Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR HUMERUS

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi
Fraktur adalah diskontinuitas dari jaringan tulang yang biasanya
disebabkan adanya kekerasan yang timbul secara mendadak.(Paula
krisanty dkk, 2009).
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau
tenaga fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu
sendiri dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentkan apakah
fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. ( Price A & L,
Wilson,2006)
Fraktur didefinisikan sebagai gangguan pada kontinuitas tulang ,
tulang rawan (sendi) dan lempeng emfisis. ( Chir Tanto dkk, 2014).
Fraktur humerus adalah fraktur pada tulang humerus yang
disebabkan oleh benturan atau trauma langsung maupun tidak
langsung (de Jong, 2010 dalam Triastuti 2012).
Menurut Muttaqin, (2011) Fraktur humerus adalah terputusnya
hubungan tulang humerus disertai kerusakan jaringan lunak (otot,
kulit, jaringan saraf, pembuluh darah) sehingga memungkinkan
terjadinya hubungan atara fragmen tulang yang patah dengan udara
luar yang disebabkan oleh cedera dari trauma langsung yang mengenai
lengan atas.
2. Insiden Prevalensi
Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat tahun 2007 terdapat lebih
dari delapan juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan
sekitar 2 juta orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden
kecelakaan yang memiliki angka kejadian yang cukup tinggi yakni
insiden fraktur ekstremitas bawah yakni sekitar 46,2% dari insiden
kecelakaan yang terjadi. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes RI
tahun 2007 di Indonesia terjadi kasus fraktur yang disebabkan oleh
cedera antara lain karena jatuh, kecelakaan lalu lintas dan trauma
benda tajam/tumpul. Dari 45.987 peristiwa terjatuh yang mengalami
fraktur sebanyak 1.775 orang (3,8%), dari 20.829 kasus kecelakaan
lalu lintas, yang mengalami fraktur sebanyak 1.770 orang (8,5%), dari
14.127 trauma benda tajam/ tumpul, yang mengalami fraktur sebanyak
236 orang (1,7%).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah
tahun 2007 didapatkan sekitar 2.700 orang mengalami insiden fraktur,
56% penderita mengalami kecacatan fisik, 24% mengalami kematian,
15% mengalami kesembuhan dan 5% mengalami gangguan psikologis
atau depresi terhadap adanya kejadian fraktur. Menurut data dari
Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) 2010, kasus patah tulang
mengalami peningkatan setiap tahun sejak 2007. Pada 2007 ada 22.815
insiden patah tulang, pada 2008 menjadi 36.947, 2009 jadi 42.280 dan
pada 2010 ada 43.003 kasus. Dari data tersebut didapatkan rata-rata
angka insiden patah tulang paha atas tercatat sekitar 200/100.000 pada
perempuan dan laki-laki di atas usia 40 tahun. Sedangkan menurut
Badan Kesehatan Dunia (WHO) 50% patah tulang paha atas akan
menimbulkan kecacatan seumur hidup, dan 30% bisa menyebabkan
kematian (Noviardi, 2012).

3. Etiologi
Umumnya fraktur yang terjadi, dapat disebabkan beberapa keadaan
berikut:
a. Cedera dan benturan seperti pukulan langsung, gaya meremuk,
gerakan puntir mendadak, kontraksi otot ekstrim.
b. Letih karena otot tidak dapat mengabsorbsi energi seperti berjalan
kaki terlalu jauh.
c. Kelemahan tulang akibat penyakit kanker atau osteoporosis pada
fraktur patologis.

Penyebab Fraktur adalah :


1) Kekerasan langsung: Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang
pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian sering bersifat fraktur
terbuka dengan garis patah melintang atau miring.
2) Kekerasan tidak langsung: Kekerasan tidak langsung menyebabkan
patah tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang
patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran
vektor kekerasan.
3) Kekerasan akibat tarikan otot: Patah tulang akibat tarikan otot sangat
jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa twisting, bending dan penekanan,
kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.

Kebanyakan fraktur shaft humerus terjadi akibat trauma langsung,


meskipun fraktur spiral sepertiga tengah dari shaft kadang-kadang
dihasilkan dari aktifitas otot-otot yang kuat seperti melempar bola. Pada
fraktur humerus kontraksi otot, seperti otot-otot rotator cuff, deltoideus,
pectoralis mayor, teres mayor, latissimus dorsi, biceps, korakobrakialis
dan triceps akan mempengaruhi posisi fragmen patahan tulang yang
mengakibatkan fraktur mengalami angulasi maupun rotasi. Di bagian
posterior tengah melintas nervus Radialis langsung melingkari
periostum diafisis humerus dari proksimal ke distal sehingga mudah
terganggu akibat patah tulang humerus bagian tengah.

