengan stop solusi. Ini dapat menyebabkan iritasi kulit dan luka
bakar.

9. Solusi Cuci,*1 botol, 30 mL, (20x terkonsentrasi untuk 600 mL / 0, pH 6,5 ±


0,1 lihat Preparasi Reagen.

mengandung bahan pengawet non-merkuri

12
3.1.4 Materi yang diminta tetapi tidak disediakan

1. Pembaca yang dikalibrasi pelat mikrotiter (450/620 nm 10 nm)


2. (mis. Pembaca Pelat Microtiter DRG Instruments)
3. Mikropipet presisi variabel terkalibrasi
4. Inkubator 37 0 C
5. Peralatan manual atau otomatis untuk membilas sumur
6. Aquadest terdeionisasi atau (baru)
7. Timer
8. Kertas penyerap
3.1.5 Kondisi Penyimpanan

Ketika disimpan pada 2 0C hingga 8 0C reagen yang belum dibuka akan


mempertahankan reaktivitas hingga tanggal kedaluwarsa. Perhatikan penggunaan
pereaksi melebihi tanggal ini.

Pereaksi yang dibuka harus disimpan pada suhu 2 0C hingga 8 0C. Sumur
mikroteter harus disimpan pada suhu 2 0C hingga 8 0C. Setelah kantung foil
dibuka, harus hati-hati untuk menutupnya kembali.

Kit yang dibuka akan mengaktifkan kembali aktivitas selama dua bulan jika
disimpan seperti dijelaskan di atas.

3.1.6 Persiapan Reagen

Biarkan semua pereaksi dan jumlah strip yang diminta untuk mencapai suhu
kamar sebelum digunakan.

Solusi Cuci

Larutan Cuci Encer 1 + 19 (mis. 10 mL + 190 mL) dengan air segar dan bebas
kuman. Larutan pencuci encer ini memiliki nilai pH 7,2 ± 0,2.

Konsumsi: ~ 5 mL per penentuan.

Kristal dalam larutan menghilang dengan menghangatkan hingga 37 0C di sebuah


waterbath. Pastikan kristal benar-benar larut sebelum digunakan.

Larutan Cuci encer stabil selama 4 minggu pada 2 0C hingga 8 0C.

13
3.1.7 Pembuangan Kit
Disposisi kit harus dibuat sesuai dengan peraturan nasional. Informasi khusus
untuk produk ini diberikan dalam Lembar Data Keselamatan Bahan.
3.1.8 Kit Uji Rusak
Jika terjadi kerusakan parah pada kit uji atau komponen, DRG harus
diberitahu secara tertulis, selambat-lambatnya, pada minggu setelah
menerima kit. Komponen tunggal yang rusak parah tidak boleh digunakan
untuk uji coba. Mereka harus disimpan sampai solusi akhir ditemukan.
Setelah ini, mereka harus dibuang sesuai dengan peraturan resmi.
3.1.9 SPESIMEN

Serum atau plasma (EDTA-, heparin- atau plasma sitrat) dapat digunakan dalam
pengujian ini.

Jangan gunakan spesimen hemolitik, ikterik atau lipemik.

Harap dicatat: Sampel yang mengandung natrium azida tidak boleh digunakan
dalam pengujian ini.

3.2.1 Pengumpulan Spesimen

A. Serum:

Kumpulkan darah dengan venepuncture (mis. Sarstedt Monovette #


02.1388.001), biarkan menggumpal, dan pisahkan serum dengan sentrifugasi
pada suhu kamar. Jangan centrifuge sebelum pembekuan lengkap terjadi.
Pasien yang menerima terapi antikoagulan mungkin memerlukan peningkatan
waktu pembekuan.
B. Plasma:
Seluruh darah harus dikumpulkan ke dalam tabung sentrifugasi yang
mengandung anti koagulan dan disentrifugasi segera setelah pengumpulan.
(E.g. untuk plasma EDTA Sarstedt Monovette - topi merah - # 02.166.001;
untuk plasma Heparin Sarstedt Monovette - oranye - # 02.165.001; untuk
plasma sitrat Sastedt Monovette - tutup hijau - # 02.167.001.)
3.2.2 Penyimpanan Spesimen

14
Spesimen harus ditutup dan dapat disimpan hingga 24 jam pada 2 ° C
hingga 8 ° C sebelum pengujian. Spesimen yang dipegang untuk waktu
yang lebih lama harus dibekukan hanya pada - 20 ° C sebelum pengujian.
Sampel yang dicampurkan harus dibalik beberapa kali untuk pengujian.

