Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

PERCOBAAN KE V

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI MINYAK ATSIRI DARI BONGGOL SERAI

Disusun Oleh

Sri Wigati (1606067123)

Dhiya Ulfa Nurul Hadi (1606967066)

Anna Bhekti Pratiwi (1708067081)

Bambang Eko Raharjo (1708067083)

Devi Ayu Febriana (1708067084)

Hari, Tanggal Praktikum : Rabu, 10 Juli 2019

Dosen Pembimbing : Erma Yunita, M.Sc., Apt.

LABORATORIUM FITOKIMIA

AKADEMI FARMASI INDONESIAYOGYAKARTA

2019
HALAMAN PENGESAHAN DAN PERNYATAAN

Laporan Praktikum FITOKIMIA Percobaan Ke V dengan judul Isolasi dan


Identifikasi Minyak Atsiri dari Bonggol Serai adalah benar sesuai dengan praktikum
yang telah dilaksanakan. Laporan ini saya susun sendiri berdasarkan data hasil
praktikum yang telah dilakukan.

Yogyakarta, 10 Juli 2019


Dosen Pembimbing, Ketua Kelompok,

Erma Yunita, M.Sc., Apt. Bambang Eko Raharjo

Data Laporan
Hari, Tanggal Praktikum Hari, Tanggal Pengumpulan Laporan
Rabu, 10 Juli 2019

Nilai Laporan
No. Aspek Penilaian Nilai
1. Ketepatan waktu pengumpulan (10)
2. Kesesuaian laporan dengan format (5)
3. Kelengkapan dasar teori (15)
4. Cara Kerja (10)
5. Penyajian hasil (15)
6. Pembahasan (20)
7. Kesimpulan (10)
8. Penulisan daftar pustaka (5)
9. Upload via blog/wordpress/scribd/academia.edu (10)
TOTAL
I. JUDUL PRAKTIKUM
Isolasi dan Identifikasi Minyak Atsiri dari Bonggol Serai

II. TUJUAN PRAKTIKUM


Memahami prinsip dan melakukan isolasi minyak atsiri dari Cymbopogon
citratus dan dapat mengerjakan isolasi beserta identifikasinya dengan
kromatografi lapis tipis.

III. DASAR TEORI


A. Cymbopogon citratus
Serai adalah tanaman yang berasal dari family Poaceae.
Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia, India Selatan Karibia dan
Amerika. Serai dikenal memiliki berbagai aktivitas farmakologi seperti
antidepresan, antioksidan, antiseptic, antibacterial, antifungal, antidiare
dan antiinflamsi (Charles, 2014)
Yusdar M dkk (2013) melakukan penelitian bahwa minyak atsiri
serai dapat menghambat pertumbuhan jamur Malassezia furfur pada
konsentrasi 100%, 50% dan 25%, 12,5% dan 6,25%. Minyak atsiri pada
serai juga dapat menghambat pertumbuhan Candida glabrata menurut
penelitian Almeida dkk (2008).
Indonesia terdapat 40 jenis tanaman penghasil minyak atsiri,
salah satunya dari tanaman serai (Cymbopogon citratus L.). Minyak
dalam serai tersusun atas tiga komponen utama yaitu sitonelol, sitronelal
dan geraniol. Dalam perdagangan sitronelol dan geraniol disebut rhodiol
(Prabandari, 2017).
B. Minyak Atsiri
Minyak atsiri adalah zat berbau yang terdapat dalam berbagai
bagian tanaman, karena menguap bila dibiarkan di udara pada suhu
kamar, maka disebut minyak menguap,minyak eteris atau minyak

