Anda di halaman 1dari 33

PEDOMAN PELAYANAN KAMAR OPERASI

RSU ASY SYFA’ SAMBI BOYOLALI

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pelayanan kesehatan adalah upaya yang diselenggarakan oleh suatu organisasi untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta
memulihkan kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan
setiap pemakaian jasa pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk,
serta yang penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan standard pelayanan profesi yang telah
ditetapkan.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran telah menjadikan pembedahan
yang dahulunya sebagai usaha terakhir, sekarang menjadi sesuatu yang dapatditerima secara
umum.
Pelayanan profesional yang diberikan pada pasien di kamar bedah meliputi kegiatan
mengidentifikasi kebutuhan fisiologis, psikologis, social pasien dan mengimplementasikan asuhan
yang bersifat individualistik, mengkoordimasikan semua kegiatan pelayanan dalam rangka
memulihkan dan mempertahankan derajat kesehatan, kesejahteraan pasien sebelum, selama dan
sesudah tindakan operasi
Penyusunan buku Pedoman Pelayanan Kamar Operasiini sangat penting sehingga pada
akhirnya dapat mengurangi atau menurunkan angka kematian, kecacatan, infeksi luka operasi
seminimal mungkin khususnya dan peningkatan mutu pelayanan di kamar bedah pada umumnya.

B. TUJUAN PEDOMAN
1. Meningkatkan keamanan tindakan bedah dengan menciptakan standarisasi prosedur yang
aman
2. Mengurangi tingkat mortalitas, morbiditas, dan disabilitas/kecacatan akibat komplikasi
prosedur bedah
3. Me-recall memory, terutama pada hal-hal kecil yang gampang terabaikan pada keadaan pasien
yang kompleks

C. RUANG LINGKUP PELAYANAN


Pedoman ini diterapkan kepada semua pengguna kamar operasi meliputi dokter
operator, dokter anestesi, perawat bedah, penata/perawat anestesi, dan seluruh staf yang bekerja di
kamar operasi yang akan menangani pasien dalam suatu prosedur bedah. Adapun tujuannya
agar anggota tim melaksanakan kewajiban dan tanggungjawabnya dengan baik serta penuh
kesadaran sesuai standar yang sudah diditetapkan terhadap pasien dan keluarga.

Jenis Pelayanan
Jenis pelayanan disesuaikan dengan tenaga ahli yang tersedia, dukungan peralatan yang ada.
1. Pelayanan bedah yang tersedia meliputi :
a. Bedah Umum
b. Bedah Obstetri dan Ginekologi
c. Bedah Orthopedi
d. Bedah THT
e. Bedah Mata
f. Bedah Urologi
2. Jenis tindakan berdasar waktunya
a. Operasi terencana atau elektif : adalah tindakan
pembedahan terencana yang di lakukan pada jam kerja.
b. Operasi Darurat atau Emergensi : adalah tindakan
pembedahan yang dilakukan untuk tujuan penyelamatan nyawa yang dilakukan sewaktu
waktu, baik jam kerja maupun diluar jam kerja

1
3. Jenis layanan berdasarkan sumber pembiayaan :
a. Pasien umum
b. Pasien peserta JKN
c. Pasien peserta asuransi lainnya
4. Jenis pelayanan berdasar asal pasien :
a. Pasien rawat inap dari bangsal maupun ICU
b. Pasien rawat jalan
c. Pasien dari IGD
d. Pasien dari ruang bersalin

D. Batasan Operasional
1. Pembedahan atau operasi adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara
invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani.
2. Anestesi atau pembiusan adalah pengurangan atau penghilangan sensasi baik umum
maupun lokal, yang membuat mati rasa bagian tubuh yang akan diambil tindakan.
3. Operasi elektif adalah operasi yang direncanakan.
4. Operasi emergensi/Cito adalah operasi yang dikerjakan untuk menangani kasus pada
pasien yang terancam jiwanya.

E. LANDASAN HUKUM
1. Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit
2. Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.
4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/Mentkes/SK/XII/1999 tentang Standar
Pelayanan RumahSakit.
5. Peraturan Menteri Kesehatan No. 43 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Minimal
Rumah Sakit
6. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 012 Tahun 2012 tentang Ajreditasi Rumah Sakit

2
BAB II
STÁNDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


Kualifikasi tenaga yang bekerja di Kamar Operasidibedakan sesuai kapasitas dan
tanggung jawabnya, secara struktural, yaitu Kepala Kamar Operasi, Kepala Ruang,
Koordinator Asisten Bedah, Koordinator Perawat Anestesi dan seksi seksi.
Sedangkan berdasarkan fungsi kerjanya di lapangan dibagi atas Operator, Asisten
Bedah, Perawat Sirkuler, Perawat Instrumen, Ahli Anestesi dan Perawat/Asisten Anestesi.
1. Kepala Kamar Operasi
a. Nama Jabatan
Kepala Kamar Operasi
b. Persyaratan
1) Pendidikan minimal Dokter dengan masa kerja 3-5 tahun
2) Dokter spesialis dalam kelompok bedah
3) Memiliki pengalaman manajerial
4) Memiliki sertifikat pelatihan bedah dan manajemen kamar operasi
5) Mempunyai kemampuan memimpin dan komunikasi dengan baik
6) Sehat jasmani dan rohani
7) Berakhlak baik
2. Kepala Ruang Kamar Operasi
a. Nama Jabatan
Kepala Ruang Kamar Operasi
b. Persyaratan
1) Minimal lulusan D III keperawatan pengalaman kerja di KAMAR OPERASI 7
tahun
2) Memiliki setifikat pelatihan manajemen keperawatan
3) Memiliki STR dan SIPP
4) Sehat jasmani dan rohani
5) Berakhlak baik
3. Perawat Pelaksana
a. Asisten Ahli Bedah
1) Nama Jabatan
Asisiten ahli bedah
2) Pengertian
Seorang tenaga perawat profesional yang diberi tanggungjawab membantu
kelancaran pelaksanaan, saat tindakan pembedahan berlangsung
3) Persyaratan
a) Pendidikan
Berijazah pendidikan formal keperawatan minimal D III Memiliki sertifikat
pelatihan yang terkait dengan kamar operasi
b) Mempunyai pengalaman kerja di kamar operasi minimal 2 tahun sebagai
perawat sirkuler
c) Sehat jasmani dan rohani
d) Mempunyai bakat dan minat
e) Berkepribadian mantap/ emosional stabil
f) Dapat bekerjasama dengan anggota tim
g) Cepat dan tanggap
b. Perawat Instrumen
1) Nama Jabatan
Perawat Instrumen
2) Pengertian
Seorang tenaga perawat profesional yang diberi wewenang dan ditugaskan dalam
pengelolaan paket alat pembedahan selama tindakan pembedahan berlangsung
3) Persyaratan
a) Pendidikan
b) Berijazah pendidikan formal keperawatan minimal D III Memiliki sertifikat
pelatihan yang terkait dengan kamar operasi
c) Mempunyai pengalaman bekerja dikamar operasi minimal 2 tahun sebagai
perawat sirkuler
d) Sehat jasmani dan rohani
e) Mempunyai bakat, minat dan iman

3
f) Berdedikasi tinggi
g) Berkepribadian mantap/ emosional stabil
h) Dapat bekerjasama dengan anggota tim
i) Cepat tanggap
c. Perawat Sirkuler
1) Nama Jabatan
Perawat Sirkuler
2) Pengertian
Tenaga perawat profesional yang diberi wewenang dan tanggungjawab membantu
kelancaran tindakan pembedahan
3) Persyaratan
a) Pendidikan Pendidikan
b) Berijazah pendidikan formal keperawatan minimal D III Memiliki sertifikat
pelatihan yang terkait dengan kamar operasi
c) Mempunyai pengalaman bekerja dikamar operasi minimal 1 tahun
d) Mempunyai bakat, minat dan iman
e) Berdedikasi tinggi
f) Berkepribadian mantap/ emosional stabil
g) Dapat bekerjasama dengan anggota tim
h) Cepat tanggap
d. Perawat Anestesi
1. Nama Jabatan
Perawat Anestesi
2. Pengertian
Seorang tenaga perawat yang telah mendapatkan pendidikan / pelatihan di bidang
anestesi dan diberi wewenang dan tanggungjawab dalam membantu
terselenggaranya pelaksanaan tindakan pembiusan di kamar operasi.
3. Persyaratan
a) Pendidikan
Pendidikan minimal D III keperawatan , baik keperawatan anestesi maupun
keperawatan umum yang memiliki sertifikat pelatihan anestesi/ berpengalaman
menjadi asisten anestesi minimal 1 tahun.
b) Mempunyai bakat dan minat
c) Berdedikasi tinggi
d) Berbadan sehat
e) Berkepribadian mantap
f) Dapat bekerjasama dengan anggota tim
g) Cepat tanggap

B. DISTRIBUSI KETENAGAAN

C. PENGATURAN JAGA
1. Pola pengaturan jaga perawat di Kamar Operasi adalah dengan pola 1 shift jaga (S)
dan 1 hari libur.
a. Jaga Sore jam 14.00 – 20.00 WIB
Setiap tim jaga, masing-masing terdiri dari perawat instrumen, perawat
sirkuler,dan perawat anestesi.
b. Bila terjadi operasi Cito atau diluar dari jam kerja, dari tim
operasi mempunyai
jadwal ON CALL tersendiri , yang terdiri dari dari perawat anestesi, perawat
sekuler, perawat instrumen

2. Pengaturan jaga dokter Anestesi diatur oleh Kepala SMF Anestesi.

4
5
BAB III
STÁNDAR FASILITAS

A. DENAH RUANG KAMAR OPERASI

Kamar Operasi adalah suatu unit khusus di rumah sakit, tempat untuk melakukan tindakan
pembedahan, baik elektif maupun emergensi, yang membutuhkan keadaan suci hama (steril).

