Anda di halaman 1dari 23

PEDOMAN UNIT KERJA LAUNDRY

RS GRAHA SEHAT MEDIKA 2018


LEMBAR PENGESAHAN

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT GRAHA SEHAT MEDIKA


KOTA PASURUAN

NOMOR 152/1/III/SK_Dir/2018

TENTANG

PEMBERLAKUAN DOKUMEN

PANDUAN UNIT KERJA LAUNDRY

PENGESAHAN PANDUAN UNIT KERJA LAUNDRY

RS GRAHA SEHAT MEDIKA KOTA PASURUAN

NAMA KETERANGAN TANGGAL TANDA TANGAN

01 Maret 2018
Direktur RS Graha Sehat
dr. Rudy, Sp.OG 1.
Medika Kota Pasuruan

2.
dr.Agil Wijaya Authorized Person 01 Maret 2018
01 Maret 2018
3.
dr. Ratna Suryati Halim Ketua Pokja

Oktovianus Mario Moa Markus, 01 Maret 2018


Pembuat Dokumen
S.Kep ,Ners
4.

1
KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT GRAHA SEHAT MEDIKA

NOMOR 152/1/III/SK_Dir/2018

TENTANG

PEDOMAN PELAYANAN LAUNDRY

DIREKTUR RUMAH SAKIT GRAHA SEHAT MEDIKA

a. bahwa dalam meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit dan


Menimbang :
menghadapi era globalisasi, perlu menerapkan sistem akreditasi rumah
sakit sesuai pelayanan yang berstandar internasional
b. bahwa setiap pasien yang dirawat di Rs Graha Sehat Medika berhak
mendapatkan pelayanan linen yang bersih dan bebas dari risiko
kontaminasi silang
c. bahwa baik pasien maupun petugas Rs Graha Sehat Medika diharapkan
terhindar dari risiko penularan dari linen yang terinfeksi karena
penyakit menular
d. bahwa untuk mewujudkan tujuan diatas dibutuhkan adanya Pedoman
Laundry yang disusun melalui keputusan Direktur Rs Graha Sehat
Medika

2
Mengingat :
a. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
b. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit
c. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:
417/Menkes/Per/II/2011 Tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit,
dengan tugas dan fungsi melaksanakan akreditasi di Indonesia
d. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia 1691 tahun 2011
tentang Keselamatan pasien
e. Peraturan Menteri Kesehatan 1438 tahun 2010 Tentang Standar
Pelayanan Kedokteran
f. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 436/1993
tentang Berlakunya Standar Rumah Sakit dan Standar Pelayanan Medis
di Indonesia
g. Permenkes No. 846/Menkes/PER/XI/1992 tentang Penyehatan
Lingkungan Rumah Sakit
h. Pedoman Manajemen Linen Rumah Sakit, Departemen Kesehatan RI,
Dirjen Pelayanan Medik Tahun 2004
i. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia 340 tahun 2008
Tentang Klasifikasi Rumah sakit
j. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
269/Menkes/Per/III/2008 Tentang Rekam Medis

MEMUTUSKAN

Menetapkan : PEDOMAN LINEN LAUNDRY DI RUMAH SAKIT GRAHA SEHAT MEDIKA


PASURUAN

Kesatu : Menetapkan pedoman linen laundry Rs Graha Sehat Medika


sebagaimana tersebut dalam lampiran surat keputusan ini

Kedua : Mengamanatkan kepada para tenaga kesehatan dan seluruh


karyawan untuk mengaplikasikan Pedoman Linen Laundry Rs Graha
Sehat Medika dalam pelayanan kepada pasien
Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal di tetapkan

Keempat : Apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam Surat Keputusan


ini, maka akan diadakan perbaikan dan perubahan seperlunya

Ditetapkan di Pasuruan

Pada tanggal 1 Maret 2018

Direktur RS Graha Sehat Medika,

Dr. Rudy, Sp.OG


LAMPIRAN
PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT GRAHA SEHAT MEDIKA
NOMOR : 152/1/III/SK_Dir/2018
TANGGAL : 01 Maret 2018
TENTANG : Panduan Unit Kerja Laundry