1
esensial (Claus, 1959). Minyak atsiri banyak digunakan dalam industri
sebagai bahan pewangi atau penyedap (flavouring). Selain itu minyak
atsiri juga digunakan dalam bidang kesehatan, yakni bahan antiseptik,
analgesik, haemolitik, sedative, stimulan untuk obat sakit perut dan
bakterisida (Guenther dalam Sitepu, 2010).
C. Destilasi
Destilasi adalah metode yang paling populer, banyak digunakan
dan hemat biaya untuk memproduksi minyak atsiri di seluruh dunia.
Penguapan dan isolasi menggunakan destilasi tanaman aromatik dari
membran sel tanaman dengan adanya kelembapan dilakukan dengan
cara pemanasan suhu tinggi,kemudian pendinginan campuran uap untuk
memisahkan minyak dari air atas dasar immiscibility (tidak campur) dan
densitas antara minyak dan air (Yunita dan Wijaya, 2019).
Industri minyak atsiri mengenal tiga metode destilasi, yaitu
destilasi air, destilasi uap dan air, destilasi uap langsung. Percobaan V
yang akan dilakukan praktikan pada praktikum kali ini adalah isolasi
minyak atsiri dengan metode destiasi air dimana terjadi kontak langsung
antara simplisia dengan air mendidih. Bahan yang akan disuling
kemungkinan akan mengapung di atas air atau terendam seluruhnya,
tergantung pada berat jenis dan kuantitas bahan yang akan diproses. Air
dapat dididihkan dengan api secara langsung. Penyulingan air ini tidak
ubahnya bahan tanaman direbus secara langsung.
D. Kromatografi
Kromatografi adalah suatu nama yang digunakan untuk teknik
pemisahan tertentu. Kromatografi menggunakan dua fase yaitu fase
gerak (mobile) dan fase diam (stationary) dimana pemisahan tersebut
tergantung pada gerakan relatif dua fase tersebut (Yunita dan Wijaya,
2019). Hostettmann, dkk (1995) menggolongkan kromatografi menjadi
empat macam yaitu, kromatografi lapis tipis dan kromatografi penukar

2
ion; kromatografi padat; kromatografi partisi dan kromatografi gas-cair;
serta kromatografi kolom kapiler. Percobaan isolasi dan identifikasi
minyak atsiri dari bonggol serai menggunakan kromatografi lapis tipis.
Ada beberapa cara untuk mendeteksi senyawa yang tidak
berwarna pada kromatografi. Deteksi paling sederhana adalah jika
senyawa menunjukkan penyerapan di daerah UV gelombang pendek
(radiasi utama kira-kira 254 nm) atau jika senyawa itu dapat dieksitasi
pada radiasi UV gelombang pendek dan gelombang panjang (365 nm).
Pada senyawa yang mempunyai serapan kuat ± di daerah 230-300 nm
(Stahl, 1985).

IV. ALAT DAN BAHAN


A. ALAT
1. Seperangkat alat destilasi
2. Seperangkat alat KLT
B. BAHAN
1. Bonggol Serai
2. Aquadest
3. N-heksan
4. Natrium Sulfat
5. Etil Asetat

V. CARA KERJA
A. Uraian Cara Kerja
1. Isolasi
Timbang 200 gram bonggol serai dirajang dengan ukuran ± 1 cm,
masukkan dalam labu destilasi stahl kemudian tambahkan air hingga
bonggol serai terendam. Hubungkan labu dengan pendingin dan alat
penampung berskala. Didihkan labu dengan pemanasan yang sesuai

3
selama 2 jam atau sampai minyak atsiri terdestilasi secara sempurna
dan tidak bertambah lagi dalam bagian penampungan berskala.
Minyak yang diperoleh diukur untuk mengetahui rendemen, kemudian
pisahkan minyak atsiri dari air dengan bantuan natrium sulfat.
2. Identifikasi
Kromatografi lapis tipis :
a. Fase diam = Silika Gel GF 254
b. Fase gerak = n-heksan : etil asetat (9:1)
c. Cuplikan = Minyak atsiri hasil destilasi
d. Deteksi = UV 254

