Anda di halaman 1dari 10

I.

Pendahuluan
Usaha kecil menengah memiliki peran penting dalam perekonomian bangsa.
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh ukmcenternetwork.net, UKM member
sumbangan penyerapan tenaga kerja sebesar 96% dengan jumlah perusahaan berskala
UKM mencapai 99% dari keseluruhan unit usaha di Indonesia pada 1997—2006.
Sebanyak 91% UKM melakukan kegiatan ekspor melalui pihak ketiga eksportir atau
pedagang perantara. Hanya 8,8% yang berhubungan langsung dengan pembeli atau
importir di luar negeri.
Agar usaha kecil yang dilakukan mampu berkembang menjadi usaha yang
lebih besar, dibutuhkan suatu manajemen yang baik. Diperlukan perencanaan dalam
setiap kegiatan dalam menjalankan usaha tersebut, ditentukannya tujuan atau sasaran
serta strategi untuk menghadapi segala permasalahan baik dalam produksi maupun
pemasaran sangat penting untuk menunjang perkembangan bisnis pengusaha kecil.
Namun, dalam lapangan, rata – rata pengusaha kecil melakukan aktivitas mereka hanya
dengan mengandalkan naluri tanpa perhitungan yang matang. Sebuah bisnis usaha yang
tidak melakukan manajemen dengan baik akan mengalami kesulitan untuk dapat
bertahan, bahkan berkembang, di dalam dunia yang sarat dengan persaingan.
Untuk mengetahui bagaimana pengusaha kecil melakukan manajemen dalam
menjalankan bisnisnya, maka dilakukan wawancara dengan seorang pengusaha kecil di
lingkungan sekitar, seperti pedagang kaki lima batagor di lingkungan UGM.
Digunakannya manajemen pedagang batagor kaki lima sebagai objek pengamatan
karena pedagang tersebut mewakili usaha kecil yang dilakukan masyarakat. Selain itu,
manajemen skala kecil tersebut mewakili penerapan manajemen baik bisnis maupun
keuangan skala kecil.
1.1 Perumusan Masalah
Bagaimana manajemen yang diterapkan oleh pedagang batagor dalam
menjalankan bisnisnya?
1.2 Tujuan dan Manfaat
 Makalah ini disusun untuk menyelesaikan tugas akhir mata kuliah Dasar – dasar
Manajemen Semester I Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada
 Makalah ini diharapkan mampu membawa manfaat baik penulis maupun
pembaca mengenai manajemen pengusaha kecil

II. Landasan Teori


Manajemen pengelolaan usaha merupakan proses pencapaian tujuan organisasi
melalui tahapan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian SDM
dan sumber daya lain yang dimiliki oleh usaha bisnis.
2.1 Fungsi Manajemen
2.1.1 Perencanaan (Planning)

Perencanaan merupakan fungsi awal manajemen yang dimulai dari penetapan


tujuan dan kemudian menetapkan perencanaan untuk mencapai tujuan tersebut.
Perencanaan berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai dimasa datang. Berdasar
rentang waktu pencapaian tujuan organisasi dapat dikelompokkan menjadi: Tujuan
jangka panjang
Tujuan yang dibuat untuk jangka waktu yang cuku; lama, biasanya lebih dari 5
tahun dan merupakan panduan suatu organisasi akan berkembang dan menjadi
perusahaan seperti apa.

Tujuan jangka menengah


Tujuan yang lebih cepat waktu pencapaiannya dan biasanya merupakan
penjabaran dari tujuan jangka panjang yang coba akan dicapai pada rentang waktu yang
lebih singkat. Periode pelaksanaan biasanya 1 – 5 tahun.

