Anda di halaman 1dari 6

TERM OF REFERENCE (TOR)

CLINICAL ENGINEERING CENTRE OF HAEMODIALYSIS


AIRLANGGA TEACHING HOSPITAL – ST. MARY HOSPITAL OF JAPAN

RUMAH SAKIT UNIVERSITAS AIRLANGGA


SURABAYA
2017
TERM OF REFERENCE
Clinical Engineering Centre of Haemodialysis
(Airlangga Teaching Hospital – St. Mary Hospital of Japan)

1. PENDAHULUAN

Menurut Kidney Dialysis Outcome Quality Initiative (KDOQI), Penyakit Ginjal Kronik

(PGK) adalah suatu kondisi dimana ginjal mengalami kelainan struktur atau gangguan

fungsi yang sudah berlangsung lebih dari tiga bulan. Penyakit ginjal kronik memiliki sifat

progresif dan berkembang perlahan.

Spektrup PGK terbentang dari penurunan fungsi ginjal yang bersifat ringan hingga

gagal ginjal. NKF/KDOQI membuat lima stadium penurunan fungsi ginjal sebagai berikut:

Stadium Penyakit Ginjal Kronik

GFR
Stadium Deskripsi
(ml/men/1,73 m2)
1 Kerusakan ginjal dengan GFR normal atau turun ≥90
2 Kerusakan ginjal dengan penurunan ringan GFR 60-89
3 Penurunan GFR sedang 30-59
4 Penurunan GFR berat 15-29
5 Gagal ginjal <15 atau menjalani dialisis

Pada awalnya, kerusakan pada sebagian ginjal akan dikompensasi oleh bagian

ginjal yang lain. Perlu diketahui bahwa setiap ginjal memiliki lebih dari 1 juta nefron (unit

fungsional terkecil ginjal), sehingga ginjal memiliki kapasitas cadangan yang besar.
Seringkali individu tidak merasakan gejala gangguan ginjal hingga kehilangan fungsi ginjal

sekitar 90%, yakni pada PGK stadium akhir. Namun jika kerusakan awal tersebut tidak

terdeteksi dan tidak mendapat penanganan yang memadai, PGK akan berkembang dan

menyebabkan kerusakan lebih lanjut. Kerusakan diawali dengan terjadinya hiperfiltrasi

glomerular, mikroalbuminuria, albuminuria, fibrosis tubulo interstisial, dan

glomerulosklerosis yang pada akhirnya mengakibatkan penurunan fungsi ginjal hingga

gagal ginjal (Levey et al., 2010).

Pada akhirnya penderita penyakit ginjal kronik tahap akhir membutuhkan terapi

dengan alat bantu cuci darah, baik yang dilakukan melalui mesin hemodialisis (HD),

Peritoneal Dialisis (PD) maupun transplantasi ginjal. Ketergantungan terhadap alat bantu

dan prosedur dialisis bukan hanya berdampak secara medis dan psikis, namun juga

membawa implikasi ekonomi bagi pasien, keluarga pasien, penyelenggara pelayanan

kesehatan dan juga negara sebagai penyelenggara jaminan sosial kesehatan. Oleh karena itu

masalah progresifitas PGK bukan lagi menjadi masalah kesehatan individu, namun juga

masalah kesehatan masyarakat.

Suatu mesin HD dapat difungsikan dengan baik apabila dilakukan peremajaan yang

tepat. Peremajaan mesin HD merupakan suatu hal yang penting dalam menunjang aktivitas

pelayanan kesehatan yang berkesinambungan kepada pasien. Hal ini terkait dengan

ketepatan dan akurasi dalam proses yang dilakukan oleh mesin tersebut selama cuci darah

dilangsungkan. Selain itu, alat HD yang rusak juga perlu segera diperbaiki agar pasien dapat

segera tertangani.
St. Mary Hospital merupakan rumah sakit di Jepang yang telah menerapkan clinical

engineering dari mesing HD dengan baik. Penerapan tersebut diharapkan dapat di

implementasikan di RS UNAIR sebagai Pusat Clinical Engineering khususnya di bidang

Haemodialisis. St. Sepanjang tahun 2018 St. Mary Hospital telah memberikan program

pelatihan kepada tim Clinical Engineering RS UNAIR. Sebagai tindak lanjut dari program

tersebut, pihak St. Mary Hospital akan mengadakan kunjungan ke RS UNAIR untuk

mengetahui sejauh mana perkembangan penerapan program pelatihan clinical engineering

di bidang hemodialisis.