4. Klasifikasi
Ada 2 type dari fraktur femur, yaitu :
1. Fraktur Intrakapsuler; femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul
dan kapsula.
a. Melalui kepala femur (capital fraktur)
b. Hanya di bawah kepala femur
c. Melalui leher dari femur
2. Fraktur Ekstrakapsuler;
a. Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang lebih
besar/yang lebih kecil /pada daerah intertrokhanter.
b. Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci
di bawah trokhanter kecil.

5. Manifestasi klinis
a. Nyeri terus menerus dan bertambah berat. Nyeri berkurang jika
fragmen tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur
merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk
meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
b. Deformitas dapat disebabkan oleh pergeseran fragmen pada
eksremitas. Deformitas dapat di ketahui dengan membandingkan
dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi
dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas
tulang tempat melengketnya obat.
c. Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat diatas dan
dibawah tempat fraktur.
d. Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan,
teraba adanya derik tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan
antar fragmen satu dengan lainnya.
e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat
trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru
terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah cedera.
f. Pada pemeriksaan harus diperhatikan keutuhan faal nervus radialis
dan arteri brakialis. Saat pemeriksaan apakah ia dapat melakukan
dorsofleksi pergelangan tangan atau ekstensi jari-jari tangan.

6. Patofisiologi
Tulang memiliki kekuatan untuk melindungi organ terpenting
dalam tubuh. Namun apabila terjadi tekanan dari luar yang datang
lebih besar dari kemampuan tulang untuk menyerapnya, maka akan
terjadi trauma. Trauma ini akan mengakibatkan terjadinya
diskontinuitas dari tulang dan kemudian akan menjadi fraktur.
a. Trauma langsung/ direct trauma
Yaitu apabila fraktur terjadi di tempat dimana bagian tersebut
mendapat ruda paksa (misalnya benturan, pukulan yang
mengakibatkan patah tulang).
b. Trauma yang tak langsung/ indirect trauma
Misalnya penderita jatuh dengan lengan dalam keadaan ekstensi
dapat terjadi fraktur pada pegelangan tangan.
c. Trauma ringan pun dapat menyebabkan terjadinya fraktur bila
tulang itu sendiri rapuh/ ada resiko terjadinya penyakit yang
mendasari dan hal ini disebut dengan fraktur patologis.
d. Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.Kekuatan
dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan,
kombinasi dari ketiganya, dan penarikan. ( Musliha, 2010).
Fraktur dibagi menjadi fraktur terbuka dan fraktur tertutup.
Tertutup bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar. Sedangkan fraktur terbuka bila terdapat
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar oleh karena
perlukaan di kulit. Sewaktu tulang patah perdarahan biasanya
terjadi di sekitar tempat patah ke dalam jaringan lunak sekitar
tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami
kerusakan. Reaksi perdarahan biasanya timbul hebat setelah
fraktur. Sel-sel darah putih dan sel anast berakumulasi
menyebabkan peningkatan aliran darah ketempat tersebut
aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru umatur
yang disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel- sel tulang
baru mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati.
Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut syaraf yang
berkaitan dengan pembengkakan yang tidak di tangani dapat
menurunkan asupan darah ke ekstrimitas dan mengakibatkan
kerusakan syaraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan
akan mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah
total dan berakibat anoreksia mengakibatkan rusaknya serabut
syaraf maupun jaringan otot. Komplikasi ini di namakan sindrom
compartment (Brunner dan Suddarth, 2002).
Lewis (2006) menyampaikan manifestasi klinik fraktur
yaitun nyeri, nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal
ini dikarenakan adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang
atau kerusakan jaringan sekitarnya, Bengkak/Edema, edema
muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir
pada daerah fraktur dan extravasi daerah di jaringan sekitarnya,
memar/ Ekimosis merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat
dari ektravasi daerah di jaringan sekitarnya, spasme otot
merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi disekirat fraktur,
penurunan sensasi terjadi karena kerusakan syaraf, tertekannya
syaraf karena edema, gangguan fungsi terjadi karena
ketidakstabilan tulang yang fraktur, nyeri atau spasme otot,
mobilitas abnormal adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-
bagian yang pada kondisi normalnya tidak terjadi pergerakan. Ini
terjadi pada fraktur tulang panjang, krepitasi merupakan rasa
gemertak yang terjadi jika bagian-bagian tulang digerakkan,
deformitas merupakan abnormlnya posisi dari tulang sebagai hasil
dari kecelakan atau trauma dan pergerakan otot yang mendorong
fragmen tulang ke posisi abnormal, akan menyebabkan tulang
kehilangan bentuk normalnya.

