Anda di halaman 1dari 31

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan Profil UPTD
Puskesmas Kalisat Tahun 2019 sebagai sarana untuk melaporkan hasil kegiatan
Puskesmas selama satu tahun.
Profil ini kami buat berdasarkan indikator SPM Puskesmas dengan tujuan untuk
menyusun hasil kegiatan kami dan untuk mengevaluasi/menilai sejauh mana tingkat
keberhasilan
kami selama tahun yang telah berjalan, dan kami akan menggunakan sebagai
pedoman untuk perencanaan kegiatan di tahun 2019. Dengan harapan di tahun yang
akan datang bisa diperoleh
hasil yang lebih baik dari tahun 2018.
Secara garis besar Profil UPTD Puskesmas Kalisat kami susun dengan
berusaha mengacu pada konsep wilayah, dalam hal ini per desa dengan melibatkan
petugas penanggung jawab desa baik bidan desa maupun puskesmas pembantu, dan
kami mengakses data dari penanggung jawab program sebagai sarana penambahan
dan sinkronisasi, sementara untuk data cakupan dari unit pelayanan kesehatan di luar
puskesmas berusaha kami himpun dengan segala keterbatasan infrastruktur dan
perangkat hukum yang ada.
Harapan kami mudah-mudahan profil ini dapat memberi manfaat, secara khusus
terdapat beberapa harapan yang tertuang dalam laporan kegiatan, antara lain :
1. Diharapkan pada hasil akhirnya akan muncul potret kinerja berupa laporan tahunan
pada setiap desa di wilayah UPTD Puskesmas Kalisat yang merupakan indikator out
come.
2. Dapat lebih memudahkan proses penetapan RPK pada setiap desa di awal tahun
2019.
3. Analisa hasil kegiatan pada tiap desa tersebut diharapkan dapat mempermudah
penentuan langkah-langkah pemecahan masalah pada setiap indikator kegiatan
yang dilakukan di desa pada tahun 2018.
4. Output dari proses manajemen tersebut diharapkan dapat mencerminkan
kesinambungan antara :
a. Laporan tahunan per desa tahun 2018 dengan penjabaran per bulan.
b. Laporan tahunan per desa tahun 2018.
c. Laporan tahunan UPTD Puskesmas Kalisat tahun 2018.
d. Diagnosa komunitas tiap desa tahun 2018.
e. Diagnosa komunitas UPTD Puskesmas Kalisat tahun 2018.
f. Sub sistem kesehatan wilayah tiap desa.
g. Sistem kesehatan wilayah Kecamatan Kalisat.
h. Rencana strategis UPTD Puskesmas Kalisat tahun 2018.
Tidak lupa kami menyampaikan terima kasih serta rasa hormat atas segala jerih
payah seluruh rekan karyawan UPTD Puskesmas Kalisat, serta atas bimbingan Kepala
Bidang, Kepala Seksi dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, dalam
penyusunan Profil ini.
Kami menyadari bahwa walaupun sudah kami usahakan semaksimal mungkin
memenuhi petunjuk dari Dinas Kesehatan namun Profil ini masih banyak kekurangan
serta kelemahan,untuk itu kami berharap adanya saran dan masukan yang bersifat
membangun dari semua pihak. Semoga Profil ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Kalisat, Januari 2019

KEPALA UPTD PUSKESMAS KALISAT


KECAMATAN KALISAT

dr. SANTI INDRIASARI


Penata Muda Tingkat I / IIIb
NIP 198407172011012020
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat adalah meningkatnya
ksedaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujudnya
derajat kesehatan yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara
yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku yang
sehat, memiliki keamampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu
secara adil dan merata di seluruh wilayah Indonesia.
Komitmen nasional yang menetapkan Indonesia Sehat telah mendorong setiap
kabupaten/kota untuk memacu dan meningkatkan kinerja program terutama penataan
kembali Sistem Informasi Kesehatan. Berbagai upaya yang dilakukan untuk
mewujudkan masyarakat Jember sehat terus dilakukan, terutama untuk menekan
angka kematian Ibu, Angka Kematian Bayi dan Balita, meningkatkan status gizi serta
menurunkan angka kesakitan terutama penyakit menular. Upaya ini tidak akan berhasil
tanpa adanya Sistem Informasi Kesehatan Puskesmas yang terintegrasi, komprehensif
dan berkesinambungan. Untuk itu diperlukan suatu data kesehatan yang berupa profil
kesehatan di wilayah Puskesmas.
Profil kesehatan merupakan bagian dari sistem informasi kesehatan yang sangat
penting artinya dalam mengevaluasi keberhasilan pembangunan bidang kesehatan
serta sebagai indikator/sarana untuk mengukur tercapainya Kalisat Sehat sebagai Visi
Pembangunan Kesehatan Kabupaten Jember pada umumnya dan Kecamatan Kalisat
pada khususnya. Selain itu profil kesehatan juga diarahkan sebagai sarana penyedia
data dan informasi untuk perencanaan, pengambilan keputusan dan managemen
kesehatan.

Profil kesehatan UPTD Puskesmas Kalisat adalah gambaran situasi kesehatan


dan pelayanan kesehatan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kalisat yang menyajikan
data/informasi mengenai kesehatan dan data pendukung yang berpengaruh terhadap
bidang kesehatan seperti data kependudukan dan Keluarga Berencana.
1.2 TUJUAN DAN MANFAAT
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui derajat kesehatan dan pencapaian upaya pelayanan
kesehatan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kalisat tahun 2019.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui target dan pencapaian setiap program yang telah
dilaksanakan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kalisat tahun 2019.
b. Untuk mengetahui program yang belum mencapai target di wilayah kerja UPTD
Puskesmas Kalisat tahun 2019.
c. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan
pelayanan kesehatan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kalisat tahun 2019.
3. Manfaat
a. Dapat menjadi bahan masukan terutama dalam rangka review tahunan kondisi
kesehatan
masyarakat di UPTD Puskesmas Kalisat.
b. Sebagai bahan evaluasi tahunan program kesehatan yang telah dilaksanakan
serta sebagai
bahan masukan untuk perencanaan maupun sebagai program tahunan yang
akan 5ating.
c. Sebagai salah satu bahan informasi baik bagi UPTD Puskesmas Kalisat maupun
bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Jember dalam perencanaan peningkatan
pencapaian setiap program dan pelayanan kesehatan yang bermutu.
BAB II
GAMBARAN UMUM

