Anda di halaman 1dari 10

PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU

No.: ………………………………………………………

Pada hari Jumat tanggal Sepuluh Bulan Juni Tahun 2016 telah mengadakan Perjanjian Kerja Waktu
Tertentu dan telah disepakati oleh masing-masing pihak yang bertanda tangan dibawah ini :

I. Nama Perusahaan : PT. …………………………


Alamat : ………………………….
Jl. …………………………….
……………………………….
Diwakili oleh : ………………………..
Jabatan : ………………………..

Bertindak untuk dan atas nama PT…………………………. untuk selanjutnya disebut sebagai PIHAK
PERTAMA.

II. Nama :
Alamat :
Tempat / Tgl Lahir :
Status Pernikahan :
Pendidikan :
No KTP/SIM :
Masa Berlaku KTP :

Dalam Perjanjian Kerja ini sebagai pekerja, bertindak untuk dan atas nama diri sendiri yang
selanjutnya disebut sebagai PIHAK KEDUA (Pekerja).

Pihak Pertama dan Pihak Kedua sepakat untuk mengadakan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu sesuai
dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
Pasal 1
PENERIMAAN KARYAWAN
1.PIHAK KEDUA diterima oleh PIHAK PERTAMA untuk dipekerjakan dilingkungan PT.
……………………………….
pada seluruh proyek dan cabang perusahaan di Indonesia.
2. Masa Kerja PIHAK KEDUA 18 Juni 2016 sampai dengan tanggal 17 Juni 2017 atau sampai dengan
pekerjaan selesai.

Pasal 2
TUGAS DAN PENEMPATAN
1. PIHAK PERTAMA akan mempekerjakan PIHAK KEDUA sebagai berikut :
a. Jabatan :
b. Kantor/Proyek : ……………………………..
c. Lokasi Kerja : …………………………….)

2. PIHAK KEDUA menyetujui untuk dipekerjakan sesuai dengan jabatan yang tertera pada
Pasal 2 ayat 1 dan akan melaksanakan tugas pekerjaan dengan penuh tanggung jawab dan
sebaik-baiknya.
3. PIHAK KEDUA menyatakan bersedia untuk ditempatkan / dimutasikan pada tugas-tugas pekerjaan
lain dan atau cabang lain sesuai dengan kebutuhan PIHAK PERTAMA.

Pasal 3
HARI KERJA, WAKTU KERJA DAN HARI LIBUR
1.Hari Kerja adalah 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu, yaitu hari Senin sampai dengan hari
Sabtu.
2.Jam Kerja PIHAK KEDUA dimulai dari jam 07:00 WIB s/d 18:00 WIB, Jam istirahat dari jam 12:00 WIB
s/d jam 13:00 WIB, kecuali hari Jumat jam istirahat dari jam 11:30 WIB s/d jam 13:00 WIB, dimana
jam kerja/hari kerja tersebut sewaktu-waktu dapat dirubah/disesuaikan dengan kondisi dan
kebutuhan proyek.
3.Bekerja diatas jam 18:00 dan/atau bekerja pada hari libur mingguan atau hari libur resmi harus
mengikuti prosedur yang berlaku dengan mengisi form lembur dan sebelumnya mendapat persetujuan
tertulis dari atasan langsung/Manager departemen masing-masing.
4 PIHAK PERTAMA sepakat memberikan upah yang lebih tinggi kepada PIHAK KEDUA dan PIHAK KEDUA
sepakat tidak menuntut upah lembur kepada PIHAK PERTAMA apabila bekerja melebihi jam kerja
yang telah ditentukan oleh perusahaan sebagaiman diatur dalam Pasal 4 ayat (2) dan (3) Keputusan
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP. 102/MEN/VI/2004 Tentang
Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur, disebutkan bahwa;
4.1 Bagi pekerja/buruh yang termasuk dalam golongan jabatan tertentu, tidak berhak atas upah kerja
lembur sebagaimana dimaksud ayat (1), dengan ketentuan mendapat upah yang lebih tinggi.
4.2 Yang termasuk golongan jabatan tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2.1.) adalah mereka
yang memiliki tanggung jawab sebagai pemikir, perencana, pelaksana dan pengendali jalannya
perusahaan yang waktu kerjanya tidak dapat dibatasi menurut waktu kerja yang ditetapkan
perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5. Apabila PIHAK PERTAMA mempekerjakan PIHAK KEDUA lebih dari jam kerja yang telah ditetapkan
sebagaimana Pasal 3 ayat (1) dan (2), maka PIHAK KEDUA bersedia dan sanggup untuk
melaksanakannya karena tanggung jawab pekerjaan yang telah diberikan dari PIHAK PERTAMA kepada
PIHAK KEDUA.
6. PIHAK KEDUA bersedia untuk melaksanakan kerja shift, dengan pembagian sistim 2 (dua) atau 3 (tiga)
shift apabila PIHAK PERTAMA memerlukan kerja shift.
7.Hari Libur mingguan berdasarkan kalender hari libur mingguan, yang mana jadwal hari libur mingguan
dapat
diatur atau ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
8.. Hari Libur resmi merupakan hari libur sebagaimana ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia.

