Anda di halaman 1dari 19

Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb.

2000; 47-65

UJI KORELASI PENGARUH LIMBAH TAPIOKA


TERHADAP KUALITAS AIR SUMUR

Oleh : Ignasius D.A. Sutapa1

Abstrak
Pemanfaatan air sumur di desa Karadenan Kabupaten Bogor cukup
tinggi, karena belum terjangkaunya wilayah tersebut oleh PDAM setempat.
Pemanfaatan air tanah secara intensif serta produksi air limbah dari pabrik
tapioka yang berada di desa Karadenan terus meningkat sehingga dapat
menyebabkan perubahan kualitas air tanah dan dapat mengganggu
pemanfaatannya. Pemanfaatan air sumur oleh penduduk desa Karadenan
Kabupaten Bogor ini adalah untuk memenuhi kebutuhan penduduk setempat,
seperti air minum, MCK, dan industri tapioka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air sumur gali penduduk
sangat dipengaruhi oleh kualitas limbah tapioka di bak penampungan yang ada
disekitarnya. Hal ini terlihat adanya korelasi satu arah antara kualitas limbah
dan jarak terhadap sumur penduduk disatu sisi terhadap kalitas air sumur di
sisi yang lain. Terlihat bahwa semakin dekat jarak sumur terhadap bak
penampungan limbah tapioka maka kualitas air sumur semakin rendah.
Kata kunci : limbah tapioka, kualitas air sumur, korelasi
________________________________
1
Peneliti Puslitbang Limnologi-LIPI, Cibinong

Pendahuluan PDAM setempat. Pemanfaatan air


tanah secara intensif serta produksi
Air merupakan benda alam air limbah dari pabrik tapioka yang
yang mutlak dibutuhkan bagi kehi- berada di desa Karadenan terus
dupan dan merupakan unsur utama meningkat sehingga dapat menye-
setiap lingkungan hidup. Kebutuhan babkan perubahan kualitas air tanah
air masyarakat khususnya di pede- dan dapat mengganggu peman-
saan umumnya dipenuhi dari air faatannya. Pemanfaatan air sumur
tanah (air sumur). oleh penduduk desa Karadenan
Perubahan kualitas air tanah Kabupaten Bogor ini adalah untuk
dapat terjadi oleh proses alami yang memenuhi kebutuhan penduduk
terjadi pada daerah imbuhannya, setempat, seperti air minum, MCK,
tetapi perubahan kualitas air tanah dan industri tapioka.
sering terjadi karena kegiatan Industri tapioka yang berada
manusia. Pemanfaatan air sumur di di desa Karadenan belum menggu-
desa Karadenan Kabupaten Bogor nakan instalasi pengolahan air
cukup tinggi, karena belum terjang- limbah. Industri tapioka tersebut
kaunya wilayah tersebut oleh mengalirkan air limbahnya pada
47
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

kolam-kolam bertingkat sebagai limbah tapioka. Kenyataan ini


penampung melalui parit kecil. menyebabkan ketergantungan pen-
Kolam-kolam penampungan dibuat duduk terhadap air sumur cukup
bertingkat dengan maksud untuk tinggi.
mempermudah pengaliran limbah Jika hal tersebut dihubung-
secara berkala sehingga dapat kan dengan terjadinya proses
dimanfaatkan sebagai makanan ikan infiltrasi, perkolasi, dan dispersi
pada tingkat terakhir kolam. Pada yang dialami oleh bahan-bahan
musim kemarau permasalahan yang yang dapat terbawa oleh aliran air
muncul adalah bau tidak enak, tetapi tanah dalam lapisan aquifer, maka
jika musim hujan tiba kolam-kolam masalah yang mungkin terjadi
penampungan tersebut meluap dan dapat dirumuskan sebagai berikut :
air limbah mengalir ke kolam-kolam Sejauh mana kualitas limbah
yang lebih rendah letaknya. Hal ini tapioka di bak penampungan serta
mengakibatkan ikan-ikan di kolam jaraknya terhadap sumur gali berpe-
tersebut mati, selain itu limbah ngaruh terhadap kualitas airnya?
tapioka ini juga mencemari air Pemantauan terhadap kuali-
sungai Ciparigi yang melewati desa tas air tanah di desa Karadenan
Karadenan. Kabupaten Bogor ini dititik
Mengingat tingginya potensi beratkan pada analisis kualitas fisik
pemanfaatan air tanah di desa (Suhu, kekeruhan, dan Daya Hantar
Karadenan Kabupaten Bogor serta Listrik) dan kimiawi (pH, DO,
besarnya resiko pencemaran oleh BOD, COD, Sulfida, Amonia,
kegiatan industri tapioka di desa Nitrat, Nitrit, Sianida, Besi dan
tersebut, maka pemantauan terhadap kesadahan) air sumur di desa
kualitas air tanah di desa Karadenan tersebut. Sampel (sampling) di
Kabupaten Bogor sangat diperlukan ambil dari beberapa sumur pen-
agar dapat diambil langkah-langkah duduk setempat secara acak,
pengendalian. berdasarkan jaraknya terhadap bak
Tujuan penelitian ini adalah penampung limbah tapioka.
untuk mengetahui pengaruh limbah
tapioka terhadap kualitas air sumur Metodologi
penduduk, baik kualitas fisik
maupun kualitas kimiawi. Penelitian ini adalah pene-
litian kuantitatif, untuk mengetahui
Ruang Lingkup Dan Perma- kualitas air sumur penduduk yang
salahan berada di sekitar pabrik tapioka.
Kondisi lingkungan di desa Dilakukan uji fisik dan kimiawi
Karadenan tidak memungkinkan untuk setiap sampel air, tetapi tidak
untuk memperoleh alternatif peng- semua parameter yang diper-
gunaan sumber air lain, seperti air syaratkan dalam kriteria baku untuk
permukaan, karena telah tercemar air minum diukur dalam penelitian