Tujuan jangka pendek


Tujuan yang disusun untuk waktu kurang dari 1 tahun yang berhubungan
dengan operasional rutin organisasi.
Setelah menetapkan tujuan organisasi kemudian perlu adanya perencanaa
kegiatan yang jelas untuk mencapai tujuan. Adapun tingkatan rencana kegiatan
organisasi dapat dibagi dalam tiga tingkatan yaitu:

Rencana strategik
Rencana strategik berisi tentang alokasi sumber daya yang dimiliki organisasi,
dan langkah – langkah yang perlu dilakukan untuk dapat mencapai tujuan jangka
panjang (strategis) perusahaan. Rencana ini biasanya disusun oleh pinpinan organisasi
yang menentukan arah organisasi. Rencana strategis merupakan visi perusahaan dimasa
datang yang merupakan tujuan yang akan dicapai dalam jangka panjang.

Rencana taktis
Rencana taktis lebih pendek rentang waktunya dan merupakan penerapan dari
rencana strategik yang sudah disusun oleh perusahaan. Perencanaan taktis biasanya
melibatkan tingkatan manajemen menengah.

Rencana operasional
Rencana operasional berhubungan dengan kegiatan operasional rutin sehari –
hari yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek organisasi (Wasil,
2011).

2.1.2 Pengorganisasian (Organizing) dan pembentukan staff (Staffing)

Pengorganisasian adalah suatu proses memperoleh dan mengatur sumber daya


perusahaan baik manusia, modal, dan teknologi untuk dapat secara baik menjalankan
rencana yang sudah dibuat dan mencapai tujuan organisasi.
Pembentukan staff merupakan pemilihan dan penempatan sumber daya
manusia yang akan melaksanakan rencana kegiatan yang telah disusun sehingga akan
dapat berjalan dengan baik dan tepat (Erry, 2009).

2.1.3 Pengarahan (Directing)


Pengarahan adalah fungsi manajemen yang bertujuan untuk memberikan
panduan dan panutan kepada karyawan sehingga kegiatan operasional akan berjalan
sesuai dengan yang diinginkan oleh organisasi. Pengarahan berkaitan dengan
kepemimpinan seseorang terhadap orang lain dan membentuk suasana yang kondusif
dan dinamis sehingga karyawan termotivasi untuk bekerja dan mencapai tujuan
organisasi (Lestari, 2011).

2.1.4 Pengendalian (Controlling)


Pengendalian merupakan bentuk pengawasan dan kontrol dari manajemen
terhadap kegiatan operasional organisasi apakah sudah sesuai dengan rencana yang
ditetapkan dan sesuai dengan arah tujuan organisasi. Pengendalian mencegah adanya
kegagalan dengan cara mengamati kinerja organisasi secara keseluruhan dan
melakukan evaluasi apabila diperlukan.
Fungsi pengendalian berawal dari penetapan standar penilaian, pengukuran
kinerja kegiatan apakah sesuai dengan standar, mengevaluasi hasil kinerja, dan terakhir
melakukan koreksi ataupun perbaikan bila diperlukan. Pengendalian mencegah adanya
kegagalan dengan cara memonitor kinerja individual, departemen, divisi dan kinerja
keseluruhan demi kesuksesan organisasi. Dengan kata lain, fungsi ini berusaha
mencegah timbulnya masalah, mendefinisikan masalah jika timbul dan kemudian
mencari solusi pemecahan masalah secepat dan seefektif mungkin (Manullang, 2004).

Manajer berdasarkan Hirarki tebagai menjadi tiga.

2.2.1 Manajer Puncak (Top manager)


Klasifikasi ini terdiri dari kelompok kecil eksekutif dan bertanggung jawab
atas keseluruhan manajemen organisasi, dan biasa disebut sebagai direktur, presdir,
kepala divisi dan sebagainya (Muniya, 2011).

