Anda di halaman 1dari 11

Tugas Akuntansi Manajemen

Just In Time

Oleh Kelompok 6::


 Ni Kadek Sri Widari [01]
 Ni Made Surya Ningsih [04]
 Ni Kadek Sukma Yanti [10]
 Ni Putu Henny Kusuma Wardani [19]
 Ni Putu Nita Satyani [29]
 Devila Asih Rahma Susanti [39]

Akuntansi G
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Mahasaraswati Denpasar
2017/2018
I. SISTEM JUST-IN-TIME (JIT)
Perusahaan yang mengadopsi just in time (JIT) system ke proses pabrikasinya harus
merancang kembali fasilitas pabrikasinya dan kejadian yang memicu proses produksi. Just in
time system adalah system menajemen pabrikasi dan persediaan komprehensif dimana bahan
baku dan berbagai suku cadang dibeli dan diproduksi pada saat diproduksi dan pada saat (Just
In Time) akan digunakan dalam setiap tahap proses produksi/ pabrikasi. JIT merupakan suatu
filosofi yang dapat diterapkan pada semua aspek bisnis, termasuk pembelian/ pengadaan,
produksi, dan pengiriman. Tujuan JIT adalah untuk menghasilkan dan mengirimkan produk
pada saat akan dijual secara menguntungkan, dan untuk membeli bahan baku dan suku cadang
pada saat akan ditempatkan ke dalam proses pabrikasi. JIT terfokus pada penghapusan
pemborosan pengurangan persediaan pembinaan hubungan yang erat dengan pemasok,
peningkatan keterlibatan karyawan, dan pengembangan program yang terfokus pada
pelanggan. Kadar koordinasi yang dibutuhkan untuk menerapkan system pabrikasi JIT yang
efekttif menyoroti masalah – masalah yang ada seperti sumbatan (bottleneck), penciutan
persediaan, dan pemasok yang tidak andal. JIT menolong organisasi untuk menjadi lebih
efisien dan terkelola lebih baik serta meraup keuntungan yang lebih besar dibandingkan
pesaing mereka. JIT tidak hanya untuk produsen barang saja. JIT dapat diterapkan juga kepada
perusahaan jasa dan eceran, seperti bank, perusahaan asuransi, rumah sakit, took serba ada, dan
kantor akuntan publik.

A. Konsep Sistem JIT


Metode produksi JIT mengharuskan ketiadaan atau sangat sedikit persediaan bahan baku
karena bahan baku dan suku cadang dijadwalkan untuk sampai ke pabrik dari pemasok hanya
pada saat dibutuhkan saja. Dalam kondisi ideal, perusahaan yang menerapkan system
persediaan JIT hanya membeli bahan baku yang cukup untuk satu hari operasi dalam rangka
memenuhi kebutuhan hari itu. Selain itu, perusahaan tidak memiliki barang yang masih dalam
proses pengolahan pada akhir hari kerja, dan semua barang yang diselesaikan pada hari itu
langsung dikirimkan kepada para pelanggan sehingga tidak ada barang yang harus disimpan di
gudang persediaan barang jadi. Terdapat empat aspek fundamental JIT.
 Menghilangkan segala aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah bagi sebuah
produk atau jasa, hal ini mencakup aktivitas atau sumber daya yang menjadi sasaran
untuk pengurangan atau penghilangan. Sebagai contoh, waktu pabrikasi
(manufacturing time) untuk sebuah produk dapat dinyatakan sebagai berikut:

Waktu pabrikasi = Waktu proses + Waktu inspeksi + Waktu pindah + Waktu antri
 Waktu proses (process time) adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengolah bahan
baku menjadi barang jadi.
 Waktu inspeksi (inspection time) adalah lamanya waktu yang dihabiskan untuk
memastikan bahwa produk bermutu tinggi
 Waktu pindah (move time) adalah waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan bahan
baku atau produk yang sebagian rampung dari stasiun kerja yang satu ke stasiun kerja
yang lainnya.
 Waktu antri (queue time) adalah lamanya waktu tunggu suatu produk untuk dikerjakan,
dipindahkan, atau dikirimkan dari gudang kepada pelanggan.