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit adalah melalui
pelayanan bagian umum, khususnya dalam pengelolaan linen di rumah sakit. Linen di
rumah sakit dibutuhkan di setiap ruangan. Kebutuhan akan linen di setiap ruangan ini
sangat bervariasi, baik jenis, jumlah dan kondisinya. Alur pengelolaan linen cukup panjang,
membutuhkan pengelolaan khusus dan banyak melibatkan tenaga kesehatan dengan
berbagai klasifikasi. Klasifikasi tersebut terdiri dari ahli manajemen, tehnisi, perawat, tukang
cuci, penjahit, tukang setrika, ahli sanitasi, serta ahli kesehatan dan keselamatan kerja.
Untuk mendapatkan kualitas linen yang baik, nyaman dan siap pakai, diperlukan
perhatian khusus, seperti kemungkinan terjadinya pencemaran infeksi dan efek penggunaan
bahan – bahan kimia, maka bagian laundry sebagai salah satu pelayanan wajib
mengantisipasi dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, meningkatkan kualitas
sumber daya manusia maupun peralatan non medis sesuai perkembangan bidang teknologi
di bidang laundry.
Pelayanan laundry harus dikelola dengan system yang baik dan benar melalui
penerapan managemen yang baik dan benar serta koordinasi antar bagian dan upaya untuk
terus memberikan pelayanan yang berkaitan dengan pelanggan, maka perlu disusun Buku
Pedoman Pelayanan Laundry.
Adapun buku Pedoman Pelayanan Laundry Rumah sakit Graha Sehat Medika
Pasuruan ini akan menjadi acuan kerja seluruh petugas yang bekerja di bagian Laundry,
serta sebagai landasan pelayanan laundry RS Graha Sehat Medika Pasuruan.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan mutu pelayanan Laundry yang berkualitas dan berperan aktif dalam
pengendalian infeksi nosokomial di RS Graha Sehat Medika Pasuruan.
2. Tujuan Khusus
a) Sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan linen di rumah sakit.
b) Sebagai pedoman kerja untuk mendapatkan linen yang bersih, kering, rapi, utuh dan
siap pakai.
c) Sebagai panduan dalam meminimalisasi kemungkinan untuk terjadinya infeksi
nosokomial.
d) Untuk menjamin tenaga kesehatan, pengunjung, kontraktorMewujudkan
pengendalian infeksi nosokomial di Rumah Sakit melalui legiatan Laundry.

C. Ruang Lingkup Pelayanan


Ruang lingkup pelayanan Laundry meliputi :
a. Pengambilan linen
b. Pemilahan linen
c. Penimbangan linen
d. Pencucian linen
e. Penyetrikaan linen
f. Pelipatan linen
g. Pendistribusian linen
h. Perbaikan linen
i. Pencatatan dan pelaporan

D. Batasan Operasional
1. Beberapa Batasan / Definisi
a. Pengambilan Linen
Pengambilan linen kotor dilakukan oleh petugas laundry ke ruangan dengan
menggunakan APD dan menggunakan troli tertutup. Linen yang infeksius
dimasukkan ke dalam plastic warna kuning, dan untuk linen non infeksius
dimasukkan ke dalam plastik warna hitam
b. Pemilahan Linen
Linen dipilah dan dihitung di laundry sesuai tingkat kekotoran, warna dan
infeksius, kemudian linen dimasukkan ke dalam troli untuk non infeksius dan
ember tertutup untuk linen infeksius.
c. Penimbangan Linen
Linen ditimbang kemudian linen dimasukkan ke dalam troli untuk non infeksius
dan ember tertutup untuk linen infeksius.
d. Pencucian linen
Pencucian linen dilakukan dengan memasukkan linen infeksius ke mesin cuci
dengan kapasitas 7 kg,
e. Penyeterikaan dan pelipatan
Linen yang telah dikeringkan di bawa ke ruang pelipatan kemudian dilipat dan di
setrika
f. Distribusi
Petugas laundry mengantar linen bersih ke ruangan denga memakai troli tertutup
dengan membawa buku pengambilan linen. Linen dihitung dan di cocokkan
dengan jumlah linen pagi oleh petugas laundry dan ruangan kemudian linen
dimasukkan dalam lemari penyimpanan linen di masing – masing ruangan
g. Perbaikan Linen
Ruangan mengirim linen yang rusak ke laundry dan petugas laundry bertugas
memperbaiki linen yang rusak, jika linen tidak bisa diperbaiki, laundry
memberitahu ke ruangan, linen di masukkan inventaris rusak.
h. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan yang dilakukan di laundry antara lain: pencatatan linen yang di
setorkan ke laundry, pencatatan linen yang di distribusikan, dan linen rusak,
pelaporan chemical, plastic, linen rusak