3.2.3 Pengenceran Spesimen

Sebelum melakukan uji encerkan masing-masing spesimen pasien 1 + 100


dengan Sampel Pengencer; mis. 10μL spesimen + 1 mL Pengencer Sampel,
aduk rata, diamkan selama 15 menit, aduk lagi.
Harap dicatat: Kontrol siap digunakan dan harus dilueted!

3.2.4 Prosedur Pengujian

A. Keterangan Umum
1. Sangat penting untuk membawa semua reagen, sampel, dan kontrol
ke suhu kamar sebelum memulai uji coba!
2. Setelah tes dilakukan, semua langkah harus diselesaikan tanpa
gangguan.
3. Menggunakan tip pipet plastik pembuangan baru untuk setiap
standar, kontrol atau sampel untuk menghindari kontaminasi silang.
4. Absorbansi adalah fungsi dari waktu dan suhu inkubasi. Sebelum
memulai pengujian, direkomendasikan bahwa semua pereaksi siap,
tutup dilepas, semua sumur yang diperlukan diamankan dalam
penampung, dll. Ini akan memastikan waktu yang sama untuk setiap
langkah pemipaan tanpa gangguan.
5. Sebagai aturan umum, reaksi enzimatik secara linear sebanding
dengan waktu dan suhu.
6. Tutup botol pereaksi segera setelah digunakan untuk menghindari
penguapan dan kontaminasi mikroba.
7. Untuk menghindari kontaminasi silang dan hasil sampel pipet pasien
yang ditinggikan secara keliru dan mengeluarkan konjugasi tanpa
percikan ke dasar sumur.
8. Selama inkubasi, tutup strip mikrotiter dengan foil untuk
menghindari penguapan.

15
3.2.5 HASIL
A. Validasi Uji Coba
1. Uji coba dapat dianggap valid asalkan kriteria berikut dipenuhi:
2. Substrate blank pada A1: Nilai absorbansi lebih rendah dari 0,100
3. Neg. Kontrol dalam B1: Nilai absorbansi lebih rendah dari 0,200
4. Kontrol cut-off (co) di C1 / D1: Nilai absorbansi antara 0,350-0,850
5. Pos. Kontrol di E1: Nilai absorbansi antara 0,650-3,000
6. Nilai absorbansi dari Pos. Kontrol harus lebih besar dari nilai absorbansi
Kontrol Cut-off!
B. Perhitungan
1. Nilai serapan rata-rata dari Cut-off Control (CO)
2. Hitung nilai serapan rata-rata dari 2 penentuan Cut-off Control (mis.
Dalam C1 / D1).
3. Contoh: (0,44 + 0,46): 2 = 0,45 = CO

C. Interpretasi
1. Nilai absorbansi Pasien (rata-rata) positif dari 10% di atas CO (Mean
OD patient> 1,1 x CO)
2. Nilai absorbansi Pasien Gray Zone (rata-rata) dari 10% di atas hingga
10% di bawah CO (0,9 x CO ≤ Rata-rata OD pasien ≤ 1,1 x CO)
3. Hasilkan pengujian kedua lagi di zona abu-abu → negatif
4. Nilai absorbansi Pasien negatif (rata-rata) lebih dari 10% di bawah CO
(Mean OD patient> 1,1 x CO)
5. 7.3.1 Hasil dalam Unit DRG [DU]
6. (pasien (rata-rata) nilai absorbansi x 10) / CO = [Unit DRG = DU]
7. (1,580 x 10) /0,45 = 35 DU
8. Interpretasi hasil
9. Nilai cut-off: 10 DU
10. Gray Zone: 9-11 DU
11. Negatif: <9 DU
12. Positif:> 11 DU

16
3.2.6 PENGENDALIAN KUALITAS
1. Disarankan untuk menggunakan sampel kontrol sesuai dengan peraturan
negara bagian dan federal. Kami dari sampel kontrol disarankan untuk
memastikan validasi hasil setiap hari. Gunakan kontrol pada level normal
dan patologis.
2. Juga direkomendasikan untuk menggunakan program Penilaian Kualitas
nasional atau internasional untuk memastikan keakuratan hasil.
3. Jika hasil uji tidak sesuai dengan rentang bahan kontrol yang dapat diterima,
hasil pasien harus dianggap tidak valid.
4. Dalam hal ini, silakan periksa bidang teknis berikut: pemipaan dan
perangkat penghitung waktu; fotometer, tanggal kadaluwarsa reagen,
penyimpanan dan kondisi inkubasi, aspirasi dan metode pencucian.
5. Setelah memeriksa item yang disebutkan di atas tanpa menemukan
kesalahan, hubungi distributor atau DRG Anda secara langsung.
3.2.7 KARAKTERISTIK ASSAY
A. Kekhususan Diagnostik

Spesifisitas diagnostik didefinisikan sebagai kemungkinan dari penilaian skor


negatif dengan tidak adanya analit spesifik.