7. WOC

Trauma langsung

Trauma tidak langsung

Patologis
FRAKTUR FEMUR

Proses
pembedahan
Fraktur terbuka Fraktur tertutup

Defisit
Pengetahuan
Terputusnya Perubahan jaringan

kontinuitas jaringan sekitar


Spasme otot
Ansietas
Robeknya jaringan Pergeseran
lunak Pragmen Tulang
Peningkatan tekanan
kapiler
Putusnya vena Deformitas
/arteri
Pelepasan Histamin
Gangguan fungsi
ekstremitas
Perdarahan Ketidakefektifan perfusi
Hambatan
Kehilangan Protein plasma
jaringan hilang
perifer
Penekanan
Edemapembuluh darah Mobilitas FisikNyeri Akut
volume cairan
Syok Hipovolemik

Sumber : (Brunner & Suddath, 2002. Lewis, 2006.Musliha, 2010)

8. Pemeriksaan Penunjang
a. Radiologi
Pada rontgen dapat dilihat gambaran fraktur (tempat fraktur, garis
fraktur (transversa, spiral atau kominutif) dan pergeseran lainnya
dapat terbaca jelas). Radiografi humerus AP dan lateral harus
dilakukan. Sendi bahu dan siku harus terlihat dalam foto.
Radiografi humerus kontralateral dapat membantu pada
perencanaan preoperative. Kemungkinan fraktur patologis harus
diingat. CT-scan, bone-scan dan MRI jarang diindikasikan, kecuali
pada kasus dengan kemungkinan fraktur patologis.
Venogram/anterogram menggambarkan arus vascularisasi. CT scan
untuk mendeteksi struktur fraktur yang lebih kompleks.
b. Hitung Darah Lengkap:Ht mungkin meningkat (Hemokonsentrasi)
atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ
jauh pada trauma multipel). Peningkatan jumlah SDP adalah respon
stress normal setelah trauma.
c. Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
d. Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk
klirens ginjal.
9. Tata Laksana Medis
a. Reduksi dan imobillisasi fraktur
1. Reduksi fraktur dilakukan untuk menurunkan nyeri dan membantu emncegah
formasi hematum reduksi dapat dilakukan dengan menggunakan traksi.
2. Bidai pneumatik dipasang untuk menurunkan kehilangahan darah dengan
memberikan tekanan dan tamponadeu pada formasi hematum. Traksi diperlukan
untuk menahan tulang paha agar tidak memberikan tekanan pada jaringan lunak
akibat kontraksi massa otot paha yang besar dan kuat pada saat mengalami
spasme.
b. Pemberian analgesik yang tepat managemen nyeri harus segera
diberikan. Apabila status hemodinamik baik, maka pemberian narkotika
intravena biasanya dapat menurunkan respon nyeri.
c. Profilaksis antibiotik
d. Transfusi darah, terutama pada fraktur femur terbuka dengan adanya
penurunan kadar hemoglobin.
e. Lakukan pemasangan foley kateter
f. Radigrafi harus segera dilakukan untuk mendeteksi patologi.
g. Konsultasi ortopedi untuk intervensi reduksi terbuka

10. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada fraktur yaitu :
1) Komplikasi awal
a. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya
nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar,
dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan
emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan
reduksi, dan pembedahan.
b. Kompartement Syndrom
Komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan jaringan dalam
ruang tertutup di otot, yang sering berhubungan dengan akumulasi
cairan sehingga menyebabkan hambatan aliran darah yang berat
dan berikutnya menyebabkan kerusakan pada otot. Gejala
-gejalanya mencakup rasa sakit karena ketidakseimbangan pada
luka, rasa sakit yang berhubungan dengan tekanan yang berlebihan
pada kompartemen, rasa sakit dengan perenggangan pasif pada otot
yang terlibat, dan paresthesia. Komplikasi ini terjadi lebih sering
pada fraktur tulang kering (tibia) dan tulang hasta (radius atau
ulna).
c. Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan
masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka,
tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan
seperti pin dan plat.
d. Osteomyelitis
Adalah infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum dan
korteks tulang dapat berupa exogenous (infeksi masuk dari luar
tubuh) atau hematogenous (infeksi yang berasal dari dalam tubuh).
Patogen dapat masuk melalui luka fraktur terbuka, luka tembus,
atau selama operasi. Luka tembak, fraktur tulang panjang, fraktur
terbuka yang terlihat tulangnya, luka amputasi karena trauma dan
fraktur – fraktur dengan sindrom kompartemen atau luka vaskular
memiliki risiko osteomyelitis yang lebih besar.
2) Komplikasi Dalam Waktu Lama
a. Delayed Union (Penyatuan tertunda)
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini
disebabkan karena penurunan suplai darah ke tulang.
b. Non union (Tak menyatu)
Penyatuan tulang tidak terjadi, cacat diisi oleh jaringan fibrosa.
Kadang kadang dapat terbentuk sendi palsu pada tempat ini.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan non union adalah tidak
adanya imobilisasi, interposisi jaringan lunak,pemisahan lebar dari
fragmen contohnya patella dan fraktur yang bersifat patologis.
c. Malunion
Kelainan penyatuan tulang karena penyerasian yang buruk
menimbulkan deformitas, angulasi atau pergeseran.( Musliha,
2010).
11. Stadium Penyembuhan Fraktur
a) Stadium Satu-Pembentukan Hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma di sekitar
daerah fraktur. Sel-sel darah membentuk fibrin guna
melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya
kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 – 48
jam dan perdarahan berhenti sama sekali.
b) Stadium Dua-Proliferasi Seluler
Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel
menjadi fibro kartilago yang berasal dari
periosteum,`endosteum, dan bone marrow yang telah
mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini
terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan di sanalah
osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam
beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan
kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung selama
8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya.

c) Stadium Tiga-Pembentukan Kallus


Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik
dan osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan
mulai membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini
dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai
berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati.
Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago,
membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan
periosteal. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang )
menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur
berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.

d) Stadium Empat-Konsolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman
tulang berubah menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup
kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos melalui
reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat di belakangnya
osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa di antara fragmen
dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan
mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk
membawa beban yang normal.
e) Stadium Lima-Remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat.
Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini
dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang
yang terus-menerus. Lamellae yang lebih tebal diletakkan pada
tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak
dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya
dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya.
Gambar Fase Penyembuhan Tulang