1. Bagian-Bagian Kamar Operasi


Secara umum lingkungan kamar operasi terdiri dari 3 area.
a. Area bebas terbatas meliputi:
Pada area ini petugas dan pasien tidak perlu menggunakan pakaian khusus kamar
operasi.
Area bebas terbatas meliputi:
c. Ruang Dokter
d. Ruang Tata Usaha
e. Ruang kepala kamar operasi
f. Ruang ganti baju
g. Ruang kepala ruangan kamar operasi
h. Gudang
i. Kamar mandi dan WC
Pada area ini petugas dan pasien tidak perlu menggunakan pakaian khusus kamar
operasi.
b. Area semi ketat (semi restrected area)
Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi yang terdiri
atas topi, masker, baju dan celana operasi.
Area semi ketat meliputi:
1) Ruang persiapan/premedikasi
2) Ruang koridor
3) Ruang pulih
4) Ruang penyimpanan alat steril
5) Ruang penyimpanan alat tidak steril
6) Ruang pencucian instrumen bekas pakai
7) Ruang sterilisasi
8) Ruang depo farmasi
9) Ruang pembuang limbah operasi.
c. Area ketat/terbatas (restrected area)
Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi lengkap dan
melaksanakan prosedur aseptik.
Area ketat meliputi:
1) Ruang cuci tangan
2) Ruang induksi
3) Ruang tindakan pembedahan (O.K)
Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi lengkap yaitu:
topi, masker, baju dan celana operasi serta melaksanakan prosedur aseptik.

6
2. Alur Pasien, Petugas dan Peralatan
a. Alur Pasien
1. Pintu masuk pasien pre dan pasca bedah berbeda.
2. Pintu masuk pasien dan petugas berbeda.
b. Alur Petugas
Pintu masuk dan keluar petugas melalui satu pintu.
c. Alur Peralatan
Pintu keluar masuknya peralatan bersih dan kotor berbeda.
3. Persyaratan
Kamar operasi yang baik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Letak
Letak kamar operasi berada di tengah-tengah rumah sakit, berdekatan dengan Unit
Gawat Darurat, ICU dan unit radiologi.
b. Bentuk Dan Ukuran
1) Bentuk
a) Kamar operasi tidak bersudut tajam, lantai, dinding dan warna tidak mencolok.
b) Lantai dan dinding harus terbuat dari bahan yang keras, rata, kedap air, mudah
dibersihkan dan tidak menampung debu.
2) Ukuran kamar operasi
a) Minimal 3x 5m
b) Khusus/besar 7,2 m x 7,8 m (= 56 M²)
c. Sistem Ventilasi
Ventilasi kamar operasi harus dapat diatur dengan alat kontrol dan penyaringan udara
dengan menggunakan filter. Pertukaran dan sirkulasi udara harus berbeda.
d. Suhu Dan Kelembaban
1) Suhu ruangan antara 19º C - 22º C
2) Kelembaban 55 %
e. Sistem Penerangan
1) Lampu operasi
Menggunakan lampu khusus, sehingga tidak menimbulkan panas, cahaya terang,
tidak menyilaukan dan arah sinar mudah diatur posisinya.
2) Lampu penerangan ruangan
Menggunakan lampu pijar putih dan mudah dibersihkan.
f. Peralatan
1) Semua peralatan yang ada di dalam kamar operasi harus beroda dan mudah
dibersihkan.
2) Untuk alat elektrik, petunjuk penggunaannya harus menempel pada alat tersebut
agar mudah dibaca.
3) Sistem pelistrikan dijamin aman dan dilengkapi dengan elektroda untuk
memusatkan arus listrik mencegah bahaya gas anestesi.
g. Sistem Instalasi Gas Medis
Pipa (out let) dan konektor N2O dan Oksigen, dibedakan warnanya, dan dijamin tidak
bocor serta dilengkapi dengan sistem penghisap udara untuk mencegah penimbunan
gas anestesi.
h. Pintu
1) Pintu masuk dan keluar pasien harus berbeda
2) Pintu masuk dan keluar petugas tersendiri
i. Pembagian Area
1) Ada batas tegas antara area bebas terbatas, semi ketat dan area ketat.
2) Ada ruang persiapan untuk serah terima pasien dari perawat ruangan kepada
perawat kamar operasi.
j. Air Bersih
Air bersih harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) Tidak berwarna, berbau dan berasa.
2) Tidak mengandung kuman patogen.
3) Tidak mengandung zat kimia.

7
4) Tidak mengandung zat beracun.

B. STÁNDAR FASILITAS
1. Standar Peralatan Kamar Operasi
a. Ruang Tunggu
Ruang tunggu pasien mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Kursi
2) Tempat sampah bertutup
b. Ruang Petugas
Ruang tata usaha mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) White board
2) Alat komunikasi
3) Kursi dan meja kerja
4) Papan pengumuman
5) Papan jadwal operasi
6) Tempat sampah tertutup
c. Ruang Kepala Kamar Operasi
Ruang kepala kamar operasi mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) White board
2) Alat komunikasi
3) Kursi dan meja tulis
4) Filling cabinet
5) Tempat sampah tertutup
d. Ruang Ganti Baju dan Ruang Istirahat
Ruang ganti baju dan ruang istirahat mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Lemari pakaian
2) Locker (bila memungkinkan)
3) Rak sepatu
4) Wastafel dan cermin
5) Tempat sampah tertutup.
6) Kursi tamu/sofa
7) Peralatan minum.
e. Gudang
Gudang mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Rak
2) Lemari alat
f. Kamar Mandi Dan WC
Kamar mandi dan W.C. mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Ember
2) Gayung
3) Tempat sampah bertutup
4) Sandal khusus kamar mandi
5) Kapstok
g. Ruang Persiapan / Premedikasi
Ruang persiapan/premedikasi mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Brancard/kereta dorong
2) Standar infus
3) Rak baju pasien
4) Suction pump
5) Tabung oksigen lengkap
6) Sampiran
7) Termometer
8) Tensi meter
9) Stetoskop
10) Bengkok
11) Pispot

8
12) Urinal
13) Alat cukur
14) Alat kedokteran dan alat kesehatan lainnya yang harus tersedia di ruang persiapan
tergantung kondisi rumah sakit setempat.
h. Koridor
1) Papan acara operasi
2) Lampu merah disetiap pintu bagian atas kamar tindakan, jika lampu menyala
menandakan operasi sedang berlangsung.
i. Ruang Pulih
Ruang pulih mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Emergensi Trolley berisi:
a) Obat-obat penyelamat hidup
b) Cairan infus
c) Air viva/ bagging
d) Gudel berbagai ukuran
e) Laryngoscope lurus dan bengkok dengan blade berbagai ukuran.
f) Magyl forcep
g) Face mask
h) Suction catheter
i) Termometer
j) Spatel lidah
k) Infus set
l) Tranfusi set
m) C.V.P. set
2) Tabung oksigen lengkap
3) Suction pump
4) Tensimeter
5) Stetoskop
6) Tempat tidur pasca bedah
7) Bengkok
8) Alat komunikasi (telphone/earphone)
9) Formulir observasi
j. Ruang Penyimpanan Alat Steril
Rak / lemari.
k. Ruang Penyimpanan Alat Tidak Steril
Ruang penyimpanan alat tidak steril mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Tromol
l. Ruang Pencucian Instrumen
Ruang pencucian instrumen bekas pakai, mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Meja kerja kedap air
2) Bak pencuci alat
3) Trolly
4) Sikat
5) Tempat sampah
6) Desinfektan / deterjen.
m. Ruang Sterilisasi
Ruang sterilisasi mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Sterilisator
2) Autoclave
3) Kereta dorong instrument
n. Ruang Cuci Tangan
Ruang cuci tangan mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Tempat cuci tangan, kran air dengan pengumpil panjang
2) Tempat untuk sikat
3) Desinfektan dalam tempatnya
4) Sikat dari bahan termo plastik
5) Jam dinding