2.1 KONDISI GEOGRAFIS DAN IKLIM


2.1.1 KEADAAN GEOGRAFI
Kecamatan Kalisat adalah wilayah kerja Puskesmas Kalisat dengan luas
area 5.001.934 ha. Kecamatan ini terdiri atas tanah sawah, penggunungan dan
sebagian tanah kering. Kalisat di kelilingi oleh batas – batas sebagai berikut :
- Batas Utara = Kecamatan Sukowono dan Sumber Jambe
- Batas Timur = Kecamatan Ledokombo
- Batas Selatan = Kecamatan Mayang dan Pakusari
- Batas Barat = Kecamatan Arjasa dan Jelbuk
Sementara itu kecamatan Kalisat sendiri terdiri atas 12 Desa yang masing-
masing desa memiliki 9 Puskesmas Pembantu, 1 Polindes, 2 Ponkesdes dan 1
Poskesdes meliputi :
1. Desa Kalisat 7. Desa Glagahwero
2. Desa Ajung 8. Desa Sumber Jeruk
3. Desa Sebanen 9. Desa Gumuksari
4. Desa Sumber Ketempa 10. Desa Patempuran
5. Desa Plalangan 11. Desa Sukoreno
6. Desa Gambiran 12. Desa Sumber Kalong

Secara garis besar, hampir semua akses jalan beraspal dapat dilalui
dengan roda empat. Sehingga transportasi relatif sangat mudah dalam
mencapai tempat-tempat pelayanan kesehatan sampai sekelas Puskesmas,
Pustu, Polindes, Poskesdes dan Ponkesdes Puskesmas Kalisat berdekatan
dengan RSUD Kalisat, sekitar 3 Km. secara territorial memang terlalu dekat.
Namun dalam upaya ikut memecahkan masalah kesehatan dengan pelayanan
yang lebih cepat dan massal maka keberadaan Puskesmas justru membantu
masyarakat selain berdekatan dengan RSUD, Puskesmas berdekatan dengan
pasar, terminal dan Polsek. Kedudukan Puskesmas Kalisat adalah puskesmas
non rawat inap, namun menyediakan pelayanan kegawat daruratan (UGD 24
jam).
Gambar 2.1 Peta Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kalisat

2.2 DEMOGRAFI
Penduduk Kecamatan Kalisat tahun 2018 sejumlah 78.850 jiwa terdiri atas
39.915 laki-laki dan 38.935 Perempuan. Jumlah KK 21.926, dengan Penduduk
penerima jamkesmas 41.266 jiwa, Sebagian besar bekerja sebagai buruh tani dan
karyawan pabrik tembakau, dengan pendapatan perkapita sekitar Rp. 400.000
Penduduk rata-rata beragama Islam (93 %) dan sisanya Kristen Katolik, jumlah Masjid
65 buah dan gereja 2 buah. Data 2018 jumlah ibu hamil 1.310 orang. Jumlah Balita
sebanyak 3396balita, 1021kelahiran bayi hidup, jumlah wanita usia subur sebanyak
22.070 orang, jumlah ibu bersalin 1.162 orang.
Adapun distribusi penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 2.1 di
bawah ini.
Tabel 2.1 Distribusi penduduk menurut jenis kelamin di wilayah UPTD Puskesmas
Kalisat tahun 2018
Jumlah Penduduk
No Kel/Desa KK
Laki2 Perempuan
Miskin
1 Gambiran 3225 3198
2 Plalangan 5119 5024
3 Ajung 4814 4773
Sumber
2685 2663
4 Ketempa
5 Sebanen 1415 1456
6 Sumber Jeruk 2509 2538
7 Kalisat 6180 5964
8 Glagahwero 3658 3640
9 Sukoreno 2165 2128
10 Patempuran 2915 2878
11 Gumuksari 2733 2762
Sumber
1777 1911
12 Kalong

2.3 KEADAAN SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA


2.3.1 Adat Istiadat
Penduduk yang berada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kalisat
sebagian besar adalah suku madura yang hampir sebagian besar penganut
agama Islam. Sedangkan bahasa pengantar dalam pergaulan sehari-hari
adalah bahasa Madura.

2.3.2. Mata Pencaharian


Untuk memenuhi kebutuhan penduduk sehari-hari, sebagian besar mata
pencaharian penduduk adalah berdagang/buruh dan sebagian kecil menjadi
perajin.

2.3.3Sarana Pendidikan
Proporsi jumlah sarana pendidikan terhadap jumlah penduduk usia
sekolah menurut tingkatannya menunjuk pada kesenjangan antara jumlah
sarana pendidikan yang tersedia dengan jumlah penduduk usia sekolah.
Adapun distribusi jumlah sarana pendidikan dan jumlah penduduk usia
sekolah menurut tingkatannya dapat dilihat pada tabel 2.4 di bawah ini.
Tabel 2.4 Distribusi jumlah sarana pendidikan dan jumlah penduduk usia sekolah
menurut tingkatannya
No Tingkat Pendidikan Jumlah Sarana Jumlah Sasaran
1 TK 26
2 SD & sederajat 49 7081
3 SMP & sederajat 26 3.964
4 SMA & sederajat 34 3723
BAB III
PROGRAM KESEHATAN
3.1 Struktur Organisasi
3.2 Visi Dan Misi
3.2.1 Visi UPT. Puskesmas Kalisat
Terwujudnya masyarakat Kalisat sehat mandiri dan berkeadilan 2021 .