Pasal 4
PEMBAYARAN UPAH
1. PIHAK PERTAMA memberikan upah kepada PIHAK KEDUA berdasarkan hari/jam kerja yang tertera
pada Pasal 3 ayat 1,2,3 & 4 diatas, dengan perincian gaji kotor sebagai berikut :

a. Upah Pokok : Rp.XXX/bulan


b. Tunjangan Tetap Perumahan : Rp.XXX/bulan
c. Upah Over Time : Rp.XXX/bulan
(tidak tetap/berdasarkan kehadiran.
d. Tunjangan Tidak Tetap Uang Makan : Rp.XXX/bulan
(berdasarkan kehadiran)
e. Tunjangan Tidak Tetap Transport : Rp.XXX/bulan
(berdasarkan kehadiran)
f. Uang Pisah bila PKWT berakhir : Rp.XXX/bulan

2. Upah dibayarkan setiap tanggal .. (………………………) bulan berikutnya, dan apabila tanggal tersebut
jatuh pada hari libur, maka pembayaran upah 1 (satu) hari sebelumnya.
3. Upah lembur tidak tetap per bulan yang tertera pada Pasal 4 huruf (c ) dibayar berdasarkan
kehadiran.
4.Tunjangan Perumahaan diberikan setiap bulan tanpa memperhitungkan kehadiran, kecuali mangkir.
5.TunjanganTidak Tetap Uang Makan dibayar berdasarkan kehadiran.
6. Tunjangan Tidak Tetap Transport dibayar berdasarkan kehadiran.
7.Uang Pisah seperti yang tercantum pada Pasal 4 ayat 1 huruf (f) akan diberikan atau dikeluarkan
setiap bulan oleh PIHAK PERTAMA, sehingga apabila PKWT berakhir atau terjadi pemutusan hubungan
kerja, maka PIHAK KEDUA tidak berhak untuk menuntut uang pisah/pesangon dari PIHAK PERTAMA.
8. Bila PIHAK KEDUA mangkir kerja (tidak masuk kerja tanpa Keterangan dan persetujuan terlebih
dahulu dari
PIHAK PERTAMA), maka gaji akan dipotong/tidak dibayar sama sekali selama mangkir di hari kerja
tersebut.
9.Gaji yang dibayarkan/ditransfer PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA sudah
dikurangi/dipotong dengan:
1. Pajak Penghasilan (PPH) sesuai dengan aturan yang berlaku.
2. Iuran JHT dan JP yang merupakan tanggungan PIHAK KEDUA sesuai peraturanBPJS Ketenagakerjaan.
3.Iuran BPJS Kesehatan yang merupakan tanggungan PIHAK KEDUA sesuai dengan peraturan BPJS
Kesehatan.

Pasal 5
KEPESERTAAN JAMINAN SOSIAL
1.PIHAK PERTAMA akan mengikutsertakan PIHAK KEDUA pada Program Jaminan Sosial BPJS
Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.
2. Premi atas program asuransi BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan sebagaimana dimaksud pada
pasal 5 ayat 1 tersebut diatas, masing-masing akan ditanggung oleh PIHAK PERTAMA dan PIHAK
KEDUA sesuai dengan peraturan yang berlaku.
3. Premi JHT(2%) dan JP (1%)yang merupakan tanggungan PIHAK KEDUA akan dipotong/dikurangi dari
gaji pokok/gaji tetap PIHAK KEDUA sesuai peraturan BPJS Ketenagakerjaan.
4. Premi BPJS Kesehatan (1%) yang merupakan tanggungan PIHAK KEDUA akan dipotong/dikurangi dari
gaji pokok/gaji tetap PIHAK KEDUA sesuai peraturan BPJS Kesehatan.