 Komitmen tinggi terhadap mutu, melakukan secara benar segala sesuatunya sedariawal
adalah esensial manakala tidak ada waktu untuk mengerjakan ulang. Perusahaan perlu
memiliki komitmen untuk mencapai dan mempertahankan tingkat mutu yang tinggi
dalam semua aspek aktivitas – aktivitas perusahaan.
 Upaya perbaikan yang berkelanjutan dalam efisiensi aktivitas perusahaan. Perusahaan
perlu mencanangkan komitmen terhadap perbaikan berkesinambungan (continuous
improvement) pada semua aktivitas perusahaan dan kegunaan data yang dihasilkan bagi
manajemennya. Perbaikan berkesinambungan adalah pengupayaan terus – menerus
nilai yang kian besar yang diberikan kepada pelanggan.
 Penekanan pada penyederhanaan dan peningkatan visisbilitas nilai tambah, hal ini
membantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang tidak menambah nilai.

Tujuan pabrikasi JIT adalah menghasilkan sebuah produk yang hanya ketika dibutuhkan
dan hanya dalam kualitas yang diminta oleh para pelanggan. Permintaan pelanggan akan
memicu pembelian bahan baku dan penjadwalan produksi untuk produk yang dibutuhkan
pelanggan. Dalam lingkungan JIT, arus barang dikendalikan oleh pendekatan tarik untuk
pengolahan produk. Pendekatan tarik (full approach) bergerak dari tahap produksi akhir
(yakni, perakitan produk jadi) mundur kebelakang ke tahap awal produksi. Dengan kata
lain, tidak ada yang diproduksi sampai adanya transaksi penjualan atau pemakaian dalam
produksi. Visualisasi pendekatan tarik disajikan dalam gambar di bawah ini:
B. Sistem JIT dan Implikasinya Terhadap Persediaan
Tatkala sebuah perusahaan memiliki persediaan yang berlebihan, sebab kelebihannya
lazim dapat ditelusuri kepada lima factor, yaitu: pertama, perusahaan munkin meyakini
bahwa mereka membutuhkan persediaan yang sangat besar dalam upaya menjaga jangan
sampai kehabisan stok. Kedua, kesalahan mungkin terjadi dalam proses produksi, yang
mengakibatkan menumpuknya bahan baku dan barang jadi. Ketiga, stasiun – stasiun kerja
munkin tidak terkoordinasi sehingga mengakibatkan barang – barang dalam proses
ditumpuk digudang menunggu tahap pengolahan lebih lanjut. Keempat, dapartemen
produksi perusahaan mungkin bersikeras terhadap ukuran gugus yang banyak dari suku
cadang subrakitan, dan barang jadi karena meyakini bahwa gugus yang banyak itu lebih
ekonomis untuk diolah ketimbang gugus yang sedikit. Kelima, stasiun kerja mungkin
diarahkan untuk menghasilkan barang yang sebenarnya tidak diperlukan
Melalui aplikasi system JIT, kelima sebab penyimpangan persediaan tersebut dapat
dieliminasi dengan hasil bahwa persediaan bukan lagi merupakan factor utama dalam
kegiatan perusahaan. Pembelian JIT meminta para pemasok untuk mengirimkan suku
cadang dan bahan baku tepat pada waktu akan dipakai dalam produksi. JIT mengeksploitasi
hubungan pemasok dengan menegosiakikan kontrak jangka panjang dengan beberapa
pemaspok terpilih yang berlokasi sedekat mungkin dengan fasilits produksi perusahaan,
dan menjalin keterlibatan pemasok yang lebih mendalam.pihak.
C. Sistem JIT dan Akuntansi Manajemen
Pabrikasi JIT memiliki dua implikasi besar terhadap akun tansi manajemen. Pertama,
akuntansi menajemen harus mendukung gerakan kearah pabrikasi JIT dengan memantau,
mengidentifikasi, dan mengkomunikasikan sumber – sumber keterlambatan, kesalahan,
dan pemborosan dalam system pabrikasi kepada para pengambil keputusan. Ukuran
penting keandalan system JIT meliputi factor – factor efektivitas siklus pabrikasi berikut:
 Tingkat produk cacat / rusak
 Waktu siklus
 Presentase pengiriman produk yang tepat waktu
 Akurasi pesanan
 Presentase produksi sesungguhnya dibandingkan dengan produksi yang
dianggarkan
 Jam mesin sesungguhnya dibandingkan jam mesin tersedia yang direncanakan

