Anda di halaman 1dari 3

Tinjauan Pustaka

2.2 Lingkungan Rumen


Rumen merupakan tabung besar dengan berbagai kantong yang menyimpan
dan mencampur ingesta bagi fermentasi mikroba. Kerja ekstansif bakteri dan mikroba
terhadap zat-zat makanan menghasilkan pelepasan produk akhir yang dapat
diasimilasi. Papila berkembang dengan baik sehingga luas permukaan rumen
bertambah 7 kalinya. Dari keseluruhan asam lemak terbang yang diproduksi, 85%
diabsorbsi melalui epitelium yang berada pada dinding retikulo - rumen (Blakely and
Bade,1982). Blakely dan Bade (1991) menyatakan bahwa derajat keasaman (pH)
rumen yaitu antara 6,0 sampai 6,8. Nilai pH merupakan salah satu faktor lingkungan
yang berperan penting dalam aktivitas mikroorganisme dalam proses anaerobik.

Pembahasan
3.2 Lingkungan Rumen
Kondisi dalam rumen adalah anaerobik dan mikroorganisme yang paling
sesuai dan dapat hidup dapat ditemukan didalamnya. Tekanan osmos pada rumen
mirip dengan tekanan aliran darah. Temperatur dalam rumen adalah 38 - 42oC, pH
dipertahankan dengan adanya absorbsi asam lemak dan amonia. Saliva yang masuk
kedalam rumen berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan pH tetap
pada 6,8. Hal ini disebabkan oleh tingginya kadar ion HCO3 dan PO4 (Arora, 1995).
Rumen adalah suatu ekosistem yang kompleks yang dihuni oleh beraneka
ragam mikrob anaerob yang keberadaannya sangat banyak tergantung dari
makanannya. Mikrob tersebut terdiri atas bakteri, protozoa, dan fungi yang
memegang peran penting dalam pencernaan pakan (Preston & Leng 1987). Bakteri,
protozoa dan fungi tersebut mengubah nutrien pakan secara fermentatif menjadi
senyawa lain yang berbeda dari molekul asalnya, misalnya protein dirombak menjadi
amonia, karbohidrat diubah menjadi asam lemak volatil, CO2, dan gas metan (Fahay
& Berger 1988). Kondisi dalam rumen sapi dapat mencapai pH 4.75-4.81 bahkan
lebih rendah lagi sehingga terjadi asidosis. Hal ini dapat diakibatkan oleh banyaknya
asupan makanan berserat kasar tinggi (contohnya pati dan selulosa) ke rumen
sehingga bakteri penghidrolisis makanan tersebut berkembang sangat cepat dan hasil
metabolisme yang berupa asam laktat-pun meningkat. Peningkatan konsentrasi asam
laktat ini menyebabkan pH rumen menjadi rendah (Arora SP 1989).
Mikrob rumen yang bersifat anaerob adalah penting dalam proses fermentasi
rumen karena dapat melakukan berjenis-jenis reaksi dan interaksi dengan makanan
yang dikonsumsi ternak untuk menghasilkan komponen-komponen zat makanan yang
dapat diserap dan selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh ternak. Selain sifatnya yang
anaerob, mikrob rumen juga memerlukan kondisi-kondisi yang meliputi pH 5.7-7.3
dan suhu 38-41oC (Hoover & Miller 1992). Jenis mikrob penting yang menghuni
rumen adalah bakteri, protozoa dan fungi.
Kontraksi retikulorumen yang terkordinasi dalam rangkaian proses tersebut
bermanfaat pula untuk pengadukan digesta inokulasi dan penyerapan nutrien. Selain
itu kontraksi retikulorumen juga bermanfaat untuk pergerakan digesta meninggalkan
retikulorumen melalui retikulo-omasal orifice. Pada hewan memamah biak
(ruminansia) proses pencernaan makanan bersifat kompleks karena hewan-hewan
tersebut melakukan proses memamah biak. Pencernaan didalam rumen dan
retikulorumen dilakukan secara mekanik dengan gerakan mencampur (Candra, 2011).
DAFTAR PUSTAKA

Arora S.P. 1989. Pencernaan Mikroba Pada Ruminan. Gadjah Mada


University Press. Yogyakarta.
Arora, S. P. 1995. Pencernaan Mikrobia pada Ruminansia. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta
Bakely, J. dan D. H. Bade. 1992. Pengantar Ilmu Peternakan. Penerjemah: B.
Srigandono. Cet. ke-2. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Blakely, J. dan D.H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Candra. 2011. Beajar fisiologi. http://candra- nunus.blogspot.com /2011/12/
pengalaman-nurohman-belajar-fisiologi. html. Diakses tanggal 21 Maret
2018.
Fahey, G.C. Jr. dan L.L. Berger. 1988. Carbohydrate Nutrition of Ruminant. In. The
Ruminant Digestive Physiologi and Nutrition. Ed. D.C. Church. A. Reston
Book Prentice Hall, Englewood, New Jersey.
Hoover, W. H. & T. K. Miller. 1992. Rumen Digestive Physiologi and Microbial
Ecology. Agric. Forestry exp, Station West Virginia University.
Preston, T.R. and R.A. Leng. 1987. Matching Ruminant Production Systtem with
Available Resources in The Tropics. Penambul Books. Armidale.