2.2.2 Manajer menengah (Middle manager)


Manajer menengah mewakili manajer puncak dalam mengawasi kegiatan
operasional perusahaan dan menyampaikan tujuan strategis dan rencana strategis
kepada manajer yang ada dibawah mereka. Manajer menengah memiliki tanggung
jawab untuk mengawasi manajer lini. Manajer menengah biasanya mengelola tujuan
jangka menengah dan mengimplementasikan rencana taktis organisasi (Sukriah, 2009).
2.2.3. Manajer lini (First line manager)
Manajer ini memiliki tanggung jawab untuk mengawasi kinerja karyawan
organisasi dan secara langsung berhubungan dengan karyawan. Manajer lini
berhubungan dengan kegiatan operasional rutin dalam organisasi dan memiliki
tanggung jawab untuk memastikan bahwa kegiatan organisasi dapat berjalan dengan
lancer (Sukriah, 2009).

Manajer berdasarkan fungsinya dibagi menjadi empat, yaitu manajemen


keuangan. manajemen pemasaran, manajemen produksi, dan manajemen Sumber Daya
Manusia.
2.3 Pengertian Usaha Kecil
Usaha kecil sering diartikan sebagai usaha yang belum dikelola secara atau
lewat manajemen modern dengan tenaga – tenaga professional dengan jumlah
karyawan, jumlah penjualan, maupun omzet per tahun terkadang tidak begitu jelas.
Namun, sesuai pasal 1 ayat 1 UU No.9 Tahun 1995 dijelaskan deskribsi mengenai
usaha kecil. Usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan
memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan serta kepemilikan
sebagaimana diatur dalam undang – undang ini. Kriteria usaha kecil bervariasi, tetapi
hampir serupa (Marbun, 1996).
Sumber : digilib.kopertis6.or.id/download.php?id=19
III. Metode Kerja
3.1 Lokasi dan Objek Pengamatan
Lokasi pengamatan berada di depan gerbang belakang fakultas pertanian Universitas Gadjah
Mada dengan objek pengamatan pedagang batagor kaki lima.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Data berasal dari wawancara singkat terhadap seorang pedagang batagor kaki lima yang
bekerja dibawah manajemen pengusaha utama.
IV. Hasil dan Pembahasan
4.1 Hasil Pengambilan Data
Untuk mengetahui secara nyata bagaimana seorang pengusaha kecil
melakukan manajemen untuk menjalankan bisnisnya, dilakukan wawancara terhadap
seorang pedagang batagor kaki lima yang berada di lingkungan UGM. Pedagang yang
diwawancarai, Nudi, merupakan warga Bekasi yang merantau ke Yogyakarta. Ia telah
berjualan batagor selama kurang lebih 8 bulan. Nudi bukan merupakan pengusaha
batagor yang mendapatkan hasil langsung dari usaha yang dilakukan, melainkan ia
hanya disewa menjaga stand batagor oleh pengusaha utama. Pengusaha utama tersebut
menyediakan modal berupa bahan mentah pembuatan batagor dan gerobak serta
perlengkapan usaha batagor. Namun, ia tidak langsung melakukan usaha secara
langsung. Pengusaha utama menyewa beberapa pekerja untuk menjual batagor di
beberapa wilayah. Salah satunya adalah di jalan Kaliurang di belakang fakultas
pertanian UGM, yaitu lokasi tempat Nudi menjual batagor pada saat wawancara
dilakukan.
Ada tiga penjual batagor yang dipekerjakan pengusaha utama batagor.
Dilakukan swapping lokasi penjualan antara ketiga pedagang kaki lima tersebut setiap
tiga bulan sekali. Lokasi yang digunakan sebagai lokasi penjualan bukan merupakan
lokasi bebas penggunaan. Menurut Nudi, lokasi yang digunakannya tersebut menyewa
dari sebuah pihak tertentu dengan membayar uang sewa.
Nudi menghabiskan biaya produksi sebesar Rp 600.000,00 untuk pembelian
bahan mentah seperti tepung, minyak, saus, tahu, dan bahan pembuat batagor lainnya,
serta bahan pendukung produk seperti plastik, dsb. Bahan pendukung proses produksi
seperti wajan, garpu, kompor, dsb di pinjamkan oleh pengusaha utama. Bahan mentah
dibeli di pagi hari di sebuah agen langganan. Sedangkan pembuatan batagor sendiri
dilakukan apabila terdapat pelanggan yang memesan dengan memproduksi beberapa
batagor untuk pelanggan berikutnya. Nudi tidak sekaligus mengolah bahan mentah,
tetapi memperkirakan kebutuhan agar batagor yang telah matang tidak terbuang. Bahan
mentah yang tersedia tidak selalu habis pada satu hari, biasanya Nudi menyimpan
sisanya apabila terdapat sisa. Nudi smembatasi waktu kerja dari pukul 7 pagi hingga 5
sore.
Laba yang didapat Nudi tidak menentu, tetapi ia memperkirakan laba yang
didapat berkisar antara Rp 100.000,00 hingga Rp 300.000,00 per hari. Laba tersebut
telah dipotong biaya produksi Rp 600.000,00. Nudi berjualan setiap hari untuk
meningkatkan pendapatan. Ketika hujan, Nudi tetap menjual batagor dengan
menggunakan terpal sebagai pelindung gerobak dagang serta dirinya dari hujan. Ketika
ditanya tentang permasalahan, Nudi menjawab bahwa selama ini tidak ada masalah
dalam penjualan. Menurutnya banyaknya pelanggan yang datang tidak dapat ditentukan
dari hari atau waktu tertentu. Nudi belum pernah membuat catatan keuangan selama
menjadi pedagang. Ia juga tidak menyusun target penjualan maupun perencanaan
perkembangan bisnis kedepan.