E. Landasan Hukum
1. Undang-Undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Undang-Undang Nomor 23 tentang Penelolaan lingkungn Hidup Tahun 1997
3. Undang-Undang Nomor 1 tentang Keselamatan Kerja tahun 1970
4. Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999
tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit
6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/2005 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Departemen Kesehatan
7. Permenkes no 1204 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit Tahun
2004
8. Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia tentang Pengelolaan Linen Tahun 2002
9. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah tentang Baku Mutu Air Limbah Tahun 2004
10. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Lainnya tahun 2008
11. Pedoman Pelaksanaan Kewaspadaan Universal di Pelayanan Kesehatan tahun 2010
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Dalam upaya mempersiapkan tenaga Laundry yang handal, perlu kiranya melakukan
kegiatan menyediakan, mempertahankan sumber daya manusia yang tepat bagi
organisasi.

Perencanaan bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan


oganisasi dalam mencapai sasarannya melalui strategi pengembangan kontribusi.

Adapun kualifikasi sumber daya manusia di Laundry RS Graha Sehat Medika Pasuruan.
adalah sebagai berikut :

Tabel Kualifikasi SDM Laundry RS Graha Sehat Medika Pasuruan.

NAMA JABATAN KUALIFIKASI TENAGA YANG


DIBUTUHKAN
FORMAL

Ka Unit Laundry SLTA ( pengalaman minimal 5 tahun ) 1

Staff Pencucian Pelipatan dan Minimal SMP 3


Penyetrikaan dan Distribusi

Jumlah 4

B. Distribusi Ketenagaan
Rumah Sakit Graha Sehat Medika Pasuruan Laundry terdiri atas 4 tenaga Laundry, yang
terdiri atas :
1. Kepala Unit 1 orang
2. Staff 3 orang
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruang
Denah gedung lama

4 3
1

1
5
6

Keterangan :
1. Tempat cuci linen non infeksius dan bak rendam non infeksius
2. Tempat cuci linen infeksius dan bak rendam infeksius
3. Mesin pengering
4. Tempat setrika
5. Timbangan
6. Pintu keluar linen bersih
7. Pintu masuk linen kotor
B. Standar Fasilitas
Daftar Inventaris Peralatan di Laundry

No Nama Alat Jumlah Keterangan

1 Mesin cuci kapasitas 7 kg 2 buah


2 Mesin pengering kapasitas 7 kg 2 buah
3 Setrika manual 2 buah
4 Meja kerja 1 buah
5 Trolley linen kotor 1 buah
6 Trolly linen bersih 1 buah
7 Kontainer linen kotor 9 buah
8 Kursi Lipat 1 buah
9 Kursi kayu 1 buah
10 Jam Dinding 1 buah
11 Dispenser 1 buah
12 Tempat Isolasi 1 buah
13 Perfurator 1 buah
14 Kalkulator 1 buah
15 Steples / Hecter 1 buah
16 Rautan 1 buah
17 Stempel 1 buah
18 Cutter 1 buah
19 Gunting 1 buah
20 Penggaris plastik 1 buah
21 Timbangan 1 buah
BAB IV
TATALAKSANA PELAYANAN

A. Kebijakan yang berkaitan dengan falsafah dan tujuan


Bagian Laundry Rumah sakitGraha Sehat Medika Pasuruan mulai penanganan
linen kotor sampai dengan bersih ke bagian ruangan. Bagian Laundry RS Graha Sehat
Medika Pasuruan.menyelenggarakan pelayanan laundry pada pukul 08.00 – 16.00WIB.
Bagian Laundry melakukan kegiatan secara koordinatif dengan semua bagian
pengguna linen.
Dalam upaya menjaga kualitas dan profesionalisme, Laundry memberikan
pelayanan dengan mengutamakan kepuasan pengguna dan didukung sarana dan
prasarana yang ada.

