Anda di halaman 1dari 88

DOKUMEN

DOKUMEN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

(DPLH)

READYMIX
PT BETON BUDI MULYA

KELURAHAN KADIPATEN KECAMATAN BABADAN

KABUPATEN PONOROGO

2019
KATA PENGANTAR

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH)Readymix oleh PT


Beton Budi Mulya disusun sebagai komitmen untuk memenuhi peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH)ini berpedoman


pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 16 Tahun 2012
Tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup, Lampiran IV
Pedoman Pengisian formulir DPLH.

Dokumen ini menjadi acuan bagi pemrakarsa, Dinas Lingkungan


Hidup Kabupaten Ponorogo dan instansi terkait untuk melakukan upaya
pengelolaan dan pemantauan Lingkungan hidup terhadap berbagai kegiatan
yaitu dengan meminimalkan dampak negatif yang mungkin timbul dan
memperbesar dampak positif yang diharapkan timbul, sehingga keberadaan
proyek ini dapat menunjang pembangunan daerah Kabupaten Ponorogo
padaumumnya.

Akhir kata kami sampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang


telah membantu kami untuk menyusun dokumen ini.

Ponorogo, Februari 2019

Penanggung Jawab,

Machsun Rifa’i
DAFTAR ISI

Cover .................................................................................................. i
Kata Pengantar .................................................................................... ii
Daftar Isi ............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ............................................................................. 4
1.2.. Dasar Hukum ……………………………………………………… . 6
1.3. Maksud dan Tujuan Studi DPLH .................................................. 9
1.4. Manfaat Studi DPLH ................................................................... 10
BAB II URAIAN KEGIATAN
2.1.. Identitas Pemrakarsa ..................................................................... 12
2.2. Identitas Pembuat Dokumen ........................................................ 12
2.3. Gambaran Umum Kegiatan ........................................................... 12
2.4. Skala Besaran Kegiatan ............................................................... 19
2.5. Limbah yang Dihasilkan ............................................................... 24
2.6. Lalu Lintas ................................................................................... 25
2.7. Perijinan yang dimiliki ................................................................. 25
2.8. CSR .............................................................................................. 25
BAB III INFORMASI LINGKUNGAN
3.1. Rona Lingkungan ......................................................................... 26
3.2. Komponen Fisik Lingkungan ........................................................ 27
3.3. Komponen Biologi ........................................................................ 36
3.4. Komponen Sosial, Ekonomi, Budaya dan Kesehatan Masyarakat ... 37
BAB IV DAMPAK YANG DIPERKIRAKAN AKAN TIMBUL
4.1. Kegiatan Utama ............................................................................ 40
4.2. Kegiatan Pendukung ..................................................................... 41
4.3. Sarana Penunjang ......................................................................... 43
BAB V UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN
5.1. Kegiatan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan ....................... 45
5.2. Matriks Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan .............. 68
BAB VI PELAPORAN ........................................................................ 86
BAB VII PENUTUP ............................................................................ 88
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 89
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Pembangunan proyek-proyek infrastruktur terus berlangsung


menyelaraskan program-program pemerintah. Pembangunan infrastruktur
yang semakin berkembang membutuhkan layanan bahan baku konstruksi
yang cepat, akurat dan praktis. Pengusaha di bidang infrastruktur
konstruksi lebih memilih menggunakan jasa readymixkarena kemudahan
dan kepraktisan yang ditawarkan oleh readymix. Keuntungan yang
ditawarkan readymixantara lain, tidak memerlukan lokasi yang luas,
kualitas dapat terjamin dan volume pengecoran yang cukup besar dalam
waktu yang cukup cepat. Perkembangan teknologi beton di masa ini
menuntut dilakukannya usaha untuk meningkatkan kinerja beton yang
dihasilkan, hal ini tidak lepas dari tuntutan dan kebutuhan masyarakat
terhadap fasilitas infrastruktur yang semakin maju. Kebutuhan akan beton
untuk pembangunan sarana dan prasarana menunjukkan kenaikan yang
signifikan.

Permintaan akan produk beton yang semakin meningkat, telah


menimbulkan tumbuhnya beberapa perusahaan yang bergerak di bidang
readymix dan telah menimbulkan persaingan yang cukup ketat. Akibat
peningkatan daya saing ini, perusahaan-perusahaan readymix di tuntut
untuk terus melakukan perubahan baik bersifat eksternal maupun internal
perusahaan. Perubahan lingkungan eksternal meliputi tingkat persaingan
yang jauh lebih ketat, fluktuasi harga, perubahan iklim usaha, kemajuan
teknologi, perubahan permintaan pasar serta memanfaatkan berbagai
macam peluang yang ada, sedangkan faktor internal dilihat dari empat
perspektif (keuangan, pelanggan, proses pembelajaran dan pertumbuhan,
serta proses internal). Perusahaan yang tidak siap menghadapi gejolak
persaingan bisnis yang semakin ketat tentunya tidak mampu merespon
tingginya persaingan bisnis akibat perubahan lingkungan baik internal
maupun eksternal perusahaan. Untuk menjaga eksistensi perusahaan pada
ranah bisnis nasional, perusahaan dituntut memiliki perencanaan strategis
yang unggul dengan tetap memperhatikan aspek ekonomi dan ekologinya.

Perusahaan readymix adalah pabrik yang mengolah beton sesuai


dengan perencanaan campuran (mix design) yang dipesan oleh konsumen.
Konsumen dalam hal ini adalah kontraktor atau pihak perorangan yang
sedang melakukan pembangunan. Beton readymix ini biasanya digunakan
pada proyek-proyek berskala besar, namun pada saat ini, proyek-proyek
kecil pun sudah mulai beralih menggunakan beton readymix. Adapun
selain waktu produksi yang lebih singkat, mutu dari beton yang dihasilkan
pun lebih sesuai dengan mix design, hal ini terjadi karena semua proses
pencampuran dilakukan menggunakan alat. Kekurangan dari beton
readymix ini adalah dibutuhkan akses jalan yang cukup luas yang mampu
dilalui oleh mixer truck. Mixer truck adalah mobil yang mengangkut beton
readymix dari pabrik menuju lokasi proyek.

PT Beton Budi Mulia merupakan perusahaan yang bergerak dalam


bidang industri pembuatan cor beton, yang beralamatkan di Jalan Raya
Ponorogo Madiun KM 3, Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Babadan,
Kabupaten Ponorogo. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang
melakukan proses produksi sesuai dengan pesanan konsumen. Volume
barang produksi sesuai pesanan, perusahaan ini tidak menyimpan barang
jadi di gudang, jadi barang yang diproduksi dihari itu akan dikirim ke
konsumen pada hari itu juga. Ketepatan waktu produksi dan pengiriman
barang menjadihal yang sangat penting bagi perusahaan dan konsumen.
Dalam penyediaan bahan baku PT Beton Budi Mulya bekerjasama dengan
perusahaan UD. MAHAKARYA, PT. BRAMASTRA SETIA KAWAN
dan UD. DEMIGLAZ STONES.

Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2012 mensyaratkan bahwa


setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak wajib AMDAL, maka
wajib menyusun Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH).
DPLHmerupakan salah satuinstrumen untuk mewujudkan pembangunan
berkelanjutan. Isian formulir DPLH ini disusun dengan mengacu pada
ketentuan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup lampiran IV
tentang Pedoman Pengisian Formulir DPLH. Melalui penyajian isian
formulis DPLH ini, diharapkan dapat memberikan gambaran yang
komprehensif dan kondusif mengenai rencana usaha dan/atau kegiatan,
baik dari aspek kelayakan teknis, ekonomis, sosial, maupun lingkungan.

Sebagai perusahaan swasta lokal yang bergerak di bidang jasa


layanan bahan konstruksi dalam bentuk produksi beton readymix PT
Beton Budi Mulya berkomitmen untuk mengupayakan pengelolaan
lingkungan hidup di wilayah Kabupaten Ponorogo dengan melakukan
penyusunan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH). Perlunya
penyajian informasi mengenai upaya-upaya yang akan dilakukan dalam
rangka ikut memelihara, mempertahankan dan meningkatkan kelestarian
serta daya dukung lingkungan hidup demi terwujudnya pembangunan
yang berkelanjutan di wilayah Kabupaten Ponorogo.

1.2 DASAR HUKUM

Landasan hukum yang menjadi dasar penyusunan Dokumen Upaya


Pengelolaan Lingkungan Hidup kegiatan ini adalah :

A. UNDANG – UNDANG
1. Undang – Undang Dasar RI Tahun 1945 Pasal 33 ayat (3)
2. Undang - Undang RI No. 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah
3. Undang - Undang RI No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
4. Undang – Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
Pengelolaan Lingkungan Hidup
B. PERATURAN PEMERINTAH
1. Peraturan Pemerintah No.20 Tahun 1990 tentang Pengendalian
Pencemaran Air
2. Peraturan Pemerintah RI No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara
3. Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Air
4. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI No. 16 Tahun 2012
tentang Pedoman Penyusunan Isian Formulir Lingkungan Hidup
5. Perturan Pemerintah No. 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan
C. KEPUTUSAN MENTERI
1. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990
tentang Persyaratan dan Pengawasan Air Bersih
2. Kepuutusan Menteri Lingkungan Hidup No. Kep-
48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan
3. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002
tentang Standar Mutu Air Layak Minum
4. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 37 Tahun 2003 tentang
Metoda Analisis Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan Contoh
Air Permukaan
5. Keputusan Menteri Lingkungan No. 142/MENLH/2003 tentang
Perubahan Atas Kep.Men.LH No. 111 tahun 2003 tentang Pedoman
Mengenai Syarat dan Tata Cara Perijinan serta Pedoman Kajian
Pembuangan Air Limbah ke Air atau Sumber Air

D. PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR


1. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur nomor 2 tahun 2008 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air di
Propinsi Jawa Timur.

E. PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR


1. Peraturan Gubernur Jawa Timut nomor 10 tahun 2009 tentang Baku
MutuUdara Ambien dan Emisi Sumber Tidak Bergerak di Jawa
Timur.
2. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 30 tahun 2011 tentang Jenis
Usaha dan/atau Kegitan yang Wajib Dilengkapi Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup
(UPL).
3. Peraturan Gubernur Jawa Timur nomor 52 tahun 2014 tentang
Perubahan atas peraturan Gubernur Jawa Timur nomor 72 tahun 2013
tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Industri dan atau Kegiatan Usaha
Lainnya.

F. PERATURAN DAERAH KABUPATEN PONOROGO


1. Peraturan Daerah Kabupaten Ponorogo nomor 5 tahun 2011 tentang
Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat
2. Peraturan Daerah Kabupaten Ponorogo nomor 1 tahun 2012 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Ponorogo tahun 2012-2032

G. PERATURAN BUPATI KABUPATEN PONOROGO


1. Peraturan Bupati nomor 46 tahun 2015 tentang izin Lingkungan
2. Peraturan Bup ati nomor 5 tahun 2017 tentang Izin Pembuangan Air
Limbah.
3. Peraturan Bupati Nomor 6 tahun 2017 tentang Perizinan dan
Pengawasan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
serta Pemulihan Akibat Pencemaran Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun Skala Kabupaten

1.3 TUJUAN DAN KEGUNAAN DPLH

Tujuan penyusunan isian formulir Dokumen Pengelolaan Lingkungan


Hidup Readymix PT Beton Budi Mulya adalah sebagai berikut :
A. TUJUAN PENYUSUNAN DPLH :
 Tersusunnya Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH) bagi
rencana kegiatan produksi beton readymix dan operasinya guna
memenuhi persyaratan kelengkapan administrasi pendirian dan
beroperasinya usaha produksi beton readymix.
 Menyajikan gambaran mengenai rencana kegiatan dan/atau usaha
produksi beton readymix PT Beton Budi Mulya.
 Memberikan informasi dan gagasan mengenai Upaya Pengelolaan
Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan dari dampak kegiatan
dan aktivitas yang dilakukan baik pada tahap operasional usaha
produksi beton readymix PT Beton Budi Muya.
 Kepedulian pihak pemrakarsa dalam upaya menjalankan pembangunan
yang berwawasan lingkungan.
 Memberikan informasi tentang kegiatan usaha produksi beton
readymix PT Beton Budi Mulya dan memberikan informasi
kemungkinan dampak yang ditimbulkan, serta komponen lingkungan
dampak terutama tahap operasional.
 Memberikan deskripsi tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup serta
bertanggung jawab atas biaya yang harus dikeluarkan dalam
pemantauan baik secara rutin maupun insindentil dalam tahap
operasional.

B. MANFAAT PENYUSUNAN DPLH


1. Bagi Pemrakarsa Kegiatan
 Merupakan wujud komitmen pemrakarsa kegiatan dalam turut
untuk mempertahankan , mengendalikan, dan melestarikan
lingkungan hidup dari dampak kegiatan pembangunan yang
dilakukan,
 Sebagai pedoman dan rujukan dalam rangka penyelenggaraan
kegiatan pengelolaan dan pemantauan terhadap setiap potensi
dampak yang mungkin terjadi serta upaya alternatif penangannya,
 Media sosialisasi mengenai kegiatan pelayanan dan usaha produksi
beton readymix kepada khalayak.

2. Bagi Pemerintah
 Sebagai dasar pertimbangan diterbitkannya Surat Rekomendasi
DPLH dari Dinas Lingkungan Hidup atas beroperasinya usaha
produksi beton readymix
 Memahami deskripsi mengenai upaya pengelolaan lingkungan dan
upaya pemantauan lingkungan terhadap dampak yang
dimungkinkan terjadi serta upaya yang akan dijalankan dalam
pembangunan maupun beroperasinya usaha produksi beton
readymix,
 Dasar penelitian indicator kepatuhan dan kepatutan bagi pihak
dunia usaha atau industri dan pelayanan public lainnya terhadap
penerapan kebijakan pemerintah di dalam pengelolaan dan
pelestarian lingkungan hidup,
 Bahan Pembinaan dan Pengawasan terhadap pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup aktivitas beroperasinya usaha
produksi beton readymix.