4.2 Pembahasan
Terdapat empat fungsi utama manajemen, yaitu perencenaan (Planning),
pengorganisasian (Organizing) dan pembentukan staf (Staffing), pengarahan
(Directing), dan pengendalian (Controlling). Perencanaan merupakan hal fundamental
dalam pelaksanaan suatu usaha. Pada persoalan Nudi, Nudi tidak melakukan fungsi
perencanaan dengan baik. Hal ini dibuktikan bahwa tidak adanya gambaran kedepan
mengenai usaha yang ia lakukan. Tidak adanya rencana jangka panjang tersebut
mungkin diakibatkan baru terjunnya Nudi ke dunia bisnis batagor. Selain itu Nudi
masih berada di dasar dalam piramida tingkatan management, sehingga belum ada
gambaran mengenai masa depan usaha tersebut. Dalam perencanaan jangka pendek,
Nudi juga tidak melakukan fungsi tersebut. Nudi tidak pernah mematok harga target
pendapatan per hari. Ia hanya bekerja ala kadarnya sesuai waktu bekerja yang ia
tentukan. Nudi mungkin saja telah melakukan perencanaan dalam menjalankan usaha.
Namun perencanaan tersebut tidak dilakukan secara tertulis, padahal rencana harus
selalu dilakukan dan ditulis agar sebuah usaha mempunyai tujuan dan dapat
berkembang sesuai tujuan yang diinginkan.
Nudi merupakan staff dibawah pengusaha utama yang memberikan modal
berupa saprodi, sehingga yang melakukan fungsi lengkap pengorganisir atau
pengaturan serta pembentukan staff ialah pengusaha utama batagor yang mempunyai
beberapa bawahan untuk memperluas bidang pemasaran. Nudi hanya melakukan
kegiatan pengorganisasian atau pengaturan kecil sebagai bentuk dari pemanfaatan
modal dan saprodi yang dimiliki. Fungsi pengaturan merupakan fungsi yang penting,
karena menentukan sebuah usaha dapat berjalan dengan baik serta berjalan sesuai
perencanaan dan tujuan. Sistem organisasi yang dilakukan Nudi serta staff lain dengan
pemilik usaha utama adalah berstruktur datar/flat dengan pembagian berdasarkan
wilayah atau lokasi tempat penjualan. Berikut adalah gambaran struktur organisasi
tersebut.