9
o. Ruang Tindakan (Kamar Operasi)
Ruang tindakan (kamar operasi) mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Alat kedokteran untuk anestesi
a) Mesin anestesi
b) Laryngoscope
c) Magyl forcep
d) Head Arnes
e) Air viva
f) Recervoir bag berbagai ukuran
g) Brush tube
h) Gudel
i) Endotracheal tube
j) Kanule
k) Xylocain jelly
l) Face mask
m) Konector
n) Trolley (meja dorong)
o) Suction pump
p) Resusitasi bayi
2) Alat kedokteran untuk operasi
a) Set instrumen steril sesuai dengan jenis operasi
b) Meja operasi lengkap
c) Meja instrumen
d) Meja mayo
e) Lampu operasi
f) Waskom
g) Suction pump
h) Diametri / cauter
3) Alat kesehatan
a) N.G.T. (maag slang)
b) feeding tube
c) Suction Catheter
d) Slang O2
e) Konector
f) Tampon steril
g) Mata pisau steril berbagai ukuran
h) Jarum steril berbagai ukuran
i) Benang jahit steril berbagai jenis dan ukuran
j) Infus set
k) Blood set
l) Intra Vena Chateter
m) Tube drain steril
n) Drain: sarung tangan, khateter steril
o) sarung tangan steril dalam tempatnya
p) Urine bag steril
q) Kapas
r) Plester
s) verband
t) Gunting balutan
u) Elastis verband
v) Gips
w) Kateter steril
4) Obat-obatan dan cairan
a) Obat-obatan untuk anestesi dan obat lain yang diperlukan
b) Cairan infus berbagai jenis
c) Cairan Desinfektan

2. Peralatan Pembedahan / Operasi


Jenis alat: Alat tenun, alat kesehatan, alat kedokteran dan alat rumah tangga.
1. Alat tenun
a. Syarat umum
1) Bahan terbuat dari katun 100%

10
2) Warna bahan tidak mencolok untuk mencegah adanya kelelahan
mata.
3) Warna khusus (hijau tua, biru), berbeda dengan warna bahan yang
dipakai di ruang perawatan.
4) Panjang laken harus dapat menutup daerah steril dan tidak boleh
menyentuh lantai.
b. Syarat model baju operasi
1) Panjang lengan baju (7-10 cm) di atas siku.
2) Panjang celana operasi setinggi mata kaki, tidak boleh menyentuh
lantai.
3) Cukup longgar untuk memudahkan bergerak.
c. Syarat model jas operasi
1) Panjang lengan baju menutup jari tangan.
2) Bermanset elastis.
3) Panjang jas lebih kurang 10 cm di atas mata kaki.
4) Jas operasi dan masker menyatu.
5) Jas operasi saling bagian belakang menumpu (overslag).
d. Ukuran alat tenun
1) Laken besar, kepala 210 cm x 150 cm
2) Laken besar, kaki 240 cm x 200 cm
3) Laken kecil, 150 cm x 100 cm
4) Alas meja dorong 100 cm x 75 cm
5) Sarung meja mayo (instrumen) 75 cm x 50 cm
6) Kantong canula suctio dan cauter 30 cm x 30 cm
7) Sarung kabel cauter 150 cm x 40 cm
8) Perlak kecil untuk meja mayo 50 cm x 40 cm
9) Perlak besar 110 cm x 75 cm
10) Handuk tangan (steril) 30 cm x 15 cm
e. Jenis alat tenun yang diperlukan di kamar operasi
1) Laken operasi besar dan kecil
2) Pembungkus alat (laken berlapis)
3) Alas meja dorong (trolly)
4) Duk bolong
5) Duk operasi
6) Baju dan celana operasi
7) Jas operasi
8) Topi operasi
9) Barakschort
10) Penutup kepala pasien (mitella) / topi
11) Kantong sarung tangan
12) Kantong canula, suction dan cauter
13) Sarung cauter
14) Sarung kaki
15) Satung tabung oksigen
16) Sarung meja mayo
17) Handuk / lap tangan
18) Baju pasien kamar bedah
19) Perlak besar dan kecil
20) Schort plastik / karet
2. Alat kesehatan
a. Benang
1) Syarat benang
a) Mempunyai ketegangan tertentu sesuai dengan kebutuhan.
b) Bahan dapat disterilkan dengan tehnik tertentu.
c) Bahan bukan merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman.
d) Tidak menimbulkan reaksi jaringan.

11
e) Mempunyai jangka waktu penyerapan.
2) Jenis benang
Benang dibedakan atas.
a) Asal / bahan benang
(1) Logam (wire)
(2) Tumbuh-tumbuhan: katun, sutera
(3) Submukosa usus mamalia: catgut plain, catgut
chrom
(4) Sintetis: Dexon, nylon, prolene, vicril.
b) Menurut penyerapan
(1) Diserap (absorbic): catgut, dexon, vicril
(2) Tidak diserap (non absorbic): sutera, dermalon
c) Penampang benang
(1) Monofilament: dermalon
(2) Polyfilament: sutera, dexon, vicril
d) Ukuran diameter benang: 2; 1; 0; 1/0; 2/0; 3/0; 4/0; 5/0;
……0,10(mm)
b. Jarum
Jarum dibedakan atas:
1) Penampang jarum:
a) Segitiga: bersifat mengiris digunakan untuk kulit
b) Bundar: menjahit jaringan di bawah kulit, usus
2) Pangkal jarum
a) Traumatik (mempunyai sifat merusak jaringan)
b) Atraumatik (tidak merusak jaringan)
3) Bentuk jarum
a) Bengkok/ tembereng
b) Setengah lingkaran
c) lurus
c. Alat disposable : antara lain mata pisau, macam-macam drain, spuit.
3. Alat Rumah Tangga
a. Alat kebersihan: sapu, sikat lantai, lap kerja, mesin penghisap debu
(vacum cleaner), alat penyemprot (fogger), slang air dan ember dan setrika (bila
perlu).
b. Alat makan dan minum
c. Meubel.
3. Set Standar Pembedahan
NO NO JUMLA KETER
NAMA BARANG SATUAN
URUT BARANG H ANGAN

SET OPERASI UMUM


1 1 Laken pembungkus 1 Buah
berlapis
2 2 Duk lubang besar 1 Buah
3 3 Duk kecil 5 Buah
4 4 Duk sedang 1 Buah
5 5 Sarung meja mayo 1 Buah
6 6 Perlak meja mayo 1 Buah

SET JAS OPERASI


7 1 Laken pembungkus 1 Buah
berlapis
8 2 Jas operasi 4 Buah
9 3 Handuk tangan 4 Buah

SET OPERASI KHUSUS MATA


10 1 Laken pembungkus 1 Buah

12
berlapis
11 2 6 Buah
Lubang operasi
12 3 1 Buah
Duk sedang
13 4 3 Buah
Duk kecil
14 5 1 Buah
Sarung meja mayo
15 6 5 Lembar
Kain kasa besar
16 7 50 Lembar
Kain kasa kecil