48
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

ini mengingat keterbatasan-keter- Teknik Analisis Data


batasan yang ada. Parameter- Data dilengkapi dengan
parameter tersebut antara lain : pH, kuisioner, wawancara, serta, obser-
DO, BOD, COD, Sulfida, Sianida, vasi langsung. Kualitas limbah cair
Amonia, Nitrat, Nitrit, Besi dan tapioka diketahui dengan memba-
kesadahan, serta suhu dan konduk- ndingkan hasil analisis terhadap SK
tifitas. Menteri KLH No.51/MENKLH/10/
Pengambilan sample air 1995, sedangkan kualitas air sumur
sumur penduduk dilakukan 3 kali dibandingkan dengan Permenkes
dengan jarak pengambilan 1 bulan No.416/Menkes/Per/IX/1990 atau
sekali. Setiap sampel dianalisis PPRI No.20 Tahun 1990 Tanggal 5
dengan 3 kali pengulangan (triplo). Juni 1990. Untuk mengetahui
Waktu pengambilan sampel pada apakah terdapat pengaruh jarak
siang hari. sumur dari sumber pencemar
Teknik sampling yang dila- terhadap parameter-parameter kua-
kukan adalah Grab Sampling. litas air yang dianalisis, digunakan
Metode sampling dan analisis analisis korelasi jenjang spearman
parameter kualitas air dapat dilihat (bertingkat), maka ditetapkan
pada tabel 1. hipotesis sebagai berikut:
Ho : Tidak ada korelasi antara
Waktu dan Tempat Penelitian jarak sumur dengan sumber
Penelitian ini berlangsung pencemar terhadap para-
sejak Januari hingga Agustus 1999 meter kualitas air.
(pada musim hujan), dengan H1 : Ada korelasi antara jarak
pengambilan sample pada siang sumur dengan sumber pen-
hari. Penelitian dilakukan di desa cemar terhadap parameter
Karadenan Kabupaten Bogor. kualitas air.
Lokasi penelitian ditetapkan de-
ngan pertimbangan bahwa lokasi Aturan keputusan:
sumur berdekatan dengan lokasi Untuk α = 0,05:
pencemar (kolam penampungan Jika rs> r (0,05), maka H0
limbah cair), sedangkan analisis ditolak.
sampel dilakukan di Laboratorium Jika rs < r (0,05), maka H0
Pengendalian Pencemaran Air diterima.
Puslitbang Limnologi LIPI Cibi- Nilai r (0,05) dari tabel
nong. statistik adalah 0,643.

49
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

Statistika Pengujian:

n
rs = 1 - 6 Σ(hi – ki) 2
i=1
N (n2 – 1)

Dimana,
rs : koefisien korelasi spearman
n : jumlah pengamatan
hI : pangkat/jenjang bagi nilai pengamatan Xi
kI : pangkat/jenjang bagi nilai pengamatan Yi

Keterangan Koefisien Korelasi: -1 ≤ rs ≤ + 1


+ : menunjukkan adanya korelasi positif
- : menunjukkan adanya korelasi negatif
0 : menunjukkan tidak adanya korelasi

Tabel 1. : Metode Sampling dan Analisis Parameter Kualitas Air

Batasan
No Parameter Wadah Pengawetan Metode Analisis
Waktu

Insitu :
1 pH P, G - Segera WQC
2 Kekeruhan P, G - Segera WQC
3 Suhu P, G - Segera WQC
4 DHL P, G - Segera WQC
5 DO P, G - Segera WQC
Exsitu :
1 BOD G Didinginkan 4 0C 6 jam Titrimetri
(BOD)
2 COD P, G +H2SO4, pH < 2, 4 0C 28 hari Titrimetri
3 Kesadahan P, G +HNO3, pH < 2, 4 0C 6 bulan Titrimetri
4 Besi P, G +HNO3, pH < 2, 4 0C 6 bulan Spektrofotometri
5 Nitrat P, G +H2SO4, pH < 2, 4 0C 2 hari Spektrofotometri
6 Nitrit P, G +H2SO4, pH < 2, 4 0C 2 hari Spektrofotometri
7 Sianida P, G NaOH, pH > 2, 4 0C 2 hari Titrimetri
8 Ammonia P, G +H2SO4, pH < 2, 4 0C 7 hari Spektrofotometri
+ZnAsetat 4 tts/100ml
9 Sulfida P, G 28 hari Titrimetri
+NaOH, pH > 9, 4 0C.