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA


FRAKTUR

B. PENGKAJIAN
1. Primary Survey
a. Airway
Pada pasien dengan fraktur femur biasanya tidak mengalami sumbatan
jalan nafas
b. Breathing
Pada pemeriksaan sistem pernapasan , didapatkan bahwa klien fraktur
femur tidak mengalami kelainan pernapasan. Pada palpasi toraks,
didapatkan taktilfremitus seimbang kanan dan kiri. Pada auskultasi, tidak
ditemukan suara napas tambahan.
c. Circulation
TD dapat normal atau meningkat, hipotensi terjadi pada tahap lanjut,
takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan
membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut.
d. Disabilities
Pada primary survey, disabiliti dikaji dengan menggunakan skala AVPU
yaitu :
A :Alerrt, yaitu merespon suara dengan tepat, misalnnya mematuhi
perintah yang diberikan.V :Vocalises, mungkin tidak sesuai atau
mengeluarkan suara yang tidak jelas.P : responds to pain only ( harus
dinilai semua keempat jika ektremitas awal yang digunakan untuk
merespon).U : unerponsive to paint, jika pasien tidak merespon baik
stimulus nyeri maupun stimulus verbal.
e. Expose, Examine dan Evaluate
Menanggalkan pakaian pasien dan memeriksa cedera pada pasien. Jika
pasien diduga memiliki cedera leher atau tulang belakang, imobilisasi in-
line penting untuk dilakukan. Lakukan log roll ketika melakukan
pemeriksaan pada punggung pasien. Yang perlu diperhatikan dalam
melakukan pemeriksaan pada pasien fraktur adalah mengekspos pasien
hanya selama pemeriksaan eksternal. Setelah pemeriksaan telah selesai
dilakukan, tutup pasien dengan selimut hangat dan jaga privasi pasien,
kecuali jika diperlukan pemeriksaan ulang ( Musliha, 2010).
2. Secondary survey
a. Identitas Klien
Meliputi : Nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang
dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, no. register, tgl MRS,
diagnosa medis.
b. Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri
tersebut bisa akut atau kronik tergantung dari lamanya serangan. Untuk
memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri :
1) Provoking incident : apakah ada peristiwa yang menjadi faktor
presipitasi nyeri.
2) Quality of pain : seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau
digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, terdenyut atau menusuk.
3) Region : ridiation, relief, apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit
menjalar atau menyebar dan dimana rasa sakit terjadi.
4) Severity (scale of pain) : seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan
klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa
jauh rasa sakit mempunyai fungsinya.
5) Time : berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk
pada malam hari atau siang hari.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur
yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien.
Ini bisa berupa kronologi terjadinya penaykit tersebut sehingga nantinya
bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang
terkena. Selain itu dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakan
bisa diketahui luka kecelaan yang lain.
1) S : Sign and Symtom
Tanda dan gejala terjadinya tension pneumotoraks, yaitu ada jejas
pada thorak, nyeri pada tempat trauma, bertambah saat inspirasi,
pembengkakan lokal dan krepitasi pada saat palpasi, pasien menahan
dadanya dan bernafas pendek, dispnea, hemoptisis, batuk dan
emfisema subkutan penurunan tekanan darah.
2) A : Allergies
Riwayat alergi yang diderita klien atau keluarga klien. Baik alergi
obat-obatan ataupun kebutuhan akan makan atau minum.
3) M : Medication
( Anticoagulants, insulin and cardiovascular medication especially)
Pengobatan yang diberikan kepada klien sebaiknya yang sesuai
dengan keadaan klien dan tidak menimbulkan alergi. Pemberian obat
diberikan sesuai dengan riwayat pengobatan klien.
4) P : Previous medical/ surgical history
Riwayat pembedahan atau masuk rumah sakit sebelumnya
5) L : least meal ( Time)
Waktu klien terakhir makan atau minum
6) E : Event
Hal-hal yang bersangkutan dengan sebab cedera, kejadian yang
menyebabkan adanya keluhan utama
d. Riwayat Penaykit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan
memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung.
Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit yang
menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung.
Selain itu penyakit DM dengan luka dikaki sangat beresiko terjadinya
osteomylitis akut maupun kronik dan juga menghambat proses
penyembuhan tulang.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penaykit tulang merupakan
salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur seperti DM.Osteoporosis
yang sering terjadi pada beberapa keturunan dan kanker tulang yang
cenderung diturunkan secara genetik.
f. Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya
dengan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau
pengaruh sehari-hari baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.
3. Pemeriksaan Fisik
1) Breathing ( B1 )
Pada pemeriksaan sistem pernapasan , didapatkan bahwa klien fraktur
humerus tidak mengalami kelainan pernapasan. Pada palpasi toraks,
didapatkan taktilfremitus seimbang kanan dan kiri. Pada auskultasi,
tidak ditemukan suara napas tambahan.
2) Blood ( B2 )
Tanda :
a) Hipertensi (kadang-kadang terlihat senbagai respon terhadap
nyeri/ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah)
b) Takikardi ( respon stress, hipovolemi )
c) Penurunan/tidak ada nadi pada bagian distal yang cedera, pengisian
kapiler, lambat, pusat bagian yang terkena.
d) Pembengkakan jaringan atau masa hematon pada sisi cedera.
3) Brain ( B3 )
a. Tingkat kesadaran biasanya Composmentis.
1. Kepala: Tidak ada gangguan, yaitu normosefalik, simetris, tidak
ada penonjolan, tidak ada sakit kepala.
2. Leher : Tidak ada gangguan, yaitu simetris, tidak ada penonjolan,
reflex menelan ada.
3. Wajah: Wajah terlihat menahan sakit (Meringsis) tidak ada
perubahan fungsi dan bentuk, Wajah simetris, tidak ada lesi dan
edema.
4. Mata: Tidak ada gangguan, seperti konjungtiva tidak anemis
(karena tidak terjadi pendarahan).
5. Telinga: Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak
ada lesi atau nyeri tekan.
6. Hidung: Tidak ada deformitas, tidak ada pernapasan cuping hidung.
7. Mulut dan Faring:Tidak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi
perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.
b. Pemeriksaan fungsi serebral. Status mental: observasi penampilan
dan tingkah laku klien. Biasanya tidak mengalami perubahan
4) Bowel ( B4 )
a. Inspeksi abdomen : Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
Palpasi : Turgor baik, tidak ada defans muscular dan hepar
tidak terabah. Perkusi : Suara timpani, ada pantulan
gelombang cairan. Auskultasi : Peristaltik usus nomal 20
kali/menit. Inguinal – genitalia – anus : Tidak ada hernia, tidak
ada pembesaran limfe.
b. Pola nutrisi dan metabolism. Klien fraktur harus mengonsumsi
nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya, seperti kalsium, zat
besi, protein, vitamin C, dan lainnya untuk membantu proses
penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien
dapat membantu menentukan penyebab masalah
musculoskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi
yang tidak adekuat terutama kalsium dan protein. kurangnya
paparan sinar matahari merupakan faktor predisposisi masalah
musculoskeletal terutama pada lansia. Selain itu, obesitas juga
menghambat degenerasi dan mobilitas klien.
c. Pola eliminasi. Klien fraktur humerus tidak mengalami
gangguan pola eliminasi, tetapi perlu juga dikaji frekuensi,
kosistensi, warna, dan bau feses pada pola eliminasi alvi. Pada
pola eliminasi urine dikaji frekuensi, kepekatan, warna, bau,
dan jumlahnya. Pada kedua pola tersebut juga dikaji adanya
kesulitan atau tidak.