Pasal 6
PAJAK PENGHASILAN (PPH 21)
Pajak Penghasilan (PPh Pasal 21) merupakan kewajiban PIHAK KEDUA, yang akan dipotong oleh PIHAK
PERTAMA dari Total Gaji Kotor PIHAK KEDUA. Untuk kepentingan pemotongan pajak , PIHAK KEDUA
wajib memberikan keterangan yang sah/benar atas status keluarga dan memberitahukan semua
perubahan status keluarga secara tertulis berupa : Tidak Kawin, Kawin, Kawin anak 1, Kawin anak 2,
Kawin anak 3 (melampirkan Kartu Keluarga/surat kelahiran).

Pasal 7
TUNJANGAN HARI RAYA (THR)
1. PIHAK PERTAMA akan memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada PIHAK KEDUA yang telah
mempunyai masa kerja 3 (tiga) bulan secara terus menerus atau lebih.
2. Bagi PIHAK KEDUA yang telah bekerja selama 3 (tiga) bulan atau lebih tetapi kurang dari 1 (satu)
tahun, THR diberikan secara proporsional.
3. Bagi PIHAK KEDUA yang telah bekerja selama 1(satu) tahun atau lebih diberikan THR sebesar 1(satu)
bulan Upah Tetap (Upah Pokok + Tunjangan Tetap Perumahan).
4.Tunjangan Hari Raya akan diberikan kepada PIHAK KEDUA paling lambat 1(satu) minggu sebelum hari
raya.

Pasal 8
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
1. PIHAK KEDUA wajib memakai / menggunakan alat pelindung diri yang disediakan PIHAK PERTAMA
dan memelihara dengan baik alat pelindung diri tersebut.
2.PIHAK KEDUA wajib mengembalikan alat-alat pelindung diri yang disediakan oleh PIHAK PERTAMA,
apabila PIHAK KEDUA mengundurkan diri atas kemauan sendiri sebelum masa kontrak kerja selesai,
atau diberhentikan oleh PIHAK PERTAMA karena PIHAK KEDUA melanggar tata tertib perusahaan, atau
berakhirnya masa kontrak kerja PKWT ini.
3. PIHAK KEDUA wajib bekerja secara hati-hati sesuai dengan prosedur kerja yang telah ditetapkan
oleh PIHAK PERTAMA atau PIHAK OWNER dan menghindari kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.

Pasal 9
TATA TERTIB
1. Kewajiban PIHAK KEDUA (Pekerja)
a. PIHAK KEDUA wajib hadir dan meninggalkan tempat kerja sesuai dengan jam kerja yang
ditentukan pada pasal 3 (tiga) ayat 1 (satu) dan 2 (dua) dalam perjanjian PKWT ini.
b. PIHAK KEDUA wajib mengisi daftar absensi yang disediakan oleh PIHAK PERTAMA pada waktu masuk
dan pulang bekerja dan harus diisi oleh PIHAK KEDUA sendiri.
c. PIHAK KEDUA wajib menerima dan melaksanakan tugas serta tanggung jawab yang diberikan oleh
PIHAK PERTAMA.
d. PIHAK KEDUA wajib mengikuti jadwal kerja dan strategi kerja yang diatur dan ditentukan oleh PIHAK
PERTAMA.
e.PIHAK KEDUA wajib menjaga dan memelihara dengan baik, serta bertanggung jawab atas keberadaan
semua barang milik PIHAK PERTAMA dan melaporkan kepada PIHAK PERTAMA apabila mengetahui hal-
hal yang dapat menimbulkan bahaya atau kerugian bagi PIHAK PERTAMA
f. PIHAK KEDUA wajib memelihara dan memegang teguh rahasia perusahaan kepada siapapun mengenai
segala hal yang berkaitan dengan perusahaan/PIHAK PERTAMA.
g.PIHAK KEDUA wajib melaporkan kepada PIHAK PERTAMA apabila ada perubahan-perubahan status
dirinya, seperti susunan keluarga, perubahan alamat dan lain sebagainya
h.PIHAK KEDUA wajib memeriksa alat-alat kerja masing-masing sebelum mulai bekerja atau
meninggalkan pekerjaan, sehingga benar-benar tidak akan menimbulkan kerusakan / mengganggu
pekerjaan.
i. PIHAK KEDUA yang bermaksud minta izin untuk tidak bekerja, pulang setengah hari kerja atau
sakit wajib mendapat izin dari atasan langsung /PIHAK PERTAMA.
j. PIHAK KEDUA wajib menjaga norma agama dan norma susila yang berlaku di PIHAK PERTAMA dan
atau di lingkungan PIHAK PERTAMA/perusahaan.
k.Apabila PIHAK KEDUA ingin mengundurkan diri dari pekerjaan sebelum masa kontrak PKWT ini
berakhir, maka PIHAK KEDUA wajib memberitahukan secara tertulis perihal pengunduran dirinya satu
bulan sebelumnya, dan membayar penalti sesuai dengan peraturan perundang-undangan