Sistem produksi konvensional menekankan rasio utilisasi mesin dan rasio tenaga kerja. Maka
dari itu, rasio produktivitas mesin dan rasio tenaga kerja konvensional tidak konsisten dengan
filosofi produksi JIT, dimana operator diharapkan hanya menghasilkan apa yang diminta dan
pada waktunya. Kedua, proses klerikal akuntansi manajemen disederhanaka oleh pabrikasi JIT
karena terdapat lebih sedikit persediaan yang perlu dipantau dan dilaporkan.
D. Sistem JIT dan Penentuan Biaya Pokok Produk
Dalam penentuan biaya produk dengan JIT, biaya yang berhubungan dengan waktu
pengolahan sesungguhnya (actual processing time) dikelompokkan sebagai biaya bahan baku
dan biaya konversi. Biaya tenaga kerja langsung biasanya kecil dan tidak perlu diperhitungkan
secara terpisah. Biaya konversi meliputi jumlah biaya tenaga kerja langsung dan biaya
overhead pabrikasi yang dikeluarkan oleh atau dapat ditelusuri ke bagian produksi, sel
pabrikasi, atau pusat kerja lainnya.
Sistem JIT dapat menyederhanakan alokasi overhead karena perusahaan yang
mengaplikasikan JIT menganut pendekatan pabrikasi yang jauh lebih terfokus dibandingkan
perusahaan yang memakai metode pabrikasi tradisional. Setiap sel pabrikasi atau sel produksi
berisi perlengkapan yang dibutuhkan untuk mengolah produk sejak dari bahan baku sampai
menjadi produk jadi, dan sekelompok kecil karyawan menjadi sekelompok tim yang
mengoperasikan perlengkapan. Karena mesin dan karyawan spesifik yang ditugasi ke sel – sel
pabrikasi yang membuat produk sampai rampung, maka penelusuran biaya produksi akan
menjadi lebih mudah ketimbang dalam system pabrikasi tradisional. Semua biaya yang
dikeluarkan dalam sel pabrikasi ini dapat ditelusuri ke satu atau sejumlah terbatas produk yang
diolah didalam sel pabrikasi tersebut. Selain itu, karena karyawan umumnya terampil dalam
beberapa fungsi dan dapat menunaikan beberapa pekerjaan, mulai dari mengoperasikan mesin
sampai mereparasinya, maka biaya reparasi dan pemeliharaan akan merosot. Bagian darai
overhead akan dapat dibebankan atau dihubungkan secara langsung dengan sel pabrikasi
tertentu.

Akuntansi untuk biaya produk dengan system JIT tidaklah rumit. Biaya prodok
digolongkan sebagai biaya bahan baku atau biaya konversi. Biaya produk ditelusuri ke sel kerja
atau sel pabrikasi. Metode penentuan biaya pokok produk lantas dipakai untuk menentukan
biaya unit produk. Berikut gampar penentuan biaya pokok produk dalam system JIT
E. Sistem JIT dan Kemamputelusuran Biaya Overhead
Suatu sistem pembiayaan menggunakan tiga metode untuk membebankan biaya pada produk
individual seperti penelusuran langsung, penelusuran penggerak dan alokasi. Dari ketiga
metode, penelusuran langsung paling akurat sehingga lebih disukai daripada dua metode
lainnya. Dalam suatu struktur departemental, banyak produk berbeda bisa jadi dihubungkan
pada suatu proses yang ditempatkan dalam suatu departemen tunggal (seperti pemotongan).
Setelah penyelesaian proses, produk ditranfer ke proses lain yang ditempatkan dalam
departemen yang berbeda (seperti perakitan, pengecatan dan lain-lain). Karena lebih dari satu
produk yang melalui proses itu sehingga harus dibebankan pada produk dengan menggunakan
penggerak akivitas (dan terkadang alokasi). Dalam suatu lingkungan JIT, biaya overhead yang
sebelumnya dibebankan pada produk dengan menggunakan penelusuran penggerak atau
alokasi yang sekarang secara langsung dapat ditelusuri ke produk. Manufaktur selular, tenaga
kerja berkeahlian ganda, dan aktivitas pelayanan yang terdesentralisasi adalah karakteristik
utama JIT yang bertanggung jawab pada perubahan dari penenelusuran ini. Pembandingan
berdasarkan pada ketiga metode pembebanan biaya.
BIAYA MANUFAKTUR LINGKUNGAN LINGKUNGAN JIT
TRADISIONAL
Tenaga Kerja Langsung Penelusuran Langsung Penelusuran Langsung
Bahan Baku langsung Penelusuran Langsung Penelusuran Langsung
Penanganan Bahan Baku Penelusuran Penggerak Penelusuran Langsung
Perbaikan dan pemeliharaan Penelusuran Penggerak Penelusuran Langsung
Energi Penelusuran Penggerak Penelusuran Langsung
Suplai operasional Penelusuran Penggerak Penelusuran Langsung
Supervisi (departemen) Alokasi Penelusuran Langsung
Asuransi dari pajak Alokasi Alokasi
Depresiasi pabrik Alokasi Alokasi
Depresiasi peralatan Penelusuran Penggerak Penelusuran Langsung
Pelayanan bea cukai Alokasi Penelusuran Langsung
Pelayanan kriteria Penelusuran Penggerak Penelusuran Penggerak