SET SC 1
17 1 Bak Instrumen 1 Buah

18 2 Bengkok 1 Buah

19 3 Kom 1 Buah

20 4 Handel mess no 4 1 Buah

21 5 Piset anatomis panjang 1 Buah

22 6 Pinset anatomis pendek 2 Buah

23 7 Pinset cirugris panjang 1 Buah

24 8 Pincet cirugris pendek 2 Buah

25 9 Doek klem 4 Buah

26 10 Allis klem 2 Buah

27 11 Ovarium klem 3 Buah

28 12 Klem lurus panjang 2 Buah

29 13 Nald voeder panjang 1 Buah

30 14 Nald voeder pendek 2 Buah

31 15 Klem bengkok kecil 9 Buah

32 16 Klem lurus pendek 4 Buah

33 17 Kocher bengkok besar 2 Buah

34 18 Tampon tang 2 Buah

35 19 Gunting jaringan 1 Buah

36 20 Gunting benang 2 Buah

ZET SC II
37 1 Bak Instrumen 1 Buah

13
38 2 Bengkok 1 Buah

39 3 Kom 1 Buah

40 4 Handel mess no 4 1 Buah

41 5 Piset anatomis panjang 1 Buah

42 6 Pinset anatomis pendek 2 Buah

43 7 Pinset cirugris panjang 1 Buah

44 8 Pincet cirugris pendek 2 Buah

45 9 Doek klem 4 Buah

46 10 Allis klem 2 Buah

47 11 Ovarium klem 3 Buah

48 12 Klem lurus panjang 2 Buah

49 13 Nald voeder panjang 1 Buah

50 14 Nald voeder pendek 2 Buah

51 15 Klem bengkok kecil 10 Buah

52 16 Klem lurus pendek 4 Buah

53 17 Kocher bengkok besar 2 Buah

54 18 Tampon tang 2 Buah

55 19 Gunting jaringan 1 Buah

56 20 Gunting benang 2 Buah

ZET SC III
57 1 Bak Instrumen 1 Buah

58 2 Bengkok 1 Buah

59 3 Kom 1 Buah

60 4 Handel mess no 4 1 Buah

61 5 Piset anatomis panjang 1 Buah

62 6 Pinset anatomis pendek 2 Buah

63 7 Pinset cirugris panjang 1 Buah

64 8 Pincet cirugris pendek 2 Buah

65 9 Doek klem 4 Buah

14
66 10 Allis klem 2 Buah

67 11 Ovarium klem 3 Buah

68 12 Klem lurus panjang 2 Buah

69 13 Nald voeder panjang 1 Buah

70 14 Nald voeder pendek 2 Buah

71 15 Klem bengkok kecil 10 Buah

72 16 Klem lurus pendek 4 Buah

73 17 Kocher bengkok besar 2 Buah

74 18 Tampon tang 2 Buah

75 19 Gunting jaringan 1 Buah

76 20 Gunting benang 2 Buah

SET SEDANG I
77 1 Bak instrument 1 Buah

78 2 Bengkok 1 Buah

79 3 Kom 1 Buah

80 4 Handel mess no 3 1 Buah

81 5 Handel mess no 4 1 Buah

82 6 Pincet anatomis panjang 1 Buah

83 7 Pincet anatomis pendek 2 Buah

84 8 Pincet chirugis panjang 1 Buah

85 9 Pincet chirugis pendek 2 Buah

86 10 Doek klemallis klem 4 Buah

87 11 Ovarium klem 2 Buah

88 12 Allis klem 3 Buah

89 13 Klem lurus panjang 2 Buah

90 14 Nald voeder panjang 1 Buah

91 15 Nald voeder pendek 2 Buah

92 16 Klem bengkok kecil 10 Buah

93 17 Klem lurus pendek 4 Buah

94 18 Appendik klem 2 Buah

15
95 19 Gunting jaringan mayo 1 Buah

96 20 Gunting benang 2 Buah

97 21 Hack 2 Buah

98 22 Langen back 2 Buah

SET SEDANG II
99 1 Bak instrument 1 Buah

100 2 Bengkok 1 Buah

101 3 Kom 1 Buah

102 4 Handel mess no 3 1 Buah

103 5 Handel mess no 4 1 Buah

104 6 Pincet anatomis panjang 1 Buah

105 7 Pincet anatomis pendek 2 Buah

106 8 Pincet chirugis panjang 1 Buah

107 9 Pincet chirugis pendek 2 Buah

108 10 Doek klemallis klem 4 Buah

109 11 Ovarium klem 2 Buah

110 12 Allis klem 3 Buah

111 13 Klem lurus panjang 2 Buah

112 14 Nald voeder panjang 1 Buah

113 15 Nald voeder pendek 2 Buah

114 16 Klem bengkok kecil 10 Buah

115 17 Klem lurus pendek 4 Buah

116 18 Appendik klem 2 Buah

117 19 Gunting jaringan mayo 1 Buah

118 20 Gunting benang 2 Buah

119 21 Hack 2 Buah

120 22 Langen back 2 Buah

SET SEDANG III


121 1 Bak instrument 1 Buah

16
122 2 Bengkok 1 Buah

123 3 Kom 1 Buah

124 4 Handel mess no 3 1 Buah

125 5 Handel mess no 4 1 Buah

126 6 Pincet anatomis panjang 1 Buah

127 7 Pincet anatomis pendek 2 Buah

128 8 Pincet chirugis panjang 1 Buah

129 9 Pincet chirugis pendek 2 Buah

130 10 Doek klemallis klem 4 Buah

131 11 Ovarium klem 2 Buah

132 12 Allis klem 3 Buah

133 13 Klem lurus panjang 2 Buah

134 14 Nald voeder panjang 1 Buah

135 15 Nald voeder pendek 2 Buah

136 16 Klem bengkok kecil 10 Buah

137 17 Klem lurus pendek 4 Buah

138 18 Appendik klem 2 Buah

139 19 Gunting jaringan mayo 1 Buah

140 20 Gunting benang 2 Buah

141 21 Hack 2 Buah

142 22 Langen back 2 Buah

ZET BESAR
143 1 Bak instrument 1 Buah

144 2 Bengkok 1 Buah

145 3 Kom 1 Buah

146 4 Handel mess no 3 1 Buah

147 5 Handel mess no 4 1 Buah

148 6 Pincet anatomis panjang 1 Buah

149 7 Pincet anatomis pendek 2 Buah

17
150 8 Pincet chirugis panjang 1 Buah

151 9 Pincet chirugis pendek 2 Buah

152 10 Doek klemallis klem 4 Buah

153 11 Ovarium klem 2 Buah

154 12 Allis klem 3 Buah

155 13 Klem lurus panjang 2 Buah

156 14 Nald voeder panjang 1 Buah

157 15 Nald voeder pendek 2 Buah

158 16 Klem bengkok kecil 10 Buah

159 17 Klem lurus pendek 4 Buah

160 18 Appendik klem 2 Buah

161 19 Gunting jaringan mayo 1 Buah

162 20 Gunting benang 2 Buah

163 21 Hack 2 Buah

164 22 Langen back 2 Buah

ZET PL I
165 1 Bak instrument 1 Buah

166 2 Bengkok 1 Buah

167 3 Kom 1 Buah

168 4 Handel mess no 3 1 Buah

169 5 Handel mess no 4 1 Buah

170 6 Pincet anatomis kecil 1 Buah

171 7 Pincet anatomis pendek 2 Buah

172 8 Pinset chirugis pendek 1 Buah


kecil
173 9 Pincet chirugis pendek 2 Buah

174 10 Doek klem 4 Buah

175 11 Allis klem 2 Buah

176 12 Ovarium klem 1 Buah

177 13 Klem lurus panjang 1 Buah

178 15 Nald voeder pendek 3 Buah

18
179 16 Muskuito bengkok 10 Buah

180 17 Muskuito lurus 4 Buah

181 18 Gunting jaringan 1 Buah

182 19 Gunting benang 2 Buah

183 20 Hack 4 Buah

184 21 Canul kecil 1 Buah

ZET PL II
185 1 Bak instrumen 1 Buah

186 2 Bengkok 1 Buah

187 3 Kom 1 Buah

188 4 Handel mess no 3 1 Buah

189 5 Handel mess no 4 1 Buah

190 6 Pincet anatomis pendek 2 Buah

191 7 Pincet chirugis pendek 1 Buah


kecil
192 8 Pinset chirugis pendek 2 Buah

193 9 Doek klem 4 Buah

194 10 Allis klem 2 Buah

195 11 Ovarium klem 1 Buah

196 12 Klem lurus panjang 1 Buah

197 13 Nald voelder pendek 3 Buah

198 14 Musqito bengkok 10 Buah

199 15 Mosquito bengkok 4 Buah

200 16 Gunting jaringan 1 Buah

201 17 Gunting benang 2 Buah

202 18 Hack 2 Buah

203 19 Canul kecil 1 Buah

ZET EKSTERPASI I
204 1 Bak instrumen 1 Buah

205 2 Bengkok 1 Buah

19
206 3 Kom 1 Buah

207 4 Handel mess no 3 1 Buah

208 5 Handel mess no 4 1 Buah

209 6 Pincet anatomis pendek 2 Buah

210 7 Pinset chirugis pendek 2 Buah

211 8 Doek klem 1 Buah

212 9 Ovarium klem 1 Buah

213 10 Klem lurus panjang 1 Buah

214 11 Nald voeder pendek 2 Buah

215 12 Mosqito bengkok 5 Buah

216 13 Mosquito lurus 4 Buah

217 14 Gunting jaringan 1 Buah

218 15 Gunting benang 1 Buah

ZET EKSTERPASI II
219 1 Bak instrumen 1 Buah

220 2 Bengkok 1 Buah

221 3 Kom 1 Buah

222 4 Handel mess no 3 1 Buah

223 5 Handel mess no 4 1 Buah

224 6 Pincet anatomis pendek 2 Buah

225 7 Pinset chirugis pendek 2 Buah

226 8 Doek klem 1 Buah

227 9 Ovarium klem 1 Buah

228 10 Klem lurus panjang 2 Buah

20
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. MANAJEMEN KAMAR OPERASI / TEMPAT TINDAKAN


1. Tujuan
Manajemen kamar operasi atau tempat tindakan ini bertujuan untuk meningkatkan
layanan penanganan pasien, meningkatkan kepuasan pasien, meningkatkan kepuasan tim
bedah yang mencakup di dalamnya dokter bedah, dokter anestesi, dan perawat.
2. Ada dua jenis pelayanan operasi, yaitu operasi terencana (elektif) dan operasi emergensi
( cito)
a) Mengatur Penjadwalan secara Efektif
Jadwal sedapat mungkin diatur, jangan sampai ada waktu yang sama untuk
satu kamar operasi. Perkirakan berapa lama setiap tindakan operasi tersebut
berlangsung. Sampaikan pada dokter operator, dokter anestesi dan pasien tentang
perubahan jam operasi.
Jadwal operasi elektif dari bangsal maupun poliklinik harus sudah masuk
setelah Poliklinik selesai atau sehari sebelumnya. Untuk jadwal operasi hari senin
jadwal operasi elektif harus masuk pada hari sabtu maksimal setelah poliklinik selesai.
Jumlah operasi elektif ditentukan oleh alokasi waktu yang tersedia, dengan
jumlah waktu operasi masing masing kasus.
Urutan waktu jam operasi ditentukan sebagai berikut:
a. Dari anak anak kemudian dewasa
b. Dari operasi bersih kemudian infeksius
Ada beberapa cara untuk memaksimalkan jadwal kamar operasi, antara lain:
a. Menggunakan proses paralel, misalnya induksi anestesi dapat mulai dilakukan di
kamar lain sementara menunggu proses pemindahan pasien sebelumnya ke ruang
pemulihan
b. Menggunakan klinik preoperatif untuk memastikan pasien siap menjalani operasi
c. Kerjasama yang baik dalam tim bedah
d. Memanfaatkan teknologi untuk menangani proses, misalnya, telepon seluler, , dan
lain-lain
e. On-time dalam memulai operasi
b) Pelayanan operasi emergensi bisa dilayani 24 jam pada kasus kasus emergensi yang
belum bisa dilayani di kamar operasi IGD. Untuk pengaturan penggunaan kamar
operasi menyesuaikan situasi operasi jam tersebut, dan menempatkan pada kamar
operasi yang sedang kosong, atau mengundurkan jadwal operasi elektif yang
memungkinkan.
3. Memonitor performa kamar operasi
Sebelum prosedur dimulai, harus dilakukan persiapan ruangan. Hal ini meliputi
menciptakan lapangan steril, menyiapkan alat-alat, dan memeriksa kelengkapannya.
a. Penciptaan lapangan steril:
1) Menempatkan duk steril di sekeliling situs operasi dan pada tempat alat-alat
2) Semua personel harus mengenakan pakaian steril
3) Hanya alat steril dan orang-orang yang telah steril yang diperbolehkan memasuki
lapangan steril
4) Jangan menempatkan alat-alat steril di dekat pintu yang terbuka
5) Jendela harus ditutup
6) Letakkan alat steril hanya pada lapangan steril
7) Pastikan tangan telah discrub sebelum menyentuh alat steril