50
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

Hasil Dan Pembahasan yang cukup besar. Saluran


pembuangan limbah cair tapioka
1. Kondisi Kolam Penampungan merupakan saluran terbuka beralas-
Secara teoritis air sumur di kan tanah dengan kondisi yang
sekitar kolam penampungan limbah buruk dan mengeluarkan bau busuk,
tapioka berpotensi untuk tercemar seperti terlihat pada gambar 1.
limbah. Hal ini sangat memung- Bau busuk ini terjadi akibat
kinkan dengan melihat kondisi proses pembusukan pada selang
saluran pembuangan dan kolam beberapa waktu setelah limbah cair
penampungan limbah cair di keluar dari saluran pembuangan
lapangan. Saluran pembuangan pa- pabrik (CIPTADI, 1976). Kondisi
brik tapioka bersatu dengan saluran saluran pembuangan pabrik dapat
air Setu yang menuju kolam-kolam dilihat pada gambar 2. Kolam-
penampungan limbah dan ikan di kolam penampungan limbah cair
areal seluas ± 5000 m2, sehingga tapioka ini menyebarkan bau busuk
saat limbah cair dari bak penge- dan kondisi air di dalamnya sangat
napan pati dikeluarkan komposisi buruk seperti terlihat pada gambar
pencemar mengalami pengenceran 3.

51
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

52
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

Pada gambar 4 terlihat organisme yang mengoksidasikan


adanya lapisan yang menutupi bahan organik menjadi karbon-
sebagian permukaan kolam. Hal ini dioksida.
disebabkan oleh padatan tersuspensi
yang tinggi sehingga mengganggu 2. Kualitas Air Sumur
proses fotosintesis. Kolam penam- Berdasarkan penelitian ter-
pungan yang dibuat dimaksudkan hadap kualitas air sumur penduduk
untuk memelihara ikan oleh dan kualitas limbah cair tapioka di
penduduk setempat, tetapi pada desa Karadenan Kabupaten Bogor
kadar tertentu padatan tersuspensi ini, maka hanya parameter pen-
dapat secara langsung mematikan cemar dominan saja yang dibica-
ikan akibat terjadinya pengenapan rakan meskipun banyak hal yang
berlebihan pada permukaan insang. dapat mempengaruhi kualitas air
Padatan tersuspensi yang sumur.
berupa bahan-bahan organik akan
mengalami pembusukan dan bahan 2.1. Parameter Fisik
padatnya akan mengapung oleh Pengamatan kualitas fisik
adanya dorongan gas yang terhadap air sumur gali penduduk
menyebabkan bau busuk dan RT 04 RW 02 Desa Karadenan
kotoran mengambang. Derajat ke- Kabupaten Bogor menunjukkan:
asaman (pH) pada kolam-kolam
penampungan ini turun mungkin 2.1.1. Bau, Rasa dan Warna
diakibatkan oleh pengenceran oleh Hasil pengamatan di sebelas
air setu dan aktivitas mikro- sumur gali menunjukkan sebagian

53
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

besar air sumur berbau, berasa, dan alat WQC. Hal ini menunjukkan
tiga sumur lainnya menunjukkan nilai kekeruhan yang kecil (kategori
warna kuning yang cukup jelas. Hal air jernih) dan memenuhi persya-
ini menunjukkan air sumur tersebut ratan kualitas air minum Peraturan
tidak memenuhi persyaratan kua- Menteri Kesehatan No. 416/MEN-
litas fisik air minum yang tidak KES/PER/IX/1990, yakni sebesar
boleh berbau, berasa dan berwarna. 25 NTU. Kekeruhan biasanya dise-
Ketentuan mengenai batas maksi- babkan oleh adanya zat-zat ter-
mum untuk warna (maksimum 50 Pt suspensi seperti bahan organik dan
.Co) didasarkan pada segi estetika zat-zat halus lainnya, tetapi pada
(ARFANDY, 1983). umumnya sistem pengambilan
Menurut Alaerts, rasa pada sampel air yang kurang memenuhi
air sumur dapat disebabkan oleh syarat (peralatan dan metode) dapat
derajat keasamanan (pH) yang mengakibatkan kekeruhan yang
rendah sehingga dapat melarutkan lebih besar dari nilai seharusnya
Besi, sedangkan bau disebabkan (ARFANDY, 1983).
oleh kadar Sulfida yang tinggi. Bau Kekeruhan dapat mengganggu
dan warna pada air minum dapat kebersihan wadah penampungan air
mengurangi selera konsumen, sehingga harus sering dibersihkan
sedangkan warna yang mungkin (Dewan Riset Nasional, 1994).
disebabkan oleh tingginya kadar
Besi dapat meninggalkan noda pada 2.1.3. Suhu
pakaian, wadah penampung air dan Suhu air dipengaruhi oleh
dinding kamar mandi. Kondisi fisik kedalaman perairan, komposisi sub-
air sumur yang memperlihatkan strat dasar, luas permukaan yang
warna dapat dilihat pada gambar 4. langsung mendapatkan sinar mata-
hari dan tingkat penutupan daerah
2.1.2. Daya Hantar Listrik pemukiman perairan (LANGE-
(DHL) dan Kekeruhan NEGGER, 1994). Suhu air pada
Parameter DHL menunjuk- sumur-sumur gali yang diamati pada
kan nilai yang berkisar antara 0.054 umumnya tidak jauh berbeda,
– 0.121 mikromhos/cm. Hal ini berkisar antara 26.90 – 28.59 oC.
menunjukkan bahwa kualitas air Suhu yang tidak sesuai dapat
sumur gali tersebut memenuhi merusak keseimbangan suhu tubuh
persyaratan kualitas air minum dan jika suhu lebih dari 350C, air
Permenkes No. 416/ MENKES/ dapat menimbulkan rasa (WIJAYA,
PER/IX/1990. Tinggi rendahnya 1991).
DHL pada air dapat menunjukkan
banyaknya jumlah logam-logam 2.2. Parameter Kimiawi
yang terlarut didalam air tersebut Pengamatan kualitas kimia-
(Langenegger, 1994). Kekeruhan air wi air sumur menunjukkan adanya
sumur gali tidak menunjukkan nilai parameter pencemar yang dominan
tertentu (tidak terdeteksi) dengan