3. Bagi Masyarakat
 Media sosialisasi dan meningkatkakn pemahaman terhadap
kewajiban badan usaha dalam mematuhi aspek kelayakan
lingkungan hidup dalam setiap aktivitas rencana kegiatan dan atau
usaha yang akan dilakukan,
 Menilai komitmen dan kredibilitas badan usaha terhadap penerapan
kebijakan pemerintah dalam upaya pengelolaan dan pelestarian
lingkungan hidup,
 DPLH ini menjadi salah satu instrumen tanggung jawab terhadap
dampak yang ditimbulkan dari aktivitas usaha.
BAB II
URAIAN KEGIATAN

2.1. IDENTITAS PENANGGUNGJAWAB


1. Nama Kegiatan : Readymix
2. Nama Perusahaan : PT. Beton Budi Mulya
3. Nama Penggungjawab : Machsun Rifa’i
4. Jabatan : Kepala Plant
5. Alamat Rumah : Desa Garon RT 019 RW 03 Kecamatan
Balerejo Kabupaten Madiun.
6. No. Telepon /Fax : 0822 3416 8049
7. Alamat Tempat Usaha : Jalan Raya Ponorogo – Madiun KM 3
KelurahanKadipaten, Kecamatan
Babadan, Kabupaten Ponorogo
2.2. IDENTITAS PENYUSUN DOKUMEN
1. Nama Perusahaan : CV Bakti Pertiwi
2. No. HP : 085 257 226 027
3. Email : baktipertiwi11@gmail.com
4. SIUP : 503/384/405.16/2018
5. TDP : 13.18.5.47.1240
6. Akte Notaris : No 4, 4 nopember 2016
7. NPWP : 80.570.533.2-647.000
8. Penanggung Jawab : Ike Sureni,SKM,M.Kes
9. Alamat Kantor : Perum Anggrek Garden D2 Kertosari
10. No SKA/SBU : 1.5.503.3.142.13.1149179
11. Tenaga Ahli : 1. Ike sureni SKM.M Kes ( Kesehatan)
2. Putri Nugraheni, ST ( Teknik
Lingkungan)
3. Lilis Purnama dewi, ST
(TeknikSipil)
4. Hawin Mey R.F,SKM (K3)
5. S.Wiyono,M.Si (sosial ekonomi)
2.3. GAMBARAN UMUM KEGIATAN
2.3.1 Nama Usaha dan / Atau Kegiatan
PT Beton Budi Mulya bergerak dalam jenis Readymix.PT Beton Budi
Mulya ini mempunyai maksud dan tujuan untuk melakukan usaha jasa
pembuatan beton untuk mendukung pembangunanproyek – proyek dari
pemerintah maupun swasta.Berdiri di atas lahan Bengkok Milik
Kelurahan Kadipatendengan luas 3000 m 2 . Adapun rincian lahan
sebagai berikut :
- Luas Area Terbuka dan Parkir : 240 m 2
- Luas Ruang Terbuka Hijau : 300 m 2
- Luas kantor : 36 m 2
- Ruang Istirahat : 24 m 2
- Ruang Uji Lab : 8 m2
- Gudang : 8 m2
- Kamar Mandi : 5 m2
- Dapur : 16 m 2
- Luas Tempat Usaha : 2.363 m 2
Untuk RTH belum sesuai dengan ketentuan yaitu 30% dari Luas
Lahan, maka dari itu kami rekomendasikan kepada pemrakarsa untuk
menambahkan tanaman di pot RTH minimal 30%, dari Luas Lahan.

2.3.2 Lokasi Usaha dan / Atau Kegiatan


Lokasi usaha / kegiatan PT Beton Budi Mulya adalah sebagai berikut :
- Jalan : Jalan Raya Ponorogo Madiun KM 3
- Kelurahan : Kadipaten
- Kecamatan : Babadan
- Kabupaten : Ponorogo
- Koordinat : 75º0’00.3” LS dan 111º29’13.3” BT
2.3.3 Gambar Denah, Layout, Peta Satelit dan Tata Ruang serta Peta
Pemantauan
Gambar 2.1. Denah Lokasi Rencana Usaha dan / atau kegiatan
Gambar 2.2. layout Lokasi Usaha dan / atau Kegiatan
Gambar 2.3. Peta Satelite Usaha dan / atau Kegiatan
Pola Ruang lokasi yang ditempati Readymix Beton Budi Mulya adalah kuning
sehingga bisa dipakai tempat usaha seperti tertera pada gambar 2.4.

Gambar 2.4. Peta Tata Ruang


Gambar 2.5. Peta Pemantauan Lokasi Usaha dan atau Kegiatan
2.3.4 Batas-batas Lokasi Usaha
Batas-batas lokasi PT Beton Budi Mulya di jalan Raya Madiun Ponorogo
Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, dengan
batas sebagai berikut :
- Sebelah Utara : Tanah Milik Sdr. Hendro Wibowo
- Sebelah Timur : Jalan Raya Ponorogo Madiun KM 3
- Sebelah Selatan : Tanah milik Sdr. Budi Werdoyo
- Sebelah Barat : Tanah milik Sdr. Parlan

2.4 Skala / Besaran Usaha dan / atau Kegiatan


Gambaran skala / besaran rencana usaha dan / atau kegiatan PT Beton
Budi Mulya dapat dijelaskan sebagai berikut :

2.4.1 Jenis dan Kapasitas Produksi


Jenis dan kapasitas produksi PT Beton Budi Mulya dapat dilihat dalam
tabel berikut

Tabel 2.2. Jenis Produksi dan Kapasitas Produksi

No Jenis produksi Kapasitas produksi


(M3)
1 Truk Mixer 7
2 Loader 2

Untuk Produksi Betonnya Per hari rata-rata 2000 m3.

2.4.2 Mesin dan Peralatan Perbengkelan


Macam –macam mesin dan peralatan yang disediakan pada tabel 2.3.
Tabel 2.3. Mesin dan Peralatan Perbengkelan

No Jenis Mesin dan Peralatan Jumlah


1 Mesin Batching Plant 1 set
2 Mesin Hopper 1 set
3 Mesin Sillo Semen 1 set
4 Timbangan Material 1 set
5 Timbangan Semen 1 set
6 Air 1 set
7 Timbangan addict 1 set
8 Alat Strenght 1 set

2.4.3 Penggunaan Bahan Baku


Dalam produksi bengkel karoseri, beberapa macam bahan baku yang
dipergunakan dalam volume pemakaian selama 1 bulan untuk berbagai
macam barang yang sebagai berikut :

Tabel 2.4. Penggunaan Bahan Baku

No Jenis bahan baku Volume pemakaian


dalam (1) satu bulan
1 Semen 90 ton
2 Splitz 1 x 2 2.240 Ton
3 Splitz uk 2 x 3 1400Ton
4 Pasir Tulung Agung 1400 Ton
5 Pasir Parang 1400 Ton

2.4.4 Penggunaan Air


Sumber air berasal dari sumur dalam menggunakan pompa sible
dengan kedalaman 15 meter. Dalam pekerjaan pembuatan beton,
penggunaan air diperlukan sekali untuk produksi pembuatan beton dan
untuk dipergunakan sebagai sarana kebersihan dan kebutuhan karyawan
kantor (toilet, mandi, wudhu, bersih-bersih). Perkiraan pemakaian volume
air rata-rata perhari adalah 1150 L atau 1,15m3 dan total satu bulan
34,5m3. Terlampir tabel data neraca penggunaan air dengan persepsi
jumlah karyawan 14 orang.
Tabel 2.5. Data Neraca Penggunaan Air

Penggunaan Air Kapasitas Penggunaan Diolah / Tidak


Produksi Bahan Baku 200L/hari
Toilet 30L/orang x 14 = 420 L Tidak
Bersih-bersih 50L/hari Tidak
Total pemakaian air harian rata- = 1150 L atau 1,15m3 Tidak
rata

Gambar 2.6. Skema Proses Limbah Cair Domestik

Limbah cair domestic Mandi/wudhu/bersih-bersih Saluran air kota

WC/toilet Septic tank

k2.4.5 Penggunaan Energi


Energi yang digunakan dalam produksi Readymix berasal dari PLN
dengan kapasitas terpasang 56.000 watt (56KVA).Penggunaan energi
listrik hanya dipergunakan pada jam kerja mulai jam 08.00-16.00,
selanjutnya di pergunakan kalau ada jam lembur yaitu jam 18.00 – 24.00.

2.4.6 Penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM)


Bahan Bakar Minyak di pergunakan untuk operasional Mesin Mixer
dan Operasional Mobil Loader yaitu untuk Solar 60 liter/hari x 5 Mixer =
300 Liter/hari, sedangkan Oli untuk oli perawatan mobil dan oli perawatan
mixer yaitu 20 liter/hari x 5 Mixer = 100 liter/hari.

2.4.7 Tenaga kerja


Tenaga kerja di Readymix PT Beton Budi Mulya, yaitu Kepala Plant,
administrasi, Ceker, Produksi, Operator, Driver dan Keamanan. Dan tugas
masing-masing tenaga kerja adalah sebagai berikut :
a. Kepala Plant
- Mengatur Jadwal pengecoran
- Mengkoordinasikan karyawan
- Penanggung jawab di perusahaan
b. Bagian Administrasi
- Merekap material masuk dan keluar untuk produksi Beton.
- Mambuat tagihan proyek retail.
- Mengoreksi keuangan operasional perusahaan.
c. Bagian Ceker
- Menerima material bahan baku seperti pasir, semen, splitz dan
sebagainya
d. Bagian Produksi
- Memproduksi/menjalankan mesin
e. Bagian Operator
- Mengoperasikan mesin hopper batching plant
f. Bagian Driver
- Mengoperasikan kendaraan loader untuk pengiriman beton ke
konsumen
Untuk Tenaga Kerja di PT Beton Budi Mulya ini sudah di lengkapi
dengan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan yang masing-masing
nilainya yaitu Rp. 69.300 untuk Ketenagakerjaan dan Rp. 23.000 untuk
BPJS kesehatan. Sedangkan Upah untuk masing-masing berbeda yaitu :
a. Kepala Plant : Rp. 3.500.000
b. Administrasi : Rp. 2.500.00
c. Ceker : Rp. 2.500.000
d. Produksi : Rp. 2.000.000
e. Operator : Rp. 2.000.000
f. Driver : Rp. 2.000.000
g. Keamanan : Rp. 2.000.000
Apabila lembur ada uang tambahan lembur yaitu uang makan sebesar
Rp. 25.000 dan uang lembur Rp. 4000 per/jam
Untuk Struktur Organisasi dicantumkan dalam Gambar 2. Di bawah
ini :

Kepala Plant

Administrasi

Ceker Produksi Keamanan

Kepala Plant Kepala Plant

Gambar 2. Struktur Organisasi PT Beton Budi Mulya

2.4.8 Waktu Operasi


Waktu operasi usaha dan / atau kegiatan adalah dari jam 08.00-16.00 WIB
dari Senin-Sabtu, dan jam 18.00-24.00 dihitung sebagai lembur. Hari libur
mengikuti kalender nasional pemerintah RI, dan apabila ada yang bertugas
pada hari libur dihitung lembur. Perhitungan lembur sesuai aturan yang
berlaku

2.4.9 Sistem Tanggap Darurat (Kebakaran)


Dalam menghadapi bahaya, khususnya kebakaran didalam lokasi
ReadymixPT Beton Budi mulya, maka perlu dibuatkan tanggap darurat
kebakaran. Dalam hal ini pihak perusahaan belum memasang 1 APAR.
Maka kami sebagai pihak konsultan akan merekomendasi dan membuat
sosialisasi kepada perusahaan PT Beton Budi Mulya untuk memasang
APAR(Alat Pemadam Api Ringan) di lokasi yang mudah di jangkau.

2.5 LIMBAH YANG DIHASILKAN


Kegiatan operasional juga menimbulkan limbah padat dan cair. Limbah
padat yang dihasilkan berupa limbah padat domestik. Limbah cair terdiri
dari limbah domestik dan limbah B3. Berikut ini adalah limbah yang
dihasilkan dan pengelolaannya dari kegiatan yang dilakukan :
1. Limbah sampah, terdiri dari :
Limbah sampah domestik yaitu limbah yang dihasilkan dari kegiatan
domestik karyawan yaitu dari aktivitas pekerja berupa sisa makanan,
bungkus makanan, bungkus rokok dan sampah seperti daun dan akar
tanaman serta sampah lain yang berupa limbah organik dan non-
organik. Setiap hari kurang lebih 5 kg per orang sehingga untuk 14
karyawan limbah sampah yang dihasilkan sebesar 60 kg. Sampah
dipilah antara organik dan non-organikdan dibuang melalui Tempat
Penampungan Sementara (TPS) dan tidak ada sampah yang di bakar.
2. Limbah cair yang dihasilkan berupa :
Limbah cair domestik yaitu limbah cair yang dihasilkan dari adanya
kegiatan domestik karyawan dialirkan melalui septic tank. Limbah cair
sebesar 30 L/orang untuk 14 orang maka limbah cair yng dihasilkan
420 L/hari.
3. Limbah B3 yang dihasilkan yaitu :
dari kegiatan operational truk-truk pengangkut beton yang
menghasilkan limbah B3(oli) untuk pemeliharaan mesin yang ketentuan
penyimpanannya harus kedap dan tidak boleh menyentuh lantai secara
langsung serta dalam penyimpanannya maksimal hanya 90 hari saja.
Oli yang dibutuhkan setiap bulan 20 liter.
2.6. LALU LINTAS
Perusahaan PT Beton Budi Mulya berada di Raya Ponorogo
Madiun KM 3 Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Babadan, Kabupaten
Ponorogo yang termasuk jalan protocol kota Ponorogo maka untuk
menjaga kelancaran lalu lintas sudah ada petugas yang mengatur keluar
masuk kendaraan dan akan diberi lampu lalu lintas (lampu plesing).
Untuk ketertiban kendaraan, truck dan kendaraan lain langsung masuk
dan parkir di dalam area perusahaan. BahanBaku berupa pasir, semen
dan splitz langsung di turunkan di dalam area pembuatan bahan baku
beton sehingga tidak menganggu lalu lintas.