21
8) Orang yang telah steril tidak diperkenankan menyentuh alat-alat tidak steril atau
pergi ke tempat yang tidak steril
9) Perlu diingat bahwa ujung kemasan dari alat-alat steril adalah tidak steril
10) Perlu diingat bahwa sekali batas steril telah dilewati, hal ini telah dianggap
terkontaminasi
11) Jika ada keraguan tentang status sterilitas sesuatu alat atau area, harus dianggap
telah terkontaminasi
b. Persiapan alat:
1) Ada empat tahap proses persiapan alat, yaitu: pencucian dan dekontaminasi,
packing/ kemasan alat, sterilisasi, dan penyimpanan atau pemindahan ke lapangan
steril
2) Ada beberapa jenis sterilisasi, yaitu menggunakan autoclave dengan teknik steam,
dan gravitasi,ethylene oxide, ozone, dan gas plasma
c. Persiapan perlengkapan anestesi
d. Memastikan kualitas udara dan ventilasi:
1) Ventilasi kamar operasi harus positive-pressure
2) Udara harus masuk ke ruangan melalui ventilasi langit-langit yang tinggi dan
keluar dari ruangan melalui exhaust air outlet dekat lantai yang berseberangan
dengan ventilasi masuk
3) Mengatur agar sedikitnya terjadi 15 kali pertukaran udara per jamnya, di mana 3
di antaranya harus udara segar
4) Penyaringan udara yang diresirkulasi dan udara segar melalui filter yang baik
dengan efisiensi minimum 90%
5) Ruangan hanya diijinkan dibuka untuk perpindahan alat, personel tim bedah, dan
pasien; selebihnya pintu dijaga agar selalu tertutup, monimalisasimobilisasi
petugas keluar masuk.
e. Mengatur lalu-lintas:
Zona dibagi menjadi 3, yaitu:
1) Unrestricted zone: hanya orang-orang yang berkepentingan yang boleh berada di
zona ini, tetapi baju luar / biasa diperbolehkan.
2) Semirestricted zone: zona ini adalah area yang terhubung dengan kamar operasi
(contohnya: lorong, kantor, kamar alat), orang-orang yang berada di sini harus
mengenakan pakaian khusus, memakai alas kaki yang tertutup di bagian depan.
3) Restricted zone: zona ini terdiri dari kamar operasi dan area cuci tangan, orang-
orang yang memasuki zona ini harus mengenakan kostum bedah lengkap termasuk
masker. Mereka yang tidak discrub harus mengenakan pakaian khusus lengkap
dengan topi, masker dan alas kaki tertutup.
*Pastikan bahwa semua alat-alat yang diperlukan telah siap tersedia di dalam kamar operasi
sebelum prosedur dimulai untuk meminimalkan lalu-lintas yang tidak perlu dari dan ke dalam
ruangan

B. SEPULUH PRINSIP PELAYANAN BEDAH


1. Tim bedah mengoperasi pasien yang benar pada lokasi tubuh (situs) yang tepat.
2. Tim bedah menggunakan cara-cara yang tepat untuk mencegah hal-hal yang
membahayakan yang diakibatkan penggunaan anestesi dalam melindungi pasien dari
nyeri.
3. Tim bedah mengenali dan siap secara efektif menangani terhadap keadaan-keadaan jalan
napas atau fungsi respirasi yang mengancam nyawa
4. Tim bedah mengenali dan siap secara efektif menangani risiko pasien kehilangan darah
masif
5. Tim bedah menghindari mencetuskan reaksi alergi atau efek samping obat di mana pasien
telah diketahui memiliki risiko
6. Tim bedah secara konsisten menggunakan cara-cara yang tepat untuk meminimalisasi
risiko infeksi di lokasi/lapangan operasi
7. Tim bedah mencegah ketidaksengajaan meninggalkan kassa atau instrumen bedah di
dalam luka operasi

22
8. Tim bedah mengamankan dan mengidentifikasi secara akurat semua spesimen bedah
9. Tim bedah mengkomunikasikan secara efektif segala informasi penting yang diperlukan
demi keamanan penanganan operasi
10. Rumah sakit dan sistem kesehatan menetapkan surveilans rutin tentang surgical capacity,
volume, dan results
a. Prinsip Pertama
1. Mengidentifikasi pasien dengan pasien sendiri (atau caregiver), label dan informed
consent (tidak hanya nama, tetapi juga tanggal lahir, alamat, dan nomer induk pasien),
bagian (sisi) tubuh yang akan dioperasi, dan mencek rekam medis pasien dan hasil
radiologi.
Identifikasi dilakukan ketika prosedur akan dijadwalkan, ketika perawatan pasien
dipindahtangankan/ditransfer, sebelum pasien memasuki kamar operasi/tindakan, dan
sebelum dilakukan induksi anestesi
2. Menandai bagian tubuh (sisi) yang akan dioperasi
a. Penandaan harus dilakukan oleh dokter operator tersebut
b. Penandaan harus dilakukan di ruang perawatan sebelum operasi dilakukan,saat
pasien sadar agar pasien bisa dilibatkan untuk konfirmasi atau jika tidak
memungkinkan dapat diwakilkan oleh caregiver.
c. Penandaan harus jelas dengan spidol permanen / Surgical Marking pen, dengan
tanda lingkaran dengan memberikan inisial/tanda tangan dokter bedahnya.
3. Melakukan sign in sebelum dilakukan induksi anestesi.
4. Melakukan time-out atau surgical pause sesaat sebelum insisi.
5. Dokter bedah menyatakan dengan jelas nama pasien, jenis operasi yang akan
dilakukan, dan sisi lokasi yang akan dioperasi. Perawat dan penata/dokter anestesi
harus mengkonfirmasi bahwa informasi yang dinyatakan benar.
b. Prinsip Kedua
1. Penata/dokter anestesi mengecek kelengkapan peralatan anestesi yang meliputi:
a. Mesin atau apparatus yang mensuplai gas, uap, anestesi lokal, atau intravena untuk
menginduksi maupun mempertahankan anestesi.
b. Alat-alat yang diperlukan untuk patensi jalan napas.
c. Mesin monitor yang diperlukan untuk evaluasi pasien
2. Pengecekan ini dilakukan setiap harinya di awal hari operasi, sebelum melakukan
setiap tindakan anestesi, dan setelah setiap adanya perbaikan atau pemeliharaan, atau
setiap pembelian alat baru
3. Penata/dokter anestesi memastikan oksimeter denyut sudah terpasang dengan baik
pada pasien
4. Penyediaan suplai dan pemeliharaan mesin, perlengkapan anestesi, dan obat-obatan
anestesi adalah tanggung jawab pihak manajemen rumah sakit
5. Penata/dokter anestesi dipastikan sudah mengisi checklist di bawah ini
c. Prinsip Ketiga
1. Semua pasien harus dievaluasi jalan napasnya sebelum induksi anestesi, untuk menilai
potensial bahaya
2. Penata/dokter anestesi harus memiliki strategi penanganan jalan napas dan siap
melakukannya pada saat-saat yang diperlukan
3. Apabila ditemukan kasus sulit jalan napas, harus tersedia asisten (atau orang kedua) untuk
segera membantu dan harus selalu ada rencana back up, seperti anestesi regional atau
intubasi sadar di bawah pengaruh anestesi lokal
4. Seluruh penata/dokter anestesi harus terus mempertahankan dan meningkatkan
kemampuannya dalam hal tata laksana jalan napas, terutama untuk kasus-kasus sulit
5. Setelah intubasi, penata/dokter anestesi harus selalu mencek penempatan ETT dengan
mendengarkan suara napas yang simetris dan ventilasi lambung, serta memantau
oksigenasi pasien dengan oksimeter denyut
6. Pasien yang akan menjalani operasi elektif harus dipuasakan dan untuk pasien yang
berisiko aspirasi harus diberikan obat untuk mengurangi sekresi lambung dan
meningkatkan pH
d. Prinsip Keempat