54
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

mencemari air sumur penduduk, limbah tapioka banyak mengandung


yaitu bahan organik, sehingga memung-
kinkan untuk hidupnya bakteri
2.2.1. Derajat Keasaman (pH) aerobik. Adanya oksigen di dalam
Derajat keasaman pada air dapat mengoksidasikan bahan-
kolam penampungan berkisar antara bahan organik tersebut menjadi CO2
5.19 – 5,89. Nilai pH di kolam yang dapat menurunkan derajat
penampungan ini mengalami keasaman air (ALAERTS, 1987).
penurunan jika dibandingkan Proses pengoksidasian bahan
dengan pH pada bak pengendapan organik dapat digambarkan dengan
pati. Hal ini disebabkan oleh karena reaksi berikut ini:

Bakteri
CnHaOb + O2 nCO2 + H2O

Sampel air sumur gali penduduk penampungan pada tabel 2 menu-


menunjukkan nilai pH yang berkisar njukkan tidak adanya korelasi antara
antara 4.18 – 6.12. Berdasarkan jarak sumur terhadap kolam penam-
persyaratan kualitas air minum pungan (nilai rs = 0.1318 < r(0.05) ).
Permenkes No. 416/MENKES/PER/ Hal ini mungkin disebabkan oleh
IX/1990 pH berkisar antara 6.5 – sifat buffering tanah atau pH yang
9.0. Kualitas sampel air sumur sangat dipengaruhi oleh suhu,
penduduk yang tidak memenuhi aktifitas bakteri, dan banyaknya
standar kualitas air minum ini. kandungan CO2 di dalam masing-
Rendahnya pH diperkirakan masing air sumur (Wijaya, 1991).
adanya pengaruh resapan dari kolam Rendahnya pH air sumur meng-
penampungan limbah tapioka yang akibatkan Jet Pump yang digunakan
belum dikelola dengan baik, tetapi oleh warga hanya bertahan beberapa
hasil perhitungan uji korelasi bulan saja, karena cepat mengalami
jenjang Spearman antara pH air kerusakan akibat korosif.
sumur terhadap jarak kolam