2.7. PERIJINAN YANG DIMILIKI


Perijinan yang telah dimiliki yaitu :
a. KTP penanggungjawab atas Nama Machsun Rifa’i, NIK
3522041403850004.
b. NPWP PT Beton Budi Mulya Nomor 03.123.176.4-647.001.
c. SIUP KECIL Nomor 517/2995/11.01/PK/VI/2016 berlaku
sampai 20 Juni 2021
d. TDP Nomor 11.01.1.46.07656berlaku sampai 30 Juni 2021
e. Keputusan Menteri Hukum dan HAM No AHU-
0028532.AH.01.11 Tahun 2016 Tanggal 4 Maret 2016 tentang
Pengesahan Pendirian Badan Hukum PT Beton Budi Mulya .

2.8 CSR
CSR yang telah diberikan oleh PT Beton Budi Mulya ialah
dengan memberikan bantuan uang dan menyumbang untuk kegiatan
hari besar kenegaraan dan keagamaan, hari kemerdekaan, kegiatan
Yatim Piatu serta Pembangunan Masjid Kelurahan Kadipaten.
Menjaga hubungan baik dengan tetangga yang berbatasan dengan
tempat usaha.
BAB III
INFORMASI LINGKUNGAN

3.1. RONA LINGKUNGAN


Kajian mengenai rona lingkungan pada studi upaya pengelolaan
lingkungan Readymix didasarkan pada ruang lingkup studi. Ruang lingkup
studi DPLH ini ditentukan berdasarkan batas wilayah studi yang meliputi
batas tapak lokasi kegiatan, batas ekologis, batas sosial dan batas
administrasi serta komponen lingkungan yang diteliti.
Batas tapak lokasi kegiatan PT Beton Budi Mulya ini merupakan
luasan dan ruang kegiatan operasional pembuatan beton yang dibatasi fisik,
tertentu, sehingga tampak jelas dimana lokasi kegiatan dan yang bukan
lokasi kegiatan. Batas tapak lokasi kegiatan sesuai dengan tata letak di
Jalan Raya Ponorogo Madiun Km 3 Kelurahan Kadipaten, Kecamatan
Babadan, Kabupaten Ponorogo.

Batas ekologis adalah batas yang ditentukan berdasarkan atas skala


berlangsungnya proses alami dalam berbagai bentuknya yang diperkirakan
terkena dampak karena adanya kegiatan tersebut. Batas ekologis ditetapkan
sebagai batas studi kimia, fisik, biologi dan kesehatan lingkungan. Artinya
adanya dampak dari operasional pembuatan beton oleh PT Beton Budi
Mulya ini yang menyebar melalui media udara, air, tanah maupun biota.
Dalam hal ini batas ekologis yang ditetapkan meliputi :
 Lingkungan perairan saluran air berada di utara tempat produksi
beton.
 Lingkungan udara ambient di pemukiman penduduk radius 100 m
dari gudang dan kantorPT Beton Budi Mulya.
 Lingkungan air tanah di area tempat produksi beton PT Beton Budi
Mulyadan pemukiman penduduk kelurahan Kadipaten.
 Jaringan transportasi di kantor PT Beton Budi mulya di jalan raya
Ponorogo – Madiun Km 3 Kadipaten Ponorogo.
Batas sosial adalah batas suatu wilayah yang diperkirakan terkena
dampak dari kegiatan tersebut. Batasnya ditentukan sesuai dengan posisi
tempat tinggal warga yang terkena dampak sosial dari kegiatan produksi
beton PT Beton Budi Mulya seperti rumah penduduk, toko di sekitar lokasi
dan fasilitas umum lainnya.

Batas administrasi studi adalah suatu wilayah yang ditentukan


berdasarkan wilayah administratif yang secara hukum mempunyai
kewenangan di daerah tersebut dan sekitarnya. Batas administrasi
ditetapkan meliputi daerah kelurahan Kadipaten. Batas wilayah studi
merupakan kesatuan dari beberapa batas tapak lokasi kegiatan, ekologis,
sosial dan administrasi yang dalam penentuannya disesuaikan dengan
kemampuan sumber data, tenaga, waktu, teknik, metoda dan pendanaan.

3,2, KOMPONEN FISIK LINGKUNGAN


3.2.1. Iklim
Kabupaten Ponorogo merupakan wilayah yang memiliki tipe iklim
tropis dengan dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim
kemarau terjadi pada bulan Juli sampai dengan Oktober. Sedangkan musim
hujan terjadi pada bulan Nopember sampai bulan Juni. Angka curah hujan
paling kecil pada bulan Juni sedangkan curah hujan paling tinggi pada bulan
Desember.
Berikut ini tabel curah hujan di kabupaten Ponorogo dan di
kecamatan Babadan.
Tabel 3.1. Curah Hujan di Kabupaten Ponorogo tahun 2017

Nama Lokasi BULAN

No Stasiun Hujan Jan Feb mrt Apr mei Ju jul ags spt okt nov des
n

1 Ponorogo 10 13 9 7 0 1 1 - 2 1 11 7
(Ponorogo)

2 Babadan 10 15 10 9 3 5 1 - 2 2 11 6
(Babadan)

3 Jenangan 7 14 11 10 3 3 0 - 2 1 14 7

(Bollu)

4. Pulung 8 14 10 17 3 2 1 1 2 1 17 6
(kesugihan)

5. Ngebel 5 11 3 13 2 0 0 1 2 4 23 10
(Ngebel)

6. Ngebel 9 23 12 20 7 3 0 1 3 6 22 10
(Talun)

7. Pulung 8 14 9 13 2 - 1 - 3 1 18 7
(pulung)

8. Pudak 11 16 9 14 3 0 3 2 2 6 10 9
(Pudak)

9. Sooko 8 13 8 12 3 1 1 0 3 4 14 5
(Sooko)

10. Purwantoro/S 8 12 4 8 2 4 1 - 2 1 10 5
umorobangun

11. Jambon 10 8 5 6 1 2 0 - 2 2 8 4
(Sungkur)

12. Badegan 9 14 5 9 1 4 1 - 2 1 11 5
(Badegan)

13. Kauman 8 9 7 6 1 4 1 - 2 1 10 6
(Sumoroto)

14. Sampung 18 12 6 11 2 3 1 - 1 1 9 5
(Pohijo)

15. Slahung 9 13 5 7 1 2 0 - 3 0 13 7
(Slahung)

16. Balong 11 13 6 9 1 1 1 0 3 0 11 7
(Balong)

17. Slahung 10 12 4 6 1 1 1 - 3 0 13 6
(Ngilo ilo)

18. Ngrayun 13 12 11 12 0 1 0 - 2 0 13 6
(Ngrayun)

19. Sawoo 9 14 8 9 0 - 1 0 3 0 9 10
(Sawoo)

20. Sambit 11 12 10 10 0 0 0 - 2 0 11 12
(WIlangan)

21. Kori 9 10 5 9 0 0 0 - 3 0 7 10

22. Sewatu 9 11 8 10 0 1 0 0 2 0 8 7

Sumber : Bid.Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Kab.Ponorogo

Dari tabel 3.1. Diketahui bahwa di Stasiun Hujan Ponorogo tertinggi curah
hujan pada bulan februari (13) dan terendah Mei (0)

Banyaknya curah hujan di Kecamatan Babadan tahun 2017 tertera pada


tabel 3.2.
Tabel 3.2. Banyaknya Curah Hujan dan Jumlah Hari Hujan th 201 7

No Bulan Jumlah Curah Jumlah Hari Hujan


Hujan (mm) (Hari)

1. Januari 310 15

2. Februari 422 20

3.. Maret 314 14

4. April 284 15

5. Mei 100 6

6. Juni 146 7

7 Juli 40 4

8. Agustus - -

9 September 50 5

10 Oktober 50 7

11. Nopember 329 19

12. Desember 82 18

Sumber : Kecamatan Babadan Dalam Angka tahun 2017

Dari tabel 3.2. diketahui bahwa jumlah curah hujan tertin ggi pada bulan
Februari yaitu 422 mm dan jumlah hujan 20 hari.

3.2.2. Kualitas Air

Kualitas air dalam hal ini adalah kualitas air bersih yang berada di sekitar
PT Beton Budi Mulya. Kondisi kualitas air di dapat dari pengambilan
sampel pada lokasi dan sekitarnya. Sampling kualitas air dilakukan pada
tanggal 8 Juni 2018 oleh petugas dari Laboratorium Mitra Lab Surabaya..
Pengambilan sampel air bersih dilakukan pada air sumur dangkal. Hasil uji
laboratorium tertera pada tabel terlampir dan hasilnya menunjukkan bahwa
hasil analisa air semua parameter telah memenuhi baku mutu PERMENKES
RI No.415/MENKES/PER/IX/1990.
3.2.3. Kualitas Udara dan Kebisingan
1) Kualitas Udara
Pencemaran udara diartikan sebagai hadirnya kontaminan di
ruang terbuka dengan konsentrasi dan waktu tertentu sehingga
mengakibatkan gangguan atau berpotensi merugikan kesehatan/
kehidupan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan atau benda-
benda serta mempengaruhi kenyamanan, Bahan pencemar
teremisikan ke udara dari setiap sumber yang ada dan
terdistribusikan ke dalam atmosfer melalui suatu proses
dispersi, difusi, transformasi kimia, dan pengenceran yang amat
kompleks, Disamping itu akibat pergerakan dan dinamika
atmosfer, bahan pencemar akan berpindah dari titik asal
sumbernya ke daerah kawasan lain sesuai dengan arah dan
kecepatan angin dominan. Pencemaran udara dapat terjadi dari
berbagai sumber baik sumber bergerak maupun tidak bergerak,
Berbagai kegiatan dalam pembangunan perlu untuk diketahui
apakah kegiatan tersebut memberikan kontribusi terhadap
penurunan kualitas udara. Daerah ambien merupakan daerah
tempat tinggal penduduk (pemukiman) dimana diperkirakan
seseorang mengalami keterpaan terhadap zat pencemar yang
berlangsung selama 24 jam, sehingga konsentrasi zat pencemar
udara harus sekecil mungkin dan memenuhi baku mutu udara
yang dipersyaratkan.

Parameter yang dianalisis disesuaikan dengan parameter


kualitas udara ambien nasional berdasarkan Peraturan
Pemerintah No, 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara yaitu Sulfur Dioksida (S02), Karbon
Monoksida (CO), Timbul (Pb), dan Debu (TSP), Hasil analisis
kualitas udara dapat dilihat pada Tabel 3.3.
Tabel 3.3. Hasil Pengukuran Kualitas Udara di Lokasi

Lokasi
Baku
No. Parameter Satuan Area Tapak
Mutu
Proyek

1. SO2 (Sulfur Dioksida) µg/Nm3 12,8 900

2. NO2 (Nitrogen Dioksida) µg/Nm3 21,9 400

3. CO (Karbon Monoksida) µg/Nm3 3500 30.000

4. TSP (Debu) µg/Nm3 0,063 230

Analisis parameter gas polutan dan debu udara ambien:

a. Sulfur dioksida (SO2)


Senyawa sulfur dioksida (S0 2 ) adalah hasil buangan
kendaraan bermotor, Senyawa tersebut dapat menyebabkan
rasa pedih mata manusia, Gas sulfur oksida (SO 2 ) berbau
sangat tajam dan tidak mudah terbakar, Dalam hal
pembakaran bahan bakar akan menghasilkan gas SO 2 lebih
banyak dari pada gas SO 3 . Konsentrasi gas SO 2 yang
terdispersi ke lingkungan berkadar rendah, namun bila
waktu kontak terhariap lingkungan seperti tanaman akan
menyebabkan kerusakan pada kadar 940 µg/Nm 3 , pada
manusia akan menyebabkan gangguan pada sistem
pernapasan, pada bangunan akan rusak karena sifatnya
yang korosif, Kelembaban udara akan mempengaruhi
kecepatan perubahan SO 2 menjadi asam sulfat dan asam
sulfit yang akan berkumpul bersama awan yang akhirnya
jatuh sebagai hujan asam, Hasil analisis konsentrasi SO 2 di
sekitar lokasi proyek sebesar 12,8 µg/Nm 3 , Nilai tersebut di
bawah ambang batas yang diperkenankan berdasarkan
Peraturan Pemerintah No, 41 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara, yaitu 900 µg/Nm 3 .

b. Nitrogen Oksida (NO 2 )


Adanya konsentrasi gas Nitrogen Dioksida di udara selain
disebabkan dari asap kendaraan bermotor/transportasi juga
dari proses pembakaran sampah, arang kayu dan
pembakaran gas alam, Konsentrasi NO 2 di udara dalam
suatu tempat bervariasi sepanjang hari tergantung dari sinar
matahari dan mobilitas kendaraan dan aktivitas
penduduknya, Dari perhitungan kecepatan emisi NO2
diketahui bahwa waktu tinggal rata-rata NO 2 diatmosfer
kira- kira adalah 3 hari, sedangkan waktu tinggal NO
adalah 4 hari, dan gas ini bersifat akumulasi di udara yang
bila bercampur dengan air akan menyebabkan terjadinya
hujan asam.
Rona awal gas NO 2 yang terdapat pada lokasi wilayah studi
konsentrasinya 21,9 µg/Nm 3 , Nilai ini masih dalam batas
normal relatif aman karena lebih kecil dari nilai baku mutu
400 µg/Nm 3 , Konsentrasi NO 2 yang tinggi dapat
menyebabkan gangguan kesehatan khususnya pada organ
paru-paru manusia, dan disfungsi proses fotosintesis pada
daun tanaman.
c. Karbon Monoksida (CO)
Senyawa karbon monoksida adalah senyawa yang sangat
beracun dan umumnya berasal dari knalpot mesin
kendaraan, Senyawa itu dapat mengikat Hb darah menjadi
Hb-CO, sehingga kandungan Hb darah pembawa oksigen
yang diperlukan tubuh menjadi berkurang, Hasil analisis
pengukuran konsentrasi CO di sekitar lokasi adalah
berkisar 3500 µg/,Nm 3 , Nilai tersebut menujukkan kisaran
di bawah ambang baku mutu maksimum yang
diperbolehkan (30.000 µgMm).

d. Debu (TSP)
Kegiatan pengangkutan akan berpotensi menimbulkan
penyebaran debu oleh hempasan lajunya kendaraan angkut
material, Debu yang tersebar akan berdampak pada
penduduk pengguna jalan dan penduduk yang bermukim di
sekitar tepi jalan, Sebaran debu akan berdampak lanjut pada
kesehatan masyarakat terutama gangguan saluran
pernafasan,

Konsentrasi debu di udara pada lokasi sekitar kegiatan


berkisar antara 0,063 µg/Nm 3 , Konsentrasi partikel debu
tersebut masih tergolong normal berdasarkan standar
maksimum baku mutu lingkungan yakni 230 µg/Nm 3 .