Tampilan 14.5 Pembebanan Biaya Produk: Manufaktur Tradisonal versus JIT


F. Sistem JIT dan Alokasi Biaya Pusat Jasa
Di dalam pabrikasi tradisional, pusat jasa (service center) menyediakan dukungan kepada
bermacam – macam departemen lini. Di dalam lingkungan pabrikasi JIT, banyak jasa yang
terdesentralisasi. Hal ini dilakukan dengan menugaskan secara langsung karyawan – karyawan
dengan keahlian khusus ke lini produk dan dengan pelatihan karyawan – karyawan langsung
di dalam sel – sel pabrikasi untuk melakukan aktivitas jasa yang dulunya dilakukakn oleh
tenaga kerja tidak langsung. Oleh karena itu, banyak biaya jasa yang sekarang dapat ditelusuri
secara langsung ke sebuah sel pabrikasi, dan konsekuensinya, ke sebuah produk tertentu.
Di dalam system pabrikasi tradisional, departemen lini dan jasa dikelola oleh paling tidak
dua manajer yang berbeda. Secara teknis, dalam latar seperti itu, manajer departemen jasa
bertanggung jawab atas pengeluaran biaya jasa; walaupun demikian, manajer lini juga
mempunyai andil dalam persoalan itu karena biaya jasa mempengaruhi biaya produk yang
terhadapnya mereka bertanggung jawab. Sayangnya dalam system tradisional semacam itu
manajer operasi hanya mampu memegang kendali tidak langsung atas biaya jasa. Karena dalam
system JIT jasa disentralisasikan, manajer operasi kini mengemban tanggung jawab langsung
atas banyak biaya jasa.
G. Sistem JIT dan Implikasinya Terhadap Biaya Tenaga Kerja Langsung
Pada waktu perusahaan menerapkan JIT, biaya tenaga kerja langsung dikurangi secara
signifikan. Selain itu, karena tenaga kerja langsung menjadi pelatih dalam beraneka fungsi,
tingkat biaya tenaga kerja langsung cenderung stabil tatkala produksi berfluktuasi. Sebagai
missal, karyawan sel pabrikasi dapat dikaryakan untuk melakukan tugas pemeliharaan
preventif selama periode sepinya aktivitas pabrikasi. Oleh karena itu, dicapai dua hasil:
1. Tenaga kerja langsung menurun sebagai suatu presentase jumlah biaya pabrikasi
2. Tenaga kerja langsung berubah dari yang sifatnya variabel ke tetap. Karena biaya
tenaga kerja langsung menyurut, penekanan pada pelacakan dan pelaporan biaya tenaga
kerja langsung ikut pula berkurang secara signifikan.
II. Elemen Kunci Sistem JIT
Terdapat lima elemen kunci bagi keberhasilan system JIT:
1. Jumlah Pemasok Yang Terbatas
Dalam system JIT, pemasok diperlakukan sebagai mitra dan biasanya terikat kontrak
jangka panjang dengan perusahaan. Para pemasok merupakan bagian vital system
yang membuat JIT berjalan mulus, memastikan masukan bermutu dan pengiriman
yang tepat waktu.
Sistem JIT memotong biaya dengan mengurangi :
a. Ruang yang dibutuhkan untuk penyimpanan bahan baku
b. Jumlah penanganan bahan baku
c. Jumlah persediaan yang usang.