Bagaimana bentuk/kesimetrisnya, turgor kulit abdomen apakah


suara tambahan dan bagaimana peristaltik ususnya.
5) Bladder ( B5 )
Kaji keadaan urine yang meliputiwarna, jumlah dan karakteristik
urine, termasuk berat jenis urine. Biasanya klien pada fraktur
humerus tiidak mengalami kelainan pada sistem ini.
6) Bone ( B6 )
Adanya fraktur pada humerus akan menganggu secara lokal, baik
fungsi motorik, sensorik, maupun peredaran darah.
a. Look. Pada sistem integumen terdapat eritema, suhu
disekitar daerah trauma meningkat, bengkak, edema, dan
nyeri tekan. Perhatikan adanya pembengkakan yang tidak
biasa (abnormal). Perhatikan adanya sindrom kompartemen
pada lengan bagian distal fraktur humerus. Apabila terjadi
fraktur terbuka, ada tanda-tanda trauma jaringan lunak
sampai kerusakan intergritas kulit. Fraktur oblik, spiral, dan
bergeser mengakibatkan pemendekan batang humerus. kaji
adanya tanda-tanda cedera dan kemungkinan keterlibatan
berkas neurovascular (saraf dan pembuluh darah) lengan,
seperti bengkak/edema.Lumpuh pergelangan tangan
merupakan petunjuk adanya cedera saraf radialis.
Pengkajian neurovascular awal sangat penting untuk
membedakan antara trauma akibat cedera dan komplikasi
akibat penanganan. Klien tidak mampu menggerakan
lengan dan kekuatan otot lengan menurun dalam
melakukan pergerakan. Pada keadaan tertentu, klien fraktur
humerus sering mengalami sindrom kompartemen pada
fase awal setelah patah tulang. Perawat perlu mengkaji
apakah ada pembengkakan pada lengan atas menganggu
sirkulasi darah kebagian bawahnya. Otot, lemak, saraf, dan
pembuluh darah terjebak dalam sindrom kompartemen
sehingga memerlukan perhatian perawat secara serius agar
organ di bawah lengan atas tidak menjadi nekrosis. Tanda
khas sindrom kompartemen pada fraktur humerus adalah
perfusi yang tidak baik pada bagian distal, seperti jari-jari
tangan, lengan bawah pada sisi fraktur bengkak, adanya
keluhan nyeri pada lengan, dan timbul bula yang banyak
menyelimuti bagian bawah fraktur humerus.
b. Feel. Kaji adanya nyeri tekan (tenderness) dan krepitasi
pada daerah lengan atas.
c. Move. Setelah dilakukan pemeriksaan feel, pemeriksaan
dilanjutkan dengan menggerakkan ekstermitas, kemudian
perawat mencatat apakah ada keluhan nyeri pada
pergerakan. Pencatatan rentang gerak ini perlu dilakukan
agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya.
Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah
pergerakan dimulai dari titik 0 (posisi netral), atau dalam
ukuran metrik. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada
gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang
dilihat adalah gerakan aktif dan pasif. Hasil pemeriksaan
yang didapat adalah adanya gangguan/ keterbatasan gerak
lengan dan bahu.Pada waktu akan palpasi, posisi klien
diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). pada
dasarnya, hal ini merupakan pemeriksaan yang memberikan
informasi dua arah baik pemeriksa maupun klien.
C. Diagnosa Keperawatan
a. Syok Hipovolemik berhubungan dengan perdarahan
b. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan
kerusakan transfer oksigen melalui membrane kapiler.
c. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
d. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan dengan cedera jaringan
sekitar fraktur dan kerusakan rangka neuromuskuler.
e. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional, akan menjalani
operasi, status ekonomi, dan perubahan fungsi peran
D. Intervensi Keperawatan
DX 1 : Syok Hipovolemik berhubungan dengan perdarahan