2) Kebisingan
Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau
kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan
lingkungan, Suara bising tidak dikehendaki karena mengganggu
pembicaraan, kenyamanan dan dapat merusak pendengaran,
Jadi kebisingan merupakan bentuk suara yang merugikan
manusia dan lingkungan, termasuk ternak, satwa liar dan sistem
alam, Kebisingan yang disebabkan oleh suara buatan
merupakan pengganggu bagi manusia, khususnya aspek
kognitif, Kebisingan merupakan salah satu pencemar yang
berasal dari penerapan teknologi, Semua peralatan kerja yang
digunakan manusia mempunyai potensi untuk menimbulkan
kebisingan, Kebisingan dapat berpengaruh pada trauma
akuistik, kenaikan ambang pendengaran menetap serta
mengganggu memory jangka pendek, perasaan, pembicaraan,
dan gangguan tidur, Suara bising yang secara fisik maupun
psikologis membahayakan adalah intensitas di atas 85 dBA,
Data pengukuran tingkat kebisingan pada berbagai tempat dan
waktu selanjutnya ditabulasi untuk menentukan tingkat
kebisingan pada berbagai tempat di lokasi. Hasil tabulasi ini
dibandingkan dengan kriteria ambien bising untuk mengetahui
sejauh mana tingkat kebisingan di lokasi-lokasi pengukuran
tersebut, Peningkatan kebisingan yang dipantau dengan
mengacu pada tolok ukur kebisingan berdasarkan Kepmen LH
No 48/1996 seperti disajikan pada tabel berikut:
Tabel 3.4..Tolok Ukur Kebisingan
Peruntukan Kawasan / Tingkat
No.
Lingkungan Kegiatan kebisingan (dBA)
1. Perumahan dan Pemukiman 55
2. Ruang Terbuka Hijau 50
3. Industri 70
4. Pemerintahan dan Fasilitas Umum 60

Cara pengukuran kebisingan dengan menggunakan alat Sound


Level Meter. perhitungan dan evaluasi tingkat kebisingan
berpedoman pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup No. Kep-48/MENLH/1111996 tentang Baku Tingkat
Kebisingan. Hasil pengukuran tingkat kebisingan pada lokasi
kegiatan berkisar pada 54,2 dBA sehingga masih diambang
batas normal.
3.3. KOMPONEN BIOLOGI
Dalam kegiatan operasional PT Beton Budi Mulya untuk menjaga kondisi
lingkungan di lokasi telah melakukan pengelolaan seperti penanaman pohon
di area lokasi. Secara umum lokasi PT Beton Budi Mulya merupakan daerah
yang berada di jalur utama kota Ponorogo. Dengan kondisi tersebut maka
keanekaragaman flora dan fauna di sekitar tapak kegiatan kurang beragam.
3.3.1. Flora
Lokasi kegiatan PT Beton Budi Mulya berada di daerah yang cukup padat
dan ramai. Keberadaan flora atau tanaman makro yang berada di lokasi dan
sekitarnya dapatdilihat pada tabel 3.5.
Tabel 3.5. Data Inventarisasi Flora

No Nama Flora Nama Latin Famili Keterangan


1. Ketela Pohon Manihot esculenta Manihot Sedikit
2. Bayam Amaranthus gangeticus - Sedikit
Sumber : Pengamatan secara langsung

Jenis-jenis flora yang dijumpai pada lokasi berdasarkan Peraturan


Pemerintah RI no 7 tahun 1999 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang
dilindungi tidak ditemukan jenis tanaman yang berstatus dilindungi atau
langka.

3.3.2. Fauna

Fauna merupakan salah satu komponen penting dalam rona awal dan perlu
diinformasikan adalah dari golongan aves (burung). Habitat fauna di sekitar
lokasi PT Beton Budi Mulya sangat terbatas. Hal ini dikarenakan fauna
yang mempunyai interaksi kuat dengan lokasi sebagai habitat maupun
mencari nutrisi sangat terbatas. Burung-burung yang ditemukan di sekitar
lokasi merupakan satwa liar. Jenis burung yang terlihat di sekitar lokas i
adalah burung gereja. Data inventarisasi fauna dapat dilihat pada tabel 3.6.
Tabel 3.6. Data Inventarisasi Fauna
No Nama fauna Nama Latin
1. Burung Gereja Passer Montanus
2. Semut Monomurium Minimum
3. Kupu-Kupu Microptherix
4. Lalat Musa Domestika
5. Nyamuk Culex sp
6. Capung Aeshna sp
7. Tikus Ratus-Ratus
Sumber : Pengamatan secara langsung

Jenis-jenis fauna yang dijumpai pada lokasi kegiatan apabila dilihat


berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No 7 tahun 1999 tentang jenis
tumbuhan dan satwa yang dilindungi tidak ditemukan jenis satwa yang
berstatus dilindungi atau langka.

3.4. KOMPONEN SOSIAL, EKONOMI, BUDAYA DAN KESEHATAN


MASYARAKAT
Berdasarkan data monografi Kelurahan Kadipaten Kecamatan Babadan
Kabupaten Ponorogo berikut ini akan disajikan keadaan sosial ekonomi,
budaya dan kesehatan masyarakat di sekitar lokasi PT Beton Budi Mulya.
Jumlah penduduk tahun 2017 sebesar 7.297 jiwa dengan jumlah laki-laki
3.644 jiwa dan perempuan 3.653 Jiwa.
Tabel 3.7.Jenis Pekerjaan Penduduk Kelurahan Kadipaten Th2017
No Jenis Pekerjaan Jumlah
1 Pertanian 2.892
2 Pertambangan 15
3 Industri 369
4 Konstruksi 95
5 Perdagangan 99
6 Jasa 446
7 Transportasi 200
Jumlah 4.116
Sumber : Kecamatan Ponorogo dalam Angka th 2018.

Dari tabel 3.7. diketahui bahwa sebagian besar penduduk bekerja sebagai
petani.
Tabel 3.8. Komposisi Pemeluk Agama Kelurahan Kadipaten Th 2017
No Agama Jumlah
1 Islam 7.289
2 Kristen 3
3 Katolik 5
4 Hindu -
5 Budha -
6 Lainnya -
Jumlah 7.297
Sumber : Kecamatan Ponorogo dalam Angka tahun 2018.
Dari tabel 3.8 diketahui bahwa sebagian besar penduduk beragama Islam.
Tabel 3.9. Sarana Ibadah Kelurahan Kadipaten Th.2017
No Sarana Ibadah Jumlah
1 Masjid 7
2 Musholla 13
3 Gereja -
4 Kuil -
5 Pura -
6 Sanggar Aliran Kepercayaan -
Jumlah 20
Sumber : Kecamatan Ponorogo dalam Angka tahun 2018.

Dari tabel 3.9 diketahui bahwa mushola sebanyak 13 dan masjid 7 buah.

Tabel 3.10. Sarana Kesehatan Kelurahan Kadipaten Th 2017


No Sarana Kesehatan Jumlah
1 Rumah Sakit -
2 Puskesmas -
3 Puskesmas Pembantu 1
4 Balai Pengobatan -
5 Praktek Dokter Swasta -
6 Praktek Bidan Swasta 2
7 Polindes 1
8 Posyandu 4
Jumlah 8
Sumber : Kecamatan Ponorogo dalam Angka tahun 2018

Dari tabel 3.10 diketahui bahwa posyandu ada 4, praktek bidan swasta ada 2
serta Puskesmas pembantu 1 dan polindes 1 buah
BAB IV
DAMPAK YANG DIPERKIRAKAN AKAN TIMBUL

Dampak yang dapat timbul terhadap komponen lingkungan fisik, kimia,


biologis dan sosial ekonomi budaya berasal dari kegiatan Operasional baik dari
kegiatan utama, kegiatan pendukung maupun kegiatan sarana penunjang serta
kegiatan pasca operasional. Identifikasi dampak yang timbul terhadap lingkungan
dilakukan dengan menggunakan metode matrik interaksi dampak dan bagan alir
dampak sehingga bisa dilakukan pengkajian yang lebih terarah dan
komprehensifseperti tertera pada tabel 4.1.
Tabel 4.1. Kegiatan Operasional PT Beton Budi Mulya yang berpotensi menjadi
sumber Dampak terhadap Komponen Lingkungan.
KOMPONEN LINGKUNGAN KOMPONEN KEGIATAN
1 2 3 4 5 6 7 8
1. Komponen Fisik Kimia
Penurunan kualitas udara X X X
Peningkatan kebisingan X X X X
Penurunan kualitas air permukaan X
Penurunan kualitas air tanah X
Penurunan kualitas tanah X X X
Timbunan sampah X X X
Bahaya Kebakaran X X
Gangguan lalu lintas/Kemacetan X X
2.Komponen Sosial, Ekonomi,
budaya dan kesehatan masyarakat
Tingkat Kecelakaan Kerja dan X X X X
Penurunan Kesehatan Pekerja
Persepsi Masyarakat X X X X
Tingkat Pendapatan Masyarakat X X
Keterangan :
1 = Kegiatan Readymix
2 = Kegiatan Rekrutmen Tenaga Kerja
3 = Kegiatan Mobilisasi Kendaraan Pengangkut Bahan Material Bangunan dan
Kendaraan karyawan.
4 = Kegiatan domestik karyawan
5 = Kegiatan administrasi perkantoran
6 = Kegiatan perbengkelan
7 = Penggunaan Energi
8 = Penggunaan Bahan Bakar dan Pelumas
Adapun penjelasan dari kegiatan yang dilaksanakan yang akan menimbulkan
dampak sebagai berikut :
4.1. Kegiatan Utama
Kegiatan Readymix.
a) Penurunan Kualitas Udara
 Sumber dampak : Kegiatan Readymix
 Jenis dampak : Adanya penurunan kualitas udara ambient
 Tolak Ukur dampak : Tidak melebihi ambang batas zat-zat di udara.
b) Peningkatan Intensitas Kebisingan
 Sumber dampak : Kegiatan Readymix
 Jenis dampak : Adanya peningktan tingkat kebisingan
 Tolak Ukur dampak : Tidak melebih kebisingan ambang batas yaitu 55
dB di pemukiman dan 70 dB di tempat industri.
c) Bahaya Kebakaran
 Sumber dampak : Kegiatan Readymix
 Jenis dampak : Adanya bahaya kebakaran
 Tolak ukur dampak : Tidak pernah terjadi kebakaran.
d) Tingkat Kecelakaan Kerja dan Penurunan Tingkat Kesehatan Pekerja
 Sumber dampak : Kegiatan Readymix
 Jenis dampak : Adanya kecelakaan kerja dan angka kesakitan
pekerja
 Tolak ukur dampak : Kasus kecelakaan kerja di lokasi kerja
e) Persepsi Masyarakat
 Sumber dampak : Kegiatan Readymix
 Jenis dampak : Adanya persepsi masyarakat sekitar lokasi
kegiatan
 Tolak ukur dampak : Adanya keluhan/aduan dari masyarakat sekitar
Lokasi
f) Tingkat Pendapatan Masyarakat
 Sumber dampak : Kegiatan Readymix
 Jenis dampak : Adanya peningkatan pendapatan masyarakat
 Tolak ukur dampak : Peningkatan tenaga kerja yang berasal dari
masyarakat sekitar.

4.2. Kegiatan Pendukung


Kegiatan Rekrutmen Tenaga Kerja
a). Peningkatan Kebisingan
 Sumber dampak : Kegiatan rekrutmen tenaga kerja
 Jenis dampak : Adanya peningkatan tingkat kebisingan
 Tolak ukur dampak : Tidak melebih kebisingan ambang batas yaitu 55
dB di pemukiman dan 70 dB di tempat industri.
b). Timbunan Sampah
 Sumber dampak : Kegiatan rekrutmen tenaga kerja
 Jenis dampak : Adanya timbunan sampah
 Tolak ukur dampak : Tidak adanya sampah di lokasi.
c). Gangguan Lalu Lintas/Kemacetan
 Sumber dampak : Kegiatan rekrutmen tenaga kerja
 Jenis dampak : Adanya peningkatan kepadatan lalu lintas
 Tolak ukur dampak : Tidak adanya kecelakaan lalu lintas.
d). Tingkat Kecelakaan Kerja dan Penurunan Tingkat Kesehatan Pekerja
 Sumber dampak : Kegiatan rekrutmen tenaga kerja
 Jenis dampak : Adanya kecelakaan kerja dan angka kesakitan
pekerja
 Tolak ukur dampak : Tidak adanya Kasus kecelakaan kerja di lokasi.
e). Persepsi Masyarakat
 Sumber dampak : Kegiatan rekrutemen tenaga kerja
 Jenis dampak : Adanya persepsi masyarakat sekitar lokasi
kegiatan
 Tolak ukur dampak : Adanya keluhan/aduan masyarakat sekitar lokasi.
f). Tingkat Pendapatan Masyarakat
 Sumber dampak : Kegiatan rekrutmen tenaga kerja
 Jenis dampak : Adanya peningkatan pendapatan masyarakat
 Tolak ukur dampak : Peningkatan tenaga kerja yang berasal dari
masyarakat sekitar.