23
1. Sebelum induksi anestesi, penata/dokter anestesi harus mempertimbangkan kemungkinan
kehilangan darah masif dan bila hal itu termasuk berisiko, harus dipersiapkan secara
matang. Bila risiko tidak diketahui, penata/dokter anestesi harus mengkomunikasikan hal
ini dengan dokter bedah sehubungan dengan kemungkinan terjadinya
2. Sebelum insisi kulit, tim bedah harus mendiskusikan tentang risiko kehilangan darah masif
ini dan memastikan akses intravena yang adekuat untuk mengatasinya
3. Seorang anggota dari tim bedah sebaiknya mengkonfirmasi ketersediaan darah jika
sewaktu-waktu diperlukan selama operasi berlangsung
e. Prinsip Kelima
1. Penata/dokter anestesi harus sepenuhnya memahami farmakologi obat-obatan yang ia
berikan, termasuk toksisitasnya
2. Setiap pasien yang akan diberikan obat, sebelumnya harus diidentifikasi secara jelas dan
eksplisit oleh orang yang akan memberikan obat
3. Identifikasi meliputi riwayat penggunaan obat yang jelas, informasi mengenai alergi dan
reaksi hipersensitivitas lainnya
4. Obat-obatan harus berlabel (mencakup nama obat, konsentrasi, tanggal kadaluwarsa) dan
harus diperiksa kesesuaiannya dengan dicek ulang sebelum pemberian, terlebih yang akan
dimasukkan ke dalam jarum suntik
5. Sebelum setiap pemberian obat, harus dikomunikasikan agar terjadi kesesuaian
pemahaman mengenai indikasi, kontraindikasi, dan informasi lainnya yang relevan
6. Harus dipastikan tidak ada kesalahan pemberian obat baik karena tertukar atau nama yang
mirip atau kemasan yang serupa. Obat-obatan yang berbahaya sebaiknya dipisahkan
tempat penyimpanannya dan disusun secara sistematik
7. Setiap kesalahan pemberian obat yang terjadi selama anestesi harus dilaporkan dan dibahas

f. Prinsip Keenam
1. Antibiotik profilaksis harus diberikan secara rutin pada kasus bedah yang memiliki
kemungkinan terkontaminasi dan dipertimbangkan pada kasus bedah tanpa kontaminasi
2. Pemberian antibiotik profilaksis dalam kurun waktu 1 jam sebelum insisi dilakukan dan
diberikan dalam dosis yang sesuai untuk patogen yang biasa mengkontaminasi prosedur
tersebut
3. Sebelum insisi kulit, tim bedah harus mengkonfirmasi pemberian antibiotik profilaksis
tersebut sudah dilakukan pada 1 jam sebelumnya
4. Harus ada sistem sterilisasi rutin untuk semua peralatan bedah dengan indikator yang dapat
diperiksa sebelum alat-alat diletakkan pada tempat-tempat steril
5. Sebelum dilakukan induksi anestesi, perawat yang bertanggung jawab untuk menyiapkan
tempat alat-alat bedah harus mengkonfirmasi sterilitas alat-alat dengan mengevaluasi
indikator dan harus memberitahukan kepada dokter bedah dan penata/dokter anestesi bila
terjadi masalah
6. Pemberian dosis ulang antibiotik profilaksis harus dipertimbangkan bila prosedur bedah
memerlukan waktu lebih dari 4 jam atau jika ada bukti perdarahan masif intraoperatif. Bila
digunakan vancomycin, tidak diperlukan pemberian dosis ulang kecuali prosedur bedah
memerlukan waktu lebih dari 10 jam
7. Antibiotik profilaksis harus distop dalam 24 jam setelah operasi
8. Rambut tidak harus dipotong kecuali akan mengganggu tindakan operasi. Bila diperlukan,
pemotongan harus dilakukan dalam waktu 2 jam sebelum operasi. Pencukuran tidak
dianjurkan karena meningkatkan risiko infeksi
9. Pasien bedah harus mendapatkan oksigen perioperasi sesuai kebutuhan masing-masing
10. Suhu inti tubuh harus dipantau dan dipertahankan normotermia selama perioperatif
11. Seluruh kulit pasien yang akan dioperasi harus dipersiapkan dengan antiseptik yang sesuai
sebelum operasi. Agen antimikroba harus dipilih berdasarkan kemampuannya menurunkan
jumlah mikroba pada kulit dengan cepat dan kemanjurannya selama operasi
12. Antiseptik tangan pembedah harus menggunakan sabun antiseptik. Tangan dan lengan
harus digosok 2-5 menit. Bila tangan sudah bersih, dapat menggunakan alkohol untuk
antiseptik

24
13. Tim bedah harus menutup rambut dan memakai gaun steril dan sarung tangan steril
impermeabel, dan masker selama operasi
14. Rokok sebaiknya distop setidak-tidaknya 30 hari sebelum operasi elektif bila
memungkinkan
15. Penutup steril setelah pembedahan harus dipertahankan di atas luka operasi 24-48 jam
16. Harus dilakukan surveilans aktif untuk infeksi oleh tenaga kontrol infeksi terlatihinformasi
yang diperoleh harus dilaporkan kepada dokter bedah dan administrasi yang bersangkutan
17. Perlu dipertahankan aliran udara bertekanan positif di dalam kamar operasi
18. Kamar operasi harus dibersihkan dengan seksama setelah kasus-kasus infeksi atau operasi
yang kotor dan setiap akhir hari operasi
19. Perlu dilakukan penyuluhan mengenai kontrol dan pencegahan infeksi setidaknya setahun
sekali
g. Prinsip Ketujuh
1. Setelah operasi selesai, dokter bedah harus melakukan eksplorasi alat secara berurutan
sebelum menutup kavitas atau lapang operasi
2. Pada awal dan akhir operasi dilakukan penghitungan lengkap (full count) kassa, alat-alat
tajam, instrumen (plester, klip, dan lain-lain), terutama bila operasi melibatkan kavitas
peritoneal, retroperitoneal, pelvis, dan toraks
3. Penghitungan dilakukan oleh sekurang-kurangnya 2 orang perawat yang sama, atau
dengan alat penghitung otomatis (jika ada)
4. Sebelum penghitungan selesai, tidak boleh mengeluarkan alat dari dalam kamar operasi,
meskipun ada alat yang terjatuh ke lantai
5. Bila karena satu dan lain hal penghitungan terputus, mulai lagi penghitungan dari awal
6. Idealnya hasil penghitungan dicatat dan disertakan dalam status pasien, dapat juga
dilakukan penghitungan menggunakan whiteboard, tetapi hasilnya tetap harus
dicantumkan di dalam status pasien
7. Kassa dipak per 5 atau 10. Pak yang ternyata ditemukan tidak sesuai harus ditandai, dipak
ulang, dipindahkan dari lapang steril, dan dipisahkan dari kassa lain
8. Jarum jahit dihitung berdasarkan jumlah yang tertera pada kemasan dan harus diverifikasi.
Tidak boleh meletakkan jarum dalam keadaan bebas di atas meja, jarum harus selalu
berada pada alat pemegang jarum (needle holder) atau di dalam kemasannya, atau di
tempat jarum/kontainer
9. Semua alat harus dihitung per jenis itemnya. Demikian pula bila ada alat yang rusak
10. Bila terjadi miskalkulasi, alat yang hilang harus dicari (misalnya di lantai, tong sampah,
kain, tubuh pasien, sekitar pasien, meja operasi, dan lain-lain)
11. Bila alat yang hilang masih tidak dapat ditemukan, lakukan X-ray. Demikian pula bila
terjadi kelupaan menghitung, harus dilakukan X-ray
12. Alasan tidak dilakukan penghitungan dan hasil X-ray harus disertakan di status pasien
13. Dipertimbangkan penggunaan alat-alat operasi yang bisa terdeteksi X-ray (misalnya
dengan barcode atau radio-label)
h. Prinsip Kedelapan
1. Tim bedah harus mengkonfirmasi bahwa semua spesimen bedah dilabel dengan benar
dengan mencantumkan identitas pasien, nama spesimen, dan lokasi asal diambilnya
2. Hal tersebut harus dibacakan dengan jelas oleh salah seorang anggota tim bedah dan satu
orang lainnya mengkonfirmasi/menyetujui
i. Prinsip Kesembilan
1. Sebelum insisi kulit, dokter bedah, perawat, dan penata/dokter anestesi harus
menginformasikan hal-hal khusus atau penting yang berbeda dari operasi biasa, seperti
risiko kehilangan darah masif, alat-alat khusus yang akan digunakan, dan komorbiditas
lainnya
2. Untuk kasus-kasus tertentu di mana pencitraan radiologi dibutuhkan, tim bedah harus
memastikan peralatan siap sedia
3. Sebelum pasien meninggalkan ruang bedah, dokter bedah harus menginformasikan
anggota tim lainnya mengenai alterasi yang dilakukan, masalah yang mungkin terjadi pada
periode postoperatif dan rencana penatalaksanaannya

25
4. Penata/dokter anestesi harus menyimpulkan keadaan klinis pasien selama operasi dan
memberitahukan instruksi untuk tata laksana pasien selanjutnya
5. Harus dibuat laporan pembedahan dengan sekurang-kurangnya dokter bedah
mencantumkan nama prosedur (utama dan tambahan), nama asisten, detail prosedur, dan
kehilangan darah intraoperatif; dokter anestesi mencantumkan tanda-tanda vital
intraoperatif, obat dan cairan yang dimasukkan, dan kejadian instabilitas (bila ada);
perawat mencantumkan penghitungan alat/instrumen, nama penghitung, alat-alat/kassa
yang sengaja ditinggalkan di dalam tubuh pasien, dan alasan bila tidak dilakukan
penghitungan
6. Rekam medis pasien harus jelas mencantumkan nama dan nomer pasien di setiap
halamannya, ditulis atau diketik lengkap dengan tanggal dan waktu, objektif atau sesuai
dengan fakta, kontemporer atau dicatat sesegera mungkin tanpa ditunda, mudah dilacak,
asli dan jika ada yang salah segera dikoreksi, setiap perubahan harus mencantumkan
tanggal dan ditandatangani dan menyertakan catatan yang menjelaskan mengapa
perubahan itu terjadi
7. Sebaiknya dicantumkan pula seluruh nama anggota tim bedah
j. Prinsip Kesepuluh
Untuk surveilans tingkat rumah sakit, harus mengumpulkan data secara sistematik mengenai
angka mortalitas day-of-surgery, angka mortalitas in-hospital postoperatif, angka infeksi di
situs operasi (surgical site), dan surgical Apgar score