3.2.2 Misi UPT. Puskesmas Kalisat


1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan, di wilayah
kerja Puskesmas Kalisat
2. Mendorongkemandirian hidup sehat, bagi perorangan, keluarga,
dan masyrakat di wilayah kerja Puskesmas Kalisat
3. Memelihara dan meningkatkan mutu pemerataan dan
keterjangkauan pelayanan kesehatan
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga,
masyarakat, beserta lingkungannya

3.3 Tujuan Dan Sasaran Kesehatan


3.3.1 Tujuan UPT Puskesmas Kalisat

Mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional


yakni meningkatkan kesadaran , kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi
orang yang bertempat tinggal diwilayah kerja puskesmas agar terwujud
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

3.3.2 Sasaran Kesehatan

Sasaran Kesehatan UPT Puskesmas Kalisat adalah :


1. Ibu hamil
2. Ibu nifas
3. Bayi
4. Balita
5. Anak prasekolah
6. Masyarakat usia 15-59 tahun
7. Masyarakat usia lebih dari 60 tahun
8. Orang dengan penyakit menular maupun tidak menular

3.4Strategi
Strategi yang dilakukan UPT Puskesmas Kalisat dalam upaya memenuhi
tujuannya, berdasarkan Renstra Kabupaten Jember untuk mewujudkan
indonesia sehat, adalah:

1. Melakukan upaya paradigma sehat melaui program promotif, preventif


sebagai landasan pembangunan kesehatan.
2. Pemberdayaan masyarakat dan mengikutsertakan keterlibatan lintas
sektoral
3. Melakukan penguatan layanan kesehatan dengan program penguatan
akses di Puskeasmas, Pustu, Polindes, Poskesdes dan Pusling.
4. Optimalisasi sistem rujukan
5. Peningkatan pelayanan kesehatan yang bermutu.
6. Penerapan pendekatan kontinum of care
7. Melakukan intervensi berbasis resiko kesehatan
8. Mensosialisasikan program JKN

BAB IV
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

4.1 Sarana Kesehatan


UPTD Puskesmas Kalisat merupakan Puskesmas Non-Perawatan, dimana
dalam melaksanakan programnya baik program Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)
maupun Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP). Untuk lebih jelasnya distribusi
pelayanan kesehatan yang ada di
wilayah UPTD Puskesmas Kalisat dapat dilihat pada tabel 2.5.
Tabel 2.5 Distribusi fasilitas kesehatan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kalisat tahun
2018
No Jenis Pelayanan Jumlah
1 Puskesmas Pembantu (Pustu) 9 buah
2 Pondok Bersalin Desa 1 buah
(Polindes)
3 Pondok Kesehatan Desa 1 buah
(Ponkesdes)
4 Poskesdes 1 buah
5 Posyandu 88 buah
6 Puskesmas Keliling 1 buah
7. Ambulance Jenazah 1 buah
8. Ambulance 12 buah

Jumlah puskesmas pembantu (pustu) di UPT Puskesmas Kalisat tetap sebanyak


9 Pustu, 1 Polindes, 2 Ponkedes dan 1 Poskesdes. Secara konseptual, puskesmas
pembantu, Polindes, Ponkesdes dan Poskesdes menganut konsep wilayah dan
diharapkan dapat melayani sasaran penduduk pada masing-masing desa.
Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat
berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumberdaya yang ada di
masyarakat. Upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) diantaranya
adalah Polindes, Posyandu, Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) dan Pos
Kesehatan Desa (Poskesdes).
Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang paling dikenal oleh
masyarakat. Posyandu menyelenggarakan minimal 5 program prioritas, yaitu
Kesehatan Ibu dan Anak, Keluarga Berencana, Perbaikan Gizi, Imunisasi dan
Penanggulangan Diare. Untuk memantau perkembangannya posyandu dikelompokkan
menjadi 4 strata, yaitu Posyandu Pratama, Posyandu Madya, Posyandu Purnama, dan
Posyandu Mandiri.
Berdasarkan data terkumpul pada tahun 2018 menunjukkan bahwa jumlah
Posyandu sebanyak 88 buah dengan rincian sebagai berikut Posyandu Purnama
mandiri sejumlah 88 Posyandu

4.2 Sumber Daya Manusia


Untuk upaya peningkatan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan, maka
tenaga kesehatan yang ada di UPTD Puskesmas Kalisat harus memadai jumlahnya.
Adapun distribusi ketenagaan di UPTD Puskesmas Kalisat dapat dilihat pada tabel 2.6.
Tabel 2.6 Distribusi tenaga kesehatan berdasarkan tingkat pendidikan di wilayah kerja
UPTD Puskesmas Kalisat tahun 2014
No Jenis Tenaga Jumlah
1 Dokter Umum 1 orang
2 Dokter Gigi 2 orang
3 S-1 Keperawatan 2 orang
4 D-III Keperawatan 21 orang
5 D-4 Kebidanan 3 orang
6 D-III Kebidanan 30 orang
7 Sanitarian 1 orang
8 D-III Teknik Komputer 1 orang
9 Rekam Medik 1 orang

Gambaran mengenai sumber daya kesehatan dikelompokkan dalam sajian data


dan informasi mengenai sarana kesehatan dan tenaga kesehatan.

4.3 Pembiayaan Kesehatan


Sumber-sumber pembiayaan yang diterima oleh UPT Puskesmas Kalisat
antara lain dari:
1.10.1 Pemerintah (Anggaran Pembanguan dan Anggaran Rutin)
1) Pemerintah Pusat
a. Tugas Pembantuan (BOK)
b. Dana Program
2) Pemerintah Daerah
a. APBD (Anggaran dari Dinas Kesehatan)
b. Jaminan Kesehatan (BPJS)
1.10.2 Sumber Lain
1) Dana Swasta (program)
2) Dana ADD

Apabila sistem JKN telah berlaku akan terjadi perubahan pada system
pembiayaan puskesmas. Pendapatan Puskesmas Kalisat yang berasal dari
pendapatan umum, JKN, dan lain-lain, akan disetor ke kas daerah dan sebagian
akan dimanfaatkan secara langsung oleh puskesmas.
BAB V
SITUASI UPAYA KESEHATAN

Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan


derajat kesehatan masyarakat, telah dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan
masyarakat. Berikut ini diuraikan gambaran situasi upaya kesehatan di UPT
Puskesmas Kalisat khususnya pada tahun 2019.
5.1 PELAYANAN KESEHATAN DASAR
Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat
penting dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Dengan
pemberian pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan tepat, diharapkan
sebagian besar masalah kesehatan masyarakat sudah dapat diatasi. Berbagai
pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan
adalah sebagai berikut :
5.1.1 Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi
Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam
pertumbuhan bayi dan perkembangan anak. Gangguan kesehatan yang
dialami seorang ibu bisa berpengaruh pada kesehatan janin dalam kandungan
hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya.
a. Pelayanan Antenatal
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga
kesehatan professional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter
umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilannya,
yang mengikuti program pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan
titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil pelayanan antenatal
dapat dilihat dari cakupan K1 dan K4.
Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil
merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan
pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapat pelayanan
antenatal. Sedangkan K4 adalah gambaran besaran Ibu hamil sesuai
dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi
sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester dua dan dua kali pada
trimester ketiga.
Target pencapaian K4 menurut Indonesia Sehat 2018 adalah 89 %,
untuk UPT Puskesmas Kalisat pada tahun 2018 cakupan K4 masih di
bawah target yang diharapkan yaitu sebesar 71 %, (900 bumil).

b. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi


Kebidanan
Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir
sebagian besar terjadi pada masa persalinan, hal ini disebabkan
pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai
kompetensi kebidanan (profesional).
Menurut data dari desa yang dikompilasi dari UPT Puskesmas
Kalisat pada tahun 2018, persentase persalinan oleh tenaga kesehatan
tercapai yaitu sebesar 96.03% dengan target pada tahun 2018 sebesar
96%.
c. Kunjungan Neonatus
Bayi hingga usia kurang dari satu bulan merupakan golongan
umur yang paling rentan atau memiliki resiko gangguan kesehatan paling
tinggi. Upaya Kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi resiko
tersebut antara lain dengan melakukan pertongan persalinan oleh tenaga
kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari). Dalam
pelaksanaan pelayanan neonatus, petugas kesehatan disampaing
melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling
perawatan bayi kepada ibu. Menurut data dari desa pada tahun 2018,
persentase kunjungan neonatus sebesar 98.87 % (1.140 bayi) dari target
98%.
5.1.2 Pelayanan Keluarga Berencana
Pada tahun 2018 persentase peserta KB Aktif di wilayah UPT
Puskesmas Kalisat sebesar 84.13 % pada 13.221 pasangan usia subur. Maka
pelayanan peserta KB Aktif tahun 2018 tercapai.

5.1.3 Pelayanan Imunisasi


Pencapaian Universal Child Immunization pada dasarnya merupakan
suatu gambaran terhadap cakupan sasaran bayi yang telah mendapat
imunisasi secara lengkap. Bila cakupan UCI, dikaitkan dengan batasan
wilayah tertentu, berarti dalam wilayah tersebut dapat digambarkan besarnya
tingkat kekebalan masyarakat terhadap penularan PD3I.
Berdasarkan data yang terkumpul, bahwa pada tahun 2018 terdapat 9
desa ynag telah UCI dari target 12 desa. Dan IDL ( Imunisasi Dasar Lengkap )
dengan target 92 %, pada tahun 2018 tercapai 90.86 %.

5.1.4 Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah, Usia Sekolah dan Remaja

Pelayanan kesehatan pada kelompok anak pra–sekolah, usia sekolah


dan remaja dilakukan dengan pelaksanaan pemantauan dini terhadap
tumbuh kembang dan pemantauan kesehatan anak pra sekolah,
pemeriksaan anak sekolah dasar/sederajat, serta pelayanan kesehatan pada
remaja, baik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun peran serta
tenaga terlatih lainnya seperti kader kesehatan, guru UKS dan dokter kecil.
Menurut data yang terkumpul pada tahun 2018, persentase yang
paling signifikan adalah cakupan pemeriksaan siswa SD yaitu sebesar 100.
%,siswa SMP/SMU 100 %.

5.2 Pemberantasan Penyakit Menular


5.2.1 Pemberantasan Penyakit TB Paru
Penyakit TB Paru merupakan penyakit re emerging masih terus di
temukan di kecamatan Kalisat. Secara nasional TB Paru merupakan
penyakit tropis yang sangat erat kaitannya dengan kemiskinan. TB Paru
merupakan penyakit yang masih tinngi angka kejadiannya bahkan
merupakan yang tertinggi ke tiga di dunia. MDGs menetapkan penyakit TB
Paru sebagai salah satu target penyakit yang harus diturunkan selain HIV/
AIDS dan malaria. Hasil pengobatkan penderita TB Paru dipakai indicator
successes rate, dimana indicator ini dapat dievaluasi setahun setelah
kemudian penderita ditemukan dan diobati. Pada tahun 2018 target
penemuan suspek penderita TB 75 % pencapaian UPT Puskesmas Kalisat
sebesar 83080 % . Penderita TB Paru BTA Postif dengan target sebesar
100 % dengan pasien sebanyak 124 penderita, pencapaian sebesar 80.52
%.

5.2.2 Pemberantasan Penyakit Kusta


Kusta adalah penyakit kulit infeksi yang disebabkan oleh
mycobacterium leprae. Bila penyakit kusta tidak ditangani maka dapat
menjadi progresif menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf,
mata dan anggota gerak. Strategi global WHO menetapkan indicator
eliminasi kusta adalah angka penemuan penderita/ new case detection rate
(NCDR). Pencapaian penderita kusta sebsar 100 %, dari target 5 penderita
mencapai 5 penderita.

5.2.3 Pemberantasan Penyakit HIV/AIDS

HIV/AIDs merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi


virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan
tubuh penderitanya sehingga penderita mengalami penurunan ketahanan
tubuh sehingga sangat mudah terinfeksi berbagai macam penyakit yang
lain.Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dahulu dinyatakan
sebagai HIV positif. HIV positif dapat diketahui dengan 3 cara yaitu VCT,
dan zero survey. Sejak tahun 2017 telah dibuka klinik VCT di UPT
Puskesmas Kalisat dan sejak saat itu ditemukan kasus HIV positif melalui
pemeriksaan rapid test. Pada Tahun 2018 ditemukan sebanyak 9 orang.