Kegiatan Mobilisasi Kendaraan Pengangkut Beton dan Kendaraan Karyawan


a). Penurunan Kualitas Udara Ambien
 Sumber dampak : Kegiatan Mobilisasi Kendaraan Pengangkut bahan
Material bangunan serta Kendaraan Karyawan
 Jenis dampak : Adanya penurunan kualitas udara ambient
 Tolak Ukur dampak : Kualitas Udara Ambien masih dalam batas normal
b). Peningkatan Kebisingan
 Sumber dampak : Kegiatan Mobilisasi Kendaraan Pengangkut bahan
Material bangunan dan Kendaraan Karyawan
 Jenis dampak : Adanya peningkatan tingkat kebisingan
 Tolak ukur dampak : Tidak melebih kebisingan ambang batas yaitu 55
dB di pemukiman dan 70 dB di tempat industri.
c). Timbunan sampah
 Sumber dampak : Kegiatan Mobilisasi Kendaraan Pengangkut bahan
Material bangunan dan Kendaraan Karyawan
 Jenis dampak : Adanya timbunan sampah
 Tolak ukur dampak : Sampah dikelola dengan baik.
d). Gangguan Lalu Lintas/Kemacetan
 Sumber dampak : Kegiatan Mobilisasi Kendaraan Pengangkut bahan
Material bangunan dan Kendaraan Karyawan
 Jenis dampak : Adanya peningkatan kepadatan lalu lintas
 Tolak ukur dampak : Tidak adanya kecelakaan lalu lintas.
e). Tingkat Kecelakaan Kerja dan Penurunan Tingkat Kesehatan Pekerja
 Sumber dampak : Kegiatan Mobilisasi Kendaraan Pengangkut bahan
Material bangunan serta Kendaraan Karyawan
 Jenis dampak : Adanya kecelakaan kerja dan angka kesakitan
pekerja
 Tolak ukur dampak : Tidak adanya Kasus kecelakaan kerja di lokasi.
f). Persepsi Masyarakat
 Sumber dampak : Kegiatan Mobilisasi Kendaraan Pengangkut bahan
Material bangunan dan Kendaraan Karyawan
 Jenis dampak : Persepsi masyarakat di sekitar lokasi kerja
 Tolak ukur dampak : Adanya keluhan/aduan dari masyarakat sekitar
lokasi kegiatan.

Kegiatan Domestik Karyawan


a). Timbunan Sampah
 Sumber dampak : Kegiatan domestik karyawan
 Jenis dampak : Adanya timbunan sampah
 Tolak ukur dampak : Sampah dikelola dengan baik.

Kegiatan Administrasi Perkantoran


a). Timbunan Sampah
 Sumber dampak : Kegiatan domestik karyawan
 Jenis dampak : Adanya timbunan sampah
 Tolak ukur dampak : Sampah dikelola dengan baik.
4.3. Sarana Penunjang
Penggunaan Energi
a). Bahaya Kebakaran
 Sumber dampak : kegiatan penggunaan energy berupa kegiatan
penggunaan Peralatan listrik
 Jenis dampak : Adanya bahaya kebakaran
 Tolak ukur dampak : Tidak adanya kasus kebakaran.

Penggunaan Bahan Bakar dan Premium


a). Timbunan Limbah B3
 Sumber dampak : Kegiatan penggunaan bahan bakar dan premium
 Jenis dampak : Adanya timbunan laimbah B3
 Tolak ukur dampak : Adanya TPS B3 di tempat kerja
BAB V
UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN

1. Penurunan Kualitas Udara Ambien


A. Sumber Dampak
Sumber dampak kegiatan proses operasional
B. Jenis Dampak
Jenis dampak yang terjadi adalah penurunan kualitas udara
ambien dan udara emisi di lokasi kegiatan
C. Tolok Ukur Dampak
Kualitas udara ambien masih dalam ambang batas normal.
D. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bentuk pengelolaan :
Upaya untuk melindungi tenaga kerja terhadap timbulnya
risiko-risiko bahaya akibat pemaparan faktor bahaya fisika
dan kimia, sekaligus meningkatkan derajat kesehatan kerja di
tempat kerja sebagai bagian dari pemenuhan sistem
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang telah
dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Menanam vegetasi yang berdaun rindang untuk
mengabsorpsi debu yang dihasilkan oleh kegiatan.
2. Melakukan penghijaun di area lokasi kegiatan
3. Pengaturan kendaraan yang keluar masuk lokasi
kegiatan.
4. Penggunaan masker pada pekerja yang langsung kontak
dengan bagian produksi
5. Penyiraman lokasi kegiatan terutama pada musim
kemarau
6. Penutupan kendaraan pengangkut material dengan terpal
yang tertutup rapat
Lokasi pengelolaan :
Lokasi pengelolaan lingkungan dilakukan di area produksi
Periode pengelolaan :
Dilakukan setiap hari kerja selama tahap operasional.
Tindakan darurat bila sistem tidak berfungsi :
E. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
Bentuk pemantauan :
- Memantau keberadaan tanaman pengabsorpsi debu.
- Mendokumentasikan kegiatan pemantauan (dengan
foto/media audiovisual/media audiovisual).
Lokasi pemantauan :
Lokasi pemantauan lingkungan dilakukan di area produksi
Periode pemantauan :
Waktu pelaksanaan pemantauan gas dan debu dilakukan
setiap enam (6) bulan selama tahap operasional dan
pendokumentasian kegiatan pengelolaan dilakukan setiap
bulan.
F. Institusi Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
Hidup
1. Instansi pelaksana yaitu PT Beton Budi Mulya selaku
pemrakarsa
2. Instansi pengawas yaitu Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
Kabupaten Ponorogo
3. Instansi penerima laporan yaitu Dinas Lingkungan Hidup
(DLH) Kabupaten Ponorogo.

2. Peningkatan Intensitas Kebisingan


A. Sumber Dampak
Sumber dampak berasal dari kegiatan operasional.
B. Jenis Dampak
Jenis dampak yang terjadi yaitu peningkatan intensitas
kebisingan
C. Tolok Ukur Dampak
Tolak ukur untuk pengelolaan kebisingan di lingkungan
tempat usaha, yaitu baku mutu kebisingan di lingkungan
pabrik adalah 70 dBA sedangkan di lingkungan pemukiman
yaitu 55 dBA.
D. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bentuk pengelolaan :
1. Melakukan pemeliharaan terhadap kendaraan dan mesin
produksi
2. Melakukan penambahan berbagai jenis tumbuhan yang
mempunyai tajuk yang tebal dan berdaun rindang dengan
berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi untuk
mengurangi kebisingan.
3. Menutup area dengan membangun tembok atau seng
dengan tinggi minimal 3 meter untuk meminimalisir
kebisingan.
Tindakan darurat : -
Lokasi pengelolaan :
Pengelolaan dilakukan di jalan lingkungan, tempat parkir,
area produksi, dan ruang terbuka hijau.
Periode pengelolaan :
Waktu pengelolaan dilaksanakan satu kali untuk kegiatan
penanaman dan setiap hari untuk pemeliharaan operasional
produksi
E. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup:
Bentuk pemantauan :
1. Pengukuran langsung (insitu) terhadap intensitas
kebisingan di lingkungan (site) dengan menggunakan
alat Sound Level Meter
2. Memantau secara, visual terhadap kegiatan penanaman
berbagai jenis tumbuhan yang mempunyai tajuk yang
tebal dan berdaun rindang.
3. Memantau terhadap pemeliharaan kendaraan.
4. Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan
foto/media audiovisual).
Lokasi pemantauan :
Lokasi pemantauan dilakukan di lingkungan usaha milik PT.
Beton Budi Mulya
Periode pemantauan :
Waktu pelaksanaan dilakukan seliap hari selama tahap
operasional dan pendokumentasian kegiatan pengelolaan
setiap bulan sedangkan pengukuran kebisingan dilaksanakan
setiap enam (6) hulan sekali.
F. Institusi Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
Hidup
1. Instansi pelaksana yaitu PT Beton Budi Mulya selaku
permrakarsa dan laboratorium yang terakreditasi.
2. Instansi pengawas yaitu Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
Kabupaten Ponorogo.
3. Instansi penerima laporan yaitu Dinas Lingkungan Hidup
(DLH) Kabupaten Ponorogo.

3. Penurunan Kualitas Air Permukaan


A. Sumber Dampak
Sumber dampak dari penurunan kualitas air permukaan dari
kegiatan domestik karyawan, kegiatan pemeliharaan mesin,
dan penggunaan bahan bakar dan pelumas
B. Jenis Dampak
Jenis dampak yang terjadi yaitu penurunan kualitas air
permukaan.
C. Tolok Ukur Dampak
Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air permukaan.
D. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bentuk pengelolaan :
1. Menyalurkan air limbah dari toilet (black water) ke
dalam tangki septik dengan sistem rembesan sesuai SNI
03-2398-2002 yaitu suatu ruangan kedap air/beberapa
kompartemenya berfungsi menampung dan mengolah air
limbah domestik dengan kecepatan alir lambat sehingga
memberi kesempatan untuk terjadi pengendapan
terhadap suspensi benda-benda padat dan penguraian
bahan organik oleh jasad anaerobik membentuk bahan
larut air dan gas.
2. Memiliki saluran drainase untuk pembuangan air hujan
yang terintegrasi dengan saluran di sekitarnya.
3. Penempatan pelumas yang digunakan dalam tempat yang
kedap air dan dalam bangunan. khusus penyimpanan
limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
Lokasi pengelolaan :
Lokasi pengelolaan lingkungan dilakukan di sumber air
limbah domestik (toilet), tangki septik dan saluran
pembuangan, TPS limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
(B3).
Waktu pelaksanaan :
Pemeliharaan dilakukan setiap hari selama tahap operasional.
Tindakan darurat bila sistem tidak berfungsi : -
E. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
Bentuk pemantauan :
1. Memantau kelayakan fungsi tangki septik
2. Memantau keberadaan pelumas dalam tempatnya apakah
terjadi kebocoran tidak
3. Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan
foto/media audiovisual).
Lokasi pemantauan :
Lokasi pemantauan lingkungan dilakukan di saluran air
limbah domestik dan badan air penerima.
Periode pelaksanaan :
Waktu pelaksanaan dilakukan setiap hari selama tahap
operasional, sampling kualitas air bersih dilakukan setiap 6
bulan dan pendokumentasian kegiatan pengelolaan setiap 6
bulan.
F. Institusi Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
Hidup
1. Instansi pelaksana yaitu PT Beton Budi Mulya selaku
pemrakarsa
2. Instansi pengawas yaitu Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
Kabupaten Ponorogo
3. Instansi penerima laporan yaitu Dinas Lingkungan Hidup
(DLH) Kabupaten Ponorogo

4. Penurunan Kualitas Air Tanah


A. Sumber Dampak
Sumber dampak dari penurunan kualitas air tanah dari
kegiatan domestik karyawan serta penggunaan bahan bakar
dan pelumas.
B. Jenis Dampak
Jenis dampak yang terjadi yaitu penurunan kualitas air tanah.
C. Tolok Ukur Dampak
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air
dengan pengawasan Kualitas Air.
D. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bentuk pengelolaan :
1. Menyalurkan air limbah dari toilet (black water) ke
dalam tangki septik dengan sistem rembesan sesuai SNI
03-2398-2002 yaitu suatu ruangan kedap air beberapa
kompartemennya berfungsi menampung dan mengolah
air limbah domestik dengan kecepatan alir lambat
sehingga memberi kesempatan untuk terjadi
pengendapan terhadap suspensi benda-benda padat dan
penguraian bahan organik oleh jasad anaerobik
membentuk bahan larut air dan gas.
2. Penempatan pelumas yang digunakan dalam tempat yang
kedap air dan dalam bangunan khusus penyimpanan
limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
3. Melakukan pengecekan secara berkala terhadap
penyimpanan pelumas agar tidak terjadi kebocoran
4. Membuatan sumur resapan
Lokasi pengelolaan :
Lokasi pengelolaan lingkungan dilakukan di sumber air
limbah domestik (toilet), tangki septik dan saluran
pembuangan, area penyimpanan limbah Bahan Berbahaya
dan Beracun (B3) dan bengkel tempat reparasi mesin.
Waktu pelaksanaan :
Pemeliharaan dilakukan setiap hari selama tahap operasional.
Tindakan darurat bila sistem tidak berfungsi : -
E. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
Bentuk pemantauan :
1. Memantau kelayakan fungsi septic tank
2. Memantau keberadaan pelumas dalam tempatnya apakah
terjadi kebocoran/tidak
3. Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan foto
media audio visual).
Lokasi pemantauan :
Lokasi pemantauan lingkungan dilakukan di saluran air
limbah domestik dan badan air penerima.
Periode pelaksanaan :
Waktu pelaksanaan dilakukan setiap hari selama tahap
operasional. Sampling kualitas air bersih dilakukan setiap 6
bulan dan pendokumentasian kegiatan pengelolaan setiap
bulan.
F. Institusi Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
Hidup
1. Instansi pelaksana yaitu PT Beton Budi Mulya.
2. Instansi pengawas yaitu Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
Kabupaten Ponorogo.
3. Instansi laporan yaitu Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
Kabupaten Ponorogo