26
BAB V
LOGISTIK

Istilah Logistik bersumber dari kemiliteran,mengandung dua aspek yaitu perangkat lunak dan
perangkat keras. Perangkat lunak yang dimaksud merupakan kegiatanya itu perencanaan dan
pelaksanaan dalam cakupan kegiatan-kegiatan produksi, pengadaan, penyimpanan, distribusi dan
evaluasi. Sedangkan dalam perangkat keras terdapat hal : personil, persediaan (supplies) dan peralatan
(equipment).
Dalam managemen produksi barang ,maka logistic didefinisikan sebagai proses Pengelolaan
yang strategis terhadap pemindahan dan penyimpanan barang, sukucadang dan barang jadi, termasuk
di dalam sarana/fasilitas perusahaan dan sampai kepada para konsumen.
Dalam ruang lingkup rumah sakit istilah logistic menjadi lebih sempit yaitu persediaan
material, bahan atau barang (stok, material, supplies, inventori), manajemen logistic hanyalah sub
sistem diantara berbagai sub sistem yang ada, dimana sebagai suatu sistem rumah sakit memproses
masukan menjadi keluaran. Ketersediaan logistic rumah sakit sangat rentan terhadap pencurian,
kerusakan, pemborosan dan penggunaan tanpa hak. Antisipasi yang dapat dilakukan dengan
managemen logistik yang baik meliputi tahap perencanaan sampai dengan evaluasi secara kontinu.
Kamar Operasi merupakan salah satu unit di RSU Asy Syfa’ Sambi yang bertugas untuk
menyelenggarakan tindakan pembedahan terhadap kasus-kasus penyakit yang dalam
penatalaksanaannya memerlukan tindakan medis operasi. Dalam rangka untuk memberikan layanan
pembedahan selain ditunjang oleh SDM yang kompeten dan profesional juga bergantung pada
ketersediaan logistic di kamar operasi yang meliputi peralatan/instrument operasi,obat dan bahan habis
pakai,linen dan peralatan pendukung. Dengan semakin banyak dan kompleksnyakebutuhan logistic di
KAMAR OPERASI ,serta resiko kehilangan, kehabisan stok,kadaluarsa obat semakin tinggi,maka
untuk dapat menjaga ketersediaan logistic di kamar operasi perlua danya pengendalian yang baik yang
meliputi perencanaan,pengadaan,penggunaan dan distribusinya.

1. RincianKegiatan
a. Menetapkan standarisasi peralatan di KAMAR OPERASI berdasarkan standard Peralatan
Rumah Sakit tipe C Departemen Kesehatan.
b. Menginventarisasi obat dan bahan habis pakai serta linen yang digunakan di KAMAR
OPERASI .
c. Melaksanakan kebijakan dan prosedur pengendalian logistic di RS khususnya di KAMAR
OPERASI .
d. Melakukan pendataan, pencatatan, pelaporan dan evaluasi penggunaan obat, peralatan dan
linen KAMAR OPERASI .
2. PelaksanaanKegiatan
a. Menyusun daftar obat,alat kesehatan dan linen.
b. Menyusun daftar peralatan berdasarkan jenis, fungsi, kualifikasi dan waktu keausan(utility)
c. Menetapkan alur permintaan serta distribusi obat dan alat kesehatan.
d. Menyusun jadwal permintaan rutin dan non rutin obat,alkes dan peralatan.
e. Menunjuk penanggungjawab masing-masing peralatan
f. Penataan tempat dan cara penyimpanan obat,peralatan dan linen
g. Mengaktifkan dokumen tertulis maupun komputerisasi penggunaan obat dan alat kesehatan.
h. Mengevaluasi jumlah stok apakah masih sesuai atau tidak seiring
dengan peningkatan jumlah operasi.

3. Sasaran
a. Tersusunnya standarisasi peralatan/instrumen,obat/alkes serta linen di KAMAR OPERASI .
b. Tidak adanya penundaan operasi disebabkan ketidaktersediaan alat,obat/alkesserta linen.
c. Tidak adanya obat/alkes kadaluwarsa /expire date di KAMAR OPERASI
d. Tidak adanya laporan kehilangan obat/alkes, instrument dan linen.
4. Pencatatan,PelaporandanEvaluasiKegiatan
a. Petugas KAMAR OPERASI mencatat pemakaian obat dan alkes habis pakai setiap selesai
tindakan operasi.
b. Hasil pencatatan dilaporkan kepada petugas Farmasi yang kemudian memasukkan data
tersebut pada computer.

27
c. Alat-alat/instrument yang sudah tidak layak pakai di sortir dan di kembalikan kebagian
Logistik Rumah Sakit sebagai barang bukti, serta meminta Logistik untuk mengganti yang
baru.

Evaluasi pelaksanaan program pengendalian Logistik di KAMAR OPERASI dilakukan setiap


akhir tahun dan dilaporkan kepada Direktur Rumah Sakit mencakup pencapaian tujuan dan
perencanaan kebutuhan tahun depan.

28
BAB VII
KESELAMATAN PASIEN

Faktor keselamatan pasien adalah poin paling penting yang harus diupayakan dalam
pelayanan di kamar bedah .
Kesalahan yang sering terjadi dan mengancam keselamatan pasien di kamar bedah antara
lain : salah lokasi operasi, salah prosedur operasi, salah pasien operasi, akibat dari komunikasi
yang tidak efektif atau tidak adekuat antar anggota tim bedah. Kurang melibatkan pasien dalam
penandaan area operasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk memverifikasi lokasi
operasi, asesmen pasien tidak adekuat, telaah catatan medis juga tidak adekuat.
Langkah yang dilakukan tim bedah terhadap pasien yang akan di lakukan operasi untuk
meningkatkan keselamatan pasien selama prosedur pembedahan, mencegah terjadi kesalahan
lokasi operasi, prosedur operasi serta mengurangi komplikasi kematian akibat pembedahan sesuai
dengan sepuluh sasaran dalam safety surgery (WHO 2008). Yaitu:
1. Tim bedah akan melakukan operasi pada pasien dan lokasi tubuh yang benar.
2. Tim bedah akan menggunakan metode yang sudah di kenal untuk mencegah bahaya dari
pengaruh anestresia, pada saat melindungi pasien dari rasa nyeri.
3. Tim bedah mengetahui dan secara efektif mempersiapkan bantuan hidup dari adanya
bahaya kehilangan atau gangguan pernafasan.
4. Tim bedah mengetahui dan secara efektif mempersiapkan adanya resiko kehilangan
darah.
5. Tim bedah menghindari adanya reaksi alergi obat dan mengetahui adanya resiko alergi
obat pada pasien.
6. Tim bedah secara konsisten menggunakan metode yang sudah dikenal untuk
meminimalkan adanya resiko infeksi pada lokasi operasi.
7. Tim bedah mencegah terjadinya tertinggalnya sisa kasa dan instrument pada luka
pembedahan.
8. Tim bedah akan mengidentifikasi secara aman dan akurat, specimen (contoh bahan)
pembedahan.
9. Tim bedah akan berkomunikasi secara efektif dan bertukar informasi tentang hal-hal
penting mengenai pasien untuk melaksanakan pembedahan yang aman.
10. . Rumah sakit dan sistem kesehatan masyarakat akan menetapkan pengawasan yang rutin
dari kapasitas , jumlah dan hasil pembedahan.

Surgery safety ceklist WHO merupakan penjabaran dari sepuluh hal penting tersebut yang
diterjemahkan dalam bentuk formulir yang diisi dengan melakukan ceklist. Ceklist tersebut sudah
baku dari WHO yang merupakan alat komunikasi yang praktis dan sederhana dalam memastikan
keselamatan pasien pada tahap preoperative, intraoperatif dan pasca operatif, dilakukan tepat
waktu dan menunjukan manfaat yang lebih baik bagi keselamatan pasien (WHO 2008).