100%.

B. Sensitivitas Diagnostik
1. Sensitivitas diagnostik didefinisikan sebagai probabilitas pengujian skor
positif di hadapan analit spesifik.
2. 100%
3. 9.3 Presisi
4. 9.3.1 Presisi intra-assay (dalam-lari) dari DRG HSV-2 IgG ELISA
ditentukan oleh 20 x
5. Pengukuran 3 sampel positif.
6. Variasi antar-uji dari DRG HSV-2 IgG ELISA ditentukan 3 sampel
dengan 2 kit produksi dalam 10 berjalan independen.

17
C. Presisi

Presisi intra-assay (dalam-lari) dari DRG HSV-2 IgG ELISA ditentukan oleh 20
x

Pengukuran 3 sampel positif.

Sample Mean OD Intra-Assay CV N


(%)
1 0,192 3,51 20
2 1,36 5,27 20
3 1,82 2,64 20
Variasi antar-uji dari DRG HSV-2 IgG ELISA ditentukan 3 sampel dengan 2 kit
produksi dalam 10 berjalan independen.

Sample Mean OD Inter-Assay CV N


(%)
1 0,76 4,97 40
2 1,24 4,09 40
3 1,79 4,15 40

3.2.8 PENGENDALIAN KUALITAS

Disarankan untuk menggunakan sampel kontrol sesuai dengan


peraturan negara bagian dan federal. Kami dari sampel kontrol
disarankan untuk memastikan validasi hasil setiap hari. Gunakan
kontrol pada level normal dan patologis.
Juga direkomendasikan untuk menggunakan program Penilaian
Kualitas nasional atau internasional untuk memastikan keakuratan
hasil.
Jika hasil uji tidak sesuai dengan rentang bahan kontrol yang dapat
diterima, hasil pasien harus dianggap tidak valid.
Dalam hal ini, silakan periksa bidang teknis berikut: pemipaan dan
perangkat penghitung waktu; fotometer, tanggal kadaluwarsa reagen,
penyimpanan dan kondisi inkubasi, aspirasi dan metode pencucian.

18
Setelah memeriksa item yang disebutkan di atas tanpa menemukan
kesalahan, hubungi distributor atau DRG Anda secara langsung.

3.2.9 KARAKTERISTIK ASSAY

A. Kekhususan Diagnostik

Spesifisitas diagnostik didefinisikan sebagai kemungkinan dari penilaian skor


negatif dengan tidak adanya analit spesifik.

100%.

B. Sensitivitas Diagnostik

Sensitivitas diagnostik didefinisikan sebagai probabilitas pengujian skor positif di


hadapan analit spesifik.

100%.

C. Presisi
Presisi intra-assay (dalam-lari) dari DRG HSV-2 IgG ELISA ditentukan
oleh 20 x

Pengukuran 3 sampel positif.

Variasi antar-uji dari DRG HSV-2 IgG ELISA ditentukan 3 sampel dengan 2 kit
produksi dalam 10 berjalan independen.

D. Batasan penggunaan

Kontaminasi bakteri atau pembekuan berulang - bahwa siklus spesimen dapat


mempengaruhi nilai absorbansi.

pada pasien immunocompromised dan data serologis bayi baru lahir hanya
memiliki nilai terbatas.

Catatan penting untuk interpretasi hasil DGR HSV-2 IgG ELISA

karena virus herpes simpleks tipe 2 dan 1 adalah serotipe yang sangat mirip,
mereka menunjukkan tingkat reaktivitas silang yang tinggi secara alami.

19
untuk alasan ini hasil IgV HSV-2 positif juga tidak ada deteksi pasti infeksi HSV-
2untuk menentukan serotipe yang sebelumnya telah terpapar pasien, spesimen
pasien harus dianalisis secara paralel menggunakan DRG herpes simplex virus
tipe 2 dan 1 IgD ELISA test kit.

semakin tinggi konsentrasi antibodi menunjukkan antibodi dominan dan


menentukan serotipe HSV yang sesuai\

E. Zat yang mengganggu

Hemoglobin (hingga 4 mg / mL), Bilirubin (hingga 0,5 mg / mL) dan trigliserida


(hingga 30 mg / mL) tidak memiliki pengaruh pada hasil esai.