5. Penurunan Kualitas Tanah


A. Sumber Dampak
Sumber dampak dari kegiatan operasional produksi
B. Jenis Dampak
Jenis dampak yang terjadi yaitu penurunan kualitas tanah
C. Tolok Ukur Dampak
Pengukuran Kriteria Baku Kerusakan Tanah Untuk Produksi
Biomassa
D. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bentuk pengelolaan :
1. Menyalurkan air limbah dari toilet (black water) ke
dalam tangki septik dengan sistem rembesan sesuai SNI
03-2398-2002 vaitu suatu ruangan kedap air/beberapa
kompartemenya berfungsi menampung dan mengolah air
limbah dornestik dengan kecepatan alir lambat sehingga
memberi kesempatan untuk terjadi pengendapan
terhadap suspensi benda-benda padat dan penguraian
bahan organik oleh jasad anaerobik membentuk bahan
larut air dan gas.
2. Penempatan pelumas yang digunakan dalam tempat yang
kedap air dan dalam bangunan khusus penyimpanan
limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
3. Melakukan pengecekan secara berkala terhadap
penyimpanan pelumas agar tidak terjadi kebocoran
Lokasi pengelolaan :
Lokasi pengelolaan lingkungan dilakukan di sumber air
limbah domestil: (toilet), tangki septik dan saluran
pembuangan, area penyimpanan limbah Bahan Berbahaya
dan Beracun (B3)
Waktu pelaksanaan :
Pemeliharaan dilakukan setiap hari selama tahap operasional.
Tindakan darurat bila sistem tidak berfungsi :
1. Gerakan cepat tanggap terhadap limbah yang tidak
berhasil ditampung dengan penggunaan penanggulangan
limbah seadanya saat dilokasi kegiatan
2. Menampung limbah ke tempat khusus yang sudah
disediakan disekitar areal usaha.
E. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
Bentuk pemantauan :
1. Memantau keberadaan pelumas dalam tempatnya apakah
terjadi kebocoran tidak.
2. Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan
foto/media audiovisual).
Lokasi pemantauan :
Lokasi pemantauali lingkungan dilakukan di saluran air
limbah domestik dan badan air penerima.
Periode pelaksanaan :
Waktu pelaksanaan dilakukan setiap hari selama tahap
operasional. samplingkualitas air bersih dilakukan setiap 6
bulan dan pendokumentasian kegiatan pengelolaan setiap
bulan.
F. Institusi Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
Hidup
1. Instansi pelaksana yaitu PT Beton Budi Mulya selaku
pemrakarsa.
2. Instansi pengawas yaitu Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
Kabupaten Ponorogo.
3. lnstansi penerirtia laporan yaitu Dinas Lingkungan
Hidup (DLH) Kabupaten Ponorogo.

6. Timbulan Sampah
A. Sumber Dampak
Sumber dampak berasal dari kegiatan operasional.
B. Jenis Dampak
Dampak yang ditimbulkan yaitu peningkatan volume sampah
terutama di area kantor.
C. Tolok Ukur Dampak
Pengelolaan Sampah yang baik sesuai aturan.
D. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bentuk pengelolaan
1. Menyediakan bak-bak sampah yang memadai di lokasi
kegiatan
2. Memasang rambu larangan untuk membuang sampah
sembarangan
3. Membersihkan area kegiatan secara berkala terutama
area mess
4. Pemilahan sampah organik dan non organik
5. Pembuangan sampah di TPS sekitarnya setiap hari
Tindakan darurat :-
Lokasi pengelolaan :
Pengelolaan dilakukan di area yang tercecer sampah
Periode pengelolaan :
Waktu pengelolaan dilaksanakan setiap hari
E. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
Bentuk pemantauan :
1. Memantau terhadap timbulan sampah.
2. Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan
foto/media audiovisual).
Lokasi pemantauan :
Lokasi pemantauan dilakukan di lingkungan usaha milik PT
Beton Budi Mulya
Periode pemantauan :
Waktu pelaksanaan dilakukan setiap hari selama tahap
konstruksi dan operasional
F. Institusi pengelolaan dan Pemantauan lingkungan hidup
1. Instansi pelaksana yaitu PT Beton Budi Mulya selaku
pemrakarsa.
2. lnstansi pengawas yaitu Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
Kabupaten Ponorogo.
3. Instansi penerima laporan yaitu Dinas Lingkungan Hidup
(DLH) Kabupaten Ponorogo.

7. Timbulan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)


A. Sumber Dampak
Berasal dari kegiatan operasional produksi
B. Jenis Dampak
Jenis dampak yang terjadi yaitu pencemaran limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun (B3 )
C. Tolok Ukur Dampak
Pengeloaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
D. Rencana Yengelolaan Lingkungan Hidup
Bentuk pengelolaan :
Pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
yang dilakukan adalah :
1. Mencatat limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
yang dihasilkan dan menyimpan di TPS B3.
2. Mengemas limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3 )
sesuai dengan jenisnya dalam kemasan khusus yang
diberi simbol dan label.
3. Memberikan daftar simbol-simbol bahan berbahaya dan
beracun pada tembok di tempat penampungan sementara
limbah, menambahkan Standar Operasional Prosedur
(SOP) penanganan limbah, Alat Pelindung Diri (APD),
Alat Pemadam Apt Ringan (APAR) dan kotak
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).
Lokasi pengeiolaan :
Pengelolaan di lakukan pada tempat penampungan sementara
limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
Periode pelaksanaan :
Waktu pelaksanaan dilakukan setiap hari selama tahap
operasi selama timbulnya limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun (B3).
E. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
Bentuk pemantauan :
1. Memantau kegiatan pengelolaan limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun (B3) (pencatatan, pengemasan.
pelabelan, penyimpanan sementara).
2. Memantau volume dan lama penyimpanan limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun (B3).
3. Memantau kegiatan pengangkutan limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun (B3) dan dokumen Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) (manifest).
4. Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan
foto/media audiovisual).
Lokasi pemantauan :
Lokasi pemantauan lingkungan di Tempat Penampungan
Sementara (TPS) limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
(B3).
Periode pelaksanaan :
Waktu pelaksanaan dilakukan setiap timbulnva limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) untuk kegiatan
pengelolaan, setiap tiga bulan untuk kegiatan penyimpanan
F. Institusi Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
Hidup
l. Instansi pelaksana yaitu PT Beton Budi Mulya selaku
pemrakarsa.
2. Instansi pengawas yaitu Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
Kabupaten Ponorogo.
3. Instansi penerima laporan yaitu Dinas Lingkungan Hidup
(DLH) Kabupaten ponorogo.

8. Bahaya Kebakaran
A. Sumber Dampak
Sumber dampak dari kegiatan operasional.
B. Jenis Dampak
Jenis dampak yang terjadi yaitu peningkatan resiko bahava
kebakaran.
C. Tolok Ukur Dampak
Tolak ukur peningkatan resiko kebakaran (tidak adanya
kasus kebakaran)
D. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bentuk pengelolaan :
1. Melakukan pelatihan pencegahan dan penangulangan
kebakaran, sekurang-kurangnya satu kali dalam satu
tahun yang meliputi materi antara lain :
- Pengetahuan dan penggunaan alat pemadam api
ringan;
- Pengetahuan dan penggunaan sistem hydrant;
- Evakuasi penghuni dan penyelamatan;
- Fire safety management;
- Rencana operasi dan protap pemadaman kebakaran
2. Menyediakan akses pernadam kebakaran untuk
memudahkan kendaraan pemadam api menuju lokasi.
3. Pemasangan rambu dilarang merokok
4. Melengkapi sarana penyelamatan jiwa dan sistem
proteksi kebakaran, antara lain
1) Sarana penyelamat jiwa berupa :
- Sarana jalan keluar;
- Pencahayaan darurat tanda jalan keluar;
- Petunjuk arah jalan keluar;
- Komunikasi darurat;
- Pengendali asap;
- Tempat berhimpun sementara, dan
- Tempat evakuasi.
2) Sistem proteksi kebakaran berupa :
- Alat pemadam api ringan
- Sistem deteksi dan alarm kebakaran dan
penunjuk arah darurat
Lokasi pengelolaan :
Pengelolaan dilakukan pada bangunan, sarana penyelamat
jiwa, sistem proteksi kebakaran (termasuk pompa
kebakaran), dan bak penampungan air hujan.
Periode pengelolaan :
Pelaksanaan pengelolaan dilakukan setiap hari selama tahap
operasional Tindakan darurat bila sistem tidak berfungsi :
- Segera mengevakuasi karyawan melalui jalur evakuasi
yang telah disediakan dan berkumpul pada area aman
kebakaran (assembly point).
- Melakukan upaya awal pemadaman kebakaran dengan
sumber air yang ada di sekitar lokasi.
- Segera menghubungi Pemadam Kebakaran
E. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
Bentuk pemantauan :
1. Memantau kegiatan pelatihan dan penanggulangan
kebakaran
2. Memantau kelayakan fungsi sarana penyelamat jiwa
(sarana jalan keluar pencahayaan darurat tanda jalan
keluar, komunikasi darurat, pengendali asap, tempat
berhimpun sementara, dan tempat evakuasi).
3. Memantau kelancaran akses untuk pemadam kebakaran.
4. Memantau kelayakan fungsi sistem proteksi kebakaran
(alat pemadam api ringan, sistem deteksi dan alarm
kebakaran, hydrant halaman, petunjuk arah (darurat).
5. Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan
foto/media audiovisual).
Lokasi pemantauan :
Lokasi pengelolaan lingkungan dilakukan di lingkungan
usaha milik PT Beton Budi Mulya.
Periode pemantauan :
Waktu pelaksanaan dilakukan setiap hari selama tahap
operasional dan pendokumentasian kegiatan pengelolaan
setiap bulan.
F. Institusi Pengelolaan Dan Pemantauan Lingkungan
Hidup
1. Instansi pelaksana yaitu PT Beton Budi Mulya selaku
pemrakarsa.
2. Instansi pengawas yaitu Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
Kabupaten Ponorogo
3. Instansi penerima laporan yaitu Dinas Lingkungan Hidup
(DLH) Kabupaten Ponorogo

9. Gangguan Lalu Lintas/Kemacetan


A. Sumber Dampak
Sumber dampak dari kegiatan operasional
B. Jenis Dampak
Jenis dampak yang terjadi yaitu terjadinya gangguan lalu
lintas, kemacetan pada ruas jalan utama yaitu Jalan
Ponoorogo Madiun KM 3 dan sekitarnya.
C. Tolok Ukur Dampak
Tidak adanya kasus kecelakaan lalu lintas.
D. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bentuk pengelolaan :
1. Pengaturan lalu lintas pada saat masuk dan pulang kerja
yang dilakukan oleh satpam internal
2. Memasang rambu peringatan hati- hati dan lampu
plesing
3. Pemasangan papan nama perusahaan yang jelas di depan
pintu masuk
4. Memasang lampu penerangan yang cukup
5. Kegiatan pengangkutan material disesuaikan dengan
tonase dan kelas jalan yang dilalui
Tindakan darurat :
Melakukan pengaturan langsung di lapangan.
Lokasi pengelolaan :
Pengelolaan dilakukan pada akses jalan masuk menuju area
usaha milik PT Beton Budi Mulya.
Periode pengelolaan :
Pemasangan rambu lalu lintas dan kelengkapannya dilakukan
satu kali dan pemeliharaannya dilakukan setiap hari selama
tahap operasional.
E. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
Bentuk pemantauan :
 Memantau kegiatan pengaturan lalu lintas yang
mengendalikan kendaraan keluar-masuk.
 Memastikan kelancaran di ruas jalan umum.
 Memantau kelayakan fungsi rambu-rambu lalu lintas
• Mendokumentasikan kegiatan pengelolaan (dengan
foto/media audiovisual).
Lokasi pemantauan :
Lokasi pemantauan lingkungan dilakukan di akses jalan
keluar masuk lokasi kegiatan
Periode pemantauan :
Waktu pelaksanaan dilakukan setiap hari selama tahap
operasional dan pendokumentasian kegiatan pengelolaan
setiap bulan
F. Institusi Pengelolaan dan Pemantauan Lingkangan
Hidup
l. Instansi pelaksana yaitu PT Beton Budi Mulya selaku
pemrakarsa.
2. Instansi pengawas yaitu Dinas Lingkungan Hidup DLH
Kabupaten Ponorogo dan Dinas Perhubungan (Dishub).
3. Instansi penerima laporan yaitu Dinas Lingkungan Hidup
(DLH) Kabupaten Ponorogo dan Dinas Perhubungan
(Dishub)
10. Kecelakaan Kerja dan Penurunan Kesehatan Pekerja
A. Sumber Dampak
Sumber dampak dari kegiatan operasional produksi
B. Jenis Dampak
Dampak yang ditimbulkan yaitu berupa peningkatan
kecelakaan kerja dan penurunan kesehatan pekerja
C. Tolok Ukur Dampak
Tidak adanya kecelakaan kerja dan tingkat kesakitan pekerja.
D. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bentuk pengelolaan :
 Menerapkan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3) terhadap tenaga kerja.
 Mewajibkan fasilitas Asuransi Kesehatan Kerja,
bekerjasama dengan Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan regional setempat untuk
karyawan Yang bekerja.
 Penyedian kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
(P3K)
 Melengkapi karyawan dengan Alat Pelindung Diri
(APD) seperti : masker, helm, earplug,sepatu boot,
sarung tangan.
 Pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan Standar
Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku
Lokasi pengelolaaan :
Lokasi pengelolaan iingkungan dilakukan di area
perusahaan.
Periode pelaksanaan :
Periode pelaksanaan penerapan sistem Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) yaitu setiap hari pada jam oprasional.
E. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
Bentuk pemantauan :
1. Memantau penerapan sistetn Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) terhadap karyawan.
2. Memantau kesehatan seluruh tenaga kerja yang
bekerjasama dengan Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Regional setempat.
Lokasi pemantauan :
Lokasi pemantauan lingkungan dilakukan di area usaha.
Waktu pelaksanaan :
Waktu pelaksanaan dilakukan setiap bulan selama tahap
operasional.
F. Institusi Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
Hidup
1. Instansi pelaksana yaitu PT Beton Budi Mulya selaku
pemrakarsa.
2. Instansi pengawas yaitu Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
Kabupaten Ponorogo dan Dinas Tenaga Kerja Kab.
Ponorogo.
3. Instansi penerima laporan yaitu Dinas Lingkungan Hidup
(DLH ) Kabupaten Ponorogo dan Dinas Tenaga Kerja
Kab. Ponorogo.