4
B. Skematika Cara Kerja

ISOLASI IDENTIFIKASI
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI
MINYAK ATSIRI PADA
BONGGOL SERAI

timbang bonggol KLT


serai 200 gram,
rajam ± 1 cm fase diam = silika
gel GF 254
fase gerak = n-
heksan : etil
masukkan labu asetat (9 : 1)
destilasi stahl, +
air 450 ml cuplikan =
minyak atsiri
hasil destilasi
destilasi uap-air deteksi = sinar
didihkan labu UV 254
t=100º-110ºC, 2
jam

ukur minyak,
hitung rendemen

+ Na Sulfat utk
memisahkan
minyak dan air

Gambar 1. Skematika Cara Kerja

5
VI. HASIL

MINGGU KE 1

Nama Simplisia : Cymbopogon citratus

Ekstraksi

Metode ekstraksi : Destilasi air

Pelarut : Aquadest

Jumlah pelarut : 450 ml

Durasi : 2 jam

Pemurnian minyak atsiri

Metode :-

Pemerian minyak atsiri

Aroma : khas aromatik

Warna : tidak berwarna ( bening )

Bentuk/tekstur : cairan

Rendemen :-

MINGGU KE 2

Hasil pengamatan dengan kromatografi

Fase diam : Silika GF 254

6
Fase gerak : Heksan : etil asetat ( 9:1 )

Pembanding :-

Deteksi : UV 254

Rf :-

Gambar KLT :

Gambar menunjukkan tidak adanya bercak


yang naik dari silica GF 254 ( pada UV 254 )

Gambar 2. Uji KLT

7
VII. PEMBAHASAN

Percobaan ini melakukan isolasi dan identifikasi minyak atsiri dari bonggol
sereh ( Cymbopogon citratus ). Tujuan praktikum ini yaitu dapat memahami prinsip
isolasi minyak atsiri dan dapat mengerjakan isolasi beserta identifikasinya dengan
kromatografi lapis tipis. Isolasi dilakukan dengan metode destilasi.

Percobaan ini, melakukan isolasi minyak atsiri dari bonggol sereh. Isolasi
minyak atsiri ini dilakukan menggunakan metode destilasi yang berdasarkan pada
perbedaan titik didih dari sampel dan pelarut yang digunakan. Metode ini merupakan
proses penguapan dan pendinginan larutan hingga memperoleh destilat yang
kemudian dipisahkan melalui metode ekstraksi. Metode ekstraksi ini berdasarkan
pada perbedaan distribusi antara sampel dan pelarut yang disebabkan oleh perbedaan
kepolaran senyawa.

Percobaan tahap pertama yang dilakukan yaitu persiapan sampel yang akan
digunakan, yaitu bonggol sereh sebanyak 200 gram yang sudah dibersihkan atau
dicuci (simplisia dalam keadaan basah). Sampel dipotong-potong menjadi ukuran
yang lebih kecil dengan tujuan agar pori-porinya mudah di jangkau oleh air sehingga
minyak atsiri akan lebih cepat keluar dari pori-pori sereh (luas permukaan bertambah)
dan menghasilkan minyak atsiri yang lebih banyak. Bonggol sereh yang sudah
dipotong-potong dimasukan dalam labu destilasi, kemudian ditambahkan pelarut air
ke dalam labu destilasi dan menghubungkan labu dengan pendingin dan alat
penampung (wadah destilat). Tahap kedua mendidihkan labu dengan pemanasan yang
sesuai (pada praktikum digunakan suhu 100oC yaitu sesuai dengan titik didih air)
selama 2 jam atau sampai minyak atsiri terdestilasi secara sempurna dan tidak
bertambah lagi dalam bagian wadah atau penampung berskala. Pelarut yang
digunakan adalah air, karena air memiliki sifat kepolaran yang berbeda dengan
minyak atsiri sehingga minyak atsiri akan mudah dipisahkan dari destilat. Suhu di

8
ukur menggunakan thermometer yang dipasang sedemikian rupa, sehingga dapat
menunjukan titik didih senyawa yang ingin dipisahkan. Air dan minyak atsiri tidak
saling melarutkan, selain itu titik didih air lebih kecil dari minyak atsiri sehingga uap
air akan mendorong minyak atsiri untuk lepas dari pori-pori sereh dan menghasilkan
destilat. Destilasi merupakan teknik pemisahan atau pemurnian senyawa yang
didasarkan pada perbedaan titik didih dari masing-masing zat dalam campuran. Pada
metode destilasi akan terjadi penguapan dan pendinginan larutan secara sekaligus.
Saat larutan dipanaskan, larutan akan menguap karena telah melewati titik didihnya.
Uap yang dihasilkan ini kemudian akan mengalir ke dalam kondensor. Ketika uap
melewati kondensor, akan terjadi pendinginan sehingga uap berubah kembali menjadi
larutan yang kemudian ditampung pada wadah destilat (Khopkar, 2003).