D. Aspek hukum

1. Keandalan hasil

tes harus dilakukan tepat sesuai instruksi pabrik untuk digunakan. selain itu
pengguna harus secara ketat mematuhi aturan GLP (Praktik Laboratorium Glood)
atau standar dan / atau hukum nasional lain yang berlaku. Ini terutama relevan
untuk penggunaan reagen kontrol. penting untuk selalu menyertakan, dalam
prosedur pengujian, jumlah kontrol yang cukup untuk memvalidasi akurasi dan
ketepatan yang terbaik.

hasil pengujian hanya valid jika semua kontrol berada dalam rentang yang
ditentukan dan jika semua parameter tes lainnya juga dalam spesifikasi pengujian
yang diberikan. jika ada keraguan atau masalah, silakan hubungi DGR.

2. Konsekuensi terapeutik

Konsekuensi terapeutik tidak boleh didasarkan pada hasil laboratorium sendiri


bahkan jika semua hasil tes sesuai dengan item seperti yang dinyatakan dalam
poin 11.1. hasil laboratorium apa pun hanya sebagian dari gambaran klinis total
pasien.

20
diagnosis penyakit infeksi tidak boleh dibuat berdasarkan hasil tes tunggal.
diagnosis yang tepat harus mempertimbangkan riwayat klinis, simptologi serta
data serologis.

hanya dalam kasus-kasus di mana hasil-hasil laboratiry berada dalam persetujuan


yang dapat diterima dengan gambaran klinis keseluruhan dari pasien seandainya
konsekuensi terapi diturunkan.

hasil tes itu sendiri seharusnya tidak menjadi satu-satunya penentu untuk
mendapatkan konsekuensi terapi.

3. Kewajiban

modifikasi apa pun dari test kit dan / atau pertukaran atau campuran komponen
apa pun dari lot yang berbeda dari satu test kit ke yang lain dapat secara negatif
mempengaruhi hasil yang dimaksudkan dan validitas tes keseluruhan. modifikasi
dan / atau pertukaran tersebut membatalkan klaim untuk penggantian.

klaim yang diajukan karena kesalahan interpretasi pelanggan terhadap hasil


laboratorium mengacu pada poin 11.2. juga dipanggil. bagaimanapun, dalam hal
terjadi klaim, tanggung jawab pabrikan tidak melebihi nilai test kit. setiap
kerusakan yang terjadi pada test kit selama pengangkutan tidak tunduk pada
tanggung jawab pabrikan.

21
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Menurut data WHO (World Health Organization), pada 2010, prevalensi
penderita HSV-1 pada penduduk usia 0-49 tahun di Asia Tenggara adalah
sebanyak 432 juta orang perempuan (59%) dan 458 juta laki-laki (58%).
Pemeriksaan Anti-HSV1 Ig G dan Anti-HSV2 Ig G dilakukan untuk mendeteksi
adanya infeksi HSV1 dan HSV2 pada masa lampau (sudah terjadi). Hasil
pemeriksaan yang menunjukkan hasil positif artinya pada masa lampau sudah
terinfeksi virus HSV tipe 1 dan HSV tipe 2 serta saat ini di dalam tubuh sudah
memiliki antibodi terhadap virus tersebut.
Uji Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) adalah teknik biokimia
yang digunakan terutama pada imunologi untuk mendeteksi keberadaan antibodi
atau antigen dalam sampel.

4.2 Saran
Sebaiknya mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan tentang ELISA dan
cara penggunaanya sesuai prosedur yang benar.

22
DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja.KG,Imunologi Dasar.Balai penerbit FKUI.Jakarta.2000

Ibrahim F.pemeriksaan laboratorium infeksi virus herpes.balai penerbit


FKUI.Jakarta.2002.
Looker, K.L., Garnetta, G.P. and Schmid, G.P. An estimate of the global
prevalence and incidence of herpes simplex virus type 2 infection. Bulletin of the
World Health Organization, 2008: 86 (10): 805–812.
Shukla D, Spear PG. Virus herpes dan heparan sulfate: hubungan intim di
Indonesia bantuan masuknya virus. J Clin Invest. 108: 503–510. (2001). [PubMed:
11518721

www.alodokter.com
Spaar, F.-W .: Die menschliche Herpes Simplex Enzephalitis und-meningitis.
Eine Klinischneurologische Untersuching. G. Fischer Veriag, Stuttgart, New York
(1976)

Corey, L.; P.G.Spear; Infeksi virus herpes simpleks. N. Engl. J. Med. 314 (1986)
686-691

Felgenhauer, K .: Diagnostische Bedeutung der local synthetisierten spezifischen


Antikörper des liquor cerebrospinalis, Lab. Med. 15 (1991) 208

Dorries, R., R. Kaiser, H. Imrich dkk.: Neuure Aspekte zur Diognose


Zentrainervoser Virusinfektionen Lab. Med. 15 (1991) 99-102.

http://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/mkb/article/view/86

23