NOC NIC RASIONAL


 Shock prevention. 1. Monitor tanda awal 1. Untuk mengetahui
Tujuan :
syok. tanda awal syok.
Setelah dilakukan
2. Tempatkan pasien 2. Untuk memberi
tindakan
dalam posisi supine rasa nyaman.
keperawatan 3. Agar keluarga
dan kaki elevasi.
selama...x 24 jam, 3. Ajarkan keluarga dapat mengetahui
diharapkan tidak pasien entang tanda dan bertindak
terjadi perdarahan dan gejala syok serta cepat dalam
dengan Kriteria langkah untuk penangan syok.
4. Untuk mencegah
Hasil: mengatasi syok.
1. Nadi dalam 4. Kolaborasi dengan kekurangan darah.
batas normal. dokter dalam
2. Irama jantung pemberian obat
dalam batas penambah darah.
yang
diharapkan.
3. Ph darah serum
dalam batas
normal.

DX 2 : Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan kerusakan


transfer oksigen melalui membrane kapiler.

NOC NIC RASIONAL


 Circulation status 1. Monitor tanda vital, 1. Ketidakadekuatan
Tujuan:
perhatihkan tanda- volume sirkulasi
Setelah dilakukan
tanda pucat/sianosis akan
tindakan keperawatan
umum, kulit dingin, mempengharuhi
selama …x 24 jam
perubahan mental. sistem perfusi
diharapkan perfusi
2. Berikan kompres es
jaringan.
jaringan perifer
sekitar fraktur sesuai 2. Menurunkan
kembali efektif,
indikasi. edema/pembentu
dengan 3. Dorong pasien untuk
kan hematoma,
Kriteria Hasil :
secara rutin latihan
1. Tekanan systole yang dapat
jari/sendi distal
dan diastole mengganggu
cedera, ambulasi
dalam rentang sirkulasi.
sesegera mungkin. 3. Meningkatkan
yang diharapkan.
4. Kolaborasi dengan
2. Tidak ada sirkulasi dan
dokter dalam
ortostatik menurunkan
pemberian O2
jaringan. penggumpalan
3. Tidak ada tanda-
darah khususnya
tanda peningkatan
pada ekstremitas
tekanan
bawah.
intrakranial( tidak 4. Untuk
lebih dari 15 menpercepat
mmHg).
poses
penyembuhan.

DX : 3 Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik

NIC NOC RASIONAL


 Pain Level, 1. Kaji skala 1. Nyeri
merupakan
 Pain control, nyeri klien
respon subyektif
2. Atur
 Comfort yang dapatdikaji
imobilisasi dengan
level
menggunakan
pada lengan
Tujuan: Setelah skala nyeri.
atas 2. Imobilisasi yang
dilakukan tindakan
3. Ajarkan pasien adekuat dapat
keperawatan mengurangi
teknik
pergerakan
selama...x 24 jam
nonfarmakolog pragmen tulang
diharapkan nyeri yang menjadi
i (relaksasi
unsur utama
berkurang dengan
nafas dalam) penyebab nyeri
Kriteria hasil : pada lengan atas
untuk
3. Teknik ini akan
mengurangi melancarkan
1. Klien dapat
peredaran darah
intensitas nyeri
melaporkan sehingga O2
4. Ajarkan
pada jaringan
secara verbal
metode terpenuhi.
nyeri 4. Mengalihkan
distraksi
perhatian klien
berkurang/hil
selama nyeri terhdap nyeri ke
ang hal-hal yang
akut
2. Klien tidak menyenangkan
5. Kolaborasi
5. Analgesik
meringis
dengan dkter memblok
3. Skla nyeri 0-3
lintasan nyeri,
dalam
(NRS) sehingga nyeri
pemberian akan berkurang.
4. Tanda-tanda 6. Untuk
obat analgesik
mengetahui
vital dalam 6. Monitor tanda-
keadaan
rentang tanda vital hemodinamik
pasien
normal

DX 4: Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan dengan cedera jaringan


sekitar fraktur dan kerusakan rangka neuromuskuler.