2. Larangan-Larangan bagi PIHAK KEDUA (Pekerja)


a. PIHAK KEDUA dilarang membawa / mempergunakan barang-barang milik PIHAK PERTAMA,membawa
keluar dari lingkungan perusahaan/PIHAK PERTAMA tanpa ijin dari PIHAK PERTAMA.
b. PIHAK KEDUA dilarang melakukan penipuan, pencurian, pemogokan kerja dan penggelapan barang
milik perusahaan.
c. PIHAK KEDUA dilarang memberikan keterangan palsu, atau yang dipalsukan sehingga merugikan
PIHAK PERTAMA.
d. PIHAK KEDUA dilarang mabuk, minum minuman keras yang memabukan, memakai atau mengedarkan
narkoba, psikotripika dan zat adiktif lainnya.
e. PIHAK KEDUA dilarang menyerang, menganiaya, mengancam atau mengintimidasi teman
sekerja atau pengusaha dilingkungan kerja PIHAK PERTAMA dan Pihak Owner.
f. PIHAK KEDUA dilarang membujuk teman sekerja atau pengusaha untuk melakukan perbuatan yang
bertentangan dengan peraturan perusahaan dan perundang-undangan.
g. PIHAK KEDUA dilarang dengan ceroboh atau sengaja merusak, merugikan atau membiarkan dalam
keadaan bahaya barang-barang milik PIHAK PERTAMA yang menimbulkan kerugian bagi PIHAK
PERTAMA.
h. PIHAK KEDUA dilarang dengan ceroboh atau sengaja membiarkan teman sekerja atau pengusaha
dalam keadaan bahaya ditempat kerja.
i. PIHAK KEDUA dilarang membongkar atau membocorkan rahasia yang seharusnya dirahasiakan kecuali
untuk kepentingan Negara.
j. PIHAK KEDUA dilarang menyalahgunakan wewenang yang dimiliki dan dilarang menerima setiap
komisi, suap, pembayaran atau pembayaran kembali atau dengan cara lain yang memberikan atau
menawarkan uang atau apapun yang berharga secara langsung atau tidak langsung dalam rangka
untuk memberikan pengaruh atau mempengaruhi kewajiban-kewajibannya terhadap PIHAK PERTAMA
k. PIHAK KEDUA dilarang mangkir selama 5(lima) hari Kerja atau lebih tanpa keterangan secara tertulis
yang dilengkapi dengan bukti yang syah.

Jika PIHAK KEDUA melanggar Pasal 9 ayat 2 butir (a) sampai dengan butir (k) maka PIHAK PERTAMA
berhak memutuskan hubungan kerja secara sepihak tanpa persyaratan apapun dan tanpa pesangon
dan ganti rugi berupa apapun.