5.2.4 Pemberantasan Penyakit Pnemonia


Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut
yang menyerang pernapasan mulai dari hidung hingga alveoli. Penyakit
ISPA yang menjadi masalah dan masuk dalam program penanggulangan
penyakit adalah pneumonia karena merupakan salah satu penyebab
kematian anak. Pneumonia adalah infeksi akut yang menyerang jaringan
paru (alveoli). Infeksi ini bisa disebabkan oleh bakteri, jamur, virus atau
kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi rentan
yang terserang pneumonia adalah anak umur < 2 tahun. Penanganan
kasus pneumonia pada tahun 2018 di UPT Puskesmas Kalisat sebanyak 14
kasus.

5.2.5 Pemberantasan Penyakit DBD


Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh
virus Dengue dan ditularkan oleh vector nyamuk aedes aegypty. Indonesia
merupakan negara tropis yang secara umum mempunyai risiko terjangkit
penyakit DBD, karena vektor penyebabnya yaitu nyamuk Aedes aegypti
tersebar luas di kawasan pemukiman maupun tempat-tempat umum,
kecuali wilayah yang terletak pada ketinggian lebih dari 1000 meter di atas
permukaan laut. Serangan penyakit DBD berimplikasi luas terhadap
kerugian material dan moral berupa biaya rumah sakit dan pengobatan
pasien, kehilangan produktivitas kerja dan yang paling fatal adalah
kehilangan nyawa. Perjalanan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
cepat dan dapat mengakibatkan kematian dalam waktu singkat. Penyakit ini
merupakan penyakit menular yang sering menimbulkan kejadian luar biasa
(KLB) di Indonesia. Pada tahun 2018 terdapat 20 kasus DBD dan telah di
tangani dan dilakukan PE.

5.2.6 Pemberantasan Penyakit Polio


Penyakit poliomyelitis merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi. Penyebab penyakit tersebut adalah virus polio yang
menyerang system syaraf hingga penderita mengalami kelumpuhan.
Kelompok umur 0-3 tahun merupakan kelompok umur yang paling sering
diserang penyakit ini, dengan gejala demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku
di leher dan sakit di tungkai dan lengan.
AFP merupakan kondisi abnormal ketika seseorang mengalami penurunan
kekuatan otot tanpa penyebab yang jelas dan kemudian berakhir dengan
kelumpuhan. Ditjen PP&PL Kementrian Kesehatan RI menetapkan indicator
surveilans AFP yaitu ditemukannya Non Polio AFP Rate minimal sebesar
2/100.000 anak usia < 15 tahun. Dan pada tahun 2018 UPT Puskesmas
Kalisat tidak menemukan kasus Polio.

5.2.7 Pemberantasan Penyakit Malaria

Angka kesakitan malaria untuk Jawa dan Bali diukur dengan Annual
Parasite Rate Incidence (API). Pada tahun 2018 terdapat kasus 2 penyakit
malaria positif .Penyakit malaria bukan merupakan penyakit endemis tetapi
merupakan kasus-kasus import dari penduduk yang berasal dari daerah
endemis malaria atau orang Kalisat khususnya yang berasal dari atau yang
pernah tinggal di daerah endemis malaria seperti NTT, Maluku dan Papua.

5.2.8 Pemberantasan Penyakit Diare


Diare dapat didefinisikan sebagai kejadian buang air besar berair lebih dari
tiga kali namun tidak berdarah dalam 24 jam, bila disertai dengan darah
disebut disentri. Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan di
Kota Jember. Penyakit gastroenteritis lain seperti diare berdarah dan tifus
perut klinis juga termasuk ke dalam sepuluh besar penyakit baik di
Puskesmas maupun catatan rawat inap di rumah sakit. Meskipun jumlah
kasus diare cukup tinggi, namun angka kematiannya relative rendah.
Serangan penyakit yang bersifat akut mendorong penderitanya untuk
segera mencari pengobatan ke pelayanan kesehatan. Dalam perjalanan
alamiahnya sebagian besar penderita sembuh sempurna. Dan kejadian
diare pada balita tahun 2018 di UPT Puskesmas Kalisat sebanyak 689
kasus.
5.3 Perbaikan Gizi Masyarakat
Upaya perbaikan gizi masyarakat pada hakekatnya dimaksudkan untuk
menangani permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat. Beberapa
permasalahan gizi sering dijumpai pada kelompok masyarakat adalah cakupan
pemberian vitamin A, pemberian tablet tambah darah ( FE)

5.3.1 Pemberian Kapsul Vitamin A


Berdasarkan data yang terkumpul pada tahun 2018, bahwa cakupan
pemberian Vitamin A di UPTD Puskesmas Kalisat sebesar 503 bayi.
Sedangkan cakupan pemberian Vitamin A untuk bayi sebesar 87.33 % dari
target 85 %, sedangkan cakupam pemberian Vitamin A pada balita sebesar
3592 balita dengan cakupan sebesar 74.8 % target 2018 sebesar 85 %,
untuk cakupan pemberian vitamin A pada balita tidak mencapai.
5.3.2 Pemberian Tablet Tambah darah
Tablet Fe adalah tablet tambah darah untuk menanggulangi anemia
gizi besi yang diberikan kepada ibu hamil. Cakupan pemberian tablet besi
di wilayah UPT Puskesmas Kalisat pada tahun 2018 adalah sebesar 100 %.
Target pada tahun 2018 adalah sebesar 90 %.

5.3.3 Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan


Gizi Buruk adalah keadaan kurang energi dan protein tingkat berat
pada anak yang disebabkan oleh rendahnya asupan energi dan protein
dalam makanan sehari-hari. Dampak gizi buruk yaitu kematian, gangguan
pertumbuhan dan gangguan perkembangan. Penentuan gizi buruk dengan
menggunakan antropometri yaitu bila berat badan berada dibawah 60%
medium BB/U dari standar WHO tanda-tanda klinis marasmus, kwashiorkor
atau marasmic-kwashiorkor. Dari hasil laporan dan pemantauan lapangan
UPT Puskesmas Kalisat pada tahun 2018 terdapat 4 gizi buruk yang telah
mendapatkan perawatan.