Surgery Safety Checklist di kamar bedah digunakan melalui 3 tahap, masing-masing sesuai
dengan alur waktu yaitu sebelum induksi anestesi (Sign In), sebelum insisi kulit (Time Out) dan
sebelum mengeluarkan pasien dari ruang operasi (Sign Out) (WHO 2008) diawali dengan
briefing dan diakhiri dengan debriefing menurut (Nhs,uk 2010). Implementasi Surgery Safety
Checklist memerlukan seorang koordinator untuk bertanggung jawab untuk memeriksa checklist.
Koordinator biasanya seorang perawat atau dokter atau profesional kesehatan lainnya yang
terlibat dalam operasi. Pada setiap fase, koordinator checklist harus diizinkan untuk
mengkonfirmasi bahwa tim telah menyelesaikan tugasnya sebelum melakukan kegiatan lebih
lanjut. Koordinator memastikan setiap tahapan tidak ada yang terlewati, bila ada yang terlewati ,
maka akan meminta operasi berhenti sejenak dan melaksanakan tahapan yang terlewati

Sign in
Langkah pertama yang dilakukan segera setelah pasien tiba di ruang serah terima sebelum
dilakukan induksi anestesi. Tindakan yang dilakukan adalah memastikan identitas, lokasi/area
operasi, prosedur operasi, serta persetujuan operasi. Pasien atau keluarga diminta secara lisan
untuk menyebutkan nama lengkap, tanggal lahir dan tindakan yang akan dilakukan. Penandaan

29
lokasi operasi harus oleh ahli bedah yang akan melakukan operasi. Pemeriksaan keamanan
anestesi oleh ahli anestesi dan harus memastikan kondisi pernafasan, resiko perdarahan, antisipasi
adanya komplikasi, dan riwayat alergi pasien. Memastikan peralatan anestesi berfungsi dengan
baik, ketersedian alat, dan obat-obatan,..

Time out
Merupakan langkah kedua yang dilakukan pada saat pasien sudah berada di ruang operasi,
sesudah induksi anestesi dilakukan dan sebelum ahli bedah melakukan sayatan kulit. Untuk kasus
pada satu pasien terdapat beberapa tindakan dengan beberapa ahli bedah timeout dilakukan tiap
kali pergantian operator. Tujuan dilakukan timeout adalah untuk mencegah terjadinya kesalahan
pasien , lokasi dan prosedur pembedahan dan meningkatkan kerjasama diantara anggota tim
bedah, komunikasi diantara tim bedah dan meningkatkan keselamatan pasien selama
pembedahan. Seluruh tim bedah memperkenalkan diri dengan menyebut nama dan peran masing-
masing. Menegaskan lokasi dan prosedur pembedahan, dan mengantisipasi risiko. Ahli bedah
menjelaskan kemungkinan kesulitan yang akan di hadapi ahli anestesi menjelaskan hal khusus
yang perlu diperhatikan. Tim perawat menjelaskan ketersedian dan kesterilan alat. Memastikan
profilaksis antibiotik sudah diberikan. Memastikan apakah hasil radiologi yang ada dan di
perlukan sudah di tampilkan dan sudah diverifikasi oleh 2 orang.

Sign Out
Merupakan tahap akhir yang dilakukan saat penutupan luka operasi atau sesegera
mungkin setelah penutupan luka sebelum pasien dikeluarkan dari kamar operasi. Koordinator
memastikan prosedur sesuai rencana, kesesuaian jumlah alat, kasa, jarum, dan memastikan
pemberian etiket dengan benar pada bahan-bahan yang akan dilakukan pemeriksaan patologi.

Penggunaan Surgery safety checklist WHO dimaksudkan untuk memfasilitasi komunikasi yang
efektif dalam prosedur pembedahan sehingga meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan dan
peningkatan keselamatan pasien di kamar bedah baik sebelum operasi, selama operasi dan
sesudah operasi.

30
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

a. Rekomendasi standar :
1. Kostum bedah harus terbuat dari bahan yang ringan dan memungkinkan untuk bernapas.
Kostum tidak terbuat dari kapas karena kapas mudah terbakar dan memiliki banyak pori
yang bisa dilewati mikroorganisme
2. Sepatu proteksi harus tertutup bagian depannya, bertumit rendah, bersol anti selip, dan
dibersihkan secara berkala
3. Sebelum memegang kostum bedah atau memasuki tempat kostum bedah, semua personel
harus mencuci tangan dengan sabun antiseptik dan air, atau antiseptic hand rub
4. Kostum bedah harus diganti setiap harinya atau setiap kali terkontaminasi atau basah. Bila
kostum terdiri dari 2 bagian, atasan harus selalu dimasukkan ke dalam bawahan dan
ukuran harus pas
5. Semua personel harus menutupi kepala dan rambut.
6. Dalam kasus-kasus tertentu yang berisiko terciprat (misalnya kasus trauma), tim bedah
harus mengenakan alat-alat proteksi tambahan, seperti apron, goggle
7. Masker harus menutupi seluruh bagian mulut dan hidung
8. Kostum bedah harus dilaundry di fasilitas laundry yang terakreditasi
9. Seluruh personel harus menerima edukasi dan pengarahan perihal kostum bedah ini

b. Beberapa prinsip penggunaan sarung tangan:


1. Sarung tangan harus menjadi barrier yang efektif terhadap material infeksius, termasuk
darah dan cairan tubuh
2. Sarung tangan harus diganti setiap habis kontak dengan pasien atau setiap sarung tangan
tersebut rusak
3. Sarung tangan tidak boleh dicuci atau direuse
4. Untuk prosedur operatif dengan kasus menular, tenaga kesehatan harus memakai dua
lapis sarung tangan, satu di atas yang lain

31
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Instalasi Bedah Sentral dalam memberikan pelayanan pembedahan pada pasien di rumah
sakit tidak dapat terlepas dari penilaian mutu pelayanan,dimana mutu pelayanan di KAMAR
OPERASI meliputi input (seperti tenaga, dana, obat, fasilitas, peralatan, bahan, tekhnologi, organisasi
dan informasi), proses : pelaksanaan kegiatan pembedahan yang dilakukan dan out put : penilaian
pasien/keluarga pasien sekaligus pengguna kamar operasi terhadap pelayanan yang diberikan.
Indikator mutu pelayanan di KAMAR OPERASI adalah cara menilai penampilan dan
kegiatan dengan menggunakan instrumen,dimana indikator mutu pelayanan bedah antara lain
angka infeksi luka operasi,angka komplikasi pasca pembedahan dan anestesi death rate(kematian
pasien karena pengaruh anestesi)
Untuk dapat menilai indikator mutu pelayanan di KAMAR OPERASI perlu adanya program
pengendalian mutu pelayanan yang direncanakan sampai dengan evaluasi secara kontinu.

1. Tujuan
a. Peningkatan mutu pelayanan di KAMAR OPERASI secara paripurna dan
berkesinambungan.
b. Tersusunnya sistem monitoring pelayanan rumah sakit melalui indikator mutu pelayanan
KAMAR OPERASI

2. Rincian Kegiatan
a. Melakukan evaluasi dan melaporkan prestasi kerja staf dengan melibatkan staf dalam
penilaian kerjanya serta memberikan duplikat penilaian kepadanya.
b. Menyelidiki dan melaporkan utilisasi kamar operasi.
Menyelidiki dan melaporkan keluhan dan kekurangan dalam pelayanan dan
memperbaikinya.
c. Menyelidiki dan melaporkan kecelakaan yang terjadi di kamar operasi dan memperbaiki
agar tidak terulang lagi.
d. Menyiapkan dokumen pencatatan kegiatan pelayanan untuk mengidentifikasi dan
memprediksi kebutuhan di masa mendatang untuk membantu perencanaan jangka panjang
rumah sakit.
e. Memastikan instrumen dan metode evaluasi di telaah secara teratur dan diperbaiki.
f. Melaksanakan evaluasi pelayanan di kamar operasi melalui macam-macam audit.
g. Melakukan survailens infeksi nosokomial secara periodik dan berkesinambungan.
3. Pencatatan, Pelaporan dan Evaluasi Kegiatan
a. Setiap bulan KAMAR OPERASI melakukan evaluasin pelaksanaan kegiatan mutu di
KAMAR OPERASI , mencatat dan melaporkan kepada Direktur rumah sakit serta tim Mutu.
b. Tim peningkatan Mutu rumah sakit menganalisa dan membuat laporan kepada Direktur.
c. Evaluasi program peningkatan mutu dilaksanakan setiap 1 tahun untuk melihat pencapaian
sasaran dan perencanaan ke depan.

32
BAB IX
PENUTUP

Demikian buku Pedoman Pelayanan Kamar Operasiyang bersifat tekhnis dan praktis ini
di buat sebagai acuan pelayanan bagi semua pihak yang terkait yaitu karyawan di RSU Asy
Syfa’ Sambiumumnya serta bagi pimpinan, pelaksana dan pengguna Kamar Operasikhususnya
yang semata-mata hanyalah untuk pelayanan pasien yang paripurna.
Buku Pedoman Pelayanan ini mempunyai peranan penting karena bermanfaat untuk
meningkatkan mutu asuhan keperawatan perioperatif di RSU Asy Syfa’ Sambiserta berfungsi
sebagai pedoman pelayanan bagi tenaga perawat di kamar operasi.
Penyusunan Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentra l ini adalah langkah awal suatu
proses yang panjang, sehingga memerlukan dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak dalam
penerapannya untuk mencapai tujuan.
Seperti kata pepatah “Tak Ada Gading yang Tak Retak”, begitu pula dengan buku
Panduan Pelayanan ini pun demikian halnya. Untuk itu, masukan dan kritik membangun sangat
kami harapkan demi perbaikan pedoman ini di masa yang akan datang.
Semoga Allah senantiasa memberikan kita semua limpahan Taufik dan Hidayah-Nya
kepada hamba-hamba yang selalu berlomba dalam kebaikan dan berusaha secara terus menerus
memperbaiki amaliyahnya, amin.

33