2. Tingkat Persediaan Yang Minimal


Berlawanan dengan lingkungan pabrikasi tradisional, di mana bahan baku, suku
cadang, dan pasokan dibeli jauh – jauh hari sebelumnya dan disimpan di gudang
sampai departemen produksi membutuhkannya, didalam lingkungan JIT bahan baku
dan suku cadang dibeli serta diterima hanya ketika dibutuhkan saja.

3. Pembenahan Tata Letak Pabrik


Sistem JIT menggantikan tata letak pabrik tradisional dengan suatu pola sel pabrikasi
(manufacturing cells) atau sel kerja (work cells). Sel pabrikasi berisi mesin – mesin
yang dikelompokkan di dalam sebuah keluarga mesin,umumnya berbentuk setengah
lingkaran. Pengelompokan mesin memecah – mecah kelompok – kelompok mesin
yang sejenis. Hasilnya adalah lini aliran produk ganda di mana segala macam tugas
dilakukan secara berurutan manakala produk berpindah dari satu mesin ke mesin
lainnya. Para karyawan ditugaskan di dalam setiap sel pabrikasi dan dilatih untuk
mengoperasikan semua mesin yang ada di dalam sel pabrikasi tersebut. Dengan
demikian, karyawan yang bertugas didalam sebuah sel pabrikasi mempunyai beraneka
rupa keahlian, tidak terspesialisasi hanya pada bidang tertentu saja.Pendekatan tata
letak pabrik seperti ini menciptakan pabrik mini sendiri untuk setiap produk yang
terpisah. Pendekatan semacam ini kerapkali disebut pabrik terpusat (focused factory),
atau pabrik di dalam pabrik (factory within factory). Gambar berikut melukiskan tata
letak pabrik dalam system JIT dengan system tradisional.
4. Pengurangan Setup Time
Masa pengesetan mesin (setup time) adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengubah
perlengkapan, memindahkan bahan baku, dan mendapatkan dokumen terkait dan
bergerak cepat untuk mengakomodasikan produk unsur yang berbeda.
5. Kendali Mutu Terpadu
Agar JIT berjalan dengan lancer, perusahaan perlu membangun system kendali mutu
terpadu (total quality control/TQC) atas komponen – komponen dan bahan bakunya.
TQC berarti bahwa perusahaan tidak membolehkan penerimaan komponen dan bahan
baku yang cacat dari pemasok, pada barang dalam proses, atau pada barang jadi.
6. Tenaga Kerja Yang Fleksibel
Didalam lingkungan kerja dengan system JIT para karyawan harus menguasai
bermacam – macam keterampilan teknis. Karyawan diminta mengoperasikan beberapa
jenis mesin secara simultan.
III. Pengaruh Persediaan
JIT umumnya menurunkan persediaan hingga tingkat yang sangat rendah. Pencapaian
terhadap tingkat yang tidak signifikan dari persediaan adalah vital bagi kesuksesan JIT. Akan
tetapi, ada ide pencapaian persediaan yang tidak signifikan menentang alasan tradisional untuk
menyimpan persediaan. Alasan-alasan ini tidak lagi dipandang berlaku. Menurut pandangan
tradisional, persediaan menyelesaikan permasalahan yang mendasari tiap alamat. Sebagai
contoh, masalah penyelesaian antara biaya pemesanan atau biaya persiapan dan biaya
penyimpanan diselesaikan dengan memilih suatu tingkat persediaan yang meminimalkan
jumlah biaya-biaya ini. Jika permintaan lebih banyak dari yang diharapkan atau jika produksi
menurun karena kegagalan dan inefisiensi produksi, maka persediaan menjadi penyangga,
menyediakan produk bagi pelanggan yang mungkin tidak lagi tersedia. Sama halnya,
persediaan dapat menghindarkan penutupan yang disebabkan oleh pengiriman yang terlambat
dari bahan baku, suku cadang cacat, dan kegagalan mesin yang digunakan untuk memproduki
bagian rakitan. Akhirnya persediaan sering menjadi solusi dari masalah pembelian bahan baku
terbaik dengan biaya terkecil melalui penggunaan diskon kuantitas.
JIT menolak menggunakan persediaan sebagai solusi dari masalah-masalah ini.
Bahkan, persediaan tidak hanya dipandang sebagai pemborosan, tetapi sebagai sesuatu yang
langsung berhubungan dengan kemampuan perusahaan untuk bersaing. Persediaan yang
banyak menandakan eksistensi masalah yang harus dipecahkan dan sering berarti kualitas
rendah, waktu tunggu yang panjang, dan kinerja jatuh tempo yang rendah (diantara hal-hal
lainnya). Manajemen persediaan JIT menawarkan penyelesaian alternative yang tidak
membutuhkan banyak persediaan. Perbedaan utama antara lingkungan manufaktur JIT dan
lingkungan manufaktur tradisional diringkas pada Tampilan 14.6. Sekarang, kita beralih untuk
menguji perbedaan manajemen persediaan antara kedua sistem ini secara terperinci.
JIT TRADISIONAL
1. Sistem Tarik 1. Sistem dorong
2. Persediaan tidak signifikan 2. Persediaan sigifikan
3. Pemasok kecil 3. Pemasok besar
4. Kontrak pemasok jangka panjang 4. Kontrak pemasok jangka pendek
5. Struktur selular 5. Struktur departemental
6. Tenaga kerja berkeahlian ganda 6. Tenaga kerja terspesialisasi
7. Pelayanan terdesentralisasi 7. Pelayanan tersentralisasi
8. Keterlibatan karyawan tinggi 8. Kerterlibatan karyawan rendah
9. Gaya manjemen memfasilitasi 9. Gaya manajemen mengawasi
10. Pengendalian kualitas total 10. Tingkat kualitas yang dapat diterima
11. Dominasi penelusuran langsung 11. Dominasi penelusuran penggerak
(perhitungan biaya produk) (perhitungan biaya produk)