Ektraksi yang telah dilakukan akan membentuk dua lapisan pada campuran.
Destilat yang dihasilkan berupa air dan minyak, dimana minyak atsiri berada di
lapisan atas karena masa jenisnya yang lebih kecil dari air. Berat jenis minyak atsiri
berkisar antara 0,800-1,180. Bobot jenis merupakan salah satu kriteria penting dalam
penentuan mutu dan kemurian minyak atisiri (Gunther, 1987). Besar bobot jenis pada
minyak atsiri sangat dipengaruhi dari ukuran bahan dan lama penyulingan yang
dilakukan. Minyak atsiri yang dihasilkan mengeluarkan bau yang khas dari sereh,
keruh dan terdapat lapisan minyak didalam campuran sampel dengan air. Hasil
tersebut dimasukan dalam corong pisah.

Minyak atsiri dipisahkan dari air ditambahkan dengan Natrium sulfat


Anhidrat yang berfungsi untuk mengikat air sekaligus menjernihkan hasil destilat,
sehingga diperoleh minyak atsiri yang murni. Penambahan dilakukan sampai Natrium
Sulfat Anhidrat tidak larut lagi. Isolat yang diperoleh, diidentifikasi, dengan tujuan
untuk memastikan bahwa senyawa yang telah dipisahkan adalah senyawa murni atau
membuktikan adanya suatu komponen yang dituju dalam sampel. Identifikasi yang
dilakukan adalah uji Kromatografi Lapis Tipis dan uji bercak. Namun pada percobaan
yang terjadi adalah tidak adanya minyak atsiri, tetapi tetap dilakukan identifikasi

9
KLT. Pelaksanaan KLT dengan fase diam dan fase gerak. Fase diam, sebagai
adsorben digunakan silika gel GF 254. Tebal lapisan silika gel berkisar antara 0,15-
2,00 mm tergantung pada kebutuhan, untuk analisis umumnya 0,2 mm. Preparatif
tebal lapisan yang dimaksud ± 2,00 mm ( Mulya, M. dan Suharman, 1995 ). Fase
gerak adalah medium angkut dan terdiri atas satu atau beberapa pelarut. Gerakan ini
disebabkan oleh adanya gaya kapiler. Fase gerak ini menggunakan pelarut yang
berderajat kemurnian untuk kromatografi atau pro analisis. Bejana yang digunakan
untuk fase gerak ini harus tertutup rapat untuk mencegah penguapan eluen dari
permukaan pelat, bejana harus dijenuhkan dengan uap eluen dengan cara meletakkan
kertas saring di seluruh dinding sebelah dalam bejana dan membiarkannya sampai
seluruh kertas saring dibasahi dengan uap eluen. Tingkat kejenuhan bejana dengan
eluen mempunyai pengaruh yang nyata pada pemisahan dan letak noda pada
kromatogram.

Penotolan dilakukan dengan pipa kapiler dimana larutan sample ditotolkan


pada plat silika gel 254 sepanjang 5x10 cm sebanyak 5 kali. Pengembang yang
digunakan adalah heksan 9 ml dan etil asetat 1 ml ( 9:1 ). Proses pengembangan ini
merupakan proses pemisahan campuran akibat fase gerak atau pelarut pengembang
merambat naik melalui pelat/ lapisan tipis. Jarak pengembangan normal yaitu jarak
antara garis awal penotolan dan garis akhir pengembangan adalah 100 mm.
Praktikum ini digunakan jarak pengembangan atas dan bawah adalam 1 cm.
Berdasarkan arah pengembangan, pengembangan naik ini digunakan untuk tujuan
mencapai kesetimbangan partisi yang lebih sempurna sehingga akan didapat noda
yang kompak dan terpisah dengan baik.