B. Kebijakan yang berkaitan dengan administrasi dan pengelolaan


Pelayanan Laundry di RS Graha Sehat Medika Pasuruan. hanya melakukan
proses penanganan linen kotor sampai dengan siap pakai..
Petugas yang bekerja di pelayanan Laundry bertugas sesuai jadwal dan SPO yang
ditetapkan.
Ketentuan tentang pelabelan linen untuk membedakan ruangan terlampir

C. Kebijakan yang berkaitan dengan staf dan pimpinan.


Pelayanan Laundry dilengkapi dengan pimpinan dan Staf yang ditetapkan sesuai
dengan struktur Organisasi RS Graha Sehat Medika Pasuruan.
an dipimpin oleh seorang Kepala Unit.
Sesuai dengan Struktur Organisasi RS Graha Sehat Medika, Unit Laundry berada
dibawah Kaur Jangmed , dibantu Kaur Jangmedum dalam pengelolaan pelayanan
laundry.
Kepala Unit Laundry membawahi Petugas Mesin Cuci, Petugas Setrika dan
Petugas Pencatatan dan Penyortiran yang dilengkapi dengan uraian tugas,
kewenangan dan tanggung jawab.
Pertemuan rutin diadakan sedikitnya sebulan sekali untuk mengantisipasi
permasalahan yang timbul dan evaluasi peningkatan mutu pelayanan Laundry.
Pertemuan lintas jalur dilaksanakan secara koordinatif dengan bidang lain sesuai
ketentuan dan kebutuhan.

D. Kebijakan yang berkaitan dengan fasilitas dan peralatan


Pemisahan linen infeksius dan non infeksius dilakukan di ruangan dengan
pembedaan warna plastik.
Linen inkfeksius yang sudah ditimbang sebanyak 7 kg langsung dimasukkan ke
dalam bak perendaman yang kemudian di masukkan ke dalam mesin cuci infeksius /
non infeksius.
Tersedia jadwal pembersihan lantai Laundry maksimal 1x sehari.
Untuk menghindari kontaminasi, dalam melaksanakan tugas petugas menggunakan
Alat Pelindung Diri.
Kegiatan perencanaan kebutuhan, penyediaan, permintaan dan penyimpan linen
dilakukan oleh bagian pengguna sesuai ketentuan.
Tersedia antiseptic bagi petugas.
Semua kegiatan dilakukan sesuai prosedur.
Penanggung jawab kelancaran peralatan diataur sebagai berikut:
a) Kaur Jangum bertanggung jawab atas pengadaan peralatan dan bahan
pembersih.
b) Ka IPS bertanggung jawab atas pemeliharaan dan perbaikan peralatan,
gedung dan sarana yang lain.
c) Kepala Unit Laundry bertanggung jawab atas pengelolaan fasilitas.
Sistem komunikasi diatur melalui telphon intern-ekstern
Pengaturan tentang pemeriksaan, pemeliharaan dan perbaikan peralatan dilaksanakan
secara berkala dan dilengkapi dengan jadwal pemeliharaan, kalibrasi serta adanya
prosedur perbaikan dan penggantian peralatan yang rusak.
Pengelolaan pengadaan dan penyediaan bahan pembersih sesuai prosedur yang
berlaku di RS Bhayangkara Lumajang dilengkapi dengan nota dinas ke Pengadaan dan
Bukti Penerimaan Barang apabila barang telah diterima.
Chemical yang dipergunakan di bagian Laundry RS Graha Medika Pasuruan:
 Flufi
 Boost
 Woost
 Oxibrite