Tampilan 14.6 Perbandingan Manufaktur JIT dengan Tradisional

IV. CONTOH SOAL


PT.Makmur adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang perakitan suku cadang
menggunakan dua sistem biaya yang berbeda yaitu:
1. Sistem biaya konvensional
2. JIT
Sistem biaya konvensional membebankan BOP menggunakan pengarah biaya (cost driver)
berbasis unit. Sistem JIT menggunakan pendekatan yang terfokus pada penelusuran biaya dan
penentuan harga pokok berbasis aktivitas untuk biaya yang tidak dapat dihubungkan secara
langsung dengan suatu sel pemanufakturan. Untuk mengetahui perbedaan antara kedua
metode, berikut ini disajikan data biaya produksi untuk bulan desember 200X :

Sistem Biaya
Elemen Biaya
Konvensional JIT
Bahan Baku 800 800
Tenaga Kerja Langsung 70 100
BOP Variabel Berbasis Unit 90 20
BOP Variabel Berbasis Non Unit - 30
BOP Tetap Langsung 30 30
BOP Tetap Bersama 100 20
Total 1.090 1.000

Diminta:
1. Hitunglah jumlah maksimum dari masing-masing sistem biaya yang harus dibayar
seandainya perusahaan memutuskan untuk membeli pada pemasok luar.
2. Bila diketahui perusahaan berproduksi pada kapasitas 1.500 unit dengan harga
jual Rp 1.100, susunlah laporan L/R untuk periode yang bersangkutan

Penyelesaian :

1. Jumlah maksimum yang harus dibayar kepada pemasok luar, biasa dianggap sebagai biaya
terhindarkan yang harus diputuskan oleh perusahaan tersebut.
Biaya yang dapat dihindarkan:
- Sistem biaya konvensional = Rp 800 + 70 + 90 + 30 = Rp 990
- Sistem biaya JIT = Rp 800 + 100 +30 +20 +30 = Rp 980

2. Laporan L/R

KETERANGAN SIST. SIST. JIT


KONVENSIONAL
Penjualan : Rp 1.650.000 Rp 1650.000
( 1500 u x Rp 1.100)
Biaya Variabel : 1.440.000
(Rp 9601) x 1.500 u) 1.230.000
(Rp 8202) x 1.500 u) 210.000 420.000
Laba Kontribusi
Biaya Tertelusur : - 45.0003)
Bi. variabel berbasis non unit 45.000 195.004)
Bi. tetap langsung 45.000 240.000
Jumlah Biaya Tertelusur 165.000 180.000
Laba Langsung Produk

Note : Cara mencari angka2 yang ada dalam tabel :


1. Rp 800 + Rp 70 + Rp 90 = Rp 960
2. Rp 800 + Rp 20 = Rp 820
3. Rp 30 x 1.500 unit = Rp 45.000
4. (Rp 100 + Rp 30) x 1.500 u = Rp 195.000