5.4 Perilaku Masyarakat


Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh
terhadap derajat kesehatan masyarakat, disajikan dalam beberapa indikator yaitu
persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan menurut cara
pengobatan, persentase penduduk yang berobat jalan menurut tempat berobat,
persentase anak 2-4 tahun yang pernah disusui, kebiasaan merokok, persentase
penduduk yang melakukan aktifitas fisik, dan kebiasaan mengkonsumsi jenis
makanan sehat. Sedangkan indikator komposit rumah tangga sehat terdiri dari 10
indikator yaitu pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, balita diberi ASI
eksklusif, mempunyai jaminan pemeliharaan kesehatan, tidak merokok, tidak
melakukan aktifitas fisik setiap hari, makan sayur dan buah setiap hari, tersedianya
akses terhadap air bersih, tersedianya jamban, kesesuaian luas lantai dengan
jumlah penghuni dan lantai rumah bukan dari tanah.

5.4.1 ASI Eksklusif


Air Susu Ibu (ASI) diyakini dan bahkan terbukti memberi manfaat bagi
bayi dari sisi aspek gizi (kolostrum yang mengandung Imunoglubulin A/IgA,
Whei-Casein, Decohexanoic/DHA dan arachidonic/AA dengan komposisi
sesuai), aspek Imunologik (selain IgA, terdapat Laktoferin, Lysosim dan jenis
leucosit yaitu Brochus-Associated Lymphocyte/BALT, Gut Associated
Lymphocite Tissue/ GALT, Mammary Associate Lymphocite Tissue/MALT serta
faktor bifidus), aspek psikologik (interaksi dan kasih sayang antara anak dan
ibu), aspek kecerdasan, aspek neurologik (aktifitas menyerap ASI bermanfaat
pada koordinasi syaraf bayi), aspek ekonomi serta aspek penundaan
kehamilan (metode amenorea laktasi/MAL) selain aspek–aspek tersebut,
dengan ASI juga dapat melindungi bayi dari sindrom kematian bayi secara
mendadak (Sudden Infant Death Syndrome/SIDS). Berdasarkan data yang
terkumpul pada tahun 2018, jumlah bayi yang diberi ASI Ekslusif masih relatif
kecil sebesar 503 bayi.

5.4.2 Posyandu Aktif


Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan
sumber daya yang ada di masyarakat. Posyandu merupakan salah satu
bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang paling
dikenal oleh masyarakat. Posyandu menyelenggarakan minimal 5 program
prioritas. Posyandu dikelompokkan menjadi 4 strata. Posyandu Purnama yaitu
posyandu dengan cakupan 5 program atau lebih dengan melaksanakan
kegiatan 8 kali atau lebih pertahun.
Target Posyandu Purnama & Mandiri Nasional sebesar 70 %,
sedangkan kondisi Posyandu di wilayah UPT Puskesmas Kalisat pada tahun
2018 telah mencapai 100 %
5.5 Pelayanan Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi Dasar
Untuk memperkecil resiko terjadi penyakit atau gangguan kesehatan sebagai
akibat dari lingkungan yang kurang sehat, dilakukan berbagai upaya peningkatan
kualitas lingkungan, antara lain dengan pembinaan kesehatan lingkungan pada
institusi yang dilakukan secara berkala. Upaya yang dilakukan mencakup
pemantauan dan pemberian rekomendasi terhadap aspek penyediaan fasilitas
sanitasi dasar.

5.5.1 Rumah Sehat


Rumah sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat
kesehatan yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih,
tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah
yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah tidak
bterbuat dari tanah.
Dari data yang terkumpul menunjukkan bahwa persentase rumah
sehat sebesar 31.49 % dari 20146 rumah yang diperiksa. Sedangkan target
2018 sebesar 74 %.

5.5.2 Sarana Air Bersih (SAB)


Sumber air minum yang digunakan rumah tangga dibedakan menurut
air kemasan, ledeng, pompa, sumur terlindung, sumur tidak terlindung, mata
air tidak terlindung, air sungai, air hujan dan lainnya.
Data dari hasil kompilasi Program Kesehatan Lingkungan
menunjukkan bahwa keluarga yang memiliki sarana air bersih sebesar 32.30
% dari seluruh keluarga yang diperiksa di Kecamatan Kalisat.

5.5.3 Sarana Sanitasi Dasar


Kepemilikan sarana sanitasi dasar yang dimiliki oleh keluarga meliputi
persediaan air bersih (PAB), jamban, tempat sampah dan pengelolaan air
limbah (PAL). Masing-masing indikator tersebut semestinya diperiksa dalam
waktu yang sama sehingga jumlah KK diperiksa sama untuk masing masing
indikator.
Data dari hasil kompilasi programer kesehatan lingkungan tahun 2018,
menunjukkan bahwa keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar
mempunyai pencapaian yang variatif di masing-masing indikator. Target
sarana sanitasi dasar tahun 2018 sebesar 74 % dan capaian sebesar 31.49
%.
BAB VI
SITUASI DERAJAT KESEHATAN

6.1 MORTALITAS (ANGKA KEMATIAN)


Salah satu indikator penting untuk mengukut tingkat derajat kesehatan
masyarakat adalah angka kematian (mortalitas). Dimana indikator ini menunjukkan
tingkat kesehatan, mutu pelayanan kesehatan serta kondisi sosial ekonomi
masyarakat.
6.1.1 Angka Kematian Bayi ( AKB )
Berdasarkan data yang diperoleh dari UPT Puskesmas Kalisat
tahun 2018 menunjukkan bahwa terdapat kematian bayi sebanyak 2
orang, lahir mati 9, lahir hidup 1.167, sehingga didapatkan IMR
1.117/1000 kelahiran hidup, hal ini berarti bahwa dari 1000 kelahiran
hidup terdapat kematian bayi sebanyak 18 orang bayi.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat AKB tetapi tidak
mudah untuk menemukan faktor yang paling dominan. Tersedianya
berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitasdan pelayanan kesehatan dari
tenaga medis yang terampil, serta kesediaan masyarakat untuk merubah
kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang
kesehatan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat
AKB. Menurunnya AKB dalam beberapa waktu terakhir memberi
gambaran adanya peningkatan dalam kualitas hidup dan pelayanan
kesehatan masyarakat.