11. Persepsi Masyarakat


A. Sumber Dampak
Sumber dampak dari kegiatan operasional
B. Jenis Dampak
Dampak yang ditimbulkan yaitu berupa timbulnya persepsi
masyarakat
C. Tolok Ukur Dampak
Adanya keluhan dari masyarakat sekitar lokasi kegiatan
usaha.
D. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bentuk pengelolaan :
 Koordinasi dengan desa setempat dalam perekrutan
tenaga kerja
 Melaksanakan dan menjaga keamanan dan ketertiban
masyarakat sekitar lokasi
 Membina hubungan yang harmonis berkomunikasi aktif
dengan pemerintah desa setempat
 Melaksanakan kegiatan rekrutmen secara transparan dan
terbuka
• Melakukan Coorporate Social Responsibility (CSR) bina
lingkungan (memberikan fasilitas kebutuhan warga
sesuai dengan kemampuan dan anggaran dari
perusahaan)
Lokasi pengelolaaan :
Lokasi pengelolaan lingkungan dilakukan di area usaha.
Periode pelaksanaan:
Periode pelaksanaan yaitu setiap hari.
E. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
Bentuk pemantauan :
Memantau hubungan antara pemrakarsa dan masyarakat desa
Lokasi pemantauan :
Lokasi pemantauan lingkungan dilakukan di kelurahan
Kadipaten.
Waktu pelaksanaan :
Waktu pelaksanaan dilakukan setiap bulan selama tahap
operasional.
F. Institusi Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
Hidup
1. Instansi pelaksana yaitu Usaha milik PT Beton Budi
Mulya selaku pemrakarsa.
2. Instansi pengawas yaitu Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
Kabupaten Ponorogo.
3. Instansi penerima laporan yaitu Dinas Lingkungan Hidup
(DLH) Kabupaten Ponorogo.

12. Tingkat Pendapatan Masyarakat


A. Sumber Dampak
Sumber dampak berasal dari kegiatan penggunaan tenaga
kerja sejumlah 14 orang
B. Jenis Dampak
Jenis dampak yang terjadi yaitu terbukanya lapangan
pekerjaan bagi penduduk setempat sehingga dapat
meningkatkan pendapatan
C. Tolok Ukur Dampak
Peningkatan pendapatan masyarakat sekitar lokasi.
D. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bentuk pengelolaan :
 Memprioritaskan penduduk setempat sebagai tenaga
kerja, sesuai dengan keahlian dan kualifikasi pekerjaan
yang dibutuhkan.
 Gaji karyawan disesuaikan dengan Upah Minimum
Kabupaten (UMK)
 Melaksanakan wajib lapor ketenagakerjaan melalui dinas
terkait
 Mengikut sertakan pekerja dalam Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan
Tindakan darurat : -
Lokasi pengelolaan :
Lokasi pengelolaan lingkungan dilakukan di kantor milik PT
Beton Budi Mulya.
Periode pengelolaan :
Waktu pengelolaan dilakukan setiap kegiatan perekrutan
tenaga kerja.
E. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
Bentuk pemantauan :
Memantau jumlah penduduk setempat yang bekerja di
perusahaan PT Beton Budi Mulya.
Lokasi pemantauan :
Lokasi pemantauan lingkungan dilakukan di kantor milik PT
Beton Budi Mulya.
Waktu pelaksanaan :
Waktu pelaksanaan yaitu dilakukan setiap tahun untuk
fluktuasi jumlah tenaga kerja.
F. Institusi Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
Hidup
1. Instansi pelaksana yaitu PT Beton Budi Mulya selaku
pemrakarsa.
2. Instansi pengawas yaita Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
Kabupaten Ponorogo dan Dinas Tenaga Kerja Kab.
Ponorogo.
3. Instansi penerima laporan yaitu Dinas Lingkungan Hidup
(DLH) Kabupaten Ponorogo dan Dinas Tenaga Kerja
Kab. Ponorogo.
SUMBER JENIS BESARAN UPAYA PENGELOLAAN UPAYA PEMANTAUAN INSTANSI KET.
DAMPAK DAMPAK DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP PENGELOLA
BENTUK LOKASI PERIODE BENTUK LOKASI PERIODE DAN
PEMANTAUAN
A. TAHAP OPERASIONAL (KONSTRUKSI)
Pembersiha Limbah Adanya  Membuat Di dalam Selama  Mengawasi Di dalam Selama a. Pelaksana : Dampak
Lahan padat tumpukan- tempat lokasi kegiatan dan lokasi kegiatan PT Beton Budi terjadi pada
tumpukan pembuangan kegiatan konstruksi memonitoring kegiatan konstruksi Mulya saat kegiatan
material sisa sementara bangunan pembuatan bangunan b.Pengawas : konstruksi
dari (TPS) serobong DLH Kab.
bangunan  Mengumpulka kerja Ponorogo
yang n dan  Mengosongka c. Penerima Laporan
dibongkar membuang n TPS apabila DLH Kab.
dan potongan- sudah penuh Ponorogo
tumpukan potongan kayu dengan
kayu dengan dan sampah di membuangny
perkiraan tempat a ke tempat
jumlahnya pembuangan pembuangan
sebesar sementara akhir (TPA)
±60kg (TPS)
Pembangunan Limbah Adanya  Membuat Di dalam Selama  Mengawasi Di dalam Selama a. Pelaksana : Dampak
Base Camp padat tumpukan- tempat lokasi kegiatan dan lokasi kegiatan PT Beton Budi terjadi pada
tumpukan pembuangan kegiatan konstruksi memonitoring kegiatan konstruksi Mulya saat kegiatan
material sisa sementara bangunan pembuatan bangunan b.Pengawas : konstruksi
dari (TPS) serobong DLH Kab.
bangunan  Mengumpulka kerja Ponorogo
yang n dan  Mengosongka c. Penerima Laporan
dibongkar membuang n TPS apabila DLH Kab.
dan potongan- sudah penuh Ponorogo
tumpukan potongan kayu dengan
kayu dengan dan sampah di membuangny
perkiraan tempat a ke tempat
jumlahnya pembuangan pembuangan
sebesar sementara akhir (TPA)
±25kg (TPS)
SUMBER JENIS BESARAN UPAYA PENGELOLAAN UPAYA PEMANTAUAN INSTANSI KET.
DAMPAK DAMPAK DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP PENGELOLA
BENTUK LOKASI PERIODE BENTUK LOKASI PERIODE DAN
PEMANTAUAN
Instalasi Kecelakaan Terjadinya  Menerapkan Di dalam Selama  Melakukan Di dalam Selama a. Pelaksana : Dampak
Batching Plant kerja kecelakaan SOP K3 lokasi kegiatan inspeksi lokasi kegiatan PT Beton Budi terjadi pada
kerja pada sehingga kegiatan instalasi kepada kegiatan instalasi Mulya saat kegiatan
saat instalasi kecelakaan seluruh tenaga b.Pengawas : konstruksi
batching plant kerja dapat kerja sebelum DLH Kab.
diminimalkan mulai Ponorogo
dan dapat beraktifitas c. Penerima Laporan
dikurangi terhadap DLH Kab.
 Melakukan atribut Ponorogo
pertolongan keselamatan
pertama pada kerja
tenaga kerja  Menyiapkan
yang tenaga medis
mengalami apabila ada
kecelakaan kejadian yang
saat bekerja bersifat
darurat