Pasal 10
SANKSI – SANKSI
1. PIHAK PERTAMA akan memberikan sanksi kepada PIHAK KEDUA berupa Pemutusan Hubungan Kerja
(PHK) apabila PIHAK KEDUA melakukan kesalahan berat, tersangkut masalah hukum pidana baik
didalam maupun diluar perusahaan sesuai Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, tentang
Ketenagakerjaan.
2. PIHAK PERTAMA akan memberikan sanksi berupa Surat Peringatan 1 (Pertama), ke 2 (Dua) dan ke 3
(tiga) apabila PIHAK KEDUA melakukan pelanggaran tata tertib PIHAK PERTAMA (kesalahan ringan).
3. Masa berlaku setiap Surat Peringatan adalah 6 (enam) bulan, dan apabila PIHAK KEDUA
telah diberikan Surat Peringatan III (tiga) tetapi masih melakukan pelanggaran lagi, maka akan
dilakukan pemutusan Hubungankerjanya dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 13
Tahun 2003, tentang ketenagakerjaan.
4. Surat Peringatan diberikan berdasarkan pada berat ringannya kesalahan yang dilakukan PIHAK
KEDUA.
Pasal 11
BERAKHIRNYA PERJANJIAN KERJA
1. Dengan berakhirnya Perjanjian Kerja Waktu Tertentu ini, maka hubungan kerja antara PIHAK
PERTAMA dengan PIHAK KEDUA berakhir secara otomatis.
2. Dengan berakhirnya hubungan kerja antara PIHAK PERTAMA dengan PIHAK KEDUA, maka tidak ada
kewajiban PIHAK PERTAMA untuk memberikan pesangon atau/dan ganti rugi berupa apapun kepada
PIHAK KEDUA.
3. Apabila PIHAK PERTAMA bermaksud memperpanjang perjanjian kerja ini, maka harus
memberitahukannya kepada Pihak Kedua 1 (satu) bulan sebelumnya atau paling lambat 1(satu)
minggu sebelum berakhirnya perjanjian kerja ini.
4. Apabila Proyek ini dibatalkan dan/atau dihentikan dikarenakan alasan-alasan yang diluar kemampuan
PIHAK PERTAMA dan/atau pada kondisi force majeur dan alasan-alasan lainnya, maka perjanjian kerja
PKWT ini secara otomatis akan berakhir, serta PIHAK PERTAMA tidak berkewajiban untuk memberikan
kompensasi dalam bentuk apapun termasuk kompensasi sisa masa kontrak kerja kepada PIHAK KEDUA.
5. Apabila PIHAK KEDUA tidak setuju dengan upah yang tertera di dalam kontrak kerja ini, maka secara
otomatis kontrak kerja PKWT ini berakhir/selesai.

Pasal 12
PERSELISIHAN
1. Apabila terjadi perselisihan para pihak sepakat diselesaikan secara musyawarah dan mufakat.
2.Apabila penyelesaian perselisihan secara musyawarah mufakat mengalami jalan buntu, maka kedua
belah pihak sepakat untuk diselesaikan sesuai dengan hukum yang berlaku di NKRI.

Pasal 13
LAIN-LAIN
Hal-hal lain yang berkaitan dengan ketenagakerjaan dalam proyek ini, akan diatur dalam peraturan
tentang ketenagakerjaan yang dikeluarkan oleh PIHAK PERTAMA.

Pasal 14
PENUTUP
Demikian Perjanjian Kerja Waktu Tertentu ini dibuat rangkap 2 (dua) bermeterai cukup dan menjadi
satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dengan Surat Pernyataan yang dibuat dan disetujui oleh
PIHAK KEDUA, dan setelah para pihak membaca, mengerti serta menandatanganinya dalam keadaan
sadar, sehat jasmani dan rohani tanpa ada paksaan dari siapapun dan dari pihak manapun, kemudian
masing-masing pihak memegang 1 (satu) bundel asli.

Jakarta, ……….. Juni 2016

PIHAK PERTAMA PIHAK


KEDUA

………………………………….. (……………
…………….)

FIXED TERM EMPLOYEMENT CONTRACT


No.: ………………………………………………………….

Today, Friday, June 10th, 2016, Fixed Term Employment Agreement has been made and mutually
agreed to by the undersigned:

I. Name of Company : PT. ……………………………


Address : ………………………………….
………………………………….
………………………………
Represented by : …………………………………..
Title : ………………………………….

Acting for and on behalf of PT……………………………. is hereinafter referred to as THE FIRST PARTY.

II. Name :
Address :
Place / Birth Date :
Marital Status :
Education :
ID No/Driving License :
ID Card Validity :

In this Employment Agreement as an employee, acting for and on behalf of himself/herself is


hereinafter referred to as THE SECOND PARTY (Employee).

The First Party and The Second Party have agreed to be bound in the Fixed Term Employment
Agreement as per the following provisions:
Article 1
EMPLOYEE RECRUITMENT
1. THE SECOND PARTY is accepted by THE FIRST PARTY to be employed within PT. …………………. for all
of the projects and company branches in Indonesia.
2. The employment period of THE SECOND PARTY is from June 18 th, 2016 to June 17th, 2017 or until the
project work is completed.

Article 2
DUTY AND PLACEMENT
3. THE FIRST PARTY will employ THE SECOND PARTY as follows:
a. Title :
b. Office/Project : ………………………………………
c. Work Location : ………………………………………

2. THE SECOND PARTY agrees to be employed as per the title stated in Article 2 verse 1 and will carry
out the duty as well as possible and in full responsibility.
3. THE SECOND PARTY states that he/she is willing to be placed / transferred to other duties and or
other branches as required by THE FIRST PARTY.