6.1.2 Angka Kematian Ibu Maternal ( AKI )


Berdasarkan data yang ada di Puskesmas Kalisat selama tahun 2018
tidak terdapat kematian maternal.
6.1.3 Angka Kematian Balita (AKBAL)
Berdasarkan data yang ada di Puskesma Kalisat selama tahun 2018
terdapat 1 kasus kematian balita.

6.2 MORBIDITAS (ANGKA KESAKITAN)


6.2.1 Pola Penyakit Terbanyak
POLA PENYAKIT PROSENTASE
Pemeriksaan Kehamilan 4,49%
Infeksi Akut lain pada saluran Pernafasan 2,46%
Hipertensi primer 2,19%
Commond cold/Naopharyngitis Akut 1,93%
Diare dan gastroenteritis (Colitis) 1,71%
Nyeri kepala 1,53%
Demam yang tdk diketahui sebabnya 1,45%
Rheumatoid Arthritis 1,19%
Gatritis 1,15%
Diabetes Mellitus (DM) 1,04%

6.2.2 Penyakit Menular


Penyakit menular yang disajikan dalam profil kesehatan Kabupaten
Jember antara lain penyakit Malaria, TB Paru, HIV/AIDS, Infeksi Saluran
Pernafasan Akut ( ISPA ).
a. Penyakit Malaria
Penyakit malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat
di Indonesia, perkembangan penyakit Malaria dipantau melalui Annual
Parasite Incidence (API). Di wilayah UPT Puskesmas terdapat 2 penyakit
malaria,di wilayah desa plalangan . wilayah UPTD Puskesmas Kalisat
masih merupakan daerah berpotensi karena masyarakatnya mempunyai
mobilitas tinggi ke daerah Malaria.
b. Penyakit TB Paru
Berdasarkan data kompilasi dari programer TB Paru UPTD
Puskesmas Kalisat, pada tahun 2018 jumlah BTA (+) sebanyak 124
orang, 80.85%, dengan suspek TB sebnayak 1288 suspeks.
c. Penyakit HIV/AIDS
Perkembangan penyakit HIV/AIDS terus menunjukkan
peningkatan, meskipun berbagai upaya pencegahan dan
penanggulangan terus dilakukan. Semakin tingginya mobilitas penduduk
antar wilayah, menyebarnya sentra–sentra pembangunan ekonomi di
Indonesia, meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman dan
meningkatnya penyalahgunaan NAPZA melalui suntikan,secara simultan
telah memperbesar tingkat resiko penyebaran HIV/AIDS. Saat ini
Indonesia telah digolongkan sebagai negara dengan tingkat epidemi
yang terkonsentrasi, yaitu adanya prevalensi lebih dari 5 % pada sub
populasi tertentu, misal pada kelompok pekerja seksual komersial dan
penyalah guna NAPZA. Tingkat epidemi ini menunjukkan tingkat perilaku
berisiko yang cukup aktif menularkan ini dalam suatu sub populasi
tertentu.
Jumlah penderita HIV AIDS dapat digambarkan sebagai fenomena
gunung es, yaitu jumlah penderita yang dilaporkan jauh lebih kecil dari
jumlah yang sebenarnya. Hal ini berarti bahwa jumlah Penderita
HIV/AIDS di Indonesia yang sebenarnya belum diketahui dengan pasti.
Di wilayah UPTD Puskesmas Kalisat pada tahun 2018 dilaporkan
terdapat 11 penderita HIV/AIDS.
d. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
Infeksi Saluran Pernafanan Akut merupakan penyakit rakyat yang
kasusnya nomer 2 tinggi dan menempati 10 penyakit terbanyak di
Puskesmas Kalisat.
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) masih merupakan
penyakit utama penyebab kematian bayi dan balita di Indonesia. ISPA
sebagai penyebab utama kematian pada bayi dan balita diduga karena
pneumonia dan merupakan penyakit yang akut dan kualitas
penatalaksanaannya yang masih belum memadai. Jumlah penderita
pneumonia balita di Puskesmas Kalisat tahun 2018 sebanyak 14 balita
yang menderita pneumonia.

e. Penyakit Kusta
Meskipun Indonesia sudah mencapai eleminasi kusta pada
pertemuan kusta tahun 2000, sampai saat ini penyakit kusta masih
menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat. Hal ini terbukti dari
masih tingginya jumlah penderita kusta di Indonesia dan Indonesia
merupakan negara dengan urutan ke–3 penderita terbanyak di dunia.
Penyakit kusta dapat mengakibatkan kecacatan pada penderita. Masalah
ini diperberat masih tingginya stigma dikalangan masyarakat dan
sebagian petugas. Akibat dari kondisi ini sebagian dari penderita dan
mantan penderita dikucilkan sehingga tidak mendapatkan akses
pelayanan kesehatan serta pekerjaan yang berakibat pada
meningkatnya angka kemiskinan.
Kabupaten Jember adalah daerah yang ditemukan penderita
kusta tertinggi di Jawa Timur. Penyebaran kusta di Kabupaten Jember
hampir merata di semua kecamatan, baik di daerah pantai mapun
daerah pedalaman.. Pada tahun 2018 jumlah penderita kusta di wilayah
UPTD Puskesmas Kalisat sebanyak 5 penderita.

