Anda di halaman 1dari 17

KEMAGNETAN

Di susun oleh
Oksin batunan
2014 58 019
Sejarah munculnya magnet
 Kemagnetan berasal dari kata dasar magnet, diambil
dari kata “magnesia” (Asia kecil). Lebih dari dua ribu
tahun yang lalu, orang Yunani yang hidup di Magnesia
menemukan batu yang istimewa. Batu tersebut dapat
menarik benda-benda yang mengandung logam. Ketika
batu itu digantung sehingga dapat berputar, salah satu
ujungnya selalu menunjuk ke arah utara.
 Karena batu tersebut ditemukan di Magnesia, maka
kemudian orang-orang Yunani menamai batu tersebut
dengan nama magnetit. Pada waktu itu, orang Yunani
tidak mengetahui lebih lanjut mengenai sifat-sifat batu
tersebut, tetapi mereka telah mengamati ciri-ciri bahan
yang disebut magnet.
Benda Berdasarkan Sifat Kemagnetan

 Ferromagnetik merupakan sifat benda yang dapat


ditarik kuat oleh magnet. Contoh benda yang bersifat
ferromagnetik adalah besi dan baja.
 Paramagnetik merupakan sifat benda yang ditarik
lemah oleh magnet, contohnya adalah platina dan
alumunium.
 Diamagnetik adalah benda dengan sifat diamagnetik
sama sekali tidak dapat ditarik oleh magnet. Contoh
benda diamagnetik adalah seng dan bismut.
 Benda yang dapat menarik besi disebut MAGNET.
Macam-macam bentuk magnet, antara lain :
magnet batang magnet ladam magnet jarum

Magnet dapat diperoleh dengan cara buatan. Jika baja di


gosok dengan sebuah magnet, dan cara menggosoknya
dalam arah yang tetap, maka baja itu akan menjadi
magnet.
PENGERTIAN MEDAN MAGNET.

 Medan magnet adalah ruangan di sekitar kutub magnet,


yang gaya tarik/tolaknya masih dirasakan oleh magnet
lain. Kuat medan magnet di suatu titik di dalam medan
magnet ialah besar gaya pada suatu satuan kuat kutub di
titik itu di dalam medan magnet m adalah kuat kutub
yang menimbulkan medan magnet dalam Ampere-meter. R
jarak dari kutub magnet sampai titik yang bersangkutan
𝑵
dalam meter. dan H = kuat medan titik itu dalam :
𝑨.𝒎
𝑾𝒆𝒃𝒆𝒓
atau dalam
𝒎𝟐
 Garis gaya adalah Lintasan kutub Utara dalam medan
magnet atau garis yang bentuknya demikian hingga kuat
medan di tiap titik dinyatakan oleh garis singgungnya.
Untuk membuat pola garis-garis gaya dapat dengan jalan
menaburkan serbuk besi disekitar sebuah magnet.

Gambar pola garis-garis gaya.


 Rapat Garis-Garis Gaya adalah umlah garis gaya tiap satuan
𝟇
luas yang tegak lurus kuat medan B = Kuat medan
𝑨
magnet di suatu titik sebanding dengan rapat garis-garis
gaya dan berbanding terbalik dengan permeabilitasnya.
𝑩
H= :B = μH = μr μ o H
μ
B = rapat garis-garis gaya
µ = Permeabilitas zat itu
H = Kuat medan magnet
Medan magnet yang rapat garis-garis gayanya sama disebut :
medan magnet serba sama ( homogen )
 Bila rapat garis-garis gaya dalam medan yang serba
sama B, maka banyaknya garis-garis gaya ( φ ) yang
menembus bidang seluar A m2 dan mengapit sudut θ
dengan kuat medan adalah :
φ = B.A Sinθ Satuanya : Weber
 MEDAN MAGNET DI SEKITAR ARUS LISTRIK
Di atas jarum kompas yang seimbang dibentangkan seutas
kawat, sehingga kawat itu sejajar dengan jarum kompas. jika
kedalam kaewat dialiri arus listrik, ternyata jarum kompas
berkisar dari keseimbangannya

Cara menentukan arah medan magnet ; Bila arah dari


pergelangan tangan menuju ibu jari, arah melingkar jari
tangan menyatakan arah medan magnet
Contoh soal
Suatu kawat dilengkungkan dengan jari-jari R = 40 cm dan dialiri
arus listrik 2 A. Tentukan besar medan magnet yang terbentuk pada
kawat tersebut!
HUKUM BIOT SAVART
 Hukum biot-savart adalah besar induksi magnetik di satu titik
di sekitar elemen arus, sebanding dengan panjang elemen
arus, besar kuat arus, sinus sudut yang diapit arah arus dengan
jaraknya sampai titik tersebut dan berbanding terbalik dengan
kwadrat jaraknya.
I ∆l sin 𝞱
∆B = k ; k adalah ketetapan didalam sistem
𝒓𝟐
internasional
µ0 −7 𝑾𝒆𝒃𝒆𝒓
 k= = 10
4π 𝑨𝒎
Contoh soal
Seutas kawat tembaga dengan panjang 1 cm dialiri arus listrik 125 A.
Berapakah perubahan medan magnetik di sebuah titik yang berjarak 1,2 m
dari kawat jika titik itu adalah titik P yang arahnya tegak lurus elemen
kawat?
Diketahui:
μ0 = 4π x 10-7 Wb/A.m, dl = 10-2 m, r = 1,2 m, I = 125 A
Ditanyakan: dB?
µ0 I ∆l sin 𝞱
Jawab: dB =
4π 𝒓𝟐
θ adalah 900 , sehingga didapatkan
µ0 I ∆l sin 𝞱
dB =
4π 𝒓𝟐

4π x 10−7 Wb/A.m 𝟏𝟐𝟓𝒙𝟏𝟎−𝟐 𝒔𝒊𝒏 900


dB =
4π 𝟏,𝟐𝟐
dB = 86,8 𝒙 𝟏𝟎−𝟗 T

Anda mungkin juga menyukai