E. Kebijakan yang berkaitan dengan kebijakan dan prosedur


Pelayanan laundry di RS Graha Sehat Medika Pasuruan dilaksanakan berdasarkan:
 Buku Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia
 Buku Pedoman Laundry tahun 2004
Pelayanan laundry di RS Graha Sehat Medika Pasuruan dilakukan oleh intern ( oleh
SDM bagian Laundry )
Pelayanan laundry ( pencucian ) oleh internal SDM bagian Laundry dilakukan pada
jam kerja: - Senin - Jumat jam 08.00 - 16.00 WIB
- Sabtu jam 08.00 - 13.00 WIB
- Tanggal merah libur.
Pelayanan laundry dalam pengelolaannya selalu memperhatikan hygiene dari sanitasi
Pemakaian bahan dan prasarana untuk proses laundry memperhatikan bahan yang
efektif, aman bagi pemakai, tidak merusak kain dan lingkungan.
Adanya pemisahan ruang linen/ cucian kotor dan bersih.
Adanya evaluasi proses laundry
Adanya koordinasi antara bagian Laundry dan bagian sanitasi dalam hal pengawasan
pengelolaan Laundry yang terkait hyegiene sanitasi, monitoring kualitas air bersih
untuk laundry, monitoring sanitasi orang banyak ( penerangan, kebisingan,
penghawaan)
F. Kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan staf dan program pendidikan
Adanya program peningkatan keterampilan/ pendidikan yang berkelanjutan tiap tahun
sesuai kebutuhan perorangan dan organisasi.
Adanya program pelatihan pengelolaan pencucian bagi tenaga pencucian.
G. Kebijakan yang berkaitan dengan evaluasi dan pengendalian mutu
Evaluasi terhadap pelaksanaan SPO oleh Kepala Bagian Laundry melalui supervise
kegiatan sehari-hari.
BAB V
PENGADAAN

5.1 Permintaan Barang (Stock) ke Logistik


Logistik merupakan segala sesuatu baik sarana, prasarana dan semua barang yang
diperlukan untuk Laundrydalam rangka pelaksanaan pelayanan di rumah sakit.
Adapun prosedur yang perlu diperhatikan dalam proses permintaan
barang (stock) ke logistik yaitu :
1. Ka Unit laundry menulis nota dinas permintaan barang (stock) secara tertulis
2. Bon permintaan dicek dan ditanda tangani oleh Kaur jangmedum
3. Petugas Administrasi /koordinator menyerahkan bon permintaan kepada Petugas
Pengadaan.
4. Petugas Pengadaan menerima bon permintaan barang.
5. Pada hari berikutnya Petugas Administrasi /koordinatormengambil barang yang
telah diminta ke Pengadaan.
6. Petugas Administrasi /koordinatormelakukan pengecekan antara Bon permintaan
dengan barang yang diserahkan
7. Apabila barang yang diserahkan sesuai dengan permintaan, Administrasi
/coordinator menandatangani penerimaan pada Bon permintaan.
8. Barang yang telah diterima dicatat oleh Petugas Administrasi /koordinatorke dalam
kartu inventaris barang pengadaan.
9. Petugas Administrasi /koordinator menempatkan Barang ke dalam lemari stok
barang.
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

6.1. Pengertian
Merupakan suatu system yang membuat asuhan pasien di Rumah Sakit menjadi lebih
aman.
Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya di ambil.

6.2 Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan pelaksanaan keselamatan pasien (Patient Safety) :
A. Terciptanya budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit.
B. Meningkatnya akuntabilitas Rumah Sakit terhadap pasien dan masyarakat.
C. Menurunnya angka Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) di Rumah Sakit.
D. Terlaksananya program – program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan
Kejadian Tidak Diharapkan (KTD).