6.2.3 Penyakit Menular yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I)


PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat
diberantas/ditekan dengan pelaksanaan program imunisasi, pada profil
kesehatan ini akan dibahas penyakit Tetanus Neunatorum, Campak, Difteri,
Pertusis dan Hepatitis B.
a. Tetanus Neonatorum
Kasus Tetanus Neonatorum sangat erat kaitannya dengan
proses terjadinya persalinan bagi ibu, kebersihan pada waktu
pertolongan sangatlah penting untuk dilakukan selain imunisasi TT
pada ibu hamil. Pada tahun 2018 dilaporkan tidak terjadi kasus
Tetanus Neonatorum di wilayah UPTD Puskesmas Kalisat.

b. Campak
Campak merupakan penyakit menular yang sering
menyebabkan kejadian luar biasa. Selama tahun 2018 tidak
ditemukan kasus campak di UPTD Puskesmas Kalisat.
c. Difteri
Difteri adalah penyakit menular yang dapat dicegah dengan
imunisasi, pada tahun 2018 tidak ditemukan kasus penderita suspek
difteri .
d. Pertusis
Seperti penyakit difteri pada tahun 2018 tidak ditemukan kasus
pertusis yang dilaporkan.
e. Hepatitis B
Kasus Hepatitis B yang dilaporkan selama tahun 2018 di
temukan 2 kasus hepatitits pada ibu hamil.

6.2.4 Penyakit Potensi KLB/Wabah


a. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menyebar luas
keseluruh wilayah propinsi. Penyakit ini sering muncul sebagai KLB
dengan angka kesakitan dan kematian relative tinggi. Angka insiden DBD
secara nasional bergerak fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada awalnya
pola epidemik terjadi setiap lima tahunan, namun dalam kurun waktu
lima belas tahun terakhir mengalami perubahan dengan periode antara
2-5 tahun sedangkan angka kematian cenderung menurun
Upaya pemberantasan DBD dititik beratkan pada penggerakan potensi
masyarakat untuk
dapat berperan serta dalam pemberantasan sarang nyamuk (gerakan 3
M), pemantauan angka bebas jentik (ABJ) serta pengenalan gejala DBD
dan penanganannya di rumah tangga. Selama tahun 2018 ditemukan 20
kasus DBD.
b. Diare
Penyakit diare merupakan penyakit yang berpotensi terjadinya
kejadian luar biasa atau wabah. Kasus diare di Kabupaten Jember relatif
masih tinggi, sedangkan di wilayah UPTD Puskesmas Kalisat selama
tahun 2018 ditemukan sebanyak 689 kasus diare dan kasus diare
banyak dialami oleh anak usia sekolah serta dewasa muda.
c. Filariasis
Penyakit filariasis merupakan penyakit yang disebarkan oleh
vektor yaitu nyamuk, tidak ada kasus filariasis yang dilaporkan di wilayah
UPTD Puskesmas Kalisat pada tahun 2018.
6.3 STATUS GIZI
Status gizi masyarakat dapat diukur melalui beberapa indikator, antara lain
bayi dengan
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), status gizi balita, status gizi wanita usia
subur Kurang Energi Kronis (KEK).

6.3.1 Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)


Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu
faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian Perinatal dan Neonatal.
BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena Premature atau BBLR
karena Intrauterine Growth Reterdation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup
bulan tetapi berat badannya kurang. Di negara berkembang banyak BBLR
dengan IUGR karena ibu berstatus Gizi Buruk, Anemia, Malaria dan
menderita penyakit Menular Seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada
saat kehamilan. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di wilayah
UPTD Puskesmas Kalisat dari tahun ke tahun mengalami kenaikan, pada
tahun 2018 dilaporkan ada 105 kelahiran bayi dengan BBLR.

6.3.2 Status Gizi Balita


Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan
tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi balita
adalah pengukuran secara anthropometri dengan menggunakan Indeks Berat
Badan menurut Umur (BB/U).
Jumlah balita gizi buruk di wilayah UPTD Puskesmas Kalisat selama
tahun 2018 dilaporkan tidak ditemukan balita gizi buruk, tapi balita BGM
sebanyak 117 balita.

6.3.3 Monitoring Garam Beryodium


Salah satu masalah gizi yang perlu mendapat gizi yang perlu
mendapat perhatian adalah gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY).
GAKY dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan fisik dan
keterbelakangan mental. Gangguan pertumbuhan fisik meliputi pembeasaran
kelenjar tiroid (gondok), bisu, tuli, kretin (kerdil), gangguan motorik, bisu, tuli
dan mata juling. Pemberian kapsul Yodium dimaksudkan untuk mencegah
lahirnya bayi kretin, karena itu sasaran pemberian kapsul yodium adalah
Wanita Usia Subur (WUS) termasuk ibu hamil dan Ibu nifas.
Dari 12 desa wilayah UPTD Puskesmas Kalisat yang berstatus desa
baik adalah Desa Kalisat, Sukoreno, Gu,uksari, Glagahwero dan Sumber
Ketempa. Sedangkan dengan stus kurang baik adalah desa Patempuran.

BAB VII
PENUTUP

Data dan Informasi adalah bagian dari Sistem Informasi Kesehatan yang
merupakan sumber daya vital dan urgen yang harus dimiliki oleh penyelenggara
pembangunan kesehatan, maka penyediaan data dan informasi yang berkualitas
sangat diperlukan sebagai masukan dalam proses pengambilan keputusan.
Namun sangat disadari sistem informasi kesehatan yang ada saat ini masih
belum dapat memenuhi kebutuhan data dan informasi kesehatan secara optimal, belum
adanya system informasi kesehatan yang terintegrasi menambah semakin sulitnya
menyediakan data yang akurat dan obyektif. Hal ini berimplikasi pada kualitas data dan
informasi yang disajikan dalam Profil UPT Puskesmas Kalisat 2019 yang diterbitkan
saat ini belum sesuai dengan harapan.
Walaupun demikian diharapkan Profil Kesehatan UPT Puskesmas Kalisat tahun
2019 ini dapat memberi gambaran secara garis besar dan menyeluruh tentang
seberapa jauh keadaan kesehatan masyarakat yang telah dicapai.
Walaupun Profil Kesehatan sering kali belum mendapatkan apresiasi yang
memadai, karena belum dapat menyajikan data dan informasi yang sesuai dengan
harapan, namun ini merupakan salah satu publikasi data dan informasi yang meliputi
data capaian Standart Pelayanan Minimal (SPM). Oleh karena itu dalam rangka
meningkatkan kualitas Profil Kesehatan perlu dicari terobosan dalam mekanisme
pengumpulan data dan informasi secara cepat untuk mengisi kekosongan data agar
dapat tersedia data dan informasi.