55
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

56
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

57
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

2.2.2 Biological Oxygen Demand gangguan dari zat yang bersifat


dan Chemical Oxygen racun terhadap mikroorganisme
Demand maka ketelitian dan ketepatan
Limbah cair tapioka menga- analisis BOD sangat kecil. Di
ndung zat-zat organik tinggi dan samping itu hanya zat organik
terurai secara biologis sehingga nilai biodegradable yang dapat diuraikan
BOD mendekati nilai COD-nya oleh bakteri dalam uji BOD dan
(Ciptadi,1976). Nilai BOD limbah sebagian zat organik tersebut tidak
cair tapioka di kolam penampungan terurai dalam waktu 5 hari. Analisis
berkisar antara 67,08 – 114,79 mg/l BOD pada umumnya menggunakan
sedangkan COD berkisar antara 250 pengenceran yang dapat menye-
- 1250 mg/l melebihi baku mutu babkan ketelitian analisis semakin
limbah berdasarkan Surat Kepu- buruk (ALAERTS, 1987). Oleh
tusan Menteri KLH No. 51/MEN- sebab itu nilai BOD memenuhi
KLH/10/1995. Nilai BOD mak- persya-ratan kualitas air, tetapi nilai
simum limbah mutu I dan II sebesar COD tidak. Nilai COD pada
50 mg/l dan 150 mg/l, sedangkan sebagian besar air sumur tidak
nilai COD sebesar 100 mg/l dan 300 memenuhi persyaratan kualitas air
mg/l. minum, karena berkisar antara 8-
Nilai BOD maksimum yang 225 mg/l melebihi Baku Mutu Air
dianjurkan berdasarkan Baku Mutu Golongan B Kep-02/MENKLH/I/
Air Golongan B Kep-02/MENKLH/ 1988, di-mana nilai COD
I/1988 sebesar 6 mg/l, tetapi nilai maksimum yang dianjurkan sebesar
BOD pada sampel air sumur 10 mg/l. Tinggi-nya nilai COD
berkisar antara 0.15 – 1.46 mg/l. mungkin disebabkan oleh resapan
Hal ini menunjukkan bahwa nilai air kolam penam-pungan limbah
BOD pada sampel air sumur gali tapioka terhadap sebagian besar
tersebut memenuhi persyaratan sumur. Hal ini diperkuat dengan
kualitas air minum. hasil perhitungan uji korelasi
Hasil perhitungan uji kore- jenjang Spearman antara COD air
lasi jenjang Spearman antara BOD sumur terhadap jarak kolam
air sumur terhadap jarak kolam penampungan yang menu-njukkan
penampungan pada tabel 2 menu- adanya korelasi antara COD dengan
njukkan adanya korelasi negatif jarak sumur terhadap kolam
antara BOD dengan jarak sumur penampungan (rs = -0.6795), artinya
terhadap kolam penampungan (rs = semakin jauh jarak maka semakin
-0.65), artinya semakin jauh jarak kecil nilai COD air sumur.
maka semakin kecil nilai BOD air Analisis COD memang ber-
sumur. beda dengan analisis BOD, namun
Analisis BOD sangat dipe- perbandingan antara angka BOD5
ngaruhi oleh pertumbuhan bakteri dengan COD dapat ditetapkan. Pada
yang kurang dapat diatur oleh tabel 4 tercantum perbandingan
manusia, sehingga jika ada

58
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

antara angka BOD5 dengan COD sama dengan air sumur, nilai
untuk beberapa jenis air. perbandingan lebih rendah dari
Perbandingan nilai BOD seharusnya (< 0.10), menunjukkan
terhadap nilai COD tertinggi pada adanya zat-zat yang bersifat racun
sampel air sumur gali penduduk bagi mikroorganisme yang ada di
sebesar 0.004 dan air limbah tapioka dalam masing-masing sumur.
di kolam penampungan sebesar Sedangkan angka perbandingan air
0.092, sedangkan perbandingan limbah tapioka di kolam penam-
nilai BOD terhadap nilai COD pungan lebih rendah dari seharusnya
terendah pada sampel air sumur gali (< 0.50) menunjukkan sifat racun
penduduk sebesar 0.03 dan air terhadap mikroorganisme yang ada
limbah tapioka di kolam penam- di setiap kolam penampungan
pungan sebesar 0.268. Jika angka limbah cair tapioka.
perbandingan air sungai dianggap

Tabel 4.: Perbandingan Rata-rata Angka BOD5/COD

Jenis Air BOD5/COD


Sampel air sumur 0.004 - 0.03
Sampel air limbah tapioka 0.092 - 0.268
Air sungai * 0.10
Air buangan industri organis tanpa 0.50 - 0.65
keracunan *
*Sumber: ALAERTS, 1987

2.2.3. Sulfida (S2-) ada di dalam air sebesar 0.1 mg/l.


Kandungan sulfida limbah Hal ini menunjukkan bahwa air
cair tapioka di kolam penampungan sumur gali penduduk tidak meme-
berkisar antara 13.02 – 28.46 mg/l nuhi persyaratan kualitas air minum
melebihi baku mutu limbah ber- dan telah tercemar berat Sulfida
dasarkan Surat Keputusan Menteri Berdasarkan hasil perhitu-
KLH No. 51/MENKLH/10/1995 ngan uji korelasi jenjang Spearman
nilai Sulfida maksimum limbah pada tabel 2 antara Sulfida air
mutu I dan II sebesar 0.05 mg/l dan sumur terhadap jarak kolam penam-
0.10 mg/l. Konsentrasi sulfida yang pungan menunjukkan adanya kore-
tinggi dan melebihi 1 mg/l ini fatal lasi negatif antara Sulfida dengan
bagi kehidupan di dalam air. jarak sumur terhadap kolam penam-
Sebaran hasil pengukuran sulfida air pungan (rs = - 0.7682), artinya
sumur yang berkisar antara 0.01 – semakin jauh jarak sumur maka
15.35 mg/l. Berdasarkan persyara- semakin kecil konsentrasi Sulfida
tan kualitas air minum Permenkes air sumur. Hal tersebut dapat
No. 416/MENKES/PER/IX/1990, membuktikan bahwa kandungan
sulfida maksimum diperbolehkan Sulfida yang tinggi pada air sumur

59
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

gali penduduk tersebut dimungkin- sebesar 5 mg/l dan 10 mg/l.