6.3 Keselamatan Umum


Aturan Umum Mencuci Tangan
Mencuci tangan merupakan aturan yang penting untuk mencegah penyebaran infeksi,
langkah – langkahnya sebagai berikut :
1. Tuangkan Cairan anti septik / sabun ke telapak tangan secukupnya.
2. Gosokkan kedua telapak tangan.
3. Gosok punggung tangan dan sela – sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan
sebaliknya.
4. Gosok kedua telapak tangan dan sela – sela jari.
5. Jari – jari sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci.
6. Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan sebaliknya.
7. Gosokkan dengan memutar ujung jari – jari tanagn kanan di telapak tangan kiri dan
sebaliknya.
8. Bilas kedua tangan dengan air mengalir.
9. Keringkan kedua tangan dengan tissue.

Dengan memperhatikan 5 moment mencuci tangan sebagai berikut :


1. Sebelum Menyentuh Pasien.
2. Sesudah Menyentuh Pasien.
3. Sebelum Melakukan Tindakan Anti Septik.
4. Apabila Terkontaminasi ( Cairan, Tertusuk Jarum, dll ).
5. Setelah menyentuh Lingkungan Pasien.

6.4 Alat Pelindung Diri


Jenis-jenis Alat Pelindung Diri:
1) SARUNG TANGAN melindungi tangan dari bahan yang dapat menularkan penyakit dan
melindungi pasieen dari mikroorganisme yang berada di tangan petugas
kesehatan.Sebelum memakai sarung tangan dan setelah melepas sarung tangan
lakukan kebersihan tangan menggunakan antiseptik cair atau handrub berbahan dasar
alkohol.Satu pasang sarung tangan harus digunakan untuk setiap pasien, sebagai
upaya untuk menghindari kontaminasi silang. Pemakaian sepasang sarung tangan yang
sama atau mencuci tangan yang masih bersarung tangan, ketika melakukan perawatan
di bagian tubuh yang kotor kemudian berpindah ke bagian tubuh yang bersih, bukan
merupakan praktek yang aman.
2) MASKER harus cukup besar untuk melindungi hidung, mulut, bagian bawah dagu, dan
rambut pada wajah(jenggot).Masker dipakai untuk menahan cipratan yang keluar
sewaktu petugas kesehatan atau petugas bedah berbicara, batuk atau bersin serta
untuk mencegah percikan darah atau cairan tubuh lainnya memasuki hidung atau
mulut petugas kesehatan. Bila masker tidak terbuat dari bahan tahan cairan, maka
masker tersebut tidak efektif untuk mencegah kedua hal tersebut.
3) ALAT PELINDUNG MATA melindungi petugas dari percikan darah atau cairan tubuh
lain dengan cara melindungi mata. Pelindung mata mencakup kacamata (goggles)
plastik bening, kacamata pengaman, pelindung wajah dan visor. Petugas kesehatan
harus menggunakan masker dan pelindung mata atau pelindung wajah, jika melakukan
tugas yang memungkinkan adanya percikan cairan secara tidak sengaja ke arah wajah.

Bila tidak tersedia pelindung wajah, petugas kesehatan dapat menggunakan kacamata
pelindung atau kacamata biasa serta masker.
4) TOPI digunakan untuk menutup rambut dan kulit kepala sehingga serpihan kulit dan
rambut tidak tercampur ke linen.Topi harus cukup besar untuk menutup semua
rambut.Meskipun topi dapat memberikan sejumlah perlindungan pada petugas, tetapi
tujuan utamanya adalah untuk melindungi pemakainya dari darah atau cairan tubuh
yang terpercik dari linen kotor infeksius.
5) APRON yang terbuat dari karet atau plastik, merupakan penghalang tahan air untuk
sepanjang bagian depan tubuh petugas kesehatan. Petugas kesehatan harus
mengenakan apron ketika melakukan penghitungan dan pemilahan linen kotori. Apron
akan mencegah cairan tubuh pasien yang ada di linen mengenai baju dan kulit petugas
kesehatan.
6) PELINDUNG KAKI digunakan untuk melindungi kaki dari cedera akibat benda tajam
atau benda berat yang mungkin jatuh secara tidak sengaja ke atas kaki. Sepatu yang
tahan terhadap benda tajam atau kedap air harus tersedia di Laundry.
Pemakaian APD di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Cara Mengenakan APD di Ruang Laundry :
1. Kenakan baju kerja sebagai lapisan pertama pakaian pelindung.
2. Kenakan pelindung kaki.
3. Kenakan sepasang sarung tangan.
4. Kenakan celemek plastik..
5. Kenakan masker.
6. Kenakan penutup kepala.
7. Kenakan pelindung mata.
Cara Melepas APD :
1. Disinfeksi sepasang sarung tangan..
2. Lepaskan celemek
3. Lepaskan pelindung mata.
4. Lepaskan penutup kepala.
5. Lepaskan masker.
6. Lepaskan pelindung kaki.
7. Lepas sarung tangan
8. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih.