Deteksi ini menggunakan sinar UV gelombang panjang 254 nm. Panjang


gelombang yang digunakan 254 nm karena dalam plat terdapat indikator fluoresensi
yang akan berpendar/ berfluoresensi di bawah lampu UV 254 nm sehingga senyawa-
senyawa akan nampak sebagai noda gelap. Dari hasil percobaan ternyata tidak
nampak noda pada sample ( tidak seperti yang diharapkan ). Ketidaksesuaian tersebut

10
dikarenakan proses destilasi yang tidak maskimal, kurang teliti dalam pengukuran
volume dan penimbangan massa bonggol sereh, juga lingkungan dapat mengubah
jumlah dan kualitas minyak atsiri yang dihasilkan (Ketaren, 1985). Faktor kimia
disebabkan oleh komponen minyak atsiri sebagian besar terdiri dari senyawa yang
mengandung hetero atom oksigen serperti alkohol, aldehid dan oksida. Adanya hetero
atom menyebabkan senyawa-senyawa tersebut mudah terurai (Agusta, 2000).

Identifikasi uji bercak dilakukan dengan hasil destilasi minyak atsiri


diteteskan pada 1 potong kertas saring. Minyak atsiri hasil destilasi dikatakan murni
apabila menunjukan hasil yang serupa dengan cuplikan standar dan bukan merupakan
air. Hasil menunjukan teksur tetesan minyak atsiri hasil destilasi bercak tidak terlihat
jelas dan hanya terlihat samar-samar kemudian hilang sehingga minyak atsiri hasil
destilasi yang diperoleh masih campuran antara minyak atsiri dan air.

11
VIII. KESIMPULAN

Praktikum percobaan yang dilakukan dapat diperoleh kesimpulan


bahwa isolasi minyak atsiri dari sampel bonggol sereh menggunakan metode
destilasi air dengan prinsip pemisahan yang didasari atas perbedaan titik didih
atau titik cair dimana proses isolasi berjalan dengan baik. Identifikasi
dilakukan dengan uji bercak dan KLT, dimana uji bercak menunjukkan bercak
pada kertas tidak terlihat jelas dan samar. Kromatografi Lapis Tipis dilakukan
dan tidak terjadi pergeseran noda, sehingga diamati pada sinar UV tidak
nampak spot senyawa target yang diharapkan.

12
IX. DAFTAR PUSTAKA

Aguasta, Andria. 2000. Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. Bandung: ITB
Press. Hal 1-7
Almeida, dkk., 2008, Antimicrobial Acticity of Cymbopogon citratus Against
Candida spp., Rev Odontol, UNESP.
Charles, J., 2014, Antioxidant in Spices, USA : Spingers (9 : 377)

Claus, E., 1959, Pharmacognosy, 6th Edition, Lea and Febiger, Philadephia.

Guenther, E. (1987). Minyak Atsiri Jilid I (Terjemahan). Jakarta : Universitas


Indonesia Press. Hal 44-484.
Hostettmann, K., dkk., 1995, Cara Kromatografi Preparatif, Penerbit ITB, Bandung.

Ketaren, S, 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri, Balai Pustaka, Jakarta.

Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia Press.
Jakarta.
Mulya,M. dan Suharman, 1995. Analisis Instrumental. Surabaya : Airlangga
University Press
Prabandari, Rani, 2017, Profil Kromatografi Lapis Tipis Minyak Atsiri Sereh
(Cymbopogon citratus), Jurnal Viva Medika (1:72-73).
Sitepu, Joice, S., G., 2010, Pengaruh Variasi Metode Ekstraksi secara Maserasi dan
dengan AAlat Soxhlet terhadap Kandungan Kurkuminoid dan Minyak Atsiri
dalam Ekstrak Etanolik Kunyit (Curcuma domestica Val.), Fakultas Farmasi
USD, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Stahl, E., 1985, Analisis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi, ITB, Bandung.

Yusdar H., D., Alam, G., Dwayana, Z., 2013, Bioaktivitas Minyak Atsiri Sereh
(Cymbopogon citratus) dalam Menghambat Pertembuhan Jamur Malassezia
furfur Penyebab Panu (pitiriasis versicolor), Reseach Gate Journal.

13