kan oleh resapan air kolam Kandungan Besi yang sesuai dengan
penampungan limbah tapioka yang dibutuhkan dapat menunjang
terhadap air sumur penduduk di pertumbuhan biologis biota dan
sekitarnya. Hal tersebut diperkuat algae. Tetapi jika konsentrasi Besi
oleh hasil analisis komposisi kimia tinggi kemungkinkan biota perairan
ubi kayu, dimana terdapat 2.15 mg/l akan terganggu akibat keracunan.
Sulfida per 100 g bahan (Hasil Berdasarkan persyaratan ku-
analisis terhadap ubi kayu, 1999), alitas air minum Permenkes No.
sehingga kandungan Sulfida pada 416/MENKES/PER/IX/1990, kadar
limbah cair segar mencapai 238.92 Besi maksimum yang diperbolehkan
mg/l. Jika kapasitas penggunaan ubi sebesar 1.0 mg/l, tetapi hasil
kayu adalah 1 ton per hari, maka pengukuran Besi air sumur berkisar
akan dikeluarkan limbah cair yang antara 0.01 – 17.56 mg/l. Hal ini
mengandung 21.50 gram/l Sulfida menunjukkan bahwa kandungan
per hari. Konsentrasi Sulfida yang Besi pada sebagian besar air sumur
melebihi 200 mg/l dapat mengga- penduduk tidak memenuhi per-
nggu proses biologis yang ber- syaratan kualitas air minum dan
langsung dan jika gas H2S yang telah tercemar Besi.
terbentuk bercampur dengan gas Besi dapat larut pada pH
hasil penguraian limbah (CH4 + rendah dan dapat menyebabkan air
CO2) akan menyebabkan air bersifat yang berwarna kekuningan, meni-
korosif terhadap logam (ANO- mbulkan noda pada pakaian dan
NIMUS, 1987). tempat berkembang biaknya bakteri
Creonothrinx , oleh sebab itu kadar
2.2.4. Besi (Fe) Besi tidak boleh melebihi 1 mg/l,
Pada komposisi kimia ubi karena dapat mempercepat pertu-
kayu terdapat 0.70 mg/l Besi per mbuhan bakteri Besi tersebut dan
100 g bahan (DOROTHEA, 1995), dapat menimbulkan rasa serta bau.
sehingga kandungan Besi pada Kandungan Besi yang tinggi pada
limbah cair segar mencapai 57.47 sebagian besar air sumur tersebut
mg/l. Jika kapasitas penggunaan ubi dimungkinkan oleh resapan air
kayu adalah 1 ton per hari, maka kolam penampungan limbah tapioka
akan dikeluarkan limbah cair yang terhadap air sumur penduduk di
mengandung 7 gram Besi per hari. sekitarnya. Hal ini diperkuat oleh
Hal tersebut menyebabkan kandu- hasil perhitungan uji korelasi
ngan Besi limbah cair tapioka di jenjang Spearman yang menunjuk-
kolam penampungan berkisar antara kan adanya korelasi negatif antara
9.29 – 28.07 mg/l dan melebihi Besi dengan jarak sumur terhadap
baku mutu limbah berdasarkan kolam penampungan (rs = -0.8409).
Surat Keputusan Menteri KLH No. Semakin jauh jarak sumur maka
51/MENKLH/10/1995 nilai Besi semakin rendah konsentrasi Besi air
maksimum limbah mutu I dan II sumur.

60
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

Analisis sampel tidak hanya sehingga menunjukkan bahwa ka-


dilakukan terhadap parameter ndungan ammonia pada air sumur
pencemar dominan di atas, tetapi gali penduduk memenuhi persya-
juga terhadap beberapa pencemar ratan kualitas air minum.
lain yang walaupun tidak dominan Hasil perhitungan uji kore-
tapi mungkin dapat mempengaruhi lasi jenjang Spearman antara
kualitas air sumur, yaitu: ammonia air sumur terhadap jarak
kolam penampungan yang diper-
2.2.5. Oksigen Terlarut (DO) lihatkan pada tabel 3 menunjukkan
Nilai DO pada sampel air tidak ada korelasi antara ammonia
sumur gali cukup bervariasi, dengan jarak sumur terhadap kolam
berkisar antara 2.86 – 6.10 mg/l. penampungan (rs = -0.4909 < r
Nilai DO untuk air tanah tidak (0.05)). Hal ini disebabkan oleh
disyaratkan oleh Baku Mutu Air karena ammonia merupakan salah
Golongan B Kep-02/MENKLH/I/ satu senyawa yang sangat labil pada
1988 atau Permenkes. Kadar kondisi aerobik di air alam karena
oksigen terlarut di dalam air dapat dengan mudah terurai menjadi
merupakan penentu mutu air. nitrat/nitrit (LANGENEGGER,
Kehidupan di air dapat bertahan jika 1994).
ada oksigen terlarut minimum Kandungan ammonia limbah
sebanyak 5 mg/l, selebihnya cair tapioka di kolam pe-nampungan
tergantung kepada ketahanan orga- berkisar antara 0.51 – 1.34 mg/l
nisme, derajat keaktivannya, keha- sesuai dengan baku mutu limbah
diran pencemar, suhu air, dan berdasarkan Surat Kepu-tusan
sebagainya. DO juga sangat dipe- Menteri KLH No. 51/MENKLH/
ngaruhi oleh suhu dan kedalaman 10/1995 nilai ammo-nia maksimum
masing-masing sumur. Hasil per- limbah mutu I dan II sebesar 1 mg/l
hitungan uji korelasi jenjang dan 5 mg/l.
Spearman pada tabel 3. antara DO
air sumur terhadap jarak kolam 2.2.7. Nitrat (NO3-)
penampungan menunjukkan adanya Uji korelasi jenjang Spear-
korelasi antara DO dengan jarak man pada tabel 3 antara nitrat air
sumur terhadap kolam penam- sumur terhadap jarak kolam
pungan. penampungan menunjukkan adanya
korelasi antara nitrat dengan jarak
2.2.6. Ammonia (NH4+) sumur terhadap kolam penam-
Kandungan ammonia pada pungan (rs = -0.5591). Tetapi
sampel air sumur gali penduduk, kandungan nitrat pada sebagian
berkisar antara 0.0 – 0.15 mg/l. besar air sumur gali penduduk
Baku Mutu Air Golongan B Kep- memenuhi persyaratan kualitas air
02/MENKLH/I/1988 menetapkan minum Permenkes No. 416/MEN-
kadar ammonia maksimum yang KES/PER/IX/1990 yaitu berkisar
dianjurkan sebesar 0.50 mg/l, antara 0.05 – 11.55 mg/l,