6.5 Prosedur Penanganan Kecelakaan di laundry


1.2.1 Tertusuk Jarum
1. Segera keluarkan darah.
2. Siram dengan air mengalir selama 10 – 15 menit.
3. Cuci dengan air sabun / desinfektan. ( Jika perlu bilas dengan alkohol 70 % )
4. Segera lapor Ka Ruang Laundry untuk segera diteruskan ke KPRS
1.2.2 Terpajan Cairan Tubuh ( Kulit, Mata, Hidung dan Mulut )
1. Cuci dengan air mengalir selama 10 – 15 menit.
2. Untuk mata cuci dengan air mengalir dari pangkal ujung mata dekat hidung
dengan memiringkan kepala.
3. Untuk kulit cuci dengan air mengalir dan air sabun / desinfektan (Jika perlu,
bilas menggunakan alkohol 70 %) dan keringkan dengan handuk bersih.
4. Penanganan selanjutnya sesuai alur prosedur.
BAB VII
PENGENDALIAN MUTU

Prinsip dasar upaya peningkatan mutu pelayanan adalah pemilihan aspek yang akan
ditingkatkan dengan menetapkan indikator, kriteria serta standar yang digunakan untuk
mengukur mutu pelayanan Rumah Sakit yaitu :

Defenisi Indikator adalah:

Adalah ukuran atau cara mengukur sehingga menunjukkan suatu indikasi. Indikator
merupakan suatu variabel yang digunakan untuk bisa melihat perubahan. Indikator yang baik
adalah yang sensitif tapi juga spesifik.

Kriteria :

Adalah spesifikasi dari indikator.

Standar :

 Tingkat performance atau keadaan yang dapat diterima oleh seseorang yang
berwenang dalam situasi tersebut, atau oleh mereka yang bertanggung jawab untuk
mempertahankan tingkat performance atau kondisi tersebut.
 Suatu norma atau persetujuan mengenai keadaan atau prestasi yang sangat baik.
 Sesuatu ukuran atau patokan untuk mengukur kuantitas, berat, nilai atau mutu.
Dalam melaksanakan upaya peningkatan mutu pelayanan maka harus memperhatikan prinsip
dasar sebagai berikut:

1. Aspek yang dipilih untuk ditingkatkan

 Keprofesian
 Efisiensi
 Keamanan petugas
 Kepuasan pasien
 Sarana dan lingkungan fisik
2. Indikator yang dipilih

a. Indikator lebih diutamakan untuk menilai output daripada input dan proses
b. Bersifat umum, yaitu lebih baik indikator untuk situasi dan kelompok daripada untuk
perorangan.
c. Dapat digunakan untuk membandingkan antar daerah dan antar Rumah Sakit
d. Dapat mendorong intervensi sejak tahap awal pada aspek yang dipilih untuk dimonitor
e. Didasarkan pada data yang ada.

3. Kriteria yang digunakan


Kriteria yang digunakan harus dapat diukur dan dihitung untuk dapat menilai indikator,
sehingga dapat sebagai batas yang memisahkan antara mutu baik dan mutu tidak baik.

4. Standar yang digunakan


Standar yang digunakan ditetapkan berdasarkan :
a. Acuan dari berbagai sumber
b. Benchmarking dengan Rumah Sakit yang setara
c. Berdasarkan trend yang menuju kebaikan