Article 3
WORKING DAYS, WORKING HOURS AND HOLIDAYS
1. Work days are 6(six) days within 1(one) week starting from Monday to Saturday.
2. The working hours of THE SECOND PARTY starts from 07:00 WIB (West Indonesian Time) until
18:00 WIB (West Indonesian Time), the break time starts from 12:00 WIB (West Indonesian Time) until
13:00 WIB(West Indonesian Time), except for Friday, the break time starts from 11:30 WIB (West
Indonesian Time) until 13:00 WIB (West Indonesian Time). These working hours are subject to change
or adjusted to the condition and the project's need
3. In the event that THE FIRST PARTY works over 18:00 and/or works on Sundays or on official holidays
he/she shall be follow the applicable procedure and fills the overtime form and has obtained a
written approval from his/her Supervisor/Manager.
4 THE FIRST PARTY agrees to give higher salary to THE SECOND PARTY and THE SECOND PARTY agrees
not to demand overtime pay to THE FIRST PARTY if he/she works over the working hours prescribed
under Article 4 verse (2) and (3) of the Decree Letter of Manpower and Transmigration Minister of
the Republic of Indonesia No.KEP. 102/MEN/VI/2004 re: Overtime Work and Overtime Pay, stating
that;
4.1 Employees/workers included in certain position levels, are not entitled to receive overtime pay as
referred to in verse (1), as they are paid higher salaries.
4.2 Those belonging to a certain position as referred to in verse (2.1) are employees/officials having
responsibility as thinkers, planners, executors and controllers of a company operation, whose time is
not limited to the working hours determined by the company as per the applicable laws.
5. If THE FIRST PARTY employees THE SECOND PARTY for more than the working hours determined
under Article 3 verse (1) and (2), then THE SECOND PARTY is willing and able to carry out his/her
duty for the work responsibility has been given by THE FIRST PARTY to THE SECOND PARTY.
6. THE SECOND PARTY is willing to work on shift with shift divided into 2(two) or 3(three) systems if
THE FIRST PARTY requires work on shift.
7. Weekly holiday is based on the calendar of weekly holiday, on which weekly holiday schedule is set
or determined by mutual agreement.
8. Official holidays are holidays determined by the Government of Indonesia.

Article 4
SALARY PAYEMENT
1. THE FIRST PARTY pays THE SECOND PARTY based on the day/working hours stated under Article 3
verses 1,2,3 & f above with the description of gross salary as follows:

a. Basic salary : Rp.XXX/month


b. Housing fixed allowance : Rp.XXX/month
c. Overtime Pay : Rp.XXX/month
(not fixed/based on attendance)
d. Unfixed meal allowance : Rp.XXX/month
(based on attendance)
e. Unfixed transport allowance : Rp.XXX/month
(based on attendance)
f. Separation Pay in the event of
termination of fixed term contract : Rp.XXX/month

4. Salary is paid on the 25th of the following month, and if the date falls on holiday date, payment is
to be paid 1 (one) day earlier.
3. Unfixed Overtime pay per month stated under Article 4 letter (c) is paid based on attendance.
4. Housing allowance is monthly paid without considering attendance except he or she is absent.
5. Unfixed meal allowance is paid based on attendance.
6. Unfixed transport allowance is paid based on attendance.
7. Separation pay as stated under Article 4 verse 1 letter (f) shall be given or issued every month by
THE FIRST PARTY so that in the event of termination of fixed term contract or termination of
employment, THE SECOND PARTY is not entitled to demand separation pay/severance pay from THE
FIRST PARTY.
8. If THE SECOND PARTY is absent (absent without notification and prior approval from THE FIRST
PARTY), then his/her salary for the absence period shall be deducted/shall not be paid.
9. The salary, which is paid/transferred by THE FIRST PARTY to THE SECOND PARTY are net of:
1. Income tax as per the applicable regulations.
2. JHT dues (Old-age Insurance dues) and Pension shall be borne by THE SECOND PARTY as per the
regulations of BPJS Ketenagakerjaan.
3. BPJS Kesehatan dues shall be borne by THE SECOND PARTY as per BPJS Kesehatan regulations.