61
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

sedangkan nitrat maksimum yang Nilai tersebut di atas lebih tinggi


dianjurkan sebesar 10 mg/l. dibandingkan nilai yang ada pada
Kandungan nitrat ini didukung oleh kolam penampungan. Hal ini
kualitas limbah cair tapioka di mungkin disebabkan oleh pengen-
kolam penampungan yang berkisar ceran air setu yang mengalir melalui
antara 3.25 – 8.66 mg/l dan sesuai kolam dan proses biotransformasi
dengan baku mutu limbah nitrogen. Proses biotransformasi
berdasarkan Surat Keputusan nitrogen di perairan dimulai dengan
Menteri KLH No. 51/MENKLH/ terkomposisinya Nitrogen organik
10/1995 , yaitu maksimum limbah oleh aktifitas mikroorganisme
mutu I dan II sebesar 20 mg/l dan menjadi ammonia, kemudian terurai
30 mg/l. Kandungan nitrat dan kembali menjadi nitrit dan nitrat
ammonia pada bak pengendapan oleh proses nitrifikasi. Proses
pati masing-masing sebesar 11.08 – biotransformasi ini dijelaskan
12.10 mg/l dan 1.02 – 5.44 mg/l, dengan reaksi sebagai berikut:
sedangkan nitrit tidak terdeteksi.

2NH3 + 3O2 2NO2- + 2H+ +2H2O


2NO2- + O2 2NO3- +
2NH3 + 4O2 2NO3- + 2H+ +2H2O

Kandungan nitrat, nitrit dan tabel 3 antara kesadahan air sumur


ammonia ini merupakan indikator terhadap jarak kolam penampungan
adanya pencemaran air oleh bahan- menunjukkan bahwa tidak ada
bahan organik (LANGENEGGER, korelasi antara Kesadahan dengan
1994). jarak sumur terhadap kolam
penampungan (rs = -0.3545).
2.2.8. Kesadahan Menurut ALAERTS (1987) hal ini
Kadar kesadahan maksi- dapat disebabkan oleh kesadahan
mum yang diperbolehkan oleh yang tergantung pada jumlah kation
Permenkes No. 416/MENKES/PER/ kesadahan (Ca2+ dan Mg2+), CO2
IX/1990 sebesar 500 mg/l CaCO3, dan bikarbonat (HCO3-) yang
sedangkan kandungan kesadahan terlarut di dalam masing-masing air
pada sampel air sumur gali berkisar sumur.
antara 10.81 – 62.06 mg/l. Hal ini Berdasarkan klasifikasi ke-
menunjukkan bahwa kandungan sadahan, pada tabel 5 di bawah ini
kesadahan pada sebagian besar air ditunjukkan bahwa air sumur
sumur gali penduduk memenuhi termasuk ke dalam klasifikasi air
persyaratan kualitas air minum. yang lunak (0 – 75 mg/l CaCO3).
Hasil perhitungan uji
korelasi jenjang Spearman pada

62
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

Tabel 5.: Klasifikasi Kesadahan

Kesadahan Klasifikasi Air


(mg/l CaCO3)
0 – 75 Lunak
75 – 150 Cukup Lunak
150 – 300 Keras
> 300 Sangat Keras
Sumber: LANGENEGGER, 1994