2. NAMA KEGIATAN
Kunjungan Tim Clinical Engineering St. Mary Hospital Jepang ke RS UNAIR sebagai bentuk
kerja sama RS UNAIR dengan St. Mary Hospital.

3. TUJUAN KEGIATAN
Adapun tujuan kegiatan ini adalah:
1. Meningkatkan pengetahuan dan skill Staf RS Unair terkait Clinical Engineering alat-alat
Haemodialysis

2. Meningkatkan kerjasama yang telah terjalin antara RS Unair dan St. Mary Hospital of Japan

3. Membentuk tim RS Unair sebagai Clinical Engineering Centre khususnya alat HD di


Indonesia

4. NARASUMBER / FASILITATOR
 Tim Clinical Engineering St. Mary Hospital of Japan

5. SASARAN DAN JUMLAH PESERTA


No. Nama Jabatan Jumlah
Director of the
Department of Clinical
1. Mr. Masakazu Nakashima 1 orang
Engineering St. Mary
Hospital of Japan
Associate Director of
the Department of
2. Mr. Nobuyuki Ono 1 orang
Clinical Engineering St.
Mary Hospital of Japan
Clinical Engineer of the
3. Mr. Yuji Nishikubo Dialysis Room St. Mary 1 orang
Hospital of Japan
Head Nurse of the
4. Ms. Akiko Yamada Dialysis Room St. Mary 1 orang
Hospital of Japan
International
Cooperation
5. Ms. Makiko Suzuki 1 orang
Department St. Mary
Hospital of Japan

Tim Clinical Engineering RS UNAIR

No. Nama Jabatan Jumlah


1. Dr. Zulfayandi Pawanis, MSc Diklat 1 orang
2. Adit Nugraha, ST.,MM IPM 1 orang
3. Choirul Anwar, S.Kep.,Ns Ners 1 orang
4. Bagas Angger, A.Md CE 1 orang
5. M. Adiyatama, A.Md CE 1 orang
6. M. Rifky, A.Md CE 1 orang
7. Bondan P, A.Md CE 1 orang
8. Pochi Tri W, A.Md CE 1 orang
9. Nimas, A.Md CE 1 orang
10. CE 1 orang
11. CE 1 orang

6. PELAKSANAAN KEGIATAN

Hari / Tanggal : 23 - 25 Januari 2019


Tempat : Rumah Sakit Universitas Airlangga

7. AGENDA KEGIATAN

Kunjungan Tim Clinical Engineering St. Mary Hospital of Japan ke RS UNAIR sebagai
tindak lanjut kerja sama pelatihan RS UNAIR dengan St. Mary Hospital of Japan
8. ANGGARAN DANA

NO URAIAN BESARAN Jumlah TOTAL Keterangan


1 Penginapan Rp 1.500.000,- 5 orang, 2 Rp 15.000.000 Di tanggung
per malam per malam St. Mary
orang Hospital of
Japan
2. Konsumsi tamu Rp 250.000,- 5 orang, 3 Rp 3.750.000 RS UNAIR
per hari per hari
orang
3. Konsumsi panitia Rp. 100.000,- 11 orang, 3 Rp. 3.300.000 RS UNAIR
per hari per hari
orang
4. Jamuan Makan Malam Rp. 200.000,- 20 orang Rp. 4.000.000 RS UNAIR
per orang
5. Souvenir Rp. 200.000 5 orang Rp. 1.000.000 RS UNAIR
per orang
6. Transportasi Rp. 500.000 3 hari Rp. 1.500.000 RS UNAIR
per hari
TOTAL Rp. 13.550.000,- RS UNAIR