Article 5
SOCIAL SECURITY MEMBERSHIP
1. THE FIRST PARTY will engage THE SECOND PARTY in Social Security Program of BPJS Ketenagakerjaan
dan BPJS Kesehatan.
2. The premium of BPJS Ketenagakerjaan and BPJS Kesehatan Insurance as stated under Article 5 verse
1 mentioned above shall respectively be borne by THE FIRST PARTY and THE SECOND PARTY as per
the applicable regulations.
3. JHT Premium (2%) and JP (1%), which shall be borne by THE SECOND PARTY, shall be deducted from
THE SECOND PARTY's fixed salary as per the regulation of BPJS Ketenagakerjaan.
4. BPJS Kesehatan Premium (1%), which is THE SECOND PARY's liability shall be deducted from THE
SECOND PARTY'S fixed salary as per the regulation of BPJS Kesehatan.

Article 6
INCOME TAX (PPH 21)
Income tax (PPh Pasal 21) is the obligation of THE SECOND PARTY, which shall be deducted by THE
FIRST PARTY from THE SECOND PARTY's total salary. For the sake of tax deduction, THE SECOND
PARTY shall provide legal/proper statement on his or her family status and notify changes in family
status in writing such as: Single, Married, and Married with 1 child, Married with 2 children, Married
with 3 children (Family card/Birth Certificates shall be enclosed).

Article 7
HARI RAYA ALLOWANCE (THR)
1. THE FIRST PARTY will provide Hari Raya Allowance (THR) to THE SECOND PARTY having worked
continuously for 3(three) months or more.
2. For THE SECOND PARTY, who has worked for 3(three) months or more but less than 1(one) year, Hari
Raya Allowance (THR) will be paid proportionally.
3. For THE SECOND PARTY, who has worked for 1(one) year or more will be provided THR as much as
1(one) month fixed salary (Basic salary + Housing fixed allowance).
4. Hari Raya Allowance (THR) will be provided to THE SECOND PARTY not later than 1(one) week prior
to Hari Raya.

Article 8
OCCUPATIONAL SAFETY and HEALTH
1. THE SECOND PARTY shall wear/use personal protective equipment provided by THE FIRST PARTY and
shall maintain it well.
2. THE SECOND PARTY shall return the personal protective equipment provided by THE FIRST PARTY if
THE SECOND PARTY resigns of his/her own accord before the contract expires, or is dismissed by THE
FIRST PARTY due to THE SECOND PARTY violating the code of conduct determined by THE FIRST PARTY
or the fixed term contract has expired.
3. THE SECOND PARTY shall work carefully as per the occupational procedure determined by THE FIRST
PARTY or OWNER and avoid potential occupational accidents.

Article 9
CODE OF CONDUCT
1. Obligation of THE SECOND PARTY (Employee)
a. THE SECOND PARTY shall be present and leave the workplace according to the working hours
determined under Article 3 (three) verse 1(one) and 2(two) of this fixed term employment contract.
b. THE SECOND PARTY shall fill in the attendance list provided by THE FIRST PARTY at the time of
attending and leaving the workplace and the said list shall be filled by THE SECOND PARTY himself.
c. THE SECOND PARTY shall accept and execute the task as well as responsibility assigned by THE FIRST
PARTY.
d. THE SECOND PARTY shall follow work schedule and strategy regulated and determined by THE FIRST
PARTY.
e. THE SECOND PARTY shall keep and maintain and be responsible for all properties of THE FIRST PARTY
and report them to THE FIRST PARTY in the event that he/she knows matters that may cause hazard
or loss to THE FIRST PARTY
f. THE SECOND PARTY shall keep and firmly hold the company confidentiality from anyone as regard to
any matters related to the company/THE FIRST PARTY.
g. THE SECOND PARTY shall report to THE FIRST PARTY when there are changes in his or her status like
his/her family tree, changes of address and so on.
h. THE SECOND PARTY shall check respective occupational equipment prio to starting or leaving work
so that it will not cause any damage / obstruct work.
i. THE SECOND PARTY, who wishes to request permit to be absent, or work half day or due to illness,
shall obtain permit from his or her supervisor/THE FIRST PARTY.
j. THE SECOND PARTY shall uphold religious and social norms applicable for THE FIRST PARTY and or in
the environment of THE FIRST PARTY/Company.
k. If THE SECOND PARTY intends to resign from work prior to the expiration of fixed term contract,
then THE SECOND PARTY shall notify in writing regarding his/her resignation one month before, and
shall pay penalty as per the applicable laws