Top
Manajer

Nudi (Staff
Staff 2 Staff 3
1)

Dalam struktur organisasai tersebut, Nudi mempunyai tugas (task), wewenang


(authority), tuntutan (accountability), dan kapabilitas (capability). Berikut ini adalah
uraiannya:
1. Tugas (Task) : menjual batagor
2. Wewenang (Authority) : melakukan proses produksi dan pemasaran
batagor dengan saprodi yang telah
disediakan top manajer
3. Tuntutan (Accountability) : menjual batagor sebanyak – banyaknya dan
menghasilkan keuntungan yang banyak
4. Kapabilitas (Capability) : - bagaimana memproduksi batagor agar
memenuhi permintaan pelanggan
- bagaimana menghasilkan produk dengan
kuantitas dan kualitas yang baik sesuai
permintaan pelanggan
- bagaimana menghadapi tantangan lain
sehubungan dengan proses produksi dan
pemasaran
Dalam pelaksanaan fungsi organisir, top manajer lah yang paling terlihat
perannya, bagaimana pengaturan metode usaha agar menghasilkan keuntungan yang
sebesar – besarnya dan memperkecil kerugian bila ada. Yang dilakukan top manajer
untuk organisir antara lain seperti melakukan swapping, berpindah lokasi pemasaran,
agar tidak ada kecemburuan antara staff akibat perbedaan pelanggan yang diberikan
pada masing – masing lokasi, sehingga para staff dapat melakukan produktivitas
dengan maksimal.
Fungsi organisir oleh Nudi diwujudkan dalam pemenuhan tugas dan tuntutan
yang diberikan top manajer. Pertanyaan bagaimana menghasilkan keuntungan sebesar –
besarnya pada lapangan langsung dan kerugian yang mungkin akan terjadi dijawab oleh
metode serta pelaksanaan Nudi dalam mengorganisir proses produksi dan penjualan
kepada pelanggan secara langsung. Nudi melakukan usaha untuk menimalisir kerugian
yang mungkin akan terjadi, seperti membuat batagor atau mengolah bahan mentah
hanya sesuai permintaan pelanggan. Jika pun Nudi membuat lebih ketika mengolah
bahan mentah menjadi batagor untuk seorang pelanggan, hal tersebut bertujuan untuk
mempermudah atau memperlancar proses jual – beli dengan cara menghindari antrean
yang tercipta ketika pembeli sedang banyak. Selain itu, untuk menghindari kerugian,
bahan mentah, yang tersisa ketika telah mencapai batas waktu menerima pelanggan, di
simpan dalam tempat yang bersih dan higenis untuk kemudian digunakan dalam usaha
yang selanjutnya.
Dalam upaya mendapatkan keuntungan yang besar, perlu dibuat sebuah
laporan keuangan dan perkembangan suatu usah yang telah dilakukan, hal ini dapat
membantu seorang pengusaha untuk memperkirakan dan menanggulangi masalah yang
dapat membawa kerugian bagi usaha. Dengan laporan keuangan dan perkembangan,
seorang pengusaha mampu memperkirakan kapan pelanggan sedang banyak atau kapan
sedang sepi pelanggan, sehingga pengusaha tersebut mampu mengantisipasi bahan
yang dibawa serta jumlah produk yang harus diproduksi. Namun, Nudi tidak pernah
melakukan pencatatan keuangan, ia hanya sekedar melakukan usaha tanpa melakukan
peninjauan ulang terhadap kesalahan – kesalahan produksi yang pernah dilakukan.
Sehingga, Nudi tidak melakukan fungsi kontrol terhadap usahanya.
Strategi yang digunakan Nudi untuk melakukan produksi sudah benar. Nudi
melakukan beberapa hal yang mampu menekan biaya produksi untuk menghasilkan
keuntungan yang maksimal. Bahan baku untuk pembuatan batagor dibeli dari seorang
agen langganan yang memberikan harga lebih murah daripada membeli di pasar.
Nudi menetapkan jam kerjanya sejak pukul 7 pagi hingga pukul 5 sore. Hal ini
ia lakukan karena banyak pelanggan pada kisaran waktu tersebut. Ada kalanya Nudi
harus menutup usahanya walaupun bahan produksi masih banyak. Hal tersebut kurang
efektif, karena masih terdapat kesempatan untuk melakukan usaha dan meningkatkan
pendapatan. Namun, penjualan yang terdapat di lokasi tersebut harus steril pada pukul 5
sore, karena akan digunakan oleh pedagang lain. Nudi bisa saja melakukan penjualan di
tempat lain, tetapi tidak dilakukan. Tempat yang dapat digunakan untuk berjualan yang
dekat dari lokasi awal sangat jauh, dan sangat tidak efektif menurutnya, sehingga ia
menyudahi jam kerjanya dan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mempersiapkan
penjualan hari esok.
Fungsi pengarahan tidak dilakukan oleh Nudi. Hal ini disebabkan Nudi
merupakan staff dengan posisi paling bawah dalam struktur manajemen.
V. Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
Nudi, pedagang batagor kaki lima, tidak menerapkan keseluruhan fungsi
manajemen dengan baik. Ia hanya menerapkan fungsi organisir, dengan fungsi fungsi
lainnya yang belum secara signifikan benar, karena sistem manajemen yang ia gunakan
dalam segala aspek manajemen, baik manajemen produksi, pemasaran, maupun
keuangan hanya berdasarkan naluri.
5.2 Saran
Perlu adanya perencanaan tertulis serta catatan keuangan dan evaluasi
perkembangan usaha yang ditulis setiap hari. Hal ini berguna untuk mendukung
perkembangan usaha yang dilakukan. Apabila metode yang digunakan oleh Nudi tidak
segera dievaluasi dan diperbaiki, maka usaha yang dilakukan Nudi terancam
bermasalah apabila dikenai suatu permasalahan kritis menyangkut produksi, serta usaha
tersebut kurang bisa berkembang dalam jangka waktu yang lama walaupun konsumen
melimpah.

Daftar Pustaka
Marbun. 1996. Manajemen Perusahaan Kecil. Jakarta: Pustaka Binaman Presindo.
Manullang. 2004. Dasar – dasar Manajemen. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sumber lain
Alteza, Muniya. 2011. Pengantar Bisnis: Teori dan Aplikasi di Indonesia..
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Muniya%20Alteza,%20SE.,M
%20Si./Diktat%20Pengantar%20Bisnis.pdf. Diakses pada 6 Januari 2014.
Anonim. 2010a. Pertemuan I Konsep Dasar Manajemen.
pakher.files.wordpress.com/2010/04/1551.pdf. Diakses pada 3 Januari 2014.
-----------. 2010b. hernawanation.files.wordpress.com/2010/10/courseware-pengantar-
manajemen-bisnis.pdf. Diakses pada 6 Januari 2014.
Lestari, Veronica Sri, dkk. 2011. Bahan Ajar Dasar - dasar Manajemen..
ml.scribd.com/doc/180173950/Veronika-pdf. Diakses pada 4 Januari 2014.
Masitoh.2011. Manajemen Kewirausahaan.
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._KURIKULUM_DAN_TEK._PENDIDIKA
N/194806261980112-MASITOH/Manajemen_Kewirausahaan_2-
Dra._Masitoh,_M.Pd..pdf. Diakses pada 3 Januari 2014.
Rudi Elyadi. 2009 .Manajemen Usaha Kecil. digilib.kopertis6.or.id/download.php?id=19.
Diakses pada 4 Januari 2014
Sukriah, Erry. 2009. Dasar - Dasar Manajemen.
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/LAINNYA/ERRY_SUPRIAH/EMA_WK2_D
asar-dasar_Manajemen_%5BCompatibility_Mode%5D.pdf. Diakses pada 5
Januari 2014.
Wasil, Muhammad. 2011 .Pengantar Manajemen.
http://mohammadwasil.dosen.narotama.ac.id/files/2011/12/PENGANTAR-
MANAJEMEN.pdf.Diakses pada 3 Januari 2014.