NIC NOC RASIONAL


 Join Movement : 1. Kaji derajat imobilitas 1. Mengetahui persepsi
Active yang dihasilkan oleh diri pasien mengenai
Tujuan: Setelah
cedera/pengobatan dan keterbatasan fisik
dilakukan tindakan
perhatikan persepsi aktual, mendapatkan
keperawatan selama...x
pasien terhadap informasi dan
24 jam diharapkan
imobilisasi. menentukan
hambatan mobilitas fisik 2. Berikan/bantu dalm
informasi dalam
berkurang dengan mobilisasi dengan
meningkatkan
Kriteria Hasil : kursi roda, kruk dan
kemajuan kesehatan
1. Klien akan
tongkat sesegera
pasien.
meningkat/
mungkin. 2. Mobilisasi dini
mempertahankan 3. Instruksikan dan bantu
menurunkan
mobilitas pada pasien dalam rentang
komplikasi tirah
tingkat gerak aktif/pasif pada
baring(contoh
kenyamanan ekstremitas yang sakit
flebitis) dan
yang lebih tinggi. dan yang tidak sakit.
meningkatkan
2. Klien 4. Kolaborasi dengan ahli
penyembuhan dan
mempertahankan terapi fisik/okupasi
normalisasi fungsi
posisi dan atau rehabilitasi
organ.
/fungsional. spesialis.
3. Meningkatakan
3. Klien
aliran darah ke otot,
Menunjukkan
mempertahankan
tindakan untuk
meningkatkan
mobilitas gerak sendi.
4. Berguna dalam
membuat aktivitas
individual/program
latihan.

DX: 5 ansietas berhubungan dengan krisis situasional

NIC NOC RASIONAL


 Anxiety sel- 1. Kaji tanda verbal 1. reaksi
control dan nonverbal verbal/nonverbal
 Anxiety level ansietas. dapat
 Coping
Dampingi klien menunjukan rasa
Tujuan: Setelah dan lakukan agitasi, marah
dilakukan tindakan tindakan bila dan gelisah
klien menunjukan 2. Mengurangi
keperawatan
perilaku merusak rangsangan
selama...x 24 jam
2. Lakukan tindakan eksternal yang
diharapkan ansietas
untuk mengurangi tidak perlu.
berkurang/hilang
ansietas, beri 3. Orientasi
dengan Kriteria Hasil
lingkungan yang terhadap
:
tenang dan prosedur operasi
1. Mampu
suasana penuh dapat
mengidentifikasi dan istirahat mengurangi
mengungkapkan 3. Orientasikan klien ansietas
terhadap tahap- 4. Dapat
gejala cemas menghilangkann
tahap prosedur
2. Mengidentifikasi, operasi dan ketegangan
mengungkapkan dan aktivitas yang terhadap
diharapkan kekhawatiran
menunjukkan teknik
4. Beri kesempatan yang tidak
mengontrol cemas klen diekspresikan.
3. Vital sign dalam mengungkapkan 5. Memberikan
ansietasnya waktu untuk
batas normal mengekspreesika
5. Berikan privasi
kepada klien n perasaan,
dengan orang menghilangkan
tedekat ansietas, dan
perilaku
adaptasi. Adanya
keluarga dan
teman-teman
yang dipilih
untuk melakukan
aktivitas
pengalihan
perhatian akan
mengurangi
perasaan
terisolasi.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Huda, N. Dan Hardhi K. 2013. Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis. Yogyakarta: MediAction
Tanto, Chris dkk. 2014. Kapita Selekta Kedokteran Edisi IV Jilid II. Jakarta:
Media Aesculapius
Triastuti, R.2012. Asuhan Keperawatan Pada Ny.S dengan Close Fraktur Humerus
Sinistra di Ruang Instlasi Bedah Sentral RS Ortopedi Prof.Soeharso
Surakarta.Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhamadiyah Surakarta
Musliha.2010. Keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta: Nuha Medika
Krisanty, Paula dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta: Trans
Info Media
Wilkinson, Judith M & Ahren Nancy R. 2015. Buku Saku Diagnois Keperwatan
Diagnosis Nanda, Intervensi Nic, Kriteria Hasil Noc, edisi 9.Jakarta:EGC