2. Prohibition for THE SECOND PARTY (Employee)


k. THE SECOND PARTY is prohibited to take / use the properties of the FIRST PARTY, take them outside
the environment of the company/THE FIRST PARTY without permission from THE FIRST PARTY.
l. THE SECOND PARTY is prohibited to commit fraud, theft, strike and embezzlement of company
properties.
m. THE SECOND PARTY is prohibited to give false statement, or statement that is falsified to the
detriment of THE FIRST PARTY.
n. THE SECOND PARTY is prohibited to be in intoxication, engaged in alcoholic drinking, to consume or
distribute drugs, psychotropic and other addictive substance.
o. THE SECOND PARTY is prohibited to attach, mistreat, threaten or intimidate his/her coworkers or
businessmen/women in the environment of THE FIRST PARTY and OWNER.
p. THE SECOND PARTY is prohibited to influence his/her coworkers or businessmen/women, which is
against the company's regulations and laws.
q. THE SECOND PARTY is prohibited to carelessly intend to damage to the detriment of or neglect in
danger the properties of THE FIRST PARTY.
r. THE SECOND PARTY is prohibited to carelessly intend to ignore his/her coworkers or
businessmen/women in danger in the workplace.
s. THE SECOND PARTY is prohibited to reveal or leak confidentiality, which should be kept secret except
for the interest of the State.
t. THE SECOND PARTY is prohibited to misuse his/her authority and prohibited to accept every
commission, bribe, payment or repayment or in other ways give or offer money or any valuable things
directly or indirectly in the hope of giving influence or affecting his obligations to THE FIRST PARTY
k. THE SECOND PARTY is prohibited to be absent for 5(five) days or more without a written explanation
accompanied with legitimate proof.

In the event that THE SECOND PARTY violates Article 9 verse 2 from verse (a) to (k), then THE FIRST
PARTY is entitled to terminate unilaterally employment without any requirements and without
severance pay or compensation whatsoever.

Article 10
SANCTIONS
5. THE FIRST PARTY will impose sanctions to THE SECONDD PARTY in the form of Employment
Termination (PHK) if THE SECOND PARTY makes major offenses, is involved in criminal law issues
inside or outside the company in accordance with the Laws No.13 Year 2004 re: employment.
6. THE FIRST PARTY will impose sanctions in the form of the First, the Second and the Third Warning
Letters if THE SECOND PARTY makes an offence to the Code and Conduct of THE FIRST PARTY (light
offense).
7. Each of the Warning letters is valid for 6(six) month, and if THE SECOND PARTY upon the submission
of the Third Warning Letter still makes similar offenses, then Employment Termination shall be
imposed and applied as per the Laws No.13 Year 2003 re: employment.
8. The Warning Letter is issued based on the severity of the offense made by THE SECOND PARTY.

Article 11
TERMINATION OF EMPLOYMENT
6. With the Fixed Term Employment Contract coming to an end, then the working relationship between
THE FIRST PARTY AND THE SECOND PARTY automatically terminates.
7. Upon the termination of the employment between THE FIST PARTY and THE SECOND PARTY, then
THE FIRST PARTY has no obligation to provide severance or/and compensation whatsoever to THE
SECOND PARTY.
8. If THE FIRST PARTY intends to extend the employment contract, then THE FIRST PARTY shall notify
The Second Party 1(one) month in advance or 1(one) at the latest before the termination of the
employment contract.
9. If this project is cancelled and/or terminated due to the reasons beyond THE FIRST PARTY'S capability
and/or under force majeurcondition and other reasons, then the fixed term employment contract
(PKWT) will automatically end; THE FIRST PARTY will be no longer obliged to provide compensation
in whatsoever form including compensation of the remaining employment contract period to THE
SECOND PARTY.
10. If THE SECOND PARTY disagrees to the salary stated under this contract, then the
employment contract will automatically terminate.

Article 12
DISPUTE
1. If dispute arises, the parties agree to settle it amicably.
2. If the amicable settlement of the dispute reaches deadlock, then the parties shall agree to seek such
dispute settlement as per the applicable law in the Republic of Indonesia.
Article 13
OTHERS
Other matters related to employment in this project, will be provisioned in the employment
regulation issued by THE FIRST PARTY.

Article 14
CLOSING
In witness whereof, this Fixed Term Employment Agreement is made in duplicate 2(two) adequately
sealed and becomes an integral part of the Statement Letter made and approved by THE SECOND
PARTY, and after the parties have read, understood and signed consciously in physical and mental
health without any coercion from any party, then each party keeps 1(one) set of the original copies.

Jakarta, June 13th, 2016

THE FIRST PARTY THE SECOND


PARTY

…………………….. (……………………
…….)