Tabel 6.: Kualitas Air Sumur Wilayah Pembanding

Desa Desa Standar


No. Parameter Cikaret Kd. Halang Baku Mutu Satuan
0
1 Suhu 26.50 28 ± 30 C
2 pH 6.60 6.10 6.50 - 9 -
3 DHL 0.079 0.090 - mhos/c
m
4 Kekeruhan tt tt 25 NTU
5 DO 5.56 5.40 - mg/l
6 BOD 0.42 0.53 6 mg/l
7 Nitrit tt tt 1 mg/l
8 Nitrat 0.98 1.87 10 mg/l
9 Sianida tt tt 0.05 mg/l
10 Sulfida 0.01 0.02 0 mg/l
11 Ammonia tt tt 0.50 mg/l
12 COD 4.67 7.12 10 mg/l
13 Besi 0.05 0.12 1 mg/l
14 Kesadahan 52.85 45.10 500 mg/l

Kandungan kesadahan lim- maksimum limbah mutu I dan II


bah cair tapioka di kolam penam- sebesar 1 mg/l dan 5 mg/l.
pungan berkisar antara 63.51 – Berdasarkan hasil di atas,
31.71 mg/l sesuai dengan baku mutu maka dapat disimpulkan bahwa
limbah berdasarkan Surat Kepu- kualitas air sumur di RT 04 RW 02
tusan Menteri KLH No. 51/MEN- Desa Karadenan Kabupaten Bogor
KLH/10/1995. Nilai kesadahan dipengaruhi oleh limbah cair tapio-
ka di kolam penampungan. Hal ini

63
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

dibuktikan oleh uji korelasi yang hubungan jarak kolam dan kualitas
telah dilakukan, selain itu juga dapat air kolam terhadap kualitas air
dibuktikan dengan membandingkan sumur. Berdasarkan persamaan
kualitas air sumur tersebut dengan matematis yang dihasilkan, akan
kualitas air sumur di tempat lain dapat ditentukan variable inde-
yang jauh dari pengaruh kegiatan penden yang mempengaruhi
industri. Pada penelitian ini kualitas air sumur tersebut yang
dilakukan perbandingan terhadap dapat diprediksikan antara lain jarak
kualitas air sumur di desa Cikaret dan parameter pH, COD, Sulfida,
dan Komplek perumahan Graha dan Besi.
Indah Desa Kedung Halang Bogor.
Kualitas air sumur kedua tempat
tersebut dapat dilihat pada tabel 6. Daftar Pustaka

ARFANDY M. (1983): "Teknik


Kesimpulan Dan Perspektif Penyediaan Air Bersih Untuk
Daerah Pedesaan, Skala Prioritas
Berdasarkan penelitian yang Pemilihan Sumber Air.”.
telah dilakukan terhadap kualitas air Proceedings Kursus Penyediaan Air
sumur penduduk Desa Karadenan di Pedesaan Bandung, Lembaga
Kabupaten Bogor, diketahui bahwa Fisika Nasional. LIPI.
sebagian besar air sumur telah
tercemar oleh Sulfida (0.1 – 15.35 DEPARTEMEN KESEHATAN
mg/L), Besi (1.10 – 17.56 mg/L), RI (1990) : "Peraturan Menteri
COD (11 – 225 mg/L) serta derajat Kesehatan No.
keasaman yang rendah (4.18 – 416/BIRHUMAS/I/1990, Tentang
6.12). Buruknya kualitas air sumur Persyaratan Kualitas Air Minum".
ini disebabkan oleh limbah cair Jakarta.
tapioka yang belum dikelola dengan
baik. Hal ini dibuktikan dengan uji DRN Kel. II Sumber Daya Alam
korelasi untuk menentukan hubu- dan Energi (1994).: "Kebutuhan
ngan jarak kolam penampungan Riset dan Koordinasi Pengelolaan
terhadap kualitas air sumur, dimana Sumber Daya Air di Indonesia.".
didapatkan korelasi parameter yang Jakarta.(34-61).
dominan sebagai pencemar, yaitu
pH, COD dan BOD, Sulfida, dan LANGENEGGER O. (1994) :
Besi terhadap air sumur. Selain itu "Groundwater Quality and
dapat juga dibuktikan dengan Handpump Corrosion in West
kualitas air wilayah pembanding Africa." Wasingthon DC: UNDP –
yang kualitas air sumurnya lebih Word Bank Water and Sanitation.
baik. Besarnya pengaruh limbah (p. 141)
cair tapioka dapat diketahui dengan
cara mencari persamaan matematis

64
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65

SALIM E. (1993) : "Pembangunan Kemasyarakatan & Lingkungan,


Berwawasan Lingkungan." Pustaka Tahun I/1999, No.2
LP3S Indonesia. Jakarta, (187-198).
Teknik Analisa Cemaran Kimia
SRI LESTARI A. (1994) : "Proses dalam Air Limbah Industri (1997)
Alam dan Eksplorasi Air Tanah." : Laboratorium Spektroskopi, Water
Fakultas Teknik Sipil Universitas Quality Checker (WQC)-20A.
Parahyangan Katholik, Bandung: Puslitbang Kimia Terapan-LIPI.
(5-14). Bandung.

SUTAPA I. (1999) : "Pemantauan WIJAYA A., TRESNA S. (1991) :


Kualitas air Sumur Di Desa "Pencemaran Lingkungan." Rineka
Karadenan Kabupaten Bogor." Cipta. Jakarta, (83-116).
Jurnal Studi Pembangunan,

65