Limbah Terdapatnya  Membersihkan Di dalam Selama  Memantau Lokasi Selama a. Pelaksana : Dampak
padat limbah padat limbah padat Lokasi kegiatan dan mencatat kegiatan kegiatan PT Beton Budi terjadi pada
sisa-sisa seperti kegiatan instalasi limbah padat instalasi Mulya saat kegiatan
penggunaan potongan yang b.Pengawas : konstruksi
material yang kayu, dihasilkan DLH Kab.
berserakan di tumpahan selama Ponorogo
sekitar semen, dll kegiatan c. Penerima Laporan
pembangunan yang pembangunan DLH Kab.
sejumlah ± 30 berserakan sarana dan Ponorogo
kg/minggu  Membuat prasarana
Tempat  Mengidentifik
Pembuangan asi limbah
Sementara padat yang
(TPS) yang dihasilkan
akan diangkut apakah
ke Tempat termasuk
Pembuangan golongan
Akhir (TPA) limbah B3
SUMBER JENIS BESARAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN UPAYA PEMANTAUAN INSTANSI KET.
DAMPAK DAMPAK DAMPAK HIDUP LINGKUNGAN HIDUP PENGELOLA
BENTUK LOKASI PERIODE BENTUK LOKASI PERIODE DAN
PEMANTAUAN
Limbah Terdapatnya  Melaksanakan Lokasi Selama Melakukan Lokasi Selama a. Pelaksana : Dampak terjadi
domestik sampah- sistem drainase kegiatan kegiatan pemantauan kegiatan kegiatan PT Beton Budi pada saat
(limbah sampah hasil dan sanitasi instalasi terhadap instalasi Mulya kegiatan
padat dan kebutuhan lingkungan saluran b.Pengawas : konstruksi
cair) yang tenaga kerja dengan baik drainase, unit DLH Kab.
dikategorika konstruksi  Membuat unit pengolahan Ponorogo
n termasuk pengolahan limbah dan c. Penerima Laporan
kedalam limbah sebelum bak-bak DLH Kab.
limbah B3 membuang sampah Ponorogo
kesungai.
 Membuat bak bak
penampungan
sampah sementara
B. TAHAP PASCA KONSTRUKSI
Demobilisasi Lalu lintas Tingkat  Melakukan Akses jalan Selama  Melakukan Akses jalan Selama a. Pelaksana : Dampak
Peralatan kelancaran permohonan ijin masuk dan kegiatan pengamatan masuk dan kegiatan PT Beton Budi terjadi pada
lalu lintas demobilisasi alat keluar demobilisasi frekuensi dan keluar demobilisasi Mulya saat
darat pada kepada instansi lokasi peralatan jenis sarana lokasi peralatan b.Pengawas : demobilisasi
jalan umum yang berwenang. pembangun berlangsung lalu lintas pembangun berlangsung DLH Kab. peralatan
yang dilalui  Dalam kegiatan an darat pada an dengan Ponorogo
untuk demobilisasi harus jalan umum. frekuensi Dishub Kab
mobilisasi di dampingi pihak Pengamatan pemantauan Ponorogo
peralatan dan Kepolisian dilakukan 1 (satu) kali c. Penerima Laporan
persimpangan  Melakukan pada saat DLH Kab.
jalan kegiatan dilakukan Ponorogo
demobilisasi demobilisasi pada kegiatan
dengan jalan saat frekuensi lalu demobilisasi
umum lintas rendah peralatan
 Melakukan  Data yang
pengaturankecepat diperoleh
an dicatat dalam
kendaraanpengang bentuk tabel
kut,maksimal 30 (tabulasi data)
km/jam terutama dan dilakukan
jika analisakompa
melintasipemukim rasi
an padat
pendududuk
SUMBER JENIS BESARAN UPAYA PENGELOLAAN UPAYA PEMANTAUAN INSTANSI KET.
DAMPAK DAMPAK DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP PENGELOLA
BENTUK LOKASI PERIODE BENTUK LOKASI PERIODE DAN
PEMANTAUAN
Pemutusan Kesempatan Jumlah - Melakukan Tenaga Pada saat  Melakukan Tenaga Pada saat a. Pelaksana : Dampak
Hubungan kerja karyawan sosialisasi kerja yang proses pencatatan kerja yang proses PT Beton Budi terjadi pada
Kerja yang di PHK terhadap dilakukan pemutusan secara dilakukan pemutusan Mulya saat pasca
tenaga kerja pemutusan hubungan langsung pemutusan hubungan b.Pengawas : konstruksi
bahwa akan hubungan kerja mengenai hubungan kerja DLH Kab.
ada kegiatan kerja berlangsung jumlah tenaga kerja berlangsung Ponorogo
pemutusan kerja yang di dengan Dins Teng Kerj
hubungan PHK pada saat frekuensi Kab. Ponorogo
kerja. pelaksanaan pemantauan c. Penerima Laporan
- Memberikan kegiatan 1 (satu) kali DLH Kab.
pengertian rasionalisasi Ponorogo
dan tenaga kerja Dins Tenga Kerja
pemberitahu (PHK) Kab. Ponorogo
an kepada  Melihat
karyawan prosentase
atau pekerja terjadi
secara lebih kenaikan
dini, tingkat
sehingga pengangguran
member (penduduk
peluang bagi angkatan kerja
mereka yang belum
untuk bekerja) akibat
mencari banyaknya
lowongan karyawan/pek
pekerjaan di erja yang
perusahaan terkena
lain yang kegiatan
masih atau rasionalisasi
akan tenaga kerja
beroperasi. (PHK) dengan
- Melakukan sebelum
kegiatan adanya
pemutusan kegiatan
hubungan rasionalisasi
kerja secara tenaga kerja
bertahap. (PHK).
- Melakukan
pemutusan
hubungan
kerja denga
mengacu
pada
peraturan
perundang-
undangan
yang berlaku
SUMBER JENIS BESARAN UPAYA PENGELOLAAN UPAYA PEMANTAUAN INSTANSI KET.
DAMPAK DAMPAK DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP PENGELOLA
BENTUK LOKASI PERIODE BENTUK LOKASI PERIODE DAN
PEMANTAUAN
C. TAHAP OPERASIONAL
Mobilisasi Kesempatan Akan  Berkoordinas  Lingkunga Selama  Memonitorin Lingkungan Selama a. Pelaksana : Dampak
Bahan Baku kerja memerlukan i dengan n Industri operasional g jumlah Industri operasional PT Beton Budi terjadi pada
Industri tenaga kerja Disnaker Beton Industri tenaga kerja Beton Industri Mulya saat mobilisasi
harian dalam untuk  Kelurahan Beton di Beton b.Pengawas : bahan baku
hal ini buruh memberikan Kadipaten lingkungan DLH Kab. industri
angkut yang informasi Industri Ponorogo berlangsung
bekerja lowongan Beton c. Penerima Laporan
untuk pekerjaan.  Mengawasi DLH Kab.
aktivitas  Berkoordinas dan Ponorogo.
bongkar i dengan mengamati
muat bahan Lurah munculnya
baku dari dan Babadan calo dan
ke lokasi Bhakti dalam tindakan
industri informasi pencurian
penerimaan
tenaga kerja
 Pembayaran
upah
disesuaikan
dengan Upah
Minimum
Provinsi
(UMP)
 Mengacu
kepada UU RI
No 13 tahun
2003 tentang
Ketenagakerja
a
 Melarang
mempekerjaka
n anak
dibawah umur
SUMBER JENIS BESARAN UPAYA PENGELOLAAN UPAYA PEMANTAUAN INSTANSI KET.
DAMPAK DAMPAK DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP LINGKUNGAN HIDUP PENGELOLA
BENTUK LOKASI PERIODE BENTUK LOKASI PERIODE DAN
PEMANTAUAN
Gangguan Tingkat  Melakukan Akses jalan Selama  Melakukan Akses jalan Selama a. Pelaksana : Dampak
lalu Lintas kelancaran permohonan masuk dan kegiatan pengamatan masuk dan kegiatan PT Beton Budi terjadi pada
lalu lintas ijin keluar mobilisasi frekuensi dan keluar mobilisasi Mulya saat mobilisasi
darat pada demobilisasi lokasi bahan baku jenis sarana lokasi bahan baku b.Pengawas : bahan baku
jalan umum alat kepada pembangun peralatan lalu lintas pembangun berlangsung DLH Kab. industri
persimpanga instansi yang an berlangsung darat pada an dengan Ponorogo berlangsung
n jalan berwenang. jalan umum. frekuensi c. Penerima Laporan
mobilisasi  Dalam Pengamatan pemantauan DLH Kab.
dengan jalan kegiatan dilakukan 1 (satu) kali Ponorogo
umum demobilisasi pada saat
harus dilakukan
dilakukan kegiatan
pengawalan demobilisasi
oleh pihak peralatan.
Kepolisian.  Data yang
 Melakukan diperoleh
kegiatan dicatat dalam
demobilisasi bentuk tabel
pada saat (tabulasi data)
frekuensi lalu dan dilakukan
lintas rendah analisa
 Melakukan komparasi
pengaturan
kecepatan
kendaraan
pengangkut,
maksimal 30
km/jam
terutama jika
melintasi
pemukiman
padat
SUMBER JENIS BESARAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN UPAYA PEMANTAUAN INSTANSI KET.
DAMPAK DAMPAK DAMPAK HIDUP LINGKUNGAN HIDUP PENGELOLA
BENTUK LOKASI PERIODE BENTUK LOKASI PERIODE DAN
PEMANTAUAN
Tingkat Masyarakat  Melakukan Masyarakat Selama  Melakukan Masyarakat Selama a. Pelaksana : Dampak
kesehatan di sekitar pengelolaan Kelurahan kegiatan pengamatan Kelurahan kegiatan PT. Beton Budi terjadi pada
masyarakat lokasi terhadap Kadipaten mobilisasi terhadap Kadipaten mobilisasi Mulya saat mobilisasi
kegiatan dampak kualitas bahan baku pelaksanaan bahan baku b.Pengawas : bahan baku
dan sekitar udara ambien peralatan pengelolaan peralatan DLH Kab. industri
jalan yang dan kebisingan berlangsung dampak berlangsung Ponorogo berlangsung
dilalui  Bekerja sama terhadap dengan Dinkes Kab.
kendaraan dengan usaha kualitas udara frekuensi Ponorogo
pengangkut dan/atau ambien dan pemantauan c. Penerima Laporan
bahan baku kegiatan lain kebisingan 1 (satu) kali DLH Kab.
sekitar lokasi yang telah Ponorogo
serta Puskesmas dilaksanakan Dinkes Kab.
Palaran untuk  Melakukan Ponorogo
melakukan wawancara
pengamatan dengan
tingkat masyarakat,
kesehatan sekitar
masyarakat  Data yang
 Melakukan diperoleh,
penyiraman kemudian
jalan yang diolah secara
dilalui tabulasi dan
kendaraan dianalisis
pengangkut secara
bahan baku deskriptif
kuantitatif.
Pengoperasian Kecelakaan Terjadinya  Menerapkan Di dalam Selama  Melakukan Di dalam Selama a. Pelaksana : Dampak
Pabrik kerja kecelakaan SOP K3 lokasi operasional inspeksi kepada lokasi operasional PT Beton Budi terjadi pada
kerja pada sehingga kegiatan pabrik seluruh tenaga kegiatan pabrik Mulya operasional
saat kecelakaan kerja kerja sebelum b.Pengawas : pabrik
pembangunan dapat mulai DLH Kab.
diminimalkan beraktifitas Ponorogo
dan dapat terhadap atribut Dinas Tenga
dikurangi keselamatan Kerjaa Kab.
 Melakukan kerja Ponorogo
pertolongan  Menyiapkan c. Penerima Laporan
pertama pada tenaga medis DLH Kab.
tenaga kerja apabila ada Ponorogo
yang mengalami kejadian yang Dins Tenagaa Kerj
kecelakaan saat bersifat darurat Kab. Ponorogo
bekerja
SUMBER JENIS BESARAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN UPAYA PEMANTAUAN INSTANSI KET.
DAMPAK DAMPAK DAMPAK HIDUP LINGKUNGAN HIDUP PENGELOLA
BENTUK LOKASI PERIODE BENTUK LOKASI PERIODE DAN
PEMANTAUAN
Limbah B3 Terdapatnya  Menyediakan Di dalam Selama  Melakukan Di dalam Selama a. Pelaksana : Dampak
(pelumas pelumas tempat lokasi operasional monitoring lokasi operasional PT Beton Budi terjadi pada
bekas/ oli bekas yang penampungan kegiatan pabrik tempat kegiatan pabrik setiap Mulya operasional
dan lain- dihasilkan sementara limbah penampungan bulan b.Pengawas : pabrik
lain) oleh oli tersebut sementara DLH Kab.
operasional  Bekerja sama limbah oli atau Ponorogo
dan dengan pelumas bekas c. Penerima Laporan
perbaikan pengusaha  Melakukan DLH Kab.
truk di pengumpul monitoring Ponorogo
workshop limbah oli yang tempat
sebesar ± 20 memiliki izin pembuangan
ltr/bulan  Bekerja sama sementara
dengan kemasan bekas
pemulung yang cat
mengumpulkan
kemasan bekas
cat baik berupa
kaleng atau
plastic
 Menyediakan
tempat
pembuangan
sementara khusus
untuk kemasan
bekas cat

Limbah Terdapatnya  Melaksanakan Lingkungan Selama Melakukan Lingkunga Setiap 6 a. Pelaksana : Dampak
domestik limbah sistem drainase kantor dan operasional pemantauan n pabrik bulan sekali PT Beton Budi terjadi pada
(limbah domestik dan sanitasi pabrik Industri terhadap saluran dan kantor Mulya operasional
cair) akibat lingkungan Beton drainase, b.Pengawas : pabrik
aktivitas dengan baik di septictank, dan DLH Kab.
karyawan lingkungan bak-bak sampah Ponorogo
baik kantor dan pabrik c. Penerima Laporan
karyawan yang dialirkan ke DLH Kab.
kantor septictank. Ponorogo
maupun  Membuat unit
karyawan pengolahan
pabrik limbah sebelum
membuang ke
sumber air atau
dibuang
menggunakan
truk pengangkut
tinja
SUMBER JENIS BESARAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN UPAYA PEMANTAUAN INSTANSI KET.
DAMPAK DAMPAK DAMPAK HIDUP LINGKUNGAN HIDUP PENGELOLA
BENTUK LOKASI PERIODE BENTUK LOKASI PERIODE DAN
PEMANTAUAN
 Membuat tempat
penampungan
sampah di dalam
bangunan dan
diluar bangunan
dengan
memisahkan
tempat/bak
sampah 3 jenis
yakni :
a. kertas, tisu,
Koran dan
sejenisnya
b.Plastik, kaleng,
kaca
c. Sisa makanan,
daun dan
sejenisnya

Peningkatan Terjadinya  Mewajibkan Lingkungan Selama  Melakukan Lingkunga Setiap 6 a. Pelaksana : Dampak
kebisingan peningkata tenaga kerja pabrik operasional pengecekan n publik bulan sekali PT Beton Budi terjadi pada
n pabrik untuk pab rik terhadap Mulya operasional
kebisingan memasang alat intensitas b.Pengawas : pabrik
di dalam penutup telinga kebisingan DLH Kab.
lingkungan untuk dengan Ponorogo
industri mengurangi melakukan c. Penerima Laporan
(pabrik) kebisingan yang pengambilan DLH Kab.
yang diakibatkan suara sampel Ponorogo
melebihi mesin-mesin kemudian
baku mutu produksi di dianalisis di
dalam pabrik laboratorium
yang
terakreditasi
dengan
mengacu :
a. Tingkat
kebisingan
untuk di
lingkungan
pemukiman
mengacu pada
Kep.Men.Neg
ara
Lingkungan
Nomor : Kep-
48/MENLH/1
1/1996
SUMBER JENIS BESARAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN UPAYA PEMANTAUAN INSTANSI KET.
DAMPAK DAMPAK DAMPAK HIDUP LINGKUNGAN HIDUP PENGELOLA
BENTUK LOKASI PERIODE BENTUK LOKASI PERIODE DAN
PEMANTAUAN
 Membuat b.Tingkat
bangunan pabrik kebisingan
yang tertutup, untuk di
sehingga suara lingkungan
bising tidak kerja sesuai
terdengar sampai dengan Surat
di telinga Keputusan
masyarakat yang Menteri
bertempat tinggal Tenaga Kerja
di sekitar lokasi No. Kep-
kegiatan 51/MEN/1999
BAB VI
PELAPORAN

Laporan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH) ini


disampaikan kepada Bupati Ponorogo c.q. Kepala Dinas Lingkungan
Hidup kabupaten Ponorogo.
Pelaporan ini penting artinya bagi upaya pemantauan dampak yang
mungkin sekali terjadi di lingkungan produksi beton milik PT Beton
Budi Mulya. Karena itu perlu disampaikan secara berkala. Apabila di
dalam perjalanan usaha PT Beton Budi Mulya ini terdapat hal-hal yang
menyalahi aturan tentang Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup, maka
instansi terkait segera dapat melakukan pembinaan sehingga tidak terjadi
dampak lingkungan yang tidak diharapkan.
SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : MACHSUN RIFA’I
Jabatan : Penanggung Jawab
Alamat : Jl. Raya Ponorogo Madiun KM 3 Kelurahan Kadipaten, Kecamatan
Babadan, Kabupaten Ponorogo
Selaku Penanggung Jawab PT Beton Budi Mulya Ponorogo dengan ini
menyatakan bahwa :
1. Kami akan menjaga kesehatan, kebersihan, dan keindahan serta menjaga
kelestarian sumber daya alam dan lingkungan di lokasi kegiatan dan sekitar
tempat usaha dan/atau kegiatan kami;
2. Kami akan melakukan upaya pengelolaan lingkungan dan secara berkala
setiap 6 (enam) bulan sekali melaporkan hasilnya kepada instansi terkait.
3. Kami bersedia mengendalikan dan mengelola dampak baru yang mungkin
timbul di kemudian hari serta segera melaporkan ke Dinas Lingkungan
Hidup Kabupaten Ponorogo dan memasukkan dalam laporan berkala;
4. Kami bersedia membuat sumur-sumur resapan, penanaman pohon
disekitar pabrik, penutupan area produksi dan pendekatan intensif kepada
masyarakat sekitar seperti yang tertera di dalam dokumen paling lambat 1
tahun dari penerbitan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup;
5. Kami bersedia dipantau dampak dari kegiatan usaha kami oleh pihak yang
memiliki surat tugas dari pejabat yang berwenang menurut Peraturan
Perundang-Undangan yang berlaku;
6. Apabila kami lalai dalam melaksanakan upaya pengelolaan lingkungan
sebagaimana tercantum dalam Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup
seperti yang telah kami kemukakan dalam dokumen ini, kamu bersedia
menghentikan Operasional apabila terjadi kasus pencemaran terhadap
lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan kami, dan kami bersedia untuk
bertanggung jawab serta ditindak sesuai dengan Peraturan Perundang-
Undangan yang berlaku;
7. Kami bersedia memperbaharui Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup
ini apabila terjadi setiap perubahan dalam usaha baik jenis kegiatan, luasan
dan jumlah kapasitas serta ganti nama.
Demikian Surat Pernyataan ini kami buat dengan sesungguhnya

Ponorogo, 11 Pebruari 2019

MACHSUN RIFA’I
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai