Anda di halaman 1dari 3

Tetapkan satu pilihan.

Alexander Agung yang sangat terkenal keberaniannya itu konon mempunyai


seorang prajurit yang bernama sama tetapi berbeda sikap. Alexander si prajurit itu sangat penakut. Sikap
ini membuat Alexander Agung menjadi berang dan menyuruh Alexander prajurit untuk memilih: menjadi
seorang prajurit yang gagah berani atau mengubah namanya. Menurut Alexander Agung, prajurit itu
tidak pantas menyandang nama Alexander jika memiliki sikap penakut. Benarkah pantas tidaknya
seseorang menyandang nama tergantung pada sikapnya? Cerita di atas hanyalah contoh yang
memberikan kepada kita suatu gambaran tentang status yang disandang haruslah sesuai dengan dan
teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa Kristen harus bersikap berani mementingkan dan menjunjung ajaran yang benar? Karena
melalui sikap inilah Kristen tidak hanya memperlihatkan pengenalannya kepada Allah tetapi juga mampu
membentengi imannya ketika menghadapi keaktifan orang-orang yang berusaha menyesatkan dengan
ajaran-ajaran palsu mereka. Paulus dengan tegas memperingatkan jemaat Kreta tentang hal ini. Ia juga
membeberkan kualifikasi orang-orang yang mengajarkan ajaran-ajaran sesat. Mereka mengaku percaya
kepada Tuhan Yesus, dan mengenal Allah, tetapi sebenarnya mereka mencampuradukan ajaran agama
Yahudi dengan ajaran iman Kristen. Mereka tidak hidup tertib, menyesatkan, mengacaukan, tidak sehat
dalam iman, berpaling dari kebenaran, dan perbuatannya tidak mencerminkan pengenalan akan Tuhan;
keji, durhaka, tidak sanggup berbuat baik. Untuk semua tindakan tersebut Paulus menyuruh Titus supaya
menegur mereka dengan keras! Dalam suatu kondisi ketika terjadi pelanggaran- pelanggaran aturan dan
hukum yang benar, teguran harus dilakukan demi kebaikan dan kembalinya tatanan yang benar. Memang
betul bahwa jemaat yang bermasalah diberi kesempatan untuk bertobat, memperbaiki iman dan
kehidupannya. Namun apa yang harus dilakukan jika mereka telah kebal dengan kehidupan yang
demikian?

Renungkan: Saat ini di kalangan kekristenan ada berapa banyak orang yang mengaku percaya kepada
Kristus? Namun, dari sekian banyak ternyata masih ada Kristen yang tidak mencerminkan pengakuan itu
dalam kehidupannya sehari-hari. Bagaimana dengan Anda?

Bukan syarat, tetapi pola hidup. Tugas seorang presiden adalah memimpin dan mengatur negara. Agar
seseorang dapat menduduki jabatan tersebut, ada kriteria atau syarat-syarat yang harus dipenuhi
terlebih dahulu. Misalnya, presiden adalah warga negara setempat, memeluk agama mayoritas negara
tersebut, sehat jasmani-rohani, berpendidikan, berwawasan luas, dan jujur. Seseorang tidak akan
menduduki jabatan presiden bila gagal memenuhi syarat-syarat tersebut. Syarat inilah yang dipakai
sebagai standar pemilihan pemimpin bangsa.
Sebagaimana negara perlu aturan, jemaat Tuhan di Kreta pun demikian (ayat 5). Karena itu Paulus
menyuruh Titus untuk memilih dan menetapkan penatua-penatua di tiap-tiap kota. Tugas mereka adalah
memelihara, menggembalakan dan membimbing jemaat. Penetapan ini bertujuan agar kehidupan
jemaat menjadi teratur. Namun, seperti halnya pemimpin negara, para penatua yang ditunjuk untuk
menjalankan wewenang ini pun harus terlebih dahulu memenuhi segala persyaratan yang ditetapkan
(ayat 6-9). Dua hal penting yang harus dipahami oleh para penatua jemaat dalam menjalankan tugas
gerejawi adalah: [1] mereka harus mampu membimbing jemaat agar memahami ajaran yang benar, dan
mau melakukannya; [2] mereka harus memiliki keberanian untuk menegur dan menyatakan kesalahan
orang-orang yang melawan kebenaran dan mengajarkan ketidakbenaran.

Sebenarnya, syarat-syarat yang dikemukan oleh Paulus sebagai syarat pemilihan seorang penatua gereja
adalah juga persyaratan yang harus dipenuhi oleh Kristen secara keseluruhan. Karena syarat- syarat
tersebut lebih merupakan prinsip-prinsip hidup kristiani. Dan semua Kristen sudah seharusnya
memenuhi persyaratan tersebut. Artinya, walaupun seseorang tidak menduduki suatu jabatan tua-tua
atau majelis jemaat, bukan berarti ia dibebaskan dari persyaratan- persyaratan tersebut. Itu sebabnya
persyaratan ini lebih tepat disebut pola hidup Kristen secara menyeluruh.

Renungkan: Perlu untuk Kristen cermati bahwa Kristen bisa memiliki pola hidup Kristiani yang benar
adalah ketika pola hidupnya didasarkan dan berakar pada kebenaran Alkitab. Kristen harus
mempertahankan kesetiaan dan keutuhan keluarga, kekudusan moral, keteladanan karakter, dan
kehalusan budi bahasa.

Status menentukan tugas dan tanggung jawab. Saya kira Anda akan terheran-heran apabila melihat
suatu regu pemadam kebakaran yang walaupun mempunyai peralatan yang lengkap tetapi tidak dapat
menjalankan fungsinya dengan baik ketika terjadi suatu musibah kebakaran. Begitu pula jika kita
menyaksikan di layar TV para petugas keamanan hanya berdiam diri membiarkaan para perusuh
melampiaskaan nafsu jahat yang tidak terkendali. Tentu saja bisa dipahami apabila orang-orang akan
menjadi kurang bahkan tidak bersimpati kepada petugas yang demikian. Mengapa? Karena status
seseorang menentukan tugas yang harus diembannya.

Rasul Paulus yang dalam setiap suratnya selalu memperkenalkan diri sebagai hamba Allah dan rasul
Yesus Kristus, sama sekali tidak mengharapkan pujian atau penghormatan pribadi melalui status
tersebut. Bagi dia, setiap orang yang berstatus sebagai hamba Tuhan justru mengemban tugas dan
tanggung jawab yang besar yaitu selain mendorong orang-orang pilihan Allah agar kuat dan teguh dalam
iman, juga membimbing mereka kepada ajaran yang benar.
Paulus menguraikan tentang hal-hal yang harus dilaksanakan sehubungan dengan status yang
diembannya. Pertama, menjalankan fungsi penggembalaan yaitu memelihara iman orang-orang pilihan
Allah (ayat 1). Kedua, memberi dan memelihara pengetahuan yang lengkap akan kebenaran. Ketiga,
memberitakan Injil. Ketiga hal ini Paulus laksanakan dengan penuh tanggung jawab. Begitu banyak hal
yang Paulus alami: dicemooh, difitnah, dianiaya, dimasukkan ke dalam penjara, mengalami percobaan
pembunuhan. Dia rela mengalami ini karena status yang disandangnya, yakni sebagai rasul dan hamba
Allah. Melalui kehidupan Paulus kita dapat belajar bagaimana hidup sesuai status kita, baik di hadapan
Tuhan maupun di hadapan manusia.

Renungkan: Apakah status Anda saat ini? Sebagai hamba Allah atau kaum awam profesional: guru, polisi,
politikus, ekonom? Tahukah Anda bagaimana seharusnya tugas yang harus Anda jalankan sesuai dengan
status tersebut? Sudahkah tugas-tugas tersebut Anda jalankan dengan penuh tanggung jawab?
Menyandang status dan hidup sesuai dengan status tidak semudah memperkenalkan diri berikut status
kita, karena orang lebih menilai bagaimana kita menghidupi status itu.